Kamis, 17 Juni 2021

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 67. Pahlawan yang Menyukai Bunga

 Chapter 67. Pahlawan yang Menyukai Bunga




Aku dihubungi oleh Fuuma Kotaro beberapa hari kemudian. Dia mengirimkan informasinya dengan burung elang. Aku mengeluarkan surat itu dari burung elang dan membacanya. Surat itu seperti ditulis dengan sebuah mesin.

‘Sang Pahlawan, Yuri sudah tertangkap. Saya akan membawanya kembali hidup-hidup.”

Di pesan itu tertulis kalau perjalanannya akan memakan beberapa hari, tapi secara mengejutkan Fuuma telah kembali sehari kemudian. Dia datang dalam wujud seorang lelaki.

Sebenarnya apa wujud aslinya? Aku ingin menanyakan hal itu. Tapi pertemuanku dengan Pahlawan Yuri lebih penting. Aku menyuruh Eve untuk menyiapkan topeng untuk kupakai. Bukan hanya aku tidak mau Yuri melihatku. Tapi aku juga merasa sedikit malu.

Yuri diseret masuk oleh para Kobold. Dia terikat dengan tali. Dari apa yang kulihat dia masih belum terluka. Sepertinya Fuuma tidak bertindak terlalu kasar padanya. Entah mengapa itu melegakan. Tapi sekarang, aku akan mengumumkan kematiannya. Aku membuka mulutku seakan membaca tulisan di batu nisannya.

“Yuri Sang Pahlawan. Apakah kau tahu kenapa kau dibawa kesini?”

“Aku mengetahuinya. Fakta kalau aku adalah Hero. Tuan Fuuma sudah memberitahuku fakta ini.”

"…Benar. Kau memiliki kemampuan yang akan berguna untuk melawanku. Jadi aku harus membunuhmu sekarang. "

“Kalau begitu saya tidak bisa mengeluh. Lagipula aku adalah musuh bebuyutanmu.”

“Oh? Kau tidak merasa dendam kepadaku? "

"Tidak sekarang. Tapi jika aku memang seorang Pahlawan, maka aku pasti akan sadar akan panggilanku suatu hari nanti."

Dia terus menjelaskan.

Beberapa hari yang lalu, seorang lelaki tua berambut putih yang mengaku sebagai Sage datang kepadanya. Pria ini memberitahunya bahwa itu adalah takdirnya untuk menyelamatkan dunia. Kemudian dia menerima pelatihan dari orang tua itu.

Yuri menjadi lebih kuat setelah latihan itu. Dan sekarang dia sadar bahwa dia bukanlah manusia biasa. Jadi fakta kalau dia dibawa ke sini tidak mengejutkannya.

Dia tampak riang. Aku tidak menyangka Yuri akan bereaksi seperti ini. Tapi sisi lain, itu membuat segalanya lebih sulit bagiku.

Seolah-olah sikapnya saat ini lebih efektif dibandingkan kalau dia meratap dan memohon untuk hidupnya.

Tetap saja, aku tidak akan berubah pikiran.

Dahulu kala, ada seorang pejuang bernama Taira no Kiyomori di Jepang.

Ia berasal dari keluarga miskin yang tidak diizinkan memasuki istana Kaisar hingga generasi kakeknya. Hanya selama kehidupan ayahnya hal-hal berbalik kepada mereka.

Dia menggunakan keterampilan dan wawasannya untuk meningkatkan posisinya selama perang saudara. Dan akhirnya, Kiyomori naik posisi menjadi salah satu orang yang paling kuat disana. Dia adalah pejuang pertama yang mencapai posisi setinggi itu.

Namun, rumah yang sehebat itu pada akhirnya akan runtuh.

Mereka biasa berkata, 
“Orang yang bukan dari keluarga Taira sama sekali bukan orang!”

Tapi hanya satu kesalahan yang diperlukan untuk menjatuhkan mereka. Dan kesalahan itu adalah dia tidak membunuh seorang anak. Musuh bebuyutan mereka.

Setelah perang yang panjang, dia menolak untuk membunuh Minamoto no Yoritomo, yang merupakan putra tertua dari klan Minamoto.

Kiyomori telah membunuh pamannya sendiri sebelumnya, tapi anak kecil itu adalah satu-satunya orang yang tidak dia bunuh.

Ibu tirinya sendiri telah memintanya untuk tidak melakukannya, jadi sebagai gantinya dia membuangnya ke selatan.

Sisanya adalah sejarah.

Setelah itu, terjadi pemberontakan melawan rumah mereka, dan Minamoto mengerahkan pasukan untuk melawan mereka. Sebelum kematiannya, Kiyomori jatuh sakit karena demam tinggi, tetapi dia meninggalkan kata-kata ini sebelum kematiannya.

“Letakkan kepala Yoritomo di atas kuburanku! ”

Itu adalah kutukan terhadap timur yang telah mengkhianatinya, dan Yoritomo, yang telah melupakan hutangnya.

Yah, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama. Aku tidak akan mati sambil mengutuk nama musuhku.

Ada satu orang yang melakukan hal sebaliknya.

Dia adalah Tokugawa Ieyasu. Dia telah membunuh Toyotomi Hideyori, ahli waris yang dipercayakan Hideyoshi kepadanya. Setelah memenangkan pertempuran Sekigahara, ketika dia memiliki dominasi penuh, dia mengambil kekuasaan dari tuannya dan membunuhnya.

Dia menyerang kastil Osaka, tempat tinggal Hideyori. Dia bisa saja memilih untuk membiarkannya hidup. Namun, Ieyasu takut orang-orang masih menghormatinya. Dan suatu hari, keturunannya akan menjadi ancaman bagi klannya.

Akhirnya, dinastinya bertahan selama dua ratus lima puluh tahun.

Aku harus belajar dari kedua peristiwa itu.

Pilihannya jelas. Jadi aku memejamkan mata dan menghukum mati Yuri sang Pahlawan.

Kata-kata terakhir aku kepadanya adalah ini:

"…Aku minta maaf. Jalan Raja Iblis itu berlumuran darah. Suatu hari nanti, aku mungkin membayar untuk apa yang telah kulakukan selama ini, jadi kau harus menunggu."

Gerbang neraka terbuka untuk Raja Iblis sepertiku.

Yuri menjawab dengan tenang. Sepertinya sekarang dia mengetahui siapa aku sebenarnya.

“… Tidak, Tuan Ashta. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak akan menyimpan dendam. Aku tahu bahwa Anda adalah orang yang baik. Anda memperlakukanku dengan baik ketika aku hanya seorang Petualang yang tidak penting. Aku merasa senang. Selain itu, Tuan Kotaro menunjukkan beberapa kota di sini. Aku sangat terkejut. Demon, Manusia, dan Demi-Human hidup berdampingan. Tidak ada tempat lain seperti ini di dunia ini. Jika raja yang membangun tempat ini menginginkan aku mati, maka aku dengan sukarela memilih untuk mati.” Katanya.

“Aku berharap akan terlahir kembali sebagai sesuatu selain Pahlawan. Dan aku berharap bisa tinggal di tempat yang menyenangkan seperti ini." lanjutnya. Kemudian Kobold membawanya pergi.

Para Kobold itu membawanya ke tempat eksekusi. Aku telah diberitahu kalau eksekusinya akan dilaksanakan jam 3 sore. Aku tidak punya cukup keberanian untuk melihat eksekusinya, tapi tidak ada seorangpun yang mengungkit itu.

Bagaimanapun juga, itulah bagaimana aku membuat keputusan yang tepat sebagai Realistis. 

Fuuma Kotaro memastikan kematiannya sebelum menghadap kepadaku. Dia membungkukkan kepalanya. Sekarang dia berpakaian sebagai pelayan.

“Saya telah menyaksikan keteguhanmu, Raja Iblis Ashta. Dan saya telah menerimamu sebagai Tuan ku. Saya, Fuuma Kotaro, memberikan nyawaku kepadamu.” Katanya.

Aku merasa lega setelah Fuuma Kotaro menyatakan kesetiaannya kepadaku. Tapi tetap saja, aku penasaran apakah dia menyadari tentang apa yang telah kulakukan. Dan apakah dia akan memaafkanku?

Ketika Kotaro kembali ke kelompoknya, Eve masuk. Dia berbisik sepelan mungkin.

“Seperti yang anda perintahkan, saya telah menyiapkan boneka yang sama persis seperti Yuri. Yang baru saja dieksekusi adalah boneka itu.” katanya

“Terima kasih. Aku minta maaf karena telah merepotkanmu.”

“Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk tuanku. Namun, apakah Anda yakin ingin membiarkannya tetap hidup?

"Iya. Lagipula aku sudah mengambil semua kekuatannya.”

Kekuatannya sekarang sudah disegel. Begitupula ingatannya. Dia tidak akan terbangun sebagai Pahlawan untuk waktu yang sangat lama.

"Tapi ... dia mungkin terbangun suatu hari ..."

“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba. Ini akan cukup mudah untuk menyegelnya lagi. Bagaimanapun, aku bermaksud untuk membuatnya tetap berada di dekatku jadi aku bisa memantaunya.”

"Jadi itu sebabnya dia punya rumah dan pekerjaan."

"Iya. Dia tidak cocok untuk menjadi seorang Petualang. Akan lebih baik baginya untuk magang kepada para Dwarf dan belajar membuat sesuatu.”

“Saya bisa melihatnya tumbuh kuat di bawah mereka. Sungguh sebuah ancaman yang nyata.”

"Mungkin."

Aku tertawa mendengar candaannya.

“Tetap saja, anda sangat baik hari. Tidak hanya mengampuni nyawanya, tetapi juga memberinya pekerjaan.”

“Yah, ada yang mengatakan Ieyasu menghancurkan klan Hideyoshi, tapi Hideyoshi selamat dan menjalani sisa hari-harinya dengan tenang.”

Ada sebuah lagu tentang itu.

Tuan Hideyoshi, seperti bunga,

Diambil, oleh Sanada, yang seperti iblis,

Mereka pergi, jauh, jauh sekali ke Kagoshima.

Eve mendengarkan ini dan tersenyum.

“Itu sangat indah.”

“Aku juga berpikir begitu.”

Dan seperti itulah, seorang penduduk baru muncul di kota kastil.

Seorang anak laki-laki bernama Yuri yang merupakan murid pandai besi. Kemudian ada ninja bernama Fuuma Kotaro. Pasukan Raja Iblis Ashtaroth telah tumbuh kembali.

Dan dalam kasus Fuma Kotaro, ternyata dia tahu bahwa aku telah membiarkan Yuri melarikan diri. Aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan dia menjawab,

"Saya tidak akan melayani seorang raja yang tanpa ampun membunuh anak-anak."

Dan dia terkesan dengan upayaku untuk menyelamatkannya. Akan tetapi, dia merasa bahwa aku bisa melakukannya dengan lebih baik. Dan dia bersikeras bahwa operasi rahasia seperti itu lebih baik diserahkan saja kepadanya di masa depan.


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel Bahasa Indonesia Volume 6 Chapter Bonus: Cerita Pendek

Volume 6
Chapter Bonus: Cerita Pendek


Orang yang bertanggung jawab atas pengurusan berkas dan akuntansi di Dancing Ocelot adalah pemiliknya sendiri, yaitu Rita. Bukan karena hal-hal seperti itu dipaksakan kepadanya karena dia adalah putri dari mantan pemilik bisnis tersebut, tetapi karena dia benar-benar orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Aspek memasak dan kebersihan dalam menjalankan bisnis bar dan penginapan lebih cocok dengan keahlian Kenneth. Dia melakukan tugas seperti itu setiap harinya dengan cakap yang membuatnya sulit untuk membayangkan bahwa pekerjaan sebelumnya adalah seorang petualang yang menggunakan senjata berat.

Rita juga biasa menangani pelanggan dalam kapasitas kemampuan tokonya itu sebagai "cabang" dari kuil Akhdar, jadi posisi biasanya adalah di bagian konter, di mana dia bisa menangani hal-hal seperti itu.

Ketika Latina masih muda, salah satu tempat dia bermain biasanya adalah tempat duduk di depan konter, di mana dia bisa melihat Rita bekerja. Dia sering terlihat di sana dengan buku bergambar dan buku anak-anak lainnya diletakkan di depannya.

Pada hari itu, Latina menatap dengan penuh ketertarikan saat Rita menulis di buku rekeningnya.

“Ada banyak angka.” 

“Ya, ada banyak.”

“Di sekolah, Latina juga sedang belajar matematika. “

"Aku mengerti. Apakah itu rumit bagimu? ”

“Sedikit, tapi jika Latina tidak terburu-buru, Latina baik-baik saja.”

Mudah untuk membayangkan gadis ini terlihat sangat serius saat dia mengerjakan soal matematikanya. Rita menganggap pikirannya barusan itu menarik, dan melepas tawa kecil.

“Apakah sekolah menyenangkan?”

"Ya. Dan Latina juga berteman.”

Senyum Latina benar-benar menggemaskan saat dia menjawab, itu membuat Rita merasa hangat di dalam hatinya.

“Rita, kenapa kau menulis di 'buku rekening' itu?”

"Itu agak sulit untuk dijawab... Untuk mengelola pendapatan dan pengeluaran kita, dan mengawasi persediaan kita... Benar, yah. Sederhananya, agar kita tahu apa yang terjadi, bahkan sampai suatu saat nanti."

“Bahkan suatu saat nanti?”

“Sulit untuk mengingat semua yang terjadi setiap hari, bukan? Jadi aku membuat catatan tentang itu. Begitulah cara kerja buku harian, kan? ” 

“Buku harian?”

Mendengar kata yang dibicarakan Rita itu, Latina memiringkan kepalanya.

“Apa itu buku harian?”

“Ah, Dale tidak membuatnya, ya...? Jadi, kau belum pernah mendengar tentang buku harian juga? ”

Mengetahui lingkungan Latina tinggal, Rita segera mengerti alasannya.

“Kau tahu, buku harian adalah buku di mana kau dapat menuliskan apa yang terjadi setiap hari. Bagaimana kau bermain, dan apa yang kau pelajari, dan apa pun yang kau inginkan. Bahkan ada orang yang juga menuliskan cuaca dan suasana saat itu juga. " 

"Apa pun?"

"Benar. Tidak ada aturan untuk itu, jadi kau bisa menulis tentang apa saja. ”

Melihat bagaimana Latina terlihat tertarik dengan masalah tersebut, Rita tersenyum dan kemudian memberikan satu saran.

“Namun, Kau akan menggunakannya untuk waktu yang sangat lama, jadi mungkin lebih baik kalau kau menggunakan sesuatu yang lebih bagus dari buku catatan biasa.”

"Benarkah?"

“Dan untuk alasan yang sama juga, kau harus memilih sesuatu yang sesuai dengan seleramu. Haruskah aku pergi denganmu untuk membeli satu? Dale dan Kenneth hanya pergi ke toko yang benar-benar praktis. Latina, kau suka hal-hal yang imut, bukan?”

Latina terlihat sedikit gugup menanggapi saran Rita, namun tetap mengangguk.

Ketika Rita membawanya ke toko keesokan harinya, Latina terlihat sangat terkejut.

"Woooooow ..."

Latina hanya tahu toko-toko tempat dimana Kenneth dan Dale pernah membawanya, jadi dia terkejut melihat toko yang berfokus pada desain interior dan pajangan. Lagi pula, akan menjadi masalah tersendiri jika Dale atau Kenneth mengenal baik toko dengan barang seperti ini, penuh embel-embel dan renda, serta pita dan bunga tiruan dalam berbagai warna.

Latina melebarkan pandangannya ke sekeliling toko, dan berhenti di cermin dengan laci kecil, dengan desain bunga putih yang tampak mulai tumbuh di permukaannya.

"Cantik sekali..."

“Ya ampun, itu benar-benar terlihat imut. Kalau dipikir-pikir, apakah kau dan Dale punya cermin di kamarmu? ”

“Tidak,” jawab Latina, menggelengkan kepalanya. Dale memang sangat menyayangi Latina setiap harinya, tetapi sebagai seorang pria, dia kadang-kadang tidak cukup memperhatikan detail tentang hal seperti ini.

“Baiklah, mari kita beli. Kita para gadis, membutuhkan cermin untuk menjaga penampilan pribadi kita masing-masing. "

“Apakah itu tidak masalah?”

"Tidak apa-apa. Ketika itu adalah sesuatu yang kau butuhkan, itu bukan pengeluaran yang sembrono, itu pengeluaran yang benar-benar diperlukan. ”

Rita mengedipkan mata kepada gadis muda pendiam itu, memanggil seorang karyawan, dan menyuruh mereka mengemasi cermin yang dipilih Latina.

Malam itu, Latina membuka buku catatan barunya yang tertutup kain merah. Latina menyukai warna-warna terang, tetapi karena dia akan menggunakannya sebagai buku harian, setelah membicarakannya dengan Rita, dia memutuskan warna yang lebih gelap di mana kotoran dan noda tidak akan terlihat dengan mudah. Sifat praktis Rita dan gadis muda itu pun tercermin dalam keputusan tersebut.

Namun, detail pola bunga kecil pada sampulnya telah menarik perhatian Latina dan membuatnya terpesona bahkan pada pandangan pertama. Dia juga menyukai bagian punggung bukunya yang menggunakan warna berbeda dan terbuat dari kain polos, menjadikan seluruh buku catatan itu sesuatu yang dia nikmati bahkan hanya dengan melihatnya saja.

“Um ...”

Dan akhirnya, dia memutuskan apa yang akan dia tulis di halaman pertama buku hariannya. Artinya, dia menulis tentang harta karun yang dia terima hari ini.

Dia pun meninggalkan buku itu di depan mejanya, dan dia juga melihat wajahnya yang gembira terpantul di sana. Dia kemudian memikirkan cara terbaik untuk menuliskan perasaan itu di halaman baru dari harta karun lain yang telah dia terima.


Note:
Uwoooh, akhirnya volume ini selesai juga, walaupun sempat ketunda 3 bulan x'D terimakasih mimin regent atas kerja keras dan waktunya buat menyelesaikan volume ini~ Sampai jumpat di volume selanjutnya!


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Regent
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 16 Juni 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia :Chapter 231. Salah Perhitungan

Chapter 231. Salah Perhitungan


 
Percikan api terbang saat cakar Kiel menyerang perisaiku. Meskipun dia tidak bisa melewati pertahananku, rasanya tidak menyenangkan untuk menahan serangan secara terus menerus.

Semua serangan budak yang menyerang tampaknya berpusat padaku. Aku hampir berhasil memblokir semuanya tanpa menerima kerusakan, tetapi aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa mempertahankan ini. Saat aku menerima serangan, aku merasakan kutukan yang menimpa mereka memberikan kerusakan tambahan kepadaku. 

Rasanya seperti organ dalamku di kocok-kocok. Aku merasa pusing. Sial, jika terus seperti ini, tubuhku tidak akan bertahan.

“Semua atas nama Keadilan. Bubba harus dikalahkan!”
“Kiel… sebaiknya kau ingat ini nanti. Bahkan jika kau dicuci otak, itu tidak berarti aku mengurangi hukumanmu untuk ini sama sekali.”

... Omong kosong tentang keadilan ini semakin menjengkelkan! Apakah mereka tidak menyadari ada sesuatu yang salah di sini? Aku bukan saint. Aku bukan dermawan. Tentu saja aku akan menggunakan kalian semua jika itu diperlukan. Maksudku, bukankah aku selalu mengatakannya? Seperti, 'Kembali bekerja,' dan semacamnya.

Tidak, Kiel yang normal seharusnya sangat menyadari hal itu. Aku harus menganggap orang di depan aku sebagai entitas terpisah yang mengendalikan tubuh Kiel. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menggunakan Wrath Shield dan mengubah semuanya menjadi abu?

"Kau salah! Naofumi-san… jelas tidak jahat!”

Rishia memperingatkan Kiel dengan nada suara yang tinggi. Apa? Aku tidak tahu dia bisa berbicara dengan nada seperti itu.

“Naofumi-chan, haruskah Onee-san ini melakukan sesuatu yang keras untuk mengendalikan situasi?”
"Apa yang kau rencanakan?"

Ah, ngomong-ngomong, Sadina sudah level 75. Statistiknya juga cukup tinggi. Sejujurnya, jika kau tidak menghitung Raphtalia dan Filo, statistiknya adalah yang tertinggi. Dan statistik miliknya lebih tinggi dari Kiel. Titik lemahnya adalah Kecepatan dan Jangkauan Serangan. Tapi, saat berada di dalam air, kelemahan tersebut hilang.

"Hanya sedikit."
“… Aku bertanya apa yang akan kau lakukan?”
“Mari kita lihat. Hasil dari rencana ini mungkin akan membuatmu memaafkan Kiel dan yang lainnya.” 
“Oi! Jangan bilang ... "

“Sebagai sumber kekuatan Aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Oh kilatan petir, hantamlah semua musuh di hadapanku!”
“All Dreifach Chain Lightning!”

Dari ujung tombak Sadina, beberapa aliran petir yang cukup terang sehingga dapat membutakan mata, melesat ke arah anak-anak yang dicuci otaknya.

““GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!””

Kiel dan yang lainnya jatuh ke tanah. Petir berlanjut untuk sementara waktu. Aku mencium aroma rambut yang terbakar.

"Sadina, kau ..."
"Jangan khawatir. Aku mengontrol kekuatannya. Jika aku serius, itu akan terlihat lebih menakjubkan.” 

Baguslah...

"Apakah kalian semua masih hidup?"
"Kami baik-baik saja, tetapi beberapa orang mulai mengeluarkan kata-kata yang mirip dengan Kiel-kun."

Ah, jadi mereka terbangun di dunia Keadilan yang indah. Apakah ini semacam ajaran sesat? Keadaannya mulai merepotkan.

"Kak Hero Perisai, persiapkan dirimu!"

Jadi masih ada yang bersembunyi. Lebih banyak anak yang hilang mulai membanjiri desa. Sial... Mereka memanfaatkan bawahanku dengan baik.

Mereka pasti memiliki banyak keuntungan di sini. Bahkan jika Itsuki termakan oleh kutukannya, aku tidak menduga dia akan memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkanku dan bawahanku secara langsung dalam pertempuran.

Tapi, orang-orang yang berdiri di depanku adalah mereka yang secara pribadi aku besarkan dan berikan peningkatan pertumbuhan status. Anak-anak ini sudah berada di atas rata-rata ksatria dan petualang. Dan bagi sebagian besar dari mereka, seperti Raphtalia, ini adalah rumah mereka.

Biasanya, ini akan menjadi kelompok yang bahkan seluruh negara akan ragu untuk melawannya. Aku harus mengucapkan selamat kepadanya atas kecemerlangan ide ini, tapi itu sangat tidak manusiawi.

Dia mungkin memikat budak yang paling lemah, mencuci otak mereka, mengirim mereka kembali, dan meminta mereka membawa teman-teman mereka. Pada akhirnya, semua orang dengan senang hati akan mencoba membunuhku.
Dia mungkin menghabiskan waktu lama untuk merencanakan ini. Ah… dia menggunakan cara licik untuk mencoba mengalahkanku.

Kita sudah bersama sekitar satu bulan lebih. Kita bahkan sudah saling menyayangi.
Ditambah lagi mereka adalah teman Raphtalia. Aku tidak membunuh mereka.
Penyerangan ini sangat terencana.

Di antara tujuh kutukan, aku selalu bertanya-tanya mana yang akan memberikan kemampuan seperti itu.

"Apakah ini semua budak yang hilang?" 
"Tidak ... aku pikir itu kurang dari setengah."

Seperti yang aku pikirkan. Sejujurnya, jika dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan tempur yang luar biasa, dia akan memulai dengan menyebarkannya dikalangan petualang.
Ditambah lagi…

"Kereta itu." 

Para budak dibawa ke sana, tetapi pertempuran telah berlangsung untuk sementara waktu, dan aku tidak melihat ada aktivitas darinya. Apakah Itsuki ada disana? Apakah dia melewatkan kesempatan untuk membuat gaya masuk yang dramatis? Aku penasaran. Sesuatu tampak ganjil di sini. Aku punya firasat buruk tentang hal ini.

"Menurutmu berapa lama kelompok Kiel akan tersingkir?"
"Kau seharusnya tidak berharap terlalu banyak. Kiel-chan sudah menjadi cukup kuat.”
"Kalau begitu sebaiknya kita selidiki kereta itu selagi memungkinkan. Kita mungkin menemukan sumbernya.”
"Naofumi-san ..." 
"Ada apa, Rishia?"
"..."

Apakah dia akan memintaku untuk memaafkan Itsuki? Ksatria Wanita juga melakukan hal seperti itu. Yah itu tergantung pada situasinya. Jika aku menemukan cara untuk membebaskan Itsuki dari kutukannya, aku mungkin bisa menggunakannya nanti. Dan dari kemampuannya menyebabkan kekacauan seperti itu, aku pikir bocah itu akan sangat berguna. Setidaknya dalam pertempuran.
Aku menunggu pertanyaan Rishia, tetapi tidak kunjung datang.

"Jika kau tidak punya apa-apa untuk dikatakan, maka kita akan pergi."
"... Oke."

Kurasa dirinya penuh dengan banyak emosi yang saling bertentangan. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan ketika dia bertemu Itsuki. Bagaimanapun juga, aku harap dia tidak mengkhianatiku. Itu akan sangat menyakitkan. Aku harus menggunakan segel budak untuk menghentikannya. Aku membuka layar manajemen budak Rishia untuk berjaga-jaga.

"Hei! Siapa pun yang bersembunyi di kereta! Keluarlah!”

Aku berteriak saat aku mendekatinya.
…Apakah benar-benar tidak ada orang di sana? Itu tidak mungkin. Dari gerakan Kiel dan yang lainnya, pasti ada sesuatu di sini.

“Hei!”

Ini tidak berhasil.

"Sadina, lemparkan sihirmu ke kereta itu.”
"Apakah kau yakin?"
"Aku memberi peringatan yang cukup. Gunakan kekuatan penuhmu untuk yang satu ini.”
"Baiklah kalau begitu."

Sadina menyetujui permintaanku untuk menyerang kereta.

“Sebagai sumber kekuatan Aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Hujanilah petir kepada musuhku!”
“Dreifach Thunderbolt!”

Guntur terdengar saat sambaran listrik menghantam kereta. Dan sesosok manusia dengan cepat keluar tepat pada waktunya.

"Apa!?"

I-itu bukan Itsuki…

Sosok itu memegang tongkat di tangannya dan mengenakan jubah panjang. Di kepalanya ada topi runcing. Itu adalah pakaian standar penyihir yang akan kau temukan di buku cerita anak-anak. Jubah itu memiliki sulaman rumit dan tongkat itu memberi kesan mahal. Sekilas aku tahu bahwa topi itu juga terbuat dari bahan yang bagus.

Tapi hal yang paling mengejutkanku adalah kenyataan bahwa pria itu bukanlah Itsuki. Dia jelas semacam penyihir. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya, tapi aku tidak ingat di mana. Dan… dia mengeluarkan belati yang bersinar dengan cahaya aneh dari area dada jubahnya.

"Kau bajingan… Perisai Iblis! Memperlakukan bawahanmu sendiri dan bawahan kami dengan cara yang tidak manusiawi.”

Siapa lagi pria ini? Aku cukup yakin aku pernah melihatnya… di suatu tempat. Dia sepertinya mengenalku, tapi...apakah dia pria yang disebut Ren sebagai temannya Witch? Itu artinya ada kemungkinan aku pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Wajahnya nampak familiar, tapi ... Aku tidak bisa mengingatnya.

"Mungkinkah kau..."

Wajah Rishia berubah pucat. Apa? Apakah kau kenal dia?

Saat aku memikirkannya, aku ingat.

Aku cukup yakin orang ini adalah penyihir di party Itsuki. Waktu yang aku habiskan dengan party itu cukup singkat, tetapi aku pikir orang ini mungkin ada di sana. Aku memang merasa sedikit bersalah, tetapi kau tidak dapat mengharapkan aku untuk mengingat setiap detail kecil yang tidak berguna.

Alasan Ren tidak ingat dengan jelas adalah karena dia pergi dan melakukan Solo Play di Pulau Cal Mira. Dia mungkin hanya melihatnya selama beberapa menit. Aku seharusnya tidak mengkritik dia untuk itu. Selain Si Zirah, aku tidak ingat satupun dari mereka. Maksudku, mereka semua mengatakan hal yang hampir sama. Terus terang, aku tidak ingat siapa pun dari party Itsuki.

Tapi… Perhitungan ini kurang tepat. Sifat menular dari cuci otak adalah hal lain, tapi Itsuki bahkan tidak ada di sini. Dan luka yang diterima paman Imiya bukan karena busur. Kiel sepertinya mereferensikan lebih dari satu orang ketika dia berbicara.

Apakah aku pikir itu Itsuki karena ucapan lanjutan dari kata 'Keadilan'? Tidak, masih ada kemungkinan dia terlibat dalam hal ini.

Oke, aku akan menangkap orang ini dan membuatnya mengatakan semuanya.

"Welst-san! Kenapa kau ada di tempat seperti ini!?” 

Dia punya nama seperti itu? Ini pertama kalinya aku mendengar nama seperti itu. Bukannya aku peduli atau apa.

Di antara teman pahlawan lainnya, hanya ada sedikit yang aku ingat. Dan bukankah Itsuki ditinggalkan oleh teman-temannya? Aku berasumsi seperti itu ketika aku melihatnya bertindak secara independen, tetapi kurasa aku harus menyelidiki lebih lanjut tentang rekan-rekannya. Semua rekan Ren meninggal sedangkan rekan Motoyasu meninggalkan dirinya, itulah yang dia katakan.

Jadi rekan Itsuki selamat. Lalu, mengapa Itsuki terlihat sedih dan bertarung di Zeltoble?

"Kenapa? Itu yang harus seharusnya aku katakan kepadamu, Rishia. Kau bekerja sama dengan Perisai Iblis... Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

Tidak, tidak, yang mengusir Rishia adalah kalian. Kau ada di sana—Kau melihat segalanya. Kau tidak bisa begitu saja melupakannya.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 18 : Epilog – Pengetahuan Jebakan dari Game

Volume 18
Epilog – Pengetahuan Jebakan dari Game


Malam itu juga. Kami sedang makan malam bergaya prasmanan di halaman kastil, diterangi oleh obor dan cahaya sihir.

“Hei! Itu milikku!” Kata Filo.

“Hah! Waktu makan malam adalah medan perang! Jika kau sangat menginginkannya, kau harus mencantumkan namamu diatasnya! Tetapi itu bahkan tidak akan menghentikanku untuk memakannya!” Balas Naga Iblis.

“Bleh! Aku benar-benar benci naga!” Filo dan naga bertengkar karena makanan. Dari kata-kata yang keluar dari mulut mereka, anehnya mereka tampak rukun. Naga Iblis pasti telah membuktikan dirinya pada pertempuran sebelumnya. Namun masalah terbesar adalah usahanya yang terus menerus untuk ‘berhubungan’ denganku. Setiap kali aku menatap ke arahnya, dia akan mengedipkan matanya kearahku, jadi aku membiasakan diri untuk tidak menatapnya sama sekali.

Setiap orang makan dengan caranya masing-masing. Setelah beberapa saat, ditengah acara tersebut, aku mendapati diriku duduk hanya dengan Itsuki dan Kizuna, tiga pahlawan yang memegang senjata suci. Kami makan bersama.

“Jiwa-jiwa yang terlahir kembali ya? Apa menurutmu kita bisa menemukan kesamaan diantara mereka?” Tanya Kizuna.

“Mereka adalah individu yang berbahaya, dipilih sendiri oleh makhluk yang mengaku sebagai dewa—musuh utama kita. Apakah menurutmu musuh itu akan memilih siapa saja yang mungkin mendengarkan apa yang kita katakan?” Tanyaku.

“Mereka masih manusia. Kupikir ada peluang,” Jawab Kizuna.

“Begitulah cara mereka membujukmu ke dalam jebakan sebelumnya,” Kataku mengingatkannya.

“Hei, jangan menyimpulkan terlalu cepat!” Balasnya.

“Maksudku, aku tidak punya masalah dengan gagasan ingin mencoba berbicara dengan mereka. Aku bisa memahaminya,” Kataku.  Itu adalah salah satu poin kuat Kizuna. Maksudnya adalah bahwa memusnahkan mereka tanpa mencoba berbicara dengan mereka terlebih dahulu bukanlah hal yang manusiawi. Namun, aku tidak berharap mereka memberi waktu untuk strategi seperti itu.

“Bagaimana jika… orang yang mengaku sebagai dewa ini entah bagaimana bertanggung jawab atas pengetahuan gameku?” Kata Itsuki. Kedengarannya sebagai sesuatu yang memungkinkan bagiku sekarang. Bahkan jika dipanggil dengan proses yang benar, memiliki pengetahuan sebelumnya akan mengubah caramu bertindak setelah dipanggil.

“Tiga pahlawan lainnya sudah tewas, mereka semua tampaknya memperlakukan ini seperti game juga dari apa yang aku tahu dari mereka,” Kata Kizuna. Dengan mengira bahwa ini adalah video game, itu bisa saja merupakan jebakan lain yang dipasang oleh “Dewa” ini. Ren, Motoyasu, dan Itsuki pada dasarnya membatasi kekuatan mereka sendiri karena pengetahuan game mereka.

“Itu membuatku berpikir...” Aku melihat kearah Itsuki dan Kizuna, yang keduanya memberikan jawaban kebingunan. “Itsuki, kau pikir ini adalah dunia dari game komersial bernama Dimension Wave bukan?”

“Ya,” Katanya.

“Tunggu. Itu punya nama yang sama?” Kata Kizuna. Mendengar itu, Itsuki menatapnya.

“Apakah itu berarti kita memainkan game yang sama?” Tanyanya.

“Aku meragukan itu. Kau memiliki semacam kekuatan khusus di duniamu bukan Itsuki? Sedangkan aku tidak memilikinya,” Jawab Kizuna.

“Dan kau tidak memiliki pengetahuan game tentang dunia ini kan, Kizuna?” Tanya Itsuki.

“Benar. Aku baru saja akan memaikan game berjudul Second Life Project: Dimension Wave. Itu adalah game VR dan aku belum pernah memainkannya sebelumnya. Aku dipanggil tepat saat aku masuk ke dalam pod, jadi aku berpikir ini hanya game yang sangat realistis,” Jelas Kizuna. Pengalaman itu pasti akan membuat kesalahpahaman dalam segi waktu. “Apakah menurutmu dewa ini terlibat dalam hal itu entah bagaimana caranya?” Tanyanya.

“Itu sulit untuk disimpulkan. Biarpun begitu, kau tidak akan memiliki prasangka dan metode peningkatan kekuatan,” Renung Itsuki.

“Ada perbedaan antara game yang kau mainkan untuk pertama kali dan game yang kau dedikasikan dalam hidupmu,” Tambahku. Sebenarnya, Kizuna cukup beruntung.

“Kau membaca buku kan Naofumi?” Tanya Kizuna.

“Ya. Menurut Roh Perisai, pemanggilan seperti itu tidak pernah gagal,” Jawabku. Aku masih berharap mereka mempertimbangkan tempat dan situasi lebih cermat.

“Berpikir tentang itu sekarang, aku cukup iri pada kalian berdua. Siapa yang mengira bahwa memiliki pengetahuan akan menyebabkan kegagalan seperti itu,” Kata Itsuki.

“Kau mungkin benar. Jika ini semua telah diatur oleh musuh, maka itu adalah trik yang cukup buruk,” Jawabku.

“Meski begitu. Game VR yang akan kau mainkan Kizuna… Apakah itu berbeda dengan dari yang dimainkan Ren?” Tanya Itsuki.

“Dari apa yang kudengar,” Kataku, “Itu berbeda. Ren bermain dengan mesin tipe helm sementara Kizuna mengguankan mesin yang disiapkan oleh perusahaan—sebuah pod berisi cairan.” 

“Jika begitu, tentu ada banyak orang jepang,” Kata Itsuki. Setidaknya ada lima yang sudah diketahui, itu pasti.  Aku menganggap diriku sebagai orang jepang yang “normal”, tetapi bagi yang lain, itu mungkin tidak berlaku. “Pengetahuan menjadi perangkap yang ditempatkan oleh musuh kita... Itu cukup berbahaya.”

“Jebakan yang sudah membunuh tiga dari empat pahlawan di dunia ini,” Kataku dengan nada sedih.

“Tolong jangan ingatkan aku. Ah, dan besok akan terjadi gelombang,” Kata Kizuna. Itu membuatku kesal juga. Memang benar bahwa itu terjadi demi dunia, tetapi gelombang lebih sering muncul disini. Aku penasaran apakah ada cara untuk menyebarkannya...

Kemudian aku sadar—sebuah gagasan yang kemudian di konfirmasi dengan menguraikan lebih banyak teks kuno.

“Apa yang akan terjadi jika kau menggunakan Hunting Tool 0 untuk menyerang celah gelombang? Jika itu memiliki efek memutuskan kekuatan tidak sah, mungkin itu akan bekerja juga,” Saranku.

“Ah, kedengarannya menarik. Ide memang membutuhkan trial dan error,” Jawab Kizuna. 

“Kupikir itu layak untuk dicoba,” Tambah Itsuki.

“Baiklah kalau begitu. Kami masih memiliki banyak pekerjaan di depan kita. Kalian harus makan dan bersiap untuk pertempuran berikutnya,” Kataku.

“Ya, kami tahu,” Kata Kizuna.

“Memang. Dengan makanan lezat, tujuan yang jelas, dan kekuatan gabungan dari sekutu kita... Kita bisa mengatasi masalah apapun yang mungkin menimpa kita,” Kata Itsuki.

“Bahkan jika itu seseorang yang menyebut dirinya dewa,” Jawabku.

“Pasti,” Katanya.

Skala musuh yang kami hadapi jauh lebih besar. Aku juga perlu memberi tahu orang-orang di dunia kami tentang ini secepat mungkin. Perasaan di hatiku ini, aku tidak bisa menjelaskannya. Masing-masing dari kami yang berasal dari Jepang yang berbeda, duduk untuk beristirahat sejenak.


Note:
Selesai juga... Bagaimana menurut kalian Volume 18 ini? Menarik? Komen dibawah buat menambah semangat kami semua wkwkwk... Saya admin Hantu pamit undur diri... 

Sampai ketemu lagi di Volume 19!


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 14 Juni 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 230. Penularan

 Chapter 230. Penularan


 
Suasana di desa begitu sunyi. Semua orang mengatur napasnya. Makan malam selesai dalam keheningan seperti tanpa ada yang menyalakan lampu. Seolah-olah seluruh desa sudah tidur.
<EDN: Intinya biasanya berisik tapi sekarang semuanya pada diam, tidak ada yang ngobrol.>

Sejumlah besar kereta yang menghilang mendadak datang. Filolial menarik mereka dan para budak yang menungganginya mungkin sedang dikendalikan.
Satu per satu, mereka turun dari kereta dan mulai berjalan menuju desa.
Dan kemudian, membawa pergi para budak yang berpura-pura tidur, mereka kembali ke kereta yang diparkir jauh dari kami.

Kemudian…

"Berhenti!"

Aku melangkah keluar dari tempat persembunyianku dari rumah terdekat. Pada saat yang sama, para budak yang dibawa pergi mulai melawan.

“Oh, Bubba. Apa yang terjadi?"

Kiel berdiri di depanku, menjawab seolah-olah tidak ada yang salah. Aku membuka layar manajemen budak Kiel dan mencoba mengaktifkan hukuman. Tapi ... seolah-olah fitur ini telah rusak, tidak terjadi apapun.

“Kiel, aku tahu kau tidak bisa berakting. Cepat katakan. Apakah dalang yang mengendalikanmu ada di dalam kereta itu?”
“Mengendalikanku? Apa yang kau katakan, Bubba?”

Mata Kiel tampak aneh. Dia menatap anak-anak yang dikendalikan lainnya, dan mereka semua memiringkan kepala dengan bingung.

“Kami akhirnya dibebaskan dari cuci otak Bubba. Itu sebabnya ini menjadi tugas kita untuk membebaskan yang lain secepat mungkin.”

Ahh, jadi begitu... mereka pikir telah dibebaskan. Itulah kebohongan yang ditanamkan Itsuki untuk mengendalikan mereka. Dengan alasan seperti itu, sepertinya Itsuki pikir dia berpihak pada keadilan. Setidaknya, di dalam kepalanya. Yah… jika mereka benar-benar dibebaskan… Itu akan seperti yang dikatakan Rishia.


Beberapa waktu yang lalu, ketika aku mengusulkan rencananya, Rishia berkata seperti ini

“Naofumi-san. Bahkan setelah semua itu terjadi, aku masih menyukai legenda para Hero. Ketika aku masih kecil, aku akan membaca cerita itu setiap saat.” 
"Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Apakah kau tahu musuh yang muncul dalam cerita Hero... Raja Iblis dengan kekuatan pengendali."
"Hero Perisai, kan?"

Rishia perlahan menggelengkan kepalanya.

“Setidaknya, dalam dunia fantasi, dia dipanggil seperti itu. Tetapi menurut sejarah, ada banyak Hero pada saat itu, dan bersama dengan para Hero, banyak kematian akan datang.”

Apakah itu sebabnya orang terus mengatakan aku memiliki perisai yang bisa mencuci otak?

Itu berarti bahwa itu tidak harus menjadi Hero Perisai. Orang-orang di dunia ini memiliki dendam dan secara sewenang-wenang menjadikan Hero Perisai sebagai kambing hitam. Selama mereka bisa mengalihkan kesalahan, maka senjata apa pun bisa digunakan.

Aku pernah mendengarnya di Manga. Hero dan Raja Iblis hanya ada dua sisi dari mata uang yang sama. Namun di sini, mereka adalah orang yang sama.  Semua hal buruk yang terjadi adalah hal palsu... Raja Iblis yang disalahkan. Tidak mungkin seseorang dengan kekuatan gelap seperti itu bisa menjadi hero.… Seorang Hero yang ditolak oleh sejarah. 


“Dan… Menurut legenda, semua orang yang bekerja di bawah Raja Iblis adalah korban yang tunduk pada keinginannya.”

Singkatnya, seperti ini:

Jika aku tidak menyingkirkan Itsuki dengan cepat, ini akan menjadi semakin merepotkan. Hal buruk akan menjadi semakin parah, aku harus mengurung setiap orang di Shield Prison sekaligus. Aku penasaran berapa banyak sihir yang dibutuhkan.

Kurasa aku harus menceritakan tentang Ren juga. Jika Itsuki memutuskan untuk menunjukkan wajahnya di desa, aku ingin menangkapnya hidup-hidup jika memungkinkan. Jika itu ternyata tidak mungkin, kita harus membunuhnya. Aku akan bertanggung jawab untuk itu. Itulah yang aku katakan padanya.

Tapi Ren menentang membunuh Itsuki. Aku merasa bahwa emosinya semakin dalam akhir-akhir ini.

Sebelumnya, dia mencoba memasang ... karakter cool dan acuh tak acuh. Aku rasa ini lebih baik. Ngomong-ngomong, jika dia mencoba menggunakan masa lalunya yang kelam untuk mendapatkan simpati, aku berencana untuk mengusirnya. Nampaknya tidak ada masalah untuk saat ini.

Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak berpikir dia akan membunuh seseorang. Ditambah lagi, meskipun aku memaksanya menerapkan metode penguatan lainnya, kutukan membuatnya tidak bisa mendapatkan item drop atau uang, jadi dia tidak bisa benar-benar menggunakannya. Akan sulit untuk menghancurkan Itsuki, yang saat ini sedang dilahap oleh kutukannya sendiri.


“Aku pulang~.” Suara riang datang dari pantai. "Bukankah sekarang waktunya tidur? Aku baru saja berencana untuk menemui Atla-chan dan pergi menuju ke tempat Naofumi-chan, tapi apa yang sedang terjadi?” Sadina memasang ekspresi santai saat dia merentangkan tangannya dan berjalan ke arahku.
"Tunggu, kenapa kau baru pulang larut malam seperti ini?"

Jelas bahwa sekali bahwa dia tidak tahu tentang situasi darurat disini. Mengapa idiot ini pergi dengan begitu mudah?

"Kenapa? …Bukankah Naofumi-chan sendiri yang memintaku untuk mencoba mencari harta di bawah laut?”

Oh iya!
Sadina memberi tahu aku bahwa banyak harta karun yang menarik tertidur di dasar laut, jadi aku memintanya untuk mencobanya mencarinya. Baru-baru ini, dia kembali dengan barang-barang seperti koin tua. Itu adalah hal-hal yang akan membuat para kolektor menggila, dan kami mendapatkan harga yang bagus. Itu sebabnya aku senang dan memintanya untuk melakukannya lagi secara mendadak.

"Hari ini, aku menemukan anggur yang enak dan tombak yang bagus.”

Sadina mengulurkan tombak hiasan yang tampak seperti terbuat dari karang. Apakah seseorang pernah kehilangan benda seperti itu di dasar laut?

“Sepertinya sudah berada di dasar laut untuk sementara waktu, tapi masih mempertahankan bentuknya. Mata pedangnya cukup bagus.”
“Ah. Ngomong-ngomong… Bisakah kau mundur sedikit?”

Sadina memutar-mutar tombak di sekitar tubuhnya sebelum mengembalikannya ke tas di punggungnya. Dia melihat sekeliling.

“Sadina-neechan. Bubba sebenarnya jahat.”
“Ara? Ada masalah apa?”

Kiel perlahan melangkah menuju Sadina.

"Tidak! Sadina-san! Menjauh dari Kiel-kun!”

Saat Rishia meneriakkan peringatannya. Kiel berubah menjadi bentuk anjing dan menggigit tempat seharusnya Sadina berada. Tetapi pada saat itu, Sadina mundur dengan kecepatan yang sangat cepat dan membuat jarak antara dirinya dan anjing itu.

“Sial… aku meleset.”
“… Apa yang kau coba lakukan? Tergantung dari jawabanmu, Onee-chan ini mungkin harus menghukummu.”

Sadina segera mempersiapkan dirinya untuk pertempuran saat dia mengarahkan tombak ke Kiel. Serangan Kiel membuatnya waspada. Seharusnya aku memperingatkannya lebih cepat.

“Secara hipotesis… Jika seperti dalam cerita, kami para budak hanya bergerak atas kehendak Raja Iblis, maka…”

Kata-kata Rishia bergema di pikiranku. Aku bisa membayangkan kemungkinan terburuknya.

"Aku mengerti sekarang. Itsuki tidak secara langsung mencuci otak korbannya. Dia membuat efek status yang bisa disebarkan… Atla, apa yang bisa kau rasakan dari Kiel dan yang lainnya?”

Aku bertanya kepada Atla apa suatu energi aneh yang berasal dari mereka. Ini hanya kemungkinan, tapi aku harus meminta Atla untuk memeriksanya.

“Energi gelap yang menyelimuti Kiel-kun mulai melebarkan tentakel ke arah Sadina-san.”

Sial. Ini merepotkan. Kiel, Filolial, dan para Budak yang dikendalikan mengambil posisi siaga.

Saat ini, level Kiel adalah 70. Jika hanya berdasarkan statistik, dia kalah dari Raphtalia, tapi bukan berarti dia tidak kuat. Karena ras-nya, Kiel dapat membuat gerakan cepat.

Namun, aku yakin mungkin bisa menahan serangannya. Masalahnya adalah sifat menular dari cuci otak ini.

Ini seperti permainan di mana kau harus mempertahankan satu poin dari musuh yang tak terhitung jumlahnya. Dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu. Tidak ada pihak yang secara serius mencoba menyakiti yang lain, tetapi ketika salah satu pihakku terinfeksi, mereka akan menjadi musuh.

“Apakah ada cara untuk menghadapi semua ini?”

Ren dan yang lain juga seharusnya berada dalam bahaya saat ini. Aku sudah memperingatkan mereka.

“WAOOOOOOOOOOON!”

Dengan teriakan perang Kiel, para budak memulai serangan mereka… Budak yang aku latih sebagai tentara telah berbalik melawanku.

Aku telah berencana untuk mengakhiri ini dengan menangkap Itsuki. Tentu saja, aku telah mempertimbangkan kemungkinan melawan Kiel dan yang lainnya. Tapi penyebaran sihir cuci otak ini terlalu besar. Ini bahkan lebih buruk dari wabah.

“Legenda menceritakan tentang teman Hero yang memiliki keinginan kuat dan mampu menaklukkan kendali pikiran. Itu adalah kisah yang cukup menyentuh... "

Rishia menjawab saat dia memblokir serangan Kiel. Desa telah ditelan oleh pertempuran. Meskipun aku meneriakkan peringatan, serangan pendahuluan musuh membuat beberapa pejuangku tidak sadarkan diri. Situasi kami lebih buruk dari perkiraanku.

Aku melangkah ke depan untuk melindungi budak dengan kemampuan terbaikku, tapi tetap saja, aku tidak bisa menangani semuanya.

"Apa kau baik-baik saja!?"
"E-entah bagaimana, aku berhasil selamat." 
“Sepertinya efeknya tidak begitu menular, tapi jika kita terus melakukan serangan, maka itu pasti akan menyebar.”

Aku memiliki kepercayaan diri dalam pertahananku sendiri, tetapi ketika menghadapi pasukan musuh sekelas Kiel, tidak mungkin kedua pihak akan keluar tanpa cedera. Jika aku ingin menggunakan kartu truf Shield Prison, aku harus mengumpulkan mereka di satu tempat. Padahal, solusi tercepat adalah menemukan dan menangkap Itsuki.

"Atla! Apa kau tidak merasakan kehadiran Itsuki di sekitar sini?”
“…Tidak. Aura jahat memenuhi area ini, dan aku tidak dapat melakukan apa pun. ” 
"Baiklah..."

Kurasa aku tidak boleh terlalu bergantung kepadanya. Sial. Semuanya berbalik padaku. Aku mendapat ide untuk mengalahkan Itsuki dan mengakhiri segalanya dari Motoyasu, tapi itu sepertinya mustahil. Jika cuci otak itu menular, maka itu akan menyebar secara alami. Itsuki bahkan tidak harus berada di dekat desa.

“Bubba, persiapkan dirimu! Beraninya kau memanfaatkan kami semua!”
“Hah! Makan saja crepe yang penuh lumpur itu!”

Kebiasaan burukku muncul lagi, berbicara toxic seperti itu. Kalimat jahat murahan. Aku seharusnya tidak memprovokasi dia sekarang.




TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 40. Beruang Menaklukkan Ular

 Volume 2 :

Chapter 40. Beruang Menaklukkan Ular



Beberapa jam setelah beralih menunggangi Kumakyu, kami kembali menunggangi Kumayuru dan melanjutkan perjalanan. Kami tiba di desa tepat saat matahari mulai tenggelam.  Kumayuru menurunkan laju langkahnya begitu memasuki batas desa. Hening menyelimuti kawasan tersebut. Aku hampir tidak mendengar suara apapun—suasananya sudah seperti kota mati.

Pikiran tentang warga desa semuanya telah musnah melintas di kepalaku. Aku merasa sedikit mual. 

Kai turun dari Kumayuru dan berlari ke dalam desa.

"Semuanya, apa kalian di sini? Ini aku, Kai. Aku telah kembali!" teriaknya. Tak ada seorang pun yang menjawab. Setelah hening untuk beberapa saat, sebuah pintu dari rumah terdekat berderit dan terbuka. 

"Kai, kaukah itu?" 

Seorang pria muncul dari dalam.

"Ayah! Di mana ibu? Dan mana penduduk desa yang lain?"

"Ibumu baik-baik saja. Dia hanya terbaring lesu karena belum makan apa-apa belakangan ini."

"Bagaimana dengan penduduk desa yang lain?"

"Mereka tidak akan keluar."

"Kenapa?"

"Monster itu bereaksi terhadap suara. Keluarga Ermina mencoba kabur dan berakhir dimakan. Londo tewas saat hendak menimba air di sumur. Sudah tidak ada yang berani keluar rumah karena takut akan menjadi korban selanjutnya."

"Kalau begitu, bukannya berbicara di luar sini akan berbahaya?"

"Ya, memang."

"Lantas..."

"Tapi seseorang harus melakukannya, demi Domgol."

"Paman Domgol?"

"Saat kami memberangkatkanmu untuk memanggil bantuan tempo hari, Domgol bertindak sebagai umpan dan tewas."

"Paman Domgol telah..."

"Sebab itulah, ayah perlu mendengar kabar yang kau bawa dan memutuskan langkah kita selanjutnya. Dengan begitu, setidaknya kematian Domgol tidak akan sia-sia."

"Baik, ayah..."

"Dan siapa gadis beruang ini?"

Ayah Kai menatapku.

"Nona ini adalah petualang yang akan bertindak sebagai pengumpul informasi."

Wajahnya berubah suram dan lesu.

"Memangnya apa yang bisa seorang gadis berkostum beruang laku..."

"Ayah, Guildmaster akan segera menyusul kemari. Mereka juga bilang akan memberangkatkan para petualang peringkat C secepatnya."

Wajah ayah Kai menjadi lega. Yah, kurasa siapapun tanpa terkecuali akan menunjukkan raut yang sama saat nasib yang mereka miliki dipercayakan kepada seorang yang tidak lebih hanyalah gadis dengan kostum aneh.

"Kapan kira-kira Guildmaster akan datang?"

"Kami berhasil sampai kemari hanya dalam setengah hari berkat makhluk panggilan nona ini, tapi Guildmaster bilang dia baru akan tiba besok."

"Begitu ya, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang, nona?"

"Pertama aku akan mengumpulkan informasi, kemudian jika memungkinkan, aku akan membunuh ular itu."

"Berhentilah bercanda. Membunuhnya, kau bilang? Itu tidak mungkin," lontar ayah Kai, meluapkan rasa frustasinya.

"Bukan kau yang memutuskan, tapi aku. Cukup katakan semua yang kalian tahu tentang ular itu."

"Tidak banyak yang kami tahu. Ular itu selalu datang kemari setiap pagi untuk makan. Makhluk tersebut akan menghancurkan satu rumah warga, dan setelah memakan semua orang yang ada di dalam, makhluk itu pergi. Lalu, jika ada yang mencoba lari, makhluk itu akan memakannya juga. Jika kau membuat suara gaduh, kau akan berakhir menjadi yang pertama diincar makhluk itu."

"Kalau begitu, aku akan langsung pergi memeriksa ular itu."

"Selarut ini?"

Dalam waktu kurang lebih satu jam, matahari akan benar-benar menghilang dari cakrawala. 

"Aku memang berniat pergi karena sekarang adalah waktu yang tepat. Jika aku bertemu makhluk tersebut dan berakhir menjadi sebuah pertarungan, kalian bebas menggunakanku sebagai umpan dan melarikan diri. Kalian pasti bisa kabur selama ada kuda, bukan?"

"Kurasa tidak, orang-orang di sini sudah menyerah untuk melarikan diri. Mereka yakin akan tewas jika melakukan hal itu. Dan kami juga tidak punya cukup kuda untuk dinaiki semua orang."

"Terserahlah, aku berangkat sekarang."

"Nona, tolong berhati-hatilah."

Aku mengelus kepala Kai, kemudian naik ke atas Kumayuru dan pergi.

Kemampuan Bear Detection milikku mendeteksi sesuatu tidak jauh di depan. Kurasa hanya butuh beberapa menit untuk sampai ke sana dengan kecepatan Kumayuru saat ini. 

Kami tiba di sebuah dataran kosong. Ular itu pasti akan muncul tidak lama lagi. Di bawah cahaya malam yang redup, aku melihat sesuatu berwarna hitam di depan. Awalnya kupikir itu batu, sampai aku sadar ternyata itu adalah tubuh seekor ular raksasa yang melingkar.

Tubuhnya sangat besar dan sepertinya makhluk itu tengah tertidur. Yah, pikirku, siapa yang menyerang duluan, dia yang menang.

Aku turun dari Kumayuru dan mengembalikannya ke dalam sarung tangan beruang. Saat aku menoleh kembali, ular itu telah bangun. Matanya yang tajam menatap ke arahku. Lidahnya terjulur, mengumpulkan bau yang ada di udara. Melihat makhluk tersebut bangkit dan bergerak dengan tubuh raksasanya yang mengerikan, nyaliku mendadak ciut.

Ular itu merayap maju, dengan cepat, memotong jarak di antara kami. Dalam sekejap, mulut besarnya telah mengarah kepadaku.

Aku menghindar dengan melompat ke kanan. Badannya yang besar menyerempet melewati sisi kiriku. Sejenak aku berpikir telah selamat dari terkamannya, tetapi makhluk itu tiba-tiba memutar tubuhnya dan menghantamkannya ke arahku. Aku segera mengambil posisi bertahan dengan menyilangkan kedua tangan, tetapi hantaman tubuhnya menghempaskanku ke tanah.

Aku mengira akan menerima rasa sakit yang luar biasa, tetapiternyata tidak. Mungkinkah kostum beruang ini meredam damage yang kuterima? Ular itu sama sekali tidak memberiku jeda; makhluk itu telah siap di posisinya untuk melancarkan serangan selanjutnya.

Aku tidak bisa keluar dari jangkauan ular tersebut. Setiap kali aku berhasil menghindari terjangannya dengan melompat ke kanan atau ke kiri, tubuh dan ekornya akan bergerak menyerangku dua sampai tiga kali berturut-turut. Tubuhnya yang besar menciptakan awan debu saat bergerak, mengacaukan penglihatanku. Selain itu, makhluk tersebut juga diselimuti oleh sisik berwarna hitam; menjadikannya semakin sulit untuk ditemukan dalam kegelapan.

Makhluk itu bereaksi terhadap suara. Mungkin datang ke sini saat petang adalah kesalahan.

Aku merapal sihir angin dan menghempaskan awan debu yang ular itu ciptakan.

Aku menembakkan sihir setiap kali ada celah, tetapi sisiknya yang keras meredam semua seranganku. Tubuhnya juga terlalu besar untuk dijebak dalam sebuah lubang. Menggunakan sihir beruang rasanya agak berlebihan; aku yakin sihir beruang apiku dapat menembus pertahanannya dengan mudah, tapi karena sisiknya kelihatan cukup berharga, aku tidak ingin membakarnya jika memungkinkan.

Dalam game, mau dibunuh dengan cara apapun, monster akan selalu meninggalkan drop item ketika mati. Di dunia nyata, benda yang sudah rusak tidak bisa kembali seperti semula. Menyerang dengan pedang akan meninggalkan goresan, sementara menggunakan sihir akan merusak kualitas material.

Sihir api tidak mempan, dan angin kelihatan kurang menjanjikan. Saat aku mengira sudah melukainya dengan bilah angin, lukanya langsung menutup dalam hitungan detik.

Jika menyerang dari luar tidak mempan, pikirku, bagaimana kalau dari dalam?

Aku melompat mundur untuk mengambil jarak. Ular itu merayap maju dan mengejarku. Aku menghindar ke sana kemari, menunggu makhluk tersebut membuka mulutnya. Namun, ular itu hanya menerjang tanpa mencoba menerkamku sama sekali. Mungkin makhluk itu tidak akan membuka mulutnya jika aku terus menghindar seperti ini. Bagaimana kalau aku melompat saja?

Aku menendang tanah dan melompat tinggi-tinggi. Saat aku berada di udara, ular itu membuka lebar-lebar mulutnya dan bersiap untuk menerkam. Pada kesempatan itu, aku menciptakan sepuluh beruang api sebesar kepalan tangan.

Beruang-beruang api kecil itu berjajar, membentuk satu barisan lurus. Ular itu menerjang maju dengan mulut terbuka seolah menyuruhku menembakkan semua beruang api itu ke sana. Beruang-beruang apiku melesat, membakar lidah serta seluruh isi perut dari makhluk tersebut.


Ular itu meronta kesakitan, kemudian roboh, meninggalkan bunyi gedebuk yang luar biasa. 

Tubuhnya yang jatuh menggeliat, memukul-mukul tanah. Namun, setelah beberapa saat, gerakannya melemah dan, pada akhirnya, berhenti sama sekali.

Hanya antara kau dan aku saja: mulutnya mengeluarkan aroma daging panggang yang cukup menggiurkan.

"Apakah sudah berakhir?"

Kemampuan deteksi milikku tidak lagi merespon sosoknya. Itu artinya ular tersebut telah benar-benar mati.

Kurasa untuk mengalahkan monster sekelas ini, sihir normal saja tidak cukup. Apakah ini berarti aku perlu mengasah sihir beruangku mulai dari sekarang? Aku tidak ingin, tanpa sengaja, membakar material dari monster buruanku karena kontrol sihir yang kurang baik.

Aku memasukkan mayat ular tadi ke dalam penyimpanan beruang. Misi telah selesai. Aku memanggil keluar Kumakyu dan memutuskan untuk kembali ke desa. Tampak Kai tengah berdiri di luar batas desa saat aku tiba di sana.

"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Aku sedang menunggumu."

"Menungguku?"

"Ya, untuk jaga-jaga seandainya ular itu mengejarmu sampai kemari, aku bisa menjadi umpan dan memberimu waktu untuk melarikan diri," tukasnya dengan mata penuh tekad. Dia kemungkinan tidak main-main saat mengatakan hal itu.

"Kenapa?"

"Kau adalah pembawa informasi yang penting? Jika kau mati, maka pengorbanan paman Domgol, yang sudah membantuku lari untuk memanggil bantuan, menjadi sia-sia."

Aku takjub dengan anak-anak di dunia ini, semuanya punya tekad yang kuat. Aku dengan lembut mengelus kepala Kai.

"Nona?"

"Tenang saja. Ularnya sudah kukalahkan," ucapku, mencoba menghiburnya. 

"Huh?"

"Bisakah kau panggil para warga kemari? Aku ingin menunjukkan buktinya pada mereka."

Aku tersenyum.

"Mundurlah sedikit."

Segera setelah Kai berada di jarak yang cukup aman, aku mengeluarkan mayat Black Viper dari dalam penyimpanan beruang.

"Apa makhluk itu telah mati?" tanyanya.

Aku melayangkan tinjuku ke mayat tersebut untuk menghilangkan keraguannya. Merespon pukulan dariku, mayat ular itu sama sekali tidak bergerak.

"Oh, benar ternyata..."

Kai dengan takut-takut menyentuh tubuh raksasa ular itu. 

"Aku akan memanggil semua orang."

Dia kemudian berlari ke desa.

Setelah beberapa saat, para warga keluar dari rumah mereka dan berbondong-bondong datang kemari.

"Apa kau yang mengalahkannya?"

"Ini mayat Black Viper sungguhan."

"Apa makhluk ini benar-benar telah mati?"

Beberapa warga menangis haru, mengetahui ular yang selama ini mengancam mereka telah mati.

"Apa gadis beruang itu yang mengalahkannya?"

"Te-terima kasih."

"Terima kasih banyak."

"Terima kasih, nona."

Tidak ada yang mempermasalahkan penampilanku, semuanya berterima kasih. Ayah Kai keluar dari balik kerumunan dan menghampiriku.

"Nona, maaf untuk yang sebelumnya. Juga, terima kasih. Kau telah menyelamatkan kami." Dia menundukkan kepalanya.

"Tak usah khawatir soal itu. Orang lain pasti akan berpikiran sama jika ada seorang gadis berkostum aneh mengatakan mampu mengalahkan seekor ular raksasa."

"Jika butuh sesuatu, tolong katakan saja. Aku akan memenuhinya selama itu masih dalam kesanggupanku. Lagi pula, kau adalah penyelamatku."
"Tidak ada yang kuinginkan secara khusus. Tetaplah menyambung hidup demi putramu yang pintar ini."

Sementara ayah Kai meminta maaf, seorang pria tua muncul di sebelahnya. Lagi-lagi wajah baru. Kali ini siapa?

"Aku adalah kepala desa di sini, namaku Zun. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan desa kami." Pria tua itu menundukkan kepalanya.

"Jika saja aku datang lebih cepat..."

"Tidak, kami sudah mendengarnya dari Kai. Kau langsung bergegas kemari begitu mendengar apa yang dia ceritakan. Bisa datang dalam setengah hari itu terbilang cukup cepat. Kupikir akan butuh beberapa hari sampai bantuan datang. Jadi, tidak perlu membebani dirimu atas orang-orang yang sudah tiada, nona."

Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa.

Kepala desa berbalik, menatap kerumunan massa.

"Kalian pasti sudah lama tidak makan makanan yang layak. Mungkin telat untuk mengatakan hal ini, tapi mari berpesta."

Ucapan kepala desa disambut gembira oleh para warga. 

"Tidak banyak yang bisa kami suguhkan, tapi silahkan bergabung."

Kepala desa kembali menunduk, sebelum akhirnya pergi untuk menyiapkan pesta. Para warga keluar dari rumah masing-masing sambil membawa bahan makanan. Mereka kemudian menyalakan api di tengah desa dan mulai memasak berbagai hidangan. Mereka menari, tertawa, makan, dan membuat keributan. Semua itu mereka lakukan sebagai bentuk penghormatan bagi orang-orang yang sudah tiada dan rasa syukur karena masih diberikan hidup.

Sementara aku bersantai menikmati pemandangan tersebut, para warga satu per satu datang. Mereka menghampiriku untuk menyuguhi makan atau sekedar ingin mengucapkan terima kasih. Aku sudah seperti bahan pertunjukan bagi anak-anak. Mereka terus saja menyentuhku. Aku bisa melihat orang tua anak-anak itu kewalahan dengan tingkah laku mereka.

Pesta berlanjut sampai larut, dan aku berakhir menginap di rumah kepala desa.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley