Selasa, 26 Maret 2024

Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel PDF Bahasa Indonesia Volume 5

 Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel PDF Bahasa Indonesia

Volume 5



Translator : Haze
EDITOR : Haze, Isekai-chan, Bajatsu
Proofreader : Bajatsu
PDF Maker : Bajatsu

[Kami memohon izin menautkan shorter link, ini ditujukan untuk biaya perawatan dan domain Isekaichan. Jadi kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan tolong jika ingin share link gunakan link shorternya untuk selalu mendukung kami :) Terimakasih]

VOLUME 5

Kelihatannya segala sesuatu yang menimpa Latina dan Dale mulai berjalan lancar dan terselesaikan. Mereka hidup senang di tempat yang menerima mereka, dikelilingi oleh orang-orang yang mereka cintai, dan akhirnya Dale meminta Latina untuk menikaihinya.

Namun tak lama setelah itu, sayangnya, gadis iblis ini sadar arti dari perannya sebagai Demon Lord Kedelapan; yaitu demon lord lain akan menggunakan segala cara untuk menghancurkannya, dan begitu itu terjadi maka semua yang dihargainya akan ikut hancur. Demi mencegah terjadinya itu, Latina mengambil keputusan untuk harus mengorbankan dirinya sendiri. 

Akan tetapi, sebagai pahlawan nomor satu dan satu-satunya pengikut Latina, Dale tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jadi dia bertindak dan melakukan hal yang harus dia kerjakan: membinasakan tujuh demon lord.



LINK DOWNLOAD
DARK MODE            LIGHT MODE
MIRROR                      MIRROR

Terdapat Dua Versi PDF
DARK MODE

 LIGHT MODE

Jika terdapat saran atau masukan agar PDF-nya bisa lebih baik lagi jangan ragu untuk tinggalkan komentar. Terimakasih

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 5: Memperhatikan Cara Hidup Baru

  Volume 01

Chapter 5: Memperhatikan Cara Hidup Baru



Jika tidak ada buku, tinggal aku buat saja sendiri. Hatiku kembali cerah dan penuh rasa optimis begitu pemikiran itu muncul.

Tapi sayangnya, tidak ada kertas di rumahku. Aku sudah pastikan itu saat aku mencari buku di rumah. Sederhananya, aku harus beli kertas, tapi aku belum tahu apa kertas dijual atau tidak. Dan sekali lagi, cukup disayangkan tidak ada mini market, mall besar, super market, atau toko yang menyediakan kebutuhan administrasi di kota ini.

Jadi, dimanakah tempat kertas dijual? Sebelumnya aku dengar dari pria tua penjual alat bahwa buku itu perlu disalin pakai tangan, jadi ada kemungkinan ada buku yang belum ada isinya dijual entah dimana. Tapi dimana tempatnya?

Mungkin ada toko yang khusus menjual kertas. Jika aku di Jepang, aku bisa menyatukan sejumlah kertas yang berserakan, kertas yang sudah ada isinya, kertas salin yang isinya rusak, atau segala jenis kertas bisa aku jadikan buku binder, tapi hal semacam itu tidak mudah di dunia ini. Jelasnya tidak ada kertas di rumahku, jadi agar bisa membuat buku, pertama-tama aku harus cari cara dapat kertas.


Kami sampai rumah habis pulang dari pasar dan pemikiran itu terpintas di kepalaku, rupanya Tuuli sudah pulang juga dari hutan. Dia kembali dengan membawa kayu bakar, kacang-kacangan, jamur, dan berbagai macam tanaman herbal yang digunakan untuk bumbu daging.

“Hey, Tuuli. Kamu bawa apa saja? Aku mau lihat, mau lihat.”

Aku melihat kedalam keranjang yang Tuuli keluarkan isinya dan aku segera menemukan sesuatu yang aku cari. Dia kembali membawa sejumlah buah seperti alpukat yang sebelumnya aku temukan saat menggeledah seisi rumah. Aku pernah melihat Ibu memalu buah itu untuk mengambil minyak dari itu, jadi aku yakin sekali bisa mendapatkan minyak dari buah itu.

“Wow! Boleh aku minta satu buah ini?”

Tuuli berpikir sejenak terhadap permintaanku dan berbalas.

“Kamu mau buah meryl!? Boleh, ini aku kasih dua.”

Lalu dia berikan aku dua buah itu.


“Makasih, Tuuli!”

Aku gesek pipi ke buah meryl lalu berjalan ke ruang penyimpanan untuk mengambil palu. Aku bisa buat sampo dengan buah ini!

Penuh dengan semangat, aku hantam kebawah palu. Dreg! Buah meryl meledak dan jadi gepeng, carian dalam buah itu muncrat mengenai aku dan Tuuli, dia mengikutiku untuk memperhatikanku.

“...Mhmm, Myne. Kamu ngapain?”

Tuuli, tanpa tindakan mengusap cairan yang mengenai wajahnya, memberi aku senyuman cerah dan mata dingin.

Aku sedikit tersentak karena amarahnya yang jelas. Uh oh, gawat ini. Kelihatannya Tuuli sangat, sangat marah.

“U-Um, Tuuli. Aku tadi, iniiii, apa. Aku mau ambil minyak buah ini, jadi aku....?”
“Tadi itu bukan cara yang benar buat ambil minyak buah merly! Kamu itu kenapa!?”

Aaah... ya mau bagaimana lagi kalau aku tidak tahu cara yang benar seperti apa. Myne yang ada dalam ingatanku selalu berpaling dari hal apa saja yang Tuuli coba ajarkan padanya. Semua ajaran yang dia sampaikan jadi tidak jelas dan tidak bisa aku pahami. Rupanya Myne sangat cemburu dan merasa tidak tahan melihat Tuuli, yang punya kesehatan, penuh energi, dan bisa melakukan hal yang tidak bisa dia lalukan.

Jadi banyak sekali ingatan Myne yang terpenuhi dengan kata-kata, “ini tidak adil,” yang membuat aku merasa tidak suka padanya. Karena apalagi, Tuuli seorang kakak yang baik. Dia mengurusiku dengan baik dan meski dalam keadaan marah dia tetap mengajari jika ada hal salah yang aku kerjakan.

Aku mulai bersihkan sisa buah merly yang berserakan selama Tuuli mengomeliku, tapi sebelum aku selesai, Ibu yang baru saja kembali dari sumur dan masuk ke dalam rumah dalam keadaan wajah merah setelah melihat ada yang mengotori dinding. Dia tidak peduli pada lantai yang kotor selama ini, tapi dia sangat perhatian pada dinding? Tak lama kemudian aku tahu tak banyak orang yang peduli pada kebersihan lantai penuh debu atau kena arang, tapi cairan yang berasal dari buah bisa diserap dinding kayu dan membuatnya cepat lapuk, hal itu sangat merugikan.

Setelah aku bersihkan, aku melihat ke buah meryl yang remuk, Ibu dan Tuuli. Aku ingin sekali segera mendapat minyak dari buah ini, tapi kurang tahu harus minta tolong ke Ibu atau Tuuli. Ragu akan keputusanku, aku minta bantuan pada orang yang sedikit marah. Aku perlahan berbisik ke Tuuli.

“Tuuli, Tuuli. Bagaimana caranya ambil minyak dari buah ini? Mau kamu ajari aku caranya?”
“Ibu, boleh aku ajari Myne?”

Padahal aku sudah bisik-bisik, tapi Tuuli malah dengan suara keras menanyakan itu pada Ibu.

“Haaah. Kita tidak tahu nanti dia berbuat apa jika tidak kita ajari. Sudah kamu ajari saja dia,” kata Ibu sambil menunjuk ke ruang penyimpanan.

Jujur saja, aku merasa tidak bisa disalahkan karena suatu hal yang sebelumnya belum pernah diajarkan kepadaku. Kalau saja ingatan Myne tidak seburam ini, pastinya aku tidak akan melakukan salah seperti ini.

Aku mengikuti Tuuli dan pergi ke ruang penyimpanan, di sana dia bisa mengajariku. Alat yang diperlukan untuk mengekstrak minyak dari buah meryl sudah ada di sana.

“Carian dan minyak dari buah ini akan terserap ke meja ini karena terbuat dari kayu, jadi tidak bisa kau palu tanpa alas. Kamu perlu taruh dudukan logam dulu. Lalu beri alas kain. Balut buahnya pakai kain tadi. Jika tidak begitu, maka minyaknya akan berserakan kemana-mana. Karena hampir keseluruhan buah meryl bisa kita makan, biasanya kita ekstrak minyaknya dari biji dalamnya setelah kita makan. Akan aku beritahu cara ekstrak minyaknya setelah kita keluarkan bijinya.”
“Aku tahu alasan cukup bijinya saja yang kita ambil untuk ekstrak minyaknya, tapi aku masih tidak tahu perlu sebanyak apa minyak buah ini. Aku tidak bisa menunggu lama. Jadi aku akan ambil minyak dari daging buah merylnya juga.”

Setelah aku nyatakan itu, aku balut buah meryl dengan kain sesuai instruksi yang diberikan dan mulai memalunya pakai palu, posisi buahnya sudah di atas dudukan logam tadi. Palu ini cukup berat mengangkatnya saja sudah penuh dengan usaha, tapi setelah berulang kali aku usaha keras akhirnya aku merasa buah itu remuk. Wow... aku ini hebat sekali, bukan?

“Jadi begini caranya ya? Eheheh.”

Aku perah kain tadi untuk mengekstrak minyaknya, aku putarkan dengan penuh usaha. Terlihat bagian kain mulai menggelap. Tapi hanya itu saja. Ada satu tetesan minyak yang jatuh, tapi sudah cukup terlihat jelas bahwa tidak ada kemungkinan aku bisa ekstrak minyak yang cukup untuk aku gunakan.

“Myne, itu masih kurang. Kamu masih sering meleset, kurang kuat juga pukulanmu, dan cara memalumu juga salah. Daging buahnya memang remuk tapi bijinya tidak remuk sama sekali.”
“Awww.... Tuuuuuuli....”

Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi rupanya masih kurang....
Aku menghadap ke Tuuli untuk meminta bantuan darinya, dan dia ambil palu dariku setelah dia menghela nafas karena jengkel.

Dia kuatkan kepalan tangannya di palu dan dia angkat tinggi. Dreg! Dreg! Terdengar suara setiap kali dia ayunkan palu itu, buah dan bijinya lebih cepat remuk dan lebih merata dibanding aku tadi.

“Ayah bisa pakai alat perah untuk mengekstrak minyak ini tanpa palu, tapi alat itu perlu tenaga yang besar jadi kita tidak bisa pakai, jadi kita hanya bisa memalunya berulang kali pakai palu.”

Rupanya, anak lelaki yang beranjak dewasa dapat dipercaya untuk menjalankan tugas lelaki dewasa begitu mereka bisa memakai alat perah itu.

“Begitu bijinya hancur berkeping-keping, kamu cukup perah kainnya seperti ini, maka nanti....”

Tadi saat aku coba perah kainnya hanya menggelap saja, tapi saat Tuuli yang memerahnya, mulai bercucuran minyak buah itu ke dalam mangkuk kecil yang sudah disiapkan di bawahnya. Melihat ini, rasa respek aku pada Tuuli meningkat tiga kali lipat begitu minyak semakin memenuhi mangkuk tadi.

“Woooooow! Tuuli, kamu hebat sekali! Makasih!”
“Ingat untuk selalu dibersihkan alat-alatnya begitu selesai kamu gunakan, Myne. Ayo, dibersihkan.”

Tapi... aku masih tidak mengerti maksud dari dibersihkan darimu. 

Melihat aku yang kebingungan, Tuuli sedikit putar kepala dan mulai memperlihatkan caranya bagaimana padaku.

Dia memang senang sekali mengurusi orang, pikirku sambil menempatkan alat-alat tadi pada tempatnya. Begitu aku selesai membereskan alat tadi, aku melirik ke dalam mangkuk yang di dalamnya terdapat cairan kental, minyak berwarna cerah dan menghirupnya perlahan-lahan. Semakin kuat aromanya, maka samponya akan semakin bagus.

“Hei, Tuuli. Boleh aku minta tanaman herbal juga? Aku mau yang sekiranya paling harum.”
“Cuma sedikit, oke?”
“Iya!”

Dengan izin dari Tuuli, aku meraih sejumlah tanaman herbal dari dalam keranjangnya dan mencium aromanya satu per satu, aku ambil yang harum dan menghancurkannya pakai jari lalu aku jatuhkan ke dalam mangkuk. Jika aroma dari tanaman ini bisa menyebar ke minyak ini, maka samponya akan punya aroma yang harum.

Begitu aromanya mulai melekat, tambahkan sedikit garam....

Aku sedang memikirkan cara agar samponya berhasil lalu aku menyadari Tuuli tiba-tiba mengambil mangkuk isi mintak tadi dan mulai berjalan ke tempat biasa Ibu memasak makan.

“Tuuli! Tunggu, jangan! Mau kamu apa kan itu?!”

Aku segera mengambil alih mangkuk jauh darinya dan berjongkok, aku pegang dekat perut agar aman dari jangkauan dia.

Tuuli melihat tindakanku dan menempatkan kedua lengannya di pinggang. Jelas sekali dia marah.

“Nanti rasanya bakal tidak enak bukan? Jika tidak segera kita makan? Minyaknya juga akan berasa aneh jika aroma dari tanaman herbal ini semakin mengikat.”
“Kamu tidak boleh makan ini!”

Aku akan jadikan itu sampo, tak akan aku biarkan ada yang makan itu!

Alasan apa pun yang Tuuli lontarkan, aku tidak akan menyerahkan itu demi membuat sampo. Aku sudah menderita cukup lama karena rambut kotor ini.

“Myne! Tuuli yang ambil semua itu dari hutan! Jangan egois!”

Ibu ikut marah mendukung Tuuli, tapi aku sudah dapat izin hak milik dua buah meryl dan tanaman herbal itu darinya, jadi sudah jadi milikku sekarang. Dia sudah tidak punya hak miliknya lagi.

“Tidak, aku tidak egois! Aku sudah diberi itu semua darinya!”

Aku geleng-gelengkan kepala dan mempersiapkan diri melindungi minyak itu sampai aku mati. Kepalaku begitu gatal sampai aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sampo ada tepat di depan mataku. Tak akan ada satu orang pun yang aku biarkan menggangguku.

Sepertinya perasaan pantang menyerahku dirasakan oleh mereka, keduanya menghela nafas karena jengkel dan berpaling dariku karena tahu ucapan mereka tidak akan aku dengar. Aku menghirup nafas dengan dalam karena senang bisa melindungi minyak ini yang kemudian aku tambahkan garam. Dengan ini telah selesai dibuat alternatif samponya, yang sebelumnya pernah aku buat bersama ibu lamaku yang terpengaruh oleh adiksi dari “hidup alami”. 

“Ibu, boleh aku minta air hangat?”

Aku bentangkan kain tahan air yang biasa aku gunakan untuk mandi, dan aku taruh itu di atas mangkuk isi minyak tadi sebelum aku bawa ember kosong ke Ibu. Aku sudah sering meminta air hangat darinya disetiap hari dia sedang memasak makan malam, jadi dia mengerti dan mengisi ember tadi dengan air hangat, yang nantinya aku masukkan kain tahan air ke dalamnya.

Aku rentangkan tangan, siap untuk keramas, tapi aku berhenti di gerakan pertama. Aku tidak punya cukup air untuk membilas rambutku yang sudah diberi sampo, karena hanya ada satu ember air saja. Bagaimana caranya aku mengakali ini?

“Mmm, mungkin aku coba campur saja dulu.”

Pilihan satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mencampur sampo dan air ini, lalu membiarkan air sampo ini mengalir di rambut perlahan-lahan, mungkin akan ada yang tersisa di rambut tapi itu bukan masalah. Aku masukan semua sampo yang aku buat tadi ke dalam ember dan mengoceknya.

“Myne?! Kamu lagi mau apa?!”
“Er? Mau keramas rambut?”

Tuuli terlihat sangat bingung. Tapi melihat dari situasi yang mana belum pernah sekalipun aku datang ke dunia ini aku melihat mereka menggunakan sampo, aku bisa berasumsi bahwa keramas rambut pakai sampo bukanlah hal yang lazim di dunia ini, dan oleh sebab itu dia tidak akan mengerti penjelasan yang aku lontarkan. Jadi, aku cukup tunjukkan apa yang aku lakukan. Agar dia percaya.

Aku tarik tusuk rambutku, merendam rambutku ke dalam ember, dan mulai keramas. Aku gosok-gosok rambutku dengan air dan berulang kali aku alirkan air ke ubun-ubun agar semua kotoran yang ada di rambut atas sana lepas.

Lalu, aku mulai remas-remas kepalaku. Tenaga tanganku kecil dan juga cukup pendek, membuatku agak kesulitan. Tapi meski begitu, aku terus ulangi proses itu sampai aku puas dan saat itu terpenuhi aku perah rambutku dan mengeringkan kepalaku dengan kain tipis yang sebenarnya punya nama handuk.

Setelah aku coba keringkan berulang kali agar air sampo yang tersisa tidak begitu banyak, aku sisiri rambutku. Rambutku hampir sepenuhnya hitam karena kotor, tapi sekarang terlihat kembali ke warna semuanya biru tua.

Wow, hasilnya lumayan dan bagus juga. Aku raba-raba rambutku dan aku cium aromanya. Aku mencium aroma mendekati melati. Hidup yang aku jalani akhir-akhir ini dipenuhi dengan bau badan karena keringat dan debu tanah. Hal sepele seperti mencium bau lain selain bau badanku membuat aku sedikit senang. Target terpenuhi.

“Apa? Huh? Myne, rambutmu indah sekali dan kini warnanya jadi biru tua. Seperti langit malam. Dua matamu seperti bulan!”

Hm.... tebakan warna mataku dari ucapannya adalah emas atau kuning, baiklah. Kini aku tahu apa warna mataku, aku melihat mata biru Tuuli dan berpikir sejenak soal betapa terbuang sia-sianya genetika luar biasa yang dia miliki.

“Myne, ini itu apa?”
“Mmm, ini itu (kejamas serbaguna sederhana). Kamu tertarik coba ini? Ini masih cukup untuk kita berdua.”
<TLN: https://kbbi.web.id/kejamas>

 Aku menyadari aura penasaran dari Tuuli dan coba aku bujuk dia untuk mendekati ember ini. Kami tidur di kasur yang sama dan akan lebih baik lagi jika kami berdua sama-sama bersih. Selain itu, wajah cantiknya terbuang sekarang karena debu tanah. Aku ingin Tuuli tampil bersih dan ini mungkin bisa jadi alasan besar dia untuk membuatkan kami sampo di waktu kedepan.

“Kamu adalah orang yang telah mengumpulkan buah meryl dan tanaman herbal untuk ini, Tuuli, jangan khawatir. Kamu juga yang memerah semua minyak ini untukku.”

Tuuli memberiku senyum cerah atas keinginan mendesakku dan mulai membuka ikat kepang rambutnya. Dia pasti memperhatikan aku dari awal, karena dia langsung merendam rambutnya ke dalam air ember dan mulai keramas seperti yang aku lakukan tadi.

... Aaah, masih ada bagian yang belum bersih. Aku memasukkan tangan ke ember untuk mengambil sedikit air hangat dan aku siram ke bagian kepala Tuuli yang sulit dia bersihkan sendiri. Ayo, bersihlah, bersihlah, jadilah rambut yang bersih sekali.

“Tuuli, aku rasa rambutmu sudah cukup bersih.”

Aku berikan kain tipis padanya dan seperti yang aku lakukan tadi, dia keringkan rambutnya lalu menyisirinya berulang kali. Rambut hijaunya jadi sangat halus. Kini rambutnya terurai ke bawah dalam keadaan bergelombang yang secara alami terbentuk, dan cahaya yang masuk mengitari rambut bagian atasnya membuat dia seperti malaikat. Sederhananya, kecantikan dan keimutan yang dimiliki dia bertambah berkali-kali lipat.

“Wow, kini rambutmu indah sekali. Lalu harum sekali.”

Mhm. Gadis imut layak tampil bagus dan bersih.

Tuuli terus menyisiri rambutnya sedangkan aku mengangguk puas. Kami tidak punya cukup sampo untuknya berkeramas setiap hari, tapi mungkin sudah menjadi tugasku untuk membersihkan rambut dia selama beberapa hari kedepan agar tetap bersih.

Aku mulai membereskan semua ini karena kami berdua sudah selesai, tapi Ibu menyela tindakanku, dan berkata “Tunggu, jangan dulu” lalu dia mulai membersihkan rambutnya dengan itu.

Kalau begini, aku rasa baik Ibu atau Tuuli tidak akan keberatan jika aku mengambil buah meryl lagi untuk membuat sampo. Tujuanku adalah menjaga kebersihan keluargaku.

Tidurku nyenyak, karena rasa gatal di rambutku menghilang.

Sejak aku datang ke dunia ini, hal pertama yang aku lihat di setiap harinya di saat aku bangun tidur adalah jaring laba-laba. Telah aku bersihkan diriku, hal selanjutnya yang ingin aku lakukan adalah membersihkan lingkungan aku hidup. Tapi meski semangat yang aku miliki untuk membersihkan kamarku ini besar, tapi itu adalah hal yang terlalu berat bagiku. Hal terbaik yang bisa aku lakukan dengan tubuh kecil dan lemah punyaku adalah membersihkan kasur tempat aku tidur.

Kebetulan Ayah mengambil cuti hari ini, jadi aku minta bantuan agar dia jemur selimutku di dekat jendela.

“Ayah, setelah selimutnya dijemur, bisa bersihkan jarang laba-laba yang ada di sana?”
“Jaring laba-laba? Memangnya ada apa...?”

Dia cukup terbiasa hidup berdampingan dengan jaring laba-laba jadi dia tidak sadar bahwa itu adalah hal yang kotor.

Setelah aku berpikir keras sejenak, aku pegang erat sedikit celana Ayah.

“A-aku takut.”

Aku tidak berbohong. Jika ada waktunya aku bangun dan ada laba-laba yang melayang tepat di depan wajahku, aku pastinya akan teriak keras sampai orang yang dengar aku seperti mendengar suara teriak dari miniatur Vast Glub. Memikirkan itu terjadi saja sudah membuat diriku takut. Akan lebih lagi, jika ancaman dari jaring laba-laba itu segera hilang.

“Kamu takut sama laba-laba, Myne? Baiklah kalau begitu. Biar Ayah urus itu.”
“Yaaay! Makasih, Ayah. Aku akan lebih senang lagi jika Ayah mau membersihkan sekitar jaring laba-labanya juga.”
“Iya, iya. Intinya kamu itu ingin semua laba-laba yang mengganggu itu pergi semua? Iya, serahkan saja pada ayah.”

Ok, langit-langit berhasil dibersihkan. Ayah menyapu dari langit-langit sampai ke bawah lantai, dengan begini halangan terbesar yang tak bisa aku tangani sama sekali selesai diatasi, yang mana itu meninggalkan hal-hal kecil yang bisa aku lakukan sendiri, tapi tetap harus sedikit demi sedikit.

“Ibu, sapu ada di mana?”
“Di sebalah sana. Kenapa? Apa ada yang jatuh?”
“Aku ingin bersih-bersih kamar kita.”
“Baik. Kalau itu maumu, lakukan saja.”

Aku pegang sapunya dan mulai menyapu sekitar kamar tidur. Debu-debu berterbangan ke udara. Sebagai orang yang budaya hidupnya tidak pakai alas kaki di dalam rumah, rasanya masih cukup mengejutkan untuk melihat lantai kamar tidur yang begitu kotornya sampai debu itu sendiri tampak jelas di udara.

Aku ingin sekali hidup di kamar yang bersih, apapun usahanya. Aku bolak-balik menyapu sisi kamar tidur, aku sapu dan dorong debu yang menumpuk ke depan. Menyapu kamar bukan hal yang sulit, karena di lantai rumah kami tidak ada apa-apanya.

Ngh... Aku sungguh perlu bertambah kuat. Menyapu saja sudah membuat kepalaku pusing. Aku cukupkan dulu sapu-sapu kamar tidurnya dan mengambil waktu istirahat. Kalau terus begini, siapa tahu entah kapan waktu yang diperlukan agar aku bisa hidup di rumah yang bersih?

“Eh, Myne. Kalau misalnya kamu mau membersihkan kamar tidur, kenapa debunya kamu tinggal di dapur? Kamu sapu debunya sampai ke depan.... Myne, kamu pucat sekali.”

Ibu melirik ke kamar tidur setelah melihat gundukan debu yang sudah aku sapu sampai dapur dan dia menghelakan nafas. Dia lalu  menidurkan aku di kasur dan mengangkat selimut yang dijemur di dekat jendela untuk menyelimutiku.

“Ibu senang kamu semangat bersih-bersih, tapi sekarang kamu harus istirahat. Nanti juga kotor lagi, jadi kenapa kamu bersihkan?”

Ibu... Justru karena itu harus aku bersihkan sekarang. Aku harus cegah debunya terus menumpuk. Tapi tekadku ini tidak dapat dukungan dari tubuhku. Aku terpaksa bersih-bersih sedikit yang membuatku agak malas karena harus aku lakukan tiap hari. Aku berguling ke sisi kasur yang biasa jadi tempat aku tidur dan aku pegang rambutku yang turun ke depan wajahku.

Ya... karena sekarang rambutku sudah bersih, aku sudah bisa fokus ke cari cara mendapatkan kertas.





TLBajatsu

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 4: Buku : Tidak Bisa Didapatkan

 Volume 01

Chapter 4: Buku : Tidak Bisa Didapatkan



“Oke, setelah dari sini kita beli daging. Kita belinya tidak sedikit dan nanti harus kita garami atau asapi agar bisa awet disimpan.”
<TLN: https://www.liputan6.com/hot/read/5302529/10-cara-menyimpan-daging-tanpa-kulkas-yang-benar-bisa-awet-sampai-6-bulan?page=4>

Setelah membeli sayur-mayur dan buah-buahan, Ibu melanjutkan jalan untuk belanja ke bagian dalam pasar. Stan penjual daging rupanya cukup dekat dengan tembok bagian luar.

“Untuk apa kita beli banyak-banyak daging?”
“Kita harus persiapkan stok makan untuk musim dingin nanti, iya, kan? Sekarang sudah akhir musim gugur, jadi para peternak sudah pada memotong hampir semua bintang ternak mereka dan menyisakan sedikit bintang ternak mereka yang bisa bertahan selama musim dingin. Banyak sekali jenis-jenis daging yang dijual sekarang ini dibandingkan musim-musim lain selama satu tahun. Ditambah, biasanya bintang-bintang bertambah gendut karena mereka bersiap untuk hibernasi. Sekarang adalah waktu yang paling mudah untuk membeli daging gurih dan berlemak.”
“... Umm, berarti nanti pas musim dingin tiba, pasar ini tidak buka?”
“Itu sudah pasti bukan? Sedikit sekali tanaman pangan yang bisa tumbuh selama musim dingin. Salju yang turun juga cukup tebal, jadi jarang sekali ada pasar yang buka di musim dingin.”

Itu adalah hal yang sudah pasti, dan aku tidak terpikirkan akan hal itu terjadi. Bahkan di Jepang juga, sebelum masanya green house dikenal banyak orang, buah-buahan dan sayur-mayur yang dijual di toko bersifat musiman jadi kalau musimnya sudah lewat maka harus menunggu musim itu datang agar ada di pasar lagi. Di zaman sebelum pendingin atau lemari es dapat mempertahankan tingkat kesegaran bahan pangan, masyarakat harus memasak makanan yang tahan lama di rumah mereka masing-masing. Jadi di dunia ini, memang sudah seharusnya beli dan mengawetkan bahan pangan.

Jujur saja, aku merasa tidak sama sekali bisa membantu banyak dalam kebutuhan pokok itu. Aku bersyukur sekali direinkarnasikan sebagai anak gadis yang tidak akan menerima omelan jika tidak membantu keperluan keluarga.

“... Ba-bau.”

Aroma udara semakin memburuk begitu kami mendekati stan yang jadi tempat berjualan pedagang daging. Aku harus sedikit tahan lubang hidungku karena aroma bau ini, tapi Ibu terus melanjutkan jalan tanpa memperhatikan aroma bau pasar. Aku sedikit tidak percaya ini. Aroma bau ini sangat berlebihan sampai lubang hidungku tertutup sepenuhnya; aku coba sedikit nafas lewat mulut tapi bau ini masih tetap menusuk dan sampai membuat mata aku basah, sedangkan Ibu tidak sama sekali terganggu dengan semua itu.

Apa iya daging beraroma seperti ini? Ngggh, aku punya perasaan buruk sekarang.

Kami sampai di stan-stan penjual daging. Irisan daging becon dan paha daging babi digantung di sana sini, lalu ada bintang yang aku kenali digantung sepenuhnya setelah dikuliti kulitnya. Stan yang punya gantungan dipenuhi dengan bintang-bintang mati, mereka digantung agar darah mereka kering, dan dibawahnya ada banyak kelinci dan unggas-unggas dengan mata terbuka lebar.

“HIGGYAAAAAAH!”

Aku mungkin pernah lihat gambar bintang yang sudah dikuliti, tapi hampir semua yang aku lihat di dunia nyata selalu sudah siap olah, sudah dipotong-potong dan terbungkus. Stan penjual daging yang ada dunia ini cukup mengejutkan diriku. Rasa merinding menyebar ke kulitku dan air mata mulai jatuh dari mataku. Aku coba tutup mata untuk menghalangi pemandangan ini, tapi mata aku tetap terbuka, seperti lupa cara menutupnya saat berkedip.

“Myne?! Myne!”

Ibu sedikit terkejut karena aku dan menepak sedikit pantatku. Tapi tak lama kemudian, aku melihat babi bersuara takut karena dia melihat tukang daging yang siap menyembelihnya. Banyak orang mulai sedikit terganggu dan menunggu akhir dari babi itu yang bersuara keras.

“Ah!”

Aku sedikit teriak kecil, dan tepat dihadapan babi yang baru saja kehilangan nyawanya, aku tak sadarkan diri dalam gendongan Ibu.


Aku merasa ada sesuatu yang mengalir kedalam mulutku. Yang mengalir itu punya aroma kuat alkohol, rasanya aku ingin muntah. Aku tidak mau meminum itu, dan tanpa disadari cairan itu masuk ke saluran pernafasanku. Aku batuk keras, aku bangun duduk dan berkedip berkali-kali dengan cepat.

“Uhuk! Ngggh! Uhuk, uhuk!”

Um, apa yang tadi itu alkohol!? Orang tega macam apa yang memberi alkohol kuat seperti itu pada anak gadis polos! Apa yang akan dia lakukan jika aku mengalami keracunan alkohol?! Aku buka mataku dengan lebar dan melihat Ibu, dia sedang memegang botol yang mungkin isinya wine.

“Myne, kamu bangun? Syukurlah. Stimulan dari botol ini bekerja.”
“Uhuk! Ibu...?”

Dia memegangiku dengan wajah yang sangat lega, karena dia sangat memperhatikanku aku jadi tidak bisa mengeluhkan ini terang-terangan, tapi biarkanlah aku untuk mengoceh hal ini dalam hati.

Mau itu stimulan atau bukan, apa yang membuatmu memberi anak kecil alkohol sekuat itu?! Selain itu, anak kecil, seorang gadis yang selalu sakit dan baru saja sembuh hampir saja terbunuh karenamu!

“Oke, Myne. Karena kamu sudah bangun, yuk belanja lagi daging.”
“Bwuh?!”

Secara naluri aku geleng-gelengkan kepala. Apa yang baru saja aku lihat tadi itu sudah berbekas di penglihatanku. Tadi itu sangat tidak mengenakan sampai-sampai aku merasa akan bermimpi buruk karena itu, memikirkannya saja sudah membuatku merasa merinding. Aku tidak mau kesana lagi selamanya.

“...Ummm, aku masih merasa mual. Boleh aku tunggu disini? Ibu pergi saja belanja.”
“Eh? Tapi....” Ibu mengerutkan alisnya.

Aku melihat sekitar untuk cari bantuan dan memutuskan berjalan menuju stan di belakang yang dijaga oleh wanita berumur. Aku perlu tempat untuk menunggu Ibu sebelum dia mengajak paksa aku.

“Um, permisi, bolehkah saya menunggu sebentar di stan punya Bu? Saya akan diam dan menunggu saja, tidak akan mengganggu stan Anda.”
“Kamu gadis kecil yang sopan sekali. Boleh saja, tadi ibumu beli satu botol alkohol itu dariku. Nah Bu, cepat selesaikan belanjamu. Pastinya kau tidak mau anakmu yang sedang sakit pingsan lagi, bukan?”

Wanita penjual alkohol, yang rupanya menjualkan stimulan tadi pada ibu, terkekeh pada dirinya sendiri dan pemintaan yang aku ajukan tadi dia terima dengan tangan terbuka.

Pria paruh baya yang terlihat menjalankan usaha jual alat-alat produksi, dia juga bersimpati dan mendekat untuk menawarkan bantuan padaku.

“Kau bisa tunggu di stanku, jika di dalam tokoku. Tidak ada yang akan datang menculikmu.”

Aku memasuki tokonya dan duduk diam tanpa rasa ragu. Efek dari alkohol kuat tadi masih terasa dan membuat tubuhku agak aneh. Akan membahayakan jika aku berjalan-jalan dalam keadaan ini.

“Ibu akan segera kembali. Myne, jangan kemana-mana ya?”

Ibu pergi menjauh dan segera menyelesaikan belanjanya, aku duduk di bawah dan leha-leha sambil memperhatikan dua toko yang sedang menjual dagangan mereka. Jadi ternyata ini adalah musim dimana toko penjual wanita tua itu dapat stok buah baru untuk membuat wine, jadi banyak pembeli yang keluar masuk membeli tong kecil wine darinya.

Dilain sisi, tidak banyak orang yang mengunjungi toko alat-alat ini. Hmm... Aku penasaran alat macam apa yang dipakai produksi oleh orang-orang dunia ini? Aku perhatikan satu per satu dari meja toko yang ada di sekitarku dan aku tidak dapat memahami kegunaan dari alat-alat yang dijual di toko ini, itu lebih dari setengahnya.

Aku menunjuk alat yang ada di depanku dan bertanya kepada pria penjaga toko soal salah satu alat di meja dagang.

“Pak, benda apa iniii?”
“Kau belum pernah pakai itu? Itu adalah alat yang kegunaannya untuk menenun kain. Terus itu ada jebakan untuk berburu.”

Pria itu terlihat sedikit bosan karena sedikit pengunjung pasar yang datang ke tokonya, karena dia menjelaskan cara pakai alat yang ada di tokonya padaku begitu aku tanyakan.

Hampir semua hal yang dianggap normal dalam kehidupan di sini merupakan hal yang tidak aku ketahui. Aku sudah coba cari soal ini dari ingatan Myne, tapi aku tidak menemukan hal yang serupa dengan ini dari ingatannya, mungkin in terjadi karena dia kurang tertarik.

Aku memperhatikan semua alat yang ada di meja dagangnya, mengeluarkan suara kagum karena kegunaan alat-alat itu, dan hingga akhirnya aku melihat pada meja depan toko, dimana aku menemukan kumpulan kertas yang disatukan, itu seperti buku.

Sampulnya bagus sekali, ada lempengan emas yang dipasang di setiap sisi buku. Tingginya sekitar empat puluh centimeter dan terlihat sama seperti buku yang pernah aku lihat di dalam lemari kaca di perpustakaan yang dulu aku kunjungi.

Buku? Um, tunggu, bukankah itu buku? Saat-saat aku menyadari kumpulan kertas itu adalah buku, aku merasa dunia sekitarku jadi berwarna merah jambu. Hatiku penuh dengan cahaya dan aku rasa awan hitam yang mengelilingiku hari-hari sebelumnya telah pergi sepenuhnya dari sisiku.

“Pa-PAK! Itu apa? Benda apa itu?”
“Oh, ini buku.”

... YES! Akhirnya ketemu satu! Satu buku! Ya, hanya satu, tapi ada!  Dalam masa-masa penuh keputusasaanku terhadap fakta ada atau tidak adanya buku di dunia ini, aku akhirnya lihat ada buku di sini. Aku melihat sampul buku itu penuh dengan gemetar dalam hati.

Buku itu cukup besar dan berat dengan dekorasi mewah. Aku tidak akan bisa membawa buku itu dengan tanganku yang lemah. Lalu, itu terlihat sangat mahal, dan aku yakin bahwa ibu tidak akan beli buku itu mau sememohon apapun aku padanya. Tapi jika ada buku di dunia ini, itu berarti ada buku yang lebih kecil dari itu, ada buku yang mudah dibawa kemana-mana.

Aku mengalihkan perhatian dan bertanya pada pria itu dengan penuh usaha.

“Pak, tahu dimana tempat beli buku?”
“Huh, maksudmu tokonya? Tidak ada toko yang berjualan buku.” Pria itu melihatku, merasa aneh dengan pertanyaanku. Semangat yang aku miliki tadi langsung menurun.
“... Um, kenapa bisa ada buku, tapi tidak ada yang jualan buku?”
“Karena untuk satu buku baru, perlu disalin dulu per halamannya. Jadi harganya itu sangat mahal, tidak ada satu penjual pun yang mampu menjual buku. Buku yang kau lihat itu adalah agunan dari bangsawan yang belum bisa melunasi hutangnya, jadi ini bukan barang jualan. Semakin kesini, aku mulai merasa dia tidak akan melunasi hutang itu tepat waktu, jadi ya dalam waktu dekat akan aku jual ini, tapi kembali lagi, hanya bangsawan saja yang tertarik pada barang seperti ini.”

Iiih, dasar bangsawan! Ini berarti aku bisa saja membaca buku jika terlahir sebagai bangsawan, benar begitu? Lantas mengapa dirimu jadikan hamba ini rakyat, wahai dewa dewi? Aku merasa punya niat membunuh pada para bangsawan. Nikmat yang mereka dapatkan itu tidaklah adil, karena bisa hidup berdampingan dengan banyak buku dari lahir.

“Apa ini pertama kalinya kau melihat buku, gadis kecil?”

Aku mengangguk dan mengulanginya lagi tanpa menoleh sedikit pun dari buku itu. Ini adalah pengalaman pertama aku melihat buku asli dunia ini, itu sebanya. Dan karena hanya para bangsawan yang punya buku, ditambah lagi dengan minimnya toko buku, ini mungkin jadi kesempatan terakhir aku melihat buku. Yang artinya!

“Pa-Pak! Saya punya permintaan!”

Aku mengepalkan kedua telapak tanganku erat-erat dan setelah berdiri tegak di hadapannya, aku langsung berlutut sampai bawah.

“Hrm? Kau sedang apa?”

Pria itu membuka matanya dengan lebar karena terkejut karena tindakanku yang tiba-tiba berlutut seperti itu di hadapannya. Apa yang aku lakukan adalah sebuah tindakan paling standar untuk menunjukkan betapa jelas dan tulusnya dirimu dalam meminta. Lalu, berlutut dan sujud adalah bentuk paling akhir dari seseorang yang menunjukkan ketulusannya. Dalam keadaan kepala di atas tanah, aku memberitahu niat terdalamku padanya.

“Saya tahu saya tidak bisa membeli buku itu, tapi kumohon, beri saya izin untuk menyentuhnya. Saya ingin sun pipi berulang kali buku itu. Ingin saya hirup aromanya dan mencium bau tintanya, hanya sekarang saja waktu yang saya miliki sebelum saya pergi!”

Aku sudah memberitahu permintaanku dengan penuh semangat, tapi balasan yang aku dapat hanyalah keheningan. Dia tidak balas satu kata pun padaku.

Aku perlahan menaikkan kepala ke atas dan melihat dia, yang tak aku ketahui kenapa malah berekspresi terkejut dan jijik, pria itu seperti melihat orang aneh seaneh-anehnya dari dekat. Um...? Aku merasa ketulusan yang aku berikan ini tidak tersampaikan padanya.

“A-aku tidak tahu kenapa kau jadi begitu.... tapi rasanya bukan hal yang baik jika aku biarkan kau sentuh buku itu.”
“Ba-bagaimana mungkin!”

Aku coba sekali lagi meminta padanya, tapi sebelum itu terjadi, aku kehabisan waktu.

“Myne, Ibu sudah selesai. Ayo pulang.”

Aku menahan tangisanku begitu mendengar suara Ibu. Di sana ada sebuah buku yang jaraknya cukup dekat tapi belum aku baca. Belum aku sentuh. Aku juga belum mencium aroma tinta buku itu.

“Kamu kenapa? Apa pria itu berbuat sesuatu padamu, Myne?!”
“Ti-tidak, dia orang baik kok!”

Aku secepat mungkin menggeleng-gelengkan kepala begitu melihat Ibu melirik tajam pria itu. Jika tidak segera aku jelaskan kesalahpahaman ini, maka aku akan memberi masalah pada orang baik yang menyelamatkanku dari adegan eksekusi penjual daging, dia ini sudah memberiku tempat untuk menunggu dan memberi info soal buku.

“Kepalaku rasanya aneh. Tadi Ibu meminumkan aku air apa? Aku merasa pusing pas bangun tadi.”
“... Aaah, mungkin stimulan tadi terlalu banyak buatmu. Nanti rasa pusingnya akan hilang setelah kamu minum air dan istirahat yang cukup begitu kita sampai rumah.”

Ibu mengangguk begitu untuk meyakinkan aku, tidak ada rasa salah dari tindakan dia meminumkan alkohol pada anaknya yang masih kecil. Dia menggapai tanganku dan menariknya sedikit, agar aku tahu sudah waktunya pulang.
Aku mengitari dua pemilik toko tadi dan memberi senyum cerah.

“Terima kasih sudah mengizinkan saya menunggu di tempat bapak dan ibu.”

Akan buruk bagi mentalku jika tidak memberi ucapan terima kasih pada mereka. Dari yang aku ketahui di ingatan Myne, menunduk dan berterima kasih bukan hal yang biasa di dunia ini, jadi aku hanya memberi senyum dan lambaian tangan pada mereka. Satu senyuman cukup penting dalam menjalin hubungan yang baik antar manusia. Mereka berdua membalas juga dengan senyuman, jadi aku rasa maksudku tersampaikan.

“Myne, kamu masih merasa pusing?”
“.... Mhmm.”

Kami mengobrol sedikit dalam perjalanan pulang, aku kembali digendong oleh Ibu. Aku melihat kesana-kemari lagi, tapi tidak aku temukan adanya toko buku. Aku punya pemikiran dapat meminta buku bergambar untuk anak-anak agar bisa belajar huruf dunia ini, tapi di akhir hari ini aku tidak mendapat apa-apa.

Aku sekarang tahu tidak ada toko buku. Saat ini aku tinggal di kota yang punya istana dan gerbang batu serta benteng megah, namun tidak ada satu toko buku di dalamnya. Pria tadi bilang buku bukan hal yang layak untuk diperjualbelikan, jadi ada kemungkinan kota ini bukan tempat spesial. Mungkin tidak ada toko buku di dunia ini.

Ini kejam sekali. Aku sangat mencintai buku sampai aku rela tidak makan karena sedang membaca buku, dan sekarang aku diminta hidup di dunia tanpa buku, oleh dewa dewi? Cobaan ini keterlaluan sekali. Meski aku beritahu kepada orang tuaku bahwa aku ingin jadi bangsawan agar aku bisa membaca banyak buku, mereka malah perlakukan aku seperti anak kecil yang punya mimpi besar.

Aku tidak bisa bilang pada mereka bahwa aku tidak mau lahir di keluarga seperti ini. Tapi pada batasan sedikitnya, aku berharap dilahirkan di keluarga yang punya kekayaan yang cukup agar bisa mendapatkan barang-barang dari bangsawan jatuh dan mungkin saja aku bisa dapat buku dari sana. Keadaan keluargaku saat ini sudah sangat buruk sampai aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk melawan. Aku tahu aku tetap tidak akan dapat buku mau sebesar dan berisiknya aku menangis atau marah besar pada mereka. Tanpa adanya toko buku, aku tidak punya cara untuk dapat buku.

... Lalu, apa yang harus aku lakukan jika tidak bisa dapat buku? Ya, pilihan apa lagi yang aku punya selain membuatnya sendiri? Begitu jalan yang dilalui penuh dengan duri, maka dengan duri itu harus tetap terus berjalan. Aku akan dapatkan buku bagaimana pun caranya! Tak akan aku biarkan kehidupan ini mengalahkanku!





TLBajatsu

Kamis, 07 Maret 2024

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 3: Berpetualang Dalam Kota Baru

 Volume 01

Chapter 3: Berpetualang Dalam Kota Baru



Kemarin, aku menangis dan menangis dan menangis. Orang tuaku marah karena aku jatuhkan selimut mereka ke lantai, kemudian waktu makan malam datang, tapi aku tetap terus menangis tanpa merespons perkataan mereka. Begitu pagi hari datang, mata aku merah dan bengkak karena sudah menangis dalam waktu lama. Darah naik ke kepala membuat aku pening.

Tapi panas demamku turun, dan aku tidak merasa lemas seperti sebelumnya. Ditambah, aku merasa lebih baik secara keseluruhan karena kemarin aku luapkan tangisan dalam hatiku. Tapi di pagi ini, tidak ada keluargaku yang tahu cara menawari aku makan.

“Mmm, sepertinya demammu sudah turun.”

Ibu menyentuh dahiku dengan tangan yang terasa dingin, mungkin itu karena dia baru saja mencuci piring. Dia juga perlahan dan lembut menekan mataku. Rasa dinginnya membuatku nyaman.

“Jika kamu merasa baikkan, Myne mau ikut Ibu ke pasar? Hari ini Ibu dapat hari libur.”

Tunggu.... bukankah dia bilang tahun ini adalah tahun yang paling padat jadwalnya sebagai pekerja pewarna kain, kerjaanya sibuk sekali sampai-sampai dia terus melanjutkan kerjanya dan pergi dari sisi aku, anaknya yang sedang sakit?

Ibu menyadari aku bingung karena ucapannya, dia melirik bawah sedikit sedih.

“Tuuli, dia sudah lama sekali tidak dapat kesempatan keluar karena dia mengurusi kamu, dan dia itu sangat khawatir padamu yang terus menangis tanpa henti kemarin. Jadi, kami pikir kamu itu merasa kesepian diam di rumah, jadi Ibu usahakan dan berhasil meyakinkan rekan-rekan kerja ibu untuk memenuhi target tugas Ibu untuk hari ini.”

Begitu aku dengar penjelasannya, aku mengerti. Aku tidak sangka menangis seharian dihadapan banyak orang! Aku ingin menggali lubang dan diam di dalam sana. Bersikap tenang saja tidak akan cukup, apalagi setelah tahu sebegitu memalukannya dirimu di hari sebelumnya.

“U-um, maaf.”
“Tidak usah minta maaf, Myne. Kita semua memang berhati lemah di waktu kita sakit.”

Ibu mengelus-elus kepalaku dengan lembut, dia ingin aku terhibur, tapi semakin baik dirinya maka semakin aku merasa bersalah.

Aku benar-benar, minta maaf. Aku menangis seperti itu karena rasa putus asa karena tidak adanya buku. Aku tidak merasa kesepian tanpa kalian. Tuuli memang sangat mengkhawatirkan aku, tapi yang aku perhatikan darinya adalah langkah dia pergi agar aku bisa mencari buku. Aku sangat meminta maaf.

“Tuuli akan pergi ke hutan bersama anak-anak yang lain, tapi kamu itu masih terlalu lemah untuk jalan kesana. Jadi, apa kamu mau ikut Ibu belanja?”
“Uh mau!”
“Duh, Ibu penasaran dari mana rasa semangatmu itu berasal.”

Ibu tersenyum senang, mengira aku senang bisa menghabiskan waktu bersamanya, dan aku membalas dia dengan senyuman yang lebar.

“Ahaha, Ibu tahu pasti kamu juga senang belanja.”

Karena Ibu terlihat sangat senang aku jadi tidak perlu repot-repot membenarkan kesalahpahaman dia, rasa semangatku ini baru saja menembus atap atas dasar kegembiraanku yang bertemu dengan kesempatan menemukan buku di luar sana.

Aku pastinya akan ikut belanja dengannya dan membuat dia beli satu buku untukku. Aku tidak meminta buku tebal. Mau bagaimana bentuknya, aku ingin suatu hal yang bisa dijadikan sumber belajar cara menulis di dunia ini. Sejujurnya, aku tak masalah menerima buku tugas untuk anak. Jika satu buku saja sudah memberatkan, maka aku masih bisa menerima lembaran yang berisi alfabet atau apapun namanya dunia ini itu.

Aku yakin jika aku bilang, “Aku tidak akan merasa kesepian bila ada buku di sisiku! Aku bisa tinggal seharian di rumah sendirian!” yang aku sebut dengan nada gemas, dia pastinya akan membeli satu atau dua buku bergambar untuk putrinya yang sedang sakit. Eheheh. Aku sudah tidak sabar lagi.

“Baik, Ibu. Aku pergi dulu ya!” ucap Tuuli dengan penuh senyuman lebar selagi dia mengintip ke kamar tidur. Karena Ibu akan tinggal, tidak kerja hari ini, Tuuli tidak perlu mengurusiku seharian ini.
“Tetap berdekatan dengan anak-anak yang lain ya? Hati-hati di jalan.”
“Iyaaaa.”

Tuuli mengenakan keranjang ransel besar yang melebihi pundak, dan dia segera bertolak dari rumah. Dia seperti terlihat pergi untuk main dan senang-senang, tapi dia sebenarnya membantu keluarga pada bagian penting: yaitu mengumpulkan kayu bakar. Dia juga akan kembali membawa kacang-kacangan, jamur-jamur dan hal lainnya yang bisa dia temukan di sana. Mau tanaman yang dia bawa itu bagus atau tidak, biaya makan murah di tiap harinya bergantung dari hasil bawaan Tuuli.

Um... Berjuanglah, Tuuli! Makan siang aku tergantung usahamu!

Dunia yang penuh kemiskinan ini tidak memiliki sekolah, jadi anak-anak pada umumnya membantu urusan keluarga mereka atau bekerja. Atau itulah yang aku ketahui dari ingatan Myne yang tidak menunjukkan adanya sekolah. Begitu anak berumur lebih tua dari Tuuli, mereka mulai bekerja magang di suatu tempat. Jika dapat kesempatan memilih tempatnya, aku akan lebih memilih untuk magang di perpustakaan, atau magang jadi sales buku. Pergi ke pasar akan menjadi kesempatan yang bagus untuk mengumpulkan informasi soal ini. Aku akan cari toko buku terdekat, jadi teman dekat pemilik toko, dan kerja magang di tempatnya.

“Yuk, Myne. Kita pergi belanja.”

Ini adalah kali pertamanya dalam hidupku sebagai Myne untuk pergi meninggalkan rumah dan juga kali pertamanya aku pakai baju selain piama. Pakaian yang aku kenakan sekarang adalah baju lama punya Tuuli dan yang aku pakai terdiri dari banyak lapisan kain tebal. Rasanya aku dibalut pakaian ini dan sulit untuk gerak jalan, tapi meski begitu aku raih telapak Ibu dan mengambil langkah pertamaku keluar rumah.

... Dingin! Sempit! Bau! Ini terjadi mungkin karena bangunan ini terbuat dari batu, jadi angin yang lewat dingin karena hawa dari batunya dan lapisan kain yang aku pakai saja masih kurang untuk menahan suhu dingin ini. Rasanya aku ingin sekali pakai jaket bulu atau sarung tangan hangat. Termasuk masker yang bisa menahan rasa bau tidak sedap dan juga angin dingin masuk ke hidung.

“Myne, hati-hati turunnya agar tidak jatuh.”

Tepat di sebelah kana rumah kami ada tangga turun. Tubuhku berukuran anak usia tiga tahun jadi tiap anak tangga ini sudah membuat aku merasa takut. Sambil dipandu Ibu melangkah maju, aku melompati tangga kayu satu per satu, terdengar suara derak kayu setiap kali kami menuruni anak tangga bangunan ini. Entah kenapa, anak tangga mulai dari lantai dua terbuat dari bayu kokoh.

Kami ini tinggal di bangunan yang sama, kenapa mereka dapat perlakuan spesial? Aku manyunkan bibir, menggembungkan pipi, selagi dalam dan akhir perjalanan turun dari bangunan untuk keluar. Jika hitungan aku benar, apartemen ini punya lima belas lantai dan kami tinggi di lantai tujuh. Jujur saja, bagi orang lemah, kecil dan sakit seperti aku, sudah cukup melelahkan sekali hanya untuk keluar dari rumahku. Sekarang aku tahu alasan dibalik hanya ingatan dalam kamar tidur saja yang aku tahu. Sekarang pun, aku sudah kehabisan nafas dengan berjalan menuruni tangga. Sepertinya aku akan pingsan di tengah jalan menuju tujuan kami.

“Haaaah, haaaah.... Ibu, aku sulit nafas. Tunggu sebentar.”
“Tapi kita baru saja sampai luar. Apa kamu baik-baik saja.”
“Aku hanya perlu.... sedikit, istirahat....”

Selagi aku mengatur nafas, aku mengingatkan diriku lagi untuk tetap sadarkan diri jika ingin sampai di toko buku, aku lihat sekitar untuk mencari tahu keadaan lingkungan warga. Jaraknya tak jauh dari bangunan kami tinggal ada plaza kecil yang ditandai dengan sumur timba di tengahnya. Hanya area sekitar sumur itu yang dipasangi batu, dan aku bisa lihat aktivitas sejumlah wanita-wanita berumur yang sedang mencuci pakaian mereka. Itu sudah pasti sumur yang didatangi Tuuli untuk mendapatkan air yang dipakai mencuci alat makan dan juga sumber air untuk kami setiap hari.

“Ibu gendong kamu di punggung Ibu, Myne.”

Ibu, yang mengambil keputusan jika dia menunggu aku kembali kuat untuk jalan maka kami tidak akan sampai pasar tepat waktu, dengan agak kasar dan cepat dia menggendongku di belakang dan mulai berjalan. Aku sendiri kurang yakin ingat soal ini, karena dia membawa semacam gendongan bayi dipunggungnya, mungkin itu bukti dia sudah terbiasa menggendong Myne kesana kemari.

Di area luar sekitar plaza bersumur itu dikelilingi apartemen tinggi di empat sisinya, ini jadi kompleks perumahan yang kotak, dengan satu jalan yang terhubung ke jalan luar. Setelah melewati jalan, yang sempit dan gang-gang minim pencahayaan, jalan ini akhirnya tembus ke jalan lebar.

Wow! Jalan ini sama seperti yang aku lihat di foto kota-kota Eropa zaman dulu. Pemandangan yang sebelumnya belum pernah aku lihat memenuhi penglihatanku, mulai dari gerobak yang ditarik semacam kuda atau keledai yang saling berpapasan di jalanan lebar tersusun dari bebatuan bulat, di setiap sisi jalan dipenuhi oleh toko-toko. Aku melirik kesana kemari, melihat ke segala arah seperti turis yang sedang mencari tujuan mereka, tujuanku adalah toko buku.

“Ibu, kita belanja ke toko apa?”
“Kamu tanya apa, Myne? Kita itu mau ke pasar. Kita hampir tidak mungkin mampir ke toko-toko itu.”

Dari penjelasan Ibu, kebanyakan toko yang punya petaknya sendiri menjual barang untuk para orang yang berkecukupan tinggi dan jarang sekali ada barang yang bisa kami, rakyat miskin beli. Kami beli sebagian besar kebutuhan pokok kami di pasar utama.

Mmm, itu berarti, toko buku mungkin masuk kategori toko dengan petaknya sendiri? Ibu melanjutkan jalan dan aku terus melihat sekitar untuk menemukan toko buku, tak lama kemudian terlihat bangunan besar yang bisa dibilang bagian penting dari kota. Itu terbuat dari batu putih dan, meski desainnya cukup sederhana, tapi ada semacam kesan agung dari bangunan itu.

“Um, apa itu istana?”
“Bukan, itu kuil. Nanti begitu kamu berusia tujuh tahun, kamu akan dibaptis di sana.”

Ooooh.... itu kuil. Sepertinya aspek kepercayaan agama dianjurkan di sini, yang mana itu menjengkelkan. Aku akan menghindar dari tempat itu sebisa mungkin.

Insting dan pengetahuanku dari kehidupan sebelumnya membuat aku ingin jauh-jauh dari suatu kepercayaan. Aku kurang tahu apa seorang ateis diperlakukan baik atau tidak di dunia ini, jadi aku tutup mulutku soal itu dan melihat tembok yang ada di sekitar kuil itu.

“Ibu, tembok apa itu?”
“Itu benteng milik istana. Di dalam benteng itu ada istana tempat tinggal tuan penguasa dan kediaman para bangsawan. Tapi, bagi kita, itu semua tidak ada hubungannya sama sekali dengan hidup kita.” 

Benteng tinggi dari batu ini terlihat seperti penjara saja, karena yang aku lihat hanyalah tembok pembatas, bukan istana atau kediaman bangsawan. Mungkin memang didesain seperti itu agar para prajurit bisa langsung bersiap bertahan atau melawan jika terjadi keadaan darurat. Tembok putih itu masih berlanjut sampai ke sisi selanjutnya, meski punya desain yang lebih mengedepankan sisi martabatnya tanpa memikirkan sisi keindahannya, tembok ini tidak memiliki kesan kejam atau menakutkan. Ini dibuat seperti memang untuk pemisahan saja, karena akan benar-benar penuh celah jika serangan benar terjadi.

Mmm... bangunan-bangunan ini terlihat sedikit berbeda dengan konsep istana Eropa yang aku lihat di film sejarah dan sejenisnya.

“Nah, Ibu. Kalau tembok yang sebelah sana?”
“Itu tembok bagian luar. Itu jadi pelindung kota. Gerbang selatan adalah tempat Gunther kerja, masih ingat kan?” Aku tahu dari ingatan Myne bahwa ayah kerja sebagai prajurit, tapi aku tidak tahu dia jadi penjaga gerbang masuk kota.

Hm... ada istana yang menjadi tempat tinggal penguasa wilayah ini, lalu ada tembok bagian luar dan dalam. Aku rasa bisa menarik kesimpulan bahwa ini adalah ibu kota? Tapi aku tidak merasa ini adalah kota yang besar, menilai dari panjang tembok itu dan jumlah orang yang berjalan. Tapi aku rasa sebaiknya jangan ambil Tokyo atau Yokohama sebagai skala yang tepat.

Tapi ini akan termasuk kota besar bila dibandingkan dengan kota berbenteng yang aku baca di buku sewaktu aku masih jadi Urano, tapi punya rambut warna hijau atau biru adalah hal yang normal dalam dunia ini, jadi tidak ada keyakinan pengetahuan yang aku miliki sewaktu jadi Urano akan terus akurat. Tapi rasanya agak kurang pas saja jika aku menentukan besar kecilnya suatu kota sebelum aku belajar baik tentang dunia ini.

... Aaah, jika setiap kota punya ukurannya masing-masing, maka sebesar apakah toko buku yang mereka miliki, tapi aku masih tidak mengerti faktor yang menjadikan sebuah kota besar! Apa kota ini besar?! Atau kecil?! Seseorang, tolong beritahu aku!

“Myne, kita harus buru-buru ke pasar. Nanti semua bahan segarnya akan habis begitu kita sampai sana.”

Dalam perjalanan ke pasar, aku melihat sekitar sebisa mungkin dengan harapan menemukan toko buku, tapi hampir keseluruhan toko yang aku temui dari kedua sisi jalan hanya menampilkan plang dan lambang sederhana mengenai toko mereka. Plang itu terbuat dari papan kayu yang diberi gambar, atau dari bahan besi yang sudah dicetak sesuai gambaran toko mereka, tapi dari semua itu aku tidak menemukan suatu hal yang menyerupai huruf. Tapi itu masih hal yang bagus bagiku, orang yang belum bisa baca huruf dunia ini, tapi perasaan hawa dingin mulai menusuk punggungku.

... Tunggu dulu. Um, perasaan aku dari tadi tidak menemukan satu huruf pun setelah berkeliling kota. Apa serendah itukah tingkat kemampuan membaca? Atau jangan bilang dunia ini tidak punya tata cara menulis sama sekali? Gagasan seperti itu membuat aku merasa merinding dingin. Aku tidak sama sekali mengira ada kemungkinan suatu dunia tanpa huruf baca. Tanpa adanya huruf, maka buku tidak mungkin ada.

Kami sampai pasar selagi aku tertegun. Aku meluruskan kepala pada sumber suara ramai pasar dan melihat pada stan berjual yang berjejer panjang, banyak sekali orang yang lewat sana. Ini seperti datang ke festival budaya Jepang yang membuat aku merasa rindu. Aku tanpa disadari tersenyum dan, setelah melihat ke meja dagang berisikan buah, aku menemukan suatu hal yang mengejutkan aku, sampai-sampai aku tarik-tarik pundak Ibu.

“Ibu, lihat itu! Apa yang ada di papan itu?!”

Dalam papan kecil yang menonjol di antara buah-buahan itu ada goresan simbol. Aku tidak bisa membaca itu, tapi setidaknya aku bisa yakin, bahwa itu adalah huruf atau angka atau semacamnya yang ada di dunia ini. Nafsu makanku terhadap huruf saja sudah tinggi sekali, melihat hal simbol kecil seperti itu saja sudah membuat wajahku menyala karena senang sekali.

“Oh, itu harganya. Itu memberitahu kita nominal uang yang perlu kita bayar.”
“Eh, Ibu. Itu dibaca apa?”

Ibu terlihat terkejut setelah melihat betapa semangatnya diriku, tapi aku tidak peduli soal itu. Aku meminta dia untuk membacakan setiap nominal angka yang ada di papan kecil itu, dan aku merasa angka-angka itu berhubungan dengan angka yang aku ketahui. 

Oke, bagus! Terus lanjutkan, penuhi hasratku!

“Oh, jadi ini dibaca tiga puluh Lions?”

Setelah Ibu membacakan berbagai angka kepadaku, aku mencoba membaca sejumlah angka dan menunggu responsnya. Aku pasti membaca itu dengan benar, melihat reaksi dia yang langsung melihat papan itu dan mengedipkan mata berkali-kali.

“Ibu terkejut kamu bisa belajar secepat ini, Myne.”
“Eheh.”

Terdapat sepuluh simbol yang menyerupai angka, jadi aku asumsi sistem angkanya bilangan desimal yang mana mudah dipahami. Aku bersyukur sekali mereka tidak pakai bilangan biner atau bilangan seksagesimal. Aku seharusnya bisa berhitung dengan baik selama aku tidak salah ingat semua simbol itu.

... Eh tunggu dulu, apa aku akan ambil jalan jadi anak jenius? Di usia sepuluh aku jadi anugerah dewa dewi yang diberikan kepada manusia dan di usia lima belas aku akan jadi seorang jenius, tapi begitu aku berusia dua puluh aku jadi manusia biasa. Oh, oke.





TLBajatsu

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 2: Berpetualang Dalam Rumah Baru

 Volume 01

Chapter 2: Berpetualang Dalam Rumah Baru



Tiga hari sudah berlalu sejak aku hidup sebagai Myne. Tiga hari itu sangat penuh kejadian. Aku berhasil selamat dari berbagai macam pertarungan brutal yang tak bisa aku ceritakan tanpa air mata.

Bermula dari usahaku untuk menyelinap turun dari kasur dan coba jalan-jalan dalam rumah untuk mencari buku, tapi aku gagal karena ketahuan oleh Ibu dan langsung segera dipaksa kembali ke atas kasur. Dia benar-benar marah padaku. Aku sudah berulang kali mencoba lepas dari kasur tapi selalu berakhir gagal. Setiap kali gagal dari semua percobaanku. Rintanganku semakin tinggi begitu Ibu mulai langsung bertindak memindahkanku ke kasur tepat di saat dia melihatku! Kecuali aku sedang di kamar mandi.

Pada akhirnya, aku tidak punya kesempatan untuk cari buku. Yang buruk bukan itu saja, meskipun kebebasan yang aku dapatkan hanya bisa pergi ke kamar mandi, itu masih jadi perjuangan sulit yang aku hadapi. Karena ‘kamar mandi’ yang ada di tempat ini hanyalah satu kendi yang di taruh di sisi pojok kamar.

Perkara itu semakin memburuk, karena Myne rupanya tidak bisa buang air sendiri sebelumnya, jadi aku terpaksa buang air sambil diperhatikan oleh satu anggota keluargaku. Mau sebanyak apapun aku berteriak “Aku bisa sendiri! Jangan bantu!”, tidak ada satu dari mereka yang bergerak mundur. Mereka malah marah padaku, dan mempertanyakan jika aku buang air sembarangan.

Aku terpaksa memakai kendi itu sambil menangis, dan percaya atau tidak, Tuuli memuji tindakanku. “Wow, Myne! Kamu mulai terbiasa mandiri. Nanti kamu pasti bisa buang air sendiri,” katanya. Aku bisa memahami ucapan selamat itu karena dia senang adiknya mulai tumbuh mandiri, tapi mulai dari harga diri, kehormatan, dan martabat aku sebagai manusia telah runtuh.

Masih soal itu, isi kendi yang dipakai untuk buang air tadi langsung di buang keluar jendela. Tidak aku sangka sekali.

Berganti baju juga jadi perjuangan keras. Aku berusaha ganti baju sendiri, tapi ayahku, yang tidak aku kenal dengan baik, ambil alih prosesnya dan menggantikan pakaianku. Rasanya malu sekali, aku sampai meneteskan air mata, karena yakin bisa ganti baju sendiri, tapi dia menilai tindakanku tadi sebagai bentuk egois. Benar-benar tidak disangka.

Ayah asliku sudah mati saat aku masih kecil, jadi aku tidak tahu cara berinteraksi dengan seorang ayah. Tapi melihat dari ingatan Myne, aku menyayangi ayahku yang ini, sedangkan aku melihat dia sebagai pria yang tampak kejam dan berotot. Dia benar-benar kuat karena kerjanya jadi prajurit, dan semua perlawananku padanya hancur di hadapan keperkasaannya.

Selama tiga hari aku mengalami kekalahan melawan keluargaku, yang mana membuat hati gadis muda dan rasa malu aku tergerus hancur berkeping-keping.

Aku hanya seorang anak gadis. Keluargaku harus mengurusi aku. Memang itulah yang seharusnya terjadi ... Jika aku tidak berpikir seperti itu, maka aku akan mati! Tapi aku tidak bisa terus-menerus menerima perlakuan ini! Cobaan hidup ini sudah berlebihan! Dan seterusnya, aku berteriak seperti itu dalam kepalaku, tapi itu tidak membantu keadaan yang aku hadapi berkembang baik. Bila aku lari dari rumah, tubuh lemah dan penyakitan milik anak gadis seperti aku ini tidak akan bisa berbuat apa-apa sendiri. Aku pasti akan berakhir lari tidak jelas di jalan berusaha mencari tempat untuk mandi, lalu berteriak aneh melihat orang-orang membuang isi kendi mereka, dan akhirnya aku mati menyedihkan karena kelaparan.

Mungkin apa yang aku sebutkan tadi terdengar seperti aku baru saja mengalami hal yang kurang berguna dan tidak ada hasilnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Aku berhasil mendapat kemenangan kecil. Sebagai contohnya, setelah bertahan cukup lama dengan keadaan tubuhku yang kotor ini, aku berhasil membersihkan diriku dari itu berkat bantuan Tuuli yang mau menerima permintaanku untuk menyekakan tubuhku dengan kain basah yang hangat. Ya, untuk apa lagi coba? Kalau misalnya aku harus buka baju, kenapa tidak aku minta bantuannya untuk menyeka aku sampai bersih? Tapi itu membuat aku melewati rasa malu.

Aku penasaran jika orang dunia ini punya semacam budaya yang membuat mereka tidak saling membersihkan badan. Karena Tuuli terlihat sangat aneh ketika dia setiap kali menyekakan aku, tapi aku merasa nyaman. Air hangat yang ada dalam ember sangat kotor sekali saat pertama kali aku pakai, tapi dari hari ke hari jadi tambah bersih. Tapi meski begitu, kepalaku masih gatal. Aku tahu tidak ada itu di rumah, aku ingin sekali pakai sampo.

Masih ada hal lain yang ingin aku dapatkan juga, itu; tusuk rambut yang dapat membuat rambut kepalaku tetap terikat! Aku minta satu stik kayu agar bisa mengikat rambutku yang panjang dan lurus yang sulit diatur, dan ternyata Tuuli mau memahatkan aku satu stik itu untukku.

Tapi ya, yang pertama aku temukan adalah boneka milik Tuuli dan aku minta izin jika boleh aku patahkan bagian kakinya, yang mana itu membuat dia sedih menangis. Aku merasa tidak enak bertanya itu padanya. Tapi kalau boleh jujur, meski boneka kayu itu dibuat sebaik mungkin oleh tangan Ayah dan baju bagus yang dibuat oleh Ibu, bagiku itu terlihat seperti mainan murah. Sekilas, aku tidak mengira itu adalah barang yang berharga sekali.

Baiklah. Aku gulung rambutku dan diikat sanggul, tapi Tuuli bilang ikat sanggul hanya boleh setelah wanita memasuki usia dewasa, jadi aku buat setengah sanggul saja. Budaya dunia ini benar-benar berbeda.

Aku hanya bisa mengumpat pada diri sendiri setiap hari, jadi yang tersisa sekarang untuk aku lakukan adalah berusaha menjalani semuanya dan meningkatkan apa saja yang bisa aku lakukan. Yang nantinya akan membawakan aku pada banyak buku.

Jalan pertama untuk meningkatkan peluang aku hidup adalah dengan mendapatkan buku. Dengan adanya buku, maka aku tidak keberatan menghabiskan waktu seumur hidup di atas kasur, dan aku bisa mengurusi sisi aspek hidup lain yang lebih keras. Aku bisa dan aku yakin bisa.

Jadi, aku putuskan untuk menjelajahi semua sisi rumahku, setotal totalnya. Aku sudah lama sekali tidak membaca buku jadi penyakit aku mulai kambuh. Aku rasa tidak lama lagi aku akan mulai teriak “Buku, aku mau buku! Waaah!” sambil terisak-isak dan mukul benda yang ada dengan tidak jelas.

“Myne, kamu masih tidur?”

Tuuli membuka pintu dan menonjolkan kepalanya untuk melihat ke dalam kamar. Setelah melihat aku terbaring diam di kasur, dia mengangguk puas.

Sudah lebih dari tiga hari aku berusaha terus menerus turun dari kasur setelah bangun dari tidur untuk mencoba cari buku, jadi baik Ibu dan Tuuli, yang selama ini selalu mengurusiku, dalam posisi penuh pengawasan padaku. Tuuli sangat berusaha sebisa mungkin membuat aku tetap berbaring di kasur seharian, karena dia yang dipercaya untuk mengurusku. Tubuh kecilku tidak berdaya untuk melawan Tuuli, mau sekeras apapun aku mencoba lari darinya.

“Suatu hari nanti, aku akan (naik derajat) dari sini.”
“Tadi kamu bilang apa, Myne?”
“... Mmm? Aku tadi bilang aku sudah tidak sabar tumbuh dewasa.”

Tuuli, tidak menyadari adanya makna lain dari ucapan manis yang aku sebutkan tadi, dia membalas dengan senyum sungkan.

“Kamu pasti akan bertambah besar begitu penyakitmu sembuh. Karena kamu sakit terus jadi jarang makan. Terkadang ada yang menganggapmu tiga tahun padahal sebenarnya kamu itu sudah lima tahun.”
“Kalau kamu berapa tahun, Tuuli?”
“Aku enam tahun, tapi banyak juga mengira aku sudah tujuh atau delapan tahun, aku rasa itu biasa saja.”

Umur kami hanya berbeda satu tahun tapi perbedaannya sudah sejauh ini diantara kami? Sepertinya kenaikan derajatku akan jadi suatu perjuangan yang lebih berat dari perkiraan. Tapi aku tidak akan menyerah. Akan aku bersihkan tempat ini, makan teratur dan mendapatkan kesehatan sesegera mungkin.

“Ibu sedang pergi bekerja, aku mau cuci piring dulu. Jangan turun dari kasur ya? Jangan sampai ya. Kamu tidak akan sembuh-sembuh jika tidak mau tidur, dan jika kamu tidak sembuh maka kamu tidak akan tumbuh.”

Akhir-akhir ini aku pura-pura menjadi anak penurut agar Tuuli lengah dalam mengawasiku, aku diam berbaring menunggu dia pergi dari rumah.

“Mengerti ya, aku pergi dulu. Jadilah penurut ya.”
“Iyaaaa.”

Aku memberi jawaban yang Tuuli inginkan dan dia menutup pintu kamar tidur.

Heh.... ehehheheh....! Ayo, waktunya cepat pergi.

Aku bersabar menunggu Tuuli mengumpulkan alat makan yang akan dia cuci ke dalam keranjang dan membawanya keluar. Aku tidak tahu tempat di mana dia mencuci alat makan kami, tapi yang aku tahu dia akan pergi selama tiga puluh untuk mencuci semua itu. Rumah kami tidak memilik air mengalir, jadi bisa berasumsi bahwa ada sumber air yang melimpah di luar sana. Aku mendengar kunci pintu bersuara dan mendengar baik-baik langkah kaki Tuuli turun ke bawah.

Yeees.... waktunya berburu. Umur Tuuli seharusnya sudah layak untuk menerima satu atau dua buku bergambar yang tersimpan dalam rumah. Aku pasti akan menemukan satu atau dua buku tak lama aku mulai mencari. Sudah pasti ketemu. Tidak mungkin ada keluarga yang tidak memiliki satu buku pun dalam rumah mereka. Aku mungkin tidak bisa membaca buku itu, tapi aku bisa mendapat gambaran kasar apa yang dituliskan dalam buku itu dengan lihat gambar yang ada dalam buku itu dan juga menduga arti dari kata yang muncul.

Begitu suara langkah kaki Tuuli menghilang, sepenuhnya tak aku dengar, aku perlahan turun dari kasur. Aku merasa sedikit tidak nyaman begitu meletakkan telapak kakiku ke lantai, ternyata itu karena lantai ini kotor dan penuh dengan debu. Keluargaku juga yang membuat lantai ini kotor karena alas kaki yang mereka pakai kotor terkena tanah luar, dan rasanya tidak enak saja berjalan di lantai kotor seperti ini tanpa alas kaki, Tuuli sudah mengamankan sepatu kayu punyaku demi mencegah aku jalan-jalan. Aku tidak punya pilihan sekarang.

Tapi ya.... Menemukan buku lebih utama daripada menjaga kakiku tetap bersih.

Kasur yang aku pakai tidur selama berhari-hari agar bisa sembuh dari deman yang tiada tanda menurunnya, punya keranjang yang berisikan banyak mainan anak terbuat dari kayu dan ranting, tapi tidak ada buku di dalamnya.

“Pastinya akan memudahkan aku jika ternyata ada di dalam sini...”

Secara sadar aku merasakan tumpukkan debu terus bertambah di telapak kakiku setiap kali aku melangkah. Memang sudah jadi hal yang biasa untuk keluarga ini memakai sepatu dalam rumah, jadi aku sudah tahu ini dan tidak bisa komplain banyak. Aku tahu ini, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi.

“Ada orang yang bisa membawakan aku sapu dan lap pel, tolong?”

Sudah pasti, tidak ada yang membalas permintaanku, dan sapu atau lap pel juga tidak secara magis muncul entah dari mana.

“Ngggh! Sudah masuk rintangan besar lagi?”

Bagiku, rintangan besar penjelajahan ini bermula dari kamar tidur. Aku bisa menggapai gagang pintu setelah aku rentangan tangan serentang-rentangnya, tapi proses menggerakkan pintu ini lebih sulit dari yang aku kira.

Aku melihat sekitar untuk mencari benda yang bisa aku naiki, dan aku lihat dari kotak besar yang digunakan untuk menyimpan baju aku. “Nmmm...!” Aku pastinya tidak punya masalah memindahkan ini di waktu aku masih jadi Urano, tapi sekarang tanganku itu kecil sekali dan tidak punya cukup kekuatan yang bisa mendorong kotak ini mau sekuat apapun aku mencoba. Aku berpikir untuk memutar balikkan keranjang yang berisikan mainan anak dan coba dinaiki karena aku masih bertubuh kecil, tapi aku masih punya berat badan yang mungkin bisa merusak keranjang itu.

“Aku harus segera tumbuh besar. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa aku lakukan dengan tubuh ini,”

Aku melihat isi kamar lagi dan menilai benda yang bisa aku gerakan, aku putuskan untuk menggunakan selimut yang dipakai orang tuaku sebagai pijakan naik. Aku sendiri tidak mau selimut yang aku pakai menyentuh lantai kotor ini, tapi karena orang tuaku ini sudah terbiasa dengan lingkungan yang kotor ini, aku yakin mereka tidak akan keberatan jika aku manfaatkan selimut mereka. Aku yakin. Um... Aku minta maaf, Ibu. Ayah. Tiada tindakan apapun yang akan menghalangi aku jika menyangkut buku, itu termasuk mendapat amarah dari kalian nanti.

“Oof.”

Aku berhasil menjadikan selimut ini jadi sebuah pijakan dan bisa menggerakkan pintu melalui gagangnya setelah memakai berat badanku sebagai pendorongnya.
Terdengar suara dari pintu terbuka. Yang belok ke arahku.

“Bwuh?!”

Aku menarik gagang pintu ke bawah karena aku tarik dengan berat badanku, dan pintunya terbuka berayun ke arahku. Aku segera melepaskan gagang pintu sebelum mengenai kepala, tapi aku itu sudah terlambat. Aku jatuh ke belakang dan tersungkur balik ke selimut yang aku jadikan pijakkan, sebelum akhirnya aku terduduk di atas lantai. Suara jatuhku cukup terdengar juga.

“Oooow...”

Aku berdiri kembali sambil memegangi kepala, dan melihat sedikit ruang dari celah pintu yang tetap terbuka. Luka di kepala ini jadi luka penghargaan.

Aku menyelipkan jari di celah pintu yang terbuka dan mendorong pintu itu sampai terbuka dan menutupi setengah jalan masuk, itu membuat selimut orang tuaku ikut tergeser. Terlihat sedikit bagian lantai yang jadi lebih bersih dari sebelumnya, tapi aku anggap aku tidak melihat itu terjadi. Aku tidak sengaja menjadikan selimut ini jadi kotor sekali.

Aku... aku minta maaf.

“Oh, aku di dapur.”

Aku meninggalkan kamar tidur dan melihat dapur tepat di sebelah kanan kamar. Tapi, dapur ini tidak begitu lengkap peralatan untuk bisa dipanggil dapur memadai. Yang disediakan dapur ini adalah tempat untuk memasak sesuai keinginan, tapi aku mungkin tidak akan mau memasak.

Ada meja kecil di tengah ruangan berserta tempat duduknya yang terdiri dari dua kursi tiga kaki dan peti kayu panjang. Di sebelah kanan ada lemari dengan pintu penutup, mungkin di sana tempat alat makan di simpan. Di tembok paling dekat dengan kamar tidur ada gantungan besi dan tergantung di sana kuali besi, centong dan wajan. Ada perapian juga di dekat sana yang mungkin digunakan sebagai tungku masak. Ada tali panjang yang terhubung dengan dua tembok, dan ada kain kotor yang digantung di sana, kain itu terlihat sangat kotor sampai-sampai yang disentuh kain itu akan semakin kotor.

“Iiiiih. Rasanya sekarang aku tahu kenapa aku sering sakit.”

Di sisi lain yang berseberangan dengan perapian itu ada tong air besar dan tempat seperti untuk cuci tangan. Seperti yang aku duga, tidak ada sumber air mengalir di rumah. Lalu, ada keranjang besar di sebelahnya yang didalamnya terdapat kentang, bawang dan bahan mentah lainnya. Ada banyak sekali bahan pangan di sana yang tidak aku ketahui, jadi bisa ada kemungkinan kentang yang aku lihat bukan kentang ternyata.

“Hm? Buah ini.... seperti alpukat. Aku ingin tahu apa bisa aku dapat minyak dari buah ini?”

Aku melihat buah-buah yang aku temukan dan menemukan satu jenis buah yang menarik perhatianku. Jika aku bisa dapat minyak dari buah ini, mungkin aku bisa mendapat suatu solusi yang dapat mengatasi gatal di kepalaku.

Ibu di waktu aku masih hidup sebagai Urano, dia punya semacam hobi yang membuatnya melakukan hal acak dan aneh, itu terus berganti juga. Dia bisa aku gambarkan sebagai orang yang penuh rasa penasaran pada hal ganjil. Dia bertindak dan berpacu pada hal yang dia ketahui di hari itu: Acara TV mengenai tata cara berhemat pengeluaran, majalah tentang hidup mandiri di alam, acara luar negeri yang berfokus pada aktivitas budaya mereka, dan apapun itu. Dia selalu saja menarik-narik aku untuk ikut serta, dia jelaskan “ingin aku punya hal lain yang diminati selain buku,” tapi aku tahu bahwa dirinya sendirilah yang berminat belajar itu. Aku tidak ada pilihan lain, jadi aku selalu mengikuti acara itu bersama dia, dan berkat tindakannya itu, aku mungkin saja bisa membuat sampo secara mandiri dengan ilmu yang aku dapatkan itu.

Terima kasih, Ibu. Aku rasa aku mungkin bisa bertahan hidup di sini. Aku mendapat rasa percaya diri dengan temuan tadi, lalu aku lihat sekitar ruangan lagi dan melihat ada dua pintu lain, pintu ini tidak ada hubungannya dengan pintu ke kamar tidur.

“Eheh. Ke kiri atau kanan, manakah yang ada untungnya?”

Dapur tadi sama sekali tidak memiliki tempat untuk rak buku. Aku pilih salah satu pintu dan membukanya ke arah depan.

“Mmm, ini gudang barang? Aku rasa bukan di sini tempatnya.”

Ruangan ini dipenuhi dengan barang yang tidak aku ketahui cara pakainya. Ada rak yang penuh dengan barang, tapi itu penuh sekali dan tidak terlihat seperti bukan tempatnya rak buku berada.

Aku menyerah cari di sana dan beralih ke pintu yang satunya lagi. Ada suara hantaman besi ketika aku tarik ke dalam, itu pertanda pintu ini dikunci. Aku coba berulang kali menariknya namun tidak membuahkan hasil. Pintu ini tidak mau terbuka.

“... Tunggu. Ini pintu yang dikunci Tuuli sebelum dia pergi? Berati sudah semua ruangan aku jelajahi?”

Jika ini adalah pintu untuk keluar, maka rumah kami tidak punya bak mandi, tempat buang air, air mengalir, dan rak buku. Tidak aku temukan sama sekali. Mau sekeras apapun aku lihat, tidak ada ruangan lain lagi.

... Um, dewa dewi, adakah Anda sekalian membenci saya? Jika ini candaan, maka sudah keterlaluan? Saya minta dilahirkan kembali agar bisa membaca buku lagi setelah mati. Saya tidak minta dikirimkan ke dunia lain dengan ingatan saya dari Jepang dan ingatan tambahan ini, tidak saya minta dipaksa tinggal di rumah tanpa bak mandi, tempat buang air dan sumber air. Saya kira dengan pasti, Anda-Anda sekalian akan mengirimkan saya ke dunia yang penuh dengan buku-buku.

“.... Jangan-jangan, buku sangat mahal sekali di sini?”

Berdasarkan sejarah yang aku pelajari, sebelum ditemukannya mesin cetak yang menuntun terjadinya produksi masal buku, harga buku saat itu sangatlah mahal. Bagi orang-orang yang tidak lahir sebagai bangsawan atau keluarga kaya maka tidak ada satu kali pun kesempatan bagi mereka untuk membaca buku. Yang mana ini jadi dasar kemungkinan tidak adanya budaya untuk memberi hadiah buku bergambar pada anak tetangga yang sedang ulang tahun.

“Ngh, baiklah. Mungkin aku bisa cari satu atau dua kata tulis.”

Aku tidak sepenuhnya perlu buku agar bisa belajar tata cara dunia ini menulis kata-kata jadi kalimat. Poster, koran berita, panduan penggunaan barang, kalender, dan hal-hal semacam itu bisanya ada tulisan kata. Atau itulah yang terjadi di Jepang.

“.... Tidak ada. Tidak ada satu kata pun yang tertulis! Tidak ada!”

Aku sudah berjalan di setiap ruangan dan mencari di setiap rak dan lemari yang aku temukan, tapi yang aku temukan bukanlah buku, aku bahkan tidak menemukan satu benda pun yang ada hurufnya. Aku tidak dapat menemukan surat atau kertas.

“Kok bisa ini terjadi?”

Kepalaku mulai sakit, seperti panas demam yang tiba-tiba keluar entah dari mana. Jantungku terasa berdebar-debar dan aku rasa akan segera teriak keras, aliran peredaran darahku terasa sempit. Aku terjatuh seperti boneka yang benang kendalinya diputus. Mata aku terasa terbakar dari dalam.

Ya, oke, aku sudah pernah tertimpa banyak buku. Itu sudah tidak ada gunanya dibahas. Karena itu memang yang aku impikan untuk terkubur banyak buku. Aku sudah berdamai dengan itu. Dan benar aku yang minta direinkarnasikan. Aku mengerti semua itu.

... Tapi, ketahuilah, tidak ada satu buku pun di sini. Tidak ada satu kata yang tertulis juga. Termasuk kertas tidak ada! Benarkah aku bisa hidup dan tinggal di tempat seperti ini? Apa aku punya tujuan untuk melanjutkan hidup?

Tetesan air mata mengalir di pipi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku bahwa akan ada dunia tanpa buku. Hal semacam itu tidak pernah aku bayangkan terjadi padaku. Dan lihat sekarang apa yang menimpa aku. Aku tidak bisa memikirkan satu tujuan pun yang bisa aku jadikan patokan agar menjalani hidup sebagai Myne di dunia ini, bagian dalamku terasa hampa. Aku tidak bisa berhenti menangis.

“Myne! Kenapa kamu turun dari kasur?! Jangan jalan-jalan tanpa sepatu!”

Hingga akhirnya Tuuli sampai rumah, dia meneriaki aku dengan mata melotot karena marah padaku yang dia temukan diam di lantai dapur.

“... Tuuli, tidak ada (buku)?”
“Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?”
“Tuuli, aku ingin (buku). Aku ingin baca (buku). Aku ingin sekali baca, tapi tidak ada (buku) di sini.”

Tuuli mencoba memanggilku karena khawatir, saat itu aku sedang meneteskan banyak air mata yang mengalir deras di pipiku. Tapi dia ini sudah terbiasa dengan dunia tanpa buku. Dia tidak mungkin memahami penderitaan yang aku sampaikan padanya.

... Adakah orang yang paham rasa penderitaanku? Adakah orang yang tahu tempat aku bisa dapat buku? Siapapun, tolonglah aku. Aku mohon.





TLBajatsu