Jumat, 23 April 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 33. Beruang Mampir Jajan di Pinggir Jalan

Volume 2
Chapter 33. Beruang Mampir Jajan di Pinggir Jalan


Kesehatan Tiermina kembali pulih. Mungkin akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa ia telah sembuh total. Dia dan Gentz berakhir menjalin sebuah hubungan. Mereka berdua sekarang sedang sibuk mencari sebuah rumah yang cukup untuk mereka berempat tinggali. Rumah milik Tiermina terlalu kecil, dan tampaknya, tempat tinggal Gentz hanyalah sebuah kamar sewaan yang kumuh.

Untuk beberapa alasan, Fina dan Shuri memutuskan untuk menginap di rumah beruangku. 

"Uhh, jadi, mengapa kalian berdua di sini?"

"Gentz-san—maksudku ayah dan ibu butuh waktu sendirian—itulah yang kami pikirkan."

Apakah itu benar-benar sebuah pemikiran dari seorang gadis berumur sepuluh tahun?

"Apakah kami mengganggu?"

"Tidak, tapi bukankah lebih bagus jika kalian berempat bisa bersama-sama?"

"Nanti juga kami akan tinggal bersama setelah ayah dan ibu berhasil mendapatkan rumah, jadi tidak masalah."

"Dan kenapa kalian belajar?" Tanyaku. Aku bisa melihat Shuri sedang berlatih membaca di ruang tamuku.

"Ibu sudah mengajariku cara membaca, tapi ibu belum sempat mengajari Shuri karena waktu itu ibu sakit, dan aku sibuk mengurusi pekerjaan rumah dan mencari nafkah."

Mereka sebut itu belajar? Yang mereka lakukan cuma mengamati tulisan pada selembar kertas usang. Mereka tidak punya apapun yang bisa mereka gunakan untuk menulis, apalagi kertas untuk berlatih. Mereka hanya mengamati tulisan tersebut sembari menghafalkannya. 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membeli alat tulis yang layak?"

"Huh?"

"Jika cara kalian belajar seperti itu, butuh waktu lama bagi kalian untuk mempelajarinya."

"Tapi..."

Aku tahu betul apa yang tengah Fina pikirkan. "Tidak perlu khawatir soal uang. Ini akan menjadi hadiah untuk merayakan pernikahan mereka."

"Tapi, yang akan menikah ibu..."

"Tak perlu memikirkan hal-hal kecil."

Kami bertiga pun pergi. Kedua saudari itu sangat akrab, mereka berjalan sambil bergandengan tangan.

Pertama, kami mampir ke toko buku terlebih dahulu. "Permisi!" Teriakku memanggil wanita tua pemilik toko.

"Ada apa? Tak perlu teriak-teriak begitu, aku sudah dengar."

"Maaf, tapi apakah kau punya buku bergambar untuk anak-anak? Kami ingin mempelajari huruf."

"Coba kita lihat, ada ini, ini, dan itu."

Wanita tua tadi mengeluarkan tiga buah buku bergambar dan sesuatu semacam poster berisi huruf-huruf abjad. Aku memutuskan untuk membeli semuanya.

Selanjutnya, kami mengunjungi toko umum untuk membeli alat tulis sederhana. Semua ini membuat kami lapar, jadi aku memutuskan untuk membeli sesuatu di kios pinggir jalan yang berada di alun-alun kota. Saat kami tiba di sana, kami disambut oleh bau masakan dari berbagai kios yang ada. Kios di dekat pintu masuk menjual kebab, atau kira-kira sesuatu semacam itu. Baunya sungguh enak. 

"Tolong beri aku tiga, pak."

"Oh, bukankah ini si gadis beruang! Tiga, kan? Ini dia! Terima kasih karena sudah sering mampir."

Dia memberiku tiga tusuk. Aku menggigit satu di mulut dan menyerahkan sisanya kepada Fina dan Shuri. 

"Terima kasih banyak."

"Terima kasih."

Aku mengamati kios-kios lainnya untuk berburu kuliner lezat.

"Gadis beruang! Mau coba sup sayur milik kami?" Aku mendengar seseorang berteriak dari kios terdekat. Uap mengepul dari sebuah tungku raksasa; sekali lagi, aroma tersebut berhasil menggugah selera makanku.

"Tentu, kurasa aku mau tiga."

"Silahkan datang lagi!"

Dia menyajikan sup sayur hangat dalam sebuah mangkuk kayu, kami nantinya harus mengembalikan mangkuk tersebut jika sudah selesai. Aku menerima sup tadi dan membaginya kepada Fina dan Shuri.

"Gadis beruang, bagaimana kalau sebuah roti untuk teman makan supmu?"

"Itu tidak adil. Gadis beruang, cobalah barbeque kami?"

Para pemilik kios di sekitar kami berbondong-bondong menawarkan dagangan mereka. 

"Bagaimana kalau mencoba perasan jus buah segar milik kami?" Seorang wanita penjaja jus aneka buah ikut menjajakan dagangannya.

"Kurasa hari ini aku sedang ingin roti, jadi aku akan ambil tiga yang ukuran kecil."

"Baiklah, ini dia."

Pria tadi langsung mengantar pesananku, dia juga berterima kasih padaku karena sudah sering mampir dan membeli dagangannya. aku berakhir minta maaf kepada penjual yang lain.

"Aku akan datang lagi lain waktu dan membeli dagangan kalian."

"Tidak masalah."

"Janji ya!"

Aku mengambil roti yang kupesan dan berkeliling untuk menyapa kios-kios yang ada di dekatku, lalu duduk di sebuah bangku kosong tidak jauh dari sana.

Alasannya mungkin karena akhir-akhir aku sering mampir dan jajan di kios-kios tersebut, tapi berkat itu, aku bisa akrab dengan para penjual di sana. Aku yakin kalau kostum beruangku ada hubungannya, tapi jumlah penjual yang menawarkan dagangannya padaku setiap kali aku mampir kian hari semakin banyak.

Sama seperti halnya aku menghargai keramah-tamahan mereka, kunjunganku ke sana menjadi sebuah kebiasaan yang membuatku cukup khawatir akan berat badanku. Aku mencoba mencubit perutku lewat kostum beruang yang kukenakan. Pasti enak jika punya kemampuan yang dapat membuatku tetap kurus. 

"Ayo dimakan."

"Terima kasih, Yuna-san."

"Terima kasih."

Shuri menirukan kakaknya dan berterima kasih padaku. Mereka berdua sangat manis! Kami menghabiskan waktu dengan makan sup sambil ditemani roti bersama.

Ini adalah sup yang cukup sehat, banyak mengandung sayuran dan sedikit kaldu. Bahan-bahan di sini hampir mirip dengan yang ada di jepang. Ada wortel, daikon*, kubis, timun, dan sayuran lain yang sekilas terlihat samar tapi rasanya cukup familiar, tapi hal yang paling penting untuk orang jepang sepertiku—nasi, kecap asin, dan miso—tak dapat ditemukan di mana pun. Aku rindu sekali ingin makan ramen dan mi. Sepertinya di dunia ini mereka punya tepung. Mungkin, pikirku, setidaknya ada udon* di suatu tempat di luar sana.
<TLN: Daikon; lobak putih. Udon; mi tebal yang terbuat dari tepung terigu.>

Bagaimanapun juga, supnya cukup enak. Setelah selesai makan, kami memutuskan kembali ke rumah beruang untuk belajar. Nantinya, Tiermina dan Gentz akan tahu kalau aku mengajak Fina dan Shuri jajan di luar. Aku dimarahi karena membuat anak-anak tersebut kekenyangan dan tidak bisa menyantap makan malam yang sudah ibu mereka siapkan.

Berhati-hatilah untuk tidak berlebihan saat jajan di luar. 

Yah, setidaknya mereka berterima kasih padaku karena sudah membelikan kedua putri mereka perlengkapan belajar.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Rabu, 21 April 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 216. Kepemilikan Bersama

 Chapter 216. Kepemilikan Bersama


 
"Selamat datang Hero Perisai-sama. Ada yang bisa kubantu? Ya."
"Seingatku, terakhir kali kita bertemu kau selalu menghindari kontak mata denganku. Apa kau mengingat hal itu?"

Aku pergi ke tempat Pedagang Budak dan bertanya dengan tangan terlipat.
Aku memang tidak sepenuhnya mempercayai jawabannya, tapi orang ini bertanggung jawab atas masalah yang disebabkan Motoyasu kepadaku.

"Tentu saja tidak. Ya."
"... Huhhh."

Dia selalu memasang wajah tersenyum. Jelas sekali bahwa dia berpura-pura.

"Aku berencana untuk meninggalkan Filolial rakusku disini untuk sementara waktu, kau harus mengurusnya dengan baik."
"Ap-apa—“
"Tentu saja aku akan membayarmu. Aku tidak akan membiarkanmu menolaknya."

Sekarang aku memiliki kekuatan otoritas disini. Terlebih lagi dia sudah mendapatkan banyak sekali keuntungan dengan menjual budak kepadaku. Tidak mungkin Pedagang Budak akan merusak hubungan baik kita.

"Aku mengerti. Ya. Memang benar, akulah yang menjual telur Filolial kepada Hero Tombak-sama."
"Akhirnya kau mengaku."
"Dia tiba-tiba datang dan berkali-kali memanggil nama Filolial Hero Perisai-sama, jadi aku menawarkan telur tersebut sebagai eksperimen."

Ah, iya. Pedagang Budak sedang mencari tahu bagaimana caranya Filolial biasa menjadi Ratu Filolial. Tapi, mengurus Filo saja sudah membuatku lelah. Jadi aku tidak melanjutkan eksperimennya. Beberapa saat kemudian aku memiliki telur Filolial dan aku menyuruh Filo untuk mengurusnya jadi tidak terjadi apa-apa.

Apa mungkin... Ini terjadi karena kesalahanku? Tidak mungkin. Aku tidak berpartisipasi dengan eksperimen tersebut, dan ini semua bukan tanggung jawabku.

Pedagang Budak hanya melakukan bisnisnya yaitu berdagang. Dia menjual apapun yang dicari oleh pelanggannya. Aku penasaran sudah berapa lama dia menjual telur itu kepada Motoyasu.
Terakhir kali aku bertemu dengan Motoyasu adalah... Kalau tidak salah saat Kiel dan yang lainnya sedang melakukan Kenaikan Kelas. Itu saat aku mempelajari Portal Shield.

Saat itu, Pedagang Budak tidak ada disini. Mungkin aku melewatkannya dan beberapa saat kemudian dia bertemu dengan Motoyasu. Aku tidak perlu terlalu memikirkan hal ini.

"Ini masih berhubungan dengan Hero Perisai-sama, aku memiliki kabar buruk yang harus disampaikan."
"Apa itu?"
"Pagi ini, saat Hero Tombak-sama datang untuk membeli beberapa telur Filolial. Kontrak darahmu yang digunakan untuk membuat segel budak menghilang semua."
"Apa katamu!?"

Aku tidak pernah mengkhawatirkan persediaan tinta itu. Aku biasanya tidak perlu memikirkan tinta tersebut karena Pedagang Budak sudah mengurus hal itu untukku. Budak tidaklah gratis, jika kau membeli budak kau harus menyegel budak tersebut menggunakan segel dari tinta yang berasal dari darahmu. Di dunia ini membeli budak tanpa segel adalah hal yang sia-sia. Jadi Motoyasu sekarang memiliki darahku yang biasa digunakan sebagai segel budak.

"Aku menyimpan tinta tersebut di dalam laci. Saat aku membukanya, aku mendapatkan beberapa kantung berisikan koin emas dan surat tertanda Hero Tombak-sama."

Si-sialan! Saat aku menyuruh Filo untuk memanipulasinya, aku lupa melarangnya melakukan tindakan kriminal. Apa yang Filo bicarakan adalah agar Motoyasu berubah menjadi baik dan jujur. Karena itulah dia meninggalkan kantung uang. Tapi, kami tidak melarangnya untuk mencuri.

Aku rasa itu sudah termasuk ke dalam budi pekerti yang baik. Tapi nampaknya aku harus memanipulasinya kembali secara spesifik.
Akibat dari semua itu adalah, Motoyasu membesarkan Filolial dengan budi pekerti yang baik dan menjadikanku majikan mereka semua. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi kemungkinan di dalam pikirannya semua perbuatan ini termasuk ke dalam budi pekerti yang baik.

"Sialan!"

Aku dengan cepat membuka panel manajemen monster.
...Berbagai nama yang tidak kukenal meningkat secara drastis!
Si bodoh itu! Dia membesarkan Filolial menggunakan tintaku!

"Sebelumnya aku mendengar ada kepemilikan pembagian kepemilikan segel budak dan monster... sepertinya itu yang terjadi."

Aku lupa memberitahunya untuk tidak melakukan tindakan sesuka hatinya sendiri! Jika aku tidak melakukan apapun kepadanya, maka jumlah Ratu Filolial akan menjadi semakin banyak. Dia telah menerima sejumlah telur yang banyak dari Ratu, kemudian dia membeli lagi.
Aku harus cepat kembali ke desa!

"Tuan tidak perlu khawatir, karena hak kepemilikan bersama bisa dicabut. Hero Tombak-sama bilang dia sedang menuju desamu, Hero Perisai-sama."

...Ratu juga sudah memberitahuku tadi. Apa yang sedang dia rencanakan? Membawa pasukan Filolial menuju desaku...
Sial! Ini masalah yang serius. Aku harus bergegas kembali ke desa.

"Baiklah. Aku akan langsung pergi ke desa! Sampai jumpa."
"Apa aku harus tetap mencarikanmu budak? Ya."
"Lanjutkan seperti biasa."
"Aku mengerti. Ya."

Saat ini aku tidak terlalu peduli dengan menambah budak baru. Aku berlari keluar tenda dan menggunakan Portal Shield. Aku hampir lupa, Ratu bilang pengikut Motoyasu telah melakukan Kenaikan Kelas.


Saat tiba di desa aku langsung memeriksa keadaan sekitar. Bagus, Motoyasu belum ada disini. Aku harus segera bersiap-siap menghadapi si bodoh itu. Atau...?

Jika dipikirkan kembali, yang seharusnya mengurus semua persiapan adalah Motoyasu. Aku tidak perlu terlalu panik memikirkan masalah ini. Mungkin alasan dia datang menemuiku adalah untuk meminta izin berbagi hak kepemilikan budak dan monster. Jika aku menolaknya maka semua pekerjaannya akan sia-sia. Jika dia sedang membuat pasukan, mungkin dia bisa menyerang untuk memaksaku berbagi kepemilikan tersebut. Tapi kupikir maniak Filolial itu tidak akan melakukan hal semacam itu.

Tidak. Jika dia terus bertindak sesuka hati seperti ini maka aku juga akan terseret ke dalam masalahnya. Tapi, selama aku memiliki Filo, aku dapat memanipulasinya saat dia tiba disini... Rencana ini seharusnya berhasil!

"Hei, Naofumi. Apa kau mendengarkanku?"
"Hm?"

Tanpa kusadari, ternyata sedang Ren berdiri didepanku.

"Ada apa?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya terjadi keributan di luar desa. Aku ingin memeriksanya, tetapi aku tidak dapat meninggalkan tempat ini."
"Diluar desa?"
"Iya. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi... Bukankah itu Motoyasu?"

Apa? Mendadak tubuhku merasa lemas. Ren dan Ksatria Wanita keduanya melihat kearah luar desa... Disana adalah tempat kami mendirikan Kandang Filolial. Para budak banyak yang berkumpul disana. Aku perlahan berjalan kesana.

"Ah, Bubba- Wow! Pakaianmu keren sekali!"

Kiel melihatku, dan langsung berkomentar tentang pakaianku. Seingatku aku belum pernah mengenakan Barbarian Armor sejak aku mendirikan desa ini. Padahal menurutku ini biasa saja.

"Ini biasa saja."
"Tidak... Apa Bubba menyukai pakaian seperti ini?"
"Aku tidak tahu apakah aku suka atau tidak. Aku mengenakan ini karena ini dibuat oleh orang yang istimewa. Ditambah kemampuannya lumayan tinggi."
"Benarkah begitu?"

Aku ingin segera berhenti membicarakan hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kandang Filolial.

"Tuan Naofumiii." Sapa Atla.
"Aku baru saja kembali. Apa yang sedang terjadi disini?" Tanyaku.
"Kurasa ini terjadi sebelum Bubba pergi. Atau mungkin sebelumnya? Nampaknya ada seseorang di dalam kandang." Jawab Kiel.
"Be-Benarkah?"
"Kami mencoba mencari cara untuk membuatnya pergi, tapi karena Bubba tidak ada disini, jadi kami tidak ingin melakukan sesuatu..." Kiel menjelaskan.
"Iya, Sadina-san juga tidak ada disini. Saat kami mengirim seseorang untuk bertanya kepada Melty-chan di desa sebelah. Kami mendapat kabar bahwa Filo-chan tidak mau datang kemari apapun yang terjadi." Tambah Atla.

Perasaan tidak enak mulai mengalir dari dada ke seluruh tubuh. Aku bisa merasakan Motoyasu ada di dalam sana.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Atla.
"Bi-Biarkan aku memeriksa keadaannya terlebih dulu."

Mungkin aku bisa berbicara dengannya. Aku perlahan berjalan mendekati kandang Filolial dan meletakkan tanganku di pintu besar. Aku bisa mendengar suara berisik dari dalam. Filo seharusnya hanya memiliki satu pengikut saat ini. Aku berencana untuk menambah beberapa Filolial lagi nanti.

Ada apa ini? Kenapa aku malah merasa merinding. Instingku mengatakan untuk tidak membuka pintu ini. Tapi, jika aku diam saja itu tidak menyelesaikan masalah apapun.

Aku mengumpulkan seluruh keberanian dan mendorong pintunya hingga terbuka.

"Ap...!?"

Ruangan didalam gelap sekali. Tidak... Di Dalam ada banyak sekali Filolial hingga menutupi cahaya yang masuk kedalam.

"Ah, aroma Filolial-sama...” kata Motoyasu sambil merangkul beberapa Ratu Filolial dan mengendus-endus mereka dengan intensif.

Dia dikelilingi oleh banyak sekali Ratu Filolial. Para Filolial itu mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku dikelilingi oleh tatapan mereka.

"" Siapa dia!? ""
"Kurasa dia adalah Tuan yang dibicarakan oleh Moto-kun."
"Benar. Matanya terlihat jahat, tapi terlihat sangat baik."
"Iya, ini pasti dia."
"Aku mengerti perasaanmu kawan. Aku merasa bersemangat saat melihatnya."
"Iya, iya. Saat melihatnya aku memiliki perasaan yang berbeda dengan Motopi, sekarang aku merasa lebih bersemangat juga."

Jantungku berdetak dengan sangat cepat.

""Master! Ayo kita bermain!""

Bang!
Aku langsung membanting pintu dan berlari. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka sekali lagi. Aku memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Sekumpulan Filolial berlari mengejarku.

"MOTOYASUUUU! ENYAHLAAAAAAAAH"

Suara teriakanku menggema di seluruh desa. Saat aku sedang kesulitan, Filo datang sebagai penyelamatku. Dia pasti memberanikan dirinya dan datang kemari untuk membantuku. Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi kepadaku sampai dia datang untuk menolongku.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLChopin
EDITOR: Bajatsu
Proofreader: Isekai-Chan

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 18 : Chapter 2 – Pencarian Perpustakaan

Volume 18
Chapter 2 – Pencarian Perpustakaan


Sebuah cermin yang dekat dengan pintu masuk Labirin Perpustakaan Kuno mulai bersinar, kemudian partyku dan diriku melompat keluar dari sana.

“Sepertinya kita berhasil,” Kataku.

“Sepertinya kau sudah bisa mengendalikannya sesuka hati... tapi rasanya sedikit berbeda dengan Skill teleportasi bukan?” Komentar Raphtalia. Aku hanya mengangguk. Aku telah menggunakan Transport Mirror untuk sampai kesini, yang sepertinya merupakan skill unik dari vassal weapon cermin... tetapi ada sesuatu yang agak janggal tentang hal itu. Lagipula aku tidak punya banyak pilihan saat ini—bahkan dengan akses ke Scroll of Return dan Return Dragon Vein, aku tidak bisa menggunakan Portal Shield. Aku hanya harus merasa puas dengan skill yang sedikit menjengkelkan ini hingga aku bisa menggunakan kembali perisaiku.

Mengetahui bahwa sebagian besar senjata suci dari dunia ini telah diambil terus meninggalkan rasa tidak enak di mulutku. Senjata suci tersebut seperti pilar yang menopang dunia, jadi musuh yang memiliki ketiganya bukanlah hal yang bagus. Lebih buruk lagi, hal itu menyebabkan senjata suci dari dunia lain tersegel. Mengenai hal itu, Rishia menggunakan salah satu dari senjata tujuh bintang, jadi mungkin seharusnya kami membawanya. Sekarang sudah terlambat.

“Wow... Banyak sekali buku,” Desah Sadeena.

“Kau benar. Perpustakaan di Q’ten Lo tidak ada apa-apanya dibandingkan tempat ini,” Tambah Shildina. Kedua paus pembunuh bersaudara melihat sekeliling, mata mereka terbelalak, seperti mereka baru saja berenang keluar dari daerah terisolasi.

“Aku telah kembali,” Kata Ethnobalt. Sekelompok kelinci perpustakaan melompat mendekatinya. Mereka mengernyitkan hidungnya dan terlihat sedang mendiskusikan sesuatu dengan Ethnobalt.

“Ya. Terima kasih telah menjaga segalanya saat aku pergi. Tentu saja. Aku mengerti sepenuhnya,” Kata Ethnobalt.

“Lihat siapa yang ada disini... Hey!” Tepat saat kami akan memasuki Labirin Perpuskataan Kuno, seseorang memanggil dan aku berbalik—dan melihat Altorese. Orang ini adalah teman Kizuna yang lain, dia seorang pedagang—atau seperti perantara informasi. Dia memiliki penampilan Androgynous yang cantik, mungkin lebih cocok sebagai penyair atau semacamnya. Di dunia kita, dia akan memegang posisi sebagai pedagang budak. 
<TLN: Bagi yang gak tau apa itu Androgynous. Androgynous itu tidak terlalu jelas apakah dia perempuan atau laki-laki. Jika dalam hewan atau tanaman, istilah ini dipakai untuk hewan atau tanaman yang berkelamin dua>

“Aku mendengar bahwa kami kedatangan pahlawan dari dunia lain, aku tebak itu mungkin kau dan teman-temanmu, Naofumi,” Kata Alto.

“Senang bertemu denganmu lagi. Apakah kau tidak pernah mendegar kami menyelamatkan Kizuna?” Tanyaku.

“Tentu, aku telah diberitahu. Teman-temanmu sejenak kebingungan disana! Ini mungkin akan terdengar dingin, tapi aku benar-benar berpikir untuk memutuskan semua hubungan agar aku tidak terseret kedalamnya,” Kata Alto ringan, tetapi Glass memberikan tatapan tajam saat dia berbicara. Pedagang setia pada uang, itu yang pertama dan paling utama. Mereka pergi kemana angin berhembus bukan melawannya. “Bisa dikatakan, aku juga tidak menjual informasi kepada musuh mereka,” Alto meyakinkan kami.

“Kau yakin akan hal itu?” Tanyaku setengah bercanda. Dia menjawab dengan tertawa kecil.

“Bagian yang mana?” Glass cenderung tidak tinggal diam tentang masalah itu. “Tergantung dari jawabanmu, kau mungkin akan merasakan lebih daripada kemarahanku,” Raphtalia juga mengangguk dengan kata-kata ini. Lelucon seorang pedagang yang berjiwa bebas tentu jelas tidak tersampaikan pada dua gadis serius yang mengeluarkan tatapan mengerikan.

“Tanggapan itu berarti dia tidak melakukan hal semacam itu. Percayalah jika kau terlalu serius saat berinteraksi dengan pedagang, mereka hanya akan mengejekmu,” Kataku pada mereka.

“Kau tahu banyak pedagang bukan, Tuan Naofumi?” Kata Raphtalia. Kedengarannya seperti peryataan yang kuat darinya, tetapi aku tidak akan membahasnya sekarang.

“Alto, beritahu kami apa yang kau lakukan disini, “ Kataku.

“Aku disini untuk survey berkala tentang tempat ini. Kizuna telah meminta survey jangka panjang untuk seluruh perpustakaan ini. Aku telah memperkerjakan beberapa petualang yang ada disana saat kita berbicara. Pekerjaannya telah selesai,” Beritahunya kepada kami. Kedengarannya mereka sedang men-survey labirin, kemudian pekerjaan mereka disponsori oleh Alto. Ini adalah tempat yang penuh dengan pengetahuan.

“Apakah kau telah menemukan banyak hal?” Tanyaku.

“Sayangnya tidak, dengan banyaknya perang dan gelombang, tidak banyak petualang yang muncul. Hal yang dapat aku lakukan hanya menjual material—dengan harga yang sangat tinggi—kepada mereka yang mampir,” Alto mengakuinya. Bisnis seperti biasa.

“Katakan padaku, apakah kau pernah melihat sesorang dengan sedikit rambut merah mencolok, seorang pria yang menggunakan armor yang terlihat seperti bangsawan, dan seorang wanita yang terlihat seperti versi besar dari gadis ini ?” Tanyaku sambil menunjuk S’yne.

“Tuan Naofumi, aku tidak yakin itu informasi yang cukup untuk menjelaskannya,” Kata Raphtalia.

“Benar, maksudmu tiga orang yang L’Arc cari setelah pertempuran yang kalian alami? Ada deskripsi yang beredar tentang mereka, tapi aku belum melihatnya,” Jawab Alto. Raphtalia melihat Glass dan mengangguk. Kedengarannya informasinya telah tersebar.

“Aku ragu apakah deskripsi yang kami kirimkan akan sampai sejauh ini, tetapi aku jelas meremehkanmu Alto,” Kata Glass.

“Dimana angin berhembus, kau bisa bertaruh aku yang mengendarainya,” Jawabnya, hampir membuatnya seperti orang yang selalu mencari keuntungan yang terdengar sebagai sesuatu yang dapat dibanggakan.

“Ara,” Kata Sadeena sambil menatap Alto. Tanpa Therese disini, Sadeena mungkin tidak terlalu mengerti apa yang kami katakan, jadi menurutku lebih baik dia menutup mulutnya. “Ara, Ara!” Mungkin memperhatikan tatapan dan sikap Sadeena, karena alasan tertentu Alto menatapku, meminta bantuan. Shildina juga sepertinya menyadari sesuatu dan memiringkan kepalanya sambil menunjuk Alto.

“Apakah dia sama dengan Keel?” Dia bertanya.

“Hah? Keel?” Balasku. Kenapa dia berpikir Alto sama dengan Keel? “Dimana tepatnya kau melihat persamaan antara anak anjing kecil yang rakus itu dengan Alto?”

“Itu semua salahmu Tuan Naofumi,” Raphtalia mendekatiku. “Aku sangat sedih karena orang-orang dapat mengatakan apapun tentang Keel, dan kau yang telah menciptakan kesan itu.”

“Shildina kecil. Terkadang lebih baik kita berpura-pura tidak memperhatikan sesuatu,” Kata Sadeena—tapi dia sendiri cukup menunjukkan perhatiannya! Apa maksudnya “Sesuatu”!

“Maafkan aku, kenapa mereka menunjuk ke arahku dan apa yang mereka katakan? Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan,“ Kata Alto agak bingung.

“Kakak beradik paus pembunuh ini mengatakan bahwa kau terlihat sama anjing kecil yang kami kenal, Keel, yang berada di perbatasan antara perempuan atau laki-laki, Kataku padanya. Wajah Alto yang tersenyum seketika merinding. “Sial, Alto... Apakah kau seorang wanita?” Tanyaku. Dia cukup ramping untuk menjadi seorang pria dan jelas memiliki sisi feminim di dalamnya... Keel terbukti menjadi pedagang yang sukses di desa, jika Alto memiliki jenis kelamin yang sama dengannya, mereka berdua akan benar-benar tumpang tindih didalam pikiranku.

“Hah?” Sementara itu Glass dan Ethnobal memasang ekspresi bingung.

“Apa yang kau katakan? Kau pikir aku perempuan? Jika ingin membuat lelucon, setidaknya cobalah buat lelucon yang dapat dipercaya!” Senyuman pedagang segera terpasang di wajahnya, tetapi itu membuatnya semakin mencurigakan. Dan paus pembunuh bersaudara juga telah menyatakannya! Mau tak mau aku penasaran bagaimana mereka dapat melihat jati diri aslinya dengan cepat.

“Tidak masalah jika Alto adalah laki-laki atau perempuan. Mari kita kesampingkan itu dan melanjutkan pembicaraan,” Kataku.

“Itu akan sangat membantu aku, tidak masalah, tetapi aku menebak kau menginginkan beberapa informasi?” Tanya Alto.

“Bahkan kau tidak mungkin tahu bahwa setelah kami menyelamatkan Kizuna dari kelumpuhannya, dia telah dikutuk. Jadi, kami datang kemari untuk menemukan cara menyembuhkannya,” Jawab aku.

“Sepertinya ada masalah serius diantara kalian. Tentu saja tempat ini adalah gudang informasi dari seluruh dunia... dan mereka menyalin dan menggandakan dokumen disini, jadi ini pasti tempat yang bagus untuk mencarinya,” Kata Alto pada kami.

“Apakah kau ingin ikut dengan kami?” Tanyaku.

“Terima kasih banyak, aku akan menunggu disini. Aku tidak suka tanganku kotor—atau berdarah,” Katanya sambil tersenyum. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pedagang. Medan perangnya berbeda.

“Ayo kita pergi ke Labirin Perpustakaan Kuno,” Kata Ethnobalt, membawa kami masuk lebih dalam. Tak lama kami sampai ke tempat yang terlihat seperti fasilitas sementara, seperti penginapan dan bar. Aku ingat pernah melihat sederet toko di sini sebelumnya. Melangkah lebih jauh ke dalam, kami tiba pada sebuah pintu yang tampak cukup menakutkan. Di dalamnya ada tangga menuju ke bawah.

“Di dalam sini terdapat labirin yang diciptakan oleh peradaban kuno. Seperti yang telah kau ketahui Naofumi, ini adalah tempat yang berbahaya, jadi mohon perkuat tekadmu sebelum kita masuk,” kata Ethnobalt, mungkin hanya sedikit menjelaskan.

“Aku punya hadiah perpisahan bagi kalian semua,” Kata Alto, dia memberi kami cakram yang terlihat seperti CD. Ini adalah alat yang digunakan Kizuna sebelumnya di Labirin Tanpa Akhir. Jadi cakram ini bisa digunakan juga disini. “Apakah kau tahu cara menggunakannya?” Dia bertanya.

“Aku tahu. Dia bisa membawamu ke tempat yang telah terdaftar di dalam labirin bukan?” Kataku.

“Itu akan membuat ini semakin mudah. Ethnobalt... apakah kau tahu dimana buku yang kau cari?” Tanya Alto.

“Beri aku waktu sebentar.” Ethnobalr mencengkeram Vassal weapon buku itu, menyebarkan halaman-halamannya di sekitar kita dan memfokuskan konsentrasinya. Sepertinya dia menggunakan beberapa kekuatan dari vassal weapon buku.

“Buku ini telah meningkatkan akurasi pencarianku,” Jelas Ethnobalt. “Ini sangat membantu. Jadi begitu... Benda yang kita cari tampaknya berada ditempat yang cukup dalam.”

“Kalau begitu, semoga berhasil,” Kata Alto ceria. “Alat yang kuberikan padamu saat ini akan membawamu ke lantai terdalam yang pernah kami capai. Ada sebuah pintu disana yang aku ingin Kizuna membukanya—aku akan sangat menghargainya jika kau bisa mencoba membukanya. Jika masih tidak mau terbuka, ambil saja jalan lain yang kau lihat disana.

Alat ini benar-benar akan membantu kami.

Dia melanjutkan. “Aku juga akan mencoba mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang kalian cari dan yang tampak mencurigakan. Karena itu, kami akan mengumpulkan cukup banyak informasi,”

“Maksudmu... tentang pahlawan vassal weapon Harpoon?” Tanya Glass, kemudian Alto mengangguk. Mereka mengatakan bahwa orang yang dapat mengontrol arus informasi dapat mengontrol dunia... tetapi aku harus bertanya-tanya seberapa banyak informasi yang dapat memuaskan Alto.

Bahkan jika kami tahu lokasi Kakak S’yne, kami masih tidak memiliki cara untuk mengalahkannya. Kami perlu menemukan cara yang mungkin untuk menjadi sedikit lebih kuat—dan untuk melakukan itu, kami perlu menyembuhkan Kizuna secepat yang kami bisa.

“Aku perlu mengatakan sesuatu yang lain terlebih dahulu,” Kata Ethnobalt. “Tolong jangan gunakan sihir api dalam keadaan apapun. Itu adalah salah satu aturan Labirin Perpustakaan Kuno,” Pasti ada alasan yang bagus untuk hal itu. Bagaimanapun juga, aku tidak dapat menggunakan sihir api.

“Ayo kita bergerak,” Kataku. Semuanya mengangguk. Kami melemparkan cakram secara bersama-sama, dan cakram tersebut mulai berputar dan membuat pilar cahaya. Kemudian kami memasuki pilar cahaya itu.

Ketika aku memikirkan tentang dunia ini dari konteks adegan yang baru saja terjadi, ini seperti berada dalam video game.



Melewati pilar cahaya, kami muncul di sebuah lorong yang sepenuhnya terkubur dengan buku. Salah satu buku bahkan terbang di udara seperti kupu-kupu. Itu adalah monster yang di sebut Demon Magic Book. Aku sudah cukup jijik melihatnya, kemudian buku itu tiba-tiba menyerang.

Aku segera melantunkan Stardust Mirror dan membuat penghalang disela keterkejutanku, tetapi buku itu menyebarkan lembaran kertas didalamnya dan menyemburkan air.

“Hah!” Raphtalia mencabut pedang dari sarungnya dan menebasnya dengan Haikuikku sebelum menyarungkannya lagi. Serangan itu mengatasi monster buku terdekat, tetapi kawanan monster tersebut sedang menuju ke arah kami. Inilah mengapa kau harus diam saat berada di dalam perpustakaan!

“Yah!” Sekarang Glass mengalahkan salah satu buku dengan kipasnya.

“Formation One: Glass Shield” Aku membiarkan salah satu buku menyerang Glass Shield milikku. Pecahan kaca lalu melemahkannya.

“Hah!” S’yne menggunakan guntingnya untuk memotong-motong buku. Kami sepertinya mengalahkan mereka dengan cukup mudah.

“Naofumi kecil! Buku terbang? Ini benar-benar mosnter yang menarik!” Sadeena semakin bersemangat.

“Ini kota besar! Berhenti bertingkah seperti orang desa!” Aku menegurnya. Shildina tampaknya mengambil langkah yang sedikit lebih tenang.

“Mereka ada banyak, sebaiknya kami membantu juga!” Kata Sadeena.

“Aku ikut,” Kata Shildina.

“Jangan terlalu berlebihan,” Aku memperingatkan mereka. Sadeena lalu menusuk buku dengan tombaknya, sedangkan Shildina menanamkan sihir ke dalam Ofuda dan mengaktifkan mantra. Gumpalan air muncul dari Ofuda, membasahi sebuah buku lalu menghancurkannya. Dari peringatan Ethnobalt, tampaknya api tidak diizinkan, tetapi air tidak ada masalah—aku tidak yakin dengan kriterianya.

“Ada beberapa mosnter yang sangat aneh di luar sana, huh?” Kataku. Monster-monster ini hampir mirip dengan monster balon. Aku membolak-balikan halaman dari salah satu buku yang kalah untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Halaman itu ditulis dalam bahasa yang tidak bisa aku kubaca. Ethnobalt juga mengambilnya. 
<TLN: Hayo... siapa yang lupa dengan monster balon... liat lagi ya di LN Vol 1 dan di animenya yang season 1 UwU>

“Apakah kau akan menyalinnya?” Aku bertanya padanya. Pada dasarnya tempat ini adalah gudang senjata dari vassal weapon buku. Ada banyak senjata yang kuat tergeletak diatas tanah.

“... Seperti yang kuduga, aku tidak bisa menyalin monster. Selain itu, buku-buku ini memiliki kualitas dan kategori yang berbeda-beda. Tidak semua buku dapat dikategorikan sebagai senjata baru yang dapat terbuka. Bukankah kau pernah melihatnya juga, Naofumi? Senjata yang berubah menjadi sesuatu yang lain saat disalin?” Tanya Ethnobalt.

“Ya, aku pernah,” Jawabku. Salah satu contohnya adlah Spirit Tortoise Carapace. Mungkin karena hal itu terhubung dengan Spirit Tortoise Heart Shield, benda itu telah berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari senjata yang dibuat lelaki tua itu untukku.

“Yang dapat kugunakan adalah buku yang berfungsi sebagai senjata, dan isi buku juga membuat perbedaan,” Jelas Ethnobalt.

“Hmmm... Itu sederhana bukan?” Kataku. Sepertinya akan baik-baik saja meletakkan halaman buku tersebut di dalam cermin, jadi aku mencobanya. Hasilnya adalah cermin yang tampak seperti buku terlipat dengan nama “Mirror Demon’s Book”. Efek yang terbuka adalah sihir +3. Monster ini sepertinya memiliki banyak tipe. Dari segi penampilan, cermin itu mirip dengan Book Shield.

Monster-monster itu juga menjatuhkan material yang disebut “Intellect Powder.” Ramuan yang dibuat dengan material itu bisa dijual dengan harga tinggi, dan memiliki semacam efek doping juga. Material itu adalah item yang mirip dengan bahan dasar di RPG jadul. Satu material untuk setiap tipe, seorang pahlawan dapat memperoleh level hanya dengan membuka senjata dari material tersebut. Bahkan uang receh dapat menjadi emas jika kau menabungnya cukup banyak. Material-material inilah yang para petualang dengan level maksimal timbun seperti harta karun. Mungkin hal itu menjelaskan mengapa ada beberapa orang yang cukup kuat di dunia ini, walaupun tidak memiliki vassal weapon. Aku bertanya-tanya apakah aku harus mengumpulkannya untuk meningkatkan diriku sendiri. Dan mungkin saja ada batasannya.
<TLN: Bagi yang gak tau doping. Doping itu sejenis obat/zat yang dapat meningkatkan performa seseorang>

Aku tersadar kembali dan memeriksa sekelilingku. Seperti yang dikatakan Alto, kami telah tiba di sebuah persimpangan jalan. Salah satu cabang memiliki pintu besar yang terkunci. Sedangkan yang lainnya terbuka.

“Apakah kita akan melalui pintu besar yang terkunci ini?” Tanyaku.

“Iya. Itulah yang disarankan oleh Alto—Kizuna mungkin dapat membukanya,” Kata Glass.

“Jadi kita disini untuk menyelamatkan Kizuna, tetapi membutuhkan Kizuna untuk melakukannya? Kita harus membahasnya nanti. Ada apa dibawah sana?” Aku menunjuk ke arah jalan tanpa pintu yang terkunci.

“Ada labirin besar dibawah sana, tetapi labirin itu belum dieksplorasi sepenuhnya,” Kata Ethnobalt.

“Menurutku kita sudah berada dalam labirin yang cukup besar,” Komentarku. Tempat ini adalah labirin bukan? Apa bedanya? Jalan yang berlika-liku dan jalan buntu tambahan?

“Apa yang ada dibalik pintu ini... membuatku penasaran. Mengapa Alto menganggap Kizuna dapat membukanya?” Tanyaku.

“Lihat saja pintunya,” Jawab Ethnobalt, sambil menujuk pada huruf besar yang tertulis disana. Tulisan itu sudah sangat usang dan aku tidak benar-benar bisa membacanya, tetapi tulisan itu terlihat seperti relief. Aku pernah melihat relief yang mirip—atau simbol—di dunia kami. Gereja Tiga Pahlawan—atau sebenarnya itu adalah Empat Pilar Suci—memiliki simbol seperti ini.

“Tulisan tersebut mengatakan ‘empat pahlawan suci’ dalam huruf kuno,” Ungkap Ethnobalt.

“Aku mengerti. Jadi dia berpikir salah satu dari mereka mungkin bisa membukanya?” Tanyaku.

“Itu benar,” Jawabnya. Ada batu permata besar yang terlihat seperti gembok. Hal ini jelas terlihat seperti sesuatu yang hanya dapat dibuka oleh salah satu dari empat pahlawan suci. Pada saat itu, batu permata dari cermin mulai bersinar seolah mencoba mengatakan sesuatu.

“Sesuatu” ini sepertinya terkait dengan perisaiku. Apakah itu berarti kesadaran Alta mencoba mengatakan sesuatu padaku?

“Menurutmu apakah jika verifikasinya gagal akan memicu semacam jebakan?” Tanyaku.

“Jujur saja... Aku tidak tahu,” Ethnobalt mengakuinya dengan sedikit enggan. Sepertinya aku telah cukup banyak bertanya.

“Kita baru saja sampai. Jika seekor monster keluar, kita seharusnya bisa mengalahkannya. Jika terjadi sesuatu yang tidak bisa kita tangani, kita bisa melarikan diri begitu saja,” Aku beralasan. S’yne sudah bersiap untuk evakuasi jika terjadi hal buruk. Aku berdiri di depan pintu besar dan mengangkat cermin. Batu permata mulai bersinar dan seberkas cahaya melesat menuju cermin. Begitu cahaya mencapai batu permata di dalam cermin, terdengar suara dentingan, kunci pintu pun terbuka, dan pintu berayun dengan kencang ke arah luar.

Adegan lain yang baru saja diambil langsung dari video game.

“Sepertinya salah satu dari empat pahlawan suci dari dunia lain dapat membukanya,” Kata Raphtalia.

“Mungkin saja pengguna vassal weapon atau senjata suci,” Kataku.

“Yang terpenting, semuanya tampak berhasil, Naofumi yang manis,” Kata Shildina.

“Sedikit optimis, tapi baiklah. Bisakah kau merasakan sesuatu Shildina? Kau bisa melihat ingatan dari suatu benda bukan?” Tanyaku.

Hmmm... Sayangnya akurasiku sedikit menurun, dan aku tidak sehebat itu. Benda ini terlalu tua untuk kulihat residual ingatan didalamnya—sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang dapat dilihat dari awal,” kata Shildina. Oke, sepertinya gagal.

“Ayo kita bergerak” Kataku.

“Tentu... Jika kau yakin itu memang aman,” Kata Raphtalia khawatir.

“Raph,” Kata Raph-chan.

“Raph-chan sensitif dengan jebakan bukan?” Aku mengkonfirmasi. Dia melakukan pose percaya diri sebagai tanggapan. Terlihat bagus bagiku. Aku hanya berharap semuanya berjalan dengan lancar.

Dibalik pintu, kami segera menemukan beberapa anak tangga menuju kebawah.

“Hati-hati terhadap monster,” Kata Ethnobalt, sambil melihat sekeliling. “Aku juga akan menyelidiki area sekitar kita saat kita terus maju. Kita mungkin akan mendapatkan beberapa informasi yang berguna.”

“Tentu,” Jawabku. Sedangkan untuk monster... sepertinya kami bisa menanganinya. Monster-monster itu kuat, tapi bukan tandingan beberapa pemegang vassal weapon terkuat di dunia ini. Satu-satunya yang terlihat menarik adalah sesuatu yang tampak seperti tempat sampah yang diletakkan di sepanjang jalan. Benda tersebut tampak terisi dengan barang yang berguna. Glass dan Ethnobalt mengatakan itu adalah peti harta karun, tetapi benda itu terlihat sperti tempat sampah bagiku. Itu memang benar, ada kotak-kotak lain yang lebih mirip dengan peti yang sebenarnya, dan juga ada sedikit tipu muslihat yang dapat menambah suasana perburuan harta karun.

Aku melihat ke salah satu rak buku di dinding.

“Dengan begitu banyak buku, aku yakin ada beberapa informasi menarik tentang gelombang di suatu tempat,” Aku berkomentar. Mungkin sesuatu yang lebih mudah dipahami daripada teks kuno yang bahkan Rishia dan Trash tidak dapat menguraikannya. “Buku apa saja yang dapat kita temukan disini?”

“Baiklah... Cerita-cerita yang ditulis oleh penulis yang tidak dikenal, dan berbagai macam penjelasan mengenai material. Bahkan ada buku dari pemerintahan dunia ini yang tidak boleh diketahui,” Jelas Ethnobalt. Aku bersiul. Aku rasa wajar saja jika melihat besarnya perpustakaan ini. “Ada juga sejumlah besar buku yang sangat terenskripsi sehingga hampir tidak ada cara untuk membacanya sama sekali.”

“Kalau begitu, buku-buku itu tidak akan membantu, bahkan jika buku-buku itu memang berbicara tentang gelombang,” Renungku.

“Tidak perlu khawatir. Kau memiliki kelinci perpustakaan bersamamu; Aku bisa memahami intinya secara umum,” Jawab Ethnobalt.

“Benarkah?” Tanyaku.

“Ya. Aku mampu menentukan apakah ada teks yang bisa kita temukan sesuai dengan tujuan kita atau tidak,” Jawab Ethnobalt. Maksudku ada seekor burung yang sangat senang menarik kereta, jadi kurasa mungkin ada kelinci yang berfungsi untuk mencari buku. “Sekadar catatan, setelah menyelidiki sekitar, aku tidak melihat apapun yang dapat membantu kita, jadi ayo kita lanjutkan. Sepertinya sedikit jauh ke dalam.”

Kami melanjutkan perjalanan, memeriksa buku-buku sambil berjalan. 

Di video game terkadang ada dungeon yang terletak di perpustakaan , tetapi sekarang aku menyadari bahwa ide itu benar-benar bodoh, ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Meskipun kami mengandalkan insting Ethnobalt, ini akan memakan waktu yang cukup lama.

“Tidak bisakah kita berjalan sedalam mungkin terlebih dahulu dan mencarinya saat kita keluar nanti?” Aku menyarankan. 

“Itu bukan ide yang buruk... tetapi kita bisa saja melewati informasi yang dicari,” Ethnobalt beralasan, sambil menurunkan sebuah buku, membolak-baliknya, dan kemudian mengembalikannya ke rak. Saat dia melakukannya, buku-buku dari rak disekitarnya berputar di udara, dan membentuk... seekor dinosaurus... mungkin. Tidak, seekor naga. Nama monster itu adalah “Magical Tome Dragon”. Sekarang segalanya menjadi tak masuk akal. Naga yang diciptakan dari buku! Lelucon macam apa ini?

“Setumpuk buku lagi. Monster tua berdebu yang lain. Ayo bertempur,” Kataku dengan antusias.

“Ayo kita mulai!” Kata Raphtalia, jauh lebih bersemangat dariku. Pertempuran itu sendiri... hampir bisa dikatakan tidak layak. Kemenangan mudah lainnya. Ethnobalt mengambil buku yang merupakan organ paling vital dari Magical Tome Dragon memeriksa isinya.

“... Buku yang satu ini menceritakan tentang Naga Iblis. Buku ini juga menjelaskan teknik yang digunakan melalui pemahaman lengkap tentang sihir dunia untuk menarik kekuatan dari tempat yang jauh dan membentuk mantra sihir yang kuat,” Kata Ethnobalt.

“Ya, aku ingat itu,” Gumamku. Saat diduniaku dulu, Naga Iblis telah mengambil alih Gaelion, menyerap Filo, dan bahkan meretas perisaiku.

“Ada kemungkinan bahwa kemampuan kelinci perpustakaanku melekat pada buku ini karena Naga Iblis tahu cara untuk mematahkan kutukan Kizuna,” Renung Ethnobalt. Kemudian dia menyeka debu dari buku itu dan meletakkannya kembali di rak. Buku-buku lain yang membentuk naga juga kemabli ke rak. Beberapa dari mereka telah rusak—aku penasaran apakah itu tidak masalah.

Kami melanjutkan untuk mengeksplorasi labirin. Namun, monster yang melawan kami semakin kuat. Kami masih belum menghadapi monster yang dapat menembus pertahananku, tetapi Stardust Mirror lebih sering pecah daripada saat kami tiba. Peningkatan cermin ini seharusnya sudah cukup tinggi sekarang... dan S’yne juga mulai terengah-engah.. Kami jelas masih belum mendapatkan kekuatan penuh di dunia ini.

“Haruskah kita beristirahat sebentar?” Tawarku.

“Ya. Kedengarannya saran yang bagus,” Jawab Raphtalia.

“Aku masih bisa melanjutkan,” Kata Sadeena. “Aku mendapat banyak exp dari ini.”

“Aku juga!” Tambah Shildina. Maksudku, bagi mereka di antara party yang bukan pemegang vassal weapon—Raph-chan dan paus pembunuh bersaudara—exp disini mungkin cukup bagus. Bagi pemegang vassal weapon, jika ada dua atau lebih dari mereka bertarung bersama, berarti mereka tidak akan mendapatkan exp apapun. Dengan Raphtalia, Glass Ethnobalt, dan aku disini, totalnya empat orang. Rasanya sedikit sia-sia.

Bagaimanapun juga, semua orang menerima saranku, dan kami memutuskan untuk istirahat sejenak.

“Aku tidak yakin bagaimana cara kerjanya, tapi hari sudah mulai gelap. Kita bahkan tidak diizinkan membuat api unggun?” Tanyaku. Kami telah diberitahu bahwa api tidak diizinkan disini, tetapi aku masih tidak mengerti mengapa. Sedikit makanan hangat sekarang akan sangat bermanfaat.

“Tidak, bahkan untuk api unggun. Tidak ada api dalam bentuk apapun di Labirin Perpustakaan Kuno,” Jawab Ethnobalt, dia mengeluarkan lentera sihir dan menempatkannya di tengah-tengah kami.

“Kau mengatakan itu ketika kita masuk ke sini, tapi kenapa? Banyak monster disini yang terlihat sangat lemah terhadap api, jadi rasanya agak tidak adil untuk mengatakan kita tidak bisa menggunakan api sama sekali,” Aku mencoba beralasan.

“Baiklah... Perhatikan ini,” Ethnobalt membuka bukunya dan menggumamkan sesuatu, dan nyala api kecil muncul di udara. Seketika ada suara keras, dan tulisan mulai melayang di udara. Diantara semua tulisan, ada beberapa yang tertulis dalam bahasa Jepang. “Tidak Ada Api Dalam Kondisi Apapun!” Ethnobalt memedamkan apinya dan tulisan tersebut memudar. Sepertinya kami berada dibawah pengawasan penuh, yang sepertinya agak mengkhawatirkan.

“Jika kau menggunakannya sekali, kau hanya mendapat peringatan. Selanjutnya sihirmu disegel untuk sementra waktu. Jika tetap mengabaikan peringatannya maka monster yang kuat akan datang. Jika kau masih dapat bertahan, kau kemudian akan secara paksa dikeluarkan dan tidak dapat kembali untuk jangka waktu tertentu,” Jelas Ethnobalt.

“Aku mengerti. Seperti yang kau katakan Ethnobalt, ini adalah labirin yang memiliki pembatasan yang ketat tehadap api,” Kataku.

“Tepat. Walaupun kau bisa menggunakan serangan apa saja selain itu,” Jawabnya. Sihir air akan membuat buku-buku basah, tetapi mengapa api benar-benar dilarang? Lagipula tidak ada yang menelusuri lebih jauh alasan dari tempat aneh ini. Lagipula aku tidak peduli dengan logika aneh dunia lain ini. 
<TLN: Kenapa air bisa dan api gak? Karena buku itu terbuat dari serat yang mudah terbakar sehingga kemungkinan besar akan merembet ke seluruh buku yang ada di labirin ini. Ini hanya perkiraan translator XD>

“Tempat yang menyenangkan,” Kata Sadeena. “Ini seperti bertarung dengan aturan khusus di koloseum.”

“Yah, aku bersyukur kau bersenang-senang, tapi itu tidak akan meyelesaikan masalah kita,” Kataku.

“Itu bukan masalah bagiku,” Kata Shildina. “Lagipula aku tidak pintar menggunakan api.” Dia membuat pendapat yang bagus—kami tidak memiliki siapapun yang ahli menggunakan api saat ini. Mungkin Shield of Wrath milikku termasuk dalam kategori tersebut, tapi senjataku saat ini adalah cermin dan aku tidak memiliki akses untuk menggunakan perisai itu.

“Bergiliranlah untuk berjaga,” Kataku pada mereka.

“Aku berasumsi bahwa kau tidak bisa memasak tanpa api bukan, Naofumi?” Kata Glass. Aku bertanya-tanya kenapa topik memasak muncul lagi sekarang. Apakah dia takut dicekoki makanan olehku secara paksa?

“Sebenarnya ada cukup banyak yang dapat kubuat tanpa api sama sekali. Aku bukan Kizuna, tetapi ada sashimi dan hidangan mentah lainnya sebagai permulaan,” Jawabku sedikit dendam. Dan jika kau benar-benar menghindari makanan yang membutuhkan api. ”Yang kubutuhkan hanyalah hawa panas. Mungkin Sadeena... Tunggu, kita tidak bisa menggunakan sihir dari dunia kita. Aku akan meminta Shildina menggunakan salah satu Ofuda untuk menciptakan petir dan memanaskan piring logam. Lalu aku bisa memasak.” Shildina terlihat sangat bersemangat untuk mencobanya, mungkin karena aku mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang bisa dia lakukan dan bukan Sadeena.

“Ara,” Kata Sadeena.

“Haruskah kita melakukannya?” Tanya Shildina.

“Tidak perlu. Lihat apa yang kita miliki saat ini? Vassal weapon. Tidak perlu khawatir dengan rasanya, tinggal buat saja makanan.” Kataku.
<EDN: Sekadar informasi bahwa vassal weapon atau senjata suci bisa menciptakan makanan dari dalam senjata, ibarat kayak ngeracik item dari resep tertentu.>

“Kau bukan tukang pilih-pilih makanan, kan, Tuan. Naofumi?” Kata Raphtalia.

“Aku tidak masalah dengan orang yang pilih-pilih makanan, tapi hal semacam itu akan berbahaya jika kau pingsan karena kelaparan,” Balasku. Kami bisa membuat makanan menggunakan resep dan senjata kami. Makanan yang diproduksi hanyalah makanan biasa, tidak lezat, tetapi tidak menjijikan juga. “Aku akan meminta bantuanmu jika aku membutuhkanmu Shildina... Tetapi ini semua akan sia-sia jika kita makan terlalu banyak dan tidak bisa bertarung. Sekarang, beristirahatlah secara bergiliran, lalu kita akan bergerak kembali.”

“Menghindari makan terlalu banyak adalah hal yang terbaik,” Kata Glass sambil mendesah. Kami lalu beristirahat secara bergiliran.


Setelah menyelesaikan kemah kecil di perpustakaan, kami mulai menjelajahi labirin lagi. Kedua sisi jalan di depan terus dilapisi dengan rak buku, yang terlihat membentang tak berujung di hadapan kami. Sesekali kami tiba di ruangan terbuka yang sekelilingnya tertutupi rak buku tinggi atau harus menaiki tangga untuk melanjutkan perjalanan. Di lain waktu, kami berbelok ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi, tetapi dengan Ariadne’s Thread milik S’yne dan suara ultrasonik paus pembunuh bersaudara, kami tidak pernah tersesat. Menyelesaikan labirin selalu paling mudah jika bisa melihatnya dari atas. Memperluas jangkauan yang bisa dilihat walaupun hanya sedikit, bisa membawamu lebih dekat dengan pintu keluar. Kami juga memiliki Raphtalia dan Raph-chan, dengan deteksi mereka terhadap jebakan sihir yang mungkin akan kami hadapi, itu juga sangat membantu.

Namun, pada hari kedua, aku benar-benar penasaran seberapa besar tempat ini.

“Ethnobalt, apakah masih belum ada tanda-tanda buku yang bisa membantu menyembuhkan Kizuna?” Tanyaku. Ethnobalt memutuskan menggunakan skill pencariannya lagi.

“Kita semakin dekat,” Lapornya. “Sedikit lagi kurasa.” Kami lalu lanjut menelusuri labirin sedikit lebih jauh. Kemudian Raph-chan, paus pembunuh bersaudara, dan Ethnobalt semuanya bereaksi pada saat yang bersamaan terhadap rak buku di depan kami.

“Raph!” Kata Raph-chan.

“Ara?” Kata Sadeena.

“Disana...” Kata Shildina.

“Ada sesuatu tentang rak buku itu,” Kata Ethnobalt. Aku berjalan dan berdiri di depannya.

“Aku ingin tahu apakah ada semacam trik klasik disini,” Gumamku—mengacu pada lelucon tua jika menarik buku tertentu akan terbuka sebuah jalan rahasia. Tentu saja, ini semua bisa saja hanya jebakan—atau mengeluarkan buku tertentu mungkin memberikan semacam kunci atau petunjuk untuk teka-teki kedepannya.

“Baiklah! Aku akan mengeluarkan bukunya!” Kataku.

“Silahkan,” Kata Ethnobalt. Aku langsung menarik buku-buku itu dengan kasar dari rak dan menemukan satu buku yang tampaknya tetap kokoh berada di tempatnya. Jika dilihat dengan cermat, itu bahkan bukan sebuah buku. Itu adalah tombol berbentuk seperti buku. Aku menariknya, dan dengan suara berdentang, rak buku itu bergeser ke belakang, menjauh dariku. Oke, itu cukup keren. Ini adalah pertama kalinya aku melihat konfigurasi seperti itu beraksi. Namun, dibalik rak buku yang terbuka itu ada pintu besar dan dekorasi lainnya seperti saat pertama kali kami memasuki labirin. Seberkas cahaya lainnya dari batu permata menyentuh batu permata yang ada di dalam cermin, tetapi cahya tersebut kemudian bersinar lalu menghilang.

“Huh? Gagal? Mungkin yang ini membutuhkan senjata tertentu untuk membukanya?” Aku bertanya-tanya.

“Mungkin itu masalahnya,” Jawab Raphtalia.

“Aku harap ada cara agar kita bisa membuka ini... tetapi aku curiga kita tidak akan bisa,” Gumam Ethnobalt cemas. Dia berasal dari sini, jadi dia mungkin tahu—dan ternyata, setelah kami mencoba semua senjata kami, tidak satupun dari kami yang dapat membukanya.

“Sulit untuk memecahkan ini,” Keluhku. “Tidak banyak yang bisa kita lakukan jika kita harus mengumpulkan semua Vassal weapon atau Senjata suci untuk membukanya.” Semua trik dan jebakan yang menganggu ini akhirnya membuatku marah. Aku mulai bertanya-tanya apakah kita bisa menghancurkannya. Mempertimbangkan langkah-langkah yang diambil jika menggunakan api, kami mungkin akan diusir.

Aku melihat relief di pintu itu lagi, berharap ada semacam petunjuk. Tampaknya relief itu menggambarkan semacam pohon yang berbunga.

“Itu terlihat seperti bunga,” Kataku.

“Memang benar... tapi jenis bunga apakah itu?” Komentar Ethnobalt bingung.

“Sakura lumina,” Shildina berbisik pelan. Aku melihatnya lagi dan memang itu memiliki bentuk yang sama.

“Maaf, tapi mungkin saja bukan. Itu bukan bunga sakura,” Kataku. Itu pasti semacam tanaman.

Kemudian aku menyadari sesuatu.

“Di dunia kita, negara Q’ten Lo memainkan peran sebagai obat penenang jika empat pahlawan suci atau pahlawan tujuh bintang mulai bertingkah, bukan?” Aku mengkonfirmasinya.

“Ya itu benar,” Kata Raphtalia.

“Jadi, meskipun ini adalah dunia yang berbeda, mereka juga memiliki empat pahlawan suci—artinya kita juga dapat menemukan negara, teknologi, atau peran yang mirip dengan dunia kita disini kan?” Lanjutku.

“Menurutmu alat milik seseorang yang terkait dengan itu adalah kuncinya disini?” Tanya Raphtalia.

“Bisa jadi,” Jawabku. Melihat responku, Raph-chan menepukkan tangannya. Kemudian dia melompat ke arah Raphtalia dan menujuk sambil berteriak “Raph!” Sepertinya dia akan melakukan sesuatu.

“Kenapa kau tidak mencoba menggunakan kekuatanmu sendiri sebagai pacifier, Raphtalia?” Aku bertanya padanya. Sayangnya, aku tidak bisa menggunakan kekuatan dari Sakura Stone of Destiny Shield di dunia ini, tapi Raphtalia masih bisa menggunakan kekuatannya sebagai Kaisar Surgawi.

“Aku bisa menggunakannya sebagai skill... “ Katanya.

“Jika kau bisa melakukan sesuatu untuk membantu Raph-chan, kita mungkin bisa membuka pintu ini,” Kataku.

“Baiklah. Aku akan mencobanya,” Raphtalia setuju. Dia lalu menyarungkan Katana-nya dan memegangnya di depan dirinya. Dia mengatur pernapasannya agar sesuai dengan Raph-chan dan mulai memfokuskan kekuatannya.

“Raph!” Raph-chan menginjak tanah dengan satu kaki. Lingkaran sihir mulai muncul di lantai, terhubung dengan Raphtalia. Sepertinya dia bisa menggunakan kekuatan Kaisar Surgawinya.

“Five Practices Destiny Field Expansion...” Sambil mengerang, Raphtalia terhuyung-huyung berdiri. Kemudian Raph-chan mengeluarkan suara “Raph!” yang panjang. Keduanya jelas melakukan yang terbaik, tetapi pintunya tidak bergeming sama sekali. Aku tahu mereka memaksakan diri mereka sendiri. Sepertinya tidak ada cara untuk memaksa pintu ini terbuka begitu saja.

“Raphtalia,” Kata Glass dan berjalan menuju Raphtalia yang terhuyung-huyung, melangkah ke dalam lingkaran sihir. Hal itu menyebabkan pola lingkaran sihir yang dibuat Raph-chan dan Raphtalia bergetar sejenak. Glass sendiri bersinar lembut.

“Ah!” Glass mengira dia—secara harfiah—melakukan menginjak sesuatu yang salah, dia pun berusaha mundur dari lingkaran.

“Kau akan baik-baik saja Glass,” Kata Raphtalia padanya.

“Raph!” Raph-chan setuju. Saat Raphtalia tersenyum, Raph-chan mengumpulkan sesuatu untuk menciptakan bola sihir dan mendorongnya ke arah pintu. Dengan suara klik... Pintu terbuka perlahan.

“Aku tidak percaya pintu itu akan benar-benar terbuka,” Kataku. Dalam istilah video game, rasanya aneh menggunakan kunci dari suatu dungeon untuk membuka pintu di dungeon lain—seperti sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi, tepat berada di depan mataku. Ini membuatku berpikir bahwa hasil adalah yang terpenting, tetapi dalam kasus ini, bahkan aku tidak dapat menerimanya.

“Glass, apa firasatmu disini? Apakah kau tahu apa yang baru saja terjadi?” “Tanya Raphtalia.

“Jangan bilang, Glass itu seperti Raphtalia di dunia ini? Apakah kita benar-benar beruntung?” Kataku. Mungkinkah dia benar-benar Kaisar Surgawi di dunia Kizuna? Kedengarannya tidak masuk akal, tetapi Raphtalia sendiri—yang memiliki darah seorang pacifier, tepat berada disisi salah satu dari empat pahlawan suci.

“... Tidak, aku minta maaf, tapi aku tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi,” Jawab Glass.

“Mungkin itu terjadi karena kau adalah Spirit,” Kata Shildina. Ya, itu bisa saja. Persyaratan tersebut mungkin saja terpenuhi secara kebetulan.

“Setelah kita menyelamatkan Kizuna, mungkin ada baiknya melihat silisilah keluargamu,” Kataku pada Glass. Jika kami beruntung, kami mungkin akan menemukan senjata yang mirip dengan Sakura Stone of Destiny atau informasi berguna lainnya. Siapa yang tahu dimana petunjuk yang dibutuhkan Ethnobalt bersembunyi. “Sebenarnya, mungkin beberapa informasi seperti itu berada di suatu tempat di perpustakaan ini?” Kataku.

“Ada banyak sekali buku yang disimpan di sini, bahkan dengan insting pencarianku... Aku hanya bisa merasakan perkiraan lokasinya,” Jelas Ethnobalt. “Sedikit jauh lebih dalam dari sini.” Jika ada sesuatu yang bisa didapat dari hal itu, kami harus mencobanya. Sepertinya itu sebuah petunjuk yang sayang sekali untuk dilewatkan. Setengah berharap, setengah cemas, kami terus melangkah maju.

Hal pertama yang kami temukan adalah tangga spiral, yang tampak seolah-olah tidak memiliki ujung. Kurangnya rak buku adalah perubahan yang cukup mengejutkan.

“Sepertinya kita harus turun,” Kataku.

“Memang,” Rapthalia setuju.

“Aku tidak sabar melihat apa yang ada dibawah sana,” Seru Sadeena.

“Tidak perlu terlalu bersemangat tentang itu!” Balasku. Kami berada disini bukan untuk karyawisata yang menyenangkan. Meskipun aku sudah memikirkan itu, aku penasaran apakah aku bisa menikmati dunia ini, yang dimana bertarung hanyalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Aku tidak setingkat dengan tiga pahlawan lainnya, tetapi mungkin saja untuk menikmati pengalaman ini seperti video game. Kau hanya perlu berhati-hati untuk tidak menyatukan keduanya.

Kami turun menuju lubang yang terasa tidak terbatas. Sisi positifnya, setidaknya, tidak ada monster disini. Kami sama sekali tidak tahu kapan tempat ini diciptakan, dan tempat itu cukup tersembunyi di balik rak buku dan pintu—sepertinya tidak mungkin ada monster yang hanya menghabiskan waktunya di belakang sini. Kami lanjut turun ke bawah dan akhirnya mencapai bagian bawah tangga spiral.

Tangga itu mengarah ke koridor lain, yang menuju ke sebuah tombol. Memutar tombol tersebut membuat dinding bergeser terbuka, aku penasaran apakah aman untuk berpikir bahwa kami sedang menjelajahi jalur rahasia. Setelah melewatinya, kami berada di sebuah ruangan. Di sisi kanan sesuatu yang terlihat seperti bagian dalam dari pintu yang tertutup. Di sisi kiri... Aku meragukan pengelihatanku. Ada buku-buku yang melayang seperti tangga di udara, menuju ke ruang yang terapung yang terbuat dari rak buku.

“Tempat ini... Mungkin ruangan master perpustakaan. Legenda memang menyebutkan tempat seperti itu,” Desah Ethnobalt.

“Rasanya mosnter yang cukup kuat mungkin menunggu kita di depan sana,” Kataku.

“Aku juga merasakannya, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah,” Kata Raphtalia.

“Hal itu tidak pernah terlintas di pikiranku. Semuanya, bersiaplah untuk bertarung jika kita harus bertarung,” Kataku kepada mereka. Semua mengangguk atau menyerukan persetujuan mereka, dan dengan diriku yang memimpin, kami menaiki tangga buku yang mengambang lalu berjalan menuju ruangan di atas.

“Sepertinya tidak ada monster disini,” Kataku sambil melihat sekeliling. Tidak ada hal semacam itu yang menarik perhatianku. Aku telah memikirkan hal yang menakutkan bahwa “bos” mungkin hanya muncul setelah kami benar-benar menyentuh atau mengambil sesuatu. Ruangan itu berisi rak buku yang bercahaya... dan diseberangnya, botol kecil berwarna merah diletakkan di atas meja kayu. Botol itu memiliki penghalang yang mengelilinginya, yang tampaknya menunjukkan seberapa pentingnya benda itu. Dan botol itu juga bersinar. Dinding ruangan jarang ditemukan di tempat ini. Di tempat tanpa rak buku, ada lukisan dinding atau sesuatu yang terlukis di dinding. Lukisan itu tampak seperti lukisan dinding piramida, sangat simbolis. Salah satunya menunjukkan makhluk mirip kucing dengan sayap. Aku bertanya-tanya apa itu. Ekornya seperti reptil untuk dianggap seekor kucing. Bahkan terlihat seperti memakai pakaian. Apakah itu sejenis monster yang unik di dunia ini?

Lukisan itu juga terlihat seperti ada gambar senjata suci.. dan Vassal weapon juga. Mereka digambarkan seolah-olah sedang bersinar.

Sementara itu, botol kecil itu berisi cairan merah yang tampak seperti darah. Aku menyentuh penghalang itu dan langsung menghilang. Aku mengambil botolnya dan mengendus isinya. Baunya seperti darah juga.

“Apa ini? Cawan suci?” sebuah kiasan lain yang sering muncul di latar fantasi semacam ini—darah orang suci kuno.

“Itu mungkin racun khusus yang tertulis di catatan yang ditinggalkan oleh master perpustakaan pertama,” Renung Ethnobalt.

“Tapi ini adalah benda penting, bukan?” Tanyaku.

“Iya, tetapi satu-satunya catatan tentang itu adalah catatan yang ditinggalkan oleh master perpustakaan pertama. Sepertinya disinilah dia menyimpannya,” Jawab Ethnobalt. Shildina sedang melihat botol itu dengan ekspresi curiga di wajahnya, lalu dia berkata.

“Aku tidak tahu itu baik atau buruk... tetapi botol ini memiliki sesuatu yang luar biasa didalamnya. Sesuatu selain residual ingatan,” Jelasnya.

“Botol ini?” Tanyaku. Aku memutuskan untuk mencoba menilainya... dan terkejut dengan hasilnya. Mungkin informasinya terlalu banyak karena aku gagal menilainya. Ini benda yang benar-benar luar biasa, itu pasti.

“Benda ini terlihat sangat berbahaya,” Kataku.

“Catatan dari master perpustakaan pertama menjelaskannya. Satu tetes berarti siksaan abadi, dua tetes berarti kesendirian abadi, dan tiga tetes... berarti sesuatu yang sangat berbahaya,” Ungkap Ethnobalt.

“Ini zat yang berbahaya,” Kataku dan bersiul, bertanya-tanya apakah benda itu dimaksudkan untuk bunuh diri. Mungkin kelinci master perpustakaan pertama menggunakan benda ini untuk mengakhiri nyawanya, namun kenapa dia menyimpannya dengan sangat hati-hati? Meskipun begitu, sepertinya tidak banyak yang tersisa. “Cukup dengan benda beracun ini. Bagaimana dengan rak bukunya?” Namun ketika aku menyentuhnya, jari-jariku tersengat, ditolak.

“Mungkin kita tidak bisa—“ Kata S’yne.

“Nona S’yne mengatakan bahwa mungkin kita hanya bisa memilih satu dari keduanya,” Kata Familiarnya. “Dia pernah melihat harta karun seperti itu di masa lalu.”

“Apa? Jadi aku mengacaukannya dengan meletakkan tanganku terlalu cepat?” Kataku. Jika itu masalahnya, akan sangat menyedihkan!

“Tidak… kupikir aku memiliki penjelasan yang berbeda,” Sela Ethnobalt sambil meraih rak buku tersebut. Pada saat yang sama, tulisan dari rak buku mulai bergerak kearahnya dan mengalir menuju Ethnobalt. Dia terkejut.

“Awas!” Aku mendorong Ethnobalt ke samping dan mengangkat cerminku, tetapi tulisan itu melewatiku dan mengalir menuju Ethnobalt. Dia terkejut kembali.

“Apakah kau baik-baik saja?!” Aku berteriak. Sepertinya tulisan itu mengerubunginya, dan kemudian menghilang begitu saja.

“Aku baik-baik saja. Sepertinya itu semacam perangkat verifikasi kelinci perpustakaan dan sekarang aku memiliki otoritas yang ditampilkan di penglihatanku,” Lapornya.

“Baiklah,” Jawabku. Kedengarannya menjanjikan.

“Sekarang aku akan menggunakan otoritas master perpustakaan untuk menmbuka segel di rak buku itu,” Kata Ethnobalt. Dia berubah menjadi bentuk kelincinya dan menjulurkan tangannya. Cahaya di sekitar rak buku mulai menyebar. Sepertinya penghalangnya telah menghilang. Kemudian Ethnobalt mengambil beberapa buku dan mulai membacanya.

“Sepertinya… kita datang untuk ini. Ini menjelaskan bagaimana cara mematahkan kutukan yang ditempatkan pada empat senjata suci.”

“Kedengarannya bagus,” Kataku.

“Dan juga… Ada beberapa teks kuno disini seperti yang telah aku berikan kepada Rishia,” Lapor Ethnobalt.

“Dia bilang dia tidak dapat memecahkannya… Mungkin dia membutuhkan buku ini dulu?” Pikirku. Ethnobalt menunjukkan sebuah halaman yang gambarnyaterlihat sangat mirip. Ada juga bentuk kucing bersayap yang ada di dinding ruangan ini. Aku tidak bisa memahaminya, tetapi sepertinya dia menyerang sesuatu yang memiliki lingkaran cahaya.

“Tolong cari tahu jawabannya dengan Rishia saat kita kembali nanti,” Pintaku.

“Tentu saja. Saat kami membahas masalah ini sebelumnya, sepertinya dia terlihat lebih paham daripada kami. Jika kami bekerja sama, aku yakin kami akan dapat mengungkap kebenaran dari gelombang lebih lanjut,” Kata Ethnobalt.

“Aku mengandalkanmu,” Kataku padanya. Ethnobalt terus membaca buku tentang kutukan.

“Baiklah… sepertinya botol yang kau ambil itu juga efektif untuk menghilangkan masalah pada empat senjata suci,” Lapornya. 

“Benarkah?” Tanyaku.

“Iya. Benda ini memiliki banyak kegunaan. Spertinya kita sudah menyelsaikan misi kita,” Kata Ethnobalt. Dia lalu mengeluarkan cakram CD dari tasnya dan memberi semacam sihir padanya. “Cakram itu sudah mendaftarkan lokasi ini. Sekarang kita bisa kembali ke sini kapan saja, artinya kita bisa pergi sekarang juga.”

“Tidak memakan waktu lama dari yang kuharapkan. Agak antiklimaks bagiku,” Renung Sadeena.

“Semakin cepat kita menemukannya, semakin baik, menurutku,” Ujar Shildina menentang kakaknya.

“Itu benar” Tambah Raphtalia. Aku juga berpikir jika kita menemukan tujuan kita secepat mungkin, itu adalah yang terbaik.

“Tapi masih ada jalan menuju tempat yang lebih dalam. Sepertinya ini bukan lantai terbawah,” Kata Shildina.

“Dalam video game, itu akan menjadi konten opsional. Mungkin ada sihir yang lebih kuat atau resep atau bahan senjata yang lebih baik di bawah sana, tetapi diiringi dengan tantangan yang lebih berat juga,” Kataku pada mereka. Raphtalia dan Glass menoleh untuk melihat jalan setapak yang mengarah ke bawah, mata mereka tiba-tiba menjadi lebih tajam. Harus kuakui aku juga tergoda. Kami memang perlu meningkatkan kekuatan kami sebanyak mungkin. “Jika kita punya waktu, kita bisa kembali lagi dengan Itsuki, Kizuna, dan yang lainnya,” Kataku.

“Ide bagus,” Kata Raphtalia.

“Kita perlu berkonsentrasi untuk membuat beberapa resep makanan yang lebih baik terlebih dahulu,” Sela Glass. Dia masih mengungkitnya.

“Mencari harta karun sangat mengasyikkan bukan, Shildina kecil?” Kata Sadeena.

“Aku senang mencari tong anggur tua di kapal yang tenggelam,” Kata Shildina setuju.

“Raph!” Tambah Raph-chan. Sadeena dan Shildina juga melakukan perburuan harta karun, jadi mungkin mereka tahu sensasinya. Raph-chan sekarang berada di punggung Sadeena, menunjuk ke depan.

“Apakah kita tidak akan kembali—“ Kata Sy’ne.

“Apakah kita akan menelusuri lebih dalam?” Familiarnya bertanya ulang. Pertanyaan S’ne menyadarkan kami.

“Kita akan kembali terlebih dahulu. Kita telah menemukan tujuan kita kemari, dan aku juga tidak melihat seorangpun turun sedalam ini selain kita. S’yne, kita kembali.” Kataku.

“Baiklah. Ariadne’s Thread!” S’yne menggunakan skillnya, langsung membawa kami kembali ke pintu masuk labirin, lalu kami berjalan keluar. Dengan demikian, kami menemukan informasi yang diperlukan untuk menyembuhkan Kizuna dan pergi dari Labirin Perpustakaan Kuno.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan