Jumat, 24 Mei 2024

Honzuki no Gekokujō - Putri Seorang Prajurit Light Novel Bahasa Indonesia Volume 01 - Chapter 13: Membantu Otto

 Volume 01

Chapter 13: Membantu Otto



Kegiatan pagi hari yang cerah bagi orang kota ini selama musim dingin adalah memanen buah parue. Ayah menemani Tuuli  pergi bersama karena sebelumnya Ayah sedang libur, tapi kali ini dia ada jadwal kerja.

Aku kira kali ini kami memang harus menyerah memanen buah itu, tapi pikiranku berubah begitu melihat Ibu mengambil mantelnya.

“Ibu akan menemani Tuuli hari ini.”

Ada banyak sekali cara mengolah buah parue dan keluarga kami ingin sekali memanen buah parue sebanyak mungkin. Karena aku ini memang tidak berguna dalam hal urusan dunia luar, aku ingin memberi dorongan pada mereka secara emosional.

Semoga berhasil, Tuuli! Kamu pasti bisa! Ibu juga, aku percaya Ibu pasti bisa!

Ada masalah yang harus ditangani dengan perginya Ibu menemani Tuuli ke hutan, hal itu adalah aku, aku harus bagaimana selama mereka pergi. Aku tidak berdaya, mudah sakit, dan mudahnya aku ini beban hidup. Mereka pastinya tidak akan membawaku ke hutan karena sudah tahu pasti aku akan berakhir kena demam begitu pulang. Tapi mereka juga tidak bisa meninggalkanku sendirian, mereka juga tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika ditinggal sendiri di rumah. Aku kurang suka mendengar pendapat itu dari mereka, tapi jujur saja, mereka tidaklah salah soal itu.

Ayah, tenggelam dalam pemikiran untuk mencari solusi selagi dia bersiap untuk kerja, kemudian dia bertepuk tangan.

“... Oh benar juga! Myne, bagaimana kalau kamu menunggu saja di gerbang bersamaku?”

Ayah akan membawaku ke gerbang. Ibu dan Tuuli akan pergi ke hutan untuk memanen buah parue. Saat waktunya pulang, mereka berdua akan menjemputku di gerbang dan kami akan pulang ke rumah bersama. Kami bisa mendapat buah parue dan aku tidak akan ditinggal di rumah sendirian. Solusi bagi kami semua.

“Iya, ide yang bagus. Oke, Tuuli. Biar Gunther saja yang mengurusi Myne.”
“Iya! Sampai nanti, Myne.”

Ibu, memberi pujian atas ide Ayah, lalu dia segera mempersiapkan segala kebutuhannya di luar sana dan pergi dengan Tuuli ke hutan. Supaya bisa memanen buah parue, mereka harus bergegas pergi karena hanya ada waktu sebelum siang datang.

“Oke, sudah siap untuk pergi? Gerbang menunggu kita.”

Yaaa.... ini akan menjadi perubahan yang bagus, dari yang biasanya aku di rumah. Dan Otto bisa mengajariku huruf baru itu pun jika dia ada di gerbang.....

Sebenarnya, aku sudah bosan menghabiskan waktu seharian di rumah. Aku telah gagal membuat kertas papyrus, kegiatan yang bisa aku lakukan di rumah hanya menulis di papan atau membuat keranjang. Tidak pernah dalam hidupku akan ada waktu luang yang banyak ini. Buku saja yang bisa menemani dan penyelamatku dari kebosanan.

Tanpa disadari, lagu “Haru yo, Koi” (Musim Semi, datanglah) telah tersetel berulang kali dalam kepalaku. Semakin cepat musim semi datang, semakin cepat aku bisa pergi keluar dan membuat tablet tanah liat. Untuk hal itu terwujud, aku berlatih setiap pagi untuk membangun stamina yang cukup agar aku bisa bertahan lama di luar sana.

Keluargaku melirik aneh padaku, aku pribadi tahu kalau misalnya ingin punya tubuh yang fit dan bugar itu perlu penuh tekad, yang harus dilakukan secara sedikit-sedikit dan dari hari ke hari. Namun perlu kalian ketahui, hidupku selama jadi Urano tidak berlangsung secara sehat, latihan fisik biasa saja tidak aku ketahui. Yang aku lakukan hanya sebatas peregangan saja.

“Ayah, apa Otto ada di gerbang?”
“Iya, aku rasa dia ada jadwal.”
“Yes! Aku mau bawa papan kapurku.”

Kalau begitu, menunggu di gerbang nanti akan menyenangkan.

Aku segera mempersiapkan diri, yang pasti penting adalah papan kapur.

Setelah memakai banyak kain lapis yang ditumpuk lagi dengan mantel, aku ambil tote bag dari kayu yang aku buat selama musim dingin lalu aku memasukkan papan kapurku ke dalam sana, dan juga kapurnya. Persiapanku selesai.

“Ayo pergi, Ayah!”
“... Myne, sesuka itu kamu pada Otto?”
“Uh iyah, aku suka sekali padanya.”

Ya karena apalagi, dia adalah guruku (itulah yang aku putuskan tanpa mengutarakannya), dan dia yang memberiku papan kapur ini. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?

Kami meninggalkan rumah dan cukup waktu satu setengah detik aku langsung tersadar dengan udara luar yang dingin ini. Hanya sedikit hembusan angin sudah membuat kulit mengerut dan ada rasa sedikit sakit. Raut wajahku juga ikut mengerut dan membuat aku, yang mana seorang ratu kemalasan, langsung melahirkan ide untuk mengolah minyak buah parue menjadi salep pelembap kulit.

“Bwuh! Dingin sekali!”

Aku tidak berjalan sendiri karena tumpukkan salju yang tinggi. Ada cara agar bisa berjalan melewati tumpukkan salju tinggi ini, tapi aku tidak hidup di lingkungan bersalju sebelumnya, aku tidak tahu caranya.

Hanya perlu dua langkah saja bagi kaki kecilku yang pendek ini tertahan di gunukkan salju, menyatakan aku tidak bisa berpindah dari sini. Takdirku sudah ditentukan. Masa depanku, tidak ada. Aku hanya bisa meneriakkan suara untuk mencari bantuan, berharap ada orang yang datang untuk menolongku.

“Ayah! Bagaimana caranya agar bisa berjalan melewati salju?”
“.... Sudah terjebak lagi. Pegangan yang erat supaya tidak jatuh.”

Aku merenggangkan lenganku untuk menjaga keseimbanganku, kedua kakiku terjebak di dalam salju, sedangkan Ayah berbalik dan berjalan kembali dengan ekspresi sedikit kesal di wajahnya. Dia menempatkan tote bag punyaku ke sekitar lehernya lalu dia menempatkan masing-masing tanganku ke bawah lenganku untuk mengangkatku ke atas lalu mengistirahatkanku di pundaknya.

“Woooow! Tinggi sekali. Bagus sekali.”

Pemandangan yang aku lihat bertambah tinggi lagi, lebih tinggi dari waktu Ralph menggendongku. Meski tiba-tiba dinaikkan dan aku tidak merasa takut adalah karena pundak Ayah, pundaknya itu lebar dan membidang berkat tugasnya sebagai prajurit. Aku bisa dengan tenang duduk santai tanpa merasa takut.

Waktu aku masih jadi Urano, sedikit sekali aku berinteraksi dengan ayahku, meski tidak banyak tapi aku masih ingat mengenai dirinya. Dia pernah menggendongku, itu waktu kami pergi melihat pohon sakura mekar.

“Pegangan yang kuat ya?”

Mungkin karena sudah lama sekali aku tidak digendong pundak, detak jantungku sedikit berdetak lebih cepat. Aku berpegangan ke kepala Ayah, setelah itu dia lanjut berjalan melewati salju. Gang yang terhubung ke jalan utama belum dibersihkan dari salju, jadi dia secara pelan-pelan menginjakkan kaki pada jejak kaki orang yang sebelumnya lewat hingga akhirnya kami sampai di jalan utama dan berjalan seperti biasanya.

“Myne, perlu kamu ketahui, Otto itu sudah menikah,” kata Ayah, menghancurkan suasana sepi dengan topik pembicaraan yang tidak aku duga.

Um... Jadi apa? Apa aku pernah bilang ingin menikahi Otto? Aku rasa tidak pernah aku berkata itu. Aku tidak pernah bilang juga ingin menikahi seseorang.

“Ummmm... Lalu?”
“Dia hanya memikirkan istrinya saja, mengerti?”

Niat apa sebenarnya yang ingin kau capai dari menghentikan anak perempuan lima tahun yang punya pemikirannya sendiri? Biarpun aku suka Otto dalam hal itu, dia pastinya tidak akan punya waktu untuk melirik anak umur lima tahun. Kamu lagi bertingkah bodoh saja, Ayah.

Bagaimana pun jadinya setelah aku tahu apa yang dipikirkan Ayah, aku tetap diam. Dia lagi jadi orang yang merepotkan dan pastinya aku tidak akan memberinya hadiah atas tingkah merajuknya itu dengan perkataan “Ayah itu lebih hebat darinya!” atau “Aku lebih menyukaimu, Ayah!”.

“Jadi, Otto itu orang yang luar biasa karena dia perlakukan istrinya dengan baik?”
“.... Bukan.”

Perkataan itu membuat Ayah lebih murung lagi sampai dia terus diam sampai kami tiba di gerbang.

Hingga akhirnya, di atas pundak Ayah yang paling sensitif di dunia, aku sampai di gerbang.

“Selamat pagi.”

Karena kebiasaan aku menundukkan kepala pada orang yang jaga gerbang. Mereka melihatku sebentar, membuatku ingat soal tidak adanya kebiasaan menundukkan kepala di dunia ini. Atau mereka hanya sedikit terkejut saja melihat aku ada di pundak Ayah.

“Ini Myne, putriku. Istriku akan datang menjemputnya nanti setelah selesai memanen buah parue. Sampai saat itu, dia akan menunggu di ruang istirahat jaga malam.”
“Baik, mengerti.”
“Sudah dengar itu, Myne? Otto harusnya ada di ruang itu. Sama-sama.”

Oof.... Rupanya Ayah agak kesal. Tunggu, jangan-jangan Ayah akan bersikap tidak baik pada Otto karena cemburu? Apa ini awal dari hancurnya hubungan erat antar manusia?

“Um, uh, aku hanya senang bisa belajar huruf dan kata-kata baru dari Otto.”
“Kenapa harus Otto?”

Aduh... Maaf, Otto. Aku sudah coba membelamu tapi rasanya yang terjadi malah membuatmu semakin dalam keadaan buruk. Aku tidak tahu kenapa Ayah sangat cemburu padanya. Aku itu hanya sudah tidak sabar belajar darinya. Saat waktu seperti ini saja aku tidak tahu banyak soal hubungan baik antar ayah dan putrinya.

“Aku masuk.”

Ayah mengetuk pelan pintu dan masuk ke dalam ruangan.

Ruang istirahat jaga malam punya perapian yang menyala dan ada lampu minyak tanah di setiap sisi, membuat ruangan ini punya pencahayaan yang lebih baik dari rumah kami. Meja ruangan ini lebih dekat dengan perapian dan Otto sedang kerja, menuliskan sesuatu pada dokumen di atas meja.

“Otto.”
“Kapten.... ada Myne juga? Ada keperluan apa?”
“Dia akan diam di sini sampai jam panen parue habis. Jaga dia baik-baik.”

Ayah menginstruksikan itu dengan jelas, langsung ke inti tugas, dan dia menurunkanku.

Tugas mengurusiku yang datang secara tiba-tiba ini membuat Otto terkejut, dan dia melihat Ayah dan dokumen yang sedang diisinya dengan wajah kesulitan.

“Huh? Er, tapi.... saya sedang sibuk membuat laporan keuangan, perumusan dana kebutuhan, dan....”
“Myne. Di sini hangat. Jangan sampai kena demam.”

Ayah pergi, mengabaikan Otto sepenuhnya.

Aku memberinya lambaian tangan dan berbalik ke arah Otto.

“Maaf atas sikapnya, Pak Otto. Ini terjadi karena, ya, papan kapur yang kamu berikan membuatku senang, dan bertemu denganmu lagi membuat aku lebih senang lagi hari ini.”
“Aku senang mendengar itu. Senang bertemu lagi, Myne, tapi eh...” Otto memberi tawa canggung dan melanjutkan kalimatnya, “Tapi tidak usah sampai minta maaf, bukan?” dengan ekspresi bingung.
“Jadi begini, aku sering sekali memuji kehebatanmu di depan Ayah, dan itu membuat dia cemburu....”
“....Aaaaah.”
“Tapi, maukah kamu mengajariku huruf baru? Selama itu, aku akan diam sampai Ibu datang menjemputku, aku juga tidak akan ganggu kerjamu.”

Aku bisa menilai dari perkamen dan wadah tinta di atas meja ini, bahwa dia itu sedang mengerjakan tugas administrasi. Aku tidak berniat untuk mengganggu kerjanya, tapi aku juga tidak berniat kehilangan kesempatan belajar huruf baru.

“Ok, boleh. Rasanya aku punya perasaan niat sebenarnya yang kamu bawa kemari adalah duduk diam dan belajar, Myne,” gumam Otto sambil mengambil papan kapurku dan menuliskan sesuatu ke dalamnya.

Sistem menulis di dunia ini seperti sistem tulis alfabet Inggris. Tidak ada huruf suku kata seperti hiragana, atau huruf logo seperti kanji. Huruf yang dituliskan punya suara dan maknanya tersendiri. Ejaan yang tepat adalah cara baca dan tulisnya.

Otto percaya sepenuhnya pada niatku untuk belajar dengan tekun karena aku sudah sering dan lama menuliskan sesuatu di atas papan kapur ini sejak aku diberi ini olehnya.

“Myne. Kita pastinya tidak mau kamu kena demam dan membuat mood kapten semakin turun lagi, jadi kemarilah, duduk di sebelah aku.”

Otto memberi senyum bermasalah dan sedikit bergeser, membuka lebih banyak ruang dekat perapian.

Aku sepenuhnya setuju dengan penilaiannya dan duduk di sebelah dia yang duduk dekat perapian tanpa memikirkan keraguan yang tidak perlu.

“Terima kasih. Belajarnya jadi lebih mudah sekarang.”

Untuk sementara waktu, ruangan ini dipenuhi dengan suara dari gesekan kapur, deru api yang menyala-nyala, dan pena tinta yang berselancar di atas perkamen. Setelah aku ingat huruf-huruf yang diajarkan, aku rasa sudah hampir ingat sepenuhnya, aku angkat kepala ke atas dan melihat Otto yang sedang memperhatikan isi dalam perkamen itu dengan serius, dia hitung angka-angka itu dengan wajah serius.

Ada alat hitung seperti sempoa yang dia pakai disebelahnya, aku tidak tahu cara pakainya hanya dari melihat dia menggunakan itu. Sebelumnya aku juga pernah pakai sempoa waktu sekolah dasar melakukan hitungan pertambahan dan pengurangan, meski begitu jika cara pakainya sama seperti orang Jepang pakai sempoa, aku masih tidak tahu cara pakai sepenuhnya.

Aku tunggu sampai dia menyelesaikan baris yang sedang dihitung sebelum aku mengajak bicara dia.

“Pak Otto, sedang mengerjakan apa?”
“Ini menghitung laporan keuangan dan melakukan perhitungan dana. Selama musim dingin ini kami diminta untuk merencanakan pendanaan tahun depan dan ini harus dikirimkan sebelum musim semi, tapi kebanyakan prajurit tidak pandai berhitung. Aku satu-satunya yang pernah mengurusi keuangan, jadi aku yang ditugasi untuk membuat laporan keuangan dan pendanaan selanjutnya.”
“Jadi kamu diberi tugas berat itu oleh mereka?”

Aku melihat isi perkamen, aku memang tidak bisa membaca kata yang tertulis disana, tapi ada tiga baris kalimat bertumpuk yang disebelahnya itu ada angka. Jika aku tebak, angka pertama untuk harga dari barang, angka kedua untuk jumlah barang yang perlu disiapkan, dan yang angka ketiga adalah jumlah harga dana yang diperlukan. Sepertinya angka pertama dan kedua itu dikalikan dan hasilnya adalah angka ketiga, jadi aku rasa sudah benar tebakan aku tadi.

Aku perhatikan isi perkamen, pada bagian yang aku rasa itu untuk permintaan alat baru, lalu aku menemukan salah hitung.

“Ini. Pak Otto, bukankah ini salah?”
“Apa?”
“Ini kan 75 dan 30, bukan? Aku yakin hasilnya jadi 2,250.”

Memang hanya bagian angka yang bisa aku baca, tapi aku tidak tahu perkalian disebut apa dalam dunia ini dan jadinya penjelasan aku mungkin agak kurang jelas baginya, tapi kelihatannya Otto mengerti apa maksudku.

“Sebentar, apa? Kamu bisa berhitung tapi tidak bisa membaca?”
“Eeheh. Ibu mengajariku cara membaca angka di pasar. Aku bisa lihat angka-angka di sana dan menghitungnya, tapi aku tidak bisa membaca apa kalimat yang tertulis di sana.”

Setelah mendengar aku tidak bisa membaca kalimat yang tertulis dalam perkamen, Otto tenggelam dalam pikiran. Aku bisa dengar dia berguam pada dirinya sendiri, “Jangan, aku sebaiknya tidak... Tapi.... “ secara berulang-ulang. “... Myne, aku akan menelan harga diriku demi meminta darimu. Maukah kamu membantuku?”

Um... apa ini tawaran yang sebaiknya aku terima? Sederhananya, mari singkirkan dulu masalah soal informasi penting yang harus dirahasiakan, pasti bukan hal yang baik untuk meminta bantuan dari anak kecil? Aku rasa dia sedang kesulitan besar yang sampai membuatnya menerima siapapun orangnya selama orang itu bisa berhitung, termasuk anak kecil?

Tadi dia bilang “akan menelan harga dirinya,” jadi bisa aku tebak bukan suatu hal yang normal untuk meminta bantuan dari anak kecil. Dan aku ingin membantunya, jika dia benar-benar dalam masalah dan butuh bantuan. Apalagi ketika aku ada perlu juga sama dia. Ini sepertinya cocok untuk dijadikan bahan negosiasi.

“Oke, aku bisa membantu. Tapi jika kamu mau terus mengajariku huruf dan memberiku pengganti kapurku jika sudah habis.”

“Apa?”

Dia mungkin tidak mengira gadis kecil akan mengeluarkan syarat dan ketentuan secara tiba-tiba begini. Matanya terbuka lebar.

Sedikit tersenyum atas reaksinya yang mudah aku prediksi, aku lanjut berbicara memberitahu alasan dibalik itu.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku tahu cara baca angka karena Ibu yang mengajariku. Tapi aku tidak tahu cara baca huruf. Aku ingin kamu mengajariku semua itu.”
“Aku mengerti dan bisa soal itu, tapi.... kenapa minta kapur? Harga kapur tidak terlalu mahal, bukan?” Otto benar soal itu, harga jual kapur tidak mahal di pasar.
“Ibu dan Ayah dulu sering membelikanku itu, tapi sekarang mereka tidak mau, jadi....”
“Kenapa mereka jadi tidak mau?”
“Aku gunakan kapur itu seharian. Jadi mau sebanyak apa kapur yang mereka belikan untukku, aku pasti butuh lebih.”
“Ahahahahahah....”

Penggunaan kapur dalam hitungan jam sudah cukup membuatnya habis. Karena aku tidak dapat bayaran uang, bisa dibilang punya suplai kapur yang stabil sudah seperti hidup dan mati.

“I-intinya! Aku bukan gadis yang bisa diperintah harga murah.”
“.... Bagiku itu bayaran yang kamu tawarkan itu murah, tapi boleh.”

Otto memberiku senyum masam dan sepakat secara resmi untuk menjadi guru aku.

“Aku harus apa?”
“Bisa kamu pastikan tidak ada salah hitung dalam kalkulasi ini? Simpelnya, aku tidak tahu dibagian mana yang salah hitung, dan akan memakan waktu lama kalau aku cek satu per satu.”

Rupanya dia sedang memeriksa hasil kerja yang dibuat oleh orang lain. Sudah jelas dari tidak adanya komputer di dunia ini, hitungan kalkulasi yang dihadirkan ini sudah dikerjakan dalam waktu lama dan proses pengecekannya dilakukan secara manual.

“Sepertinya kamu perlu prajurit yang pandai berhitung.”
“... Bagus kalau misalnya ada, tapi alasan aku dipekerjakan di sini karena aku berpengalaman dalam hal ini....”

Kedengarannya ada alasan dalam dibalik mengapa Otto kerja jadi prajurit. Sebagai orang yang penasaran, aku gatal sekali untuk bertanya lebih detail, tapi karena kerjaan yang dimiliki sangatlah banyak jadi aku urungkan dulu rasa ingin tahu dan bertanya nanti.

“Myne, kamu mau pakai kalkulator?”
“Aku tidak tahu cara pakainya, jadi aku cukup pakai papan ini saja.”

Kapur mudah digunakan di atas kertas untuk berhitung karena itu semua bisa dihapuskan.

Aku melakukan perhitungan di papan kapur dan membantu dia dalam proses pengecekan. Angka dunia ini sudah sepenuhnya aku ingat dan memikirkan angka satu sampai sembilan dalam bentuk simbol sudah mudah aku lakukan. Menuliskannya juga mudah.


“Ya ampun, ternyata semudah ini. Luar biasa, Myne, aku jadi punya hutang waktu padamu. Aku tidak mengira akan sesingkat ini aku bisa menyelesaikan pengecekan dana. Kalau kamu sehebat itu dalam matematika, Myne, kamu bisa jadi pedagang yang hebat. Aku bisa kenalkan kamu ke Serikat Dagang kalau misalnya kamu tertarik.”

Rupanya Otto telah mengaudit semua ini sendirian dalam periode yang lama, bantuan yang dia terima dariku ini sangat menolong dirinya.

Aku mungkin akan membuka toko buku begitu tahu cara produksi massal buku. Mendapat koneksi dengan Serikat Dadang sekarang mungkin akan terbayarkan nanti. Ditambah, sepertinya Otto sudah menjadikan aku sebagai penolong besar. Sempurna.

“Myne, jika kamu memang ingin sekali belajar baca tulis, maka aku akan serius mengajarimu itu. Dengan begitu, kamu bisa membantu aku mengurusi laporan tulis di tahun depan nanti.”
“Sungguh!? Yess!”
“Huh? Apa ada yang bagus dari hal itu?” Otto berkedip terkejut, ya apalagi yang membuatku senang sekali selain dia setuju untuk mengajariku baca tulis dengan serius?

Masih ada satu hal lagi, membantu menyelesaikan laporan tulis berarti menyentuh perkamen, benar begitu? Itu artinya menulis dengan tinta, iya kan? Itu terdengar sangat luar bisa dari pendapat aku!



PREVIOUS CHAPTER     ToC    NEXT CHAPTER


TLBajatsu

0 komentar:

Posting Komentar