Selasa, 12 Oktober 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 48. Beruang Memberikan Puding

 Volume 2

Chapter 48. Beruang Memberikan Puding



Tempat yang aku kunjungi berikutnya adalah kediaman Fochrosé. Aku tidak peduli dengan Cliff, Aku hanya mampir untuk memberi Noa puding buatanku. Aku memberitahu penjaga gerbang bahwa aku ingin bertemu Noa. Penjaga tersebut langsung mengenaliku dan memintaku untuk menunggu. Selang beberapa saat, Noa berlari keluar rumah.

"Yuna-san!"

Buk, Noa dengan kuat melompat ke pelukanku. Aku tidak merasakan apa pun karena kostum beruangku meredam dampaknya.

"Lama tak jumpa, Noir."

"Cukup panggil aku Noa, oke? Ngomong-ngomong, ada perlu apa Yuna-san ingin menemuiku? Meski tidak ada keperluan sekalipun, aku masih tetap akan menyambutmu dengan senang hati sih."

"Aku membuat manisan, jadi aku ingin kau mencobanya."

"Manisan? Aku tidak sabar menantikannya."

Noa langsung menarik lenganku dan membawaku masuk. 

"Jadi, manisan seperti apa yang Yuna-san ingin aku mencobanya?"

"Ini adalah makanan yang aku buat dari telur Kokkeko."

Aku mengeluarkan puding dari dalam penyimpanan beruangku, lengkap dengan sendok makan.

Noa kemudian mengambil sendok tersebut dan mulai menyendoki puding ke dalam mulutnya.

"Enak!"

"Aku senang kau menyukainya."

"Ini adalah pertama kalinya aku makan sesuatu seenak ini."

"Kau terlalu melebih-lebihkannya."

"Tidak, tidak sama sekali kok. Ini benar-benar pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang manis, kenyal, dingin, dan lembut seperti ini."

"Yah, kurasa anak-anak dan wanita memang cenderung menyukainya."

Noa sepertinya tidak berbohong saat mengatakan kalau puding buatanku enak. Aku bisa tahu dari cara ia menikmatinya.

"Yah pudingnya habis."

Cangkir puding Noa telah kosong. Dia perlahan mengalihkan pandangannya padaku dengan raut memelas.

"Ini yang terakhir, oke?"

"Terima kasih."
 
Di saat aku memberi Noa secangkir puding lagi, sebuah ketukan dari pintu terdengar.

"Noa, ayah masuk ya. Ayah dengar Yuna mampir kemari."

Cliff memasuki ruangan.

"Maaf merepotkan," kataku.

"Tidak masalah. Jadi, apa yang sedang kalian berdua lakukan?"

"Yuna-san memintaku mencicipi manisan yang ia buat, namanya puding."

"Puding?"

Noa mengambil satu suapan dari puding kedua yang aku beri. Dia menikmatinya sambil tersenyum layaknya anak kecil. Tampaknya kedatanganku kemari tidak sia-sia.

"Apa memang seenak itu?" tanya Cliff, menatap wajah putrinya yang tersenyum bahagia.

"Ya, ini sungguh enak."

"Noa, boleh ayah minta satu suapan?"

"Tidak mau," Noa langsung menolaknya.

"Noa."

"Tidak. Ini adalah pemberian khusus Yuna-san untukku."

"Yuna?"

Cliff menatapku dengan ekspresi memelas. Rasanya aneh ditatap seperti itu oleh orang dewasa, jadi aku menyerah. 

"Agh, baiklah, tapi tolong berikan pendapatmu saat kau sudah selesai makan, oke? Ini masih sampel, jadi pasti masih ada yang kurang."

"Ini masih sampel?" tanya Noa. "Tapi rasanya sudah melebihi semua manisan yang selama ini pernah Noa coba lho."

"Yah, aku memang menyebutnya sampel sih, tapi aku cuma perlu sedikit menyesuaikan rasanya saja."

Aku menyerahkan secangkir puding kepada Cliff. Dia menerima puding tersebut kemudian memakannya.

"Apa... ini?"

Ekspresi Cliff berubah. 

"Aku belum pernah merasakan manisan seenak ini sebelumnya, bahkan di ibu kota sekalipun."

Mungkinkah di dunia ini tidak banyak manisan yang rasanya enak? Yah, kurasa itu tidak bisa dihindari karena telur merupakan produk mewah. Cliff dan Noa kelihatannya telah menghabiskan puding mereka. 

"Terima kasih untuk manisannya, Yuna-san. Itu benar-benar enak."

"Benarkah? Senang mendengarnya. Apakah ada sesuatu yang kurang?"

"Tidak, Noa rasa itu sudah sempurna."

"Tidak perlu sungkan. Kalian bebas memberikan pendapat kok, seperti rasanya terlalu manis atau kurang manis misalnya?"

"Untukku, kurasa aku lebih suka tidak terlalu manis. Suapan pertama memang enak, tapi lama-kelaman rasa manisnya membuatku enek."

"Ayah berpikir begitu? Menurut Noa pudingnya udah enak lho," timpal Noa. 

"Yah, kurasa selera orang berbeda-beda, bahkan orang dewasa dan anak-anak punya persepsi masing-masing soal rasa, begitu juga wanita dan pria. Aku akan menggunakan pendapat kalian untuk referensi pudingku berikutnya."

"Apa kau berniat membuka kios atau semacamnya?"

"Untuk sekarang masih belum. Aku hanya sedang mencari ide bisnis yang dapat membantu panti asuhan ke depannya. Katakanlah mereka bosan mengurus Kokkeko, aku bisa mengalihkan mereka untuk memproduksi manisan sebagai gantinya."

"Kau sampai berpikir sejauh itu?"

"Aku cuma berpikir akan bagus jika ada kios yang menyediakan puding, aku jadi tidak perlu repot membuatnya dan tinggal membelinya saja."

"Sepertinya jika berhubungan dengan Rasanya kalau soal membimbing anak-anak, kau jauh lebih bisa diandalkan daripada aku yang orang dewasa ini."

Aku mengambil cangkir puding mereka yang sudah kosong kemudian memasukkannya ke dalam penyimpanan beruang.

"Jadi, apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan?"

Cliff telah secara khusus datang kemari untuk bertemu denganku, aku ragu dia tidak punya hal lain untuk dibicarakan.

"Ya, aku ingin minta tolong padamu. Bisakah kau mengawal Noa sampai ke ibu kota?"

"Ke ibu kota?"

"Ya, kami berencana untuk menghadiri ulang tahun keempat puluh raja di sana, tapi karena ulah seseorang, aku jadi punya segunung pekerjaan yang mesti diurus. Aku khawatir tidak bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu, jadi daripada membiarkan putriku tetap di sini dan menunggu, aku memutuskan untuk mengirimnya lebih dulu ke ibu kota."

"Saat kau bilang seseorang menyebabkan pekerjaanmu menumpuk... itu bukan aku, kan?"

"Maaf, tapi memang kaulah orangnya."

Itu tuduhan palsu satu sisi namanya. Dari awal masalah panti asuhan adalah salah Cliff karena lalai sebagai pemimpin. Itu sama sekali bukan salahku. Malahan harusnya dia berterima kasih padaku, karena berkatku, kasus kriminal di kota ini berhasil terungkap. 

Tapi, ibu kota kerajaan, ya?

"Apakah ada orang lain yang akan ikut mengawal juga? Lalu, dengan apa kami berangkat?"

Jika ada orang lain yang ikut mengawal, aku akan langsung menolaknya. Melakukan perjalanan jauh dengan kereta angkut akan sangat merepotkan dan memakan waktu.

"Untuk seseorang yang berhasil mengalahkan Black Viper—kurasa kau sendiri cukup. Lagipula, kau punya beruang tunggangan yang biasa kau bawa kemana-mana, bukan?"

"Apakah itu artinya Noa bisa naik beruangnya Yuna-san lagi?!" Jerit Noa kegirangan.

"Kudengar beruang panggilanmu lebih cepat dari kuda. Aku jadi lebih tenang menyerahkan Noa padamu."

Toh aku pribadi ingin melihat-lihat ibu kota, jadi tidak ada alasan untukku menolak. 

"Kalau begitu, kapan kami harus berangkat?"

"Jika kau ingin cepat-cepat, kurasa besok tidak masalah. Aku yakin Noa juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya."

Karena Cliff baru saja menyinggungnya, aku ingat tidak pernah menjumpai ibu Noa di rumah ini. Aku mengira dia telah wafat karena tidak seorang pun pernah menyinggung soal ia sebelumnya, tapi kelihatannya tebakanku salah.

"Apakah ibumu tinggal di ibu kota?" Tanyaku pada Noa yang masih tampak kegirangan.

"Ya, ibuku bekerja di sana."

"Kalau begitu, mau berangkat besok?"

"Benarkah?"

"Kau ingin segera menemui ibumu, bukan?"

Aku berakhir menyetujui tawaran Cliff untuk mengawal putrinya ke ibu kota.

"Ah, tunggu sebentar, Yuna. Ada sesuatu yang ingin kutitipkan padamu untuk istriku," Cliff meninggalkan ruangan dan kembali setelah beberapa saat sembari membawa dua pucuk surat dan sebuah kotak besar. "Tolong berikan ini kepada Ellelaura."

"Apa itu?" Aku menunjuk kepada kotak besar.

"Kotak itu berisi pedang raja goblin yang kau berikan padaku. Jika ada hal tak terduga terjadi, tolong serahkan kotak tersebut kepada Ellelaura. Aku sudah menuliskan detailnya di surat ini, jadi dia bisa langsung tahu saat kau menyerahkannya. Lalu, untuk surat yang ini, tolong kau berikan kepada guild petualang. Aku mengajukanmu secara khusus sebagai penerima quest-ku dalam surat tersebut."

Aku memasukkan satu kotak dan dua surat tadi ke dalam penyimpanan beruang.

"Sampai ketemu besok, Yuna-san."

"Ya, sampai jumpa."

Aku meninggalkan kediaman Cliff dan bersiap untuk besok.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

0 komentar:

Posting Komentar