Kamis, 25 Februari 2021

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 54. Toshizou Hijikata vs Jeanne d’Arc

Chapter 54. Toshizou Hijikata vs Jeanne d’Arc




Toshizou Hijikata, wakil kapten Shinsengumi.

Jeanne d’Arc, Maiden of Orleans.

Keduanya berdiri di tengah colosseum. Ketika mereka muncul, para penonton bersorak sorai. Kedua Pahlawan itu sangat populer di kalangan tentara, dan sekarang semangat itu telah menyebar ke rakyat biasa juga.

"Wow! Ayo Toshizou! Aku bertaruh untuk kemenanganmu! "

“Dia sangat tampan!”

Toshizou sangat disukai oleh wanita.

“Saint Jeanne! Jadikan aku budakmu!”
<TLN: yo, wtf :v>
<EDN: Its natural bro>

“Kau juga terlihat bersinar hari ini!”

Jeanne disukai oleh banyak orang, tapi dia mungkin lebih disukai oleh para pria muda daripada yang lain.

Mereka tampaknya memiliki jumlah pendukung yang sama. Kemungkinannya juga sangat mirip. Tentu tidak banyak yang benar-benar datang untuk memasang taruhan, tetapi mereka hanya ingin menikmati suasana pertandingan.

Ketika aku memikirkan hal ini saat aku pergi ke tempat dudukku terdengar sorakan yang keras.

“Itu Raja Iblis Ashtaroth!”

“Raja kami!”

“Terima kasih telah membuka colosseum!”

Kata-kata pujian terbang dari kerumunan.

Namun, bukan aku yang ingin mereka temui di sini.

Maka aku mengangkat tanganku untuk menyuruh mereka diam, dan keheningan menyelimuti kerumunan itu, seolah-olah kerumunan itu sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi Eve telah berpidato sebelum kedatanganku dan memberi petunjuk kepada mereka.

Sungguh, dia selalu memikirkan segalanya. Aku melirik ke arahnya dan dia tersenyum. Dia senang karena segala sesuatunya berjalan dengan sangat lancar.

Jadi aku berharap semuanya akan terus berjalan sesuai dengan rencananya. Dan kemudian aku memulai pidatonya.

“Hari ini, untuk menghibur kalian, rakyat-rakyatku, Toshizou Hijikata dan Jeanne d’Arc akan menyelesaikan permasalahan mereka dengan pertarungan pedang.”

Toshizou kemudian menghunus pedang Izuminokami Kanesada miliknya. Sedangkan Jeanne mencabut pedang suci, Nouvelle Joyeuse, dari punggungnya.

Pedang Toshizou bersinar seperti sebuah karya seni. Sedangkan pedang suci milik Jeanne bersinar dengan kekuatan dewa.

Kedua pedang itu sangat berbeda, tapi kedua pengguna pedang itu adalah seorang ahli pedang.

Namun, ini bukanlah pertarungan yang serius. Akan menjadi kebodohan jika menggunakan pedang sungguhan. Hanya orang idiot yang mengambil risiko menjadikan salah satu jenderalnya yang berharga terluka dalam pertarungan seperti ini. Jadi aku menyuruh seekor Goblin untuk memberi mereka pedang yang telah kubuat.

Goblin itu bertanya padaku,

“Raja Iblis? Apa ini?"

“Ini pedang bambu. Pedang latihan yang terbuat dari bahan fleksibel."

“Sangat lembut. Mereka tidak akan terluka jika menggunakannya. Apakah anda yang menemukan ini, Raja Iblis?”

“Tidak, itu adalah sesuatu yang kubuat dari ingatanku. Bukan dari duniaku, tapi dari negara bernama Jepang.”

“Ah, Anda penuh dengan pengetahuan, Astaroth-sama. Ini sangat mengagumkan."

“Itu karena aku masih memiliki ingatanku sebelum menjadi Raja Iblis.”

“Jadi, apakah Pedang bambu ini sangat berbeda dari pedang kayu?”

“Pedang kayu bisa membunuh seseorang jika kau membuat kesalahan. Menurutku pedang bambu ini tidak terlalu berbahaya. "

“Tetapi, jika pedang ini tidak berbahaya untuk berlatih, bukankah para petarung menjadi lebih lemah?”

“Hmm, aku tidak tahu tentang itu. Dikatakan ini ditemukan oleh Kamiizumi Nobutsuna, salah satu pendekar pedang terbaik di negara ini. Gayanya segera menyebar ke seluruh Jepang dan menjadi gaya bertarung para pemimpin. Dan karena itu adalah zaman ketika permainan pedang adalah yang paling penting, orang-orang mungkin percaya bahwa gaya berpedang itu berkontribusi penting."

Goblin itu mengangguk penuh pengertian. Kemudian dia membawa pedang itu ke kedua bawahanku.

Toshizou mengambilnya dengan tampilan nostalgia.

“Padahal, Tennenrishin-Ryu tidak benar-benar menggunakan pedang bambu.” Katanya sambil bergumam.

Jeanne melihat pedang yang tidak biasa itu dan menggigitnya. Mungkin karena dia menikmati bau bambu dari pedang itu. Kemudian dia menyadari, bahwa pedang itu bukan makanan, jadi dia mulai mencoba menggenggamnya.

Jeanne sepertinya menyukai pedang itu karena memiliki berat yang ringan, saat dia berkata,

“Pedang suciku dibuat hanya untukku dan sangat ringan. Karena aku terbiasa dengan senjata ringan, mungkin aku memiliki keuntungan dalam pertarungan ini. " Katanya sambil menyeringai.

Toshizou menjawab,

"Sebagai orang Jepang, nenek moyangku akan sangat kecewa jika aku kalah dalam pertempuran dengan pedang bambu."

Dia mulai mengayunkan pedang miliknya.

Mereka menguji pedang selama sekitar tiga menit sebelum pindah ke garis putih. Di tempat mereka berdiri, tidak jauh dari satu sama lain. Di situlah pertarungan akan dimulai.

Ada jarak beberapa meter di antara mereka, tetapi bagi mereka, lawan mereka hanya berada di luar jangkauan untuk serangan yang mengerikan.

Itu berarti bahwa mereka hanya perlu mengambil satu langkah ke depan untuk melepaskan serangan yang kuat.

Ketika mereka berdiri di garis putih, teriakan para penonton tiba-tiba menghilang. Mereka semua berkonsentrasi pada dua petarung itu, berniat untuk tidak ketinggalan adegan pertarungan sedetikpun. Dan saat konsentrasi itu mencapai puncaknya, aku mengangkat tangan kananku dan kemudian menurunkannya.

"Mulai!"

Pada detik itu, pertarungan antara dua Pahlawan dimulai.

Toshizou Hijikata vs Jeanne d’Arc. Pertempuran yang ditunggu-tunggu.


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 24 Februari 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 200. Bertobat

Chapter 200. Bertobat


 
Ketika kupikir waktunya tepat, aku pergi dan membuat sarapan.
Beberapa budak sudah mulai menyiapkan bahan masakan, jadi aku memasak bersama dengan mereka.
Setelah itu, kami membagikan makanannya ke penduduk desa.

Ngomong-ngomong, hal kedua yang mengejutkanku adalah jumlah budak anak-anak yang meningkat.
Ketika aku sedang pergi, sepertinya Pedagang Budak datang kemari dan menurunkan mereka disini.
Dia meninggalkan bahan yang diperlukan untuk mengukir segel budak pada Kiel dan yang lainnya.
Desa mencapai titik dimana budak akan melatih budak baru tanpa keterlibatanku secara langsung.

Sepertinya aku terlalu lembut, jadi yang memimpin mereka adalah Raphtalia, lalu ada Kiel, dan para budak yang kubeli terlebih dahulu.
Fakta bahwa aku pemimpin mereka tidaklah berubah, tapi kebanyakan latihan dan tugas-tugas diselesaikan sendiri oleh para budak, jadi aku tidak perlu melakukan hal terlalu banyak.

Mungkin karena ini, budak baru terlalu takut untuk mendekat padaku.
Itu bagus. Dalam beberapa hari, mereka akan terbiasa denganku, tapi rasanya menyenangkan ketika seseorang benar-benar mendengarkan perintahku.

“Sekarang, orang-orang di kastil seharusnya sudah bangun. Aku akan pergi sebentar. Siapapun yang ingin pergi ke kastil, ikuti aku.”
“Ah, Tuan Naofumi.” Atla mengangkat tangannya.

Ah, benar. Seharusnya sekarang Atla sudah memenuhi persyaratan Kenaikan Kelas.
Tapi sekarang levelnya sekitar 50. Akan membutuhkan waktu baginya untuk mencapai 60.

“Ada apa? Aku akan segera kembali?” Jelasku pada Atla.
“Benarkah?” Atla bertanya.
“Iya, Filo sedang tidak ada disini, jadi aku tidak akan membawa siapapun untuk Kenaikan Kelas.” Kataku padanya.
“Aku mengerti… Itu sangat disayangkan.”

Sepertinya Atla ingin dekat denganku…
Aku tidak masalah dengan beberapa bentuk persahabatan, tapi dengan dia yang naik ke ranjangku, itu sudah berlebihan.
Aku sudah memberi kelonggaran dengan membiarkan dia tidur dekat denganku.
Tapi untuk beberapa alasan… Penampilannya tidak berubah sejalan dengan levelnya.
Aku penasaran kapan dia akan tumbuh.

Dari apa yang aku lihat, Filo dan Gaelion belum harus mengusirnya dari ranjangku.
Dia tidur dengan damai bersama Sadina.
Setelah itu, aku keluar wilayah Gaelion dan mengaktifkan Portal Shield.

… Ratu sedang keluar.
Sepertinya dia pergi untuk menyelesaikan urusan kerajaan, dan dia akan kembali besok.
Tapi, dia telah menerima laporan dari Ksatria Wanita, dan meninggalkan beberapa perintah.

Hukuman Hero Pedang sekarang ditunda. Kami akan mengawasinya sampai saat itu.
Tidak ada hal yang bisa kulakukan dengan itu. Kerajaan ini dipenuhi manusia-manusia sampah.
Selanjutnya… Ini mungkin serius. Shadow yang mengawasi Itsuki melaporkan berita yang meresahkan.

Isi beritanya mereka kehilangan jejak Itsuki.
Aku punya perasaan buruk tentang ini… Apa yang harus aku lakukan?
Tepat setelah kami menangkap Ren, Itsuki menghilang.
Masalah muncul silih berganti.

Setelah itu, aku singgah di Pedagang Budak untuk menyerahkan uang, tapi aku akan mengabaikannya.
Uangku mulai menumpuk, dan kami masih kekurangan uang.
Mungkin aku harusnya membeli beberapa demi-human karena mereka murah.
Di Toko Senjata… Paman Imiya sedang menjaga toko.

“Ah, Hero Perisai,” dia menyambutku.
“Yo. Bagaimana kabar Pak Tua?” Tanyaku pada Paman Imiya.
“Oh, pria itu sedang dalam mood bagus. Dia bekerja dengan keras,” jawabnya.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku bisa mendapatkan kemampuan yang kumiliki sebelumnya, dan mulai bekerja untuk meningkatkannya lagi.”
“Tokonya sekarang buka, kan?”

Tokonya sangat ramai akhir-akhir ini, dan semua rak sekarang sedang kosong.

“Tidak peduli seberapa banyak barang yang kami buat, semuanya akan terjual habis. Aku telah menyisihkan beberapa keuntunganku untuk keperluan peralatan penduduk desamu, Hero Perisai-sama.”
“Mereka akan sangat terbantu. Imiya, dirimu, dan budak lain yang memiliki keterampilan lainnya. Aku menyebabkan banyak masalah pada kalian semua.”
“Apa yang kau katakan? Kau memberikan pekerjaan yang bisa kunikmati. Aku seharusnya berterima kasih padamu. Aku bersenang-senang dengan eksperimen menggunakan gunungan material yang berlimpah itu.”

Jadi dia membuat perlengkapan berbahan dasar Reiki.
Kupikir aku harus menunggu dengan penuh harap.

“Ah, benar. Bisakah kau meminta Pak Tua untuk menggunakan ini pada armor yang kupesan?”

Aku mengeluarkan inti yang kudapatkan dari Gaelion dan memberikannya pada Paman Imiya.

“Apa ini?”
“Ini, Inti Dragon Zombie.”
“Aku mengerti, jadi ini dia! Ini cukup cantik, batu merak. Ini berbeda dari apapun yang pernah aku lihat di pasar.”

Seperti yang diharapkan dari ras yang terampil. Dia bisa melihat perbedaannya dalam sekejap.

“Aku berencana untuk menggabungkannya pada armor baruku. Aku mampir untuk mengetahui apakah bisa atau tidak.”
“Baiklah. Bahkan jika itu tidak mungkin, aku akan berusaha untuk membuatnya.”
“... Kuserahkan padamu.”

Sepertinya tokonya Pria Tua semakin ramai.
Setelah itu, aku kembali ke desa.
Berkat Portal Shield. Bepergian menjadi sangat mudah.


“Dan begitulah. Sebelum kita menerima perintah selanjutnya, kau akan jadi tahanan rumah.” Aku memberi tahu keadaan saat ini pada Ren yang sedang duduk dikasur.

Ksatria Wanita juga berada di kamar, menatapi kami sambil menyilangkan tangan.
Diantara aku dan Ren, aku penasaran siapa yang dia perhatikan.

“... Oh, begitu.” Ren menerima perkataanku tanpa ekspresi.
“Sekarang, kau harus memberitahuku dimana Witch berada.”
“.... Maaf. Aku tidak tahu.”
“Hentikan omong kosongmu. Bukankah kau bandit dibawah perintah Witch?”
“Kau salah. Orang yang menjadikanku bandit… tak lain adalah diriku sendiri.”

Ren mulai mengatakan semuanya.
Sepertinya, hari dimana Ren bergabung dengan Witch, dia bilang ada seseorang yang harus dia temui, kemudian mereka berdua melanjutkan ke desa tertentu.
Itu cukup dekat dengan tempat dimana mereka berteleportasi.
Dan disana, Ren dikenalkan pada seorang pria.
Dia merasa mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi dia tidak bisa ingat dimana itu.
Pria itu menarik pedangnya, dan menawarkan untuk berlatih dengan Ren.

“Oke, jadi kau ingin berlatih denganku.”

Ren mulai bertukar pukulan-pukulan ringan dengan pria itu untuk sementara waktu… dan kemudian pria itu mulai berbicara dengan Witch.

“Jujur saja… Tidak sesua——pan. Jika dilan—“
“Oke—— begitulah.”
“Tapi, —— seperti itu, bukan?“
“Benar juga, —— keras kepala sekali, jadi sulit –— faatkan.”

Keduanya memandang kearahnya, membuatnya merasa gugup. Tapi Witch yang dia percaya tersenyum, jadi dia pikir tidak ada masalah.

“Kalau begitu, Ren-sama. Kau lelah, bukan? Mari beristirahat di penginapan.”

Dan Witch menyeret Ren masuk ke penginapan yang kelihatannya mahal.

“Sungguh, kami berharap dapat bepergian dengan Ren-sama.”
“Yah! Ren-sama itu lebih baik dari Hero Tombak-sama.”
“Be,benarkah? Aku juga bekerja keras untuk menyelamatkan dunia demi kalian semua.”

Ren memperkuat tekadnya untuk orang-orang yang mempercayainya.
Muak pada orang-orang didunia ini yang meragukannya, dia bergantung pada siapapun yang berkata mempercayainya…

Pagi harinya… semua barang miliknya hilang. Selain pedangnya, mereka membawa semuanya. Lalu dia mulai menyadari kejanggalan terjadi.
Ada sepucuk surat yang tertinggal.

“Ini adalah suratnya.”

Dia membawa surat itu?
Ren mengulurkan surat itu padaku.
Ini seperti telah di remas sebelumnya, tapi masih dapat dibaca walaupun sulit.

“Isinya… [Setelah banyak pertimbangan, kami menyadari kalau kami tidak bisa menggunakanmu, jadi kami ambil semua yang bisa kami gunakan darimu. Aku bersyukur kau membantuku lolos dari Hero Perisai dan Hero Tombak, tapi baik kepribadian dan penampilanmu bukanlah seleraku. Katakan saja… Kalau kau mengalahkan Hero Perisai, maka mungkin aku akan menunjukkan kasih sayang. Tapi kalau itu dirimu sepertinya tidak akan mungkin. Ohohoho].”

Sialan!
...Witch! kau memang tidak pantas hidup!
Dia hanya perlu waktu satu hari untuk menyerah pada Ren, wanita itu benar-benar bergerak cepat.
Mungkinkah dari awal dia mengincar peralatan Ren?

“Itulah saat kepalaku mulai menjadi sedikit aneh… Penglihatanku menjadi hitam pekat, dan seperti yang kau katakan, aku membuka Curse Series.”

Orang yang dia percayai akhirnya meragukannya seketika. Aku bisa mengerti perasaannya. Jika Raphtalia mengkhianatiku tepat setelah aku memutuskan untuk mempercayainya, maka Wrath Shieldku pasti akan terbuka lebih cepat.

“Setelah itu… Aku jatuh. Aku meninggalkan penginapan, mencari uang untuk mengganti yang hilang… Sama seperti yang diambil, aku ingin mengambilnya tapi aku tidak mau ketahuan jadi aku memakai topeng…”

Dia menyerang kereta yang sedang membawa bandit, dan menjadikan mereka bawahannya, dan membangun kelompok banditnya.
Ceritanya sangat lugas.

“Naofumi… Aku benar-benar minta maaf karena tidak mempercayaimu. Ini mungkin permintaan yang berlebihan, tapi akankah kau memaafkan perbuatanku sebelumnya?”
“Aku tidak berniat melupakannya.”
“Aku mengerti… Kalau kau tidak bisa memaafkanku dari dosa yang kulakukan, aku akan meminjamimu kekuatan untuk menebusnya. Tolong ingatlah kata-kata ini.”

Ren menghadapku dan sungguh-sungguh menundukkan kepalanya.
...Sepertinya dia amat menyesal.
Fakta bahwa aku bahkan mempertimbangkan untuk memaafkannya tadi pasti karena kelemahanku.
Aku tidak tahu apakah aku akan memaafkan orang-orang didunia ini.
Dan aku berencana untuk terus menjahilinya. Aku seharusnya punya hak untuk itu.

“Aku tidak pernah menyangka kalau Witch adalah orang yang serendah itu. Aku memang meragukannya. Tapi, dia menawarkan kebaikan sejati jadi aku percaya padanya. Itu sungguh keputusan bodoh yang tidak termaafkan. Itu mungkin kesempatan terakhir untuk menangkap wanita itu…! Tidak, aku tidak akan membiarkan itu menjadi yang terakhir kalinya.”
“Yah, dia memang punya wajah yang baik, dan dia bisa berbohong layaknya bernafas. Begitulah wanita itu.”
“Menjelek-jelekkan mantan putri? Yah bukannya aku tidak tahu masalahnya, tapi......”

Ksatria Wanita menggaruk-garuk kepalanya dan bergumam pada dirinya sendiri.

Tapi kemana memangnya wanita itu pergi?
Dari cerita Ren, dia pasti seorang konspirator.
Seseorang yang pernah kami ketahui sebelumnya… seseorang yang ada hubungannya dengan Ren.
Siapa itu?

Aku tidak tahu.
Untuk sekarang, mari lupakan surat dari Witch dan mulai memikirkan tentang Itsuki.
Setelah datang padaku, Motoyasu dan Ren, kemungkinan besar dia akan menemui Itsuki.

Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi itu pasti bukan hal yang baik.
Dia tidak pernah menciptakan apapun selain masalah..

“Selanjutnya… Ah, iya.”

Kupikir aku harus mengajari Ren bagaimana untuk menjadi lebih kuat.
Dia sudah menyesal, dan tidak ada salahnya menjadikan dia kawan.
Secara pribadi, aku pikir dia harus sedikit lebih menderita, tetapi jika Ren, Hero Pedang, memahami semua metode penguatan, dan jika dia bergerak sesuai perintahku maka dia akan lebih berguna daripada membiarkannya.
Tapi kurasa itu tergantung pada Ksatria Wanita.

“Aku akan menyuruhmu untuk berlatih memperkuat tubuhmu.” Perintah Ksatria Wanita pada Ren.
“Meskipun aku akan dieksekusi?” Tanya Ren dengan kebingungan.
“Memangnya kenapa? Aku ingin kau memperkuat hatimu pula.” Beritahu Ksatria Wanita.
“...Baiklah.”

Ren mengikuti ucapan Ksatria Wanita. Dia mulai latihan push-up.
Aku mulai melihat Ksatria Wanita sebagai otak otot. Aku heran entah kenapa.

“Ada apa?”
“Tidak ada…”
“Kita tidak masalah untuk bergerak selama kita masih berada didalam sihir penghalang Gaelion, kan?”
“Yah…”
“Kau bilang kau akan memberikan kekuatanmu pada Iwatani-dono. Aku akan mempercayai kata-kata itu. Jangan buat kepercayaanku menjadi kekecewaan!”
“I-Iya!”

Ren segera patuh pada Ksatria Wanita. 
Kurasa ini berarti berakhir dengan baik.

“Ren, jika aku memberimu kebebasan, apa yang akan kau lakukan?”
“...Aku akan membantu orang-orang yang mendapat masalah.”
“Bagus. Kalau begitu, keuanganmu saat ini bagaimana? Guild tidak akan membayarmu, kan?”
“Tentang itu. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

Ren memanggilku mendekat. Aku penasaran apa itu.

“Naofumi, berikan aku satu keping perunggu.”
“Hm? Kalau pinjam boleh.”
“Aku tidak bisa mengembalikannya.”
“Hah? Kenapa tidak?”
“Tidak apa-apa, berikan saja. Aku akan menukarnya dengan drop monster.”

Ren menarik beberapa bulu dari pedang nya dan melemparkannya.
Kualitasnya buruk… 
Tapi tidak masalah. Nilainya lebih dari satu keping perunggu. 
Aku menyerahkan satu keping perunggu pada Ren.
Dan.. Begitu koin tersebut menyentuh jari Ren, perunggunya mulai menghitam dan terkikis. Itu hancur menjadi debu, dan terbawa angin.

“Apa!?”
“...Itu sepertinya bayaran karena menggunakan Curse Skill-ku.”

Blutopferku menyebabkan damage yang besar bagiku dan menurunkan statusku.
Bayaran dari skill Ren… Apa ini karena Keserakahan?
Aku pikir ketidakmampuan untuk memegang sesuatu yang berharga bisa dianggap sebagai kutukan.
Kurasa Ren tidak bisa memegang uang untuk sementara waktu.

“Dan kualitas semua drop item juga memburuk. Aku pikir itu juga menurunkan keberuntunganku.”
“Berapa lama akan seperti ini… Tunggu, bukankah kau juga menggunakan satu lagi?”
“...Ketika aku menggunakan yang satu itu, levelku turun dari 95 menjadi 85… Aku tidak tahu apakah ada efek lain atau tidak.”

Oy, harganya cukup tinggi.
Meski milikku juga begitu.
Tapi sepertinya, efek samping itu tidak akan bertahan selama Blutopfer. 

“Kau sepertinya punya banyak masalah. Jadi apa yang akan kau lakukan?”
“Jujur saja, aku berharap untuk membantumu sebagai ucapan terima kasih karena mengembalikanku seperti sedia kala. Dunia ini bukanlah game. Aku perlu meyakinkan diriku untuk tidak sombong lagi. Kalau aku membuat kesalahan, aku ingin kau memperingatkanku. Aku memutuskan untuk mempercayai perkataan Naofumi.” Jelas Ren pada Ksatria Wanita.
“Oke.....” jawab Ksatria Wanita.

...Apa-apaan perubahan yang mendadak ini?
Wajahnya menunjukkan tekad, tapi ketaatannya cukup mencurigakan.
Aku harus menangani ini dengan hati-hati. 

“Aku tidak mau lari dari kejahatanku lagi. Kalau aku akan dieksekusi dari kejahatanku yang berhubungan dengan Reiki, aku dengan senang hati akan menyerahkan leherku. Tapi, kalau aku dimaafkan, lalu, Welt, Bakter, Terishia, Feary, aku akan berjuang untuk mencapai kedamaian dunia seperti yang diinginkan oleh keempat kawanku. Hanya itu yang kuinginkan sekarang.” Kata Ren, sembari mulai melakukan push-up.


PREVIOUS CHAPTER    ToC    NEXT CHAPTER


TLFujiwara-sama
EDITOR: Bajatsu
Proofreader: Isekai-Chan

Selasa, 23 Februari 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 17 : Chapter 3 – Pemilihan Party

Volume 17
Chapter 3 – Pemilihan Party


Malam keberangkatan kami ke dunia Kizuna akhirnya tiba. Diputuskan bahwa para pahlawan akan berkumpul di aula desa dan menentukan rencana perjalanan. Topik utama percakapan adalah siapa saja yang akan ikut pergi ke dunia Kizuna besok dan siapa saja yang akan tetap tinggal di dunia ini. Tentu saja, aku akan pergi.

"Pada dasarnya, perisai telah memberiku izin untuk melakukannya, jadi aku akan pergi ke dunia Kizuna," kataku.”Bisakah kalian menyeberang juga?” Aku bertanya pada Ren, Motoyasu, dan Itsuki.

"Jangan tanya aku," jawab Ren.

“Dunia yang berbeda dari dunia ini?” Motoyasu justu merespon bagian itu.

“Satu-satunya jawaban adalah, kami tidak tahu,” kata Itsuki. Masalahnya, keempat pahlawan suci itu adalah bagian dari sistem pendukung fundamental dunia ini. Jadi, apakah mungkin bagi mereka semua untuk pergi sekaligus? Ketika aku memikirkannya secara logis, tanpa izin khusus — seperti yang terjadi dengan Ost — mereka mungkin tidak bisa pergi ke mana-mana.

Saat kami berempat berdiskusi, batu permata di perisaiku bersinar beberapa kali.

"Apa itu tadi?" Aku bertanya-tanya. Kemudian batu permata di senjata pahlawan lain juga bersinar. Ini adalah salah satu hal yang paling menjengkelkan mengenai situasi kami — tidak ada cara untuk berbicara langsung dengan Roh Perisai. Kadang-kadang aku seperti bisa mendengar Atla, tapi ini bukan saat-saat seperti itu.

Aku tidak melihat pilihan lain. Aku mencoba menyelesaikan masalah ini seperti yang aku lakukan saat berbicara dengan monster.

"Semua orang selain aku tidak bisa pergi," kataku. Tidak ada tanggapan dari batu permata.”Apakah mungkin bagi aku untuk mengambil setidaknya satu dari empat pahlawan lainnya?” Kemudian bersinar. Sepertinya itu berarti ‘ya’.”Bisakah aku membawa semuanya?” Aku melanjutkan. Kali ini tidak ada jawaban.”Astaga, ini menyebalkan."

"Naofumi, tolong coba lagi," kata Ren.

"Oke, oke, aku belum selesai," potongku.”Aku tidak berpikir kita semua harus pergi. Pencarian Penyihir juga belum membuahkan hasil.” Penyihir telah meninggalkan Takt dan melarikan diri, sekarang ia bersembunyi di suatu tempat di dunia ini, sangat mungkin — tidak, pasti — merencanakan kejahatan baru.

Dia dicari, hidup ataupun mati, tidak hanya di Melromarc tapi di setiap negara di dunia. Begitu dia ditemukan, telah ditentukan bahwa para pahlawan akan pergi dan menghadapinya. Jika Raphtalia tidak dipanggil ke dunia Kizuna, aku akan mencari Penyihir sendiri.

Sejujurnya, kami benar-benar tidak punya waktu untuk menarik Kizuna keluar dari api. Namun itu masih menjadi masalah yang harus kami tangani.

Q'ten Lo memberikan jumlah exp yang bagus, tetapi tanpa Raphtalia, satu-satunya cara menuju kesana adalah dari pelabuhan Siltvelt. Kami sudah meminta Sadeena dan Shildina membantu kami mendapatkan exp di bawah laut, tapi Ren berenang seperti jangkar, jadi dia tidak bisa ikut ambil bagian. Dia telah berpatroli di daerah dengan monster yang kuat dan secara bertahap meningkatkan levelnya. Itsuki telah berpatroli di lautan terdekat dengan kapal bersama Rishia, sementara Motoyasu telah berpatroli di pegunungan dengan filolialnya. Mereka yang bisa berenang harus benar-benar pergi ke bawah laut!

Bahkan walaupun sekarang kami terlihat bekerja bersama, kami masih berpencar. Satu-satunya keuntungan dari itu, mungkin, kita mendapatkan material dari berbagai lokasi berbeda.

“Kita masih harus memutuskan siapa yang akan ikut,” kataku. Aku mengamati wajah-wajah yang ikut berkumpul. 

"Sampah."

"Iya?" Sampah menjawab, mengalihkan pandangan lembutnya dari Melty, Ruft, dan Fohl.

"Aku ingin meminta pendapatmu," kataku padanya. Tentu tidak ada ruginya mendengar pendapat Raja Bijaksana yang paling bijaksana — orang yang telah menghancurkan pasukan Faubrey yang dipimpin Takt selama pertempuran sebelumnya. Rencananya adalah membuat Sampah sendiri tetap tinggal. Dalam hal kecerdasan, tidak ada yang lebih bisa dipercaya selain Sampah saat ini. Bahkan tanpa aku di sini, dia akan mampu menangani hampir semua hal yang muncul. Aku hampir ingin membawanya, jujur ​​saja, tapi itu akan sangat merusak pertahanan kita di dunia ini.

"Berdasarkan apa yang telah kau katakan padaku, Pahlawan Iwatani," Sampah memulai,”jika kau pergi ke dunia itu, kau akan kembali ke level 1, benar?"

"Itu benar," aku menegaskan.

"Tetapi karena situasinya darurat, Kau tidak akan punya banyak waktu untuk menaikkan levelmu," lanjut Sampah. Ya, itu poin yang bagus — dan menyakitkan —. Ethnobalt telah mengatakan bahwa dia seharusnya dapat membawa kami ke tempat yang aman setelah kami menyeberang, jadi mudah-mudahan kami tidak tiba-tiba berada di tengah kekacauan. Tapi pasti akan ada masalah dengan waktu.

“Mempertimbangkan ancaman yang tampaknya ditimbulkan oleh musuh yang akan kau hadapi, dapat diasumsikan bahwa pahlawan selain dirimu akan dibutuhkan. Oleh karena itu, aku pribadi merekomendasikan untuk membentuk partymu berdasarkan orang-orang yang kau ajak terakhir kali, Pahlawan Iwatani,” tutupnya.

"Baik. Yang berarti...” Aku melihat Filo dan Rishia. Filo dilindungi oleh Melty sehingga Motoyasu tidak melihatnya. Tak satu pun dari mereka tampak senang berada di sini, tetapi mengingat situasinya, sepertinya mereka tidak punya pilihan.

"Aku akan melakukan yang terbaik!" Filo berkicau.”Apa kau ikut juga, Mel-chan?"

“Filo, maafkan aku, tapi aku memiliki banyak hal yang harus diurus. Aku serahkan itu pada ayahku dan ikut denganmu dalam sekejap, jika aku bisa,” keluh Melty. Ayahnya hanya tertawa, tapi dengan gaya yang memalukan dan penuh kasih sayang yang hampir membuatku merinding. Serius, sejak mengesampingkan masalahnya denganku, Sampah telah menunjukkan banyak aspek yang belum pernah aku lihat dalam dirinya. Dia seperti orang yang berbeda.

"Apa kau tidak membutuhkanku untuk melindungimu, Mel-chan?" Filo bertanya.

“Aku akan baik-baik saja, Filo. Kali ini kau harus bersama Naofumi,” Melty meyakinkannya.

"Oke! Jika kau berkata begitu!” Filo menanggapi.

"Baiklah. Kalau begitu Filo ikut—”Aku memulai.

"Jika Filo-tan pergi, maka aku akan pergi juga, kataku!" Motoyasu menyela, tiba-tiba melompat berdiri.

“Bleh! Kau menjauh!” Filo mulai berlari. Motoyasu berusaha mengejarnya, tapi Melty menghalangi jalannya.

“Tenang, Motoyasu!” Aku memerintahkan.

“Kemanapun Filo-tan pergi, aku harus ikut! Tidak peduli kemanapun itu, tidak peduli bahayanya!” katanya dengan keras. Filo tidak akan pernah ingin melakukan perjalanan bersamanya, dan aku ingin segera mengecualikannya. Tapi Motoyasu juga membawa banyak keunggulan dalam hal kemampuan bertarung. Bagaimanapun juga, jika aku tidak mengambil tindakan, Motoyasu pasti akan ikut.

Aku memikirkan seperti apa jadinya jika kita membawa Motoyasu ke dunia Kizuna. Aku segera melihat diriku berulang kali harus menanganinya karena terus mengejar Filo. Kami akan menghadapi berbagai macam masalah di sana, jadi hanya mempertimbangkan memasukkan Motoyasu ke dalam party saja, aku merasa perutku mulai sakit.

Lalu aku menyadari tatapan tidak setuju datang dari tiga filolial berbeda warna di bawah asuhan Motoyasu. Jika kita membawanya, ketiganya juga akan datang, tentu saja. Meninggalkan mereka akan membuatku berada di sisi buruk mereka selamanya.

“Tidak, Motoyasu. Kau tidak boleh ikut. Ini akan menyebabkan berbagai masalah lain, jadi kau bisa tetap tinggal di sini. Aku akan minta Ren atau Itsuki mengawasimu,” kataku padanya.

"Apa?!" Alis Ren berkerut karena tertekan.

“Tapi, ayah mertua! Aku telah bersumpah bahwa aku akan berjuang demi Filo-tan yang manis! Kemanapun putri berbulumu pergi, aku harus mengikutinya!” Motoyasu mengoceh. Itu mungkin berguna jika dia muncul selama masalah di Q'ten Lo. Sayangnya, saat itu dia sama sekali tidak melakukan apa-apa — meskipun aku memberinya pujian karena telah melindungi desa.

“Jika kau ikut, ketiga filolialmu juga akan ikut, bukan?” Aku bertanya kepadanya.

"Begitulah," jawabnya.

“Kalau begitu menyerah saja. Di dunia itu, mereka akan berubah menjadi monster yang berbeda,” jelasku.

"Apa?!" Motoyasu berteriak. Aku ingat bagaimana Filo berubah menjadi peri bersenandung, monster yang penampilannya berubah-ubah seiring perkembangannya. Tapi tidak ada filolial di sana. Satu-satunya saat dia bisa menjadi seorang filolial di sana adalah ketika dunia itu terhubung dengan dunia ini selama gelombang.

“Keputusannya belum pasti! Aku akan baik-baik saja selama Filo-tan ada di sana!” Motoyasu bersikeras.

“Bleh! Menjauh dariku!" Filo membalas.

"Tenanglah, kalian berdua," aku membentak. ”Kita bahkan belum memulainya. Keputusan akan dibuat setelah kita mendengar pendapat dari semua orang. Bersiaplah menyerah untuk ikut.”

“Tapi—” Motoyasu memulai lagi. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Aku perlu mengalihkan pembicaraan.

“Motoyasu, apakah cintamu hanyalah terbatas dengan mengejar Filo? Mempertahankan tempat Filo akan kembali — tidakkah itu disebut cinta juga?” Aku bertanya kepadanya. Motoyasu tersentak kembali dengan ekspresi seperti tersadar.

“Baiklah kalau begitu, ayah mertua! Aku akan mempertahankan wilayah Filo-tan dengan nyawaku!” katanya.

“Bleh!” Filo membalas. Aku balas melambai, tidak ingin dia mengatakan hal lain. Dia mungkin memicu Motoyasu untuk ikut kembali.

"Naofumi, kau semakin baik dalam menangani Motoyasu," kata Ren.

"Aku sudah cukup berlatih," jawabku. Aku juga tidak senang tentang itu. Aku hampir menyukai Motoyasu lama. Dia tidak mudah ditangani, tetapi sebagai seseorang yang sedikit lebih tua dari kita semua, dia juga memiliki aura pemimpin. Hampir seperti... dapat diandalkan. Namun, aku hanya melihat versi itu pada hari saat kami semua dipanggil.

Intinya, pikirku, kembali ke jalur semula... Aku akan mempertimbangkan orang lain terlebih dahulu, dan kemudian jika Motoyasu benar-benar satu-satunya yang cocok, aku akan membawanya. Aku harus melakukan yang terbaik untuk semua orang, termasuk Filo dan diriku sendiri.

Jika dia ikut dengan kami, tentu saja, kami mungkin harus menyeret Melty juga.

"Naofumi, kita mungkin perlu berdiskusi tentang tatapan yang kau berikan padaku nanti," kata Melty.

“Kau hipersensitif, Melty. Apakah ada yang pernah memberitahumu tentang itu?” Aku menjawab dengan lancar.

"Aku tidak bisa berkata ‘ya’," balasnya getir. ”Aku sendiri tidak pernah memikirkannya." Ya, Melty bisa menangani dirinya sendiri. Dia setajam paku.

“Kwaa... kwaa!” Sekarang Gaelion angkat bicara.

"Gaelion, tenanglah!" Gaelion dan Wyndia terlibat.

“Hanya karena Filo pergi, bukan alasan untuk mulai mengajukan tuntutan. Jika Kau pergi, siapa yang akan melakukan kenaikan kelas di sini?” Wyndia beralasan. Gaelion segera memelototi Raph-chan, seolah-olah mengatakan ada seseorang yang tampaknya lebih disukai semua orang.

"Raph?" Raph-chan seperti kebingungan.

“Bleh!” Filo dan Gaelion mulai saling menatap.

“Filo, berhentilah mengejek naga malang itu. Atau nanti aku akan membiarkan Rat memeriksamu,” Melty memperingatkan.

“Yuck!” Filo protes.

"Kwaa, kwaa!" Gaelion mengoceh saat dia mengepakkan sayap ke arahku. Lalu dia berbisik di telingaku.

“Dia benar-benar ingin pergi, tapi aku akan membuatnya tetap terkendali. Jika kau pergi ke dunia lain, bukankah ada sesuatu selain naga ini yang harus kau bawa?” Dia bertanya.

"Apa maksudmu?" Aku bilang.

“Apakah kau sudah lupa? Inti Naga Iblis. Inti naga dari dunia lain itu,” Gaelion mengingatkanku. Benar, tentu saja, aku ingat. Inti naga itu, adalah Kaisar Naga dari dunia Kizuna. Kami benar-benar membawa kembali barang yang cukup berbahaya. Aku juga tidak yakin apa yang harus aku lakukan dengannya. Mengembalikannya sepertinya ide terbaik.

Setelah menyampaikan pesan ini, Gaelion terbang kembali ke Wyndia.

"Baiklah." Aku mencoba untuk terus melanjutkan diskusi.”Selain Filo, satu-satunya orang di sini yang aku ajak terakhir kali adalah Rishia.” Dia membuatku terkesan juga, dapat bertarung dengan bagus melawan Kyo. Aku menganggapnya cukup lemah sampai saat itu, tetapi ketika krisis terjadi, dia lebih seperti karakter utama daripada pemain pendukung. Statistiknya belum terbangkitkan pada saat itu, tapi dia sudah mempelajari kekuatan kehidupan. Selain itu, dia juga pahlawan tujuh bintang proyektil. Dia lebih dari sekadar beban jika dibandingkan dengan yang terakhir kali, dan tidak ada orang di sini yang bisa dikatakan lebih cocok dari dirinya.

“Fehhh...” Rishia menatapku dan kemudian Itsuki. Dia mempelajari banyak hal dari dunia lain dan sudah bersahabat dengan Kizuna dan sekutunya. Itu berarti Rishia siap untuk bertempur. Tapi dia juga mungkin tidak ingin membiarkan Itsuki lepas dari pandangannya. Kutukan pada Itsuki hampir hancur sepenuhnya, tapi kepribadiannya masih belum kembali.

Filo dan Rishia memang kuat, tetapi mereka memiliki banyak ‘barang bawaan’ juga. Itsuki tidak seperti biasanya.

"Jika Rishia pergi, aku mungkin harus ikut juga," saran Itsuki. Dia sepertinya telah membaca situasinya, kali ini.

"Ah," S'yne menyela, mengangkat tangannya.

“Hei, S'yne, itu mengingatkanku. Saat gelombang sedang terjadi, tempat ini menjadi berbahaya bagimu, bukan? Mengapa kau tidak pergi selama gelombang terakhir?” Aku bertanya padanya.

"Dalam keadaan seperti itu—" S'yne mengatasi kebisingan yang selalu menghalangi perkataannya.

“Apakah ada alasan kau menanyakan ini sekarang?” familiarnya mewakili dirinya berbicara. Aku menduga bahwa pergi setelah gelombang lain lalu mengucapkan selamat tinggal bukanlah gayanya. ”S'yne ingin menemanimu dalam misi ini, Naofumi. Mungkin itu dunia yang telah dia lewati.”

"Benar, aku tidak memikirkan kemungkinan itu," jawabku. S'yne adalah pemegang vassal weapon menjahit dari dunia lain. Dunianya sendiri telah dihancurkan, dan sekarang dia menggunakan gelombang untuk berpindah dari dunia ke dunia lain. Itu berarti mungkin dia telah meningkatkan levelnya di dunia Kizuna. Masalahnya adalah, meskipun dia mencoba menyembunyikannya, vassal weaponnya sudah hampir hancur, yang berarti dia tidak terlalu kuat.

Meski begitu, S'yne sudah pasti cocok dengan misi kali ini. Peningkatan dan perlindungan yang dia terima dari kepercayaanku padanya sepertinya sedikit meningkatkan statistiknya juga.

“Baiklah, S'yne. Selamat datang di party,” kataku padanya.

"Terima kasih," katanya.

Saat pemilihan anggota party berlanjut, Raph-chan dengan bersemangat mengangkat kakinya.

“Raph, raph! Raph,” katanya.

"Oke oke. Tenang. Kau ikut, Raph-chan,” kataku padanya. Raph-chan telah lahir di dunia Kizuna. Meskipun dia belum dilengkapi dengan konsep level saat itu, item yang kami tingkatkan selagi masih ada disana juga pasti masih bekerja. Yang berarti Raph-chan juga ikut.

Belum lagi dia bisa mendeteksi Raphtalia... dan tidak mungkin aku akan meninggalkan si manis ini.

"Dafu!" Raph-chan II melambai ke Raph-chan. Itu menandakan dia berencana untuk tetap tinggal.

“Berdasarkan saran dari Sampah, kurasa hanya ini kekuatan tempur yang bisa kita bawa. Fohl, bagaimana denganmu?” Aku ingin memberinya pilihan, tetapi dia menggelengkan kepalanya.

“Aku benar-benar ingin pergi dan membantu... tapi Atla memintaku untuk melindungi desa ini. Itu yang utama,” jelasnya. Mungkin aku perlu membawanya, tergantung pada keadaan, tetapi jika dia tidak ingin pergi, maka aku tidak akan memaksakannya. Mengambil terlalu banyak pahlawan akan membuat hal-hal tidak seimbang di sisi dunia ini juga.

"Baik. Aku akan merasa lebih baik jika kau melindungi desa ini,” kataku padanya.

“Kakak...” balasnya. Aku menaruh cukup banyak kepercayaan pada Fohl. Masa lalunya, mempertaruhkan nyawanya sendiri dan berjuang begitu keras untuk adik perempuannya yang sakit di Zeltoble, telah membekas dalam diriku. Baik karena kemampuannya yang dapat diandalkan dan mentalitasnya, aku ingin mengajaknya. Tapi yang sebaliknya juga berlaku. Fohl akan melindungi desa hanya dengan sikap keras kepala murni, jika itu memang benar. Saat kami berada di dunia lain, kami dapat dengan aman meninggalkan situasi di sini kepadanya.

“Naofumi kecil. Oh, Naofumi kecil! Bagaimana dengan kita berdua?” Sadeena dan Shildina menatapku dengan harapan di mata mereka, menunjuk ke diri mereka sendiri.

"Hah? Kalian berdua ingin ikut? Aku lebih suka kau membantu meningkatkan level semua orang di desa,” kataku. Laut adalah tempat yang sangat bagus untuk menaikkan level sehingga jika mereka terus menaikkan level bahkan saat aku pergi, maka kami akan siap menghadapi gelombang atau keadaan tak terduga lainnya.

“Naofumi kecil, kau tahu apa yang kuinginkan, kan? Kau benar-benar berpikir aku ingin aman di sini saat Raphtalia dalam bahaya?” Sadeena bertanya. Dia memiliki hubungan yang dalam dengan orang tua Raphtalia dan keinginan yang kuat untuk melindungi Raphtalia. Sekarang setelah Raphtalia pergi ke dunia lain, dia tidak ingin tetap diam dan menunggu.

“Aku punya teman yang bisa aku andalkan! Sasa kecil dan Elmelo kecil!” katanya. Benar, dua tentara bayaran itu. Kupikir aku akan cocok dengan panda itu. Jadi dia berencana menyerahkan pekerjaannya pada keduanya?

“Kau tidak akan mendengarkan bahkan jika aku mencoba menghentikanmu. Oke, Sadeena, kau boleh ikut,”kataku.

"Dan aku?" Shildina mengangkat tangannya sendiri, menatap Sadeena dengan kesal.

“Kau tetap tinggal. Aku membutuhkanmu untuk melatih Ruft dan semua orang yang bisa kami percayai,” kataku padanya.

"Astaga! Tidak! Aku tidak ingin hanya Sadeena yang pergi!” katanya. Aku ingin memberitahunya untuk berhenti bersikap egois, tapi penampilannya tidak sesuai dengan usianya — Shildina tidak jauh lebih tua dari Raphtalia dan yang lainnya. Dia juga memiliki perasaan yang cukup kompleks tentang adik perempuannya, Sadeena, dan apa yang dia anggap sebagai perlakuan istimewa pasti akan memicu tanggapan ini. Dia dibesarkan di bawah tekanan seperti itu. Ini bisa dilihat sebagai perilaku kekanak-kanakan, tapi mungkin dia baru saja terbiasa dengan desa.

Reaksi egois itu membuatku mengingat adik laki-lakiku sendiri. Mungkin dia juga merasa tidak nyaman berada di dekatku — meskipun dalam banyak hal, belajar atau apa pun, dia biasanya berada diatasku.

“Shildina... tenang saja." Ruft melangkah masuk. ”Pahlawan perisai meninggalkan desa dalam perawatanmu. Bukankah itu berarti dia lebih mempercayaimu daripada Sadeena?” Ini menarik. Ruft meletakkan tangannya di pundaknya saat dia membujuknya.

"Astaga...” Sepertinya berhasil. Ruft cukup pandai mengendalikannya.

"Astaga! Apa kau benar-benar berpikir begitu?" Sadeena menimpali. Tepat saat aku membutuhkannya untuk tutup mulut!

"Dafu!" Raph-chan II berpindah dan naik ke bahu Ruft. Shildina segera melompat dan bergerak bersembunyi di belakangku. Aku benar-benar berharap dia bisa mengatasi ini sekarang.

“Dafu, dafu, dafu!” Seolah-olah memarahinya karena egois, Raph-chan II menunjuk ke arah Shildina dan berkicau.

"Oke," kata Shildina akhirnya. ”Aku akan membantu semua orang di sini dan menunggu Naofumi yang manis kembali."

"Itu sempurna," kataku padanya.

"Tapi kita harus bersenang-senang setelah kau kembali," dia menegaskan.

"Tentu, tentu," kataku. Pada saat itu, semacam cahaya berkedip di sekitar Shildina. Aku bertanya-tanya apa itu. Tampaknya ada sedikit kebocoran dari aksesori jangkar yang dipegang Ethnobalt. Itu hanya berkedip beberapa kali, jadi mungkin itu hanya imajinasiku saja.

Terserahlah. Kami akhirnya selesai membentuk party.

“Bubba, bubba! Bagaimana denganku?" Keel mengibaskan ekornya dengan gembira saat dia maju ke depan. Terakhir kali kami pergi, kami harus meninggalkannya karena luka yang dideritanya dari salah satu familiar Roh Kura-kura.

“Aku tidak ingin membawa semuanya. Dan seperti yang kukatakan, kami mungkin akan segera bertempur,” jawabku. Jika dia benar-benar ingin melakukannya, aku tidak akan menghentikannya, tetapi aku juga tidak ingin meninggalkan desa tanpa pertahanan. ”Sadeena bisa menangani dirinya sendiri bahkan dengan level rendah, bukan? Dan dia dapat menjadi kuat dengan sangat cepat,” kataku.

"Ya itu benar. Aku yakin Sadeena kuat secara mental bahkan di level 1!” Keel antusias.

“Tapi bagaimana denganmu, Keel? Apakah Kau memiliki kepercayaan diri untuk bertarung di level 1?” Aku mempertanyakan.

"Hmmm. Baik! Aku akan tinggal di sini dan mendukung Fohl!” katanya, dengan cepat berubah pikiran dan meraih lengan Fohl.

"Tentu, oke," katanya goyah. Aku mungkin akan lebih memikirkannya jika dia mengatakan sesuatu seperti, “Kau tidak mengajakku terakhir kali, jadi kali ini aku pasti ikut!" Tapi dia tidak mengatakan kalimat itu.

Aku menyerahkan urusan dagang ke Keel, dan itu berjalan dengan baik. Tidak rugi baginya untuk terus seperti itu. Aku telah memperoleh wilayah dan kekayaan yang cukup besar, tetapi demi masa depan, aku ingin tetap menjaga keamanan dan menjaga perdamaian sambil berdagang.

“Terus lakukan yang terbaik!” Aku menyemangatinya.

"Aku akan melakukannya! Aku akan menghasilkan begitu banyak uang sehingga kau akan membuatkan camilan manis baru untukku!” katanya. Jadi manisan yang dia kejar? Terkadang aku benar-benar berpikir aku telah salah membesarkan semua orang di desaku.

“Seharusnya ini cukup,” kataku, ingin menyelesaikan tahap proses ini. Mempertimbangkan situasi di sana, mungkin yang terbaik adalah tidak membawa banyak orang. Memang ada kekuatan dalam jumlah, tetapi membawa terlalu banyak juga bisa menyebabkan kematian yang tidak perlu. Lagipula, jika kita bertemu seseorang yang Rishia dan aku tidak bisa tangani, kebanyakan dari mereka di sini tidak akan bisa membantu. Aku perlu menekan kerugian sejauh mungkin.

Jadi kami membawa Filo, Rishia, Itsuki jika memungkinkan, Sadeena, Raph-chan, dan kemudian S'yne. ”Sepertinya party sudah terbentuk," aku menyimpulkan. Ethnobalt dan aku akan melengkapi party.

Ini terasa terlalu banyak namun mungkin tidak cukup. Tapi masih ada gelombang dan segala macam masalah lain yang harus diselesaikan di dunia ini. Jadi ini seharusnya cukup.

"Baik. Dari empat pahlawan suci, aku akan mengambil Itsuki. Apakah itu diizinkan?" Aku bertanya pada perisai. Itu bersinar lagi. Sepertinya aku sudah mendapat izin.

Jika memungkinkan, aku benar-benar ingin bertemu dengan Raphtalia, menyelamatkan Kizuna, berurusan dengan pemegang vassal weapon yang menyebabkan masalah, dan kembali ke sini.

"Kalau begitu, diskusi berakhir," kataku. Semuanya lalu pergi.

Kami akhirnya memutuskan party untuk melakukan perjalanan ke dunia lain.


Keesokan paginya, Ethnobalt memfokuskan kesadarannya pada aksesori jangkar, menegaskan lagi bahwa semuanya sudah siap. Semua orang telah membuat persiapan dan siap berangkat. Aku juga membuat cukup banyak soul healing water untuk masing-masing pahlawan, jadi kita bisa meningkatkan kemampuan mereka jika kita bertemu dengan Glass.

“Sampai jumpa lagi, Bubba! Semuanya!" Keel menyalak.

"Aku tidak akan pergi lama, Mel-chan!" Kata Filo.

“Aku tahu, Filo. Hati-hati,”jawab Melty. Hampir semua orang dari desa datang untuk mengantar kepergian kami.

"Ah... berharap kau kembali dengan selamat, aku membuat aksesori ini. Jika kau menyimpannya, itu mungkin menghindarkanmu dari bahaya,” kata Imiya, memberikanku aksesori.


Two Spirit Charm (empat perlindungan hewan yang baik hati, all stats up [medium], efek acak)
Kualitas: excellent


Ini dibuat dengan menggabungkan bahan dari Roh Kura-kura dan Phoenix di sekeliling batu permata yang disebut pastel diamond. Itu juga terlihat seperti bisa diisi dengan sihir. “Efek acak " adalah slot efek yang dapat ditingkatkan melalui sihir. Setiap kali diisi, statistik akan berubah secara acak. Itu adalah efek yang cukup kuat.

Aku terkesan. Aku telah membuat aksesori sendiri untuk melawan efek status, tetapi aku tidak yakin aku bisa menghasilkan sesuatu yang seperti ini. Itu benar-benar hasil dari semua kerja keras yang dilakukan Imiya untuk membuat aksesori ini.

"Terima kasih," kataku padanya. Aku menerima aksesori darinya dan kemudian mengacak-acak rambutnya. Aku bisa melihat pipinya memerah. ”Aku minta maaf tentang kesalahpahaman sebelumnya. Aku membuatmu salah paham.”

"Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir. Tolong kembalilah dengan Raphtalia dan yang lainnya,” jawabnya.

"Ya. Sudah saatnya membawa pulang Raphtalia,” kataku. Semuanya akhirnya siap, aku memberi sinyal pada Ethnobalt. Lebih banyak suara terdengar, meminta kami kembali dengan selamat. Bahkan ada ”dafu" yang ikut tercampur. Party yang berkumpul melambai kepada semua orang.

“Itu hanya kunjungan singkat, tapi terima kasih untuk semuanya. Aku akan membalas kebaikan ini di masa depan. Baiklah, kita pergi,” kata Ethnobalt dan mengangkat aksesori jangkar. Itu mulai bersinar dan cahaya lembut mengelilingi kami yang melakukan perjalanan. Kemudian dunia di sekitar kita berubah. Rasanya seperti setelah menggunakan portal.

Kami berangkat ke dunia Kizuna.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Isekai-Chan 
EDITOR: Poo

Senin, 22 Februari 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 199. Pagi Hari Hero Perisai

 Chapter 199. Pagi Hari Hero Perisai




Aku harus bangun lebih awal pagi ini.
Aku terbangun lebih awal dari para budak. 
Tentu saja, ini terjadi hanya ketika aku tidak begadang sampai larut malam.
Biasanya aku terjaga untuk membuat obat atau menyelesaikan tugas-tugas lainnya. 

Kemarin, aku membawa Ren ke desa. Aku lelah dengan pertempuran, jadi aku tidur lebih awal. 
Aku melihat ke arah ranjang disampingku, dan melihat Sadina tidur nyenyak dengan Atla.

"Uu.. Sadina-san. Kau terlalu memaksa…"
"Berhen...ti~..."

Sebenarnya apa yang mereka mimpikan? 
Apa mereka juga berlatih di mimpi mereka? Manga seperti apa ini? 

"Kyua… Kyua…"

Untuk berjaga-jaga, Gaelion kecil berada di ranjangku. Jika Atla akan merangkak ke tempat tidurku, dia akan mengusirnya.

Sekarang ini. 
Aku turun dari ranjang dan keluar kamar. 
Aku melakukan peregangan sebentar, dan diam-diam berjalan menuju desa, samar-samar mendengarkan suara ombak. 
Aku menuju ke rumah Camping Plant dimana Ren tinggal sekarang. 

Ah, ngomong-ngomong, Dragon Sanctuary Gaelion sudah disiapkan. 
Ketika aku bertanya padanya mengenai pemeliharaannya, dia mengatakan sesuatu seperti ‘jika penghalang itu sekali saja diaktifkan, mantra itu secara permanen membuat area anti-teleportasi sampai dia menarik mantra itu kembali.’
Tapi segera setelah mantra itu diaktifkan, Filolial melarikan diri dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Sepertinya dia punya kenangan buruk tentang itu.
Dia tidak akan memasuki desa lagi, jadi kami harus membuat kandang lain untuknya diluar. Tapi ini hanya tindakan sementara. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. 
Mungkin aku harus teleportasi ke kastil dan melapor ke Ratu.

Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kulakukan. 
Rumah Ren dipakai ksatria wanita. Aku mencapai dinding dimana Ren berada.
Untuk mencegah Ren kabur, banyak ksatria dan budak yang ditempatkan di dalam rumah. Aku tidak bisa masuk lewat pintu depan.

“… Pintu Darurat.”

Aku membisikkan kata ini ke Camping Plant sambil membisikkan mantra sihir.
Dan sebagai jawabannya, muncullah sebuah pintu di dinding.
Tanamannya sudah diubah untuk menerima perintah tertentu dariku, dan aku bisa membuat lubang dimana saja.
Hanya aku dan Rat yang tahu. Itu adalah fungsi rahasia.

"Bagus."

Aku menyusup ke kamar Ren, dan memastikan kalau dia tertidur.
Dan mulai berbisik di telinganya.

"Diantara para Hero, kaulah yang terlemah. Kau bukan siapa-siapa selain raja dari para pencuri. Semua ini adalah kesalahanmu."
"U...uu…"

Whap! 

Dari belakang, sebuah kipas yang terbuat dari daun Bioplant yang tak terhitung jumlahnya mendekat dan menyentuh kepalaku. 
Itu tidak sakit sama sekali. 
Aku melihat sekitar dan menemukan Ksatria Wanita menatap marah ke arahku dengan kedua tangan yang disilangkan. 

"Apa yang sedang kau lakukan, Iwatani-dono?!" Ksatria Wanita menegurku.
"Jangan berteriak. Kau akan membangunkan Ren."

Aku hanya ingin memberikan dia beberapa mimpi buruk. 
Lalu sekarang, untuk membisikkannya lagi…

"Hantu dari mereka yang dibunuh oleh Reiki…" 
"Apa kau tidak mau berhenti!?" Sekali lagi, dia menegurku.
"Ngomong-ngomong, kau datang dari mana? Ini kamar Ren, kan?” Tanyaku. 
"Seharusnya itulah yang aku katakan," jawabnya.
"Yah, Camping Plant dibuat olehku dan Rat. Bagaimana caramu masuk?" Tanyaku kembali.

Untuk mencegah dia kabur, kamarnya harus dikunci. 
Bagaimana caranya dia bisa masuk dengan mudah? 
Mungkinkah mereka tidur bersama? 
Tidak, itu tidak mungkin terjadi pada mereka berdua. Aku tidak akan percaya jika itu sampai terjadi.

"Terlalu terlambat untuk bertindak ketika sesuatu telah terjadi. Aku tadi sedang istirahat di dalam lemari,” jawabnya.
“Kau pasti suka tidur di tempat-tempat yang aneh,” dia seperti kucing biru itu. Lemari adalah satu-satunya yang membedakan.
<TLN: Belum tau referensi apa>

“Kau… salah. Oh Raphtalia. Aku tidak bisa menahan Iwatani-dono. Tolong pulanglah secepatnya,” Ksatria Wanita mengeluh sambil mendorongku keluar kamar.
“Ah, jadi kau jatuh cinta pada Ren,” gumamku.

Meski tidak setampan Motoyasu, dia memang tampan.
Aku tidak tahu usia Ksatria Wanita yang sebenarnya, tapi dia terlihat masih muda. Seumuran denganku, mungkin? 

“Bercanda itu ada batasnya. Aku tidak memiliki waktu untuk sesuatu seperti cinta. Dan aku dapat menyatakan kalau dia itu bukan tipeku!” Tegasnya.
“Wah kebetulan. Dia juga bukan tipeku!” Tanggapku.
“Iwatani-dono suka membuat orang lain marah. Aku dengar hal seperti itu dari Raphtalia. Aku benar-benar menganggap kau penjahat.”
“Yah, itu benar.”
“Hah… kenapa semua hero jadi seperti ini...” keluhan Ksatria Wanita cukup berat. Apa yang membuatnya sangat resah? Tidak, Aku tahu jawabannya.

Akankah dia protes pada Raphtalia tentangku?
Aku bahkan tidak bisa menghitung kejahatan yang kulakukan sejak aku berada disini.
Beberapa bangsawan di negeri ini telah menjadi mangsaku.

Aku menjual permata kelas dua dengan harga tinggi, dan menggunakan obat murah untuk memberikan perawatan medis yang mahal menggunakan peningkatan perisaiku.
Aku tidak akan heran kalau Raphtalia jadi skeptis padaku karena hal itu.
Dia mungkin mempercayainya jika ksatria yang rajin ini memanggilku penjahat.

“Oh iya, kau cukup kuat,” pendapatku.
“Aku bisa melihat aliran sihir dari awal. Tapi kau maupun Guru tidak ingin melatihku. Tapi tetap saja, aku mati-matian mencobanya, dan akhirnya aku mendapat izin Guru untuk ikut berlatih. Meskipun dia memberitahuku tekniknya, itu semua hanyalah dasarnya. Sebagian besar teknikku adalah buatanku sendiri,” jelasnya.
“Oh begitu...”
“Pergerakan yang kupakai itu baru saja kuselesaikan. Aku tidak yakin itu akan bekerja dengan baik.”

Apakah dia mirip Atla?

Aliran Kii dan Sihir.
Dia bisa melihat aliran kekuatan yang disebut sihir, dan bisa menggunakannya.
Walau mungkin ada beberapa perbedaan.

Atla mengatakan dia bisa melihat aliran Kii, sedangkan Ksatria Wanita mengatakan melihat aliran sihir.
Sekarang ini, yang aku mengerti hanyalah yang terakhir.

Ketika aku kembali, aku bertanya kepada warga desa, tapi selain aku dan Ren, nampaknya tidak banyak perbedaan dari aliran sihir mereka.
Meskipun aliran Rishia lebih kecil dari yang lainnya.

Satu hal yang kupelajari adalah aliran sihir itu sesuatu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sama seperti ketika kita tidak menyadari pergerakan dari otot-otot kita dan jika darah kita bergerak, sihir mengalir di dalam tubuh tanpa kita sadari.

“Raphtalia memiliki sebuah teknik dimana dia membakar energi yang dikeluarkan oleh musuh yang telah kalah dan mengubahnya menjadi serangan, bukan? Itu adalah versi pembaruan dari teknikku,” Ksatria Wanita memberitahuku.

Ah, benar.
Raphtalia menyebut itu sebagai Ying Yang Sword.
Aku pikir itu adalah teknik yang aneh. Jadi orang ini yang mengajarinya.
Aku kira dia juga jenius. Dan dia tidak mengabaikan kerja keras. Bahkan meski statistiknya rendah, dia berhasil mempertahankan posisinya.
Aku pikir aku harus bertanya.

“Hei, apa kau ingin mendapat kekuatan dengan menjadi budak?” Tanyaku.
“Prospeknya cukup menarik, tapi statusku tidak mengizinkanku untuk melakukannya,” Jawabnya.
“Ah begitu… Ngomong-ngomong, mengapa seseorang serajin dirimu tidak ada disana ketika aku panggil?”
“Izinkan aku meminta maaf terlebih dahulu. Maafkan aku. Para ksatria tidak bisa memperbaiki kesalahan di negara ini karena ketidakmampuanku.” Ksatria Wanita memberikan permintaan maaf yang tulus sebelum dia melanjutkan. “Ini mungkin terdengar seperti sebuah alasan, tapi ketika Iwatani-dono dipanggil dan diperlakukan seperti kriminal.. Aku sedang berada di sel penjara di dalam kastil.”
“Hm? Kau seorang kriminal?”
“Kalau itu masalahnya, aku tidak akan terpilih menjadi ksatria. Padahal statusku sudah jatuh.”

Yah, seorang kriminal tidak akan bisa menjadi ksatria.
Tapi kenapa orang jujur seperti dia dipenjara?
Mungkin karena kejujurannya itu yang membuatnya dipenjara.
Negara ini penuh dengan sampah, jadi kukira itu wajar.

“Mungkin warisanku lah yang jadi penyebabnya, tapi tindakan yang kulakukan dengan sendirinya dianggap sebagai kejahatan oleh negara,” jelasnya
“Apa warisanmu?” Aku bertanya.
“Wilayah ini,” jawabnya.
“Apa?”
“Aku adalah anak dari orang yang menjadi penguasa tanah ini. Meski aku bilang begitu, aku sudah meninggalkan kastil untuk berlatih menjadi ksatria dalam waktu yang lama. Aku tidak pernah menghabiskan banyak waktu disini, jadi kenanganku tentang tempat ini kabur.”
“Ah… aku mengerti.”

Jadi itulah kenapa dia bisa mudah berbicara dengan Raphtalia.
Mereka dekat satu sama lain karena berasal dari daerah yang sama.
Wajahnya membuatku berpikir kalau dia berasal dari keluarga bangsawan, tapi aku tidak menyangka dia berasal dari sini.

“Ayahku bertempur di garis depan selama gelombang pertama untuk memberikan waktu orang-orang melarikan diri… dan tewas.”
“Begitu.”
“Sebelum dia meninggal, ayahku bilang padaku, ‘Hidup mulia tanpa penyesalan.’”

Ratu, lalu Raphtalia dan Sadina, mereka semua memuji penguasa itu. Dia pasti orang yang baik.
Aku pikir Raphtalia bilang kalau dia pria baik yang memperlakukan para demi-human dengan baik.
Ternyata dia adalah anak perempuannya.
Aku mengambil alih posisinya dan sekarang aku seorang Count.
Mungkin alasan Ratu memberi gelar padaku adalah agar aku mengikuti jejaknya.

“Lalu, aku dan beberapa orang lainnya ditempatkan diwilayah ini, tapi… para petualang, dan sebagian dari ksatria dan prajurit mulai memburu para demi-human.”
“Ah, jadi itu yang membuat para penduduk desa ini menderita.”
“Iya. Aku keberatan dengan orang-orang itu, dan dipenjara karena membela demi-human yang harusnya bisa hidup dengan damai di tanah ini.”
“Astaga...”
“Tentu saja, aku menyadari sistem perbudakan menjadi kejahatan yang diperlukan di dunia ini. Tapi mereka yang sudah kehilangan segalanya oleh gelombang, mereka yang, merupakan warga kerajaan yang harus kami lindungi, malah mendapat penyerangan dari ksatria kerajaan itu sendiri, untuk apa ada ksatria jika itu terjadi!? Hanya karena ayahku meninggal, dunia ini akan memperlakukan mereka sedingin itu?”

Yah, negara ini benar-benar busuk.
Orang lain yang berpikiran sama seperti Ksatria Wanita juga ikut dipenjara.
Banyak dari ksatria yang membantu di desa tetangga adalah orang-orang yang dipenjara bersama Ksatria Wanita.

“Akhirnya, aku dinyatakan tidak bersalah oleh Ratu dan dibebaskan. Ini terjadi kurang lebih ketika Iwatani-dono di Kepulauan Cal Mira.”
“Aku terkejut kau bisa menghindari eksekusi.”
“Itu nyaris saja.”
“Benarkah?”
“Haha. Aku dituduh memiliki darah demi-human, dan telah dicuci otak oleh Iblis Perisai, bahkan disebut pengkhianat dalam jajaran ksatria.”
“Bagaimana bisa aku mencuci otak seseorang yang dipenjara bahkan sebelum aku dipanggil…?”

Apa mereka berencana mengeksekusinya dan semua yang mendukung demi-human bersama denganku ketika mereka menangkapku?
Gereja Tiga Hero memang menyimpan kebencian terhadap demi-human jadi itu mungkin terjadi jika kami kalah.
Sampah sepertinya juga punya kebencian yang mendalam, jadi itu kemungkinan besar benar.

“Baiklah. Aku sudah mengerti semuanya, kau hidup seperti apa yang dikatakan ayahmu dan menjadi orang jujur. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi sedikit licik.”
“Tidak mau!”

Apa yang dia ingin katakan itu jika dia dipenjara, dia tidak bisa mengalahkanku, kan?
Kalau dia berada disana, dan jika dia mengajukan keberatan, Sampah dan Witch… akan memenjarakannya juga.
Mau bagaimanapun juga, dia sudah pasti akan dipenjara… aneh sekali.
Masyarakat busuk ini menghukum orang-orang yang jujur.
<EDN: Meresahkan>

Aku tidak akan mengatakan kalau orang-orang disana tidak ada yang salah.
Aku menganggap Ksatria Wanita sebagai sekutuku.
Meskipun dia mencoba untuk melawanku kemarin, akulah yang memulainya.

“Lalu? Kau bilang Raphtalia menitipkan sesuatu padamu, kan? Apa itu?”
“...Ah,” Ksatria Wanita menatap cakrawala. Tidak ada sesuatu disana, tahu. “Ringkasnya, dia bilang padaku untuk menghentikanmu jika kau melakukan sesuatu yang buruk. Dia mengatakan padaku banyak hal juga,” lanjutnya.
“Itu terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan Raphtalia.”

Raphtalia selalu mengeluh kapanpun aku melakukan sesuatu yang tidak pantas bagi seorang Hero.
Sebaliknya, Atla setuju dengan apapun yang kulakukan, bahkan sampai sulit untuk menahannya.
Aku tidak bisa mengendalikan diriku dengan baik, jadi sulit bagiku untuk berurusan dengan tipe orang seperti itu.
Singkatnya, aku merasa benar melakukan sesuatu sesuai dengan keinginanku.
Oleh karena itu, permintaan Raphtalia benar.
Jika pada saat itu Raphtalia bersamaku, pasti dia akan melakukan hal yang serupa dengan Ksatria Wanita.

“Hari ini aku akan pergi ke kastil. Apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku.
“Itu tergantung pada perilaku Hero Pedang. Setelah aku menanyainya… aku lelah. Aku akan melanjutkan mengawasinya,” jelasnya.
“Gaelion sudah menyiapkan penghalang, tapi jika dia lolos, tidak ada yang bisa kau lakukan jadi berhati-hatilah,” aku memberitahu Ksatria Wanita.
“Aku tidak merasa dia berniat melarikan diri. Kalau dia lari, aku akan bertanggungjawab penuh untuk itu,” katanya.

Setelah kembali ke desa, Ren sadar kembali.
Tapi ekspresinya gelap. Dia bilang dia akan menerima hukuman apa saja yang diberikan padanya, kemudian dia duduk dan menunggu dengan sabar.
Dia tersadar kembali cukup larut di malam hari.
Kami semua cukup mengantuk, jadi kami biarkan dia tidur.

“Bangunkan dan interogasi saja dia,” saranku.
“Jangan. Biarkan dia beristirahat dengan tenang sekarang,” Ksatria Wanita menolak saranku.
“... Kalau begitu aku akan menunggu. Lagipula tidak menyenangkan menginterogasi orang yang mengantuk.”

Sepertinya aku terlalu banyak menambah garam pada lukanya.
Kalau aku melakukan sesuatu lagi, Ksatria Wanita akan mengadu pada Raphtalia.
Walaupun aku pikir sudah terlalu terlambat bagiku untuk mengkhawatirkannya.


Setelah itu, aku mampir ke kandang monster. Aku memberi makan para monster, dan membiarkan mereka berkeliaran sebentar.
Aku bermain dengan mereka menggunakan Frisbee Shield, ranting dan bola. Kami juga bermain sesuatu yang serupa dengan kejar-kejaran.
Meskipun ini masih pagi hari, para budak terlihat sabar dan menunggu gilirannya.
Itu adalah beberapa budak yang tidak ikut berjualan.

Dune adalah monster domestik. Jadi mereka selalu berpartisipasi.
Mereka rukun dengan budak-budak Lumo.

“Guk guk! Bubba! Lempar lagi!” Kiel datang padaku sambil menggigit ranting pohon dimulutnya....Iya, yang satu ini adalah anjing dari manapun kau melihatnya.

Ketika aku kembali ke desa, hal pertama yang mengejutkanku…
Adalah bentuk anjing Kiel.
Dia terlihat seperti anak anjing. Dia seperti Siberian Husky.

“Bubba, Selamat datang!” Ketika aku kembali, aku disambut oleh anjing bercelana yang berjalan dengan dua kaki. Kupikir aku telah gila.
“Kau…” aku bertanya.
“Hehe, keren, kan? Sadina-neechan yang mengajariku,” jawab Kiel.

Kiel terlihat sangat bangga… tapi penduduk desa lainnya memiliki ekspresi yang rumit.
Itu cukup luar biasa. Dia terlihat seperti hewan yang akan kau inginkan untuk dipelihara.
Dia tidak menakutkan sama sekali.

“Kiel-chan terlihat punya bakat, jadi aku mengajarinya~” jelas Sadina.
“Bakat…”

Oh benar. Sadina mempertahankan bentuk itu dari transformasi juga.

“Wa… Kiel-kun jadi imut.” Rishia menggendong Kiel dan mengelus-elus kepalanya.
“Turunkan aku Rishia-neechan!” Kiel protes.

Namun, Rishia tidak menurunkan Kiel dan terus mengelusnya.
Aku bisa mengerti perasaannya.
Aku juga punya dorongan tiba-tiba untuk mengelusnya.

“Lalu? Apakah ada orang lain lagi yang bisa berubah bentuk hewan? Apa mereka bisa berguna?” Tanyaku.
“Itu bergantung pada rasnya, tapi umumnya kemampuannya meningkat. Sepertiku,” jawab Sadina.
“Ah begitu…”
“Ada hubungannya dengan bakat pula, jadi sebagian besar dari penduduk di desa ini mungkin tidak bisa melakukannya.”
“Aku mengerti. Bagaimana dengan Raphtalia?”
“Menurutku Raphtalia tidak bisa.”

Aku sedikit senang kalau Raphtalia tidak akan berubah seperti ini.
Untuk beberapa alasan, aku membayangkan Shiragiku. 
<TLN: Patung standar tanuki.>
Aku benar-benar tidak ingin menghancurkan bayangan pikiranku tentang Raphtalia.
Kalau dia disini, mungkin dia akan berpikiran yang sama.

“Bubba, apa kau berpikir tentang sesuatu yang aneh sekarang ini?” Kiel bertanya dengan ekspresi penasaran. Aku tidak peduli.
“Hmm, apa dia sangat imut,” Atla memiringkan kepalanya sambil bertanya.
“Ya, Kiel-kun terlihat imut,” jawab Rishia.

Meskipun dia bisa melihat aliran Kii, tapi dia tidak bisa melihat sesuatu secara fisik.

“Jangan bilang aku imut! Bukankah aku keren?” Kiel menambahkan.
“Tidak, kau sangat imut sekarang,” setelah aku bilang begitu, Kiel terlihat murung. Kepalanya tertunduk lesu.
“Itu tidak mungkin… Kupikir akhirnya aku jadi keren…” keluh Kiel.
“Bentuk normalmu lebih baik,” sebutku.

Wajahnya feminim, jadi dia masih masuk kategori imut.
Sadina mulai tertawa puas sambil memperhatikan kita.
Tawanya sudah seperti bom yang meledak.

“Ngomong-ngomong, Fohl-chan juga berbakat,” kata Sadina setelah tertawa.
“Apa, kau bilang....?” Atla kehilangan kata-kata. Apa? Apa sebenarnya yang bisa membuat Atla  sampai seperti ini? Atla melanjutkan perkataannya. “Onii-sama, kau baru saja mendapat nama panggilan yang luar biasa dari Tuan Naofumi, dan diatas itu semua kau berbakat untuk berubah menjadi binatang yang lucu. Kau pasti mengincar hati Tuan Naofumi. Aku iri dan cemburu.”

… Ternyata bukan hal yang bagus.




TLFujiwara-sama
EDITOR: Bajatsu
Proofreader: Isekai-Chan