Kamis, 22 Oktober 2020

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 39. Menghabisi Jendral Musuh, Gabak

Chapter 39. Menghabisi Jendral Musuh, Gabak



Dan begitulah caraku menghabiskan waktu sebelum berangkat berperang.
Tentara Deprosia telah menyerbu pasukan Eligos dari barat, seperti yang dijanjikan.

“Bagaimana keadaan disana?” Tanyaku pada Eve.

Kemudian dia mulai membacakan laporan dari mata-mata Slime kami.

“Deprosia telah mengirim sekelompok ksatria dan tiga kelompok tentara bayaran. Total pasukannya sekitar dua ribu orang. Kekuatan Eligos dibagian barat hanya tujuh ratus orang. Mari kita berharap Deprosia menang.”
“Banyak sekali. Aku ingin memerintahkan tentara sebanyak itu suatu hari nanti," kataku. Lalu aku bertanya padanya. “Tapi Eve, kenapa kau ikut bersamaku?”

Saat ini aku sedang menunggang kuda dalam perjalanan menuju Kastil Eligos dan kebetulan Eve berkuda di belakangku.

“Saya adalah Pelayan sekaligus Penasihat anda. Bagaimana mungkin saya tidak mengikuti anda menuju medan tempur?”
“Tapi, aku ingin kau tetap berada di kastil…”
“Aku yakin Gottlieb lebih siap untuk tugas itu.”

Aku tidak bisa menyangkal hal itu. Selain itu, aku membutuhkan pelayan pribadi. Dan dia jauh lebih baik dari pada para goblin. Jadi aku memutuskan untuk berhenti di situ. Ini saatnya untuk serius.

"Berapa banyak tentara yang menunggu kita di istananya?"
“Biasanya jumlahnya lebih dari seribu, tapi Deprosia menyerangnya dari barat. Dan kita akan datang dari selatan. Kemudian, akan ada invasi timur. Kastil itu pasti tidak memiliki banyak penjaga."
“Dari timur, katamu?”
“Sepertinya dia baru saja bermusuhan dengan Raja Iblis disana.”
"Aku mengerti. Betapa bodohnya dia. Mungkin ada yang salah dengan kepalanya."
"Yah. Setelah menyerang pemukiman Dwarf dan membuat marah kerajaan besar seperti Deprosia, pada saat yang sama dia memulai permusuhan dengan Raja Iblis dari timur dan barat. Benar-benar tidak kompeten."
“Mungkinkah dia sebodoh itu?”
“Yah, sebelumnya dia dikenal agak bijak. Tampaknya banyak hal berubah setelah dia merekrut Sharltar, sang Necromancer, sebagai bawahannya. Pada awalnya Sharltar berhasil memperluas wilayahnya dan membawa kekayaan padanya. Dan itu membuat marah kerajaan tetangganya, seperti yang kita tahu."
“Seorang jenius dalam bisnis. Setidaknya dalam hal pembelian. Namun, kehilangan kepercayaan orang lain bisa menghasilkan hasil yang tidak menguntungkan. Kita harus belajar dari perilaku buruknya."
"Memang. Dan Sharltar tidak ada di sini untuk membantunya. Ini adalah kesempatan yang bagus.”
"Aku setuju. Meskipun kita telah berkembang, pasukan kita masih sedikit. Kita tidak akan memiliki kesempatan lain jika keadaannya tidak begitu menguntungkan kita."

Saat aku berbicara dengan Eve, Toshizou bergabung dalam percakapan. Dia sedang menunggang kuda juga, tapi dia melakukannya dengan sangat buruk. Dia tidak selalu menjadi seorang pejuang, dan dia tidak menyukai kuda. Bahkan Jeanne, putri petani itu, adalah pengendara yang lebih baik.

“Ngomong-ngomong, Astaroth-san, apa kau punya rencana khusus untuk merebut kastil?”
"Rencana?"
“Rencana rahasia. Sesuatu yang mirip dengan yang kau lakukan saat mengalahkan Raja Iblis Sabnac.”
“Aku harap kau tidak mengharapkan sesuatu yang memalukan seperti itu dariku setiap kali kita pergi berperang. Tapi yah, aku tidak akan mengatakan bahwa aku tidak punya apa-apa."
“Itu bagus untuk didengar, tuan. Aku akan mendengarkan."
"Tentu saja."

Saat aku akan memberitahunya, Eve menghentikanku.

“Tuan, saya rasa kita tidak punya waktu untuk berbicara dengan santai.”

Apa maksudnya? Tapi aku tidak menanyakan maksudnya. Karena Eve bukan orang yang suka omong kosong, dan dia tidak akan menyelaku tanpa alasan yang jelas. Selalu ada alasan untuk semua yang dia lakukan.

Aku melihat ke depan pada apa yang dia lihat. Ada bayangan gelap di depan sana. Aku harus menggunakan 'Farsight' untuk mengetahui jika itu adalah pasukan goblin. Aku juga menghitungnya, tapi jumlahnya hampir seratus. Tetap saja, mereka jelas tidak datang ke sini untuk beraliansi dengan kami.

Aku sudah memperkirakan Eligos mengirim pasukan terlemahnya lebih dulu. Tapi bukankah ini terlalu sedikit?

Kita bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Apakah dia meremehkan kita? Atau dia kekurangan pasukan. Itu membuatku ragu. Kemudian Toshizou menawarkan saran.

“Seratus goblin, huh? Sempurna. Astaroth-san, maukah kau memberiku kesempatan untuk maju pertama?”
"Aku tidak keberatan jika kau ingin melakukannya."
“Setidaknya kita harus sedikit berjuang, aku ingin kau dapat menyerahkannya kepadaku dan unitku.”
"Aku tidak suka mengambil risiko."
“Mengambil risiko? Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak akan bermain dengan mereka. Kita memiliki peluang besar untuk memenangkan ini.”
"Baiklah."
"Terima kasih. Aku tidak memiliki keluhan tentang peran yang telah kau berikan. Jeanne memimpin manusia dan aku para monster. Tapi mereka sangat berbeda. Aku ingin mereka mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin."
"Aku mengerti. Baiklah, lakukanlah."
"Akan segera kulakukan."

Kemudian Toshizou turun dari kudanya. Dia berjuang dengan unitnya juga. Dia lebih nyaman berjalan. Dan sebagian besar monster juga berjalan. Tidak ada gunanya jika jenderal mereka sendirian yang tidak menunggangi kuda.

Toshizou mungkin seorang Pahlawan, tapi itu tidak berarti dia selalu bisa mengalahkan jumlah musuh yang banyak. Secara realistis, pasukan yang lebih besar biasanya menang…

Tapi tentu saja, selalu ada pengecualian. Selagi Toshizou tidak menyerang, dia bergerak sedikit di depan para monster.

Pertama, dia membuka jalan dengan menebas para musuh, diawali dengan pasukan Werewolf lalu pasukan Orc. Dia melawannya dari pasukan yang paling kuat.

Itu bagus. Werewolf pemberani, tetapi para Orc itu kebanyakan pengecut. Mereka akan segera lari begitu arus pertempuran berbalik melawan mereka.

Faktanya, Goblin memiliki sifat yang sangat mirip, dan hanya sedikit di barisan musuh yang melarikan diri. Setiap kali Toshizou melangkahkan kakinya, pedangnya memotong formasi musuh, beberapa langkah selanjutnya dia menghancurkan lebih banyak lagi.

Sebagai penonton, aku mulai percaya ini akan menjadi kemenangan yang mudah, tetapi dengan cepat mendapat alasan untuk meragukannya.

Beberapa saat kemudian muncul Goblin yang sangat besar keluar dari belakang. Itu adalah seorang Hobgoblin. Bersamaan dengan nama itu, monster ini memiliki kecerdasan.

Dia tampak seperti iblis yang berlumuran darah saat mengayunkan tongkat logamnya ke udara. Itu seperti sesuatu yang keluar dari Romance of the Three Kingdoms.

"Hahaha! Aku adalah Pahlawan Raja Iblis Eligos yang terkuat. Sang Iblis Berdarah, Gabak! ”

Toshizou tampaknya sangat terhibur dengan pidato kecil ini. Jadi dia memperkenalkan dirinya sebagai balasan. Dia menikmati tontonan itu.

“Aku adalah wakil komandan Shinsengumi, Toshizou Hijikata. Mereka memanggilku Wakil Komandan Iblis. Karena keadaan tertentu, aku sekarang bekerja untuk Raja Iblis Ashta. Tapi aku salah satu yang terkuat di negaraku."

Gabak mendengar kata-kata itu dan tertawa dengan riuh.

“Aku tidak pernah mendengar namamu atau negaramu. Tapi mengapa kamu mengatakan ‘Salah satu yang terkuat' dan bukan 'Yang Terkuat'?”

Jawabannya sedikit lucu.

“Yah, kami memiliki sejarah yang panjang. Sangat panjang. Ada banyak pendekar pedang yang berada di atasku. Kamiizumi Nobutsuna, Ashikaga Yoshiteru, Minamoto no Yoshitsune, dan banyak lainnya.”
"Itu sangat mengagumkan."
“Ya, tapi meski dalam jumlah seperti itu, Goblin sepertimu bukanlah lawan pedangku. Kau seharusnya tidak meremehkan kami."
“Aku bukan Goblin! Aku seorang Hobgoblin!!”

Saat dia mulai mengamuk, tiba-tiba dia terdiam. Tubuhnya tidak akan pernah bergerak lagi. Ini karena kepalanya telah melayang di udara. Toshizou menangkapnya dan menunjukkannya kepada goblin lainnya.
<TLN: yo, wtf ? :v>

“Aku telah mengambil kepala jenderal kalian, Gabak,” katanya sambil berteriak mengancam.

Suara dan kebenaran akan kematian jenderal mereka sudah cukup untuk melemahkan keinginan mereka untuk bertarung. Mereka berhamburan bergegas melarikan diri. Dan begitu itu terjadi, pertempuran itu benar-benar berakhir. Aku melihat mereka lari.

“Apakah kamu tidak akan mengejar mereka?” Tanya Eve. 

Aku menjawab tidak dan memberi tahu dia mengapa.

"Kita bisa mengurangi jumlah mereka jika kita mau, tapi aku lebih suka membiarkan mereka kembali ke pasukan utama dan merusak semangat pasukan lainya."
"Saya mengerti. Sungguh luar biasa Master," kata Eve sambil membungkuk.
“Sekarang, ini adalah kemenangan yang cukup mudah, tapi bagaimana keadaannya setelah ini? Aku berharap semuanya akan terus… ” aku berguam itu saat kami mengatur ulang dan melanjutkan perjalanan kami ke utara.


Note: 
Jangan lupa klo ada kesalahan bisa koreksi lewat komen di bawah atau DM FP Isekai chan yak


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 21 Oktober 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 171. Portal Shield

 Chapter 171. Portal Shield



"Sekarang aku tahu Witch dibesarkan dengan cara seperti itu, tapi bagaimana dengan Melty?"
"Melty dibesarkan dan dididik oleh guru yang terbaik dan diseleksi secara ketat. Jadi kemungkinan besar sifatnya tidak akan sama seperti kakaknya."

Jadi itu alasannya sifat mereka benar-benar berbeda. Jika dibanding dengan Witch, Melty lebih menghormati orang lain. Itu hanya perbandingan yang mencolok pada kakaknya. Baik diantara keduanya, Melty lebih emosional. Saat pertama kali aku bertemu dengannya dia memarahiku, sebelumnya juga dia melakukan sesuatu secara histeris.

"Oh, iya. Karena Iwatani-sama telah merubah nama panggilan Bitch menjadi Witch. Aku telah membuat pengumuman perubahan namanya secara resmi."
"Pintar sekali kau bisa mengetahui itu, padahal kedua nama tersebut memiliki penyebutan yang hampir sama."
"Aku sudah mengetahuinya dari Shadow."
"Apa kau tahu pengertian dan asal dari nama tersebut?"
"Nama tersebut sering digunakan di dunia Iwatani-sama. Kalau tidak salah... Nama tersebut memiliki arti dukun, iblis... Penyihir? Kurang lebih seperti itu kan?"
"Hmm. Iya betul."

Meskipun begitu, kenapa kau sama sekali tidak marah ketika anakmu dipanggil dengan nama seperti itu? Yaa, sudah lah. Tidak penting juga membicarakan Witch.

"Sebelumnya aku sudah menyuruh Melty untuk mengurus ini, tapi apa kau sudah merencanakan tarif pajak wilayahmu?"

Tarif pajak, huh. Jika dipikir kembali, biasanya para bangsawan hanya mengurus perkembangan wilayahnya dan jika tidak menerapkan pajak adalah aku rasa itu sebuah bentuk kebijakan dari mereka? Hmm, aku masih belum tahu bagaimana budaya di dunia ini.

"Jika aku memberikan pajak yang tinggi saat sedang melakukan rekonstruksi itu terlalu...."

Karena serangan Reiki beberapa waktu lalu kekuatan dari para penduduk sedang berkurang. Kurasa jika memaksakan menarik pajak maka mereka akan kesulitan untuk bertahan hidup dan akan menyebabkan krisis semakin panjang. Aku mengerti keadaannya, karena di negara asal ku tinggal, Jepang, pernah mengalami kejadian yang serupa.

Meskipun kita sedang mengalami masa yang sulit, jika kita menaikkan pajak maka akan terjadi adalah Resesi. Jika kau mempelajari sejarah, maka selama terjadi krisis seperti ini seharusnya kita menurunkan pajak. Meskipun begitu, selama kita tetap semangat entah bagaimana kita pasti tetap akan bisa mendapatkan penghasilan untuk negara tanpa menarik pajak..... Itulah yang aku pelajari dari sejarah.

"Untuk sekarang, kita sebaiknya menurunkan pajak. Jika tidak maka itu akan mempersulit penduduk dalam mendapatkan makanan, dan akan memperlambat rekonstruksi desa, aku rasa kita harus menaikkan pajak lapak mewah....."
"Aku akan membiarkan Iwatani-sama mengaturnya, tunjukkan kemampuanmu kepada kami dalam menghadapi krisis ini."
"Kuharap kau tidak terlalu berharap banyak."

Apa yang harus kukatakan, aku tidak begitu dapat di andalkan. Pada akhirnya aku hanya mengandalkan kekuatan dari perisai saja. Jika aku ingat kembali, sebentar lagi Bio Plant sudah dapat menghasilkan tanaman obat, jadi aku dapat segera memulai proses produksi obat-obatan.
Beberapa peralatanku untuk memproduksi juga sudah berkembang dan beberapa bangunan yang dibangun juga pasti sudah hampir selesai. Pasti aku akan dapat banyak memproduksi banyak obat dan menjualnya.

"Aku dengar kau membuat bangunan yang menarik Iwatani-sama. Tanaman yang dapat berubah menjadi bangunan?"

....Jadi kau membicarakan tentang Rat. Seperti aku saat pertama kali bertemu dengan Rat, pasti negara juga harus tetap waspada terhadap Rat.

"Iya, aku membuatnya dengan Alkemis yang menyebabkan beberapa masakah di Faubrey."

Aku memberikan benih Camping Plant kepada Ratu.

"Untuk sekarang benih tersebut masih dalam tahap uji coba."
"Apa kau akan menggunakannya untuk berbisnis juga?"
"Masih ada beberapa masalah seperti tanaman itu menggila dan memakan orang yang ada didalamnya. Jadi untuk sekarang masih terlalu berbahaya untuk diperjual-belikan."

Meskipun sekarang belum terjadi masalah serius, tapi lebih baik mencegah dari pada mengobati. Karena aku tidak akan tahu kapan hal buruk akan terjadi. Ini karena benih tersebut menggunakan metode kawin silang yang aneh. Jadi, aku masih belum tahu secara mendetail.

“Saat aku berkeliling negeri, aku melihat banyak sekali tempat hancur karena serangan dari gelombang. Niat awalku adalah menggunakan tempat-tempat tersebut untuk uji coba Camping Plant.”

Di desaku adalah contoh yang tepat dalam penggunaan Camping Plant. Meskipun ide ini terdengar menguntungkan, tapi niat awalku masih belum berubah yaitu berjualan obat-obatan.

"Bagaimana dengan menjualnya kepada para bangsawan? Mungkin, jika kau memberikan sihir kepada benih tersebut mungkin kau bisa mengurangi kemungkinan benih tersebut untuk berkembang. Dan kau dapat menjualnya sebagai produk sekali pakai."
"Hmm, itu ide yang bagus. Tapi..."

Bukanlah hal yang sulit untuk memodifikasi benih Camping Plant. Ide tersebut akan bekerja dengan merubah status perkembangan ke setingan paling rendah. Mungkin itu adalah ide yang bagus menjualnya kepada para bangsawan.

"Aku tidak akan menerima keluhan dari mereka, apa kau yakin?"
"Tenang saja, saat ini tidak akan ada yang mengeluh karena sesuatu yang dilakukan oleh Hero Perisai-sama.”
"Itulah hal yang aku khawatirkan..."

Lagi pula, mengurus wilayah adalah hal yang sulit. Sekarang aku sedang mengajari Melty cara mengurus wilayah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sulit sekali untuk bekerja bersama Melty yang cepat marah.

"Jika dipikir kembali, banyak sekali bangsawan di negeri ini yang awalnya tidak menghargaiku, kan? Sekarang mereka tiba-tiba bersikap ramah kepadaku. Apa itu karena mereka semua ketakutan kepadamu?"
"Untuk sekarang tidak ada masalah. Lebih baik tetap tenang seperti ini."
"Sepertinya akan terjadi sesuatu?"
"...Iya. Ada beberapa aspek di negeri ini yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatanku."

Meskipun saat ini aku belum memiliki bukti yang kuat, tetapi aku merasakan sebuah firasat buruk. Firasatku biasanya selalu benar untuk hal-hal seperti ini. Sebenarnya aku juga pernah menduga hal buruk akan segera terjadi. Bayangkan saja, aku mendirikan desa khusus demi-human dan negeri ini sangatlah rasis dan memandang rendah terhadap ras lainnya. Dan Ratu lah yang membuat aku memiliki jabatan dan wilayah untuk melakukan hal tersebut. Bagaimanapun keadaannya, dia adalah ratu mereka.

"Awalnya aku mengkhawatirkan Alkemis itu tinggal di desamu. Tapi, dari laporanmu sepertinya dia tidak membuat masalah apapun dan dapat beradaptasi dengan baik."
"Iyaa, aku juga terkejut mengetahui dia mau bekerja sama denganku. Apa yang sebenarnya dia lakukan di Faubrey?"
"Inilah yang aku dengar dari mereka. Ketujuh Hero Bintang yang bertugas di Faubrey sedang melakukan penelitian bersamanya, lalu mereka mengalami perbedaan pendapat dan cara penelitian yang berbeda, hingga akhirnya dia diputuskan untuk diusir dari sana. Kurasa mereka memfitnahnya dengan alasan ajaran sesat."

Dalam bereksperimen setiap orang pasti memiliki ide dan caranya masing-masing. Dan dia di buang karena permusuhan dengan Ketujuh Hero Bintang. Meskipun, aku tidak tahu apa yang sedang dia teliti saat itu...
Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Jepang. Jepang dan beberapa negara lainnya sedang bersaing dalam impor mobil. Bisa dibilang kau akan dikeluarkan oleh kekuatan politik. Meskipun, nanti pada akhirnya Faubrey juga akan menunjukkan senjata barunya. Hal bagus jika senjatanya dapat mempermudah mengalahkan gelombang. Aku tidak akan terlalu berharap juga. Aku masih membutuhkan bantuan Rat untuk penelitianku sendiri.

"Jadi apakah laporannya sudah selesai?"
"Iya. Kami akan menunggu kedatanganmu selanjutnya, Iwatani-sama."

Ratu undur diri sambil membungkukkan kepalanya.

"Oh, iya. Kami sudah menambang bijih dalam gua Reiki, itu sudah kami kumpulkan dalam gudang istana. Silakan kesana dan ambil sesukamu."
"Ah, tolong kirim material tersebut ke toko senjata langgananku."
"Baiklah."

Karena aku sangat ingin Pak Tua bergabung denganku, aku akan memberikannya prioritas utama. Setelah selesai berbincang-bincang dengan ratu kami segera pergi ke Jam Pasir Naga untuk melakukan level reset pada Sadina dan Fohl. Pada saat itu juga, aku meminta pasir Jam Pasir Naga untuk diserap oleh perisai.

Kau telah membuka Dragon Hourglass Sand Shield.

Dragon Hourglass Sand Shield 0/60 C
Kemampuannya Terkunci..... Peralatan Bonus, Skill [Portal Shield]
Keahlian 0

Kemudian muncul panel dengan tulisan seperti itu... Aku hanya mendapatkan skill Portal Shield. Dan tidak mendapatkan status tambahan lainnya.

“Portal Shield!”

Kemudian dari sudut penglihatanku muncul ikon.

Teleportasi ß
Penyimpanan Titik Teleportasi

Jadi dimana lokasi yang terdaftar untuk teleportasi?
Aku menganalisis ikon Teleportasi.

Tempat Pemanggilan Melromarc.

Ah, itu adalah lokasi awal pertama kali aku dipanggil ke dunia ini. Aku juga bisa membawa orang untuk pergi bersamaku, mungkin aku harus mencoba untuk teleportasi kesana. Sepertinya aku juga bisa berteleportasi secara tidak sengaja. Terlebih lagi ini sangatlah mudah digunakan. Aku tidak perlu merubah atau membuat setingan apapun. Dan ini juga dapat digunakan untuk keadaan darurat.

"Baiklah, aku akan melakukan percobaan skill teleportasi."
"Okay!"
"Oh, sepertinya ini menyenangkan."
"Kau akan melakukannya?"

Fohl ketakutan dan mulai berpegangan kepada Sadina. Sadina juga memegang Fohl untuk menenangkannya. Filo....

"Tenanglah Filo. Tolong menjauhlah sedikit."
"Hm? Okay~"

Filo dalam wujud manusianya menjauh sedikit dariku. Aku rasa itu sudah cukup jauh. Aku mulai sadar bahwa kita telah melakukan teleportasi. Saat ini kami berada di atas altar tempat pertama kali aku di dunia ini. Tercium bau tanah dan udara yang lembap, aku rasa tempatnya memang seperti itu dari awal. Tidak ada seorang pun disini, aku rasa itu bukan hal yang aneh karena sedang tidak ada ritual apapun yang terjadi saat ini.

"Kita benar-benar berpindah tempat. Luar biasa~!"

Sadina berkata sambil tertawa. Bagaimanapun situasinya kau selalu tertawa. Fohl mengedipkan matanya seakan tidak percaya. Filo... Dia berdiri sedikit lebih jauh dariku, tetapi nampaknya dia baik-baik saja. Skill yang sangat luar biasa... Berapa lama cooldownnya?

"Portal Shield!"

Untuk digunakan kembali memerlukan waktu sekitar 1 jam. Lebih lama dari yang aku perkirakan. Yaa, jika cooldownnya terlalu rendah maka akan mudah untuk memanfaatkannya dalam pertarungan.

"Kalau begitu, ayo kita kembali ke desa."

Kemudian kami pergi bersama untuk kembali ke desa. Oh iya, sepertinya lokasi yang disimpan Portal Shield tidak dapat berada di dalam gua atau bangunan. Tempat pertama aku dipanggil di dunia ini sepertinya memiliki efek khusus sehingga bisa digunakan.

Dan juga, aku tidak bisa berpindah ke tempat yang belum di daftarkan, jadi aku harus pergi ke tempat tersebut terlebih dahulu untuk mendaftarkannya. Aku juga tidak perlu berteriak untuk menggunakan skill tersebut, hanya tinggal menggerakkan mulutku sedikit sudah memungkinkan skill tersebut untuk aktif. Aku mencobanya dengan menutup mulutku menggunakan tangan dan berkata 'Portal Shield' sesaat kemudian ikon sudah muncul. Aku juga bisa memililah anggota party di sekitar untuk berteleportasi bersamaku.

Skill ini juga bisa digunakan saat musuh sedang menyandera rekan. Karena musuh tidak akan ikut berpindah dengan kami. Singkatnya Monster, Hero, dan Witch bukanlah anggota party jadi aku tidak bisa mengajak mereka berpindah denganku.

Sayang sekali dan sangat menyebalkan...
Oh iya, sepertinya aku tidak bisa membawa kereta atau sesuatu yang terlalu besar untuk berpindah denganku. Itulah kenapa para Hero yang lain tidak menggunakan kereta.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TL: Chopin
EDITOR: Isekai-Chan
Proofreader: Bajatsu

Selasa, 20 Oktober 2020

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 05. Beruang Mengunjungi Guild Petualang

  Volume 1
Chapter 05. Beruang Mengunjungi Guild Petualang


Bangunan guild selalu ramai oleh para petualang, ada yang bersenjatakan pedang maupun tongkat. Aku merasakan sebuah perasaan nostalgia saat masa-masa dimana dulu aku sering berdesak-desakan seperti ini demi mengambil sebuah quest. Dan terlebih lagi, tidak seorang pun dari mereka yang merupakan pemain dari game World Fantasy Online.

"Sudah banyak orang di jam segini ternyata."

"Itu karena para petualang berperingkat rendah selalu berebut quest. Dan juga, semua orang akan datang pagi-pagi sekali agar bisa mengambil quest terbaik."

Karena Fina akan pergi menemui Gentz-san, dan aku pergi mengunjungi guild, kami berpisah. Kelihatannya di dalam bangunan guild banyak didominasi oleh pria paruh baya yang terlihat kasar. Tatapan mereka semua mengarah kepadaku, mereka mungkin mencoba untuk menganalisaku, atau mungkin sebuah pemandangan yang aneh bagi seorang wanita untuk memasuki bangunan guild. Saat aku memperhatikan kerumunan, ternyata terdapat beberapa petualang wanita juga di sana, meskipun jumlah mereka tidak banyak.

Aku mengabaikan tatapan mereka dan bergegas menemui pegawai resepsionis, yang tampak berada pada umur dua puluhan.

"Aku orang baru di sini." ucapku.

"Oh, ya. Jadi anda ingin mendaftar keanggotaan di sini?"

"Aku dengar kau akan mendapat sebuah kartu identitas setelah terdaftar menjadi anggota, apa itu benar?"

"Ya, dan anda dapat menggunakan kartu keanggotaan guild tersebut di kota manapun."

"Kalau begitu, dapatkah kau membantuku mengurusnya?"

Saat aku mengatakan hal tersebut pada pegawai resepsionis tadi, aku merasa sedang diperhatikan dari belakang dan kemudian berbalik.

"Hey, apakah gadis berpakaian aneh ini ingin mendaftar menjadi petualang?" ucap salah seorang yang tadi berada di belakangku. "Sepertinya dia benar-benar meremehkan kita, gadis kecil seperti dirimulah yang membuat jatuh ‘image’ para petualang."

Sungguh pria yang mudah ditebak.

"Aku kemari hanya untuk kartu guild."

"Itu menambah alasanku untuk menegaskannya kembali. Kami tidak butuh seorang petualang yang tidak mau bekerja."

"Aku tidak pernah bilang tidak mau bekerja. Aku hanya akan melakukan apa yang kubisa."

"Sudah kubilang itulah yang menjatuhkan ‘image’ kami para petualang."

"Permisi," ucapku pada pegawai resepsionis, "pria ini dari tadi terus mengoceh, tapi apa yang dia katakan itu benar?"

"Selama anda memenuhi persyaratan minimum yang diajukan oleh guild, maka tidak ada masalah."

"Ada persyaratannya?"

"Anda setidaknya wajib berumur di atas tiga belas tahun untuk dapat mendaftar sebagai petualang, dan juga, anda harus menaikkan peringkat anda ke E dalam kurun waktu satu tahun. Jika persyaratan tersebut tidak dapat terpenuhi, maka keanggotan anda akan dicabut."

"Seperti apa peringkat E itu?"

"Untuk mencapai peringkat E anda diharuskan untuk dapat membunuh monster tingkat rendah seperti goblin dan serigala."

"Jika seperti itu, maka tidak masalah. Aku dapat mengalahkan seekor serigala."

"Gah ha ha. Berhentilah membual," tawa pria tadi pecah. "Tidak mungkin seorang gadis kecil sepertimu dapat mengalahkan serigala."

"Peringkat apa yang dimiliki pria ini?" tanyaku pada wanita di balik meja resepsionis.

"Dia adalah Deborane-san petualang berperingkat D."

"Bagaimana dengan orang-orang yang menertawakanku di sana?"

"Mereka semua adalah sekumpulan petualang dengan peringkat D dan E."

Para petualang tadi menyeringai. Tipikal orang-orang semacam ini dapat dijumpai di dalam game sekalipun—sekumpulan idiot yang langsung menilai orang dari penampilannya. Entah di dunia nyata ataupun di dalam game, satu-satunya cara untuk berurusan dengan idiot seperti mereka adalah; membuktikan langsung di tempat bahwa mereka itu salah. Selain itu, sudah prinsipku untuk selalu meladeni siapapun yang datang mengusik.

"Hmph," ucapku. "Guild petualang disini pastilah sangat menyedihkan jika orang-orangnya saja hanya berperingkat D."

"Apa kau bilang?" seru Deborane.

"Bukannya tadi kau sendiri yang bilang? apa kau bodoh? apa telingamu masih bekerja? jika orang sepertiku saja tidak layak menjadi petualang, apalagi sampah seperti kalian, karena tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat mengalahkanku."

"Sialan...apa kau cari mati?"

"Apa di sekitar sini ada tempat yang cocok untuk berduel?"

Dulu, saat aku biasa bermain solo, orang-orang idiot seperti dirinya sering kali mengajakku berkelahi, dan aku selalu berhasil menghabisi mereka dengan karakter yang kupoles dengan waktu dan uang. Jika bedebah seperti mereka tidak diberantas sampai tuntas, mereka akan berkembang biak layaknya serangga dan memberiku sakit kepala di kemudian hari.

"Ya," ucap si pegawai resepsionis, "ada satu di belakang guild, tapi..."

"Baiklah kalau begitu, jika kalian menang, aku akan menyerah menjadi seorang petualang dan pergi. Tapi jika aku yang menang, maka kalianlah yang harus pergi dan berhenti dari guild. Kesepakatan yang bagus bukan?"

"Kau punya mulut yang besar untuk ukuran gadis kecil sepertimu. Jika kami kalah darimu, kami pasti akan berhenti dari guild! bukan begitu, teman-teman?"

"Yeah!" sorak orang-orang yang setuju dengan Deborane, tampak mereka tersenyum puas.

"Nona resepsionis, kau dengar yang barusan, kan?"

"Ya. Akan tetapi, saya menyarankan anda untuk meminta maaf. Biarpun wataknya buruk, Deborane-san tetaplah seorang petualang berperingkat D."

Setidaknya aku sudah mengonfirmasi bahwa resepsionis tadi telah mendengar semuanya. Tidak akan kubiarkan mereka melupakan apa yang telah mereka ucapkan.

Kami dipandu oleh pegawai resepsionis tadi menuju sebuah tempat pelatihan yang terletak di belakang bangunan guild. Segerombolan petualang berkisar lima belas orang atau lebih mengekor di belakangku, tentunya dengan Deborane yang memimpin.

"Umm, apakah anda yakin ingin melakukan hal ini?" ucap si pegawai resepsionis.

"Ya," kataku. "Membiarkan para bedebah ini menjadi petualang akan berpengaruh pada reputasi guild, jadi akan kubuat mereka pensiun sedini mungkin."

"Kau sialan—!" bentak Deborane. "Jangan pikir kau dapat keluar dari sini hidup-hidup."

"Dengan kata lain," jawabku, "itu berlaku juga untukmu, kan? Mereka bilang yang lemah menggonggong paling keras bukan menggigit. Kurasa itu ada benarnya."

"Hey," ucap Deborane selagi ia menyiapkan pedang miliknya. "cepatlah dan segera kita mulai duelnya."

"Uh..."

Aku lupa kalau aku tidak membawa senjata. Lagipula senjata yang kupunya hanyalah sepotong ranting cemara.

"Ada apa? Cepat keluarkan senjatamu."

Di saat aku mulai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, aku melihat Fina datang menghampiri. Gadis itu datang di saat yang tepat. Kelihatannya ia langsung berlari kemari setelah menyadari adanya keributan. Sungguh gadis yang menggemaskan (pengertian).

"Yuna-san!"

"Fina, bisakah kau meminjamkanku pisau milikmu?" aku bertanya demikian sembari berjalan menghampirinya. "Aku janji akan mengembalikannya nanti."

"Apakah kau akan bertarung, Yuna-san?"

"Keadaan memaksaku melakukannya. Semua akan baik-baik saja, kau cukup diam dan menonton."

Aku meminjam pisau dari Fina dan mulai berhadapan dengan Deborane.

"Apakah kau akan bertarung menggunakan itu?" ujarnya.

"Aku tidak perlu sampai mengotori senjata milikku hanya untuk menghadapi musuh sekelas goblin."

"Aku pasti akan membunuhmu."

"Akan saya katakan berulang kali jika perlu," ucap nona resepsionis, "tapi membunuh itu dilarang. Baiklah, pertandingan dimulai."

Deborane menerjang maju, menghunuskan longsword* miliknya. Aku menghindarinya dengan melompat sejauh tiga meter ke samping. Berkat kemampuan sepatu beruang milikku, bisa dikatakan kalau lompatanku tadi amat sangat cepat. Segera setelahnya, aku mendekati Deborane dengan sebuah langkah, memotong jarak diantara kami dan langsung memukulnya tepat di bawah rusuk menggunakan sarung tangan beruang hitam milikku.
<TLN: sejenis pedang dari eropa yang memiliki karakteristik berbentuk salib ditujukan untuk penggunaan dua tangan>

Teknik rahasia: Bear Punch.

Huh? itu tidak langsung menghabisinya. Malahan wajahnya semakin merah padam akibat amarah yang memuncak. Mungkinkah perbedaan level yang kami miliki begitu kontras?

"Kau sialan..."

Deborane, yang telah menerima serangan telak tadi tidak mundur, malahan ia mengangkat pedang miliknya dan bersiap untuk menyerang. Permisi? pikirku, apa yang sedang dilakukan amatir ini dengan pedangnya saat kami sudah berada cukup dekat untuk saling adu pukul?
<TLN: menggunakan pedang saat jarak lawan cukup dekat tidaklah efektif, itu memberimu banyak celah untuk diserang>

World Fantasy Online memiliki event berbasis pertarungan jarak dekat. Event tersebut terbuka untuk umum, tanpa adanya batasan level, perlengkapan, senjata, maupun skill, dan ada kalanya event tersebut juga menyediakan fitur pertandingan dimana admin akan menyesuaikan statistik milik setiap pemain.

Dalam sebuah pertarungan dimana level, senjata, dan perlengkapan tidak berpengaruh, yang paling menentukan jalannya pertandingan adalah kemampuan murni pemain. Melihat kembali dari pengalamanku mengikuti event tersebut, aku tahu bahwa pemain yang cenderung hanya mengandalkan kekuatan kasar bukanlah lawan yang sulit dihadapi. Aku memukul pergelangan tangan Deborane yang terbuka lebar dengan Bear Punch, dan karena tubuhnya condong ke depan akibat ayunan pedang yang ia lakukan, keseimbangannya roboh. Momen selanjutnya adalah, pisauku sudah teracung tepat ke arah leher miliknya.

"Kelihatannya ini sudah berakhir." ucapku padanya.

"Jangan bermain-main denganku!"

Pisauku dihempaskan tadi kemudian dia mengangkat kembali pedang miliknya, merespon hal tersebut, aku mengambil jarak darinya dengan melangkah mundur. Sepatu beruang ini sungguh berguna.

"Nona resepsionis, yang memenangkan pertandingan barusan adalah aku, bukan?"

"Kau pasti bercanda. Pertarungannya belum berakhir."

Aku memandang ke arah si resepsionis, dan tampak kebingungan terpapar di wajahnya, mungkin bimbang dengan apa yang harus diperbuat. Harapanku dia akan langsung memutuskan siapa pemenangnya tadi.

"Oke, baiklah," ujarku. "aku tidak lagi akan mengakhiri pertarungannya, melainkan juga nyawamu. Jangan pikir aku akan menghentikan pisauku kali ini."

Saat aku berkata demikian, wajahnya menegang. Dia mungkin sadar akan perbedaan kekuatan fisik yang kami miliki. Aku telah menghindari setiap serangan miliknya dan aku juga lebih cepat, jika yang kugunakan untuk menyerangnya tadi bukanlah sarung tangan beruang melainkan pisau yang diberikan oleh Fina, aku pasti sudah menusuknya tepat di perut. Selain itu, tidak mungkin baginya untuk menyangkal bahwa aku telah mengacungkan pisauku ke arah lehernya tadi di akhir pertarungan. Jadi, pada dasarnya aku sudah menikamnya dua kali.

"Apa sebegitu takutnya kau dengan pisau kecil ini?"

Aku membiarkan ia memandang sekilas kepada pisau tersebut.

"Maaf. Menggunakan ini untuk menghadapai seorang yang tidak memenuhi kriteria sebagai petualang, sungguh sangat kekanak-kanakannya diriku."

Kulemparkan pisau tadi ke dekat kaki Deborane, itu menancap dengan sempurna di tanah.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, bukan?"

Aku membuat sebuah gestur ayo maju sini! dengan sarung tangan beruang milikku.

"Jangan meremehkanku."

Dia menerjang maju, layaknya seorang idiot. Aku melompat ke arah samping untuk menghindarinya, tapi pedangnya masih saja mengikutiku. Tentu saja dia menyadari hal itu setelah aku menghindar dengan cara yang sama dua kali.

Jika satu langkah tidak cukup, maka aku hanya perlu menambahkannya menjadi dua, dan jika dua masih belum cukup, maka aku akan menambahkannya lagi menjadi tiga. Aku menghindar dengan tiga langkah, memasuki titik buta miliknya dengan langkah keempat, dan dengan langkah kelima aku muncul tepat di depan wajahnya. Tinju beruang milikku bertabrakan dengan wajah Deborane membuat tubuh besarnya roboh.

Aku meninju wajahnya dengan tangan kananku, kemudian kiri, kemudian kanan lagi, kemudian kiri, kemudian kanan lagi, kemudian kiri. Bear Punch, Bear Punch, Bear Punch, Bear Punch, Bear Punch, Bear Punch. Kelihatannya tangan kanan milikku yang bersarungkan beruang hitam lebih kuat daripada tangan yang satunya—hanya pipi kirinya saja yang tampak membengkak dengan hebat.

Saat aku mendapatinya sudah tidak bergerak, aku berhenti. Matanya memutih menandakan ia telah pingsan.

"Jadi, siapa selanjutnya?" tanyaku pada kerumunan. Tak satu pun dari mereka yang maju. "Sepertinya tidak ada. Kalau begitu, nona resepsionis, bisakah kau memecat para petualang ini dari guild? Tampaknya mereka hanyalah orang-orang lemah."

Aku menyeringai.

"Tapi..." gumam seseorang diantara mereka.

"Kalian sendiri yang bilang, bukan?" aku menimpali, "jika orang lemah sepertiku tidak layak menjadi petualang. Itu berarti yang lebih lemah dariku lebih tidak pantas lagi untuk menjadi petualang, bukan begitu? termasuk pria yang baru saja kukalahkan ini dan orang-orang yang bahkan tidak mencoba melawanku."

Aku memperhatikan sekeliling sambil tetap menyeringai. Tampaknya tidak ada seorang pun dari petualang tersebut yang cukup percaya diri bisa mengalahkanku setelah menyaksikan pertarungan tadi. Kemungkinan Deborane adalah yang terkuat diantara mereka.

"Aku tidak berkata demikian!" seru salah seorang petualang, memecah kesunyian.

"Aku juga tidak mengatakannya," yang lain mengikuti.

"Deborane lah satu-satunya yang mengatakan hal tersebut, bukan begitu?"

"Ya itu benar."

Kelihatannya mereka ingin mengorbankan Deborane demi menyelamatkan diri mereka sendiri.

"Tapi aku tadi sudah bilang, bukan? Jika kalian menang, maka aku akan menyerah untuk menjadi petualang dan pergi. Jika kalian yang kalah, maka kalianlah yang berhenti dari guild dan pergi, kemudian, saat pria tadi bilang, 'jika kami kalah darimu, kami pasti akan keluar dari guild! bukan begitu, teman-teman,' kalian serempak menjawab 'yeah'. Nona resepsionis ini sudah mengonfirmasi hal tersebut, bukan begitu?"

Aku menatap resepsionis tersebut.

"Ya..." jawabnya dengan suara lirih.

Para petualang tadi mulai berbondong-bondong memasuki area pelatihan. Mereka tidak punya lagi tempat untuk bersembunyi, dan situasi mereka saat ini tidak bisa lebih buruk.

"Sebaiknya kau simpan dulu kata-katamu itu sampai berhasil mengalahkan kami semua," ucap salah seorang dari mereka.

"Atau bagaimana caramu menghadapai kami semua secara bersamaan?" lontar yang lain.

Satu, dua, kemudian tiga orang, mereka datang mengerumuniku. Kelihatannya aku perlu mengalahkan mereka sekaligus.

Jika mereka hanya sekuat Deborane, ini akan mudah, pikirku.

Tak perlu ditanya lagi, pertarungannya berakhir dengan sangat cepat. Aku tidak terlalu yakin sebelum mengecek statusku terlebih dulu, tapi kelihatannya aku telah naik level setelah mengalahkan Deborane. Langkah kaki beruangku semakin bertambah cepat, dan serangan Bear Punch yang kulancarkan menjadi beberapa kali lebih kuat dari sebelumnya. Aku mengalahkan orang-orang bodoh tadi hanya dengan satu pukulan.

"Hey, kalian pikir apa yang kalian perbuat?!" seorang pria besar berbadan kekar masuk ke dalam area pelatihan. "Hey, Helen, jelaskan apa yang terjadi!"

Helen, si pegawai resepsionis tadi, mencoba menjelaskan sebaik yang ia bisa. Ketika dia telah selesai, pria berotot tadi menatapku.

"Kau," ucapnya, "gadis dengan pakaian aneh di sana."

"Apa?"

"Apa kau yang bertanggung jawab atas semua ini?"

"Itu bukan salahku. Mereka mengancamku dengan kekerasan, jadi aku hanya membela diri. Kau tidak akan menyalahkanku atas peristiwa ini, bukan?"

"Pada dasarnya guild akan bertindak netral saat terjadi perseteruan antar petualang."

"Kalau begitu, kau ada di pihakku."

"Dan apa yang membuatmu berpikir demikian?"

"Aku belum tergabung ke dalam guild, jadi aku bukanlah seorang petualang. Aku cuma warga biasa. Semenjak mereka menyerang warga biasa sepertiku, bukankah itu seharusnya menjadi kesalahan guild yang bertanggung jawab atas mereka? Kau tidak bilang akan memihak sejumlah petualang yang berani mengeroyok seorang gadis kecil, bukan?"

"Yah..."

"Itu artinya, kau berada di pihak warga biasa sepertiku."

Sejujurnya, aku bukan berasal dari kota ini, tapi ia tidak perlu tahu akan hal itu. Pria tadi menggaruk kepalanya dan tampak ragu. "Jadi apa yang kau mau?"

"Aku hanya ingin mendaftar keanggotaan guild dan untuk mereka, aku ingin kau memecatnya."

"Aku akan menyetujuimu bergabung ke dalam guild, tapi tidak untuk memecat mereka."

"Mereka menundukkan kepala mereka padamu dan memohon untuk dikeluarkan dari guild karena mereka lemah. Dan kau tidak memperbolehkannya? Apakah guild petualang sungguh sekejam ini?"

"Apa? Kalian benar-benar ingin berhenti dari guild?" tanya pria berotot tadi kepada beberapa petualang yang masih tersadar di tanah. Wajah mereka menunjukkan raut yang ambigu dan mereka menolak memberikan jawaban.

"Itulah yang mereka katakan tadi. Bahwa orang lemah sepertiku tidak pantas untuk menjadi petualang, menurut pandangan mereka. Dan juga, mereka bilang, jika mereka dikalahkan oleh orang lemah sepertiku, mereka akan berhenti dari guild."

"Apa kalian sungguh berkata demikian?"

Beberapa dari mereka mengangguk.

"Yah, aku paham kalau orang-orang ini memanglah idiot," ujarnya, "itu sudah pasti."

"Benar. Bagus. Kalau begitu, bisakah kau pecat mereka?"

"Aku akan bertanya sekali lagi; apa kalian yakin ingin berhenti? Jika kalian tidak ingin menjawab, maka tinggalkan kartu guild kalian disini dan pergi."

"MAAF!" teriak para petualang yang terluka tersebut sambil menundukkan kepala mereka.

"Bisakah kau maafkan mereka?"

"Ada syaratnya."

"Apa itu? Beritahu aku."

"Aku ingin jaminan bahwa guild tidak akan lagi bersikap netral saat ada petualang lain yang mencoba mengusikku."

"Aku paham. Jika ada petualang yang memberimu masalah di kemudian hari, guild akan bertanggung jawab penuh atasnya."

"Baiklah kalau begitu, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan."


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Isekai-Chan

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 04. Beruang Tersiksa Setelah Melihat Dirinya di Cermin

  Volume 1
Chapter 04. Beruang Tersiksa Setelah Melihat Dirinya di Cermin


Aku langsung dipandu menuju ke sebuah kamar di lantai dua setelah menghabiskan makananku. Fina benar-benar seorang penyelamat—aku perlu berterima kasih padanya dengan benar nanti.

"Pemandiannya sudah buka, jadi anda dapat masuk," ucap Elena, "tapi tolong jangan terlalu lama saat berada di dalam, karena yang lainnya juga mengantri."

"Oke."

"Untuk sarapan paginya dari jam enam hingga pukul delapan. Mohon diingat—kami tidak akan melayanimu jika anda telat."

Setelah menerangkan padaku kurang lebih segala peraturannya, Elena kembali turun ke bawah, meninggalkanku sendirian di kamar tadi. Itu hanyalah sebuah kamar berkapasitaskan satu orang, jadi tidak terlalu besar—hanya terdapat satu buah kasur dan meja kecil di dalamnya. Tapi karena semua barangku tersimpan di inventory, kamar tersebut lebih dari cukup untuk kutinggali. Saat kuamati, ternyata ada sebuah cermin di kamar tersebut yang menempel pada dinding. Aku mencoba untuk memastikan kembali bagaimana penampilanku.

Sungguh memalukan. tidak diragukan lagi—pakaian yang sedang kukenakan sekarang tampak seperti piyama wanita yang biasa digunakan sehari-hari. Aku sungguh malu karena telah berjalan-jalan di luar sana dengan penampilan seperti ini, sampai-sampai aku berpikir untuk tidak mengenakannya lagi besok.

Aku mengumpulkan seluruh keberanianku dan sekali lagi kucoba untuk bercermin. Ada sesuatu yang janggal dengan penampilanku.

"Ini benar-benar wajah asliku..."

Dalam game World Fantasy Online, avatar milik pemain semuanya memiliki bentuk wajah yang sama, tapi kalian dapat memilih sendiri warna dan gaya rambutnya. Avatar milikku memiliki rambut kuncir berwarna putih, tapi yang saat ini terpantul di cermin adalah potret seorang gadis berambut hitam panjang yang terurai sampai ke bahu. Seorang hikikomori sepertiku tidak mungkin repot-repot untuk pergi ke salon, jadi kubiarkan rambutku tumbuh begitu saja. Menatanya pun akan cukup merepotkan, jadi kubiarkan saja terurai.

Cermin tadi merefleksikan wajah asliku beserta warna dan juga gaya rambutnya. Aku ingat jika avatar yang kubuat lebih tinggi sepuluh sentimeter dari tubuh asliku, tapi saat kuperhatikan lagi, tinggiku di cermin sama dengan tinggi badanku di dunia nyata.

Aku tidaklah pendek. Hanya saja tinggiku sedikit di bawah rata-rata, sungguh.

Aku tidak bohong.

Semakin kucoba untuk menyangkalnya, semakin jelas bahwa ini tidak mungkin lagi di dalam game yang aku kenal, jika tubuh asliku saja berada di sini. Menyadari fakta tersebut aku mulai dirundung kepanikan—sampai akhirnya aku benar-benar sadar bahwa tidak ada gunanya untuk gelisah.


Aku tidak memiliki orang tua yang baik ataupun teman; tak ada seorang pun yang akan kurindukan. Satu-satunya hal berharga yang tertinggal di duniaku sebelumnya adalah uang yang kuhasilkan dari bermain saham, tapi menurut isi surat dari dewa yang mengirimku ke sini, semua uangku telah dikonversikan ke dalam bentuk mata uang dunia ini. Yang kusesalkan sekarang hanyalah tidak lagi dapat menikmati hiburan dan makanan yang berasal dari duniaku sebelumnya, tapi mungkin akan ada banyak hal menarik di dunia ini, dan juga, makanan di penginapan ini tidaklah buruk. Aku bisa saja sekali lagi menjadi seorang hikikomori. Sayangnya, di dunia ini tidak ada internet, jadi itu akan sangat membosankan.

Dan lagi, jika kuanggap dunia ini adalah sebuah game, tidak ada salahnya untuk bersenang-senang dan berpetualang di dalamnya.

Saat aku mengubah cara pandangku seperti itu, aku mulai merasa tenang.

"Baiklah," aku meyakinkan diriku, "aku akan menanti hari esok dengan berendam dan tidur."

Sesampainya di pemandian, aku mulai menanggalkan pakaianku satu persatu di ruang ganti, mulai dari kedua sarung tangan kemudian kostum beruang. Yang tersisa dari tubuhku hanyalah sepotong celana dalam dan bra, yang artinya...

Hanya itu yang kukenakan selama aku berjalan-jalan di kota tadi. Setidaknya beri aku sepotong kaos! pikirku. Kalau dipikir-pikir, ternyata aku tidak punya pakaian dalam untuk ganti, jadi aku perlu membelinya nanti. Aku melepaskan dua potong kain terakhir yang menempel pada tubuhku...dan sesuatu menarik perhatianku.

Aku pelan-pelan membentangkan celana dalam yang barusan kulepas.

"Apa-apaan ini..."

Pakaian dalamku memiliki gambar beruang terukir pada kedua sisinya—satu beruang putih dan yang lainnya beruang hitam. Apakah dewa yang mengirimku ke sini memiliki semacam ketertarikan khusus pada beruang?

"Lebih baik aku tidak terlalu memikirkannya."

Pemandiannya membuatku merasa diremajakan. Berendam terlalu lama tidak diperbolehkan, jadi aku segara menyelesaikannya lebih cepat dari yang biasa kulakukan. Karena aku tidak punya baju ganti, aku mengenakan kembali pakaian dalam dan kostum beruang dari sebelumnya.

"Kurasa aku akan pergi berbelanja besok."

Aku tiba-tiba teringat akan sesuatu. Deskripsinya bilang jika aku membalik kostum beruang tersebut ke warna putih, staminaku akan dipulihkan. Dengan semangat penuh rasa ingin tahu, aku membalik kostum tersebut, kemudian mengenakannya. Dan efeknya sungguh luar biasa. Aku merasa diriku tengah dipulihkan dengan seluruh kehangatan yang menyelimutiku ini luar dan dalam.

Aku kembali menuju kamar dan segera meringkuk di balik selimut demi mengistirahatkan tubuh lelahku ini setelah menjalani aktifitas seharian. Sangat nyaman, kurasa.

"Selamat malam." ucapku, meskipun tidak ada seorang pun yang akan mendengarnya.


Karena aku tidur terlalu cepat kemarin, aku bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Tidak tersisa sedikit pun rasa lelah dari tubuhku, kemungkinan itu adalah efek dari mengenakan kostum beruang putih. Keinginan untuk terus menggunakan set perlengkapan beruang tersebut semakin meningkat. Mungkin saja ini item terkutuk.

Jika saja kostum beruang tersebut terlihat sedikit lebih keren.

Kelihatannya, aku punya sedikit waktu luang sebelum sarapan. Jadi, aku membuka layar status milikku.


Nama: Yuna 
Umur: 15 tahun
Level: 3
Kemampuan: Fantasy World Language, Fantasy World Literacy, Bear Extradimensional Storage

Perlengkapan
Tangan kanan: Black Bear Glove (Nontransferable)
Tangan kiri: White Bear Glove (Nontransferable)
Kaki kanan: Black Bear Shoe (Nontransferable)
Kaki kiri: White Bear Shoe (Nontransferable)
Pakaian: Black and White Bear Clothes (Nontransferable)
Pakaian dalam: Bear Underwear (Nontransferable)


Perlengkapan anehku semakin bertambah.


Bear Underwear
Tidak akan kotor sebanyak apapun dipakai.
Sebuah item berkualitas tinggi yang tidak akan menyisakan keringat dan bau badan.
Ukurannya akan otomatis menyesuaikan dengan postur tubuh pengguna.


Sungguh perlengakapan yang ideal untuk seorang hikikomori! Aku sangat berterima kasih sekali karena pakaian dalam tersebut akan secara otomatis menyesuaikan ukurannya saat kukenakan. Aku tidak memiliki dada yang cukup besar, jadi aku yakin akan membutuhkannya saat dadaku akan mulai tumbuh nanti di masa depan. Aku tidak perlu repot-repot mengganti ukuran pakaian dalamku setiap saat.

Saat aku turun ke bawah untuk menyantap sarapan, Elena tengah mengelap meja dengan sepotong kain.

"Selamat pagi."

"Pagi! bisakah aku sarapan sekarang?"

"Ya, tentu." Elena memandang ke arahku.

"Ada apa?"

"Anda putih hari ini. Itu terlihat cocok untukmu." ucap Elena dengan seutas senyum di wajahnya.

Bukannya aku tidak merasa malu karena tidak lagi mengenakan kostum beruang hitam, tapi menggantinya akan sangat merepotkan, jadi aku tetap menyantap sarapanku dalam balutan kostum beruang putih. Roti dan supnya sungguh lezat.

Sekembalinya aku ke kamar, aku mengganti kostumnya kembali menjadi beruang hitam dan mulai membuat daftar apa yang harus kulakukan hari ini:
Beli pakaian ganti (termasuk pakaian dalam).
Buat kartu identitas (pergi ke guild petualang).
Dapatkan beberapa perlengkapan (aku ingin sebuah pedang).
Kumpulkan informasi (mungkin di perpustakaan atau toko buku).
Cari tahu seberapa kuat diriku (serigala kemarin musuh yang mudah).

Aku bertanya pada Elena dimana letak guild petualang, dan menyadari bahwa itu ternyata terletak tepat di sebelah bangunan tempatku dan Fina menjual material serigala kemarin. Aku mungkin akan kerepotan tanpa adanya kartu identitas, jadi kuputuskan untuk pergi ke sana terlebih dahulu. 

Tak terduga, aku akan berpapasan dengan Fina tepat setelah keluar dari penginapan.

"Yuna-san, selamat pagi."

"Ada perlu apa, Fina?"

"Aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan juga aku penasaran bagaimana pendapatmu tentang penginapannya."

"Penginapannya memuaskan. Masakan yang mereka hidangan cukup enak, dan aku tidak habis pikir bahwa mereka akan punya pemandian. Bagaimanapun juga, aku akan menetap di sana selama sepuluh hari ke depan."

"Aku senang kau menyukainya."

"Apa kau baik-baik saja, Fina?"

"Ya!  Aku sudah menyerahkan obatnya pada ibu. Jadi, kemana kau akan pergi hari ini, Yuna-san?"

"Aku akan mengunjungi guild petualang, kemudian aku berpikir untuk melihat-lihat kota setelahnya."

"Bisakah aku pergi ke sana bersamamu?"

"Aku tidak keberatan, tapi aku hanya akan membuat kartu identitas di sana."

"Aku juga bertujuan pergi ke sana untuk melihat apakah ada lowongan pekerjaan menyiangi daging monster."

"Pekerjaan menyiangi daging monster?"

"Aku sudah mengatakannya kemarin, bukan? kalau aku terkadang melakukan pekerjaan menyiangi daging monster. Gentz-san lah yang memberiku pekerjaan tersebut."

"Gentz-san?"

"Ya, dia adalah orang yang membeli material serigala dari kita kemarin. Terkadang para petualang pulang dengan membawa banyak mayat monster tanpa menyiangi mereka terlebih dahulu. Saat hal itu terjadi, aku selalu datang untuk membantu. Itulah mengapa hal pertama yang kulakukan setiap pagi adalah pergi ke sana dan mengecek apakah ada pekerjaan yang tersedia atau tidak."

"Oh, kau mengatakan sesuatu semacam itu kemarin."

Tidak ada yang menyangka jika gadis sekecil ini memiliki sebuah pekerjaan menyiangi mayat monster. Kurasa itu adalah hal yang wajar melihat ini adalah dunia fantasi. Aku berani bertaruh tidak akan ada seorang pun yang mau menaruh empati padanya...

"Gentz-san lah yang selalu merawatku."

Mungkin dia adalah seorang lolicon...

"Aku merasa kalau Gentz-san menyukai ibuku."

Atau mungkin otakku saja yang kotor. Mudah berprasangka buruk terhadap orang lain adalah kebiasaan jelek yang kupunya.

Fina bercerita tentang hubungan Gentz-san dengan ibunya sepanjang perjalanan menuju tempat kami menjual material serigala kemarin. Tentunya, aku tidak luput dari tatapan setiap orang yang lewat sepanjang perjalanan tersebut.




TL: Boeya
EDITOR: Isekai-Chan

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 03. Beruang Melakukan Transaksi

  Volume 1
Chapter 03. Beruang Melakukan Transaksi


Terdapat seorang penjaga yang tengah menanti di gerbang. Ia menatap lurus tepat ke arahku, dan saat itulah aku sadar akan penampilanku.

Bagaimanapun kalian melihatnya aku tampaklah seperti seekor Beruang. Aku memang terlihat mencurigakan, tapi bukan dalam artian 'mengintimidasi'. Fina tadi juga menyebutku "imut". Sejujurnya, dipanggil imut itu terdengar memalukan. Mungkin jika yang mengenakannya adalah seseorang seumuran Fina itu akan terlihat imut, tapi tidak dalam kasus seorang hikikomori seperti diriku.

Bagaimanapun juga, dia tidak perlu sampai memandangiku seperti itu.

"Kau, gadis yang di sana. Kau yang tadi pergi untuk mencari tanaman obat, bukan? Apakah kau berhasil menemukannya?"

"Ya." ucap Fina sambil tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Sepertinya kau telah memegang janjimu untuk tidak terlalu berkeliaran masuk ke dalam hutan. Banyak monster di sana."

Aku tersenyum kecut oleh kata-katanya barusan.

"Lalu apa-apaan dengan gadis berpakaian aneh ini?"

"Tolong, hiraukan saja aku."

"Yah, setiap orang punya alasannya masing-masing kurasa. Bagaimanapun juga, jika kalian ingin masuk, tunjukkan padaku kartu identitas kalian terlebih dahulu."

Fina menunjukkan kartu kependudukannya kepada si penjaga tadi.

"Aku tidak bermukim di kota ini." kataku sambil menggerakkan mulut dari sarung tangan Beruang milikku menirukan apa yang aku katakan, "tapi kudengar aku dapat lewat jika membayar sekeping koin perak."

"Kartu identitasmu..." Penjaga tadi belum sempat menyelesaikan ucapannya.

"Aku tidak punya kartu identitas apapun, tapi aku tetap dapat masuk selama aku membayar, bukan?"

"Kau tidak punya sama sekali? kartu identitas dari kota manapun tidak masalah."

"Aku tinggal di desa terpencil."

"Aku paham. Jika seperti itu, maka kami akan mengenakanmu biaya pajak dan mengecek catatan kriminal yang kau miliki."

Aku mengeluarkan sekeping koin perak dari mulut beruang putih dan menyerahkannya kepada si penjaga tadi.

"Baiklah, kalau begitu. Ikuti aku..."

Seharusnya tidak ada masalah, karena aku belum pernah sekalipun melakukan suatu tindak kriminal sejak tiba di dunia ini. Tentu saja aku juga belum pernah berbuat kriminal di duniaku yang sebelumnya.

Aku belum pernah, sungguh.

Penjaga tadi membawaku ke sebuah bangunan terdekat; perkiraanku itu adalah sebuah barak militer yang biasa muncul pada novel-novel fantasi. Dia memanduku ke sebuah tempat seperti meja resepsionis dan meletakkan sebuah panel kristal di depanku.

"Tolong letakkan tanganmu di atas kristal ini. Jika kau adalah seorang kriminal maka kristalnya akan berubah merah."

"Aku hanya perlu meletakkan tanganku di sini?"

"Ya, itu akan bereaksi dengan mana milikmu dan akan langsung membaca data dirimu."

Aku meletakkan tanganku di atas panel kristal tersebut persis seperti yang penjaga tadi perintahkan, tapi itu tidak bereaksi sama sekali.

"Sepertinya kau bersih dari catatan kriminal."

"Dapatkah kau benar-benar mengetahuinya hanya dari ini?"

"Kau bahkan tidak tahu apa itu panel kristal? Sebenarnya dari mana kau berasal?"

"Sebuah desa yang amat jauh."

"Yah, mungkin aku akan menjelaskannya padamu. Panel kristal ini terhubung dengan seluruh panel-panel kristal yang ada di negara ini. Saat ada seorang bayi yang baru lahir di suatu kota, sebuah kartu kependudukan akan di cetak dan di saat yang bersamaan mana milik bayi tersebut akan didaftarkan. Mereka melakukan hal yang sama di ibukota dan kota-kota lainnya. Dengan cara seperti itu, kita dapat mengetahui dari mana seseorang itu berasal."

Jadi itu seperti registrasi kependudukan.

"Saat seseorang itu melakukan sebuah tindak kriminalitas," Imbuhnya, "kita dapat memasukkan data tersebut ke dalam panel kristal tadi. Jika orang tersebut telah terdaftar, datanya akan dikirim ke seluruh panel kristal yang ada. Berdasarkan informasi tersebut, seorang pelaku kriminal tidak lagi diperbolehkan memasuki ibukota, begitupun dengan kota-kota lainnya."

"Bagaimana jika mereka menggunakan kartu guild, atau kartu identitas milik orang lain?"

"Itu tidak mungkin. Kartu itu dibuat untuk dapat merespon mana seseorang. Jika mana tersebut tidak cocok dengan orang yang telah didaftarkan pada kartu tersebut. Kartunya tidak akan merespon."

Jadi 'mana' itu semacam sidik jari di dunia ini?

"Tapi jika seseorang itu belum terdaftar, itu tidak berguna, bukan?" tanyaku.

"Mungkin di situlah letak masalahnya, tapi pada dasarnya hanya orang-orang dari desa terpencil saja, yang tidak pernah berpergian ke ibukota maupun kota-kota lainnya, yang tidak memiliki kartu kependudukan tersebut. Jarang dari mereka yang menjadi pelaku kriminal."

Aku rasa begitu.

"Itu saja untuk saat ini. Ada hal lain yang ingin kau tanyakan? Jika tidak, kau bisa langsung masuk kota."

Aku mengucapkan terimakasih kepadanya dan mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, ternyata Fina tengah menungguku. Jadi aku mengelus kepalanya.

"Yuna-san*, apakah semuanya baik-baik saja?"
<TLN: mulai dari sini Fina tidak lagi menyebut Yuna dengan 'anda' kemungkinan akan menjadi 'Yuna-san' atau 'kau' karena mereka berdua sudah berkenalan>

"Yah, tidak masalah."

"Kalau begitu ayo kita jual serigalanya di guild."

Kotanya terlihat tidak jauh berbeda dari yang ada di game, aku merasakan ada sedikit perbedaan sih. Dan juga, untuk beberapa alasan, aku merasa tatapan semua orang tertuju padaku. Karena aku orang luar, mungkin?

"Pakaianmu sungguh mencolok, Yuna-san."

Oh, benar.

Aku tengah mengenakan kostum Beruang.

Fina mengantarkanku ke sebuah bangunan yang tampak seperti gudang. Disebelahnya berdiri bangunan yang amat besar, dimana banyak petualang bersenjata dan juga para staf sedang berlalu-lalang di sekitar bangunan tersebut. Dikarenakan layar status mereka tidak muncul, aku tidak tahu apakah mereka adalah pemain yang sama dari game atau hanya sekedar NPC. Aku ingin memastikannya lebih lanjut, tapi untuk saat ini aku memutuskan untuk mengikuti Fina.

"Kita akan menjualnya di sini. Permisi," kata Fina memanggil seorang pria di balik meja konter, "kami ingin menjual serigala ini."

"Oya, bukankah itu Fina. Apa yang membawamu kemari di waktu seperti ini?"

"Aku kemari untuk menjual barang." Fina meletakkan material-material serigala yang dia bawa tadi di atas meja.

"Darimana kau mendapatkan daging dan bulu serigala ini?"

"Mereka mencoba menyerangku saat aku sedang mengumpulkan tanaman herbal, kemudian dia menyelamatkanku."

"Kau pergi ke hutan?" Seru pria tadi.

"Ya, aku kehabisan obat untuk ibu." 

"Bukankah telah kukatakan berulang kali? Jika kau butuh obat, aku akan memberikannya untukmu."

"Tapi aku tidak bisa selalu bergantung padamu, Gentz-san. Apalagi jika itu diberikan secara cuma-cuma."

"Seperti yang sudah kubilang, itu tidak masalah. Jika sesuatu terjadi padamu, apa yang harus kukatakan pada ibumu nanti?"

"Itu akan baik-baik saja. Selain itu, aku sudah sering pergi ke hutan."

"Tapi bukankah kau baru saja diserang oleh kawanan serigala? dan gadis aneh di sanalah yang telah menyelamatkanmu. Terima kasih, nona—karena telah menyelamatkan Fina." dia tampak kesulitan berbicara denganku sembari menatap lurus ke arahku.

"Tidak masalah," ucapku. "Aku tersesat tadi, dan dia juga telah membantuku."

"Aku ingin berterima kasih padamu," ucap Gentz-san, "tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan, jadi aku harus tetap memberimu harga yang wajar untuk material-material yang kau jual, jika kau tidak keberatan."

"Tidak masalah."

Pria itu mulai mengecek material-material tersebut.

"Uhh, daging dan bulu, huh. Cuma sebanyak ini yang bisa kuberikan pada kalian."

Gentz-san meletakkan beberapa keping koin di depan kami. Aku tidak tahu apakah dia membayar kami dengan harga pasar atau malah di bawahnya.

"Ya, terimakasih." Fina kelihatan senang sih. Dia mencoba memberiku separuh dari uang yang dia terima tadi.

"Fina, aku tidak membutuhkan uang itu, sebagai gantinya bisakah kau menunjukkan padaku sebuah penginapan yang bagus? Aku tidak tahu kemana harus pergi. Tapi kurasa kau perlu menyerahkan tanaman obat itu pada ibumu dulu, bukan?"

"Tidak apa-apa," ucapnya. "Ada sebuah penginapan yang terletak di jalan menuju rumahku, jadi aku akan mengantarkanmu ke sana."

"Terima kasih."

"Fina!" seru Gentz-san. "Kau sebaiknya tidak melakukan hal-hal yang berbahaya lagi, beritahu saja aku jika kau memerlukan obat."

"Ya, baiklah." jawab Fina. Kemudian ia berbalik dan pergi.

"Apakah kau kenal pria tadi?" tanyaku.

"Ya, aku selalu dibantu olehnya. Terkadang ia juga memintaku untuk membantunya menyiangi monster saat ada banyak monster yang masuk."

Oh, pikirku, jadi itulah alasan mengapa ia begitu terlatih dalam menyiangi daging monster.

"Dia juga tahu kalau ibuku sakit, jadi terkadang ia memberiku tanaman herbal dan obat dengan harga murah—atau malah pernah suatu waktu ia memberikannya gratis. Tapi, tidak enak untuk selalu bergantung padanya setiap saat."

Jadi itulah alasan mengapa kali ini ia pergi sendirian ke hutan untuk mengumpulkan tanaman obat. Aku ingin melakukan sesuatu untuk membantunya, tapi melihat dari keadaanku saat ini, sepertinya itu perlu menunggu.

Dari tempat menjual serigala tadi, butuh waktu sekitar tiga puluh menit berjalan kaki untuk dapat tiba di penginapan, dan tidak perlu ditanya lagi, sepanjang jalan, aku dihujani banyak tatapan oleh setiap orang yang lewat.

"Kita sudah sampai." ujar Fina. "Semua orang bilang kalau hidangan yang mereka sediakan juga enak."

"Terima kasih. Baiklah, sebaiknya kau lekas pergi dan berikan obat itu pada ibumu."

"Ya. Terima kasih, Yuna-san."

Fina pun mulai beranjak pergi. Menyaksikan kepergiannya, sebuah aroma yang begitu sedap muncul menggelitik hidungku dari dalam penginapan tersebut. Hari mulai senja; saatnya untuk menyantap makan malam. Agar tidak mempermalukanku, sembari beranjak masuk aku menahan luapan kegembiraan karena dapat segara menikmati hidangan lezat. Seorang gadis di penghujung usia remajanya tiba-tiba terhenti di tengah-tengah kesibukannya melayani pelanggan dan memberiku tatapan penuh heran. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang musti kulakukan menanggapi semua reaksi yang sama ini berulang kali.

"Se-selamat datang?" ucap gadis tadi sambil menatapku.

"Kudengar aku dapat menginap di sini?"

"Ya, tentu. Biayanya satu keping koin perak per hari, termasuk sarapan serta makan malam. Dan setengah koin perak* untuk menginap tanpa makan."
<TLN: di sini mungkin maksud dari setengah keping koin perak adalah beberapa keping koin perunggu yang memiliki nilai jual yang sama dengan setengah keping koin perak. Semenjak tidak ada koin yang berbentuk setengah lingkaran>

"Kalau begitu, aku akan tinggal di sini selama sepuluh hari dengan makan."

"Untuk pemandiannya akan dibuka dari jam enam sore hingga pukul sepuluh malam."

"Kalian memiliki sebuah pemandian?!"

"Ya, tentu. Tidak perlu khawatir karena tempat pemandian untuk pria dan wanita terpisah."

Sebuah kebetulan yang menggembirakan. Aku tidak menduga jika penginapannya akan memiliki sebuah pemandian.

"Dapatkah aku menyantap hidanganku sekarang?"

"Tentu saja."

Setelah selesai mendengarkan penjelasan darinya. Aku mengeluarkan sepuluh keping koin perak dari mulut Beruang putih. Saat dia menerima uang tersebut, tangannya meremas sarung tangan Beruang hitam milikku.

"Whoaa! Maaf. Itu terlihat begitu menggemaskan. Jadi sepuluh hari dengan makan, bukan? Aku akan menyiapkan makanannya sekarang, jadi silahkan duduk terlebih dahulu dan tunggu. Oh, aku adalah anak dari pemilik penginapan ini, namaku Elena. Senang bertemu denganmu."

"Namaku Yuna. Aku tidak sabar untuk menginap di sini."




TL: Boeya
EDITOR: Isekai-Chan