Senin, 07 Juni 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 229. Komplotan Penjahat

 Chapter 229. Komplotan Penjahat


 
"Itsuki..."

Ren menggumamkan namanya. Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini. Atla mungkin dapat menemukan lokasi Itsuki.

"Lapor! Te-Terjadi masalah di kota!"

Prajurit yang berasal dari kastil tergesa-gesa datang ke ruang makan. Sekujur tubuhnya terluka dan pakaiannya compang-camping.

"Apa yang terjadi?"
"Terjadi kekacauan skala besar di kota! Ada serangan teroris!"
"Apa katamu?"
"Ini adalah permintaan tolong darurat dari Putri Melty! Hero-sama! Kami butuh bantuanmu!"

Ada kekacauan yang bahkan tidak bisa di tangani oleh Filo? Pasti serangan mereka sangat berbahaya.

"Aku mengerti!"
"Apa aku boleh ikut membantu?"

Ren melangkah kedepan.
Hmmm..
Akan menjadi lebih baik jika Ren ikut membantuku. Dan juga Ksatria Wanita yang ikut dengannya...

Tapi, ada yang menggangguku. Paman Imiya diserang oleh bandit, Kiel dan yang lainnya diculik, desa diracun, Paman Imiya dikendalikan, dan kerusuhan terjadi di kota. Timing semua kejadian ini terlalu mencurigakan.

Jika ini adalah serangan yang direncanakan, lalu apa tujuan dan motif musuh...

Penjelasan Ratu tentang Gereja Tiga Pahlawan, sepertinya ada hubungannya dengan Itsuki. Mungkin, kerusuhan di kota hanyalah pengalihan perhatian. 
Itu berarti—

"Ada kemungkinan kastil Melromarc akan diserang oleh teroris."
"Ap-"

Ren terlihat pucat. Yaa, jelas saja jika dia terkejut.

Aku tidak akan membiarkan tindakan jahat yang terjadi di sini terulang. Sekarang aku akan memikirkan caranya, orang-orang yang melakukan tindakan ini bisa saja sedang dimanipulasi seperti Paman Imiya.
Apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan semua ini?

Untuk saat ini, satu-satunya metode untuk cuci otak adalah dengan menggunakan Shield Prison untuk memutus aliran sihirnya. Tapi, ada masalah besar dari metode ini.

Aku harus memperhitungkan konsumsi sihir dan waktu cooldown, serta menemukan siapa saja yang telah dikendalikan Itsuki. Sama seperti Ren, dia bisa dirusak oleh kutukan, tetapi seseorang pasti telah memberinya ide.

Tapi, memanipulasi dia akan sulit. Bisa saja kondisinya mirip seperti Ren, di mana dia terus menerus mengulangi apa yang dia yakini.

Orang seperti apa Itsuki? Dia biasanya memiliki rasa keadilan yang kuat, namun dia juga egois. Bagaimana bisa dia memanipulasi orang seperti itu?

 “Ren, ini hanyalah sebuah dugaan. Tapi apa yang harus dilakukan seseorang jika dia ingin memanipulasi seorang Hero Keadilan?”
"Eh? ... Bukankah kau hanya membutuhkan seorang penjahat?"

Itu adalah jawaban yang sederhana, tetapi dapat dipercaya. Lebih jauh lagi, dia menargetkan tanahku dan kota Kastil untuk tindakan kacaunya. Maka targetnya adalah aku...atau Ratu. Sekarang, aku mencoba memikirkan niatnya. Jika dia berada di tempat di mana dia bisa menyuruh utusan itu pergi  untuk mencari bantuan...maka ada kemungkinan besar musuh berada di Kota Kastil.

"Ayah. Aku pulang."

Oh? Motoyasu telah kembali, waktunya tepat sekali. Dia tiba-tiba muncul menggunakan skill.

"Oh! Motoyasu, aku tahu ini terlalu tiba-tiba. Tapi, bisakah aku meminta bantuan kepadamu?"
 “Pertolongan apa yang kau butuhkan, Ayah. Bahkan jika itu adalah tindakan kejahatan, aku, Motoyasu akan dengan senang hati melayanimu.”
 “...Aku ingin kau pergi ke kastil di Melromarc dan memeriksa situasinya. Jika masalah muncul, selesaikanlah. Motoyasu, aku juga ingin kau pergi dengan Filolial-mu.”
 “Aku mengerti, Ayah.  Aku, Motoyasu, akan mempertaruhkan nyawa untuk melakukan tugas ini! Mari kita pergi, malaikatku!”

Baru saja kembali, ketiga pengikutnya, mematuhi perintah Motoyasu dengan ekspresi sedikit lelah. Aku kira kalian akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan.

Masalah sebenarnya adalah kita tidak bisa mengidentifikasi target serangan Itsuki.
Bahkan dengan kekuatan militer yang besar, musuh kita akan dapat memanfaatkannya. Motoyasu membuktikan bahwa kesadaran seseorang bisa diubah, dan paling buruk Filo bisa berakhir di tangan musuh.

"Sebaiknya aku ikut dengannya?"
"Tidak Ren, kau tetap disini."

Menyebarkan kekuatanku dengan terburu-buru akan berbahaya. Kemungkinan kita akan masuk kedalam perangkap lebih tinggi.

"Kalau begitu, mari kita pergi!"
"""Iyaa!"""

Membawa para Filolial, Motoyasu berangkat menuju kota. Dia tidak dapat menggunakan skillnya karena sedang dalam cooldown. Tapi, tidak akan menjadi masalah karena Filolial adalah pelari yang cepat.
Dengan begini aku harap tidak akan terjadi apa-apa lagi, tapi... setelah berpikir seperti itu, Aku pergi ke untuk melihat keadaan Shield Prison.

"Maafkan aku! Mohon maafkan semua atas semua masalah yang aku sebabkan!”

Paman Imiya menundukkan kepalanya untuk meminta maaf. Imiya juga bersamanya.

“Tenanglah. Yang terpenting, apakah kau baik-baik saja?”
"Y-ya!"
"Bisakah kau menjelaskan kepada kami apa yang terjadi?"
"Baik."

Seperti yang aku pikirkan, Paman Imiya diserang sehari sebelumnya. Dia ingat bahwa ada serangan mendadak dari semak-semak yang tidak bisa dia hindari.

Apakah itu menyebabkan bekas luka yang aku lihat di klinik? Huh, itu tidak terlihat seperti bekas anak panah...

Sejak saat itu ingatannya menjadi kabur, tetapi dia terus berjuang sampai pikirannya menjadi kacau. Dia mulai memiliki pikiran campur aduk bahwa bandit itu ingin membantunya, meskipun dia adalah musuh. Dia kemudian kabur dari pertarungan, tetapi dia samar-samar ingat Elena melindunginya.

"Jadi kau melarikan diri dari mereka?"
 “...Sepertinya mereka membiarkan aku lari. Kemudian dalam perjalanan menuju klinik dengan Imiya... Aku mengingat sebuah rencana untuk sengaja menabrak seseorang.”
"Rencana?"
 “Ya. Aku yakin pada saat itulah aku diberikan sesuatu.”

Hmm, pasti saat itulah dia diberikan racun. Dicuci otak untuk menggunakan racun, Paman Imiya ditugaskan untuk meracuni sumur dengan tangannya sendiri.
Akan sangat merepotkan untuk membuat semua rencana ini, tanpa dicurigai sama sekali. Untuk merencanakan itu secara rumit, pasti sulit.

“Lalu aku harus menidurkan seluruh desa dengan obat tidur, dan selama waktu itu—”
"Tunggu ... obat tidur?"

Jika racunnya tidak bekerja, ada juga obat tidur. Penilaian racun menunjukkan bahwa itu adalah racun tingkat menengah, dan ketika diminum akan mempengaruhi sistem pernafasan. Sebagian besar akan mati menderita setelah meminumnya, itu benar-benar hal yang mengerikan.

Itu cara mati yang cukup parah. Itu akan menyebabkan mereka mati kekurangan oksigen. Apakah kau melakukan kesalahan dalam menggunakan obat tidur? Ada perbedaan besar antara kesaksiannya dan kenyataan yang terjadi.

Namun masih ada sesuatu yang membingungkan. Ada budak Demi-Human yang kematiannya disamarkan sebagai bunuh diri. Jika Itsuki berada di balik ini, menurut cerita paman Imiya, dia akan menghabisinya dengan cuci otak. Tetapi meskipun dia memiliki Segel budak, dia tidak dicuci otak. Alasan di balik ini, adalah sesuatu yang aku tidak tahu.

Apakah lambang budak ditempatkan hanya karena ingin menuduhku menggunakan mereka sebagai bawahanku. Atau karena alasan yang sama sekali berbeda.

…Bagaimana jika ada banyak komplotan?
Jika dia tidak bekerja dengan siapa pun, kemungkinan Itsuki sedang dimanipulasi oleh seseorang. Itu tidak akan mengejutkan. Itsuki hanyalah seonggok manusia yang memegang keadilan. Dia akan membenci perbuatan jahat seperti itu. Yah, jika demi keadilan dia mungkin bisa melakukannya.

Kemungkinan Itsuki dipengaruhi oleh Curse Series juga sangat tinggi. Faktanya, dibandingkan dengan Ren dan Motoyasu, kerusakan mental Itsuki tampaknya adalah yang tertinggi. Kemungkinan Itsuki tidak bisa menekan perasaan yang disebabkan oleh kutukan itu, karena itu menghabiskan keinginanmu dan hampir tidak mungkin untuk dikendalikan.

Itu berarti bahwa mereka yang dikendalikan oleh cuci otak Itsuki tidak dapat dikendalikan oleh orang lain. Dia mungkin akan mengatakan itu demi keadilan atau sesuatu. Meskipun penggunaan obat tidur dan racun tidak dapat dimaafkan, demi keadilan dia akan mengizinkannya.

Mari kita pikirkan faktanya.
Itsuki dan tiga kelompok lainnya... sisa-sisa gereja, faksi revolusioner, Witch yang hilang dan teman-temannya, kemungkinan besar salah satu dari kelompok ini bertindak secara terpisah.  Tidak jelas apakah mereka bekerja sama, tetapi tidak ada keraguan bahwa mereka terlibat dalam semua kekacauan ini.
Masing-masing dari mereka bekerja pada ideologi yang berbeda yang berarti musuh tidak akan berada di bawah kepemimpinan yang bersatu.

Artinya, Itsuki bisa saja diberikan obat tidur dan racun itu oleh pihak lain. Saat dirusak oleh kutukan, tidak aneh baginya untuk bersekutu dengan salah satu kelompok.

Dengan asumsi ada empat kelompok, termasuk Itsuki, target mereka adalah lokasi kita. Desaku, Kota Melty berada dan Kastil Melromarc. Kekuatan yang cukup besar akan dibutuhkan untuk mengalahkan ketiganya pada saat yang bersamaan. Tentu saja, tidak mungkin dilakukan jika hanya mengandalkan pasukan sisa Gereja dan Faksi Revolusioner. Dan ada orang yang dicuci otak oleh Itsuki di ketiga lokasi.

Aku, Melty, dan Ratu. Dari ketiganya, salah satunya akan menjadi target pembunuhan. 

Setelah beberapa perencanaan, Ren akan pergi ke kota, sementara aku mempertahankan desa. Karena kekuatan untuk mencuci otak sudah diketahui, Ren akan bertindak lebih hati-hati.

"Silakan lanjutkan."
“Aku... Tidak mengetahui rencana selanjutnya.”
“Hmm...”

Pertanyaannya adalah, setelah melumpuhkan penduduk desa dengan obat tidur, apa langkah selanjutnya. Mereka bisa menyerang menggunakan kekuatan yang dikendalikan oleh Itsuki. Itsuki mungkin juga berpikir racun dan obat tidur sudah cukup.

Kelompok yang berada di belakang Itsuki, menggunakan racun sebagai metode eliminasi utama mereka, atau apakah aku salah berasumsi demikian? Kalau tidak, tindakan mereka terlalu acak. Lagi pula, alasan mereka meracuni desa adalah untuk melemahkan potensi kekuatan kita.

Artinya, Itsuki adalah boneka. Bahkan jika dia tidak bekerja dengan siapa pun, Itsuki tidak mungkin menggunakan obat tidur sejak awal. Sebenarnya, racun yang digunakan oleh Paman Imiya ketika dia dikendalikan dan yang digunakan pelakunya untuk sungai itu berbeda.

Setelah menggunakan obat tidur dan memaksa aku untuk menangani kerusuhan di kota, apa yang akan dia lakukan? Jawabannya jelas. Aku tidak perlu berpikir keras untuk mengetahuinya.

"Bagaimana dengan para Filolial dan monster?"
“Sebagian besar Filolial pergi dengan Hero Tombak, tetapi ada beberapa yang tetap tinggal.”
“Filolial yang masih tersisa, monster, dan Gaelion. Bersama dengan para budak, Ren amankan situasi di kota. Jika kau berhasil, ikutilah perintah dibawah Putri Melty yang ada di disana.”
"Dimengerti!"
"Kyuaa!"
"Dan yang lainnya?"

…Sejujurnya akan lebih baik bagi semua pasukan untuk membantu di kota dan membiarkan desa kosong. Di antara pasukanku, ada satu yang bisa menghancurkan Itsuki dan semua pasukannya. Tetapi jika Itsuki datang dan merebut desa ini, itu akan menjadi situasi yang sulit.

Sejujurnya, Gereja Tiga Pahlawan dan faksi revolusioner bukanlah ancaman yang besar. Jika Itsuki ditangkap, kita bisa menghilangkan sihir pencucian otak. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk menyelesaikan ini dengan cara sesingkat mungkin. Dalam hal ini, berjalan ke dalam jebakan bukanlah ide yang buruk.

"Yang lainnya-"




TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Sabtu, 05 Juni 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 39. Beruang Pergi Membasmi Ular

 Volume 2 :

Chapter 39. Beruang Pergi Membasmi Ular



Percakapan bersama Cliff dan Guildmaster sedikit memakan waktu, tapi itu akhirnya selesai dan sekarang aku bisa memeriksa papan quest. 

Papan Quest Peringkat D

Mengajar seni berpedang (khusus untuk wanita).
Misi pembasmian Orc.
Permintaan material utuh dari Tigerwolf. 
Permintaan dua ratus kristal sihir goblin, tidak ada batas waktu.
Kumpulkan rumput Melmel.
Misi pembasmian Stone Monkey di gunung Hoelle, jumlah tidak diketahui.

.........

......

...

Tak ada satu pun yang menarik perhatianku. 

Mengajar seni berpedang (khusus untuk wanita). Apakah beruang termasuk? Ilmu pedang yang kupelajari semuanya berasal dari game. Lagipula, mengajar orang itu terdengar cukup merepotkan. Membasmi Orc juga kelihatannya kurang menarik. Aku sudah membasmi Tigerwolf sebelumnya, dan memilah mayat goblin bukanlah keahlianku, jadi kurasa itu mustahil. Tidak adanya data pasti mengenai jumlah Stone Monkey adalah masalah di sini. Aku tidak mau mengambil quest yang tidak jelas kapan selesainya.

Seandainya tadi Cliff tidak melibatkanku dalam percakapannya bersama guildmaster, mungkin masih ada quest lain selain dari quest di atas, tapi yah mau bagaimana lagi.

Aku memutuskan untuk memeriksa papan quest peringkat C.


Papan Quest Peringkat C

Permintaan material Wyvern.
Misi pengawalan, sangat rahasia.
Permintaan sisik Mermaid. 
Misi pembasmian kelompok bandit Zamon. 
Kumpulkan bunga Histori.
Pembasmian Watersnake, permintaan material termasuk.
Pembasmian Firetiger, permintaan material termasuk.

.........

......

...

Meski misi pembasmian di papan peringkat C kelihatan cukup menarik, lokasi pasti dari quest-quest tersebut sama sekali tidak tertera. Aku terkejut Mermaid ada. Aku mungkin ingin bertemu mereka di masa depan. Saat aku hendak pulang karena tidak ada quest menarik yang bisa kuselesaikan dalam sehari, aku mendengar sebuah keributan di depan meja resepsionis.

"Kenapa tidak bisa?"

"Bukannya tidak bisa. Saya hanya bilang kalau itu butuh waktu."

"Jika tidak segera, maka ayah, ibu, dan semua orang di desa akan mati."

Seorang bocah merengek, memohon di hadapan Helen.

"Seperti yang saya katakan tadi, petualang yang mampu menghadapi monster sekelas Black Viper sedang pergi. Meski kami memanggilnya sekarang, paling cepat dia baru bisa ke sini besok."

"Tapi ayah dan ibu akan..."

Bocah tadi roboh dan mulai menangis.

"Ada apa ini?"

"Yuna-san."

Aku mendekati mereka berdua.

"Kelihatannya ada seekor Black Viper yang muncul di desa tempat anak ini tinggal."

"Apakah itu sejenis ular?"

"Ya, tapi lebih besar dari ular pada umumnya. Spesies paling besar bisa mencapai panjang seratus meter. Tampaknya beberapa warga desa telah menjadi korban ular tersebut. Meski anak ini sudah jauh-jauh datang kemari dengan kuda, sayangnya petualang yang mampu menghadapi monster tersebut sedang pergi, dan tidak akan kembali sampai beberapa hari ke depan."

Seekor Black Viper, huh? Aku mengamati bocah yang menangis itu.

"Kalau begitu, biar aku saja yang pergi."

Toh, aku juga sedang tidak ada kerjaan saat ini.

"Kau bilang ingin pergi? Ini tidak semudah yang kau bicarakan. Black Viper adalah monster peringkat B, kau tahu?"

"Tapi jika kita tidak bergegas sekarang, bukannya desamu akan dalam bahaya?"

"Itu benar, tapi..."

"Aku akan langsung melarikan diri jika keadaan semakin berbahaya, jadi tenang saja. Selagi aku mengulur waktu melawan monster tersebut, Helen di sini akan menyiapkan petualang untuk diberangkatkan."

"Kau pikir aku ini bodoh ya?!" Teriak bocah itu. "Tidak mungkin orang dengan pakaian konyol sepertimu mampu mengalahkan Black Viper." Apa yang dia katakan benar. Normalnya, orang-orang akan ragu seorang gadis dengan kostum beruang sepertiku mampu mengalahkan monster semacam itu.

"Uhh, kalau begitu, bagaimana jika aku pergi duluan ke sana bukan untuk bertarung, melainkan untuk mengumpulkan informasi?"

"Mengumpulkan informasi?"

"Ya, aku akan mengumpulkan informasi dan menyerahkannya pada petualang yang akan diberangkatkan Helen. Jika kita bisa mencari tahu seberapa besar monster tersebut dan di mana ia bersarang, maka menaklukkannya pun akan jadi lebih mudah, bukan begitu?"

Bocah itu mengangguk pada jawaban spontan yang kulontarkan. 

"Kalau begitu, Helen, di mana letak desanya?"

"Dua hari satu malam perjalanan ke arah tenggara jika menunggangi kuda."

Aku bertanya-tanya apakah perjalanan dua hari satu malam itu terbilang jauh. Aku tidak tahu berapa jam kuda mampu berlari dalam sehari. Dua puluh empat jam penuh rasanya jelas mustahil.

"Apakah anda benar-benar akan pergi?"

"Ya, lagian aku juga longgar."

"Mohon tunggu sebentar. Saya akan menyampaikan hal ini kepada Guildmaster."

Helen meninggalkan tempat duduknya dan pergi. Tak lama berselang, dia kembali dengan membawa Guildmaster.

"Apa kau berniat untuk pergi dan mengalahkan seekor Black Viper?"

"Aku cuma pergi untuk memeriksanya. Jika rasanya aku mampu mengalahkan makhluk tersebut, akan kulakukan, tapi jika tidak, maka aku hanya akan mengumpulkan informasi dan menyerahkannya pada petualang yang akan Helen berangkatkan."

"Helen, siapa petualang yang akan kau berangkatkan?"

"Saya akan memberangkatkan Rush si mata satu beserta party-nya. Mereka semua adalah petualang peringkat C."

Rush si mata satu? Julukan Chuuni* macam apa itu? Mendengarnya saja sudah membuatku geli, tapi aku cukup tertarik untuk bertemu dengan mereka. Aku penasaran apakah si Rush ini mengenakan sebuah penutup mata atau semacamnya.
<TLN: atau Chuunibyou, adalah istilah untuk orang yang suka berdelusi atau mengkhayal. Punya selera yang buruk dalam menamai sesuatu.>

"Rush si mata satu beserta party-nya, huh? Aku tidak yakin mengirim satu party akan cukup. Jika bisa, aku ingin kau memberangkatkan party lainnya juga."

"Dimengerti."

"Kalau begitu, ayo pergi, Yuna."

Apa aku tidak salah dengar? 

"Tunggu, apa?"

"Aku akan ikut denganmu. Biar begini, aku dulunya adalah seorang petualang. Tenang saja, aku tidak akan menghambatmu."

Itu terdengar kurang meyakinkan.

"Bagaimana caramu untuk sampai ke sana?"

"Aku akan pergi dengan kuda. Kita pasti bisa tiba di sana esok hari."

"Kalau begitu, aku akan duluan. Beruang-beruang panggilanku bahkan tidak butuh satu hari untuk sampai ke sana."

"Benarkah itu?"

"Aku punya dua beruang panggilan, dan jika aku menunggangi mereka secara bergantian, maka kurasa itu mungkin."

Aku masih belum yakin secara pasti, sih.

"Kau bisa pergi duluan kalau begitu. Jangan lakukan apapun yang tidak perlu sampai aku datang, oke?"

"Tentu."

Saat aku hendak meninggalkan guild, bocah tadi menghentikanku.

"Tunggu. Bisakah kau membawaku bersamamu?"

"Kau cuma menghambat."

"Aku akan memandumu ke sana. Itu harusnya bisa mempersingkat waktu."

Aku terdiam sejenak. Bocah ini kelihatannya cukup ringan. Kurasa membawanya sebagai beban tambahan tidak masalah.

"Oke, tapi tidak ada istirahat."

"Aku tidak keberatan. Jika Ini demi orang-orang di desa, aku tidak mau hanya diam dan menunggu."

"Kalau begitu, kita tidak boleh membuang-buang waktu, nak."

"Namaku Kai."

"Aku Yuna. Kalau begitu, Kai, ayo berangkat."

Setelah meninggalkan kota, aku memanggil Kumayuru. Kai yang menyaksikan hal itu terkejut. 

"Cepatlah naik. Kita sedang buru-buru, bukan?"

"Makhluk apa itu? Nona, siapa kau sebenarnya?

"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal itu. Bukankah keluargamu sedang menunggu di rumah?"

Kai mengangguk lalu naik ke atas Kumayuru. Aku naik setelah dia dan duduk di belakang. 

"Teruslah fokus ke depan dan pandu jalannya."

Kai mengangguk.

Kumayuru berlari, mengikuti arahan dari Kai. Hewan itu punya banyak stamina dan lebih cepat dari kuda. Setelah mengendarainya selama tiga jam, kami berhenti untuk makan.

"Kita hanya punya waktu lima menit untuk makan."

Aku mengeluarkan roti dan jus dari dalam penyimpanan beruangku, kemudian memberikannya kepada Kai. Dia berterima kasih padaku dan menghabiskan makanannya dengan cepat.

"Berapa lama lagi kita akan sampai?"

"Kita sudah hampir setengah jalan, mungkin sebentar lagi."

Itu artinya kita akan tiba kurang lebih dalam tiga jam ke depan. Setelah selesai makan, kami berganti ke Kumakyu dan melanjutkan perjalanan. Kai sudah mengendarai kudanya pagi-pagi buta untuk sampai ke guild petualang. Dan sekarang, dia masih harus memanduku ke desanya. Meski demikian, aku tidak melihatnya mengeluh sedikit pun.

"Jika kita bertemu jalan lurus, kau sebaiknya tidur sejenak."

Kai menggelengkan kepala.

"Tidak usah, lagi pula aku tidak bisa tidur sekarang. Selain itu, jika kita melenceng sedikit saja dari arah yang kita tuju, kita akan tiba sedikit lebih lama dari waktu yang diperkirakan. Awalnya kupikir tidak ada gunanya mendapat bantuan dari seorang gadis berkostum aneh, tapi setelah melihatmu memanggil beruang-beruang ini, aku yakin kau bukan orang biasa. Aku percaya kau setidaknya mampu mengevakuasi warga, meski tidak bisa mengalahkan ular tersebut. Itulah alasan mengapa aku ingin cepat-cepat sampai ke sana. Aku mungkin tidak banyak membantu saat sudah sampai di desa. Jadi menurutku, peranku satu-satunya adalah memastikanmu tidak tersesat dan bisa tiba di desa dengan selamat."

Kai cukup dewasa di usianya yang masih sangat muda. Dia dan Fina sama. Sungguh, ada apa dengan anak-anak di dunia ini? Mengapa semuanya begitu dewasa?

"Kalau begitu, pastikan kau memandu jalannya dengan benar."

"Tolong selamatkan orang-orang yang di desa, nona."

"Akan kulakukan semampu yang kubisa."

Kumakyu melesat, mengarah ke desa tempat Kia tinggal.




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Kamis, 03 Juni 2021

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 66. Identitas si Laki-laki

 Chapter 66. Identitas si Laki-laki




Fuuma Kotaro adalah nama seorang Ninja legendaris dari era Sengoku yang terlahir di Hakone. Jika Hattori Hanzo adalah yang terbaik di barat, maka Fuuma Kotaro adalah yang terbaik di timur.

Nama itu diberikan kepada Ninja Legendaris oleh Klan Hojo setelah dimulainya era Sengoku. Para ninja itu melayani Klan Hojo selama 100 tahun, yang mana mereka menguasai Region Kanto.

Tentu saja, 1 orang tidak bisa menjadi ninja selama 100 tahun. Nama itu telah diturunkan selama 5 generasi. Bahkan ada catatan seperti, memiliki tinggi 216 cm. Memiliki tulang dan otot yang kuat, mata dan mulut yang lebar, jenggot berwarna hitam, memiliki 4 taring yang menonjol dan hidung yang besar. Berbentuk aneh bahkan mirip seperti monster. Mereka berasal dari suku barbarian selatan. Beberapa menganggap kalau mereka adalah keturunan iblis.

Apapun kebenarannya, orang yang berada di depanku bahkan tidak mencapai 2 meter. Bahkan dia termasuk kecil. Mungkin sama tingginya dengan Eve. Sebenarnya, pada saat aku melihatnya, dia telah berpakaian sebagai Pelayan. 

Kapan dia mengganti pakaiannya? Itu semua terjadi dalam sekejap. Terlebih lagi, hasilnya sangat mengagumkan. Dia adalah pria bertopeng beberapa saat yang lalu, tapi sekarang yang kau lihat hanyalah Pelayan yang cantik. Atau apakah ini adalah wujud sebenarnya ?

Ketika aku berpikir tentang hal tersebut, dia tertawa.

“Yah, itu adalah sebuah misteri. Tapi Ninja terbaik mampu menyamar sesuai keinginannya. Kami akan mencopot pakaian kami dan berpakaian seperti orang-orang disekitar.”

Karena Hanzo sangat menyukai pakaian Ninjanya, mungkin dia tidak akan senang mendengar itu. Padahal, dia beberapa kali memakai penyamaran. Tetap saja, penampilannya sangat meyakinkan.

Ketika aku menatapnya dengan takjub, dia membuka mulutnya dan bercanda.

“Mungkin anda ingin melihatku dengan pakaian yang lebih minim? Semua jawabannya mungkin ada disana jika anda penasaran.”

Aku tidak bisa membantah jika pertanyaan itu tidak terlintas di pikiranku, tapi aku bisa melihat wajah Eve mengerut. Itu bukanlah ide yang bagus.

Ada sesuatu yang lebih penting.

“Kau berbicara sesuatu tentang tes. Apakah kau mau menjelaskan lebih lanjut?”

“Tentu saja.” katanya sambil mengangkat sedikit roknya dan membungkuk.

“Terima kasih. Jadi, tentang test itu…”

“Anda harus membunuh seorang anak laki-laki. Itu adalah tesnya.”

“Anak laki-laki?”

“Ya, anak laki-laki. Anda harus memilih apakah akan membunuhnya atau tidak. Aku akan mengawasi bagaimana tindakanmu dan memutuskan apakah anda layak menjadi tuanku atau tidak.”

“Itu tidak akan kulakukan, aku memang Raja Iblis, tapi aku tidak akan membunuh tanpa alasan.”

“Oh, tapi ini bukan tanpa alasan. Anak laki-laki ini adalah ‘Hero. Seorang Hero yang mempunyai kekuatan yang efektif untuk melawanmu. Seorang Anti-Astharoth.”

“Apa yang kau katakan !?”  teriak Eve dengan terkejut.

“Aku tidak pernah mendengar informasi seperti itu.”

“Ini bukanlah informasi yang gampang untuk ditemukan.”

“Tapi tetap saja… aku ragu kalau kau bisa menemukan informasi seperti itu dengan mudah...”

Aku segera menghentikan Eve.

“Dewi itu pasti memberitahunya. Tidak mengejutkan jika seseorang sepertinya bisa mengetahui hal semacam itu.”

“Anda cepat dalam memahami situasi rupanya.” ujar Fuuma sambil tertawa.

“Aku bisa sedikit memahami nya, tapi aku masih belum paham alasan Dewi itu. Mengapa dia memberitahu informasi ini?”

“Tentu saja untuk menguji anda. Sama seperti diriku menguji anda. Bagaimana Raja Iblis Astharoth akan beraksi setelah mendengar informasi ini? Anda harus menunjukkan kelayakan anda sebagai Strategis dan Realistis.”

“Aku paham tentang hal itu. Tetap saja, aku tidak senang akan hal itu.”

Dasar Dewi sialan. Dia memperlakukan orang seperti mainan.

Motifnya membawaku ke dunia ini juga tidak jelas. Dia lebih mirip Dewi Jahat. Yah, tidak ada cara bagiku untuk mengetahuinya.

Bagaimanapun juga, sekarang aku telah mengetahui tentang ‘Hero’ yang bisa membunuhku, satu satunya hal yang harus dilakukan adalah mencari lebih banyak informasi dan mengatasi masalah ini. Jadi aku menyuruh Fuuma Kotaro.

“Dan apakah kau akan memberitahuku dimana ‘Hero’ ini sekarang?”

“Ya, untuk sekarang dia berada di kota kecil sebelah utara kastil ini.”

“Berapa umurnya saat ini?”

“13 tahun, sebentar lagi 14.”

Ketika aku mendengar jawaban ini, ada sedikit rasa gelisah mengisi dadaku. Bagaimana jika yang dia bicarakan adalah anak itu. Kemudian, Fuuma Kotaro melanjutkan. Yang menyebabkan aku yakin kalau itu dia.

“Dia terlahir di pedesaan bernama Resha. Aku mendengar kalau dia bekerja sebagai Petualang saat ini. Namanya adalah Yuri dan dia adalah anak yang bersamamu beberapa hari lalu.” Ujar Fuuma tanpa ekspresi, tapi dia mengakhiri jawabannya dengan tertawa pelan. Seolah-olah dia tertawa karena reaksiku.

Bagaimana ekspresiku sekarang? Wajahku sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia. Tapi ada 1 hal yang aku yakin pasti. Fuuma Kotaro pergi setelah itu. Dia pergi untuk mencari tahu dimana lokasi Yuri berada. Dia menghilang secepat angin.

Aku harus memutuskan untuk membunuh Yuri atau tidak. Raja Iblis dan Pahlawan selalu menjadi musuh. Banyak Raja Iblis yang mati di tangan Pahlawan.

Di dunia lain, permainan, cerita, bahkan di dunia ini. Itu akan selalu sama. Pahlawan adalah ancaman bagi Raja Iblis dan harus disingkirkan. 

Tapi aku masih ragu. Yuri adalah anak laki-laki yang kami temui baru-baru ini di labirin. Kami telah mengobrol dan melawan monster bersama. Aku tidak bisa melupakan suara dan senyuman polosnya.

“… Apakah saya yang harus membunuhnya?” Ujar Eve. Matanya terlihat sedih.

“Itulah yang Raja Iblis lakukan.”

"Aku tahu itu. Yah, aku pikir aku akan melakukannya. "

Ketika aku pertama kali bertemu Eve, aku telah menyuruhnya untuk membunuh semua Pahlawan muda yang dia temukan. Aku juga bersungguh-sungguh. Tetapi entah bagaimana, aku tidak dapat mengulangi kata-kata itu ketika waktunya telah tiba. Apalagi aku mengenal bocah itu.

“…”

Saat aku terdiam beberapa saat, Eve dengan ragu membuka mulutnya.

"Saya juga bisa menangani masalah ini sendiri."

Dia mengatakan bahwa dia bisa membunuh anak laki-laki itu sendiri, tanpa berbicara dengan Toshizou, Jeanne, atau Gottlieb.

Itu saran yang bagus, tapi aku tidak ingin mengotori tangannya.

Selain itu, ini bukan waktunya untuk bimbang.

Aku adalah seorang Raja Iblis. Dan aku tidak akan mengalihkan pandanganku dari kenyataan.

Saat aku memikirkan ini, aku mendengar suara kucing datang dari suatu tempat. Seekor kucing telah masuk ke ruang pemanggilan.

Goblin yang berjaga tampak panik saat dia mulai mengejar kucing itu, tapi aku menghentikannya. Aku mengangkat kucing yang berkeliaran itu dan menatap matanya. Kemudian aku telah memutuskan keputusanku.

“..Anak kucing ini adalah penghuni kastil Ashtaroth. Dan aku akan melindunginya. "

Iya. Aku memiliki tanggung jawab. Saat aku menjadi raja kastil ini. Saat aku lahir di dunia ini. Tujuanku adalah untuk melindungi penghuni kastil ini dan membawa perdamaian ke dunia.

Jika aku berbelas kasihan kepada anak ini, dan dia membunuhku. Maka aku tidak akan bisa memenuhi tanggung jawab itu. Paling buruk, semua wargaku akan kehilangan tempat tinggal.

Aku tidak bisa mengorbankan semua itu untuk satu anak laki-laki. Aku memikirkan ini ketika aku mengeluarkan kucing itu dan kembali ke ruang tahta.

Kemudian, Eve akan menulis tentang momen itu.

'Raja Iblis berjalan dengan percaya diri saat itu. Saya tidak akan pernah melupakan penampilannya. Walaupun ada kesedihan yang tampak di sana, punggungnya tampak seperti yang terkuat dari semua Raja Iblis.'


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 02 Juni 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 228. Cuci Otak

 Chapter 228. Cuci Otak


 
Sekarang, saatnya mencari tahu pelaku yang meracuni sumur. Air yang ada di sumur tidak mengalir dari sungai. Air yang disumur memiliki sumber air yang berbeda.
Apabila memiliki aliran air yang sama, aku pikir akan membutuhkan waktu bagi racun yang mengalir melalui sungai untuk sampai ke sumur melalui bawah tanah.
Kami juga dapat mempertimbangkan apakah racun itu menembus tanah, tetapi kupikir racunnya dituangkan langsung ke dalam sumur.

Tetap saja… Masih ada masalah lainnya. Desaku di desain sedemikian rupa sehingga tidak sembarang orang dapat keluar dan masuk dengan mudah. Karena aku selalu waspada, aku menempatkan penjaga agar hanya budak dan orang yang aku percaya yang bisa masuk. Terlebih lagi, Gaelion dan para Filolial akan mengatakan sesuatu padaku jika ada orang asing yang masuk.

Dengan semua asumsi ini, bukti menunjukkan bahwa sumur itu diracuni oleh orang dalam.
Aku tidak suka mencurigai penduduk desa. Maksudku, seharusnya para bawahanku sudah tahu jika melakukan hal-hal seperti itu maka dia akan membayar dengan nyawanya.

"Gaelion!" Setelah mendengar panggilanku, Gaelion datang.
"Ada apa?"
"Kau ada di desa seharian?"
"Ya."
"Apakah kau melihat seseorang melakukan sesuatu di sumur?"
"Kurasa... Tidak ada orang asing yang datang dan melakukannya."
"Bagaimana dengan para penjaga kastil dan wisatawan?”
"Tidak ada."

Semakin sulit untuk mencari pelakunya. Segel Budak juga tidak bekerja. Gaelion juga berkata tidak ada prajurit ataupun orang yang mencurigakan datang ke desa.  Yah, bisa jadi kemampuan penjagaan dari Gaelion tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Oleh karena itu, aku kembali ke desa dan mengumpulkan budak untuk bertanya kepada mereka.

“Aku ingin mengidentifikasi waktu ketika racun itu dituangkan. Siapa yang terakhir minum air dan selamat?”

Setelah mendengar pertanyaanku, beberapa budak mengangkat tangan mereka dan aku menyuruh mereka untuk berbicara. Aku mengetahui bahwa air sumur yang dipindahkan ke wadah air untuk memasak terjadi belum terlalu lama.

"Aku penasaran siapa pelakunya?"
"Permisi, Tuan Naofumi."
“Hmm, ada apa?”

Atla mengangkat tangannya dan berbicara. Wajahnya terlihat tegang atau semacamnya. Apakah ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan Atla? Perlahan Atla kembali ke klinik dan menunjuk paman Imiya yang sedang beristirahat di sudut ruang makan.

“Paman Imiya-chan, ada sesuatu yang buruk mengelilingi dirimu.”
"Hah?"

Paman Imiya melihat sekeliling dengan ekspresi bingung setelah mendengar perkataan Atla.

"Aku, apa yang kau katakan? Harap berhati-hatilah saat bercanda.”
"Ya Atla-chan, kenapa dia melakukan hal seperti itu -"
“Itu … tidak… sebenarnya, aku ingat pernah menumpahkan sesuatu-”

Paman Imiya mulai bertingkah aneh dan mulai mengerang. Dia mendorong Imiya menjauh ke arah budak lainnya dan terhuyung pergi dengan goyah.

"Hero Perisai-sama, tolong, aku ..." Paman Imiya meminta bantuan karena dia menderita. Tidak, tunggu…

"Tolong hukum aku... Sebelum aku melakukan kejahatan lagi!"
“Saat bandit menangkapmu, apakah mereka memberikan sihir kepadamu!?”
“Aku tid… Guu…”

Aku membuka status budak paman Imiya. Untuk melihat masalahnya… Panel statusnya terlihat berbeda. Panelnya rusak tidak karuan. Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.

Jika kau pikirkan sekali lagi, dia ditemukan sehari setelah dia seharusnya tiba. Dan lokasi di mana dia diserang masih tidak pasti. Apa yang akan terjadi jika Elena tidak lewat, aku tidak tahu.
Apa yang akan aku lakukan jika aku kebetulan lewat dan harus melarikan diri dari seorang petualang yang kuat?

Paman Imiya dibawa ke klinik untuk perawatan. Dan tidak salah lagi bahwa tujuannya kembali ke desa untuk menuangkan racun ke dalam sumur seperti yang diperintahkan kepadanya. Masalahnya adalah apapun yang mempengaruhi paman Imiya mungkin tidak terlihat saat ia mendapatkan perawatan.

"Hero Perisai-sama!"
"Tuan Naofumi!"

Para budak, Ren, dan Atla meminta bantuanku. Aku ini bukan dewa! aku ingin mengatakan itu, tetapi aku tidak bisa. Aku mengerti perasaan membutuhkan bantuan.

"Ugh...aaaaaaaa!" 
"Gawat!”

Rishia melangkah maju untuk memberhentikan paman Imiya.
Dia memiliki statistik paling tinggi diantara budak yang lain disini.

“Apa yang harus aku lakukan!? Aku..... aku tidak bisa membantunya.”

Bahkan Ren, yang sudah cukup dekat dengan para budak, tidak bisa membantu. Demikian pula dengan Ksatria Wanita tidak bisa membantu. Aku pikir, ini adalah situasi yang tidak normal. Jika dia ingin membunuh paman Imiya, aku harus menghentikan Ksatria Wanita.

Aku bingung sekali. Aku tidak bisa menganalisis situasinya. Apa yang harus aku lakukan?

Jika ini adalah game, persuasif mungkin dapat memulihkan kembali mantan rekan yang telah dimanipulasi oleh seseorang, tetapi pada kenyataannya cukup sulit untuk membebaskan diri dari pengaruh cuci otak. Dan ini bukan game.
Tetap saja, aku tidak bisa menghabisinya begitu saja.
Hubungan kita sudah cukup akrab.

"Paman! Tolong hentikan! Sebelumnya Paman pernah mengatakan 'Aku ingin membantu Hero Perisai'!?”
“Ug… GUU…”

Kesadaran paman Imiya menjadi keruh. Ini bukanlah situasi untuk persuasi.

“Semuanya… Keadilan…” Dia mulai bernyanyi dengan lirik yang aneh. "Tolong ... Hentikan aku-"

Paman Imiya mulai melantunkan sihir. Spesies Lemo tahu bagaimana menggunakan tanah. Dia menggunakan sihir yang dapat memanipulasi tanah untuk membuat lubang yang menembakkan batu.

"Sebagai sumber kekuatan aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Wahai Bumi. Bunuh orang-orang dihadapanku!”
“Zweit Earth Drive!"
““"Sebagai sumber kekuatan Aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Wahai Bumi. Hambatlah sihir orang dihadapanku!”””
“Anti-Zweit Earth Drive!"

Karena dari spesies yang sama, Imiya menghalau sihir yang digunakan oleh pamannya, dan hanya muncul retakan kecil di tanah.

"Tuan Naofumi!"
"Ada apa?"
“Tolong batasi pergerakan paman Imiya dengan membuat penghalang di empat arah! Tolong buatlah dengan kuat."

Ah! Jadi seperti itu! Aku mulai mengumpulkan kekuatan sihir dan mencampurkan SP ke dalamnya.

"Uhh ..."

Imiya meraih pamannya dan menatapku.

"Sekarang! Hero-sama!"
“Apakah kau yakin?”
"Aku akan menahannya! Tolong! Tolong selamatkan paman."
“Aku mengerti! Shield Prison!"

Kurungan yang dibuat dengan perisai mengurung paman Imiya bersama Imiya.

"Atla!"
"Aliran kekuatan yang mengelilingi paman Imiya telah terputus."
"Bagus, apa masih ada orang lain?"
"Tidak ada lagi."
"Kita sangat beruntung sekali."

Ini akan menjadi masalah serius jika seseorang mulai berperilaku kasar seperti paman Imiya. Perlu waktu agar Shield Prison bisa digunakan kembali, sampai itu selesai kita perlu menahan orang lain tersebut jika ada.
Lalu…

"Pertama-tama, untuk saat ini, mari kita analisa situasinya sebelum kurungan itu menghilang."
“Mengerti.”
"Iya."

Sudah pasti paman Imiya adalah orang yang menuangkan racun ke dalam sumur. Mungkin itu semacam sihir kutukan. Berpikir tentang itu, sama seperti dulu dengan Motoyasu, itu terlihat seperti skill Senjata Legendaris.

Ren belum menggunakan miliknya. Dia diawasi dengan ketat sejak awal. Jika dia menggunakannya, dia akan langsung ketahuan. Motoyasu saat ini berada di Pulau Cal Mira. Dia mungkin akan segera kembali, itu berita buruk untuk Filo, dan itu mungkin juga akan merepotkanku. Ditambah lagi Filolial milik Motoyasu yang menyebalkan itu dapat menjadi korban jika dia melakukan perbuatan bodoh seperti ini. Jika dia yang melakukan perbuatan bodoh seperti ini maka aku harus menghukumnya, tapi mungkin tidak. Mungkin, bukan dia pelakunya.
Terlebih lagi-.

"Itsuki-sama...."
"Dia mungkin yang melakukan ini."

Salah satu faktanya adalah bahwa paman Imiya bergumam tentang keadilan. Pertama-tama, aku masih khawatir dengan kekuatan yang mengendalikan paman Imiya. Jika dipikirkan lagi, kemungkinan para budak yang hilang juga dikendalikan dengan kekuatan ini.
Aku tidak dapat menahan informasi ini lebih lama lagi.

"Rishia. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuberitahu kepadamu."
"Oh, apa itu?"
"Ini sudah lama terjadi, aku pernah berpapasan dengan Itsuki."
"FUEE!?"
"Apa kau ingat saat kita pergi untuk membeli Atla dan budak lainnya?"
"Iya."
"Saat itu, aku bertemu dengan Itsuki di Colosseum. Dia terlihat seperti orang gila, dia bertarung untuk mendapatkan pujian dari orang lain."
"..."

Rishia menunduk. Yaa... Aku tahu ini akan terjadi, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku memiliki alasan yang kuat untuk menyembunyikan tentang ini.
"Aku bingung untuk memberitahu atau tidak, aku khawatir sesuatu akan terjadi jika kau melihat Itsuki dalam-"
"Sudah cukup. Naofumi-san."

Bahkan, jika dia marah kepadaku, aku tidak dapat menghentikannya.

"Tidak masalah.... Jadi apa yang terjadi dengan Itsuki-sama?"
"Shadow yang mengawasi Itsuki kehilangan jejaknya, jadi saat ini keadaannya masih belum diketahui."
"Jadi... Begitu."

Mungkin saat ini kita telah diserang oleh Itsuki.
Mungkin dia mengira aku tidak bisa membalas balik serangannya.
Dia melakukan hal yang lebih merepotkan dari Ren dan Motoyasu.




TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 38. Beruang Diberi Ucapan Terimakasih Oleh Guildmaster

 Volume 2

Chapter 38. Beruang Diberi Ucapan Terimakasih Oleh Guildmaster



Aku pergi ke guild untuk mencari hal yang bisa dikerjakan. Aku berpapasan dengan Helen saat melewati mejanya, tetapi aku tidak menghiraukannya dan langsung menuju ke papan quest. 

"Yuna-san!" Teriak Helen, memanggilku. Bisa tidak, dia berhenti berteriak setiap kali melihatku? Dan sekarang aku jadi pusat perhatian, tapi yah, kurasa hal itu masih akan tetap terjadi meski Helen tidak berteriak tadi; kelihatannya mereka masih belum terbiasa dengan kostum yang aku kenakan.

"Apa?" Dia mungkin akan meneriaki namaku lagi jika aku tidak acuh padanya, jadi aku memutuskan untuk mendengarkan apa yang dia katakan.

"Kemana saja Anda selama ini, dan apa saja yang Anda lakukan? Guildmaster meminta saya untuk memanggil Anda saat kita bertemu."

Ada apa dengan wanita ini?
 "Seingatku aku tidak pergi kemana-mana dan melakukan apapun akhir-akhir ini."

"Apa Anda yakin?"

Aku tidak ingat pernah melakukan apapun, bahkan jika dia menatapku curiga seperti itu. Aku belum mengambil quest apapun selama beberapa hari terakhir ini. Lagipula, aku tidak ingat pernah menyebabkan masalah pada seseorang.

Tanpa mempedulikanku yang kebingungan, Helen menarikku ke ruangan Guildmaster. Aku bisa melihat Guildmaster sedang bergelut dengan pekerjaannya di meja. Kesan dia saat ini sama sekali tidak cocok dengan perawakannya yang bertubuh kekar. 

"Silahkan duduk." Dia menunjuk ke sebuah meja besar yang dikelilingi banyak kursi. Aku mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan pintu. "Ini tentang Gentz. Aku ingin berterima kasih padamu."

"Padaku?"

"Kau menyembuhkan penyakit Tiermina dan meyakinkannya untuk menikahi Gentz, bukan?"

"Memang, tapi kenapa kau berterima kasih padaku?"

"Pertama, tampaknya kau menggunakan obat yang sangat mahal dari kampung halamanmu untuk menyembuhkan penyakit Tiermina."

Karena akan repot jika desas-desus tentangku yang bisa menyembuhkan orang dengan sihir tersebar, aku meminta Gentz dan yang lain untuk mengarang cerita bahwa Tiermina berhasil sembuh berkat obat mahal yang kuberi. 

"Tiermima itu dulunya adalah mantan petualang, jadi aku khawatir tentang penyakitnya yang tak kunjung sembuh," lanjut Guildmaster.

"Jangan bilang kalau Fina bisa bekerja di guild itu ada campur tangan darimu juga?"

"Kupikir itulah setidaknya yang bisa kulakukan. Aku masih belum mempekerjakannya secara resmi, jadi kami hanya bisa memintanya membantu saat ada pekerjaan berlebih. Itulah sebabnya aku berterima kasih padamu karena telah banyak memasok mayat serigala. Kau masih mempekerjakannya, bukan?"

"Tentu saja. Lagipula, aku memang ingin Fina bekerja untukku."

"Bukan itu saja. Aku sempat khawatir Gentz akan terus memendam perasaannya pada Tiermina tanpa bisa mengungkapkannya. Dia mungkin takut akan mengkhianati Roy, atau tidak etis baginya untuk mengutarakan perasaan pada Tiermina yang sedang sakit parah, atau dia khawatir anak-anaknya tidak akan merestui hubungan mereka nanti. Tapi kau memberinya dorongan untuk membuang semua kekhawatirannya itu. Aku akan mengatakan ini padamu; terima kasih."

"Tak usah dipikirkan. Aku memaksa keduanya menikah itu juga demi Fina."

"Niatmu baik juga meski berkedok paksaan. Setidaknya, kami tidak perlu khawatir lagi dengan Gentz, dan sekarang dia bisa lebih fokus pada pekerjaannya."

Kemungkinan hubungan Gentz dan Guildmaster tidak hanya sebatas antara atasan dan bawahan saja. Tapi mereka juga tidak terlihat seperti teman lama dalam satu party. 

"Kalau sudah tidak ada perlu lagi denganku, bolehkah aku pulang?"

Sesaat aku hendak berdiri dari kursi, terdengar bunyi ketukan pintu. 

"Ada apa?"

"Permisi."

Seorang pegawai wanita masuk dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan. 

"Guildmaster, Lord Cliff Fochrosé telah tiba. Bisakah saya membawa beliau kepada Anda?"

Pegawai tadi menatapku. Kurasa dia tidak bisa membuat seorang bangsawan menunggu, meski Guildmaster sendiri sedang ada urusan denganku. Kepentingan macam apa yang Cliff punya dengan Guildmaster? Pikirku.

"Kami baru saja selesai," ucapku, "jadi tenang saja."

Pegawai wanita itu beralih menatap Guildmaster, dan mendapat anggukan setuju darinya. 

"Kalau begitu saya akan memanggilnya kemari."

Dia kemudian meninggalkan ruangan.

"Aku akan pergi juga."

"Ya, maaf sudah merepotkanmu."

Aku beranjak dari kursiku dan, saat hendak meninggalkan ruangan, pintu terbuka. 

"Maaf karena datang terlalu awal."

Cliff masuk dari pintu, dan mata kami langsung bertemu.

"Beruang? Oh, ternyata Yuna."

Aku memberinya sapaan sopan paling minimum* dengan sedikit menundukkan kepala. Saat aku hendak melewatinya untuk keluar ruangan, dia menghentikanku.
<TLN: maksudnya adalah sapaan sopan tingkat terendah yang digunakan untuk sekedar bertegur sapa. Tingkatan paling tinggi dari sapaan sopan di jepang adalah dengan membungkukkan tubuh 45 derajat, biasanya dilakukan saat berterima kasih dan meminta maaf.>

"Ini waktu yang tepat. Maukah kau ikut mendengarkan juga, Yuna?"

Dia meraih pundakku, lalu menarikku kembali ke dalam ruangan, dan mendudukkanku. 

"Jadi, apa yang membawa Anda kemari begitu awal, Lord Cliff?"

"Tak usah bicara formal, seperti biasanya saja."

Guildmaster lantas menatapku.

"Kau tak perlu khawatir dengan Yuna."

"Yah, jika kau yang bilang begitu, maka baiklah. Apa yang membawamu kemari kalau begitu?"

Gaya bicara Guildmaster menjadi santai.

"Ada yang ingin kumintai tolong darimu. Kau tahu kan, raja akan merayakan ulang tahunnya yang keempat puluh bulan depan?"

"Kurasa tidak ada seorang pun di penjuru negeri ini yang tidak tahu tentang hal itu."

Meski Guildmaster mengatakan demikian, faktanya, aku tidak tahu.

"Aku tidak punya sesuatu yang bagus yang bisa kuhadiahkan kepada beliau saat ulang tahunnya nanti."

"Kalau begitu, coba tanya ke serikat dagang."

"Aku telah kesana sebelumnya, dan mereka tidak punya apapun yang bisa menyenangkan raja. Tak ada menariknya menghadiahi raja dengan sesuatu yang bisa beliau beli sendiri dengan uang. Aku ingin tahu apa kau punya sesuatu yang langka, seperti pedang, armor, atau peralatan mungkin?"

"Kami sudah memasarkan semua komoditas yang kami miliki ke serikat dagang. Kau sudah melihat semua barang kami berarti."

"Tentu saja. Aku kemari cuma ingin memastikan saja. Jadi, untuk opsi keduaku, Yuna, aku ingin minta tolong padamu..."

"Tolong apa?"

Aku punya perasaan buruk tentang ini.

"Apa kau punya sesuatu yang langka? Semacam tas sihir seperti yang kau miliki? Atau sebuah alat yang bisa memanggil tunggangan, mungkin? 

"Maaf, tapi aku tidak punya. Aku jelas tidak berniat untuk menyerahkan milikku juga."

Jika dia memaksa, aku hanya akan langsung kabur.

"Kalau begitu, bisakah kau membuat sesuatu? Seperti rumah beruang contohnya. Aku pernah beberapa kali melihatnya—itu cukup mengesankan. Tentu saja, kita tidak bisa memindahkan sesuatu sebesar itu, tapi alangkah bagusnya jika kau mampu menciptakan satu yang kecil."

Ummm, pikirku, bukannya aku tidak bisa sih.

Aku bisa saja mengambil referensi dari bumi untuk menciptakan alat praktis seperti pengering rambut. Tapi sekali lagi, alat yang kuciptakan nanti kemungkinan sudah ditemukan di dunia ini—atau mungkin belum. Aku tidak punya ide sama sekali, dan aku tidak ingin mencolok dengan menciptakan sesuatu yang aneh juga. 

Untuk saat ini, aku mencoba mengecek penyimpanan beruangku untuk melihat apakah ada sesuatu yang bagus di sana.

.........

......

...

Sip, pikirku. Aku menemukan sesuatu yang menjanjikan.

"Kau datang ke guild petualang untuk mendapatkan sesuatu yang langka, kan?"

"Ya."

"Kalau begitu, bagaimana dengan ini?"

Aku menarik keluar dari penyimpanan beruangku pedang milik Goblin King.

"Dan apa ini?"

Cliff dan Guildmaster mengamati pedang tersebut.

"Ini adalah pedang milik Goblin King."

"Sungguh?!"

Aku tidak mungkin salah mengenali suatu barang selama ada kemampuan Bear Identification di sisiku.

"Aku sudah dengar pertempuranmu melawan Goblin King, tapi untuk berhasil mendapatkan pedangnya juga? Aku baru tahu itu."

Reaksi mereka lebih daripada yang kuharapkan.

"Bagaimanapun, kita masih harus memeriksa apakah benda ini asli."

Guildmaster membawa masuk seorang pegawai pria yang memiliki kemampuan appraisal untuk memeriksanya. Pegawai tadi lalu mengangkat pedang tersebut dengan kedua tangannya dan meraba setiap bagiannya, mulai dari bilah sampai gagang pedang. 

"Tidak diragukan lagi."

"Oke, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang."

Pegawai laki-laki tadi menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan.

"Apakah benda ini bisa dijadikan hadiah untuk raja?"

"Ya, bahkan lebih dari cukup untuk menyebutnya langka."

"Seberapa langka memang? Goblin King bukanlah monster yang terlalu sulit untuk dijumpai."

"Tidak semua Goblin King memiliki pedang seperti ini. Aku tidak tahu detailnya, tapi pedang milik Goblin King itu awalnya hanya pedang biasa. Pedang tersebut akan terus menerima pasokan mana dari Goblin King dan berubah bentuk seiring berjalannya waktu. Jika Goblin King yang memegang pedang itu terbilang muda, atau memiliki mana yang lemah, maka tidak ada yang spesial dari itu."

Aku rasa itu masuk akal. Dalam game, pedang Goblin King adalah barang jatuh yang lumayan sulit didapat. Namun, konsep pertumbuhan Goblin King tidak ada di sana.

"Jadi, bolehkah aku memiliki pedang ini?"

"Tidak masalah."

Aku tidak membutuhkannya, dan yang paling penting, pedang tersebut memiliki nama yang payah. Jika aku akan memiliki pedang, aku ingin yang namanya keren. 

"Jadi, berapa aku harus membayarmu untuk pedang ini?"

"Berapa biasanya harga pedang ini di pasaran?"

"Jujur saja, aku tidak tahu. Pedang ini bukanlah sesuatu yang bisa kau temukan dengan mudah di luar sana. Begini saja, sebutkan harganya. Jika aku mampu, maka aku akan membelinya.

"Aku masih dirugikan di sini. Bisa saja tanpa sadar, aku mematok harganya terlalu rendah nanti."

Yah, bukan berarti aku sedang membutuhkan uang, jadi aku tidak terlalu peduli dengan harga asli dari pedang itu. Memberikannya cuma-cuma juga tidak akan menarik.

"Aku akan memberikannya gratis jika kau setuju dengan syarat yang kuajukan."

"Syarat?"

"Seorang Lord sepertimu pasti sering melakukan berbagai macam hal-hal keji, bukan? Jadi, aku ingin kau membantuku jika aku dalam masalah suatu saat nanti."

"Kau benar-benar punya pandangan yang buruk tentangku ya. Aku ini orang baik-baik."

"Yah, kesampingkan soal leluconnya, jika aku butuh sesuatu di masa depan nanti, aku harap kau mau mendengar permintaanku."

"Bisakah kau memberiku contoh yang lebih spesifik?"

"Mencopot Guildmaster dari jabatannya, misalnya?"

"H-hey." Guildmaster bangkit dari kursinya. 

"Itu hanya lelucon. Aku sedang tidak butuh apapun sekarang. Jika terjadi sesuatu di masa depan nanti, aku ingin kau menolongku. Dan jika sekiranya itu mustahil kau penuhi, maka kau boleh menolaknya."

"Apa kau yakin?"

"Ya. Lebih menarik seperti itu."

"Aku terima tawaranmu dengan senang hati kalau begitu. Akan kusiapkan perjanjian tertulisnya segera."

"Tidak perlu. Jika kau melanggarnya, maka biarlah perjanjian itu berakhir."

Aku tersenyum pada Cliff. Bisa dibilang, aku tidak butuh pedang tersebut. Berpisah dengannya juga tidak masalah bagiku. Membuat Cliff berhutang padaku sudah menjadi keuntungan tersendiri.

"Aku berjanji akan membantumu selama itu masih dalam kemampuanku."

Dia terlalu melebih-lebihkannya dengan mengikrarkan sumpah seperti itu.

"Kalau begitu, tolong penuhi sumpahmu saat waktunya tiba."




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley