Tampilkan postingan dengan label Honzuki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Honzuki. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2024

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 13: Membantu Otto

 Volume 01

Chapter 13: Membantu Otto



Kegiatan pagi hari yang cerah bagi orang kota ini selama musim dingin adalah memanen buah parue. Ayah menemani Tuuli  pergi bersama karena sebelumnya Ayah sedang libur, tapi kali ini dia ada jadwal kerja.

Aku kira kali ini kami memang harus menyerah memanen buah itu, tapi pikiranku berubah begitu melihat Ibu mengambil mantelnya.

“Ibu akan menemani Tuuli hari ini.”

Ada banyak sekali cara mengolah buah parue dan keluarga kami ingin sekali memanen buah parue sebanyak mungkin. Karena aku ini memang tidak berguna dalam hal urusan dunia luar, aku ingin memberi dorongan pada mereka secara emosional.

Semoga berhasil, Tuuli! Kamu pasti bisa! Ibu juga, aku percaya Ibu pasti bisa!

Ada masalah yang harus ditangani dengan perginya Ibu menemani Tuuli ke hutan, hal itu adalah aku, aku harus bagaimana selama mereka pergi. Aku tidak berdaya, mudah sakit, dan mudahnya aku ini beban hidup. Mereka pastinya tidak akan membawaku ke hutan karena sudah tahu pasti aku akan berakhir kena demam begitu pulang. Tapi mereka juga tidak bisa meninggalkanku sendirian, mereka juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika ditinggal sendiri di rumah. Aku kurang suka mendengar pendapat itu dari mereka, tapi jujur saja, mereka tidaklah salah soal itu.

Ayah, tenggelam dalam pemikiran untuk mencari solusi selagi dia bersiap untuk kerja, kemudian dia bertepuk tangan.

“... Oh benar juga! Myne, bagaimana kalau kamu menunggu saja di gerbang bersamaku?”

Ayah akan membawaku ke gerbang. Ibu dan Tuuli akan pergi ke hutan untuk memanen buah parue. Saat waktunya pulang, mereka berdua akan menjemputku di gerbang dan kami akan pulang ke rumah bersama. Kami bisa mendapat buah parue dan aku tidak akan ditinggal di rumah sendirian. Solusi bagi kami semua.

“Iya, ide yang bagus. Oke, Tuuli. Biar Gunther saja yang mengurusi Myne.”
“Iya! Sampai nanti, Myne.”

Ibu, memberi pujian atas ide Ayah, lalu dia segera mempersiapkan segala kebutuhannya di luar sana dan pergi dengan Tuuli ke hutan. Supaya bisa memanen buah parue, mereka harus bergegas pergi karena hanya ada waktu sebelum siang datang.

“Oke, sudah siap untuk pergi? Gerbang menunggu kita.”

Yaaa.... ini akan menjadi perubahan yang bagus, dari yang biasanya aku di rumah. Dan Otto bisa mengajariku huruf baru itu pun jika dia ada di gerbang.....

Sebenarnya, aku sudah bosan menghabiskan waktu seharian di rumah. Aku telah gagal membuat kertas papyrus, kegiatan yang bisa aku lakukan di rumah hanya menulis di papan atau membuat keranjang. Tidak pernah dalam hidupku akan ada waktu luang yang banyak ini. Buku saja yang bisa menemani dan penyelamatku dari kebosanan.

Tanpa disadari, lagu “Haru yo, Koi” (Musim Semi, datanglah) telah tersetel berulang kali dalam kepalaku. Semakin cepat musim semi datang, semakin cepat aku bisa pergi keluar dan membuat tablet tanah liat. Untuk hal itu terwujud, aku berlatih setiap pagi untuk membangun stamina yang cukup agar aku bisa bertahan lama di luar sana.

Keluargaku melirik aneh padaku, aku pribadi tahu kalau misalnya ingin punya tubuh yang fit dan bugar itu perlu penuh tekad, yang harus dilakukan secara sedikit-sedikit dan dari hari ke hari. Namun perlu kalian ketahui, hidupku selama jadi Urano tidak berlangsung secara sehat, latihan fisik biasa saja tidak aku ketahui. Yang aku lakukan hanya sebatas peregangan saja.

“Ayah, apa Otto ada di gerbang?”
“Iya, aku rasa dia ada jadwal.”
“Yes! Aku mau bawa papan kapurku.”

Kalau begitu, menunggu di gerbang nanti akan menyenangkan.

Aku segera mempersiapkan diri, yang pasti penting adalah papan kapur.

Setelah memakai banyak kain lapis yang ditumpuk lagi dengan mantel, aku ambil tote bag dari kayu yang aku buat selama musim dingin lalu aku memasukkan papan kapurku ke dalam sana, dan juga kapurnya. Persiapanku selesai.

“Ayo pergi, Ayah!”
“... Myne, sesuka itu kamu pada Otto?”
“Uh iyah, aku suka sekali padanya.”

Ya karena apalagi, dia adalah guruku (itulah yang aku putuskan tanpa mengutarakannya), dan dia yang memberiku papan kapur ini. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?

Kami meninggalkan rumah dan cukup waktu satu setengah detik aku langsung tersadar dengan udara luar yang dingin ini. Hanya sedikit hembusan angin sudah membuat kulit mengerut dan ada rasa sedikit sakit. Raut wajahku juga ikut mengerut dan membuat aku, yang mana seorang ratu kemalasan, langsung melahirkan ide untuk mengolah minyak buah parue menjadi salep pelembap kulit.

“Bwuh! Dingin sekali!”

Aku tidak berjalan sendiri karena tumpukkan salju yang tinggi. Ada cara agar bisa berjalan melewati tumpukkan salju tinggi ini, tapi aku tidak hidup di lingkungan bersalju sebelumnya, aku tidak tahu caranya.

Hanya perlu dua langkah saja bagi kaki kecilku yang pendek ini tertahan di gunukkan salju, menyatakan aku tidak bisa berpindah dari sini. Takdirku sudah ditentukan. Masa depanku, tidak ada. Aku hanya bisa meneriakkan suara untuk mencari bantuan, berharap ada orang yang datang untuk menolongku.

“Ayah! Bagaimana caranya agar bisa berjalan melewati salju?”
“.... Sudah terjebak lagi. Pegangan yang erat supaya tidak jatuh.”

Aku merenggangkan lenganku untuk menjaga keseimbanganku, kedua kakiku terjebak di dalam salju, sedangkan Ayah berbalik dan berjalan kembali dengan ekspresi sedikit kesal di wajahnya. Dia menempatkan tote bag punyaku ke sekitar lehernya lalu dia menempatkan masing-masing tanganku ke bawah lenganku untuk mengangkatku ke atas lalu mengistirahatkanku di pundaknya.

“Woooow! Tinggi sekali. Bagus sekali.”

Pemandangan yang aku lihat bertambah tinggi lagi, lebih tinggi dari waktu Ralph menggendongku. Meski tiba-tiba dinaikkan dan aku tidak merasa takut adalah karena pundak Ayah, pundaknya itu lebar dan membidang berkat tugasnya sebagai prajurit. Aku bisa dengan tenang duduk santai tanpa merasa takut.

Waktu aku masih jadi Urano, sedikit sekali aku berinteraksi dengan ayahku, meski tidak banyak tapi aku masih ingat mengenai dirinya. Dia pernah menggendongku, itu waktu kami pergi melihat pohon sakura mekar.

“Pegangan yang kuat ya?”

Mungkin karena sudah lama sekali aku tidak digendong pundak, detak jantungku sedikit berdetak lebih cepat. Aku berpegangan ke kepala Ayah, setelah itu dia lanjut berjalan melewati salju. Gang yang terhubung ke jalan utama belum dibersihkan dari salju, jadi dia secara pelan-pelan menginjakkan kaki pada jejak kaki orang yang sebelumnya lewat hingga akhirnya kami sampai di jalan utama dan berjalan seperti biasanya.

“Myne, perlu kamu ketahui, Otto itu sudah menikah,” kata Ayah, menghancurkan suasana sepi dengan topik pembicaraan yang tidak aku duga.

Um... Jadi apa? Apa aku pernah bilang ingin menikahi Otto? Aku rasa tidak pernah aku berkata itu. Aku tidak pernah bilang juga ingin menikahi seseorang.

“Ummmm... Lalu?”
“Dia hanya memikirkan istrinya saja, mengerti?”

Niat apa sebenarnya yang ingin kau capai dari menghentikan anak perempuan lima tahun yang punya pemikirannya sendiri? Biarpun aku suka Otto dalam hal itu, dia pastinya tidak akan punya waktu untuk melirik anak umur lima tahun. Kamu lagi bertingkah bodoh saja, Ayah.

Bagaimana pun jadinya setelah aku tahu apa yang dipikirkan Ayah, aku tetap diam. Dia lagi jadi orang yang merepotkan dan pastinya aku tidak akan memberinya hadiah atas tingkah merajuknya itu dengan perkataan “Ayah itu lebih hebat darinya!” atau “Aku lebih menyukaimu, Ayah!”.

“Jadi, Otto itu orang yang luar biasa karena dia perlakukan istrinya dengan baik?”
“.... Bukan.”

Perkataan itu membuat Ayah lebih murung lagi sampai dia terus diam sampai kami tiba di gerbang.

Hingga akhirnya, di atas pundak Ayah yang paling sensitif di dunia, aku sampai di gerbang.

“Selamat pagi.”

Karena kebiasaan aku menundukkan kepala pada orang yang jaga gerbang. Mereka melihatku sebentar, membuatku ingat soal tidak adanya kebiasaan menundukkan kepala di dunia ini. Atau mereka hanya sedikit terkejut saja melihat aku ada di pundak Ayah.

“Ini Myne, putriku. Istriku akan datang menjemputnya nanti setelah selesai memanen buah parue. Sampai saat itu, dia akan menunggu di ruang istirahat jaga malam.”
“Baik, mengerti.”
“Sudah dengar itu, Myne? Otto harusnya ada di ruang itu. Sama-sama.”

Oof.... Rupanya Ayah agak kesal. Tunggu, jangan-jangan Ayah akan bersikap tidak baik pada Otto karena cemburu? Apa ini awal dari hancurnya hubungan erat antar manusia?

“Um, uh, aku hanya senang bisa belajar huruf dan kata-kata baru dari Otto.”
“Kenapa harus Otto?”

Aduh... Maaf, Otto. Aku sudah coba membelamu tapi rasanya yang terjadi malah membuatmu semakin dalam keadaan buruk. Aku tidak tahu kenapa Ayah sangat cemburu padanya. Aku itu hanya sudah tidak sabar belajar darinya. Saat waktu seperti ini saja aku tidak tahu banyak soal hubungan baik antar ayah dan putrinya.

“Aku masuk.”

Ayah mengetuk pelan pintu dan masuk ke dalam ruangan.

Ruang istirahat jaga malam punya perapian yang menyala dan ada lampu minyak tanah di setiap sisi, membuat ruangan ini punya pencahayaan yang lebih baik dari rumah kami. Meja ruangan ini lebih dekat dengan perapian dan Otto sedang kerja, menuliskan sesuatu pada dokumen di atas meja.

“Otto.”
“Kapten.... ada Myne juga? Ada keperluan apa?”
“Dia akan diam di sini sampai jam panen parue habis. Jaga dia baik-baik.”

Ayah menginstruksikan itu dengan jelas, langsung ke inti tugas, dan dia menurunkanku.

Tugas mengurusiku yang datang secara tiba-tiba ini membuat Otto terkejut, dan dia melihat Ayah dan dokumen yang sedang diisinya dengan wajah kesulitan.

“Huh? Er, tapi.... saya sedang sibuk membuat laporan keuangan, perumusan dana kebutuhan, dan....”
“Myne. Di sini hangat. Jangan sampai kena demam.”

Ayah pergi, mengabaikan Otto sepenuhnya.

Aku memberinya lambaian tangan dan berbalik ke arah Otto.

“Maaf atas sikapnya, Pak Otto. Ini terjadi karena, ya, papan kapur yang kamu berikan membuatku senang, dan bertemu denganmu lagi membuat aku lebih senang lagi hari ini.”
“Aku senang mendengar itu. Senang bertemu lagi, Myne, tapi eh...” Otto memberi tawa canggung dan melanjutkan kalimatnya, “Tapi tidak usah sampai minta maaf, bukan?” dengan ekspresi bingung.
“Jadi begini, aku sering sekali memuji kehebatanmu di depan Ayah, dan itu membuat dia cemburu....”
“....Aaaaah.”
“Tapi, maukah kamu mengajariku huruf baru? Selama itu, aku akan diam sampai Ibu datang menjemputku, aku juga tidak akan ganggu kerjamu.”

Aku bisa menilai dari perkamen dan wadah tinta di atas meja ini, bahwa dia itu sedang mengerjakan tugas administrasi. Aku tidak berniat untuk mengganggu kerjanya, tapi aku juga tidak berniat kehilangan kesempatan belajar huruf baru.

“Ok, boleh. Rasanya aku punya perasaan niat sebenarnya yang kamu bawa kemari adalah duduk diam dan belajar, Myne,” gumam Otto sambil mengambil papan kapurku dan menuliskan sesuatu ke dalamnya.

Sistem menulis di dunia ini seperti sistem tulis alfabet Inggris. Tidak ada huruf suku kata seperti hiragana, atau huruf logo seperti kanji. Huruf yang dituliskan punya suara dan maknanya tersendiri. Ejaan yang tepat adalah cara baca dan tulisnya.

Otto percaya sepenuhnya pada niatku untuk belajar dengan tekun karena aku sudah sering dan lama menuliskan sesuatu di atas papan kapur ini sejak aku diberi ini olehnya.

“Myne. Kita pastinya tidak mau kamu kena demam dan membuat mood kapten semakin turun lagi, jadi kemarilah, duduk di sebelah aku.”

Otto memberi senyum bermasalah dan sedikit bergeser, membuka lebih banyak ruang dekat perapian.

Aku sepenuhnya setuju dengan penilaiannya dan duduk di sebelah dia yang duduk dekat perapian tanpa memikirkan keraguan yang tidak perlu.

“Terima kasih. Belajarnya jadi lebih mudah sekarang.”

Untuk sementara waktu, ruangan ini dipenuhi dengan suara dari gesekan kapur, deru api yang menyala-nyala, dan pena tinta yang berselancar di atas perkamen. Setelah aku ingat huruf-huruf yang diajarkan, aku rasa sudah hampir ingat sepenuhnya, aku angkat kepala ke atas dan melihat Otto yang sedang memperhatikan isi dalam perkamen itu dengan serius, dia hitung angka-angka itu dengan wajah serius.

Ada alat hitung seperti sempoa yang dia pakai disebelahnya, aku tidak tahu cara pakainya hanya dari melihat dia menggunakan itu. Sebelumnya aku juga pernah pakai sempoa waktu sekolah dasar melakukan hitungan pertambahan dan pengurangan, meski begitu jika cara pakainya sama seperti orang Jepang pakai sempoa, aku masih tidak tahu cara pakai sepenuhnya.

Aku tunggu sampai dia menyelesaikan baris yang sedang dihitung sebelum aku mengajak bicara dia.

“Pak Otto, sedang mengerjakan apa?”
“Ini menghitung laporan keuangan dan melakukan perhitungan dana. Selama musim dingin ini kami diminta untuk merencanakan pendanaan tahun depan dan ini harus dikirimkan sebelum musim semi, tapi kebanyakan prajurit tidak pandai berhitung. Aku satu-satunya yang pernah mengurusi keuangan, jadi aku yang ditugasi untuk membuat laporan keuangan dan pendanaan selanjutnya.”
“Jadi kamu diberi tugas berat itu oleh mereka?”

Aku melihat isi perkamen, aku memang tidak bisa membaca kata yang tertulis disana, tapi ada tiga baris kalimat bertumpuk yang disebelahnya itu ada angka. Jika aku tebak, angka pertama untuk harga dari barang, angka kedua untuk jumlah barang yang perlu disiapkan, dan yang angka ketiga adalah jumlah harga dana yang diperlukan. Sepertinya angka pertama dan kedua itu dikalikan dan hasilnya adalah angka ketiga, jadi aku rasa sudah benar tebakan aku tadi.

Aku perhatikan isi perkamen, pada bagian yang aku rasa itu untuk permintaan alat baru, lalu aku menemukan salah hitung.

“Ini. Pak Otto, bukankah ini salah?”
“Apa?”
“Ini kan 75 dan 30, bukan? Aku yakin hasilnya jadi 2,250.”

Memang hanya bagian angka yang bisa aku baca, tapi aku tidak tahu perkalian disebut apa dalam dunia ini dan jadinya penjelasan aku mungkin agak kurang jelas baginya, tapi kelihatannya Otto mengerti apa maksudku.

“Sebentar, apa? Kamu bisa berhitung tapi tidak bisa membaca?”
“Eeheh. Ibu mengajariku cara membaca angka di pasar. Aku bisa lihat angka-angka di sana dan menghitungnya, tapi aku tidak bisa membaca apa kalimat yang tertulis di sana.”

Setelah mendengar aku tidak bisa membaca kalimat yang tertulis dalam perkamen, Otto tenggelam dalam pikiran. Aku bisa dengar dia berguam pada dirinya sendiri, “Jangan, aku sebaiknya tidak... Tapi.... “ secara berulang-ulang. “... Myne, aku akan menelan harga diriku demi meminta darimu. Maukah kamu membantuku?”

Um... apa ini tawaran yang sebaiknya aku terima? Sederhananya, mari singkirkan dulu masalah soal informasi penting yang harus dirahasiakan, pasti bukan hal yang baik untuk meminta bantuan dari anak kecil? Aku rasa dia sedang kesulitan besar yang sampai membuatnya menerima siapapun orangnya selama orang itu bisa berhitung, termasuk anak kecil?

Tadi dia bilang “akan menelan harga dirinya,” jadi bisa aku tebak bukan suatu hal yang normal untuk meminta bantuan dari anak kecil. Dan aku ingin membantunya, jika dia benar-benar dalam masalah dan butuh bantuan. Apalagi ketika aku ada perlu juga sama dia. Ini sepertinya cocok untuk dijadikan bahan negosiasi.

“Oke, aku bisa membantu. Tapi jika kamu mau terus mengajariku huruf dan memberiku pengganti kapurku jika sudah habis.”

“Apa?”

Dia mungkin tidak mengira gadis kecil akan mengeluarkan syarat dan ketentuan secara tiba-tiba begini. Matanya terbuka lebar.

Sedikit tersenyum atas reaksinya yang mudah aku prediksi, aku lanjut berbicara memberitahu alasan dibalik itu.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku tahu cara baca angka karena Ibu yang mengajariku. Tapi aku tidak tahu cara baca huruf. Aku ingin kamu mengajariku semua itu.”
“Aku mengerti dan bisa soal itu, tapi.... kenapa minta kapur? Harga kapur tidak terlalu mahal, bukan?” Otto benar soal itu, harga jual kapur tidak mahal di pasar.
“Ibu dan Ayah dulu sering membelikanku itu, tapi sekarang mereka tidak mau, jadi....”
“Kenapa mereka jadi tidak mau?”
“Aku gunakan kapur itu seharian. Jadi mau sebanyak apa kapur yang mereka belikan untukku, aku pasti butuh lebih.”
“Ahahahahahah....”

Penggunaan kapur dalam hitungan jam sudah cukup membuatnya habis. Karena aku tidak dapat bayaran uang, bisa dibilang punya suplai kapur yang stabil sudah seperti hidup dan mati.

“I-intinya! Aku bukan gadis yang bisa diperintah harga murah.”
“.... Bagiku itu bayaran yang kamu tawarkan itu murah, tapi boleh.”

Otto memberiku senyum masam dan sepakat secara resmi untuk menjadi guru aku.

“Aku harus apa?”
“Bisa kamu pastikan tidak ada salah hitung dalam kalkulasi ini? Simpelnya, aku tidak tahu dibagian mana yang salah hitung, dan akan memakan waktu lama kalau aku cek satu per satu.”

Rupanya dia sedang memeriksa hasil kerja yang dibuat oleh orang lain. Sudah jelas dari tidak adanya komputer di dunia ini, hitungan kalkulasi yang dihadirkan ini sudah dikerjakan dalam waktu lama dan proses pengecekannya dilakukan secara manual.

“Sepertinya kamu perlu prajurit yang pandai berhitung.”
“... Bagus kalau misalnya ada, tapi alasan aku dipekerjakan di sini karena aku berpengalaman dalam hal ini....”

Kedengarannya ada alasan dalam dibalik mengapa Otto kerja jadi prajurit. Sebagai orang yang penasaran, aku gatal sekali untuk bertanya lebih detail, tapi karena kerjaan yang dimiliki sangatlah banyak jadi aku urungkan dulu rasa ingin tahu dan bertanya nanti.

“Myne, kamu mau pakai kalkulator?”
“Aku tidak tahu cara pakainya, jadi aku cukup pakai papan ini saja.”

Kapur mudah digunakan di atas kertas untuk berhitung karena itu semua bisa dihapuskan.

Aku melakukan perhitungan di papan kapur dan membantu dia dalam proses pengecekan. Angka dunia ini sudah sepenuhnya aku ingat dan memikirkan angka satu sampai sembilan dalam bentuk simbol sudah mudah aku lakukan. Menuliskannya juga mudah.


“Ya ampun, ternyata semudah ini. Luar biasa, Myne, aku jadi punya hutang waktu padamu. Aku tidak mengira akan sesingkat ini aku bisa menyelesaikan pengecekan dana. Kalau kamu sehebat itu dalam matematika, Myne, kamu bisa jadi pedagang yang hebat. Aku bisa kenalkan kamu ke Serikat Dagang kalau misalnya kamu tertarik.”

Rupanya Otto telah mengaudit semua ini sendirian dalam periode yang lama, bantuan yang dia terima dariku ini sangat menolong dirinya.

Aku mungkin akan membuka toko buku begitu tahu cara produksi massal buku. Mendapat koneksi dengan Serikat Dadang sekarang mungkin akan terbayarkan nanti. Ditambah, sepertinya Otto sudah menjadikan aku sebagai penolong besar. Sempurna.

“Myne, jika kamu memang ingin sekali belajar baca tulis, maka aku akan serius mengajarimu itu. Dengan begitu, kamu bisa membantu aku mengurusi laporan tulis di tahun depan nanti.”
“Sungguh!? Yess!”
“Huh? Apa ada yang bagus dari hal itu?” Otto berkedip terkejut, ya apalagi yang membuatku senang sekali selain dia setuju untuk mengajariku baca tulis dengan serius?

Masih ada satu hal lagi, membantu menyelesaikan laporan tulis berarti menyentuh perkamen, benar begitu? Itu artinya menulis dengan tinta, iya kan? Itu terdengar sangat luar bisa dari pendapat aku!



PREVIOUS CHAPTER     ToC    NEXT CHAPTER


TL: Bajatsu

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 12: Rasa Manis dari Musim Dingin

 Volume 01

Chapter 12: Rasa Manis dari Musim Dingin



“Ah cerah! Ayah, cuacanya cerah! Cepat, bangun! Myne!”

Suara semangat Tuuli bergema memasuki kamar tidur yang gelap ini dan segera membuat aku terkejut bangun.

Turun salju beberapa hari yang lalu sangat lebat, tapi begitu aku bangun dari tidur, aku melihat samar-samar sinar matahari yang melintas dari cela jendela rumah.

Wooow. Lama tak berjumpa, Matahari.

Tuuli segera turun dari kasur dengan penuh semangat lalu jalan menuju jendela kamar dan dia mengulurkan tangannya ke kunci jendela dan membukanya tanpa ada rasa peduli pada suhu dingin yang mungkin diberikan dunia yang masih pagi ini. Langit biru yang luas bebas dari awan-awan dan salju yang menumpuk di tanah kota menyala-nyala karena sinar cahaya matahari pagi.

“Lihat, cuacanya sempurna sekali. Hari ini Ayah libur bukan? Kita harus cepat!”
“Iyah, iya.” Ayah, setelah mengerutkan wajahnya karena terpapar sinar matahari pagi, dia turun dari kasur.

Semua yang terjadi berlangsung cepat setelah itu. Tuuli dan Ayah menghabiskan sarapan mereka dengan cepat, mempersiapkan peralatan mereka dan segera lari keluar pintu rumah. Aku baru saja sampai dekat meja pada saat Tuuli melintasi pintu rumah, dia mengenakan pakaian berlapis agar bisa menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.

“Dadah, Myne. Kami akan kembali membawa banyak parue!”

Aku melambaikan tangan padanya meski tidak tahu itu apa.
Umm... parue itu apa?!

Setelah aku cari informasi dari ingatan Myne, itu adalah buah yang menghasilkan air manis warna putih, rasanya enak sekali. Tadi dia bilang akan kembali membawa banyak parue, tapi aku sendiri kurang tahu bagaimana cara Tuuli memanen buah itu.

“Ini sarapannya, Myne. Ibu mau cuci baju dulu. Mereka pasti akan kembali membawa banyak parue untuk kita, siang nanti Ibu pasti akan sibuk mengolah itu.”

Ibu merobek roti yang tak bisa aku robek atau cuil sedikit dengan tanganku sendiri dan memasukkannya ke dalam mangkuk isi sup. Roti itu dipanggang sampai keras sekali dan ada gosongnya demi menjaga dari buluk dan sup sisa kemarin malam ditemani segelas susu adalah menu sarapan yang biasa kami santap.

Sebelum aku menaiki kursi sepenuhnya, Ibu meninggalkan rumah setelah dia mengumpulkan semua pakaian kotor yang menumpuk banyak selama badai salju terjadi. Aku sekarang duduk sendirian di dapur yang sunyi sambil menyantap sarapanku. Begitu selesai makan, aku mulai membuat keranjang, satu-satunya hal yang bisa memberiku pujian dari keluargaku.


Ayah dan Tuuli pasti tahu Ibu sudah pulang dari mencuci pakaian, karena mereka kembali dalam keadaan penuh senyum diwajah begitu melihat Ibu sudah selesai mempersiapkan makan untuk siang. Kelihatannya mereka berhasil memenuhi target.

“Kami pulang, Ibu, Myne. Kami berhasil memanen tiga parue!”
“Selamat datang, kalian berdua. Hebat sekali kalian. Aku sudah siapkan semuanya.”

Ibu menunjuk ke mangkuk besar dan pergi untuk mengambil kayu lurus yang tipis dari ruang penyimpanan kayu bakar, kayu itu cukup kering dan mudah untuk menyalakan api.

Tuuli mengambil kayu lurus itu dan membakar bagian ujungnya dengan api dari perapian lalu menusukkannya ke parue yang dia posisikan diatas mangkuk tadi. Saat dia menusuk buah parue, dari kulit parue itu sedikit membuka lubang dan mengalir air putih kental yang mengenai jari dia.

“Wow, aromanya harum sekali!”

Aroma manis menyebar dalam rumah selama air parue dituangkan ke dalam mangkuk. Aku menelan ludah atas kejadian ini, karena ini kali pertamanya setelah sekian lama aku tidak mencium aroma manis seperti ini. Hal semacam ini sudah pasti akan menjadi suatu ingatan baik yang aku kenang.

Tuuli memegangi mangkuk agar stabil dan tidak ada air parue yang jatuh terbuang, sedangkan Ayah menggunakan alat giling untuk memerah semua air dalam buah parue.

“Parue ini enak-enak semua,” jelas Tuuli padaku. “Air parue sangat manis dan enak, selain itu kita bisa dapat minyak juga. Kulit sisanya juga bisa kita jadikan pakan hewan. Kita tidak memelihara hewan ternak, tapi masih bisa kita tukar dengan telur di tempat Lutz.”
“Pastinya banyak sekali orang yang ingin buah ini.”
“Uh iya. Hanya pada hari yang cerah seperti ini kita bisa memanen buah parue, banyak juga orang kota yang pergi pagi-pagi seperti kami tadi. Mereka ingin sekali buah ini. Tapi ini itu sulit sekali dipanennya.”
“Sesulit apa?”

Tuuli menusuk lagi kayu ramping ke buah parue kedua dan sekali lagi menuangkan isinya kedalam mangkuk. Aku disini hanya bisa membantu memegangi mangkuknya agar tidak jatuh.

“Cara memanen buah parue dari pohonnya, harus kita hangatkan dulu dahannya agar melunak, tapi kita tidak bisa menyalakan api di dekat pohonnya. Pohonnya itu punya kekuatan spesial yang bisa membuat api itu langsung padam. Jadi kita harus buka sarung tangan dan hangatkan langsung dengan tangan kosong.”
“Kamu tadi buka sarung tangan di musim dingin yang suhunya rendah ini?! Kedengarannya sulit sekali ya.”

Melakukan itu pasti membuat tangannya memerah kedinginan karena radang. Aku anggap Ayah dan Tuuli bergantian dalam melakukan itu, tapi tetap saja menghangatkan ranting pohon dengan tangan kosong sudah kebayang sulitnya.

“Kenapa tidak kita ambil pas sudah siang? Rantingnya pasti mudah dihangatkan kalau sudah siang?”
“Tidak bisa. Buah parue hanya bisa dipanen sebelum siang.”

Tuuli menyerahkan buah parue yang sudah habis airnya kepada Ayah dan mengambil parue ketiga. Dia tusuk lagi dengan cara yang sama dan menuangkan lagi air parue.

“Kalau siang berati matahari sudah naik, dan sinarnya itu pasti menyinari seisi hutan, begitu itu terjadi, daun pohon parue mulai bersinar, dan pohonnya mulai bergerak, lalu semua daunnya itu mengeluarkan suara wis wus.”

Er.... daunnya bersinar, pohonnya tiba-tiba bergetar sendiri, dan daunnya itu mengeluarkan suara wis wus? Apa? Usaha Tuuli dalam menjelaskan kejadian itu, tidak bisa aku bayangkan sama sekali.

“Waktu bersuara seperti itu, pohon parue mulai bertambah tinggi seperti mendekatkan diri ke matahari. Begitu tingginya sudah melebihi pohon lain dalam hutan, pohon parue mulai memutar-mutarkan bagian rindangnya seperti perempuan mengibaskan rambut panjangnya. Lalu, der der, wis wus....”
“... Pohonnya merenggang dan terbang?”
“Iya, pohonnya terbang. Selama terkena sinar matahari, cabangnya terus berputar-putar, semua parue yang tidak bisa dipanen hilang di angkasa karena terhempaskan! Setelah semua buahnya habis, kulit pohon parue mengecil karena meleleh, dan hilang deh di atas sana.”
“Setelah terbang, pohonnya menghilang di udara...? pohon itu aneh sekali.”

Hanya itu saja yang bisa aku kemukakan soal pohon itu. Pohon yang benar-benar aneh. Kemampuan imajinasiku tidak cukup untuk membayangkan apa yang terjadi pada pohon itu.

“Oke, sudah semua. Mau coba icip?”

Tuuli pindahkan hampir semua air parue ke dalam stoples dan dia sisakan sedikit di mangkuk tadi. Dia minum sebanyak dua kali teguk lalu menyerahkannya padaku.

Aku ambil mangkuk itu dan menenggaknya sama seperti Tuuli. Air kental, rasa manis memenuhi mulutku dan secara alami telingaku merespons naik.

Ini.... ini seperti rasa kebahagiaan! Seperti santan kental!

Dalam hati aku ingin minum lagi, tapi Tuuli berkata, “Buah parue yang bisa kita panen tidak banyak, jadi kita harus, harus, harus sekali menghematnya. Jangan langsung diminum semuanya.”

Oke, aku mengerti, akan aku minum perlahan dan dihemat juga.

“Ayah, yang ini mau diperah juga?” Tuuli mengangkat kantung kain dan melihat isinya.
“Iya.”

Ayah berkata itu sambil meremukkan buah parue perlahan-lahan dengan alat perah. Minyak hasil memerah parue bisa digunakan untuk memasak dan penerangan lampu, karena sifatnya ini jadi seperti minyak zaitun.

“Tuuli, aku mau lihat juga.”

Aku mengintip isi kantung kain itu dari sebelahnya, ingin lihat apa yang terjadi pada buah parue tadi setelah diperah minyaknya. Di sana aku melihat sesuatu seperti okara, suatu bahan pangan di Jepang yang terbuat dari bubur kedelai. Sisa ampas ini harum.

“Ini harum juga. Apa ini bisa dimakan?”

Aku masukkan jari kedalam kantung dan untuk mencari tahu aku emut jariku yang ada sedikit bubur parue.

“Myne! Itu pakan burung!”

Tuuli segera mengambil kantung kain itu dariku dan menyuruhku untuk memuntahkan ampas parue yang aku makan, tapi aku coba kunyah secara perlahan-lahan.

Bagian kering karena diperah cukup sulit aku kunyah dan rasanya tidak semanis aromanya. Secara keseluruhan, aku bisa mengerti mengapa ini tidak bisa dijadikan bahan pangan yang layak untuk manusia. Tapi ini pasti bisa diolah seperti okara. Aku raup sedikit ampas parue dan menaburkannya ke mangkuk isi air parue agar ampas ini mendapat sedikit air.

“Kamu sedang apa, Myne?”
“.... Aku rasa ini bisa kita makan kalau dibeginikan.”
“Kan sudah aku bilang, itu pakan burung! Tidak layak dimakan oleh manusia.”

Aku mengangguk dan sedikit mencicipi. Rasanya ternyata cukup enak. Jika aku campurkan dengan sisa air parue, dan menambah telur dan air susu secukupnya, aku mungkin bisa membuat tamblag okara yang lezat.

“... Um, ini enak loh.”
“Sudah, jangan!”

Aku suapkan sedikit ampas parue ini yang sudah tercampur air parue ke mulut Tuuli. Awalnya dia protes “Kamu ini kenapa?!” tapi tak lama setelah itu, dia mulai mengunyah itu dalam ekspresi yang bertentangan di wajahnya.


“Sudah siap? Ayo.”

Tuuli bersama aku pergi ke rumah Lutz. Rumah Lutz bertempat di bangunan seberang area terbuka, rumahnya ada di lantai enam. Aku kerahkan usaha terbaikku menaiki dan menuruni tangga dua kali, ini terjadi karena kami mau menukar ampas dari dua parue dengan sejumlah telur. Melelahkan sekali rasanya karena harus naik tangga ke lantai enam setelah turun dari lantai lima rumahku.

... Aku akan melakukan transaksi gelap tamblag setelah barternya selesai. Eheheh.

“Permisiii.”
“Lutz, ada di rumah. Kami mau menukar ini dengan telur.” Aku coba menawarkan kantung itu dengan penuh senyum, tapi Lutz malah balas dengan sedikit kesal.
“Pakan ternak burung kami sudah cukup. Bisa tukar pakai daging? Kakakku selalu saja mengambil jatah makanku.”

Semua orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah selama musim dingin, sepertinya itu yang membuat mereka mengambil jatah makannya. Lutz mengeluhkan perutnya yang keroncongan karena kurang makan.

Tuuli memberi senyum simpati dan berkata, “Pasti kau kesulitan melawan mereka, mereka sudah pada besar,” tapi sungguh benar, pasti sulit sekali rasanya dan tidak terbayangkan jika perut selalu keroncongan karena lapar.

Aku tahan dulu kantung itu, ada rencana yang bisa menjadi solusi baginya.

“Kalau begitu, Lutz, kenapa tidak kamu makan saja ini?”
“Mana ada orang yang mau makan pakan burung?”

Reaksinya sudah terduga akan begitu. Tidak ada orang sini yang mau makan okara.

“.... Kalau diolah dengan baik, bisa kamu makan.”
“Huh?”
“Ampas ini tidak bisa dimakan karena sudah diperah semua airnya. Ini memang sisa, tapi rasanya enak tahu kalau misalnya dimasak baik-baik.”

Lutz melihat Tuuli karena tidak percaya itu. Dia pasti yakin dalam pikirannya bahwa tidak ada orang di dunia yang akan makan pakan burung.

“Yang benar saja?! Kau cuma buang-buang bahan pangan saja! Iya, buah parue bisa dimakan dalam keadaan utuhnya, tapi bakal lebih efisien lagi kalau misalnya diambil airnya, diperah minyaknya dan sisanya jadi pakan burung! Tidak ada orang yang mau membuang usaha mereka dengan memakan utuh parue itu. Tidak ada orang sebodoh itu di kota ini, selain kamu! Myne!”

Um... aku tidak makan parue tanpa diolah. Mungkin hanya itu cara yang ada agar dia bisa mengerti?

Aku letakkan jari di daguku dan memikirkan penolakan keras dari Lutz.

“Pakan burung yang kamu miliki sudah berlebih bukan? Ya jalan terbaik bagi kita manusia adalah memakannya.”
“Seperti yang aku bilang tadi, ampas parue itu sangat kering yang membuat tidak ada orang yang mau makan itu!”
“Itu kan keringnya karena orang-orang memerahnya sampai habis, agar mendapatkan banyak minyak. Kalau saja tidak sampai habis, bisa saja kita makan.”
“Myne, kamu ini....” Rupanya Lutz tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah pemikirannya meski sudah aku kasih penjelasan.

Aku perlu gunakan sedikit pemaksaan sama halnya seperti Tuuli agar dia mengubah pemikirannya. Dia akan mengerti begitu sudah memakan hasilnya. Aku kepalkan telapak tangan dengan penuh tekad, siap untuk mengeksekusi rencanaku, namun Tuuli secara tiba-tiba menundukkan kepalanya perlahan dan berkata.

“Um, Lutz. Aku tahu kau sulit percaya ini, tapi ini memang layak untuk dimakan. Ini itu.... rasanya enak, aku agak terkejut waktu itu.”
“Huh, serius? Dia membuatmu makan pakan burung, Tuuli?” Lutz melihat Tuuli dengan mata kasihan padanya.
“Jangan tatap dia begitu, dia bilang rasanya enak. Aku yakin kamu juga akan mengerti setelah mencobanya sendiri. Apa masih ada air parue yang kamu miliki, Lutz?”

Aku melangkah masuk ke dalam rumah Lutz dan memindahkan sedikit ampas parue ke dalam mangkuk. Kemudian aku tambah dan campurkan dua sendok teh air parue yang Lutz miliki. Setelah aku icip sedikit, aku mengangguk. Rasanya memang enak.

“Ini dicoba, Lutz.”

Mungkin karena melihat aku mencicipi ini, Lutz dengan patuh membuka mulutnya. Aku suapi dia dengan ampas parue campur airnya. Dia menutup mulutnya, mengunyah sebentar, dan matanya melebar karena terkejut.

“Bagaimana? Manis dan lezat, bukan?” aku busungkan dadaku dengan bangga, sambil “eheh” pada diriku sendiri, tiba-tiba tak lama setelah itu terjadi, semua kakak Lutz diam dan melirik kami dengan curiga dari kejauhan dan langsung menerjang ke hadapan kami.

“Manis?”
“Lezat?”
“Serius? Mana aku mau coba itu juga, Lutz.”

Semua kakaknya mencuil isi mangkuknya. Sebanyak apapun usaha Lutz dalam menyembunyikan atau lari dari mereka, mereka terlalu besar dibanding dia sekarang ini. Tidak hanya tidak bisa lari dari mereka, dia bahkan tidak bisa menghindar dari mereka.

“Hey, menjauh! Jangan dihabiskan! Kakak macam apa kalian ini, mencuri jatah adik kalian sendiri?!”
“Jatahmu ya jatahku juga.”
“Punya makanan enak itu harusnya dibagi-bagi, Lutz.”
“Iya deh! Aku bagi!”

Sikap protes Lutz berakhir sia-sia. Tiga kakaknya memegangi dan mencuri mangkuk darinya. Mereka mencuil isi mangkuk itu secara bergantian, terus berlangsung sampai isinya habis. Jika setiap kali jatah makan yang miliki berakhir seperti ini, aku bisa mengerti mengapa tadi Lutz mengeluh.

“Aaaaah! Parueku!”
“Enak sekali. Apa benar pakan burung seenak ini?”

Ketiga kakak Lutz sepenuhnya menghiraukan isak tangis dari adik mereka dan melihat kearah aku, mata mereka terbuka lebar juga sama halnya dengan Lutz yang terkejut tadi.

Mungkin ini bisa jadi kesempatan bagus untukku.

“Aku bisa buatkan yang lebih enak lagi.”
“Yang benar saja?!”

Umpan telah mereka makan. Sebelumnya mereka sangat jijik dan tidak terima menjadikan pakan burung sebagai bahan pangan, tapi sekarang mereka menggerakkan tangan dan kaki untuk suatu hal yang lebih enak lagi, mungkin terdorong oleh rasa lapar.

“.... Tapi, aku mungkin perlu dibantu. Karena aku ini lemah dan tak berdaya.”
“Baik, serahkan saja padaku.”

Lutz dengan antusias memamerkan tangannya. Melihat tindakan Lutz, semua kakaknya segera mendekati aku lagi dan mendorong Lutz dari pandanganku.

“Kau tidak akan kerja sendirian, Lutz. Kami juga akan membantu, Myne.”
“Iya, benar. Aku lebih kuat dari Lutz.”
“Yay! Kalau begitu, aku ingin kalian bertiga persiapkan papan besi untuk memasak. Lutz nanti siapkan bahan-bahannya dan Ralph yang akan mencampurnya. Oh iya, rasa tidak adil bagi kalian jika air parue milik Lutz saja yang akan dipakai memasak ini, jadi kalian ikut menyumbang agar bisa kita nikmati bersama. Ayo, bawa air parue milik kalian. Jangan ada disembunyikan.”

Aku tepuk tangan sekali dan membiarkan telapak tanganku tetap menyatu selama memberi arahan pada Lutz dan ketiga kakaknya. Aku terlalu kecil dan lemah untuk membantu, jadi sekarang ini bergantung pada lelaki-lelaki muda ini yang melakukan proses masak untukku.

“Lutz, bisa kamu bawakan dua telur dan susu? Ralph, nanti kamu aduk itu pakai spatula disana. Zasha dan Sieg, kalian hangatkan papannya di perapian.”

Lutz mempersiapkan semua bahan-bahannya dan aku pindahkan ke dalam mangkuk satu per satu. Ralph kemudian mengaduknya pakai spatula kayu. Zasha dan Sieg ada dibelakang kami sedang menghangatkan papan besi di perapian.

“Oke, kurasa itu sudah cukup tercampur. Lutz, ada mentega?”

Lutz membawakan mentega, yang aku ambil sedikit pakai sendok dan menjatuhkannya ke papan besi setelah aku naik semacam kursi tinggi. Mentega mulai bergeser dan meleleh di atas papan, menguap dan memenuhi ruangan ini dengan aroma yang harum.

Aku kemudian memakai sendok besar untuk menuangkan ‘adonan’ yang tadi Ralph campurkan di mangkuk. Ada suara dari interaksi adonan dengan mentega lelah, yang mulai mematang, aroma dari mentega itu mulai bercampur dengan aroma manis parue. Ampas seperti okara ini seperti pengganti terigu gandum, adonan yang dimasak jadi rata mirip seperti tamblag bukan pancake, tapi ini lebih sesuai dengan harapanku.

“Jadi itulah cara kalian memasak ini. Bagaimana jika kalian kerja sama dan masak lebih banyak lagi?”

Setelah aku contohkan cara memasak itu sekali, aku turun dari kursi dan membiarkan kakak-kakak tinggi melanjutkan memasak ini. Mereka sudah mengerti cara memasak ini, jadi mereka segera meminjam alat memasak yang aku pegang dan mulai memasak semua adonan itu.

“Pas sudah ada yang buih-buih seperti itu, artinya sudah matang. Bisa kamu balik yang itu sekarang.”
“Baik.”

Zasha membalik tamblag yang aku sebut tadi dan sudah matang dengan baik. Aku dengar semua orang di sini agak heboh.

“Angkat yang ini. Terus masak lagi di tempat terbuka bekas tadi.”

Begitu sudah terlihat cukup matang, dia sisihkan ke sebelah dan menuangkan mentega dan adonan itu di tempat yang sama. Aku perhatikan mereka agar semuanya matang dan termasak dengan baik, dan setelah itu dipindahkan dari papan besi ke piring kayu, dalam keadaan posisi tumpuk-menumpuk.

“Tadaaaa! (Pancake Okara Simpel)!”

Aku angkat piringnya dan membusungkan dada dengan penuh harga diri, selagi aku “eheh” kepada diriku sendiri.

Tapi kata-kataku tadi tidak tersampaikan pada mereka, menilai dari cara Lutz melihatku.

“.... Huh? Bilang apa tadi?”
“Ummm.... Tamblag Parueeeee...”

Dalam piring yang dijajarkan di atas meja, terisi dengan tamblag parue yang masih mengeluarkan uap panas, dari uap itu tercium aroma manis dan menggoda untuk dimakan.

“Ayo mari kita makan. Tapi ingat, ini masih panas.”

Aku menggigit dan mengunyahnya perlahan. Tamblag parue ini enak sekali, jujur saja aku terkejut dengan hasil ini. Teksturnya juga ternyata lembut, bukan renyah atau kering kasar, berbeda dengan pakan burung tadi. Mungkin karena air paruenya itu sendiri, dari rasanya saja sudah manis tanpa selai atau pemanis lainnya.

“Hey, Lutz. Ini mudah dibuat, bukan? Dan bisa mengisi perut juga, kan?”
“Iya, kamu benar. Myne, aku tidak tahu harus bilang apa. Kamu itu hebat sekali.”

Karena banyak sekali orang yang mendatangi rumah Lutz untuk menukar ampas parue ini dengan sejumlah telur, membuat ada banyak sekali ampas parue dalam rumah ini, dan berkat ternak burung mereka juga, ada banyak sekali telur yang bisa ditukar sebanyak yang diinginkan penukar. Bisa juga menukar susu dengan telur, jadi mereka bisa membuat lagi tamblag parue sepanjang musim dingin ini.

“Dengan begini, kamu bisa menjalani musim dingin tanpa ada rasa khawatir perutmu kelaparan.”
“Iya!”

Lutz dengan senang hati memakan tamblag parue. Selama aku lihat dia makan, aku teringat dengan beberapa resep mengolah okara.

“Aku tahu cara lain memasak ampas parue, tapi aku ini terlalu lemah untuk membuatnya sendiri.”
“Akan aku buatkan semua itu untukmu, beritahu saja aku cara membuatnya. Kamu sudah memberitahuku ada makanan seenak ini, kamu itu sudah seperti dewi bagiku, jadi ya. Aku akan selalu membantumu, Myne.”

Kejadian ini adalah pemicu awal pembuatan makanan dari resep yang aku ketahui dan memerlukan kekuatan tangan dari Lutz dan tiga kakaknya. Aku beritahu mereka cara membuatnya dan aku coba hasilnya. Lutz dan tiga kakaknya memakan makanan itu sampai mereka kenyang. Ini merupakan pemberian yang baik dan relasi yang bagus.





TL: Bajatsu

Senin, 06 Mei 2024

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 11: Menyerah Belajar dari Zaman Mesir

 Volume 01

Chapter 11: Menyerah Belajar dari Zaman Mesir



Sedikit-sedikit salju mulai berjatuhan dan itu jadi penanda bahwa kami dalam tahan akhir persiapan musim dingin yang harus segera kami penuhi. Yang benar saja, musim dingin sudah didepan mata.

Selama musim dingin, pekarangan kami akan tertimbun salju, dan kami singkatnya menghabiskan waktu seharian di dalam rumah, sekalinya bisa keluar rumah hanya saat cuacanya cerah. Aku sudah biasa menghabiskan waktu dalam rumah seperti orang yang suka mengurung diri dalam kamarnya, jadi kedatangan musim dingin tidak jadi masalah buatku.

Tapi tidak ada buku di dunia ini. Apakah aku bisa bertahan hidup seperti hikikomori tanpa satu pun buku didekatku?

Sering terjadi badai di hari pertama salju turun, membuat kami harus menutup erat jendela dan pintu rumah agar suhu hangat dalam rumah tetap terjaga. Untuk menahan agar angin luar tidak masuk sebisa mungkin, kami juga menyelipkan tumpukan sejenis jerami ke sisi rumah yang sedikit bolong.

“... Ngh, gelap sekali.”
“Kan lagi badai salju, kamu inginnya bagaimana?”

Aku terlambat menyadari sumber cahaya yang kami miliki selama mengunci diri dalam rumah hanya cahaya dari perapian dan lilin. Baru pertama kali di tengah hari tapi keadaan rumah begitu gelap. Sesusah ini hidup tanpa aliran listrik. Waktu hidup sebagai Urano, jika listrik padam selama badai terjadi, aku bisa pakai senter gawai dan senter biasa, biasanya dihari esok listriknya sudah menyala lagi. 

Kita tidak akan depresi karena menghabiskan waktu seharian di tempat gelap seperti ini?

“Hey, Ibu. Apa rumah orang gelap juga?”
“Hmm. Ada juga rumah yang tetap terang, hanya saja itu berlaku pada mereka yang punya uang lebih untuk membeli banyak lampu minyak tanah untuk penerangan rumah mereka, sedangkan kita hanya punya satu.”
“Huh? Kita punya satu tapi tidak dipakai?”

Aku tahu itu juga dan memang seharusnya kami pakai saja sumber pencahayaan terbaik yang kami miliki, tapi Ibu menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Sebisa mungkin kita hindari penggunaan lampu minyak tanah karena nanti kita perlu isi ulang minyaknya. Selain itu, kamu tidak mau kita sampai kehabisan lilin lampu jika musim dinginnya terus berlanjut?”

Tidak ada adu argumen saat mencoba hemat sebisa mungkin. Itu juga termasuk saat ibuku yang Jepang berusaha sebisa mungkin untuk menghemat pengeluaran uang. Dia akan melepaskan kabel televisi dari sumbernya agar bisa menghemat biaya listrik, tapi masih saja dia ketiduran dalam keadaan televisi menyala. Selama menggosok gigi, dia matikan air kerannya untuk menghemat air, tapi dia biarkan kerannya menyala saat mencuci piring. Maknanya, Ibu mengajariku cara memenuhi kepuasan diri sendiri.

Aku putuskan untuk mengambil sisi hemat ibuku dan berharap aku bisa menerapkannya agar bisa mendapat lebih banyak cahaya.

“Kamu sedang apa, Myne?”
“Aku rasa ini bisa membuat rumah kita sedikit terang....”

Dengan konsep pantulan cahaya dari tiga cermin, aku haluskan dan buat mengkilap sarung tangan besi punya Ayah, dia punya ini karena dulu pernah ikut perang, kemudian aku taruh itu disebelah lilin.

“Hentikan, Myne.”
“Ini terlalu silau.”

Ide aku langsung ditembak jatuh oleh mereka berdua. Sayangnya, sarung tangan besi ini tidak punya sisi jari yang rata, jadi pantulan yang dihasilkan tidak beraturan. Membuat pantulan cahaya itu pergi ke segara arah dan mengenai mata mereka, itu membuat mereka kesulitan bergerak.

“Bwuh, ini gagal. Kalau saja ada sesuatu seperti (cermin) yang bisa aku gunakan...”
“Ibu lebih senang lagi jika kamu tidak membuat kita buang-buang waktu.” Ibu menegurku dengan nada keras, dengan begini aku sudahi rencana pantulan cahaya.

Tapi ya, rasanya kurang nyaman kalau melihat sekitar tidak jelas  karena kurangnya pencahayaan, termasuk saat tanpa atau ada buku yang aku baca, jadi aku putuskan untuk duduk berdekatan dengan perapian yang menyala.

Tak lama setelah itu, Ibu mulai menyiapkan peralatan menenun di sebelahku. Ukurannya tidak sebesar alat tenun yang pernah aku lihat di Jepang. Fungsi yang diberikan seperti lebih simpel. Soal ini, aku cukup penasaran bagaimana caranya sebuah kain lebar bisa dibuat di tempat sempit ini, rupanya itu karena ada alat tenun yang ukurannya pas untuk digunakan disini.

“Tuuli, musim kamu dibaptis sebentar lagi tiba, ada banyak ilmu yang ingin Ibu ajarkan padamu,” kata Ibu dan mulai mengajari Tuuli segala urutan dalam menenun kain. Tuuli mengambil satu gulung benang, dan memperhatikan Ibu menenun.

“Kamu masukan benangnya ke sini, terus tahan bagian sini. Terus kamu tenun benangnya seperti ini....” Dia warnai benang ini selama musim gugur untuk dia gunakan sekarang, dia mulai menenun benang jadi kain.

Dalam proses itu, dia lanjut dengan menusukkan jarum jahit, dan menjahit kain itu agar menjadi pakaian. Selama dia melakukan itu, dia menyiapkan benang baru lagi dari bulu kambing yang dia beli, dia siapkan itu sekarang untuk tahun depan. Kami selalu beli bahan mentahnya saja. Tidak ada yang jual kain di dekat tempat kami tinggal, bahkan kain itu sendiri sudah cukup mahal bagi rakyat biasa beli.

“Nah iya, sudah bagus, teruskan ya. Kamu berbakat melakukan ini, Tuuli. Myne, mau coba menenun juga? Pepatah mengatakan bukan wanita anggun jika dia tidak tahu cara membuat pakaian.”
“Apa? Wanita anggun?”
“Iya, wanita anggun. Menjahitkan pakaian untuk kebutuhan rumah tangga memang sangat penting, tapi itu termasuk penting juga untuk pamer kepada tetangga. Kamu tidak bisa jadi wanita anggun jika tidak bisa menjahit pakaian dan memasak.”

Aaah... Aku pastinya tidak akan tumbuh dewasa menjadi wanita anggun. Bukan karena apa-apa, aku jelas paham soal penting jadi istri baik, tapi apa hubungannya memasak dan menjahit dalam hal keindahan tugas wanita?

Aku terbiasa pakai baju yang sudah jadi dan dijual di toko. Cukup pergi ke toko maka akan ditemukan banyak sekali variasi desain pakaian di sini. Aku tidak merasa tertarik dalam desain baju, aku tak masalah pakai baju yang mana saja selama tidak kena marah, tapi meski begitu, lemariku tetap penuh dengan baju.

Dalam hal ini, aku tidak pernah memakai baju pemberian yang pernah dipakai dan perlu dijahit dulu untuk menyesuaikan ukuran bajunya. Menjahit pakaian juga cuma pernah aku lakukan sekali-sekali di sekolah, dan saat itu aku gunakan mesin jahit listrik agar bisa selesai dalam waktu singkat. Soal jahit menjahit, hal yang bisa aku lakukan adalah memasangkan kembali kancing yang copot dengan jarum dan benang.

Langsung ke intinya: Berharap aku bisa menjadikan benang dari bulu kambing, menenun benang agar jadi kain, dan menjahit kain supaya bisa jadi pakaian untuk kebutuhan keluarga selama musim dingin adalah pemintaan yang terlalu besar untukku. Aku bisa bilang dengan penuh keyakinan bahwa yang terjadi di atas tidak akan pernah bisa diwujudkan, aku juga tidak menaruh perhatian pada aspek itu. Aku tidak akan pernah termotivasi melakukan itu.

Padahal aku rela lakukan itu sampai tanganku lemas sekali jika bisa aku gunakan kain itu sebagai perkamen.

“Kamu tidak mau ikut belajar ini, Myne?”
“Mmm, mungkin lain kali saja.”

Tulii ingin aku ikut belajar, tapi sekarang ini aku sedang tidak ingin menjahit atau menenun apapun. Ibu mengajari Tuuli karena dia ingin ikut program penjahit, tap kalau aku, aku kurang tinggi, tanganku kecil, dan pastinya, sedikit minat. Mengajariku hal itu pasti akan membuang-buang waktu.

“Baik, Ibu. Tolong buatkan aku pakaian spesial. Aku mau membuat keranjang.”
“Jelas. Serahkan saja kepada Ibu. Ibu pasti akan buatkan pakaian tercantik, paling luar biasa untuk kamu pakai.” Ibu, sangat percaya diri pada kemampuan menjahitnya, dia bicara itu dengan penuh rasa riang.

Di setiap musim, anak-anak berusia tujuh tahun akan dikumpulkan semuanya di kuil, mereka kesana mengenakan pakaian terbaik mereka. Jadi itu adalah kesempatan emas bagi Ibu karena dia bisa menunjukkan seberapa berbakatnya dia dalam menjahit. Dengan makna lain, ini semacam kompetisi bagi para ibu. Dengan penuh senyum diwajah, Ibu menyiapkan alat jahitnya berserta bahannya, dia memakai benang yang lebih tipis lagi dari benang yang tadi Tuuli gunakan untuk berlatih.

“Benangnya kelihatan lebih tipis.”

Ibu menunjukkan senyum bertentangan begitu aku berpikir akan memakan waktu berapa lama proses pembuatan kain dan baju dari benang setipis itu.

“Oh, itu karena dia dibaptis di musim panas. Kebayang tidak jika dia pakai baju yang kainnya tidak tipis?”
“Padahal dibaptisnya musim panas nanti, tapi Ibu buat bajunya di musim dingin? Memangnya dia tidak bakal tambah besar?”

Ada banyak waktu makan dan bermain di musim panas, jadi aku rasa kebanyakan anak-anak akan tumbuh di masa itu. Apa jadinya jika dia tumbuh terlalu besar dan baju yang dibuat ini jadi terlalu kecil untuk dia pakai?

“Ibu masih bisa atur itu nanti, bukan masalah kok. Justru Ibu lebih khawatir kalau misalnya kamu lebih kecil dari Tuuli, Myne. Kamu mungkin tidak bisa pakai baju yang sama dengannya. Kalau ada banyak yang harus dirubah akan repot. Tahun depan nanti, harus bagaimana ya?”

Oof... jelas itu lebih merepotkan. Berjuanglah, Ibu.

Ibu melanjutkan menenun kain dengan benang tipis, kelihatannya itu lebih sulit dilakukan dibanding pakai bulu kambing tadi. Tuuli mulai membuat keranjang untuk dijual. Karena mata aku sudah mulai terbiasa melihat di tempat gelap, aku putuskan untuk mulai membuat kertas papyrus, ini adalah langkah pertamaku dalam mewujudkan mimpiku.

Jika saja aku bisa menenun serat tanaman ini, pasti nanti hasilnya akan lebih mirip seperti kertas. Aku tak akan kalah dari zaman Mesir kuno! Ayo aku mulai!

Aku simpan semua serat tanaman di meja dan teringat kembali dengan dudukan gelas yang terpaksa aku buat sewaktu aku hidup sebagai Urano. Langkah pertama, aku akan coba buat ini menjadi kertas kecil seukuran amplop surat. Aku harus susun ini secara vertikal dan horizontal, menganyam serat tanaman yang lebih tipis dari benang yang sedang Ibu tenun.

Aku kurang uang, kemampuan, dan usia. Ini merupakan duel yang harus aku menangkan dengan nyali, tekad dan nyali lagi.

.... Bwuuuuh, serat ini tipis sekali sampai aku bingung mana yang lurus dan miring. Set Sreet Set.... 
<TLN: Cukup bayangkan suara jerami atau rumput kering di susun.>

.... Ah, kacau lagi! Set Sreet Set....

Serat tanaman ini begitu tipis dan sulit aku perbaiki jika ada yang salah posisi atau tertumpuk. Membuatnya jadi berantakkan dan rusak. Dalam keadaan kesal, aku teruskan duelku menyelesaikan menyusun serat tanaman, dan kemudian Tuuli berhenti membuat kerajang dan melihat apa yang aku kerjakan dari atas pundakku.

“Hey, Myne. Kamu sedang apa?”
“Hm? Buat (kertas papyrus).”

Tuuli melihat aku dan tanganku berulang kali. Cukup jelas tertulis diwajahnya dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan tadi.

Mmm, dia tidak mengerti dari melihat apa yang aku kerjakan? Aku belum selesaikan satu petak kecil, jadi rasanya masuk akal. Bahkan aku sendiri tidak yakin menyebut ini kertas papyrus yang bagus begitu aku selesai menyusunnya.

Ibu, masih melanjutkan proses menenun, melihat aku yang sedang menganyam serat tanaman dan dia menghela nafas.

Set Sreet Set....

Set Sreet Set....

“Myne, kalau misalnya ada waktu buat main, coba kamu bantu saja Tuuli buat keranjang.”
“Mmm. Mungkin pas aku sudah tidak sibuk.”

Aku sedang tidak bermain-main, aku juga tidak punya waktu untuk membantu Tuuli. Kurasa tidak berlebihan menganggap ini adalah waktu paling sibuk yang aku alami dikehidupanku sebagai Myne.

... Ah! Salah taruh lagi. Gara-gara Ibu memanggilku tadi. Aduh!

Set Sreet Set....

Set Sreet Set....

“Myne, kamu itu, sebenarnya sedang apa?”
“Kan sudah aku bilang, aku sedang membuat (kertas papyrus).”

Aku tidak punya keluasan hati untuk menjawab secara baik pada pertanyaan Tuuli, membuat nada bicaraku sedikit tegas karena aku sedang fokus menganyam ini....

Aku tidak keberatan menggerakkan jari sejeli ini, karena ini aku memang inginnya melakukan ini. Aku harus tetap teguh dan terus lanjutkan tekadku.

Set Sreet Set....

Set Sreet Set....

“Um, Myne. Itu tidak bertambah lebar.”
“Iya, aku tahu!”

Komentar Tuuli telah menjadi percikan emosi yang membuat aku teriak padanya karena kecewa dengan hasilnya. Dibutuhkan waktu seharian agar bisa aku anyam jadi seukuran jari. Kumohon pahami apa yang aku rasakan sekarang ini.


Set Sreet Set....

Set Sreet Set....

Di hari selanjutnya aku bergantung pada tekadku yang sama. Terus lanjutkan, aku katakan itu pada diriku sendiri selagi aku anyam serat tanaman ini.

Hiraukan saja, jangan sampai komentar dari Tuuli membuat aku terganggu.

“Itu nantinya jadi apa?”
“.......”

Hiraukan saja.... jangan sampai terganggu. Jangan sampai aku terganggu karena komentarnya itu.

Set Sreet Set....

Gah! Pada lepas semua! Ngh, aku tinggal lanjutkan lagi! Hatiku terasa akan hancur jika aku benarkan bagian ini! Set Sreet Set....

“Hey, Myne....”
“Sudah! Aku tidak bisa buat ini! Iyah, (zaman Mesir kuno), kau yang menang!”

Mental dan emosiku sudah lelah, aku kepalkan telapak tanganku di sebelah kertas papyrus dan berteriak kesal.

Kertas papyrus selesai hanya baru seukuran kertas note kecil. Aku tidak tahu hitungan hari pastinya jika aku ingin lanjutkan sampai jadi ukuran kertas besar, dan bisa mempertahankan bentuknya selama aku menulis.

Sudah pasti ini, tidak mungkin aku bisa membuat kertas papyrus yang cukup agar bisa dijadikan binder. Bisa kau raba sendiri kertas papyrus yang aku buat dan mengerti mengapa aku kehilangan rasa tertarik untuk melanjutkan pembuatannya. Bagian tengah cukup rapat, tapi semakin ke sisinya, semakin buyar dan bercelah. Hasil akhir yang diberikan tidak bisa aku tulis.

Hasil akhir terbaiknya, ini masih bisa jadi dudukan gelas meski tak begitu indah. Namun masih kurang bagus untuk dijadikan media tulis meski untuk note semata.

“Aaaaaah.... Gagal. Rencana membuat kertas papyus gagal total.”

Tantangan yang diberikan dalam membuat kertas papyrus cukup keras, karena dimulai dari tantangan mengumpulkan bahannya, proses yang sulit dalam pembuatannya, dan secara keseluruhan waktu yang diperlukan agar bisa dibuat dalam jumlah banyak terlalu lama. Jika aku berhasil membuat kertas lewat cara ini, kertas papyrus ini tidak akan bisa dijadikan buku.

“Jangan berisik, Myne! Jika kamu ada waktu main sama rumput, buat keranjang sana!”
“Keranjang tidak bisa jadi buku....”
“Ibu kurang mengerti pembicaraanmu, tapi intinya kamu gagal, kan? Sudah kamu buat keranjang saja.”

Ibu sangat marah padaku yang membuat aku menyerah berdebat dan mulai menganyam keranjang. Menganyam kayu agar bisa jadi keranjang lebih mudah dilakukan dibanding menganyam serat tipis dari tanaman.

“Tuuli, aku bantu buat keranjang. Boleh aku minta bahannya?”
“Ini, aku kasih tahu cara buatnya.” 

Tuuli menawarkan bantuan padaku dengan wajah penuh senyum, dia ambilkan bahannya untukku, tapi aku hanya ambil bahannya dan menggelengkan kepala padanya.

“Tidak usah, aku tahu cara buatnya.”
“Huh?”

Aku perhatikan Tuuli yang kelihatan heran, aku tidak melihat dia sepenuhnya, dan aku mulai menganyam keranjang. Bahan seperti bambu ini aku taruh secara tersusun, dengan bantuan dari kayu balok aku anyam bambu tadi secara hati-hati, agar tidak ada celah aku pastikan potongan bambu ini rapat berdekatan.

Ini waktu yang tepat juga untukku, karena aku sedang ingin punya tas kecil untuk dibawa keluar. Aku putuskan untuk memfokuskan diri dalam pembuatan keranjang, ini juga jadi sarana pelampiasan rasa kecewa dari gagal totalnya pembuatan kertas papyrus. Bagian bawahnya sudah kuat, aku perhitungkan dulu sebelum aku anyam bagian luarnya agar nanti hasilnya punya desain yang indah.

Aku teruskan proses pembuatan keranjang, dengan hati-hati agar tidak ada yang luka dari tanganku, hingga akhirnya aku selesai membuat keranjang. Butuh waktu lima hari hanya untuk membuat kertas kecil papyrus, tapi aku berhasil menyelesaikan “tote bag” ini dalam waktu satu hari. Cukup memuaskan, mengingat tanganku ini kurang terlatih dan kecil.

“Luar biasa sekali, Myne. Ibu tidak tahu kamu hebat dalam hal ini. Mungkin kamu bisa coba ikut magang jadi tukang kayu?”
“Apaaa? Rasanya agak....”

Kedua mata Ibu penuh dengan kegembiraan, dia sangat senang melihat anaknya yang selama ini tidak berguna ternyata punya bakat, tapi aku tidak punya niat magang tukang kayu. Aku akan kerja di toko buku, perpustakaan, atau tempat semacamnya. Tapi yang menjadi masalah adalah bukunya sendiri cukup langka jadi tidak ada toko buku atau perpustakaan yang bisa mempekerjakan aku.

“Ngh, Myne, kok kamu bisa hebat membuat ini?”

Tuuli membandingkan keranjang buatannya dengan buatanku dan dia menjatuhkan pundaknya, bersedih karena miliknya lebih jelek.

“Tidak usah dipikirkan, Tuuli. Kamu cukup belajar cara agar bisa lebih rapat supaya celahnya tertutupi semua dan kamu pikirkan dulu pola bagian luarnya.”

Dalam hal ini, yang membedakan kita dalam hal ini adalah jam terbang yang kita miliki berbeda. 

Dulu waktu masih jadi Urano, aku terlibat dalam hobi seni kerajinan ibuku, dia pernah melipat koran iklan dan dia jadikan keranjang. Aku tidak mengira hal itu akan berguna untukku, tapi ya mau bagaimana lagi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupmu.

“Aku tidak percaya kamu lebih hebat dariku, Myneee...”

Oh gawat.... kelihatannya aku merusak harga diri seorang kakak yang ada dalam diri Tuuli.

“Aaaah, ini ituuuuu... Ya! Waktu aku diasuh sama Bibi Gerda, dia mengajariku ini. Aku sering menganyam di sana sewaktu kamu ada di hutan. Masih ada banyak hal lain yang kamu kuasai, sedangkan aku cuma membuat keranjang, jadi kamu masih lebih hebat dariku, hampir dari segala aspek yang ada. Sumpah.”

Aku tidak punya banyak pengalaman bersama anak kecil, jadi aku kurang tahu cara agar dia bisa mendapatkan kembali moodnya. Aku coba sebaik mungkin beralasan mengapa aku hebat dalam hal ini, tapi jujur saja, aku sendiri masih kurang yakin pada apa yang aku sebutkan tadi mengenai diriku sendiri.

“... Oh, begitu. Kamu benar juga.” Tuuli terlihat sedikit lega, aku kurang yakin ucapan mana yang membuat dia yakin. “Oke deh, kalau begitu aku akan membuat banyak keranjang agar aku bisa lebih hebat darimu, Myne.”
“Uh huh. Semangat, Tuuli.”

Aku menghela nafas karena senang, melihat Tuuli yang senang kembali. Bertahan hidup di sini akan lebih sulit lagi tanpa Tuuli. Jika ditinggal sendiri, aku sudah tidak tertolong lagi. Aku senang bisa menyemangatinya.

“Oh, Tuuli. Mungkin bagian ini kamu rapatkan lagi, nanti hasilnya pasti lebih bagus.” 

Hmm... bukan berarti aku senang dikenal hebat dalam membuat keranjang. Yang aku inginkan buku.

Aku perhatikan Tuuli menganyam keranjang dan memberinya saran sambil aku lihat kertas papyrus yang gagal aku buat. Jika kertas papyrus gagal, aku mau coba cara apa lagi? Selama musim dingin ini, aku pikirkan baik-baik rencana selanjutnya dan terus menganyam keranjang disebelah Tuuli.

.... Zaman Mesir kuno hasilnya gagal, prosesnya terlalu sulit untuk anak seperti aku. Aku harus bagaimana jika cara Mesir kuno gagal? Oh, sama seperti membaca buku sejarah, biasanya belajar zaman Mesopotamia dulu baru lanjut ke zaman Mesir.

.... Oke, itu jawabannya! Tulisan dalam batu! Waktunya membuat dari tanah liat! Hidup zaman Mesopotamia!

Aku ingat terjadi perang yang melanda mereka membuat banyak sekali pemukiman yang terbakar, tapi tablet tanah liat mereka berhasil selamat. Jika aku bisa membuat tablet tanah liat, menulis sesuatu di sana, lalu membakarnya di perapian, dan sudah sampai situ saja pengerjaannya. Hal bagus lain, pembuatan tablet ini sudah umum bagi anak-anak karena akan dianggap main tanah. Orang dewasa tidak akan curiga apa-apa.

Sudah ditentukan! Itu yang akan aku lakukan. Begitu salju sudah meleleh semua dan musim semi datang, aku akan membuat tablet tanah liat!





TL: Bajatsu