Rabu, 15 September 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 252. Pengampunan untuk Hidup

 Chapter 252. Pengampunan untuk Hidup


 
“Mereka akan mendukung secara penuh dengan teknik pengobatan yang ada, Witch pasti bisa melewati malamnya dengan mudah.” Sebut ratu dengan nada datar.

Witch berusaha keras untuk menutup kedua telinganya, tetapi pakaian sihir yang dikenakan tidak memungkinkan itu terjadi.

Tanpa sengaja aku tersenyum.
Untuk kali ini, Raphtalia tidak mengingatkan kesalahanku.
Mungkin dia hanya terkejut dengan keadaan saat ini.

“Sudah dipastikan, hukuman ini lebih kejam dari eksekusi. Seorang wanita yang hidupnya selalu menipu pria akan mati ditangan pria.”
“Iya, tetapi....”

Dari penjelasan yang aku dengar, ia memang pria yang busuk, tapi aku masih merasa janggal jika dia pria.
Apa yang akan terjadi jika pria ini bisa ditipu olehnya.
Satu-satu kepintarannya adalah menipu orang.

Dia mungkin saja memanfaatkan penampilannya yang bagus untuk mengatur pergerakan raja Faubrey.
Jika itu sampai terjadi, masalah yang dihasilkan bisa lebih besar dari sekarang.

“Bagaimana jika Witch dapat pengecualian dari raja Faubrey?”
“Aku tidak bisa menganggap kemungkinan itu nol, tapi sampai saat ini, banyak kerajaan lain yang mencoba hal seperti itu. Karena dia penguasa kerajaan terbesar, membuat dia menjadi sekutumu sudah seperti mengusai dunia. Akan tetapi, aku tidak pernah dengar dia mau mendengarkan perkataan wanita.”

Kalimat mudahnya, dia seperti Motoyasu pada saat ini.
Motoyasu saat ini sudah tidak seperti si busuk waktu itu, sekarang dia adalah orang gila yang terkena gangguan mental.
Jika dipikirkan baik-baik, dia adalah produk dari dunia lain juga. Dia mungkin memiliki sifat seperti Motoyasu.
Tapi, Motoyasu pria idaman.

“Aku yakin Witch bisa membedakan mana orang yang bisa diajak bicara dan tidak. Itu benar, kan? Jika kuingat kembali, dia langsung pingsan ketika mendengar raja itu jatuh hati padanya. Sepertinya semenjak masa pembelajaran disana, takdir ini sudah ditentukan.”
“Mama! Aku mohon! Aku memohon untuk terakhir kalinya! Kumohon! Kumohon tolong ubah keputusanmu!”
“Hmm.... itu bisa saja terjadi. Sebab hatiku merasa sesak melihat ini. Jika kau dinyatakan dicuci otak, mata publik pasti tidak memaafkanmu..... baiklah begini saja. Bagaimana jika aku berikan keputusannya ditangan para hero?”
“Apa!?”

Ratu menutup kipasnya lalu tersenyum pada kami.
Apa yang dia rencanakan? Pasti bukan rencana bagus.

“Jika satu dari hero yang hadir disini mau menjadikan Witch sebagai rekannya, keputusan ini akan aku ubah.”
“Henti—“

Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Witch menggunakan semua kekuatannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman prajurit dan bersujud dihadapanku.

“Hero Perisai-sama! Akan kulakukan apapun! Kumohon, kumohon jadikan aku rekanmu lagi.”
“....”

Dia benar-benar serius.
Dia benar-benar menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata dihadapan semua orang.
Aku menginjak kepalanya perlahan.

“Terima kasih banyak! Injaklah aku sesuka hatimu! Akan kupenuhi keinginanmu, aku akan menjadi babi jika kau menginginkannya, meskipun itu berlangsung selama hidupku.!”

Perilakunya ini membuatku senang sekaligus mengingatkanku lagi betapa busuknya diriku.
Raphtalia melihatku dengan pandangan aneh.
Tapi, aku tidak akan berhenti.

“Matilah ditangan babi pemerkosa!”

Aku menendangnya sejauh mungkin.
Dia menatap sinis aku lagi, tapi dia menyadari waktunya tidak banyak, sehingga dia menuju Ren.

“Hero Pedang-sama—“
“Matilah di neraka sana!”

Tatapan Ren seperti ikan mati!
Dia tidak akan memaafkan Witch.
Jika dia memaafkannya, maka dia akan mati ditanganku.

“Hero Tombak-sama! Mohon pengampunanmu!”
“Filo-tan, setelah ini ayo kita berkendara bersama?”
“Tidak mau~!”

Witch akhirnya meminta ampunan pada Motoyasu, tapi dia sedang sibuk menggoda Filo jadi perkataan Witch tidak dia perhatikan.
Filo sangat ketakutan melihatmu.
Memangnya kau mengajak dia berkendara sampai mana?
Apa menunggangi Filolial termasuk berkendara bersama?

Motoyasu tidak menanggapi perkataan Witch sedikit pun. Sebab Witch adalah wanita.
Tapi Witch tidak mau menyerah.
Dia berusaha sebesar mungkin untuk menarik perhatian Motoyasu.
Mereka sudah saling kenal dalam waktu lama, jadi dia adalah hero yang paling mungkin menyelamatkannya.
.... jika dia adalah Motoyasu yang sebelumnya.

“Apa yang diinginkan babi pink ini? Filo-tan sedang ada dihadapanku, kau menghalanginya. Menyingkirlah babi.”
“Motoyasu, jika kau tidak mengusirnya sekarang, dia akan terus mengikutimu.”
“Pergi dari hadapanku!”

Motoyasu langsung mendorong jatuh Witch.
Luar biasa. Dia benar-benar melupakan orang terkasihnya ketika ia memohon sambil meneteskan air mata.
Manusia memang bisa berubah.
Itsuki tidak ada disini.

“Mama! Hero Busur-sama tidak hadir disini! Ini tidak adil.”
“Beraninya kau mengatakan itu!”
“Benar! Memangnya siapa yang membuat Itsuki menjadi seperti itu!?”

Ren mengatakan itu dengan lantang.
Itsuki tidak hadir disini sebabmu!
Jika ternyata itu salah..... akan aku ceritakan ini padanya nanti, setelah dia sudah baikkan, pasti dia akan menolakmu!

“Sial! Jika aku harus pergi ke Faubrey! Maka aku memilih mati disini!”

Terdengar suara yang keras.
Witch menggigit lidahnya sekuat mungkin.
Banyak darah yang mengalir dari mulutnya.
Dia bunuh diri? Apa hukuman itu sangat buruk!?

“Jangan biarkan dia mati! Pastikan dia sampai dalam keadaan hidup!”

Perkataan macam apa yang barusan aku ucapkan?
Prajurit disekitar langsung mendekati Witch, perawat juga datang dan langsung memberikan mantra penyembuhan pada Witch.
Kain dimasukan ke dalam mulutnya, nyawanya terselamatkan.

“Jadi itulah keputusannya, bagaimana pendapatmu mengenai hukuman kejam ini?”
“Meskipun belum dilaksanakan, aku merasa sudah puas.... namun, aku masih belum yakin.”

Aku baru pertama kali melihat Witch seputus asa itu sampai menundukkan kepalanya padaku, aku merasa sedikit tenang sekarang.
Ren mungkin merasakan hal yang sama. Dia menunjukkan senyuman dinginnya.
Ren sudah membulatkan tekadnya untuk mengorbankan dirinya jika diperlukan demi menyelamatkan rekannya, itu dia yang sekarang.
Motoyasu..... berhentilah menggoda Filo.

“Baiklah, sebelum dikirim ke Faubrey, kami akan mereset level Witch kembali menjadi 1. Aku merasa khawatir jika prajurit kerajaan yang mengantarnya ke sana..... apakah Iwatani-sama akan mengantarnya secara langsung?”
“Tidak perlu. Justru yang ada aku merasa kesal jika terus bersamanya dalam waktu lama.”

Tapi, perkataan ratu ada benarnya.
Jika menyerahkan ini pada prajurit kerajaan, kemungkinan buruk akan terjadi.
Jika aku harus pergi, maka aku terpaksa menyampingkan masalah desa dan Itsuki.
Aku memang bisa menggunakan Portal Shield, untuk pergi kesana kemari. Tetap saja itu menyusahkan......

.... Oh benar juga ya.

“Hmm.... kita masih belum tahu apakah rekan Witch lainnya akan menyelamatkannya nanti, tapi aku ingin menugaskan Motoyasu untuk mengawalnya, apa itu diperbolehkan?”
“Serahkan saja padaku!”

Sebelum ratu menjawab, Motoyasu sudah mengatakan itu dengan lantang.

“Baiklah, akan aku serahkan itu padanya.”

Tapi, perkataan ratu tidak sampai di telinganya.
Motoyasu tidak bisa mendengar perkataan wanita.

“Motoyasu, jika dalam perjalanan babi itu mencoba untuk melarikan diri, langsung bunuh saja dia. Lalu, pastikan kau melihat dia diperkosa oleh raja Faubrey, kembalilah setelah merekam semua itu dengan bola kristal sihir.”
“Siap! Dimengerti!”

Dengan begini tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Ya, jika Motoyasu dikalahkan dalam perjalanan tersebut, itu berarti masalah besar muncul.
Jika perkataan ratu tidak benar, aku bisa meminta Motoyasu untuk membunuh Witch.

“Cara berkendara Filolial di tempatku sudah seperti neraka, dia pasti sudah menderita sebelum sampai Faubrey. Membuka gerbang neraka selanjutnya.”

Hahahahaha..... Aku melihat Witch pingsan di atas lantai sambil menertawainya.

Setelah itu, aku mengantar Witch sampai jam pasir naga untuk mereset levelnya, dia sudah disembuhkan oleh perawat sebelum menuju kesini. Kemudian aku menyerahkan sisanya pada Motoyasu dan Filolial.
Untuk mencegah Witch bunuh diri, mulutnya dipenuhi kain. Dalam keadaan terikat Witch memperhatikan kami dari jendela kereta.
Kali ini, matanya dipenuhi keputusasaan dan air mata.
Jika dia mencoba melakukan sesuatu, dia tidak bisa melakukan apapun sebab masih level 1.

“Mu!”
“Nikmatilah perjalanan terakhirmu.”

Dengan ini, Witch turun menuju neraka.
Dia pantas mendapatkan ini.


Oke, akan aku jelaskan sedikit.
Bola kristal yang Motoyasu gunakan sebagai bukti, sebenarnya itu semacam kamera yang sebelumnya digunakan untuk memperlihatkan poster pencarianku. Aku menerima rekaman Witch diperkosa oleh babi.... bukan, oleh raja Faubrey.
Rekaman ini terdapat audionya juga.

Jujur saja, ini adalah hal yang paling menjijikkan, tapi aku perlu melihat hari terakhir Witch.
Ternyata raja Faubrey dengan senang hati membiarkan ini direkam.
Itu benar-benar membuat Witch lebih putus asa.... dia memang busuk.

Aku sangat ingin menghindari bertemu dengannya, tapi raja Faubrey secara pribadi mengundangku untuk mengambil rekaman itu dan menanyakan pendapatku.
Tolong menjauhlah dariku.....
Banyak hal yang bisa aku jelaskan, tapi menolak itu dengan berbagai urusan dan secara baik-baik aku tolak.

Ngomong-ngomong, jarang sekali raja Faubrey mengundang seseorang secara pribadi.
Ratu sendiri terkejut melihat isi pesannya.

Sudah dua minggu berlalu sejak pengantarannya bersama Motoyasu, lalu kami mendengar berita kematiannya.
Tubuhnya dikirim kesini sebagai bukti, itu dikirimkan dalam bentuk balok es.
Itu pemandangan buruk untuk dilihat.

Lalu, tanpa disangka raja Faubrey ketagihan menggunakan bola kristal. Dia mengirimkan banyak sekali bola kristal.
Aku tidak menonton semuanya, yang aku lihat hanyalah sesaat sebelum kematian Witch saja.
Apa dia pikir bisa mendapat rasa pertemanan dariku?
Jangan kirim rekaman selain Witch.....

Aku masih lemah, lemah untuk melihat sisi gelap dari dunia ini.
Aku ingin menjauhi itu sebisa mungkin.
Aku menguatkan tekadku dalam hati.


Demikianlah, perjalanan panjangku dengan Witch berakhir.... ini sangat tidak masuk akal dan singkat, semuanya terasa tidak nyata.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLBajatsu
EDITOR: Isekai-Chan

Selasa, 14 September 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 20 : Chapter 6 – Bertemu dengan Monster Langka

Volume 20
Chapter 6 – Bertemu dengan Monster Langka


"Kakak... apakah kau mengenali gunung itu?” Tanya Fohl padaku, memiringkan kepalanya dengan bingung sambil menunjuk ke gunung "baru" di luar desa. Sayangnya bagi kami semua, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku pernah melihatnya sebelumnya.

“Entahlah. Apakah kita pernah melihat gunung itu?” Tanyaku.

"Aku tidak yakin," Jawab Fohl. "Aku merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku tidak tahu dimana itu." Itu tidak membantu. Apapun situasinya, kami perlu mengumpulkan informasi.

“Aku butuh beberapa dari kalian yang cocok untuk mengintai... Filo, Gaelion...” Aku mulai memberi perintah, daftar segel monster masih ada, tetapi kemudian aku menyadari bahwa komunikasi terputus. Status Gaelion dan yang lainnya sama seperti saat aku berada di dunia Kizuna. “Bagaimana dengan Sadeena dan Shildina...” Aku bergumam tapi kemudian menyadari bahwa sekarang mereka adalah pahlawan, aku tidak bisa melacak segel budak mereka lagi. Dengan sesuatu yang besar seperti ini terjadi, aku berharap mereka segera kembali. Tetapi fakta bahwa mereka tidak ada di sini berarti kami tidak dapat mengandalkan mereka. “Sebelum kita menjelajah ke luar desa...” Aku berpikir sejenak. “Semuanya, berkumpul! Keluarlah siapapun yang ada disini! ”

Jadi kami kehilangan kontak dengan Filo dan Gaelion. Raph-chan ada di sini, tapi aku berpikir untuk mengirimnya untuk mengintai sebentar lagi. Jika kami tidak mengetahui siapa saja yang ada di sini, ada risiko yang tinggi menghantui kami.

"Jangan khawatir, ikuti saja!" Kata Ruft, membantu membuat semua orang tetap tenang.

"Benar!" Kata Keel, membantu. Raphtalia dan Fohl membantu mengumpulkan semua orang dan mencatat nama mereka.

"Apa yang sedang terjadi?" Kata seorang filolial.

"Aku takut," Kata yang lain.

“Raph...” Tambah salah satu spesies Raph, mereka semua melihat sekeliling dengan raut wajah khawatir. Sepertinya kami tidak membawa banyak filolial. Dan mungkin hanya setengah dari spesies Raph juga.

"Naofumi," Kata Melty, mendekat ke arahku, tampak khawatir. Dia benar-benar terlihat seperti gadis muda di saat-saat seperti ini. “Filo baik-baik saja, bukan?”

“Sepertinya hanya kita yang terjebak dalam kejadian ini. Aku yakin Filo mengkhawatirkan kita sama seperti kondisi kita disini,” Kataku.

"Ya, kau benar," Jawabnya. Setelah sadar apa yang terjadi, Melty menampar pipinya sendiri beberapa kali dan ekspresinya kembali normal. “Jika aku terlihat terlalu khawatir di sini, aku tidak akan bisa menyebut diriku seorang ratu, kan?” Seperti yang diharapkan dari putri Trash. Dia telah dilatih dengan baik tentang bagaimana menjadi bangsawan. Dia berlari menuju Ruft untuk membantu mengidentifikasi semua orang yang bersama kami.

"Apa... yang sedang terjadi di sini?” Ren muncul, masih terlihat buruk.

“Pahlawan Iwatani, ada apa ini? Aku baru saja memeriksa Ren, dan kemudian...” Kata Eclair. Dia bersama Ren. Dia pasti datang sebagai pengawal Melty dan kemudian pergi untuk memeriksa Ren yang sedang memulihkan diri.

"Entahlah. Kami sedang menghitung penduduk desa sebelum mulai menyelidiki lebih lanjut, ” Kataku. Aku menggunakan segel budak yang telah kudaftarkan untuk memeriksa budak mana yang ada di sini dan mana yang hilang. Ren ada di sini. Itu bisa berubah menjadi nasib baik atau buruk.

“Ren, apakah kau melihat Motoyasu atau Itsuki?” Tanyaku.

"Maaf aku tidak melihatnya,” Jawabnya.

"Baiklah kalau begitu," Kataku. Mustahil bagi Motoyasu yang egois untuk tidak berteriak di tengah krisis seperti ini. Itsuki dan Rishia masih berada di tempat suci filolial, mencoba memahami informasi yang kami temukan di sana.

Aku benar-benar perlu mencari tahu mengapa aku tidak bisa membuka portal ke lokasi yang telah kudaftarkan. Aku masih bisa pergi ke desa, jadi portalku tidak diblokir. Namun setiap lokasi selain desa ini tidak bisa diakses entah bagaimana.

“Archduke!” Rat berlari bersama Wyndia. Rat itu aneh, memilih untuk tidak memanggilku "Pahlawan Perisai" atau dengan namaku, tetapi dengan pangkatku. "Apa yang sedang terjadi?"

"Entahlah," Jawabku. Aku telah memberikan dia tanggung jawab untuk menganalisis teknologi yang kami peroleh dari dunia Kizuna. Dia telah mengeluhm bahwa itu benar-benar bukan bidang spesialisasinya. Mengeluh atau tidak, dia tetap melakukannya dengan baik. Sebagian besar penelitiannya baru-baru ini tampaknya difokuskan pada spesies Raph dan filoial, tetapi aku tidak benar-benar tahu detail tentang apa yang dia bicarakan. Dia juga bertanggung jawab untuk merawat monster desa, jadi dia jauh dari tidak berguna, tetapi beberapa hal yang dia lakukan dengan spesies Raph membuatku cukup khawatir.

"Wyndia, di mana Gaelion?" Tanyaku. Wyndia telah dipercayakan dengan Gaelion sebagai semacam orang tua pengganti. Dia menggelengkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia tidak tahu.

“Setelah kau marah padanya, Gaelion kabur sementara dari rumah. Apakah kau tidak tahu di mana dia, Pahlawan Perisai?” Tanya Wyndia. Kabur sementara, ya? Aku tidak yakin bagaimana menanggapinya.

“Kurasa itu artinya dia tidak ada di desa,” Kataku. Itu tidak hanya terbatas pada Gaelion; itu termasuk Filo juga. Banyak budak dan monster yang terdaftar padaku berada di tempat yang sama.

"Oh tidak! Apa yang terjadi pada Gaelion?!” Wyndia mulai panik.

"Tenanglah. Baik Filo maupun Gaelion bukanlah tipe yang bisa dikalahkan dengan mudah, kau tahu itu. Tampaknya jauh lebih alami bahwa kitalah yang terjebak dalam sesuatu, bukan mereka, ” Kataku.

“Itu lebih masuk akal. Coba tenangkan dirimu,” Kata Rat, menenangkan Wyndia. Rat tahu lebih banyak tentang biologi monster, membuat Wyndia seperti muridnya.

"Kapan Gaelion akan kembali?" Tanyaku.

"Saat waktu makan tiba. Biasanya, ”Jawab Wyndia.

"Dan dia kabur sementara?" Tanya Raphtalia.

“Gaelion sangat lembut. Aku yakin dia akan kembali. Tidak peduli seberapa sulit situasinya dengan Pahlawan Perisai, walaupun dia mengeluh, tetapi dia akan kembali, ” Katanya. Jadi itu semua adalah tindakan kecil untuk mendapatkan perhatian, yang tidak ada gunanya jika aku bahkan tidak mendengarnya. Dia hanya berjalan-jalan. Bisa disebut seperti itu.

Aku jarang mengerti apapun yang dilakukan naga-naga ini, jujur saja. Mereka sangat aneh sehingga hampir tidak mungkin untuk memahami apa yang mereka pikirkan: Gaelion tua, terlihat seperti orang tua idiot yang menyebut dirinya naga terlemah. Naga Iblis, ratu sihir jahat yang mendekatiku seperti Atla, dan anak Gaelion, yang dalam beberapa hal bahkan lebih sulit untuk dipahami daripada Naga Iblis dan Gaelion tua.

“Kita hanya harus percaya Gaelion dan yang lainnya bisa menangani diri mereka sendiri dan mencari tahu apa yang terjadi dengan kita,” Kataku. "Raph-chan!" Panggilku.

“Raph?” Jawab Raph-chan, memiringkan kepalanya saat dipanggil.

“Ada yang bisa kau bagikan dengan kami?” Tanyaku. Raph-chan telah menyelamatkan kami berkali-kali sebelumnya dengan berbagai cara. Dia mungkin akan memahami situasi kami paling cepat, jadi itu sebabnya aku bertanya padanya.

“Raph...” Jawab Raph-chan.

"Dafu," Tambah Raph-chan II, keduanya menggelengkan kepala, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu. Mereka telah melakukan sesuatu di depan sakura lumina yang tumbuh di desa, tetapi mereka tampaknya juga tidak tahu di mana kami berada. Ketika aku berpikir bahwa Raph-chan tidak akan bisa membantu, Raph-chan menunjuk ke belakang Melty.

"Memang. Ini adalah waktuku untuk bersinar, degozaru,” Kata Shadow, muncul entah dari mana. Dia bahkan memiliki spesies Raph yang berpakaian seperti ninja di bahunya! Cosplay, aku menyukainya!

"Kau!" Kataku. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya, tapi aku langsung mengenali suaranya. Itu adalah Shadow yang telah melakukan begitu banyak aksi selama insiden Gereja Tiga Pahlawan yang menyamar sebagai ratu. Aku sudah lama tidak melihatnya sejak saat itu dan bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan.

“Aku akan melindungi Ratu Melty, menyembunyikan diriku untuk berjaga-jaga,” Jelasnya.

“Hei, Raph-chan. Tidakkah kau pikir dia bisa menjadi calon pembunuh? Kenapa tidak melaporkannya padaku?” Tanyaku.

“Ah, jangan salahkan monstermu, Pahlawan Perisai. Tentu saja, mereka menyadari kehadiranku. Aku menjelaskan situasinya kepada mereka dan mereka membiarkanku masuk, ” Jelasnya.

“Raph!” Kata spesies Raph yang bercosplay ninja. Aku mulai merasa bahwa keamanan desa mungkin tidak seketat perkiraanku. Aku akan menyukai Raph-chan dan spesies Raph untuk bereaksi terhadap Shadows juga, jika memungkinkan. Setidaknya beri tahu kami bahwa mereka ada di sana.

"Pahlawan Perisai, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Ruft, menyadari aku agak kesal.

“Apakah kau tahu tentang ini juga, Raphtalia? Ruft?” Tanyaku.

"Yah ... Eclair memberitahuku bahwa dia telah ditempatkan sebagai perlindungan untuk Melty, ” Jawabnya ragu-ragu.

“Maksudmu mata-mata itu? Tentu. Aku pikir semuanya juga tahu. Dia ada di sana,” Kata Ruft. Bagaimanapun juga, keduanya memiliki kemampuan untuk bersembunyi. Pasti menyenangkan bisa melihatnya dimanapun dia berada. Aku tentu saja tidak bisa. “Jika Pahlawan Tombak menggunakan ini untuk mengikuti Filo, aku akan membongkar penyamarannya. Tapi itu adalah seseorang yang kita kenal, jadi kupikir aku tidak perlu melakukannya, ” Jelas Ruft. Jelas, Motoyasu harus dihentikan. Dia bahkan bisa mengacaukan naluri alami Filo dalam upayanya untuk mengambil gambar yang tidak diinginkan darinya, jadi menangkapnya akan menjadi hal yang wajar... tapi mau tak mau aku bertanya-tanya apakah mereka benar-benar harus membiarkan Shadow berkeliaran begitu mudah.

“Aku telah berhubungan dengan seseorang dari Q'ten Lo, dan setelah melakukan pertukaran informasi, sebagai hasilnya aku mengasah keahlianku. Aku adalah Shadow... dan juga seorang shinobi, memanfaatkan seni Q'ten Lo. Desamu, Pahlawan Perisai, adalah satu-satunya tempat berkumpulnya orang-orang yang masih bisa melihat penyamaranku yang telah ditingkatkan, ” Jelas Shadow.

“Namun pahlawan itu sendiri tidak bisa melihatmu sama sekali. Kau bercanda! Aku juga tidak yakin kau layak menyandang gelar 'shinobi',” Kataku. Aku mungkin harus menempatkan Raph-chan di kepalanya setiap saat, untuk melacaknya untukku.

Bagaimanapun juga, kami harus menangani keadaan darurat ini.

"Oke! Apakah semua orang sudah berkumpul? Pastikan tidak ada yang bersembunyi!” Teriakku.

“Bubba, kurasa tidak ada orang yang cukup bodoh untuk menyembunyikan diri di saat seperti ini,” Kata Keel. Tentu, itu poin yang bagus. Semua orang berkumpul di alun-alun desa. Aku lalu melihat sekeliling

Ada Raphtalia, Melty, Raph-chan, dan S'yne. Mereka telah bersamaku sejak semua ini dimulai. Fohl, Keel, dan Imiya ada di sana, tokoh utama desa. Ada banyak penduduk desa lainnya juga. Banyak dari mereka tampak seperti lumo. Lalu ada Ren dan Eclair. Dia sedang memulihkan diri di rumahnya sendiri—yang mungkin berubah menjadi keberuntungan—dan Eclair sedang mengunjunginya. Setelah itu, kami memiliki pecinta monster—Rat, Wyndia, dan Ruft. Setelah mereka menghitung spesies Raph dan filolial, aku menemukan bahwa jumlah monster tampaknya telah berkurang cukup banyak. Ada juga Kaisar Surgawi masa lalu, Raph-chan II. Dia memiliki segala macam nama konyol lainnya, seperti Dafu-chan. Dan terakhir, Shadow yang telah menjaga Melty.

Di sisi lain, orang-orang yang tidak bisa kami hubungi adalah Filo, Gaelion, L'Arc dan partynya, Itsuki, Rishia, Motoyasu dan pengiringnya, dan tentu saja Trash. Sadeena dan Shildina juga tidak ada di sini. Dari tanggapan segel budak dan apa yang Keel katakan padaku, mereka yang telah pergi dari desa untuk berdagang juga tidak menanggapi.

“Hubungan antara kita semua di sini adalah bahwa kita kebetulan berada di desa ketika ini—apa pun itu—terjadi,” Renungku. Namun jawaban dari apa yang sedang terjadi, masih kutebak-tebak.

"Apakah ada semacam teknologi yang dapat memindahkan seluruh desa?" Tanya Raphtalia. Pemandangan disekitar kami cukup berbeda—tapi masih ada fakta-fakta yang belum terhubung.

“Bukannya tidak mungkin... tapi aku tidak mengerti mengapa hanya desa ini saja yang bisa dipilih ketika aku mencoba menggunakan portal, ” Jawabku. Ini adalah fenomena yang berbeda ketika kami berada di pulau Cal Mira.

"Mungkin semacam penghalang telah dipasang?" Raphtalia mempertaruhkan tebakan lain.

"Oke. Kedengarannya masuk akal, ” Kataku setuju. Mungkin penghalang telah dipasang untuk menghentikan kami berteleportasi, dan kemudian kami telah diteleportasi ke suatu tempat. Itu sepertinya tidak mustahil, mengingat kami tidak mengenali tempat ini. Aku pertama kali bertanya-tanya apakah kami telah dikirim ke dunia baru yang tidak dikenal sepenuhnya, tetapi ketika aku melihat level kami dan data lainnya, sepertinya bukan itu masalahnya.

"Berapa lama sampai gelombang berikutnya?" Tanyaku dan melihat waktunya. Untuk beberapa alasan itu tidak stabil. “Raphtalia, bisakah kau menggunakan Scroll of Return?”

"Tidak, aku tidak bisa," Jawabnya. Raphtalia telah mencoba menggunakan skill teleportasi miliknya sendiri, beberapa kali, tetapi tidak berhasil juga. “Tepatnya tentang masalah ini, kita berada di luar jangkauan teleportasi jam pasir naga yang telah ditentukan,” Lapornya. Di luar jangkauan—aku bertanya-tanya bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

"S'yne, bagaimana denganmu?" Tanyaku, tapi dia sudah menggelengkan kepalanya. Dia menderita masalah yang sama. “Sepertinya kita harus meninggalkan desa dan melihat apa yang ada di luar sana,” Simpulku.

"Oke! Mari kita lakukan!" Fohl tampak tertarik untuk melakukannya. Shadow mungkin akan terbukti lebih baik dalam mengumpulkan informasi, tetapi Fohl suka berjalan-jalan. Itu cukup memudahkan. Kami perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin—dan dengan cepat.

“Tunggu, Naofumi. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sini. Haruskah kita pergi?” Kata Melty. Dia benar.

“Lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Anggota kita yang tercepat dan paling fleksibel harus memimpin dan memeriksa sekeliling, ” Kataku. Sangat menyakitkan bahwa kami tidak memiliki penerbang yang kuat di antara tim kami—Filo dan Gaelion. “Kami tidak tahu apa yang mungkin muncul, jadi para pahlawan juga harus ikut. Bagilah menjadi beberapa tim dan mulailah menyusuri area sekitar,” Kataku kepada mereka.

"Serahkan padaku," Kata Shadow.

"Ya, aku akan mengandalkanmu secara khusus," Kataku. Dengan begitu, kami mulai berpencar. Raphtalia, Melty, Raph-chan, dan S'yne menuju utara bersamaku. Fohl mengumpulkan tim petarung yang lebih kompeten dari desa, dipimpin oleh Keel, dan menuju ke timur, sementara Ren membawa Eclair dan Wyndia dan menuju ke barat. Shadow berencana untuk membawa spesies Raph dan bergerak ke selatan. Ruft, Rat, dan penduduk desa yang tersisa akan tetap tinggal untuk melindungi desa. Jangkauan pencarian akan tercakup dalam waktu tiga puluh menit. Jika tidak ada yang ditemukan, kami akan kembali ke desa setelah waktu itu, mengumpulkan informasi, kemudian memperluas jangkauan dan bergerak lagi. Mengingat kami bahkan tidak memiliki peta, tidak ada salahnya untuk memulai dengan hati-hati. Jika terjadi sesuatu, pihak tersebut akan menembakkan sihir ke udara untuk memberi tahu yang lain. Kami memutuskan untuk menggunakan filoial yang tersisa di desa untuk berkeliling. Diantara mereka, aku harus menunggangi yang dikenal sebagai Chick, bawahan langsung Filo dan yang memimpin para filolial desa.

Segera sebelum keberangkatan kami, aku melihat ke tanah bersama Rat.

"Sepertinya ini adalah batasnya," Kata Rat, menunjuk ke tanah di luar desa. Sebuah garis tunggal yang bersih membentang mengelilingi desa. Kami telah menyelidikinya. “Jika semacam kekuatan atau teknologi telah memindahkan kita, sepertinya itu memindahkan semua yang ada di dalam lingkaran ini.”

"Itu masuk akal," Kataku. Namun, itu adalah area yang cukup besar untuk dipindahkan. Seluruh desa, hampir keseluruhannya, selain kandang filolial. Salah satu kandang monster tetap ada, jadi sulit untuk menebak alasan di balik area yang dipilih—dan tidak mungkin menebak bagaimana ini bisa terjadi. Mau tak mau aku berpikir bahwa kakak perempuan S'yne telah menipu kami.

“Kalau begitu, Archduke. Lanjutkan surveimu,” Kata Rat.

"Oke. Kau jaga desa ini,” Kataku. Kemudian kami melewati batas dan memulai penyelidikan kami tentang apa pun yang ada di baliknya.

“Semuanya, berpencarlah!” Kataku. Mengikuti instruksiku, setiap kelompok bergerak ke arah yang ditentukan. Langit cerah dan biru, tanpa awan yang terlihat. Kami awalnya adalah desa di pinggir pantai, jadi biasanya ada bau asin, tapi aku tidak bisa mencium bau itu sekarang.

"Hah?" Kami belum berjalan jauh dari desa ketika kami bertemu monster. Aku mempertimbangkan agar Chick menghancurkannya, tetapi aku ingin melakukan pencarian ini dengan hati-hati, jadi aku turun dan pergi bertarung.


Red Snake Balloon


Sebuah balon panjang dan tipis berbentuk pensil menggeliat di udara dan mendekati kami. Itu tampak seperti sesuatu yang mungkin kau gunakan untuk seni balon.

“Balon ular? Monster-monster itu tidak tinggal di Melromarc,” Kata Melty sambil mengerutkan kening, menunjuk balon yang jelas-jelas berniat menyerang kami. Aku sudah meraihnya dengan tangan kosong, tentu saja, menahannya di udara. Bagian yang tampak seperti kepala menggigiti tanganku dengan penuh semangat, tapi tidak sakit sama sekali—bahkan tidak geli.

"Jadi di mana mereka tinggal?" Tanyaku. Ini bisa menjadi informasi yang berguna.

“Negara siltvelt dan demi-human. Namun ...” Dia terdiam, masih mengerutkan kening.

"Ya?" Kataku.

“Karena bentuknya yang cocok untuk digunakan sebagai pelampung dalam kolam renang, dan setelah seni balon mem-booming, aku mendengar mereka hampir punah. Mereka memiliki berbagai kegunaan yang tidak dapat kau lakukan dengan balon lain...” Jelasnya.

"Oke," Jawabku. Saat kami membuang-buang waktu untuk hal-hal sepele tentang balon, banyak balon ular muncul dan terbang ke arah kami. Mereka terlalu banyak untuk disebut punah. Aku menggunakan keterampilan yang disebut Hate Reaction, yang belum kukeluarkan baru-baru ini, dan menarik perhatian semua monster kepadaku. Itu juga berfungsi untuk menarik lebih banyak dari mereka keluar dari persembunyian. Aku sudah melindungi Melty dan yang lainnya dengan Shooting Star Wall, dan dengan cepat diriku dikelilingi oleh sekelompok balon ular. Mereka bahkan mencoba masuk melalui celah di armorku.

“Maaf, Tuan Naofumi. Aku yakin kau baik-baik saja, tapi apakah kita akan mengalahkan mereka sekarang?” Tanya Raphtalia.

"Oke. Aku akan melepaskan Shooting Star Shield, jadi cocokkan waktumu denganku dan habisi mereka,” Perintahku.

"Oke!" Jawabnya dengan cerdas.

"Shooting Star Shield!" Teriakku. Balon ular yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba dikirim terbang oleh penghalang yang kubuat. Pada saat yang sama, Raphtalia mengayunkan katananya, Melty mengeluarkan sihir, dan S'yne mengayunkan guntingnya. Raph-chan mengendarai Chick dan filolial menendang ular itu. Balon ular dikalahkan dalam sekejap. Monster ini sangat lemah. Kurasa menjadi langka tidak membuat mereka kuat.

“Aku yakin masih ada yang hidup, jadi ayo kita tangkap,” Kataku.

“Naofumi? Bolehkah aku bertanya untuk apa? ” Kata Raphtalia.

"Untuk dijual. Jika mereka ini benar-benar langka, aku yakin kolektor akan membayar mahal, ” Kataku.

“Kau masih berpikir untuk menghasilkan uang di saat seperti ini? Kau seorang archduke sekarang! ” Seru Raphtalia.

“Apakah itu penting?” Tanyaku.

“Kurasa aku bisa mengerti mengapa dealer aksesori menginginkanmu sebagai penggantinya,” Kata Raphtalia, sedikit sedih.

"Raph," Kata Raph-chan, tapi aku tidak menyerah. Ini adalah monster langka. Tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya. Ada banyak dari mereka di sini juga, jadi pasti tidak apa-apa untuk membawanya kembali bersama kami.

"Kita bisa melakukannya nanti," Kataku. Untuk saat ini, aku memasukkan satu ke dalam perisaiku dan membuka kunci perisai. Walaupun monster ini langka, tetapi ini hanya memiliki status yang mirip dengan varian balon lainnya. Itu bahkan tidak layak dibahas secara rinci.

Setidaknya membawa beberapa mayat balon ini kembali akan memberi anak-anak di desa sesuatu untuk dimainkan. Kami terus maju, menyusuri jalan kami melalui pesta balon.

"Melty, balon ular ini adalah monster yang ditemukan di sekitar Siltvelt, kan?" Tanyaku. Dia mengangguk. Itu cukup nyaman, bisa mengetahui di mana kami berada melalui kehadiran monster di sekitar kami. Fohl mengatakan dia mengenali tempat itu jadi itu pasti di suatu tempat yang dia ketahui.

“Mari kita asumsikan ini adalah Siltvelt untuk saat ini dan perluas area pencarian kita. Raph-chan, Chick. Apakah kalian mau menambahkan sesuatu? ” Tanyaku pada mereka.

“Raph?” Tanya Raph-chan, hidungnya berkedut. Chick juga membuat suara bingung. Tak satu pun dari mereka tampaknya tahu apa-apa. Melty melihat sekeliling, membuat suara yang sama.

"Ada apa?" Tanyaku.

“Tempat ini sangat aneh. Aku merasa mengenalinya, tetapi juga tidak, ” Jawabnya.

"Fohl mengatakan hal yang sama," Kataku. Jika ini dekat dengan Siltvelt, maka masuk akal jika dia mengenalinya. “Bagaimana denganmu, Raphtalia?” Tanyaku. Dia selalu hebat dalam mengingat nama orang dan detail lainnya, jadi kuharap aku bisa mengandalkan ingatannya di sini.

"Oh ... Maafkan aku," Kata Raphtalia. Dia tidak mengetahuinya. Fohl dan Melty telah melakukan perjalanan yang cukup jauh sebelum bertemu dengan kami. Itu mungkin mengapa mereka mengenalinya dan kami tidak.

Kami terus maju, melewati tanah yang berangsur-angsur semakin kering. Kami hanya berjalan dalam garis lurus.

"Hai. Kurasa aku melihat jalan di sana,” Kataku. Aku melangkah ke jalan yang sudah usang dan melihat ke kiri dan ke kanan. Mungkin ada kota atau desa di kedua arah, tetapi jika memungkinkan, aku ingin pergi ke yang terdekat. Aku mendaftarkan portal di sini, untuk berjaga-jaga. “Jika kita menyusuri jalan ini, kita mungkin menemukan sesuatu. Ayo! Kita akan mulai dengan berbelok ke kanan.” Itulah yang kami lakukan, selama sisa tiga puluh menit pencarian, tetapi kami tidak mencapai kota atau desa sebelum waktu habis. Atmosfernya mulai terasa seperti di Siltvelt. Pegunungan ini mungkin terlihat seperti tempat tinggal para pertapa kuno. Gaya berpakaian mereka seperti orang Cina, walaupun pasti ada pengecualian. Aku melihat Siltvelt secara topografi, silvelt adalah tempat yang cukup campur aduk. Ada hutan dan kemudian tiba-tiba dataran tandus, pegunungan tipis dan sempit, dan kemudian tiba-tiba rimbun ditutupi pepohonan. Bahkan Melromarc terasa lebih menyatu. Kota-kota sumber air panas bergaya Jepang di sana pasti dipengaruhi oleh para pahlawan yang menyebarkan budaya rumah mereka.

"Kita harus kembali dan melihat bagaimana keadaan semua orang," Kataku. Sepertinya tiga puluh menit tidak cukup lama. Aku hanya perlu mendaftarkan portal di sini dan kami bisa kembali dalam sekejap mata. Jadi tidak ada usaha kita yang akan sia-sia. Bahkan bagian terkecil dari informasi baru bisa terbukti vital.

Dengan begitu, kami kembali ke desa.


“Archduke! Ini luar biasa!" Saat kami tiba, Rat ada di sana, menunggu kami, mengangkat mayat monster.

"Apakah kau berbicara tentang balon ular yang hampir punah?" Tanyaku.

"Tidak! Yang lain telah menemukan monster yang sebenarnya sudah punah!” Jawabnya. Seseorang selalu harus mengungguliku. “Ini adalah penemuan abad ini! Itu bisa menulis ulang semua yang kita ketahui tentang monster!”

“Bagus, tentu saja... tetapi apakah penemuan seperti itu berguna ketika dunia dilanda gelombang yang dapat menghancurkan dunia? ” Kataku.

“Kau setidaknya bisa mencoba terdengar bersemangat, Archduke,” Kata Rat dengan cemberut.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tetapi tidak ada makhluk di sini yang dapat ditemukan di tempat asalku—di Jepang. Jadi cukup sulit bagiku untuk menjadi lebih bersemangat karena gumpalan aneh lain atau apapun itu, ” Jawabku. Aku menyukai semua makhluk saat pertama kali tiba di sini, tapi setiap kali monster baru menyerang kami sekarang, aku hanya berpikir untuk mengalahkannya—dan mengubahnya menjadi uang, jika memungkinkan. Apa yang dirasakan Rat sekarang mungkin sama dengan orang Jepang yang menemukan dinosaurus hidup. Oke, dinosaurus mungkin sedikit berlebihan—bagaimana dengan dodo? Mereka juga punah, jika ingatanku benar. Tentu saja, di dunia asal Ren, Itsuki, dan Motoyasu, mungkin ada dodo di mana-mana. Seperti itulah rasanya bagiku... tapi aku tersesat dalam pikiran yang tidak berguna lagi. 
<TLN: Dodo adalah seekor burung yang baca selengkapnya... https://id.wikipedia.org/wiki/Dodo>

“Tentu saja aku tertarik untuk mempelajari ras monster baru, tetapi bukankah lebih menakjubkan lagi jika menemukan kembali monster yang semua orang kira telah musnah?” Tanya Rat, masih bersemangat.

"Ya, kau mungkin ada benarnya," Kataku. Menangkap monster yang dianggap telah musnah mungkin lebih mengesankan daripada menemukan benua baru atau makhluk tak dikenal.

"Kakak, kau telah kembali," Kata Fohl, memperhatikan kami dan datang.

"Bubba, apakah kau menemukan sesuatu?" Tanya Keel, mengikuti di belakangnya.

“Kami menemukan jalan dan menyusuri sepanjang jalan itu. Bagaimana dengan kalian?" Tanyaku.

"Kami kembali setelah menemukan sungai," Jawab Fohl.

"Oke. Mungkin ada desa atau kota di sepanjang sungai itu juga,” Kataku. Fohl setuju. "Dan kemudian kau menunjukkan monster yang kau kalahkan kepada Rat?" Fohl mengangguk. Jadi ada monster yang punah di luar sana juga. Keel sudah mulai memainkan mayat salah satu balon ular yang kami bawa pulang. Aku harus memperingatkannya untuk tidak terlalu banyak bermain dengan mayat balon. Tidak adil mengubah mayat monster menjadi mainan—mereka perlu diproses sedikit terlebih dahulu. Kemudian itu baik-baik saja.

“Bagaimana dengan Ren?” Tanyaku. Bukankah dia terlambat? Jika dia tidak kembali ke sini pada waktu yang ditentukan, itu menunjukkan sesuatu telah terjadi. Bahkan saat aku memikirkan hal itu, suar menyala ke arah yang dituju oleh party Ren. Itu tentu saja menunjukkan bahwa mereka sedang mendapat masalah. Aku mendecakkan lidahku kesal dan naik kembali ke Chick.

“Naofumi!” Teriak Melty.

"Sebaiknya kita tidak perlu mempertaruhkan nyawamu, Yang Mulia," Kataku, sedikit sinis. "Tetaplah disini. Jika terjadi sesuatu, Fohl, kau lindungi Melty. ”

"Oke. Hati-hati, kakak, ” Jawab Fohl dengan anggukan, meletakkan tinjunya di depannya.

"Hei, apakah aku diabaikan?" Melty merengek.

“Kita perlu mencari tahu apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting, kita perlu memastikan desa tetap aman. Ruft, kau bantu melindunginya dengan spesies Raph, ” Kataku.

“Tentu saja!” Jawab Ruft.

“Raphtalia, S'yne, Raph-chan! Ayo pergi!" Kataku. Dengan Raphtalia dan S'yne di belakangku dan Raph-chan menaiki kepala Chick, kami mulai bergerak. Seharusnya tidak memakan waktu terlalu lama untuk mencapai titik suar tersebut. Aku mulai dengan hati-hati menyiapkan Liberation Aura X.

"Kau memanggil?" Suara Naga Iblis muncul seketika di kepalaku, berasal dari perisai. Dia sangat menyukai perlindungannya—atau bantuan sihir, apapun sebutannya.

“Liberation Aura — huh ?!” Suaraku tertahan saat aku mencoba melantunkan mantra. Aku memiringkan kepalaku.

"Tuan. Naofumi?” Tanya Raphtalia.

"Ini aneh ... Aku tidak bisa meningkatkan sihirnya?” Kataku. Yang berhasil kugunakan hanyalah Liberation Aura biasa. Aku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Aku merasakan sesuatu yang serupa terjadi ketika aku melepaskan Shooting Star Shield selama pertempuran balon kami. Aku tidak dapat menggunakan sihir, dan tidak dapat menggunakan perisaiku baru-baru ini, dan sementara aku telah melakukan yang terbaik untuk beradaptasi dengan setiap situasi, itu membingungkanku, untuk mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa lakukan. Aku akan memikirkan masalah ini nanti.

"Kita harus sampai ke Ren secepat mungkin!" Kataku. Liberation Aura normal seharusnya cukup, dan aku menerapkannya pada Chick untuk meningkatkan kecepatannya. Dia menundukkan kepalanya sambil mengeluarkan teriakan dan bergegas melaju ke depan, membawa kami dengan cepat ke arah masalah apa pun yang dialami Ren dan rombongannya.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan
PROOFREADER: Bajatsu

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 46. Cliff Mengikuti Jejak Misteri Telur

 Volume 2

Chapter 46. Cliff Mengikuti Jejak Misteri Telur



Saat aku tengah beristirahat sejenak dari kesibukan pagi hariku di ruang kerja, pelayanku Rondo datang.

"Maaf mengganggu waktu anda, tuanku."

"Ada apa? Apa sesuatu yang gawat telah terjadi?

"Tidak, ini bukanlah sesuatu yang gawat, tapi saya rasa anda perlu mendengarnya."

Jika Rondo berkata demikian, mungkin itu memang bukan sesuatu yang cukup serius. Meski begitu, hal tersebut tampaknya mengganggunya.

"Baru-baru ini, telur Kokkeko dalam jumlah besar mulai membanjiri pasar kota. Namun, ada sesuatu yang ganjil tentangnya."

"Ganjil bagaimana?"

"Pertama, saya tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari mana telur-telur tersebut berasal. Kemudian, setiap kali saya menggunakan nama keluarga Fochrosé untuk membelinya, mereka selalu menolak."

"Tunggu, apa?"

"Setiap kali saya menanyakan perihal telur-telur tersebut kepada agen yang bersangkutan, mereka selalu memberi jawaban yang ambigu. Saat saya mengatakan mereka bisa menjelaskan situasi tersebut kapanpun mereka siap, mereka tidak pernah memberi tanggapan. Akan tetapi, sewaktu saya mendatangi toko-toko sebagai pelanggan biasa, saya bisa membelinya. Namun, saat saya mengatakan bahwa telur-telur tersebut nantinya akan dikirim ke kediaman Fochrosé, mereka mendadak berkata kalau stoknya habis. Hal itu menyebabkan pemesanan telur untuk kedepannya mustahil dilakukan."

"Apa maksud dari semua ini?"

Itu benar-benar mulai menggangguku sekarang.

"Satu-satunya hal yang bisa saya simpulkan adalah mereka menolak menjual telur-telur tersebut kepada keluarga Fochrosé. Serikat dagang sendiri bahkan mengklaim tidak tahu apa-apa soal hal itu saat saya menanyakannya."

Aku pribadi tidak masalah tidak bisa makan telur, tetapi aku punya firasat buruk tentang ini.

"Tidak ada pekerjaan mendesak untuk siang nanti, bukan? Kalau begitu, aku akan langsung pergi ke guild."

Aku menyudahi istirahat singkatku dan bergegas menuju guild.


Tanpa membuat janji temu terlebih dahulu, aku langsung menemui Guildmaster dan mengajaknya bicara empat mata.

"Oh, bukankah ini Lord Cliff! Ada kepentingan apa anda kemari?"

Milaine memberiku senyum mencurigakan. 
<TLN: yap, Milaine adalah Guildmaster dari guild dagang/serikat dagang. Setelah saya telusuri, dia memang kepala pemimpin serikat dagang.>

"Aku ke sini tidak untuk membicarakan bisnis. Aku datang untuk menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi."

"Apa sekiranya itu?"

"Ini tentang telur Kokkeko."

"Telur Kokkeko?" Raut wajah Milaine sama sekali tidak berubah. 

"Itu benar. Kelihatannya tidak ada seorang pun di kota ini yang mau menjual telur tersebut kepadaku."

"Kami tidak melakukan apapun soal itu."

Milaine selalu bicara jujur padaku; apa yang membuatnya berbohong sekarang?

"Tapi informasi yang kudapat mengatakan hal lain."

"Apakah Anda yakin itu bukan karena stok barang sedang kosong akibat melonjaknya jumlah permintaan yang masuk, mengingat telur menjadi sangat diminati akhir-akhir ini?"

"Para pedagang yang menjualnya juga mengatakan hal yang sama."

"Maka begitulah faktanya."

"Apa kau berpikir aku akan menerima penjelasan seperti itu?"

"Anda tidak akan mati meski tidak makan telur sekalipun, Anda tahu."

"Aku merasa tersinggung karena seseorang yang tidak kukenal melakukan hal ini terhadapku. Selain itu, aku menginginkan telur tersebut untuk putriku."

"Kalau begitu, apakah Anda ingin membawa pulang beberapa untuk putri Anda?"

"Bagaimana denganku?"

"Saya khawatir tidak ada yang tersisa untuk Anda." Milaine menyeringai.

Sungguh wanita yang merepotkan. Tidak banyak orang di kota ini yang berani menentangku seperti Milaine.

"Jadi kau sama sekali tidak berniat untuk memberitahuku?"

"Itu adalah kesepakatannya—jangan jual telur tersebut kepada Lord Cliff."

"Apa kau tetap bersikukuh menjaga kesepakatan tersebut meskipun itu artinya merusak hubunganmu dengan pemimpin wilayahmu sendiri?"

"Tentu. Jika pada situasi ini Anda bukanlah orang jahatnya, saya mungkin akan memihak Anda. Namun kali ini, saya berada di pihak orang itu. Selain itu, saya cukup tertarik dengannya."

Aku orang jahatnya? Dan siapa "orang itu"? Siapa tepatnya orang yang Milaine maksud?

"Anda telah banyak membuat anak-anak menderita. Dialah orang yang menyelamatkan anak-anak tersebut." 

Membuat anak-anak menderita? Anak-anak mana yang dia maksud? Aku tidak ingat pernah melakukan penyiksaan terhadap siapa pun.

"Saya tahu bahwa Anda adalah seorang tuan tanah yang hebat, tetapi saya akan terus mendukungnya selama ia berada di sisi yang benar."

"Sangat jarang aku melihatmu membela seseorang sampai sejauh itu."

"Dia membuat saya tertarik. Saya sudah menjumpai berbagai macam orang sampai sekarang, namun belum pernah saya menemui seseorang dengan kekuatan, kepribadian, dan cara berpikir seperti orang itu."

"Mendengarnya darimu membuatku ingin bertemu orang tersebut, terlepas dari insiden telur kali ini."

"Saya tidak berniat mempertemukan Anda dengannya."

"Bisakah setidaknya kau beritahu aku kesalahan apa yang telah kuperbuat?"

"Tidak bisa. Jika saya memberitahu Anda, kemungkinan Anda akan dapat menarik kesimpulan dari sana dan menyadari siapa orang yang saya maksud."

"Kalau begitu, sebagai ganti hutangmu, bisakah kau beritahu aku?"

"Hutang?"

"Kalian tidak mampu menyiapkan hadiah untuk raja, bukan?"

Guild dagang tidak mampu memenuhi tugasnya tahun ini.

"Dan Anda mengungkitnya sekarang?"

"Itu adalah salah satu kewajiban guild, kau tahu."

"Bicara soal hal itu, apakah Anda sudah memutuskan hadiah yang cocok untuk dipersembahkan kepada raja?"

"Ya, guild petualang telah memberiku pedang raja goblin."

"Pedang raja goblin?"

"Benar, seorang petualang dengan kostum beruang mendapatkan pedang tersebut setelah mengalahkan raja goblin."

"Petualang dengan kostum beruang? Apa maksud Anda Yuna?"

Ketika aku menyinggung soal Yuna, reaksi Milaine berubah untuk pertama kalinya. 

"Kau kenal Yuna?" Tanyaku.

"Dia adalah pemula yang telah membasmi seratus goblin, memburu banyak serigala, menaklukkan Tigerwolf, dan bahkan baru-baru ini berhasil mengalahkan seekor Black Viper. Seorang gadis imut dalam balutan kostum beruang yang lucu."

"Kau tampaknya kenal betul dengan dia."

"Itu karena dia adalah seorang pemula yang menjanjikan. Kami selaku guild dagang tentunya menaruh minat besar padanya. Saya baru tahu jika dalam misi penaklukannya, ia berhasil mendapatkan pedang raja goblin. Saya harap dia menjualnya lebih dahulu kepada kami."

"Yah, intinya seperti itulah aku bisa dapat hadiah untuk raja. Ngomong-ngomong, sebagai ganti hutangmu karena tidak mampu menyiapkan hadiah untuk raja, bisakah kau beritahu aku siapa orang dibalik insiden telur ini?"

"Anda sungguh licik ya. Jadi Anda sudah mengenal Yuna rupanya."

"Kurang lebih. Dia juga menarik minatku. Aku belum pernah bertemu petualang seunik dia sebelumnya."

"Yah, sepertinya petualang tersebut adalah orang yang sama yang juga membenci Anda."

"...tunggu, kau bilang apa?"

"Yuna, dialah orang yang memasok telur-telur itu. Dia juga yang membuat kesepakatan dengan guild untuk tidak menjual telur-telur tersebut kepada siapa pun yang membeli menggunakan nama keluarga Fochrosé."

"Yuna pelakunya?"

Gadis itu membenciku? Aku merasa gelisah.

Saat pertama bertemu, aku merasa kalau dia adalah gadis yang menarik. Seketika ingatanku tentangnya berputar—rumahnya yang khas, kemurahan hatinya, serta berbagai prestasi yang sudah ia torehkan memenuhi kepalaku. Dia juga punya kepribadian yang unik. Yuna yang itu, dia membenciku? Aku merasa dia tidak begitu saat terakhir kami bicara.

"Boleh aku tanya apa sebabnya?"

"Anda sebaiknya bertanya langsung kepada Yuna."

Tipe wanita seperti itulah Milaine. Aku ragu akan dapat jawaban meski terus mendesaknya.

"Aku mengerti. Aku akan pergi menemui Yuna sekarang."

Aku meninggalkan guild dan bergegas ke rumah beruang Yuna.


Aku mengetuk pintu rumah Yuna dan menunggunya di luar. 

"Selamat datang, Lord Cliff. Ada urusan apa Anda kemari?" 

"Yuna, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa itu?"

"Kenapa kau melarang semua transaksi pembelian telur yang menggunakan nama keluarga Fochrosé?"

"Saya tidak paham apa yang Anda bicarakan."

"Aku memaksa Milaine bicara, tolong jangan marah padanya."

"Saya tidak marah. Lagi pula, saya sudah menyuruhnya untuk buka mulut jika itu menyebabkan masalah bagi guild."

"Jadi, bisakah kau beritahu aku alasanmu membuat perjanjian seperti itu?"

"Itu karena panti asuhanlah yang memproduksi telur-telur tersebut."

"...huh?"

"Intinya, saya melakukannya karena kesal."

"Mengapa aku tidak boleh membelinya hanya karena telur-telur tersebut diproduksi oleh panti asuhan?"

"Kau serius bilang begitu? Kau lupa sudah memangkas dana panti asuhan sedikit demi sedikit sampai akhirnya memutus dana tersebut secara total? Oh tentu saja, panti asuhan kan tidak punya kontribusi apa pun untuk kota, tapi bukan berarti kau bisa menjadikannya pembenaran untuk membiarkan anak-anak tersebut mati kelaparan, padahal ada masa depan yang menanti mereka. mereka yatim itu bukan semata-mata karena mereka mau. Aku tidak suka caramu mengobarkan anak-anak tersebut hanya karena mereka tidak berguna."

Yuna terus berbicara tanpa sedikit pun memberiku waktu untuk berpikir. 

"Anak-anak itu kelaparan," sambungnya, "mereka makan dari mengais sisa sampah. Para pengurus di sana bahkan rela mengemis, meminta makanan sisa dari penginapan dan kios-kios setempat. Mereka tidak punya baju ganti. Dinding tempat tinggal mereka berlubang. Mereka bahkan tidak punya selimut yang cukup hangat untuk menemani tidur mereka. Lantas mengapa pula mereka harus memberimu telur-telur dari Kokkeko yang sudah susah payah mereka budidayakan?"

"..."

"Selain itu, aku yakin kau tidak akan mati hanya karena tidak makan telur—toh kau kan seorang Lord."

Aku tidak paham apa yang Yuna katakan. Setiap detail baru yang ia ceritakan semakin membingungkanku.

"Awalnya aku ingin membalas perbuatanmu terhadap mereka, tetapi ibu kepala pengurus melarangnya. Dia bilang tuan tanah sudah cukup baik karena masih memberi mereka tempat tinggal."

Sementara aku mengumpulkan setiap pecahan dari cerita Yuna, aku mulai menyadari alasan Milaine membelanya—tapi aku sama sekali tidak memutus dana panti asuhan. Aku penasaran apa yang membuatnya berpikir seperti itu.

"Yuna, kau mungkin tidak percaya dengan apa yang kukatakan, tetapi aku sama sekali tidak memutus dana panti asuhan. Aku akan pulang ke rumah dan memastikannya. Setelah aku mengetahui apa yang terjadi, aku akan langsung kemari."

Aku segera kembali ke kediamanku. Bukan dengan berjalan, melainkan berlari. Aku perlu mencari tahu apa yang terjadi pada dana panti asuhan.


Aku tiba di ruang kerja dan langsung memanggil Rondo.

"Anda memanggil, tuanku?"

"Rondo! Ini penting—cepat cari tahu apa yang terjadi dengan dana panti asuhan."

"Anda ingin saya melakukan penyelidikan mengenai dana panti asuhan, tuanku?"

"Ya, temukan sosok yang sudah membuatku tampak seperti penguasa jahat."

"Baik, tuanku."

Rondo menundukkan kepalanya kemudian pergi. Emosiku siang itu tidak karuan. Akibatnya, aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku.


Sorenya, Rondo kembali ke ruanganku.

"Permisi, tuanku."

"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?"

"Ya, orang yang bertanggung jawab atas dana panti asuhan adalah tuan Enz Roland."

"Enz, kau bilang?"

Aku paham. Jadi selama ini dia yang bertanggung jawab atas dana tersebut. Bodohnya aku karena tidak menyadari hal itu.

"Tampaknya tuan Enz telah melakukan penggelapan pada dana panti asuhan."

"Apa?!"

Selain menyerahkan tugas kepada bawahan, tugas seorang pemimpin adalah mengawasi bawahannya tersebut dalam melaksanakan tugasnya. Setiap bulan, saat surat permohonan dana untuk panti asuhan melintas di mejaku, aku selalu menandatanganinya tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Akibatnya, dana yang seharusnya diserahkan kepada panti asuhan lenyap di tangan orang lain. Aku bisa paham kenapa Yuna marah padaku.

"Saya masih belum melakukan penyelidikan secara menyeluruh, tetapi kelihatannya tuan Enz telah memalsukan laporan keuangan dari setiap dana yang menjadi tanggung jawabnya. Selain itu, ia juga tampaknya terlilit hutang."

"Bagaimana dia bisa terlilit hutang sedangkan dia saja sudah banyak menggelapkan dana kota?"

"Dia kelihatannya cukup sering bermain wanita. Selain itu, istrinya juga suka mengoleksi berbagai perhiasan mahal. Anaknya sendiri bahkan tidak jauh berbeda tabiatnya dari sang ayah."

"Yang benar saja!"

Semua yang dia habiskan itu adalah uang kota.

"Apa dia bermain-main denganku?! Rondo! Segera kumpulkan prajurit dan kepung kediaman Enz. Jangan biarkan mereka kabur, aku ingin semua keluarga Roland dibawa kemari hidup-hidup!"

"Baik, tuanku."

Rondo kemudian meninggalkan ruangan. 


Setelah satu jam berlalu, orang-orangku kembali dengan membawa Enz yang tampak semakin gemuk dan subur, beserta istri dan juga anaknya. Mereka bertiga benar-benar sampah. Melihatnya saja sudah membuatku muak.

"Lord Cliff, ada kepentingan apa sampai Anda repot-repot mengirim prajurit untuk memanggil kami larut-larut begini?"

"Sekarang ini aku sedang kesal, jadi pilah kata-katamu dengan bijak dan jawab pertanyaanku."

"..."

"Apa kau yang menggelapkan dana panti asuhan?!"

"Saya tidak melakukannya."

"Panti asuhan bilang mereka tidak menerima dana apapun belakangan ini!"

"Yah, itu kan kata mereka. Mereka mungkin saja berbohong agar diberi dana lebih. Orang-orang seperti itu memang layak disebut sampah."

Kaulah yang sampah di sini!

Aku menahan emosiku untuk tidak memukulnya dan melanjutkan pertanyaanku.

"Tampaknya sebagian besar tugas yang kuserahkan padamu belum ada kemajuan. Bisa kau jelaskan kenapa?"

"Itu akan selesai dalam waktu dekat. Kami hanya sedang mengalami sedikit kendala," jawabnya, tetap tenang.

"Bagaimana dengan hutangmu? Aku dengar kau juga terlilit hutang."

"Itu hanyalah jumlah kecil. Saya bisa dengan mudah melunasinya, jadi Anda tidak perlu khawatir soal itu."

Sepertinya dia sama sekali tidak berniat untuk berbicara jujur.

"Maka tidak ada masalah kan jika aku menggeledah rumahmu?"

"Itu..."

Akhirnya, raut muka Roland berubah.

"Yah, kurasa aku tidak perlu minta izin, toh kami sudah mulai menggeledahnya."

"Apa kau pikir bisa lolos setelah melakukan semua ini? Aku akan melaporkanmu pada kakakku yang berada di ibu kota."

"Ini adalah kotaku. Segera setelah aku menemukan bukti, aku akan langsung mengeksekusi kalian. Lemparkan ketiga orang ini ke dalam penjara!" Suruhku kepada prajurit.

"Tunggu, biarkan aku menghubungi kakakku dulu!"

"Siapa saja, cepat bungkam mulut orang ini. Dia membuatku muak."

Para prajurit menyumpal mulut Roland dengan kain kemudian menyeretnya keluar.


Beberapa saat setelahnya, Rondo, yang kutugaskan untuk menggeledah rumah Roland, kembali.

"Apa kau menemukan sesuatu?"

"Ya, kami mendapat semua bukti yang diperlukan."

Wajah Rondo langsung berubah pucat.

"Ada apa?"

"Perbuatannya benar-benar tidak manusiawi."

"Apa memang seburuk itu?"

"Penggelapan dana, penipuan, pemerkosaan, pembunuhan, transaksi ilegal, dan masih banyak lagi lainnya."

"Pembunuhan?!"

"Kami masih menghitung jumlah mayat yang tersebar di penjara bawah tanah. Perbuatannya sungguh brutal, saya bahkan tidak percaya kalau itu dilakukan oleh manusia."


Laporan dari Rondo benar-benar membuatku syok.

Rupanya Enz biasa menyewa gadis-gadis muda dari pedesaan sebagai pelayan di rumahnya, melecehkan mereka hingga meninggal, kemudian membuang mayat mereka begitu saja di ruang bawah tanah. Karena gadis-gadis tersebut berasal dari desa, tidak seorang pun akan sadar kalau mereka hilang. Jika ada kekasih atau anggota keluarga mereka datang mencari, dia akan mengundang mereka ke rumahnya kemudian menyekap dan membunuh mereka. Hal itu ia lakukan berulang kali secara terus menerus.

Sang istri sangat gemar mengoleksi perhiasan. Tak jarang pula ia berhutang demi hobinya itu. Alhasil, Enz selalu menggelapkan dana kota untuk melunasi semua hutang-hutang istrinya.

Sang anak sering kali melecehkan wanita-wanita di kota. Ia bahkan tak segan menggunakan uang atau kedudukan sang ayah demi menutup mulut para korbannya. Dia juga punya kebiasaan memeras pedagang, mengancam akan menutup paksa bisnis mereka jika mereka menentangnya.

Alasan mengapa semua itu tidak pernah sampai ke telingaku sekarang jelas—Enz selalu menggunakan pengaruh kakaknya yang berada di ibu kota untuk menutupi segala tindak kejahatan yang ia lakukan. Namun meski begitu, ini adalah kotaku. Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya di sini.

"Eksekusi mereka."

Aku benar-benar kehilangan kesabaranku.

"Apakah Anda yakin? Kita mungkin akan menjadikan kakaknya yang berada di ibu kota sebagai musuh."

"Aku tidak peduli. Tinggal katakan kalau mereka dibunuh oleh bandit yang menyerang rumah mereka."

Keluarga Roland pun dieksekusi. Kami mengamankan barang bukti serta menyita semua aset yang mereka miliki. Kami juga menyelamatkan orang-orang yang disekap di ruang bawah tanah. Segera setelah luka-luka mereka dirawat, mereka akan langsung dipulangkan ke tempat asal mereka. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke rumah Yuna.


"Aku minta maaf."

Aku menundukkan kepalaku dan menjelaskan kenapa dana panti asuhan bisa terhenti. Normalnya, aku tidak akan memberitahu rakyat biasa mengenai hal ini, tetapi aku merasa kalau Yuna perlu tahu.

"Rupanya selama ini bawahanku telah menggelapkan dana panti asuhan tanpa sepengetahuanku. Aku akan kembali menyalurkan dana tersebut sesegera mungkin."

"Kau tidak perlu melakukannya."

"..."

"Mereka sekarang sudah bisa menghasilkan uang sendiri, jadi tidak usah."

"Tapi itu..."

Aku masih merasa bersalah atas apa yang menimpa panti asuhan.

"Jika kau memang memaksa, kenapa tidak menggunakan uang tersebut untuk kepentingan lain yang lebih berguna?"

"Seperti?"

"Mendirikan lembaga pengawas misalnya, untuk memastikan hal-hal bodoh semacam itu tidak terulang kembali."

"Lembaga pengawas?"

"Ya, mereka akan memastikan dana yang disalurkan tidak disalahgunakan dan sampai kepada si penerima. Kita ambil contoh pada panti asuhan, orang yang bertanggung jawab sebagai pengawas akan mengunjungi panti asuhan secara berkala setiap bulannya untuk memastikan dana yang disalurkan sampai kepada mereka. Tidak sampai disitu saja, dia juga akan memastikan si penerima menggunakan dana tersebut dengan benar dan tidak menyalahgunakannya. Dengan begitu, melakukan tindak korupsi dan penyalahgunaan dana akan semakin sulit. Akan tetapi, jika orang yang kau serahi tanggung jawab tersebut ternyata juga tidak amanah, maka tidak ada gunanya melakukan hal itu."

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Bukankah itu sudah jelas? Kau tidak bisa memilih sembarang orang untuk mengemban tugas tersebut—harus orang yang benar-benar kau percayai dan rela mengorbankan apapun demi mendapat kepercayaanmu. Kau pasti setidaknya punya satu orang yang memenuhi kriteria tersebut, bukan?"

"Kelihatannya aku punya seseorang dengan kriteria tersebut."

Itu benar, aku punya Rondo.

"Benarkah? Bagus kalau begitu."

Yuna tidak melanjutkan kata-katanya setelah itu.

"Jadi, kau yakin panti asuhan akan baik-baik saja?"

"Ya, kau tidak perlu khawatir."

"Terima kasih, aku dan anak-anak panti asuhan benar-benar tertolong berkatmu."

Aku meninggalkan rumah Yuna dan kembali ke kediamanku. Ada segunung pekerjaan yang menantiku di sana. Tampaknya aku harus memberhentikan Rondo dan mulai mempekerjakannya sebagai asisten pribadiku dari sekarang.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley