Jumat, 27 November 2020

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 15. Beruang Mengambil Libur di Hari Hujan. Bagian Satu

Volume 1
Chapter 15. Beruang Mengambil Libur di Hari Hujan. Bagian Satu


Hari berikutnya, hujan mulai turun dan belum berhenti sampai saat ini. Aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar, mengisi kekosongan dengan membaca buku kumpulan info tentang monster. Kebanyakan yang terangkum didalamnya adalah makhluk-makhluk fantasi yang biasa kalian jumpai pada game RPG, light novel, maupun manga. Mencoba berkeliling dunia untuk mencari mereka mungkin bukan ide yang buruk.

Setelah beberapa saat membaca buku itu, perutku meminta untuk diisi, jadi aku turun ke bawah untuk menyantap makan siang. Ruang makan penginapan tetap ramai oleh pengunjung meskipun hari sedang hujan. Saat aku menanyakannya pada Elena, dia menjawab, "Oh, itu karena hujan menyebabkan kios-kios pinggir jalan menutup dagangan mereka. Orang-orang pergi mencari toko yang menyediakan tempat berteduh di saat-saat seperti ini."

Aku menyapu pandanganku pada ruang makan penginapan dan tidak menemukan satupun meja yang kosong. Aku sungguh tidak ingin berbagi meja dengan orang asing, jadi aku tidak berniat untuk makan di ruang makan.

"Yuna-san, mohon maaf, tapi kelihatannya kami kehabisan tempat duduk. Jika anda berkenan, maukah anda menyantap makan siang anda di kamar?"

"Ya, tidak masalah. Aku pesan menu khusus hari ini."

"Dimengerti. Saya akan mengantarkannya ke kamar anda segera."

Sekitar lima menit setelah aku memasuki kamar, sebuah suara ketukan terdengar dari luar. Lebih cepat dari perkiraanku, pikirku.

"Yuna-san, bisakah anda membuka pintunya?"

Saat aku membuka pintu, Elena tampak tengah berdiri sambil membawa hidangan dengan asap yang masih mengepul. Karena tagihan makan siang tidak masuk biaya sewa, aku membayarnya setelah membawa masuk hidangan tersebut dan meletakkannya di atas meja.

"Terima kasih."

"Elena, semoga beruntung melayani pelanggan di bawah sana."

"Tentu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menghasilkan uang." Jawabnya dengan penuh percaya diri sebelum akhirnya berbalik dan turun ke bawah.

Dengan perasaan bahagia, aku menyantap hidangan yang tersedia di atas meja; sepiring tumis sayur dengan campuran daging dan semangkuk sup hangat dengan tambahan roti yang baru keluar dari tungku perapian. Aku tetap mengunyah rotinya meskipun lidahku mulai merindukan nasi. Begitu juga dengan ramen, aku sangat ingin menikmatinya, namun belum pasti apakah mereka punya yang seperti itu di dunia ini. Lain kali, aku akan coba bertanya pada Elena.

Aku menyelesaikan makanku dan mulai memikirkan bagaimana cara mengisi waktu senggang ku. Aku kemudian memeriksa layar status milikku.


Nama: Yuna 
Umur: 15 tahun
Level: 18
Kemampuan: Fantasy World Language, Fantasy World Literacy, Bear Extradimensional Storage, Bear Identification, Bear Detection, Bear Map
Sihir: Bear Light, Bear Physical Enhancement, Bear Fire Magic, Bear Water Magic, Bear Wind Magic, Bear Earth Magic

Perlengkapan
Tangan kanan: Black Bear Glove (Nontransferable)
Tangan kiri: White Bear Glove (Nontransferable)
Kaki kanan: Black Bear Shoe (Nontransferable)
Kaki kiri: White Bear Shoe (Nontransferable)
Pakaian: Black and White Bear Clothes (Nontransferable)
Pakaian dalam: Bear Underwear (Nontransferable)


Aku memperoleh kemampuan baru. Bear Map? Yang benar saja, jangan seenaknya mencantumkan kata "beruang" ke dalam apapun.


Bear Map
Setiap area yang masuk dalam jarak pandang mata beruang akan dipetakan.


Bear Map menampilkan sebuah peta dengan aku sebagai pusat dan sekitarku sebagai indikator wilayah; kota meliputi sekitarnya, hutan bagian timur, serta area sekitar desa tempat munculnya goblin. Wilayah lain mengindikasi warna hitam, tidak menunjukkan apa-apa. Rasanya mirip dengan sistem pemetaan pada World Fantasy Online. Berguna sih, tapi hanya tempat-tempat yang pernah aku kunjungi saja yang dipetakan. Aku khawatir jika wilayah tertera pada peta seluruhnya terungkap, itu akan menghilangkan keseruan tersendiri dalam melakukan eksplorasi.

Sesuatu terpikirkan dalam benakku saat melihat area pada peta yang mengindikasi gua tempat Goblin King bersarang, aku kemudian mengeluarkan dari dalam penyimpanan beruang pedang milik raja goblin yang kusimpan. Saat kupegang, pedang tersebut tidak menampakkan aura jahat seperti ketika berada dalam genggamannya. Itu berubah menjadi pedang anggun dengan kilau perak yang bersinar.

Aku menggunakan Bear Identification untuk memeriksanya.


Goblin King's Sword
Kemampuan: peningkatan serangan fisik, efek pengimbuhan sihir

Peningkatan serangan fisik: kekuatan fisik dari pengguna akan ditingkatkan.
Efek pengimbuhan sihir: pengguna dapat mengimbuhi pedang tersebut dengan kekuatan sihir miliknya.


Atmosfir jahat yang sebelumnya terpancar dari pedang tersebut kemungkinan adalah cerminan dari kekuatan milik Goblin King. Saat aku mengalirkan mana pada pedang tersebut, itu memancarkan kilau perak yang cantik. Mungkin aku akan mencobanya saat hujan sudah berhenti.

Hujan tampaknya tidak akan reda dalam waktu dekat, jadi aku memeriksa agenda yang kumiliki hari ini. Meskipun dulu tinggal seorang diri, aku selalu berhasil mengatasi kebosanan dengan melakukan berbagai kegiatan; mulai dari bermain (game), membaca, dan menonton. Tidak dapat melakukan semua hal tadi, aku berakhir dengan rasa bosan yang hebat. Hal lain yang dapat kulakukan hanyalah tidur, namun jika sekarang aku tidur, maka akan sulit bagiku untuk terlelap di malam hari. Semua hal yang aku lakukan saat bergadang di jepang sana tidak ada yang bisa kulakukan di dunia ini. Aku perlu berpikir kreatif.

Aku sedikit terganggu saat melihat bayangan diriku memegang pedang raja goblin dengan lengan lembekku yang tampak seperti jeli, jadi aku memutuskan untuk sedikit berolahraga. Kemungkinan penyebabnya adalah kostum beruang yang kukenakan, tapi tidak peduli berapa kali aku melakukan push-up—mau itu sepuluh atau seratus kali—tidak membuatku lelah sama sekali. Aku tidak akan pernah bisa melatih otot lenganku jika seperti ini.

Berpikir demikian, aku melepas set perlengkapan beruang yang kukenakan, menyisakan hanya pakaian dalam pada tubuhku. Yah, aku masih mengenakan kaos sebagai atasan, tapi bagian bawahku hanya dibalut dengan celana dalam. Celana dalam yang kubeli tempo hari terasa gatal saat dikenakan, membuatku tidak ingin menggunakannya. Mungkin aku akan mengunjungi toko kelas atas lain waktu.

Aku mencoba melakukan push-up. Belum sempat melakukannya sepuluh kali aku sudah kelelahan. Tak ada yang berubah semenjak kedatanganku kemari dari jepang. Aku menyerah untuk melatih otot lenganku yang lembek dan dengan patuh mengenakan kembali kostum beruang yang sebelumnya telah kulepas. Mengerikan seperti biasa, aku semakin tidak bisa lepas dari kostum aneh tersebut.




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Kamis, 26 November 2020

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 43. Akhir dari Sharltar

 Chapter 43. Akhir dari Sharltar




Moral pasukan langsung meningkat drastis begitu aku memasuki medan pertempuran menggantikan Hijikata.

Di saat yang sama, pasukan musuh tampak bergerak kearahku. Pemimpin pasukan musuh menunjuk kearahku.

“Itu adalah Raja Iblis yang kita cari!”

“Orang yang bisa mendapatkan kepalanya akan mendapatkan Kastil!”

Kemudian semua serangan mereka terarahkan kepadaku. Namun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jeanne dan Hijikata mungkin unggul dalam pertarungan satu lawan satu, tapi aku lebih cocok untuk melawan banyak musuh.

Jadi aku menembakkan sihirku dan menghancurkan musuh.

Setelah aku memastikan bahwa hanya ada pasukan musuh di area seranganku, menyenangkan rasanya untuk bisa menyerang tanpa khawatir ada bawahanku yang terkena seranganku sendiri.

Pilar-pilar api, Sambaran petir, Badai Es, dan Angin yang bisa menyayat tubuh.

Segala macam sihir serangan yang ku kuasai bertebaran di medan pertempuran dan menghabisi banyak Undead. Serangannya begitu kuat seolah-olah gerombolan Undead itu meleleh. Namun, selalu ada Undead lain yang menggantikan Undead yang baru saja terbunuh.

Seolah-olah musuh memiliki persediaan pasukan yang tak ada habisnya.

Aku mulai cemas tentang berapa lama ini bisa berlanjut, tetapi kemudian keadaan menjadi lebih buruk.

Sharltar yang melihat bahwa bawahannya sedang bertempur melawanku memutuskan untuk maju ke garis depan.

Mata pria berbahaya itu terbakar dengan nafsu untuk membalas dendam.

“Jadi kau lah Imp yang menguburku di wilayah Dwarf!”
<EDN: Salah satu ras demon yang bertubuh kecil>

"Aku memang agak tinggi untuk ukuran ras Imp, tapi selain fakta itu, semuanya benar."

“Kau tidak hanya membuat marah Raja Iblis Eligos, tapi aku harus terkubur di bawah tanah selama berbulan-bulan.”

“Aku lebih suka kau terkubur disana selamanya.”

“Itu tidak akan terjadi. Aku berniat untuk hidup untuk waktu yang lama. "

“Yah, jika kau selamat dari pertarungan satu lawan satu melawanku, mungkin kau bisa mewujudkan impianmu itu.”

“Oh? Jadi kau ingin melawanku sendiri, Imp? Aku, sang Necromancer, Sharltar.”

"Kecuali jika kau kurang berani."

"…DASAR BODOH!"

Sharltar duduk di atas kudanya dan dia mulai melantunkan mantra sihir dengan penuh amarah.

Lalu dia melepaskan sihir itu.

Seseorang berbentuk Malaikat Kematian mendatangiku. Aku akan mati jika sihir itu menyentuhku. Karena itu adalah sihir bertipe Instant-Death, akan tetapi sihir itu tidak terlalu sulit untuk di hindari. Aku merapalkan sihir Levitation pada diriku sendiri dan melesat ke udara.

“Menurutmu itu akan membantumu?”

Sharltar melambaikan tangannya dan mengubah arah mantranya. Sepertinya dia punya kemampuan untuk menggerakkan Sihir kematian itu. Itu pintar, membuktikan bahwa Sharltar cukup pandai sebagai seorang penyihir.

"Kau tidak terlalu buruk, Sharltar."

"Aku orang paling terpercaya Raja Iblis Eligos."

“Kalau begitu, kematianmu akan sangat mempengaruhi pasukan ini?”

“Itu tidak akan terjadi. Dan terlepas dari itu, kau harus membunuhku dan Raja Iblis Eligos untuk menghentikan pasukan undead ini.”

“Itu cukup melegakan. Dengan kata lain, Raja Iblis Eligos kemungkinan besar akan tetap bersembunyi di istananya.”

"Salah lagi. Raja Eligos akan datang ke sini saat ini juga. Untuk membunuh langsung bajingan sombong sepertimu. "

"Hah…"

Aku tidak bisa menahan senyumnya.

“Mengapa kau tertawa?” Tanya Sharltar.

"Yah, aku baru saja tersadar bahwa agak licik bagi kalian berdua untuk menyerangku sekaligus."

"Diam! Itu adalah strategi, bukan sebuah kelicikan! "

"Benar. Yah, kurasa aku hanya harus membunuhmu sebelum dia datang."

"Itu tidak mungkin!!" Teriak Sharltar. Pada saat yang sama, muncul 2 Prajuritku di kedua sisinya.

Dari sebelah kanan muncul Hijikata dan dari sebelah kiri muncul Jeanne. Kemudian mereka memotong Sharltar bersamaan.

Sharltar segera menghindar ke atas.

"Si-sialan kau! Dasar pengecut! Kau menantangku untuk Duel bukan! "

“Aku harus realistis. Situasinya telah berubah, jadi aku harus menarik kembali kata-kataku. "

“Dasar sampah pengecut!”

“Sebagai seseorang yang membunuh para Dwarf dan manusia untuk membangun pasukan Undead, kau tidak punya hak untuk mengatakan hal itu.”

“Manusia hanyalah sumber daya!”

“Dan bagiku, kau hanyalah sampah. Kau tidak ada gunanya. Jika ada kehidupan selanjutnya yang menunggumu, kuharap kau bertindak lebih baik. " Ucapku. Kemudian aku mulai melantunkan mantra sihir.

“Wahai jiwa - jiwa yang sekarat, ukirlah kata- kata kegelapan

Oh api permulaan, Api yang terkuat, bakarlah semua kejahatan! "

Teriakku. Kemudian, tubuhku mulai memerah karena ledakan energi sihir.

Lalu energi itu terkonsentrasi ke tangan kananku. Yang kemudian menembakkan api yang sama panasnya dengan api naga.

Mantra ini disebut 'Flare' dan meningkatkan suhu di suatu area dengan cepat. Para Undead itu pun mulai terbakar dan Sharltar tidak luput dari cahaya itu.

"T-tidak mungkin! F-flare? Seorang penyihir pemula seharusnya tidak…”

“Mungkin aku seorang pemula, tetapi aku bukan penyihir biasa. Aku tidak akan kalah dari orang sepertimu. "

"…Kau! Ashtaroth. Dagingku mungkin binasa di sini, tapi jiwaku tidak. Aku bersumpah untuk menghantuimu. Akan ku kutuk kau sampai mati.”

“Jangan ragu untuk melakukannya. Tapi itu mungkin tugas yang cukup sulit karena kau harus mencari jalan keluar dari neraka. "

“… Masih ada Raja Iblis Eligos. Dia adalah Prajurit dari neraka. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya. "

"Mungkin. Tapi aku akan mengalahkan dia menggunakan kepintaranku, bukan dengan kekuatan. "

“Sangat lucu. aku berharap untuk melihatnya. Sampai jumpa di neraka."

"Ya, tetapi bahkan di neraka, kau tidak akan bisa mengalahkanku."

Beberapa saat kemudian Sharltar ditelan oleh Flare dan menghilang.

Hanya debu yang tersisa.

Tidak ada satu titik pun dari tubuhnya yang akan ditemukan.

Itu adalah kematian yang tepat untuk penjahat seperti itu, tetapi pertempuran belum berakhir.

“Sangat luar biasa, Astaroth-sama! Anda telah membunuh Sharltar.” Kata Jeanne dengan hormat, tapi tidak ada waktu untuk membalasnya.

“Pasukan Undead itu masih disini. Sekarang Raja Iblis Eligos lah mengendalikan mereka.”

“Jadi kita masih harus mengalahkan Eligos?”

"Iya."

“... Kalau begitu, pertempuran ini masih tetap berlanjut.”

"Iya. Namun, Eligos akan segera tiba di sini. Kemudian sisa dari rencanaku dapat dilaksanakan."

"Baiklah!"

Jeanne tersenyum. Dia tidak tahu detailnya, tapi dia percaya padaku. Dan ini memberinya keberanian.

Selalu ada sedikit pernyataan berlebihan tentang perasaannya, tapi setidaknya hal itu meningkatkan moral para prajurit.

Jadi Jeanne dan aku menahan serangan para undead.

Kami harus bertarung sepanjang hari setelah itu sebelum kedatangan Raja Iblis Eligos.

Dia datang dengan kuda hitam, seolah-olah dia adalah pangeran kegelapan dari neraka.

Note: 
Jangan lupa klo ada kesalahan bisa koreksi lewat komen di bawah atau DM FP Isekai chan yak


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 25 November 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 182. Wrath Dragon

 Chapter 182. Wrath Dragon



“GURU!?”

Setelah mendengar perkataan itu, Gaelion berhenti.
Oh! Apa kasih sayang dari orang tua dan anak berhasil memberhentikannya?
Apakah begitu?

“Ayah?”
“Eh?”
“Aku memikirkan kemungkinan itu, tapi ternyata benar.”

Rat mengatakan sesuatu dan mengangguk karena sudah yakin dengan tebakannya.

“Uhnn. Ayahku itu.... adalah seekor Dragon yang menguasai wilayah ini.”

Lalu, Taniko mengangguk dan mulai berbicara dengan Gaelion.

“Ini cerita yang jarang terjadi. Sebuah cerita mengenai monster yang membesarkan anak manusia dan Demi-Human, kebanyakan monster itu adalah manusia serigala dan Dragon.”

Apa? Kenapa ada kata manusia serigala disana?
Eh? Itu berarti Taniko benar-benar dibesarkan oleh Dragon?
Padahal, Taniko sudah dipastikan Demi-Human Anjing, dia tidak memiliki karakteristik dari seekor naga.
Lagi pula.... ini adalah tempat Dragon Zombie, jadi tidak mungkin. Dalam hal ini, mungkin dragon itu menjadi induknya ketika dia masih hidup?

Berarti, mantra sihir spesial itu diajarkan oleh dragon?
Mengapa Sadina bisa mengetahui jenis mantra sihir seperti itu?
Sadina melihat ke arah sini.

“Ra.Ha.Sia.”

Kelakuannya menjengkelkan sekali.
Aku akan meminta penjelasannya nanti.

“Sudah cukup, hentikan semua ini.... Ayah. Di tempat ini sudah tidak ada yang tersisa. Mungkin Ayah membenci hero yang mengambil semua milikmu. Tapi, jangan mengganggu dunia ini, karena tidak ada yang akan berubah.... sudahilah percobaan untuk mengambil sesuatu yang tidak bisa dimiliki lagi!”
“GU....”

Gaelion mengerang khawatir mendengar perkataan Taniko.
Dia seperti tidak mau mendengar semua itu sampai menutup kedua telinganya dengan kedua lengannya.

“Mau sampai kapan kau melakukan ini. Aku tahu bahwa hero telah merenggut kebahagiaanku, kebahagiaan ayah. Tapi, Hero Perisai... dia itu berbeda. Dia baik hati kepada semua orang di desa. Dia berbeda jauh dengan orang negara ini yang suka mencambukku bila berbuat salah. Dia juga berbeda dengan orang-orang desa yang tertawa ketika mengambil harta ayah.”

Sambil berlinang air mata, Taniko mengatakan semua ingatan masa lalunya untuk membujuk Gaelion kembali.
Karena perkataan itu tepat sasaran, akhirnya dia menutup telinganya.
Aku tidak menyangka, bahwa ada Dragon yang membesarkan anak Demi-Human.... apa karena aku terlalu sering bermain game sampai berpikiran itu hal yang mustahil di dunia nyata?

“Aku mohon..... kembalikan tubuh anak naga itu.... karena dia itu.... sama denganmu, ayah, Gaelion itu masih hidup! Lalu, kembalikan kekuatan dari anak bernama Filo-chan.... karena ayah... ayah sudah tidak boleh berada disini.”
“GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Kemudian dia mulai menggaruk-garuk dahinya.
Dan kemudian....

“Gyaa, Gyaa....”

Dari setiap garukan itu membuat sebuah lubang di dahinya.
Dalam lubang itu, muncul seekor bayi dragon yang mirip dengan Gaelion, kemudian dia melompat keluar.

“Gaelion!”
“Gyu....aa.”

Wujud Gaelion yang baru saja lahir ada disana.
Exp dari level dan unsur pertumbuhan sebelumnya ikut tersedot dengannya, sepertinya itu terjadi karena dia ingin mencegah dragon itu mengamuk pada Taniko dan kita semua.
Lalu.... Dragon yang memusuhi kita sebelumnya mulai berwarna hitam dan meleleh sambil menatap kami.
Lalu dia menatap Taniko dengan maksud menentang semua ini.

“Ayah. Jika kau terus keras kepala seperti ini.... maka aku akan melakukan segala hal untuk menghentikanmu.”

Ketika Taniko kembali ke tempat Melty dan Sadina, dia menghirup nafas sedalam mungkin.

“Sadina-oneechan. Aku, ingin menghentikan ayah.”
“Baiklah.”
“Sepertinya kita harus melakukannya.”

Mereka bertiga mulai berkumpul dan memulai mantra kooperatif.
Kali ini dilakukan dengan cepat. Sepertinya kalimat mantra itu memahami Taniko.
Aku rasa bukan itu, Gaelion kecil itu merentangkan sayap kecilnya dan terbang di antara mereka bertiga ketika melantunkan mantra.
Aku melihat pada Dragon hitam pekat itu yang sedang meleleh.

“GYAOOOOOOO!”

Jadi dia ini adalah orang tua Taniko.... Sebelumnya aku pernah melawannya, namun kali ini dia terlihat lebih kuat dari sebelumnya.
Karena waktu itu dia tidak memiliki taring dan tanduk.

“Count, apa lukamu sudah membaik?”
“Bagaimana menurutmu?”

Ya, ini adalah luka bakar dari api Dark Curse Burning S. Lagi pula, api yang disemburkan sudah dilemahkan, jadi tidak begitu parah.
Yang aku rasakan adalah kutukan sebelumnya ditambah dengan kutukan baru sebagai damage tambahan.

“Kutukan itu hanya mengurangi pemulihanku saja. Jadi jangan khawatir karena aku bisa menyembuhkan ini dengan air suci dan mantra penyembuh tingkat tinggi, tapi karena efek dari mantra kooperatif itu, aku merasa lebih baik.”

Aku mengatakan itu sambil maju untuk melindungi Taniko dan yang lain.
Lalu Gaelion terbang dan hinggap di pundakku.

“Ini berbahaya, cepat turun.”
“Tidak mungkin.”
“Apa!?”

Gaelion berbicara.
Tapi kenapa suaranya kecil.

“Jangan terkejut, diriku bisa ketahuan oleh Wyndia nanti.”
“Kau....”

Jadi dia ini ayah Wyndia yang merasuki Gaelion.
Jadi kau masih tetap bersama dengan Gaelion kecil.

“Diriku sangat senang dengan pertumbuhan anakku. Hero Perisai. Ada suatu hal. Biar diriku memberitahumu sesuatu. Pastinya dirimu sudah menyadari ini, bukan?”
“Memangnya aku harus menyadari itu sendiri..... bukannya kau ingin memberitahuku. Tidak.... aku juga sudah menyadari ini.”

Aku melihat ke arah Gaelion yang sedang menjadi musuh kita saat ini.
Namanya berbeda. Tidak juga, sekarang aku bisa mengetahui statistik sekarang.

Wrath Dragon.

Sekarang, Dragon hitam besar bernama Gaelion sudah menghilang.

“Benar. Itu adalah diriku yang termakan oleh rasa amarahmu, hingga akhirnya diriku terlahir dalam bentuk kemarahan. Sebelum diriku kehilangan kesadaran lagi, cepat habisi diriku ini.”
“Apa kau mengerti? Aku tidak bisa menyerang.”

Dari awal, satu-satunya alat penyeranganku hanya Wrath Shield saja. Namun, jika tanpa itu aku tidak bisa menyerang apapun.

“Tenang saja, diriku akan membantumu menyerang. Yang perlu kau lakukan hanya menahan seranganku saja.”
“Iya, iya. Itu merupakan keseharianku.”
“Itu benar juga. Dalam perisaimu, ada ingatan diriku dan kejadian masa lalu yang sampai membuat semua ini menyusahkan banyak orang..... diriku menyerahkan sisanya padamu.”

Ya ampun, entah kenapa aku merasa masalah utama yang disebabkannya masih belum selesai?
Aku memasukkan Gaelion ke dalam party, lalu pembacaan mantranya bertambah cepat.
Aku menerima serangan nafas Wrath Dragon, serangannya lebih kuat dari yang sebelumnya.

Aku mulai merasakan rasa sakit yang mematikan diseluruh tubuh. Aku tidak bisa menahan semua ini dalam waktu lama. Ini bisa membuat aku gila.
Namun, aku bisa membuatnya sedikit mundur walaupun Wrath Dragon terus menyerangku tanpa henti.

Serangan menggigit dengan seluruh kekuatannya, lalu menyerang dari atas untuk membuatku terjatuh ke tanah.
Dalam waktu serangan itu, aku menggunakan Meteor Shield, Shield Prison dan Air Strike Shield untuk menahan dan menghindari serangannya.

“Wahai air mengalir yang dapat menghanyutkan kebencian, dendam dan kutukan alam. Wahai Dragon Vein, kami meminta kekuatan yang dapat menyelamatkan dunia. Berilah kami keajaiban.”
“Diriku, Gaelion memerintah surga, memerintah alam, untuk memisahkan hukum alam dan menyambungkannya kembali hukumnya untuk mengeluarkan nanah dari dalamnya. Wahai kekuatanku, bangkitkanlah kekuatan yang dapat memutuskan aliran emosi dihadapanku!”
 
Aku bisa mengerti semua mantra yang dibacakan Gaelion melalui sistem penerjemah perisai. Perisaiku mengeluarkan suara setruman listrik, lalu menampilkan hasil penerjemahan itu dihadapanku.
Sadina mungkin menyadari itu, karena dia melihat ke arah Gaelion.

““Erasing Aqua Slash!””
““Annihilating Wave of the Water Dragon!””

Pembacaan mantra sihir dari mereka bertiga selesai, kemudian kekuatan sihir mengelilingi Gaelion.

“Eh!?”

Taniko meninggikan suaranya karena terkejut akan kejadian itu lalu Melty terduduk kelelahan.
Sadina lari menuju hutan sambil membawa tombaknya, lalu Gaelion mengumpulkan kekuatan sihir itu menjadi bola sihir.

“Naofumi-chan dan Rat-san, cepat beri mantra pendukung!”
“Ah!”
“Zweit Aura!”
“Fast Power! Fast Magic!”

Dengan mantra pendukungku dan mantra pendukung dari Rat, serangannya bertambah cepat.

“Ayo. Gaelion-chan!”
“GyaUUUUUUUUUU!”

Gaelion yang sebenarnya meraung [KyuA].
Gaelion menarik nafasnya sedalam mungkin lalu menghembuskan bola sihir itu.
Kemudian sejumlah air mengalir dengan deras dari bola tersebut dan menyerang Wrath Dragon.
Sadina memasuki aliran air yang deras itu lalu berenang hingga memunculkan tornado.

.... Serangannya lebih mencolok dari pada Raphtalia dan Filo. Hebat sekali.
Apa dia itu lebih kuat dari mereka berdua?
Padahal statistik Sadina tidak begitu tinggi.
Apakah ini karena efek koreksi pertumbuhan?

Serangan yang mencolok itu bukan berarti kuat.... aku merasa aneh saja.
Jika aku yang dulu, pastinya akan mengeluh.

Layaknya robot raksasa yang sedang bergabung menggunakan gelombang elektromagnetik, Sadina menggunakan serangan pamungkasnya dengan mengelilingi Wrath Dragon sebelum menyerangnya.
Pada saat yang bersamaan, bola air yang Gaelion hembuskan menghilang.

“Bagaimana dengan ini!?”

Sadina mendarat dipundak Wrath Dragon sambil mengatur nafasnya. Tentu saja, aku mendekat untuk mengecek keadaan Wrath Dragon.
Wrath Dragon dengan keadaan perutnya yang berlubang berjalan perlahan.... kemudian terjatuh dan meraung dihadapanku.
Entah kenapa aku merasa kemenangan sudah ada didepan kita.

“GYAOOOOOOOOOOOOOO!”
“Dia hebat sekali, dapat menahan seranganku...... Oneesan sudah tidak kuat lagi.”
“Diriku terlalu meremehkan emosi yang diriku miliki, ternyata dirinya memiliki statistik seperti itu, diriku tidak menyangka akan tertipu dengan semua ini.”

Semua orang yang disini sudah mencapai batasnya.
Yang bisa bergerak hanya aku dan Rat saja.

“Rat, apa kau punya rencana?”
“Hmm..... aku hanya memiliki ramuan pertahanan diri saja.”
“Cepat kau lemparkan.”
“Baiklah.”

Layaknya air, Rat melempar ramuan itu tanpa ragu.
Ada yang meledak, ada yang melelehkan sesuatu sampai menghasilkan bau yang aneh, dan masih ada kejadian lainnya.

“Sebenarnya itu cukup mahal..... sepertinya kita akan mati disini.”
“Jangan menyerah! ..... Apa boleh buat. Aku akan mengalihkan perhatiannya! Semua cepat mundur!”

Pada akhirnya ini yang akan terjadi.

“Bagaimana denganmu, Count?”
“Aku akan menghalanginya disini sampai kalian semua selamat, setelah itu aku akan melarikan diri dari sini.”

Aku tidak ingin mati mengorbankan diri. Karena aku tidak mau melakukan hal seperti itu.
Damage yang diberikannya pastinya besar, selama bisa menghindar pastinya akan baik-baik saja.
Sebaiknya sekarang melarikan diri, lalu menyiapkan semuanya sebelum kembali lagi kemari. Jika Raphtalia datang pasti kita akan menang.
Bagaimana dengan Filo? Apa dia akan baik-baik saja? Dia itu imut sekali. Aku tidak ingin dia mati.

..... Seperti ada yang aneh.
Aku yakin, ada sesuatu yang aneh.
Apa diriku memang seperti ini?

“.... Kita tepat waktu.”

Aku mendengar suara pijakkan kaki dan suara orang yang aku kenal.
Ketika aku melihat ke sumber suara, entah kenapa Raphtalia dan Atla sedang menunggangi Filo yang sedang melompat.

“Raphtalia-oneechan! Cepat!”
“Serahkan saja padaku!”
“Aku mohon Raphtalia-san. Cepat bantu Tuan Naofumi dan semuanya!”

Pedang Raphtalia bersinar, mungkin karena dia sudah mempersiapkan serangan.
Saat melihat kedatangan Raphtalia, Wrath Dragon ketakutan lalu berbalik dengan mulut terbukanya dan mencoba untuk kabur menuju ke langit.
Kenapa? Kenapa kau takut setelah melihat Raphtalia yang ingin menyerangmu?

“Tak akan kubiarkan kau lolos!”

Raphtalia melompat dengan menggunakan Filo sebagai pijakkannya, lalu menyamai ketinggian Wrath Dragon kemudian menebasnya.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Dengan suara yang keras, Wrath Dragon terbelah dua dan terjatuh ke atas tanah setelah Raphtalia menebasnya.

“Ayah.... maafkan aku. Aku sudah tidak akan melihat masa lalu kembali.”
“....”

Aku menatap punggung Taniko yang menyatukan kedua tangannya sambil menitiskan air mata.




TL: Bajatsu
EDITOR: Isekai-Chan 

Selasa, 24 November 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 15 : Chapter 9 – Pertengkaran Saudara

Volume 15
Chapter 9 – Pertengkaran Saudara


Dua hari kemudian.

Fohl kembali ke desa, setelah selesai menerima pelatihan dari wanita tua itu. Dia rupanya sangat senang dengan kemajuan pesat yang dibuat oleh mereka yang berada dibawah perlindungan para pahlawan.

Ada metode peningkatan kekuatan Pahlawan Perisai. Tapi mungkin ini sebagian berkat diriku.

"Kakak! Aku ingin bertarung juga! " Atla memohon.

"Tidak!" Fohl menjawab. Ini telah berlangsung sejak dia kembali. Untuk saat ini, setidaknya, Atla tidak akan mencoba membungkamnya menggunakan kekerasan. Tentu saja, jika dia mencoba sesuatu yang konyol, dia pasti tidak akan bisa ikut.

Tidak ada yang mempercayai seseorang yang akan melakukan itu.

Tetap saja, Atla sangat keras kepala dalam hal apa pun yang mungkin mengancam hidupku. Dia sangat menyayangiku. Mungkin dulu aku punya sedikit fetish untuk memiliki gadis yang mengikutiku begitu saja, tapi setelah benar-benar bertemu salah satunya, yang kurasakan padanya hanyalah kekhawatiran.

Tetap saja, aku adalah seorang penjahat, orang yang menertawakan kemalangan orang lain, jadi mungkin aku tidak berhak atas reaksi seperti itu.

Mungkinkah seseorang yang jahat sepertiku, membesarkan budak untuk mempertaruhkan nyawa mereka dengan senang hati, berharap memiliki sesuatu seperti keluarga? Tentu saja tidak.

Jadi aku hanya diam-diam menonton pertengkaran Fohl dan Atla

"Aku memintamu dengan sangat baik dan kau masih tidak mengizinkanku pergi?" Atla melanjutkan.

“Benar, Atla. Tidak mungkin aku bisa membawamu ke tempat yang begitu berbahaya, "jawab Fohl dengan tegas.

“Kakak, dimana-mana berbahaya. Kita tidak tahu apa yang bisa terjadi, atau kapan, dan kemudian kita bisa mati begitu saja,” lanjut Atla.

“Itu kurang tepat. Selama kau di sini, kau akan aman, ”balas Fohl.

"Apa kau benar-benar berpikir begitu? Saat Tuan Naofumi pergi, seseorang mungkin menuangkan racun ke sungai. Wabah tiba-tiba bisa membunuhku. Orang-orang yang cemburu dengan perbuatan Tuan Naofumi mungkin datang ke desa, dan aku akan terjebak dalam kejadian itu." Atla langsung membahas beberapa contoh yang cukup ekstrim.

Hal-hal seperti itu tidak akan terjadi ... bukan? Meracuni sungai?

Itu benar-benar akan melewati batas.

Namun, mungkin aku akan berbicara dengan Rat untuk menanam beberapa bioplant demi menjaga kebersihan sungai.

"Bisakah kau setidaknya sedikit realistis?" Fohl mencaci.

“Aku hanya memberi tahumu bahwa 'keamanan' adalah ilusi. Aku ingin melindungi Tuan Naofumi dari kesedihan itu! Semua yang baru saja aku katakan, hal-hal yang bisa terjadi, berlaku juga untuk Tuan Naofumi. Kalau aku tidak ada, anak panah nyasar bisa mengenai dirinya,” lanjut Atla. Hah? Jadi sekarang aku terlibat juga?

Dia benar-benar memutarbalikkan sesuatu untuk kenyamanannya sendiri.

Ini adalah dunia lain. Dibutuhkan lebih dari satu panah nyasar untuk membunuh Pahlawan Perisai.

“Aku tidak ingin hanya duduk terdiam dilindungi! Tolong, biarkan aku bertarung juga! ” Atla masih belum selesai.

"Dan aku memberitahumu itu tidak akan terjadi!" Fohl tetap teguh.

“Aku tidak lemah lagi!” Atla membalas.

"Sikap arogan itulah yang membuatmu dalam bahaya!" Fohl membalas. Sungguh.

Apakah mereka akan berhenti?

Meskipun demikian, jika aku terlibat, situasinya tidak akan membaik. Tidak ada yang bisa kulakukan. Biarpun aku mencoba menggunakan usianya sebagai alasan, ada gadis muda lain seperti Atla yang akan ikut bertarung.

Aku rasa sudah agak terlambat untuk menunjukkan betapa cerobohnya aku. “Kita tidak bisa mencapai kesepakatan, bukan, Atla?” Fohl akhirnya menyerah. “Tidak, itu tidak mungkin.” Setidaknya Atla setuju tentang ini.

"Kalau begitu, sebagai keturunan dari hakuko, Kau tahu apa yang harus kita lakukan," kata Fohl. Dia mengangkat tinjunya ke arah Atla dan melepaskan gelombang penuh dengan niat membunuh.

Apa yang akan terjadi?

"Aku bersedia," jawab Atla. "Demi menunjukkan tekadku, sekarang aku akan menunjukkan kekuatanku padamu, kakak."

“Jika kau kalah dariku, kau akan menepati janjiku. Inilah alasan aku pergi dan berlatih, ”ungkap Fohl.

“Aku akan setia pada kata-kataku. Jika aku bahkan tidak bisa mengalahkanmu, kakak, aku tidak berhak mengklaim kalau aku bisa melindungi Tuan Naofumi,” jawab Atla. Sedikit sarkasme kasar darinya.

Bagaimanapun juga, aku telah mendengar banyak obrolan tentang perkelahian antara Fohl dan Atla. Fohl biasanya akan menang jika dia mendapat bantuan Raphtalia. Aku menontonnya sekarang.

“Tanpa bantuanmu, bisakah Fohl mengalahkan Atla?” Aku bertanya.

“Mungkin sekali setiap tiga kali, meskipun sejak Q'ten Lo, aku pikir peluang itu meningkat menjadi dua dari tiga,” dia memberitahuku. Bukan rekor yang bagus, tapi lumayan.

Ren dan Itsuki mengatakan Atla berkembang lebih cepat, tetapi ketika keberanian murni dimasukkan ke dalam persamaan, peluang Fohl sepertinya meningkat. Dia telah menjadi petarung sejak sebelum dia bertemu kami juga, jadi itu bisa menjadi salah satu poin plus.

“Ayo, kakak. Kita bertarung,” kata Atla.

"Baiklah," jawab Fohl. Kakak beradik itu saling mengacungkan tinju dan bersiap untuk bertempur.

Keduanya memiliki gaya bertarung yang sangat berbeda.

Fohl biasanya menggunakan tinjunya untuk memukul musuhnya, sementara Atla menggunakan tangannya untuk menusuk titik lemah musuh.

Pertarungan ini akan memutuskan apakah Atla akan ambil bagian dalam pertempuran dengan Phoenix. Angin bertiup, dan sehelai daun bioplant menari-nari.

Saat itu jatuh ke tanah, pertarungan dimulai.

Dengan teriakan, Fohl bergerak — dengan cepat — tepat di depan Atla, lalu memukul dengan tinjunya dan mendengus. Atla menggunakan tangannya sendiri untuk mengalihkan pukulan itu, menghindarinya dengan sehelai rambut. Tinju Fohl menghantam tanah.

Suara gemuruh besar terdengar, dan retakan tanah dari benturan tersebut menyebar. 

"Sekarang!" Atla berteriak. Dari belakang Fohl, serangannya sendiri turun.

"Tidak mungkin!" Fohl sekarang berdiri menggunakan tangannya, tinjunya masih menancap di tanah, dan dia memutar tubuhnya untuk memberikan tendangan ke Atla.

Dengan suara kesal, dia memblokir tendangan dengan satu tangan, lalu memutar tubuhnya untuk menyerap benturan sebelum mendarat lagi. Dia mencoba serangan lain, tetapi Fohl melompat dari posisi terbalik, memulihkan postur tubuhnya sendiri, dan kemudian meluncurkan tendangan terbang ke arah Atla.

Semua ini hanya membutuhkan waktu lima detik. Hakuko memang benar-benar ahli dengan seni bela diri.

Keduanya mundur dan menenangkan napas mereka.

“Seperti dugaanku. Kau jelas menjadi lebih kuat, Atla. Sebagai kakakmu, itu membuatku sangat bangga,” kata Fohl.


"Nada merendahkan itulah yang membuatmu kalah, kakak," balas Atla, tidak menerima pujian itu.

"Tiga bulan. Hanya dalam waktu tiga bulan, aku tidak percaya kemajuan yang kita berdua buat. Benar-benar luar biasa,” komentar Fohl.

"Aku setuju. Tiga bulan sepertinya singkat, tapi cukup lama bagi seseorang untuk berubah, ”jawab Atla.

"Kau telah berubah, Atla. Aku tidak percaya bagaimana kau dulu khawatir menjadi beban, hanya dengan hidup,” kenang Fohl.

"Aku tidak berubah sama sekali," balas Atla. “Hanya keberadaanku yang terus menimbulkan masalah bagi banyak orang. Karena itulah aku ingin meringankan beban yang aku buat. Dan itu termasuk dirimu, kakak. Aku juga ingin melindungimu, ”Atla mengaku.

Setelah keduanya mengatur napas, mereka melanjutkan percakapan sambil melanjutkan pertarungan.

“Aku tidak ingin menunggu di tempat yang aman sampai bahaya berlalu. Jika aku dapat menggunakan kekuatanku untuk melindungi Tuan Naofumi, kau, dan yang lainnya di desa ini, aku akan dengan senang hati melangkah. Jika itu yang Tuan Naofumi coba lakukan, maka setidaknya aku bisa menjaganya tetap aman saat dia melakukannya," kata Atla.

“Kenapa kau selalu harus membawa-bawa namanya ?!” Fohl mengamuk.

“Apa kau tidak melihatnya, kakak? Apa kau tidak mengerti apa yang ada di bagian terdalam dari Tuan Naofumi? " Tanya Atla. Untuk itu, Fohl tidak punya jawaban.

Pertarungan berlanjut, tidak ada yang bisa mendaratkan pukulan yang menentukan. Keduanya bergerak sangat cepat sehingga semua orang yang menonton hampir tidak bisa mengikuti.

"Ya ampun, lihat mereka!" Sadeena menawarkan.

“Luar biasa. Beginilah cara orang dari dunia luar bertarung?" Shildina juga berkomentar, kedua bersaudara ini menyuarakan pendapatnya hampir pada waktu yang bersamaan. Heh! Hubungan keduanya menjadi sedikit lebih baik. Malam sebelumnya, Sadeena telah melakukan sesuatu untuk membuat Shildina kesal, dan mereka berdua pada dasarnya membuat ulang kenangan mereka di Q'ten Lo.

"Shildina!" terdengar suara anak kecil.

"Ruft ... ada apa?" Shildina bertanya pada anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. Ruft secara bertahap meningkatkan levelnya. Dia mungkin juga sedikit lebih tinggi. Perubahan itu tidak begitu mencolok seperti pada Raphtalia.

“Itu pertarungan yang cukup mengesankan. Shildina. Apa menurutmu aku bisa menjadi sekuat itu? " Ruft bertanya.

"Kurasa kau tidak cocok untuk bertarung persis seperti itu," jawab Shildina.

"Aku juga," Sadeena menimpali. "Aku tidak akan merekomendasikan apa pun kecuali pertarungan jarak dekat untukmu, Ruft kecil."

“Katakan padaku, Pahlawan Perisai, mengapa keduanya bertarung?” Sekarang Ruft mengalihkan perhatiannya kepadaku.

"Kita akan melawan monster yang disebut 'Phoenix' sebentar lagi, dan mereka mencoba memutuskan apakah Atla akan ikut," jelasku.

“K-Kedengarannya berbahaya! Apakah aku harus melawannya juga? ” dia bertanya dengan malu-malu.

“Dalam kasusmu, Ruft, aku akan menghentikanmu sendiri bahkan jika kau menginginkannya. Levelmu masih terlalu rendah, dan, yah ... ada hal-hal lain,” tutupku. Aku ingin menjaga Ruft sebagai asuransi, seandainya Raphtalia memutuskan dia tidak ingin mengambil alih jabatan sebagai Kaisar Surgawi Q'ten Lo. Setelah dia tumbuh dewasa, tidak ada yang akan mengira dia adalah anak yang sama, bahkan jika kita membawanya kembali. Dia akan menganggapnya sebagai saudara jauh yang terlihat mirip seperti dirinya — sesuatu seperti itu.

"Begitu ... tapi aku agak mengerti bagaimana perasaan mereka. Jelas di kedua wajah mereka bahwa mereka ingin memperjuangkan seseorang, ”kata Ruft.

"Hmmm." Aku setuju dengan anak itu. Mereka memiliki niat baik, tentunya.

Ren dan Itsuki mengikuti pertempuran dengan mata mereka, masing-masing menggenggam senjata mereka dengan erat. Mungkin mereka sedang mempertimbangkan tindakan apa yang terbaik untuk diambil. Aku mungkin melakukan hal yang sama, jika aku lebih objektif tentang semuanya.

Motoyasu sedang menyiapkan lokasi portal, jadi dia tidak ada disini.

Dia mungkin tidak akan terlalu peduli tentang ini.

"Atla, Kau telah membuktikan tekad teguhmu. Tapi aku masih tidak bisa mengizinkanmu masuk ke dalam bahaya. Sudah waktunya aku mengakhiri ini!” kata Fohl. Kemudian dia mendorong tangannya ke depan dan mulai memusatkan kesadarannya.

Dengan raungan yang cocok, Fohl menjelma menjadi wujud therianthrope-nya.

Itu saja sudah cukup untuk memberikan peningkatan pada kemampuannya. Ini bukanlah pertarungan sungguhan sampai saat ini.

"Kita lihat saja nanti. Kau harus menerimanya! Aku juga akan melawanmu dengan kekuatan penuh!" Kemudian keduanya mengaktifkan Gaya Hengen Muso.

Rasanya seperti udara bergetar.

Semua orang disini juga melihat perbedaan dalam niat membunuh yang dipancarkan oleh kedua petarung ini. Fohl seperti binatang buas. Kekuatan kehidupan yang panas, hampir seperti amarah, meluncur darinya dalam bentuk gelombang.

Berlawanan dengannya, kekuatan kehidupan dari Atla dingin, hampir seperti kejam, seperti sesuatu selain manusia.

Jadi kami mengalami panas membara, berusaha menekan lawannya hingga berlutut — dan aura dingin, mencari peluang untuk membunuh.

Para penonton menahan napas saat kedua pejuang itu kembali bertarung.

Teknik Tinju Gaya Hengen Muso! Tiger Break!” Kekuatan kehidupan Fohl terkumpul ke atas. Lalu dia melepaskan pukulan ke arah Atla.

"Gah!" Setiap kali salah satu tinju Fohl mengenainya, kekuatan kehidupan melewati tubuh Atla. Energi itu dipancarkan dalam bentuk harimau.

Itu adalah skill kombinasi, penerapan Titik Fokus yang menekankan pada mengabaikan pertahanan. Dengan peningkatan kekuatannya yang luar biasa, akan jauh lebih sulit bagi Atla untuk membatalkannya daripada menggunakan Point of Focus.

Maksudku, aku mungkin bisa mengatasinya.

Point of Focus adalah teknik fundamental dan juga salah satu kunci, khusus untuk serangan yang mengabaikan pertahanan dan peringkat pertahanan. Namun, semua kekuatan untuk serangan itu telah difokuskan untuk mengabaikan pertahanan, artinya itu tidak memiliki sifat untuk mengabaikan peringkat pertahanan.

Terlebih lagi, itu terbentuk dengan membiarkan kekuatan kehidupan mengalir keluar dari tubuh lawan. Serangan yang mengikis musuh, pada dasarnya. Seperti serangan yang menghabiskan spirit bar dalam game pertarungan.

"Aku belum selesai! Tiger ..." Fohl menekan serangannya, kekuatan kehidupan yang keluar dari tubuh Atla kembali ke tangan Fohl dan kemudian meningkatkan kekuatannya. Wow, jadi itu bentuk penerapan lain dari teknik ini.

...Rush!" Dia menyelesaikan teriakannya dan meluncurkan serangkaian pukulan ke Atla. Saat masing-masing dan setiap dari pukulan mendarat, udara bergetar sedikit dengan setiap hantaman. Debu terlempar dari tanah, dan setelah menyelesaikan hujan pukulannya, Fohl menjauh dari Atla.

"Bagaimana dengan itu?!" dia berteriak, mungkin terlalu berlebihan. Yang lain mungkin ingin menjawab, tetapi aku dapat melihat apa sedang terjadi.

"Sangat mengesankan, kakak," jawab Atla. Dia dipukul habis-habisan, tapi dia masih dapat berdiri. Hal yang sama sulit dikatakan untuk Fohl, yang tiba-tiba mendengus kesakitan. "Pada setiap titik seranang, aku menerapkan teknik yang telah diajarkan S'yne kepada Tuan Naofumi dan diriku," lanjutnya menjelaskan.

Kemudian Atla membuat Dinding muncul di depan tangannya.

“Kau mungkin ingin menyamakannya dengan meninju dinding yang sangat keras berulang kali. Dan di setiap celah yang kau buat, aku mengambil kesempatan untuk menyerang lengamu dengan tusukanku sendiri,” ungkap Atla. Menarik. Jadi dia tidak hanya menerima pukulan.

Itu adalah teknik yang telah kami pelajari untuk tujuan pertahanan, tetapi melawan seseorang yang bertarung dengan tangan kosong seperti Fohl, itu juga bisa diterapkan seperti ini. Fohl lebih sering memakai sarung tangan akhir-akhir ini, tapi dia tetap memilih untuk tidak mengenakannya. Dia juga bukan tipe orang yang akan melawan adik perempuannya dengan sarung tangan penambah kekuatan.

Meski begitu, Atla dapat melakukan serangan balik di antara serangan berkecepatan tinggi itu. Seberapa gilanya dia?

“Mengesankan, Atla. Kau benar-benar mengenaiku,” Fohl mengakui. "Tidak seburuk yang kau berikan padaku," Atla tergagap, terbatuk darah sedikit. Jadi dia tidak bisa menghentikan semua serangan itu.

"Sekarang, giliranku. Kau dapat melihat ini, bukan, kakak?” Ada manik (Bead) yang terdiri dari kekuatan kehidupan di atas telapak tangan Atla. Itu membesar untuk memperlihatkan seekor harimau yang terperangkap di dalamnya.

"Itu kekuatan kehidupanku?" Fohl bertanya.

"Benar. Kekuatan kehidupan yang kau lepaskan padaku. Aku tidak bisa mendapatkan semuanya, tetapi aku berhasil menjebaknya sebagian, seperti ini. Sekarang, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, kurasa?” dia mengejek. Dalam sekejap, Atla bergegas mendekati Fohl dan menancapkan manik-manik itu ke perutnya. Dari penampilan tekniknya, dia melakukan lebih dari sekedar mencerminkan kembali kekuatan kehidupan yang telah dia kumpulkan. Itu sangat mirip dengan Point of Focus yang sering digunakan Eclair dan Rishia. Itu seperti menambahkan kekuatan ke serangan balik Bead. Dan, jika seseorang akan memberi serangan itu nama ...

“Ini hanya sementara untuk saat ini, tapi mungkin kita bisa menyebutnya Bead of Focus,” saran Atla.

Namun, pada saat yang sama, Fohl meluncurkan tinju yang diselubungi dengan kekuatan kehidupan tepat pada Atla.

Teknik Tinju Gaya Hengen Muso! Tiger Blow!" Tanah meletus ke atas saat kedua serangan mereka bertemu, melemparkan debu dan tanah ke udara. Dua bayangan meledak di tengah awan debu, berputar di udara lalu terbang menjauh.

Kemudian, sambil mengerang, mereka berdua terbaring di tanah.

Begitulah kekuatan serangan itu. Salah satu, atau bahkan keduanya, mungkin tidak dapat melanjutkan pertarungan.

Aku memeriksa status mereka.

Tak satu pun dari mereka yang meninggal, tetapi HP keduanya telah benar-benar terkuras. Atla terlihat sedikit kurang beruntung.

“Dapat melakukan ini hanya dengan teknik dasar—” kata S'yne, yang juga menonton dari dekat.

“Dia mengatakan bahwa sangat mengesankan bisa mencapai level ini hanya dengan menggunakan teknik dasar,” familiarnya menjelaskan.

“Setelah kau mengatakannya. Itu pada dasarnya adalah teknik baru,” aku setuju. Dia mengumpulkan dan mengumpulkan kekuatan kehidupan yang dikirim ke tubuhnya, memusatkannya, lalu mengembalikannya ke lawan dan membuatnya meledak. Aku belum berada pada level itu.

Dengan erangan, Atla dengan goyah berdiri kembali. Fohl terhubung berdiri kembali dengan kedua kakinya sendiri juga. Dia hampir terjatuh kembali tetapi berhasil berdiri. Atla bernasib lebih buruk dan tampak akan jatuh ke depan.

"Atla, aku telah mengalahkanmu," kata Fohl.

"B-belum," balas Atla, menghentakkan tanah. 

"Lihat dirimu. Kau hampir tidak bisa berdiri! ” Fohl menjawab.

"Kakak... ketika dihadapkan pada pertempuran yang harus kau menangkan, apakah kau akan menyerah begitu saja dan pingsan?" Tanya Atla.

"Tidak, kurasa tidak," akunya.

“Maka hanya ada satu hal yang harus dilakukan. Hal yang sama akan kau lakukan, kak,” kata Atla.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengakhiri ini, "jawab Fohl, mengarahkan tinjunya ke Atla yang terhuyung-huyung lagi. Fohl sendiri terlihat sangat tidak stabil, tentu saja.

Jika ini akan "mengakhirinya", apakah itu berarti salah satu dari mereka akan mati? Seperti itulah kesannya. Kita tidak membutuhkan siapa pun yang sekarat bahkan sebelum gelombang dimulai.

Hah? Ren mulai mengatakan sesuatu padaku.

“Naofumi, lihat ini. Apa yang terjadi selanjutnya adalah alasan kami menganggap Atla lebih kuat dari Fohl.”

"Apa yang akan terjadi?" Lagipula, aku jarang melihat Atla bertarung dengan kekuatan penuh. Jadi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi Ren dan yang lainnya sepertinya tahu.

Atla mulai terengah-engah. Kekuatan kehidupan mulai berkumpul di sekelilingnya.

Apa itu? Sepertinya lukanya sedikit sembuh.

“Dia bisa memulihkan staminanya di tengah pertempuran. Jadi semakin lama jeda istirahat berlangsung, semakin banyak kerugian bagi lawannya,” jelas Ren. Seberapa jauh kekuatannya? Kapan dia mempelajari teknik ini?

Yah, Fohl juga mengatur napas dengan cara yang sama, memulihkan HP-nya.

Masih banyak yang harus dipelajari dari Gaya Hengen Muso.

Dengan teriakannya sendiri, Atla mengayunkan tinjunya ke Fohl dan menyerang dari depan.

Fohl mengayunkan tinjunya sendiri sebagai balasan. Dengan bunyi hantaman, kedua serangan itu mendarat.

Lalu, keduanya berhenti bergerak.

Setelah terdiam, aku mendekati kedua bersaudara itu untuk melihat apa yang terjadi.

Keduanya pingsan sambil berdiri! Mereka benar-benar pingsan. Trik yang cukup menakjubkan, tapi aku seharusnya sudah bisa menebaknya dari dua otak otot ini.

“Sebagai sumber kekuatanmu, aku, Pahlawan Perisai, memerintahkanmu! Biarlah jalan yang benar terungkap sekali lagi, dan sembuhkan mereka di hadapanku. ALL Zweite Heal!” Aku melantunkan sihir penyembuhan dengan efek area dan menyembuhkan mereka berdua.

Fohl adalah orang pertama yang sadar. 

"Ah! Aku ... ” dia mulai berbicara kembali.

“Seri. Kalian berdua pingsan secara bersamaan, ”laporku.

"Begitu ..." jawabnya. Fohl mengangkat Atla ke dalam pelukannya, karena dia masih belum tersadar.

"Begitu? Apakah kau akan membuatnya tetap tinggal? ” Aku bertanya. Fohl tidak menjawab pertanyaan itu tetapi mulai menuju rumah mereka. Sepertinya kesunyiannya tidak disebabkan oleh perasaan tidak suka padaku, karena wajahnya tampak seperti sedang tersenyum.

Apa yang bisa membuatnya sangat bahagia? Kemudian Fohl mengatakan sesuatu.

"Terima kasih telah membuat Atla sekuat ini." Aku melihat mereka pergi, dia masih berada dalam pelukannya.

"Dia berterima kasih, bukan?" Kata Raphtalia. Lalu dia berdiri, melihat Fohl dengan pandangan jauh di matanya. “Sejujurnya terima kasih, Tuan Naofumi, karena telah membimbing Atla-nya yang berharga menjadi sekuat ini.”

Aku tidak melakukan apa pun yang menurutku pantas untuk diberi rasa terima kasih.

Tetap saja, aku bisa mengerti. Dengan cara yang sama, aku bangga dengan kemajuan yang dicapai Raphtalia. Jika ada seseorang yang membantunya mencapai titik itu, aku mungkin merasakan hal yang sama terhadap mereka.

"Hmm." Mungkin, Atla menjadi terlalu kuat untuk diabaikan. Dia sudah cukup kuat, tapi dia masih punya banyak potensi juga. Aku mungkin harus mulai menghitungnya sebagai yang kedua setelah pahlawan dalam hal kekuatan.

"Shildina Kecil, kita tidak bisa membiarkan mereka berdua membuat kita terlihat terlalu buruk," komentar Sadeena.

"Memang. Kita harus menunjukkan kepada Naofumi yang manis apa yang bisa kita lakukan juga,” jawab Shildina. Kakak beradik paus pembunuh ini selalu ingin berkomentar!

"Aku sudah tahu seberapa kuat kalian berdua, jadi tidak perlu menunjukkan apa-apa padaku," kataku tegas.

"Satu hal, Naofumi yang manis," kata Shildina, dengan sedikit ekspresi bermasalah di wajahnya.

"Apa lagi sekarang?" Aku bertanya.

“Oh, tidak banyak. Aku hanya ingin kau memberi tahu orang desa tentang sesuatu,” jawabnya. Ruft dan aku sama-sama tersentak menanggapi kata-kata itu. Trauma ... Trauma muncul lagi dalam diriku.

“Memberitahu mereka apa?” Aku memberanikan diri. Aku benar-benar ingin menjaga jarak dari mereka.

“Aku ingin mereka berhenti menggangguku tentang bagaimana menggunakan sihir untuk terbang. Bisakah kau meminta mereka untuk berhenti?” dia memohon. Ah benar. Shildina bisa menggunakan sihir untuk terbang — yah, berenang — di udara. Aku bisa mengerti mengapa filolial, burung yang tidak bisa terbang yang menggunakan sihir angin, mungkin ingin mencoba dan meniru trik khusus itu.

Mereka telah mencobanya tetapi belum berhasil.

Filolial hebat dalam meniru teknik vokal, tapi tampaknya terbang menggunakan sihir sedikit lebih sulit bagi mereka.

“Itu sihir sulit yang hanya bisa digunakan oleh Shildina kecil. Aku sendiri bahkan iri pada teknik itu,” Sadeena menyela.

"Ah, bukankah kau sendiri bisa terbang sedikit," balas Shildina, memelototi kakaknya.

“Tidak sepertimu. Aku hanya menggunakan medan magnet melalui sihir petirku. Aku hampir tidak bisa menahannya selama tiga puluh detik,” kata Sadeena. Tapi dalam mode beast transformation support dia bisa menjadi paus pembunuh dan terbang sesuka hatinya ... Tidak, lebih baik tidak mengatakan itu. Beberapa percikan api di antara mereka mungkin berpindah kepadaku.

“Aku akan memberi tahu mereka bahwa aku sendiri tidak dapat terbang untuk waktu yang lama, tetapi mereka masih menggangguku, memanjat punggungku dan memintaku terbang bersama mereka. Aku tidak punya banyak pilihan, jadi aku melakukannya sedikit.” Shildina mulai gemetar sedikit, dan aku meletakkan tangan di bahunya untuk menghiburnya, menyadari penderitaannya. Jadi setidaknya dia bisa terbang bersama mereka. Tetapi dengan jumlah itu, setiap hari, hari demi hari, itu tidak akan mudah.

Ini seperti pertemuan kelompok yang menderita karena serangan filolial. Astaga, aku ingin mengeluarkan makhluk-makhluk itu dari desaku.

"Kita harus membuat spesies Raph bekerja," kataku. 

"Oke ..." jawab Shildina.

“Ini dimulai dengan Ruft, dan sekarang aku melihat bahwa kau juga tampaknya rukun secara misterius dengan Shildina, Tuan Naofumi ... dan hei, jangan membawa spesies Raph ke dalam ini juga!” Raphtalia telah memperhatikan bagaimana aku dengan mulus membujuk Shildina untuk memanfaatkannya.

“Jadi, Raphtalia, apakah kau akan membujuk para filolial itu? Buat mereka mengerti bahwa hanya Shildina yang bisa menggunakan teknik itu? " Aku menyudutkannya, sedikit.

"Yah ... dia benar-benar yang hanya bisa menggunakannya?" Raphtalia membenarkan. Heh, lihat, dia juga tidak ingin melakukannya.

“Satu-satunya cara adalah dengan melantunkan sihir menggunakan suara dan kesadaranmu pada saat yang bersamaan. Jika kau tidak bisa melakukan itu, kau tidak punya kesempatan,” Shildina membenarkan.

"Oke ... aku akan mencobanya, meskipun aku tidak bisa menjanjikan apa pun," kata Raphtalia. Para filolial yang tidak bisa terbang hanya ingin terbang.

Mengenai kemampuan terbang Shildina, aku sangat curiga bahwa dia menggunakannya untuk melihat daratan, karena buta arah yang mengerikan saat berada di tanah.

Hari kemudian berlalu.

Keesokan harinya, aku sedang meneliti aksesoris, berpisah dengan Raphtalia. 

"Tuan Naofumi!" Atla muncul ditemani Fohl dan terlihat sangat bahagia.

"Ada apa?" Aku bertanya.

“Aku telah diizinkan untuk mengambil bagian dalam ekspedisi untuk mengalahkan Phoenix. Sekarang aku bisa pergi denganmu, ”lapornya.

"Aku mengerti," jawabku. Pertarungan itu berakhir imbang, tapi Fohl tampaknya telah memberikan izinnya.

“Meski begitu, kita akan menghadapi musuh yang kuat, jadi aku harus menjadi lebih kuat. Suasana hatiku juga bagus hari ini. Aku akan meminta Raphtalia memberiku sesi pelatihan yang lebih menyeluruh. Sampai jumpa!" Dengan begitu, Atla kabur. Aku pikir dia mungkin mencoba memelukku dulu, tapi ternyata tidak. Dia benar-benar menganggap ini serius.

“Kau yakin tentang ini?” Aku bertanya pada Fohl.

"Ya. Itu lebih baik daripada mencoba meninggalkannya di desa dan membuatnya tetap mengejar kita dan terluka, ”jawabnya.

“Menurutmu sesederhana itu?” Aku bertanya. Dia pasti mengubah nadanya. 

"Ya begitulah. Aku hanya harus melindungi Atla. Tidak ada yang berubah,” kata Fohl.

“Cukup adil,” aku menyimpulkan. Fohl memiliki titik lemah yang jelas terhadap Atla. Tetap saja, kondisinya memungkinan untuk memenangkan pertarungan, tapi mengingat hasilnya imbang, kurasa meninggalkannya akan sulit.

Ada raut wajah yang cukup segar dan bahagia di wajah Fohl, yang membuatku kesal. Tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi dia menatapku. Ada sesuatu tentang dirinya sekarang yang mengingatkanku pada saat Atla berada di sekitarku.

“Berhenti menatapku seperti itu. Itu membuatku tidak nyaman,” kataku padanya. Fohl langsung menghentikannya, tetapi sejak saat itu, aku memergokinya menatapku dengan cara yang sama selama berbincang dengannya.


Beberapa hari kemudian.

Besok kemungkinan akan menjadi hari kami berangkat ke wilayah tempat Phoenix disegel. Kelompok inti kami adalah Motoyasu, Ren, Itsuki, Rishia, Raphtalia, Filo, filolial, Raph-chan, spesies Raph, Fohl, Atla, Sadeena, Shildina, S'yne, Rat, Keel, dan lainnya dari desa budak dan monster yang ingin ikut.

Imiya dan yang lainnya fokus pada pembuatan item akan tetap tinggal.

Aku tidak bisa memaksa siapa pun untuk ikut, jadi aku memperingatkan mereka tidak kurang dari tiga kali.

“Gelombang bukanlah permainan. Bahkan aku tidak yakin bisa melindungi kalian semua. Jika kau tidak berpikir kau bisa kembali hidup-hidup, jangan ikut dengan kami!" Aku menyatakan. Aku hanya berharap mereka mendengarkanku.

Aku benar-benar ingin menekan kerugian seminimal mungkin — untuk mengatasi gelombang dengan masalah sesedikit mungkin. Semua budak mengangguk setuju, tetapi aku harus mempertanyakan apakah mereka benar-benar mengerti apa yang akan mereka hadapi.




TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan