Rabu, 26 Mei 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 226. Keanehan

 Chapter 226. Keanehan


 
"Oh, bukankah kau Hero Perisai."
"Kau--"

Di klinik kota aku bertemu seseorang yang familiar. Kalau tidak salah, dia adalah Elena, salah satu dari pengikut Motoyasu sebelumnya. Seperti biasanya dia selalu terlihat kesal dan malas, bahkan kepada seorang resepsionis sekalipun. Seakan kepribadiannya saat menjadi pengikut Motoyasu itu hanyalah kebohongan belaka.

"Kenapa kau ada disini?"
"Untuk membantu orang tuaku."

Jika kuingat kembali, ibunya adalah seorang pedagang. Kalau tidak salah dia pernah bilang akan pergi ke wilayahku nanti.

"Saat aku dalam perjalanan, aku melihat ada Demi-Human yang terluka parah, sepertinya dia diserang bandit, jadi aku menolongnya. Kurasa rasnya sama seperti Demi-Human disebelahmu, Hero Perisai.”
“Jadi, kau adalah orang yang melindungi pamanku! Aku sangat berterima kasih kepadamu!" Ucap Imiya.

Dia sudah melakukan Kenaikan Kelas, jadi dia bisa bertarung sendiri. Elena menjelaskan saat dia menyelamatkan Paman Imiya, sepertinya Paman Imiya mencoba melawan balik dan terluka parah ketika melarikan diri dari mereka.
Tapi saat dia menyelamatkannya, Paman Imiya terluka parah dan keretanya menghilang. Tempat dia diserang juga tidak diketahui. Seharusnya Paman Imiya bisa melindungi dirinya sendiri dengan levelnya saat ini.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya. Aku rasa ini bisa memakan korban lagi jika tidak segera diselidiki."
"Benar juga."
"... Aku ragu untuk memberi informasi ini kepadamu atau tidak, Hero Perisai. Para bandit itu memiliki perlengkapan yang mumpuni, sepertinya mereka bukan bandit biasanya."

Hmm... Untuk sekarang, aku lebih khawatir dengan keadaan Paman Imiya. Apa aku harus memberi tahu Pak Tua Toko Senjata tentang ini? Sekarang, aku memutuskan untuk menunggu dan mengawasi situasinya lebih lanjut.

"Aku perlu berbicara dengan Paman Imiya sekarang."
"Baik!"
"Elena, ini mungkin merepotkan, tolong bantulah aku mengumpulkan informasi mengenai ini."
"Ah, tidak masalah. Seingatku tempat itu juga terlihat mencurigakan."
"Pastikan kau tetap waspada, kita akan segera pergi untuk memeriksanya."

Melty dengan segera mengirim bawahannya untuk mencari tahu tentang hal ini, untuk memastikan tidak akan ada salah sangka.

Setelah itu kami berbicara dengan resepsionis, kami menjelaskan keadaannya. Kemudian, dia mengantarkan kami ke ruangan Paman Imiya berada. Di ruang pemeriksaan, Paman Imiya sedang diberikan sihir penyembuhan.

"Ugh..."

Ada banyak luka di sekitar tubuhnya dan banyak darah yang keluar.

"Sepertinya kau baik... tentu saja tidak."

Untuk membantu penyembuhannya, aku mengeluarkan beberapa obat-obatan yang telah diberikan sihir.

"Hai, Hero-sama...."

Dengan susah payah, Paman Imiya mencoba untuk berbicara denganku.

"Aku ingin... meminta maaf. Semua kerja keras yang telah kami lakukan... dengan mudahnya dicuri."
"Tidak perlu khawatir. Jika barangnya hilang tinggal kita ambil kembali saja. Yang terpenting adalah aku senang kau berhasil selamat."
"Aku minta maaf... Ughh..."

Paman Imiya memegangi kepalanya yang sakit. Apa dia akan baik-baik saja? Para bandit mungkin melapisi pedangnya dengan racun. Aku memberikan antidote untuk berjaga-jaga.

Sesaat setelah perawatannya selesai, kondisi Paman Imiya mulai stabil lagi. Melihat tubuhnya sekarang, kau bisa melihat beberapa bekas luka tusukan. Itu tidak terlihat akan menjadi luka yang fatal... Tapi ada yang aneh dari luka ini.

Penyembuhan berlangsung lama. Ada kemungkinan kalau dia berada di bawah kendali kutukan. Jadi kami harus memberikan Holy Water dan The Way of Dragon Vein untuk benar-benar menyembuhkannya. Saat ini Paman Imiya sedang tertidur pulas.

"Baiklah..."

Pak Tua memang perlu mengetahui keadaannya, tempat penyerangannya berada di wilayahku. Aku harus segera pergi mencari para bandit itu, mereka perlu segera dibasmi karena bisa membahayakan wilayahku. Berani sekali mereka mencuri perisaiku, tak akan kumaafkan kalian.
Apa aku harus memberitahu Pak Tua sekarang? Aku tidak mau memberitahukan semua ceritanya. 

"Paman..." Imiya terlihat gelisah sambil mengawasi Pamannya yang sedang tertidur.
"Jangan khawatir. Nyawanya sudah tidak dalam bahaya lagi sekarang. Nanti saat dia sudah bangun, kau dapat membawanya ke desa untuk beristirahat."
"Baik..."
"Kalau begitu, aku mau pergi berburu para bandit itu."
"Berhati-hatilah!"

Aku tidak akan diam saja karena aku bisa diremehkan. Aku akan menyerang balik jika diserang. Mencuri di wilayahku, kalian lebih baik bersiap untuk dirampas segalanya olehku.

Aku pergi meninggalkan Imiya yang menunggu pamannya membaik. Aku pergi bersama Filo, Atla, dan Rishia ke tempat yang diberitahu oleh Elena. Lokasinya berada di dekat hutan di sudut wilayahku. Ini salah satu rute yang biasa digunakan jika ingin pergi ke Kota Kastil dari desa.

"Filo, apa kau bisa merasakan keberadaan seseorang disini?"
"Hmm... Firo rasa di sekitar sini tidak ada siapa-siapa?"

Hmm. Memang tidak mudah menemukan mereka.

"Tempat persembunyian mereka mungkin ada di dekat sini. Ayo kita cari."
"Iya."
"Baik~"
"Atla. Kau bisa merasakan sesuatu?"
"Yaa... sepertinya ada jejak kekuatan mengerikan yang tersisa."
"Mengerikan?"
"Kekuatannya mirip seperti kekuatan milik Hero Tombak-sama, dan juga Hero Pedang-sama..."
"Eh?" 

Sepertinya Rishia langsung dapat menyadari sesuatu. Ini adalah hal yang ingin sekali dia hindari, dia seharusnya tahu kalau cepat atau lambat ini akan terjadi. Dan sepertinya pertemuan kita dengan Itsuki sudah dekat. Tapi kenapa dia menyerang Paman Imiya? Dia untung apa dari penyerangan itu? Kemungkinan dia ada di bawah kendali Witch dan melakukan serangan kepada Demi-Human.

Tapi... Aneh jika Elena tidak menyadari Itsuki. Lagi pula, bagaimana cara Paman Imiya membawa perisai itu kepadaku? Meskipun aku tidak bisa bertanya kepadanya, kemungkinan dia membawanya dengan gerobak.

Ditambah lagi Paman Imiya tidak memiliki barang lain lagi bersamanya. Dan Elena tidak ada di tempat waktu serangan terjadi, jadi dia tidak tahu kemana para bandit itu melarikan diri. Aku tidak bisa memperluas area pencarian jika kekurangan informasi seperti ini.

"Aku tidak tahu apa rencana mereka, jadi kalian semua tetaplah waspada."
"Me-Mengerti."
"Iya."
"Iyaa~"

Mustahil bagi mereka dapat menyerang Filo dan Atla. Berjaga-jaga akan serangan kejutan aku mengaktifkan Meteor Shield. Setelah menghabiskan siang hari mencari, kami tidak berhasil mendapatkan petunjuk sama sekali.

"Apa ini membuang-buang waktu?"

Aku kembali ke desa untuk memberi tahu Melty keadaannya. Untuk sekarang, kami berencana untuk memberitahu semua orang kalau ada bandit di sekitar sini. Jika aku beruntung para petualang akan mengurusnya untukku.

"Oh iya. Ada informasi yang sebaiknya kau ketahui, Naofumi."
"Apa itu?"
"Akhir-akhir ini orang yang datang dan meninggalkan kota semakin sedikit."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Ini bukan hal yang penting... Ada hal aneh sedang terjadi... Beberapa pedagang menjadi kasar, dan mereka terlihat seperti orang yang berbeda."
"Hmm..."

Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang buruk dengan semua kejadian ini, seakan-akan ada serangan secara tidak langsung. Itulah yang ingin kupercayai.

"Aku sudah memberitahu ibunda tentang ini, tapi ada kemungkinan kalau ada mata-mata yang menyusup kemari."
"Apa keamanan disini begitu buruk?"
"Tidak buruk, tapi tetap saja aku merasa aneh. Lebih baik kita mulai berhati-hati."
"Aku tahu. Kau juga harus lebih berhati-hati, karena kau adalah calon Ratu. Akan menjadi lebih baik jika kau meningkatkan penjagamu."

Kau bisa merasakan kalau Melty sedang panik. Aku memutuskan untuk meninggalkan Melty dan Filo, dan kembali ke desa.

"Aku baru saja kembali."
"Oh, selamat datang."

Aku melihat Ren sedang menurunkan barang-barang dari kereta. Karena mereka pergi bersama Hero, mereka terlihat aman. Tapi, aku ingin bertanya kepadanya apakah dia melihat orang yang mencurigakan dalam perjalanan.

"Sepertinya ada bandit di rute yang kau lewati, apa kalian bertemu dengan mereka?"
"Tidak? Semuanya biasa saja."

Sepertinya Ren tidak bertemu dengan mereka di jalan.

"Nampaknya, aku sudah dapat mengerti sedikit tentang kutukanku."
"Ohh..."
"Aku tidak akan mendapatkan Exp lagi setelah membunuh monster."

Kutukan Gluttony. Kukira konsekuensinya hanyalah expmu yang turun secara drastis, tapi sepertinya kutukan itu juga bisa menghambat Ren memperoleh Exp dari sumber lainnya.

"Apa ada aku di dekatmu saat kau sedang berburu?"
"Tidak."

Sebelumnya aku mencoba untuk mencari tahu kekurangan dari Empat Hero Suci bersama Motoyasu. Dan hasilnya adalah kau tidak akan mendapatkan exp jika ada Hero di dekatmu. Terdapat beberapa kekurangan lainnya, tapi kehilangan exp adalah hal yang paling penting.

Selama tidak ada Hero lain dalam jarak satu kilometer, kau masih bisa mendapatkan exp. Jika kurang dari itu maka kau tidak mendapatkan exp sama sekali. Satu kilometer bukanlah wilayah yang kecil. Di desa ini kita tidak akan mendapatkan sama sekali.

Tentu saja situasi Ren disini berbeda, dia berada di tempat yang jauh sekali dengan Hero lainnya. Jadi kemungkinan besar kutukan itu benar. Saat ini dia merasakan dua efek kutukan secara bersamaan, Ren kau harus tabah...
Yaa, selama dia terus berusaha sekuat tenaga, bahkan kutukan itu tidak akan berdampak banyak. 

"Apa Ksatria Wanita dan Taniko ada didalam?"
"Taniko? Jadi kau memanggil Wyndia dengan sebutan itu?"

Ren. Apa dia tidak tahu nama panggilan yang kuberikan? Sudahlah tidak penting untuk dibahas.

"Iya. Jadi, apa mereka sudah kembali atau belum?"
"Tidak, aku sendiri."
"Hmm..."

Mungkin sebentar lagi mereka akan kembali. Aku percaya mereka tidak akan apa-apa.

"Ren, ada beberapa bandit yang melakukan kejahatan di wilayahku. Salah satu bawahanku telah diserang dan menderita luka parah. Jadi berhati-hatilah."
"Apa? A-Aku mengerti. Aku akan membantumu sebisaku. Katakanlah, apa yang bisa kubantu?"
"Kalau begitu, kau akan bertugas untuk berjaga."
"Kau bisa mengandalkanku."

Aku memberikan Ren, Hero Pedang tugas untuk berjaga.  Seharusnya dia bisa melakukan hal itu. Aku juga akan membantunya nanti.

"Ngomong-ngomong, yang lainnya belum kembali."

Aku dengan cepat mencari keliling desa kelompok yang pergi berdagang hari ini. Jika diingat kembali, para budak yang pergi dua sampai tiga hari lalu juga masih belum kembali.

Apa mereka melarikan diri? Dengan cepat aku melihat status para budak.

...?

Aku melihat nama mereka muncul dan menghilang... apa yang terjadi. Nama mereka menghilang selama beberapa saat, kemudian muncul lagi. Mereka masih hidup dan belum melanggar perintah sama sekali, tapi...?

"Kiel juga tidak ada disini."

Dia seharusnya pergi berjualan pagi ini. Bukannya membawa banyak Filolial, dia pergi hanya dengan satu Caterpilland.

Sulit membayangkan anjing kecil yang rela memakan masakanku yang jatuh ditanah akan melarikan diri.
Meskipun aku tidak bisa menghilangkan ada kemungkinan kalau semua ini hanyalah rekayasa, tapi dia tidak memiliki alasan yang kuat untuk kabur dari desa.
Dan akan lebih masuk akal jika selama ini dia adalah mata-mata karena selalu menuruti perintahku.

"Caterpilland-nya sudah kembali!"

Eh? Sepertinya aku khawatir tanpa alasan yang jelas. Tapi, saat aku membalikkan badan, aku kehabisan kata-kata.

"Apa yang terjadi!?" Taniko berteriak dan berlari ke arah Caterpilland. Caterpilland kembali dengan tubuh dipenuhi luka.




TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 18 : Chapter 11 – Prajurit Relawan

Volume 18
Chapter 11 – Prajurit Relawan


Sudah beberapa hari setelah Naga Iblis bergabung dengan kami.

Pergi ke tempat asal dari gaya bertarung Glass akan menjadi perjalanan yang cukup sulit, jadi kami memutuskan untuk memprioritaskan melakukan prosedur limit break pada orang yang kami percayai diantara rekan kami. Kami juga harus membesarkan Naga Iblis, artinya ada banyak hal yang akan membuat kami sibuk. Cara kerja Naga Iblis dan monster berbeda. Kesimpulannya, dia harus mengumpulkan banyak exp sebelum dia bisa naik level. Lebih buruk lagi, dia adalah monster dari dunia ini sehingga tidak bisa naik level menggunakan Earth Crystal. Aku hanya ingin melakukan semua ini dengan cepat dan menyelesaikannya.

Mengenai level kami secara keseluruhan, L’Arc dan yang lainnya telah mencapai level 135. Mereka cukup tinggi. Saat ini aku berada di level 110, Raphtalia berada di level 115, dan Sadeena serta Shildina berada di level 105. Pada titik ini, semakin sulit mendapatkan banyak exp untuk kami semua. Kizuna dan L’Arc telah memberikan detail tentang labirin super sulit yang dipenuhi monster kuat, dan dengan mempertimbangkan masa depan, kami mulai merencanakan ekspedisi yang serius.

Naga Iblis mulai menunjukkan ketertarikan pada gaya bertarungku dan mulai menanyaiku. Salah satu momen yang cukup aku banggakan baru-baru ini adalah ketika aku memantulkan kembali sihir itu kepada Bitch, dan naga itu tampaknya sangat tertarik pada momen itu secara khusus.

Lalu ada topik tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kapal Ethnobalt telah dicuri. Itu berarti kami tidak tahu kapan musuh akan menyerang. Itu juga berarti kami harus menjaga keamanan dengan ketat sambil terus bekerja untuk meningkatkan diri yang cukup sulit untuk diseimbangkan. Lebih buruk lagi, pengurangan jumlah empat pahlawan suci, itu berarti frekuensi gelombang meningkat pesat.

Setidaknya musuh tidak memilih menyerang pada saat yang sama dengan gelombang. Belum. Jika kami beruntung dan gelombangnya terhubung dengan dunia kami, maka level kami akan melonjak, yang mungkin itu adalah alasan mereka tidak mengambil resiko, tetapi bisa dikatakan, itu tidak akan berlaku jika mereka naik level juga. Namun, dalam skenario terburuk, Itsuki dan aku bisa kembali ke dunia kami sendiri dan kemudian meningkatkan buff dengan sihir dan menghabisi siapapun yang datang mengincar kami.

Akan lebih cocok bagi kami jika musuh adalah sekelompok orang bodoh. Sangat menjengkelkan bahwa hidup tidak berjalan mudah. Kami tidak tahu seberapa buruk gelombang yang akan terjadi, jadi kami harus merencanakan pergerakan kami dengan hati-hati dan bergerak untuk mencegah “Penyatuan Dunia” ini apapun caranya.

Mengenai jam pasir naga di lokasi yang jauh dari tempat tinggal manusia, kekuatan yang mungkin disebut ‘Tentara Iblis’, yang merupakan bawahan Naga Iblis, tampaknya sedang mengurus semuanya. Aku cukup iri dengan kemampuan pengendalian itu. Di dunia kami, semua itu mungkin ditangani oleh Fitoria.

Bagaimanapun juga, kami menggunakan limit break Naga Iblis untuk meningkatkan kekuatan kami sambil bergerak menggunakan skill teleportasi milikku menuju tempat gaya bertarung Glass berasal. Satu-satunya barang bawaan yang harus kami bawa adalah cermin,jadi itu cukup mudah. Kami juga meningkatkan kekuatan saat kami pergi.

Itsuki dan Rishia kembali membantu Ethnobalt menguraikan teks-teks kuno. Sepertinya mereka hampir memahami bagian yang telah mereka lewatkan sampai sekarang, jadi mereka mengurung diri di Labirin Perpustakaan Kuno seperti itu adalah laboratorium penelitian. Itsuki, sebenarnya hanya membantu sejauh yang dia bisa, mereka telah melapor bahwa mereka hampir memahami semuanya.

Pada hari khusus ini, aku menyiapkan makanan di dapur.

“Kita memiliki banyak tentara sukarelawan yang berkumpul. Bagaimana kita harus menangani mereka?” Glass datang dan melapor pada Kizuna dan diriku. Desas-desus telah menyebar dengan cepat bahwa kami sekarang memiliki akses limit break legendaris.

“Bagaimana rumor ini bisa menyebar?” Renung Kizuna.

“Keamanan di sekitar sini tidak benar-benar begitu ketat,” Kataku. Ada sedikit kekhawatiran jika Yomogi atau Tsugumi adalah mata-mata. “Apa mungkin sekutumu saat melawan Naga Iblis akan muncul?” Tanyaku.

“Kupikir mereka akan muncul,” Tebak Glass. “Kami mampu mengendalikan gelombang karena sekutu kami tersebar di seluruh wilayah.”

“Aku ingin tahu bagaimana mereka akan bereaksi ketika mereka mengetahui bahwa Naga Iblis yang sama dihidupkan kembali,” Kataku.

“Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada dunia ini,” Gumam Kizuna tertekan. 

“Aku terkejut mendengarmu mengatakan itu Kizuna. Kupikir dirimu bisa bergaul dengan siapapun,” Kataku.

“Menurutmu aku ini apa Naofumi? Jujurlah?” Tanyanya. Jika aku menjawab jujur dengan “Boneka Bebal”, dia mungkin akan marah. Aku juga tidak mengejeknya saat memikirkan itu. Senang rasanya memiliki pahlawan seperti Kizuna. Faktanya, dia sangat cocok membawa harapan orang lain.

“Tentara relawan ya? Mungkin ada beberapa Barisan Terdepan Gelombang yang tercampur. Sadeena, Shildina,” Panggilku.

“Kami tahu apa yang kau maksud Naofumi kecil,” Kata Sadeena.

“Tidak masalah!” Tambah Shildina. Paus pembunuh bersaudara bisa—menurut mereka—menemukan para ‘Barisan terdepan’ ini, jadi kami meminta mereka melihat-lihat sukarelawan baru ini. Meski begitu, telah tersebar kabar untuk mencurigai jika ada seseorang dengan gaya “Jenius” gadungan yang memiliki harem wanita. Jadi ini tergantung apakah musuh kita juga menyadarinya.

Jika kita seenaknya saja mulai menambahkan orang ke pasukan kami tanpa memeriksanya, sesuatu seperti hilangnya sabit bisa saja terulang kembali.

L’Arc dan lainnya telah menggunakan diplomasi untuk menyebarkan ke negara lain tentang orang-orang yang telah diberitahu sejak lahir mereka adalah orang jenius—mereka seperti Takt, Kyo dan Seya—dan untuk menyebarkan berita bahwa mereka sangat mungkin menjadi salah satu Barisan Terdepan Gelombang. Bangsa-bangsa lain segera menanggapi, dan jarang memberikan tanggapan positif. Bangsa L’Arc telah mengumpulkan cukup banyak pahlawan, jadi setiap peringatan yang keluar dari sini cenderung dilakukan dengan hati-hati, jika tidak, mereka bisa kehilangan kepercayaan para pahlawan.

Selain itu, hanya sedikit negara yang dengan mudah melepaskan keuntungan yang dapat diberikan oleh salah satu dari para jenius ini. Tentu saja, kami bisa membiarkan hal semacam itu dan kemudian menggunakan drama apapun yang mereka buat sebagai alasan untuk masuk dan campur tangan. Skenario terbaik, kami bahkan mungkin dapat memancing dalang di balik semua ini.

Jika Sadeena dan Shildina benar-benar bisa melihat mereka, maka mungkin ini waktunya untuk berburu para Barisan terdepan Gelombang yang bersembunyi di dunia Kizuna. Dan untuk dunia kami… Sesuatu menggelitik ingatanku. Aku seperti teringat laporan yang mengatakan Takt telah melakukan hal serupa. Mungkin Barisan Terdepan Gelombang juga memiliki kecenderungan untuk saling bertarung.

Kami belum memahami semua itu… Tetapi saat aku melihat kearah Kyo dan Takt, tidak satupun dari mereka yang terlihat seperti tipe yang mau bekerja sama dengan orang lain. Mereka berdua mengira mereka adalah yang terbaik, dan keduanya tidak punya waktu untuk siapapun selain gadis manis. Orang lain yang seperti mereka, mereka menganggapnya sebagai sampah dan segera membunuhnya. Tidak mungkin Barisan Terdepan Gelombang akan bekerja sama jika mereka semua bertindak seperti itu, bahkan jika mereka di pihak yang sama.

Sesuatu masih menggelitik ingatanku di bagian itu… Aku mencoba mengingatnya tetapi tidak bisa. Itu bukanlah masalah untuk saat ini.

Bagaimanapun juga, dalam hal memeriksa tentara relawan semua orang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, jadi kami tidak memiliki orang untuk menangani tugas tersebut. Itsuki, Rishia, dan Ethnobalt bahkan tidak ada disini; mereka sibuk menerjemahkan teks-teks kuno. Jika terjadi sesuatu disana, S’yne yang telah ikut bersama mereka akan memberitahu kami. Dia tidak benar-benar ingin ikut, tetapi dialah yang dapat bergerak dengan cepat saat dibutuhkan, jadi dia tidak punya pilihan.

Sementara itu, L’Arc dan Therese  telah meninggalkan negara untuk menghadiri rapat yang berkaitan dengan hal-hal seperti Naga Iblis. Naga Iblis sendiri berada di jam pasir naga, mempersiapkan ritual. Beberapa bahan tambahan tambahan tampaknya dibutuhkan. Metodenya mungkin berbeda dengan dunia kami.

Dengan begitu tersisa diriku, Raphtalia, Raph-chan, Chris, Kizuna, Glass, Sadeena, dan Shildina untuk pergi memeriksa tentara relawan. Filo sedang keluar jalan-jalan. Aku pernah melihatnya sekilas sebelumnya, berjalan mengitari parit kastil sambil bersenandung.

“Ara,” Kata Sadeena.

“Kami tentu menemukan beberapa,” Kata Shildina, kedua bersaudari itu menggelengkan kepala dengan sedih.

“Oke. Tunjukkan mereka,” Kataku.

“Yang itu disana. Lalu yang dibelakangnya. Dan orang yang membuat penyesuaian pada sesuatu disana.” Satu demi satu, Sadeena menunjuk mereka.

“Mereka bersalah sampai terbukti tidak bersalah. Mereka cukup baik dengan datang menemui kita, jadi mari kita buat jebakan. Kalian berdua sebaiknya benar tentang ini,” Pintaku.

“Tentu saja,” Jawab Sadeena.

“Tidak diragukan lagi,” Kata Shildina. Kedengarannya benar-benar positif, tetapi aku tetap memandang mereka dengan curiga. Kemudian aku memerintahkan penjaga untuk memilih orang-orang yang telah diidentifikasi. Saat itulah Raphtalia dan Raph-chan menunjuk ke suatu titik di barisan.

“Yang bersembunyi disana, itu—“ Beberapa saat setelah Raphtalia menarik katana-nya, tidak lain dan tidak bukan adalah kakak perempuan S’yne sendiri yang tiba-tiba muncul dari antara kerumunan dengan senyuman di wajahnya. Ini adalah musuh yang menjadi alasan dari semua peningkatan memasak dan Naga Iblis. Itu semua agar kami menjadi cukup kuat untuk mengalahkannya. Ancaman mematikan itu sekarang baru saja berjalan menuju kastil. Salah satu pemimpin musuh seenaknya mondar-mandir di markas utama kami! Keamanan di sekitar sini benar-benar seperti lelucon.

“Wah, wah wah! Aku terkesan, tetapi sekali lagi, aku sudah mengira kau akan menemukanku,” Ejeknya.

“Kau!” Teriakku. Jika dia melepaskan teknik tak dikenalnya pada kami lagi, kami akan sulit menanganinya. Dia benar-benar pintar memilih waktu untuk menyerang juga—tepat disaat keamanan kami paling rendah.

“Seperti yang kudengar Iwatani, gadis tangan kananmu ahli dalam mendeteksi ilusi,” Kata kakak perempuan S’yne saat party yang ia bawa bersamanya menyebar mengelilingi kami. Tentara sukarelawan yang sebenarnya menyadari ada sesuatu yang terjadi kemudian mundur. “Senang bertemu denganmu lagi! Bagaimana kabarmu, aku hanya mampir untuk bersenang-senang.”

“Untuk bersenang-senang? Kau bercanda?” Aku mengamuk.

“Oh bukannya aku tidak mengatakan bahwa aku bercanda…” Jawabnya mengejek.

“Jadi ini orang-orangnya kan? Orang-orang yang memiliki Senjata Suci dan pemegang Vassal weapon?” Kata salah satu anak buahnya. Itu adalah pria yang berdiri di samping kakak perempuan S’yne, memberikan perasaan yang mirip Kyo, Takt, Miyaji, dan Seya… Yah pada dasarnya mereka semua adalah Barisan Terdepan Gelombang. Kedengarannya dia juga memandang rendah kami. Mengapa aku merasa kami baru saja menghadapi Enemy of the Week selanjutnya?

Aku agak muak sekarang. Mereka pasti memiliki cukup stok orang-orang semacam ini untuk keluar satu persatu.

“Ini bos barumu? Lupakan dia. Dimana Bitch?” Tanyaku.

“Ya, dia bosku,” Jawab kakak S’yne sambil mengerutkan alisnya dan menjentikkan jarinya dengan cara yang tidak akan terlihat oleh lelaki itu. Sepertinya dia ingin aku diam. Namun dari pertanyaanku seorang wanita muncul di belakang Tuan Enemy of the Week. 

<Ini.. Panggilan Naofumi seperti biasanya yak... wkwkwk.>

“Kau menggunakan nama itu lagi! Sudah kukatakan padamu bukan? Yang dia lakukan hanya menghina Nona Malty! Tidak bisa dimaafkan!” Kata wanita itu.

“Dia pasti sangat buruk hingga kau berkata seperti itu,” Si Enemy of the Week berkomentar. Aku yakin pernah melihat wanita ini sebelumnya di suatu tempat, tetapi aku tidak bisa mengingatnya. Aku memiringkan kepalaku kesamping, menyipitkan mata, dan dia mulai meneriakiku, kemarahan dan rasa jijik terlihat sepenuhnya.

“Aku mantan sekutu Pahlawan Tombak! Aku bukan Elena. Aku yang satunya!” Teriaknya. Aku masih bingung sejenak, tapi ya, ada seseorang yang mirip dengannya, selalu disisi Bitch. Dia memang terlihat mirip. Oke misteri terpecahkan. Aku bahkan belum tahu namanya. Aku hanya mengenalnya sebagai “Wanita B”, seseorang di balik layar.

Mungkin Elena adalah Wanita B. Aku belum memutuskan dengan pasti, dan sekarang aku benar-benar lupa.

“Apa? Kau terlihat benar-benar melupakanku!” Seru wanita itu.

“Bagaimana jika aku memberitahumu bahwa itulah yang terjadi?” Kataku.

“Apa?! Jika bukan karenamu, Nona Malty tidak akan menderita! Dasar hewan yang tidak manusiawi!” Teriak wanita itu.

“Terserah. Yang kudengar darimu dan Bitch adalah lolongan anjing yang kalah. Menggonggong lah anjing,” Ejekku.

“Dasar iblis! Aku akan menyingkirkanmu, aku bersumpah!” Dia mengamuk. Aku sama sekali tidak peduli. Namun semakin banyak dia berbicara, semakin cocok dia dengan gelar “Bitch II”. Dia tidak benar-benar menonjol sebelumnya, mungkin karena si Bitch yang selalu didepan.

“Sepertinya kau juga memiliki suatu ikatan dengan Bitch. Kau menghormatinya bukan?” Tanyaku. Itu sedikit mengejutkan bagiku bahwa ada orang yang bisa bergaul dengan Bitch itu. Bahkan Elena hanya bekerja sama dengannya demi keuntungan belaka.

“…Tentu saja begitu!” Seru Wanita B. Namun ada jeda disana. Dia perlu memikirkan jawabannya. Dia melanjutkan. “Kalau saja kau tidak muncul! Andai saja kau tidak pernah muncul, kondisi bahagia kami bisa berlanjut selamanya!”

“Aku sudah mendengar semua itu sebelumnya, jujur saja. Jadi? Dimana Bitch yang sebenarnya?” Tanyaku. Dia sepertinya tidak ada disini. Jika dia bersembunyi diantara para sukarelawan, maka aku berharap bisa menghabisinya untuk selamanya, tetapi aku tidak melihatnya disini. Dia tampaknya tidak menyembunyikan dirinya diantara kerumunan.

“Dia sedang memulihkan diri dari luka yang kau berikan!” Teriak Bitch II.

“Memulihkan diri ya? Kedengarannya menyenangkan. Sayang sekali kau tidak dapat ‘memulihkan diri’ dengannya,” Balasku. Ucapanku tampaknya membuatnya marah. Wanita B mulai bergetar kerana marah, wajahnya merah padam.

“Diam! Kaulah yang menyebabkan semua masalah ini! Kau adalah parasit yang merusak dunia ini!” Teriaknya.

“Tentu kau tidak membicarakan dirimu sendiri kan? Kau adalah parasit, sampah dunia ini, yang menempel pada seseorang yang memiliki kekuatan dan mendapatkan makanan darinya,” Ejekku.

“Aku sekali lagi mengerti mengapa kau dipilih sebagai Pahlawan Cermin,” Kata Glass menganggukan kepala. “Kau hanya ‘memantulkan’ kembali apa yang dia katakan.” Kuharap aku bisa mendapatkan dukungan disini, bukannya penghinaan. Kakak S’yne mengabaikan Wanita B yang berteriak dan berkata.

 “Wah, wah wah,” Katanya. “Memang, dia telah melalui banyak hal dan sedang memulihkan diri saat ini.”

“Lebih baik kau menyingkirkannya secepat mungkin. Sejujurnya tidak ada yang baik tentang dirinya sama sekali. Itu akan menguntungkan dunia jika kau membunuhnya begitu saja,” Kataku, berbicara langsung dari hati sebisaku. Si Bitch adalah wanita yang membuatmu benar-benar merasa ada beberapa orang yang lebih baik mati. Tidak mungkin dia bisa membawa manfaat apapun di dunia ini.

Kemudian kakak perempuan S’yne melirik Wanita B dengan pandangan meremehkan sebelum menatap kami seolah-olah tidak ada yang terjadi.

 “Kami tidak bisa melakukan itu. Di dunia pemimpin agung kami, kami memiliki pemegang senjata suci terakhir yang ditundukkan dan ditawan. Namun selama gelombang terjadi, para teroris itu hampir membunuh pemegang senjata tersebut, yang berarti dunia akan dihancurkan oleh gelombang. Ketika hal ini terjadi, kami kebetulan bertemu dengan teman lamamu dan sekutunya, lalu mereka membantu membalikkan keadaan tepat waktu. Itu sebabnya dia mendapat bantuan semacam itu,” Jelas Kakak S’yne, dengan penjelasan yang rumit seperti biasanya. Hal yang paling mengejutkanku tentang informasi ini adalah bahwa pasukan kakak perempuan S’yne juga menghadapi keadaan yang mereka anggap berbahaya. Aku benar-benar berharap mereka dimusnahkan begitu saja. “Ini terjadi sebelum aku bertemu denganmu, Iwatani,” Kata kakak perempuan S’yne.

“Apa yang kau bicarakan?” Si Enemy of the Week memelototiku. Mungkin dia merasa sedikit terabaikan dan tidak dipedulikan.

“Lebih baik kau tidak menganggap orang-orang ini temanmu,” Kataku. “mereka mengkhususkan diri dalam pengkhianatan.”

“Hah, kau pasti bercanda! Mereka percaya padaku! Mereka tidak akan pernah melakukan hal itu padaku!” Balasnya.

“Tentu saja tidak akan,” Kata kakak S’yne yang licik.

“Tidak akan pernah.” Wanita B yang berisik sekarang mulai menunjukkan keseksiannya, mencoba menempel kepada Enemy of the Week dan memeluknya... Cukup dekat dengan tubuhnya juga. Bicara tentang “Daya tarik seks”. Si Enemy of the Week berpura-pura tetap tenang, tetapi matanya tertuju pada payudaranya, dan bagian bawah tubuhnya. Jelas bahwa dia telah berada dibawah kendali keduanya.

Namun aku merasa heran, apakah mereka tidak merasa tertekan karena memiliki hubungan intim diantara rekan mereka sendiri.

“Raphtalia kecil! tunjukkan pada mereka bahwa kita juga memiliki hal semacam itu juga!” Teriak Sadeena.

“Benar. Tunjukkan pada mereka!” Tambah Shildina.

“Ah, yah... Oke,” Kata Raphtalia tidak yakin. Paus pembunuh bersaudari terus mencoba memancing Raphtalia, mencoba membuatku bertingkah seperti mereka. Sekarang aku mulai merasa tertekan.

“Kau benar-benar menghilangkan ketegangan situasi saat ini!” Kataku mencaci mereka.

“Hah. Memamerkan haremmu, kan? Tidak enak dipandang,” Kata Enemy of the Week. Dia dengan cepat memahaminya, setidaknya dengan mata yang tajam. Tetapi dia sendiri juga sama—dia sendiri dikelilingi oleh banyak wanita!

“Kau tidak harus ikut bermain Raphtalia,” Kataku. “Buatlah komentar pedas seperti biasanya!” Terjerat dalam kebodohan gila dari Paus Pembunuh Bersaudari akan benar-benar merusak reputasi Raphtalia. Aku menjadi sedikit lebih toleran setelah keinginan terakhir Atla tetapi aku tetap tidak akan bermain-main dengan semua hal mesum semacam ini.

“Oke,” Kata Raphtalia sambil terlihat bingung. Itu membuatku semakin tertekan.

“Kau tidak peduli dengan hal-hal mesum bukan? Aku bersimpati,” Kata Glass mencoba terlibat karena suatu alasan.

“Aku mulai merasa kasihan denganmu, Naofumi,” Kata Kizuna.

“Dia mungkin mengira kalian berdua termasuk dalam ‘harem’ku.” Kataku.

“Aku benar-benar tidak suka itu,” Kata Glass. “Tidak, Aku sama sekali tidak suka itu.” Aku tidak yakin mengapa dia mengatakannya tiga kali, tetapi aku juga tidak menyukainya. Hanya sekadar catatan.

“Naofumi adalah teman dan kawan, tetapi kami tidak seperti itu!” Balas Kizuna. Aku merasa heran apakah dia benar-benar memahami situasinya. Dia adalah orang yang tidak akan mengerti jika tidak kau katakan secara langsung.

“Sayang sekali kita tidak memiliki Fohl disini. Bahkan L’Arc akan berguna,” Kataku. Dengan mereka yang bercampur mungkin akan sedikit mencegahnya terlihat seperti harem.

“Naofumi… Bahkan jika kita memiliki beberapa pria, itu mungkin saja hanya akan memberi mereka beberapa pemikiran berbeda. Seperti…Menyukai laki-laki…?” Kata Kizuna. Kedengarannya apapun komposisi partynya mereka akan menganggapnya sebagai hubungan mesum dengan diriku di pusatnya. Aku lebih baik mengelilingi diriku dengan monster.

Lalu aku berpikir bahwa Naga Iblis mungkin akan menikmati itu. Terlalu banyak kesalahpahaman disini.

“Apa yang kau inginkan?!” Teriakku. Tetap saja kami telah bergurau selama beberapa saat dan S’yne masih belum muncul.

“Oh, S’yne tidak bisa membantumu sekarang,” Kata kakak perempuan S’yne sambil mengelus rantainya. Dia pasti memperhatikanku melihat sekeliling. “Kami mengganggu kemampuannya.”

“Jamming ya?” Kataku. 
<TLN: Jamming adalah skill yang betujuan untuk menghambat sesuatu/seseorang.>

“Kami juga mengetahui kelemahan skill transportasimu juga,” Kata kakak perempuan S’yne. “Kau tidak dapat menggunakannya jika area disekitarnya telah diselubungi oleh sihir atau semacamnya.” Dia benar-benar mengetahui kelemahan kami. Ini semua sangat menyebalkan. Aku bisa merasakan asam lambungku mendidih di dalam perutku. “Lalu untuk alat transportasi di dunia ini. Kau perlu berinteraksi dengan jam pasir naga untuk membawa mereka kemari, dan apakah kau benar-benar punya waktu untuk memanggil bala bantuan?”

“Mungkinkah kau melupakan skill Transportasiku?” Kataku. Aku memiliki Transport Mirror dan Movement Mirror di saku belakangku dan dapat dengan mudah membawa beberapa sekutu menggunakannya.

“Tapi kau mengerti apa yang akan terjadi disini jika kau melarikan diri, kan? Iwatani, menurutku, kau perlu menggunakan skill itu untuk bepergian terlebih dahulu sebelum kau bisa membawa siapapun kembali bersamamu, kan?” Cibirnya. Mendengar itu aku mendengus. Itu adalah pengamatan yang sangat tepat dan menyakitkan. Dia bukan hanya wanita bodoh. Dia lebih pintar dari Bitch, itu pasti.

“Bahkan jika kau lolos, kami bisa pergi begitu saja. Menjadi pihak yang menyerang itu sangat mudah. Terakhir kali, kau mengalahkan salah satu dari kami. Itu jelas membuat kami ingin melawan balik,” Katanya.

“Aku sudah muak denganmu,” Kataku. Dia melemparkan setiap trik dalam buku kepada kami. Tepat ketika pertahanan kami juga paling lemah... Itu semakin jelas bahwa dia memiliki mata-mata yang perlu dikhawatirkan.

“Jadi itu kakak perempuan S’yne yang sering kudengar?” Tanya Kizuna.

“Benar. Kau pasti pahlawan berburu. Kurasa aku lebih memilihmu saat masih menjadi patung,” Kata kakak perempuan S’yne. Mereka berdua saling bertatap mata sejenak. Mereka berdua terlihat sangat mengerikan.

“Kau beruntung. Jika gelombang yang terjadi terhubung dengan dunia pemimpin agung kami, kami berencana menghancurkan kalian. Itu adalah kekurangan dari sistem ini; itulah satu-satunya cara mendapatkan hadiah karena telah menghancurkan dunia,” Jelas Kakak perempuan S’yne. Aku pernah mendengar pembicaraan tentang menghancurkan dunia sebelumnya, seingatku.  Namun aku tidak pernah ingat mengenai masalah hadiah itu.

“Memang aku sangat beruntung,” Kata Kizuna.

“Itu akan menjadi... sangat buruk,” Kata Glass. Dia bisa mengatakan itu lagi, tetapi aku hampir tidak bisa membayangkan seperti apa dunia yang dihancurkan.

“Itu adalah pemandangan yang menakjubkan,” Kata kakak perempuan S’yne tersebut. “Matahari tiba-tiba menghilang dan semuanya berubah menjadi dataran tandus yang tidak bernyawa. Terkadang semuanya hancur menjadi debu. Semua kehidupan di dunia itu layu dan mati. Semuanya.” Aku juga tidak perlu mendengar cerita kiamat darinya.

“Kizuna, kau harus mundur,” Kata Glass. “Jika kau mati, ini semua berakhir.”

“Ara! Saran yang bagus. Kami tidak akan pernah melakukan itu tanpa gelombang. Mengapa kami ingin menghancurkan dunia ini?” Tanya kakak perempuan S’yne.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak bisa memahamimu,” Kata Si Enemy of the Week mengerutkan alisnya.

“Kami berbicara dalam bahasa yang hanya mereka ketahui,” Jawab kakak perempuan S’yne dengan sedikit pengkhianatan didalam suaranya, membelai batu permata di rantainya lagi. “Aku memberitahu mereka untuk berhenti menyebarkan berita tentang gelombang yang menghancurkan dunia.” Sepertinya dia bisa mematikan fungsi terjemahan di senjatanya dan menggunakan kemampuan itu untuk menyebarkan kebohongan tentang kami!

“Aku mengerti. Gelombang benar-benar tidak sebegitu menakutkan, bukan? Padahal itu cukup berguna untuk membuat kita lebih kuat,” Balas si Enemy of the Week. Dia sama sekali tidak melihat ancaman pada gelombang, itu sudah jelas. Tidak heran dia sama sekali tidak ingin mendengarkan kami. tidak ada gunanya mencoba dan menjelaskan banyak hal padanya.

Ada begitu banyak orang di dunia ini, namun kakak perempuan S’yne dan pasukannya mampu menemukan Barisan terdepan Gelombang ini dengan mudah. Mungkin mereka memiliki kemampuan yang mirip dengan Sadeena dan Shildina.

“Kau adalah musuh besar raja L’Arc Berg! Mengalahkanmu akan memberi kami hadiah besar!” Teriak salah satu tentara relawan, dan sekelompok dari mereka mengarahkan senjata kepada Enemy of the Week. Memilih untuk bergantung pada tentara relawan mungkin akan menjadi ide yang bodoh… Tetapi ini adalah kakak perempuan S’yne yang sedang kami bicarakan. Kami tidak bisa melepaskan kewaspadaan kami.

‘Kau akan menjadi hadiah yang sempurna untuk raja kami! Angkat tangan kalian, biarkan kami menahanmu! Demi kepentingan kami sendiri!” seorang relawan lainnya berteriak.

“Tunggu! Kalian tidak bisa menangani—“ Teriak Kizuna.

“Tunggu! Itu bukan musuh yang kalian bisa—“ Teriakku. Para relawan tidak mempedulikannya dan memulai serangan pada enemy of the Week. Dua orang lainnya yang dilihat Sadeena dan Shildina, telah mundur dan berpura-pura menjadi orang normal.

“Bah! Anjing yang menyedihkan, hanya bisa bertarung dalam kelompok! Ketahuilah tempat kalian!” Enemy of the Week mengangkat tangannya dan dinding tembus pandang muncul, menjebak tentara relawan yang berkerumun ke arahnya.

Dindingnya berbentuk kubus, dengan lubang di tengah tempat Enemy of the Week dan partynya berada. Para prajurit yang terkurung berteriak. 
<TLN: Aaowkowakowk *abaikan ini*>

“Apa-apaan ini?!”

“Ini seperti dinding penghalang...”

“Sial! Apa ini? Sangat keras!” Para relawan terlihat bingung ketika mereka mencoba menghancurkan temboknya, tetapi tidak berhasil. Kemudian sesuatu seperti lantai transparan muncul dari bawah kaki Enemy of the Week, mengangkat musuh kami ke tempat yang lebih menguntungkan dimana mereka dapat memandang rendah kami.

“Ini untuk membela diri,” Serunya. “Kalian menyerang kami, dan kalian akan membayarnya dengan nyawa kalian!” Dia mengencangkan tinjunya di udara, dan kemudian dinding yang dia buat menyusut, dengan para relawan yang terjebak didalamnya. Aku pernah melihat serangan semacam ini, tetapi hanya dimanga—atau film. Alat “Pemadat Sampah”. Yang berada didalamnya akan ditekan dan diperas. Pahlawan biasanya dapat keluar dari situ. Aku tidak menyangka melihat seseorang benar-benar menggunakannya.

“Ayo,” Kataku. “Kita harus mengeluarkan mereka!”

“Oke!” Kata Raphtalia.

“Aku tidak mengharapkan pertempuran secepat ini! Aku belum benar-benar siap!” Kata Kizuna.

“Kau akan baik-baik saja. Kita hanya harus melakukannya,” Kata Glass. Kizuna mengeluarkan Ofuda dan memanggil Chris, sementara Raphtalia dan Glass melompat ke dinding... Penghalang masih menjepit para relawan.

“Formation one, Formation two: Glass Shield!” Teriakku menempatkan Glass Shield dalam penghalang untuk memberikan perlindungan. Dengan suara gesekan, dinding berhenti menyusut.

“Hah? Jangan menghalangiku! Mereka yang berani menyerangku tidak punya hak untuk hidup,” Kata Enemy of the Week.

“Maaf mengatakannya, tetapi siapapun yang akan menyerangmu adalah sekutuku. Aku tidak bisa membiarkan orang baik ini mati. Ayolah! Beraksi!” Teriakku.

“Aku bersamamu! Raph-chan!” Panggil Raphtalia.

“Aku juga! Chris, pinjamkan aku siripmu!” Panggil Glass. Kedua makhluk imut itu menjawab serempak, dan dengan Raph-chan di bahu Raphtalia dan Chris di bahu Glass, mereka mulai menyerang penghalang yang dibuat Enemy of the Week.

“Dream Illusion: Mist Single Strike!” Raphtalia melepaskan Mist Single Strike yang diselimuti ilusi berulang kali.

“Circle Dance Destruction Formation: Frozen Turtle Carapace Cracker!” Glass melepaskan skill kombinasi yang mengabaikan pertahanan dengan tembakan sihir es.  Dengan mengubah Mist Single Strike – yang biasanya hanya satu tebasan—menjadi skill kombinasi, Raphtalia telah memiliki kemampuan untuk melepaskan banyak serangan. Sedangkan untuk Glass, serangannya memiliki sifat untuk memperlambat musuh dan juga terkadang mengubahnya menjadi es. Keduanya benar-benar memiliki serangan kecil yang ganas, dan itu sebagian besar berkat Naga Iblis.

Serangan yang dilakukan Raphtalia dan Glass hampir tidak berhasil membuka lubang di permukaan penghalang.

“Benda ini keras,” Kata Glass.

“Memang. Tetapi akhirnya kita bisa menghancurkannya! Cepat keluar dari sana!” Teriak Raphtalia.

“Oh, astaga! Aku tidak mengizinkan itu!” Teriak si Enemy of the Week, menggunakan kekuatannya untuk menutup lubang yang dibuka oleh kedua anggota partyku. Lubang di penghalang itu secara bertahap menutup, berubah kebentuk semula.

“Apakah menurutmu kami akan membiarkanmu melakukan itu?” Teriakku. Aku lalu menggunakan Float Mirror untuk memblokir lubang yang tertutup.

“Ayo keluar dari sana!” Teriak Kizuna. Tentara relawan itu menjawab dengan sorak-sorai dan mulai melarikan diri dari lubang.

“Kalian hanya menghalangi kami! Mundur!” Teriakku. Mereka mungkin bukan warga sipil biasa, tetapi mengingat apa yang baru saja terjadi, kami hampir tidak dapat mengandalkan mereka dalam pertempuran. Jika kami harus terus menyelamatkan mereka, kami tidak akan pernah bisa menyelesaikan pertempuran. Tanpa kehadiran mereka adalah solusi terbaik. Memahami kata-kataku, para relawan dengan cepat mundur.

Itu menciptakan masalah lain. Dua Barisan Terdepan Gelombang lainnya yang dilihat Sadeena dan Shildina telah menggunakan keributan ini kabur, jadi aku kehilangan jejak mereka. Jika mereka kembali, kedua bersaudari itu akan menemukan mereka lagi. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan sekarang.

“Hah! Sepertinya yang bisa kau lakukan hanyalah bertahan,” Teriak enemy of the Week merendahkan kami. Dia hanya mempermalukan dirinya sendiri. Serangan kami akan segera dimulai.

“Jangan lupakan kami,” Kata Sadeena, mulai merapal dengan sebuah batu permata di satu tangan.

“Itu akan menjadi kesalahan,” Tambah Shildina, mengeluarkan Ofuda dan mantra sihir.

“Aku akan menunjukkan hasil dari latihanku baru-baru ini! Ini adalah sihir yang aku pelajari dari Therese kecil, yang disusun ulang menggunakan Way of Dragon Vein! Rasakanlah mantra sihir dengan metode yang sama seperti yang digunakan Naofumi kecil!” Teriak Sadeena. Bahkan selama penjelasannya yang bertele-tele, aksesori batu permatanya berkilau terang, dan kemudian mengeluarkan sihir. “Jewel Aqua Blast!”

Sementara itu Shildina sepertinya telah menguasai perapalan mantra menggunakan Ofuda.

“Sekarang aku memerintahkanmu. Ofuda! Tanggapi kata-kataku! Potong musuh ini hingga berkeping-keping! Wind Weasels! Saat Sadeena memanggil bongkahan es yang sangat besar, Shildina menciptakan bilah dari udara. Semua serangan mereka mengarah langsung menuju Enemy of the Week, kakak perempuan S’yne dan Wanita B.

“Apa?! Tetapi itu serangan yang menyedihkan,” Enemy of the Week membuat penghalang untuk melindungi dirinya dan sekutunya dari sihir kedua Paus Pembunuh Bersaudari. Sihir itu menabrak penghalangnya dan menghilang tanpa bisa menembusnya. Aku sedikit berharap itu  akan menerobosnya.

“Ara. Itu sangat keras,” Kata Sadeena.

“Kami berhasil memotongnya sedikit dengan kekuatan kehidupan..” Kata Raphtalia.

“Memang awalnya kupikir mudah untuk dihancurkan, tetapi itu tidak terlalu efektif,” Tambah Glass, semua orang mengatakan pemikiran mereka tentang masalah penghalang baru ini. Sebuah penghalang yang bahkan kekuatan kehidupan tidak dapat menghancurkan sepenuhnya. Pasti ada semacam trik dibalik semua ini.

“Oh wow! Kau sangat keren! Cepat dan bunuh Raja Iblis Perisai! Dia disana!”

“Aku ingin melihat darah berhamburan!”

“Aku sungguh terkesan!”

Para wanita Enemy of the Week semuanya berteriak. Aku merasa heran bagaimana dia tidak malu, memiliki wanita seperti itu yang mengikutinya. Kakak perempuan S’yne tetap diam. Sepertinya dia juga tidak akan serius melawan kami kali ini. Aku tidak yakin apakah itu keberuntungan atau tidak. Jika dia serius, aku benar-benar tidak yakin kami bisa menang. Jika memungkinkan aku ingin membuat mereka terikat—seperti terakhir kali—dan mengusir mereka dari sini.

Jika kami mencoba melarikan diri sekarang, sudah jelas bahwa negara L’Arc akan dikuasai. Itu tidak hanya akan menghancurkan basis operasi kami, tetapi tekanan yang sudah kami rasakan dari negara-negara sekitar akan semakin kuat. Kami tidak dapat melarikan diri.

“Stardust Blade!” Raphtalia meluncurkan serangan jarak jauh kepada Enemy of the Week dan partynya, tetapi serangan itu tidak mampu menembus penghalang.

“Hah! Seolah-olah aku akan membiarkan serangan itu lewat,” Cemoohnya.

“Aku menambahkan lebih banyak kekuatan kehidupan dan memasukkannya ke dalam Point of Focus, dan itu masih belum cukup!” Ratap Raphtalia. Aku mulai berpikir penghalang ini didasarkan pada beberapa faktor selain hanya daya tahan murni. Aku harus memikirkan cara untuk menembusnya.

“Hah! Matilah!” Saat Enemy of the Week berteriak, percikan api tiba-tiba tersebar di sekitar Stardust Mirrorku. Dari segi posisi, sepertinya dia membidikkan sesuatu ke leherku.

“Apa? Aku tidak bisa mengeluarkannya di dalam penghalang? Sungguh menyebalkan!” Katanya. Berdasarkan serangan yang baru saja dia gunakan, sepertinya dia bisa menggunakan penghalang untuk melakukan serangan pemotongan. Semuanya masuk akal sejauh ini, lalu; sepertinya kekuatan utama penghalang tersebut adalah untuk menyerang.

“Raphtalia, Glass, penghalangnya mungkin terlihat seperti untuk bertahan, tetapi sebenarnya itu digunakan untuk serangan. Saat seranganmu saling berbenturan, kekuatan kehidupan mungkin membuat perbedaan,” Kataku.

“Baiklah! Aku akan mencobanya!” Kata Raphtalia.

“Oke,” Tegas Glass.

“Hei... Aku juga tidak bisa hanya berdiam diri dan menonton,” Kata kakak perempuan S’yne, berbicara tanpa peduli dengan situasinya, dan kemudian mengeluarkan... sesuatu. Sesuatu yang tampak seperti bola bundar, yang kemudian dia lempar. Sesuatu yang lain muncul dari dalam. Itu adalah sesuatu yang telah disatukan dari tubuh singa dan kepala sapi. Setelah diperhatikan secara seksama, aku melihat ada batang baja seperti penutup mata, dengan dua cahaya merah yang mirip seperti mata. Area dadanya juga ditutupi oleh armor metal serupa. Nama makhluk itu... Artificial Behemoth. Binatang buas itu menggeram, mengeluarkan awan nafas seperti miasma saat mendarat. Ia melihat sekeliling dan segera mengarahkan pandangannya pada kami. 
<TLN: Miasma=Polusi, lebih jelasnya ke wikipedia Teori Miasma>

“Sekarang, habisi mereka!” Perintah kakak perempuan S’yne. Makhluk buas itu langsung menerimanya, memancarkan niat membunuh dari seekor hewan buas, saat ia mendekat ke arah kami dengan geraman yang jauh lebih antusias dari sebelumnya. Beberapa saat berikutnya, ia melompat ke arah kami! Hewan ini cepat!

“Formation One, Formation Two, Formation Three: Glass Shield!” Teriakku, dengan cepat memasang beberapa Glass Shield saat melompat kedepan untuk melindungi Raphtalia dan Glass. Namun, Artifcial Behemoth mengabaikannya sepenuhnya, menghancurkan semua pertahananku dan melompat langsung ke arahku. Dia terus saja menghancurkan bahkan Stardust Mirrorku dengan sekejap.

Kami bertiga tersentak dan mengumpat saat ia mendekat. Dia sangat cepat sehingga kami tidak bisa mengikuti. Dan pasti kami tidak bisa bereaksi tepat waktu. Aku bisa melihatnya datang, tetapi tubuhku tidak merespon! Aku menggunakan kekuatan kehidupan untuk mendorong tubuhku hingga batasnya dan aku masih terlalu lambat.

Kami terlempar, terbang di udara, tetapi sebelum kami menghantam dinding… Kami melayang di udara. Itu adalah perasaan yang ringan dan lembut.

“Lihatlah kalian. Kami meninggalkanmu sendirian beberapa menit dan kalian terlibat dalam semua masalah ini.”

“Master, apa kau baik-baik saja?”




TL: Hantu
EDITOR: Isekai-Chan

Senin, 24 Mei 2021

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria Light Novel Bahasa Indonesia Volume 7 Chapter 3

Volume 7
Chapter 3


“Jadi, kemana saja kau selama ini, hmm?” Petugas polisi menanyakan pertanyaan ini kepada Yuuto, pria setengah baya dan nampak baik, duduk di seberang Yuuto dengan siku di atas meja dan kedua tangannya terlipat.

Cara berbicaranya tidak mengancam, tetapi ada sesuatu dalam suaranya yang menunjukkan bahwa dia tidak menerima diam sebagai jawaban. Mungkin inilah aura yang dimiliki seorang polisi veteran.

Dan untuk lokasi Yuuto saat ini, ruang interogasi dengan dinding abu-abu yang suram... tidak, sama sekali berbeda. 

Sebaliknya, dia berada di tempat dengan furnitur seperti yang mungkin ditemukan di beberapa gedung perkantoran normal, meja kerja dan kursi murah yang diproduksi secara massal. Dia duduk di kursi sofa tamu di pojok ruangan.

Yuuto tidak benar-benar melakukan kejahatan nyata, jadi dia telah diserahkan ke Divisi Remaja dari Biro Keamanan Komunitas, Departemen Kepolisian Hachio.

Rupanya, pada awal saat Yuuto menghilang, itu telah menjadi berita yang cukup besar untuk disiarkan oleh TV lokal dan masuk ke surat kabar. Tentu saja, di era modern seperti sekarang ini, cerita tersebut segera luntur dari trending dan terlupakan. Tetapi secara kebetulan yang aneh, salah satu karyawan di department store itu mengenali wajah Yuuto, dan menelepon polisi.

Seseorang pasti bisa menyebut itu tindakan warga negara teladan yang baik, tapi bagi Yuuto, sejujurnya, niat baik itu hanyalah menimbulkan masalah.

"Ini bukan sesuatu yang benar-benar perlu saya sembunyikan, dan saya pasti ingin membicarakannya, tapi jujur, saya tidak yakin anda akan mempercayai saya, Pak," kata Yuuto sambil menyeruput tehnya.

Itu hanya teh matcha murahan, tapi rasanya memberinya sensasi nostalgia.

"Itu adalah sesuatu yang kita bisa putuskan setelahnya," kata petugas itu. “Untuk saat ini, mengapa kau tidak memberi tahu kami semua yang bisa kau katakan?”

"Mmm, kalau begitu ... Yah, saya bukan menghilang, namun pergi ke dunia lain."

"Dunia lain?"

“Ya, dunia yang berbeda dari bumi, yang disebut Yggdrasil.”

Saat Yuuto menyelesaikan pernyataan itu, dia mempertimbangkan apakah akan lebih baik untuk mengatakan bahwa dia mengalami 'pergeseran waktu' ke dunia masa lalu, tetapi menyimpulkan bahwa itu adalah 'dunia lain' merupakan pilihan terbaik.

Bahkan jika dia mengatakan itu adalah dunia di masa lalu, dia tidak tahu tanggal atau lokasinya dengan tepat. Jika dia ditanyai detail tentang hal itu, dia tidak akan bisa menjawab, dan itu akan memudahkan mereka untuk menyebut bahwa cerita tersebut adalah kebohongan.

Tentu saja, "Aku pergi ke dunia lain" sama mudahnya dengan menyebut hal tersebut sebagai kebohongan.

“Ahh, aku tahu tentang itu, genre isekai sedang populer di novel saat ini. Hei, terkadang aku membacanya juga. Maksudmu itu kan?" Ucap pria paruh baya sambil mengangguk.

Seperti yang diharapkan, dia sama sekali tidak mempercayai Yuuto.

"Ha ha, yah, itu reaksi normal." Yuuto memberikan tawa kecil yang mencela dirinya sendiri, dan mengangkat bahu. Sebenarnya, ini sesuai dengan harapannya.

"Uh huh. Kami melakukan ini untuk mencari nafkah. Sekarang, Aku sangat ingin mendengar kisah sesungguhnya darimu. Kau bisa memberi tahu kami, tidak perlu menahan diri karena kesombongan atau semacamnya. Itu akan membuat segalanya lebih mudah bagi kita, dan kau dapat pulang dengan cepat tanpa harus duduk di sini dan membuat diskusi membosankan dengan kami lagi. Kau tahu, itu akan membuat kita berdua saling untung."

“Ya, saya setuju dengan Anda di bagian itu, Pak,” kata Yuuto. “Itulah mengapa saya mengatakan yang sebenarnya, tetapi jika hasilnya seperti ini, saya mulai berpikir bahwa akan jauh lebih cepat jika saya berbohong. Seperti, saya pergi berkeliling beberapa negara asing untuk sementara waktu - cerita itu jauh lebih bisa dipercaya, bukan? ”

“Hei, hentikan itu! Jangan remehkan polisi, atau kau tidak akan menyukai apa yang terjadi!” Amarah tiba-tiba datang dari seorang polisi muda yang duduk di sebelah polisi pertama. Dia telah diam sampai sekarang, tapi tiba-tiba meninggikan suaranya dengan penuh mengancam.

Menurut pandangan masyarakat normal, Yuuto telah melarikan diri dari rumah, keberadaannya tidak diketahui, selama hampir tiga tahun. Itu mungkin tidak membuatnya menjadi kriminal, tapi itu berarti dia tidak akan diperlakukan sebagai warga negara normal yang taat hukum.

Untuk saat ini, aku senang setidaknya bisa meyakinkan Mitsuki untuk pulang terlebih dahulu. Memikirkan ini, Yuuto tersenyum lembut.

Gadis itu menjadi sangat ceroboh dan berani ketika berkaitan dengan Yuuto, jadi jika dia ada di sini dan menyaksikan adegan ini, dia mungkin mencoba menyela dan membuat segalanya menjadi lebih rumit.

Sayangnya, senyum kecil Yuuto mengejutkan petugas polisi yang lebih muda itu.

"Apa yang lucu?! Apakah kau mencoba membuat lelucon kepada petugas hukum?!” Petugas itu membanting telapak tangannya dengan keras ke meja, dan wajahnya menjadi semakin marah.

Dia bertubuh kekar, seolah-olah dia berlatih semacam seni bela diri atau olahraga pertarungan, dan lengan berototnya dua kali lebih tebal dari Yuuto.

Secara alami, pria ini pastinya memiliki keyakinan pada kekuatan fisiknya, itu tertulis di seluruh wajahnya.

Namun...

Hmm... tanpa senjata, Felicia tentunya lebih kuat. Yuuto membuat analisis yang tenang dari potensi tempur petugas itu.

Ototnya sendiri besar, tapi Yuuto tidak merasakan aura kekuatan tertentu seperti prajurit terkuat yang dia temui di Yggdrasil.

Yuuto sendiri tidak akan bisa menjatuhkan pria itu dalam pertarungan langsung, tentu saja. Tapi di sisi lain, jika dalam situasi ‘boleh menggunakan apapun', Yuuto tidak akan ragu melawannya.

“Tenanglah, Saki! Jangan menakut-nakuti anak itu!" Petugas paruh baya itu mengangkat tangan untuk menenangkan rekannya yang sedang marah.

"Rgh, jika kau berkata begitu, Asamiya-san ..." Petugas yang lebih muda dengan enggan duduk kembali di sofa seberang.

Setelah melakukan ini, petugas paruh baya itu kembali menatap Yuuto sambil tersenyum. “Maaf tentang itu, Suoh-kun. Bantu kami dan jangan terlalu memprovokasi orang ini. Dia sedikit pemarah. Ngomong-ngomong, ini sudah waktunya makan siang, kau pasti lapar, bukan? Ingin makan sesuatu? Aku traktir."

Senyuman petugas paruh baya itu ramah, tapi indra tajam Yuuto menariknya ke mata pria itu, yang tidak benar-benar tersenyum sama sekali.

Dari dalam mata itu, dibalik senyuman palsu tersebut, Yuuto bisa merasakan dia memperhatikan setiap gerakan kecilnya, tidak melewatkan apapun, dan mengubahnya menjadi informasi.

Ia benar-benar profesional.

Di satu sisi, pria ini sedikit mengingatkan Yuuto pada Patriark Klan Cakar, Botvid. Tentu saja, yang terakhir lebih terampil beberapa tingkat.

Begitu, pikir Yuuto. Jadi inilah penerapan peran "Polisi Baik, Polisi Jahat" yang sebenarnya.
<EDN: Jadi ini adalah sebuah teknik interogasi, dimana biasanya ada 2 orang polisi yang memainkan peran polisi baik, dan polisi jahat. Ketika polisi jahat memarahi pelaku, si polisi baik akan membuat dirinya terlihat bagus dimata pelaku dan membuat si pelaku menurunkan kewaspadaannya agar lebih mudah memberikan informasi>

Itu adalah teknik negosiasi yang juga digunakan Yuuto melawan Patriark Klan Tanduk Linnea selama pertemuan pertama mereka.

Sekarang setelah digunakan pada dirinya sendiri, dia bisa melihat betapa mudahnya dia dimanipulasi oleh perilaku baik dari 'polisi baik' jika dia tidak tahu tentang teknik itu sebelumnya.

“Hmm ... kalau begitu, bisakah aku mendapatkan katsudon?” Yuuto membuat permintaannya tanpa ragu. "Aku sudah lama tidak makan nasi, aku benar-benar menginginkannya sekarang."

Dia sudah menunggu tiga tahun untuk memakan makanan favoritnya. Pada titik ini, dia yakin dia bisa dimaafkan karena mengikuti permainan kecil mereka dan mendapatkan traktiran darinya.

"... Kau benar-benar terlihat tenang, Nak," kata petugas paruh baya. “Kau tahu, biasanya, ketika seseorang seusiamu diseret oleh polisi, mereka meringkuk menjadi bola kecil, atau mereka bertingkah laku seperti orang yang keras kepala."

Saat dia mengatakan ini, dia menunjuk dengan ibu jarinya ke petugas muda yang duduk di sebelahnya.

“Ditambah, kau bahkan dihadapkan dengan pria bertampang galak ini di depanmu. Namun kau tidak bereaksi sedikit pun. Kau duduk di sana dengan tenang seperti tidak ada yang salah dengan semua ini. Kau punya saraf baja, bukan?”

"Hah?" Kata Yuuto. “Tidak, sebenarnya tidak begitu. Mungkin hanya karena saya merasa tidak melakukan hal buruk.”

... Di dunia ini setidaknya, Yuuto menambahkan di kepalanya, sedikit getir.

Bagaimanapun juga secara tidak langsung hal itu mungkin terjadi, dia menyadari fakta bahwa dia sekarang tangannya sudah berlumuran darah. Dia tidak menyesalinya, karena tanpa melalui jalan itu, dia tidak akan bisa melindungi Rakyatnya, Keluarganya.

"Menurutku kabur dan membuat orang tuamu khawatir tidak termasuk perilaku dari masyarakat normal, bukan?" tanya petugas itu dengan gagah.

"Oh, dan apakah polisi saat ini melibatkan diri dalam urusan pribadi keluarga seseorang sebagai bagian dari pekerjaan mereka?" Yuuto menjawab dengan senyuman, tapi suaranya sedingin es.

Dia tahu bahwa itu memang bagian dari pekerjaan mereka, tetapi dia juga tidak ingin ada orang luar yang menerobos privasi hidupnya.

“Jadi kau akhirnya menunjukkan reaksi, dan inilah yang kudapat, ya?” Untuk beberapa alasan, senyum ramah petugas paruh baya itu membeku kaku, dan butir-butir keringat besar mulai muncul di wajahnya. Dia sebenarnya terlihat sedikit pucat juga, seperti sedang sakit.

Petugas yang lebih muda itu tampak gemetar, dan melihat sekeliling, bergumam, "Apakah pengatur suhunya rusak?"

Yuuto tidak merasakan sesuatu yang aneh.

Saat Yuuto duduk di sana dengan kebingungan, seorang petugas wanita datang dari balik pembatas yang memisahkan sudut kecil tempat mereka berada.

"Permisi, Keluarga anak laki-laki ini ada di sini untuk menjemputnya. "

"Keluargaku?" Yuuto bertanya.

"Ya, ayahmu."

"...uhh."

Dia secara teknis telah menjadi orang hilang selama sekitar tiga tahun. Cukup wajar jika mereka menelepon keluarganya dalam situasi ini. Dia tidak bisa menyalahkan mereka untuk itu.

Meski begitu, dia tidak bisa berhenti berpikir, Kalian tidak punya hak untuk melakukan itu.

"Yah, sepertinya walimu ada di sini, dan untuk saat ini sepertinya tidak ada tindak kriminal dalam kasusmu." Petugas paruh baya memberikan penekanan ekstra pada bagian `untuk saat ini`, tapi dia melambaikan tangannya pada Yuuto, mengabaikannya. "Kau bebas pergi. Pulanglah, dan pastikan untuk melakukan pembicaraan pribadi yang panjang tentang berbagai hal, seperti yang kau inginkan.”

Sementara petugas itu kembali mengeluarkan senyumannya, Yuuto berpikir dia tampak sedikit lebih tegang dari sebelumnya. Dia merasa bahwa pria itu jauh lebih waspada terhadapnya.

"Benar, baiklah kalau begitu..." Yuuto dengan ringan menundukkan kepalanya, lalu berdiri.

Dia tidak akan mendapat apapun dengan tetap tinggal dan berbicara dengan orang-orang ini.

Dia memutuskan untuk segera pergi, meskipun itu menjengkelkan karena dia hanya bisa melakukan itu berkat ayahnya.

Begitu Yuuto tidak terlihat, Polisi yang lebih muda, Petugas Saki, membanting tangannya ke atas meja dengan penuh emosi. “Dia anak pintar yang nakal, bukan?”

Dia secara reflek melontarkan kata-kata itu.

Saat di masa kuliahnya, dia menjadi bagian dari klub kejuaraan Judo, dan dia telah dikenal sebagai iblis dalam jabatannya sebagai kapten, menimbulkan rasa takut pada anggota junior klubnya sendiri.

Bahkan sekarang, setiap kali dia bertemu dengan mantan rekan satu klubnya, mereka mengambil posisi bertahan bahkan sebelum dia mengucapkan sepatah kata pun.

Namun anak laki-laki itu tidak menunjukkan sedikitpun ketakutan terhadap Saki, yang membuatnya sedikit kurang senang.

"Nakal? Apakah tindakan itu terlihat nakal bagimu?" Sebaliknya, rekan paruh baya-nya, Petugas Asamiya, tampak benar-benar kelelahan, menyandarkan punggungnya dengan berat ke sofa kantor dan menyeruput teh segar yang dituangkan oleh salah satu wanita dikantor untuknya.

“Tentu saja. Memangnya kata apa yang pantas menggambarkan sikap seperti itu?!”

Asamiya menurunkan cangkir tehnya dan menghela nafas panjang sebelum berbicara kembali. “Hahh. Saki, kau bilang ingin membidik Divisi 1 Investigasi Kriminal, bukan?”

Divisi 1 departemen kepolisian adalah bagian dari Biro Investigasi Kriminal mereka, dan yang menangani investigasi kejahatan terburuk dan paling serius: pembunuhan, perampokan bersenjata, penyerangan, penculikan, dan sebagainya. Untuk seorang polisi yang ingin menjadi detektif, itu adalah panggung yang sempurna.

"Ah. Ya, Pak," kata Saki. "Aku ingin memanfaatkan kekuatan yang telah kubangun sampai sekarang."

“Heh! Perkelahian dan adu tembak yang kau lihat dalam drama detektif sebenarnya tidak banyak terjadi, kau tahu. Tapi memang benar, itu masih pekerjaan yang berbahaya. "

"Ya pak."

“Kalau begitu, berusahalah meningkatkan kemampuanmu untuk merasakan bahaya lagi.” Asamiya menandai ini dengan tatapan tajam pada Saki. Tidak seperti mata ramah yang dia tujukan pada Yuuto sebelumnya, ini adalah tatapan tajam yang sepertinya menembus tepat melalui targetnya.

Saki menelan sekali sebelum menjawab. “Apa sebenarnya yang kau maksud, Pak? Apakah anak laki-laki itu benar-benar berbahaya? "

"Ya. Jangan tertipu oleh penampilannya. Anak itu adalah kabar buruk, tidak salah lagi." Asamiya menggulung lengan baju kanannya. Otot lengannya langsung menonjol, juga memperlihatkan bulu yang agak tebal.

Dan ada hal lain yang menonjol.

“Perhatikan baik-baik. Merindingku masih belum mereda. Bajingan kecil itu membiarkan sedikit amarahnya keluar, dan inilah yang terjadi. Kau merasakan sesuatu juga, bukan? Perasaan merinding yang tiba-tiba? "

“O-oh, itu. Aa ... Aku pikir pendingin ruangannya rusak atau semacamnya."

"Dasar bodoh!" Asamiya menusuk dahi Saki dengan satu jari. “Itu sebabnya aku bilang kau perlu melatih indramu!”

Petugas paruh baya menggeleng, jengkel.

“Tentu, aku mungkin bekerja di sini, di Biro Keamanan Komunitas sekarang. Tapi kau sedang berbicara dengan seorang pria yang menghabiskan dua puluh tahun di Divisi 4 Investigasi Kriminal, berurusan dengan kejahatan terorganisir. Aku sudah berkali-kali bertemu dengan bos yakuza, secara langsung. Tapi anak itu ... dia bahkan membuat para elite Yakuza itu terasa seperti semut jika dibandingkan."

"Se-Separah itu ...?" Saki benar-benar tidak bisa mempercayai hal itu.

Sebagian dari dirinya berpegang pada gagasan bahwa mungkin naluri Asamiya sedang tidak aktif.

Tapi di sisi lain, Asamiya sebenarnya adalah veteran Divisi 4 Biro Investigasi Kriminal. (Meskipun, saat ini, divisi tersebut telah bercabang menjadi departemen tersendiri, dan nama resminya telah diubah menjadi Biro Pengendalian Kejahatan Terorganisir)

Divisinya memiliki spesialisasi dalam menangani organisasi kriminal, dan keahliannya sedemikian rupa sehingga bahkan para elite yakuza dengan bawahan berjumlah ratusan pun mengawasinya dengan cermat.

Jika orang seperti itu bersikap tegas dalam penilaiannya, Saki tidak bisa begitu saja menyangkalnya.

Asamiya bergidik, mengingat adegan yang terjadi sebelumnya. “Itu pertama kalinya aku melihat seseorang dengan mata seperti itu. Neraka macam apa yang harus dilalui bajingan itu untuk menjadi seperti itu diusianya yang sangat muda?"

********

"Maaf, aku tahu ini mengurangi waktu kerjamu yang ‘berharga’." Yuuto memberikan penekanan yang cukup jelas pada kata-kata terakhir itu, menambahkan cibiran.

Dia tidak benar-benar merasa menyesal; Dia hanya menggunakan kesempatan ini untuk mengejeknya, karena disaat almarhum ibunya terbaring dalam kondisi kritis, ayahnya lebih memprioritaskan pekerjaannya.

Dia sadar betapa kekanak-kanakannya tindakan ia saat ini, tetapi di depan ayahnya, dia tidak bisa menahan diri untuk mengambil sikap permusuhan seperti ini.

Ayahnya, sebaliknya, hanya mengatakan beberapa kata dan menunjuk ke arah truk. "Itu bukan masalah. Masuklah. Kita pulang.”

Itu adalah truk putih kecil yang sama seperti tiga tahun lalu.

Hanya memikirkan duduk di ruang kecil itu berdua dengan ayahnya membuat Yuuto merasa seperti akan tercekik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan pulang sendiri”

"Masuk saja. Ada sedikit hal yang perlu kita bicarakan."

"Bicarakan?"

Ini agak tidak terduga. Yuuto mengira ayahnya tidak tertarik padanya - atau sebenarnya, pada konsep keluarga itu sama sekali.

"...Baik." Yuuto mengangguk dan duduk di kursi penumpang.

Ayahnya juga masuk, dan truk itu berangkat.

Yuuto tidak melihat ke arah ayahnya, malah melihat ke luar jendela. “Jadi, ada apa? Apa yang perlu dibicarakan? "

"Ini tentang apa yang akan terjadi selanjutnya," kata ayahnya. "Apa yang kau rencanakan? Apakah kau akan kembali ke sekolah?"

“... Oh. Um.” Sejujurnya, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu.

Kembali ke Yggdrasil, pikirannya telah terfokus sepenuhnya untuk mencoba kembali ke rumah. Apa yang akan dia lakukan setelah itu terasa begitu jauh, itu tidak pernah benar-benar masuk ke dalam pikirannya.

“Musim ujian masuk sudah lama berlalu,” kata ayahnya. "Jika kau ingin segera kembali bersekolah, kau harus melakukannya di tempat khusus seperti sekolah malam paruh waktu."

"......" Yuuto tidak mengatakan apa-apa. Tiba-tiba, kenyataan terlempar di wajahnya.

Dia punya rencana samar di benaknya untuk mulai bersekolah di sekolah yang sama dengan Mitsuki. Tapi sekarang, setelah benar-benar memikirkannya, jika dia tidak dikirim ke Yggdrasil, dia akan berada di tahun kedua SMA.

Ada juga permasalah mengenai tahun-tahun belajarnya yang hilang, kesenjangan dalam studinya, dan perbedaan usia. Sudah terlambat bagi seseorang sepertinya untuk kembali menjalani kehidupan siswa normal.

Sekali lagi, dia merasakan beban dari tiga tahun waktu yang telah berlalu.

“Atau apakah kau akan mulai bekerja?” ayahnya bertanya.

"Itu mungkin ide yang bagus."

Bersekolah berarti harus bergantung secara finansial pada ayahnya selama menjadi murid. Yuuto lebih suka menghindari hal itu.

Jika dia ingin menjadi mandiri sebagai prioritas pertamanya, maka mendapatkan pekerjaan dan penghasilan adalah cara tercepat untuk itu.

"Tapi tidak akan ada pekerjaan bagus di luar sana untuk seseorang yang bahkan belum lulus SMP." Kata-kata ayahnya sekali lagi mendorong kenyataan ke wajahnya.

Itu juga sepenuhnya benar; tidak ada ruang bagi Yuuto untuk membantah.

Jadi dia menjawab dengan nada acuh tak acuh. "Yah, itu mungkin akan berhasil entah bagaimana caranya."

“Masyarakat jauh lebih keras dari yang kau kira.”

“Aku yakin itu benar. Tapi aku akan baik-baik saja.”

Memang benar bahwa keadaan di sekitarnya, singkatnya, cukup sulit. Mungkin juga benar bahwa dia melihatnya dengan pandangan naif.

Tapi Yuuto telah terlempar lebih dulu ke dunia primitif di mana yang kuat menghancurkan yang lemah, dimana dia tidak dapat mengerti bahasa mereka, dan dia masih bertahan.

Dengan pengalaman yang mendukungnya, dia memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan yang memberitahunya bahwa dia akan mengatasi kesulitan apa pun.

“Tetap saja, kenapa tiba-tiba membahas hal ini?” Yuuto menambahkan. “Kau terdengar hampir seperti orang tua. Itu di luar karaktermu."

"Yah, secara teknis aku adalah orang tuamu."

“Hmph! Bo-bodoh Ibu adalah orang tuaku. Begitu pula seorang pria yang merawatku dengan baik selama tiga tahun, seorang pemimpin yang akhirnya aku sebut 'Ayah.' Hanya mereka dua orang tuaku. Bukan kau, pria yang meninggalkan Ibu."

"...Aku mengerti."

Percakapan terhenti.

Satu-satunya suara adalah suara mesin yang bergema di dalam kabin truk.

Mereka sampai di rumah segera setelahnya, perjalanan itu tidak terlalu lama.

Saat Yuuto turun dari truk, ayahnya berkata dia akan kembali bekerja dan pergi. Yuuto mendecakkan lidahnya saat dia memelototi truk yang melaju pergi, dan mengutuk, melontarkan kata-kata kasarnya.

“Setidaknya buat alasan yang lebih baik lagi, dasar bodoh.”

Begitu Yuuto sampai di rumah, dia menelepon Mitsuki untuk memberi tahu bahwa dia kembali dari kantor polisi, karena dia mungkin mengkhawatirkannya. Dia menyuruhnya untuk datang menemuinya di restoran terdekat.

Ini sempurna untuk Yuuto, yang masih belum makan siang, jadi dia langsung bersiap. Namun...

Mitsuki, sialan, kau menjebakku! Yuuto mengarahkan tatapan sedih pada teman masa kecilnya, duduk di sampingnya dengan kedua tangan terkatup, seakan meminta maaf.

Ia bersama gadis lain, sekarang duduk di seberang Yuuto.

“Heh! Oho! Hmm …" Gadis itu mengamatinya dari atas ke bawah seperti dia sedang menilai suatu produk. Yuuto tidak bisa mengelak tetapi rasanya sangat tidak nyaman.

Nama gadis itu adalah Ruri Takao, dan Mitsuki telah memperkenalkannya sebagai sahabatnya sejak SMP.

Saat itu terjadi, dia telah mengikuti Yuuto dan Mitsuki saat mereka pergi bersama ke Pusat Perbelanjaan, dan ketika Yuuto dibawa ke kantor polisi, dia menyeret Mitsuki ke restoran ini dan menghabiskan waktu bersamanya.

Rupanya Yuuto telah menelepon di tengah-tengah situasi itu. Bagi Ruri, itu merupakan kesempatan sempurna untuk membuat Yuuto masuk ke dalam perangkapnya.

Memikirkannya kembali sekarang, Mitsuki bertingkah sedikit aneh selama panggilan itu. Dia menyadarinya dan bergegas ke sini karena khawatir, tetapi dia justru terperangkap.

"Jadi ini pacar yang sering kudengar," Kata Ruri.

“T-tunggu, kita belum, menjadi—”

“Ohh, belum, benar. Belum!" Ruri mengulanginya dengan seringai jahat.

"Uuuuuugh..." Mitsuki merengek, wajahnya merah cerah, dan dirinya seakan menyusut.

Dia sudah kewalahan pada saat ini, jadi Yuuto tidak bisa mengandalkan bantuan apapun darinya dalam situasi ini.

Ruri menyeringai. "Hee hee hee, aku telah mendengar segala macam hal tentangmu dari Mitsuki."

"Oh, begitu." Balasan Yuuto benar-benar datar.

Di dalam, dia ingin tahu tentang hal-hal seperti apa yang telah dikatakan tentang dia, tetapi nalurinya yang ditempa di medan perang berbunyi seperti lonceng peringatan, memberitahunya bahwa dia seharusnya tidak bereaksi padanya.

"Jadi, bagaimana perasaanmu tentang Mitsuki?" Ruri terus berbicara, ingin terus menyudutkannya.

Pertanyaan itu keluar begitu tiba-tiba dan terus terang bahkan Yuuto tersentak kaget.

"Bagaimana...? Itu, um…" Yuuto kesulitan mengeluarkan kata-katanya, dan mencuri pandang pada Mitsuki.

Membuat pernyataan tentang perasaan yang sebenarnya tepat di depan pihak ketiga adalah tidak mungkin, bahkan sebagai lelucon.

“Mooo, Ruri-chan!” Teriak Mitsuki. “Ini pertama kalinya kau bertemu dengannya! Apa yang kau tanyakan tiba-tiba?!”

Wajah Mitsuki semerah apel, dan matanya berkaca-kaca. Tetap saja, Ruri tidak mempedulikannya.

“Yah kau tahu, setelah membuatmu menunggu selama tiga tahun penuh, sudah sepantasnya untuk memaksanya untuk mengatakan ow-ow-ow-ow!”

Tiba-tiba, Ruri disela oleh seorang wanita berambut pirang yang muncul dari belakangnya dan menarik telinganya dengan tajam.

“Maaf tentang itu. Dia sangat tidak sopan, bukan?" Sambil tetap menarik-narik telinga Ruri, perempuan pirang itu tersenyum manis.

Dia tampak berusia sekitar dua puluh tahun, kira-kira. Dia adalah seorang wanita cantik bertubuh langsing yang terlihat seperti versi Ruri yang lebih tua.

"Ow ow! Saya! Maafkan aku! Aku salah, oke? Lepaskan aku!"

“Bukan aku yang perlu dimintai maaf.”

"Uuugh ... Mitsuki, Suoh-san, maafkan aku," Ruri mengerang.

"Baik." Saya mengangguk puas dan akhirnya melepaskan telinga Ruri, lalu duduk di sampingnya.

Ruri menutup telinganya dengan tangan, bergumam, "Ughh, sakit ..." dengan air mata berlinang. Walaupun anggota keluarganya sendiri, itu tindakan tanpa kenal ampun.

Gadis cantik yang lebih tua mengangkat bahu, lalu menunjuk ke Ruri saat dia memperkenalkan dirinya. “Oh, aku Saya Takao, sepupunya. Senang bertemu denganmu."

“Um, kau adalah ... orang yang berpengalaman dengan arkeologi, bukan?” Yuuto bertanya. “Aku Yuuto Suoh. Biarkan aku mengucapkan terima kasih atas bantuanmu. Itu sangat membantu.”

“Hei, kau tahu sopan santun. Aku berharap sepupu kecilku ini bisa belajar satu atau dua hal darimu."

"Ahaha..." Tidak yakin bagaimana menanggapi itu, Yuuto hanya bisa tertawa.

“Aku selalu ingin memiliki kesempatan untuk berbicara langsung denganmu. Sekarang liburan musim semi, jadi aku kembali ke rumah, dan ternyata kau kembali pada waktu yang sama? Aku pikir ini kesempatan bagus. Kuharap kau tidak keberatan?”

"Tidak, sebenarnya sebaliknya," kata Yuuto. "Aku juga menginginkan kesempatan untuk berbicara denganmu."

“Hm. Kau memiliki aura yang sangat tenang untuk seorang remaja. Dan meskipun tenang, ada 'beban' tertentu yang bisa dirasakan dari dirimu. Kurasa itu yang diharapkan dari seseorang yang memerintah puluhan ribu orang di bawahnya." Dengan tangan di dagunya, Saya mengangguk seolah membenarkan sesuatu dalam pikirannya.

Yuuto hanya bisa mengangkat bahu dan tertawa kecut. “Aku pikir apa yang kau rasakan adalah sesuatu yang lebih mirip dengan efek plasebo, sebenarnya.”

"Hmm benarkah? Baiklah, kita akan berhenti di situ. Oh. Aku yang akan membayar untuk makanannya, jadi pesan saja apa pun yang kau suka. Jangan menahan diri, aku mungkin tidak terlihat seperti itu, tetapi sebenarnya dompetku memiliki kehidupan yang baik. "

“Ah, baiklah.” Atas desakan Saya, Yuuto melihat daftar menu.

Ruri telah menginterogasinya begitu cepat sehingga dia masih belum sempat memesan apapun.

Dia tidak terlalu tertarik pada gagasan orang membayar untuknya, tetapi dengan orang dewasa dan seorang wanita yang membuat pernyataan itu, sebagai orang yang lebih muda, sebenarnya tidak sopan dia menolak. Jadi Yuuto memutuskan untuk memanfaatkan kebaikannya dalam hal ini.

Saat dia memesan sesuatu secara acak dari menu makan siang, Saya membuka laptopnya.

“Nah, maukah kau menceritakan kisahmu padaku?” dia langsung bertanya. Sepertinya dia benar-benar siap untuk pembicaraan panjang.

Yuuto mengangguk. "Aku tidak masalah membicarakannya, tapi aku tidak yakin harus mulai dari mana."

"Tidak apa-apa jika kau memulainya dari awal."

"Baiklah kalau begitu..."

Dengan teh oolong dari restoran di tangan untuk memuaskan dahaganya, Yuuto mulai menceritakan kembali semuanya dari awal.

“Tepat setelah diriku dipanggil ke sana, aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi aku masih ingat dengan jelas rasa dingin dari bilah pedang Sigrún di tenggorokanku. Darahku menjadi dingin, seperti yang mereka katakan."

“Mm-hm, ya. Seperti yang diharapkan, ini jauh lebih nyata jika langsung kudengar darimu daripada orang lain." Saya membuat komentar kecil saat dia mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil mengetik keyboard laptopnya. Pada dasarnya, dia adalah seorang juru ketik.

Yuuto memang memiliki komputer desktop di rumahnya sendiri, tetapi bagi seseorang seperti dia yang hampir secara eksklusif menggunakan smartphone, melihat seseorang mengetik dengan sangat cepat dan rapi dari dekat benar-benar mengesankan.

"Hmm... perbedaan dari mitologi secara keseluruhan cukup banyak seperti yang kuprediksi sebelumnya, tetapi bagian terpenting, yang paling kontradiktif adalah yang benar-benar mengkhawatirkan." Jari-jari Saya berhenti mengetik dan mulai mengetuk meja secara berirama.

“Bagian paling penting, katamu?” Yuuto bertanya.

“Ya, saat kau dipanggil ke dunia itu ... dalam mitologi Norse, saat Fenrir ditangkap dan diikat oleh Gleipnir.”

"Iya...?"

“Dalam mitologi, Dewa Ásgarðr memutuskan untuk memenjarakan Fenrir, yang diramalkan akan membawa petaka bagi mereka. Mereka menggunakan rantai besi yang disebut Læðingr, namun rantai itu putus. Setelah itu, mereka menyiapkan rantai yang dua kali lebih kuat dari Læðingr, yang disebut Drómi, tapi Fenrir dengan mudah merusaknya juga.”

Kedengarannya seperti binatang buas yang tak terkendali dan mengamuk.

"Tapi kami kebetulan membicarakanmu," kata Saya. “Benar bukan, tuan 'Infamous Wolf Hróðvitnir?'”

Saya terkikik sedikit mendengar ini, tapi bagi Yuuto, rasanya cerita ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya, jadi lelucon itu terdengar datar.

Dia melanjutkan. "Jadi, artinya kita dapat menafsirkannya sebagai penjelasan bahwa beberapa upaya telah dilakukan untuk melakukan ritual pemanggilan, tetapi kau tidak berhasil dipanggil sebelumnya."

"Hmm, begitu."

“Maka para Dewa, setelah mencapai akhir dari kesabaran mereka, membuat rantai ajaib yang seluruhnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak ada di dunia ini, dan mereka menyebutnya Gleipnir. Yang lebih khusus lagi, itu dipersiapkan oleh pengikut Dewa Frey, Skírnir."

“Tunggu, Skírnir itu...!” Mata Yuuto melebar setelah mendengar kata yang familiar itu.

“Benar, itu adalah rune yang dimiliki ajudanmu Felicia. Ada beberapa yang berteori bahwa Skírnir adalah mata-mata yang bekerja untuk Surt juga, tapi mungkin kita bisa mengatakan bahwa tebakan itu tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh.”

“Hei, dia bukan mata-mata atau semacamnya.” Tanggapan Yuuto agak sebal. "Dia selalu berada di sisiku selama ini."

Felicia benar-benar baik dan setia padanya sejak saat tidak berdaya dan tidak berguna, diejek oleh orang lain sebagai "Sköll, Devourer of Blessings." Pada dasarnya, dia tidak bisa menerima pendapat apa pun tentang Felocia yang berperan sebagai mata-mata.

"Yah, pada titik itu, kita bisa memasukkan Yngvi Klan Kuda ke dalam persoalan dan menghasilkan beberapa teori," kata Saya, "tapi itu hanya akan membawa kita keluar jalur, jadi mari kita kesampingkan dulu untuk saat ini."

"Mendengarmu mengatakan itu hanya membuatku semakin memikirkannya."

“Untuk saat ini, izinkan aku melanjutkan pembicaraan tentang Gleipnir.”

"...Baik." Dengan enggan, Yuuto mengangguk.

“Jadi dengan Gleipnir, para Dewa Norse akhirnya berhasil menyegel Fenrir. Dan kau juga berhasil terikat ke dunia Yggdrasil. Sejauh ini ceritanya masuk akal, tapi setidaknya dari apa yang aku dengar darimu, satu elemen besar yang mutlak diperlukan untuk cerita ini hilang.”

“Sebuah elemen mutlak?”

"Yup, Dewa perang, Tyr. Ada kisah dalam mitologi di mana, untuk menangkap Fenrir, dia akhirnya mengorbankan lengan kanannya sendiri. Tapi dalam ceritamu, tidak ada yang menyerupai itu."

“Bisakah Ayah ... maksudku, bisakah Patriark sebelumnya, Fárbauti mengisi peran itu? Wakilnya, atau dengan kata lain tangan kanannya, Loptr, dia ... "

“Mm-hm, aku juga memikirkan kemungkinan itu, tapi sepertinya tidak cocok. Tyr adalah dewa tingkat tertinggi di jajaran Norse, oke? Dan, maaf jika ini tidak sopan, tapi Pendahulumu, paling-paling hanyalah kepala klan kecil bukan?"

“Tingkat tertinggi? Bukankah Odin adalah dewa utama dalam mitologi Norse?" Yuuto tidak terlalu familiar dengan mitologi, tapi bahkan dia tahu itu.

“Ya, dia ada dalam versi mitologi Norse yang diwariskan hari ini. Tetapi pada periode paling awal dalam sejarah mitologi, Tyr adalah dewa hukum, kemakmuran, dan perdamaian, dewa tertinggi. Setelah itu, ada era peperangan sengit yang panjang, dan di tengah-tengah itu, mayoritas beralih ke Odin, dewa peperangan. Tyr direduksi menjadi dewa yang lebih rendah, dewa tentara."

"Dunia para dewa terdengar seperti dunia masyarakat yang kejam," kata Yuuto, meringis.

Dan karena dia telah menyebutkan nama itu sebelumnya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengingatnya lagi. Loptr pada awalnya akan mewarisi gelar dan posisi Patriark Kedelapan dari Klan Serigala. Tapi orang yang memotong takdir itu adalah Yuuto.

"Kau benar," kata Saya. “Pada akhirnya, para dewa adalah ciptaan manusia, jadi bisa dibilang mereka menderita kesalahan dan konsekuensi yang sama seperti di dunia manusia.”

Percakapan berlangsung lama.

Yuuto akhirnya menyelesaikan ceritanya.

“... Jadi, ketika wanita Sigyn ini menggunakan seiðr Fimbulvetr padaku, sebelum kau menyadarinya, aku berada di kamar Mitsuki, dan begitulah akhirnya aku sampai di sini. Dan, begitulah. "

Setelah selesai berbicara, Yuuto menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam.

Dia mencoba menceritakan kisahnya dengan ringkas, tetapi meskipun demikian, sudah lebih dari empat jam sejak dia mulai berbicara. Dia sangat lelah.

"Hm, terima kasih," kata Saya. "Itu semua sangat menarik."

Menyelesaikan pengetikannya dengan satu hentakan keras jari manisnya pada tombol enter, Saya mengulurkan tangan ke atas, meregangkan tangannya.

“Tidak, terima kasih telah meluangkan waktu untuk mendengarkanku.” Yuuto menundukkan kepalanya ke arahnya dalam-dalam.

'Aku pergi ke dunia lain dan hidup sebagai raja' adalah cerita yang benar-benar konyol, dan dia menganggapnya serius, mendengarkan semuanya dan mencatatnya sepanjang waktu. Yuuto sangat berterima kasih padanya.

"Kau tidak perlu berterima kasih padaku," kata Saya. “Pada akhirnya, bahkan setelah mendengar semua itu, aku masih tidak bisa menunjukkan di mana atau pada masa apa kau berada.” Dia meletakkan tangan ke mulutnya, mengerutkan kening sambil berpikir.

"Jika kau tidak bisa mengetahuinya, maka ..." Yuuto menghela nafas, merasa sedikit tertekan pada kesimpulan itu.

Dia benar-benar ingin tahu persis di mana dia berada dan pada masa apa. Tentu saja, itu karena dia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi kemudian dalam sejarah.

Dia ingin semua orang di Klan Serigala dapat hidup damai.

Jika itu memungkinkan... tetapi jika mereka mengikuti alur mitologi Norse, maka dalam waktu dekat, perang besar yang setara dengan akhir dunia akan terjadi. Kecemasan terus tumbuh dalam dirinya.

"Berdasarkan ras, bahasa, kepercayaan spiritual, pakaian, dan sejenisnya, aman untuk berasumsi bahwa itu terjadi di suatu tempat di wilayah Eropa Timur, tetapi geografi wilayahnya jelas berbeda." Saya mulai mengetik lagi.

Dia memiringkan layar laptopnya agar Yuuto dan yang lainnya bisa melihatnya. Dia memamerkan peta benua Eropa.

Yuuto telah menatap peta seperti ini berkali-kali di smartphone-nya, tapi melihatnya di monitor komputer yang lebih besar membuatnya lebih mudah untuk dibaca.

Yuuto mulai menelusuri garis lintang 53 derajat dari kiri ke kanan. "Itu benar. Seharusnya ada tiga pegunungan yang sangat besar, tapi ... "

“Tidak ada satupun yang seperti itu, bukan?”

"Benar ..." Area yang dia telusuri dengan jarinya adalah dataran hijau yang luas.

Tidak ada warna coklat tua yang digunakan untuk menunjukkan pegunungan tinggi.

“Jika kita pergi ke timur sejauh China, maka ras orangnya tidak cocok, dan jika kita pergi ke Amerika Utara, ada pegunungan, tetapi lautan berada tepat di sebelah barat mereka,” dia merenung. "Di dunia tempatku berada, di sebelah barat barisan pegunungan adalah area daratan yang luas dengan wilayah seperti Álfheimr dan Vanaheimr."

"Penuh misteri seperti biasanya," Saya setuju. “Ini adalah pertanyaan mendasar, tapi menurutmu apakah kau salah perhitungan saat mencari tahu garis lintangmu?”

"Aku juga curiga, dan menelitinya berulang kali."

"Hmm ..."

“Maksudku, jika kita pergi ke garis lintang 45 derajat, mungkin ada Pegunungan Alpen.”

“Tidak, dari apa yang kamu katakan padaku, topografi pegunungan Alpen jelas berbeda ... hm?” Saya membeku.

Tiba-tiba, dia menatapnya dengan mata menyipit, begitu intens sehingga Yuuto mundur selangkah, tapi sepertinya dia bahkan tidak melihatnya.

“Pegunungan Alpen ... 'álfkipfer' ... jadi begitu. Jadi begitulah. Semuanya sudah jelas. Jika kita menganggapnya bukan 9.000 tahun tetapi 900 tahun, maka itu akan lebih sesuai dengan zamannya."

Saya bergumam pada dirinya sendiri dan tampaknya setuju dengan hipotesisnya, tetapi Yuuto dan yang lainnya benar-benar tidak mengerti.

“Um, Saya-san?” Yuuto bertanya.

"Ah!" Saya tersentak dan kembali ke laptopnya, mulai mengetik dengan kecepatan tinggi seolah kesurupan. Dan dengan cepat dia membanting layar laptopnya hingga tertutup dan berdiri.

“Ada sesuatu yang harus aku periksa, jadi aku akan pergi! Ini untuk pembayarannya! Bye! "

Dia mengeluarkan kartu dari dompetnya dan membantingnya ke meja, lalu berjalan melewati kasir dan keluar dari restoran.

Itu adalah jenis perilaku yang random, 'berbaris mengikuti irama sendiri' seperti yang diharapkan dari seorang jenius.

◆◆◆

"Apa?! Tadi malam Klan Panther melancarkan serangan terhadap Klan Serigala... dan menghancurkan mereka ?!” Steinþórr berteriak.

Patriark Klan Petir terkejut hingga mengulangi kembali berita yang baru saja dibawa oleh orang kepercayaannya Þjálfi kepadanya, karena itu sama mengejutkannya seperti sambaran petir dari langit biru cerah.

Steinþórr adalah seorang pria berusia sekitar dua puluh tahun, dengan penampilan dan perilaku yang masih agak kekanak-kanakan dan kasar, tetapi terlepas dari itu, Einherjar ini adalah satu dari hanya dua orang di seluruh Yggdrasil yang memiliki rune ganda. Dan di seluruh negeri, tidak ada yang bisa dibandingkan dengan kekuatan dan keberaniannya di medan perang. Dia ditakuti sebagai seorang jenderal pejuang yang bisa dianggap pasukan tersendiri.

Tetapi bahkan prajurit menakutkan yang dikenal sebagai Dólgþrasir, Battle-Hungry Tiger ini telah dengan mudah dikalahkan oleh seorang pria, dan bahkan dengan Klan Panther yang bertarung bersamanya, Pria itu baru saja berhasil menahan serangannya.

“Sampai Suoh-Yuuto benar-benar dikalahkan dengan begitu mudah... apa kau yakin ini bukan kebohongan ?!”

Dalam pertempuran sebelumnya, kedua klan bekerja sama untuk menyerang Klan Serigala, dan bahkan menyerang mereka saat mereka tidak menduganya, dan masih belum bisa mengalahkan mereka. Sulit dipercaya bahwa Klan Serigala yang bertahan akan dikalahkan oleh Klan Panther yang bertindak sendirian.

“Ya, aku juga bertanya-tanya apakah itu mungkin disinformasi, tapi sepertinya tidak salah lagi,” kata Þjálfi.

“Kau bercanda ... Suoh-Yuuto seharusnya waspada terhadap serangan malam hari. Bagaimana mereka bisa?”

Hveðrungr adalah seorang jenderal yang hebat, itu benar. Dia adalah tipe orang yang bisa menyerang kelemahan sekecil apa pun begitu musuh mengungkapkannya, dan memiliki obsesi akan kemenangan yang tidak dimiliki Steinþórr, bersamaan dengan pikiran logis dan tanpa keraguan. Dia adalah pria yang tidak bisa dianggap remeh.

Meski begitu, Steinþórr tidak bisa memahaminya.

Dia tahu di kepalanya bahwa kemenangan dan kekalahan adalah masalah yang biasa terjadi dalam perang, bahwa tidak ada komandan yang bisa memenangkan seratus persen pertempuran mereka, tapi... Þjálfi berkata, “Ada sesuatu yang membuat para prajurit Klan Panther ribut. Mungkin ini berhubungan.”

"Apa? Katakan padaku." Steinþórr dengan tidak sabar memberi isyarat dengan dagunya.

"Yah. 'Suoh-Yuuto sudah menghilang. Tanpa panglima tertinggi mereka, tidak ada lagi yang perlu kita takuti dari Klan Serigala.'”

"Hilang?" Steinþórr mengulangi. "Apa artinya?"

"Sayangnya, aku tidak tahu."

“Saudaraku yang memakai topeng terkutuk! Dia sebaiknya tidak membunuhnya." Steinþórr mengucapkan kata-katanya, dan melemaskan jari-jarinya.

Tentu saja, dengan kepergian Yuuto, dapat dipahami bahwa Klan Serigala akan menderita kekalahan besar setelahnya. Namun, meskipun hal-hal seperti ini terjadi dalam perang, ini adalah kekecewaan yang luar biasa.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan mulai sekarang?” Þjálfi bertanya.

"Kita akan bergabung dalam serangan ke Gashina," geram Steinþórr. “Lagipula, kita tidak bisa membiarkan Klan Panther melakukannya sendiri.”

Benteng Gashina awalnya berada di bawah kendali Klan Petir. Mereka tidak bisa kembali ke ibu kota klan mereka Bilskírnir tanpa setidaknya merebut kembali itu.

Yuuto sering menyebut Steinþórr sebagai 'si idiot' tapi kenyataannya, dia bukan sekadar orang idiot. Ketika sampai pada masalah perang, Steinþórr memahami hal-hal yang penting saja.

Steinþórr menggaruk kepalanya, lalu mendesah dan bergumam pada dirinya sendiri dengan setengah hati.

“Tapi, sejujurnya, aku sudah benar-benar merasa tidak bersemangat lagi.”

Sementara itu, diruangan komandan di Benteng Gashina, Olof sedang memeras otak tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia telah ditunjuk untuk menggantikan Yuuto yang absen sebagai Panglima dari Tentara Klan Serigala, tapi situasi ini membuatnya bingung.

Kerugian besar dari pertempuran terakhir mereka telah memberi sejumlah besar korban, dan moral pasukan sangat rendah.

Selain itu, struktur Benteng Gashina sendiri telah rusak di beberapa tempat selama pertempuran sebelumnya dengan Klan Petir untuk menguasai benteng, dan kemampuannya untuk berfungsi sebagai benteng pertahanan berkurang secara dramatis.

Persediaan makanan di gudang di sini juga telah diambil oleh musuh saat itu.

Tentara Klan Serigala telah mengangkut makanan bersama dengan formasi mereka, tetapi bahkan sebagian besar telah disita oleh musuh dalam kekacauan setelah kekalahan mereka di medan perang. Apa yang tersisa tidak bisa bertahan lama.

Mereka pastinya tidak bisa bertahan dalam pengepungan yang lama dengan kondisi seperti ini.

Tentu saja, Klan Petir memiliki Steinþórr dan Rune Mjǫlnir, Shatterer, dan Klan Panther memiliki trebuchet. Dengan senjata penghancur seperti itu di pasukan musuh, Olof tidak membayangkan dia bisa bertahan lama melawan mereka.

“Haruskah kita meninggalkan Gashina dan lari?” Olof bergumam sendiri dengan ekspresi bermasalah.

Klan Panther telah menyiapkan formasi di celah gunung sempit di dekatnya, tetapi masih ada rute memutar, mengelilingi pegunungan, yang telah digunakan Klan Serigala selama strategi 'memancing harimau dari sarang gunung'. 

Klan Panther belum sepenuhnya mengepung daerah itu, jadi mereka bisa mencoba melarikan diri menggunakan rute itu.

Namun...

“Bisakah kita melarikan diri dengan sukses?” Olof kembali mengerang.

Pasukan Klan Serigala sebagian besar terdiri dari infanteri. Sementara itu, pasukan Klan Panther seluruhnya terdiri dari kavaleri. Perbedaan dalam mobilitas pasukan mereka sangat besar.

Dengan kata lain, bahkan jika mereka berhasil lewat, musuh bisa mengejar mereka.

Sudah diketahui dengan baik bahwa sebagian besar pembunuhan dalam pertempuran datang dari setelah pertarungan awal diputuskan, dengan meluncurkan serangan lanjutan terhadap pihak yang kalah saat mereka mundur. 

Dengan cara yang sama, tentara dalam perang menderita korban terbesarnya jika diserang saat melarikan diri.

“Akankah lebih baik jika kita berkomitmen untuk tetap berada di sini, dan memberikan lebih banyak kerugian kepada musuh kita?” Olof bertanya-tanya dengan lantang. “Apakah itu hal yang lebih baik untuk dilakukan bagi Klan Serigala dalam jangka panjang?”

Namun, itu membawanya kembali ke fakta bahwa pasukan Klan Serigala penuh dengan banyak cedera saat ini, dan moral telah menguap, tidak dalam posisi untuk bertarung secara efektif.

Pilihan mana pun tampaknya hanya menjanjikan hasil yang mengerikan, dan Olof telah terjebak perputaran ini selama satu jam sekarang.

Tetapi waktu terbatas, dia perlu membuat keputusan ini dan menyelesaikannya.

Saat itu, sebuah suara memanggilnya.

“Kakak Olof, apakah kamu punya waktu sebentar?”

“Oh, Sigrún,” katanya. “Ada apa?"

Dengan ekspresi dan nada suara keduanya yang jelas benar-benar kelelahan, Olof memberi isyarat untuk mengundang gadis berambut perak itu ke dalam ruangan.

Sigrún berdiri di hadapannya dan membungkuk sekali. Saat dia mengangkat kepalanya, dia melihat bibirnya terkatup rapat dalam ekspresi yang suram.

"... Hm." Olof merasakan bahwa ini bukan masalah biasa, dan menegakkan dirinya di kursinya, menunjukkan bahwa dia dapat melanjutkan pembicaraan.

Sigrún menghela napas. “Kakak, Unit Múspell dan diriku akan tetap bertahan dibenteng ini dan menjaga musuh agar tetap fokus ke sini. Tolong gunakan celah itu untuk memimpin pasukan utama keluar dan kabur."

“Apa— ?!” Olof berteriak, tetapi permintaannya yang tiba-tiba membuatnya kehilangan kata-kata.

Unit Khusus Múspell Sigrún, atau Unit Múspell, adalah kelompok yang terdiri dari pejuang paling elit klan, tetapi hanya berjumlah sekitar tiga ratus pejuang. Ada anggota trainee juga, tapi bahkan termasuk mereka, jumlahnya masih kurang dari lima ratus.

Melawan pasukan Klan Pentir dan Panther hanya dengan jumlah itu bukan hanya tidak masuk akal, itu benar-benar tidak masuk akal.

Dengan kata lain, ini adalah ...

"Kau... kau bermaksud mengorbankan dirimu sendiri?"

“Tugasku adalah bertarung di garis terdepan, memimpin pertarungan untuk melindungi semua orang,” kata Sigrún. “Itulah tugas yang diwariskan kepada setiap Mánagarmr dari generasi ke generasi. Ini akan baik-baik saja. Apa pun yang diperlukan, Aku pasti akan memberi cukup waktu bagi semua orang untuk melarikan diri."

"Urrgh ..." Olof menggeram, dan meletakkan tangan ke mulutnya sambil berpikir.

Tampaknya itu adalah satu-satunya langkah bagus.

Dalam skenario itu, sementara pasukan utama Klan Serigala melarikan diri, pasukan Klan Panther pasti tidak akan begitu saja melewati Benteng Gashina untuk mengejar mereka.

Jika mereka mengabaikan dan melewati benteng dengan musuh-musuh mereka masih di dalam, mereka akan menjadikan diri mereka sebagai target serangan penjepit yang sempurna dari depan dan belakang. Dari apa yang diamati Olof sejauh ini, Hveðrungr bukanlah jenis komandan bodoh yang akan melakukan itu.

Dengan kata lain, ini berarti bahwa sampai Klan Panther selesai merebut Benteng Gashina, pasukan utama Klan Serigala dapat melarikan diri tanpa menerima serangan apa pun dari musuh.

Dan jika menghadapi musuh di garis depan untuk melindungi semua orang adalah tugas Mánagarmr, maka itu juga merupakan tugas Panglima tertinggi untuk membuat pengorbanan yang diperlukan untuk melindungi pasukan yang lebih besar - untuk menjadi orang yang membuat keputusan itu dan memberi perintah.

Olof menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Sambil berdiri, dia berjalan cepat ke sisi Sigrún dan menepuk bahu kirinya.

“Maaf, dan terima kasih. Kalau begitu, serahkan sisanya ... padaku!"

Buk! Tiba-tiba, Olof memukul Sigrún dengan tinjunya.

Sigrún bereaksi terhadap serangan itu dalam sekejap dengan secara refleks memblokirnya dengan tangan kanannya. "Apa yang kau...?! Augh !!”

Cederanya kembali setelah menerima benturan itu, dan wajahnya berubah kesakitan.

Olof tidak mengabaikan celah tersebut. Sebaliknya, serangannya telah diperhitungkan.

“Bagaimana kau berencana untuk bertarung dengan pedangmu jika lengamu seperti tu?” balasnya. "Hah!"

"Aww—!" Sigrún mendengus tanpa kata-kata saat serangan lanjutan Olof mengenai ulu hati bagian kanannya. Dia telah memasukkan semua kekuatannya di balik serangan itu.

"Olof... kamu ..." Bahkan Sigrún tidak bisa tetap berdiri setelah itu. Dia berlutut, lalu jatuh ke lantai, di mana dia berbaring tak bergerak.

Rupanya dia sudah pingsan.

“Heh. Terima kasih, aku telah mengambil keputusan. " Kata Olof, menatapnya. “Kekalahan ini adalah tanggung jawabku yang harus aku tanggung. Bagaimana aku bisa kabur tanpa malu dan meninggalkan adikku untuk membereskan kesalahanku? "

Saat dia berbicara, ekspresinya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda keraguan, itu adalah wajah seorang pria yang telah menemukan tekadnya.


Afronote : 
ya emm maap telat lagi, 3 chapter telat terus ehe



TL: Afrodit
EDITOR: Isekai-Chan