Rabu, 31 Juli 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 39. Invasi Tumbuhan

Chapter 39. Invasi Tumbuhan


"Raphtalia, Firo, hati-hati."

Sekarang, musuhnya adalah tanaman.
Menurut pengetahuanku yang luas tentang herbal medis, tanaman di depanku ini cukup unik.
Berbagai buah matang dapat ditemukan dari rantingnya yang merambat dan kentang dapat dilihat pada akarnya.
Bukan itu saja, ternyata ia juga memiliki kemampuan memuntahkan racun dan menempelkan parasit ke tubuh manusia.
Apakah herbisida bisa efektif melawannya?

Mengalahkannya secara fisik sepertinya juga bukan rencana yang bagus ...
Monster tersebut menyerang kami dengan rantingnya yang merambat.

"Haa!"
"Yaa!"

Raphtalia dan Firo masing-masing memotong beberapa ranting.
Tapi, kita sudah dikelilingi oleh mereka.
Mungkin aku juga harus mencoba sihir ...

"Aku adalah Hero Perisai yang memerintahkan sumber dari kekuatan. Aku telah membaca dan menguraikan hukum alam. Semoga kekuatan alam membelaku!"
"Fast Guard!"

Aku menerapkan sihir pertahanan pada Raphtalia dan Firo.
Sihir ini meningkatkan pertahanan target dengan persentase. Itu adalah sihir dukungan yang bersinar ketika target memiliki Pertahanan tinggi.

"Terima kasih, Naofumi-sama"
"Terima kasih ~"

Mereka berterima kasih kepadaku ketika mereka terus memusnahkan tanaman merambat yang menyerang.
Meskipun kami menghancurkan tanaman di kiri dan kanan, masih sulit untuk maju.
Untuk membersihkan jalan, kita harus menggunakan sihir yang kuat,  aku kira satu-satunya pilihan kita saat ini adalah mundur.
Tapi setidaknya, kita akan memusnahkan musuh di sini.
Ada kemungkinan besar bahwa iblis yang kuat bersembunyi di dalam desa.
Menurut cerita dari desa, tidak ada cara pasti untuk memusnahkan tanaman.
Lalu jika serangan frontal penuh ...
Itu tidak mungkin, pasti ada cara lain.
Karena tumbuhan yang merambat kurang dalam hal kekuatan serangan, lajuku seharusnya tidak terhambat.

"Pokoknya, aku akan menyelidikinya sendiri dulu."
"Oke!"
"Oke ~!"

Aku mulai berlari ke arah akar tanaman di pusat desa.
Itu dipenuhi dengan tanaman iblis.
Kurasa, ini masih bisa ditangani oleh kami bertiga.
Namun, aku cukup khawatir dengan pertahanan Raphtalia dan Firo.

"Humm ......"

Nama iblisnya adalah Bio Plant, Plantriwe, dan Mandoragora.

Bio Plant adalah nama umum untuk semua tanaman. Plantriwe adalah iblis dalam bentuk manusia yang terbuat dari tanaman merambat. Mandoragora tampaknya menjadi benteng tanaman yang tidak bergerak.
Menurut Firo, Plantriwe menyebarkan racun serbuk sari bunga di atas kepalanya.
Mandoragora menyemprotkan asam dari rantingnya untuk melemahkan dan menyeret mangsanya.
Bio Plant adalah iblis yang menghasilkan keduanya. Kadang-kadang, ranting tersebut membengkak dan iblis-iblis ini keluar dari dalamnya.

Aku tersenyum puas ketika herbisida membasmi iblis-iblis ini.
Tampaknya perisai tidak menganggap herbisida sebagai serangan.
Apakah karena ini hanya tanaman yang sangat agresif dan sebenarnya bukan iblis?
Aku ingin tahu apa kriterianya.
Apakah prinsipnya sama dengan memercikkan air suci dan sihir pemulihan pada Monster sejenis Zombie?
Ada juga fakta bahwa obatku dapat menghancurkan monster parasit ini....
Aku tidak mengerti.
Mungkin parasitnya adalah patogen dan obat penyembuhanku efektif melawannya.

"Jadi, apa yang kita lakukan?"

Plantriwe dan tanaman merambat terus menyerangku tanpa henti.
Serangan itu sendiri tidak berdampak apa-apa, tetapi hidungku sedikit membengkak karena menghirup racun.
Asam ini juga menyusahkan. Tampaknya sangat efektif dalam menurunkan status Pertahanan.
Tetap saja, mereka tidak bisa menerobos pertahananku. Snake's Poison Fang (Intermediate) membuat efek itu tidak berguna.
Ini sangat umum. Musuh adalah tanaman dan menggunakan racun.

"Raphtalia"
"Uhk ...! Ada apa?"

Kondisi udaranya tampak buruk bagi Raphtalia ...
Sistem pernapasan Raphtalia sudah rusak sebelumnya. Meskipun dia sembuh, itu mungkin masih lemah.

"Ini, bawa herbisida ini untuk jaga-jaga."
"Ah, oke!"

Aku melemparkan beberapa herbisida ke Raphtalia. Aku harap ini akan berguna dalam keadaan darurat

Raphtalia tertangkap oleh tanaman merambat dan sepertinya dia terjerat.

Cara tanaman merambat ini mengingatkanku pada Hero wanita dari eroge ...

"Naofumi-sama?"

"Kau memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan, bukan?"

Namun, ketika tanaman merambat membungkus Raphtalia, dia merobeknya dengan tenang.
Tanpa diduga, sepertinya mereka tidak memiliki daya tahan.

"Naofumi-sama? Ayo cepat pergi!"
"O-oke"

Ketika aku tiba di pusat desa sebelumnya, aku melihat pohon raksasa.
Tidak, tunggu, jika aku perhatikan dengan cermat, itu tanaman merambat raksasa.

"Itu sepertinya tubuh utama ..."

Tiba-tiba, mata besar muncul di tubuh dan menatap kami.

"!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Itu mengerikan.
Tapi, itulah badan utamanya.

"Goshujin-sama ~ Firo akan masuk"

Firo melakukan lompatan ke bola mata dari tubuh utama. Namun, dia dicegat oleh tanaman merambat raksasa.

"Ei!"

Firo menendang tanaman merambat di udara, menggunakannya sebagai pijakan, tetapi jarak yang ia dapatkan tidak mencukupi.

"Goshujin-sama ~ "
"Aku tahu! Air Strike Shield!"

Aku menggunakan Air Strike Shield di mana Firo akan terjatuh untuk membiarkan dia menggunakannya sebagai pijakan.
Firo melompat dari perisai dan langsung menuju bola matanya lagi.

"Tei!"

Bicha! Firo menendang bola matanya.
Itu sangat menjijikan ...

"!!!!!!!!!!"

Bumi bergetar saat tanaman merambat bergetar.
Apakah masih belum mati bahkan setelah bola mata dihancurkan?
Hmm ...... Apa yang terjadi?

"Dia belum mati."
"Aku juga berpendapat seperti itu."

Dengan suara aneh, bola mata itu beregenerasi.
Pada saat yang sama, aku melihat benih tanaman di tengah bola mata.

"Raphtalia, Firo. Tubuh utama ada di dalam bola mata itu. Sebarkan herbisida di dalamnya."

Waktu cooldown sudah berakhir. Aku bisa menggunakan Air Strike Shield lagi. Ngomong-ngomong, Plantriwe dan Mandoragora menyerangku secara bersamaan.
Tetapi tidak melakukan apa-apa sehingga aku dapat menanganinya sampai kapanpun.

"Aku mengerti!"
"Roger ~!"

Raphtalia Melompat ke punggung Firo sambil mendekati bola mata yang sedang beregenerasi.
Bola mata itu pasti ancaman prioritas tertinggi dan monster tersebut melepaskan serbuan tanaman merambat pada mereka.

"Prison Shield!"

Aku menggunakan Prison Shield untuk melindungi mereka berdua.
Perisai akan tetap berada di udara, kecuali jika serangan cukup kuat untuk menerobos.
Waktu efektifitasnya adalah 15 detik.
Sementara itu, tanaman merambat memantul dari Penjara.
Ups ... Tanaman merambat mengelilingi Penjara.
Setelah 15 detik, Penjara hilang. Pada saat itu, aku menggunakan Air Strike Shield di bawah Firo untuk digunakan sebagai pijakan.

"Tei!"

Pedang Raphtalia menyala dan tanaman merambat di sekitar Firo terhempaskan.
Tanaman merambat dipotong dengan indah dan Firo berhasil melompat dari perisai.
Dia menendang bola mata itu dua kali.

"! ?????"

Regenerasi bola mata telah berhenti.
Dengan memanfaatkan kesempatan ini, Raphtalia menyebarkan herbisida di atas luka bola mata.

"!!!!! ?????"

Getaran besar yang menyebar di sekitar Bio Plant.

"Apakah kita berhasil?"

Aku bahkan tidak peduli jika aku memunculkan flag baru, serangan ini bahkan tidak cukup untuk membuatku gatal.
Namun, Bio Plant mulai bergerak lagi.

"Aku minta maaf. Sepertinya aku tidak menyebarkan herbisida dengan cukup baik."
"Tidak, kau melakukannya dengan benar. Sepertinya herbisida tidak cukup efektif."

Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan ...
Oh, itu mungkin berhasil.
Mengoleskan obat secara pribadi membuatnya lebih efektif. Aku penasaran apa yang akan terjadi jika aku sendiri yang menyebarkan herbisida.

"Yah, tidak ada salahnya untuk mencobanya nanti."

Aku mengabaikan musuh di sekitarku dan mengambil herbisida dengan satu tangan.
Meskipun baru-baru ini, aku menyadari bahwa area pertahananku semakin membesar, aku dapat terus melaju melewati musuh meskipun aku dikepung.
Namun, ini tidak berlaku untuk seranganku.
Aku berjalan melalui sejumlah besar iblis seolah bukan apa-apa.
Akhirnya, aku mencapai Bio Plant.

"Efeknya mungkin meningkat bahkan lebih jika aku menggunakan herbisida saat mengendarai Firo."

Aku menyebarkan herbisida di semua akarnya.

"!!!!!!!!!!!!!!!!!! ???????????"

Bio Plant kejang-kejang. Tampaknya itu adalah kematiannya.
Bio Plant berwarna kecoklatan saat bola matanya mengering.
Setelah itu, semuanya mulai layu.
Seluruh Bio Plant hancur dan kami mengungsi.

"Oooh ..."

Semua iblis lainnya mulai berubah warna menjadi kecokelatan dan layu. Semuanya hilang kecuali buah-buahan yang tumbuh di tubuh mereka dan kami pergi.
Dan ... Menggantikan tempat Bio Plant berada, terdapat biji tanaman yang mengkilap.
... Akan berbahaya jika meninggalkannya di sini ...

"Aku akan menyimpannya untuk sementara waktu. Mungkin perisaiku bisa menyerapnya."
"Oke"
"Makanan!"

Kami mengumpulkan biji-bijian sementara Firo mengisi perutnya dengan sisa buah dan kentang.




TL: Yukichan
EDITOR: Isekai-Chan

Selasa, 30 Juli 2019

Death March kara Hajimaru Isekai Kyousoukyoku Bahasa Indonesia : Chapter 17-25. Demon God (2)

Chapter 17-25. Demon God (2)


Satou di sini. Dalam manga idol jaman dulu, Kau sering melihat adegan di mana seorang idol berbicara dengan karakter utama dari belakang saat TV sedang menampilkan idol tersebut, kemudian karakter utama mulai berulang kali membandingkan idol di TV dan yang asli dengan raut muka tidak percaya. Mungkin terlihat klise, tapi aku sangat suka adegan itu.



『Oke! Aku akan segera kesana! 』

Setelah menerima laporan dari Arisa di ibukota tentang [Demon god di langit], aku melakukan kontak mata dengan dewa Tenion untuk mendapatkan persetujuannya sebelum pergi ke tempat Arisa dengan magic space, Teleport.

Aku mengamati sekeliling tempat tujuan.

Tidak apa-apa, Arisa dan para gadis tidak terluka.

Aku menghela nafas lega dan mengkonfirmasi situasinya.
Rupanya ini berada di dalam anjungan kapal yang diparkir di halaman Istana Duchess Mitsukuni di ibukota kerajaan.

Melihat ke atas melalui jendela anjungan, aku sesuatu yang tampak sebagai demon god sedang diproyeksikan di udara.

Arisa menggumamkan kata-kata seperti flag di Familiar Link, "Ini kemenangan kita sekarang", tetapi karena sepertinya dia mengatakan itu tanpa sadar, aku mengabaikannya.
<TLN : Maksudnya gara-gara arisa ngomong kayak gitu :v jadi muncul flag lain, emang dasar si arisa xD>

『Biar aku simpulkan.』

--Bahasa Dewa?

『Tampaknya para dewa tanpa belas kasih telah memutuskan pemusnahan kalian. Demi melindungi dirimu dari kemusnahan, aku akan mempertaruhkan semua kekuatanku dan melawan dewa-dewa jahat itu. Jangan berdoa kepada tujuh dewa pilar jika Kau tidak menginginkan kehancuran. Pergilah ke menara jika Kau memilih untuk bertarung bersamaku. Aku akan memberikan Perlindungan Ilahi ku. 』

Aku melihat ke gadis-gadis itu dan tampaknya mereka mengerti apa yang dikatakan demon god itu.

"Arisa, di mana cincin terjemahanmu?"
"Itu tersimpan di dalam golden armorku, haruskah aku mengeluarkannya?"

Aku menjawab kembali 'tidak perlu'.
Sepertinya Demon god telah menggunakan semacam magic atau Otoritas untuk membuat kata-katanya dapat dipahami oleh siapa pun yang mendengarnya.

"Perlindungan, dapatkan ~?"
"Ya, memang. Mari kita pergi ke menara, semuanya."

Tama dan Putri Sistina mengatakan sesuatu yang aneh.

"Ada apa dengan Tama nodesu?"
"Helm."
"Pochi, pakaikan Tama helm armornya! Nana, penutup kepala Tina-sama!"

Sementara Pochi dan Nana bergegas, aku mengeluarkan magic mind [Resist Mind Control] kepada para gadis.

"Jangan bilang, pengontrol pikiran?"
"Ya, sepertinya begitu."

Aku menegaskan Arisa saat memeriksa Peta.
Ribuan penduduk ibukota sudah mulai menuju ke menara. Hanya ada beberapa rakyat yang dicuci otaknya meskipun Tama yang berlevel tinggi dan sang putri jatuh di bawah pengaruhnya.
Aku ingin tahu apakah ada beberapa kondisi untuk itu, tetapi ada masalah yang lebih mendesak untuk diperhatikan sekarang.

"Master."
"Aku tahu."

Aku mengeluarkan tongkat yang dibuat dari Ranting Emerald World Tree dari Storage.
Ini bukan giliran untuk magic force terlarang [Divine Destruction], tapi untuk magic mind terlarang [Dominate Mass Psychology].
Ini adalah jenis magic terburuk yang awalnya dikembangkan oleh seorang diktator untuk mencuci otak warganya sendiri.

--Jangan biarkan Demon god menyesatkanmu.

Aku memberitahu orang-orang melalui magic.

Penanda di Petaku menunjukkan pergerakan baru.

Melihat sekeliling, Tama dan Puteri Sistina yang masih gelisah bahkan setelah mengenakan helm dan penutup kepala yang mengendalikan pikiran mereka telah tenang setelah menerima spell terlarang milikku.
Tama dengan putus asa dipeluk oleh Pochi, sang putri ditegur oleh Mia, 'Ceroboh'.
Yah, aku pikir itu tak terhindarkan mengingat lawannya adalah Demon god.

Nah, sekarang saatnya untuk melihat-lihat dunia dengan Unit Arrangement--.



Ketika aku kembali setelah berkeliling dunia, gadis-gadis itu pindah ke halaman mansion.
Aku rasa pengelihatan kita memang terlalu terbatas di dalam anjungan.

『- Tampaknya pasukan para dewa ada di sini.』

Demon god bergumam saat dia menatap langit.
Langit terbuka, dan dari celah itu, muncul malaikat - atau lebih tepatnya, bola putih dengan cincin cahaya putih di sekitar mereka.

"Oh tidak, mereka membidik ke daratan -"
"Tidak apa-apa. Mereka tidak ada di kapal ini."

Aku pikir Demon God menyiarkan rekaman dari suatu tempat, tetapi aku tidak dapat menemukannya di mana pun.

Sebuah penghalang ungu besar memblokir magic serangan yang dilepaskan oleh malaikat berbentuk bola itu.

Ini rekaman yang sangat intens, aku mundur karena refleks. Seperti film 4DX, hawa panas terasa dan bangunan bergetar untuk mencocokkan apa yang terjadi di video.
Orang awam pasti akan mengira rekaman ini sebagai kenyataan.

『Demon! Lindungi dunia! 』

Lingkaran magic muncul di sekitar Demon god dan dari sana, pasukan demon keluar.

"Itu rekaman juga kan?"
"Ya, kemungkinan besar."

Aku pikir itu mungkin diproyeksikan dari sub-space yang diciptakan Demon god.

Cahaya oranye terang dan berwarna hijau meluap keluar dari celah itu.

『Kau bodoh!』
『Berani-beraninya kau menodai nama dewa, dasar tak tahu malu!』

Wah, sepertinya para dewa berhadapan langsung dengannya.

Dewa Heraruon melepaskan petir berwarna oranye dan pedang hijau berbentuk sabit milik Dewa Garleon.
Intensitas yang aku rasakan dari serangan-serangan itu menyaingi tembakan dewa Zaikuon.

Pelindung berlapis Demon God memblokir serangan itu saat hampir mencapai daratan.
Rekaman itu menunjukkan gelombang kejut kecil yang bocor keluar dari pertempuran, menghancurkan gunung dan ladang dikejauhan.

『Tidak ragu-ragu dengan kerusakan yang Kau sebabkan kepada orang-orang yang hidup di bawah, namun Kau menyebut dirimu sendiri dewa!』
『Kau dewa pencuri rendahan, jangan berbicara tentang nama dewa.』
『Mengapa kau tidak mengerti bahwa keberadaan dirimu justru yang membuat kepercayaan jatuh ke dalam kekacauan!』

Aku mendengarkan ringkasan Arisa tentang percakapan Demon God sambil mengabaikan pertengkaran di antara para dewa.
Ada banyak hal yang ingin aku balas, tetapi yang lebih penting -.

"Kenapa dia melakukan ini sekarang?"

Seharusnya ada waktu yang lebih tepat jika tujuannya adalah untuk menyalahkan para dewa.

『Berkat Zaikuon idiot yang tidak berharga.』

Suara itu menyerupai suara dewa yang mengalir dari atas.



"--Demon God."

Di sana berdiri Demon god mengenakan topeng iblis.

『Gunakan ‘-sama’ untuk memanggilku! Aku akan mengutukmu menjadi botak huuh』
『Benar, benar! Pujilah dia! Aku akan memperburuk sakit pinggangmu huuh. 』

Gadis-gadis kecil berambut merah muda yang memanggul sabit ungu muncul di sekitar Demon god.
Melihat itu, para gadis mengambil formasi pertempuran. Akan sangat buruk jika ini berubah menjadi pertarungan habis-habisan di tengah ibukota, jadi aku mengirim sinyal [tunggu instruksi] kepada para gadis, dan melangkah maju ke arah Demon god.

『Apakah kau tidak berhadapan dengan para dewa?』

Dari sensasi yang kurasakan dari para dewa yang kutemui sebelum datang ke sini, yang diproyeksikan di langit bukan sekadar rekaman.

『Para dewa sedang ditangani. Itu hanyalah salah satu dari Divine Spiritku. 』

Demon god melangkah mendekat ke arahku.

『Apakah ada yang bisa aku bantu?』
『Pikirkanlah.』

Aku bertanya kepadanya alasan dia datang ke sini dan meninggalkan para dewa kepada Divine Spiritnya, namun dia sudah memberi aku petunjuk.

Dia berkata, "Berkat Zaikuon idiot yang tidak berharga" ketika dia muncul, bukan.

『Apakah Kau ke sini karena dendam?』

Demon god mendengus.
Dia tidak menyangkal atau membenarkannya kurasa?

『Atau mungkin Kau berencana untuk membiarkan dewa Zaikuon mengamuk dengan memberinya kekuatan terlarang dan mengalahkanku, lalu Kau akan pergi dan ikut campur tangan ketika dia tak terkendali dan akan menghancurkan negara-negara di dunia?』

Demon god terlihat tidak terpengaruh, tetapi gadis-gadis berambut merah muda di sekitarnya tersenyum dan tertawa.

『Bzzt salah.』
『Bukan master yang akan campur tangan.』
『Dewa Zaikuon yang mengamuk akan berkelahi dengan para dewa itu sendiri.』
『Dan tepat ketika keduanya hampir kalah, kita akan masuk untuk mendapatkan kuntungan.』

Gadis-gadis kecil membuat begitu banyak keributan.
Kurasa mereka salah mengira [keuntungan] dengan [kuntungan]?

Yah terserahlah.

Dari apa yang dapat aku kumpulkan dari gadis-gadis kecil itu, mereka berencana untuk membuat dewa Zaikuon dan para dewa saling bertarung, membuat mereka kelelahan, tetapi karena aku mengalahkannya, aku telah secara efektif melemparkan kunci pas ke dalam rencana Demon god?
Maksudku, aku bahkan membantu tipuannya untuk mencuci otak orang di seluruh dunia, kupikir itu wajar baginya untuk menyimpan dendam. Tidak salah lagi.

"Sepertinya itu karena dendam."

Ucap Arisa yang mengundang tatapan Demon God kepadanya.
Aku berpindah dengan Ground Shrink dan berdiri di depan Arisa untuk melindunginya dari pandangan itu.

『Aku punya gambaran kecil yang muncul.』

Demon god bergumam dengan tidak senang.

『Urusanku hari ini hanya tertuju padamu.』

Demon god menunjuk ke arahku.

"Tidak masalah bahkan jika kau seorang dewa, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Master."

Liza menyiapkan tombak naganya dengan ekspresi tegas di wajahnya, yang berdiri di sampingnya adalah Tama dan Pochi yang juga memegang pedang taring dragon mereka untuk melindungiku.
Nana juga mengaktifkan mode [Impregnable Castle] tahap akhir, sementara anggota penjaga belakang mengganti tongkat dan senjata mereka ke status aktif.

Melihat itu, CLANK, gadis-gadis berambut pink mengubah sabit mereka agar siap untuk pertempuran.

『Mundurlah.』

Dengan satu kata dari Demon God, gadis-gadis berambut merah muda itu membatalkan posisi bertarung mereka.

Log menunjukkan bahwa aku telah menolak [Coercion (Geass)].
Yah, aku rasa setidaknya memiliki kekuatan sebanyak itu cocok untuk disebut sebagai dewa ...

『Fumu, menentang kata-kata dewa ya.』

Demon god menatapku dan para gadis dengan penasaran.

Meskipun gadis-gadis itu masih dalam posisi siap bertarung, mereka tampaknya menderita karena tekanan mental yang berat.
Golden Armor dan SilverArmor dilengkapi dengan fungsi yang menolak magic mind, tetapi bahkan fungsi-fungsi itu tampaknya tidak dapat sepenuhnya bertahan melawan Geass yang diberikan oleh dewa.

"Menarik."

Tekanan yang datang dari Demon god menghilang.

Sebagai gantinya, dia memberikan kami tatapan haus darah.

"<< Dragonic Acceleration >> nanodesu!"
"<< Dragonic Eater >> ~?"
"<< Dragonic Penetrate >> !!"

Gadis-gadis Beastkin bereaksi terhadap tatapan haus darah dan bergegas ke arah Demon God.

Pochi menerobos melewati lingkaran akselerasi yang diberikan oleh golden armornya memasuki kondisi dipercepat, sementara klon Tama yang tak terhitung jumlahnya menukik pada Demon god dari semua sisi.
Liza yang menggunakan exoskeleton miliknya mengikuti di belakang, menyerbu Demon God dengan kecepatan dua kali lipat dari Pochi.

Untuk mendukung para gadis, aku menggunakan Ground Shrink juga -.

Pedang muncul di hadapanku. Aku mengambil holy sword dari Storage. Bilahku pecah berkeping-keping. Oh sial. Aku menghindar dengan Ground Shrink. Pedang yang menyerempetku bergerak seperti Flexible Sword Magic. Perlengkapan Nanashi terpotong seperti terbuat dari kertas. Berbahaya. Itu pasti Dragon Rendering Sword. Yang disebutkan oleh Dog-head.

Sudah lama sejak aku memasuki mode berpikir yang dipercepat.

Aku berkonsentrasi pada cara-cara untuk mendukung para gadis sambil menangkis serangan dari Dragon Rendering Sword dengan Flexible Sword Magic yang sudah ditingkatkan dan holy sword buatan tangan.

Pedang taring dragon Pochi dan Tama dan tombak dragon Liza diblokir oleh perisai yang muncul di hadapan Demon god.

"Tombak Dragon yang『 Menembus Semuanya 』, diblokir ?!"
"Itu curang nanodesu!"
"Unbalibabo ~?"
<TLN : Unbelieveable = tidak dapat dipercaya>

--Tidak, itu berhasil menembusnya.

Lapisan perisai baru dapat diproduksi dengan cepat setiap kali tombak dragon dan pedang taring dragon menembusnya.
Itu pasti Divine Dancing Armor yang disebutkan oleh Dog-head.

"Ouchie ~"

Beberapa klon Tama berusaha menyelinap melalui celah di antara perisai, tetapi mereka menghilang karena perisai muncul kembali dengan cepat.

"Giant Shield."
"Hyper Deracinator."

Magic pertahanan Hikaru dan Arisa muncul di antara aku dan Dragon Rendering Sword, tetapi pedang itu langsung menembusnya.

"Bidik - dan tembak!"

Lulu menembak bagian pedang dari Dragon Rending Sword dengan acceleration gun dalam upaya untuk mengubah lintasannya, tetapi peluru itu hancur berkeping-keping sebelum bisa mencapai pisau.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Master, jadi aku memberi tahu."

Nana beralih ke mode Castle bergerak << Absolute Throne >> dan menempatkan dirinya di antara aku dan pedang.

"Darurat, Throne telah ditembus, jadi aku melaporkan."

Nana segera mengaktifkan Phalanx sekali pakai satu demi satu, tetapi mereka semua hancur berkeping-keping tanpa perlawanan.
Kalau terus begini, Dragon Rending Sword akan menusuk Nana.

Kemudian--.

Aku bertukar tempat dengan Nana menggunakan Unit Arrangement, dan menggunakan salah satu kartu As ku di lengan baju yang telah aku siapkan sebelumnya.

『Dragon Rendering Sword ?!』

Aku menangkis Dragon Rendering Sword Demon god dengan magic swordku sendiri yang diciptakan dari magic [Dragon Rendering Sword (Dragon Slayer)] yang aku peroleh dari bocah Shin si Raja Palsu.

Dragon Rendering Sword yang aku hasilkan lebih lemah.

Aku berhasil menghadang Dragon Rendering Sword Demon god, tetapi dengan mengorbankan Dragon Rendering Sword milikku yang berubah menjadi pecahan berkeping-keping.
Sayangnya, aku tidak tahu magic Divine Dancing Armor. Bahkan [Karisfel, Writings of Wisdom] yang kudapat dari dewa, Karion tidak mengetahu apapun tentang Dragon Rending Sword dan Divine Dancing Armor yang berasal dari Demon god.

『Kau mengetahui itu dari [Master Wizard] ya ...』

Demon god menebak dengan benar.

Dragon Rending Sword kembali ke sisi Demon god sebelum menghilang.
Pada saat yang sama, gadis-gadis beastkin yang berusaha sekuat tenaga untuk menembus Divine Dancing Armor terhempas oleh sejenis gelombang kejut.

『Manusia dan pertumbuhannya yang luar biasa.』

Disaat yang sama dengan gumaman Demon god, gadis-gadis kecil berambut merah muda kembali ke sisinya.
Sepertinya mereka berhasil menahan anggota silver armor.

『Kalau begitu, apakah Kau memahami perbedaan dalam kekuatan kita sekarang?』

Aku hanya bisa menyetujui Demon god.
Bahkan jika aku berhasil mengatasi satu Dragon Rending Sword, pada saat ini, Demon god tidak diragukan lagi memiliki kekuatan lebih tinggi dariku.

Tapi aku punya cara untuk menghadapinya.

Dragon Rending Sword dan Divine Dancing Armor yang digunakan oleh Demon god memanglah kuat, namun aku punya firasat bahwa divine sword dapat melakukan sesuatu terhadap mereka.
Namun, itu bukan ide yang baik untuk mengandalkan Divine Sword saja. Jika itu dicuri, maka aku tidak akan bisa melakukan apapun untuk melawannya. Aku butuh sesuatu selain senjata untuk menghadapinya.
Maksudku, aku masih memiliki Meteor Shower dan magic anti-god, jika aku bisa menariknya ke suatu tempat yang sepi.

『Mari kita kembali ke topik yang sedang dibahas.』

Demon god melepas topeng iblisnya saat dia mengatakan itu.

Di balik topeng itu--.


Note :
Munculah sosok ayahnya :v dan berkata “Im your father” /lol
Yah, menggantung kembali x’D mimin penasaran siapa itu demon god~ tapi harus menunggu minggu depan :’v


※ Update berikutnya direncanakan keluar pada 6/8 atau 7/8



TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 7 : Chapter 6 - Versus Roh Kura-kura, Awal

Volume 7
Chapter 6 - Versus Roh Kura-kura, Awal


Satu jam berlalu.

"Roh Kura-Kura bergerak!" Filo berteriak dari posnya di depan kereta. Aku melihat keluar dari belakang kereta untuk melihat makhluk itu. Ia mengalihkan mata merahnya ke pasukan koalisi dan mulai mengejarnya.

“Sekarang pertempuran akan dimulai kapan saja. Tuan Iwatani, semoga Kau beruntung,” kata ratu. Dia tadi sedang berbicara dengan Ost dan Rishia, tetapi sekarang dia turun dari kereta.

Aku menghabiskan waktu satu jam membaca tumpukan laporan yang kami terima. Butuh waktu lama untuk memahami tumpukan dokumen itu, karena dipenuhi dengan kalimat dan kutipan yang ditulis dengan huruf asing. Aku tidak bisa mengatakan berapa banyak bahasa berbeda yang terkandung dalam laporan, tetapi sungguh menakjubkan bahwa Rishia dan ratu dapat membacanya tanpa kesulitan. Aku harus meminta mereka untuk membacakan masing-masing bagian itu kepadaku, dan waktu telah berlalu. Setelah aku menyelesaikan setengah dokumen, aku mulai melompati apa pun yang ditulis dalam kalimat yang tidak aku mengerti.

Dan untuk cerita yang Ost dengar tentang penyegelan Roh Kura-kura, aku tidak mengerti apapun tentang hal itu yang belum dimasukkan ke dalam laporan. Selain itu, aku juga sudah bosan mendengar pengulangan terus-menerus, "banyak pengetahuan telah hilang selama bertahun-tahun." Tentu saja, binatang buas itu telah disegel sejak lama, tapi bagaimana itu bisa menjadi alasan untuk melupakan semua yang pernah kalian ketahui tentang hal itu ? Aku bertanya kepada ratu bagaimana hal itu bisa terjadi, dan dia berkata bahwa banyak catatan telah dibakar dan hilang selama perang berabad-abad.

Aku kira jika Kau kehilangan legenda dan catatan suatu negara — terutama jika negara itu sendiri menghilang — tidak ada cara untuk memulihkan informasi tersebut. Bahkan negara tempat Spirit Tortoise Shell telah berganti nama dan pemerintahan setelah melewati dua kali perang.

Tetapi ada juga legenda dalam dokumen yang mengatakan senjata tujuh pahlawan bintang itu telah menghilang, sampai pahlawan baru tiba dan menemukannya. Bahkan ada legenda yang mengatakan, meskipun jam pasir naga waktu itu belum ada, tujuh pahlawan bintang telah meminta akses ke sana. Aku rasa di dunia mana pun Kau berada, setiap negara memiliki versi sejarahnya sendiri.

"Jadi? Apakah Kau menemukan informasi yang berguna? "

" Feh. . " Rishia terkejut, dan entah bagaimana terdengar seperti ketakutan.

Apakah aku terdengar cukup marah untuk membuatnya takut? Dia takut segala hal. Aku menduga dari tanggapannya yang selalu diintimidasi, itu berarti dia tidak memiliki kepercayaan pada apapun yang dia pelajari atau dia tidak tahu harus berkata apa.

“Um, yah, tentang metode khusus yang dibutuhkan untuk mengalahkan Roh Kura-kura. . . Mereka mengatakan itu dapat dikalahkan, jika kau bisa masuk ke dalam tubuh monster itu. "

“. . "

Apakah dia pikir aku bisa merangkak naik ke atas untuk melihatnya?

Di kejauhan, Roh Kura-kura menembakkan duri-duri besar seperti peluru misil dari punggungnya. Ledakan dan kilatan cahaya segera menyusul, dan bayanganku mengarah ke Rishia. Hanya itu yang terjadi, tetapi untuk beberapa alasan Rishia mengira aku marah padanya, dan dia mulai ketakutan.

"Feh! Dan mereka mengatakan bahwa ada informasi yang ditinggalkan oleh para pahlawan kuno, tertulis di batu. . "

Tertulis dalam batu? Itu pasti pesan yang aku temukan dari para pahlawan lama. Pesan-pesan itu sering ditulis dalam bahasa Jepang, dan tidak ada orang lain di sekitarnya yang bisa membacanya.

Tetapi semua pahlawan berasal dari dunia yang berbeda, dan waalupun semua dunia itu memiliki Jepang di dalamnya, mereka masih berbeda. Itu berarti tata bahasa dan kosakata bisa berbeda juga. Aku tidak begitu yakin dapat sepenuhnya memahami apa yang ditulis. Kami menemukan satu dari pesan-pesan ini di sebuah kuil di belakang Roh Kura-Kura, dan untungnya aku mengerti banyak hal.

"Ost, bisakah kau membacanya?" 

"Sayangnya, tidak."

"Apakah dokumen-dokumen itu menyertakan salinan atau sketsa dari pesannya?"

"Fehhh. . "

Yah, batu-batu itu mungkin sudah sangat tua dan hancur sehingga pesan apa pun pada mereka tidak akan terbaca sekarang. Aku bisa mengerti bagaimana seseorang akan kesulitan mencari tahu apa yang ditulis. Aku berharap mereka menyelesaikan penelitian mereka sebelum Roh Kura-Kura sialan itu mulai bergerak lagi!

Rishia terus merintih ketakutan saat dia meraba-raba halaman. Tapi, sesaat kemudian, dia mengeluarkan selembar kertas termasuk sketsanya. Aku kira dia telah melakukan yang terbaik untuk memeriksanya.

Untungnya, aku bisa memahaminya. Sisa kalimat itu mustahil untuk diucapkan, karena batu yang telah ditulisnya terlalu tua dan remuk, tetapi. . .


Tujuannya adalah. . . Gelombang . . . Dunia. . . Mencegah.


Dunia. . . Mencegah?

Apa yang mereka cegah? Penghancuran? Kepunahan? Bukankah kura-kura membuat penghalang sihir untuk melindungi dunia?

"Ost, kau bilang Roh Kura-kura ada untuk melindungi dunia dengan penghalang sihir, kan?"

"Ya, sejauh yang aku tahu."

Tapi prasasti itu bisa berarti sesuatu yang lain.

Apa itu Gelombang? Aku masih tidak tahu apa makna sebenarnya. Semakin kita mencari kebenaran misteri Roh Kura-kura, semakin kita dihadapkan dengan misteri yang lain.

"Bisakah itu diartikan bahwa ia mencoba mencegah sesuatu yang dihasilkan dari gelombang?" 

"Maaf, aku tidak mengerti bahasanya."

Aku menghela nafas. Baiklah, ini bukan waktunya untuk mencari tahu hal ini. Aku memutuskan untuk menyimpan sisa penyelidikan kami sampai setelah pertempuran selesai. Paling tidak, sepertinya pesan pahlawan lainnya ada di belakang kura-kura itu.

"Benar. Baiklah kalau begitu, kita hanya harus memaksa Roh Kura-Kura untuk berhenti bergerak cukup lama sehingga kita bisa mencari tahu bagaimana menghentikannya secara permanen. "

"Dimengerti." 

"Baiklah."

Dari luar kereta, aku mendengar Filo berteriak, "Paham, Maaaaster!"

Rishia merintih ketakutan, dan Eclair menguatkan cengkeramannya pada gagang pedangnya. Wanita tua itu berteriak keras dan mulai membuat pose bertarung.

"Mari kita lakukan! Filo, bawa kami ke Spirit Tortoise! Jangan berhenti sampai kita berada tepat di bawah matanya — dan jangan biarkan dia itu menghantammu! "

Kami berlari dengan kecepatan penuh, langsung menuju Roh Kura-Kura yang menggila.

“Kalian semua lebih baik masuk ke penghalangku! Shooting Star Shield! "

Sebuah penghalang transparan muncul di sekitarku. Itu sangat kuat, jadi aku berharap itu bisa menghentikan sebagian besar serangan Roh Kura-kura.

Ketika binatang itu melihat kereta kami meluncur lurus ke arahnya, ia menundukkan kepalanya untuk melihat kami lebih jelas. Selama pertempuran terakhir ia menembakkan sinar energi dari mulutnya, dan itu berhasil menjadi serangan yang paling kuat. Saat ini, sepertinya dia tidak sedang bersiap untuk melakukan hal seperti itu.

Suara jeritan memenuhi udara, dan duri pada cangkang binatang itu melesat ke langit. 

"Sial!"

Filo mengalihkan pandangannya ke langit dan dengan cekatan mengelak ke kiri dan ke kanan untuk menghindari duri yang berjatuhan. Pemandangan disekitarku berubah dalam sekejap. Kami pasti bergerak sangat cepat. Roda kereta berderak kencang di atas kerikil dan bebatuan di jalan. Kami meminjamnya dari tentara, jadi aku tidak peduli jika itu rusak.

Perasaan melihat Roh Kura-Kura semakin membesar ketika kami mendekat. . . itu hal yang baru. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah Kau lihat di Jepang. Jika Kau mengemudi di jalan lurus langsung menuju pegunungan, mungkin rasanya seperti itu.

Kereta bergetar hebat saat kami berlari. Aku berbalik untuk melihat Eclair dan Raphtalia mati-matian berjuang untuk bertahan. Ost melihat pemandangan itu dalam keheningan dan kemudian mengulurkan tangannya. Dia tampaknya berkonsentrasi, dan kemudian dia mulai melantunkan mantra sihir.

“Aku, Ost Horai, memerintah langit, memerintah bumi, menentang semua alasan, bergabung, dan menumpahkan darah. Oh, kekuatan besar, aku perintahkan kepadamu — lepaskan gravitasi pada mereka! ”

"Gravity Reversal, Float!"

Raphtalia dan yang lainnya dengan ringan terangkat dari kereta dan melayang di udara. Dengan mengambang di udara, mereka mampu menenangkan diri tanpa dihantam oleh guncangan keras.

"Wow . . "

"Aku belum pernah melihat sihir seperti itu."

“Meskipun masih ada monster yang bisa menggunakannya, manusia sudah lama kehilangan pengetahuan tentang mantra ini. Kita akan memasuki pertempuran, jadi aku telah menggunakan kekuatanku untuk menenangkan temanmu. "

"Sihir yang sungguh nyaman."

Aku penasaran apakah penggunaan mantra itu dibatasi. Apakah Filo dapat mempelajarinya? Dia suka menarik kereta dengan sembrono, dan membuat penumpang kami cemas. Mantra levitasi pasti berguna.
<TLN : Levitasi = mirip seperti kondisi ketika di luar angkasa, mengambang gitu>

“Mantra ini menggunakan kekuatanku sendiri untuk menghasilkan efeknya. Efeknya bervariasi tergantung pada medium yang menggunakan mantra. "

"Oh ya?"

"Iya. Aku mampu memanipulasi medan gravitasi di sekitarku, jadi mantra ini hanyalah perpanjangan dari kemampuan itu. ”

Jadi itu menjelaskan mengapa dia terlihat sangat aneh ketika dia melompat keluar dari kereta. Dia benar-benar bukan. . . manusia.

"Jika kita punya waktu untuk berbicara di waktu luang kita, aku pasti akan mengajarimu cara menggunakannya, Pahlawan Perisai."

"Kau pikir aku bisa menggunakannya?"

"Kita membutuhkan keberuntungan, tetapi aku yakin aku bisa mengajarimu."

Bagiku itu terdengar bagus. Aku penasaran apakah dia akan bisa mengajariku beberapa mantra sihir serangan juga. Saat ini, aku hanya bisa menggunakan sihir pendukung dan pemulihan.

“Tetap saja, metodenya pasti berbeda. Jika Kau mencoba menggunakan kekuatanmu sendiri dengan cara diriku menggunakan kekuatanku, Kau bisa membunuh dirimu sendiri. Sihir manusia sedikit lebih kuat dari sihirku. ”

"Sungguh?"

"Iya. Sihirku biasanya bergantung pada kekuatan bumi, air, bijih, dan sebagainya. Ini memiliki efek yang berbeda tergantung pada medianya. ”

Mendengarkan Ost, aku diingatkan tentang sistem sihir dalam game yang pernah kumainkan dulu. Meskipun itu terlihat seperti sihir. Dia menggunakan perhiasan — yang tertanam di berbagai aksesori yang dipakainya — sebagai media untuk mengeluarkan mantra. Ketika dia menggunakan mantranya, permata yang dia pakai mulai bercahaya sebagai tanggapannya. Itu pasti hal yang Ost bicarakan.

"Bisakah kau melakukan hal yang sama dengan perhiasan atau batu permata?"

"Iya. Mereka adalah media yang sangat cocok untuk mengeluarkan mantra. Salah satu medium yang paling mudah, sebenarnya. ”

Nah, itu menjelaskan semuanya. Pasti jenis sihir yang sama yang digunakan Therese. Dia memiliki akses ke banyak mantra yang kuat, jadi alangkah baiknya jika aku bisa belajar melakukan hal yang sama. Dengan sedikit keberuntungan, aku bahkan mungkin bisa menggunakan satu atau dua mantra serangan, yang akan membuat hidupku jauh lebih mudah. Jika akar dari kekuatan tersebut adalah medium dan bukan diriku sendiri, maka seharusnya tidak masalah jika bakat alamiku hanya untuk sihir pendukung dan pemulihan.

"Baguslah. Aku tidak sabar untuk belajar — jika kita punya waktu. "

" Ya. "

"Kurasa kita harus berterima kasih atas pelajaran sihir yang tidak diminta?" Eclair berkata pelan.

“Ost adalah satu-satunya alasan kita berhasil sejauh ini. Tolong omelanmu untuk dirimu sendiri, ”kata Raphtalia, memberi Eclair peringatan.

Filo terus berlari secepat yang dia bisa, berputar cepat ke kiri, lalu ke kanan, melompat dan berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah Roh Kura-Kura. Dari waktu ke waktu, salah satu ledakan atau rudal akan mengguncang kereta, tapi untungnya pelindung Shooting Star Shield ku cukup kuat untuk melindungi kami dari kerusakan. Tetap saja, itu adalah perjalanan yang tidak mulus. Kau tidak ingin lengan atau kaki keluar dari penghalang. Aku sangat yakin akan hal itu.

Kalau bukan karena sihir Ost, kita semua akan mual dan muntah pada saat kita tiba di jarak yang sangat dekat dengan binatang itu.

“B. . . Benar."

Kami menutup pembicaraan tepat pada waktunya untuk melihat kepala besar Roh Kura-Kura turun dan mengedipkan mata merahnya ke arah kami.

“Raphtalia, Filo, selesaikan dalam satu serangan. Mulai persiapan sekarang. Eclair, wanita tua, kalian berdua fokus pada serangan balik. Rishia, Ost, kau bertugas mendukung! "

Mereka semua mengangguk, dan mulai bersiap untuk pertempuran. "ROOAAAAARR!"
Serangan kuat Spirit Tortoise dimulai dengan sungguh-sungguh. Paku besar menghujani dari langit di sekitar kita!

“Shield Prison! Air Strike Shield! Second Shield! Dritte Shield! "

Aku mengeluarkan Shield Prison di sekitar kereta dan menempatkan tiga perisai lain di udara di atas kepala kami.

"Shooting Star Shield!"

Untuk memberikan satu lapisan perlindungan terakhir, aku melindungi kereta dengan penghalang Shooting Star Shield. Ketika aku mengatur pertahanan kami, Raphtalia dan Filo melangkah maju dan bersiap untuk menggunakan serangan terbaik mereka. Aku berdiri di kursi pengemudi kereta, menyiapkan perisai, dan membaca mantra.

"Zweite Aura!"

Mantra menyelimuti Raphtalia dan Filo, meningkatkan semua statistik mereka secara dramatis. Di belakangku, Ost dan Rishia mulai melantunkan mantra.
"Feh. . . Lakukan yang terbaik! First Power! "

“Aku, Ost Horai, memerintah langit, memerintah bumi, menentang semua alasan, bergabung, dan menumpahkan darah. Oh, kekuatan besar, aku perintahkan kepadamu — berikan mereka kekuatan! ”

"Hercules Strength!"

Aku merasakan kekuatan besar mengalir ke Raphtalia dan Filo.

Mantra Rishia lumayan dibandingkan dengan kekuatan besar yang kurasakan ketika Ost mengucapkan mantranya.

Salah satu serangan Spirit Tortoise pasti berhasil melewati penghalang, karena aku merasakan sesuatu yang berdentang tidak efektif terhadap perisaiku. Aku mendongak dan tentu saja, ketiga perisai udara itu hilang, dan aku bisa melihat langit melalui celah besar di Prison Shield.

Kami dikelilingi oleh ledakan. Gelombang udara menghantam kami. Untungnya penghalang Shooting Star Shield masih bertahan, tapi aku tidak yakin berapa lama lagi kita bisa mengandalkannya.

Lebih buruknya lagi, aku bisa melihat bahwa Roh Kura-kura sedang mengisi serangan terkuat yang pernah digunakannya terhadap kami terakhir kali —listrik yang ditembakkan dari mulutnya.

Jika kami tidak melakukan sesuatu dengan cepat, itu akan langsung mengenai kami.

Aku segera berlari untuk sampai di depan yang lain dan menyiapkan perisaiku.

Mulut Roh Kura-kura terbuka dan sambaran petir langsung keluar darinya, seperti sinar partikel.

Ada celah pada penghalang lalu pecah, dan Shooting Star Shield menghilang. Seketika, aku merasakan kekuatan penuh dari sinar pada perisaiku. Berusaha untuk menerima beban serangan, aku berbalik untuk melihat Raphtalia dan Filo masih bersiap-siap untuk serangan mereka.

“Hengen Muso Secret Knowledge! Whirlwind!”

Tiba-tiba, wanita tua itu tepat di belakangku, mengulurkan tangannya ke arah binatang itu. Angin berputar-putar di atas kita dan menangkis sinar partikel — walaupun hanya sedikit. Ketika aku mengatakan sedikit, maksudku benar-benar sedikit.

Perisai itu menjadi sangat panas di tanganku. Aku bisa merasakan kulitku terbakar di tempat aku memegangnya.

"Sial. Aku tidak memiliki keterampilan yang dapat membantu Tuan Iwatani.” Eclair menggerutu kesal. Aku ingin berbalik dan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak mengharapkan sihir dukungan dari seorang pendekar pedang — tetapi aku tidak punya waktu atau tenaga.

“. . "

Tiba-tiba dia mengulurkan pedangnya dengan kedua tangan dan meneriakkan mantra sihir. "Zweite Light Shield!"
Untuk sesaat — hanya sesaat — aku melihat perisai cahaya muncul di hadapanku. Aku tidak pernah tahu bahwa dia bisa menggunakan sihir cahaya!

Tapi itu bukan hal yang menggembirakan. Perisai itu lenyap begitu terbentuk. Itu sama sekali tidak membantu. "Aku cukup mahir dengan sihir ringan dan sihir bantuan, meskipun itu hanya sihir pertahanan ringan dan sihir yang meningkatkan ketangkasan," kata Eclair. Dia terdengar seperti mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa lebih berguna.

"Sihirmu akan terbukti sangat berguna!"

Sekarang Ost juga di belakangku. Dia menyelipkan tangannya ke tanganku dan mencengkeram bagian atas tamengku.

"Apakah yang kau . . . ? ”



Bahkan sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, Ost sudah mengucapkan mantra.

“Aku, Ost Horai, memerintah langit, memerintah bumi, menentang semua alasan, bergabung, dan menumpahkan darah. Oh, kekuatan besar, aku perintahkan kepadamu — berikan kekuatan pada perisai suci di hadapanku! ”

Batu permata yang terletak di tengah perisaiku menyala, dan daerah yang perisai itu mampu pertahankan berdenyut dan melebar.

Perisai itu nyaris tidak bisa melindungi kami, tetapi sekarang tampaknya menutupi dan melindungi area yang jauh lebih besar tanpa masalah. Pasti butuh upaya yang luar biasa untuk mempertahankan mantranya. Aku melihat Ost. Keringat membasahi wajahnya.

"Ugh. . "

Aku tidak akan berdiri di sana tanpa bicara. Sementara aku menunggu waktu cooldown keterampilanku berakhir, aku dapat menggunakan waktu untuk memberikan mantra pemulihan pada Ost.

"Zweite Heal!"

Aku tidak percaya bahwa Roh Kura-kura dapat mempertahankan serangannya begitu lama. Kami tidak akan bisa bertahan lebih lama. Itu jelas lebih lama dan lebih kuat daripada yang terakhir kali. Akhirnya, dengan suara berderak yang menyakitkan telinga, cahaya partikel menyusut dan menghilang.

"Sekarang!"

Raphtalia dan Filo telah menunggu sinyalku, dan mereka segera melompat dari kereta.

"Directional Sword of Heaven!" 

"Strike Spiral!"

Raphtalia dan Filo terbang ke kepala Spirit Tortoise, mencengkeram senjata mereka dengan erat, dan melepaskan serangan mereka yang paling kuat. Ada suara pedang yang mengiris daging, dan serangan mereka terhubung langsung dengan leher monster itu.

Filo yang pertama. Serangannya menggali dalam-dalam ke leher, melepaskan semburan darah ke udara. Kemudian dia berubah menjadi kilatan cahaya dan berputar di sekitar leher monster itu. Raphtalia tepat di belakangnya, mengayunkan pedang cahaya besar melalui leher binatang itu. Daging yang terpotong bersinar terang ketika luka di dalamnya semakin meluas.

"Hyaaaa!" 

"Taaaaaah!"

Mereka berteriak ketika serangan mereka terhubung dengan binatang itu dan terus berteriak ketika mereka terus memotong leher monster itu.

"Ini lebih sulit daripada yang terakhir kali, tapi kita tidak bisa menyerah sekarang!" 

"Aku akan melakukan yang terbaaiiiiik!"

Mereka berdua berteriak, berputar-putar, memotong, dan tampaknya menggunakan semua energi yang mereka miliki.

Kalian Pasti bisa melakukannya! Ost dan aku menahan serangan itu untuk memberimu kesempatan ini!

"Aku tidak bisa hanya berdiri diam!" Eclair berteriak dan berlari ke depan, pedangnya ada di tangan. Dia mengisi pedang itu dengan kekuatan sihirnya dan menusukkan sekuat tenaga. Pedang itu hanya menempel sedikit ke pipi monster itu, tapi itu memang lebih merusak daripada yang bisa dia lakukan dalam pertempuran terakhir.

"Acho!" Teriak wanita tua itu. Tidak mau kalah, dia mengayunkan kakinya dan terbang di udara, membentuk serangan bulan sabitnya.

"Fehhh. . . " Rishia merintih. Dia mencoba untuk berkontribusi, tetapi dia belum berhasil melakukan serangan.

Huff. . . Huff. . . 

"Apakah kau baik-baik saja?"

Ost terlihat sangat pucat. Dia pasti telah memberikan terlalu banyak energinya untuk perisai. Jika dia tumbang, sudah jelas bagaimana akhir dari pertarungan ini.

"Jangan khawatir. . . tentang aku . . "

"Jangan katakana seperti itu."

"Aku baik-baik saja. Kau harus . . . cepat. . "

Aku menoleh untuk melihat Raphtalia dan Filo. 

“Raphtalia! Filo! Selesaikan pertarungan ini!"

"Ha! HyaAAAAAAAA! "

"Baik! Taaaahhh! ”

Mereka berteriak serentak, suara mereka terdengar lebih tinggi dan lebih tegang saat mereka menghabiskan energi terakhir mereka, berputar dan mengiris dengan sekuat tenaga sampai, dengan semburan darah dramatis, kepala monster terjatuh dari tubuhnya.

"Berhasil!"

"Iya!"

Kepala itu terbang di udara, meninggalkan leher yang menyemburkan pancuran darah panas. Mereka mendarat dengan mudah, dan berlari kembali ke tempat kami semua bersiaga.

"Kita berhasil!"

"Memotong kepalanya!" 

"Kerja bagus, kalian berdua!"

“Aku berharap bisa melakukan lebih. . . "Eclair menyesali. 

"Selalu ada waktu berikutnya!" Jawab wanita tua itu.

Aku memegangi Ost sehingga dia tidak akan jatuh dan melihat mayat kura-kura yang terjatuh. Seharusnya dia tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.

Di belakang kami, para penyihir tentara dengan cepat mengeluarkan sihir penguatan. Tampaknya berhasil. Semua kelelahan yang aku rasakan beberapa saat yang lalu telah lenyap seketika. Pasti ada mantra untuk mengisi kembali stamina yang hilang. Aku rasa mantra itu bekerja dengan menguras stamina pengguna mantra tersebut, atau jika target itu adalah diri sendiri, maka itu bekerja dengan menguras kekuatan sihir pengguna.

Wajah pucat Ost mulai menghilang. Aku mengeluarkan sebotol magic water dari perisaiku dan menyerahkannya ke Ost. Itu akan menambah kekuatan sihir yang hilang.

"Ini akan menambah kekuatan sihirmu."

"Tidak . . . Kekuatan sihirku baik-baik saja. . . Aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku. . . sendiri."

Apakah mantra itu menggunakan kekuatan hidupnya — atau staminanya? Dan itu masih belum kembali? Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan botol air kehidupan yang Rishia telah gunakan dalam pelatihan Hengen Muso-nya. "Coba ini."

Aku tahu ada obat-obatan yang dapat memulihkan kekuatan hidup seseorang, tetapi aku khawatir obat-obatan itu tidak akan bekerja. Ost sama sekali bukan manusia. Itu sebabnya aku ingin mencoba air kehidupan. Wanita tua itu mengatakan bahwa itu akan mengembalikan "energi" yang hilang.

Huff. . . Huff. . . Ost perlahan mengangkat botol ke bibirnya dan minum isinya. Ketika dia menghabiskan botol itu, wajahnya perlahan mulai terlihat lebih sehat dan lebih cerah.

“Ini sepertinya telah membantu. . . sedikit. Terima kasih banyak. "

" Jangan khawatirkan tentang hal itu. "

Melindungi orang adalah pekerjaanku. Sebagian dari itu berarti aku harus secara fisik melindungi mereka, tetapi itu juga berarti bahwa aku harus memastikan orang mampu melindungi diri mereka sendiri. Aku harus mengawasi Raphtalia, Filo, dan yang lainnya. Aku bahkan perlu mengawasi kondisi Rishia.

Sang ratu harus melakukan hal yang sama untuk bangsanya. Meskipun kami hanya bekerja sama untuk saat ini, aku masih merasa bahwa adalah tanggung jawabku untuk mengawasi Ost. Selain itu, setelah melihat bagaimana dia mengisi perisai ku dengan kekuatan luar biasa, dia bukan seseorang yang bisa aku abaikan begitu saja. Jika dia tidak ada di sana, kita mungkin telah mengalami kerusakan parah.

Raphtalia dan Filo telah melakukan sebagian besar pekerjaan fisik, tetapi Ost telah melakukan begitu banyak untuk kami sehingga perannya dalam pertempuran setidaknya sama pentingnya dengan mereka.

"Ngomong-ngomong, lebih baik kita pergi selagi Roh Kura-kura masih tidak berdaya."

Kami baru saja akan pindah ke tahap berikutnya dari rencana kami, namun tiba-tiba suara sesuatu yang besar dan menggeliat datang dari arah Roh Kura-Kura yang terjatuh.

Semua orang terdiam. Mereka mengunci pandangan mereka pada mayat itu.

Leher tubuh itu bangkit, dan seutas daging menggeliat keluar dari leher.

Kemudian, dengan suara gemuruh, kepala baru muncul menggantikan yang terjatuh. Sepertinya tidak ada yang terjadi sebelumnya.

"Apa. . "

Apa yang terjadi? Seberapa cepat dia bisa memperbaruinya? Terakhir kali kami menjatuhkan kepalanya, Roh Kura-kura tetap terdiam selama seminggu penuh. Aku tahu bahwa kura-kura itu memiliki kemampuan regeneratif yang mengesankan, tetapi aku tidak pernah berpikir itu bisa menumbuhkan kepala baru dalam hitungan menit. Apakah dia, hydra?

Para pahlawan kuno telah menghentikan Roh Kura-kura dengan menyegel jantungnya — apakah itu karena kemampuan regeneratifnya juga?

“ROAAAARRRR!”

"Apa?!"

Roh Kura-kura membuka mulutnya dan meraung. Kemudian, tanpa henti-hentinya, ia melepaskan sinar partikel yang baru saja kita hindari. Aku segera melepaskan serangkaian perisai udara dan menggunakan Prison Shield, sistem pertahanan yang aku gunakan sebelumnya.

"Ugh. . . Argh! "

"Tuan . . . Tuan Naofumi ?! "

" Oh, tidak! "

"Fehhh ?!"

Prison Shield pecah karena dampaknya, dan penghalang lain pecah sesaat kemudian. Aku bisa mencium bau kulitku yang terbakar.

"Pahlawan Perisai!"

Ost goyah dan hampir tersandung padaku. Raphtalia berlari untuk menangkapnya. 

"Jangan memaksakan dirimu. Kau perlu istirahat."

"Tapi. . . Tetapi aku!"

"Tidak apa-apa! Mundurlah! "

Dia pasti kewalahan oleh rasa tanggung jawabnya, karena Ost mengabaikan permintaan kami dan mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku hampir tidak bisa menahan kekuatan sinar kura-kura — akhirnya, aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku terbakar. Waktu terasa sangat lambat. Apakah itu terjadi hanya dalam sekejap atau selamanya? Kupikir aku akan menjadi gila karena rasa sakit ini.

Huff. . . Huff. . .

Kesadaranku melayang, dan tepat sebelum aku kehilangan kendali sepenuhnya, aku merasakan serangan itu mereda.

Satu-satunya saat dimana aku terluka sangat parah adalah ketika aku menggunakan Blood Sacrifice dalam pertempuran dengan high priest. Kali ini mungkin lebih buruk. Aku merasa terbakar jauh di dalam kulitku. . . mungkin lebih dalam.

"Master?!"

"Tuan. Naofumi ?! ”

“ Pahlawan Perisai! ”

Sial. Aku ingin mengeluarkan mantra penyembuhan pada diriku sendiri, tetapi aku tidak bisa fokus untuk menggunakannya.

Saat itu, cahaya hangat menerpaku. Lukaku mulai sembuh di depan mataku, tetapi tidak ada cukup waktu untuk menyembuhkanku sepenuhnya. Namun, aku cukup disembuhkan sehingga akhirnya bisa berpikir jernih. Itu pasti karena sihir pendukung yang diberikan ratu di suatu tempat di belakangku. Mempertimbangkan betapa kacau situasinya, aku harus ingat untuk berterima kasih padanya karena begitu cepat merespons.

"Zweite Heal!"

Aku melantunkan mantra penyembuhan pada diriku sendiri sebelum kura-kura itu mengangkat kakinya untuk menghancurkan kami. Aku cukup sadar untuk memblokir serangannya tepat waktu. Baguslah. Aku tidak akan cukup kuat untuk memblokir serangan dengan Soul Eater Shield tanpa itu (Sihir pendukung ratu).

"Filo! Isi ulang kekuatan sihirmu! "

" Yup! "

Aku melemparkan sebotol magic water ke Filo, dan dia meminumnya.

“Kita tidak akan menang jika terus menyerang dari depan. Kita harus mundur sekarang. Filo! Ambil kereta dan keluarkan kami dari sini! ”

"Baik! Kereta!"

Aku terus memblokir serangan Roh Kura-kura saat aku menggunakan Shooting Star Shield. Didalam pelindung, kami terus bergerak untuk menghindari kaki kura-kura.

Tanah bergetar hebat setiap kali salah satu kakinya jatuh di dekat kami. Akhirnya, kura-kura mengunci matanya pada kami dan mengangkat kakinya lagi untuk menghabisi kami, tapi itu kesempatan yang kami butuhkan.

"Semuanya, cepat kembali ke kereta!" 

"Oke!"

"Fehhh. . "

"Sangat disayangkan!"

Semua orang melompat ke kereta, wajah mereka tertunduk. 

"Ost! Cepatlah! ”

Spirit Tortoise menatapnya sekarang, dan monster itu mulai bergerak untuk menghabisi kita semua.

"'Tubuhmu yang sebenarnya 'sedikit dikuasai’, bukankah begitu?" 

"Aku benar-benar minta maaf."

Ketika binatang itu menjadi serius, ia benar-benar bisa bergerak! Monster tersebut telah merusak semua rencana kita!

"High Quick!"

Filo menarik kereta dengan kecepatan sangat tinggi, membuat jarak antara kami dan kura-kura.

Bagaimana kita bisa melawan sesuatu yang begitu kuat sehingga aku tidak bisa memblokir serangannya? Bagaimana kita bisa mengalahkan sesuatu yang bisa meregenerasi bagian tubuh yang hilang, bahkan kepalanya, dalam beberapa detik setelah kehilangannya? Itu tidak mungkin!

Metode biasa tidak akan berguna, jadi kita harus memikirkan hal lain. Sayangnya, tidak ada yang terlintas dalam pikiranku. Kami perlu mundur sejenak dan mendiskusikannya bersama ratu dan Rishia. Bahkan jika kita tidak bisa menemukan cara untuk mengalahkan monster itu, mereka berdua mungkin bisa menemukan cara yang setidaknya bisa kita lakukan. Paling tidak, kita akan lebih beruntung jika kita menyatukan pikiran kita.

“Kita mundur! Filo, bawa kita keluar dari sini. "

" Oke! "

Filo melesat melintasi lembah, menarik kereta kami menjauh dari Roh Kura-Kura yang menjulang tinggi.




TL: Kuaci
EDITOR: Isekai-Chan