Jumat, 04 Desember 2020

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 16. Beruang Mengambil Libur di Hari Hujan. Bagian Dua

Volume 1
Chapter 16. Beruang Mengambil Libur di Hari Hujan. Bagian Dua


Aku menyerah untuk melatih otot lenganku dan memutuskan untuk turun ke bawah, mencari sesuatu yang dapat dikerjakan. Ruang makan penginapan penuh seperti saat jam makan siang, namun bukan karena pelanggan yang sedang makan*. Elena duduk di meja konter, tampak lelah.
<EDN: nongkrong doang makan kaga, gitu mungkin maksudnya>

"Oh, Yuna-san," ujarnya, "maaf untuk yang sebelumnya."

"Tidak apa-apa."

"Jadi, apa yang kau perlukan?"

"Aku hanya mencoba untuk menghabiskan waktu." Aku mengambil tempat duduk di depan meja konter.

"Kami tidak menyediakan hiburan apapun di sini."

"Yah, dapatkah kau memberiku sesuatu untuk diminum?"

"Ya, tentu." Dia pergi ke belakang dan kembali dengan membawa dua gelas berisi minuman, salah satunya ia berikan padaku. "Silahkan, cobalah ini. Jus buah mira."

Aku berterima kasih padanya kemudian menerima gelas tersebut. Rasanya sedikit manis dan asam, sangat disayangkan jusnya agak hangat. Dan lagi, jika itu hangat... Aku hanya perlu mendinginkannya. Aku meletakkan tanganku di atas gelas berisikan jus tadi, menyalurkan sedikit mana, dan membayangkan es dalam bentuk kubus simetris. Sebuah suara benda yang jatuh ke dalam air terdengar, batu es jatuh dan mengambang di dalam gelas tersebut.

"Tunggu, apa itu?"

"Aku hanya menambahkan beberapa es batu pada jusnya," ujarku. "Menurutku akan lebih enak jika disajikan dingin."

Aku menyeruputnya sedikit. Berkatku, jus tersebut menjadi beberapa tingkat lebih nikmat.

"Da-dapatkah kau lakukan hal yang sama pada jusku juga?"

Elena menyerahkan gelasnya padaku saat aku sedang menikmati jusku. Tidak ada alasan untukku menolaknya, jadi aku memasukkan beberapa es batu ke dalamnya.

"Terima kasih banyak." Elena mendentingkan gelas yang sudah diimbuhi es batu kemudian meminumnya sesaat telah dingin. "I—ini begitu nikmat. Aku tidak percaya akan terasa begitu nikmat saat disajikan dingin! Ini sangat cocok saat cuaca panas. Tapi kami sudah kehabisan tempat untuk menyimpan jus dalam lemari pendingin."

Di dunia ini, lemari pendingin sudah ditemukan. Kalian dapat membuat lemari pendingin yang simpel dengan menggunakan kristal sihir apapun, selama kalian memberikan sihir es ke dalam nya, lain cerita jika yang kalian inginkan adalah lemari pembeku, kalian perlu kristal sihir bertipe es untuk membuatnya. Di wilayah utara, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku kumpulan info tentang monster, kalian dapat menjumpai monster-monster beratribut es di sana, tapi tingkat kesulitan dan jauhnya jarak menjadikan lemari pembeku adalah barang yang mewah.

"Jika saja lemari pendingin kami sedikit lebih besar..." Elena dengan murung menyeruput jus dingin miliknya.

"Apakah kau tidak bisa menggunakan sihir, Elena?"

"Tentu saja tidak. Jika bisa, aku tidak akan berakhir sebagai pengurus penginapan seperti sekarang. Aku iri denganmu, Yuna."

Deskripsi pada set perlengkapan beruang mengatakan bahwa perlu menyalurkan mana pada kostum untuk dapat menggunakan sihir, jadi aku tahu kalau aku setidaknya memiliki mana, sebagaimana orang-orang di dunia ini memilikinya. Akan tetapi, saat tidak mengenakan set perlengkapan beruang, aku tidak dapat menggunakan sihir. Aku tidak terlalu paham relasi antara mana dan sihir di dunia ini, tapi kemungkinan Elena bernasib sama dengan aku yang tanpa kostum beruang*.
<TLN: Elena dan Yuna tanpa kostum beruang sama-sama tidak bisa menggunakan sihir, meskipun mereka berdua memiliki mana>

Mungkin di masa depan, aku akan mencapai suatu titik dimana aku dapat menggunakan sihir tanpa bantuan kostum beruang?

Pada akhirnya kami berbincang-bincang hingga masuk jam makan malam. Aku senang dapat mengisi waktu luangku, di sisi lain, Elena mendapat ceramah dari ibunya karena tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.


Note:
Welp, chapter kali ini bener-bener singkat .-.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Kamis, 03 Desember 2020

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 44. Raja Iblis Eligos yang Tak Terkalahkan

 Chapter 44. Raja Iblis Eligos yang Tak Terkalahkan



Eligos menunggangi kuda hitam dan mengenakan armor yang memancarkan aura mengerikan dan penuh dengan niat membunuh. Hanya dengan melihatnya sekilas saja. maka kau akan mengetahui kalau dia bukan manusia

“Padahal, dia memang memiliki bentuk manusia.” gumanku.

Jeanne setuju, tetapi kami tidak membahas hal itu lebih lanjut.

Sangat disayangkan Eve tidak ada di sini, dia mungkin akan memberitahuku sesuatu yang berguna, karena dia adalah database berjalan.

Jadi aku tidak punya banyak pilihan selain memberi tahu Jeanne apa yang kuketahui sebagai gantinya.

“Eligos adalah Raja Iblis yang disebut pangeran neraka. Seperti yang kau lihat, dia bagus dalam pertarungan jarak dekat dan lebih kuat dari Raja Iblis Sabnac dalam Duel."

"Hijikata bercerita, pada saat melawan Sabnac dia harus berjuang mati-matian."

"Begitu juga aku."

"Aku mendengar bahwa Astaroth-sama yang pada akhirnya mengalahkannya."

“Ya, pada akhirnya. Tapi apakah semuanya berjalan lancar kali ini? "

Saat aku memikirkan ini, pasukan tim Skeletonku, menyerang Eligos.

Mereka semua memegang pedang dan mengincar leher Eligos. Namun, Eligos mengayunkan tombaknya ke samping, dan seketika tiga puluh skeleton hancur.

Ini buruk. Aku harus memikirkan sesuatu.

“Mengirim tentara terlemah kita hanya akan mengurangi jumlah kita. Hanya Jeanne dan Hijikata yang bisa bertarung melawannya.”

Hijikata mendengar ini dan mengeluarkan peluit.

"Ah, jadi di sinilah kau ingin aku mati?"

"Tentu saja tidak. Itu akan sangat merepotkan bagiku. "

“Tetap saja, kupikir melawan Raja Iblis mungkin sulit, bahkan untuk kita berdua.”

"Aku tahu. Aku hanya butuh sedikit lebih banyak waktu. Sedikit lagi. Alihkan perhatiannya. Lalu kita bisa menang."

“… Jika kau bisa mengatakan itu, maka seharusnya kau tahu apa yang akan kau lakukan. Apakah itu ada hubungannya dengan pelayanmu itu? "

"Iya. Aku percaya pada Eve."

"Baiklah. Aku akan percaya padamu dan pelayanmu.” kata Hijikata. Kemudian dia berlari menebas pasukan musuh yang berada di jalannya.

"Jeanne, kau tertinggal," ujar Hijikata.

Jeanne tampak kesal kemudian dia menoleh ke arahku.

“Astaroth-sama. Kita akan melawan Raja Iblis Eligos. Tapi masih ada ribuan Undead yang harus kita hadapi untuk sementara.”

“Ya, tidak ada jalan yang mudah.”

“Tapi, kau akan menang. Dan aku juga tidak akan kalah. Astaroth-sama. Pimpin kami menuju kemenangan."

"Aku berjanji kemenangan akan menjadi milik kita."

Setelah aku mengatakan ini, dia memberikan ciuman di pipiku nyaris mengenai bibirku tanpa benar-benar menyentuhnya. 
<TLN: halo FBI>
<EDN: FBI cannot reach you in isekai>

Aku terdiam menerima ciuman itu, tetapi kemudian teringat bahwa kami berada di medan perang.

Wajahku menjadi panas.

“... Kau tidak menahan diri, sepertinya.”

Dia memberiku senyum nakal dan berkata,

“Aku seorang wanita Prancis. Itu hanyalah salam. Tapi jika Astaroth-sama dapat kembali hidup-hidup, aku mungkin akan memberikanmu French Kiss yang sesungguhnya."
<EDN: Ehm, perlukan dijelaskan perbedaan French Kiss dengan yang lainnya>

Kemudian dia menghunus pedangnya dan menuju ke garis depan. Dia juga memotong barisan musuh saat dia menyerang. Tumpukan Zombie mulai menggunung di belakangnya.

Mereka akan tergantikan dengan Undead lain dengan cepat…

Dan itu tugasku untuk membunuh mereka.

Ada juga Ghost, Wraith dan Banshees yang hanya bisa dibunuh dengan sihir.

“Baiklah. Ini akan menjadi pekerjaan yang melelahkan.”

Alu harus menjadi komandan dan tentara sekarang.

“Kalau saja Zhuge Liang, Sima Yi atau Nobunaga ada di sini. Hidupku akan jauh lebih mudah…”

Namun, tidak ada gunanya mengeluh tentang itu. Aku harus menghadapinya sendiri.

Jadi aku melepaskan sihir sambil meneriakkan perintah. Dengan taktik seperti itu, kami secara sistematis berhasil mulai mengubur pasukan Undead Eligos.

Raja Iblis Eligos menyaksikan ini dan memasang tampang kagum.

Dia melihat dari jauh dari atas kudanya dan mengucapkan kata-kata berikut:

“Jadi ini Raja Iblis Ashtaroth yang terkenal. Aku telah mendengar bahwa dia mengalahkan Sabnac, dan tampaknya itu bukan kecelakaan."

Tapi kemudian dia melanjutkan,

“Tetap saja, Raja Iblis Sabnac hanyalah Raja Iblis Rank-F. Dia sendiri mungkin seorang pejuang hebat, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Ashtaroth hanyalah raja bermata satu di negeri orang buta. Kekekeke." Raja Iblis Eligos terkekeh.

“Aku tidak bisa mengabaikan itu. Kau telah menghina tuanku."

Terdengarlah sebuah suara.

Itu adalah suara seorang pria. Pria bertampang kuat dengan seragam asing.

Eligos memelototinya, tapi dia tidak mundur sedikitpun.

Dan kemudian suara lain berteriak.

“Aku tidak akan memaafkan siapapun yang mengejek Raja Iblisku. Kepalamu adalah milikku! "

Suara ini yang terdengar jelas dan nyaring berasal dari wanita yang memegang pedang dan terlihat seperti seorang Saint.

Itu pasangan yang aneh, pikirnya. Dan mereka sepertinya menyadarinya juga.

“Kami bukan pasangan!” Kata mereka bersamaan saat mereka menebas musuh.

Walaupun mereka bukan pasangan, gerakan mereka terlihat terkoordinasi dan sinkron satu sama lain.

Hijikata memblokir tombak Eligos kemudian Jeanne dengan lincah menusukkan pedang miliknya.

Tentu saja, serangan seperti itu tidak akan sampai padanya.

Tetap saja, mereka tetap menarik perhatiannya. Eligos pun menanyakan nama mereka.

"Kalau begitu sebutkan nama kalian."

"Namaku? Aku tidak yakin kau perlu mengetahuinya. Tapi aku akan berbaik hati kali ini. Namaku Hijikata, wakil kapten Shinsengumi. Hijikata Toshizou.” Katanya.

Kemudian Jeanne melanjutkan.

“Aku Jeanne. Maiden of Orleans. Jeanne d’Arc. Pelayan Tuhan. Tuhan mengirimku ke sini agar aku bisa membunuh semua Raja Iblis jahat. Dan kau adalah salah satunya."

Kemudian mereka menyerangnya lagi.

Gerakan Raja Iblis itu cepat tapi tidak begitu cepat sehingga mereka tidak bisa melihatnya.

Sebagai ahli pedang, Hijikata tetap tenang saat dia menggunakan pedangnya.

Dan sebagai hamba Tuhan, Jeanne menyerangnya tanpa ampun.

Eligos mengenakan armor tebal, yang mencegah mereka melakukan serangan mematikan. Namun, mereka mulai berhasil mengenainya.

Jika ini terus berlanjut, ada kemungkinan mereka bisa menembus armornya.

Tapi apakah itu Hijikata, atau Jeanne? Aku tidak yakin. Tapi ternyata yang pertama kali menembus armor itu adalah Hijikata.

Ada beberapa alasan untuk itu.

Pedang suci Jeanne, Nouvelle Joyeuse, adalah pedang bermata dua. Yang membuat pedang itu cukup berat.

Di sisi lain, Hijikata adalah ahli pedang yang pernah berlatih di dojo wilayah Tama. Dia berada di atasnya sebagai seorang pejuang.

Kapanpun Eligos menghindari pedang besar Jeanne, Hijikata akan menyelinap masuk, tampaknya dari bayang-bayang, dan menusukkan pedangnya ke luar.

Pedang Hijikata tercantap ke dalam perut Eligos. Dan kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Meskipun perutnya tertusuk, Eligos mengabaikannya dan menusukkan tombaknya.

Kemudian dia menendang Hijikata dan mencabut pedang itu dari tubuhnya, dan terlihat kalau dia hampir mati karena serangan itu.

Keringat dingin menetes dari wajahnya.

“… Benar-benar monster. Namun, pastinya itu menimbulkan banyak damage…”

Dia berhenti.

Bahkan jika itu tidak mematikan, itu seharusnya cukup dalam.

Dia memikirkan ini, tapi hanya sesaat.

Perut Eligos telah dibelah. Darah hitam mengalir keluar dari lubang itu, tetapi dengan cepat berhenti. Lalu tertutup.

Lukanya sembuh sendiri.

“Kemampuan pemulihan seperti itu… itu konyol.” Hijikata menghela nafas. Tapi Jeanne tampak semakin kecewa.

“… Hijikata. Sangat disayangkan bahwa kau tidak dapat membunuhnya dengan serangan itu."

“… Apa maksudmu kita tidak akan mendapat kesempatan lagi?”

"Mungkin. Tapi pasukan Raja Iblis Astaroth-sama dalam kondisi buruk. Mereka sudah kelelahan. Tidak lama lagi mereka akan tumbang."

Dia melihat ke belakang. Mereka telah mundur cukup jauh sekarang. Formasi akan segera runtuh dan mereka akan ditelan oleh musuh. Ini akan berakhir.

Dan sepertinya mereka tidak punya harapan untuk mengalahkan Eligos sekarang.

Dia tahu betapa kuatnya Eligos setelah bertukar beberapa serangan dengannya.

Dan dengan kemampuan penyembuhan ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan.

(... Kami mungkin akan mati.) Pikirnya, tapi tidak putus asa.

Jika ada, dia tenang. Dia puas bahwa dia setidaknya akan mati ditangan Raja Iblis yang sekuat ini.

–Itu seperti yang dia pikirkan. Kemudian Suara Ashta terdengar dari jauh.

“Hijikata. Kau tidak akan mati di sini. Kau akan mati di bawah seratus ribu anak panah. Bukan di tangan Raja Iblis rendahan semacam Eligos.”

“Raja Iblis rendahan katamu !!!!” Teriak Eligos.

Namun, suara Ashta kembali tenang.

“Sudah kubilang aku punya rencana, bukan? Dan aku butuh waktu untuk itu. Jika kau bisa menahannya beberapa saat lagi maka Eve bisa membantu kita."

Saat Raja Iblis Ashta mengatakan ini, perubahan terjadi pada tubuh Eligos.

Dia telah kehilangan aura tidak menyenangkan yang mengelilingi tubuhnya sampai sekarang.

Itu adalah awal dari perubahan yang terjadi di medan perang tanpa harapan.

Note: 
Jangan lupa klo ada kesalahan bisa koreksi lewat komen di bawah atau DM FP Isekai chan yak


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 02 Desember 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 184. Pemurnian

 Chapter 184. Pemurnian




“Sekarang, ayo kita pulang!”
“Seperti yang kuduga, bersama Naofumi-chan itu pasti menyenangkan.”
“Sadina, berhentilah tertawa. Cepat tuangkan air suci untuk menyembuhkan lukaku!”

Karena jika terlambat diobati, ini akan semakin sakit!
Seharusnya kau memikirkan itu.

“Apa boleh buat.”

Lalu, Sadina menggunakan air suci dan memberikan mantranya padaku. Sebenarnya, dia menggunakan mantra sihir yang spesial, ini cukup berguna karena bisa menyembuhkan luka dari kutukan. Mantra yang sangat bagus.

“Ah, Naofumi-chan. Berikan aku magic potion..... jika tidak Oneesan akan kehabisan kekuatan sihir.”
“Untuk apa. Kita sudah tidak akan bertarung lagi.”
“Ah.... ini benar-benar akan merepotkanku. Jadi. Aku mohon.”

Kata Sadina yang aku hiraukan sambil berjalan.

“Filo, ayo kita pulang.”
“Oke.”
“KyuA!”

Gaelion mengelilingi kakiku lagi.

“Jangan menghalangiku. Menyingkir!”
“KyuAAAAAAA!”

Tiba-tiba, Gaelion bersinar lalu tubuhnya berubah kembali menjadi ukuran saat dia memakan inti Dragon Zombie.... namun ukurannya sedikit berbeda. Sekarang dia berukuran sekitar 4 meter.
Kemudian, Gaelion terbang dengan diriku, Taniko dan Sadina berada pada punggungnya, bersama dengan Rat yang menggenggam erat ekor Gaelion dengan kedua lengannya.

“Ah, AAAAAAH--!”

Kata Filo dengan penuh rasa kesal.

“Naofumi-sama--!”

Raphtalia juga terlihat sangat terkejut. Bahkan aku tidak sempat berkata sedikitpun!
Jadi Gaelion memiliki kemampuan untuk berubah.

“KyuA—“

Dengan maksud mengejek Filo, Gaelion memamerkan orang yang berada dipunggungnya.

“Mu--!?”
“KyuA—“

Gaelion mulai mengepakkan sayapnya dan terbang menjauhi pegunungan.

“Raphtalia-Oneechan! Ayo kita susul mereka! Karena hanya punggung Firo saja yang boleh Goushijin-sama tunggangi!”

Filo mulai berlari karena tidak menerima kekalahannya.
Ya, karena tidak membawa kereta, mungkin dia bisa menyusul kami.
Meskipun sudah aku sudah menyuruhnya untuk menurunkanku, Gaelion tidak mendengarkan perintahku.
Jika aku mengaktifkan segel monster pastinya kita akan terjatuh.

“Astaga.... dasar monster pemaksa.”
“Rat, apa kau tahu bahwa Dragon memiliki kemampuan seperti ini?”
“Dari materi penelitian yang pernah aku temukan, aku tidak tahu apakah mungkin untuk monster berubah seperti Filolial. Monster yang dibesarkan oleh Count, selalu berubah menjadi sesuatu yang menarik.”
“Apa itu penyebabnya?”

Dari ketinggian ini aku melihat ke bawah. Aku menyadari wilayah yang tercemar ini mulai kehilangan warna polusinya.

“Apa Count menyadari ini juga? Sepertinya dengan Gaelion terbang diatasnya, itu menyebabkan wilayah yang dicemarinya membaik karena polusi tersebut diserap oleh Gaelion, dan sekarang beginilah keadaannya.”

Jadi begitu, wilayah ini akhirnya mendapatkan kembali kedamaiannya.
Aku penasaran apakah aku bisa menggunakan Portal Shield.
Sepertinya aku akan mencobanya sekarang.

“Portal Shield!”

Bagus. Sepertinya aku sudah bisa menggunakannya. Untuk berjaga-jaga, aku akan berteleport dan mengecek situasi disini.
.
Apakah Raphtalia dan yang lainnya sudah berada diluar jangkauan? Aku harus memikirkan kemungkinan untuk terbang kesini kembali.

“Ah--..... Naofumi-chan. Aku mohon berikan aku magic potion.”
“Sudah ku—“

Ketika berbalik, aku, Taniko dan Rat terkejut.

“Aku mohon?”

Sadina..... memohon sudah bukan dalam wujud lumba-lumbanya, melainkan dalam wujud manusia biasa.
Eh?

“Siapa kau?”
“Itulah kenapa, aku meminta magic potion. Karena aku tidak bisa mempertahankan wujudku. Alkohol juga tidak apa-apa.”

Dengan rambut hitam yang panjang, dan kulit serta bentuk wajah yang dapat menyaingi kecantikan Raphtalia.
Umurnya sekitar 20 tahun ke atas. Seorang gadis cantik seperti keturunan orang Jepang, berada dihadapan kami.
Ditambah lagi dia hanya mengenakan pakaian dalam saja yang membuatku terkejut.

“Baiklah.”

Aku melemparkan magic potion padanya.

“Jika dipikirkan dengan baik, aku seharusnya menyadari ini ketika Gaelion ikut menarikmu ke punggungnya.”

Mana mungkin Gaelion dapat terbang dengan paus pembunuh berukuran 4 meter ini.

“Jangan minum disini. Nanti kita bisa terjatuh.”
“Naofumi-chan, kau tidak terkejut?”
“Memangnya aku tidak terlihat terkejut?”
“Kau terlihat biasa saja, aku bisa menangis karena itu.”
“Aku tidak peduli.”
“Apakah ras orca memiliki kemampuan seperti ini?”
“Dari mana kau tahu aku itu ras orca?”

Sadina menjawab pertanyaan Rat dengan pertanyaan.

“Apa aku salah?”

Ngomong-ngomong, mereka berdua ini umurnya hampir sama, namun karakter mereka sangatlah berbeda.
Ya, Sadina terlihat lebih tua menurutku.
Namun, itu tidak masalah.

“Aku berasal dari ras Sakamata. Ras orca dengan rasku itu memang terlihat sama, namun berbeda.”
“Apa perbedaannya?”
“Apa kau tidak bisa melihatnya?”

Ya, jika dia bisa berubah ke bentuk humanoid, itu berarti rasnya cukup langka.

“Aku tidak bisa melihatnya. Jika hanya untuk berubah saja pasti kau menggunakan mantra sihir untuk melakukannya, namun aku ingin memastikannya kembali karena kau ada dihadapanku.”
“Begitu ya, sayang sekali kau tidak bisa menemukan perbedaannya. Oneesan hanya bisa bilang, untuk tidak terlalu sering berdiet dalam perjalanan.”
“Aku tidak mengerti.”

Ngomong-ngomong, aku pernah membaca bahwa paus pembunuh di duniaku itu terbagi menjadi 3 jenis. Aku mengingat sesuatu tentang gen mereka yang memiliki sedikit kecocokan seperti gen dari anjing dan serigala.

“KyuA!”
“Gaelion. Berkembanglah dengan baik..... lalu jadilah Dragon yang hebat seperti Ayah.”
“KyuA!”
“Sang Ayah itu sedang mengenakan topeng kucing, kau tahu.”
“Bicara apa kau. Ayahku.... sudah meninggal.”

Kata Taniko yang menyela dan tidak mempercayai perkataanku.
Ngomong-ngomong, sebelum kita sampai desa melalui udara, kami meminta diturunkan disekitar Desa Timur. Setelah itu aku berteleport kesana bersama partyku.
Penduduk Desa Timur bergembira, setelah melihat gunung kembali seperti semula. Aku merasa aneh.
Karena mereka mengatakan, seperti yang kami harapkan, Hero Perisai-sama! Namun kalian tidak bisa menipuku dengan perkataan itu.

Dari semua kejadian ini, Taniko dan Gaelion menyimpulkan bahwa mereka pantas mendapatkan semua ini.
Evaluasi tentang orang Desa Timur dalam pemikiranku berkurang drastis.
Mati saja kalian.

“Hanya punggung Firo saja yang boleh dinaiki oleh Goushijin-sama!”
“KyuAAAA.”

Muncul aliran listrik dari keduanya pada saat dia sampai di desa, pertandingan Filo dan Gaelion masih berlanjut.
Ngomong-ngomong, Gaelion berubah menjadi kecil.

“Sudah, sudah. Itu bukan hal yang harus dipermasalahkan.”
“Tentu saja harus!”

Filo juga sangat keras kepala tentang masalah itu.

“Hmm..... ya, baiklah. Mulai saat ini, aku hanya akan bermain dengan Filo saja, jadi kau tidak perlu memikirkannya.”
“Yeey! Tapi, Goushijin-sama—“
“Jika kau masih memaksa, maka aku tidak akan bermain denganmu.”
“Jangan—!”
“KyuA....”
“Karena kau adalah sumber masalahnya, jadi kau tidak boleh bermain denganku dulu. Jika ada waktu luang, kau boleh ikut bermain jika bersama Filo, jadi bersabarlah.”

Gaelion langsung berlinang air mata sambil menuju Taniko.

“KyuAAAA.”
“Jika pada burung itu kau selalu melindunginya, tapi kenapa kau selalu jahat pada Gaelion.”
“Kau tidak mengerti semua ini? Ini adalah hukuman untuknya.”
“Ugh.....”

Gaelion melihat kemari dengan berlinang air mata.
Jangan sampai terpancing, dia itu hanya berpura-pura menangis pada orang tuanya, agar bisa mendapatkan hal yang dinginkannya saja.

“Tidak boleh.”
“KyuAAAAA.....”

Dia benar-benar menangis.

“Yeey! Rasakan itu.”
“Filo.”

Setelah aku peringati, Filo malah mulai bersiul-siul kecil setelah melihatku.
Astaga, baik kau ataupun dia sama-sama anak kecil. Aku penasaran jika mereka menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat.


“Kalau begitu, aku pergi lagi.”
“Iya, terima kasih.”
“Sama-sama. Aku juga ingin meminta maaf karena terlambat datang.”
“Mau bagaimana lagi. Siapa juga yang bisa menduga ini akan terjadi.”

Kataku, pada Raphtalia untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, sebelum mengatar dia yang mau pergi lagi.

“Kira-kira, berapa lama lagi pelatihannya akan berlangsung?”
“Jika berlatih dasarnya saja.... sebentar lagi akan selesai. Lalu, Rishia-san menunjukkan pertumbuhannya yang memuaskan.”
“Oh....”

Rishia adalah orang yang menarik menurut Nenek Tua itu.
Dalam imajinasiku, terlihat Rishia yang dipenuhi ototnya.

“Aku rasa dia akan berbeda dari imajinasi Naofumi-sama.”
“Kau memang mengerti diriku.”
“Itu karena kita sudah bersama dalam waktu yang lama.”

Ini yang dimaksud dapat mengerti satu sama lain layaknya bernapas, huh.

“Benar juga. Baiklah, kejadian seperti ini bukan berarti akan terjadi sekali saja. Jadi lain kali beritahu tempat pelatihannya.”
“Aku mengerti.”
“Lalu.... levelmu, tidak begitu bertambah ya.”

Dia tidak berlatih untuk mengalahkan monster.
Mereka berlatih di gunung, berlatih ditempat seperti itu hanya seperti berlatih bertahan hidup saja, bukan?
Benar juga, aku juga perlu dilatih oleh Nenek Tua itu.

“Oh iya, jika ada waktu, pelatihan Naofumi-sama akan dilakukan setelah pelatihan kami selesai.”
“Aku merasa seperti penghalang bagi kalian.”
“Naofumi-sama itu orang yang harus langsung berlatih dalam pertarungan, dan Guru bilang bahwa kualitas bertarung Naofumi-sama itu sudah bagus.”
“Maksudmu?”
“Menyerang itu berbeda dengan bertahan, karena bertahan tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Bukan serangan balik pula, jadi kita harus mengingat teknik dasarnya untuk menghindari dampak dari serangan musuh, dan harus langsung mempraktikkannya langsung.... itulah yang Guru katakan, namun aku tidak mengerti penjelasannya itu.”
“Aku juga tidak mengerti.”
<TLN: Aku juga sulit mengerti penjelasan dari Raphtalia>

Ya, aku pernah mendengar tentang teknik serangan yang dapat mengeluarkan kekuatan penghancur....
Benar juga, Atla tidak bisa melihat dengan kedua matanya, tapi dia itu bisa melihat aliran Kii.
Jika aku memintanya, pasti dia akan menjadi rekan berlatih yang bagus.
Aku akan meminta tolong padanya nanti.
Setelah selesai berbicara denganku, Raphtalia meninggalkan desa dengan enggan.
Aku akan menantikan perkembangan Raphtalia setelah semua pelatihannya selesai.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TL: Bajatsu
EDITOR: Isekai-Chan 

Selasa, 01 Desember 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 15 : Chapter 11 – Buku Harian Pahlawan yang Hilang

Volume 15
Chapter 11 – Buku Harian Pahlawan yang Hilang


Dokumen yang dikumpulkan menjelaskan tingkat kerusakan yang telah diderita selama kebangkitan sebelumnya. Dampaknya cukup luas, dari kelihatannya. Seperti yang diharapkan, mereka telah memanggil seorang pahlawan untuk membantu mereka dan akhirnya berhasil menyegel Phoenix kembali.

“Ren, Motoyasu, Itsuki, apa kau tahu dimana Phoenix disegel?” Aku bertanya.

"Gunung itu di sana," Itsuki segera menjawab, menunjuk ke sebuah gunung di luar jendela. Itu tampak seperti sesuatu dari salah satu lukisan pemandangan tradisional Tiongkok kuno yang berdebu.

"Ya, itu tempatnya," Ren membenarkan.

"Benar sekali. Ayah mertua, itu gunungnya,” Motoyasu menambahkan, hanya untuk memastikan.

"Baik ... dan di dalam game, bagaimana segelnya rusak? " Aku bertanya.

“Maksudmu quest itu sendiri? Phoenix bangkit dari tempat penyegelan di atas sana,” Ren memberitahuku.

"Begitu," kataku.

Kemudian kami berpaling untuk melihat lebih banyak material. Ada buku harian yang ditinggalkan oleh pahlawan yang menyegel Phoenix. Tampaknya berisi segalanya mulai dari saat dia dipanggil untuk melawan Phoenix, sampai dia meninggal karena usia tua. Inilah yang kami butuhkan — pengetahuan tentang mereka yang datang sebelum kami.

Yang harus kami lakukan hanyalah meniru apa yang dilakukan pahlawan sebelumnya dan mengalahkan Phoenix dengan cara itu.

Tentu saja, jika kau terlibat dalam masalah yang kami alami dengan Ost, itu mungkin tidak berjalan semulus itu.

Buku harian itu menggambarkan hari-hari pertempuran yang terjadi setelah dia dipanggil ke dunia lain ini dan dipilih sebagai pahlawan Sarung Tangan Tujuh Bintang. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Tidak disebutkan VRMMO atau kekuatan super semacamnya. Mungkin dia berasal dari dunia yang mirip denganku, atau dunia Motoyasu?

Itu hampir seperti web novel yang ditulis dari pengalaman nyata — sesuatu seperti itu. Sebagian besar berisi bualan tentang telah mengalahkan musuh yang menyebalkan atau lainnya. Ada juga bualan tentang dia membentuk harem. Aku tidak perlu mendengar tentang hal itu. Semua adegan seksi dengan wanita bisa dipotong juga. Aku benar-benar tidak peduli tentang dia yang merayakan kehilangan keperjakaannya atau semua detail tentang bagaimana dia bertemu istri pertamanya hingga akhirnya mereka menikah.

Dia adalah seorang putri di sana ketika dia dipanggil, tetapi bagi kami, putri itu adalah kata yang cukup tabu. Bahkan namanya tidak ingin kami sebutkan.

Aku masih perlu menangkap dan mengeksekusinya. Di mana Penyihir bersembunyi?! Ngomong-ngomong, apakah ini yang terjadi pada semua orang yang dipanggil ke sini?

Termasuk diriku?

Jika aku melewatkan bagian terlalu banyak, rasanya aku mungkin melewatkan sesuatu yang penting, jadi aku membacanya dengan cermat. Aku benar-benar perlu menemukan beberapa informasi berguna dengan cepat.

Tetap saja, aku harus mulai bertanya-tanya apa yang dia pikirkan, meninggalkan ini sebagai warisannya untuk generasi mendatang. Satu-satunya kesimpulan yang bisa aku dapatkan adalah bahwa itu hanya catatan untuk dirinya sendiri, curahan perasaannya tanpa filter. Itu ditulis dalam bahasa Jepang, jadi tidak ada orang di dunia ini yang bisa membacanya. Itu berarti dia mungkin tidak pernah bermaksud agar orang lain memahami ini. Jika tidak, dia kemungkinan akan mendramatisirnya sedikit.

Aku terus membaca dan hanya harus percaya dia tidak berniat meninggalkan ini.

Jika tidak, akan terlalu menyakitkan untuk menjadi sebuah warisan.

Ren tampak agak bingung juga.

Motoyasu... sedang meminta Green membacanya. Dia bermain-main dengan bulu ketiganya. Bisakah dia membaca bahasa Jepang? Green memang terlihat seperti yang terpintar dari ketiganya, tapi tetap saja...

Itsuki memasang ekspresi acuh tak acuh di wajahnya. Aku kira dia akan berbicara jika dia melihat sesuatu.

Aku benar-benar membutuhkan literatur yang mengerikan ini untuk bergegas dan pergi bertempur dengan Phoenix. Mengingat hal itu, aku terus membaca... dan akhirnya membaca semuanya.

Untuk beberapa alasan, yang paling tidak wajar, bagian kunci tentang pertempuran dengan Phoenix dan hal lain yang berhubungan dengan empat hewan suci atau gelombang benar-benar hilang.

Aku juga berharap untuk mempelajari sesuatu tentang metode untuk kenaikan kelas atau metode peningkatan kekuatan.

"Hei. Bagian yang kami inginkan hilang! " Aku bilang.

"Ini semua adalah material yang kami miliki," jawabnya.

Benarkah? Buku itu cukup rusak dan hampir tidak dapat terbaca. Mungkin seseorang sengaja melepas bagian yang kami inginkan. Itulah yang hampir ingin kuduga, mengingat hanya bagian terpenting yang hilang.

“Ada konflik di wilayah ini dan banyak yang hilang karena kebakaran,” ungkap cendekiawan tersebut.

"Api yang cukup pemilih untuk membakar beberapa halaman penting," aku mendengus.

“Aku sangat menyesal... ” cendekiawan itu meminta maaf, memeriksa halaman-halaman itu lagi.

"Naofumi, jika ada seseorang di sini seperti Makina di Q'ten Lo, itu mungkin menjelaskan informasi yang hilang," kata Itsuki.

"Ya, poin yang bagus," aku setuju dengannya. Apakah ada orang seperti itu di mana-mana di dunia ini? Orang yang berencana menghancurkan buku dan material sejarah?

"Ada satu hal lagi, di sini — salinan tertulis," kata cendekiawan itu sambil menyerahkan setumpuk kertas. Mereka bahkan tidak memiliki niat untuk mengikatnya menjadi sebuah buku. Itu juga penuh dengan lubang.

Tetap saja, kami berhasil menemukan — nyaris tidak — beberapa informasi tentang Phoenix.

Tujuan Phoenix... sebagai sumber... mencegah... 

Itu tidak bisa disegel selama gelombang berlangsung.

Untuk mengalahkannya... secara bersamaan... keduanya... 

Pola serangannya—

Itulah yang bisa kami dapatkan dari salinan jelek. Setelah itu, tulisannya berantakan dan menjadi tidak terbaca. Kami hanya berhasil mengumpulkan sebanyak ini dengan semua pahlawan yang bekerja bersama.

Memotong kalimat sebelum berbicara tentang pola serangan — apakah kau bercanda? Aku hampir menuntut agar orang yang bertanggung jawab untuk "merawat" teks-teks ini dibawa ke hadapanku.

“Kita menemukan tujuan dari Roh Kura-kura di dunia Kizuna. Itu untuk mencegah peleburan dunia akibat gelombang,” ulang Ren dengan ringkas.

"Aku tidak yakin apa manfaatnya bagi kita," kataku.

“Maksudku, jika kita bertarung tanpa bertemu Ost, Kizuna, atau yang lainnya, aku ragu kita akan berhasil,” katanya.

Itu tidak membuat kami lebih dekat dengan pola serangannya. “Selanjutnya, kami memiliki beberapa lukisan dinding yang ditinggalkan oleh pahlawan masa lalu. Silakan ikuti aku dan kita bisa melihatnya,” ungkap cendekiawan tersebut.

“Tentu,” kataku. Mengharapkan suatu pencerahan seperti yang ada di kota di atas Roh kura-kura, kami menuju ke kuil — yang, seperti yang diharapkan, telah diubah menjadi semacam tempat wisata.


Note:
Yah, cukup singkat kali ini. Mimin aja sampe check dua kali takut kepotong, tapi ternyata emang cuma segini x'D


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 30 November 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 183. Kecurigaan

 Chapter 183. Kecurigaan




Raphtalia mendarat lalu mengayunkan pedangnya sambil melihat kami, dia melakukan itu agar lendir dari Wrath Dragon terlepas.

“Hah?”

Wow. Entah kenapa seperti ada lumpur di mataku, yang membuat Raphtalia berkilau ketika aku melihatnya.
Padahal ini adalah wajah yang sering aku lihat namun sekarang melihatnya saja sudah membuat hatiku berdebar-debar.
Dia sangat cantik. Dia memiliki ekor dan telinga lembut seperti tanuki dan rakun, dari kedua hewan yang mirip itu terlahirlah seorang gadis ramping yang cantik.
Dia tidak memiliki ciri khas yang dimiliki kebanyakan tanuki.

“Ehem.... anu....”

Aku bermaksud untuk mengucapkan terima kasih padanya, namun suaraku tidak keluar.
Ini aneh sekali. Biasanya aku bisa berbicara kepadanya dengan mudah, namun kali ini aku tidak bisa menatapnya dalam waktu yang lama.

“Hebat....”
“Raphtalia-chan. Kau sudah semakin kuat ya.”
“Tidak, sebenarnya, aku hanya datang dan membelas monster itu menjadi dua dengan pedang saja.”

Raphtalia mengatakan itu sambil menunjuk pada mayat Wrath Dragon.
Itu bukan masalah.

“Kalau tidak salah, Tuan Naofumi pernah mengatakan bahwa yang menyelamatkannya dari pengaruh perisai adalah Raphtalia-san?”
“Itu benar, tapi....”
“Sepertinya dia menyadari, kelemahan terbesarnya adalah Raphtalia-chan, Oneesan ini kesal dengan itu.”
“Filo-chan. Apa kau baik-baik saja?”
“Yah. Tadi itu memang terasa sakit, namun sekarang sudah baik-baik saja.”

Filo yang ditunggangi oleh Atla mengangguk dan memeluk Melty.

“Setelah Tuan Naofumi pergi, tidak lama setelah itu Raphtalia-san kembali. Kemudian aku menjelaskan semua yang terjadi lalu segera menuju kemari.”
“Tadinya kami ingin meninggalkan Filo karena keadaannya sedang buruk, tapi dia tidak membiarkan itu terjadi....”

Raphtalia mengelus-elus kepala Filo dengan wajah bermasalah.
Meskipun jaraknya jauh, dia masih bisa sampai secepat ini.
Ya, tapi Filo tanpa kereta, kecepatannya memang tidak tertandingi.

“Lagi pula Firo mengira tidak akan pernah sampai tepat waktu.”
“Tapi semua berjalan dengan baik. Terima kasih banyak, Alta-san.”
“Semua ini untuk Tuan Naofumi.”

Syukurlah. Dengan ini masalahnya telah selesai. Sekarang kita hanya perlu berbicara dengan Gaelion saja.

“KyuA?”

Gaelion melompat pada pangkuan Taniko lalu menjilati wajahnya.
Apa dia sudah kembali semula? Atau hanya berpura-pura saja?

“Gaelion. Kau baik-baik saja?”
“KyuA!”
“Kembalikan barang milik Firo!”
“KyuA!”

Gaelion dan Filo mulai bertengkar kembali, jadi aku beralih pada mayat Wrath Dragon.

“Mungkin barang milikmu berada disana.”
“Ngomong-ngomong, naga kecil disana itu benar-benar Gaelion?”
“Benar. Dia menjadi seperti ini karena berusaha sekeras mungkin.”
“Kembalikan EXP-ku!”

Filo meneriaki mayat Wrath Dragon dengan keras.
Kelakuannya memang bodoh tapi dia itu imut sekali.

Lupakan dia, sebaiknya aku memikirkan Raphtalia.
.... Oh tidak.
Ternyata dia secantik ini, mengapa aku tidak berpegangan tangan dengannya lebih lama, atau lebih sering tidur dengannya?

Raphtalia pasti memiliki perasaan cinta padaku.
Itu sudah pasti.

“Aaa, anu....”

Aku mencoba berbicara dengan Raphtalia dengan nada biasa.
Lalu, dia membalasnya.

“Ah, Naofumi-sama....?”

Raphtalia melihatku sambil memiringkan wajahnya, aku melihat cahaya terang dari wajahnya.
Wow, hanya dengan itu saja sudah membuat hatiku berdebar.

“Anu, Naofumi-sama, apa itu dirimu?”
“I-iya, ini aku.”
“Apa ada hal, yang aneh?”
“Memangnya ada apa?”
“Pandanganmu.... terlihat aneh. Terutama dari aura yang dipancarkan olehmu.”
“Sungguh?”

Dia adalah seorang gadis yang mau memilihku, dan seorang gadis yang ikut bertualang bersamaku.
Baiklah, sepertinya malam ini aku akan sulit tidur, jadi aku mau menggunakan kalimat klise padanya ketika sampai di desa.
....? Kenapa ya? Aku merasa ada hal yang membuatku merasa trauma.
Aku melupakan sesuatu.

Tidak ada, tetapi, saat ini Raphtalia sudah melakukan hal yang luar biasa.
Jadi, aku harus memujinya.

“Kau sudah menyelamatkan kami. Terima kasih. Pada saat itu kami memang kesulitan. Semuanya berakhir dengan baik, itu semua berkatmu, Raphtalia.”
“Naofumi-sama?”
“Jika kau mau, mungkin kita bisa berbicara berduaan nanti malam?”
“Naofumi-sama, tingkahmu sangat aneh. Pandanganmu juga terlihat aneh dan kau tidak pernah memperlihatkan senyuman menjijikkan seperti ini. Cara berbicaramu juga berbeda, apa ada yang terjadi ketika aku sedang pergi berlatih?”
“Ah, banyak hal dari dirinya yang disedot oleh dragon itu sampai dirinya menjadi aneh. Ketika bertarung dia biasa saja, namun dia terlihat agak menyeramkan.”

Melty memberikan penjelasan aneh mengenaiku.

“Melty, apa kau gadis yang suka berkata kasar seperti itu?”

Aku mencubit pipi Melty dengan bersikap agak sombong.
Dari dulu aku ingin mencoba ini.

““Pasti ada yang aneh dengannya-----!””

Raphtalia dan Melty menunjuk dan meneriakiku secara bersamaan.
Kenapa kalian berpikiran seperti itu?

“Aku mulai mengkhawatirkan hubunganku dengan Melty----“
“Tolong diam sebentar!”

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Melty mulai menjauh dariku dengan wajah memerah dan berbicara dengan Raphtalia dan yang lainnya.
Raphtalia, Melty dan Atla sedang berdiskusi. Pemandangan yang bagus.

“Bagaimana caranya agar Naofumi-sama yang kita ketahui kembali!?”
“Aku akan terus mengikuti apapun yang dikatakan Tuan Naofumi.”
“Apa yang kau katakan. Tidak mungkin orang yang tersenyum menjijikkan seperti itu adalah Naofumi yang kita ketahui.”
“Wujudnya tetap sama. Tuan Naofumi akan lebih mudah menemukan kebahagiaan dengan dirinya yang seperti itu. Raphtalia-san, tolong terima dirinya saat ini.”
“Tidak mau!”

Raphtalia yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Alta, mulai menoleh pada Sadina dan Rat.
Yah, kecantikan Raphtalia itu berbeda dari yang lain.
Melihatnya saja sudah membuat hati ini senang.
Tapi.... aku merasa ada hal yang aneh. Tapi karena hatiku senang jadi tidak kupikirkan.

“Apa kalian tahu cara agar Naofumi-sama kembali?”
“Tidak. Oneesan tidak tahu sama sekali.”
“Bagaimana dengan melemparnya ke mayat Dragon itu?”

Rat dan Sadina menunjuk pada mayat Wrath Dragon.
Setelah mendengar saran mereka, Raphtalia mulai mendekatiku.
Aku melihatnya dengan kagum, sebelum menyadari kedua tangannya berada di pundakku.
Hatiku mulai berhenti berdetak saat aku melihat matanya.
Lalu....

“Eh, tunggu! Apa yang akan kalian lakukan!”

Raphtalia, Melty yang dibantu oleh Rat dan Sadina, mereka mengangkatku dan bermaksud untuk melemparku pada mayat Dragon Zombie.

“Maafkan aku Naofumi-sama, aku harap.... kau akan kembali normal.”
“Jika Naofumi-chan tertelan oleh mayat dragon itu, pastinya akan menjadi masalah besar. Raphtalia-chan, berjuanglah.”
“““Eh!?”””

Hey, pikirkan dulu sebelum melemparku!
Apa yang dipikirkan para gadis ini. Mereka tidak sopan sekali menyebutku menjijikkan!

“Goushijin-sama, apa yang kau lakukan? Firo juga ingin ikut.”

Lalu, Filo melompat dan bersandar padaku yang sedang berada diatas mayat Dragon Zombie.
Pada saat itu.

“Raphtalia! Kau adalah ----!“

Dengan suara yang keras, perisai mulai menyedot sesuatu.
Pada waktu yang bersamaan, ada sesuatu yang mengalir menuju Filo.

..... Mengapa aku melupakan semua itu?
Kebencian pada Bitch dan dunia ini.

Lagi pula, jika aku melenceng dari awal, apakah aku akan menjadi orang menjijikkan seperti itu?
Aku sangat kesal. Kenapa aku sampai mencoba menggoda Raphtalia yang selalu berusaha keras? Kebodohan itu pasti ada batasnya.
Bahkan sampai melihat Melty dan Atla dengan padangan mesum. Itu sama saja aku menjadi Motoyasu sebelumnya.

Lalu, sedikit demi sedikit mayat Dragon Zombie menghilang setelah disedot oleh perisai.

“Hmm.... aku membuat masalah besar disini.”

Aku masih mengingat pemikiran sebelumnya.
Mengingatnya saja sudah membuatku marah.
Aku sudah seperti anjing kelaparan.
Namun, tadi itu aku ingin mengatakan apa ya?

... Aku sudah melupakannya.
Masa lalu biarlah menjadi masa lalu.
Apakah kemarahan merupakan bentuk sifatku yang sebenarnya?

... Namun ini lebih baik daripada kejadian sebelumnya.
Sebaiknya aku lupakan saja ini.

“Ah, pandanganmu sudah kembali.”
“Naofumi-chan itu lebih menarik jika sedang kesal.”
“Hah? Apa yang kau katakan?”
“Benar, jika tidak seperti itu dia tidak cocok.”

Sepertinya mereka sudah bisa membedakan kepribadianku yang sebenarnya.

“Raphtalia, kau sangat membantu. Saat ini kami akan menuju desa, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan ikut sampai desa, setelah itu aku akan kembali menuju tempat latihan.”
“Begitu ya, maaf sudah mengganggu waktu berlatihmu.”
“Tidak. Mau bagaimana lagi, ini adalah kejadian yang sangat mendadak.”

Aku mengubah arah pengelihatanku pada Gaelion.

“KyuA?”
“Cepat jelaskan semua ini.”

Kalau tidak salah, tadi dia berbicara kepadaku.
Meskipun itu hanya suara lirih yang hanya dapat terdengar olehku.

“KyuA!”

Dia melompat dan mulai bermain denganku.
Aku meliriknya dengan muka serius namun tidak ada perubahan sedikitpun.
Apa dia kembali menjadi normal?

“Ah! Yang boleh bermain dengan Goushijin-sama hanya Firo.”
“Berisik sekali kalian! Sekarang kita akan pulang. Ngomong-ngomong, Filo. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Sekarang tubuhku sudah nyaman, tapi.... bagian yang diambil Gaelion masih belum kembali semuanya.”

Aku mengecek statistiknya.
Sekarang... Filo berlevel 41. Dia mengalami kerugian besar.
Berbanding terbalik dengan Gaelion, sekarang dia berada pada level 60, padahal dia itu hanya memisahkan diri dengan Wrath Dragon.
Sekarang level mereka berbanding terbalik.

“Kembalikan!”
“Kyua!”

Mulai muncul percikan listrik dihadapan Filo dan Gaelion.

“Kyua! Kyuakyua!”
“Kata Gaelion, dia tidak tahu itu, dan kesukaan Hero Perisai adalah Gaelion.”
“Mu-!”

Yang melakukan penyerangan pertama adalah Gaelion. Dengan ekor pendeknya dia mengenai pipi Filo dengan tertawa.

“Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan!”
“Kyua! Kyua! Kyua!”

Terdengar suara saling memukul antara Filo dan Gaelion.
Semua kejadian ini, berawal dari Gaelion dan dia tidak merasa bersalah sama sekali. Bukan hanya itu, dia bahkan seperti berpura-pura tidak tahu.
Itu merupakan perbuatan yang sangat aku benci. Kali ini aku harus membuatnya langsung menyesali perbuatannya.

“Sudah, sudah. Gaelion, cepat kembalikan semua itu pada Filo. Jika kau menjadi makan malam Filo, pasti akan ada yang kembali padanya.”

Aku langsung menggenggam Gaelion, lalu mencoba untuk memasukkannya pada mulut Filo, lalu.....

“KyuAAA....!?”
“Tidak!”

Aku dicegah oleh Taniko.

“Mu~! Apa yang Goushijin-sama berikan padaku!”
“Kau itu rakus, aku rasa Dragon akan membuatmu sehat.”
“Mu~! Aku sudah muak dengan Dragon~!”

Wow, berkat ini rasa rakusnya akan berkurang.
Aku harap dia bisa diet dengan baik.

“Filo jangan suka pilih-pilih makanan.”
“Tidak mau!”
“Naofumi-sama.... jangan membuat Filo suka memakan sembarang makanan.”
“Ini hukuman untuknya. Filo pasti mau menerima dirinya yang menjadi wujud dari ketakutan itu sendiri.”
“Tidak mau!”
“Jangan lakukan hal aneh pada Filo-chan!”

Kali ini, Melty yang melindungi Filo.
Lalu dia mulai melihat Taniko.

“Masalah ini bermula dari dragon kecil itu, sudah menjadi hukum alam untuk memusnahkannya!”
“Dia itu sudah menjadi baik, jadi itu bukan masalah!”

Ah, baiklah. Terserah kalian.




TL: Bajatsu
EDITOR: Isekai-Chan 

Minggu, 29 November 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 15 : Chapter 10 – Rumah Phoenix

Volume 15
Chapter 10 – Rumah Phoenix


Ratu bergabung dengan kami sebagai kepala pasukan koalisi. Dia sepertinya memiliki gagasan tentang apa yang terjadi di Siltvelt dan Q'ten Lo. Aku berterima kasih atas kemampuan pengintaiannya.

Kastil Melromarc akan diurus oleh Melty. Kota itu akan ditangani oleh seorang bangsawan yang terampil, seorang pria yang menjaga Keel di Melromarc. Eclair akan menangani perlindungan Melty. Kami tidak bisa membawa seluruh kekuatan tempur bersama kami, dan dia akan menjadi penjaga yang efektif.

Dia masih terlihat kesal karena tidak bisa melawan gelombang. Dia cukup kuat, itu benar, jadi aku bisa mengerti perasaan itu. Tetap saja, dia telah menjabat tangan Raphtalia dan kami mempercayakan tugas itu padanya.

Ratu juga membawa Sampah bersamanya, terduduk di kereta. Dia terlihat lebih tua dari terakhir kali aku melihatnya. Dia sudah seperti itu sejak melihat Atla, sepertinya. Dia membenciku, tetapi memiliki Atla — yang memiliki wajah mirip seperti adik perempuannya sendiri — sekarang ditempatkan di bawah perintahku mungkin membuatnya tetap terkendali. Dia masih memelototiku, tapi saat Atla ada di sisiku, tatapannya melembut.

Dengan semua yang terjadi, kami tiba di tempat Phoenix disegel. Motoyasu berhasil menyimpan koordinat portal untuk kami, dan perjalanannya mulus.

Ada juga jam pasir naga di tujuan kami, jadi Raphtalia dipekerjakan menggunakan Return Dragon Vein untuk membawa beberapa paskan dari tempat-tempat seperti Melromarc dan Siltvelt.

"Jadi di sinilah Phoenix disegel," gumamku sendiri. Negara tempat kami tiba, yah, hampir tidak cukup besar untuk disebut negara, daerah terpencil yang sangat kecil. Ada orang-orang di kota kastil yang berpakaian seperti pakaian Cina. Itu adalah negara seperti China tetapi berbeda dari Siltvelt. Untuk perbedaan detailnya, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Itu seperti regional, terlihat sama secara sekilas tetapi memiliki perbedaan yang halus. Dalam sejarah Jepang, itu seperti perbedaan antara periode Muromachi dan Edo.

“Pertama-tama mari kita menuju ke kastil,” kata ratu, berjalan di depan dan memimpin jalan menuju kota kastil. Dia tidak benar-benar tahu jalannya, jadi aku tidak yakin dia harus bersusah payah membimbing kami.

“Tidak banyak orang di sini, bukan?” Kataku. Itu terlihat aneh. Hanya ada sedikit orang di sekitar kami, sehingga kami bahkan seperti memiliki jalan untuk diri kami sendiri. Kota ini benar-benar terlihat sedang mengalami masa-masa sulit.

Aku tidak begitu yakin apa yang harus aku katakan bahwa ada kastil di sini. 

"Setelah semua masalah dengan Roh Kura-kura, pembicaraan tentang Phoenix yang tertidur di sini juga menyebabkan kondisi sedikit panik, dan sebagian besar orang melarikan diri," jelas ratu.

“Maksudku, itu cukup masuk akal...” Roh kura-kura telah membuat banyak kerusakan. Aku bisa melihat orang-orang memilih untuk lari dari itu. Aku rasa rumor kerusakan yang ia sebabkan sudah cukup untuk menakut-nakuti kebanyakan orang.

"Begitu? Apakah kita akan berbicara dengan para pemimpin bangsa ini? ”

"Tepat sekali. Kita harus bertemu dengan perwakilan disini,” kata ratu.

"Hmmm." Aku tidak yakin.

Dan ternyata memang demikian. Ruangan yang dituju ratu hanya terdapat satu orang anak, tampak masih muda yang duduk di singgasana.

Ini adalah perwakilan mereka? Penguasa yang masih bocah, seperti Ruft? 

Tidak, dia tidak terlalu muda. Lebih seperti Melty, mungkin.

“Selamat datang, empat pahlawan suci dan ratu Melromarc. Aku adalah raja bangsa ini,” kata anak laki-laki itu.

“Raja? Kau bukan penguasa yang kukenal. Apa yang terjadi di sini? ” tanya ratu.

“Raja kami sebelumnya membersihkan ruang harta karun dan meninggalkan tanah kami, bersama dengan pengikutnya,” raja baru memberi tahu kami. Aku menghela nafas dalam-dalam. Melarikan diri dari kerajaannya sendiri untuk menghindari terjebak dalam pertempuran Phoenix — betapa busuknya dirimu?

“Baiklah,” lanjut ratu. “Jadi, Kau sekarang adalah perwakilan dari negeri ini.”

"Begitulah keadaan saat ini," anak itu mengakui. 

"Hei, Ratu," kataku.

"Apa?" dia bertanya.

“Apakah semua keluarga kerajaan di dunia ini sangat ekstrim?” Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.

“Dia seharusnya keturunan yang paling mampu dari Faubrey, jadi aku tidak bisa memahami kenapa dia kabur saat menghadapi krisis,” jelasnya. Tunggu. Apakah garis keturunan Faubrey seperti Sampah? Pahlawan Tujuh Bintang juga tidak datang menemui kami. Secara garis besar mereka tampak cukup mencurigakan. Siapa yang tahu seberapa jauh mereka dapat dipercaya?

"Itu mengingatkanku. Kau memerintahkan Pahlawan Tujuh Bintang di Faubrey untuk datang menemuiku, bukan? Apa yang terjadi dengan itu? " Aku bertanya pada ratu.

“Aku sudah menghubungi mereka tiga kali, tapi belum ada balasan. Lalu ada insiden dengan seseorang yang mengaku sebagai Pahlawan Tujuh Bintang yang kau temui di Siltvelt. Semuanya masih dikonfirmasi,” jelasnya. Kami harus tetap waspada, jika dilihat dari respon mereka.

Ada beberapa orang yang cukup gila diantara pemegang vassal weapon di dunia Kizuna. Sepertinya masalah itu tidak khusus hanya di dunianya saja.

“Kami menyambut empat pahlawan suci dan tentara koalisi. Seperti yang diminta sebelumnya, kami juga telah menyiapkan material untukmu dari Phoenix. Tolong lihat mereka,” raja memberitahu kami. Kemudian dia bertepuk tangan, Shadow dan seorang cendekiawan melangkah maju untuk menunjukkan jalannya.

"Kami akan membuat pasukan koalisi tetap di kota kastil dan sekitarnya, jika itu diizinkan," kata ratu.

"Tentu saja ...” Ekspresi anak laki-laki itu muram. Panen di sekitar sini buruk, begitu yang bisa kusimpulkan. Orang-orang yang tersisa, kulihat mereka tampak sangat kurus.

Benar, tentu saja. Ada bencana kelaparan global yang sedang terjadi.

Aku memiliki bioplant, jadi itu tidak terlalu menggangguku...tetapi orang-orang disini tampaknya hampir tidak bisa mendapatkan makanan sama sekali.

"Shadow," kataku.

"Apa itu?" Dia bertanya. 

Aku memberi isyarat kepadanya, mengambil beberapa biji bioplant dari sakuku, dan memberikannya kepadanya. “Kita akan tinggal di sini untuk sementara. Tanam itu di suatu tempat untuk mengamankan makanan bagi kita. Kau juga bisa mengisi gudang makananmu sendiri,” kataku padanya.

“Baiklah,” jawabnya. Kemudian ratu juga membungkuk melihat tindakanku, dan bocah raja itu mengikuti.

"Terima kasih atas belas kasihanmu, Pahlawan," katanya.

"Membiarkan orang kelaparan pada akhirnya hanya akan menyerang kita," kataku padanya. Sial. Masalah makanan cukup serius di sekitar sini. Aku mulai khawatir tentang berapa lama persediaan yang kami bawa akan bertahan.

“Apa ada familiar di negara ini? Sesuatu seperti Ost? ” Aku bertanya. Ost sulit untuk dihadapi sebagai seorang musuh, tapi dia sangat mengesankan seperti Roh kura-kura. Siapa pun itu yang harus kami hadapi, aku ingin setidaknya menyapanya sebelum pertempuran itu dimulai.

“Kami belum memastikan keberadaan individu seperti itu di sini...” ratu menjawab.

“Ren, Itsuki, Motoyasu, apa kalian punya pengetahuan dari game tentang hal ini?” Aku bertanya pada mereka bertiga.

"Tidak juga. Dalam game yang aku mainkan, seluruh dunia berkumpul untuk bertarung. Siapapun seperti itu akan langsung menonjol, ”kata Ren.

"Itu benar," Itsuki membenarkan.

“Aku juga setuju!” Motoyasu menambahkan. Kurasa Ost, familiar Roh kura-kura, mengubah dirinya menjadi manusia hanya karena kura-kura itu adalah yang pertama dari empat hewan suci.

Hmmm. Ini bahkan mungkin membuat segalanya lebih mudah pada akhirnya. "Mari kita lihat material yang telah kau kumpulkan ini," kataku.

“Tentu saja. Kesini jalannya," kata Shadow. Kami menyelesaikan audiensi sederhana kami dengan raja dan ditunjukkan ke tempat material Phoenix dikumpulkan.

Sebelum itu. . .

"Raphtalia, Fohl, Atla, pergi dan lihat apa yang sedang tentara koalisi lakukan," aku memerintahkan mereka.

“Mereka seharusnya sudah tahu apa yang harus dikerjakan, bukan?” Kata Raphtalia.

“Tapi kita juga memiliki banyak pasukan yang baru bergabung. Aku ingin kau mempercepat semuanya. Jika terjadi sesuatu, segera lapor kepadaku,” jelasku.

“Ah, baiklah. Aku mengerti.” jawab Raphtalia. Dia dan yang lainnya tidak memiliki peran saat melihat-lihat material Phoenix.

Aku sudah menyuruh Filo untuk mengamankan tempat untuk keretanya dan mengamati daerah sekitarnya, jadi dia sudah pergi.

Ah, membuatnya bernyanyi untuk semua orang mungkin cara yang baik untuk meningkatkan moral. Sepertinya dia adalah penyanyi yang cukup populer. Sebelum bertemu dengan kami di Siltvelt, dia telah bernyanyi di setiap lokasi yang dia kunjungi dengan Melty sambil meningkatkan levelnya dan menjadi sangat terkenal karenanya. Itu yang mereka beritahu kepadaku.

Aku pernah melihat anime di mana menyanyi meningkatkan moral. Mungkin itu benar-benar bekerja.

Lalu aku melihat S'yne, yang benar-benar gelisah, terus-menerus melihat sekeliling sejak kami tiba di sini.

"Tidak perlu terlalu tegang," kataku padanya. 

"Tapi-"

"Dia mengatakan bahwa hanya pada saat-saat seperti ini, sebelum pertempuran besar atau selama pertempuran, musuh-musuhnya kemungkinan besar akan muncul," kata familiarnya, boneka Keel, mewakilinya.

“Bolehkah aku pergi dan—”

“Sekarang dia bertanya apakah dia boleh pergi dan memeriksa sekitar, hanya untuk memastikan,” boneka itu melanjutkan.

“Jika kau merasa kau harus melakuikannya. Tapi jangan berlebihan dan kemudian tertidur saat pertempuran berlangsung,” aku memperingatkannya. S'yne mengangguk sebagai jawaban dan kemudian pergi.

Dia membuat poin yang bagus. Kami harus menjaga keamanan dengan ketat.

"Tuan Naofumi", Atla memanggil dengan tangan terangkat. 

"Apa?" Tanyaku, agak bingung.

“Jika kau butuh sesuatu, beri tahu aku,” katanya.

"Aku akan memberitahumu. S'yne mengatakan hal yang kurang lebih sama,” Aku membalas Atla dan kemudian melanjutkan langkahku untuk melihat material Phoenix.




TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan