Tampilkan postingan dengan label IBecameHeroBride. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBecameHeroBride. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2022

I Became Hero’s Bride! PDF Bahasa Indonesia

I Became Hero’s Bride!
PDF Bahasa Indonesia 







Translator : MobiusAnomalous
EDITOR : Isekai-chan
Proofreader : Bajatsu
PDF Maker : Bajatsu

[Kami memohon izin menautkan shorter link, ini ditujukan untuk biaya perawatan dan domain Isekaichan. Jadi kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan tolong jika ingin share link gunakan link shorternya untuk selalu mendukung kami :) Terimakasih]

I Became Hero’s Bride!






LINK DOWNLOAD
DARK MODE            LIGHT MODE
MIRROR                      MIRROR

Terdapat Dua Versi PDF
DARK MODE

 LIGHT MODE

Jika terdapat saran atau masukan agar PDF-nya bisa lebih baik lagi jangan ragu untuk tinggalkan komentar. Terimakasih

Selasa, 03 Maret 2020

I Became Hero’s Bride! Novel Bahasa Indonesia Chapter 35 – Aku Menjadi Pengantin Hero (End)

Chapter 35 – Aku Menjadi Pengantin Hero (End)


Itu adalah awal dari balas dendam.

"Hiik?!" 
"Ini berbahaya, Nyonya Turis !!"

Clarice baru saja berhasil menggerakkan tubuhnya ketika dia berteriak, terkejut oleh gerakan Biella yang hampir seketika tepat berada di depan turis itu. Walaupun dia adalah orang yang telah menggunakan segel, dia hanyalah orang normal. Perbedaan dalam kemampuan fisik bukanlah salah satu yang dapat dengan mudah dibalikkan. Biella memanfaatkan semua kekuatannya dan menggerakkan tubuhnya sebelum semua kekuatannya disegel.

"Dduhuurrk !!"

Tidak lama kemudian, turis itu terlempar dan mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dipahami. Tidak seperti kedatangannya yang megah, dia keluar dengan menyedihkan. Setelah mencuri kembali grimoire, Biella menghancurkannya dengan satu tangan.

"Sampah itu... Hampir membuatku takut." 
"Kuk!"

Clarice memukul tanah dengan marah dan menyesal. Ya Tuhan. Mereka gagal. Masa depan suram. Itu benar-benar berakhir sekarang. Tidak ada cara untuk menghentikan Biella lagi. Setelah menyadari keputusasaan Clarice, Biella mengangkat grimoire tinggi-tinggi di udara, dan berteriak dengan sangat bersemangat.

"Kemenangan! Akhir dari Pengantin Sang Pahlawan!"

Biella sangat senang hingga dia menembus dinding keempat. Sekarang yang tersisa hanyalah merobek-robek grimoire ini menjadi berkeping-keping dan membunuh sisa -sisa sampah itu.

"Ho~ Kalau begitu siapa yang akan menggantikan Park Minwoo ini? Tentunya bukan kau, kan?"

Atau mungkin masih ada kesempatan.

"A, apa ?!"

Tentakel melesat terbang dari semua sudut penglihatannya dan menyambar grimoire. Blok yang bagus. Biella berbalik ke arah Minwoo dengan kaget, dan sekarang dia jatuh dalam ketakutan dan keputusasaan. Apakah itu karena segel, sihir yang telah menahan party sang pahlawan telah dibatalkan.

"Ah, ahhh ...! Segel!"

Dia harus mengambilnya kembali. Ia harus. Tapi lengan dan kaki Biella sudah membeku dan dia bahkan tidak bisa bergerak. Minwoo menerima grimoire dari Orleia, membukanya lebar-lebar dan berkata dengan suara mematikan.

"Hanya ada satu hal yang membuatmu kalah... Hanya satu jawaban sederhana ..." 
<TLN: referensi JoJo, lagi.>

Minwoo dengan perlahan, tetapi berbicara dengan sangat jelas.

"Kau menyakiti Clarice."

Kaki Biella menyerah berdiri, keempat anggota tubuhnya telah terkuras kekuatannya. Mengerikan. Dia begitu menakutkan sampai-sampai dia hampir membasahi celananya...!

"T, t, tolong biarkan aku pergi, hanya sekali ini! Biella minta maaf ...!"

Minwoo tanpa kata memandang ke balik bahu Biella. Biella mengikuti garis pandangnya. Saat kepalanya berderit dengan wajahnya yang memutih, yang dia lihat di belakangnya adalah-

"Bunga ganda?"

Senyun dan Ericia yang telah memanggil inferno dan mengumpulkan Kekuatan Rahim, masing-masing menatapnya dengan senyum mematikan ...

Itu adalah kenangan terakhir Biella.

***

"Ini sudah berakhir." 
"Ya. Benar sekali."

Sinar cahaya datang melalui lubang di atap yang diledakkan Senyun dan Ericia. Di bawah cahaya, Minwoo dan Clarice menarik satu sama lain ke pelukan mereka dan berbagi di reuni yang emosional.

Biella, raja iblis Biella telah di segel. Dalam keadaan di mana dia dipukul habis-habisan, semua kekuatan sihirnya disegel ke dalam grimoire, mengubahnya menjadi batu. Ericia telah menjatuhkan patung itu jauh dari tebing, dan Senyun pergi mengubur grimoire jauh di bawah tanah di tempat yang tidak diketahui.

"Kerja bagus."

Orleia berkata ketika dia merawat luka Clarice. Ketika Clarice memelototi laser metaforis yang ditembakkan dari matanya, Orleia berkeringat dan memalingkan muka. Itu adalah reaksi yang langka mengingat dirinya yang selalu tanpa malu-malu.

Namun, dia tahu kesalahannya.

"Tidak juga."

Clarice bergumam seolah itu bukan apa-apa.

"Aku bilang aku tidak akan menunjukkan sisi memalukanku lagi." 
"……………."

Mata Orleia melebar saat dia menatap Clarice tanpa kata. Akhirnya, dia tersenyum dan berkata.

"Memang."

Seiring waktu berlalu, turis dan Orkar sadar, Ericia dan Senyun juga kembali. Clarice membuat ketiga party sang pahlawan berlutut di depannya. Tak usah dikatakan lagi tetapi mereka semua bergetar hebat, kepala mereka mengadap ke bawah. Turis dan Orkar tidak tahu apa yang terjadi pada lenyapnya raja iblis dan party sang pahlawan yang berlutut, dan Minwoo yang mengunyah popcorn yang dibeli entah dari mana, menonton kejadian itu.

Clarice melipat tangannya dan dengan santai berkata.

"Jadi, alasan kalian?"

"........" 
"............" 
"........"

Diam. Kali tiga.

Orleia dengan panik mencari-cari alasan ketika matanya tertuju pada turis! Itu dia! Orleia buru-buru mengangkat tangannya dalam posisi tos ke arah turis.

"Hei, hei! Kau hebat! Nona Jasmine! Ini semua berkat rencana hebat kita ?!" 
"Eh? Aku?"

Turis itu berkedip dan menunjuk dirinya sendiri. Apakah dia berbicara dengannya?

"Um, namaku bukan Jasmine, tapi-"

Cepat menyadari sesuatu, Senyun juga berkata.

"Itu benar! Kita berpura-pura mengkhianati raja iblis, berbicara dengan unni dan mencoba menyegelnya! Itu adalah rencana yang sempurna! Benar kan ?! James? !!" 
"J, James ?! Bukankah itu nama pria -"

Lalu Ericia juga buru-buru berkata.

"Kerja bagus! Jika bukan karenamu, seluruh rencana kami akan gagal! Jika kau ingin belajar Kekuatan Rahim datang kepadaku kapan saja! Bbobbi!" 
"Bbobbi ?! Itu bahkan bukan nama manusia lagi? !!" 
<TLN: seperti nama standar anjing di jepang ‘pochi,’ korea juga memiliki nama standar bagi anjing.>

Haaaa. Clarice meletakkan tangannya di dahinya sambil menggelengkan kepala.

"Aku mengerti. Cukup. Tidak bisakah Kalian melihat bahwa Nona Catherine kerepotan?"

Dia mengatakannya dengan tegas sehingga turis itu kehilangan waktu untuk mengatakan bahwa namanya bukan Catherine.

"Aku akan memaafkanmu." 
"Benarkah? Clee!" 
"Kau yang terbaik, unni!" 
"Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan ini! Yang Mulia!!"

Tentu saja 'aku' memaafkanmu. Dengan kata-kata itu, Clarice menoleh ke Minwoo. Minwoo mengangguk hampir tanpa terlihat sebelum dia maju.

Senyum ceria menyebar di bibir Clarice.

"Meskipun tentu saja Heron-nim belum memaafkan kalian." 
"..." 
"?!" 
"..."

Minwoo meremas jari-jarinya sambil tersenyum cerah. Tidak, itu benar-benar senyuman mengerikan. Tak perlu dikatakan, untuk waktu yang lama setelah itu teriakan tiga orang bergema di seluruh kastil raja iblis.

"Apakah kau akan pergi?"

Orkar mendekati Clarice saat dia bersiap untuk kembali ke kerajaan. Clarice mengangguk. Sekarang adalah waktu untuk perpisahan. Kastil raja iblis dibalut warna merah di bawah sinar matahari terbenam. Kastil raja iblis. Tempat kenangan mengerikan yang membuatnya gemetar, tetapi di sisi lain, tempat yang meninggalkan kesan mendalam padanya, yang tak pernah bisa ia lupakan.

Tidak ada lagi alasan untuk kembali.

Saat Clarice mengenang kenangan melalui kacamata yang sedikit berwarna mawar, segala macam pikiran mengalir di kepalanya. Pernikahan, apa yang terjadi. Apa yang dilakukan orang tuanya sekarang. Karina mungkin akan panik dengan kepergiannya. Dia ingin melihat mereka secepat mungkin.

"Terima kasih untuk hari ini."

Clarice jujur, dengan tulus berterima kasih kepada Orkar. Meskipun pertemuan pertama mereka benar-benar tak bisa dibayangkan, memang benar bahwa hari ini, dia berhutang budi padanya.

"Tidak perlu terima kasih."

Clarice tersenyum lembut, bermandikan cahaya senja yang memudar. Orkar merasakan matanya mulai berkabut, dan menggerakkan mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Saat itu sebuah tangan jatuh di bahu Clarice. Itu adalah Minwoo. Setelah bertemu matanya, Orkar akhirnya membiarkan kata-kata itu tidak terucapkan.

"Hooo. Kalau begitu, mau bagaimana lagi."

Dia hanya bisa menghela nafas. Tetapi dia harus tetap mengatakan apa yang seharusnya.

"Jagalah Clarice. Sang Pahlawan."

Orkar mengulurkan tangannya.

"Kau tidak perlu memberitahuku dua kali."

Minwoo tersenyum ketika menjabat tangan yang dia ulurkan. Pikir Orkar. Bagi seorang manusia, dia cukup bisa diandalkan.

Setelah selesai berpisah, Orkar meninggalkan istana raja iblis. Ketika dia mulai berjalan jauh, jauh sekali, turis itu berlari menghampirinya, terengah-engah.

"Tunggu! Tuan Orc! Ayo kita pergi bersama !!" 
"Kau? Kau kan ... Jennifer?" 
"Kalian semua mengolok-olokku kan ?! Iya kan?! Tunggu, sebelum itu! Kita masih memiliki jarak jauh di depan kita, jadi haruskah kita pergi bersama? Ayo!" 
"Pergi bersama, mengapa Orkar ini harus berpergian bersama manusia sepertimu-" 
"Ehhhh ?! Kau meminta seorang gadis manusia lemah sepertiku untuk pulang sendirian? Aku mungkin akan dibunuh dalam perjalanan karena kejahatan menyegel raja iblis! " 
"Jadi kau memintaku untuk melindungimu ... Haa. Baik. Aku mengerti, kau keras kepala, jadi berhentilah merengek. Jennifer." 
"Whooo! Terima kasih! Tuan Orc! Ah, namaku, ini bukan Jennifer tapi- !!"

Pfft. Minwoo dan Clarice mengeluarkan decitan tawa kecil menyaksikan mereka pergi. Clarice memandangi anggota party yang benar-benar terlihat menyedihkan, berkat omelan Minwoo, dan dia berkata.

"Bagaimana kalau kita kembali juga?" 
"Tentu saja, ayo."

Tangan kedua orang itu terjalin saat mereka saling tersenyum malu-malu.

Ayo pergi. Kembali ke rumah.

***

Epilog

Beberapa hari berlalu setelah itu. Ketika orang banyak mengetahui bahwa raja iblis telah muncul kembali dan menculik sang pahlawan, menyebabkan pernikahan dibatalkan, semua menjadi kacau, tetapi ketika mereka tahu bahwa adalah Putri Clarice yang menyelamatkan suaminya, sang pahlawan dari raja iblis, dan selain itu, juga orang yang menyegel raja iblis, semua orang mengangkat topi mereka dan memuji keberanian sang putri.

Di cermin, Clarice melihat kembali sosok dirinya dalam gaun pengantin. Apakah ada yang aneh? Apakah ada yang bisa diperbaiki. Hasilnya memuaskan. Seharusnya tidak ada masalah dengan ini. Pada saat yang tepat, Karina masuk. Wajahnya masih cemberut.

Sepertinya dia masih marah karena dia menyelinap pergi.

"Aku tidak marah, aku sangat khawatir padamu!"

Karena Clarice tahu kesalahannya, dia mengalihkan pandangan seolah dia tidak tahu. Tunggu? Ini terasa sangat mirip dengan beberapa hari yang lalu? Yang dibicarakan datang, mereka masuk ke ruang tunggu satu per satu.

Senyun menawarkan ucapan selamat sambil menyeka air mata dan ingus dengan saputangan.

"Hic. Unni, selamat. Berbahagialah ...!" 
"...... Yang Mulia. Saya sudah penasaran untuk sementara waktu, tetapi mengapa Senyun berani memanggil Yang Mulia 'unni?'" 
"Aku, aku tidak tahu? Aku juga tidak yakin? Ha ha."

Saat Clarice menoleh, Ericia menyerahkan selembar kertas. Itu adalah iklan untuk Kekuatan Rahim.

"Lihat! Yang Mulia! Seperti yang diduga kekuatan Yang Mulia luar biasa. Karena saya mengiklankan bahwa anda mengalahkan omong kosong raja iblis dengan Kekuatan Rahim begitu banyak orang yang... Ugyaaaaaghh ?!"

Clarice menginjak kaki Ericia sekuat yang dia bisa. Meskipun apa yang benar-benar dia inginkan adalah mulutnya.

"Haa. Seperti anak kecil, mereka berdua."

Orleia mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.

"Benar begitu kan? Clee?" 
"…………"

Clarice hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Saat itu, seorang pelayan masuk ke ruang tunggu. Setelah mengumumkan bahwa sudah waktunya, Clarice mengangguk dan berdiri.

Sebelum dia pergi, Clarice melihat ke belakang. Semua orang menatapnya. Air mata, acuh tak acuh, cemas, tidak puas. Tapi karena itu adalah mereka, Clarice tersenyum dan berkata.

"Aku akan kembali."

Raja dan ratu berdiri berdampingan di teras dan berpidato. Di bawah mereka, kerumunan besar telah berkumpul seperti demo sebelumnya. Tapi kali ini, suara yang bisa didengar bukanlah kemarahan dan kekesalan, tetapi ucapan selamat dan harapan baik.

Minwoo bertanya.

"Kau gugup?" 
"Aku akan berbohong kalau aku bilang tidak?"

Clarice diam-diam menyelipkan tangannya ke lengan Minwoo.

"Tapi aku memiliki Hero-nim, tidak... Sayangku di sisiku." 
"Urk!"

Wajah Minwoo memerah. Clarice tidak bisa menahannya dan akhirnya tertawa seperti setan. Minwoo hanya bisa tertegun. Ketika dia melakukannya, Clarice terkulai sedikit, melihat ke bawah.

"Kau tidak menyukainya?" 
"……Tentu."

Aku sangat menyukainya. Minwoo dengan lembut berbisik di telinganya. Ketika dia melakukannya, giliran Clarice memerah.

Setelah pernikahan, ada penampilan publik di depan orang-orang untuk menunjukkan bahwa upacara pernikahan selesai. Meskipun pernikahan itu sendiri telah rusak oleh raja iblis, itu belum berakhir.

Sebaliknya, itu baru saja dimulai.

Pidato raja berakhir. Sudah waktunya untuk menunjukkan diri. Minwoo dan Clarice dengan lembut saling berpegangan tangan, dan berjalan bersama menuju cahaya di ujung koridor. Satu langkah. Langkah lain. Sorak-sorai kerumunan semakin keras dengan setiap langkah. Dan kemudian cahaya terang memeluk pasangan itu.

Kelopak bunga berjatuhan dari langit. Orang-orang melambaikan tangan dan melemparkan kelopak bunga untuk merayakan pernikahan sang pahlawan dan sang putri. Seluruh dunia memberkati mereka. Aroma bunga harum. Sinar matahari yang hangat di kulit mereka. Dan cinta yang mereka pegang erat-erat. Mereka tidak akan pernah kehilangan hal itu lagi.

"Hero-nim." 
"Iya."

Clarice mendekatkan wajahnya ke telinga Minwoo agar tidak tenggelam oleh kerumunan.

"Aku mencintaimu."

Mata Minwoo terbuka lebar. Clarice menyeringai, sebelum dia memeluk leher Minwoo dan mulai berjinjit. Dia menutup matanya.

Lalu semua yang tersisa di dunia ini adalah kehangatan.

Aku menjadi pengantin Hero 

-Tamat-



Author Note:
Terima Kasih sudah menikmati dan membaca I Became Hero’s Bride

Note: 
Akhirnya selesai juga, selamat berbahagia ya untuk Minwoo dan Clarice! 
Terima kasih juga buat pembaca yang rajin ngikutin seri ini!
Sampai bertemu di project lain ya! Bye!

Mobius1




TL: MobiusAnomalous
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 24 Februari 2020

I Became Hero’s Bride! Novel Bahasa Indonesia Chapter 34 – Aku Merasa Kasihan Kepadamu, yang Tidak Mengerti Keajaiban Cinta

Chapter 34 – Aku Merasa Kasihan Kepadamu, yang Tidak Mengerti Keajaiban Cinta


Saat ini, Miwoo menghadapi bahaya terbesar yang pernah ia hadapi dalam hidupnya. Berkat Orleia yang telah mengklaim kepemilikan atas dirinya, dia menghindari nasib menjadi ladang benih goblin, tetapi masalahnya adalah Orleia sendiri. Sederhananya, pilihan antara ladang benih goblin atau lubang yang ditusuk. Tidak ada yang terlalu menarik. Akhir kisah bodoh macam apa ini?

Tetapi terjebak dalam ikatan kura-kura dan bahkan tidak mampu mengangkat satu jari pun, yang bisa dilakukan Minwoo hanyalah menyaksikan tiga orang memukuli habis-habisan Orkar dan berdoa agar Clarice bisa membawa bala bantuan sebelum Orkar tumbang.

Tak kusangka Orkar, yang pernah mengancam kesucian Clarice sekarang adalah garis pertahanan terakhir yang melindungi dirinya. Sungguh, ironis. Jika dia tahu ini akan terjadi, dia akan mengasihaninya sedikit saat itu.

Lalu……

"Hidebu !!!!"

Mengeluarkan teriakan yang aneh, Orkar akhirnya runtuh.

"Hoo. Untuk kapal selam yang terlalu besar, dia tidak ulet."

Orleia mengeluarkan d.i.l.d.o yang dia tikam ke p.a.n.t.a.t Orkar sambil mengeluh. Tidak peduli berapa banyak dia ditikam oleh benda itu ke dalam dirinya, tekadnya yang keras membuatnya berdiri lagi dan lagi, membuat mereka bekerja lebih keras dari yang mereka semua harapkan. Yah, pada akhirnya tidak terlalu sulit bagi mereka. Sekarang yang tersisa hanyalah... 'Hadiah'. Dengan putus asa menahan tawanya, Orleia menoleh ke arah Minwoo.
<TLN: wtf astaga ngakak ya ampun>

"Apakah kau sudah lama menunggu? Kekasihku ♪"

Ah sial. Pikiran Minwoo menjadi kosong. Dia melenggang ke arahnya sambil melambaikan d.i.l.d.o raksasa itu. Ah. Tolong. Bantu aku Mitohi-nim! Setidaknya tidak bisakah kau mencuci benda itu terlebih dulu?!

"Belum saatnya, Gadis Suci."

Orleia membeku. Setelah waktu bahagia terganggu, Orleia memelototi Biella. Dengan senyum mengejek di wajahnya, Biella menatap lurus ke satu arah. Bukan hanya Biella. Eri yang melamun tentang melatih bawahan masa depannya, Senyun yang ngiler ketika bermimpi tentang masa depannya yang berwarna putih dengan unni-nya, semua garis pandang mereka bertemu pada titik yang sama.

Itu tidak mungkin.

Tatapan Orleia mengikuti mereka. Biella tertawa kecil seolah dia merasa geli.

"Kesenangan itu, sepertinya kau harus menunggu sedikit lebih lama."

Clarice berdiri di sana. Tidak ada bala bantuan, tidak ada pengawal, hanya dia sendiri.

"Unni!"

"Yang mulia!"

"Clee!"

Mereka semua berseru seolah-olah mereka terkejut. Clarice memegang momen singkat di dalam hatinya untuk Orkar yang telah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, dan menatap Minwoo yang tidak bisa menyembunyikan kengeriannya.

"Clarice ?!"

"Hero-nim. Aku di sini untuk menyelamatkanmu."

Ha! Biella mendengus. Clarice menatap Biella dengan mata yang tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Dia bertanya apa yang lucu.

"Selamatkan dia? Sendiri? Kyahahaha! Itu lelucon di antara lelucon! Kau benar-benar serius?"

"Aku serius. Aku akan mengalahkanmu dan menyelamatkan hero."

"A, apa ...?"

Ekspresi Biella berkerut. Bukannya mengemis untuk hidupnya, dia benar-benar datang untuk bertarung? Apakah dia waras? Tapi dia menghadapi Clarice tepat di depan matanya, dan dia hanya bisa mengakui keteguhan hatinya yang membara di dalam dirinya.

Clarice benar-benar ada di sini untuk melawannya.

Ekspresi Biella mengeras saat dia menunjuk ke trio.

"Ini adalah perintah raja iblis! Beri sang putri ingusan itu pelajaran tentang hidup!"

"Tunggu! Kau serius ?!"

Senyun membantah. Baginya itu adalah respons alami. Ya tentu saja dia serius, kata Biella ketika dia mulai mengulangi perintahnya.

"Apakah kau takut?"

Jika Clarice tidak mengatakan itu.

"……Apa yang baru saja kau katakan?"

"Aku bertanya apakah kau takut."

Clarice menyeringai, dengan satu sudut mulutnya tampak melengkung ke atas. Dalam sekejap, ruang dansa terdiam. Udara pembunuh menyelimuti semua orang di ruangan itu, cukup untuk membuat semua penonton menelan ludah secara refleks. Biella menyipitkan matanya, seolah dia geli.

"Kenapa Biella ini takut pada orang sepertimu?"

"Apakah kau tidak takut? Kau selalu membuat pengikutmu melakukan pekerjaan kotor untukmu karena kau takut melakukannya sendiri."

Clarice bisa merasakan keringat dingin mengalir di tulang punggungnya. Tetapi jika dia mundur di sini, apalagi mengulur waktu, kematiannya pasti tidak akan indah. Menahan pandangannya yang semakin menyempit, dia menghadap Biella seangkuh mungkin.

"Kau akan menggunakan goblin untuk menodai Hero-nim. Sama dengan Orkar. Bahkan denganku, kau akan menggunakan tiga orang untuk menjatuhkanku."

"Ha! Dan kau menyebut Biella ini pengecut hanya untuk itu ?!"

"Tidak hanya itu. Ketika kau menculikku, kau menggunakan Orkar untuk menodaiku, dan orang-orang yang melecehkan anak laki-laki yang kau culik selalu pengikutmu, tidak pernah kau sendiri yang melakukanya. Kau hanya melihatnya dari jauh."

"Huh! Biella tidak mau mengotori tangannya-"

"Dan cinta pertamamu?"

Biella menegang. Wajahnya perlahan berubah menjadi semakin putih dan putih. Pukulan kritis. Clarice melanjutkan.

"Apakah kau tidak ingin mengotori tanganmu ketika kau menculik cinta pertamamu juga?"

"A, apa... Bagaimana kau bisa...?"

"Bukankah itu aneh? Biasanya ketika kau sangat mencintai seseorang bahkan sampai menculik mereka, kau tidak akan membuat orang lain yang memperkosanya. Jika kau bisa, kau akan melakukannya sendiri. Karena itu setidaknya kau bisa memiliki tubuhnya."

"I, itu !!"

Mata Biella bergetar. Bagaimana?! Bagaimana j.a.l.a.n.g ini tahu apa yang terjadi ?! Kekacauan dan ketidakpastian berputar-putar, membuat kepalanya berantakan. Biella akhirnya menemukan kalimat balasannya. Tapi Clarice tidak membiarkannya mengatakannya. Dia terus memojokkannya.

"Kau takut, bukan?"

"…… !!"

"Ketika orang yang kau cintai menolakmu, itu meninggalkan bekas luka di hatimu. Jadi, bahkan ketika kau menculik cinta pertamamu, kau tidak bisa meletakkan tanganmu padanya. Karena kau tahu betul bahwa bahkan jika kau melakukannya, kau tidak akan pernah mendapatkan cintanya, karena jika dia marah, tidak, benci dan langsung mengatakannya ke wajahmu, hatimu akan hancur berkeping-keping. Jadi itu sebabnya kau menggunakan pengikutmu. Karena kau terlalu takut menghadapi cintamu.

"Jadi, ketika kau melihat pengikutmu melecehkan cinta pertamamu, kau akan merasa puas. Berbeda dengan dirimu yang tidak memiliki keberanian untuk mendekati cinta pertamamu, pengikutmu, yang bisa dan secara kasar akan merusak cinta pertamamu, lebih dari kepuasanmu untuk mendapatkan kesenanganmu dari mereka. "

"H, hentikan!"

Itu adalah jeritan. Kata-kata Clarice dan ingatan dari masa itu, tanpa ampun menusuk hatinya.

"Kau tahu betul bahwa kau bukanlah suatu eksistensi yang bisa dicintai. Kau tahu betul bahwa kau akan mudah dibenci. Jadi kau secara paksa menculik dan menahan pria itu, dan selalu ada pengikutmu yang memperkosanya, tidak pernah dirimu sendiri. Karena itu mereka akan membenci bawahanmu. Karena kau ingin 'memiliki' cinta, tetapi takut dibenci. "

"Apa yang kau tahu tentang itu, kau j.a.l.a.n.g?!"

Tidak seperti kata-kata pahitnya, suaranya penuh dengan isak tangis. Dalam hati, Clarice sangat terkejut. Itu bekerja jauh lebih baik dari yang dia duga. Dari apa yang dia dengar dari turis tentang kehidupan dan waktu serta tindakannya sejauh ini, itu adalah kesimpulan yang diambilnya setelah beberapa pemikiran yang bagus, tetapi anehnya itu semua ternyata benar.

……Dia mulai merasa kasihan padanya.

Clarice meniru Orleia dan menyeringai sebisa mungkin dengan lembut dan sombong.

"Tidak apa-apa untuk menangis jika kau mau. Kau bisa melarikan diri jika kau mau. Karena itu adalah dirimu yang memalukan."

"Apa?!"

"Apakah kau benar-benar berpikir orang-orang tidak akan tahu jika kau menyamarkannya di balik cara bicara yang tidak matang itu, tindakan remaja dan delusi kekanak-kanakan? Pengecut ini..."

"Uu, uuuu, uuuuuu, Tidak, Biella bukan pengecut ...!"

Setelah didorong ke batas kemampuannya, Biella mulai menangis. Clarice memaku paku terakhir jauh di dalam peti mati.

"Aku berbeda darimu. Tidak seperti dirimu, aku bukan pengecut yang lari dari cinta."

Mata Biella langsung terbuka lebar. Hero. Itu dia. Untuk menyelamatkan hero yang dicintainya, Clarice kembali. Dia berbeda dengannya. Bukan pengecut seperti dirinya...

Pada saat itu, dunia berubah merah.

"Kuk ?!"

"Clarice ?!"

"Unni !!"

Dalam sekejap mata, Biella melingkarkan tangannya di tenggorokan Clarice.

"Aku, bukan, pengecut !!"

Biella mengangkat Clarice di lehernya dan melemparkannya dengan keras. Tubuh Clarice terjatuh dan memantul sebelum dia menabrak dinding dengan suara keras. Seluruh tubuhnya sakit. Napasnya tidak teratur. Dia bahkan tidak bisa berdiri.

Tiba-tiba Biella tepat di depan matanya saat dia mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

"Bisakah seorang pengecut! Menginjakmu! Seperti ini ?!"

"Bisakah seorang pengecut! Berdiri! Di atasmu! Seperti ini !!!"

Dia bahkan tidak bisa berteriak. Organ internalnya terasa seperti diaduk dan dihancurkan. Clarice membungkuk dan mati-matian menahan rasa sakit.

"J.a.l.a.n.g ini?!"

Senyun dengan marah memanggil bola api. Tapi di bawah kakinya, aura hitam segera melonjak dan mengikatnya. Bukan hanya Senyun. Ericia, Orleia, mereka juga, anggota tubuh mereka diikat oleh aura hitam.

"Enyahlah para p.e.n.g.g.a.n.g.g.u!!"

Dengan teriakannya mereka bertiga dihempaskan ke dinding. Setelah puas dengan kondisi memalukan mereka, Biella menarik Clarice ke atas dengan rambutnya. Memelototi mata Clarice yang berkaca-kaca, dia menggeram seperti monster.

"Persiapkan dirimu. Untukmu, yang berani memfitnahku, aku tidak akan pernah membiarkanmu mati dengan anggun."

Pada saat itu senyum kecil muncul di wajah Clarice. Tetapi setelah terjebak dalam kemarahannya, Biella tidak melihatnya, dan mengangkat tinjunya.

Pukulan yang panjang dan menyakitkan. Seolah ingin membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan Clarice mati dengan mudah, dia cukup mengendalikan kekuatannya sehingga Clarice tidak akan hancur. Meskipun dia bisa membunuhnya dengan meremukkan lehernya, dia membiarkan Clarice merasakan s.i.k.s.a.a.n dengan hanya sebagian kecil dari kekuatannya.

Tapi-

"Apa. Apa yang, kau j.a.l.a.n.g... ?!"

Tidak peduli seberapa besar kerusakan tubuhnya, Clarice bertahan, dan berdiri lagi. Biella, menghadapnya, tanpa sadar mundur selangkah.

"Kenapa kau menatapku dengan mata itu ?!"

Mata Biella bertanya-tanya haruskah dia memisahkan kepalanya dari tubuhnya dengan kedua tangan ini. Tetapi dia tidak bisa. Seolah melakukan itu ... Akan sama dengan mengakui dia pengecut.

"Hentikan! Clarice! Kenapa kau masih berdiri ?!"

Teriak Minwoo, tidak bisa melihatnya lagi. Dia tersiksa. Dia ingin berlari dan merobek Biella satu demi satu. Kenapa dia berdiri melawannya seperti itu?

"Karena aku datang untuk menyelamatkanmu, Hero-nim ..."

"Apa?!"

Clarice membuka mulutnya, dan yang keluar adalah suara pelan seperti bara api yang sekarat. Ketika dia mencoba mengambil langkah menuju Minwoo, kakinya menyerah untuk berdiri. Tapi dia masih belum menyerah. Clarice berdiri sekali lagi, dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya, perasaan itu, jika dia tidak mengatakannya sekarang, dia mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan lain untuk mengatakannya.

"Karena, aku cinta Hero-nim. Aku tidak bisa menyerahkan pria yang kucintai pada orang seperti dia. Pahlawanku yang selalu menyelamatkanku! Aku ingin menyelamatkanmu kali ini !!"

"……Kau."

Mata Minwoo berkedip. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Biella lebih cepat.

"Urk!"

"Cukup dengan sinetronmu itu."

Biella meraih Clarice di tenggorokannya dan mengangkat kepalanya. Dia tidak bisa mendengarkan mereka. Jika dia melakukannya maka dia akan menjadi gila seperti orang-orang bodoh itu. Biella memutuskan untuk menghabisi Clarice. Dalam situasi hidup dan mati di mana Clarice perlahan tapi pasti dicekik sampai mati, dia nyaris tidak berhasil mengatakannya.

"Aku, kasihan, padamu..."

"Apa?"

Biella sangat kaget semua kekuatan meninggalkan tangannya. Kasihan? Aku? Clarice menatap mata Biella dengan sedih dan berkata.

"Aku merasa kasihan padamu, yang tidak tahu keajaiban cinta." 
<TLN: referensi anime wedding peach>

"b.e.r.a.n.i.n.y.a j.a.l.a.n.g ini?!"

Itu yang kau maksud dengan kasihan ?! Dalam amarahnya, Biella membanting Clarice jauh ke lantai. Itu cukup kuat untuk membuat orang-orang di sekitar terkejut dan menghembuskan nafas!

Haa. Haa. Biella dengan kikuk berdiri sejenak untuk menenangkan napasnya yang tidak teratur, sebelum dia mulai tertawa terbahak-bahak.

"Ha. Haha. Kyahahahahaha !! Siapa yang menyedihkan sekarang?! dasar j.a.l.a.n.g!!"

Perbedaan kekuatan yang luar biasa ini. Tidak peduli seberapa banyak Clarice membuka mulutnya, ini bukanlah apa-apa. Meninggalkan tubuhnya ke perasaan yang terbaik!, Biella berteriak.

"Clarice! Hero yang dengan tegas kau nyatakan sangat dicintaimu ini bahkan tidak bisa menggerakkan jarinya, terperangkap olehku! Sage? Ksatria wanita? Gadis Suci? Mereka semua juga terjebak di dinding tanpa melakukan apa pun selain mengisap jempol mereka! Sekarang aku telah membuktikan bahwa tidak ada orang yang bisa mengalahkan Biella! Dasar gadis bodoh! Aku akan menginjak-injakmu! Tunduk di hadapan kebijaksanaan dan kekuatan Biella !! "

Dan tepat ketika Biella mengangkat kakinya untuk menginjak Clarice.

"Ap, apa... aku tidak bisa bergerak ?!"

Biella akhirnya menyadari ada sesuatu yang 'salah' mengelilingi tubuhnya. Perasaan di mana kekuatannya memudar dari tangan dan kakinya. Perasaan semua kekuatannya terkuras darinya. Itu tidak asing.

Saat itu juga. Dari pintu, terdengar suara dingin.

"- Aku telah melantukan segelnya."

"?!"

Biella akhirnya mengerti. Bagaimana Clarice tahu masa lalunya. Kenapa dia datang sendirian untuk menghadapinya. Alasan mengapa dia begitu agresif mengejeknya untuk membuatnya marah.

"Suara ini t, turis ?!"

Dia bisa tahu bahkan jika dia tidak berbalik. Karena dia adalah orang yang pertama kali membuka segelnya, bagaimana mungkin dia! Andai saja dia bukan seorang wanita, dia akan tetap di sisinya dan menjadi teman terbaik.

Turis melepas jubah tembus pandang yang dipakainya dan berjalan di depan Biella. Sebelum memasuki ruang dansa, Clarice telah menyuruhnya untuk melantunkan segel tersebut. Melihat grimoire di tangannya, Biella menyadari bahwa apa yang dia pikirkan benar, dan putus asa.

sial.

Aku sudah pernah.

"Bagaimana rasanya? Disegel tanpa peringatan saat kau mabuk akan kegembiraanmu sendiri ?!"

Turis itu membuka grimoire dan menyatakan perang.

"Sekarang! Aku bahkan tidak perlu sedetik pun !! Untuk menyegelmu !!!"

Itu adalah awal dari balas dendam.


Note:
Daaaaaaaaan satu chapter lagi menuju ke ending. Nggak kerasa udah di akhir cerita aja.




TL: MobiusAnomalous
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 17 Februari 2020

I Became Hero’s Bride! Novel Bahasa Indonesia Chapter 33 – Secercah Harapan

Chapter 33 – Secercah Harapan


Kilas balik sebentar. Kembali ketika raja iblis masih disegel dan benua masih damai, di sebuah desa kecil di suatu kerajaan, hiduplah seorang gadis bernama 'Amuge.' (TLN: artinya ‘orang random’ atau ‘penduduk desa A’) Sekarang, dia punya rahasia yang tidak bisa dia bagikan dengan orang lain, dan itu adalah-

'Aahh ~! Jika saja aku bisa melihat anak laki-laki cantik melakukan hal-hal kotor sekali saja! '

…… Dalam bahasa dunia doujin, dia adalah apa yang kita sebut 'fujoshi.' Lebih lengkapnya, jenis yang sampai memasangkan pria dalam kehidupan nyata, fujoshi sejati. Selain itu, Amuge adalah salah satu yang bahkan para fujoshi jauhi dalam barisan mereka sendiri, seorang 'Biellist.' Apa itu Biellist? orang bisa menjelaskannya sebagai fujoshi yang menyembah raja iblis 'Biella' yang hampir membuat benua menjadi surga yang hanya berisi anak laki-laki cantik di zaman dahulu kala.

Bagi para Biellists, kastil raja iblis tidak lain adalah sebuah tanah suci, dan karena itu para Biellists akan berkumpul bersama dan melakukan tur kelompok ke kastil raja iblis setiap saat.

Dan tur kelompok itu adalah ‘penyebabnya.’

“Kau tahu, aku selalu penasaran. Kira-kira apa isi grimoire yang disegel raja iblis? '

Satu kalimat Amuge. Pertanyaan yang dimulai dari sana tumbuh dan berkembang kepada para Biellists sampai pada kesimpulan yang menakutkan bahwa mereka harus mencari tahu apa yang tertulis dalam grimoire itu. Tentu saja, karena itu adalah raja iblis, pasti ada segala macam hal BL kotor yang ditulis di sana yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan. Percaya atau tidak, itu yang mereka pikirkan.

Karena dia yang pertama kali mengungkitnya, Amuge dipaksa untuk memimpin. Para Biellists lain menarik perhatian para penjaga. Sementara itu, Amuge menyelinap masuk, mencuri grimoire yang dipegang oleh patung raja iblis, dan mati-matian berusaha membuka grimoire tersebut. Ketika dia melakukannya, aura gelap menyebar dari buku dan dia mulai tersedot ke dalam patung-

"... Jadi kau memberitahuku bahwa raja iblis, setelah segelnya terlepas, sebagai imbalan untukmu membebaskannya, dia malah menyegelmu?"
"Itu benar !! Persetan dengan j.a.l.a.n.g itu! Kau tidak tahu betapa aku menyesali waktu yang aku habiskan untuk menyembah j.a.l.a.n.g itu!"

Setelah kebebasannya kembali, turis itu menginjak-injak grimoire dengan kesal. Sebagai catatan, segel itu pecah begitu Clarice mengambil dan membuka grimoire. Apakah segel seperti ini benar-benar baik-baik saja? Dia berpikir bahwa menguburnya dalam-dalam, jauh di bawah tanah akan menjadi pilihan yang jauh lebih baik...

"Oh, itu mengingatkanku! Aku benar-beeeeeeeeeeeeeeeenar~ berterima kasih kepadamu yang telah menyelamatkanku! 'Apakah aku harus hidup berabad-abad sebagai patung batu,' Aku baru saja akan berhenti berpikir, tetapi berkat kau aku selamat! 
<TLN: Referensi JoJo part 2>

Turis itu membungkuk dalam-dalam untuk mengucapkan terima kasih. Lalu menatap Clarice, dan bertanya.
"Maaf, tapi bisakah aku menanyakan namamu? Aku ingin membalas budi atas perbuatanmu! Biasanya aku tidak menggambar NL (T.N: ‘Normal Love’) tetapi jika itu untuk penyelamatku, aku akan dengan senang hati menggambarkannya!"
".... Aku tidak butuh doujin. Namaku Clarice."
"Sungguh. Nama yang indah, cocok dengan kecantikanmu- Eh? Clarice?"

Nama itu sepertinya akrab... Turis itu memiringkan kepalanya dan berpikir. Tiba-tiba seorang pangeran tertentu yang mempunyai popularitas 'besar' dalam 'industrinya' muncul di pikirannya. Orang itu juga bernama-

"Pangeran Clarice?"

Sampai saat itu, turis itu mengira dia hanya terlihat mirip. Kecantikannya yang menarik perhatian, aura lembut yang sangat cocok dengan apa yang dia dengar, meskipun dia terlihat sangat mirip, tetapi pada akhirnya dia adalah seorang wanita. Lalu kata Clarice.

"Ya. Aku Pangeran Clarice yang itu."

Meskipun aku seorang putri sekarang, dia menelan kembali beberapa kata terakhir itu.

Tentu saja kata-kata itu saja sudah cukup untuk membuat mata turis itu terkejut.

"Eeeeeehhhh?!?!!? T, tidak mungkin! Bukankah kau laki-laki?!!"
"Aku punya keadaan yang membuatku menjadi seorang wanita. Meskipun aku tidak punya identifikasi untuk membuktikan i.d.e.n.t.i.t.a.s.k.u saat ini, tapi itu memang yang sebenarnya terjadi. Tolong percayalah padaku."
"Aku, aku percaya padamu, aku percaya. Tidak mungkin aku tidak akan percaya pada penyelamatku... Haha. Haha."

Di samping keyakinannya sendiri, mata turis itu tertuju pada p.a.y.u.d.a.r.a. Clarice. kenyut boing kenyut boing. Kau mengatakan kepadaku bahwa pemilik p.a.y.u.d.a.r.a itu dulunya adalah pria? Bukankah seharusnya dia (sebagai seorang wanita) mati saja? Kemudian dia ingat perbedaan status di antara mereka, dan segera berlutut, menundukkan kepalanya.

"Ah! Saya, saya minta maaf karena tidak mengenali anda sebelumnya, Yang Mulia. Maafkan saya."
"Ah. Tolong, bangun. Aku baik-baik saja."

Clarice dengan putus asa melambaikan tangannya saat dia membantunya berdiri. Astaga. Bahkan kepribadiannya sangat lembut! Turis itu langsung terpana oleh Clarice. Dia mematahkan segelnya, dan bahkan memaafkannya dengan begitu murah hati, bagaimana dia tidak akan jatuh cinta padanya secara instan.

"Tapi mengapa Yang Mulia sendirian di sini? Tidak ada yang datang ke sini setelah raja iblis lenyap... Apakah kerajaan berencana untuk membangun kembali kastil ini?"
"Itu karena……"

Haaa. Dia benar-benar tidak ingin mengatakannya. Clarice akhirnya membuka mulutnya.

"Raja iblis telah kembali."
"…… Eh?"

Turis itu bertanya kembali dengan wajah bodoh. Keheningan panjang membentang di antara mereka. Ia berpikir, dan berpikir lebih keras lagi, sebelum akhirnya turis itu mengerti apa yang dikatakan Clarice, dan bertanya lagi.

"……Eh?"

Dengan wajah yang lebih bodoh. 
<TLN: Sat, sialan! kirain mau ngomong apa :v>

***

"Astaga. Tidak mungkin ..."

Clarice memberi tahu turis segala yang terjadi setelah raja iblis itu dibebaskan. Setelah mendapatkan inti dari apa yang telah terjadi, turis itu, tentu saja, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"J, jadi maksudmu raja iblis ada di sini sekarang, dan pahlawan menjadi tawanan bersamanya?"

Mama! Tolong! Turis itu panik, sepertinya akan melesat kapan saja. Kau tidak bisa menyalahkannya. Pahlawan yang akan mengalahkan raja iblis ditangkap, rekan-rekan pahlawan dibutakan oleh godaan dan sekarang berdiri dengan raja iblis. Tidak ada yang menghentikan raja iblis dari amukannya.

"Kita harus pergi sebelum raja iblis kembali! Yang Mulia akan pergi bersama saya, kan?"

Turis bertanya, bersiap-siap untuk pergi. Dia akan bersembunyi di lereng gunung yang jauh. Jika dia tertangkap dan disegel lagi maka matanya tidak akan menutup bahkan dalam kematian. ...Meskipun kematian itu tidak mungkin.

"Aku…"

Clarice melihat kembali ke jalan setapaknya. Jika dia kembali melalui lorong itu, Hero-nim ada di sana. Jika dia melarikan diri sekarang dan mengirim bantuan, mereka mungkin punya kesempatan. Tapi-

"Akan terlambat pada saat itu."

Masalah paling sederhana namun paling penting tersangkut di kaki Clarice. Semakin banyak waktu yang dihabiskan, semakin kewarasan Hero-nim dalam bahaya. secara s.e.k.s.u.a.l. Meskipun dia tidak punya waktu untuk berpikir pada saat itu, sekarang, dia ragu apakah akan kembali untuk mendapatkan bantuan adalah pilihan yang tepat.

Dia bahkan tidak ingin memikirkannya, tetapi jika dia pergi mencari bantuan sekarang, apa yang bisa menyambutnya sekembalinya adalah pahlawan berubah menjadi kuda milik raja iblis atau liang bibit goblin. Sudah pernah dalam posisi yang identik dengan Hero-nim sekarang, Clarice tahu. Bahwa raja iblis adalah j.a.l.a.n.g gila yang akan benar-benar melakukan apa yang dia pikirkan.

Pada saat momen persimpangan itu, pikiran lain terlintas di benak Clarice. Jika dia adalah Hero-nim, apa yang akan dia lakukan dalam situasinya? Jawabannya sederhana. Karena orang yang telah menyelamatkannya dari 'situasi yang sama' tidak lain adalah Hero-nim sendiri.

Saat ingatan masa lalu menjentikkan ke kepalanya, tekad kecil namun kuat membakar seperti nyala api. Tidak masalah jika dia sendirian. Dia harus menyelamatkan Hero-nim. Tapi tekad itu tidak lebih dari lilin dalam badai. Sendiri? Apa yang dia, setangkai bunga yang tumbuh di taman, yang tidak pernah berburu goblin sebelumnya dalam hidupnya, bisa lakukan?

Itu adalah logika dan jawabannya yang benar. Bahkan jika dia pergi, dia akan beruntung jika dia tidak ditangkap secara instan.

Tapi.

Apa tidak apa-apa melarikan diri seperti ini?

'- Dan setiap kali, bukankah kekasihku selalu menyelamatkanmu seperti seorang pangeran di atas kuda putihnya? Clee. Bukankah peran putri yang ditangkap raja iblis hanya cukup dilakukan sekali? Hanya karena tubuhmu itu wanita, apakah seluruh pikiranmu juga berubah menjadi wanita? Putri cantik dan tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa pun tanpa pangeran di atas kuda putihnya. '

Dia bisa mendengar suara sinis mengejek dari suatu tempat. Nyala api yang sekarat menyala kembali. Api emosi yang tumbuh membakar habis akal dan menyita Clarice.

"Aku, akan menghadapi raja iblis."

Sebuah jawaban yang menjungkirbalikkan akal sehat, imajinasi dan prediksi. Turis itu ngeri.

"A, apa anda serius?"

Clarice mengangguk. Ah s.i.a.l. Turis itu berpikir 'sebenarnya tuan putri adalah orang yang sangat kuat.' Tapi dia melihat tangan Clarice yang terkepal erat benar-benar bergetar, dan dia sadar. Bahkan jika sang putri takut, untuk menyelamatkan orang yang berharga di hidupnya, dia akan melawan raja iblis.

Gelombang emosi yang luar biasa menyalip turis itu. Dia merasa malu pada dirinya sendiri karena berpikir untuk melarikan diri lebih awal. Apakah ini yang mereka sebut sebagai harta kerajaan. Lu-ar biasa!

"Kalau begitu saya akan mengikuti di belakang anda."
"Eh?"
"Saya serius! Saya sebelumnya berkata, bukan? Yang Mulia membebaskan saya dari segel ini, dan bahwa saya benar-benar ingin membalas budi! Saya hanya orang biasa tapi saya akan menerangi diri saya dan menerangi jalan ke depan untuk Yang Mulia! "

Mata turis itu menyala dengan tekad yang kuat. Melihatnya, pikir Clarice. Orkar, orang ini, bagaimana bisa party yang dimiliki pihak sang pahlawan kurang memiliki solidaritas daripada orang-orang yang baru saja aku temui ini.

"Tapi aku tidak bisa melibatkanmu, orang yang tidak terlibat dalam masalah ini."
"Tidak terlibat? Sayalah penyebab semua ini."

Turis itu mengambil pecahan yang sebelumnya adalah grimoire.

"Jika saya tidak membuka grimoire maka segelnya tidak akan bisa dibatalkan sejak awal."

Itu dia. Penyebab segalanya, itu semua adalah dia. Tapi dia dengan egois berpikir untuk melarikan diri. Dia harus bertanggung jawab. Dia harus menebus kesalahan masa lalunya. Dan 'salib penebusan' ada di tangannya saat ini.

"Yang Mulia. Apakah Anda tahu apa yang tertulis di grimoire?"
"Tidak. Aku tidak tahu...."

Tidak mungkin dia tahu. Dan karena itu adalah 'teks terlarang' dia juga tidak ingin tahu.

"Anda tahu, ini bisa menjadi kunci untuk menyegel kembali raja iblis."

Tuk tuk. Turis itu mengetuk grimoire dan tersenyum aneh.

Segel. Saat semua mana-nya ditarik ke dalam grimoire ketika dia disegel, untuk sesaat, dia bisa membaca isinya. Kau bahkan bisa mengatakan bahwa kesadarannya terkait dengan grimoire. Apa yang tertulis di sana tidak lain adalah kehidupan raja iblis Biella.

Sebagai putri raja iblis sebelumnya, Biella jatuh cinta pada seorang manusia. Tetapi karena takut pada Biella, seorang iblis, dia menghindarinya dan menikahi wanita lain, dan Biella sangat terkejut oleh berita itu sampai membuat lebih dari beberapa sekrup terlepas dari kepalanya.

Jika dia tidak bisa memilikinya, tidak ada wanita lain yang bisa. Jika dia tidak bisa memilikinya, dia akan merusaknya. Biella menyuruh untuk menculiknya dan laki-laki itu dilecehkan oleh iblis di bawah komandonya. Dan di tengah-tengah itu, berbagai emosi muncul darinya. Kegembiraan, gairah, kepuasan. Di suatu tempat di ujung garis, dia telah secara emosional berubah menjadi setan yang melecehkan pria itu.

Bahkan setelah pria itu meninggal, Biella tidak bisa melupakan emosi itu. Satu cinta yang bernasib sial membuat Biella tidak dapat mencintai orang dengan normal lagi. Siapa yang akan menyukai seorang cabul seperti dia? Tidak ada yang mau gadis seperti itu. Dia bisa menyembunyikannya dan membodohi orang lain, tetapi dia akan selalu sedih saat rahasianya terungkap.

Maka dari itu.

Dia tidak akan menyembunyikannya sama sekali.

Setelah menyerah pada gagasan dicintai, kesimpulan yang Biella ambil adalah. Jika kau tidak dapat menghindarinya, nikmatilah! Setelah kejadian itu, saat Biella naik takhta setelah ayahnya, dia segera memerintahkan untuk menculik orang-orangnya dan para pengikutnya memasukkannya ke dalam tubuh mereka dan membenturkannya ke dalam tubuh mereka dan menghantam mereka sesuai dengan keinginannya yang berwarna merah mawar (T.N: oof gausah dibayangin). Baru pada saat itulah dia akhirnya merasakan kepuasan seolah kekosongan hatinya penuh.

Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat semua wanita yang tidak berguna punah dan menciptakan surga (untuk dia satu-satunya) anak laki-laki untuk membuatnya bahagia. Biella sudah memutuskan.

Secara alami, orang-orang memberontak melawan rencana konyol ini, dan iblis serta manusia berkumpul untuk membuat grimoire untuk menyegelnya.

***

"…………..Uh, aku, um, tidak tahu harus berkata apa."

Setelah mendengar cerita Biella, Clarice tidak tahu harus berkata apa tentang itu. Apakah itu perlu?

"Jadi cerita latar belakang raja iblis yang menyimpang, apa hubungannya dengan segel?"
"Masa lalu raja iblis bukan satu-satunya yang saya pelajari ketika kesadaran saya dikaitkan dengan grimoire."

Mata Clarice membelalak mendengar kata-kata turis berikutnya yang penuh percaya diri.

"Kau tidak bermaksud ..."
"Ya. Saya tahu bagaimana cara menyegel ulang juga."
"I, itu luar biasa?!"

Sinar cahaya turun seolah mengatakan ta daa ~.

"Tapi." Turis itu berkata dengan wajah sadar.

"Itu. Bahkan jika saya bisa menyegel ulangnya, saya perlu rencana untuk menahannya sampai saat itu."

Pasti. Raja iblis, bahkan jika itu bukan raja iblis, trio yang telah menjadi antek-antek setianya pasti akan mengganggu dengan segala cara yang mungkin. Ha! Itu mengganggunya lagi ketika dia memikirkannya. Bahkan jika mereka tidak pergi dan mengkhianatinya, dia bisa melakukan sesuatu.

Situasi menjadi seperti itu, hanya ada satu hal yang bisa mereka lakukan.

"Aku akan mencoba mengulur waktu."
"Eh? Serius?"

Dia serius. Pergi atau pulang. Clarice memikirkan raja iblis. Kekanakan, picik, sederhana, kecerdasan setara dengan sel tunggal, mudah gelisah, dan egois. Dia tidak tahu apakah ini akan berhasil. Tetapi, mengingat tindakan dan kepribadiannya sejauh ini, dia mungkin menemukan cara untuk menghancurkannya.

"Aku punya rencana."

Cinta.

Penyebab perubahan raja iblis, tidak ada pilihan lain selain menggunakan kata kunci itu seefektif mungkin.

Note:
Waduuuh kira-kira bagaimana rencananya ya? Kita sudah memasuki babak akhir, tetap semangat membacanya ya!




TL: MobiusAnomalous
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 10 Februari 2020

I Became Hero’s Bride! Novel Bahasa Indonesia Chapter 32 – Apakah bawahan ini benar-benar baik-baik saja?

Chapter 32 – Apakah bawahan ini benar-benar baik-baik saja?


Kastil raja iblis. Akhirnya dia kembali ke tempat itu setelah sekian lama, namun jejak-jejak pertarungan yang telah berlalu masih ada. Ketika Clarice melangkah dan mengitari mainan SM (Sadis & Maso) yang bertebaran di lantai, dia hampir tersandung oleh salah satunya, dan dia juga merasakan ironi yang aneh. Rasanya baru kemarin Hero-nim datang untuk menyelamatkannya, tapi sekarang dia akan menyelamatkannya.

"Di sini sangat sunyi?"

"Di sini sunyi."

"Ya, di sini sangat sunyi."

Ketiga anggota party sang pahlawan menyuarakan pendapat mereka. Seperti yang mereka katakan, kastil raja iblis begitu sunyi, mereka bahkan tidak bisa mendengar langkah kaki tikus. Diabaikan hingga menjadi berantakan seperti saat terakhir mereka melihatnya, tidak ada para anak laki-laki yang di culik, mereka bahkan tidak melihat 'm' monster di mana pun.

Apakah raja iblis langsung datang ke kerajaan setelah kembali? Ini adalah kesempatan. Jika kekuatan raja iblis belum sepenuhnya pulih, maka bahkan tanpa 'pedang suci' maka mereka mungkin memiliki kesempatan.

"…………"

"Apa? Clee, mengapa kau menatapku begitu?"

"Bukan apa-apa. Aku hanya mengingat pedang suci."

Orleia menjadi merah padam ketika dia mendengarnya.

"Itu, mau bagaimana lagi! Tidak ada yang mengira raja iblis akan kembali bahkan dalam mimpi terburukku!"

Pedang suci. Bukankah lebih baik jika mereka membuat yang baru? Adalah salah satu pendapat yang terdengar, tetapi Orleia menggelengkan kepalanya dan berkata.

'Pedang Suci (性 劍) seperti dikatakan, adalah pedang yang menggunakan kekuatan' s.e.x '(性) (Permainan kata dari ‘holy’ yang bisa diganti menjadi ‘sex/kelamin’). Alasan mengapa raja iblis tidak berdaya melawan pedang suci adalah karena sihir lelaki agung raja iblis sepenuhnya dimatikan oleh pedang suci, dan juga, itu adalah pedang terkuat untuk melawan makhluk yang memiliki jenis kelamin. Untuk membuat pedang suci seperti itu kau membutuhkan dua hal... '

Dan ketika ditanya apa hal yang dibutuhkan, Orleia menyeringai dan berkata.

‘Hasil penyulingan 10.000 ejakulasi pria dan wanita-'

'Lupakan. Kau tidak perlu mengatakannya lebih jauh. Kita tidak membutuhkan pedang suci jadi ayo pergi. '

Sebaliknya, perasaan bahwa mereka akan baik-baik saja tanpa pedang itu meroket.

……… .Selain itu, Minwoo juga tidak mengetahui hal ini. Clarice merasa bahwa dia harus tidak tahu.

"Kalau begitu, jika saja dulu Clee menyerah begitu saja dalam memperjuangkan kekasihku, maka tidak akan ada alasan bagiku untuk mematahkan pedang suci, dan tidak akan ada alasan untuk kekasihku diculik, benar kan?!"

"Haa?! Jadi maksudmu ini semua salahku?"

Bahkan jika seseorang menggigit tangan yang memberimu makan, masih ada batasnya. Bibir Clarice membentuk lekukan yang menunjukkan perasaan jijiknya.

"Jika kau ingin seseorang menjawabnya, maka kau juga harus menyalahkan Orleia. Siapa yang menyuruhmu untuk mematahkannya? Bukankah kau mematahkannya sendiri, Orleia? ... Ah! Karena otak Orleia tidak ada di kepalanya tetapi turun entah kemana, apakah kau merasa sulit untuk mengingatnya? "

Bertepuk tangan sekali dengan pandangan menyedihkan dan berlutut layaknya menabur garam pada luka. Dengan wajah memerah, Orleia berteriak.

"A, apa? Kucing pencuri berani berkata seperti itu?!!"

"Bisakah kau mengeong dan menangis lagi supaya kucing pencuri ini bisa mengerti? Aku tidak bisa mendengarmu karena suara aliran air mata seorang pecundang. Hoho."

Clarice meletakkan tangan di atas mulutnya dan tertawa seperti wanita b.a.n.g.s.a.w.a.n. Orleia terperangah, kehilangan kata-kata. Dasar anak s.i.a.l.a.n! Sekarang karena kekasihnya itu tidak ada di sini, dia bisa mengejeknya dengan sepenuh hati?! Apa apaan?!

"Itu benar Orleia! Ini semua salahmu! Minta maaf pada unni!"

Senyun mengatakannya, yang sedari tadi telah menempel pada Clarice dan bertingkah menggemaskan. Sejujurnya, Senyun tidak peduli siapa yang benar atau salah, yang terpenting adalah Orleia telah berani menghina 'unni'. Guhehe. Unni hehe.

'Wow, si kecil ini. Menjadi bocah t.e.n.g.i.k menjengkelkan yang membuat kobaran api. '

Orleia memelototi Senyun dengan keras menggerakkan jari-jarinya di udara kosong seperti sedang meraba-raba p.a.y.u.d.a.r.a. Ketika dia melakukannya, Senyun merintih sambil bersembunyi di balik Clarice. P.i.j.a.t payudara… Tidak lagi…

"Kalian semua, diam."

Ericia, yang bersiaga di barisan depan, memberi isyarat kepada mereka bertiga. Ketika dia melakukannya tim itu akhirnya mulai bekerja dengan baik dan masuk ke formasi. Itu adalah formasi di mana ketiganya mengelilingi dan melindungi bagasi (deskripsi yang menyedihkan tapi sepenuhnya akurat) yang disebut Clarice.

Thoom. Thoom. Langkah kaki yang berat bergema di seluruh aula kosong. Clarice menelan ludah. Menilai dari suara jejaknya, itu adalah monster atau iblis. Dia akan berbohong jika dia bilang dia tidak takut. Tetapi lebih dari itu, kekhawatirannya bahwa dia akan menjadi penghalang bagi timnya jauh lebih besar.

"Kau bisa kabur jika merasa takut."

Setelah memperhatikan getaran Clarice, Orleia mencibir. Mata Clarice menyipit.

"Hmph. Aku tidak akan lagi menunjukkan sisi memalukanku di depan Orleia lagi."

"Nah, itu sesuatu yang aku nantikan."

Kuku. Seolah dia merasa itu sangat lucu, Orleia tertawa.

"Unni."

Senyun diam-diam berbisik dan menyerahkan sesuatu. Itu adalah kain besar yang terbuat dari kain lembut.

"Itu jubah tembus pandang. Jika berbahaya, pakai ini dan sembunyi."

"Terima kasih."

Clarice mengangguk dan menyimpan jubah tembus pandang itu. Jubah tembus pandang adalah jubah tembus pandang, tapi hati Senyun yang cemas menyentuhnya dan ketakutannya sepertinya telah hilang sedikit.

Akhirnya pemilik jejak itu menunjukkan dirinya. Sosok raksasa yang kepalanya lebih besar daripada pria biasa, otot-otot besar, rahang bawah yang berkembang sangat baik sampai-sampai taring bawahnya keluar dari mulut. Dan penentu yang menyelesaikan semua argumen, kulitnya memiliki warna hijau pekat.

Dari semua ras yang dikenal, hanya satu yang sesuai dengan deskripsi tersebut.

-Orc.

"Kau... ?!"

Setelah mengenalinya, 'Clarice tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana dia bisa melupakan wajah itu. Hanya mengingatnya saja membuatnya gemetar.

"Sudah lama tak berjumpa, Clarice."

Dia menyapa mereka dengan suara bariton yang lembut. Lama tak berjumpa? Kelompok itu memperhatikan bahwa mereka sudah saling kenal, dan memandang Clarice dengan wajah terkejut. Clarice hanya membuat ekspresi jijik.

"Orkar. Aku memang mencurigai sesuatu karena raja iblis membuat keributan besar di pernikahanku ketika dia mencoba menyeretku. Kau masih hidup ternyata."

"Hmph. Bahkan jika aku terlihat seperti ini, aku adalah garda terdepan pasukan raja iblis. Apakah Orkar ini terlihat seperti dia akan mati semudah itu?"

'Orkar' tertawa terbahak-bahak, menunjukkan giginya.

"Meninggalkan 'pengantinku' yang diberikan raja iblis kepadaku."

"…….."

Clarice mendapati dirinya tidak dapat berbicara. Siapa yang s.u.d.i menjadi mempelaimu, Dasar kau orc s.i.a.l.a.n. Tetapi, Senyun melangkah maju, seperti meriam yang menyala.

"Orc s.i.a.l.an?! Siapa yang kau katakan sebagai mempelai wanitamu sekarang?! Kau ingin aku menghancurkan rahangmu?"

"Tenang, Senyun."

Clarice mengangkat lengannya dan menghentikan Senyun. Sejujurnya, dia benar-benar ingin memuji Senyun saat itu, tapi dia menahan diri karena tidak ada waktu untuk disia-siakan. 'Grrrrrghhh.' Dengan mulut yang sepertinya mulai berbusa karena menahan amarah, Senyun menenangkan diri.

"Seperti yang bisa kau lihat, aku seorang wanita sekarang."

"Tentu saja. Aku mendengarnya dari Raja Iblis. Dan dia mengatakan pernikahan kita dibatalkan. Tapi itu yang dia pikirkan. Aku tidak akan menyerah padamu. Tidak peduli kau seorang wanita atau pria, itu tidak penting. Kau Clarice. Satu-satunya pengantinku, Clarice. "

Para Orc hanya mencintai satu wanita dalam hidup mereka. Sebagai ras khusus pria, mereka tidak memiliki wanita. Karena itu, mereka hanya bisa mendapatkan betina untuk berkembang biak dari luar ras mereka, jadi tentu saja, mereka mengembangkan kepribadian yang baik dan penuh kasih sayang kepada pasangan mereka. Penculikan? Memperkosa? Mungkin akan mereka lakukan jika mereka adalah monster, tetapi sebagai anggota cerdas dari ras iblis, itu tidak mungkin dilakukan oleh orc.

Ketika Orkar pertama kali dianugerahkan Clarice kepadanya oleh raja iblis, ia tahu bahwa itu hanyalah preferensi sesat raja iblis (melakukan perbuatan antara dua laki-laki yang bahkan tidak bisa mereproduksi) tetapi ia masih tidak bisa menolak Clarice. Sosoknya dalam gaun pengantin tembus pandang, menangis saat dia memandangnya adalah perempuan idamannya ... ehem, wanita.

Lalu siapa peduli jika dia tidak bisa hamil. Lalu siapa peduli jika dia laki-laki. Dia pasti akan menjadikan bocah ini sebagai pengantin wanitanya. Dia telah membuat keputusan. Tetapi kemudian raja iblis kembali dengan pahlawan daripada Clarice dan mengatakan kepadanya bahwa Clarice telah menjadi seorang wanita. Berbeda dengan raja iblis yang sedih, perasaan Orkar tidak berubah.

Cintanya pada Clarice hanya semakin dalam.

"Aku tidak bisa menjadi pengantinmu. Aku sudah memiliki sang pahlawan."

Dan kau membuatku takut jadi tolong menyerah. Itulah yang apa yang dia rasakan. Orkar menelan napas dan berkata.

"........ Ya. Aku juga tahu itu. Tapi pernikahan itu, diganggu dan diinterupsi oleh Raja Iblis kan? Dalam hal ini kau belum menjadi pengantin pahlawan. Sebaliknya, pahlawan saat ini ada tangan Raja Iblis. "

"Jadi, kamu tahu di mana Hero-nim berada."

"Tentu. Aku juga tahu apa yang akan dia lalui."

Kuku. Orkar memutar bibirnya dan tertawa senang. Dikombinasikan dengan penampilan orc yang jelek secara alami, itu adalah sesuatu yang harus diperhatikan. Orleia tidak bisa menahan diri lagi dan berkata dengan dingin.

"Kurasa dia tidak akan memberi tahu kita dengan mudah, jadi sebaiknya kita segera menanganinya. Jika kita mengalahkannya sampai sekarat, dia akan memberi tahu kita."

Ketika dia melakukannya, Senyun menyalakan bola api dan berkata.

"Bukankah mereka dulu mengatakan bahwa penyiksaan yang paling menyakitkan adalah dengan api?"

Ketika dia melakukannya, Ericia menyentuh pedang tajam longsword-nya dan berkata.

"Apakah itu yang mereka lakukan di korps penyihir? Dalam ordo ksatria kita berusaha keras untuk mengubahnya menjadi sashimi sepotong demi sepotong dengan perlahan."

Tunggu! Kenapa kalian semua begitu biadab?! Clarice panik dan menghentikan party-nya. Jika mereka terlalu lama bertarung (menyiksa?) di sini maka pahlawan (kesuciannya) akan berada dalam bahaya. Clarice berpikir, dan membungkuk pada Orkar dan meminta.

"Orkar. Kumohon. Tolong bawa kami ke tempat Hero-nim berada."

Cintanya pada pahlawan sudah cukup untuk menekan kebenciannya terhadap Orkar. Cinta dan perdamaian. Itu bukan kata-kata kosong. Clarice akan menyelamatkan cintanya (= Sang Pahlawan) dan Orkar akan mendapatkan kedamaian dari teman-temannya yang bahagia karena siksaan.

Tentu saja, party itu menentangnya.

"Unni ?!"

"Yang mulia!"

"Clee. Hanya karena kau meminta dengan baik, orc itu tidak mungkin ..."

"Baiklah."

"" "Haaaa? !!" ""

Eh? Clarice mengangkat kepalanya dengan wajah kosong. Dia sebenarnya tidak menduganya.

"Aku tidak ingin bertarung dengan pengantinku. Ini juga permintaan pengantinku, jadi mengapa Orkar ini tidak mengabulkannya."

Orkar tersenyum. Senyum itu sangat j.e.l.e.k, pikir Clarice ketika dia melihatnya.

……Raja iblis, apakah kau benar-benar baik-baik saja dengan bawahan seperti ini?

***

Dia tidak baik-baik saja. Setelah hampir melatih Minwoo di ruang dansa, Biella menatap Orkar yang membawa partynya ke sana dan benar-benar meledak.

"B, bagaimana kalian sampai di sini begitu cepat?! Ah, ahahah! Tidak! Kyaha! Kyahahahahaha !! Sel, selamat, selamat datang! Aku telah menunggu kalian!"

Dengan matanya berubah menjadi spiral, raja iblis tergagap. Sejujurnya itu adalah pemandangan yang menyedihkan. Tapi setelah menyingkirkan raja iblis dari kepeduliannya, yang bisa dia lihat hanyalah Minwoo, di samping raja iblis yang diikat dalam bentuk aneh (dia kemudian mendengar dari Senyun, itu adalah c.a.n.g.k.a.n.g kura-kura') oleh aura hitam yang mengikatnya dan berputar seperti tali.

"Hero-nim"

"Clarice! J, jangan lihat!"

Minwoo ingin menggigit lidahnya dan mati. Bagaimana Clarice ada di sini? Dia telah dilihat oleh satu orang yang paling tidak ingin melihatnya seperti ini. Dia bukanlah heroine eroge rendahan, hal m.e.m.a.l.u.k.a.n macam apa ini?

"Ku. Kuku. Oi, itu sangat cocok untukmu."

"Diam! diam!"

"Ya ampun. Untuk seseorang yang selalu memanggilku seorang eksibisionis... Ternyata kau juga cantik?"

"Kenapa kau malah menikmatinya?!"

"Aku baik-baik saja♪ Aku sebenarnya lebih suka kekasihku seperti ini, kau tahu?"

"Bunuh aku. Bunuh saja aku sekarang..."

Sementara itu, sisi Biella juga tidak terlalu berbeda.

"Apa yang terjadi Orkar?! Bukannya menghentikan mereka, kenapa kau membawa mereka ke sini !!"

"Jadi, anda meminta saya untuk menyingkirkan istri saya?"

"Istri ?! Kukatakan padamu bahwa pernikahan dibatalkan! Dasar idiot!"

"I, idiot?!"

"Benar! Idiot! B.o.d.o.h! Otak otot! Babi hijau! Jelek!"

"Hei, selain sisanya, saya tidak terima dipanggil jelek! Bahkan jika saya terlihat seperti ini saya adalah salah satu pria paling tampan di klan saya!"

Biella meledak lagi.

"Eeeiiiit! Siapa yang peduli! Ayo, maju sini! Kalian semua b.a.j.i.n.g.a.n!"

Party sang pahlawan atau bukan, inti dari party itu, sang pahlawan, saat ini ditangkap olehnya. Dalam hal itu dia punya kesempatan juga. Setelah membuat kesimpulan itu, Biella akan melepaskan kekuatannya yang tersembunyi.

"Ho? Jadi, kau tidak peduli jika pedang suci akan mengalahkanmu h.a.b.i.s.-.h.a.b.i.s.a.n dan mengubah istana raja iblis menjadi pertumpahan darah?"

Jika Gadis Suci Orleia tidak mengatakan itu.

"Hiikuk ?!"

...Tombol trauma-nya ditekan. Tidak, dia tidak bisa. jika dia dikirim terbang ke langit untuk kedua kalinya maka benar-benar tidak ada jalan untuk kembali.

"Tunggu! Tunggu! Tenang! Ayo bicara, tolong mari kita bicara !!"

Sebenarnya, perkataan Orleia akan pedang suci hanyalah gertakan, tetapi raja iblis tidak mungkin mengetahuinya, Biella bahkan berlutut untuk mencoba dan menenangkan mereka.

"Bicara?"

"Itu benar! Tolong jangan gunakan pedang suci! Biella akan melakukan apa saja!"

Apakah dia benar-benar raja iblis? Bertentangan dengan pikiran Clarice, party itu tampak cukup menikmatinya.

"Begini saja! Kalian semua bisa menjadi bawahan Biella! Wanita memang kompeten. Aku tidak suka mereka, tapi kalau kalian, aku bisa ... tunggutunggutunggu ... !!! turunkan tangan kalian! Aku belum selesai berbicara!"

Bagi Biella, ketakutan akan pedang suci itu memalukan tetapi itu juga membuatnya belajar bagaimana cara menenangkan orang.

"Jika kalian menjadi bawahan Biella maka kalian dapat memiliki semua koleksi buku BL Biella ini dan doujin bergambar gratis! Tawaran yang benar-benar tidak dapat dipercaya! Anak laki-laki polos seperti bunga melakukan hal yang kotor.... Tunggutunggutunggu! Turunkan tangan kalian?! Begini saja! Bagaimana dengan ini ?! "

Biella tergesa-gesa menunjuk ke Senyun, yang telah mengeluarkan bola api raksasa.

"Mage! Jika kau menjadi bawahan Biella, aku akan memberimu Clarice! Terserah kau mau memanggangnya atau merebusnya atau apa pun!"

"Apa?!"

"Raja iblis?!"

Gedebuk. Orkar dikhianati oleh tuannya. Tapi lebih dari itu, orang yang paling terkejut adalah Senyun.

"Kau memberikan unni... kepadaku?"

"Itu benar! Aku akan memberikanmu unni! Hubungan terlarang adik kakak! kau bisa melatihnya sesuai seleramu! Bagaimana? Sang Pahlawan, orang yang seharusnya menjadi suami Clarice ada di tanganku. Berarti! Dia saat ini bebas!

"…………"

Senyun tanpa kata menatap Biella. Pikir Clarice. Kebodohan macam apa itu. Bahkan jika Senyun tidak memiliki akal waras di kepalanya, pasti dia tidak akan jatuh pada tawaran konyol itu...

"Maju sini! Aku bawahan raja iblis dan cucu sang Sage, Senyun !!"

Kau benar-benar jatuh pada tawaran itu?!!?!!?!

"Ufu! Ufu! Ufufufu !! Pilihan bagus! Sekarang, kau selanjutnya, ksatria wanita!"

Biella, saat ini dalam suasana hati yang sangat ceria, menunjuk Ericia yang sedang mengumpulkan Kekuatan Rahim.

"Ksatria wanita! Jika kau menjadi bawahanku maka aku akan membuatkanmu ordo ksatriamu sendiri!"

"Ordo ksatria? Ha. Sangat lucu. Apakah kau mencoba mengubahku hanya dengan itu? Setidaknya masukkan ketulusan hati ke dalamnya."

"...... Eri. Bukankah itu terdengar aneh bagimu?"

Jika dia benar-benar tulus maka kau akan langsung berpaling?

"Kyahahahaha! Tidak mungkin itu akan mengakhiri ini dengan mudah. Aku tahu betul kekuatan anehmu yang dikenal sebagai Kekuatan Rahim. Aku akan memanggil semua iblis perempuan dan meminta mereka mempelajari Kekuatan Rahimmu! Seluruh ksatria yang tahu bagaimana caranya gunakan Kekuatan Rahim! Itu dia! Sebut saja Ordo Rahim! "

"Rahim, Ordo..."

Ericia menyerah, menatap Biella. Pikir Clarice. Kebodohan macam apa itu. Bahkan jika Eri tidak memiliki rasa malu dalam menyebarkan Kekuatan Rahim, pasti dia tidak akan jatuh pada tawaran konyol itu...

"Ayo, aku! Aku bawahan langsung raja iblis dan kapten Ordo Rahim, Ericia!"

Kau juga?!!?!!?!

"Kyahahahahaha !! Aku bahkan tidak membayangkan itu akan bekerja! Memang manusia adalah yang terbaik dalam menikam satu sama lain, ras pengkhianat!!"

Biella dengan penuh semangat mengayunkan twintail merah mudanya dan mulai menari-nari. Saat itu, Orleia, yang telah menonton semuanya dalam kesunyian selama ini, akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Raja iblis."

"Hm? Ah! Kau juga ada di sini. Maaf. Biella pelupa. Mari kita lihat. Kau-"

Tawaran macam apa yang terbaik, Biella merenungkannya tetapi tanpa sedikit pun keraguan, kata Orleia dengan dingin.

"Beri aku kekasihku. Lalu aku akan menjadi bawahanmu."

"Ap, apa?"

"Kau bahkan tidak memikirkannya lagi?!!?!"

Meskipun dia tidak benar-benar mengharapkan apapun dari Orleia! Dan kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan kalimat yang akan dilewatkan jika dibiarkan tidak terungkap.

"Maju sini! Aku bawahan langsung raja iblis dan suami dari kekasihku, Orleia!"

"Kenapa kau menjadi suamiku ?! Tunggu, sebelum itu, aku istrinya?!"

Minwoo berteriak. Hari-hari yang dihabiskannya berpetualang dengan orang-orang gila itu begitu menyedihkan sehingga dia tidak tahan lagi. Bahkan raja iblis ikut berbicara.

"Nah, um, jangan terlalu tertekan. Begitulah cara hidup bekerja."

"Ini semua salahmu!!!"

"Raja iblis! Abaikan dia, tepati janjimu!"

Setelah menjadi pengikut yang sangat setia, Senyun mendesak sambil melirik Clarice. Hul. Clarice kehilangan kata-kata. Tiga orang yang telah dipenuhi dengan nafsu sudah bersiap untuk melompat dan mendominasi dirinya.

Aku, apakah aku benar-benar melakukan sesuatu yang dibenci karena hal itu?

"Lari."

Ah? Clarice datang ke badan raksasa yang memenuhi pandangannya. Orkar. Dia melirik kembali ke Clarice dan berkata.

"Aku akan menahan mereka. Kau lari ke desa manusia dan carilah bantuan."

"T, tapi!"

Tunggu dulu, kaulah musuhnya.

"Fu. Sejak Orkar ini melihatmu, aku hanya akan berada di sisimu. Sejak Sang raja iblis, tidak, raja iblis membatalkan pernikahan kita, itu hanya membuat pernikahan kita lebih kuat.

"Tunggu, tunggu, aku tidak akan menikahimu."

"Kudengar mereka menyebut orang-orang semacam itu tsundere."

Ewhew. Mari kita tidak bicara.

"Orkar! Jadi kau akhirnya menunjukkan warna aslimu! Menunjuk orc jelek sepertimu sebagai kepala garda depan adalah kesalahanku sejak awal! Dengarkan! Tangkap mereka !!"

"""Siaap!!"""

Ketiganya telah menjadi pelayan yang sangat setia 1, 2 dan 3. Clarice bersumpah bahwa jika hal ini selesai, dia akan membuat mereka membayar untuk ini dan membuka mulutnya.

"……Terima kasih sudah membantuku."

"Jangan khawatir. Melindungi pengantin itu sudah menjadi kewajiban bagi orc."

Pengantin. Dia akan tahu bahwa dia tidak berpikir untuk menjadi pengantinnya. Bahwa cintanya hanya milik sang pahlawan. Tapi dia akan membantunya. Dengan hati yang berat, Clarice berbisik pelan.

"Berhati-hatilah."

Mata Orkar melebar begitu dia mendengarnya.

"... Itu yang ingin aku katakan."

Dia menyeringai dan berbalik.

"Tidak masalah jika aku mengalahkan mereka, kan?"

Mendengar kata-katanya, pikir Clarice.

'Ah. Dia akan kalah. Pasti seratus persen akan kalah. '

Hal terakhir yang dilihat Clarice ketika ia melarikan diri dari ruang dansa, adalah partynya (yang sebelumnya) berkelahi dengan Orkar dan-

Hero-nim dengan mata yang cemas memandangi Clarice pergi.

***

Tamatlah riwayatnya.

Sekarang apa.

Dengan langkah kelam, Clarice menyeret kakinya yang lelah kembali ke lobi istana raja iblis, tempat dia berdiri. Bagian dalam yang dirancang seperti labirin dan karenanya dia berjuang untuk tidak tersesat, ruangan itu begitu gelap sehingga dia tidak bisa melihat sesuatu di depannya. Party sang pahlawan yang mengalahkan raja iblis sekarang berpegangan tangan dengan raja iblis, sang pahlawan ditangkap, bahkan jika dia mengirim bantuan, apakah ada yang akan berubah?

Apa yang akan terjadi padanya.

Dan Hero-nim?

"Ahhh... apa kesalahanku..."

Apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia baginya, hari pernikahannya, telah berubah menjadi petaka. Matanya mulai berkabut, dan ditinggal sendirian, Clarice akhirnya mulai menangis.

Sampai akhirnya.

『H.a.l.o, H.a.l.o ~ apakah ada orang di sana ~?』

" H.a.l.o?"

『Ah! Disini! Sini! Tolong bantu aku! 』

Saat dia menggerakkan kakinya ke tempat suara itu berasal, ada patung batu seukuran manusia. Kenapa ada patung di sini. Itu adalah patung yang sangat aneh juga. Seorang wanita manusia yang mengenakan pakaian nyaman seolah-olah dia ada di sini untuk melihat-lihat. Secara keseluruhan, di satu tangan memegang buku elegan yang diukir dengan mawar hitam. Yang menarik dari hal itu adalah bahwa buku itu tidak terbuat dari batu, tetapi sebuah buku asli.

"Ah! Ahh! Akhirnya ada orang! Uwaaaahhh! Aku hampir menangis sekarang ~~~~ !!!! Karena raja iblis lenyap, tidak ada orang lain yang datang! Aku sangat takut sendirian ~~~ !! 』

Patung batu itu menangis. Tidak, air mata tidak keluar, tetapi suara yang datang dari dalamnya sepertinya akan menangis setiap saat. Jadi Clarice menanyakan hal yang paling ingin dia ketahui.

"Um, siapa kau?"

Mendengar pertanyaannya, patung itu tampak berhenti sejenak seolah bertanya-tanya apa yang harus dikatakan, sebelum dikatakan.

『Hmm~ Apa yang harus aku katakan? Tapi jika kau benar-benar ingin tahu~』

『Turis yang secara tidak sengaja membuka segel raja iblis?』


Note:
Turis yang disebut di chapter pertama akhirnya kembali, dan waduh plot twist lagi, bagaimana kelanjutannya? Kita semakin mendekati epilogue.




TL: MobiusAnomalous
EDITOR: Isekai-Chan