Senin, 02 Agustus 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 242. Penolakan Keadilan

 Chapter 242. Penolakan Keadilan


 
Justice Bow? Dapat menghilangkan pengaruh cuci otak dan membuat orang lain mengerti dirimu...?

Tidak mungkin orang lain dapat bersimpati denganmu dengan mudah. Terlebih lagi Itsuki, kau bahkan tidak mau untuk berdialog dan saling bersimpati denganku. Kaulah satu-satunya orang disini yang melakukan pencucian otak.

Dan apa maksudmu dengan Justice Bow?

"Putri Malty berkata kalau busur ini masih terlalu kuat untuk aku gunakan. Dia berkata bahwa aku harus beristirahat ditempat ini sampai kekuatanku telah stabil, tapi sepertinya semua tidak berjalan sesuai rencana."

Jadi begitu... Aku membaca beberapa dokumen dalam perjalanan kemari tadi. Ada beberapa informasi penting yang telah aku baca. Dan dari dokumen-dokumen tersebut aku dapat menyimpulkan sesuatu.

Itsuki adalah... Hero project percobaan mereka. Dengan tujuan agar para belati-belati itu bisa digunakan, dia harus berada dalam tabung tersebut untuk mensupply kekuatan. Kemungkinan besar kalau Witch merayunya dengan perkataan manis kemudian memasukkan bahan-bahan aneh kedalam busurnya untuk menghasilkan busur-busur baru.

Dan setelah mendapatkan efek yang berguna, mereka meletakkannya di dalam tabung untuk mensupply tenaga dalam produksi massal belati-belati tersebut. kemungkinan mereka telah meningkatkan kemampuan dalam mereplika Senjata Legendaris.

Mari kita berpikir dari sudut pandang Itsuki. Setelah dikalahkan oleh Reiki, Witch menghasutnya sehingga dia berhasil mengeluarkan kekuatan baru dari Curse Series. Jika alur kejadian selanjutnya mirip seperti Mecha Anime, maka dia harus beristirahat sampai busurnya dapat kembali digunakan.

Meskipun tidak diragukan lagi kalau Itsuki sudah dirasuki sedikit kutukan sejak awal kejadian itu.

"Itsuki, biarkan aku mengatakan sesuatu kepadamu. Tidak ada keadilan sama sekali di busur itu. Itu adalah senjata jahat dengan kekuatan untuk mencuci otak."
"Kau salah! Busur ini tidak salah lagi adalah Keadilan milikku! Jika tidak, bagaimana mungkin Mald yang awalnya tidak menyukaiku dapat berubah menjadi bersimpati denganku dengan begitu cepat?"

Dia bertingkah seperti Main Character bodoh di Manga dan Anime yang mengeluarkan argumen-argumen tidak masuk akal. Dia pikir semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja selama musuhnya bisa mengerti tujuannya.

Itu mungkin akan masuk akal pada awalnya, tapi tidak mungkin musuhmu akan mengerti jalan pikiranmu hanya dengan kau mengalahkannya. Itu hanya mem-validasi kalau dia tidak punya kemampuan untuk melakukan suatu kejahatan sejak awal.

"Sekarang, kalian semua, bertarunglah denganku! Aku akan membuat kalian mengerti apa yang benar dan salah!"

Ini masalah yang berbeda dibandingkan dengan Ren. Di dalam pikirannya Ren mengetahui bahwa perbuatan yang telah dia lakukan itu salah. Tapi tidak dengan Itsuki. Dia benar-benar percaya pada keadilan bodohnya. Dan dia merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan itu kepada yang lainnya.

Jika aku bisa menghubungkannya dengan tujuh dosa besar, kurasa kemungkinannya itu adalah Kebanggaan... Tapi ini hanyalah sebuah asumsi. Bisa juga Kerakusan yang merasukinya, tapi ada sesuatu yang aneh dengan semua ini.
Dengan khayalannya yang berlebihan, dia bisa saja menghasilkan kutukan baru. Jika dia menghasilkan Seri kedelapan, kurasa ada dua kemungkinan disini.

Yang pertama adalah Adil. Saat memiliki Keadilan yang berlebihan, itu bisa menjadi lebih jahat dari kutukan lainnya. Dosa sekecil apapun tidak akan dimaafkan. Semuanya kejahatan akan dibayar dengan nyawamu.

Kemungkinan lainnya adalah... Fanatik. Mempercayai suatu ideologi secara berlebihan dan memaksa orang lain untuk mempercayainya. Kutukan ini cukup berbahaya terlebih lagi jika kau tahu hasil akhirnya adalah kekacauan.

Ada kemungkinan lainnya kalau kekuatannya adalah campuran dari 4 seri kutukan. Motoyasu memiliki Lust dan Envy Spear atau semacamnya. Dan Ren secara terus menerus dirasuki oleh Ketamakan dan Kerakusan. Aku hanya bisa mengkonfirmasi kalau ada kemungkinan memiliki dua seri kutukan dalam waktu yang sama. Tapi, aku tidak bisa menghilangkan kemungkinan bisa memiliki tiga, atau bahkan empat seri kutukan dalam satu waktu.

Aku sekali lagi percaya bahwa Keadilan adalah omong kosong yang menjijikkan. Aku sudah melihat bagaimana Keadilan yang ingin Itsuki bawa ke dunia sebagai contohnya.

"Kau salah!" Dengan suara yang keras, Rishia membantah perkataan Itsuki. "Itsuki-sama, kau salah mengerti atas tindakan Naofumi-san!"
"Bukankah itu kau, Rishia-san? Jadi kau adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah dicuci otaknya oleh orang itu."
"Itsuki-sama, kau berkata bahwa Naofumi-san membuat budaknya bekerja dengan sangat berat dan mengambil semua keuntungan untuk dirinya sendiri, kan?"

Itsuki mengangguk dengan wajah tidak senang.

"Kalau begitu, kenapa orang-orang yang bekerja ditempat Naofumi-san selalu sehat? Apa kau pernah mendengar dia mengabaikan budaknya? Apa kau pernah mendengar dia mempekerjakan budaknya sampai mati?"
"Itu semua bukan urusanku. Informasi yang aku dapatkan berasal dari banyak orang di tempat ini."
"Kalau begitu, itu hanyalah isu-isu belaka! Itsuki-sama, apakah dirimu sendiri pernah melihat Naofumi-san melakukan tindakan tersebut!?"

Ada apa ini? Rishia bertingkah tidak seperti biasanya dia berbicara dengan Itsuki. Setidaknya, sejak aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat Rishia marah seperti ini sebelumnya. Bukankah Rishia seharusnya bertingkah seperti gadis kecil yang selalu berkata 'Fueee' setiap kali dia dalam masalah?

"Aku sudah lama mengawasi Naofumi-san. Aku melihat dia mengulurkan tangannya kepada para budak dan membuatkan mereka rumah. Para budak... Para Demi-Human yang bekerja di desa Naofumi-san selalu bekerja dengan gembira seakan mereka dengan senang hati membuat desa ini menjadi tempat yang lebih baik! Itsuki-sama, bagi orang yang telah kehilangan haknya sebagai manusia dan dijual sebagai budak, apa kau tahu bagaimana rasanya setelah mereka diselamatkan oleh Naofumi-san!? Dan kau berkata... dia menempatkan mereka dalam kerja rodi dan mengambil semua keuntungannya? Berhentilah berkata omong-kosong!"
"Benar! Aku tidak pernah melihat satu anak pun yang tidak mau bekerja berada disana!"

Ren ikut berbicara dan mencoba untuk membujuk Itsuki. Entah kenapa, Taniko diam saja. Aku mendengar dia berbisik kepada Gaelion, 'Apa para Hero selalu seperti ini?'. Kurasa Gaelion hanya menanggapinya dengan 'Kyua'.

"Tidak peduli apapun yang terjadi, sampai pelakunya mengakui semua dosa-dosanya, keadilanku tidak akan tergoyahkan!"
"Mengakui? Tentang mempekerjakan budakku dengan keras? Iya, aku mengakuinya."
"...Orang-orang yang berada ditempat Naofumi sedikit berbeda. Menyebut mereka semua sebagai budak sedikit sulit."

...Apa mereka berbeda? Dari sudut pandang masyarakat, selama mereka memiliki segel budak, bukankah mereka adalah budak?

"Justru, Naofumi-san lah yang diperlakukan seperti budak oleh para budaknya sendiri."
"Ap...!"
"Iya, setiap hari dia bekerja hingga larut malam membantu mereka yang sedang bekerja! Setelah itu dia bekerja membuat obat-obatan sendirian! Aku tidak bisa bilang siapa yang menjadi budak sebenarnya disana!"
"Apa yang kau... Apa yang kalian bicarakan!?"

Rishia, apa kau memintaku untuk mengaktifkan segel budak? Sudah jelas aku bukan budak siapa-siapa disini.

"Naofumi layaknya orang tua bagi anak-anak di desa!"
"Tidak!""

Apa yang mereka bicarakan sebenarnya? Apa mereka hanya mengatakan apapun yang keluar dari dalam pikiran mereka tanpa berpikir lebih lanjut? Hm? Taniko memanggilku dari samping.

"Apa mereka salah? Mereka semua bilang kau seperti seorang ibu."
"Mereka salah! Aku membuat kalian bekerja keras seperti budak."
"Apa itu tujuanmu sebenarnya? Kurasa kau telah gagal."
"Kau tahu-"
"Meskipun Goushijin-sama memiliki mulut yang jahat, tapi dia sangat baik. Dia hanya memarahi kami kalau kami melakukan perbuatan buruk."

Bahkan Filo ikut-ikutan. Bukankah akan lebih aneh jika aku menghukum kalian saat kalian tidak melakukan sesuatu yang salah? Itu hanya akan membuat mereka merasa tidak senang.

Pada masa lalu, aku ingat di salah satu toko dekat rumah memiliki manajer yang bersifat buruk. Dan karyawannya selalu resign dengan cepat. Setelah beberapa tahun, dan saat manajernya telah ganti. Kalimat 'dicari karyawan' yang selalu menempel di jendela tidak pernah ada lagi. Tentu saja, jika kau menjadi pemimpin yang baik, kau bisa membuat karyawanmu bekerja melebihi kemampuannya.

Pikiranku mungkin sudah mulai kacau disini. Pada intinya adalah, tidak ada gunanya untuk menurunkan semangat para prajurit tanpa alasan yang jelas. Jadi aku bukannya berbuat baik kepada mereka.

"Kalian semua salah!"
"Tuan Naofumi, aku mempercayainya."

Percaya apa!? Orang-orang ini... Bersama dengan penduduk desa yang lainnya, mereka akan aku ceramahi nanti.

"Tidak peduli apapun yang kalian katakan, kebenarannya sudah jelas! Naofumi adalah orang jahat!"

Itsuki tidak bisa diajak bicara. Tapi Rishia terus melanjutkan perkataannya.

"Itsuki-sama? Apa itu artinya kau adalah orang yang sempurna, jujur, dan bermartabat? Saat ini, kurasa kau tidak seperti itu sama sekali."
"Tolong berhentilah berbasa-basi. Itu membuatku ingin muntah. Kejahatan kalian membuatku mual!"

Itsuki memasang ekspresi jijik dan menatap kearah Rishia. Dia mengeluarkan aura yang kuat. Apakah dia harus berkata seperti itu?

“Iya, aku telah melakukan perbuatan dosa sebelumnya. Aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa tindakanku menimbulkan banyak kematian."
"Itsuki-sama..."
"Itu artinya ada satu hal yang harus aku lakukan. Aku harus menghancurkan semua kejahatan dari dunia ini. Aku harus menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri. Untuk selamanya!"
"Itu tidak akan terjadi."

Selama manusia tetap ada, maka kejahatan akan terus terjadi. Itsuki mungkin tidak akan pernah puas hingga akhir dunia. Dan terlebih lagi berdasarkan penilaian Itsuki, Ren, Motoyasu, dan aku telah dianggap sebagai orang jahat. Mungkin siapapun yang tidak bersujud dan mengikuti pola pikirnya akan dianggap sebagai jahat.

Itu artinya waktu saat Itsuki berhasil menghilangkan semua kejahatan adalah saat semua makhluk hidup telah mati.

"...Kekuatanku mungkin tidak begitu signifikan. Meskipun begitu, aku... Aku tidak bisa memaafkan semua ketidakadilan ini!"

Itsuki berteriak kemudian mengarahkan busurnya kearahku dan menarik talinya. Dan sesaat kemudian, sebuah anak panah muncul.

"Naofumi! Biarkan aku tembus ketidakadilanmu!"

Aku mendengar udara mendesing saat anak panah Itsuki terbang ke arahku. Aku menggunakan Float Shield untuk merubah arah terbangnya.

"Tidak adil... Benarkah?"

Seharusnya itu kalimatku. Aku terheran dengan apa yang akan dikatakan oleh orang yang telah mengacaukan kerajaan ini dengan kekuatan pencucian otak. Oh, tapi aku tidak diperbolehkan untuk membunuh Hero.

".....Itsuki-sama, tidak peduli apapun yang terjadi, kau tidak akan mencoba untuk mengerti?"

Rishia mengeluarkan pedangnya dan memasang kuda-kuda bertarung.

"Itsuki-sama, aku menolak keadilanmu. Keadilanku sendiri tidak sejalan denganmu!"
"Itsuki! Kembalilah normal! Jika kau kehilangan kendali dirimu oleh kekuatan kutukan, maka tidak akan ada lagi yang tersisa darimu pada akhirnya!"
"Jangan menghalangi jalanku!"

Sekali lagi Itsuki mengangkat busurnya. Anak  panah lain terbang. Dan targetnya adalah... aku lagi. kali ini, aku menangkap anak panah itu diudara.

“Shining Arrow!”

Itsuki sekali lagi menarik tali busurnya, dan anak panah yang terbuat dari cahaya mulai terbentuk. Tapi sepertinya akan memakan beberapa waktu sebelum dia dapat menembakkannya.

"Aku mengerti tidak ada satupun cara untuk merubah pikiranmu, Itsuki-sama. Jadi aku akan maju kedepan sebagai musuh dan bertarung denganmu menggunakan semua kekuatanku!"


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 44. Beruang Membudidayakan Unggas

 Volume 2

Chapter 44. Beruang Membudidayakan Unggas



Pagi hari berikutnya, aku berangkat ke desa Kai lewat gerbang perpindahan. Saat tiba di sana, seorang warga melihatku dan datang menghampiri.

"Ada perlu apa?"

"Aku ingin bertemu dengan kepala desa, apakah bisa?"

"Tentu, silahkan."

Warga tadi dengan sopan memanduku ke rumah kepala desa.

"Oh, bukankah itu Yuna. Apa yang membawamu kemari?" sapa kepala desa dengan seutas senyum di wajahnya.

"Selamat pagi. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kumintai tolong..."

"Tentu, apa itu?"

"Tentang Kokkeko yang tempo hari Anda berikan... apakah memungkinkan untuk menangkapnya hidup-hidup?"

"Kau menginginkan yang masih hidup? Jika kita memasang perangkap, kurasa menangkapnya bukan perkara sulit."

"Kalau begitu, bisakah Anda menangkapkan beberapa untukku. Aku menginginkan yang bisa bertelur, jadi tolong tangkapkan yang betina jika memungkinkan."

"Tentu, kami akan dengan senang hati melakukannya. Lagi pula, ini adalah permintaan langsung dari penyelamat kami. Jadi, berapa banyak yang kau inginkan?"

"Lebih banyak, lebih baik. Namun, aku tidak ingin memangkas terlalu banyak sumber makanan yang desa ini miliki, jadi tolong secukupnya saja."

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan meminta para warga yang sedang luang untuk menangkapkannya."

"Terima kasih banyak."

Jika aku bisa mendapatkan Kokkeko hidup, aku bisa memproduksi telur.

"Jadi, apa rencanamu selagi kami menangkap Kokkeko?"

"Berapa lama kira-kira itu akan memakan waktu?"

"Mari kita lihat, kurasa sore nanti kami sudah akan dapat beberapa."

"Kalau begitu, aku akan kembali lagi nanti sore. Ada beberapa urusan yang harus kulakukan di gunung dekat sini."

Aku meninggalkan desa dan berangkat menuju gua tempat aku memasang gerbang perpindahan kemarin.


Saat tiba di sana, aku melepas gerbang perpindahan yang sebelumnya telah kupasang. Aku kemudian membangun ulang bagian dalam gua menjadi lebih besar dengan bantuan sihir tanah. Selanjutnya, aku mendirikan sebuah rumah. Itu adalah rumah satu tingkat berbentuk anak beruang lengkap dengan dapur, toilet, kamar mandi, dan sebuah ruangan pribadi. Aku juga melengkapi setiap ruangan dengan kristal sihir cahaya untuk penerangan. Sebagai sentuhan akhir, aku memasang kembali gerbang perpindahan di samping pintu masuk rumah yang baru saja kudirikan. Dengan ini, markas pertamaku telah selesai.

Ketika aku kembali ke desa, mereka telah menyiapkanku dua puluh ekor Kokkeko yang sudah diikat. Ini lebih banyak dari perkiraanku.

"Apa tidak masalah untukku menerima sebanyak ini?"

"Hewan itu tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. Selain itu, daerah sekitar sini adalah habitat ideal mereka karena tidak ada monster yang berpotensi sebagai ancaman. Jadi, tidak usah sungkan dan tolong diterima."

Kurasa alasan Black Viper muncul ke pemukiman warga adalah karena tidak ada monster yang bisa ia makan di sekitar sini, pikirku.

Aku meminta warga untuk mengikatkan Kokkeko yang sudah mereka siapkan pada dua beruangku supaya tidak jatuh sewaktu kubawa pulang. Andai penyimpanan beruangku mampu menampung makhluk hidup, aku tidak akan kerepotan seperti ini. Yah, kurasa aku harus bersabar.

"Apa kau berencana untuk pulang sekarang?"

"Ya. Lebih cepat, lebih baik.

"Oh, begitu. Padahal kami ingin menjamumu lebih lama..."

"Tidak perlu repot-repot."

Sebelum pulang, aku menyerahkan sejumlah uang kepada kepala desa sebagai bayaran atas Kokkeko yang telah warga siapkan, tetapi ia menolaknya.

"Tidak, tidak, kami tidak bisa menerima bayaran dari orang yang telah menyelamatkan kami."

Aku tidak bisa membiarkannya, jadi aku memaksa kepala desa untuk menerima uang tersebut, kemudian pergi. Aku kembali menuju gua bersama kedua beruangku dan pulang ke Crimonia lewat gerbang perpindahan yang sudah kusiapkan di sana. Aku sebenarnya ingin segera mengunjungi panti asuhan begitu tiba di rumah, tetapi aku tidak bisa membawa beruangku ke jalan-jalan kota. Itu dapat menyebabkan kegaduhan. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk berangkat di malam hari.

Bicara soal Kokkeko, aku membiarkan mereka tetap terikat pada beruangku. Aku tidak berpikir mereka akan mati hanya karena itu, jadi kubiarkan saja.


Saat malam tiba, aku memacu kedua beruangku. Mereka berlari menyusuri jalan-jalan kota di bawah sinar bulan yang redup. Bukannya akan lebih mudah jika aku menggunakan gerbang perpindahan, kalian bilang? Terus terang, aku sudah lama ingin memacu beruangku di dalam kota.

Kami tiba di panti asuhan dan berhenti di tanah yang sudah aku beli. Aku lalu turun dari Kumayuru dan memeriksa tanah tersebut. Kurasa di sini cocok. Aku mendirikan sebuah kandang ayam menggunakan sihir tanah dan mengelilinginya dengan tembok setinggi tiga meter. Dengan tembok setinggi ini, Kokkeko-kokkeko itu tidak mungkin bisa lari, pikirku.

Aku membawa masuk kedua beruangku ke kandang dan melepaskan Kokkeko di sana. Begitu dilepas, burung-burung itu langsung berlarian ke sana kemari. Aku sangat lega Kokkeko-kokkeko itu tidak mati.

Pagi berikutnya, aku mengunjungi panti asuhan setelah selesai sarapan. Aku mendapati anak-anak tengah berkerumun di depan tembok yang aku bangun ketika aku tiba di sana.

"Nona beruang?!"

Anak-anak langsung berhamburan ke arahku begitu melihat aku datang.

"Nona beruang, sebuah tembok tiba-tiba muncul dalam semalam." Terang salah seorang anak sambil menunjuk ke arah tembok yang dimaksud. Aku lantas mengusap kepala anak tersebut.

"Itu karena aku yang membuatnya."

"Eh, sungguh?"

Anak-anak itu menatapku dengan wajah kagum.

"Kesampingkan hal itu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian dan ibu kepala pengurus, jadi ayo masuk ke dalam."

Aku membawa anak-anak itu masuk ke dalam panti asuhan dan mendapati ibu kepala pengurus sedang bersama seorang wanita yang tampak mendekati umur dua puluhan. Aku bisa menebak siapa wanita itu.

"Liz," ucap ibu kepala pengurus, "ini Yuna yang semalam kubicarakan—sekali lagi kuucapkan terima kasih untuk yang kemarin."

"Terima kasih banyak atas makanannya tempo hari," ucap Liz, menundukkan kepalanya.

"Apa yang membawamu kemari hari ini?"

"Aku ingin bertanya apakah anak-anak ini boleh kuperkerjakan? Aku akan membayar mereka dengan upah yang setimpal tentunya."

"Kau ingin memperkerjakan anak-anak?"

"Tidak perlu khawatir, ini bukanlah pekerjaan yang berbahaya."

"Pekerjaan macam apa itu?"

"Sudahkah Anda melihat tembok yang ada di luar?"

"Ya. Anak-anak terus saja meributkannya dari pertama bangun."

"Aku yang membuatnya kemarin malam. Aku ingin anak-anak ini merawat burung yang ada di dalam sana."

"Umm, kau membuatnya hanya dalam satu malam?"

"Kau ingin mereka merawat burung?"

Aku menjelaskan kepada mereka bagaimana tembok tersebut aku bangun serta rincian pekerjaan yang akan kuberikan pada anak-anak. Aku menerangkan bahwa anak-anak akan kuserahi pekerjaan untuk mengumpulkan telur di pagi hari, membersihkan kandang, dan merawat semua Kokkeko yang ada di dalam. Terakhir, aku juga menegaskan bahwa Kokkeko-kokkeko tersebut tidak dimaksudkan untuk dimakan.

"Dengan kata lain, kau ingin memulai bisnis berjualan telur?"

"Yah, mempertimbangkan harga telur yang tinggi di kota ini, kurasa iya."

"Kau yakin akan membayar kami hanya untuk melakukan pekerjaan seperti itu?"

Ibu kepala pengurus menatapku dengan raut tak percaya.

"Sebenarnya masih ada hal lain lagi, tapi cukup itu dulu untuk saat ini. Bagaimana pendapat Anda?"

Ibu kepala pengurus lantas mengalihkan pandangannya kepada anak-anak.

"Baiklah, semuanya tolong dengarkan. Tampaknya di sini Yuna-san ingin memberi kalian pekerjaan. Jika kalian bekerja, kalian bisa makan. Jika tidak, maka kalian akan kembali ke masa-masa dulu di mana sulit untuk mendapatkan makan. Yuna-san tidak bisa terus-terusan memberi kita makan, jadi apa keputusan kalian?" Tanya ibu kepala pengurus kepada anak-anak.

Anak-anak itu mendengarkan dengan seksama, kemudian mengangguk serempak setelah bertukar pandang satu sama lain.

"Aku akan melakukannya."

"Tolong biarkan aku melakukannya."

"Aku akan melakukannya juga."

"Aku juga."

"Aku juga."

Aku kagum dengan jawaban penuh semangat yang anak-anak itu lontarkan.

"Kalau begitu, bisa kuanggap kalian semua menyetujuinya?"

Mereka semua menjawab dengan setuju.

"Yuna, aku serahkan anak-anak ini padamu," ibu kepala pengurus membungkuk ke arahku.

"Tentu. Juga, bolehkah aku meminjam Liz?"

"Aku?"

"Ya, aku ingin kau ikut membantu juga."

"Tidak masalah, jika memang itu yang kau butuhkan. Liz, tolong perhatikan baik-baik apa yang Yuna instruksikan."

"Baik, ibu kepala pengurus."


Aku segera menuju ke kandang Kokkeko bersama anak-anak. Kami mendapati semua Kokkeko-nya tengah tertidur saat kami masuk ke dalam.

"Berikut adalah pekerjaan kalian: Pertama, keluarkan Kokkeko-kokkeko ini dari kandang mereka setiap pagi saat cuaca cerah. Kedua, kumpulkan semua telur yang ada di dalam kandang. Ketiga, bersihkan kandangnya. Keempat, beri Kokkeko-kokkeko ini makan dan minum. Kelima, masukkan kembali semua Kokkeko-nya ke kandang begitu tugas pertama sampai keempat selesai. Apakah kalian sanggup melakukannya?" Tanyaku.

Mereka semua menyanggupinya tanpa ragu-ragu.

"Baiklah, sekarang waktunya mengeluarkan burung-burung ini dari kandang mereka. Telur-telur yang mereka hasilkan akan menjadi pendapatan kalian, jadi pelan-pelan saat mengumpulkannya."

Anak-anak mengangguk paham dengan apa yang kukatakan.

"Masukkan telurnya ke wadah ini."

Aku menciptakan sepuluh wadah telur menggunakan sihir tanah. Setiap wadahnya mampu menampung hingga sepuluh butir telur. Untuk hari pertama mereka bekerja, anak-anak mampu mengumpulkan hingga satu wadah penuh. Kurasa ini jumlah yang lumayan untuk dua puluh ekor Kokkeko.

"Liz, apakah kau masih punya sayuran sisa?"

"Tentu, masih..."

"Apakah boleh aku memberi makan Kokkeko-kokkeko ini dengan sayuran sisa tersebut?"

"Yah, itu..."

Meski itu hanya makanan sisa, Liz telah bersusah payah mendapatkannya. Aku tidak heran dia enggan memberikannya untuk sekumpulan burung.

"Tidak usah khawatir, sayuran sisa tersebut akan menjadi nutrisi bagi Kokkeko sehingga mereka bisa memproduksi banyak telur."

"Baiklah, aku mengerti..."

Aku merasa dia masih belum mempercayaiku sepenuhnya, tapi setidaknya dia mendengarkan apa yang kukatakan.

"Baiklah, Liz, bisakah aku menyerahkan sisanya padamu?"

"Sudah mau pergi?"

"Yah, kita akhirnya berhasil memproduksi telur. Sekarang saatnya untuk menjualnya."

Aku membawa wadah berisi penuh telur tadi dan berangkat ke tujuan berikutnya.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 19 : Chapter 10 – Pentingnya Amarah

Volume 19
Chapter 10 – Pentingnya Amarah


“Di sinilah kita, Pahlawan Perisai. Pernahkah kau mempertimbangkan bahwa pasti ada alasan mengapa aku mengembangkan perasaan seperti itu kepadamu dan mengapa sekutuku bersumpah setia kepadamu dengan begitu mudah?” Tanya sang Naga Iblis, mengabaikan naga sihir logam yang marah itu sepenuhnya. Aku benar-benar berpikir bahwa saat itulah pertempuran akan dimulai. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, jadi aku menjawab pertanyaannya.

"Tidak juga. Itu karena peningkatan kekuatan pahlawan yang kuberikan padamu, bukan? Sekarang kau jauh lebih kuat dari Naga Iblis masa lalu.” Kataku.

“Apakah menurutmu itu saja akan memungkinkanku untuk secara paksa mengambil kekuatan dari Kuflika, makhluk yang membawa salah satu fragmenku, makhluk yang sebenarnya aku ciptakan?” Tanya Naga Iblis, menekankan inti pembicaraan. Pada awalnya dia sedikit menolak, tetapi setelah menjadi bertambah kuat, dia sudah tidak mempedulikannya. Aku tidak terlalu peduli tentang itu. “Aku akan menjadi lebih kuat dari diriku di masa lalu, bahkan tanpamu di dekatku. Tapi bukan itu masalahnya. Aku telah memperoleh kekuatan yang lebih besar sekarang.” Beberapa lingkaran sihir mulai tumpang tindih di atas tubuh Naga Iblis. Aku menggelengkan kepalaku. Statusku meningkat pesat tanpa alasan, dan ikon buku senjata ditampilkan.

"Hei! Jangan meretas statistikku lagi!” Teriakku. Rasanya seperti akunku diretas. Naga Iblis mendapat sedikit kekuatannya kembali dan lihat apa yang dia lakukan dengan itu! Berpura-pura berada di pihak kami, hanya menunggu celah untuk menyerang!

“Naga Iblis! Apa yang kau rencanakan ?! ” Glass dan Kizuna sama-sama berteriak pada naga itu.

“Pahlawan Perisai, dengarkan baik-baik apa yang aku katakan padamu,” Kata Naga Iblis, dengan ekspresi serius di wajahnya, sama sekali mengabaikan pertanyaan dan protes dari kami.

"Apa maksudmu?" Kataku.

“Kalian para pahlawan mencoba untuk mengabaikan kekuatan kegelapan dan memperlakukannya seolah-olah itu tidak pernah ada sama sekali. Itulah mengapa aku menanyakan ini kepadamu,” Lanjut Naga Iblis. Ikon skill Formation One: Float Mirror berkedip, dan pada saat yang sama skill bernama Change Mirror, konversi Change Shield, juga muncul. “Kebencian, rasa jijik yang kau rasakan terhadap dunia saat ini adalah kemarahan yang dapat dibenarkan. Apakah kau berpikir bahwa menyangkal amarah itu, berpura-pura menganggapnya seolah tidak pernah ada, dan menahan begitu banyak hal buruk tanpa pernah merasa marah... apakah menurutmu itu pendekatan yang benar? Apa itu tepat? Apa kau benar-benar sepenuhnya percaya pada belas kasih?” Tanya Naga Iblis. Aku ragu, tidak yakin bagaimana menjawabnya. Shield of Compassion milikku adalah kekuatan sementara, yang diberikan kepadaku oleh Atla. Ketika aku berjalan di antara hidup dan mati lalu bertemu kembali dengan Atla dan Ost.

Dengan begitu, Naga Iblis mengatakan poin yang tidak bisa kusangkal. Perasaan itu, dan kemarahan yang aku simpan di dalam diriku, disimpan di tempat yang sangat berbeda.

“Aku tidak peduli apa yang kau katakan! Aku telah membuat keputusan. Aku tidak akan mengandalkan kemarahan... aku tidak akan menggunakan kekuatan amarah lagi,” Kataku. Dengan kekuatan Compassion yang telah kuterima, aku telah kehilangan akses ke Shield of Rage dan Shield of Wrath.

"Tuan. Naofumi...” Raphtalia meraih tanganku dan meremasnya.

“Apakah gadis yang memberimu belas kasih juga menyangkal kemarahanmu? Apakah dia menyuruhmu untuk tidak pernah marah lagi?” Kata Naga Iblis, menekankan maksudnya. Aku tergagap sejenak, melirik ke arah Raphtalia. Atla... pasti akan setuju dengan kemarahanku dalam hal ini.

“Naga Iblis... Sesungguhnya apa yang ingin kau lakukan pada Tuan. Naofumi? Jika kau mencoba untuk menyesatkannya, aku akan menghentikanmu!” Kata Raphtalia.

“Pemegang Vassal Weapon katana, kemarahan Pahlawan Perisai dan kebaikannya adalah elemen yang membentuk Pahlawan Perisai. Lihatlah sekarang, kehilangan salah satu dari bagian itu akan memiliki efek negatif. Pahami kata-kataku. Akan tiba saatnya ketika sesuatu yang penting akan muncul, yang harus kau peroleh tidak peduli apapun resikonya,” Kata Naga Iblis dengan samar. Change Mirror dipilih secara otomatis untukku, dan cermin perubahannya juga dipilih. Perisai yang dipilih adalah Mirror of Wrath. Ini adalah item yang telah ditingkatkan oleh Naga Iblis di masa lalu saat meretas perisaiku. Pada prinsipnya itu tampak seperti +11 AF. Peringkat Rage sekarang menjadi IV.

“Memiliki amarah adalah alasan mengapa kau juga memiliki belas kasih. Kau telah melupakan komponen penting dari hatimu. Izinkan aku untuk menunjukkan kepadamu bagaimana cara yang benar untuk menggunakan kekuatan itu, ” Kata Naga Iblis. Aku bisa merasakan sesuatu mengalir dari dalam diriku dan bergerak ke dalam Naga Iblis. Pada saat yang sama, Formation Two: Float Mirror dan Shield of Compassion diaktifkan secara paksa, mencoba menekan kekuatan amarahku.

Sebagai tanggapan, Naga Iblis mulai menuntut lebih banyak kekuatan dariku. Dukungan transformasi binatang muncul, yang telah aku gunakan pada Fohl dan Sadeena di masa lalu. Aku mendengus karenanya.

"Tuan. Naofumi?!” Kata Raphtalia tergagap. Armorku mulai berubah, seperti saat aku menggunakan Shield of Rage. Namun, kali ini, aku bisa merasakan kemarahan dan kehangatan bercampur di dalam armor.

Dengan raungan yang mengerikan, Naga Iblis menarik lebih banyak kekuatan dariku dan mulai berubah. Dia dengan cepat menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada ketika kami melawannya di masa lalu. Aku mendengus lagi, bergantian diserang oleh amarah yang bergejolak di hatiku dan bayangan semua orang yang ingin kulindungi—Raphtalia dan Atla, Filo, Melty, Sadeena, Shildina, S'yne, Keel, Ruft, dan semua orang di desa. Aku juga tidak membencinya—itu membuatku merasa kuat dan mampu melindungi mereka. Memiliki sesuatu yang absolut, sesuatu yang harus kau lindungi dengan segala cara, menciptakan kebencian bagi mereka yang akan mencoba menghancurkannya. Itulah yang aku rasakan.

Di Weapon Book, nama senjata di suatu tempat antara kemarahan dan kasih sayang muncul... tapi aku tidak bisa membacanya.

"Jangan khawatir," Jawabku. "Aku tidak akan ditelan oleh amarah." Batas waktu kemudian muncul di bidang penglihatanku, seperti yang kulihat ketika mengendalikan Shield of Wrath. Itu diatur ke tiga puluh menit.

“Aku masih tidak yakin tentang ini...” Kata Raphtalia.

“Dia (Naga Iblis) menjadi sangat agresif. Kemarahan mungkin akan menguasaiku!” Kataku menyindir, tapi Naga Iblis hanya menjawab dengan nada mengejek seperti biasanya.

“Itu adalah salah satu fitur terbaikku. Kau terkadang perlu menunjukkan kepada Pahlawan Perisai siapa bosnya, pemegang Vassal Weapon katana,” Kata Naga Iblis sambil melihat ke arah Raphtalia. Apa yang dia coba agar Raphtalia lakukan?

“Bukan itu masalahnya di sini!” Teriak Raphtalia.

"Oh, tapi memang begitu," jawab Naga Iblis. “Kau tidak boleh menyangkal kemarahan Pahlawan Perisai. Bagikan kemarahan itu, bagikan air matamu, bagikan saat-saat damai, dan bagikan perjuangan untuk mengatasinya; itulah kasih sayang sejati.” kata Naga Iblis memperingatkan kami bahwa aku belum bisa mengatasi kemarahanku. Aku harus tetap tenang, tetap tenang tanpa amarah... tapi itu tidak mungkin pada saat itu!

"Kita akan membahas ini lagi nanti!" Kataku mengamuk. Naga Iblis hanya tertawa.

“Kau tidak harus memahaminya sekarang. Pastikan saja kau tidak berpura-pura bahwa kemarahanmu tidak ada,” Kata Naga Iblis. Dia benar-benar masokis, dia menyukainya bahkan ketika aku marah padanya. “Nah, para pahlawan, perhatikan baik-baik senjatamu yang dibuat dari bahanku,” Saran Naga Iblis. Kizuna, Glass, Raphtalia, dan S'yne semuanya melakukannya.

“Senjata Naga Iblis Sejati memiliki efek kemarahan yang diterapkan pada masing-masing senejata sekarang. Senjata itu akan jauh lebih kuat,” Lapor Kizuna.

"Kekuatan apa ini!" Seru Raphtalia. “Ini bahkan bukan senjata terkutuk. Itu bagus. Aku juga merasakan kekuatan mengalir dari dalam diriku.” Aku menggelengkan kepalaku. Apakah ini efek naga lainnya? Semua orang, termasuk Raphtalia, memiliki sesuatu seperti aura hitam yang mengelilingi mereka, menunjukkan bahwa mereka telah diperkuat.

“Aku merasakan kekuatanku meningkat dari dalam,” Kata Kizuna. Puding darah juga berpengaruh, aku yakin. Aku tidak suka arah dari peristiwa ini. Jika terus begini, kemarahanku akan diperlukan oleh Naga Iblis untuk mencapai wujud Wrath Dragon setiap kali sesuatu terjadi.

"Aku pikir... mungkin ini yang kita butuhkan,” Bisik Raphtalia, melihat katana hitam yang membara di tangannya.

“Naofumi, apa yang harus kita lakukan? Siapa yang akan melawan siapa?” Tanya Kizuna.

“Naga Iblis dan Filo sudah ditantang,” Jawabku. Naga Iblis yang berubah secara menakutkan itu berhadapan dengan naga sihir logam.

“Boo! Ini bukan salahku!” Filo mengalami hari yang buruk, itu pasti. Jadi Naga Iblis dan Filo akan melawan pria harpoon, anak buahnya, dan naga sihir logam. Jumlahnya tampak tidak seimbang.

"Apakah kau tidak akan memanggil raja surgawi lainnya?" Tanyaku.

“Aku mengirim mereka ke pelabuhan. Mereka hanya akan menghalangi jika disini. Lebih banyak tidak selalu lebih baik,” Jawab Naga Iblis. Ya ... Terserah.

"Hei! Jangan lupakan aku,” Kata sebuah suara.

“Kizuna! Hati-Hati!" Glass berteriak saat pria dengan senjata suci ofuda melemparkan ofuda seperti kartu ke arahnya. Glass berhasil menjatuhkan serangan itu tepat pada waktunya, tetapi ekspresinya menegang.

"Itu kuat hanya untuk serangan awal," Katanya, tangannya tampak mati rasa. Tindakan sederhana untuk menangkis serangan yang masuk dapat menyakiti Glass, artinya kami memang menghadapi musuh yang sangat kuat.

"Glass! Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Kizuna.

"Memang sedikit menyakitkan," Kata Glass.

“Aku punya berbagai cara agar kami bisa melawanmu, jadi berhati-hatilah. Aku juga bisa menggunakan sihir. Jika kau pikir kalian bisa menghentikanku, silakan coba,” Kata pria ofuda itu, senyum tampan terpampang di wajahnya.

Kemudian Shildina berdiri di samping Glass.

"Aku pikir kau membutuhkan bantuan," Kata Shildina.

“Ya, aku pikir begitu. Aku tidak akan bisa menangani ini sendirian. Shildina, tolong bantu aku,” Kata Glass.

“Aku juga akan bertarung demi Naofumi yang manis,” Jawab Shildina. Mereka menggabungkan kekuatan mereka, tumpang tindih lagi saat kekuatan oracle diaktifkan.

“Wah, wah, wah, kau memang punya trik yang bagus,” kata kakak perempuan S'yne.

“Memang. Kau sebaiknya tidak meremehkanku dalam bentuk ini,” Kata Glass. “Kizuna, tolong berikan dukungan dari belakang. Jika kau melihat celah, kau tahu apa yang harus dilakukan,” Kata Glass.

"Baiklah! Kami akan mengganggu mereka sebanyak yang kami bisa, kan, Chris? ” Kata Kizuna.

"Pen!" Jawab Chris. Kizuna telah memanggil Chris dan siap untuk bertarung. Sepertinya Kizuna, Chris, Glass, dan Shildina akan bertarung dengan ofuda sambil menawarkan dukungan kepada siapa pun yang membutuhkannya jika ada celah.

Satu-satunya kekhawatiranku yang lain adalah kapal yang mengambang di langit di belakang pemegang Vassal Weapon harpoon dan pengikutnya, meriamnya diarahkan kepada kami. Aku menebak mereka akan menembak kapan saja. Karena itu dulunya adalah senjata Ethnobalt, kami tahu jenis serangan apa yang bisa dilakukan. Tapi karena dicuri, kami tidak tahu modifikasi seperti apa yang mungkin dilakukan. Menahan serangan apa pun yang dilepaskannya adalah bagianku, tentu saja.

Tidak ada tanda-tanda Bitch turun dari kapal.

“S'yne kecilku sayang, aku tidak ingin kau membuat masalah, jadi mari kita bermain bersama lagi,” kata kakak perempuan S'yne.

“─!” Jawab S'yne, meskipun aku tidak bisa mendengarnya.

“S'yne telah—sejak kekalahan terakhir dan sekarang—mengharapkan hasil—terakhir kali!” Kata familiarnya, walaupun masih terpatah-patah.

"Lebih baik kau melawan yang lebih kuat kali ini!" Bitch mengeluh pada kakak perempuan S'yne. Dia telah membuktikan dirinya sangat kuat, jadi aku bisa mengerti mengapa sekutunya akan mengeluh kenapa dia hanya melawan S'yne.

“Wah, wah, wah. Haruskah aku melawan Iwatani? Aku tidak keberatan jika aku melakukannya, tetapi menurutmu apa yang akan dilakukan S'yne?” Renung kakak perempuan S'yne. S'yne memutuskan untuk menyerang kakaknya, mengubah Vassal Weapon alat jahitnya menjadi bola benang dan meluncurkan serangan terlebih dahulu. Benang diluncurkan dari bola dan terbang ke segala arah, menyerang semua musuh. Itu terlihat berguna untuk menahan mereka semua. Bahkan naga sihir logam terjebak di dalamnya.

Melihat benangnya, kakak perempuan S'yne menghantam senjata rantainya sendiri ke tanah.

“Binding: Multi-head Orochi!” Teriaknya. Rantai muncul dari empat arah dan menghalangi jalur benang tersebut.

“Hah! Kami bisa menghancurkan serangan seperti itu dengan mudah!” Kata Bitch.

"Tapi bisakah kau terus melakukannya?" Tanya Kakak perempuan S'yne. “Begitu kau lengah, benang itu akan menangkapmu. Dengan Iwatani di sini, mereka memiliki lebih banyak kegunaan.” Dia hanya suka menjelaskan banyak hal, terlepas dari sisi mana dia memihak.

"Aku tidak yakin kau akan menyadarinya," Kataku. Menggunakan cerminku memungkinkan aku menggunakannya sebagai relay point dari benang. Mereka bisa melewati cerminku dan menyebar dengan bebas di setiap area yang diinginkan. Yang benar-benar ingin aku lakukan adalah meletakkan cermin di belakang Bitch dan mengikatnya sekaligus.

"Kau harus mengerti," Lanjut kakak perempuan S'yne. “Memiliki naga itu di dekatmu akan membatasi sihirmu sendiri—sihir yang juga tidak bekerja pada Iwatani. Jadi intinya adalah seberapa baik kita bisa bertarung tanpa campur tangan mereka. Dan kau ingin mengabaikan S'yne? Silahkan. Kau sebaiknya mulai membantu. ”

“Apa yang kau bicarakan?! Kau harus menjauhkannya dari kami dan menyingkirkan yang lain juga! Kau bisa menggunakan sihir, kan?” Kata Bitch, mengeluarkan perintah dengan angkuh seperti biasanya. Aku berharap mereka akan terus bertengkar seperti ini sampai menciptakan celah untuk menyerang.

“Wah, wah, wah. Kau seharusnya yang melakukan itu. Orang yang menyarankan sesuatu biasanya adalah orang yang melaksanakannya, bukan? Kau telah dianugerahi segala macam berkat, namun kau masih menginginkan lebih! Dan kau pikir aku akan lebih percaya diri. Jika aku mulai menembakkan sihir, naga itu akan mengambil langkah untuk menghentikanku. Aku tidak mau berurusan dengan itu,” kata kakak perempuan S'yne, sambil mengeluarkan senyum mengejek. Seluruh sikapnya secara halus menunjukkan bahwa ini adalah kesempatan terakhir Bitch. Bitch jelas gelisah dengan teman-teman barunya.

Aku hanya ingin mereka bertengkar lebih lama. Melawan satu sama lain! Kemarahanku melonjak, hampir menguasaiku, dan aku berjuang untuk menurunkannya lagi.

“Itu artinya aku akan mengurus Iwatani dan S'yne,” kata kakak perempuan S'yne.

"Aku tidak akan melupakan perlakuanmu ini!" Kata Bitch.

“Nona Malty! Inilah saatnya untuk menunjukkan siapa dirimu!” Teriak salah satu pengikutnya. Mereka berada di belakang yang lain. Bitch memegang cambuk di satu tangan, tampaknya bersiap untuk menggunakan skill. Dia telah belajar dari pengalamannya tentang menembakkan sihir ke arahku—aku akan segera mengirimkannya kembali. Mungkin mereka akan mencoba sihir kooperatif atau ritual, sesuatu yang sedikit lebih sulit untuk diganggu. Pasti menyenangkan, pikirku sejenak, untuk bisa mengakses sihir terlarang menggunakan aksesori. Mereka sangat menyebalkan!

"Raphtalia, apakah kau tahu apa yang harus dilakukan?" Tanyaku.

"Iya. Kali ini kita harus melawannya,” Jawab Raphtalia. Itu berarti Raphtalia, S'yne, dan aku akan melawan Bitch dan anak buahnya—terutama Wanita B II dan Vassal Weapon kapal.

"Naofumi kecil, bisakah aku melawan pahlawan Harpoon?" Tanya Sadeena.

"Apakah kau bisa menanganinya?" Tanyaku.

“Aku membutuhkan dukungan darimu dan yang lainnya, Naofumi kecil. Aku hanya ingin melihat seberapa bagus dia dengan harpoon itu,” Kata Sadeena. Tentu saja, dia sendiri menggunakan harpoon. Jika berhasil, dia bisa mencuri senjata darinya—seperti yang dilakukan Itsuki terhadap Miyaji. Membuktikan perbedaan yang jelas dalam hal kemampuan dan mengambil alih senjata itu pasti akan menjadi hasil yang bagus.

"Dapatkah kita memulainya? Izinkan kami untuk menunjukkan betapa bodohnya kalian karena mengarahkan senjata kalian pada kami!” Mendengar teriakan dari Naga Iblis ini, kedua belah pihak mulai menyerang secara bersamaan.

"Sekarang! Mainkan kartu truf kita!” Teriak Bitch. Tampaknya terlalu dini untuk itu, tapi naga sihir logam dan pemegang Holy Weapon ofuda berteriak setuju. Kedua senjata suci yang rusak itu mulai melepaskan semacam getaran yang memberi aura berwarna warna ungu. Itu tersebar ke area sekitar. Bitch tertawa terkikik saat cerminku mulai bergetar. Bukan hanya cermin saja—senjata Raphtalia dan Glass juga terpengaruh.

"Apa ini? Apa yang sedang terjadi?!" Kizuna tampaknya tidak terpengaruh. Aku memelototi Bitch, bertanya-tanya apa yang dia rencanakan. Aku yakin aku pernah merasakan ini sebelumnya, di suatu tempat...

“Vassal Weapon! Tanggapi panggilanku dan patuhi perintahku!” Teriak Bitch. Cermin itu bergetar lebih keras lagi, seolah mencoba melawan.

"Tuan. Naofumi!” Raphtalia menatapku dengan ekspresi khawatir. Menggunakan trik pengecut lainnya—seperti yang diharapkan dari Bitch. Ini adalah trik yang mereka gunakan ketika mereka menghentikan perisaiku dan busur Itsuki agar tidak berfungsi.

“Kau adalah pemegang sebenarnya dari senjata-senjata itu, bukan? Lalu kenapa! Apakah itu cukup untuk melawan kekuatan ini?” Teriak Bitch. "Aku mencabut hakmu untuk memegang senjata-senjata itu!" Getaran lain mengguncang udara. Cermin, katana, dan kipas sepertinya akan mematuhi Bitch—lalu cerminku menembakkan sinar untuk melindungi katana, dan Holy Weapon alat berburu melindungi senjata kipas. Taktiknya sepertinya tidak berhasil.

"Sungguh disayangkan! Sepertinya senjata suci yang rusak tidak bisa menghilangkan hak untuk menggunakan Vassal Weapon,” Kata Kizuna, terdengar sangat senang dengan dirinya sendiri.

“Hah. Langkah pertamamu adalah mencoba untuk mencuri senjata kami? Sangat membosankan,” Tambah Naga Iblis.

"Kau pasti bercanda! Itu tidak berhasil? Buang-buang waktu!” Bitch mendecakkan lidahnya, yang membuatku semakin kesal. Aku sangat ingin membunuhnya. Aku ingin membunuhnya sekarang juga!

“Mereka juga memiliki Holy Weapon, jadi mau bagaimana lagi. Bahkan jika itu berasal dari dunia lain, bekerja sama dengan Vassal Weapon membuat Holy Weapon mereka menghentikanmu,” Kata kakak perempuan S'yne, memberikan analisis normal dan tidak memihak. Dalam hal ini, dia sepertinya ingin mengejek Bitch. Orang-orang ini selalu mencoba melemahkan kami seperti ini! Aku senang itu tidak berhasil, atau kami akan kembali bertarung tanpa senjata lagi.

"Aku tidak akan membiarkan celah ini tidak dieksploitasi!" Naga Iblis memutar cakarnya dan bola sihir hitam yang tak terhitung jumlahnya muncul di udara, terbang menuju naga sihir logam.

“Kolaborator universal! Tanggapi panggilanku dan wujudkan kekuatan sihirmu!” Bahkan saat dia meluncurkan serangan pertama, dia melantunkan sihir yang kedua.

"Dasar bodoh! Apa kau lupa siapa aku? Gyah-gyah!” Kata naga sihir logam.

“Kita akan lihat siapa yang bodoh di sini... Aku adalah Naga Iblis! Sekarang kau akan belajar bahwa pemahamanmu tentangku sangat salah!” Jawab Naga Iblis.

“Lalu bagaimana jika iya? Terima ini! Lightning Strike Dragon: Ten!” Pemegang Vassal Weapon harpoon mengangkat harpoonnya dan kemudian menyerang tepat ke arah Naga Iblis, tubuhnya diselimuti petir. Itu adalah skill peningkatan kekuatan! Tetapi tanpa mengetahui dari mana Holy Weapon itu berasal, tidak ada cara untuk menyalinnya. Itu menyebalkan.

“Naga Iblis Kecil, dia akan muncul untuk menyerang kepalamu tetapi kemudian mengincar tubuhmu,” Kata Sadeena—pada titik tertentu, dia telah naik ke punggung Naga Iblis dan sekarang memberikan nasihat.

“Kalau begitu aku tahu bagaimana cara meresponsnya,” Kata Naga Iblis, menundukkan kepalanya dan menghindari serangan itu. Pemegang Vassal Weapon harpoon berputar-putar, masih menjadi bola petir yang berderak, dan mencoba menyerang tubuhnya, tetapi dia tahu apa yang diharapkan dan menjatuhkannya. Lalu Naga Iblis mengayunkan ekornya, memukul pria harpoon itu dengan keras. Dia mendengus.

"Apa itu tadi?!" Serunya.

“Itu adalah serangan yang cukup kuat, kelihatannya, tetapi mudah untuk dihindari begitu kau tahu target yang sedang kau incar,” Sadeena memberi tahu pria harpoon dari punggung Naga Iblis.

"Aku terkejut kau bisa mengetahuinya," Kata Naga Iblis.

"Aku sendiri cukup ahli dengan harpoon," Jawab Sadeena.

"Baiklah. Tetap dekat denganku jika begitu!” Teriak Naga Iblis.

"Tentu saja! Mari kita dapatkan pujian dari Naofumi kecil!” Jawab Sadeena. Naga itu membuat suara setuju, dan aku menggelengkan kepalaku. Dari semua orang, aku tidak mau mereka berdua akur.

"Sekarang! Inilah saatnya untuk membentuk sihir! Rasakan kekuatanku dengan perintah sihirku!” Kata Naga Iblis meraung.

"Dasar Bodoh! Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku lebih unggul dengan sihir dalam segala hal! Kau akan mempelajari teror Holy Weapon! Gyah-gyah!” Balas naga sihir logam itu. Kemudian mereka berdua mulai merapalkan sihir yang sama persis!

“Kekuatan ini, penuntun kemenangan, adalah sihir pamungkas yang dapat membasmi semua musuh dan memberikan belas kasihan kepada teman-temanku... Kaisar Naga, penguasa dunia ini, memerintahkannya! Berikan kekuatan yang maha kuasa!” Naga Iblis selesai lebih dulu dan berbalik untuk melihat ke arah kami, sementara naga sihir logam mengerutkan kening karena suatu alasan.

“Aku tidak akan membantu musuh masterku,” Kata Filo. Sihir Naga Iblis bisa dibuat lebih kuat dengan meminjam kekuatan dari mereka yang telah bergabung atau berkolaborasi dengannya. Dan Filo—yang telah ditunjuk sebagai salah satu dari Empat Raja Surgawi—telah menolak permintaan dari naga sihir logam itu. Kemudian Filo mengeluarkan bolas dari sayapnya, memutarnya, dan melemparkannya ke pria harpoon itu.

“Uwah! Tidak mungkin!" Pria harpoon itu terguling, kakinya tersangkut di bolas. Dia kembali bangkit, tetapi itu memberi kami waktu. Serangan lempar Filo juga cukup berguna; Aku harus memberinya pujian untuk itu.

“Gah! Terkutuklah kau, Raja Surgawi, dan kegagalanmu untuk melihat siapa di antara kami yang merupakan penguasa sejatimu! Tapi aku bisa mengaturnya bahkan tanpa bantuanmu, kau akan segera melihatnya! Gyah-gyah!” Kata naga sihir logam.

"Sudah terlambat. Tidak peduli seberapa cepat kau bisa melantunkan mantra, sihir dari seorang raja tanpa bawahan tidak akan pernah bisa menandingi milikku!” Seru Naga Iblis.

“Dia memiliki seseorang yang berkolaborasi dengannya! Aku!" pria harpoon itu berteriak. Sepertinya dia sedang membantu.

“Mari kita lihat bagaimana kau bertahan di bawah serangan kami. Akan menarik untuk melihat seberapa besar celah yang bisa kami buat. Berkat dari Empat Raja Surgawi kepada Naga Iblis!” Sihir yang disusun oleh Naga Iblis terbang tepat ke arahku. Itu datang sangat cepat. Tetapi mengingat kami belum terjerumus ke dalam pertempuran habis-habisan, aku masih bisa merespons. “Aku akan mengendalikannya. Pahlawan Perisai, cepat gandakan!” Kata Naga Iblis.

“Ya, aku mengerti. Formation One, Formation Two, Formation Three: Glass Shield! lalu ... Mirror Cage!” Aku menyesuaikan sudut dari dua cermin untuk menangkap sihir yang masuk. Pada saat sihir tersebut menyentuh cermin Mirror of Wrath, itu berubah menjadi warna yang mirip seperti penyakit. Itu mengingatkanku pada Sacrifice Aura. Segera setelah itu, sihir tersebut menyentuh cermin Shield of Compassion dan kembali ke warna normal—belas kasih telah memurnikannya. Firasatku memberitahuku bahwa kami akan membayar ‘harga’ yang tidak menyenangkan, seperti Sacrifice Aura, jika itu diaktifkan setelah mengenai Mirror of Wrath. Membalik urutan pantulan cermin pasti berbahaya.

Namun, risiko itu juga sepadan, karena aku tahu sihir tersebut telah meningkat lebih dari sekadar pantulan biasa. Kemudian mengenai kaca cermin ketiga... dan saat itulah aku menjebaknya di dalam Mirror Cage.

"Ini dia. Semuanya! Siap-siap!" Kata Naga Iblis meraung. Pada saat yang sama, Mirror Cage itu pecah. Kemudian sihir pendukung Naga Iblis yang telah kugandakan menghujani kami.

Statistikku langsung meningkat pesat. Sulit untuk menghitung dengan tepat berapa perubahannya, tetapi setidaknya sama atau lebih dari Liberation Aura VIII.

“Naga Iblis! Harpoon and Dragon Protection: Ten!” Naga sihir logam tidak ketinggalan, memberikan sihir dukungan pada sekutunya sendiri.

"Wah, wah, wah," Kata kakak perempuan S'yne. “Kau seharusnya tidak terlalu bergantung pada sihir pendukung.” Baik dia dan naga sihir logam mulai merapalkan lebih banyak sihir.

“Mereka telah membuat celah untuk kita, jadi ayo kita ambil,” Kata Naga Iblis.

“Ayo, Filo kecil! Ayo kita habisi!” Panggil Sadeena.

"Baik!" Filo setuju. Naga Iblis terbang langsung ke naga sihir logam, sementara Sadeena meraih kaki Filo (Filo telah berubah menjadi monster yang tampak seperti elang besar) dan mereka terbang langsung ke pria harpoon itu.

"Apa?! Mereka bahkan tidak memiliki Vassal Weapon, tapi kecepatan apa itu!” Teriak target mereka.

“Itu karena Naofumi kecil telah menumpuk begitu banyak peningkatan pada kami! Kami tidak memberikan alasan apa pun kepada kalian! ” Balas Sadeena.

"Benar! Makanan master memberiku banyak energi!” Tambah Filo. Angin yang menyelimutinya juga menyelimuti harpoon Sadeena, dan Sadeena juga menggunakan beberapa batu permata untuk mengakses Way of the Dragon Vein saat dia menyerang tepat ke arah pria harpoon itu.

“Ini adalah tiruan dari teknik yang baru saja kau gunakan,” Kata Sadeena. "Jika kau tidak menghindari ini, aku tidak akan bersenang-senang sama sekali." Berubah menjadi peluru angin kencang, Filo menggeser lintasannya sedikit dari pria harpoon, meluncur tinggi ke langit sementara Sadeena terus terbang langsung menuju targetnya.

"Kau pikir serangan langsung seperti itu bisa—" Tapi keberaniannya terputus dengan gerutuan saat dia menghindari serangan Sadeena tetapi kemudian dihantam oleh peluru angin yang sama, yang berputar hampir 180 derajat dalam sekejap mata dan menghantamnya. Mereka berdua tahu persis kemana pria harpoon itu akan menghindar.

“Ya ampun, kau tidak menghindarinya? Aku bahkan menunjukkan tangan mana yang kupakai untuk memudahkanmu,” Kata Sadeena, masih sepenuhnya berada di zona nyamannya. Dia mungkin kurang dalam hal output dibandingkan dengan pria harpoon, tapi dia benar-benar menang dalam hal teknik.

Tidak mau tertinggal, Naga Iblis meraih naga sihir logam pada saat yang sama, membuka mulutnya lebar-lebar dan mengambil napas. Semburan api hitam dilepaskan dari dalam tenggorokan Naga Iblis, berkilauan dengan cahaya saat terbakar.

“Rasakan ini! New Star Blacksun Fire!” Raung Naga Iblis. Naga sihir logam itu meraung kesakitan. Aku pernah melihat api seperti itu sebelumnya. Hal mirip dengan Dark Curse Burning.

Naga Iblis menghembuskan api pada naga sihir logam untuk sementara waktu dan kemudian mundur lagi. Targetnya mengerang.

“Api terkutuk... cara pengecut.” Kata naga sihir logam akhirnya.

“Kau akan kesulitan membersihkan api amarahku! Begitu panasnya bahkan membakar kegelapan. Apakah kau pikir kau bisa mengobatinya? Nah, untuk berjaga-jaga...” Dia menjentikkan cakarnya dan aku merasakan sesuatu berubah di udara di sekitar kami. “Aku telah membuat kantong sihir yang menunda penyembuhan. Siapapun yang menentangku... sebaiknya tidak memerlukan bantuan medis untuk sementara waktu.” Naga Iblis tampaknya telah menutup setiap celah, termasuk menciptakan area yang merusak efek sihir penyembuhan.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan
PROOFREADER: Bajatsu

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria Light Novel Bahasa Indonesia Volume 8 Chapter 1

Volume 8
Chapter 1


Sinar mentari yang menembus jendela membuat Tetsuhito Suoh perlahan membuka matanya.

Di atasnya nampak langit-langit kayu dan lampu bergaya jepang kuno tergantung di bawahnya, bola lampu berada didalam bingkai kayu yang dilapisi kertas washi berserat.

Dia bangkit dan melihat sekeliling kamarnya. Lantainya ditutupi oleh pakaian dan sampah yang dibuang sembarangan, orang bahkan tidak bisa melihat lantai tikar tatami di bawahnya.

Saat istrinya masih hidup, segalanya amat berbeda, bahkan jika dia sembarangan melempar pakaian kotor ke lantai, itu akan selalu dirapikan saat dia pergi bekerja.

Dan di pagi hari, saat meninggalkan kamar tidur, hidungnya selalu disambut oleh aroma sup miso segar.

Tapi sekarang, hal seperti itu tidak akan pernah lagi—

“Hm?” Begitu Tetsuhito meninggalkan kamarnya, saat dia mendapati dirinya menghirup suatu aroma. Itu samar, tapi pasti, aroma miso dan nasi yang baru dimasak.

Seolah ditarik oleh aroma kehangatan, dia berjalan ke ruang makan. Di atas meja ada nasi dengan telur goreng, ikan bakar asin, dan sup miso — semua itu adalah bagian dari sarapan tradisional Jepang, berbaris siap untuk disantap.

“Oh, hei. Pagi, Ayah. Aku baru akan pergi memanggilmu.” Pria muda yang menyambutnya melakukannya dengan nada sedikit kasar, dengan wajah berpaling seolah-olah dia sedang malu. Wajah itu memiliki sedikit kemiripan dengan mendiang istri Tetsuhito.

Dia adalah Yuuto Suoh, putra tunggal Tetsuhito, yang selama tiga tahun terakhir menghilang, keberadaannya tidak diketahui.

Dibandingkan dengan tiga tahun lalu, dia jauh lebih tinggi.

Suaranya lebih dalam.

Wajahnya lebih dewasa, menjadi lebih pria.

Tetsuhito telah beberapa kali bertatap muka dengan putranya sejak dia kembali, tetapi dia masih tidak bisa menahan perasaan aneh tentang celah antara Yuuto yang dia lihat sekarang dan Yuuto tiga tahun lalu.

Tetsuhito menyembunyikan perasaan gelisahnya di balik ekspresi biasanya yang terlihat sedikit pemarah, dan menatap makanannya. "Pagi. Apa yang menyebabkan semua ini?”

Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, dia menyesalinya.

Dia cukup yakin ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya. Bagian dirinya inilah yang menyebabkan putranya membencinya, tetapi tentu itu bukan hal yang mudah untuk diperbaiki.

Namun, meski putranya mengerutkan kening dan sedikit tidak senang, Yuuto tidak menghentikan pembicaraan di sana dan hanya tertawa kecil. “Heh, yah, kau banyak membantuku sebelumnya. Ini juga semacam permintaan maaf karena salah paham denganmu selama ini.”

Dia mengatakan ini dengan wajah masih menghadap ke samping. Cara dia tersipu malu dalam situasi seperti ini — mungkin bagian dari Yuuto itu mirip Tetsuhito sendiri.

"Hmph," kata Tetsuhito. "Yah, jika kau sudah berusaha membuatnya ... aku akan memakannya."

“O-oke.”

Keduanya duduk di kursi mereka, keduanya agak canggung.

Seperti yang Yuuto katakan, pembicaraan mereka kemarin, menghilangkan ketegangan dan perasaan tidak enak di antara mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah benar-benar berpisah selama hampir tiga tahun. Tetsuhito tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dibicarakan dengan putranya.

Dia sangat buruk dalam percakapan sejak awal, dan dia telah menghabiskan hidupnya hanya untuk membuat pedang dan tidak ada yang lain (atau lebih tepatnya, dia dengan bodohnya membiarkan dirinya hidup seperti itu). Membuatnya sangat tidak terampil saat berurusan dengan orang lain.

Sekarang putraku berusaha menjembatani kesenjangan ini, namun aku sangat mengecewakan, pikir Tetsuhito dalam hati saat mencela dirinya sendiri.

Saat dia memikirkan ini, Yuuto menyeruput mangkuk sup coklat kemerahan di depannya, lalu tersenyum masam dan berbicara lagi.

"Maaf. Sup misoku suhunya bahkan tidak sesuai, bukan? Dan rasanya terlalu tipis. Aku masih jauh dari Ibu.”

“Hari ini adalah pertama kali kau mencoba,” Tetsuhito meyakinkannya. “Tentu kau tidak akan mendekati level skillnya dengan mudah.”

"Ya, benar. Ibu benar-benar hebat, bukan?”

"...Ya." Akhirnya, dapat berkata jujur dan ringan dengan putranya, Tetsuhito merasakan rasa lega, sekaligus berterimakasih kepada istrinya.

Dibandingkan dengan dirinya yang kikuk dan keras kepala, dia merasa respon Yuuto jauh lebih dewasa. Cukup mengharukan melihat seberapa jauh putranya tumbuh selama tiga tahun ini.

Tetsuhito merasakan kegembiraan pada pertumbuhan putranya, tetapi kenyataan bahwa dia tidak bisa berada di sana, untuk menyaksikannya juga membuatnya merasa sedih. Kesepian bahkan.

Kata-kata Yuuto selanjutnya hanya mengkonfirmasi kecurigaannya. “Jadi, uh, aku tahu agak buruk untuk mengatakan ini begitu cepat setelah kita memperbaiki semuanya. Tapi... aku harus pergi lagi.”

Tetsuhito sudah tahu.

Putranya telah lama meninggalkan sarang, meninggalkan perlindungannya, dan terbang dengn sayapnya sendiri.

“Aku... mungkin tidak akan pernah kembali ke sini lagi,” kata Yuuto sambil menatap lurus ke mata Tetsuhito. “Ta-tapi itu bukan karena aku membencimu atau semacamnya, bukan seperti itu. Hanya saja keadaan tidak mengizinkanku.”

Mulut Yuuto kering karena gugup, dan tangannya terkepal erat di bawah meja, basah karena keringat. Mengatakan hal ini kepada ayahnya pasti sulit untuk dilakukan.

Sebagian karena kurangnya komunikasi selama tiga tahun, interaksi mereka pagi ini sedikit tegang dan canggung, tetapi kebencian apa pun yang dia miliki untuk ayahnya benar-benar hilang sekarang.

Dendam Yuuto terhadap ayahnya berasal dari insiden yang melibatkan ibunya, tapi sekarang dia tahu itu hanya kesalahpahaman. Ada juga fakta bahwa dia telah tumbuh secara psikologis selama tiga tahun terakhir, dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang fakta bahwa Tetsuhito hanyalah seorang pria yang kikuk ketika berurusan dengan orang lain.

Tidak ada perasaan benci yang tersisa, dan Yuuto sekali lagi mengakui pria ini sebagai ayahnya. Itulah mengapa dia merasakan rasa bersalah yang kuat karena meninggalkan satu-satunya kerabat darahnya yang tersisa sendirian di rumah ini.

Tetsuhito menyeruput tehnya, lalu menghela napas panjang. "... Yggdrasil, kan?"

"Ah! Kau tahu itu?” Yuuto meninggikan suaranya, terkejut terheran-heran.

Ayahnya menanggapi pertanyaan paniknya dengan mengangkat bahu dan tertawa masam. “Aku mengetahui sebagian besar intinya dari Mitsuki-chan secara teratur. Dia gadis yang baik.”

"Ouh. Mitsuki sialan itu. Dia melakukan itu di belakangku dan bahkan tidak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang ini kepadaku.” Yuuto menggerutu dan mengeluh, tetapi dia memiliki senyum halus di wajahnya.

Aku serius akan menikahi gadis yang tidak pantas kunikahi, pikirnya dalam hati.

Jika Mitsuki mengangkat topik itu ketika Yuuto masih tinggal di Yggdrasil, tidak sulit untuk membayangkan bahwa dirinya akan sombong dan keras kepala lalu mengatakan, "Kau tidak perlu melakukan itu!" atau sesuatu semacamnya.

Mitsuki mengerti itu, dan karenanya pasti dengan sengaja tidak meminta izinnya, dan memberikan laporan tentang Keadaan Yuuto kepada Tetsuhito, yang tentu mengkhawatirkannya.

Mengikuti pemikiran itu, Yuuto menyadari sesuatu yang lain. “Smartphoneku… Ayah, terima kasih karena tidak membatalkan paket teleponku, dan membayar tagihan setiap bulan untukku. Itu benar-benar membantu.”

Yuuto menundukkan kepalanya dan mengungkapkan rasa terima kasihnya yang tulus.

Itu adalah sesuatu yang seharusnya bisa dia pahami dengan mudah. Memang, Yuuto mungkin menyadarinya jauh di lubuk hati untuk waktu yang lama hingga sekarang.

Alasan smartphone Yuuto masih bisa melakukan panggilan dan terhubung ke internet adalah karena seseorang terus membayar tagihannya.

Dia tidak bisa mengakui itu pada dirinya sendiri, dan pura-pura tidak menyadarinya, menahan diri untuk tidak memikirkannya.

Tapi sekarang dia bisa menerima kenyataan.

"Aku melupakan hal itu, itu saja," kata Tetsuhito. “Kau telah melihat kondisi rumah, bukan?. Aku tipe orang yang membiarkan segala sesuatunya berjalan tanpa pengawasan.”

“Yup, tentu, kupikir itu mungkin masalahnya, tapi tetap saja, itu benar-benar membantuku, jadi setidaknya izinkan aku berterima kasih.”

“Tak perlu seperti itu. Mendapat terima kasih ketika kau tidak melakukan apa pun terasa salah bagiku." Tetsuhito mengerutkan alisnya dan ekspresinya yang biasanya masam menjadi lebih masam.

Pada pandangan pertama, sepertinya dia kesal, tapi Yuuto menyadari ini hanyalah caranya menyembunyikan rasa malunya.

Setelah sekian lama, Yuuto akhirnya mendapatkan pemahaman tentang orang seperti apa ayahnya itu.

Dia pemalu, canggung dan kikuk, tipe pria kuno yang berpikir bahwa mengekspresikan emosi adalah hal yang memalukan. Mengabdikan diri untuk bekerja-kerja-kerja dan sungguh-sungguh untuk setiap hal.

Betapa merepotkannya ayahku ini, pikir Yuuto dalam hati sambil tersenyum masam.

“Kalau begitu, kurasa aku akan bertanya dengan benar sekarang,” kata Yuuto. “Maaf, tetapi apakah kau akan tetap membayar tagihan telepon untukku? Aku akan memberi ini sebagai pembayaran di muka.”

Yuuto mengulurkan ikat kepala baja dari emas murni yang dia kenakan sebagai bagian dari pakaian resminya di Yggdrasil.

Iti adalah Ornamen yang berfungsi sebagai simbol Patriark Klan Serigala, sebuah barang yang sangat berharga bagi klan, tetapi dia tidak punya banyak pilihan lain di sini.

Mempertimbangkan apa yang mungkin terjadi di masa depan, mempertahankan kemampuan ponselnya untuk tersambung di dunia modern adalah prioritas.

"Kau tidak hanya meminta bantuan, namun ingin membayarnya sendiri, huh?" Tetsuhito berkomentar. "Sepertinya kau sudah sedikit dewasa."

“Sepertinya ya, dengan semua yang telah aku lalui di dunia lain.”

"Hmph, berbicara seperti orang bijak." Tetsuhito terdiam, dan bergumam pelan, “Kau tidak perlu melakukan itu, aku akan tetap membayarnya untukmu. Jangan perlakukan anggota keluargamu seperti orang asing.”

“Hm? Apa katamu?" Yuuto bertanya.

"Tidak ada. Hanya berbicara pada diriku sendiri.” Tetsuhito melipat tangannya dan mendengus. Meskipun menyetujui permintaan Yuuto, untuk beberapa alasan, dia terlihat sedikit cemberut.

“Ayo, ada apa?” Yuuto bertanya. "Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?"

"Ini tidak penting. Jangan khawatir tentang itu. Selain itu, daripada pria tua ini, kau harus memikirkan caramu membalas semua yang telah Mitsuki-chan lakukan. Dia banyak membantumu selama tiga tahun ini, bukan? Dan jika kau tidak akan pernah pulang ke rumah lagi, maka itu yang lebih penting...”

"Ah, tentu, itu sebabnya aku akan membawanya bersamaku."

“Pastikan kau menunjukkan kese— apa?!” Tetsuhito melebarkan matanya, memperdalam kerutan di alisnya, dan dia berteriak kaget.

Tetsuhito sepertinya selalu memasang ekspresi wajah kaku yang sedikit pemarah, jadi melihatnya memberikan reaksi seperti itu sangat jarang. Itu menunjukkan betapa mengejutkannya kata-kata Yuuto.

Yuuto melanjutkan, seolah meluncurkan serangan lanjutan. "Oh, ya, ngomong-ngomong, aku akan menikah dengannya."

"Ap... a-apa...?!" Rahang Tetsuhito jatuh, dan dia tidak bisa berkata-kata.


Ini mungkin pertama kalinya dalam hidup Yuuto dia melihat ayahnya kehilangan ketenangan.

Saat dia terus berbicara, secara internal dia merayakannya sedikit.

“Maksudku, dia akan ikut denganku ke tempat terpencil dan berbahaya seperti itu. Aku harus melangkah dan mengambil tanggung jawab, bukan? ”

“T-tidak, itu... t-tapi t-tunggu, bagaimana dengan orang tuanya?! Sudahkah kau mendapatkan izin mereka untuk ini?!” Tetsuhito nyaris tidak bisa menjawab pertanyaan dengan gagap.

Itu adalah hal yang wajar untuk ditanyakan. Dan saat ini, merupakan dilema terbesar di pikiran Yuuto.

Yuuto menarik napas panjang, menghembuskannya, lalu menyeringai masam dan mengangkat bahunya.

"Itu yang akan aku lakukan."

********

Saat Yuuto duduk berselancar di internet, Tetsuhito memanggilnya.

“Hei, Yuuto! Mitsuki-chan di sini!”

Yuuto melirik jam untuk melihat bahwa sudah lewat jam empat sore, artinya sekolah telah usai. Waktu benar-benar berlalu cepat ketika dia berkonsentrasi pada berbagai hal.

Yuuto meninggikan suaranya hingga terdengar ke lantai bawah. "Ya aku tahu! Aku akan segera turun!”

Dengan cepat menuruni tangga dan berjalan ke pintu masuk, dia melihat Mitsuki disana tersenyum cerah pada Tetsuhito.

Ketika dia memperhatikannya, senyum Mitsuki terlihat lebih cerah. “Oh. Yuu-kun!”

Berbeda dari sebelumnya, ketika mereka terjebak di hubungan antara kekasih atau teman. Saat ini, dia secara resmi adalah pacar Yuuto, dan gadis yang dia janjikan untuk dinikahi. Dengan ayahnya di sana juga, rasanya sedikit memalukan.

"Kudengar kau sudah berbaikan dengan ayahmu," kata Mitsuki. "Aku turut senang."

“Ah, ya, ya, kau tahu. ... Sebenarnya, aku mendengar sesuatu tentang seseorang memberi tahu Ayah tentangku selama ini?

"Hah?! Oh, itu, um...” Dalam sekejap, ekspresi berseri-seri Mitsuki berubah menjadi kebingungan, lalu gugup saat dia bergegas menjelaskan dirinya sendiri.

Yuuto terkekeh, dan meletakkan tangannya dengan lembut di kepala Mitsuki. "Terima kasih."

“Ah… Tentu!” Bahasa tubuhnya yang bingung menghilang dalam sekejap, dan dia kembali dengan seringai lebar dan bahagia. "Sama-sama."

Ekspresi gadis ini sungguh dapat berubah-ubah, pikir Yuuto. Itu benar-benar memberinya rasa damai.

“Yah, tidak ada gunanya berdiri dan berbicara di pintu, ayo masuk," kata Yuuto padanya.

"Benar, Permisi." Dengan itu, Mitsuki melepas sepatunya dan meletakkannya dengan rapi di samping sepatu lainnya disudut.

Tata krama itu cocok untuk putri keluarga Shimoya, yang selama beberapa generasi bertanggung jawab atas urusan keagamaan komunitas pedesaan ini.

Jelas sekali dia dibesarkan dengan baik.

"Uh... a-ah... i-itu benar." Tetsuhito tiba-tiba angkat bicara seolah dia mengingat sesuatu yang penting. Kedengarannya seperti dia sedang membaca naskah dengan buruk. “Aku baru ingat... Aku punya beberapa pekerjaan yang harus kulakukan. Yuuto, aku akan berada di lokakarya, jadi, um. Aku tidak akan kembali sekitar empat sampai lima jam.” Dia buru-buru mulai memakai sepatunya, bersiap pergi.

Akting yang jelas-jelas buruk itu terlalu berlebihan. Yuuto merengut dengan getir seolah-olah dia menelan serangga dan berteriak pada ayahnya. “Hei, jangan mencari ide bodoh, Ayah! Aku tidak memintanya datang ke sini untuk... untuk itu!”

“Ah… oh… um…” Wajah Mitsuki memerah seperti tomat.

Rupanya dia juga mengerti apa yang Tetsuhito coba lakukan untuk Yuuto. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis remaja. Dia pastinya memiliki minat pada hal semacam itu.

Namun, Yuuto benar-benar tidak memintanya datang untuk sesuatu yang romantis hari ini.

“Kami hanya akan mendiskusikan apa yang perlu kami lakukan untuk bersiap-siap pergi ke Yggdrasil! Ki-kita tidak akan melakukan sesuatu yang aneh seperti zara dan okin, oke ?!” Yuuto berteriak, menyatakan hal ini pada dirinya sendiri dan Mitsuki seperti yang dia katakan pada ayahnya.

Memang, itulah alasan sebenarnya Mitsuki datang ke rumahnya hari ini.

Bagaimanapun juga, dia ada di dunia modern sekarang. Kembali ke Yggdrasil dengan tangan kosong akan sia-sia. Apa yang ingin dia lakukan adalah mendapatkan sebanyak mungkin alat modern yang bisa dia gunakan di Yggdrasil, dan kembali dengan persiapan penuh.

Untuk tujuan itu, dia berencana untuk menghabiskan hari ini menyelam toko online dengan Mitsuki, tapi sekarang ayahnya pergi dan mengarang alasan aneh.

Hanya ada sedikit lebih dari setengah bulan tersisa sampai bulan purnama berikutnya, jadi waktunya terbatas. Ada begitu banyak yang harus dia lakukan dan pikirkan, dan jika dia beralih ke pikiran yang tidak perlu seperti ini, itu akan mengganggu kemampuannya untuk berpikir jernih, dan itu akan kembali menggigitnya nanti.

Sedikit marah, Yuuto menjelaskan semua ini kepada ayahnya.

"Hm, begitu," kata Tetsuhito. “Maaf soal itu. Aku langsung mengambil kesimpulan.”

“Ya, itu benar, astaga…” Yuuto menghela nafas dan menurunkan bahunya. Dia merasa sangat canggung sekarang.

“Tetap saja, jika itu yang kau lakukan, maka itu akan menghabiskan uang,” kata Tetsuhito. “Tunggu di sini sebentar.”

Tetsuhito berbalik dan pergi ke kamarnya sendiri, kembali setelah beberapa saat.

"Ini, anggap ini sebagai permintaan maafku." Dia melemparkan sebuah amplop ke tangan Yuuto. "Gunakan sesukamu."

Yuuto menatap amplop itu. Itu sama dengan yang dia lihat sebelumnya. Tepat setelah dia kembali ke dunia modern, dia menemukannya tergeletak di pintu masuk rumah, ditujukan kepadanya.

Dia ingat ada sekitar 200.000 yen di dalamnya.
<TLN: BAHKAN WALAU DIJEPANG 27 JUTA JUGA TERMASUK BANYAK HEI!!>

Saat itu, dia tidak mau menerimanya, dan bahkan sekarang, itu terlalu berlebihan untuk sekadar permintaan maaf. Namun...

"Baiklah. Terimakasih ayah." Yuuto mengangkat amplop itu dan menyatakan penghargaannya. “Ini sangat membantu.”

“Mm.” Tetsuhito mendengus kasar, dan memberi isyarat dengan dagunya agar kedua remaja itu bergegas naik ke kamar Yuuto.

Seperti biasa, pria itu terlalu malu dan canggung untuk menghadapi situasi ini dengan kata-kata.

********

Dihadapkan dengan deretan produk tak terhitung jumlahnya, Yuuto tidak bisa menahan napas takjub. “Meskipun semuanya hanya seratus yen, ini pilihan yang...”

Dia berada di toko 100 yen di department store dekat stasiun kereta.

Pada awalnya, dia mencoba belanja apa yang diperlukan melalui internet, tetapi duduk di ruangan kecil itu bersama Mitsuki, mereka berdua menjadi tegang setiap kali bahu mereka bersentuhan. Pada akhirnya, dia memutuskan dia tidak bisa menangani suasana canggung itu.

“Ka-kau tahu, cuacanya sangat bagus, sayang sekali melakukan ini sembari terkurung di dalam rumah, kenapa kita tidak berbelanja di luar?” saat akhirnya dia meledak.

“Ka-ka.u benar! Ini adalah hari yang sempurna untuk berbelanja! ...Dasar pengecut."
<EDN: Itu serius mitsuki yg ngomong :v dari englishnya begitu>

Dengan percakapan itu, mereka berdua telah membuat perubahan mendadak pada rencana mereka dan pergi bersama.

Jika Yuuto jujur pada dirinya sendiri, jika dia tetap dalam situasi itu, dia tidak yakin dia akan bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu.

Tentu saja, secara teknis mereka telah bertunangan, jadi itu bukan masalah, tapi itu hanya hari pertama setelah dia mengakui perasaannya dan melamarnya, itu terasa tidak tepat.

Mitsuki adalah orang yang telah dia bersumpah untuk menghabiskan sisa hidup dengannya. Yuuto ingin memperlakukannya secara istimewa, dengan penuh kasih sayang.

"Bagaimana menurutmu?" Mitsuki bertanya. “Kita seharusnya bisa mendapatkan banyak di sini dengan cukup murah, kan?” Dia seeikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Yuuto dengan bangga.

Tingkah lucu dari dirinya ini sangat imut, seperti bayi binatang kecil, tapi Yuuto tidak mungkin mengatakan hal itu dengan keras.

"Mm, ya, kau benar." Dia hanya mengangguk setuju sebagai gantinya.

Faktanya, Yuuto selalu meninggalkan apapun yang berhubungan dengan belanja kepada ibunya di masa lalu, dan dia telah absen dari dunia modern selama tiga tahun sekarang. Dia cukup bodoh dalam hal ini.

Sebenarnya, pada awalnya dia bermaksud untuk hanya berjalan-jalan di bagian dalam department store secara normal, tetapi Mitsuki telah menariknya ke sini, mengatakan akan lebih baik untuk memulai dari sini.

Bahkan dengan banyak bantuan keuangan dari Tetsuhito, dana mereka masih memiliki batas. Semakin murah mereka bisa mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan, semakin baik.

Namun, Yuuto mengerutkan alisnya. “Tapi, apakah kau tidak khawatir dengan kualitasnya? Kau tahu, ‘Ada uang, ada barang’.”

Yuuto mendapat kesan bahwa barang yang lebih murah pasti lebih mudah rusak. Dia mungkin tidak akan pernah bisa kembali ke dunia ini, jadi untuk hal-hal yang penting, dia ingin semuanya dibuat dengan kokoh.

“Tentu saja ada hal-hal yang lebih baik menghabiskan lebih banyak uang untuk kualitas, tetapi bagaimana dengan ini, misalnya? Bukankah lebih baik membelinya di sini?” Mitsuki menunjuk dengan percaya diri ke bagian yang penuh dengan berbagai jenis kabel, tergantung pada pengait dan diurutkan berdasarkan jenisnya.

Dia berlari untuk mengambil salah satu dari mereka, dan kembali, mengulurkannya pada Yuuto.

"Kau harus memiliki banyak kabel ini, bukan?"

“Ahh, benar, kita memang membutuhkan banyak.” Yuuto menatap kabel USB di tangannya, dan menyeringai masam.

Kemampuan untuk mengisi daya smartphone mereka adalah prioritas utama. Mereka membutuhkannya untuk mencari informasi, dan untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka, bersama dengan banyak kegunaan penting lainnya.

Hal pertama yang dia pesan dari toko online adalah empat baterai pengisi daya surya ekstra besar. Dan kabel USB yang diperlukan untuk menghubungkan baterai surya itu ke telepon mereka dengan demikian merupakan kebutuhan mutlak.

“Jika Anda pergi berbelanja di toko elektronik, harganya beberapa ratus yen,” kata Mitsuki. “Lagipula hal-hal ini aus, jadi daripada berfokus pada kualitas, aku pikir mungkin lebih baik fokus untuk mendapatkan banyak dari mereka. Bahkan yang lebih mahal memiliki kebiasaan melanggar. ”

“Kau benar sekali.”

Bagi Yuuto, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa, selama hidupnya di Yggdrasil, kabel USB telah menjadi penyelamat hidupnya. Jadi dia sangat, sangat berhati-hati dalam menanganinya, tetapi meskipun begitu, kondisinya sudah cukup buruk setelah dipakai selama tiga tahun. Ke depannya, jika dia akan tinggal di Yggdrasil secara permanen, dia menginginkan persediaan cadangan yang besar, seperti yang dikatakan Mitsuki.

"Dan kemudian ada... Ah, di sini!" Mitsuki menelepon. “Akan lebih nyaman jika kau memiliki banyak ini juga, kan?”

Dia menarik lengan bajunya dan membawanya ke bagian yang penuh dengan teropong.

Yuuto sudah memesan sepasang yang bagus dari internet, tetapi ini juga terlihat sangat berguna. Mereka tidak hanya murah, tetapi kecil dan kokoh, sehingga dia bisa membeli banyak.

“Kau sudah banyak memikirkan ini, bukan?” Dia bertanya.

“Tentu saja. Lagipula, sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari Klan Serigala juga.”

"Eh, y-ya, itu benar." Yuuto merasakan kehangatan di dadanya, dan senyum kecil menyebar di wajahnya.

Klan Serigala sudah menjadi keluarga sejati baginya. Dia berharap Mitsuki akan menyukai mereka juga.

Fakta bahwa dia memikirkan kesejahteraan Klan Serigala membuatnya bahagia seperti saat dia memikirkannya.

Saat mereka berdua berjalan pulang, Yuuto tertawa masam. Kedua lengannya dibebani tas nilon berisi barang-barang yang mereka beli.

"Kita membeli cukup banyak barang, bukan?" dia berkomentar.

"Ya, karena itu murah."

Dia awalnya tidak bermaksud membeli sebanyak ini, tetapi harganya tepat, dan dia mendapati dirinya melemparkan satu demi satu barang ke dalam keranjang belanja.

Toko 100 yen adalah tempat yang menakutkan.

“Oh, itu mengingatkanku, kita makan kari malam ini,” Mitsuki angkat bicara. “Aku tahu kau suka kari Ibu. Apakah kau ingin datang untuk makan malam malam ini?"

“Pertanyaan yang bagus...” Yuuto sedikit tersenyum sedih.

Akhir-akhir ini, makan malam di rumah Mitsuki selalu menyertakan setidaknya salah satu hidangan favorit Yuuto. Tidak sulit menebak itu untuk memotivasinya datang makan malam bersama mereka.

Ibu Mitsuki yang mengatur dapur, dan dia menunjukkan bahwa dia menyetujui Yuuto sebagai calon pacar untuk putrinya. Itu adalah sesuatu yang patut disyukuri, tetapi itu juga membuatnya merasa sedikit bersalah.

Dia menguatkan tekadnya. Dia harus melakukan sesuatu dengan cara yang benar.

Dengan ekspresi intens dan serius, Yuuto akhirnya memulai pembicaraan.

“Malam ini, kupikir aku ingin memberi tahu orang tuamu tentang membawamu ke Yggdrasil bersamaku.”

Mitsuki telah tersenyum sampai saat ini, tetapi pada pernyataan Yuuto, ekspresinya membeku, dan dia tampak tegang.

"K-kau akan memberi tahu mereka?" dia bertanya dengan suara lemah.

Dia praktis bisa mendengar perasaannya yang tak terucapkan tentang masalah ini: Situasi itu adalah sesuatu yang dia lebih suka hindari jika memungkinkan.

Sebenarnya, Yuuto sendiri merasakan hal yang sama. Membahas rencana mereka dengan orang tuanya pasti akan menjadi cobaan berat secara mental dan emosional. Memikirkannya saja sudah membuat perutnya sakit.

Sejujurnya, dia ingin menghindari konfrontasi itu jika memungkinkan.

Tapi meski begitu, dia harus melakukannya.

“Kau tahu kita tidak bisa diam tentang hal ini,” kata Yuuto. “Pikirkan betapa mengejutkannya jika putri mereka tiba-tiba menghilang begitu saja.”

“Y-ya, benar. Aku kira itu akan sedikit lebih dari sekadar kejutan, bukan? ”

“Ya, itu pasti.”

“T-tapi, tetap saja... Mereka pasti tidak akan memberimu izin...” Mitsuki menunduk ke tanah, ekspresinya sedih.

Yuuta mengangguk. “Ya, mencoba meyakinkan mereka untuk membiarkanku membawamu akan menjadi perjuangan yang berat, itu pasti.”

Dia akan meminta mereka untuk membiarkan putri mereka dibawa pergi untuk menikah di suatu negeri asing yang merupakan sarang peperangan, dan dia juga tidak akan bebas untuk kembali kapan pun dia mau; dalam skenario terburuk, mereka tidak akan pernah bisa melihatnya lagi sama sekali.

Kemungkinan mereka akan memberikan persetujuan mereka sangat tipis. Faktanya, setiap orang tua pasti akan menentang ini dengan tegas.

“Um, mungkin akan lebih baik jika kita memberitahu mereka setelah kita pergi...” Mitsuki menghindar.

“Tidak, kabur seperti itu hanya akan menjadi pilihan terakhir kita.” Yuuto dengan tegas menolak saran itu.

Ibu Mitsuki telah menjadi bagian dari kehidupan Yuuto sejak dia masih sangat muda, dan sering merawatnya. Bahkan sekarang, dia mendukung hubungannya dengan Mitsuki. Yuuto tidak bisa tidak menghormati orang baik seperti itu dengan kawin lari tanpa sepatah kata pun; itu tidak bisa dimaafkan.

Seperti keberuntungan, masih ada cukup banyak waktu tersisa sampai bulan purnama berikutnya. Hal moral yang harus dilakukan di sini adalah melakukan semua yang dia bisa pada saat itu untuk meyakinkan orang tua Mitsuki tentang ketulusannya. Lagipula, dia akan meminta untuk mengambil putri mereka yang berharga.

Tentu saja, jika itu benar-benar terjadi, dia siap untuk membawanya bersamanya apa pun yang terjadi, bahkan jika itu membuatnya menjadi penculik.

********

“Dalam mimpimu, dasar bajingan sialan!!” Ayah Mitsuki, Shigeru, melontarkan marah, dan membanting tangannya ke meja dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan cangkir teh di atasnya.

Tentu saja itu adalah respons yang sangat wajar bagi seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa seorang anak pria ingin membawa putri satu-satunya ke suatu tempat yang jauh yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi.

"Aku serius tentang ini," kata Yuuto. “Aku tahu persis betapa egoisnya aku. Tapi tolong, biarkan aku menikahi putrimu. ”

Dia menahan amarah Shigeru tanpa mundur dan berbicara dengan tenang, menatap lurus ke mata pria itu.

Wajah Shigeru semakin merah. Yuuto mengerti bahwa kata-katanya ibarat menyiramkan minyak ke dalam kobaran api, tetapi itulah yang harus dia katakan.

“Kau bahkan bukan pria, hanya anak sialan yang bahkan tidak lulus sekolah! Bagaimana bisa aku mengizinkanmu?!”

"Benar; di sini, aku tidak berharga apa-apa, dan aku belum mencapai apa-apa. Tetapi aku dapat berjanji kepada anda setidaknya bahwa aku tidak akan membiarkan putri anda menderita dari beban keuangan apa pun.”

“Jangan bicara sok tahu, dasar bodoh! Kau tidak tahu betapa sulitnya menghidupi keluarga...!”

“Ahh, itu mengingatkanku, Yuu-kun,” potong Miyo. “Kau mengatakan bahwa di dunia lain, kau seperti seorang raja, kan? Aku kira tergantung pada bagaimana kau memikirkannya, dia akan menikah dengan bangsawan kaya. Ooh, itu seperti sesuatu yang keluar dari novel romance Harlequin-ku!”

Saat pencari nafkah keluarga Shigeru mencoba mengoceh tentang kenyataan pahit dari perannya, Miyo memotong dengan komentar yang tidak masuk akal dan menghela nafas sedih.

Dalam satu komentar, dia mengubah suasana tegang di ruangan itu.

Ya, itu ibu Mitsuki, baiklah, pikir Yuuto geli.

"Apa yang kau katakan, sayang ?!" teriak Shigeru. "Kau tahu semua omong kosong itu hanya sesuatu yang dia buat!"

“Yah, aku mungkin tidak siap untuk mempercayai seluruh ceritanya, tetapi ikat kepala baja miliknya terbuat dari emas murni.”

“Ngh?!” Shigeru tercengang.

Seperti yang diharapkan, bukti fisik jauh lebih efektif daripada klaim verbal apa pun yang bisa dibuat Yuuto.

Secara pribadi, Yuuto tidak menyukai aksesori seremonial yang mencolok seperti itu, dan dia berusaha menghindari memakainya, tetapi Jörgen selalu dengan keras kepala bersikeras bahwa itu diperlukan untuk menunjukkan martabat dan otoritas posisi patriark. Sekarang dia mendapati dirinya merasa berterima kasih kepada orang kedua yang menjadi komandannya.

“Dia bisa mendapatkan sesuatu seperti itu hanya dalam tiga tahun, sambil tetap menghidupi dirinya sendiri, jadi mungkin kita tidak perlu khawatir tentang hal-hal di depan itu,” lanjut Miyo.

“Hei, kau berada di pihak siapa?!”

"Jika kau harus bertanya, aku kira pihak putriku."

"Apa?!"

“Apa?!” Yuuto bertanya, terkejut.

"Hah?!" Mitsuki mencicit.

Kata-kata Miyo mengejutkan mereka semua.

Yuuto tentu tidak pernah menganggap bahwa Miyo akan berpihak padanya dan Mitsuki dalam hal ini dengan mudah.

"Aku... aku... apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, nona?!" Shigeru akhirnya berteriak.

Ucapan Shigeru kepada istrinya sudah melewati batas, tapi tak seorang pun di meja itu yang cenderung menyalahkannya atas hal itu pada saat itu.

Miyo sendiri tampaknya tidak terganggu sedikit pun, dan tertawa kecil. “Oh, aku cukup yakin pikiranku jernih. Pikiranku hanya terfokus untuk memastikan putriku bisa bersama orang yang dia cintai.”

“Rrgh...! Itu hanya berlaku sekarang! A-anak muda saling jatuh cinta sepanjang waktu dengan mudah; jika kau mempertaruhkan seluruh hidupmu pada perasaan itu, kau hanya akan berakhir sengsara! Begitu dia bosan, dia akan menemukan orang lain. ”

“Tapi aku penasaran apakah Mitsuki akan seberuntung itu…” Miyo meletakkan tangannya di pipinya dan menghela nafas.

Argumen Shigeru berasal dari akal sehat, dan tentu saja didukung oleh hal normal yang sering terjadi di dunia nyata, tetapi istrinya menggelengkan kepalanya dengan pasrah.

“Gadis kita ini tidak pernah membicarakan apapun selain Yuu-kun sejak dia masih kecil.”

“I--IIbu ?!” Mitsuki tersipu dan menjadi bingung, dan mulai melambaikan tangannya untuk mencoba menghentikan ibunya mengatakan lebih banyak.

Meskipun mereka berdua sudah saling menyatakan perasaan mereka, rupanya Mitsuki masih merasa malu karena ibunya berbicara tentang berapa lama dia mencintai Yuuto saat orang tersebut berada didepannya.

“Mereka bilang cinta anak muda beruntung bisa bertahan lebih dari tiga bulan, tapi dia tetap sama sejak SD,” lanjut Miyo. “Dan kau tahu bagaimana orang-orang mengatakan hubungan jarak jauh tidak akan pernah berhasil, tetapi segalanya tidak berubah sama sekali untuknya selama tiga tahun terakhir. Ini bukan hanya khayalan atau cinta anak muda yang cepat berlalu, aku bisa yakin akan hal itu.”

"Ibu ..." Sangat tersentuh, Mitsuki mulai menangis.

"Kebahagiaan sejati dan terbesar seorang wanita adalah bisa bersama orang yang dia cintai." Miyo tersenyum. “Dan aku sudah mengenal Yuu-kun di sini sejak dia masih kecil. Aku yakin dia bisa membuat Mitsuki bahagia.”

Yuuto terkejut. "T-terima kasih ... terima kasih banyak." Suaranya sedikit bergetar.

Yuuto benar-benar tidak memiliki apa-apa disini; dia telah menjadi pelarian dan berandalan selama tiga tahun. Dia diliputi kebahagiaan bahwa Miyo bersedia mengakui seseorang seperti dia sebagai pasangan yang layak untuk putri tunggalnya.

Shigeru, sebaliknya, tidak. Teriakannya menunjukkan bahwa segala sesuatunya tidak akan berjalan dengan mudah.

“Y-yah, istriku mungkin tidak masalah dengan itu, tapi aku tidak! Aku tidak akan mengizinkan ini, kau dengar ?!”

Dia jelas lebih kesal dari sebelumnya berkat kenyataan bahwa dia merasa dikhianati oleh istrinya yang telah memihak sisi lain.

“Jika kau menolaknya begitu saja tanpa mendengarkan, kita tidak bisa benar-benar membahas ini, sekarang bisakah kau tenang terlebih dahulu, sayang?” Miyo bertanya dengan tenang.

"Bahas?! Kita tidak perlu membahas apapun! Tidak berarti tidak!”

“Oh, astaga, kau menjadi keras kepala. Aku tidak bisa membedakan siapa di antara kalian yang merupakan anak asli di sini.”

"Anak...?! Itu sudah keterlaluan, dan kau tahu itu!!”

"Oh benarkah? Tapi itu benar. Saat ini, Yuu-kun bertingkah jauh lebih tenang dan dewasa darimu.”

“Grrrr…!”

Melihat keduanya mulai sedikit memanas satu sama lain, Yuuto buru-buru turun tangan. “U-um, tolong jangan berkelahi. Lagipula ini salahku. Aku bisa pergi dan kita bisa mencobanya lagi di lain hari.”

Dia sangat bersyukur bahwa Miyo telah memihaknya, tetapi dia tidak ingin itu menyebabkan keretakan antara dia dan suaminya dan memperburuk keadaan bagi semua orang.

Dia sudah berusaha untuk mengambil putri satu-satunya mereka; dia tidak ingin merusak hubungan mereka satu sama lain. Tidak ada permintaan maaf yang akan menebusnya jika itu terjadi.

Namun, Miyo mengabaikan kekhawatiran Yuuto dan menjadi lebih tegas. “Lihat, lihat? Dia sudah dewasa.”

“Rrrgh...! Baik. Setidaknya aku akan mendengarkannya. Hanya itu yang harus aku lakukan, kan?!”

Menyerah, Shigeru membenturkan sikunya ke atas meja dan meletakkan dagunya di tangannya. “Hm-hm! Nah itu lebih mirip dengan pria yang aku nikahi,” kata Miyo senang.

“Hmph!” Shigeru menoleh ke samping dengan cemberut karena pujian istrinya.

Miyo terkikik mendengarnya, lalu mengedipkan mata pada Yuuto. Tampaknya pertengkaran kecil mereka hanyalah tipuan dari pihak Miyo untuk membuat Shigeru mau berdiskusi.

Dia adalah seorang wanita yang mungkin terlihat riang dan lembut, tetapi dia tahu persis bagaimana menarik tali, seolah-olah, pada suaminya ketika itu penting.

Yuuto bergidik memikirkan bahwa, di masa depan, dia mungkin menemukan dirinya benar-benar dikendalikan oleh Mitsuki dengan cara yang sama.

Namun, pada saat yang sama, itu juga tampak seperti masa depan yang bahagia untuk dinanti.

“Jadi, Yuuto?” Shigeru bertanya dengan tajam.

"Y-ya, Pak!" Yuuto secara refleks duduk tegak dengan sempurna, dengan perhatian penuh.

Ekspresi Shigeru sama busuknya seperti biasanya, tapi tidak ada lagi amarah yang membara di matanya; dia tampak sedikit lebih tenang.

“Jadi, kau ingin membawa putriku satu-satunya, yang masih remaja, dan pergi bersamanya. Kau seharusnya tahu bahwa kami akan sangat menentangnya dan tidak akan membiarkanmu melakukan itu, bukan?”

"Iya. Aku tahu, dan aku siap menghadapi pertarungan yang sangat panjang untuk meyakinkan kalian berdua. Sebenarnya, aku hampir tidak percaya Bibi Miyo begitu mudah memihak kami dalam masalah ini.”

"Astaga. Jika kau mengatakan hal seperti itu, aku akan merasa kesal,” Miyo menambahkan. “Aku selalu menganggapmu seperti anakku sendiri, Yuu-kun. Dan jika kau menikahi Mitsuki, aku benar-benar akan bisa memanggilmu anakku. Tentu saja aku akan menyetujui ini. ”

Miyo menggembungkan pipinya karena kesal; sikap kekanak-kanakan yang sedikit tidak pantas untuk orang dewasa seusianya. Tingkah laku yang imut dan sedikit kekanak-kanakan itu sangat mirip dengan Mitsuki. Mereka berdua benar-benar mirip.

"Mari kita kesampingkan itu untuk saat ini," kata Shigeru, melambaikan tangan dengan acuh pada istrinya.

"Baik!" Miyo menanggapi dengan marah.

Cara mereka berdua begitu terbuka dan tanpa pamrih satu sama lain pasti berasal dari tahun-tahun panjang mereka bersama dalam hubungan pernikahan. Bahkan ketika mereka berdebat dan berkelahi, mereka menunjukkan pemahaman tertentu satu sama lain, yang menunjukkan hubungan yang baik.

"Jadi, jika kau sudah tahu aku akan menentangnya, mengapa kau datang ke sini untuk mendiskusikannya dengan kami?" Shigeru bertanya.

"Maaf?" Yuuto memiringkan kepalanya ke samping, tidak memahami pertanyaannya. “Yah, aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa memberitahu kalian. Itu bukan perbuatan yang benar, bukan?”

“Ya, itu benar sekali.” Shigeru mengangguk. “Tapi kau bisa saja kawin lari dengannya, dan kemudian memberi tahu kami setelah terjadi. Itu akan lebih cepat dan lebih mudah. Lagi pula, kami tidak akan bisa menghentikanmu. Tetapi sekarang setelah kau memberi tahu kami, kami dapat mencoba dan menjaganya. Kau tidak bodoh; Aku dapat mengetahui sebanyak itu hanya dari pembicaraanmu beberapa hari terakhir ini. Jadi mengapa kau susah-susash untuk datang ke sini dan membiarkan kami mencoba menghalangimu? Mengapa kau memilih opsi yang akan menjadi masalah terbesar bagimu?”

Shigeru menatap langsung ke mata Yuuto saat dia menanyakan pertanyaan ini.

Yuuto merasa bahwa karakternya sebagai seorang pria sedang diuji di sini. Dia sedang diukur, untuk melihat apakah dia layak dipercayakan dengan putri Shigeru.

Yuuto menelan ludah, lalu perlahan membuka mulutnya untuk berbicara.

“Anda benar, Pak. Jika aku hanya ingin bersama dengan Mitsuki, itu akan menjadi metode yang paling pasti untuk mencapainya. Namun, jika aku melakukan hal-hal seperti itu, itu hanya akan membuat Anda takut dan khawatir tentang putri Anda, bukan? Anda tidak akan bisa percaya bahwa pria pengecut seperti itu benar-benar bisa membuat Mitsuki bahagia.”

“Hm.”

“Aku telah belajar banyak pelajaran selama tiga tahun terakhir, dan salah satunya adalah ini: Memilih untuk mengambil jalan keluar yang mudah pada saat ini hanya akan memperburuk keadaan. Memang benar bahwa akan sangat sulit bagiku untuk mendapatkan persetujuan penuh dari kalian berdua, tetapi aku percaya bahwa aku harus melakukan semua yang aku bisa untuk membuktikan diri kepada Anda dengan itikad baik, dan mencoba membuat Anda melihatku sebagai orang yang dapat diterima. Sebagai pria yang mengambil putri Anda yang berharga, aku pikir itu adalah hutang minimumku kepada Anda. ”

"...Aku mengerti. Aku mengerti sekarang mengapa istriku menganggapmu baik,” kata Shigeru dengan enggan. “Kau cukup dewasa untuk usiamu. Aku masih tidak percaya semua hal tentang dunia paralel itu, tapi apa pun yang telah kau lakukan selama tiga tahun terakhir, aku pasti dapat melihat bahwa itu baik untukmu.”

"T-terima kasih banyak."

“Hmph. Masih terlalu dini untuk berterima kasih padaku. Apakah aku menyerahkan putriku kepadamu atau tidak adalah masalah lain. ”

“Aku mengerti, Pak.” Yuuta mengangguk. “Aku juga tidak menyangka bisa mendapatkan persetujuanmu hanya dalam satu hari. Jika Anda mau meluangkan waktu untukku, aku ingin mendiskusikan hal ini dengan Anda sesering yang diperlukan.”

“Yah, kalau begitu, mari kita luangkan waktu dan mulai membicarakannya. Lagi pula, aku tidak tahu dirimu seperti istriku. Sayang, bawakan aku minum!”

********

Ngroook! NGROOOK...

“Ugh, astaga, Ayah, kau sangat memalukan…” Mitsuki berdiri dengan ekspresi kecewa, menatap ayahnya, yang sekarang terbaring dengan wajah merah dan tertidur di sofa, membuat keributan dengan dengkurannya.

“Hee hee, aku yakin ayahmu pasti sudah bersemangat memikirkan mendapatkan anak baru,” kata ibunya. “Lagipula, dia minum lebih cepat dari biasanya. Yah, mungkin juga karena dia harus melepaskan putrinya juga, kurasa.”

Miyo tersenyum lembut dan terkekeh pada dirinya sendiri saat dia meletakkan selimut di atas Shigeru.

"Kau mengatakan itu, tapi ... apakah kau benar-benar berpikir dia menerimaku?" Yuuto bertanya sedikit cemas.

Miyo mengangkat bahunya pada ini. "Kita lihat saja nanti. Dia sedikit tsundere, kau tahu — tidak benar-benar jujur dengan perasaannya. Dia tidak akan pernah mengatakan kata yang baik di depanmu, Yuu-kun, tapi terlepas dari itu semua, kupikir dia menyukaimu.”

"Aku hanya bisa berharap..."

“Hee hee! Yah, aku sudah menikah dengan pria itu selama hampir dua puluh tahun sekarang, jadi kau bisa mempercayaiku dalam hal ini. ”

"Baiklah. Hanya saja, bagaimana aku mengatakan ini, semuanya terjadi begitu cepat sehingga masih tidak terasa nyata ... Aku mengatakan ini kepada beliau sebelumnya, tetapi aku siap untuk perjuangan jangka panjang.

“Ya ampun, itu berarti kau terlalu merendahkan dirimu sendiri. Aku sudah memberitahumu ini sebelumnya, Yuu-kun: Kau benar-benar tumbuh menjadi pemuda yang baik dalam tiga tahun terakhir ini. Aku dapat mengatakan bahwa kau pasti telah melalui banyak pengalaman; Pengalaman itu keluar bahkan hanya dengan berbicara denganmu, seperti kita sekarang. Dan untuk pria ini, dia adalah kepala departemen sumber daya manusia di perusahaannya. Tidak mungkin dia tidak memperhatikan hal yang sama.”

"Um, aku tersanjung, Bu." Yuuto agak malu karena dipuji secara langsung di wajahnya.

Tetap saja, meskipun dia merasa rendah hati dengan pujian itu, dia juga menyadari bahwa dia memang tumbuh sebagai pribadi dalam tiga tahun terakhir, setelah telah mengatasi banyak perjuangan keras yang telah dia lalui.

Sejujurnya dia senang memiliki orang lain yang mengenalinya dengan baik.

Miyo menatapnya dengan kasih keibuan di matanya, dan berkata, “Sepertinya sekarang, aku bisa merasa nyaman menyerahkan Mitsuki kepadamu. Aku tahu dia masih muda dan belum berpengalaman, tapi... kumohon... jagalah... dia... oke?”

Dia berjuang untuk menyelesaikan kalimatnya saat dia mulai menangis.

Dia berusaha melepaskan putrinya, seorang gadis yang masih baru saja memasuki sekolah menengah. Tentu saja dia akan sedih. Tentu saja itu akan membuatnya merasa kesepian.

Dia terus mengatakan dia nyaman dengan itu, tetapi tentu saja dia juga harus memiliki segunung kekhawatiran dan ketakutan. Dan dia menelan emosi itu untuk mengakui Yuuto sebagai pasangan yang layak untuk Mitsuki seumur hidup.

Yuuto berdiri tegak dan tepat, dan menyapanya secara formal. "Ya Bu. Aku akan menghargai putri Anda selama sisa hidup kami.”

Dan di dalam hatinya, Yuuto bersumpah bahwa dia akan menghormati kata-kata itu di atas segalanya, apa pun yang terjadi.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Afrodit
EDITOR: Isekai-Chan