Senin, 19 April 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 215. Barbarian Armor +2

 Chapter 215. Barbarian Armor +2


 
Setelah selesai berbicara dengan Ratu, aku pergi ke Toko Senjata.

"Oh. Hei, Nak. Lama tak jumpa."
"Iya, sudah lama sekali aku tidak kesini, bisnismu semakin berkembang."

Akhirnya aku bertemu lagi dengan Pak Tua dari Toko Senjata. Paman Imiya juga ada disini sebagai asistennya, dia sedang merapikan senjata di etalase. Terlihat lebih banyak produk dibanding sebelumnya. Mereka kelihatannya sangat sibuk, dan bisnisnya sekarang sudah jauh lebih berkembang.

"Bagaimana kabarmu?"
"Cukup baik. Pesananmu sebentar lagi akan segera selesai. Perisai-mu, nak."
"Bagus. Berapa biaya yang harus aku bayar?"
"Kau memberikanku asisten secara gratis, jadi kau perlu 10 keping emas saja untuk biaya mencari bahan-bahannya."

Pak Tua mengatakannya dengan baik hati, menunjuk ke arah Paman Imiya. Ini adalah sebuah maha karya yang dibuat menggunakan bahan Reiki. Jadi kualitasnya mungkin sama seperti senjata yang ada di pelelangan Zeltoble.

Terlebih lagi ini adalah senjata yang dibuat secara khusus oleh Pak Tua, mungkin akan berharga lebih tinggi lagi. Masalahnya adalah apa yang akan aku lakukan dengan perisai ini setelah aku tiru... Karena tidak ada orang yang menggunakan perisai dan lihai memanfaatkannya sepertiku.

"Harga pasarnya kurang lebih 50 keping emas kan?"

Paman Imiya menjawabnya, seolah dia sedang membaca pikiranku. Jika yang ada di pelelangan Zeltoble sebelumnya adalah Pedang Reiki, maka ini adalah Perisai Reiki. Dan produk ini secara khusus dibuat oleh Pak Tua, maka kualitasnya sudah tidak bisa diragukan lagi.

Yang menjadi masalah adalah harganya. Diriku yang sekarang sangat mampu untuk membayar 10 keping emas saja. Karena aku mendapatkan banyak uang dari mengelola wilayahku. Atau mungkin, hal terpenting adalah harus bisa mengatur keuangan saat sedang membeli peralatan untuk melawan gelombang.
Itu sepertinya murah, tapi jika harga aslinya adalah 50 keping emas aku masih ragu untuk membelinya.

"Apa ini adalah produk berkualitas tinggi?"
"Tentu saja, kau dapat mengetahuinya hanya dengan melihatnya saja. Meskipun dia tidak akan menggunakannya, ini masih bisa dijadikan pajangan."

Pak Tua juga menganggukkan kepala. Tapi tetap saja... Itu adalah perisai yang mereka buat dengan susah payah untukku, aku merasa tidak enak jika tidak membelinya. Aku ingin tetap membelinya meskipun akhirnya aku simpan digudang.
<TLN : Jadi disini tuh Naofumi bimbang antara mau beli fisiknya (Bukan sekedar copy perisai) atau engga. Dia kaya gaenak udah susah-susah dibikinin tapi gadibeli. Kalo beli fisiknya juga harganya mahal. Trus Paman Imiya coba nenangin dia kalau ini tuh pasti bakal kejual nantinya.>

"Aku akan memikirkannya lagi nanti. Bagaimana dengan zirah ku?"
"Bijih yang kau kirimkan sangat berkualitas, kami tidak mengalami kesulitan sama sekali memasukkannya. Menggunakan itu sebagai acuan, kami berhasil memperkuat zirahmu."

Setelah memberikan perintah, Paman Imiya pergi ke belakang toko untuk mengambil zirahku. Penampilannya tidak terlihat berbeda dengan Barbarian Armor biasa. Tapi, jika diperhatikan baik-baik, bahan dasarnya sekarang sudah dilapisi dengan kulit Reiki. Dan ada beberapa sambungan berwarna hitam menjadi lebih terang.

"Apa ini?"
"Kami menggunakan besi yang terdapat pada Reiki. Awalnya terdapat beberapa masalah dengan beratnya, tapi kami bisa menutupi kekurangan itu. Dan anehnya, ini menjadi lebih ringan setelah kami mengubah susunan intinya."
"Jadi begitu..."

Aku memeriksa status Barbarian Armor.

Barbarian Armor +2?
[Defence Up] [Shock Resistance (Large)] [Fire Resistance (Extra Large)] [Lightning Resistance (Large)] [Absorbtion Resistance (Mid)] [HP Recovery (Weak)] [Magic Recovery (Weak)] [SP Recovery (Weak)] [Magic Increase (Mid)] [Dragon Emperor’s Divine Protection] [Magic Defence Production] [Automatic Repair Function] [Earth Pulse’s Divine Protection] [Dragon Attribute] [Dragon Territory] [Growing Ability]

Zirah ini sekarang memiliki lebih banyak status setelah kehilangan status Dark Resistance. Apa Fire Resistance timbul karena menggunakan bijih itu?

Disini juga ada Dragon Attribute, mungkin entah bagaimana ini akan bekerja dengan inti Gaelion. Lalu apa itu Dragon Territory? Growing Ability, entah kenapa aku bisa membayangkannya...
Aku harus bertanya kepada Gaelion nanti.

"Berapa biaya pembuatannya?"
"Kau pasti akan menggunakannya dengan baik, nak, anggap saja biayanya adalah bahan-bahan yang kau berikan kemarin."
"Itu sangat membantu."
"Itu karena aku mendapatkan banyak keuntungan darinya. Harga diriku tidak memperbolehkanmu membayarku, nak."

Pak Tua banyak sekali membantu, aku selalu menempatkannya sebagai orang yang paling aku percaya nomor dua setelah Raphtalia. Mengecewakan sekali dia tidak mau pergi ke wilayahku.

"Apa aku bisa langsung menggunakannya?"
"Tentu saja! Tunjukkanlah kepada kami."

Aku membawa Zirahnya dan pergi ke ruang ganti. Untuk beberapa alasan, ini terasa seperti pakaian baru. Aku mendapatkan perasaan misterius, ini...
Bagaimanapun juga, tidak ada yang banyak berubah dari desainnya. Hanya warnanya saja yang berbeda.

"Hm?"

Kainnya terasa berbeda. Aku tahu jika dia menggunakan bahan yang bagus untuk zirah ini. Aku menerima produk yang terbaik. Ukurannya juga pas, nyaman digunakan.

"Bagaimana?"
"Oh, jika melihatnya langsung. Tidak banyak yang berubah, seperti ekspektasiku darimu..."
"Um... Mungkin ini sedikit sulit dimengerti, tapi menurutku... tidak ada yang jauh berbeda dari Hero-sama... sebelumnya."

Paman Imiya mengatakan hal yang tidak jelas.
Tentu saja dia tidak mengerti..... Pak Tua merasa senang melihatku, tapi aku merasa seperti kecoa yang baru saja melewati masa metamorfosis.
<EDN: Penjelasan mudanya adalah, dia seneng peralatannya bisa naik level>

Bagaimanapun juga, aku merasakan ilusi seakan menjadi sangat kuat hanya dengan menggunakannya saja. Karena selama yang aku tahu, Pak Tua memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap zirah yang dibuatnya. 

Raphtalia bilang dia ingin menjadi pedangku. Kalau begitu Pak Tua dapat menjadi zirahku. Jika membicarakan kualitas, tentu saja Barbarian Armor ini memiliki kualitas yang terbaik.

"Terima kasih."
"Sudah lama sekali Aku tidak mendengarmu mengatakannya."
"Aku barusan mengatakannya."
"Ngomong-ngomong, dimana Nona? Sudah lama aku tidak melihatnya."
"Dia sedang berlatih."
"Hmm..."
"Oh iya. Pak Tua, apa kau bisa melihat aliran sihir?"
"Apa itu?"

Aku menjelaskan kepada Pak Tua tentang bagaimana cara menambahkan sihir saat sedang memasak atau membuat obat dapat meningkatkan kualitasnya.

"Aku tidak dapat melihatnya. Tapi aku mengerti cara menambahkan sihir."
"Benarkah begitu?"
"Yaa, mungkin aku tidak dapat melakukannya sebaik dirimu. Apa lain kali kau mau membantuku?"
"Aku akan memikirkannya."
"Dan, tidak bagus jika kau tidak mendengarkan bahan-bahannya dengan baik. Memasukkan sihir adalah hal yang bagus, tapi terkadang menarik sihir itu sendiri dari bahan juga hal yang penting."

Hmm... Menambahkan sihir itu penting, tapi terkadang lebih baik menarik sihir? Apa dengan begitu aku bisa menarik kekurangan dari bahan material itu sendiri? Menambahkan sihir itu adalah hal bagus, tapi jika bahannya sudah bagus maka tidak perlu memasukkan sihir? Apa ini seperti metode The Way of Dragon Vein? Apa tidak ada panduan cara atau semacamnya? Hm? Suatu ide melintas di kepalaku. Aku harus mencobanya nanti.

"Baiklah kalau begitu, aku tidak ingin berlama-lama dan mengganggu pekerjaanmu... Oh, iya. Apa aku bisa memesan kereta lagi?"
"Hm? Apa yang terjadi dengan yang kemarin?"
"Filo berkendara dengan ceroboh dan membuat kereta itu melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan."
"Apa yang dia lakukan?"
"Balapan menaiki gunung... Dia membawa kereta itu melewati jalanan hancur dan melompati tebing."
"Balapan seperti apa yang terjadi!"

Seperti perkiraanku, dia pasti akan terkejut mendengarnya. Bahkan Paman Imiya juga sama terkejutnya.

"Dia tidak akan melakukannya lagi, jadi aku ingin memesan yang sama persis seperti yang sebelumnya."
"Aku mengerti. Aku akan membuat rangkanya nanti, sebaiknya kau ajak Nona kecil lain kali. Akan lebih baik jika ukurannya pas kan?"
"Ah, nanti aku akan mengajaknya."
"Baiklah."
"Aku ada rencana pulang ke desa dalam waktu dekat." Sebut Paman Imiya.
"Jadi, hanya kau yang akan pergi kesana?"
"Hanya sementara waktu saja. Sebaiknya kita segera meningkatkan peralatan para penduduk desa kan?"
"Mmm... Itu benar."

Sampai sekarang, mereka masih menggunakan pedang dua-tangan. Jika aku tidak bertanggung jawab dan tidak segera menggantinya, mereka akan kesulitan saat bertarung nanti. Untuk sekarang aku akan membantu mereka semampuku. Imiya telah menunjukkan peningkatan kemampuan yang pesat. Aku berharap agar Paman Imiya juga menunjukkan hal yang sama.

"Sebenarnya aku tahu Hero Perisai-sama menginginkan orang lain yang pergi kesana."
"Tidak... Itu..."

Ugh, sial ini canggung sekali. Memang benar, aku menginginkan Pak Tua dari Toko Senjata untuk pergi ke wilayahku. Bukan maksudku untuk membandingkan Paman Imiya dengan Pak Tua. Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu...

"Tolong, tidak perlu terlalu khawatir. Aku tidak mau kalah darinya."
"Itu benar, dia sudah cukup hebat. Kupikir aku tidak akan dapat menyelesaikan perisai itu tanpa bantuannya."
"Karena Hero Perisai-sama memiliki ekspektasi yang tinggi kepadaku. Aku tidak punya pilihan lain selain membantumu. Tidak, aku harus melakukannya."

Jika Pak Tua yang mengatakannya pasti kemampuannya dapat diandalkan. Kalau begitu lebih baik Aku membantu segala persiapannya di desa.

"Aku akan menunggu kedatanganmu. Apa aku harus mengumpulkan beberapa material?"
"Iya. Hmm, aku akan merasa senang jika kau mau menyiapkan tempat pandai besi untukku."
"Baiklah. Aku akan pergi ke kota sebelah, disana terdapat beberapa orang yang dapat membantumu. Aku dapat meminta bantuan mereka."

Tidak masalah jika aku meminta bantuan Pedagang Aksesoris. Membuat aksesoris membutuhkan tempat kerja yang bagus agar kualitasnya terjaga. Aku tahu dia dapat membuat bengkel seperti itu. Aku akan meminta dia membuat satu untuk desa ku.

Aku akan menawarnya sekuat tenaga. Dia juga memiliki hubungan yang baik dengan Pedagang Budak. Dia adalah seorang masokis, jadi dia pasti akan merasa senang jika aku menawar dengan gila.
Tentu saja aku akan mengawasi proses konstruksinya agar dia tidak bekerja sembrono.

"Kalau begitu, aku akan datang lagi saat perisainya sudah selesai."
"Ah, sampai jumpa lagi..."

Dengan begitu, aku berjalan meninggalkan Toko Senjata.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLChopin
EDITOR: Bajatsu
Proofreader: Isekai-Chan

Minggu, 18 April 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 18 : Chapter 1 – Kemalasan

Volume 18
Chapter 1 – Kemalasan


Usai sarapan, kami memulai aktifitas pada hari itu. Mereka yang tidak hadir saat sarapan—termasul Ethnobalt dan Therese—sudah  mulai bekerja atau berlatih.

Sementara itu, aku bersama dengan Glass dan Raphtalia pergi menuju fasilitas medis dimana Kizuna dirawat. Aku telah diberitahu bahwa mereka hampir mencapai tahap perawatan berikutnya setelah ia membatu: pengangkatan kelumpuhan total di seluruh tubuhnya.

Kami memasuki ruang perawatan sihir di fasilitas medis tersebut. Ruangan itu sendiri memeiliki banyak Ofuda yang terpampang di dinding, membuat ruangan itu terlihat seperti tempat ritual yang menakutkan. Kizuna berdiri terpaku di tengah sana, dengan alat pancing tepat berada di depannya. Dia terlihat seperti hanya tertidur.

Aku bertanya-tanya, bukan untuk yang pertama kalinya, bagaimana dia berubah menjadi batu seperti itu. Saat aku berpikir, seorang profesional di dunia ini yang ahli dalam bidang kutukan dan penyembuhan angkat bicara.

“Kelumpuhannya akan segera hilang,” katanya. Kami tetap diam dan hanya menyaksikan Ofuda di sekitar Kizuna mulai bersinar dengan cahaya redup.  Cahaya tersebut terus berkumpul di sekitar Kizuna yang tidak bergerak. Beberapa saat kemudian cahaya tersebut menyebar lagi, dengan getaran, kelumpuhan pun hilang dan Kizuna mulai bergerak.

“Kizuna...” Ucap Glass dalam kekhawatiran, segera maju ke depan, tetapi segera setelah kelumpuhan dilepaskan, tubuh Kizuna mulai mengeluarkan aura ungu yang berkedip-kedip. Aku langsung mengenalinya—aku sendiri pernah menggunakan senjata seri kutukan. Glass pasti menyadarinya, karena dia menyiapkan kipasnya dan memiliki ekspresi waspada di wajahnya.

“Ah... Sangat lesu,” rintih Kizuna. Masih menjaga pancingannya di depannya, dia hanya jatuh ke posisi horizontal dan mulai tertidur.

“Kizuna?” Glass memberanikan diri. Responnya tak lebih dari erangan, Kizuna hampir tidak membuka matanya dan melihat ke arah kami. Dia tampak seperti orang ‘teler’.

“Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Glass

“Kurasa begitu...” Jawab Kizuna. “Dimana aku?”

“Fasilitas medis di markas kita,” Ujar Glass padanya.

“Oh...” Respon Kizuna, sepenuhnya tanpa tenaga. Dia bahkan tidak terkejut melihatku disini! Dia jelas berbeda dengan Kizuna yang kukenal sebelumnya—lesu salah satu yang menjelaskannya, atau dengan kata lain dia terlihat seperti hanya  bosan melakukan sesuatu.
<TLN: Bahasa mudahnya mager>

“Dia bertingkah seperti dirimu, Tuan Naofumi, ketika kau tidak ingin melakukan sesuatu,” Kata Raphtalia.

“Kau pikir aku bertingkah seperti itu?” Jawabku tidak percaya.

“Ya, benar,” Raphatila dengan cepat membenarkan hal itu. “Tetapi mungkin tidak seterbuka ini.” Mereka berkata melihat kesalahanmu pada orang lain bisa menjadi cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut pada dirimu sendiri... tetapi aku selalu menyelesaikan sesuatu pada akhirnya. Tidak perlu di perbaiki.

“Kizuna, tenangkan dirimu! Kami berhasil menyelamatkanmu!” Glass memohon padanya.

“Itu bagus,” Jawabnya lesu. Sepertinya Kizuna hanya ingin ditinggal sendirian untuk tidur, dan semua tanggapannya terhadap Glass seperti tidak peduli.

“Apakah ini efek samping dari kutukan? Sesuatu seperti itu?” Tanyaku. Secara umum Kizuna tidak dapat menyerang manusia, tetapi sama denganku, dia seharusnya mendapat kekuatan itu dengan menggunakan senjata terkutuk—tentu saja, hanya sebagai pilihan terakhir. Glass dan lainnya telah memberitahuku tentang hal itu dan bahwa efek samping kutukan membuatnya semakin lemah.

“Tidak... efek samping dari senjata itu sederhana, hanya pengurangan level dan kekuatan. Aku tidak bisa membayangkan itu akan mengubahnya menjadi makhluk menyedihkan seperti ini,” Keluh Glass.

“Hmmm,” Jawabku. Kami lalu memperhatikan dengan hati-hati kondisi senjata yang dipegang Kizuna. Itu adalah alat pancing dengan aura yang sangat aneh. Reel pancing, yang terlihat seperti beruang, menarik perhatianku. Aku dengan cepat menyadari ada aksesori hitam aneh— hampir seperti borgol, yang menghubungkan Kizuna dengan senjatanya. 
<TLN: Reel itu yang buat mengerek senar pancing>


“Kizuna! Tenangkan dirimu!” Glass mencoba lagi, kali ini dengan tepukan ringan di pipi Kizuna. Kizuna mengerang, dan kemudian sesuatu seperti asap mulai mengepul di sekitarnya. Dengan singkat Glass terkejut, dan hampir jatuh ke lantai, bahkan saat dia masih memegang Kizuna. Asap semakin banyak memenuhi ruangan.

“Stardust Mirror!” Aku membuat Star Shooting Shield versi cermin untuk membuat penghalang, membatasi asap, dan kemudian mengangkat Glass. Kizuna saat ini bukan salah satu dari anggota partyku dan dia telah terdorong keluar oleh penghalang.

“Glass, apakah kau baik-baik saja?” Tanyaku. Dia berada dalam pelukanku, dan Raphtalia mencoba membangunkannya dengan menampar pipinya.

“Aku... masih sadar.” Glass segera tersadar kembali, mengusap pipinya saat dia berdiri

“Kau baik-baik saja?” Tanyaku lagi, sekarang dia bisa mendengarku.

“Ya, aku rasa begitu... Tapi apa yang telah terjadi?” Tanyanya.

“Asap aneh itu keluar dari tubuh Kizuna. Karena kau yang paling dekat, asap itu membuatmu pingsan,” Kataku padanya.

“Aku tak yakin apa yang terjadi pada diriku... Aku merasa sangat lesu...” Lapor Glass, wajahnya tampak pucat.

“Kizuna, kami permisi dulu. Aku perlu bicara dengan Glass. Tunggu saja disini,” Kataku. Kizuna hanya mengerang sedikit sebagai balasan, bahkan dia sudah tidak membalas secara benar.

Kami meninggalkan Kizuna di dalam ruangan yang penuh asap ini dan kembali ke luar. Lalu kami memanggil salah satu ahli kutukan dan memintanya memeriksa Glass. Ternyata dia menderita kutukan ringan—yang untungnya bisa diobati dengan cepat. Tepat setelah kami meninggalkan ruangan, Glass sudah sadar sepenuhnya dan bediri dengan kedua kakinya.

“Apa yang terjadi pada Kizuna?” Glass memutuskan untuk bertanya.

“Dia menyerangmu bukan? yang seharusnya menjadi sekutunya,” Kata Raphtalia khawatir.

“Tidak. Dari apa yang kita lihat, aku tak yakin aku akan menyebut itu sebagai serangan darinya,” Jawabku. Itu jelas bagiku tidak terlihat seperti Kizuna menghasut tindakan itu sendiri dan lebih seperti senjatanya yang harus disalahkan.

Aku berbicara dengan Kizuna melalui jendela kaca di kamarnya.

“Kizuna, bisakah kau berhenti menggunakan senjata itu? Senjata itu menyebabkan berbagai macam masalah,” Kataku.

“Apa? Apakah kau mengatakan sesuatu?” Jawabnya malas. Kizuna masih berbaring memunggungi kami. Beberapa detik berlalu dan rasanya seperti aku tak bicara sebelumnya.

“Kizuna! Kenapa kau hanya berbaring saja? Cepatlah dan ganti senjatamu!” Tegur Glass.

“Bah... Merepotkan sekali,” Jawabnya. Kizuna terus berbaring di lantai, bahkan saat asap misterius itu memenuhi ruangan. Setidaknya kami berhasil menahan asap agar tetap berada di dalam ruangan, sekarang terdapat getaran yang aneh diudara, getaran tersebut mulai menembus dinding dan mendatangi kami.

“Aku bertaruh bahwa senjata itulah yang membuat Kizuna menjadi gila,” Kataku.

“Aku setuju,” Kata Raphtalia.

“Ingat, Kizuna ditahan oleh garis terdepan gelombang dan musuh bebuyutan S’yne. Aku tidak akan membiarkan mereka meletakkan jebakan padanya jika dia berhasil diselamatkan,” Lanjutku. Kami sudah tahu mereka telah menggunakan semacam modifikasi aneh pada empat senjata suci dan membuatnya dapat dikendalikan oleh mereka. Kizuna adalah satu-satunya pahlawan suci yang tersisa di dunia ini—masuk akal jika mereka melakukan sesuatu padanya, sesuatu yang tidak akan membunuhnya tetapi juga akan mencegahnya untuk kembali beraksi jika dia berhasil melarikan diri.

“Kita seharusnya menghancurkan aksesoris itu sebelum kita kembali,” Keluhku.

“Kami telah mencobanya,” Jawab Raphtalia.

Memang, kami telah mencobanya.

“Jadi kutukan macam apa ini?” Dia bertanya. Kami semua melihat ke arah Kizuna lagi. Sepertinya asap menyebar dari tubuhnya. Aku tidak menyukainya.

Para ahli kutukan telah menempatkan ofuda pemurnian yang baru di dinding dan menutup ruangan itu lagi.

“Jika kutukan lain berdasarkan tujuh dosa mematikan...” Aku memikirkan kembali ke arah yang telah kami lihat di masa lalu. Aku memiliki kutukan amarah. Aku masih tidak yakin bagaimana jadinya jika amarah tersebut benar-benar menguasaiku, tapi dorongan untuk mengancurkan sesuatu dan membunuh orang sangat kuat. Sementara itu, Ren sang Pahlawan Pedang menderita karena keserakahan dan kerakusan. Itsuki sang Pahlawan Busur menderita kebanggaan, tapi kutukannya sedikit berbeda, membuatnya merasa lebih benar dari siapaun. Lalu ada Motoyasu sang Pahlawan Tombak yang menderita nafsu dan iri hati. Melihat Kizuna yang tergeletak di lantai, mengeluh saat melakukan sesuatu, kutukan yang tepat ialah...

“Kemalasan. Menurutmu ini mungkin senjata kutukan kemalasan?” Tanyaku. Jika kutukan itu melemahkan keinginannya untuk melakukan apapun dan juga mencemari segala sesuatu disekitarnya, kemalasan tampaknya cukup tepat. “Apa pun itu,” Lanjutku, “kita harus membuatnya mengubah senjatanya.”

“Kizuna! Tolong, ganti senjatamu sekarang juga!” pinta Glass. “Senjata itu bahkan memengaruhi pikiranmu!”

“Hah... Baiklah...” Jawabnya. Sepertinya dia akan benar-benar melakukannya! Kizuna meletakkan tangannya diatas alat pancing dan mencoba mengubah bentuknya... Tetapi tidak terjadi apapun, dan dia hanya terkulai malas kembali.

“Tidak bisa diubah... Sangat merepotkan...” Jawabnya. Aku bertemu dengan matanya dan menelan ludah. Matanya tampak seperti ikan mati, kosong tak bernyawa dan mengerikan.

Apakah dia sangat menyukai ikan sehingga dia mulai menjadi ikan? Jika kau bertemu dengannya di gang gelap pada malam hari, dengan mata itu, kau pasti akan melarikan diri.

“Sepertinya dia tidak bisa mengubah senjatanya... dan dia juga benar-benar terlihat tidak bernyawa dan lesu,” Ringkasku.

“Jadi, meskipun kita ‘menyelamatkan’ dia—meskipun kita memilikinya disini—dia sebenarnya belum terselamatkan?” Ujar Glass meratap.

“Singkatnya seperti itu. Mereka benar-benar memperhitungkan jebakan mereka.” Aku menggelengkan kepalaku, bertanya-tanya bagaimana mereka mengubah salah satu senjata suci menjadi senjata kutukan secara paksa. Ketika aku memikirkannya, dia berada dalam pose yang aneh—seperti sedang memancing—jadi kami seharusnya sedikit lebih waspada. Kami harus mematahkan kutukannya sebelum kami memulihkannya menjadi normal.

“Bagaimana cara mematahkan kutukan ini? Bisakah kita menghancurkan aksesori dengan... beberapa mata air panas yang bekerja pada kutukan atau air suci... atau sesuatu yang seperti itu?” Tanyaku. Aku mencoba merusak aksesori itu dengan sihir, tetapi tidak bisa. Aksesori ini jauh lebih tangguh daripada yang mereka gunakan untuk mengontrol vassal weapon.

“Ah, ini semua sangat menyebalkan...” Kizuna mengulurkan tangan, mengambil sebuah roti kukus yang telah aku taruh di ruangannya, dan mulai memakannya sambil berbaring di tanah. Setidaknya dia masih ingin makan, namun tidak lebih dari itu.

“Sebaiknya kita melaporkan ini ke yang lain,” Kataku.

“Oke,” Rapthalia setuju. Kami pun mengumpulkan yang lainnya.

“Bah! Situasi ini menyebalkan!” Gumam L’Arc, mendecakkan lidahnya.

“Therese, apakah ada sesuatu yang bisa kau lakukan?” Tanyaku.

“Aku akan mencobanya...” Jawabnya. Dia dengan hati-hati bergerak ke arah Kizuna dan mulai melantunkan sihir. Efek dari aksesoris yang dibuat oleh Imiya untukku memberikan Therese perlindungan yang cukup besar. L’Arc telah menceritakan beberapa kisah betapa buas tindakannya saat pertempuran, jadi jika masalah ini berakar pada sihir, mungkin dia dapat memecahkannya. Meskipun demikian... “Itu tidak bagus,” akhirnya dia bicara. “Rasanya seperti mereka telah menggabungkan senjata suci dan aksesoris bersama-sama dan memaksanya mempertahankan bentuk senjata kutukannya.”

“Yang artinya Nona Kizuna bisa mengatasinya dengan menjadi lebih kuat,” Kata L’Arc.

“Aku tak bisa mengatakan ini akan bekerja atau tidak. Kutukan itu menggunakan kekuatan Kizuna dan senjata suci sebagai medianya. Jika Kizuna semakin kuat, aksesoris itu juga akan semakin kuat,” Jelas Glass.

Sungguh menyebalkan! Bisa dikatakan, kami tidak bisa meninggalkan Kizuna dalam keadaan seperti ini. Kami tidak tahu kapan Bitch, musuh bebuyutan S’yne, atau musuh yang memegang vassal weapon yang tersisa akan muncul untuk menyerang. Kami perlu membuat Kizuna bergerak secepatnya.

“Fehhh...” Gumam Rishia adalah satu-satunya kontribusinya.

“Bagaimana jika aku memainkan musik sihir pemurnian?” Tanya Itsuki.

“Perlukah aku bernyanyi?” Saran Filo, bergabung dengan mengusulkan cara mematahkan kutukan. Hal itu berhasil di dunia kami berasal... Dan di tanah terkutuk misalnya.

“Aku yakin kau bisa memurnikan area di sekitar Kizuna. Itu mungkin akan berhasil untuk melindungi kita, tapi kupikir itu tidak akan berbuat banyak pada Kizuna sendiri. Penyakitnya berada di dalam. Sepertinya kau hanya akan menunda penyebaran polusinya sedikit,” Jelas Glass. Semakin lama aku mendengarkan, kutukan ini semakin menjengkelkan.

Kemudian Ethnolbath mengangkat tangan dengan usul lain.

“Tempatku, Labirin Perpustakaan Kuno, memiliki salinan dari hampir semua buku yang pernah ditulis di dunia ini,” Jelasnya. “Kita mungkin menemukan beberapa petunjuk bagaimana cara menangani hal ini.” Ethnolbath pernah menjadi pemegang vassal weapon kapal ketika kami pertama kali bertemu dengannya, tetapi selama pertempuran dengan Miyaji dia telah terpilih sebagai pemegang vassal weapon buku. Dia adalah ras yang dipanggil “kelinci perpustakaan”, jadi buku pasti lebih cocok untuknya daripada kapal. “Ada legenda mengatakan bahwa masalah di masa lalu yang sangat sulit dapat diselesaikan dengan mencari arsip di Labirin Perpustakaan Kuno,” Lanjutnya. Kedengarannya tidak dapat dipercaya, tapi mungkin ini lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

“Aku akan tinggal disini dan terus memainkan lagu pemurnian, untuk menghalangi penyebaran kutukan,” Kata Itsuki. “Naofumi, kau bisa menggunakan waktu ini dengan yang lainnya untuk pergi dan mencari cara menyelamatkannya. Bagaimana menurutmu?” Aku benar-benar tidak memiliki pilihan selain mengangguk, mengiyakan usul ini.

“Itsuki...” Kata Rishia, sedikit khawatir kepadanya.

“Tidak perlu khawatir Rishia. Kita hanya harus melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan,” Jawabnya.

“Aku menyarankan kalian yang ada disini untuk mengawasi dan melindungi Kizuna, hal itu akan mempermudah kami untuk pergi,” Aku beralasan. Tidak akan lucu sedikitpun jika markas operasi kami diserang dan jatuh ke tangan musuh saat kami semua berusaha mencari petunjuk. Markas yang telah direbut itu cukup buruk, tapi itu juga berarti kita harus menyelamatkan Kizuna untuk kedua kalinya.

Nyanyian Filo mungkin akan menjadi bantuan yang bagus untuk Itsuki, jadi aku memutuskan untuk menyuruh Filo tinggal juga.

“Aku juga harus memberitahumu bahwa Labirin Perpustakaan Kuno terletak agak jauh dari jam pasir naga terdekat. Perjalanan pulang pergi akan memakan waktu yang cukup lama bahkan jika kita menggunakan Return Dragon Vein. Kita perlu memilih orang yang akan tinggal disini dengan hati-hati,” L’Arc menambahkan.

“Tempat seperti apa Labirin Perpustakaan Kuno itu?” Tanyaku. Aku telah melewatinya sebelumnya tetapi tidak benar-benar melihat tempat itu secara detail.

“Kau pernah dijatuhkan bersama Kizuna di Labirin Tanpa Akhir bukan Naofumi?” Ethnobalt mengkonfirmasinya.

“Benar,”  Jawabku.

“Labirin Perpustakaan Kuno mirip dengan itu... labirin besar yang tak berujung. Dikatakan sebagai tempat berkumpulnya semua pengetahuan di dunia ini... tujuan dari semua buku,” Jelas Ethnobalt. Aku masih tidak dapat membayangkan sebuah tempat penampungan seperti apa yang dia ceritakan, tetapi sebagai penyuka video game, aku pikir itu benar-benar berbentuk kotak. Kedengarannya seperti Akashic Record, kiasan yang cukup umum dalam bentuk hiburan bagiku.

“Kelinci Perpustakaan adalah monster yang hidup di dalam perpustakaan. Kami memiliki kekuatan untuk merasakan, secara samar-samar, lokasi buku-buku yang dicari orang-orang,” Ubgkap Ethnobalt. Sekarang itu terdengar sangat praktis. Mereka tampaknya juga berpikir bahwa tidak memiliki vassal weapon kapal akan memperlambat kami, tetapi mereka sepertinya melupakan seseorang. Aku.

“Sejauh ini, aku berpikir skill vassal weapon cermin Teleport Mirror akan mempermudah perjalanan ini. Jika ingatanku  benar, aku seharusnya bisa membawa kita ke sana karena tempat itu pernah kukunjungi sebelumnya,” Kataku. Vassal weapon cermin dapat dengan bebas pergi ke mana saja menggunakan media cermin. Dan senjata ini memiliki beberapa pilihan berbagai kemampuan yang serupa. Cermin adalah senjata yang cukup mumpuni dalam hal kemampuan bergerak. Sifatnya sama seperti vassal weapon kapal, ia memiliki kemampuan seperti Portal Shield dan Scroll of Return. Untuk mengatakan “aku pernah kesana sebelumnya” mungkin sulit, karena aku hanya mampir sebentar dengan kapal Ethnobalt. Tapi aku yakin itu akan berhasil. “Jadi kita tidak perlu khawatir tentang kapan harus bergerak,” Lanjutku. Kita hanya perlu mencari tahu siapa saja yang akan ikut.

“Monster akan muncul di area labirin, jadi kita perlu orang yang dapat bertarung,” Tambah Ethnobalt.

“Aku,” S’yne segera mengangkat tangannya. “Di dungeon spesial—“

“Nona S’yne sedang menjelaskan bahwa dia memiliki skill yang tepat untuk digunakan pada Labirin yang dalam,” Familiarnya menerjemahkan. Tetapi terdengar tidak konsisten bagiku. Aku tidak bisa mengkategorikan dungeon dan labirin ke dalam kategori yang sama. Tentunya “Dalam” berarti labirin yang secara khusus menurun ke bawah terus menerus.

“Kau tidak mengatakan apapun ketika kita berada di labirin bawah kota tempat para pemegang vassal weapon itu berada,” Kataku sedikit sinis.

“Di labirin itu—“ Kata S’yne.

“Nona S’yne berkata bahwa tempat itu terasa berbeda dari tempat dimana kemampuannya dapat diaktifkan,” Jelas Familiarnya. Aku bertanya-tanya sejenak apakah aku bisa mendapatkan “perasaan” itu jika aku berlatih lebih keras.

“Memang benar Labirin bawah tanah dan Labirin Perpustakaan Kuno memiliki struktur yang mirip, tetapi aturan yang berlaku disana sedikit berbeda. Dari segi kedalaman... Menurutku, Labirin Perpustakaan Kuno lebih dalam,” Kata Ethnobalt. Berdasarkan pengalamanku sendiri di Labirin Tanpa Akhir, ada aturan yang berbeda disana, seperti pembatasan skill teleportasi.

“Jadi, apa ‘skill sempurna’ yang bisa kau akses?” Tanyaku. Sebagai tanggapan, S’yne mengubah vassal weaponnya menjadi bola benang.

“Skill Labirin, Ariadne’s Thread—“ Jawabnya.

“Menggunakan skill ini akan otomatis memetakan area yang sedang dieksplorasi. Jika dungeon memiliki aturan yang dapat menganggu teleportasi, skill itu dapat mengabaikannya dan langsung membawamu keluar,” Kata Familiarnya. Skill itu terdengar sangat cocok. Jenis Skill Return yang standar yang selalu muncul dalam game RPG.

“Tapi S’yne, bukankah memindahkan banyak orang itu sulit untukmu?” Tanyaku. Aku ingat ketika dia menggunakan skill itu untuk melompat ke suatu titik dan dia berkata berbahaya untuk membawa banyak orang bersamanya.

“Skill itu akan baik-baik saja—“ Kata S’yne.

“Skill ini murni untuk melarikan diri, jadi bebannya sama saat berteleportasi sendiri,” Familiarnya menjelaskan untuknya.

“Aku harus mengatakan ini... Vassal weapon dari dunia lain memiliki kekuatan yang luar biasa,” Kata Ethnobalt terkesan. Melihat dia telah lahir disana, dia mungkin terkesan tentang menghindari aturan bangunan tersebut yang telah dia hadapi sepanjang hidupnya.

Tetap saja, Ariadne’s Thread... Skill itu terkenal di duniaku sebagai cara yang digunakan untuk melarikan diri dari labirin Minotaur.

“Jadi, kau bahkan akan baik-baik saja jika kau dilemparkan ke Labirin Tanpa Akhir Sy’ne,” Kataku.

“Ya,” Jawabnya. Skill itu sangat cocok. Jika kami membawa Sy’ne saat itu, kami tidak perlu menggunakan bioplant.

“Itu akan membuat S’yne sebagai pelengkap. Bersama Raphtalia dan Ethnobalt... Glass, bagaimana dengamu?” Aku bertanya padanya. “Apa kau ingin tetap disini dan mengawasi Kizuna?” Glass menatap ke arah kamar Kizuna sejenak kemudian menatapku.

“Tidak. Aku harus memprioritaskan menemukan cara menyembuhkannya,” Jawabnya.

“Pen!” Timpal Chris, bergerak menuju Itsuki dan menunjukkan niat untuk membantunya melawan kutukan. Dia adalah seorang Shikigami, jadi dia cukup tahan terhadap situasi seperti ini. Jadi Glass akan meninggalkan Kizuna dengan Chris dan datang membantu mencari solusinya.

“Oke, tidak maslah bagiku,” Kataku. Ada lagi? Aku cukup yakin paus pembunuh bersaudara akan ikut—dan beberapa saat kemudian, mereka mengangkat tangan.

“Kami disini, Naofumi kecil. Kami tidak ingin melewatkan kesenangannya!” Kata Sadeena.

“Tambahkan satu lagi!” Tambah Shildina. Aku tidak melihat masalah besar jika membawa mereka berdua bersama kami.

“Bagaimana dengamu L’Arc?” Tanyaku.

“Aku senang dapat ikut bersamamu, tetapi akan segera terjadi gelombang di negara tetangga, jadi aku harus ikut serta dengan dewan strategi mereka,” Katanya. Tentu saja, dengan hilangnya banyak pengguna senjata suci, frekuensi gelombang benar-benar meningkat. Banyak negara yang berkoordinasi dengan Kizuna dan sekutunya telah terbantu dengan kedatangan kami baru-baru ini dan sekarang menangani gelombang adalah hal yang serius. Ikut sertanya L’Arc di beberapa pertemuan dewan adalah hal yang sangat wajar—dan itu hal yang bagus.

“Apakah ada kemungkinan itu merupakan jebakan?” Tanyaku memastikan.

“Itu kekhawatiran terbesarku, tetapi aku tidak bisa selalu mundur dan mengandalkanmu saat terjadi sesuatu bukan, Bocah?” Jawab L’Arc. Poin yang bagus.

“Kekuatan dari aksesoris ini yang telah kau berikan padaku, Master Craftsman, akan memungkinkan untuk mengatasi bahaya yang mungkin akan kami hadapi,” Jawab Therese. Aku memutuskan membiarkannya.

S’yne memutuskan memasukkan jarum kecil ke lengan L’Arc. Dia bisa menggunakan jarum itu untuk bergerak atau memata-matai pergerakan di sekitarnya.

“Jika jarum ini rusak—“ Katanya.

“Nona S’yne mengatakan jika jarum ini rusak atau terjadi sesuatu, dia akan segera memberitahumu Master Iwatani,” Jelas familiarnya.

“Kedengarannya ide bagus. Jika kau bisa mengadakan pertemuan dewanmu di temmpat yang aku kunjungi sebelumnya, itu akan berguna juga, “ Saranku.

“Tentu. Kami berniat untuk mengadakannya di tempat yang pernah Kyo kendalikan,” Jawab L’Arc. Aku langsung tahu tempat yang dia bicarakan. Ketika aku disini sebelumnya, aku mampir kesana dengan kapal Ethnobalt tepat sebelum keberangkatanku. Aku seharusnya bisa kesana hanya dengan menggunakan Return Dragon Vein.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita pergi,” Kataku pada mereka.

“Tentu!” L’Arc terlihat penuh semangat karena suatu alasan. Jadi Raphtalia, Raph-chan, Glass, Ethnobalt, S’yne, Sadeena, Shildina, dan aku langsung menuju Labirin Perpustakaan Kuno.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan

Sabtu, 17 April 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 32. Fina Meminta Tolong Kepada Beruang

Volume 2
Chapter 32. Fina Meminta Tolong Kepada Beruang


Saat aku bangun di pagi hari, ibu terlihat kesakitan. Memang biasanya kondisi ibu buruk, tapi ini berbeda. Dia seperti tidak sadar. Tidak peduli berapa kali aku memanggil namanya, dia tidak menjawab. Aku mencoba berulang kali untuk membuatnya minum obat, tetapi, bahkan setelah ia meminumnya, tidak ada yang berubah. Keringat membanjiri dahinya. 

Adik kecilku Shuri sangat khawatir. Dia sudah dari tadi berada di sisi tempat tidur, memanggil-manggil Bu, Ibu. Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. 

"Shuri, tolong jaga ibu."

"Kak?" Dia menatapku khawatir.

"Aku akan pergi menemui Gentz-san. Tenang saja. Gentz-san pasti akan melakukan sesuatu."

Aku mengelus lembut kepalanya dan langsung berlari menuju rumah paman Gentz. Di jam segini, dia masih belum berangkat kerja. Untungnya, masih belum banyak orang yang berlalu-lalang di jalan. Begitu sampai, aku langsung mengetuk pintu rumahnya dengan keras. 

"Gentz-san! Gentz-san!"

Paman Gentz keluar setelah mendengar suara ketukan pintu. "Ada apa? Mengapa kau pagi-pagi begini sudah datang?"

"Ini soal ibu."

"Apa yang terjadi pada Tiermina?!"

"Ibu sakit. Sakitnya lebih buruk daripada sebelumnya." Air mataku sudah tidak dapat terbendung lagi. "Kondisi ibu tidak kunjung membaik."

"Aku akan segera ke sana."

Paman Gentz mulai berlari. Aku ikut berlari mengikutinya secepat yang aku bisa. Aku tidak bisa menemukan sosok paman Gentz begitu tiba di depan rumah. Itu karena dia berlari jauh di depanku. Ternyata dia sudah di dalam, memanggil-manggil nama ibu. Tetapi, ibu sama sekali tidak merespon.

Paman Gentz berbalik ke arahku dan Shuri. "Aku akan pergi mencari obat. Kalian tolong jaga ibu kalian."

Aku dan Shuri menggenggam tangan ibu. Aku berdo'a, tolong, selamatkanlah ibu. Aku akan melakukan apapun, tapi tolong jangan ambil dia dari kami. Kumohon...

"Bu..."

"Fina, Shuri..."

"Ibu!" 

Ibu akhirnya sadar. Do'aku terkabulkan.

"Fina, Shuri, maafkan ibu."

Kenapa ibu malah meminta maaf? Ibu tidak salah apa-apa. Mata ibu berlinang, meneteskan air mata.

"Bu..."

"Mungkin ini sudah waktunya bagi ibu. Jika nanti ibu mati, tolong temuilah Gentz-san. Ibu yakin dia akan menolong kalian."

Ibu terlihat kesakitan saat mengucap kata-kata. Apa ibu akan mati? Aku tidak mau hal itu terjadi.

"Kalian berdua, tolong maafkan ibu. Ibu sungguh minta maaf karena kalian memiliki ibu seperti ibu."

Ibu memegang tangan kami dengan cengkeramannya yang lemah. Aku penasaran sudah berapa lama waktu berlalu semenjak paman Gentz pergi. 

Dia belum kembali. Mungkin baru beberapa menit waktu telah berlalu, tetapi rasanya sudah seperti berjam-jam. Kumohon cepatlah kembali, aku kembali memohon.

"Ugh."

Rasa sakit yang diderita ibu kian memburuk. Seseorang, tolong. Tangan mungil milik Shuri mencengkeram erat tanganku. Aku tidak boleh menyerah.

"Shuri." Aku menatap mata Shuri. Dia tampak gelisah. "Terus pegangi tangan ibu."

Aku melepas genggaman tangan Shuri dan memindahkannya ke tangan ibu.

"Kak?"

"Mungkin Yuna dapat melakukan sesuatu."

Aku meninggalkan ibu dalam penjagaan Shuri dan berlari ke rumah Yuna. Aku belum boleh menyerah. Aku dapat melihat rumah beruangnya. Aku langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.

"Yuna-san!"

Ada Yuna di dalam. "Ada apa?"

"Y-yuna-san, i-ibu..."

Aku tidak bisa mengatakannya. Suaraku tidak mau keluar.

"Tenanglah."

"Penyakit ibu semakin parah...dan meski sudah kuberi obat...sakitnya tidak kunjung mereda...aku mencoba meminta bantuan Gentz-san, tapi...dia bilang akan pergi untuk mencari obat dan masih belum kembali...A-apa yang harus kulakukan?"

Saat aku menatap wajah Yuna, air mataku tidak berhenti mengalir. Aku sudah jauh-jauh datang kemari, tapi Yuna bukanlah seorang dokter. Tetap saja, aku beranggapan, jika ini Yuna, mungkin dia dapat melakukan sesuatu. 

Yuna dengan lembut meletakkan tangannya di atas kepalaku. "Baiklah, aku paham. Bisakah kau antar aku ke rumahmu?" Ujarnya sambil tersenyum lembut.

Aku pun membawa Yuna ke rumahku.


Ketika kami tiba di rumah, paman Gentz telah kembali. Mungkinkah dia berhasil mendapatkan obatnya? "Gentz-san?!"

"Maaf aku terlambat."

"Apakah kau dapat obat untuk ibu?"

"Maaf." Katanya sambil menundukkan kepala. Seandainya itu adalah obat yang mudah didapat, kemungkinan paman Gentz sudah berhasil mendapatkannya. Dia sudah banyak membantu kami. Aku tidak bisa marah padanya. 

Aku mendekat ke kasur. Ibu tampak begitu kesakitan sampai-sampai aku tidak tega melihatnya.

"Gentz, jika terjadi apa-apa denganku...kumohon...rawatlah anak-anak ini."

"A-apa yang kau katakan? Memangnya apa yang akan terjadi padamu?!" Teriak paman Gentz.

"Gentz...aku telah banyak menyusahkanmu. Terima kasih banyak atas obat dan semua yang telah kau lakukan pada Fina." "Tidak apa-apa. Jika kau beristirahat, kondisimu akan membaik. Jangan memaksakan diri untuk berbicara. Aku akan menjaga kedua anak ini, kau fokus saja pada kesembuhanmu."

"Shuri...Fina...kemarilah, biarkan ibu melihat wajah kalian."

"Ibu!" Kami berdua menangis.

Aku tidak dapat melihat wajah ibu dengan jelas, disebabkan air mata yang membasahi mataku. Ibu memeluk erat kami. Aku nyaris tidak merasakan tenaga dari tangan ibu. 

"Maafkan ibu karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk kalian. Dan terima kasih, Fina, Shuri."

Mata ibu terpejam rapat.

"Terima kasih, Gentz."

Seolah-olah ibu sudah tidak akan membuka matanya lagi. Aku menggenggam tangan ibu, tapi tidak ada respon darinya. Ibu sudah tidak mampu membuka matanya lagi. Mungkin, aku sudah tidak akan mendengar namaku dipanggil lagi olehnya.

Ibu, Ibu, Ibu.

Aku tidak bisa berhenti menangis.

Terdengar suara aneh di belakangku. Saat aku berbalik, ternyata itu suara Yuna bertepuk tangan. 

"Yuna-san?"

"Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu atau tidak, tapi aku akan coba memeriksanya, kalian berdua tolong minggirlah." Yuna meminta kami untuk menyingkir. "Tolong bertahanlah sedikit lagi," kata Yuna kepada ibu. 
Yuna meletakkan tangannya di atas tubuh ibu. 

"Cure."

Tubuh ibu menyala. Cahaya yang terpancar dari sihir benar-benar indah, dan terasa hangat, seakan-akan, untuk sesaat, aku mampu merasakan kehadiran dewa di sana. Napas ibu mulai stabil. Aku tidak dapat mempercayainya. Sampai tadi, ibu tampak sangat kesakitan, tapi sekarang dia sudah mulai bernapas seperti biasa.

"Heal."

Kali ini Yuna merapal mantra yang berbeda. Mata ibu yang terpejam perlahan terbuka, dan—seakan tidak terjadi apa-apa—ibu bangkit dari tempat tidur. 

"...huh, tubuhku sudah tidak sakit lagi?"

"Ibu!"

"Kelihatannya itu berhasil."

"Nona, apa yang baru saja kau perbuat? Apakah dirimu ini semacam priest atau cleric tingkat tinggi—maaf, itu tidak penting sekarang. Apapun yang barusan kau lakukan, terima kasih." Paman Gentz mengucapkan terima kasih pada Yuna. Oh, benar juga—aku belum berterima kasih padanya!

"Yuna-san, terima kasih!"

Paman Gentz dan ibu mulai mendebatkan bagaimana cara mereka membayar Yuna. Aku pernah mendengar dari paman Gentz bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit ibu adalah dengan mendatangkan seorang priest, dan itu perlu biaya besar. Kami tidak punya uang sebanyak itu.

Yuna telah menyelamatkan ibu. Jika perlu, aku akan mengorbankan hidupku untuk membalas kebaikannya—tetapi Yuna mengatakan sesuatu yang tidak disangka-sangka.

"Aku tidak butuh uang. Aku hanya ingin melindungi senyuman Fina."

Aku hampir menangis lagi. Mampukah aku membalas semua kebaikan Yuna selama sisa hidupku nanti? 

"Tapi..."

"Baiklah, tapi jika ada yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja,"

"Akan kulakukan apapun begitu tenagaku pulih."

Benar. Kami tidak bisa menerima kebaikannya begitu saja, meskipun Yuna sendiri telah berkata kalau dia tidak butuh balasan apapun. Jika ada sesuatu yang mampu aku lakukan untuknya, aku akan melakukannya. 

Aku melihat sudut kanan bibir Yuna terangkat saat mendengar paman Gentz dan ibu mengatakan "apapun,"

"Kalau begitu, akan kubuat kalian melakukan sesuatu yang cuma kalian berdua mampu lakukan." Kata Yuna tanpa pikir panjang. 

Suasana di dalam ruangan semakin berat. Apa yang Yuna ingin mereka berdua lakukan? Yuna menatap sekeliling sebelum akhirnya menyuruhku dan Shuri membeli sesuatu. 

"Fina, belilah sesuatu yang lezat bersama adikmu. Jangan lupa belikan juga ibumu makanan yang bernutrisi."

Dia memberiku sejumlah uang. Apakah Yuna berencana menyuruh ibu dan paman Gentz melakukan sesuatu yang kami tidak boleh tahu? Aku ingin tetap berada disini dan mendengarnya, tapi...aku juga ingin membelikan ibu sesuatu yang bergizi untuk dimakan. Seperti yang Yuna perintahkan, aku pun pergi bersama Shuri.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Jumat, 16 April 2021

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 61. Party Adventurer Dalam Bahaya

 Chapter 61. Party Adventurer Dalam Bahaya




Ketika kami sedang minum teh, aku bertanya pada Yuri.

“Kau terlihat sangat muda. Berapa umurmu sekarang.”

“Sekarang aku berumur 13 tahun.”

“Owh, sangat muda sekali rupanya.”

“Tapi, aku akan berumur 14 dalam waktu dekat.”

Dia terlihat lebih muda dari usianya. Aku malah mengira kalau dia berumur 12 tahun.

“Apa yang membuatmu menjadi Adventurer di umurmu yang masih muda itu?”

“Kedua orang tua ku mati ketika aku masih kecil. Kemudian aku tinggal bersama bibi ku selama beberapa saat, tapi dia juga sangat kekurangan.”

“Jadi itulah mengapa kau menjadi Adventurer. Karena itu adalah cara cepat untuk mendapatkan uang.”

“Benar”

Dia tidak terlihat sedih sama sekali ketika membicarakan hal itu.

“Aku berencana untuk menjadi Adventurer yang hebat jadi aku bisa mandiri. Aku ingin menjadi pria yang tidak hanya melindungi diriku sendiri, tapi keluargaku juga.”

“Itu tujuan yang baik sekali. Aku yakin kau bisa mencapai tujuanmu itu tidak lama lagi.”

“Apakah anda serius?” Katanya dengan mata yang berkilau.

“Tentu saja, aku serius. Kekuatanmu itu sangat hebat.”

“Senang mendengarnya dari Sorcerer seperti anda.” Katanya bersemangat.

“Tapi aku jauh lebih kuat.” Canda Jeanne sambil menggulung lengan bajunya. Lengannya nyaris sama tipisnya dengan lengan Yuri.

“Yah, kau itu Hero. Itu adalah perbedaan yang cukup mendasar. Aku yakin Yuri akan menjadi Adventurer yang hebat. Dan ketika itu terjadi, kau harus mencoba untuk mengunjungi Raja Iblis Astaroth.”

“Ra-Raja Iblis …?”

Ekspresinya berubah menjadi sedikit murung.

“Ya, memang banyak manusia yang membenci Raja Iblis. Akan tetapi Raja Iblis Astaroth berbeda, penduduk kotanya sangat beragam. Dan juga tidak ada satupun budak di kastilnya.”

“Tidak ada budak!? Apakah itu benar!?”

“Itu benar.”

“Aku tidak bisa mempercayai itu. Sungguh raja yang baik hati…”

“Yah, kau akan paham jika kau pergi sendiri kesana. Itu adalah tempat yang nyaman untuk tinggal. Kau bisa bergabung ke pasukan atau memulai bisnismu sendiri. Atau kalau mau, kau masih bisa melanjutkan untuk menjadi Adventurer. Bahkan sudah ada rencana untuk membuat Guild di kota itu, sama seperti kota manusia pada normalnya.”

“Itu terdengar sangat luar biasa. Dia pasti seperti Raja Manusia yang baik.”

Aku tidak bisa bilang kalau aku adalah manusia di kehidupan sebelumnya. Akan tetapi tetap saja, aku mendeskripsikan tempat itu sebagus mungkin.

‘Begitu rupanya.’ Kata Yuri dengan tersenyum. Tapi kemudian dia melanjutkan.

“Aku masih ingin tinggal di Dungeon ini untuk sementara sambil berlatih. Mungkin aku akan mengunjungi tempat itu setelah aku menjadi lebih kuat. Dan juga, aku masih memiliki kontrak dengan Partyku yang sekarang.”

“Baik hati sekali kau. Jika aku jadi dirimu, aku tidak akan mau bertahan diparty sampah seperti mereka.” Ujar Jeanne sambil meminum teh nya.

Aku memperkirakan kalau Yuri akan setuju, tetapi dia hanya tertawa kecil.

“Oh, tapi mereka cukup baik padaku.”

“Oh iya? Apa contoh nya?” Tanya Jeanne

“...Uhhhh. Mereka membayar kerja keras ku.”
<TLN: Bruh…>

“Apakah mereka pernah memotong upahmu ?”

“Huh? Bagaimana anda tahu ?”

“Aku punya perasaan tentang hal itu.”

Sepertinya pemimpin Party Yuri selalu mencari cara untuk mengurangi upahnya.

Contohnya, jika Yuri tidak bisa menangkap ikan atau jika dia menjatuhkan satu bongkahan ‘Ore’ saja, maka upah nya akan dipotong. Mungkin saja, dia tidak pernah dibayar secara penuh.
<EDN: Ore disini semacam bijih mineral / bisa aja dari monster. Belum ada detail lebih lanjut> 

Yuri sepertinya masih berpikir kalau dia masih termasuk orang yang beruntung karena masih dibayar tepat waktu, tapi jelas itu bukanlah lingkungan kerja yang bagus. Saat aku berpikiran untuk berbincang dengan pemimpin Partynya, Yuri menghentikanku.

“A-Aku baik-baik saja. Ini adalah masalah pribadiku.”

Dia dengan susah payah melindungi tuannya. Dan aku tidak suka itu. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal itu. 

Ketika aku sedang melanjutkan minum tehku. Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan tidak jauh dari tempatku. Tidak, suara itu berasal dari bawah kami. Lapisan selanjutnya.

Apa yang sedang terjadi? 

Ketika yang lain sedang kebingungan tentang apa yang sedang terjadi, aku teringat satu hal. Aku mempunyai Familiar yang sedang mengikuti Party milik Yuri, kemudian aku menampilkan gambar di layar. Terlihat Party tempat Yuri bergabung sudah mencapai lapisan ke-lima dan sekarang mereka sedang melawan Guardian Beast,

Guardian Beast pada lapisan ke-lima adalah kuda sungai atau dikenal dengan nama Kelpie. Mahluk itu memiliki badan yang terdiri dari setengah kuda and ikan yang hidup di sungai. 

Walaupun makhluk-makhluk di dungeon ini kuat, akan tetapi seharusnya Kelpie tidak sekuat itu.

Namun, Kelpie yang mereka lawan sedikit berbeda. Pertama, tubuh mereka lebih besar dari ukuran normal mereka. Normalnya, ukuran mereka hanya seukuran kuda normal. Tapi ukuran Kelpie yang dilawan oleh Partynya Yuri hampir sama dengan ukuran Kuda Nil. Tidak hanya itu, Kelpie yang mereka lawan sepertinya mempunyai kemampuan untuk menggunakan sihir. Makhluk itu terlihat melepaskan beberapa bola air ke arah mereka. Bola air itu terlihat efektif untuk melawan Party tersebut.

Ketika Yuri melihat ini dia berteriak

“Tuan Jayce!”

Dia dengan cepat mengambil barang nya dan berlari ke tempat Party-nya berada. Akan tetapi dia berhenti sebentar untuk membungkuk kepada kami. Sopan seperti biasa.

Kemudian dia berlari seperti kelinci yang sedang melarikan diri. Dia langsung mengarah ke jalan pintas menuju Lapisan ke-lima yang berada beberapa ratus meter di depan.

Mungkin dia akan bertemu dengan Party nya dalam beberapa menit. Akan tetapi aku tidak melihat kemungkinan kalau mereka bisa mengalahkan Kelpie itu.

Tidak hanya Party itu yang akan mati, tapi Yuri juga akan mati. Setelah aku memikirkan hal ini aku melirik ke arah Eve, Jeanne dan Hanzo. Mereka semua mengangguk dan mulai mengikutiku. Kami juga akan menuju lapisan ke-lima untuk menyelamatkan mereka. 


Note:
Untuk Update selanjutnya libur 2 minggu, mimin Tasha lagi ada ujian dikehidupan nyata. Sekali lagi doakan beliau ya.



PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Kamis, 15 April 2021

Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel Bahasa Indonesia Volume 6 Chapter Interlude: Raja Emas Menghadapi Pahlawan Menyedihkan Dengan Pertaruhan Putri Platinum

Volume 6
Chapter Interlude: Raja Emas Menghadapi Pahlawan Menyedihkan Dengan Pertaruhan Putri Platinum


Chyrsos, Sang penguasa muda Vassilios yang dikenal sebagai Raja Emas dan juga Demon Lord pertama, memandangi salah seorang pelayannya yang memberi laporan dengan tatapan curiga. Saat ini, mereka berada di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk urusan pemerintahan. Di atas meja luas miliknya, ada segunung dokumen yang tertulis dalam bahasa yang rumit, bahkan orang-orang dari ras lain tak bisa membacanya.

Karena dia baru saja naik tahta, pekerjaan yang harus dia lakukan pun bertambah secara signifikan.

Waktu sudah berlalu lama sejak kepergian sang raja pendahulunya, dan sebelum Chrysos dinobatkan menjadi raja, kuil Banafsaj lah yang menjalankan pemerintahan negeri Vassilios sebagaimana raja pendahulu melakukannya. Semenjak saat itu, negeri Vassilios seperti tak tersentuh aliran waktu dan terus menjalankan kebijakan rezim terdahulu.

Dengan memerintah atas Namanya sendiri, Chrysos menekankan perubahan dan reformasi bagi negeri Vassilios. Meskipun begitu, hal ini bukanlah keinginan dari Chrysos sendiri. Sebab semua ini dia lakukan untuk mewujudkan permintaan terakhir dari ibunya, sang pendeta agung yang memerintah saat itu, yang menginginkan perubahan bagi negeri tersebut. Hingga akhirnya, Chrysos pun berhasil membawakan perubahan itu, dan mendapatkan kepuasan ditengah-tengah kesibukannya.

Reformasi tersebut juga menyangkut tentang menjalin hubungan dengan ras manusia. Chrysos mengabdikan dirinya untuk mewujudkannya, sambil berharap hari itu akan datang lebih cepat. Hal ini menjadikan dirinya seorang yang gila kerja. Dia pun mulai menyerupai seseorang, meskipun alasan dibalik perjuangannya berbeda.

Dibandingkan pelayannya, orang yang dilaporkan pelayannya itulah yang menjadi sumber ketidaknyamanan Chrysos. Pria disamping Chrysos, yang selalu memberikan bantuan dalam urusan pemerintahan, hanya bisa tersenyum kaku ketika melihat Sang Raja Emas dalam kondisi seperti itu. Dia sudah cukup lama terlibat dalam pemerintahan, sejak saat ibunya, Mov, masih memegang jabatan pemerintahan, dan Chrysos juga sudah mengenal pria itu sejak ia masih kecil.

“Sungguh jarang melihat wajah anda seperti itu, Master.” 

Ras Iblis tidak memiliki nama keluarga, sehingga mereka harus menggunakan gelar kehormatan ketika mereka ingin menunjukkan rasa hormatnya. Mengingat posisi Chrysos, sudah hampir tidak ada lagi yang memanggilnya menggunakan namanya. Namun, kesempatan untuk mendengar namanya disebutkan telah meningkat secara dramatis akhir-akhir ini.

Kembalinya saudara kembarnya, Latina, yang sangat mirip dengannya bahkan bisa dibilang bahwa dia adalah belahan dari Chrysos, adalah kejadian yang sangat penting baginya. Dan dalam waktu yang sama, kembalinya Latina juga berarti mengundang seseorang yang berharga bagi gadis itu ke dalam wilayahnya. 

“Sudah sewajarnya bagiku membuat wajah seperti ini.”

“Sang Putri Platina dan pahlawannya terlihat saling menyayangi, bukankah begitu?”

Wajah Chrysos semakin dipenuhi ketidaksenangan dengan kata-kata bawahannya itu. Pria itu merasa bahwa agak menarik untuk melihat dia menampakkan emosinya begitu jelas, melihat bagaimana dia telah mengesampingkan perasaannya sendiri untuk tetap maju sejak penobatannya.

“Pria itu… dia hanya pernah terlihat saat keluar dari kamar Platina…” kata Chrysos dengan tatapan lurus dan nada rendah yang tepat.

“Itu…” kata pria itu, senyuman tegang pun kembali ke wajahnya.

Tentu saja Chrysos sudah menyiapkan sebuah ruangan untuk Dale. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan menggunakannya setelah memindahkan perlengkapan dan koper selama perjalanannya ke dalam ruangan itu. 

Tidak perlu disebutkan lagi bahwa Dale selalu makan dan tidur di dalam villa yang sudah difungsikan sebagai kamar pribadi Latina. Ketika dia mendengar laporan itu, wajah Chrysos dipenuhi ekspresi yang rumit, setengah seperti putus asa, dan setengah lainnya kecemburuan.

Ketika mereka masih muda, Chrysos dan Latina saling menganggap satu sama lain sebagai orang paling penting di dunia. Mereka jarang berinteraksi dengan orang lain selain orang tua mereka, dan ketika mereka bermain atau belajar, mereka selalu berada di sisi satu sama lainnya. Wajar saja jika mereka menjadi sosok istimewa bagi mereka masing-masing. Dan kemudian, sebelum mereka tumbuh cukup dewasa untuk bisa mandiri, mereka terpisah antara satu dengan yang lain. Perasaan kehilangan yang hebat itu menjadi bekas luka di hati mereka bahkan sampai saat ini. 

Mengingat bagaimana besarnya keinginan Chrysos bagi setengah dari dirinya untuk kembali, mungkin sudah seharusnya jika dia merasa sesuatu dari pahlawan menyedihkan itu, yang menjaga Latina hanya untuk dirinya sendiri, yang dia sebut sebagai “pria itu”.

“Sepertinya mereka benar-benar hanya tidur di ranjang yang sama, tapi tetap saja…”

Dengan gumaman Chrysos, suatu ekspresi rumit melintasi wajah dari bawahannya. Mengenal Chrysos muda juga berarti bahwa dia mengenal Latina sejak dia masih kecil. Dia juga pernah menjadi rekan dari orang tua si kembar, karena itu dia pun tidak bisa menahan perasaan rumit bahwa nyatanya seorang Latina, yang dulu begitu kecil, telah menemukan pria istimewa dalam hidupnya.

Para pelayan wanita yang disiapkan di villa adalah mereka yang sudah dipercaya Chrysos. Latina tidak bisa dibiarkan terlihat oleh publik di tempat umum, mengingat masa lalunya sebagai “kriminal” yang sudah diasingkan, dan fakta bahwa dia sedang dalam keadaan lemah dan bahkan tidak bisa bergerak dengan baik. Mereka adalah pelayan yang bisa dia percaya untuk mengurus Latina dalam kondisi seperti itu. Mereka diperlakukan sebagai bawahan yang bergerak atas perintah langsung Chrysos, dan diberikan ijin untuk melapor padanya secara pribadi. Akhir-akhir ini, dia memutuskan bahwa langkah yang ia ambil adalah yang terbaik, meskipun untuk alasan yang berbeda dari yang ia pikir sebelumnya. Melihat keadaan dari sudut pandang yang berbeda, dia bersyukur karena dia tidak mengekspos bagaimana kemesraan kehidupan sehari-hari saudara perempuannya bersama pahlawan menyedihkan itu.

Bagi para pelayan wanita dan pelayan lain yang bertugas membersihkan ruangan, serta mengganti dan mencuci sprei dan pakaian, sudah sangat jelas bahwa pasangan yang tinggal di villa itu hanya menghabiskan waktunya bersama. Bahkan Chrysos tidak punya pilihan lain selain menyerah pada pahlawan menyedihkan itu. Dia dengan jelas bertindak tanpa perhitungan hanya untuk saudara perempuannya, yang saat ini belum pulih total dan perlu beristirahat.

Informasi yang dia dapatkan dari Sylvia sebelumnya adalah tentang bagaimana mereka selalu bermesraan dan saling menggoda satu sama lain bukanlah sesuatu yang ingin diketahui oleh seorang gadis muda seperti Chrysos. Tentang bagaimana pria itu melebihi harapannya dan memaksa dia untuk mengevaluasi kembali pandangannya terhadap pria itu, meskipun hanya sedikit.

“Orang-orang di kuil tampaknya mulai menyadari kehadiran Putri Platina…”

“Yah… Kurasa sudah hampir waktunya untuk hal-hal berubah seperti itu.”

Latina tidak melakukan apa-apa selain menghabiskan waktu dengan tidur di villa, tetapi belakangan ini dia sudah cukup pulih, dan sekarang mulai berjalan-jalan disekitar kuil. Keberadaan dan garis keturunannya tidaklah diketahui oleh sebagian besar orang yang melayani di kuil. Bagaimanapun juga, hanya dengan melihat Latina, sudah jelas sekali bahkan hanya sekilas saja bahwa dia punya hubungan dengan raja saat ini, Chrysos. Rambut platina yang berasal dari Ayahnya sangatlah unik, di Vassilios sekalipun, dan keduanya juga sangat mirip sehingga hampir tidak mungkin untuk membedakannya. Selain itu, bentuk gelombang mana mereka yang hanya bisa dilihat Iblis secara alami, hampir identik.

Tak seorang pun akan membayangkan bahwa mereka tidak berhubungan satu sama lain.

Tak berhenti disitu, hanya untuk memastikan saja, Chrysos memberikan saudara perempuannya sebuah hiasan kepala yang indah dan mewah yang dibuat dengan baik, sebagai bukti dari kebaikannya. Dengan ini, status sosial Latina pun sudah diamankan. 

“Sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang ada di kuil… bahwa selain Putri Platina dan pahlawannya berbagi tempat tidur… mereka juga melakukan ‘hal-hal’ lainnya.”

Ekspresi Chrysos pun menjadi pahit sebagai respons dari kata-kata bawahannya.

Iblis adalah ras dengan masyarakat matrialkal, dan tidak memiliki kebiasaan dimana pria dan wanita menikah dan hidup bersama. Jadi, normalnya adalah bagi seorang laki-laki untuk mengunjungi perempuan di rumah mereka dan meminta untuk mempunyai anak bersama.

Berkat keadaan unik yang mereka alami, orang tua Chrysos dan Latina menjadi lebih dekat daripada pasangan “suami dan istri” iblis biasa. Latina hanya pernah melihat orang tuanya sebagai pasangan iblis, dan tumbuh besar di antara bangsa manusia, yang memiliki penilaian yang berbeda, tetapi dia tidak menyadari efek seperti apa yang berdampak pada kesannya tentang hal seperti itu.

Chrysos juga bimbang untuk memberikan nasihat kepada saudaranya yang lembut dan lalai. Namun, dia memutuskan bahwa dia hanya memberikan “saran” secara blak-blakan kepada pihak lain yang ikut terlibat, sebuah kesimpulan yang tidak menyenangkan yang tersembunyi didalam sikap tak acuhnya sama seperti yang dilakukan saudara perempuannya.

“Kendalikan dirimu sedikit, kau pahlawan menyedihkan.” kata Chrysos, sembari meremehkan Dale setelah mengundangnya ke ruangannya.

“Kau benar-benar memperlakukanku dengan buruk.”

“Kau telah mencoba membunuhku. Untuk apa aku harus memperlakukanmu dengan ramah?”

“Yah, sepertinya kau benar…” jawab Dale, sebuah senyuman kaku di wajahnya sembari tanpa ragu untuk duduk di kursi didekatnya. 

Meskipun mereka sering mengejek satu sama lain, hubungan mereka berdua sebenarnya tidak seburuk itu. Cara berpikir dan perasaan Chrysos sebenarnya lebih dekat dibandingkan dengan Dale terhadap Latina, seseorang yang penampilannya hampir identik dengan dirinya. Selain itu, orang yang paling mereka sayangi adalah orang yang sama. Dan mereka juga memiliki pemikiran yang sama bahwa mereka tidak bisa dan tidak akan membiarkan Latina yang baik hati melihat mereka merencanakan sesuatu yang buruk.

Chrysos sudah meminta Latina untuk menjadi pengekang mereka, tetapi gadis itu mungkin sebenarnya mempunyai peran lebih besar dalam menjaga perdamaian dunia daripada yang dia kira.

“Karena kau sudah tinggal bersama Platina sepanjang waktu, kabar tentang hubunganmu telah tersebar di seluruh kuil. Tentunya kau bisa membayangkan bagaimana hal ini bagi mereka yang tidak menyadari bahwa Platina saat ini sedang dirawat, kan?”

Menyadari amarah Chrysos, Dale mencoba berspekulasi tentang apa yang sedang terjadi. Meskipun begitu, bahasa iblis yang Dale pahami hanya cukup untuk menangani kalimat-kalimat pendek. Dia hampir tidak bisa memahami apapun dari percakapan pembicara yang fasih di sekitarnya. Dan terlebih lagi, mungkin karena tingkat profesionalisme yang tinggi, para pelayan wanita pun jarang berbicara ketika mereka berada di dekat dia dan Latina. Dia hampir tidak pernah mendengar apapun ketika itu mengenai “penilaian terhadap orang disekitar mereka”.

Namun, dia masih mampu untuk menebak, dengan mengumpulkan informasi yang dia dengar. Ketika dikombinasikan dengan pertanyaan yang disampaikan Chrysos, ia merasa bahwa ia sudah menemukan jawabannya, dan mengeluarkan suaranya untuk memastikannya.

“Kebiasaan Iblis adalah supaya pria mengunjungi wanita itu di rumahnya, ya…? Jadi orang-orang berpikir kalau aku disini tidak hanya untuk mengunjungi, tetapi untuk melakukan sesuatu yang lain?”

Dia yang berbicara dengan sangat kasar dihadapan seorang wanita muda mungkin karena pengaruh buruk terbiasa bertemu dengan orang dewasa seperti dirinya di bar sejak dia kecil. Belum lagi, karena Latina dibesarkan dan terbiasa dihadapkan dengan lelucon kotor dan diskusi dari pria paruh baya dibandingkan Chrysos, dia memiliki toleransi yang jauh lebih besar untuk pernyataan kasar seperti itu.

Dale bahkan tidak menyadari bahwa tatapan Chrysos semakin curiga terhadapnya, benar-benar memenuhi reputasinya sebagai seorang pahlawan yang menyedihkan.

“Aku tidak peduli serendah apa kesan orang terhadapmu, tetapi aku tidak dapat menerima kalau sampai kesucian Platina dipertanyakan.”

“Ah… Jadi itu sebabnya kau bilang padaku untuk ‘menahan diri’?”

“Sebagian besar orang saat ini memiliki kesan seperti itu. Dan aku tidak punya niat untuk menjelaskan situasinya secara rinci.”

Terlepas bagaimana kebenarannya, dari sudut pandang objektif, hal itu tidak baik. Itulah alasan dibalik ekspresi dan kata-kata Chrysos, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, Dale berkata tanpa ragu, “Tapi tetap saja, itu tidak benar-benar akan merugikan Latina, kan?”

“Apa?”

“Maksudku… Apa Vassilios memiliki hal-hal seperti pernikahan politik yang bertujuan untuk membangun hubungan melalui kerabat mereka yang berkuasa?”

“Sangat jarang bagi siapapun untuk dilahirkan seperti Platina dan aku… tapi aku tidak bisa menyangkal hal itu.”

“Kalau begitu tindakanku yang secara terbuka berada di sisi Latina akan berguna untuk menangkal siapapun yang cukup bodoh untuk berpikir dan mencoba hal seperti itu, kan? Maksudku, tidak ada jaminan bahwa beberapa idiot akan muncul dan mencoba memaksa Latina ke dalamnya. Akan ada banyak dari mereka yang keluar dari tempatnya, berpikir bahwa rampasannya akan jatuh ke siapa pun yang berhasil membawanya dan melihatnya sebagai kesempatan untuk meningkatkan status mereka.”

“Hrmm…”

Chrysos hanya bisa terdiam, setelah mengalami kekalahan argumen. Memang benar, dia tidak bisa sepenuhnya menyangkal perkataannya. Sebagai seorang perempuan sendiri, Chrysos juga sudah mendengar cerita seperti itu di masa lalu dari ibunya, yang memiliki tanggung jawab besar di kuil.

Meskipun begitu, itu tidak berarti bahwa dia sudah benar-benar puas tentang hal ini. 

“Platina belum sepenuhnya pulih. Kau tidak boleh, membuat dia memaksakan dirinya sendiri.”

“Itu benar-benar sesuatu yang aneh, diberitahu hal seperti itu oleh seseorang dengan wajah yang sama persis seperti Latina…”

Chrysos menambahkan hal itu sebagai penekanan, tetapi respon yang Dale berikan hanya membuatnya jengkel. Memangnya dia pikir ini salah siapa sampai Chrysos harus memberikan sebuah saran yang konyol?

“Aku sudah mengatakannya padamu, tapi aku sudah menahan diriku dengan benar. Dan tentu saja aku tidak pernah membuat Latina memaksakan dirinya sendiri.”

Meski begitu, Chrysos tahu bahwa pria ini menempatkan Latina diatas segalanya, sama seperti dia.

Dengan demikian, Chrysos menguburkan kapaknya tanpa pernah benar-benar mengangkatnya dari awal.

Dan keesokan harinya…

Sambil menggenggam tongkatnya bagaikan sebuah kapak, Chrysos meninggalkan ruangannya.

Berdasarkan laporan para pelayan wanitanya, Latina benar-benar kelelahan dan bahkan tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Dari cara pelayan itu membuang muka saat melapor kepadanya, Chrysos dapat menebak hal seperti apa yang terjadi hingga berujung pada kejadian itu.

Padahal dia baru saja memperingatkan Dale kemarin, dan semuanya berakhir seperti hari ini. Setelah menyadari bagaimana dia meremehkan serendah apa “pahlawan yang menyedihkan” itu, kesabaran Chrysos sudah habis.

Merasakan kedatangan Chrysos yang tergesa-gesa, Dale pun segera keluar dari villa. Mungkin menyadari kesalahannya sendiri, Dale pun hanya bisa memasang wajah canggung ketika memandang Chrysos. 

Dale memang punya alasan tertentu dan dia juga sudah benar-benar menahan dirinya. Memang itulah kebenarannya. Namun, sesuatu telah terjadi dan akhirnya membuat pengekang diri miliknya itu pergi melayang.

Dale dan Chrysos sudah sering bertemu dan berbincang tanpa kehadiran Latina disekitar mereka, dan mereka juga tidak pernah mau memberi tahu Latina tentang hal apa yang mereka bicarakan. Itu karena hal yang biasa mereka bicarakan adalah tentang hal yang buruk dan tercela, sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka ceritakan pada Latina. Tetapi, Latina tidak tahu itu dan tampaknya ia cemburu padanya. Setelah menarik sebuah kesimpulan yang konyol, bagaimanapun juga seperti itulah sosok seorang Latina, dia pun bertanya, “Apa Chrysos… punya perasaan padamu…?” 

Mendapati gadis yang dicintainya bertanya dengan wajah yang serius tentang hubungannya dengan kakak iparnya, Dale pun tidak bisa berbuat apa-apa selain terdiam tanpa sepatah kata. 

Latinya mempunyai rasa cemburu yang lebih kuat dibandingkan orang lain, dan dia juga ingin memiliki Dale hanya untuk dirinya sendiri. Karena itu, ketika dia melihat bahwa Dale dan saudari kembarnya telah membangun hubungan yang lebih dekat, ia tidak dapat menahan dirinya dari rasa khawatir dan gelisah atas apa yang sedang terjadi antara mereka berdua. Latina tidak mau memberikan Dale pada siapapun, bahkan kepada Chrysos sekalipun. Bagaimanapun juga, dia juga tidak mau hubungannya dengan Chrysos memburuk. Hal ini membuat Latina sangat ketakutan, karena keduanya, Dale dan Chrysos, merupakan sosok yang paling berharga baginya.

Sementara itu, walau Dale hanya bisa terdiam kebingungan, sedari awal pun dia sudah tahu bahwa Latina punya kebiasaan buruk dimana dia sering terjebak di dalam pikiran negatifnya sendiri. Meskipun dia tahu itu, tetap saja dia merasa sedikit jengkel karena dicurigai dalam perselingkuhan yang bahkan tak pernah ia lakukan. Dan tentu saja dia tidak merasakan satupun kesenangan dalam situasi itu. 

Meskipun begitu, melihat Latina menunjukkan kecemburuannya dengan jelas itu bukanlah sesuatu yang terlalu buruk juga. Latina menunjukkan perasaan seperti itu karena dia sangat menyayangi Dale. Dale pun berhasil meluruskan pikirannya karena dia selalu berpikir positif tentang hal yang melibatkan Latina. Dale segera memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menghilangkan kegelisahan Latina. 

Pada akhirnya, Dale memutuskan untuk mengambil tindakan tanpa memperdulikan soal menahan diri.

Setidaknya, Dale menegaskan bahwa itulah yang terjadi. Walaupun alasan sebenarnya adalah karena tingkah Latina yang begitu menggemaskan bahkan melebihi ekspektasinya. 

“Umm… Sepertinya semua berjalan dengan baik, bukankah begitu?” Kata Dale sambil memasang senyum canggungnya. Chrysos membalas Dale menggunakan tongkatnya. Chrysos mengayunkan tongkatnya pada Dale tanpa ada sedikitpun keraguan. Dalam sekejap, Dale pun menghindarinya. Suara ayunan tongkat itu mengalir tepat di sebelah telinganya. Tidak berakhir dalam satu atau dua pukulan, hal itu berakhir menjadi sebuah serangan habis-habisan dengan pukulan berturut-turut dari tongkat Chrysos.
 
“Gah…! Barusan itu hampir saja…! Kau benar-benar serius ingin memukulku ya?!”

Tanpa memperdulikan seruan amarah Dale, Chrysos memperbaiki genggaman tongkatnya dan kembali mengayunkannya secara penuh pada Dale. Tak terlihat ada rasa ragu dari setiap gerakan tubuhnya, jika saja Dale tidak mengelak, semua itu pasti langsung mengenai dirinya.


Dengan sebuah ejekan kecil “Hmph,” Chrysos membusungkan dadanya sedikit dan kembali menggunakan perangainya yang angkuh.
 
“Berapa kalipun aku memukulmu, kau tidak akan merasakan apapun dari lengan rampingku ini.”

“Hahaha! Itu memang benar, bahkan mungkin saja aku tidak akan terluka! Meski begitu, aku masih bisa merasakan sakit, dan tentu saja itu hanya akan terjadi bila kau berhasil mengenaiku!” Dale berteriak membalasnya, sembari menghadapi seorang gadis yang menggenggam tongkatnya sambil mencari celah. Namun, seakan semakin tidak tahan dengannya, Chrysos pun mengacungkan senjatanya.

“Dan satu hal lagi, sebuah tongkat kerajaan bukanlah sesuatu yang semestinya kau perlakukan seperti sebuah senjata biasa!”

“Hanya benda ini yang selalu kugenggam sepanjang waktu!”

Dale pun merunduk, dan tongkat logam itu melayang di atas kepalanya. Ornamen yang terpasang pada tongkat itu memancarkan desiran yang elegan, dan itu terdengar tidak cocok dengan adegan ini.

Ada sebuah jembatan di depan villa yang melintasi mata air di sekitarnya. Itu ada tempat yang indah, sampai akhirnya tempat itu telah menjadi panggung duel satu lawan satu antara seorang pahlawan dengan Demon Lord. Meskipun ada sebuah perbedaan antara arti kata-kata itu dengan apa yang terjadi sebenarnya, tetapi kata-kata tersebut sudah sangat tepat, hanya menambahkan sedikit rasa kebingungan dan kekecewaan. 

“Meskipun Platina sedang dalam proses pemulihan…! Apa yang sebenarnya kau lakukan?!”

“Huh…?! Yah, kau tahu…” balas Dale, dan pipinya sedikit kemerahan. Rupanya dia masih merasa sedikit peka tentang masalah itu.

“Bahkan seseorang sepertiku, yang tidak terbiasa dengan hal-hal tentang Benua Barat, bisa melihat bahwa kau tidak sama sekali merenungkan tindakanmu!” Chrysos meninggikan suaranya dan terus melanjutkan serangannya. Chrysos memang seorang ahli dalam hal sihir, tetapi dia adalah seorang yang sepenuhnya masih amatir dalam hal pertarungan fisik. Karena itu, sangat mudah bagi Dale untuk menghindari setiap serangannya. Walaupun begitu, tetap saja dia tidak bisa bersikap kasar pada Chrysos, dan hal itu menjadi semakin kuat setelah dia sadar bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan.

“Aku sudah bilang padamu, Latina itu terlalu imut, jadi aku tidak bisa menahannya!”

 “Jangan malah menyalahkan Platina!”

Mendengar mereka saling berteriak, Latina berjalan terhuyung-huyung ke pintu masuk villa, wajahnya pun memerah saat dia melihat mereka. Tampaknya ia pun sudah melewati batasnya.

"Ini memalukan, jadi tolong hentikan...!" katanya dengan suara lemah, tetapi perasaannya tersampaikan dengan jelas.

"Kalian berdua, Dale, Chrysos... kalian benar-benar perlu—"

“Latina, kau sudah bangun ?!”

"Waaaah!"

Latina tidak bisa mengungkapkan seluruh isi hatinya. Dale yang dengan cepat mengelak, langsung memeluknya dan mengusap pipinya pada Latina.

"Kau pahlawan terkutuk yang menyedihkan…!"

Dengan menggunakan saudari perempuan tercintanya bagaikan perisai, dia telah mengakhiri serangan-serangan selanjutnya dari Chrysos. Chrysos menggertakkan giginya ketika melihat taktik pengecut si pahlawan.

Sementara si pahlawan pun sebenarnya tidak berniat untuk menggunakan dia sebagai perisai. Kemudian ketika Demon Lord itu berusaha untuk melepaskan genggamannya, si pahlawan itu berbisik pada Latina dengan suara manis, seolah melanjutkan kata-kata mesra dari malam sebelumnya, "Kau benar-benar imut, Latina..."

"Dale, masih ada Chrysos di sini..."

"Hmm... Aku tidak terlalu keberatan..."

“Kau harus!” Latina berteriak, dan wajahnya kembali memerah sambil berusaha mendorongnya dengan kakinya. Tindakan Dale benar-benar membuat orang ingin bertanya apakah dia benar-benar tahu arti dari istilah "pengendalian diri". Reaksi malu-malu yang ditunjukkan Latina merupakan hal yang natural.

Setelah melihat pemandangan nan manis yang memuakkan itu, pikiran Chrysos melayang dan kini hanya ada kekosongan dalam setiap tatapannya. Otaknya pun membeku begitu saja. 

Kemudian, dalam kondisi setengah sadar, Chrysos menggumamkan sesuatu yang membuatnya heran dan bertanya-tanya. Dan ketika akal sehatnya kembali, dengan segera dia mengatakan apa yang muncul di pikirannya selama itu, "... Apakah kau berniat untuk memeluk Platina sampai mati...?"

Tentu saja, Latina adalah orang pertama yang bereaksi terhadap kata-kata tersebut. Mendengar kata-kata itu membuat Latina tersentak, dan mulai berjuang lebih keras untuk melepaskan dirinya. Secara alami, hanya ada sedikit hal yang dapat menandingi dan mengancam keberadaan seorang Demon Lord. Meskipun tak begitu dikenal banyak kalangan, mereka sendiri sudah bagikan sosok dewa, dan mereka juga dilindungi oleh tatanan alami dunia. Hanya ada satu hal yang mampu menggeser keberadaan Demon Lord dan itu adalah kekuatan dari mereka yang dikenal sebagai Pahlawan. Menyadari maksud perkataan Chrysos, Latina menjadi semakin panik. Tanpa menyadari ekpresi keraguan di wajah Dale, dia berkata, “Aku… tidak mau…!”

"Kau tidak mau...?" Dale mengulangi pernyataan latina, lalu sebelum dia bisa memikirkan ucapannya kembali, Latina berteriak, "Aku tidak mau mati karena seks...!" 

“Itu benar-benar pernyataan yang buruk darimu.”

“Itu akan menjadi penyebab kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk seorang Demon Lord, tapi aku sendiri tidak bisa mengatakan bahwa hal seperti itu mustahil terjadi,” kata Chrysos menatap Dale dengan jijik sambil menyetujui tanggapan Latina. Tetapi Dale lebih memilih untuk mengabaikan hal itu.

“Maksudku, Dale... bukankah kau adalah seorang pahlawan?!”

"Yah, kupikir juga begitu."

“Kau pasti akan menghancurkanku... Tubuhku tidak akan—”

“Jika kau terus bersikap tidak masuk akal seperti itu, maka terpaksa aku harus menghukummu.”

Seketika Latina tampak seperti anak kecil, dan air mata mulai mengalir di wajahnya. Dale mengerutkan alisnya sedikit dan menghela napas sembari mengangkat tubuh gadis itu. Latina terus berusaha untuk membebaskan diri, tapi semua usahanya tidak cukup untuk melawan cengkraman pahlawan itu, yang kekuatannya sangat jauh dari kata normal.

"Aku tidak akan membunuhmu seperti itu, dan jika aku mau pasti aku akan melakukannya dengan benar. Jadi ayo kita pergi kesana dan bicara bersama untuk meluruskan semua ini.”

"Chrysos... Chrysos, selamatkan aku...!"

Sebenarnya, Chrysos sangat ingin menanggapi panggilan saudarinya yang meminta bantuan, tapi dia
tidak memiliki keberanian untuk menerobos masuk ke kamar milik orang lain.

Selain itu, dia juga tidak dapat memikirkan cara apa pun untuk menghentikan si pahlawan menyedihkan itu. Pikirannya sudah berhenti bekerja dan dia juga merasa lelah, seolah-olah semua energi hidupnya telah terkuras dari tubuhnya.

"Ah, iya... kuharap kau beruntung dalam pertempuranmu, Platina."

“'Beruntung dalam pertempuran'? Tunggu, itu bukan-!"

Meninggalkan kata-kata itu padanya, Latina pun dibawa ke dalam vila.

Melihat saudarinya telah pergi, Chrysos pun menghela nafasnya. Ekspresi Chrysos terlihat seperti tak memiliki sisa tenaga lagi, bahkan bahunya dibiarkan terkulai lemas. Perasaan putus asa sempat membuat Chrysos ingin membuang tongkat miliknya, tapi entah bagaimana dia berhasil menahannya.

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat sulit bagi Chrysos, apakah dia benar-benar menyukai Dale sebagai pribadinya atau tidak. Tapi, bukan berarti dia membencinya. Karena jika dia membencinya, dia tidak akan pernah berbincang secara pribadi dengannya. Dan dia juga tidak akan mengizinkannya untuk memanggil namanya. Faktanya, dia sangat menghargai Dale sehingga dia mau mempercayakan saudari perempuannya, separuh dari dirinya yang lebih berharga baginya dari siapapun.

Dia juga berterima kasih padanya karena telah membunuh Demon Lord Kedua, sosok musuh yang sangat dibenci bahkan di antara para Demon Lord of Calamity. Karena dia adalah alasan mereka kehilangan kedua orang tua mereka.

Tapi di sisi lain, Chrysos telah melihat bahwa Dale benar-benar seseorang yang menyedihkan. Bahkan, dia tidak pernah benar-benar menilainya dengan cara lain. Sejak dia berhasil bertemu kembali dengan Latina, Dale benar-benar menjelma menjadi sosok yang menyedihkan secara total bahkan saat dia berada di Vassilios. Tidak ada satupun jejak yang menunjukkan keindahan dari seorang protagonis menawan yang dibanggakan seperti dalam kisah heroik pahlawan.

Sebagai seorang gadis muda, tidak ada satu hal pun yang bisa Chrysos sukai darinya, tidak peduli apapun keadaan aneh yang mungkin saja terjadi.

Sambil memikirkan sesuatu yang sangat kasar tentang kekasih saudari perempuannya, “Yah, mereka bilang cinta itu buta.”, Chrysos dengan susah payah kembali ke kantornya sambil beberapa kali beristirahat dan menyegarkan diri. Tidak ada seorang pun di sekitarnya yang menyadari betapa aneh usahanya untuk kembali bekerja itu.

Akibatnya, Chrysos menganggap Dale sebagai bagian dari alasan mengapa pemulihan Latina memakan waktu yang panjang.


Note:
We are baaaack~ setelah berabad-abad gak update. Akhirnya update juga xD Dan ini adalah chapter perdana mimin Regent loh. Mulai sekarang uchi musume bakal update secara reguler kembali~ Jadi ditunggu aja yak.
Ada sedikit perkenalan dari mimin Regent, "tetap ngegacha waifu bandori meskipun ampas." Yah walau gak berhubungan tapi bisa dianggap sebagai perkenalan. So, see you all in the next update~


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Regent
EDITOR: Isekai-Chan