Minggu, 07 April 2024

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 7: Kertas : Tidak Bisa Didapatkan

 Volume 01

Chapter 7: Kertas : Tidak Bisa Didapatkan



Kaki aku selonjoran ke depan, tangan Ralph merangkul kakiku dan aku berpegangan ke pundaknya. Lalu akhirnya aku bisa melihat tembok bagian luar dan gerbangnya. Tembok bagian luar ini jadi penjaga kota, tembok ini benar-benar tinggi setelah aku lihat dari dekat. Tingginya sekitar bangunan tiga lantai yang ada di Jepang dan cukup tebal sekali temboknya. Terdapat empat gerbang yang dibangun di tembok bagian luar ini, tempatnya di bagian utara, timur, selatan, dan barat, lalu ada sejumlah prajurit juga di sana yang diberi tugas untuk memeriksa setiap orang masuk ke kota.

Kami sampai di gerbang utara dan bisa kami lihat ada prajurit yang berjaga di sana. Ada Ayah di antara mereka. Aku tidak tahu posisi pastinya, tapi Tuuli bisa mengetahui dia ada dimana. Di tempatkan di depan dadanya, Tuuli bawa barang yang dibungkus itu dan dia antarkan kepada ayah, dia melambai juga.

“Ayaaaaah! Ayah lupa bawa ini. Ini penting, kan?”

Ayah langsung berkedip terkejut saat Tuuli menyerahkan barang itu kepadanya dengan penuh senyuman. Mmm.... baik sekali. Kamu itu terlalu baik, Tuuli! Yang aku utamakan adalah menghindari Ibu marah kepada Ayah karena dia lupa membawa barang yang sudah Ibu usahakan buat dalam waktu sibuknya.

“Iya, ini memang penting. Makasih.... Eh, bentar, kamu tinggal Myne sendiri di rumah?!”
“Ah tidak, aku bawa dia kemari. Itu dia? Ralph gendong dia?”

Ayah, matanya agak bimbang tidak enak padaku karena tidak sadar ada aku di sini, dia letakan tangannya pada kepala Ralph.

“Terima kasih sudah menggendong dia, Ralph.”
“Kami sedang dalam perjalanan ke hutan, jadi bukan apa-apa.”

Ralph menurunkan aku, namun dia agak kesal atas cara Ayah mengusap-ucap rambutnya. Lalu dia ambil kembali barang yang dia titipkan di Fey dan Lutz.

“Makasih, Ralph. Lutz dan Fey juga, terima kasih.”

Setelah melihat Ralph dan saudaranya melewati gerbang dan berjalan ke arah hutan, Tuuli dan aku dibawa ke ruang tunggu yang disediakan dalam tembok bagian luar.


Tembok bagian luar ini cukup luas dan bisa dibangun ruangan dengan ukuran sembilan meter persegi. Ruang ini tidak begitu besar, tapi rupanya masih ada ruang tunggu lain dan ruang untuk prajurit yang berjaga di waktu malam. Dalam ruang tunggu yang kami tempati ada meja biasa, satu bangku, dan satu lemari penuh dengan rak.

Aku melihat sekitar ruangan ini, rasanya aku sedang berturis ke negara asing, lalu tak lama kemudian datang satu rekan kerja Ayah yang membawakan kami gelas dan teko air.

“Dua putri yang kau besarkan punya hati baik, pak.”

Memerlukan waktu sekitar dua puluh menit untuk anak seusia Tuuli agar bisa sampai di gerbang dari rumah, jadi aku terima air yang disediakan. Aku teguk air dari gelas kayu dan mengeluarkan suara lega.

“Haaah. Segar sekali. Akhirnya aku bisa istirahat kaki.”
“Kamu tidak jalan sendiri lama-lama, Myne,” kata Tuuli sambil mengerutkan bibirnya, ucapannya itu membuat orang-orang yang ada dalam ruangan ini tertawa. Aku balas dengan Hmm padanya, tapi karena aku digendong oleh Ralph, jadinya aku tidak bisa berbalas kata apapun padanya.

Aku minum segelas lagi, lalu masuk seorang prajurit ke dalam ruangan. Dia mengambil kotak rak di lemari dan segera pergi,  isi dari kotak itu mungkin perkakas atau alat lainnya. Dia seperti sedang terburu-buru, jadi aku perhatikan dia.

“Apa terjadi sesuatu, Ayah?”
“Mungkin kami kedatangan orang yang perlu penanganan khusus. Kamu tak usah pikirkan itu.”

Ayah seperti mengabaikan itu, tapi dari reaksi terburu-buru prajurit tadi membuat aku sedikit khawatir. Apa semuanya akan berjalan lancar? Karena ada satu prajurit yang terburu-buru seperti itu. Bukankah itu punya makna ada masalah terjadi?

Memiliki respons tajam sepertiku, Tuuli memiringkan kepalanya karena bingung juga tapi tidak ada rasa khawatir di wajahnya.

“Orang yang perlu penanganan khusus? Aku belum pernah bertemu orang seperti itu sebelumnya?”

Baginya yang sering melewati gerbang, Tuuli tidak bisa menebak seseorang yang datang dan membuat seorang prajurit bertindak sedikit berlebihan.

Ayah meraba-raba dagunya sebentar karena berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan ini.

“Aaah, benar juga. Kalian bisa tebak ada orang mencurigakan yang mungkin seorang penjahat atau orangnya tidak mencurigakan tapi ternyata dia adalah bangsawan luar wilayah kita, dan kami perlu informasikan soal kedatangannya itu kepada Penguasa Ehrenfest sebelum kami izinkan mereka lewat.”
“Wow...”

Rupanya mereka menilai orang dari cara mereka berpakaian. Tapi, aku rasa tidak ada salahnya jika di sini. Dalam dunia ini terlihat tidak punya jaringan komunikasi yang tersebar luas atau alat serupa lainnya. Para penjaga ini tidak punya sarana untuk cari informasi soal orang-orang yang datang dan minta izin untuk melewati gerbang.

“Jadi kami minta mereka untuk menunggu di ruang terpisah, nanti akan ditentukan apakah mereka boleh lewat atau tidak oleh para penanggung jawab gerbang.”

Aaah. Jadi itu alasannya ada begitu banyak ruang tunggu yang dibangun di gerbang masuk. Aku mengerti sekarang. Aku yakin ruang tunggu untuk bangsawan dan orang yang mencurigakan akan dibedakan mulai dari ukurannya dan perabot yang ada.

Aku sedang memikirkan itu namun terganggu oleh masuknya prajurit muda berambut coklat tua dan dia tampak ramah, matanya berwarna coklat muda, dia datang kemari sambil membawa kotak dan suatu kain yang digulung berbentuk tabung. Ekspresinya tidak menggambarkan suatu hal darurat yang perlu segera ditangani. Ayah benar soal itu, bahwa memang tidak ada hal serius yang terjadi.

Prajurit itu menaikkan tabung itu ke atas kotak dan menempatkan dua barang itu di tangan kirinya, dia berdiri tegak di hadapan Ayah lalu menggerakkan lengan kanannya untuk menepukkan kepalan tangannya pada sisi kiri dadanya sebanyak dua kali. Ayah berdiri dan memperbaiki posisinya agar tegak juga, dan melakukan hal tepukkan yang sama seperti pemuda itu. Mungkin itu semacam salam hormat antar prajurit di dunia ini.

“Otto, laporkan perkaranya?”

Aku mengeluarkan suara sedikit kagum setelah melihat Ayah menampilkan ekspresi seriusnya karena di rumah aku tidak lihat dia berekspresi seperti itu sebelumnya. Dia biasanya terlihat malas dan biasa-biasa saja tanpa ada perubahan seperti itu. Begitu dia jadi serius, dia terlihat sangat keren.

“Count Lowenwalt minta izin untuk lewat.”
“Bagaimana stempel izinnya?”
“Sudah kami periksa dan terkonfirmasi.”
“Baiklah, izinkan dia lewat.”

Otto memberi salam hormat sekali lagi dan kemudian dia berjalan untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan kami. Dia simpan kotak kayu itu di meja dan melebarkan gulungan tadi di sebelah kotak kayu. Gulungan itu terlihat halus seperti kertas dan aku bisa mencium suatu aroma khas yang menarik perhatianku.

... Perkamen? Aku masih belum yakin apakah itu perkamen atau bukan, tapi itu terlihat pasti seperti kertas yang terbuat dari kulit binatang. Aku terbiasa memakai kertas yang terbuat dari tanaman, tapi kertas zaman dulu biasa terbuat dari kulit binatang yang dikeringkan dan itu disebut perkamen. Huruf bahasa dunia ini tertulis di sana, tapi aku tidak bisa membaca kata-katanya.

Aku mulai memelototi itu selebar-lebarnya, Otto mengeluarkan botol berisi tinta dan pena buluh dari dalam kotak peralatan lalu dia mulai menuliskan sesuatu di atas perkamen itu.

AAAAAH! Dia menulis! Ada orang yang tahu cara menulis tepat di hadapanku! Dia adalah orang pertama yang tahu budaya dunia ini. Pastinya aku ingin sekali dia mengajari aku bahasa dan cara tulis bahasa dunia ini!

Ayah mengelus-elus rambutku dan bertanya “Ada apa?” begitu dia sadar aku memperhatikan gerakan tangan Otto yang sedang menulis.

Aku mengangkat wajah padanya dan menunjuk pada benda yang aku yakini adalah perkamen. Aku ingin tahu itu disebut apa dalam bahasa dunia ini agar aku bisa membahas itu di lain waktu.

“Ayah, Ayah. Itu apa namanya?”
“Itu perkamen. Kertas yang terbuat dari kulit kambing atau domba.”
“Dan cairan hitam itu apa?”
“Itu tinta. Dia sedang menulis pakai pena.”

Sudah aku duga. Aku berhasil menemukan tinta dan kertasku. Aku bisa membuat buku dengan dua benda itu, masalah terselesaikan.

Aku tahan rasa senangku yang bisa membuat aku melompat, aku satukan kedua telapak tanganku di depan dadaku dan melihat kearah Ayah.

“Um, Ayah. Boleh aku minta dibelikan itu?”
“Tidak bisa. Itu bukan mainan untuk anak-anak.”

Kekuatan penuhku dalam meminta telah sepenuhnya ditolak, padahal aku sudah gunakan sisi gemas dari seorang anak kecil.

Jelas pastinya, aku bukanlah seorang gadis kecil yang akan menyerah begitu keinginanku ditolak. Sewaktu aku masih jadi Urano, orang-orang pernah bilang aku adalah orang yang keras kepala dan pantang menyerah yang pernah mereka temui. Kinilah waktunya aku tunjukkan kepada Ayah betapa tangguhnya diriku ini dalam memperjuangkan perkara buku.

“Aku ingin bisa menulis seperti dia. Aku ingin kertas dan tinta. Aku mohooon?”
“Tidak, Ayah tidak bisa mengabulkan itu! Lagian juga, kamu tidak tahu cara menulis, Myne.”

Itu memang sebuah fakta, tidak ada gunanya memberi orang buta huruf sebuah kertas dan tinta. Justru dengan alasan itu, aku punya kesempatan emas untuk meyakinkan Ayah.

“Ya ajari aku. Aku ingin belajar menulis. Jadi akankah Ayah belikan tinta dan kertas jika aku belajar menulis?”

Jika pemuda yang jadi bawahannya ini bisa menulis, maka sudah pasti Ayah juga bisa menulis. Karena dia ini, semacam kapten di sini. Aku kira rasanya tidak mungkin ada orang yang bisa menulis bila di rumahnya saja tidak ada alat tulis dan semacamnya, tapi rupanya itu bagian dari kesalahpahamanku yang menguntungkan sekarang. Mimpiku bisa membaca buku di dunia ini mungkin akan terkabulkan dalam waktu dekat jika Ayah mengajariku cara baca.

Ketika itu aku sedang tersenyum lebar dan ceria, karena aku punya firasat dapat langkah besar menuju hal yang aku inginkan, aku dengar tawa di belakang. Aku berbalik untuk melihat siapa yang tertawa dan ternyata itu adalah Otto, yang selama ini mendengar percakapan kami, dia sedang menulis laporannya dan terhenti karena tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha! Mengajarimu menulis...? Heh, Kapten, Anda ini hampir tidak bisa menulis dengan baik, bukan?”

Saat aku mendengar itu. Aku merasa ada retakan yang melebar dalam hatiku. Aku sendiri bisa tahu senyumanku tadi kaku, seperti baru saja disiram air dingin satu ember.

“Ha? Ayah tidak tahu cara menulis?”
“Ayah bisa baca dan tulis, hanya sedikit saja. Tapi hanya sebatas pada bagian penting di kertas dokumen yang perlu Ayah isi. Hanya nama orang saja yang pernah Ayah dengar yang bisa Ayah tulis.”
“Oh....”

Aku perhatikan Ayah dengan mata dingin selama dia berasalan seperti itu dengan ekspresi wajah kesal dan jengkel. Kalau begitu faktanya, dalam penilaian di dunia asalku, dia itu tahu huruf abjad dan bisa menuliskan nama-nama temannya, kira-kira begitu ya? Tadi Otto bilang dia ‘hampir tidak bisa’, mungkin dia sekelas dengan anak kelas satu yang masih salah tulis bahkan nama orang.

“Sudah nak, jangan lihat ayahmu dengan ekspresi seperti itu.”

Otto, pelaku yang membuat aku jatuh respek pada Ayah berkata seperti itu dan segera mencondongkan badannya ke depan, untuk menegurku dengan ekspresi wajah yang agak khawatir. Dia lalu berbicara lagi, menjelaskan tugas macam apa yang dilakukan oleh para prajurit, dia seperti sedang membela Ayah.

“Tugas prajurit adalah menjaga kedamaian dalam kota, tapi saat berhubungan dengan hal penting seperti menangani bangsawan, maka itu akan jadi tugasnya kesatria yang mengurusi segel dan dokumen izin masuknya. Jadi cukup dengan melaporkan secara lisan saja bila ada perkara yang tidak begitu penting, jarang sekali ada tugas yang membuatnya untuk membaca. Bisa menuliskan namanya sendiri saja sudah lebih dari cukup.”

Ayah membusungkan dadanya dengan penuh bangga, mood hati Ayah kembali tinggi setelah menerima bantuan dari Otto. Tatapan dingin dariku rupanya cukup berdampak besar padanya.

“Bahkan keadaan orang di desa lebih buruk lagi. Biasanya hanya kepala desa yang bisa membaca, jadi ayahmu ini sudah lebih hebat dari mereka.”
“Iya, ayahku memang hebat. Aku ingin kertas dan tinta ini. Jadiiiii aku mohooon, belikan aku semua ini?”

Jika dia benar-benar hebat, maka dia seharusnya menunjukkan bukti hebatnya itu dengan memberikan seratus lembar kertas pada putri cantiknya.

Tapi permintaanku ini diterima Ayah dan dibalas dengan langkah mundur karena rasa takut.

“Ma-mana ada orang yang mau membuang gaji utuh selama satu bulan untuk membelikan anak mereka satu lembar kertas?”

Huh, bentar, apa?! Gaji utuh satu bulan? Se-semahal apakah satu perkamen ini?! Aku sekarang bisa paham kenapa dia ragu belikan semua itu untukku. Itu juga masuk penjelasan mengapa tidak ada satu kertas pun dalam rumah kami atau mengapa aku tidak bisa menemukan toko buku kemana pun aku pergi. Satu perkamen saja sudah mahal sekali bagi rakyat. Keluargaku sudah berusaha sebisa mungkin punya penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup, tidak mungkin ada kesempatan penggunaan gaji penting itu untuk kertas apalagi buku.

Aku menurunkan pundakku, karena depresi, lalu Otto mengelus-elus rambutku.

“Dari awal juga, aku rasa tidak ada toko mana pun yang menjual perkamen untuk rakyat. Kertas digunakan oleh para bangsawan, kantor pemerintah, dan rakyat kaya yang punya koneksi dengan bangsawan. Kalau misalnya hanya ingin belajar menulis, mungkin kau bisa gunakan papan tulis kapur? Aku bisa berikan punyaku yang dulu aku pakai.”
“Sungguh? Aku senang sekali!”

Aku langsung mengangguk atas janji memberiku papan tulis kapur yang dulu dia gunakan. Salama itu juga, aku mengusahakan diri untuk meminta dia mengajari aku cara menulis.

Terima kasih banyak, Pak Otto! Aku akan lebih senang lagi bila bapak mau mengajari aku menulis!”

Selama aku tersenyum lebar, Ayah melihat aku dan Otto dengan ekspresi kecewa dan menyedihkan pada dirinya sendiri, tapi sengaja aku tidak sadari itu. Aku begitu bersemangat karena akan mempelajari bahasa dan mendapat papan tulis punyaku sendiri, tapi hal yang paling aku inginkan tetap buku dan kertas untuk membuat buku.

Karena pada akhirnya, tak ada yang bisa aku amankan di papan tulis kapur itu. Karena penggunaannya akan seperti papan tulis pada umumnya, begitu selesai menulis maka akan dihapus. Sangat sempurna untuk belajar menulis, tapi tiada bandingannya dengan buku.

Tapi, soal fakta tidak ada toko yang menjual kertas untuk rakyat benar-benar diluar dugaanku. Bagaimana caranya aku bisa buat buku tanpa kertas? Atau dalam kata lain, apa yang harus aku lakukan jika tidak bisa mendapatkan kertas? Soal itu hanya ada satu jawaban: aku perlu membuatnya sendiri juga.

Nggggh, perjalanan agar aku bisa punya buku masih sangat jauh!



PREVIOUS CHAPTER     ToC    NEXT CHAPTER


TLBajatsu

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 6: Para Anak Lelaki Tetangga

 Volume 01

Chapter 6: Para Anak Lelaki Tetangga



Ibu pergi bekerja, meninggalkan Tuuli dan aku di rumah. Info yang bisa aku dapatkan hanya berasal dari Tuuli, karena dia yang selalu bersamaku.

“Tuuli, apa kamu tempat beli (kertas) dimana?”
“Tadi tanya apa, Myne?”
“Aku tanya (kertas).... Ah!”

Tuuli memiringkan kepalnya, rambut kepangnya ikut bergerak, aku merasa pernah melihat postur yang dia tampilkan sekarang. Dia menunjukkan ekspresi yang sama ketika dia mendengar kata yang aku sebutkan dalam bahasa Jepang, pasti dia tidak mengerti lagi. Aku tidak tahu cara mengucap kata “kertas” di dunia ini.

Oh tidak....! Aku harusnya tanya pada pria penjual alat itu soal kertas itu apa!

“Um, Tuuli, jadi kamu tidak tahu apa itu (kertas)...?”
“Maaf. Aku tidak tahu. Tapi ucapanmu terdengar aneh dan lucu.”

Pundakku turun dan aku menghela nafas kecewa. Sebenarnya, cari toko yang jual buku bukan satu-satunya masalah yang aku hadapi. Aku juga tidak tahu dimana tempat beli pena atau pensil. Melihat dari keadaan rumah dan zaman yang ada di kota ini, aku ragu aku akan menemukan toko yang jual pena tipe bolpoin atau pensil mekanik. Ada kemungkinan juga pensil masih belum ditemukan.

Kalau begitu, apa, alat tulis macam apa yang aku pakai? Dan apa cara yang perlu aku lakukan agar mengusai alat tulis itu? Mau ada atau tidak, halangan yang sering aku hadapi adalah kurangnya uang dan sedikitnya tenaga tubuh yang aku miliki untuk mencari bahan-bahannya. Perkara ini tidak akan mudah aku atasi.

“Aaaah! Aku tidak mengira Ayah lupa bawa ini?”

Aku mendengar Tuuli teriak di dapur jadi aku lihat apa yang jadi masalah. Dia sedang mengangkat barang yang sudah dibungkus... isinya tidak aku ketahui.

Seingatku, Ayah sedang mengantuk dan meminta siapkan sesuatu pada Ibu, “buatkan untukku sekarang, nanti kerja mau dibawa,” yang mana pemintaannya itu agak membuat Ibu sedikit kesal karena Ibu setiap paginya dipenuhi dengan kesibukan dan Ayah tidak bilang dari kemarin. Ibu sudah buatkan yang dimintanya dalam waktu sibuknya itu dan Ayah lupa untuk membawanya. Aku merasa aura dingin mengalir di darahku begitu memikirkan marah macam apa yang akan dikeluarkan Ibu begitu dia tahu ini.

“Tuuli, Ibu pasti akan marah soal ini, betul kan? Kamu sebaiknya antarkan ini ke Ayah?”
“Kamu sepemikiran juga...? Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Myne...”

Dia pergi untuk cuci piring, aku menyelinap keluar dari kamar dan dia temukan aku dalam keadaan menangis. Aku pergi bersama Ibu ke pasar dan aku pingsan di sana. Rasa percaya keluargaku padaku telah jatuh ke bawah dan rupanya Tuuli tidak berpikir lagi untuk meninggalkan aku di rumah sendirian.

“Tapi, nanti Ayah yang kena masalah jika tidak bawa ini?”
“... Myne, apa kamu bisa jalan lama sampai gerbang?”

Tuuli putuskan untuk mengajakku daripada meninggalkan aku di sini sendirian. Aku sedikit khawatir, mengingat kejadian yang aku alami di pasar, tapi aku lebih takut lagi marahnya Ibu nanti.

Aku kepalkan telapak tanganku dan mengangkatnya ke atas untuk menunjukkan tekadku.

“A-aku akan coba sebisanya.”
“Ok, ayo.”

Aku pakai baju berlapis lagi, sama seperti aku pergi belanja bersama Ibu, membuat aku jadi manusia bungkus berlapis-lapis. Baju berlapis ini tidak untuk tampil menarik, ini merupakan usaha agar aku terjaga dari suhu dingin. Sebagai tambahan, aku kasih tahu pakaian apa saja yang aku pakai, dua pasang pakaian dalam, dua baju dari wol, satu sweter wol, dua celana panjang dari wol, dan dua pasang kaus kaki wol. Ketika pergi keluar rumah, aku pakai semua itu.

“Tuuli, berat sekali aku sulit jalannya.”
“Iya, tapi kamu harus pakai semua itu agar tidak ada celah angin masuk. Siapa tahu ada angin yang lewat tanpa kita sadari? Kamu itu mudah kena demam, Myne, jadi harus kamu pakai semaunya.”

Aku punya harapan Tuuli akan sedikit beri aku ruang daripada Ibu, tapi rasa tanggung jawabnya tinggi yang membuatnya mencegah aku keluar rumah tanpa pakaian berlapis itu agar memastikan aku tetap dalam keadaan hangat dan aman dari penyakit. Akhirnya aku menyerah dan pakai semua itu, tapi soal aku sulit gerak itu benar.

Tuuli tidak pakai berlapis seperti aku karena tubuhnya yang sehat. Selain itu dia punya stamina yang banyak berkat dia sering pergi ke hutan bersama anak-anak lain dan dia juga diberi tugas dari Ibu untuk membantu keperluan rumah yang membuatnya sering pergi ke kota.

Baik stamina dan kelincahan, aku kekurangan keduanya. Yang aku miliki hanyalah beban berat dari pakaian yang aku kenakan.


“Kamu masih kuat, Myne?”
“Haaah, haaah.... Jika, kita jalannya, pelan saja....”

Sama seperti sebelumnya, aku kehabisan nafas begitu sampai di bawah menuruni tangga. Jadi, aku jalan sesuai kecepatanku. Aku hanya akan mempersulit Tuuli jika memaksakan diri jalan cepat dan berakhir pingsan di jalan. Cukup penting untuk membangun rasa percaya darinya secara perlahan-lahan.

... Tapi sungguh sulit, berjalan di trotoar batu ini.

Jalanannya cukup bergejolak dan aku bisa saja jatuh jika tidak lihat kemana aku memijak. Aku pegang tangan Tuuli dan agar aku dibimbing arah jalannya dan bisa fokus melihat pijakkanku.

“Huh? Halo, Tuuli! Sedang apa di sini?”

Aku angkat kepala untuk melihat ke depan karena ada suara anak laki-laki dari kejauhan. Tiga anak laki-laki lari menghampiri kami, mereka menggendong keranjang dan juga bawa busur serta anak panahnya. Warna rambut mereka seperti kombinasi pelangi, mulai dari merah, emas dan merah jambu, secara berurut. Rasanya agak sulit memalingkan pandangan dari rambut kepala mereka.

Abu-abu muda adalah warna pakaian mereka, terdapat noda tanah dan sedikit makanan yang menempel. Desain pakaian yang semakin usang menandakan pakaian yang mereka kenakan ini adalah pakaian pemberian, dan wajah mereka yang terbilang cukup sama juga jadi penanda mengapa pakaian mereka serupa, aku bisa menebak kami sama-sama miskin.

“Ah, Ralph! Hei Lutz, Fey!”

Tuuli cukup dekat dengan mereka, aku anggap Myne pernah menghabiskan waktu bersama mereka waktu dulu. Aku sentuh keningku dan berpikir dalam, mencari dalam ingatannya. Mmm... Ah, itu ada mereka. Huh. Rupanya mereka tetangga kami.

Ralph seumuran dengan Tuuli. Dia yang berambut merah dan paling tinggi di antara mereka bertiga. Dia seperti ketua bagi para anak-anak lain, banyak dari mereka yang menganggap dia sebagai kakak mereka.

Fey juga seumuran dengan Tuuli. Dia yang berambut merah jambu dan punya wajah paling menggambarkan seorang tukang jahil di dunia ini. Mungkin karena punya perasaan takut menyakiti Myne, gadis lemah dan sering sakit, secara tidak sengaja, dia selalu biasa mengambil jarak darinya. Myne tak punya banyak ingatan soal dia.

Lutz adalah adiknya Ralph dan yang berambut pirang emas. Kami seumuran. Dia berusaha bersikap seperti kakak yang tegas di hadapan Myne, yang mana aku menganggap itu tindakan yang menggemaskan. Seperti berusaha terus berjinjit agar terlihat tetap tinggi.

Sudah jadi keseharian Tuuli untuk pergi ke hutan bersama mereka, dan rupanya mereka pernah membawa Myne ke sana beberapa kali. Ingatan soal itu lebih jelas dibanding ingatan yang lain.

Selama aku mencoba mengingat-ingat itu, Tuuli sedang seru berbicara dengan Ralph.

“Ayah aku lupa bawa ini, jadi kami sedang berjalan ke gerbang. Apa kalian bertiga lagi perjalanan mau ke hutan, Ralph?”
“Ya. Ayo kita jalan bareng sampai gerbang.”

Tersenyum lebar berbicara dengan Ralph membuat jelas padaku bahwa bagi Tuuli cukup terbebani mengurusiku. Masuk akal sekali, karena pergi ke hutan pastinya lebih menyenangkan daripada urus aku di rumah.

Um... Maafkan aku sudah jadi adik yang kurang baik. Tapi demam aku mulai menghilang akhir-akhir ini, jadi aku rasa kamu bisa pergi keluar sebentar lagi. Pergi keluar yang aku maksud, aku ingin kamu bantu aku cari toko yang jual kertas, jika kamu masih mau berbaik hati padaku.

Laju jalan Tuuli bertambah cepat begitu dia berjalan bersama dengan Ralph dan saudara-saudaranya. Karena kami jalan sambil bergandengan tangan, dia akhirnya menarik aku yang berada di belakangnya dan aku tersandung jatuh.

“Oh tidak!”

Tuuli berhenti di hadapanku, aku tidak sepenuhnya jatuh, aku berhasil bertahan jatuh berdiri setengah lutut.

“Maaf, Myne. Kamu tidak apa-apa?”
“... Uh iya.”

Aku tidak terluka, tapi rasanya sulit berdiri lagi setelah jatuh sampai tanah. Aku ingin tetap dalam keadaan ini dan lanjut tidur. Rasanya sesak sekali untuk bernafas, pikirku sebelum akhirnya ada tangan yang diulurkan padaku.

“Hei, Myne. Mau aku gendong?”

... Lutz, baik sekali kau! Aku coba cari di ingatan Myne dan aku lihat dia selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh Ralph dan Fey, jadi dia selalu berperilaku seperti kakak tangguh dihadapan Myne, padahal umur mereka sama. Dia akan bawakan barang bawaan Myne, melindungi Myne disaat sedang lelah, dan segala tindakan lainnya yang membuat dia seperti pria gentel yang punya masa depan cerah. Perlu diketahui kalau aku itu lebih familiar dengan orang berambut warna pirang bukan merah jambu atau hijau, jadi berada disekitarnya sudah membuatku tenang.

“Myne, kau masih sakit, bukan? Pastinya kau pusing. Sini aku bantu dengan menggendongmu.”

Aku menghargai niat baik Lutz. Tapi tetap saja aku punya ukuran tubuh lebih kecil darinya, padahal dia masih seumuran denganku. Aku merasa tidak enak digendong olehnya, karena aku khawatir bila dia jatuh karenaku. Aku masih memperdebatkan terima atau tidak bantuan darinya tapi tak lama Ralph menyela kami dengan helaan nafas dan menurunkan bawaannya.

“Kita tak akan sampai hutan jika Lutz yang menggendongnya. Ayo, Myne, akan aku gendong kau. Lutz, bawakan busurku. Fey bisa bawakan keranjangku.”
“Ralph...”

Lutz pelototi Ralph dengan tatapan sedikit frustrasi. Mungkin dia merasa niat baiknya disingkirkan.

“Kamu yang pertama khawatir soal aku, Lutz. Kamu baik sekali. Terima kasih. Aku merasa senang.”

Aku tersenyum lebar dan memberi Lutz jabat tangan sebentar dan ucapan terima kasih tadi.

Lutz, kelihatan puas karena melihat ada orang yang menyadari hal baik yang akan dia lakukan, dia tersenyum malu dan pelan-pelan mengambil busur Ralph.

“Yuk, naik.”
“Uh iya. Makasih, Ralph.”

Aku jalan mendekati Ralph dan merangkang naik ke punggungnya, yang lebih besar dari punggung Tuuli. Rasanya malang sekali saat aku tahu membuat seorang anak laki menggendongku, tapi bagi gadis kecil sepertiku tidak perlu khawatir soal rasa malu. Tak perlu!

Aku sudah naik di punggung Ralph dan dia mulai melangkah maju dengan kepala tegak. Pandangan kota yang aku lihat bertambah tinggi sekitar empat puluh sentimeter dari tinggi tubuhku. Untuk lebih spesifiknya, sebelumnya aku habiskan waktu melihat jalan batu yang aku lewati, tapi sekarang aku bisa melihat ke depan dan melihat banyak bangunan dari kejauhan. Bukan hanya itu, karena dia melangkah lebih cepat dariku, jadi bangunan yang kami lewati lebih cepat terjadi.

“Wow, tinggi sekaliii! Cepat jugaaa!”
“Jangan terlalu girang, oke? Nanti kau tambah sakit lagi.”
“Uh iya. Aku akan hati-hati.”

Tapi luar biasa juga, anak laki yang ditugaskan bawa kayu bakar ke rumah berakhir punya banyak tenaga. Dia punya banyak otot padahal diumurnya yang masih kecil. Tidak ada anak-anak sekolah dasar di Jepang yang punya postur tubuh seperti dia. Tapi masih saja bukan suatu hal yang bisa dibandingkan karena perbedaan lingkungan hidup dan keturunan yang membedakan kami.

Itu hal yang penting juga karena tidak aku bandingkan kota ini dengan tempat-tempat yang ada di Jepang. Aku tidak seharusnya menilai orang-orang ini berdasarkan tampilan kumuh selokan kota ini, atau perilaku keledai sini yang buang kotoran di jalanan kota ... H-hei, bukan berarti aku rela melihat hal-hal yang menjijikkan ini! Yang terjadi di sini sangat berbeda jauh dari apa yang aku lihat di Jepang yang merupakan hal menarik bagi mataku!

Kami pastinya tadi melewati area pengrajin, berbeda dengan toko dekat pasar, aku tidak bisa melihat barang dagang di lantai satu toko. Toko dekat pasar didesain agar barang dagang mereka bisa dilihat dari luar, toko area sini hanya memperlihatkan lambang atau gambar barang yang mereka jual di atas pintu toko, tidak ada yang lain atau bagian depan yang terbuat dari kaca jendela. Bukan hanya itu, semua bangunan di sini punya desain dan warna yang sama. Karena jika bukan karena itu, kedua mata aku tidak akan terpancing untuk melihat kesana karena bagian tembok kotor yang kena debu jalanan. Debunya yang terlalu mencolok, bukan salah mataku!

“Ralph, kau masih kuat? Myne tidak berat, kan?” tanya Tuuli, sambil melihat baik-baik Ralph dan aku, wajahnya kelihatan penuh dengan rasa khawatir.

Ralph sedikit putar kepala sambil mengatur-atur posisi aku diam di pundaknya lalu dia seperti melihat kearah yang begitu jauh.

“Masih aman. Myne ini kecil dan ringan sampai kurang kerasa beratnya. Kau pastinya akan repot jika kau bawa dia jalan dan kambuh lagi sakitnya?”

Menilai dari ekspresi malu dari wajah dan nada bicaranya, rupanya dia ingin membantu Tuuli. Atau ada kata lainnya, dia ingin Tuuli merasa terbantu atas tindakannya.

Ohoho, lelaki muda Ralph. Kau lagi incar Tuuli, kesayanganku? Memang ada yang bilang jika ingin jatuhkan sang jendral, maka jatuhkanlah kudanya terlebih dahulu. Mmm, tak masalah jika aku dianggap jadi kuda itu. Lanjutkanlah, tumbuhlah kisah asmara muda kalian! Jelas sekali, itu hanya perasaanku saja.

Tapi tak lama kemudian, Ralph menyentuh rambut kepang Tuuli dan mencium aromanya, dan berkata, “Tuuli, entah kenapa aku, merasa kau ini harum sekali.”

Sedang apa kau, jadi protagonis di manga shoujo?! Aku tak bisa berkata ini jadi aku usik ini dalam hati. Karena ya, Tuuli membalas ucapannya dengan berkata, “Sungguh? Terima kasih...” sedangkan wajahnya memerah. Siapa yang bisa salahkan aku?

Mereka ini masih kecil jadi aku ragu jika mereka saling jatuh cinta, tapi dalam dunia tanpa buku sebagai bahan hiburan, aku ingin kalian izinkan aku punya sedikit fantasi seperti itu dalam kepalaku. Aku belum pernah punya pengalaman hubungan cinta dalam hidupku padahal aku ini sebentar lagi lulus dari perkuliahan, dan dihadapanku ada Tuuli, dengan umur enam tahun memamerkan kisah asmara di masa muda. Aku tidak bisa apa-apa selain sedikit berfantasi soal itu dan menghibur diri.

Aku tahu apa yang orang-orang pikirkan, tapi jangan diumbar. “Mungkin kau itu akan lebih dikenal banyak pria jika tidak terus menghabiskan waktu membaca buku dan menjalani hidup dalam fantasi belaka selamanya.” Keluargaku dan tetanggaku sendiri Shuu sudah mengatakan hal yang sama padaku. Aku tidak mau dengar itu. Dasar Shuu berotak udang. Bodohnyaa.

Selagi aku mengingat masa-masa mengecewakan dalam hidupku sebagai Urano, kisah cinta masa kecil Tuuli dan Ralph berubah jadi kisah lebih lanjut yaitu cinta segitiga.

“Iya, betul. Kau memang harum.”
“Coba aku cium aromanya.”

Fey dan Lutz, keduanya membungkuk ke arah rambut Tuuli dan mencium aroma rambutnya. Jika mereka ini anak laki dan gadis yang berusia cukup, maka sudah dipastikan tidak jauh lagi mereka akan berusaha untuk memenangkan hati Tuuli.

“Rambutmu halus juga. Kau apa kan?”

Eheheheh. Benarkan? Ya, benar sekali. Atas kepuasan mereka yang tampak di wajah, aku mengangguk berkali-kali.

Aku sedang dalam proses memperbaiki tingkat kebersihan dalam rumahku. Aku keringkan bunga-bunga yang punya aroma harum dan aku masukkan itu ke dalam kotak tempat kami menyimpan baju, aku minta Ibu didihkan airnya sebelum dia gunakan untuk memasak, aku seka badan Tuuli ketika kami sedang mandi bersama, dan aku sisir rambutnya setelah dia basuh pakai kejamas. Kelihatannya buah matang hasil kerja kerasku mulai bermunculan.

Sekarang ini aku mulai terbiasa mencium bau tidak sedap yang ada di kota ini, tapi tetap saja aku masih merasa tidak kuat mencium bau badan Ralph dan saudaranya. Aku tidak bisa bilang itu secara terang-terangan karena keadaanku sedang digendong oleh Ralph, tapi rasanya aku ingin sekali membuat mereka ini mandi pakai sabun. Aku cukup kecewa karena di rumah kami hanya ada sabun binatang dan digunakan untuk keperluan bersih-bersih perabot rumah dan pakaian, tidak ada sabun tanaman yang digunakan untuk kebersihan tubuh dan beraroma harum setelah pemakaian. Aaah.... ingin sekali aku punya sabun harum.

Ketika aku sedang memimpikan dunia tanpa bau tidak sedap, Lutz menyentuh rambutku. Dia menghirup nafas dalam-dalam, seperti dia mencium aroma rambut Tuuli.

“Rambutmu harum juga, Myne.”

Lutz tersenyum ramah dan melihatku secara langsung dengan matanya yang berwarna hijau giok.

Oh... Oh tidak! Lutz punya kombinasi warna yang luar biasa cocok! Rambut pirang emas dan mata hijau giok, itu saja sudah membuat dia ini super keren, pria ganteng!

“Lalu, kamu kelihatan lebih cantik, aku bisa melihat wajahmu lebih baik lagi karena kamu ikat sedikit rambutmu kebelakang.”

Hyaaah! Satu pukulan terakhir! Dia ini masih kecil, tapi rasanya aku malu sekali! Aku tahu dia tidak berkata itu karena sengaja, tapi astaga! Tolonglah, jangan! Aku mungkin sudah berumur, tapi belum pernah dapat pengalaman seperti ini! Aku tidak tahu harus berbuat apa!

Hanya aku saja yang terdiam disana karena kebingungan. Yang lain sedang dalam diskusi mau melakukan apa begitu mereka sampai di hutan, atau membicarakan tinggal tersisa waktu berapa lama lagi sebelum salju turun. Lalu ada pembicaraan soal Lutz yang semakin mahir dalam memanah dan itu membuat aku semakin takut. Tuuli memberinya semacam apresiasi, tapi aku bisa diam saja karena terkejut. Hatiku masih berdetak.

... Apakah hal itu sangat normal bagi anak usia lima tahun yang hidup di sini? Um, ada apa dengan dunia ini? Aku gadis perawan Jepang yang baik dan berhati pemalu, tapi ini sudah berlebihan bagiku!





TLBajatsu

Selasa, 26 Maret 2024

Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel PDF Bahasa Indonesia Volume 5

 Uchi no Musume no Tame naraba, Ore wa Moshikashitara Maou mo Taoseru kamo Shirenai Light Novel PDF Bahasa Indonesia

Volume 5



Translator : Haze
EDITOR : Haze, Isekai-chan, Bajatsu
Proofreader : Bajatsu
PDF Maker : Bajatsu

[Kami memohon izin menautkan shorter link, ini ditujukan untuk biaya perawatan dan domain Isekaichan. Jadi kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan tolong jika ingin share link gunakan link shorternya untuk selalu mendukung kami :) Terimakasih]

VOLUME 5

Kelihatannya segala sesuatu yang menimpa Latina dan Dale mulai berjalan lancar dan terselesaikan. Mereka hidup senang di tempat yang menerima mereka, dikelilingi oleh orang-orang yang mereka cintai, dan akhirnya Dale meminta Latina untuk menikaihinya.

Namun tak lama setelah itu, sayangnya, gadis iblis ini sadar arti dari perannya sebagai Demon Lord Kedelapan; yaitu demon lord lain akan menggunakan segala cara untuk menghancurkannya, dan begitu itu terjadi maka semua yang dihargainya akan ikut hancur. Demi mencegah terjadinya itu, Latina mengambil keputusan untuk harus mengorbankan dirinya sendiri. 

Akan tetapi, sebagai pahlawan nomor satu dan satu-satunya pengikut Latina, Dale tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jadi dia bertindak dan melakukan hal yang harus dia kerjakan: membinasakan tujuh demon lord.



LINK DOWNLOAD
DARK MODE            LIGHT MODE
MIRROR                      MIRROR

Terdapat Dua Versi PDF
DARK MODE

 LIGHT MODE

Jika terdapat saran atau masukan agar PDF-nya bisa lebih baik lagi jangan ragu untuk tinggalkan komentar. Terimakasih

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 5: Memperhatikan Cara Hidup Baru

  Volume 01

Chapter 5: Memperhatikan Cara Hidup Baru



Jika tidak ada buku, tinggal aku buat saja sendiri. Hatiku kembali cerah dan penuh rasa optimis begitu pemikiran itu muncul.

Tapi sayangnya, tidak ada kertas di rumahku. Aku sudah pastikan itu saat aku mencari buku di rumah. Sederhananya, aku harus beli kertas, tapi aku belum tahu apa kertas dijual atau tidak. Dan sekali lagi, cukup disayangkan tidak ada mini market, mall besar, super market, atau toko yang menyediakan kebutuhan administrasi di kota ini.

Jadi, dimanakah tempat kertas dijual? Sebelumnya aku dengar dari pria tua penjual alat bahwa buku itu perlu disalin pakai tangan, jadi ada kemungkinan ada buku yang belum ada isinya dijual entah dimana. Tapi dimana tempatnya?

Mungkin ada toko yang khusus menjual kertas. Jika aku di Jepang, aku bisa menyatukan sejumlah kertas yang berserakan, kertas yang sudah ada isinya, kertas salin yang isinya rusak, atau segala jenis kertas bisa aku jadikan buku binder, tapi hal semacam itu tidak mudah di dunia ini. Jelasnya tidak ada kertas di rumahku, jadi agar bisa membuat buku, pertama-tama aku harus cari cara dapat kertas.


Kami sampai rumah habis pulang dari pasar dan pemikiran itu terpintas di kepalaku, rupanya Tuuli sudah pulang juga dari hutan. Dia kembali dengan membawa kayu bakar, kacang-kacangan, jamur, dan berbagai macam tanaman herbal yang digunakan untuk bumbu daging.

“Hey, Tuuli. Kamu bawa apa saja? Aku mau lihat, mau lihat.”

Aku melihat kedalam keranjang yang Tuuli keluarkan isinya dan aku segera menemukan sesuatu yang aku cari. Dia kembali membawa sejumlah buah seperti alpukat yang sebelumnya aku temukan saat menggeledah seisi rumah. Aku pernah melihat Ibu memalu buah itu untuk mengambil minyak dari itu, jadi aku yakin sekali bisa mendapatkan minyak dari buah itu.

“Wow! Boleh aku minta satu buah ini?”

Tuuli berpikir sejenak terhadap permintaanku dan berbalas.

“Kamu mau buah meryl!? Boleh, ini aku kasih dua.”

Lalu dia berikan aku dua buah itu.


“Makasih, Tuuli!”

Aku gesek pipi ke buah meryl lalu berjalan ke ruang penyimpanan untuk mengambil palu. Aku bisa buat sampo dengan buah ini!

Penuh dengan semangat, aku hantam kebawah palu. Dreg! Buah meryl meledak dan jadi gepeng, carian dalam buah itu muncrat mengenai aku dan Tuuli, dia mengikutiku untuk memperhatikanku.

“...Mhmm, Myne. Kamu ngapain?”

Tuuli, tanpa tindakan mengusap cairan yang mengenai wajahnya, memberi aku senyuman cerah dan mata dingin.

Aku sedikit tersentak karena amarahnya yang jelas. Uh oh, gawat ini. Kelihatannya Tuuli sangat, sangat marah.

“U-Um, Tuuli. Aku tadi, iniiii, apa. Aku mau ambil minyak buah ini, jadi aku....?”
“Tadi itu bukan cara yang benar buat ambil minyak buah merly! Kamu itu kenapa!?”

Aaah... ya mau bagaimana lagi kalau aku tidak tahu cara yang benar seperti apa. Myne yang ada dalam ingatanku selalu berpaling dari hal apa saja yang Tuuli coba ajarkan padanya. Semua ajaran yang dia sampaikan jadi tidak jelas dan tidak bisa aku pahami. Rupanya Myne sangat cemburu dan merasa tidak tahan melihat Tuuli, yang punya kesehatan, penuh energi, dan bisa melakukan hal yang tidak bisa dia lalukan.

Jadi banyak sekali ingatan Myne yang terpenuhi dengan kata-kata, “ini tidak adil,” yang membuat aku merasa tidak suka padanya. Karena apalagi, Tuuli seorang kakak yang baik. Dia mengurusiku dengan baik dan meski dalam keadaan marah dia tetap mengajari jika ada hal salah yang aku kerjakan.

Aku mulai bersihkan sisa buah merly yang berserakan selama Tuuli mengomeliku, tapi sebelum aku selesai, Ibu yang baru saja kembali dari sumur dan masuk ke dalam rumah dalam keadaan wajah merah setelah melihat ada yang mengotori dinding. Dia tidak peduli pada lantai yang kotor selama ini, tapi dia sangat perhatian pada dinding? Tak lama kemudian aku tahu tak banyak orang yang peduli pada kebersihan lantai penuh debu atau kena arang, tapi cairan yang berasal dari buah bisa diserap dinding kayu dan membuatnya cepat lapuk, hal itu sangat merugikan.

Setelah aku bersihkan, aku melihat ke buah meryl yang remuk, Ibu dan Tuuli. Aku ingin sekali segera mendapat minyak dari buah ini, tapi kurang tahu harus minta tolong ke Ibu atau Tuuli. Ragu akan keputusanku, aku minta bantuan pada orang yang sedikit marah. Aku perlahan berbisik ke Tuuli.

“Tuuli, Tuuli. Bagaimana caranya ambil minyak dari buah ini? Mau kamu ajari aku caranya?”
“Ibu, boleh aku ajari Myne?”

Padahal aku sudah bisik-bisik, tapi Tuuli malah dengan suara keras menanyakan itu pada Ibu.

“Haaah. Kita tidak tahu nanti dia berbuat apa jika tidak kita ajari. Sudah kamu ajari saja dia,” kata Ibu sambil menunjuk ke ruang penyimpanan.

Jujur saja, aku merasa tidak bisa disalahkan karena suatu hal yang sebelumnya belum pernah diajarkan kepadaku. Kalau saja ingatan Myne tidak seburam ini, pastinya aku tidak akan melakukan salah seperti ini.

Aku mengikuti Tuuli dan pergi ke ruang penyimpanan, di sana dia bisa mengajariku. Alat yang diperlukan untuk mengekstrak minyak dari buah meryl sudah ada di sana.

“Carian dan minyak dari buah ini akan terserap ke meja ini karena terbuat dari kayu, jadi tidak bisa kau palu tanpa alas. Kamu perlu taruh dudukan logam dulu. Lalu beri alas kain. Balut buahnya pakai kain tadi. Jika tidak begitu, maka minyaknya akan berserakan kemana-mana. Karena hampir keseluruhan buah meryl bisa kita makan, biasanya kita ekstrak minyaknya dari biji dalamnya setelah kita makan. Akan aku beritahu cara ekstrak minyaknya setelah kita keluarkan bijinya.”
“Aku tahu alasan cukup bijinya saja yang kita ambil untuk ekstrak minyaknya, tapi aku masih tidak tahu perlu sebanyak apa minyak buah ini. Aku tidak bisa menunggu lama. Jadi aku akan ambil minyak dari daging buah merylnya juga.”

Setelah aku nyatakan itu, aku balut buah meryl dengan kain sesuai instruksi yang diberikan dan mulai memalunya pakai palu, posisi buahnya sudah di atas dudukan logam tadi. Palu ini cukup berat mengangkatnya saja sudah penuh dengan usaha, tapi setelah berulang kali aku usaha keras akhirnya aku merasa buah itu remuk. Wow... aku ini hebat sekali, bukan?

“Jadi begini caranya ya? Eheheh.”

Aku perah kain tadi untuk mengekstrak minyaknya, aku putarkan dengan penuh usaha. Terlihat bagian kain mulai menggelap. Tapi hanya itu saja. Ada satu tetesan minyak yang jatuh, tapi sudah cukup terlihat jelas bahwa tidak ada kemungkinan aku bisa ekstrak minyak yang cukup untuk aku gunakan.

“Myne, itu masih kurang. Kamu masih sering meleset, kurang kuat juga pukulanmu, dan cara memalumu juga salah. Daging buahnya memang remuk tapi bijinya tidak remuk sama sekali.”
“Awww.... Tuuuuuuli....”

Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi rupanya masih kurang....
Aku menghadap ke Tuuli untuk meminta bantuan darinya, dan dia ambil palu dariku setelah dia menghela nafas karena jengkel.

Dia kuatkan kepalan tangannya di palu dan dia angkat tinggi. Dreg! Dreg! Terdengar suara setiap kali dia ayunkan palu itu, buah dan bijinya lebih cepat remuk dan lebih merata dibanding aku tadi.

“Ayah bisa pakai alat perah untuk mengekstrak minyak ini tanpa palu, tapi alat itu perlu tenaga yang besar jadi kita tidak bisa pakai, jadi kita hanya bisa memalunya berulang kali pakai palu.”

Rupanya, anak lelaki yang beranjak dewasa dapat dipercaya untuk menjalankan tugas lelaki dewasa begitu mereka bisa memakai alat perah itu.

“Begitu bijinya hancur berkeping-keping, kamu cukup perah kainnya seperti ini, maka nanti....”

Tadi saat aku coba perah kainnya hanya menggelap saja, tapi saat Tuuli yang memerahnya, mulai bercucuran minyak buah itu ke dalam mangkuk kecil yang sudah disiapkan di bawahnya. Melihat ini, rasa respek aku pada Tuuli meningkat tiga kali lipat begitu minyak semakin memenuhi mangkuk tadi.

“Woooooow! Tuuli, kamu hebat sekali! Makasih!”
“Ingat untuk selalu dibersihkan alat-alatnya begitu selesai kamu gunakan, Myne. Ayo, dibersihkan.”

Tapi... aku masih tidak mengerti maksud dari dibersihkan darimu. 

Melihat aku yang kebingungan, Tuuli sedikit putar kepala dan mulai memperlihatkan caranya bagaimana padaku.

Dia memang senang sekali mengurusi orang, pikirku sambil menempatkan alat-alat tadi pada tempatnya. Begitu aku selesai membereskan alat tadi, aku melirik ke dalam mangkuk yang di dalamnya terdapat cairan kental, minyak berwarna cerah dan menghirupnya perlahan-lahan. Semakin kuat aromanya, maka samponya akan semakin bagus.

“Hei, Tuuli. Boleh aku minta tanaman herbal juga? Aku mau yang sekiranya paling harum.”
“Cuma sedikit, oke?”
“Iya!”

Dengan izin dari Tuuli, aku meraih sejumlah tanaman herbal dari dalam keranjangnya dan mencium aromanya satu per satu, aku ambil yang harum dan menghancurkannya pakai jari lalu aku jatuhkan ke dalam mangkuk. Jika aroma dari tanaman ini bisa menyebar ke minyak ini, maka samponya akan punya aroma yang harum.

Begitu aromanya mulai melekat, tambahkan sedikit garam....

Aku sedang memikirkan cara agar samponya berhasil lalu aku menyadari Tuuli tiba-tiba mengambil mangkuk isi mintak tadi dan mulai berjalan ke tempat biasa Ibu memasak makan.

“Tuuli! Tunggu, jangan! Mau kamu apa kan itu?!”

Aku segera mengambil alih mangkuk jauh darinya dan berjongkok, aku pegang dekat perut agar aman dari jangkauan dia.

Tuuli melihat tindakanku dan menempatkan kedua lengannya di pinggang. Jelas sekali dia marah.

“Nanti rasanya bakal tidak enak bukan? Jika tidak segera kita makan? Minyaknya juga akan berasa aneh jika aroma dari tanaman herbal ini semakin mengikat.”
“Kamu tidak boleh makan ini!”

Aku akan jadikan itu sampo, tak akan aku biarkan ada yang makan itu!

Alasan apa pun yang Tuuli lontarkan, aku tidak akan menyerahkan itu demi membuat sampo. Aku sudah menderita cukup lama karena rambut kotor ini.

“Myne! Tuuli yang ambil semua itu dari hutan! Jangan egois!”

Ibu ikut marah mendukung Tuuli, tapi aku sudah dapat izin hak milik dua buah meryl dan tanaman herbal itu darinya, jadi sudah jadi milikku sekarang. Dia sudah tidak punya hak miliknya lagi.

“Tidak, aku tidak egois! Aku sudah diberi itu semua darinya!”

Aku geleng-gelengkan kepala dan mempersiapkan diri melindungi minyak itu sampai aku mati. Kepalaku begitu gatal sampai aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sampo ada tepat di depan mataku. Tak akan ada satu orang pun yang aku biarkan menggangguku.

Sepertinya perasaan pantang menyerahku dirasakan oleh mereka, keduanya menghela nafas karena jengkel dan berpaling dariku karena tahu ucapan mereka tidak akan aku dengar. Aku menghirup nafas dengan dalam karena senang bisa melindungi minyak ini yang kemudian aku tambahkan garam. Dengan ini telah selesai dibuat alternatif samponya, yang sebelumnya pernah aku buat bersama ibu lamaku yang terpengaruh oleh adiksi dari “hidup alami”. 

“Ibu, boleh aku minta air hangat?”

Aku bentangkan kain tahan air yang biasa aku gunakan untuk mandi, dan aku taruh itu di atas mangkuk isi minyak tadi sebelum aku bawa ember kosong ke Ibu. Aku sudah sering meminta air hangat darinya disetiap hari dia sedang memasak makan malam, jadi dia mengerti dan mengisi ember tadi dengan air hangat, yang nantinya aku masukkan kain tahan air ke dalamnya.

Aku rentangkan tangan, siap untuk keramas, tapi aku berhenti di gerakan pertama. Aku tidak punya cukup air untuk membilas rambutku yang sudah diberi sampo, karena hanya ada satu ember air saja. Bagaimana caranya aku mengakali ini?

“Mmm, mungkin aku coba campur saja dulu.”

Pilihan satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mencampur sampo dan air ini, lalu membiarkan air sampo ini mengalir di rambut perlahan-lahan, mungkin akan ada yang tersisa di rambut tapi itu bukan masalah. Aku masukan semua sampo yang aku buat tadi ke dalam ember dan mengoceknya.

“Myne?! Kamu lagi mau apa?!”
“Er? Mau keramas rambut?”

Tuuli terlihat sangat bingung. Tapi melihat dari situasi yang mana belum pernah sekalipun aku datang ke dunia ini aku melihat mereka menggunakan sampo, aku bisa berasumsi bahwa keramas rambut pakai sampo bukanlah hal yang lazim di dunia ini, dan oleh sebab itu dia tidak akan mengerti penjelasan yang aku lontarkan. Jadi, aku cukup tunjukkan apa yang aku lakukan. Agar dia percaya.

Aku tarik tusuk rambutku, merendam rambutku ke dalam ember, dan mulai keramas. Aku gosok-gosok rambutku dengan air dan berulang kali aku alirkan air ke ubun-ubun agar semua kotoran yang ada di rambut atas sana lepas.

Lalu, aku mulai remas-remas kepalaku. Tenaga tanganku kecil dan juga cukup pendek, membuatku agak kesulitan. Tapi meski begitu, aku terus ulangi proses itu sampai aku puas dan saat itu terpenuhi aku perah rambutku dan mengeringkan kepalaku dengan kain tipis yang sebenarnya punya nama handuk.

Setelah aku coba keringkan berulang kali agar air sampo yang tersisa tidak begitu banyak, aku sisiri rambutku. Rambutku hampir sepenuhnya hitam karena kotor, tapi sekarang terlihat kembali ke warna semuanya biru tua.

Wow, hasilnya lumayan dan bagus juga. Aku raba-raba rambutku dan aku cium aromanya. Aku mencium aroma mendekati melati. Hidup yang aku jalani akhir-akhir ini dipenuhi dengan bau badan karena keringat dan debu tanah. Hal sepele seperti mencium bau lain selain bau badanku membuat aku sedikit senang. Target terpenuhi.

“Apa? Huh? Myne, rambutmu indah sekali dan kini warnanya jadi biru tua. Seperti langit malam. Dua matamu seperti bulan!”

Hm.... tebakan warna mataku dari ucapannya adalah emas atau kuning, baiklah. Kini aku tahu apa warna mataku, aku melihat mata biru Tuuli dan berpikir sejenak soal betapa terbuang sia-sianya genetika luar biasa yang dia miliki.

“Myne, ini itu apa?”
“Mmm, ini itu (kejamas serbaguna sederhana). Kamu tertarik coba ini? Ini masih cukup untuk kita berdua.”
<TLN: https://kbbi.web.id/kejamas>

 Aku menyadari aura penasaran dari Tuuli dan coba aku bujuk dia untuk mendekati ember ini. Kami tidur di kasur yang sama dan akan lebih baik lagi jika kami berdua sama-sama bersih. Selain itu, wajah cantiknya terbuang sekarang karena debu tanah. Aku ingin Tuuli tampil bersih dan ini mungkin bisa jadi alasan besar dia untuk membuatkan kami sampo di waktu kedepan.

“Kamu adalah orang yang telah mengumpulkan buah meryl dan tanaman herbal untuk ini, Tuuli, jangan khawatir. Kamu juga yang memerah semua minyak ini untukku.”

Tuuli memberiku senyum cerah atas keinginan mendesakku dan mulai membuka ikat kepang rambutnya. Dia pasti memperhatikan aku dari awal, karena dia langsung merendam rambutnya ke dalam air ember dan mulai keramas seperti yang aku lakukan tadi.

... Aaah, masih ada bagian yang belum bersih. Aku memasukkan tangan ke ember untuk mengambil sedikit air hangat dan aku siram ke bagian kepala Tuuli yang sulit dia bersihkan sendiri. Ayo, bersihlah, bersihlah, jadilah rambut yang bersih sekali.

“Tuuli, aku rasa rambutmu sudah cukup bersih.”

Aku berikan kain tipis padanya dan seperti yang aku lakukan tadi, dia keringkan rambutnya lalu menyisirinya berulang kali. Rambut hijaunya jadi sangat halus. Kini rambutnya terurai ke bawah dalam keadaan bergelombang yang secara alami terbentuk, dan cahaya yang masuk mengitari rambut bagian atasnya membuat dia seperti malaikat. Sederhananya, kecantikan dan keimutan yang dimiliki dia bertambah berkali-kali lipat.

“Wow, kini rambutmu indah sekali. Lalu harum sekali.”

Mhm. Gadis imut layak tampil bagus dan bersih.

Tuuli terus menyisiri rambutnya sedangkan aku mengangguk puas. Kami tidak punya cukup sampo untuknya berkeramas setiap hari, tapi mungkin sudah menjadi tugasku untuk membersihkan rambut dia selama beberapa hari kedepan agar tetap bersih.

Aku mulai membereskan semua ini karena kami berdua sudah selesai, tapi Ibu menyela tindakanku, dan berkata “Tunggu, jangan dulu” lalu dia mulai membersihkan rambutnya dengan itu.

Kalau begini, aku rasa baik Ibu atau Tuuli tidak akan keberatan jika aku mengambil buah meryl lagi untuk membuat sampo. Tujuanku adalah menjaga kebersihan keluargaku.

Tidurku nyenyak, karena rasa gatal di rambutku menghilang.

Sejak aku datang ke dunia ini, hal pertama yang aku lihat di setiap harinya di saat aku bangun tidur adalah jaring laba-laba. Telah aku bersihkan diriku, hal selanjutnya yang ingin aku lakukan adalah membersihkan lingkungan aku hidup. Tapi meski semangat yang aku miliki untuk membersihkan kamarku ini besar, tapi itu adalah hal yang terlalu berat bagiku. Hal terbaik yang bisa aku lakukan dengan tubuh kecil dan lemah punyaku adalah membersihkan kasur tempat aku tidur.

Kebetulan Ayah mengambil cuti hari ini, jadi aku minta bantuan agar dia jemur selimutku di dekat jendela.

“Ayah, setelah selimutnya dijemur, bisa bersihkan jarang laba-laba yang ada di sana?”
“Jaring laba-laba? Memangnya ada apa...?”

Dia cukup terbiasa hidup berdampingan dengan jaring laba-laba jadi dia tidak sadar bahwa itu adalah hal yang kotor.

Setelah aku berpikir keras sejenak, aku pegang erat sedikit celana Ayah.

“A-aku takut.”

Aku tidak berbohong. Jika ada waktunya aku bangun dan ada laba-laba yang melayang tepat di depan wajahku, aku pastinya akan teriak keras sampai orang yang dengar aku seperti mendengar suara teriak dari miniatur Vast Glub. Memikirkan itu terjadi saja sudah membuat diriku takut. Akan lebih lagi, jika ancaman dari jaring laba-laba itu segera hilang.

“Kamu takut sama laba-laba, Myne? Baiklah kalau begitu. Biar Ayah urus itu.”
“Yaaay! Makasih, Ayah. Aku akan lebih senang lagi jika Ayah mau membersihkan sekitar jaring laba-labanya juga.”
“Iya, iya. Intinya kamu itu ingin semua laba-laba yang mengganggu itu pergi semua? Iya, serahkan saja pada ayah.”

Ok, langit-langit berhasil dibersihkan. Ayah menyapu dari langit-langit sampai ke bawah lantai, dengan begini halangan terbesar yang tak bisa aku tangani sama sekali selesai diatasi, yang mana itu meninggalkan hal-hal kecil yang bisa aku lakukan sendiri, tapi tetap harus sedikit demi sedikit.

“Ibu, sapu ada di mana?”
“Di sebalah sana. Kenapa? Apa ada yang jatuh?”
“Aku ingin bersih-bersih kamar kita.”
“Baik. Kalau itu maumu, lakukan saja.”

Aku pegang sapunya dan mulai menyapu sekitar kamar tidur. Debu-debu berterbangan ke udara. Sebagai orang yang budaya hidupnya tidak pakai alas kaki di dalam rumah, rasanya masih cukup mengejutkan untuk melihat lantai kamar tidur yang begitu kotornya sampai debu itu sendiri tampak jelas di udara.

Aku ingin sekali hidup di kamar yang bersih, apapun usahanya. Aku bolak-balik menyapu sisi kamar tidur, aku sapu dan dorong debu yang menumpuk ke depan. Menyapu kamar bukan hal yang sulit, karena di lantai rumah kami tidak ada apa-apanya.

Ngh... Aku sungguh perlu bertambah kuat. Menyapu saja sudah membuat kepalaku pusing. Aku cukupkan dulu sapu-sapu kamar tidurnya dan mengambil waktu istirahat. Kalau terus begini, siapa tahu entah kapan waktu yang diperlukan agar aku bisa hidup di rumah yang bersih?

“Eh, Myne. Kalau misalnya kamu mau membersihkan kamar tidur, kenapa debunya kamu tinggal di dapur? Kamu sapu debunya sampai ke depan.... Myne, kamu pucat sekali.”

Ibu melirik ke kamar tidur setelah melihat gundukan debu yang sudah aku sapu sampai dapur dan dia menghelakan nafas. Dia lalu  menidurkan aku di kasur dan mengangkat selimut yang dijemur di dekat jendela untuk menyelimutiku.

“Ibu senang kamu semangat bersih-bersih, tapi sekarang kamu harus istirahat. Nanti juga kotor lagi, jadi kenapa kamu bersihkan?”

Ibu... Justru karena itu harus aku bersihkan sekarang. Aku harus cegah debunya terus menumpuk. Tapi tekadku ini tidak dapat dukungan dari tubuhku. Aku terpaksa bersih-bersih sedikit yang membuatku agak malas karena harus aku lakukan tiap hari. Aku berguling ke sisi kasur yang biasa jadi tempat aku tidur dan aku pegang rambutku yang turun ke depan wajahku.

Ya... karena sekarang rambutku sudah bersih, aku sudah bisa fokus ke cari cara mendapatkan kertas.





TLBajatsu

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 4: Buku : Tidak Bisa Didapatkan

 Volume 01

Chapter 4: Buku : Tidak Bisa Didapatkan



“Oke, setelah dari sini kita beli daging. Kita belinya tidak sedikit dan nanti harus kita garami atau asapi agar bisa awet disimpan.”
<TLN: https://www.liputan6.com/hot/read/5302529/10-cara-menyimpan-daging-tanpa-kulkas-yang-benar-bisa-awet-sampai-6-bulan?page=4>

Setelah membeli sayur-mayur dan buah-buahan, Ibu melanjutkan jalan untuk belanja ke bagian dalam pasar. Stan penjual daging rupanya cukup dekat dengan tembok bagian luar.

“Untuk apa kita beli banyak-banyak daging?”
“Kita harus persiapkan stok makan untuk musim dingin nanti, iya, kan? Sekarang sudah akhir musim gugur, jadi para peternak sudah pada memotong hampir semua bintang ternak mereka dan menyisakan sedikit bintang ternak mereka yang bisa bertahan selama musim dingin. Banyak sekali jenis-jenis daging yang dijual sekarang ini dibandingkan musim-musim lain selama satu tahun. Ditambah, biasanya bintang-bintang bertambah gendut karena mereka bersiap untuk hibernasi. Sekarang adalah waktu yang paling mudah untuk membeli daging gurih dan berlemak.”
“... Umm, berarti nanti pas musim dingin tiba, pasar ini tidak buka?”
“Itu sudah pasti bukan? Sedikit sekali tanaman pangan yang bisa tumbuh selama musim dingin. Salju yang turun juga cukup tebal, jadi jarang sekali ada pasar yang buka di musim dingin.”

Itu adalah hal yang sudah pasti, dan aku tidak terpikirkan akan hal itu terjadi. Bahkan di Jepang juga, sebelum masanya green house dikenal banyak orang, buah-buahan dan sayur-mayur yang dijual di toko bersifat musiman jadi kalau musimnya sudah lewat maka harus menunggu musim itu datang agar ada di pasar lagi. Di zaman sebelum pendingin atau lemari es dapat mempertahankan tingkat kesegaran bahan pangan, masyarakat harus memasak makanan yang tahan lama di rumah mereka masing-masing. Jadi di dunia ini, memang sudah seharusnya beli dan mengawetkan bahan pangan.

Jujur saja, aku merasa tidak sama sekali bisa membantu banyak dalam kebutuhan pokok itu. Aku bersyukur sekali direinkarnasikan sebagai anak gadis yang tidak akan menerima omelan jika tidak membantu keperluan keluarga.

“... Ba-bau.”

Aroma udara semakin memburuk begitu kami mendekati stan yang jadi tempat berjualan pedagang daging. Aku harus sedikit tahan lubang hidungku karena aroma bau ini, tapi Ibu terus melanjutkan jalan tanpa memperhatikan aroma bau pasar. Aku sedikit tidak percaya ini. Aroma bau ini sangat berlebihan sampai lubang hidungku tertutup sepenuhnya; aku coba sedikit nafas lewat mulut tapi bau ini masih tetap menusuk dan sampai membuat mata aku basah, sedangkan Ibu tidak sama sekali terganggu dengan semua itu.

Apa iya daging beraroma seperti ini? Ngggh, aku punya perasaan buruk sekarang.

Kami sampai di stan-stan penjual daging. Irisan daging becon dan paha daging babi digantung di sana sini, lalu ada bintang yang aku kenali digantung sepenuhnya setelah dikuliti kulitnya. Stan yang punya gantungan dipenuhi dengan bintang-bintang mati, mereka digantung agar darah mereka kering, dan dibawahnya ada banyak kelinci dan unggas-unggas dengan mata terbuka lebar.

“HIGGYAAAAAAH!”

Aku mungkin pernah lihat gambar bintang yang sudah dikuliti, tapi hampir semua yang aku lihat di dunia nyata selalu sudah siap olah, sudah dipotong-potong dan terbungkus. Stan penjual daging yang ada dunia ini cukup mengejutkan diriku. Rasa merinding menyebar ke kulitku dan air mata mulai jatuh dari mataku. Aku coba tutup mata untuk menghalangi pemandangan ini, tapi mata aku tetap terbuka, seperti lupa cara menutupnya saat berkedip.

“Myne?! Myne!”

Ibu sedikit terkejut karena aku dan menepak sedikit pantatku. Tapi tak lama kemudian, aku melihat babi bersuara takut karena dia melihat tukang daging yang siap menyembelihnya. Banyak orang mulai sedikit terganggu dan menunggu akhir dari babi itu yang bersuara keras.

“Ah!”

Aku sedikit teriak kecil, dan tepat dihadapan babi yang baru saja kehilangan nyawanya, aku tak sadarkan diri dalam gendongan Ibu.


Aku merasa ada sesuatu yang mengalir kedalam mulutku. Yang mengalir itu punya aroma kuat alkohol, rasanya aku ingin muntah. Aku tidak mau meminum itu, dan tanpa disadari cairan itu masuk ke saluran pernafasanku. Aku batuk keras, aku bangun duduk dan berkedip berkali-kali dengan cepat.

“Uhuk! Ngggh! Uhuk, uhuk!”

Um, apa yang tadi itu alkohol!? Orang tega macam apa yang memberi alkohol kuat seperti itu pada anak gadis polos! Apa yang akan dia lakukan jika aku mengalami keracunan alkohol?! Aku buka mataku dengan lebar dan melihat Ibu, dia sedang memegang botol yang mungkin isinya wine.

“Myne, kamu bangun? Syukurlah. Stimulan dari botol ini bekerja.”
“Uhuk! Ibu...?”

Dia memegangiku dengan wajah yang sangat lega, karena dia sangat memperhatikanku aku jadi tidak bisa mengeluhkan ini terang-terangan, tapi biarkanlah aku untuk mengoceh hal ini dalam hati.

Mau itu stimulan atau bukan, apa yang membuatmu memberi anak kecil alkohol sekuat itu?! Selain itu, anak kecil, seorang gadis yang selalu sakit dan baru saja sembuh hampir saja terbunuh karenamu!

“Oke, Myne. Karena kamu sudah bangun, yuk belanja lagi daging.”
“Bwuh?!”

Secara naluri aku geleng-gelengkan kepala. Apa yang baru saja aku lihat tadi itu sudah berbekas di penglihatanku. Tadi itu sangat tidak mengenakan sampai-sampai aku merasa akan bermimpi buruk karena itu, memikirkannya saja sudah membuatku merasa merinding. Aku tidak mau kesana lagi selamanya.

“...Ummm, aku masih merasa mual. Boleh aku tunggu disini? Ibu pergi saja belanja.”
“Eh? Tapi....” Ibu mengerutkan alisnya.

Aku melihat sekitar untuk cari bantuan dan memutuskan berjalan menuju stan di belakang yang dijaga oleh wanita berumur. Aku perlu tempat untuk menunggu Ibu sebelum dia mengajak paksa aku.

“Um, permisi, bolehkah saya menunggu sebentar di stan punya Bu? Saya akan diam dan menunggu saja, tidak akan mengganggu stan Anda.”
“Kamu gadis kecil yang sopan sekali. Boleh saja, tadi ibumu beli satu botol alkohol itu dariku. Nah Bu, cepat selesaikan belanjamu. Pastinya kau tidak mau anakmu yang sedang sakit pingsan lagi, bukan?”

Wanita penjual alkohol, yang rupanya menjualkan stimulan tadi pada ibu, terkekeh pada dirinya sendiri dan pemintaan yang aku ajukan tadi dia terima dengan tangan terbuka.

Pria paruh baya yang terlihat menjalankan usaha jual alat-alat produksi, dia juga bersimpati dan mendekat untuk menawarkan bantuan padaku.

“Kau bisa tunggu di stanku, jika di dalam tokoku. Tidak ada yang akan datang menculikmu.”

Aku memasuki tokonya dan duduk diam tanpa rasa ragu. Efek dari alkohol kuat tadi masih terasa dan membuat tubuhku agak aneh. Akan membahayakan jika aku berjalan-jalan dalam keadaan ini.

“Ibu akan segera kembali. Myne, jangan kemana-mana ya?”

Ibu pergi menjauh dan segera menyelesaikan belanjanya, aku duduk di bawah dan leha-leha sambil memperhatikan dua toko yang sedang menjual dagangan mereka. Jadi ternyata ini adalah musim dimana toko penjual wanita tua itu dapat stok buah baru untuk membuat wine, jadi banyak pembeli yang keluar masuk membeli tong kecil wine darinya.

Dilain sisi, tidak banyak orang yang mengunjungi toko alat-alat ini. Hmm... Aku penasaran alat macam apa yang dipakai produksi oleh orang-orang dunia ini? Aku perhatikan satu per satu dari meja toko yang ada di sekitarku dan aku tidak dapat memahami kegunaan dari alat-alat yang dijual di toko ini, itu lebih dari setengahnya.

Aku menunjuk alat yang ada di depanku dan bertanya kepada pria penjaga toko soal salah satu alat di meja dagang.

“Pak, benda apa iniii?”
“Kau belum pernah pakai itu? Itu adalah alat yang kegunaannya untuk menenun kain. Terus itu ada jebakan untuk berburu.”

Pria itu terlihat sedikit bosan karena sedikit pengunjung pasar yang datang ke tokonya, karena dia menjelaskan cara pakai alat yang ada di tokonya padaku begitu aku tanyakan.

Hampir semua hal yang dianggap normal dalam kehidupan di sini merupakan hal yang tidak aku ketahui. Aku sudah coba cari soal ini dari ingatan Myne, tapi aku tidak menemukan hal yang serupa dengan ini dari ingatannya, mungkin in terjadi karena dia kurang tertarik.

Aku memperhatikan semua alat yang ada di meja dagangnya, mengeluarkan suara kagum karena kegunaan alat-alat itu, dan hingga akhirnya aku melihat pada meja depan toko, dimana aku menemukan kumpulan kertas yang disatukan, itu seperti buku.

Sampulnya bagus sekali, ada lempengan emas yang dipasang di setiap sisi buku. Tingginya sekitar empat puluh centimeter dan terlihat sama seperti buku yang pernah aku lihat di dalam lemari kaca di perpustakaan yang dulu aku kunjungi.

Buku? Um, tunggu, bukankah itu buku? Saat-saat aku menyadari kumpulan kertas itu adalah buku, aku merasa dunia sekitarku jadi berwarna merah jambu. Hatiku penuh dengan cahaya dan aku rasa awan hitam yang mengelilingiku hari-hari sebelumnya telah pergi sepenuhnya dari sisiku.

“Pa-PAK! Itu apa? Benda apa itu?”
“Oh, ini buku.”

... YES! Akhirnya ketemu satu! Satu buku! Ya, hanya satu, tapi ada!  Dalam masa-masa penuh keputusasaanku terhadap fakta ada atau tidak adanya buku di dunia ini, aku akhirnya lihat ada buku di sini. Aku melihat sampul buku itu penuh dengan gemetar dalam hati.

Buku itu cukup besar dan berat dengan dekorasi mewah. Aku tidak akan bisa membawa buku itu dengan tanganku yang lemah. Lalu, itu terlihat sangat mahal, dan aku yakin bahwa ibu tidak akan beli buku itu mau sememohon apapun aku padanya. Tapi jika ada buku di dunia ini, itu berarti ada buku yang lebih kecil dari itu, ada buku yang mudah dibawa kemana-mana.

Aku mengalihkan perhatian dan bertanya pada pria itu dengan penuh usaha.

“Pak, tahu dimana tempat beli buku?”
“Huh, maksudmu tokonya? Tidak ada toko yang berjualan buku.” Pria itu melihatku, merasa aneh dengan pertanyaanku. Semangat yang aku miliki tadi langsung menurun.
“... Um, kenapa bisa ada buku, tapi tidak ada yang jualan buku?”
“Karena untuk satu buku baru, perlu disalin dulu per halamannya. Jadi harganya itu sangat mahal, tidak ada satu penjual pun yang mampu menjual buku. Buku yang kau lihat itu adalah agunan dari bangsawan yang belum bisa melunasi hutangnya, jadi ini bukan barang jualan. Semakin kesini, aku mulai merasa dia tidak akan melunasi hutang itu tepat waktu, jadi ya dalam waktu dekat akan aku jual ini, tapi kembali lagi, hanya bangsawan saja yang tertarik pada barang seperti ini.”

Iiih, dasar bangsawan! Ini berarti aku bisa saja membaca buku jika terlahir sebagai bangsawan, benar begitu? Lantas mengapa dirimu jadikan hamba ini rakyat, wahai dewa dewi? Aku merasa punya niat membunuh pada para bangsawan. Nikmat yang mereka dapatkan itu tidaklah adil, karena bisa hidup berdampingan dengan banyak buku dari lahir.

“Apa ini pertama kalinya kau melihat buku, gadis kecil?”

Aku mengangguk dan mengulanginya lagi tanpa menoleh sedikit pun dari buku itu. Ini adalah pengalaman pertama aku melihat buku asli dunia ini, itu sebanya. Dan karena hanya para bangsawan yang punya buku, ditambah lagi dengan minimnya toko buku, ini mungkin jadi kesempatan terakhir aku melihat buku. Yang artinya!

“Pa-Pak! Saya punya permintaan!”

Aku mengepalkan kedua telapak tanganku erat-erat dan setelah berdiri tegak di hadapannya, aku langsung berlutut sampai bawah.

“Hrm? Kau sedang apa?”

Pria itu membuka matanya dengan lebar karena terkejut karena tindakanku yang tiba-tiba berlutut seperti itu di hadapannya. Apa yang aku lakukan adalah sebuah tindakan paling standar untuk menunjukkan betapa jelas dan tulusnya dirimu dalam meminta. Lalu, berlutut dan sujud adalah bentuk paling akhir dari seseorang yang menunjukkan ketulusannya. Dalam keadaan kepala di atas tanah, aku memberitahu niat terdalamku padanya.

“Saya tahu saya tidak bisa membeli buku itu, tapi kumohon, beri saya izin untuk menyentuhnya. Saya ingin sun pipi berulang kali buku itu. Ingin saya hirup aromanya dan mencium bau tintanya, hanya sekarang saja waktu yang saya miliki sebelum saya pergi!”

Aku sudah memberitahu permintaanku dengan penuh semangat, tapi balasan yang aku dapat hanyalah keheningan. Dia tidak balas satu kata pun padaku.

Aku perlahan menaikkan kepala ke atas dan melihat dia, yang tak aku ketahui kenapa malah berekspresi terkejut dan jijik, pria itu seperti melihat orang aneh seaneh-anehnya dari dekat. Um...? Aku merasa ketulusan yang aku berikan ini tidak tersampaikan padanya.

“A-aku tidak tahu kenapa kau jadi begitu.... tapi rasanya bukan hal yang baik jika aku biarkan kau sentuh buku itu.”
“Ba-bagaimana mungkin!”

Aku coba sekali lagi meminta padanya, tapi sebelum itu terjadi, aku kehabisan waktu.

“Myne, Ibu sudah selesai. Ayo pulang.”

Aku menahan tangisanku begitu mendengar suara Ibu. Di sana ada sebuah buku yang jaraknya cukup dekat tapi belum aku baca. Belum aku sentuh. Aku juga belum mencium aroma tinta buku itu.

“Kamu kenapa? Apa pria itu berbuat sesuatu padamu, Myne?!”
“Ti-tidak, dia orang baik kok!”

Aku secepat mungkin menggeleng-gelengkan kepala begitu melihat Ibu melirik tajam pria itu. Jika tidak segera aku jelaskan kesalahpahaman ini, maka aku akan memberi masalah pada orang baik yang menyelamatkanku dari adegan eksekusi penjual daging, dia ini sudah memberiku tempat untuk menunggu dan memberi info soal buku.

“Kepalaku rasanya aneh. Tadi Ibu meminumkan aku air apa? Aku merasa pusing pas bangun tadi.”
“... Aaah, mungkin stimulan tadi terlalu banyak buatmu. Nanti rasa pusingnya akan hilang setelah kamu minum air dan istirahat yang cukup begitu kita sampai rumah.”

Ibu mengangguk begitu untuk meyakinkan aku, tidak ada rasa salah dari tindakan dia meminumkan alkohol pada anaknya yang masih kecil. Dia menggapai tanganku dan menariknya sedikit, agar aku tahu sudah waktunya pulang.
Aku mengitari dua pemilik toko tadi dan memberi senyum cerah.

“Terima kasih sudah mengizinkan saya menunggu di tempat bapak dan ibu.”

Akan buruk bagi mentalku jika tidak memberi ucapan terima kasih pada mereka. Dari yang aku ketahui di ingatan Myne, menunduk dan berterima kasih bukan hal yang biasa di dunia ini, jadi aku hanya memberi senyum dan lambaian tangan pada mereka. Satu senyuman cukup penting dalam menjalin hubungan yang baik antar manusia. Mereka berdua membalas juga dengan senyuman, jadi aku rasa maksudku tersampaikan.

“Myne, kamu masih merasa pusing?”
“.... Mhmm.”

Kami mengobrol sedikit dalam perjalanan pulang, aku kembali digendong oleh Ibu. Aku melihat kesana-kemari lagi, tapi tidak aku temukan adanya toko buku. Aku punya pemikiran dapat meminta buku bergambar untuk anak-anak agar bisa belajar huruf dunia ini, tapi di akhir hari ini aku tidak mendapat apa-apa.

Aku sekarang tahu tidak ada toko buku. Saat ini aku tinggal di kota yang punya istana dan gerbang batu serta benteng megah, namun tidak ada satu toko buku di dalamnya. Pria tadi bilang buku bukan hal yang layak untuk diperjualbelikan, jadi ada kemungkinan kota ini bukan tempat spesial. Mungkin tidak ada toko buku di dunia ini.

Ini kejam sekali. Aku sangat mencintai buku sampai aku rela tidak makan karena sedang membaca buku, dan sekarang aku diminta hidup di dunia tanpa buku, oleh dewa dewi? Cobaan ini keterlaluan sekali. Meski aku beritahu kepada orang tuaku bahwa aku ingin jadi bangsawan agar aku bisa membaca banyak buku, mereka malah perlakukan aku seperti anak kecil yang punya mimpi besar.

Aku tidak bisa bilang pada mereka bahwa aku tidak mau lahir di keluarga seperti ini. Tapi pada batasan sedikitnya, aku berharap dilahirkan di keluarga yang punya kekayaan yang cukup agar bisa mendapatkan barang-barang dari bangsawan jatuh dan mungkin saja aku bisa dapat buku dari sana. Keadaan keluargaku saat ini sudah sangat buruk sampai aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk melawan. Aku tahu aku tetap tidak akan dapat buku mau sebesar dan berisiknya aku menangis atau marah besar pada mereka. Tanpa adanya toko buku, aku tidak punya cara untuk dapat buku.

... Lalu, apa yang harus aku lakukan jika tidak bisa dapat buku? Ya, pilihan apa lagi yang aku punya selain membuatnya sendiri? Begitu jalan yang dilalui penuh dengan duri, maka dengan duri itu harus tetap terus berjalan. Aku akan dapatkan buku bagaimana pun caranya! Tak akan aku biarkan kehidupan ini mengalahkanku!





TLBajatsu