Senin, 05 April 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 211. Perselisihan Teman

 Chapter 211. Perselisihan Teman


 
"Seperti yang aku harapkan Filo-tan. Jantungku berdebar sangat kencang, sampai-sampai dadaku ingin terbelah...”

Padahal Motoyasu habis ditendang oleh Filo. Tapi dia malah merasa senang. Sampai kapan hal menyebalkan ini terus berlangsung? Dari suara tendangannya, kelihatannya Filo tidak menahan dirinya sama sekali.

Itu adalah tendangan yang sangat menyakitkan, dan dia juga menerima bonus damage tambahan dari Lust Spear. Zweit Aura milikku juga masih aktif... Tapi, dia malah merasa senang. Jika itu adalah Motoyasu yang dahulu, sudah pasti tubuhnya terbelah menjadi dua. Bahkan Curse Series seharusnya tidak bisa meningkatkan pertahanan sesignifikan itu.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku heran melihat keadaannya yang masih biasa-biasa saja.

"Motoyasu-"
"Iya. Ada apa Ayah?"
"...Lupakan saja... Apa kau sudah mencoba metode peningkatan kekuatan yang aku sarankan?"
"Iya, perkataan dari Ayahnya Filo-tan adalah kewajiban untukku."

...Aku tidak butuh perkataan menjijikkan seperti itu darimu! Si bodoh ini akhirnya menggunakan metode peningkatan kekuatan yang aku beritahu kepada Shadow. Dan hasilnya adalah... Kemungkinan dia sekarang sudah menjadi lebih kuat dariku.

Wrath Shield tidak terlalu banyak berkembang, saat ini masih berada pada level III. Motoyasu berada pada level IV. Sudah pasti senjatanya lebih kuat.

Apa aku akan kalah jika menjadikannya musuhku? Apa yang harus aku lakukan di situasi seperti ini? Filo menunjukkan pertarungan dengan hebat. Dan Motoyasu dapat melawannya dengan bantuan buff Curse Series.

...Bukankah situasi sekarang cukup buruk? Motoyasu mungkin tidak akan menyerang Filo dengan serius. Tapi Filo menyerangnya dengan sekuat tenaga. Saat ini Motoyasu masih belum menerima banyak damage, tapi jika pertarungan terus berlanjut seperti ini aku bisa memprediksi hal buruk akan terjadi.

Setelah itu pasti Filo akan menghampiriku. Jika Motoyasu bertarung dengan serius hingga mati, kami mungkin masih memiliki kesempatan. Tapi, kami sudah diberitahu jika membunuh Hero adalah hal yang buruk. Aku ingin menghindari hal tersebut jika memungkinkan.

"Hah... Hah... Nnn..."

Filo memasang kuda-kuda menyerang. Kuda-kuda ini adalah...

Aliran sihir mulai mengelilingi tubuhnya. Sekarang aku dapat melihat aliran sihirnya. Kurasa itu adalah kuda-kuda untuk mengumpulkan sihir. Tapi di situasi seperti ini cukup memungkinkan untuk melakukan amplification daripada mengisi ulang sihir?

"Filo-tan! Terimalah perasaanku ini!"

Motoyasu melihat itu sebagai kesempatan untuk menyerang, tapi... Filo telah selesai untuk mengumpulkan mana dan langsung menyerang balik.

“High Quick!”

Kilatan cahaya!
Bayangan putih menembus tubuh Motoyasu. Dan bayangan tersebut menyerang Motoyasu berkali-kali dihadapanku.

"Gufuu..."

Mo-Motoyasu! Apa dia telah dikalahkan!?

"Luar biasa sekali, Filo-tan!"

Ah. Dia berdiri lagi. Itu bagus. Perisai yang melindungiku masih hidup.

"Umm... Apa sebaiknya kita melakukan sesuatu?"
"Kau ingin ikut bertempur? Itu sangat berbahaya, bahkan bagiku untukku. Kau tahu."
"Iyaa..."

Tapi apa kita harus tetap diam seperti ini? Aku sebaiknya mulai mencari cara untuk melarikan diri...

"Rishia, cobalah untuk melarikan diri!" Aku memerintahkan Rishia untuk melarikan diri sendirian.
"Fuee!?"
"Naofumi?"
"Pergilah! Cepat!"
"Tuan Naofumi sudah memerintahkanmu, jadi tolong pergilah Rishia-san!"
"B-Baik!"

Setelah Atla mengatakannya, Rishia langsung berlari.
Tapi... Beberapa saat kemudian dia langsung kembali lagi.

"Fueeeee! Kenapa aku kembali lagi kesini!?"

Seperti perkiraanku. Ada semacam pelindung yang menjebak kita agar tetap berada di dalam sini. Dan sepertinya kita tidak akan bisa melarikan diri untuk beberapa saat. Motoyasu dan Filo masih bertarung. Aku sedang memikirkan cara untuk pergi dari sini, tapi Aku tidak mendapatkan ide sama sekali. Aku hanya dapat berharap agar mereka berdua pingsan karena kelelahan.

Tapi, situasinya sudah mulai memburuk.

"Matilah--------------------!"

Ketiga anak buah Motoyasu mulai menyerang Filo.

"A-Apa yang kalian semua lakukan-!?"

Motoyasu langsung menghalangi jalan mereka untuk melindungi Filo. Tapi ketiga Filolial tersebut tetap melanjutkan serangan mereka, yang pertama menendang, satunya menggunakan sihir, dan yang terakhir menggunakan kapak.

Yang menendang adalah si Merah, yang menggunakan sihir si Biru dan yang menyerang menggunakan kapak adalah si Hijau. Mereka semua terlihat aneh.

"Matilah...! Kau sudah mengambil cintanya Mokkun, tapi masih saja menggoda pria lain. Aku sangat membencimu!"
"Mo-kun adalah milik, kami..."
"Iya... Aku tidak menyukaimu sama sekali!"
"He-Hentikan! Kalian semua berhentilah!"
"""Aku ingin menjadi orang pertama yang memakan Mo-kun (Mokkun)! Tapi malah si jalang itu yang mendapatkannya!"""

Untuk melindungi Filo, Motoyasu mulai bertarung dengan mereka bertiga. Gerakan mereka cukup cepat, meskipun masih lebih lambat jika dibandingkan dengan Filo.

"Atla."
"Iya, terdapat aura aneh yang mengelilingi mereka bertiga. Itu tampak lebih kuat dibandingkan milik Filo-chan."
"Jadi begitu."

Yang kutahu mereka belum melakukan Kenaikan Kelas sama sekali. Tapi, jika mereka bisa menahan Motoyasu selama ini. Pasti karena bantuan dari Motoyasu sendiri. Maksudku adalah mereka mendapatkan buff dari Curse Series, Nafsu dan Kecemburuan.

Contohnya Filo, Nafsu membuat hasrat seksualnya semakin tinggi dan Kecemburuan membuat mereka menyerang Filo. Karena mereka bertiga menyerang sekaligus, Motoyasu tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertahan. Tapi, mereka adalah anak kesayangannya Motoyasu, kurasa dia tidak akan melukai mereka.

Keadaan sekarang adalah Motoyasu yang sedang melindungi Filo. Filo mendekatiku dengan aura menyeramkan. Ketiga anak buah Motoyasu sedang mencoba untuk membunuh Filo.


Sebelumnya Motoyasu adalah musuh dan Filo adalah teman. Kemudian karena ketiga Filolial itu adalah bawahan Motoyasu, maka mereka adalah musuh.
Tapi sekarang, Motoyasu adalah teman (?), Filo adalah musuh, dan mereka bertiga... Siapa?

Kepalaku menjadi semakin sakit memikirkan siapa teman dan siapa musuh disini.

Kemudian...

"Goushijin-sama... Akhirnya semua penghalang menghilang..."

Sambil membelakangi Motoyasu, Filo mulai berjalan menghampiriku selangkah demi selangkah. Aku masih memiliki beberapa waktu untuk berpikir, jadi aku harus mencari yang paling tepat. Diantara mereka semua, seharusnya ada yang dapat membantuku keluar dari situasi ini.

Ide 1 : Mengaktifkan Wrath Shield dan menyerang semuanya hingga menjadi abu
Kelemahan :  Wrath Shield masih belum diperkuat, jadi kemampuan membakarnya kemungkinan masih kurang.
Sulit untuk mengalahkan Filo menggunakan Wrath Shield karena gerakannya yang cepat. Bahkan jika menggunakan Iron Maiden dan Blutpfer. Meskipun mungkin ada kesempatan menyerangnya, tapi kemungkinan itu kecil sekali. Dan jika aku berhasil menyerangnya maka Filo akan mati.

Ide 2 : Menggunakan ide 1 untuk menyerang Motoyasu.
Kelemahan : Aku masih belum memiliki cukup informasi terkait kondisi Motoyasu saat ini. Terlebih lagi aku masih belum mengetahui efek dari skillnya apakah akan hilang atau tidak.

Ide 3 : Berbicara kepada Motoyasu.
Kelemahan : Sulit sekali untuk berbicara dengannya. Apalagi kondisinya saat ini seperti orang gila. Jika aku menginginkan dia setuju dengan rencanaku, aku harus memerintahkan Filo yang berbicara kepadanya. Tapi keadaan Filo sedang seperti ini.

Ide 4 : Berbicara kepada Filo
Kelemahan : Dia sedang berada di situasi dimana kata-kataku tidak lagi berguna. Ide ini tidak dapat dilakukan sama sekali.

Ide 5 : Memberikan buff kepada anak buah Motoyasu dan membiarkan mereka mengurus semuanya.
Kelemahan : Kemungkinan besar Filo akan mati. Aku ingin menghindari hal tersebut.

Ini tidak baik. Bahkan berjudi memiliki peluang menang lebih besar dibanding pilihan-pilihan tersebut.

Bagaimana dengan jika aku menggunakan kekuatan dari Wrath Shield untuk memperkuat Shield Prison dan Air Strike Shield. Statistik pertahananku sangat tinggi, tapi aku tidak tahu apakah Filo bisa menghancurkannya atau tidak. Dan eksperimenku menambahkan sihir kedalam skill masih belum berhasil.

Kalau begitu... Tidak ada pilihan lain lagi...

"Goushijin-sama~..."

Aku harus ternodai, ini adalah skenario terburuk...

"Se-setidaknya berubahlah ke wujud manusiamu!"

Apa yang barusan aku katakan!? Tapi, lebih baik melakukannya dengan anak kecil dibandingkan burung raksasa.
<PRN: Hmm, man of culture~>

"Tidak."

Kuu... Kata-kata itu membuatku jadi mengingat masa lalu. Saat pertama kali kami mengira dia bisa berbicara, Filo terus mengulang kata itu berulang-ulang kali. Aku lebih baik mati daripada dinodai oleh burung raksasa. Motoyasu mungkin akan senang melakukannya, tapi tidak denganku! Aku harus menahannya tidak peduli apapun yang terjadi.

“Shield-”

Aku merasakan aliran energi di sekujur tubuh. Karena terdesak dan keinginan untuk berhasil yang sangat kuat, membuat pikiranku bekerja dengan lebih cepat. Aku mulai mengerti kekuatanku sendiri.
Ini... Bukanlah sihir. Ini adalah.. Kii yang biasa dirasakan Atla? Tidak kekuatan ini hanya muncul saat Aku ingin mengaktifkan Shield Prison. Mungkin inilah yang disebut sebagai SP.

“Pri-”

Aku merasakan kekuatan mengalir ke arah lokasi yang menjadi targetku. Aku mulai mengerti sekarang... Aku merasa bahwa aku bisa melakukannya. Tapi, aku tidak punya banyak waktu. Aku langsung menghentikan skill Shield Prison, agar skill tersebut tidak jadi digunakan.

“…”

Kekuatan yang mengalir tadi kembali lagi kedalam tubuhku. Tapi ada yang lebih membuatku terkejut. Filo langsung melompat untuk menghindari lokasi yang menjadi target skill Shield Prison. Apa instingnya mengatakan untuk menghindari area tersebut? Padahal skill Shield Prison belum digunakan, dan hanya energinya saja yang bergerak.

Jadi jika tadi aku berhasil menambahkan sihir kepada Shield Prison, Filo tetap dapat menghindarinya. Aku melakukan ini tanpa latihan sebelumnya. Dan memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk menambahkan sihir kedalam skill. Sekarang aku dapat mengetahui bahwa skill tersebut tidak akan mengenai Filo...

Aku tidak punya pilihan lain. Aku bisa saja menggunakan kekuatan ini untuk memperkuat Meteor Shield, tapi skill tersebut masih cooldown. Aku tidak bisa menyerah... Jika aku menyerah maka aku akan kehilangan keperjakaan...!

Apa sebaiknya aku merubah targetnya menjadi Motoyasu?




TL: Chopin
EDITOR: Bajatsu
Proofreader: Isekai-Chan

Minggu, 04 April 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 17 : Chapter 14 – Adaptasi Cepat

Volume 17
Chapter 14 – Adaptasi Cepat


"Aku benci sikapnya yang tidak ramah sejak aku bertemu dengannya," kata salah satu wanita lain.

"Tolong! Biarkan kami bergabung denganmu!” kata yang lain. Astaga. Selalu ada Witch di setiap dunia — membuat adaptasi cepat hanya beberapa saat setelah pria mereka terbunuh. Itu suatu kemampuan yang layak untuk dihormati. Itu terlihat menjijikan, tapi juga hampir terlihat menyenangkan. Sungguh mengerikan.

"Bukan ide yang buruk, mungkin," wanita tolol merenung. “Aku juga menaruh minat pada kalian. Ini kesempatan untuk membuat diriku terlihat bagus." Aku sudah mengerti bahwa mereka bersekutu dengan Miyaji, tetapi itu tidak diperlukan saat ini. "Bagaimanapun juga. Sepertinya sudah waktunya bagiku untuk membereskan kekacauan ini," kata wanita tolol itu. Setelah mengikat S'yne, dia terus mengabaikannya dan berbalik menghadap kami semua. S'yne berjuang untuk kabur tapi tidak bisa bergerak sama sekali.

"Raphtalia, Shildina, Ethnobalt, targetkan wanita itu sekarang," kataku kepada mereka.

"Baik!" Yang lainnya juga mengangguk pada teriakan Raphtalia. Tapi kemudian-

"Hah?" Wanita tolol itu mengalihkan perhatiannya dari kami dan meletakkan tangan di telinganya. “Wah, wah, wah, jadi mereka telah mengambil kembali alat berburu itu. Itu mengakhiri kesenangan kita! Oh, dan jam pasirnya juga sudah dikuasai? Cukup buruk bagi mantan pahlawan alat musik dan negaranya yang menyedihkan,” kata wanita itu. Dengan siapa dia berkomunikasi? Kedengarannya dia sedang membicarakan aktivitas Glass dan L'Arc — dan sepertinya semuanya berjalan lancar. “Sepertinya ini saat yang tepat untuk keluar dari sini. Alat musiknya telah dicuri, cermin dan buku juga muncul. Hal-hal tidak lagi menguntungkan kita. Aku pikir ini semua mungkin berhasil, tapi lihat situasi saat ini. Aku pergi!"

“Kau pikir kami akan mengizinkan itu?” Kataku. Tapi bahkan sebelum dia mendengar jawabanku, wanita tolol itu sudah berbalik menghadap Itsuki, Rishia, dan Armor.

"Semua pahlawan palsu akan menghadapi palu keadilan!" Armor meraung. "Siapa pun yang melarikan diri, dia jahat!" Dia sibuk menyerang Itsuki dan Rishia dan tidak mendengar apa pun yang dikatakan orang lain.

“Mald. Aku akan memberimu sedikit rasa hormat yang pantas kau dapatkan,” kata Itsuki. “Aku akan melawanmu sendiri.”

“Kau pahlawan palsu sombong!” Armor berteriak tapi kemudian tersentak saat dia menyadari not yang diluncurkan Itsuki berada di sekelilingnya. Aku mengira Itsuki dan Filo terus memainkan Hero’s melody, tetapi pada titik tertentu, mereka telah beralih menyerang. "Serangan orang jahat sepertimu tidak bisa melukaiku!" Armor menggunakan kapaknya untuk menghancurkan not itu di udara, tapi Itsuki tidak melewatkan celah itu.

“Music Strike!” Itsuki bergumam. Sesuatu — yang pada dasarnya sebuah anak panah — ditembakkan dari biolanya dan mengenai aksesori itu. Kemampuan Akurasinya bekerja lagi.

Armor mendengus melihat not itu, lalu mulai menyerangnya, membuatnya terhuyung-huyung. Dia terikat oleh kekuatan kehidupan, yang berarti statistik tinggi Armor sekarang bekerja melawannya. Dia meludahkan darah.

“Aku belum selesai!” Armor mengamuk. “Serangan kejahatan tidak bisa mengalahkan keadilan sejati!” Dia tampil lebih baik dari yang kuharapkan — tapi Itsuki terus bermain.

“Penipu! Aku tahu kelemahanmu! Kau tidak bisa menangani pertempuran jarak dekat!" Armor berlari mendekati Itsuki dan mengayunkan kapaknya, tetapi pada saat yang sama, Itsuki mengubah alat musik itu menjadi bel besar dan mengayunkannya ke samping. Itu membuat suara dering yang menyenangkan. Itsuki mulai mundur, bel berbunyi setiap kali dia melakukannya, dan dia memainkan lebih banyak musik hanya dengan bergerak. Armor berteriak dengan penuh amarah dan frustrasi.

"Sayangnya, setelah berlatih dengan Rishia, aku tidak lagi rentan terhadap serangan jarak dekat," Itsuki memberitahunya.

“Ukh! Terkutuk kau!" Armor berteriak. Aku sangat terkesan. Itsuki juga berkembang, mampu menutupi kelemahannya juga sekarang. “Berhenti bergerak!” Apa yang diharapkan Armor, sejujurnya? Agar Itsuki duduk terdiam?

"Aku akan mengakhiri ini," kata Itsuki dan melompat mundur dengan cepat. Dia meletakkan kaki di dinding dan melompat ke samping dan kemudian melepaskan skill yang menembakkan banyak panah yang sama ke aksesori di kapak Armor. Mereka terbang sangat cepat sehingga semua anak panah mengenai sasaran.

"Music Stream," katanya. Aku terkesan lagi. Dia bergerak persis seperti yang dilakukan Rishia.

“Gah! Lebih banyak trik jarak jauh pengecutmu! Lawan aku dengan adil dan jujur!" Armor mengamuk. Tentu saja dia ingin bertarung dari jarak dekat; dia memiliki kapak besar!

"Tidak mungkin," kata salah satu wanita yang mengkhianati Miyaji. Mereka semua melihat Itsuki dengan keterkejutan di wajah mereka. “Semua anak panah seharusnya terbang secara acak dari serangan itu. Tidak mungkin untuk memfokuskan mereka semua seperti itu! ”

Dengan suara terbelah, retakan muncul di aksesori tersebut.

"Tidak akan pernah! Hah!” Armor mengayunkan kapaknya dan mulai memotong anak panah yang diluncurkan Itsuki.

“Tidak mudah untuk menyerang saat kau bergerak seperti itu. Tolong tetap diam. Stun Beat!” Itsuki mengubah senjatanya menjadi gitar dan mulai memainkannya. Beberapa not terbang dan mengelilingi Armor.

"Apa?! Serangan itu tidak ada artinya di hadapan keadilanku! Great Quake III!” Sepertinya dia berencana menggunakan skill gempa untuk menghapus semua not!

"Kau sangat naif, Mald," Itsuki menegur dengan suara monotonnya. Not yang Armor coba hapus sekarang meledak di wajahnya. Aku menyipitkan mataku dan melihat cahaya yang tampak seperti kilat berkedip-kedip di sekitar Armor. Dia mengerang, memegangi wajahnya. Sepertinya mungkin dia sedang dalam pengaruh status effect.

"Hei!" Witch berteriak dan menghindari serangan Itsuki, langsung berlari ke arah Armor yang mematung. “Berikan aku senjata itu!” Dia menyambar kapak dan kemudian memberikan senyum tidak menyenangkan ke arahku. Aku kehilangan kata-kata. Mereka ini tidak tahu tentang konsep sekutu, atau bekerja sama, atau apa pun.

"Terima ini! Drifa Hellfire IV!” dia berteriak. Menarik. Dia telah menyelesaikan mantera sebelumnya, mencuri senjata itu, dan kemudian melepaskan sihir yang ditingkatkan. Itu cukup pintar — bagi Witch, bagaimanapun juga.

Shildina dan Itsuki tampak siap untuk mengeluarkan anti-sihir, tapi aku mengangkat satu tangan dan menghentikan mereka. Musuh utama di sini adalah wanita tolol itu — Witch hanyalah pengganggu. Aku bersedia memberinya beberapa poin karena memilih tetap bertahan disini, meskipun dia pasti menyadari bahwa situasinya berbalik melawannya. Akan mudah untuk menghentikan aktivasi sihirnya juga. Ada alasan mengapa aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Aku sudah muak dengan wanita jalang ini dan ingin membuatnya terluka dengan tanganku sendiri!

"Matilah!" teriaknya, bola api terbang langsung ke arahku dengan kecepatan tinggi. Aku lalu menangkapnya di cerminku. “Apakah kau bodoh? Sihirku diperkuat oleh perlindungan senjata tujuh bintang! Kau tidak akan bisa menghentikannya seperti itu — apa ?!” dia berteriak. Omelannya terpotong oleh raunganku saat aku memantulkan sihir kembali padanya seperti pelempar bisbol yang membuat putaran melengkung yang terkenal. Bahkan jika ini tidak berhasil seperti yang direncanakan, aku masih bisa menerapkan beberapa kekuatan kehidupan dan membengkokkan lintasan sihir untuk mengembalikannya.

Namun, itu berjalan persis seperti yang direncanakan. Aku benar-benar memahami bagaimana cara menggunakan cermin ini. Jika perisai itu didasarkan pada pertahanan fisik, cermin itu lebih terkait dengan sihir. Cara kerja pantulan sebenarnya tampak lebih mudah digunakan daripada perisai. Aku menerapkan beberapa kekuatan kehidupan ke cermin... dan juga menambahkan beberapa sihir ke sihir yang dipantulkan juga, hanya untuk memperbesar ukurannya. Api itu terus membesar, menjadi bola api penuh dengan kekuatan kehidupan, dan kemudian menghantam Witch. Menambahkan beberapa sihir saat melakukan pantulan membuat itu memiliki daya serang yang lebih besar.

“Mundur, menyingkirlah!” Teriak witch, teriakannya dengan cepat berubah menjadi jeritan. Dia berguling-guling di lantai, terbakar karena sihir yang dia lepaskan sendiri.

"Dia terbakar seperti ranting kering!" Aku tertawa. Rasanya luar biasa. Witch, terbakar dalam api nerakanya sendiri. Ini adalah pertama kalinya aku benar-benar bisa memukulnya. Itu hanya mempermanis pengalaman itu sendiri. Akhirnya, aku sendiri yang menjatuhkan hukuman padanya.

Lalu aku juga mendengar teriakan Armor. Sepertinya beberapa percikan api telah mengenainya.

"Sekarang! Ayo selesaikan ini! Ambil kembali kapaknya! Ambil armband itu dari Witch juga. Lalu akhirnya aku bisa menggunakan Liberation Aura lagi!” Aku menginstruksikan Raphtalia dan yang lainnya untuk menghancurkan aksesoris yang mengganggu itu. Saatnya membalikkan semuanya!

Wanita tolol itu mendesah. “Chain Defense!” Dia mengayunkan rantainya lalu mengikat Witch dan Armor. "Tolong berhenti membuat masalah bagiku," katanya pada mereka. Pasangan itu hanya bisa mengerang kesakitan. "Sudah kubilang kita akan pergi." Wanita tolol itu membungkus mereka berdua lebih erat, dan suara Witch dan Armor tidak bisa didengar lagi. Kapak telah terbungkus dengan mereka juga. Kami masih harus menghancurkan aksesori itu!

Bagaimanapun juga, melawan wanita tolol itu adalah prioritas utama kami.

"Kalau begitu, kalian rakyat jelata," katanya dan melihat kami. “Kalian melakukan pertarungan yang bagus, aku memuji hal itu." Dia benar-benar meremehkan kami. Gelombang pertempuran ini telah berbalik melawan kita, jadi sudah waktunya bagiku untuk pergi.

"Seperti yang sudah aku katakan," aku mengingatkannya. “Kau pikir kami akan membiarkanmu keluar dari sini?” Wanita tolol itu dikelilingi oleh musuh dan masih terlihat santai.

“Aku cukup yakin aku bisa. Dari apa yang aku lihat sejauh ini,” jawabnya, masih tersenyum.

“Kau benar-benar berpikir kau bisa lari dari orang sebanyak ini?” Balasku.

"Kau membuat kesalahan dengan meremehkanku," jawabnya. Rantainya mulai mengeluarkan cahaya yang mencurigakan, yang terus menyelimuti dirinya sepenuhnya. Aura misterius mulai memenuhi ruangan itu. S'yne meraih rantai itu, matanya tajam, dan memelototi wanita tolol itu. Kami masih perlu menyelamatkan S'yne, tapi aku tidak yakin bagaimana caranya.

Kemudian wanita tolol itu melemparkannya ke arah kami.

Aku bereaksi berdasarkan naluri, meraihnya, dan kemudian gelombang kejut horizontal menghantam dan membuat kami semua terbang. Bahkan ketika aku terhempas terbang, aku melihat ke sekeliling ruangan dan melihat rantai keluar dari mana-mana dan mengalahkan seluruh partyku. Setiap orang bereaksi dengan caranya sendiri, termasuk teriakan kesakitan dan satu "fehhh". Kemudian kami semua terhempas ke dinding dan tertegun.

Itu adalah serangan yang sangat kuat, sangat cepat, aku hampir ingin bertanya mengapa dia tidak melakukan itu sejak awal.

“Pertahananmu tidak cukup untuk melakukan apa pun. Lihat betapa mudahnya aku mengejekmu. Sekarang apakah kau mengerti bahwa aku telah bermain-main denganmu sepanjang waktu?” kata wanita tolol itu. Aku baru saja dipilih oleh vassal weapon, jadi kurangnya peningkatan sangat menyakitkan. Sikapnya juga tidak membuatku terkesan, mengingat ini semua dimulai dengan jebakan yang dipasang dengan hati-hati.

Aku membaringkan S'yne yang tak sadarkan diri di lantai, berdiri, dan menyiapkan cerminku, mengarahkannya ke arah wanita tolol itu. Aku tidak bisa menyerang sendiri, tetapi aku juga tidak bisa hanya berdiri terdiam. Ini adalah saat untuk menggunakan skill seperti Glass Shield atau senjata dengan efek balasan untuk melawan.

Mungkin merasakan apa yang kupikirkan, wanita tolol itu tersenyum gelisah. Begitu segala sesuatunya tampak menguntungkannya, sekelompok wanita Miyaji mulai berteriak lagi juga.

“Luar biasa! Sekarang, cepat! Habisi orang-orang kafir ini!” kata salah satu dari mereka.

“Master Hidemasa mati karena kau muncul!” kata yang lain.

“Balas dia!” teriak wanita ketiga. Wanita tolol itu mengangkat tangannya, sepertinya tidak punya waktu untuk mengurusi mereka.

"Tidak. Ini semua sangat merepotkan. Sudah kubilang, aku akan pergi,” katanya. Para wanita tercengang, wajah kaget karena ditolak begitu saja. “Mereka juga tidak membunuh mantan pahlawan alat musik. Yang membunuhnya adalah salah satu sekutu kita. Kau menyalahkan orang yang salah." Itu benar. Armor yang membunuhnya, bukan kami.

Dia mungkin tolol, tapi terkadang dia masih memiliki akal.

“Jika kita membiarkan situasi ini lebih lanjut, siapa yang tahu keajaiban seperti apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Aku tidak membutuhkan itu sekarang,” lanjut si tolol itu.

“Tapi... ” memulai para wanita.

“Alat berburu telah hilang, yang berarti wanita kipas itu akan kembali, dan sekutu mereka di permukaan akan membawa bala bantuan juga. Jika kita tidak melarikan diri sekarang, kita akan kewalahan dan dibunuh,” dia beralasan, memandangi wanita Miyaji tanpa apa-apa selain penghinaan di matanya. “Kita mungkin akan memenangkan pertempuran, tapi aku ingin memenangkan peperangan. Aku pergi." Wanita tolol itu melambai padaku, memberikan ciuman dari jauh, dan kemudian berbalik. “Oh, satu hal. Kau tampaknya cukup percaya diri dengan kemampuanmu, setelah mempelajari beberapa sihir dukungan yang kuat, tetapi ada banyak cara untuk mengatasinya selain apa yang kau lihat di sini hari ini. Misalnya sihir yang akan menghilangkannya, atau sihir buffing atau skill kita sendiri,” ungkapnya. Aku mengertakkan gigi pada ketepatan penilaiannya. Penyebutan sihir yang dapat menghilangkannya mengingatkanku pada musuh yang kami hadapi saat S'yne menyelamatkan kami.

Jika All Liberation Aura X dihapus, aku bisa menerapkannya lagi. Tapi aku bisa membayangkan tarik ulur dengan musuh yang menyingkirkannya. Jika mereka mulai menggunakan jenis buff yang sama... maka kami akan berada diposisi yang tidak menguntungkan, dan harus menghapusnya.

Semua hal harus sangat diperhatikan.

“Aku pernah mendengar kau melawan beberapa bajingan berlevel rendah kami. Mungkin itu memberimu kesan bahwa kami mudah ditangani, tetapi aku berjanji satu hal: jika kau terlalu merendahkan kami dan kau akan terbakar, "wanita tolol itu memperingatkan. Jadi mereka adalah "bajingan berlevel rendah"?

Kedengarannya Motoyasu telah melawan mereka dengan cukup baik. “Sejujurnya, ada banyak ras yang peduli dengan jiwa mereka. Sudah ada banyak dari mereka yang tidak ingin pergi dan diserang lalu mati sebelum mereka bisa kembali. Sakit sekali! Caramu memusnahkan orang-orang yang telah dikirim ke duniamu telah menyebabkan ketakutan yang cukup besar,” wanita tolol itu menjelaskan. Itu masuk akal — mereka menyerang dengan sangat agresif karena anggapan bahwa mereka tidak bisa mati. Tetapi dengan teknik yang kami miliki, kami dapat membunuh mereka sepenuhnya tanpa ada kesempatan untuk bangkit kembali, yang membuat mereka jauh lebih sulit untuk menyerang.

Aku mengerti bagaimana perasaan mereka. Aku ingin menyerang mereka sampai detik terakhir — bahkan sebagai zombie, jika itu yang terjadi. Tetap saja, wanita ini suka sekali buka mulut.

“Ah, betapa menyebalkannya semua ini. Aku harus mengambil kembali senjata suci, serta senjata berburu juga. Ngomong-ngomong, S'yne, saat kita bertemu lagi, aku tidak akan bermain-main kembali,” katanya. Wanita tolol itu memandang S'yne dengan tatapan jijik yang mengejek, lalu dia menunjuk ke arahku dan berbicara.

"Baiklah kalau begitu! Waktunya untuk pergi. Sampai jumpa lagi, Iwatani!” Melontarkan kata-kata terakhir ini, wanita tolol itu tiba-tiba menghilang, membawa Witch dan Armor yang masih terikat bersamanya. Tepat ketika aku pikir kami memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan...

Dia juga tahu nama keluargaku. Dia mungkin mendengarnya dari Witch atau semacamnya. Tapi tetap saja, itu tidak sejalan dengan apa yang S'yne katakan saat kami pertama kali bertemu. Dia hampir tidak membicarakan tentang dirinya sendiri. Sepertinya ini saat yang tepat untuk berdiskusi serius tentang itu.

Raphtalia berdiri dengan gemetar. Aku menawarkan dia sedikit dukungan.

“Kita kalah,” katanya.

"Tidak juga. Kita mencapai apa yang ingin kita lakukan di sini. Tapi memang benar mereka membiarkan kita pergi,” aku mengakui. Segera setelah itu, Glass dan Sadeena muncul.

“Apakah kalian semua baik-baik saja ?!” Glass bertanya.

"Astaga! Apa yang terjadi di sini? Apakah aku melewatkan semua kesenangan itu?” Sadeena berteriak dan memiringkan kepalanya ke samping. Saat berikutnya L'Arc dan Therese juga tiba — dan dari kelihatannya, dia terjebak dalam jebakan teleportasi.

“Bocah! Apakah kau baik-baik saja?!" L'Arc bertanya. Wanita tolol itu benar-benar telah memilih momen yang tepat untuk melarikan diri. Apakah dia hanya beruntung, atau dia memang memiliki intuisi yang bagus? Tapi sudah pasti tebakan yang kedua.

Jadi dia sudah mengetahui seluruh situasinya dari awal… dan hanya memilih untuk bermain dengan S’yne tanpa memanfaatkannya. Jika perlu kusimpulkan, dia memiliki kemampuan analisis yang jauh melebihi Witch. Dia juga pasti hanya bermain-main dengan Syne… tetapi mungkin dia hanya ingin membuat masalah terhadap Miyaji dan yang lain. Dia juga menyebut bahwa Witch dan Armor adalah pendatang baru dari organisasi mereka. Jika dia adalah orang yang menikmati kegagalan bawahannya untuk menunjukkan superioritasnya, itu mungkin menjelaskan semuanya. Jadi kita terselamatkan oleh konflik internal.

“Glass, apa kau berhasil menyelamatkan Kizuna?” Aku bertanya

“Ya. Aku bertemu dengan Sadeena yang sedang bertarung di tengah perjalanan, jadi kami bergabung dan berhasil menyelamatkan Kizuna setelah itu.” Glass melaporkan.

“Namun aku tidak melihatnya.” Kataku, sambil melihat sekeliling.

“Situasinya juga sedikit mengejutkanku.” Kata Sadeena.

“Chris saat ini sedang melindungi Kizuna. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Setelah menyelamatkannya, aku bergegas kembali untuk membantumu.” Kata Glass. Lalu aku melihat kea rah L’Arc. Dia masih tetap memanggilku ‘Bocah’.

“Kita berhasil mengambil alih Jam Pasir Naga. Bala bantuan yang kita panggil masih bertarung di atas.” Katanya.

“Aku berhasil menggunakan kekuatan mengagumkan yang telah kau berikan, Master Craftsman.” Therese menambahkan.

“Oke, senang mendengarnya…” Kataku. Jadi mereka kemari setelah memiliki lebih banyak orang untuk mengatasi situasi di atas sana. Sial! Sedikit lagi dan kita bisa mengalahkannya.

Lalu S’yne mencoba bangkit. Boneka familiarnya juga sudah compang-camping, dengan banyak isian boneka yang keluar dari perutnya.

“Apakah kau baik-baik saja?” Tanyaku. “Aku masih belum bisa menggunakan sihir, tetapi Therese seharusnya bisa menggunakannya. Apa kau perlu sihir penyembuhan?” Kataku.

“Aku baik-baik saja.” S’yne merespon.

“Syukurlah. Kakakmu sungguh memiliki mulut yang jelek, bukan!” Kataku.

“Yah. Dia selalu cerewet,” S’yne membalas. Untuk beberapa alasan, suaranya tidak terlalu terputus-putus. “Pengkhianat cerewet yang ikut campur dalam segala hal. Pahlawan tidak berarti apa-apa baginya—” S’yne sepertinya cukup marah. Aku memegang pundaknya dan memberinya jempol.

“Jika kau ingin membalas dendam, Aku akan membantumu. Aku membenci pembohong dan pengkhianat.” Kataku padanya. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, dan pengkhianat hanya akan mendapatkan kematiannya! Hanya dengan bersekutu dengan Witch itu berarti dia layak untuk mati!

“Aku tidak terlalu yakin untuk merekomendasikan hal itu, jika kita berbicara tentangnya, tetapi terimakasih… Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di dunia ini.” Kata S’yne.

“Aku yakin, Mereka semua terhubung di balik semua ini, dan kita mendapatkan beberapa informasi yang berharga.” Kataku.

“Aku akan membunuhnya! Penjahat yang menghancurkan tempat yang kucinta… Kakakku sendiri!” S’yne berkata dengan penuh amarah. Kita mungkin harus mengetahui beberapa hal mengenai masa lalu S’yne, yang masih samar-samar sampai sekarang. Tetapi kita tahu bahwa ia adalah pemegang vassal weapon dari dunia yang sudah hancur, tetapi jika ada orang lain yang selamat dan mungkin sedang bekerja sama dengan musuh, itu adalah informasi yang tidak bisa kita lewatkan.

Dia juga menikmati bertarung dengan S’yne. Dia sepertinya memiliki sisi sadis dalam pertempuran.

“Sepertinya banyak yang terjadi disini, tetapi katakan padaku Naofumi, Ethnobalt, dan Lelaki Busur… Apa yang kalian pegang?” L’Arc bertanya. Tentu saja kita perlu menjelaskan hal itu. Aku memberikan L’Arc dan yang lain penjelasan rinci apa yang terjadi dengan Miyaji dan gangguan dari musuh S’yne.

“Um… Aku Naofumi Iwatani, Pahlawan Cermin, salam kenal.” Kataku.

“Dan aku Itsuki Kawasumi. Aku baru saja mendapatkan vassal weapon alat musik.”

“Fehhh…” Rishia mengeluarkan rengekannya, sudah berhenti dari mode bertarungnya. Mungkin dia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.

“Buku ini seharusnya dipegang oleh library rabbit secara turun temurun.” Kata Ethnobalt, sambil mengeluarkan senyum kecut saat melihat buku ditangannya. “Aku tidak menyangka itu akan kembali pada generasiku. Aku seharusnya pemilik vassal weapon kapal.” Dengan kecerdasannya, ini lebih cocok.

“Baiklah” L’Arc mulai berbicara. “Jika Itsuki memiliki vassal weapon alat musik, itu akan memudahkan kita. Jika kita mengumumkan kematian Pahlawan negara ini, semua pertarungan di atas akan segera mereda. Kita masih memiliki beberapa hal yang harus diselesaikan, jadi ayo kita pergi.”

“Oke.” Kata Itsuki, mengangguk mendengar permintaan L’Arc.

Pada akhirnya, pertempuran dengan Miyaji, Witch, dan musuh S’yne hanya berujung pada kekalahan Miyaji saja.




TL: Isekai-Chan 
EDITOR: Isekai-Chan

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 17 : Chapter 13 – Kepemilikan Paksa

Volume 17
Chapter 13 – Kepemilikan Paksa


Tiba-tiba, aku mendengar salah satu wanita Miyaji berteriak. Miyaji meneriakkan namanya, tapi aku tidak bisa mendengarnya.

Kemudian pintu di belakang Miyaji terbuka, yang telah dilewati Glass, dan Shildina masuk ke dalam ruangan.

“Master hidemasa! Maafkan aku!" seorang wanita spirit yang tumpang tindih dengan Shildina, memohon maaf pada Miyaji. Wanita ini memiliki ekspresi sedih di wajahnya.

"Berhentilah melawan," kata Shildina. Wanita itu mengerang lagi. "Apakah kau baik-baik saja, Naofumi yang manis." Shildina mengabaikan Miyaji yang marah dan malah mengarahkan perhatiannya pada kami.

“Kami tidak terluka parah. Tapi apa itu? " Aku bertanya padanya.

“Ketika spirit ini menyerangku, aku menggunakan kekuatan oracle-ku padanya dan menyebabkan semacam kepemilikan paksa. Ini hanya seperti barang sekali pakai, tapi membuatku super kuat,” Shildina menjelaskan. Kedengarannya mengerikan!

“Beraninya kau!” Miyaji mengamuk — meskipun dia tampaknya menggunakan teknik yang sama persis. Aku juga tidak berpikir kekuatan oracle-nya berada di balik serangan yang dia gunakan ketika dia muncul.

“Jadi kau bisa menggunakan sihir sekarang?” Aku bertanya.

"Tidak. Aku menanamkan kekuatanku ke dalam ini, dan menggunakannya untuk menyerang,” Shildina menjelaskan, mengangkat sebuah ofuda. Sepertinya dia memiliki akses ke beberapa serangan yang sangat berbeda dari Rishia.

“Jadi dia terlalu berat untuk mereka tangani... ” Miyaji bergumam. Kedengarannya Miyaji telah mengambil beberapa tindakan untuk melawan Shildina, tapi mereka jelas tidak berhasil. “Tapi kau bahkan memanfaatkannya! Itu adalah tindakan paling pengecut! Lepaskan dia! " dia berteriak. Aku kira masuk akal bahwa dia akan menempatkan jebakan bagi semua orang setelah memisahkan kami.

"Naofumi yang manis, lihat ini!" Shildina berkata dan menoleh ke Miyaji. “Kau akan dikalahkan oleh ini!”

"Ah! Kekuatan aku... dia mengurasnya! Master Hidemasa! ” Spirit transparan itu memisahkan diri dari Shildina dan pingsan. Shildina melempar seikat ofuda dan kemudian mengeluarkan sihir melalui perantara itu.

“Aku meminta kekuatanmu. Ofuda! Tanggapi kata-kataku! Jadilah aliran deras dan singkirkan musuh-musuh ini! Watatsumi!” Ofuda Shildina mengeluarkan banjir air yang tercipta dari sihir, bergulung seperti gelombang pasang menuju semua orang yang dia anggap musuh! Dia mengeluarkan sihir yang tampak seperti sihir kooperatif sendirian. Sama seperti Itsuki, dia sepertinya sudah memiliki pemahaman yang cukup kuat tentang sihir di dunia ini. Dia juga telah menangkap spirit dan menggunakannya sebagai baterai sihir... Siapa dia, monster?

"Apa ini?!" Miyaji mengamuk saat sekutunya berteriak dan terpukul mundur. “Dasar pengecut, ikut campur dalam pertempuran kita!” Sihir menghantam Miyaji, Armor, dan Witch juga. Wanita tolol itu memutar rantai di sekeliling tubuhnya. Dia tolol, tapi dia juga yang terkuat di sini. S'yne sedang berjuang, itu pasti. Jika kita tidak segera menyelamatkannya, dia akan mendapat masalah.

"Aku mendengar semua yang baru saja kau bicarakan," kata Shildina, suaranya berubah karena fakta bahwa dia masih merapal sihir. Sejumlah ofuda misterius berenang dengan mulus di udara seperti air, menargetkan alat musik Miyaji, menempel di atasnya.

“Paper Splits Rock: Explode!” Ofuda itu menyala dan kemudian meledak, menghempaskan Miyaji. Dia berhasil pulih — tetapi dia mencengkeram perutnya, ekspresi kesakitan terlihat di wajahnya dan erangan keluar dari mulutnya.

“Aku belum selesai! Apa ... perasaan apa ini... seperti perutku sedang diaduk ?!” Aku melihat sesuatu bergerak melalui tubuh Miyaji, secercah cahaya yang aku kenali. Itu tampak seperti Point of Focus dari Gaya Hengen Muso.

Setelah gelombang pasang yang diluncurkan Shildina berlalu, Ethnobalt muncul di belakangnya. Dia dikelilingi oleh lapisan kertas, bahkan menggunakannya untuk berdiri di udara. Di tangannya ada sebuah buku. Dari bentuknya, itu terlihat seperti vassal weapon yang Kyo gunakan.

"Ethnobalt," kataku.

"Aku disini!" dia membalas.

"Aku juga!" kata Filo, memunculkan kepalanya dari belakang Ethnobalt.

"Sepertinya vassal weapon buku ingin memandu kita ke sini setelah kita semua terpencar," jelas Ethnobalt.

"Buku itu?" Kataku.

"Setelah selesai membimbing kami, itu menetap di tanganku dan tampaknya telah menerimaku sebagai pemiliknya," lanjut Ethnobalt. Itu masuk akal. Ethnobalt adalah sejenis monster yang disebut kelinci perpustakaan, jadi ini mungkin lebih cocok untuknya daripada kapal.

“Dengan Gaya Hengen Muso, semua latihanku, dan sekarang memiliki vassal weapon... Kau tidak bisa mengecualikan aku dalam pertempuran lebih lama lagi,” kata Ethnobalt.

"Senang mendengarnya," kataku padanya. Jadi kalahkan orang-orang ini. Tidak ada waktu untuk reuni dengan sepenuh hati.

"Tentu saja. Jika mereka mengikat vassal weapon dengan kekuatan tidak sah, aku akan membebaskan mereka dari ikatan itu! " Halaman-halaman dari buku itu beterbangan, menuruti kemauan Ethnobalt, dan melilit Miyaji. “Skill yang dicampur dengan Gaya Hengen Muso... Kau bisa menyebutnya: Life Force Style Magic
Explosion.” Nama itu mirip dengan skill yang Kyo keluarkan. Ethnobalt pasti menambahkan beberapa kekuatan kehidupan ke dalamnya. Miyaji tentu mengeluarkan erangan yang cukup menyakitkan setelah mengenainya.

"Apa yang telah kau lakukan padaku?!" dia berteriak menuduh.

“Aku hanya mengedarkan kekuatan kehidupan ke dalam tubuhmu. Hanya saja setiap halaman itu juga menahannya di dalam, menyebabkan damage lebih lanjut,” jelas Ethnobalt. Itu juga trik yang sangat buruk. Itu adalah jenis serangan yang akan mencabik-cabikku sebelum aku belajar bagaimana membiarkan kekuatan kehidupan mengalir keluar dariku.

"Itu hanya memiliki satu jalan keluar," kata Ethnobalt. “Aksesori itu.”

“Mustahil!” Miyaji mengamuk. Kekuatan kehidupan dari Ethnobalt melewati tubuh Miyaji dan kemudian keluar dari aksesori itu, yang terlihat akan segera hancur. Dengan suara bernada tinggi, aksesori itu hancur.

"Tidak! Berhenti! Kau milikku! Jangan tinggalkan aku! Kau milikku!" Miyaji berteriak, mencoba menahan alat musik itu. Seperti melepaskan kulitnya, alat musik itu berubah menjadi bola cahaya, menjauh dari tangan Miyaji, dan kemudian terbang ke arah Itsuki.

Kemudian, seperti yang aku duga, alat musik itu ada di tangannya. Bentuknya seperti biola. Aksesori kecil seperti busur biola menjadi cukup besar untuk digunakan sebagai busur biola.

“Aku mendengar suara vassal weapon. Ia ingin kita melindungi dari serangan invasi kekuatan jahat. Aku tidak tahu apakah aku cocok untuk tugas ini, tapi aku ingin menanggapi keinginan itu, jika aku bisa,” Itsuki memberi tahu kami dan memeriksa biola dengan mata yang tampak mengantuk. Dia kemudian menjalankan busur biola di atas senar. Musik yang jernih dan indah, tak tertandingi dengan alunan yang dimainkan Miyaji, bergema di sekitarnya.

“Luar biasa, luar biasa! Aku juga akan bernyanyi!” Kata Filo. Dia berubah menjadi cockatrice bersenandung dan berputar-putar di belakang Itsuki dan kemudian mulai bernyanyi sesuai dengan musiknya. Musik itu sepertinya yang disebut Miyaji sebagai "Hero’s Melody" —tapi dalamnya lagu sangat berbeda sehingga sulit dipercaya bahwa itu adalah musik yang sama. Banyak cahaya sihir segera melayang di sekitarnya.

"Hero’s Melody... bukan?” Kata Itsuki. Sihir dukungan dilemparkan pada semua orang, sangat meningkatkan statistik kami — meskipun tidak sejauh Liberation Aura X. Tetap saja, ini adalah waktu yang tepat.

Aku mengibaskan rambut ke atas seperti yang dilakukan Miyaji dan memberikan tawa berlebihan yang sama seperti dia di awal pertarungan. Akhirnya aku berbicara.

“Betapa bodohnya wajahmu, dasar tolol! Aku tidak bisa menahan tawaku!" Kemudian aku kembali berbicara normal. “Itu perkataanmu, bukan? Namun sekarang posisinya terbalik." Dia sudah cukup membuatku kesal, jadi aku dengan senang hati memancingnya sedikit.

Itu terasa lebih baik.

"Kau bajingan!" Tawaku telah membuat Miyaji geram, dan sekarang wajahnya sangat merah dan sepertinya akan mulai mengeluarkan asap.

“Untuk apa kau berteriak, monyet! Kau melakukan semua ini kepada kami terlebih dahulu! Jika Kau tidak ingin hal itu terjadi padamu, jangan lakukan itu sejak awal!” Aku mengatakan kepadanya. Mungkin agak kekanak-kanakan, dan mungkin aku merasa seperti menjadi dirinya, tetapi aku juga tidak akan hanya duduk diam dan menerima semua ini.

“Bisakah kau berhenti mengejek musuh kita?” Raphtalia berkata dan menatapku dengan putus asa di wajahnya. Tapi aku tidak peduli tentang itu.

“Kau berani mencuri senjataku ?! Kau sekelompok pencuri! Apakah kau tahu betapa hebatnya aku ?! Berapa banyak yang telah aku lakukan untuk bangsa ini, sebagai pahlawan mereka ?!” dia mengamuk.

“Vassal weapon alat musik berada di bawah kepemilikan baru. Bagaimana kau berharap untuk menjelaskan bagaimana kau memperlakukannya sekarang?” Aku bertanya kepadanya, hanya karena tertarik. Belum lagi, dia telah menculik Kizuna dan membunuh para pahlawan suci lainnya! Tidak mungkin dia akan keluar dari masalah ini.

“Master hidemasa...” salah satu wanita Miyaji berbicara dan meletakkan tangan di bahunya karena khawatir.

"Matilah! Aku akan membawa kematian kepada setiap orang yang telah membuatku merasa seperti ini! Ayo, semuanya! ” Miyaji berteriak, seolah dia tidak berencana membunuh kami semua selama ini. Meskipun aku sudah memikirkan itu, Miyaji melanjutkan. "Tapi pertama-tama ... ” Dia tiba-tiba menyerang Armor dari belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan?!" Armor berteriak.

“Beri aku senjata itu!” Miyaji balas berteriak. Dia meraih kapak di tangan Armor dan mencoba merebutnya. Sungguh perbuatan yang gila, kami semua terkejut — bahkan Rishia, yang masih bertarung pun terkejut. “Sejak awal, aku tidak menginginkan alat musik yang bodoh! Tapi itu satu-satunya vassal weapon di negara ini, jadi aku diberi tahu bahwa aku tidak punya pilihan. Sekarang aku memiliki pilihan, jadi berikan senjata itu padaku! Aku memiliki kekuatan untuk mengontrol vassal weapon bahkan tanpa aksesori itu! Aku akan memanfaatkannya dengan lebih baik daripada kau!" Sepertinya dia memiliki kemampuan yang mirip dengan Takt. Tapi dia terjebak dalam pemanggilan orang lain, bukan? Menelusuri lebih jauh... Orang ini pasti garis terdepan dari gelombang, tidak diragukan lagi!

Sesaat setelah aku menyadari itu—

“Mountain Break IV!” Armor menebas kapaknya dengan keras ke arah Miyaji! Miyaji melolong kesakitan. Dengan hilangnya vassal weapon, dia tidak mungkin untuk menahan serangan itu, dan dia segera teriris menjadi dua dengan satu tebasan. Darah dengan jelas menyembur dari potongan-potongan tubuh itu tepat setelah Miyaji memberikan teriakan terakhir.

"Master Hidemasa!" salah satu wanitanya meneriakkan namanya karena semua sekutunya yang terlibat dalam pertempuran itu diliputi kebingungan.

“Semua omong kosong sombongmu hanya mengingatkanku pada yang palsu di sana! Aku membencinya, dan aku membencimu! Tanpa senjata, itu berarti kau pada dasarnya jahat! Kematianmu sudah menjadi takdir!" Kata Armor. Dia mengayunkan kapak lagi, hanya untuk memastikan — maksudku, Miyaji jelas sudah mati.

"Raph... ” kata Raph-chan.

"Wow. Dia benar-benar gila,” kata Shildina. Sepertinya mereka berdua melihat jiwa Miyaji. Armor mengayunkan kapaknya, lalu menyandarkannya ke bahunya, dan memasang ekspresi mengejek pada kami. "Ah! Dia menghancurkannya,” kata Shildina. Aku hampir merasa kasihan pada Miyaji, sesaat. Dia telah terjebak dalam semua ini, mencoba untuk terlihat keren, dan berakhir dengan kematian, jiwanya hancur.

Aku harus bertanya-tanya apakah ini semua semacam serangan psikologis. Itu semua sangat menyedihkan — sangat menyedihkan — sebuah lelucon yang tidak lagi ingin aku ikuti.

"Selanjutnya, aku akan melakukan hal yang sama padamu," kata Armor sombong, mengarahkan kapak yang baru saja membunuh salah satu sekutunya ke arahku.

“Kau baru saja mengurangi jumlah sekutumu. Secara harfiah. Apakah kau pikir kau memiliki peluang? " Aku bertanya. Wanita Miyaji juga tidak akan bekerja sama lagi.

“Aku juga tidak akan mengizinkan itu!” Rishia mengangkat senjata proyektilnya dan melompat ke arah Armor. “Aku hanya perlu menghancurkan aksesori itu, kan?”

"Itu benar," aku mengonfirmasi sebelum beralih ke Armor. “Sekarang giliranmu. Kami akan mencuri kapak itu dari tubuhmu jika perlu! ”

“Bukankah ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya?” Raphtalia berkomentar. Dia membuat poin yang bagus, aku harus merefleksikan diri. Aku terdengar seperti orang jahat lagi.

"Hah!" Armor meluncurkan ayunan berani ke Rishia yang mendekat. Tapi dia tidak bisa mengenainya saat Rishia melesat ke samping, menggunakan dinding dan bahkan langit-langit untuk meluncurkan dirinya dengan bebas di udara.

"Air Strike Throw Z Second—” kata Rishia.

“Great Tornado IV!” Armor menyela, mencegat skill proyektilnya dengan tornado tepat sebelum mendarat. Trik itu lagi!

“Wah, wah, wah. Aku hampir tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat kecewa. Benarkan, S'yne?” kata wanita tolol itu. Aku menengok ke arahnya dan melihat S'yne terbungkus rantai. Dia telah berhasil menahannya sampai beberapa saat yang lalu! Apakah situasinya seburuk itu?

Kemudian aku melihat sejumlah wanita Miyaji menundukkan kepala ke wanita tolol itu. Apakah mereka akan mencoba membalas dendam?

“Tolong, izinkan kami bergabung dengan mereka yang mengikutimu!” kata salah satu dari mereka. Aku hampir terjatuh karena terkejut.




TL: Isekai-Chan 
EDITOR: Isekai-Chan

Sabtu, 03 April 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 30. Pekerjaan Fina

Volume 2
Chapter 30. Pekerjaan Fina


Beberapa hari yang lalu, aku dan Yuna pergi melakukan quest pembasmian Tigerwolf.

Sementara Yuna pergi untuk melakukan tugasnya, aku tetap tinggal di rumah beruang yang dia bangun dan memilah mayat monster. Untuk beberapa alasan, aku pergi keluar untuk mencari tanaman obat untuk ibu, tapi aku hampir tersesat. Alasanku bisa kembali adalah berkat Kumakyu.

Aku meminta Kumakyu untuk menunggu di luar sementara aku masuk ke gudang. Aku menuju ke lemari pembeku dan mengeluarkan seekor mayat serigala. Itu kecil untuk ukuran monster, tapi besar untuk kutangani, dan aku butuh tenaga ekstra untuk meletakkan mayat tersebut ke atas meja. Yuna telah menyiapkan sebuah bangku untukku, jadi aku tidak perlu berjinjit.

Aku menggunakan pisau pilah untuk memisahkan kulit dan memotong dagingnya menjadi beberapa bagian. Aku juga memisahkan kristal sihir dari mayat tersebut dan menyisihkannya. Bagian-bagian yang tidak terpakai dibuang ke tempat sampah. Sebenarnya, tempat sampah tersebut adalah sebuah lubang yang sangat dalam; yang mana Yuna sendiri bilang padaku untuk jangan sampai jatuh ke dalam lubang tersebut. 

Itu menakutkan, jadi kupastikan untuk berhati-hati setiap berada di dekat lubang tersebut.

Setelah aku selesai memilah beberapa serigala, pintu gudang terbuka. Yuna telah kembali. Aku penasaran apakah ia berhasil mengalahkan Tigerwolf-nya? Aku bahkan belum menyelesaikan tumpukan mayat monster pertama. Yuna menyuruhku untuk lebih dulu mengambil kristal sihir dari mayat Tigerwolf yang berhasil dia kalahkan. Itu adalah bagian dari pekerjaanku, jadi tentu saja aku mengiyakannya. 

Aku terkejut dengan seberapa besar Tigerwolf tersebut. Yuna benar-benar sangat keren!

Tigerwolf adalah jenis monster yang sama seperti serigala, jadi kristal sihir pada tubuh mereka juga terletak di tempat yang sama, di antara jantung dan hati. Besarnya hampir dua kali besar kristal sihir pada serigala dan kilau yang dipancarkan juga berbeda. Aku mencuci bersih kristal tersebut dan menyerahkannya pada Yuna.

Kami makan siang, dan aku kembali melanjutkan pemilahanku yang tadi. Yuna bilang kalau dia akan tidur sebentar. Mungkinkah dia lelah setelah pertarungannya melawan Tigerwolf?

Kuputuskan untuk melakukan yang terbaik juga. Aku akan berjuang untuk menyelesaikan pekerjaanku.

Saat sudah selesai, aku pergi ke lantai dua untuk membangunkan Yuna. Aku tidak tahu di kamar mana dia tidur, jadi aku mengetuk pintu yang paling dekat dengan tangga dan mengintip ke dalam saat tidak ada jawaban. Di sini dia rupanya. Dia tampak benar-benar nyaman.

Aku mengguncang tubuhnya agar bangun. "Yuna-san, Yuna-san."

Dia terbangun.

Saat dia beranjak dari kasur, aku melihat kostumnya telah berganti menjadi warna putih, benar-benar mirip Kumakyu. Dia tampak imut dalam kostum beruang hitam, tapi dia juga tidak kalah imut dengan kostum beruang putih tersebut. Aku rasa dia bisa membalik kostum miliknya untuk berganti dari beruang hitam ke beruang putih dan sebaliknya. 

Setelah aku memberitahunya bahwa aku telah menyelesaikan pemilahanku, kami akhirnya pulang. Yuna membuat rumah beruang yang dia bangun menghilang. Sihir sangatlah menakjubkan. Kami kembali dengan mengendarai Kumayuru. Tampaknya jika ia hanya mengendarai satu beruang saja, maka yang lain akan merajuk. Kurasa aku paham bagaimana perasaan mereka. 

Penjaga gerbang begitu terkejut. Semua orang akan melakukan hal yang sama saat melihat kami menunggangi Kumayuru, tapi beruang itu sangat lucu, jadi kurasa dia tidak perlu terlalu berhati-hati seperti itu.


Karena besok aku akan bekerja juga, aku pergi ke tempat Yuna menginap, tetapi dia tampaknya tidak memiliki tempat yang dapat digunakan untuk melakukan pemilahan. Karena akan merepotkan untuk pergi keluar kota setiap kali kami perlu melakukan pemilahan, dia pergi mengunjungi guild petualang untuk menanyakan apakah mereka punya tempat yang bisa disewakan. Guild petualang malah menyuruh kami untuk pergi ke serikat dagang, jadi kami berakhir mengunjungi tempat tersebut.

Ini menjadi masalah yang cukup serius. Aku mulai merasa gugup.

Ketika kami tiba di serikat dagang, semua orang menatap Yuna. Kostum beruang miliknya benar-benar mencolok. Yuna berbicara beberapa menit dengan wanita di meja resepsionis dan kembali dengan mengantongi sebuah lisensi tanah. Kami lalu dipandu oleh wanita tersebut ke sebuah lahan kosong, dan Yuna mendirikan sebuah rumah beruang di atasnya.

Tidak peduli berapa kali pun aku melihatnya, itu benar-benar mengagumkan.

Aku langsung bekerja saat itu juga. Hari itu, aku melakukan pemilahan pada mayat Tigerwolf. Seharusnya proses pemilahannya tidak jauh berbeda dengan serigala, tapi bahkan seorang anak kecil sepertiku tahu kalau kulit dari Tigerwolf sangat mahal. Aku perlu ekstra hati-hati saat memisahkan kulitnya, atau kualitasnya akan turun. Tetap saja, aku mencoba sekuat tenaga saat memisahkannya, dan ketika seluruh pekerjaanku untuk hari itu telah usai, aku merasa lega.

Untuk beberapa hari berturut-turut, aku pergi ke rumah Yuna untuk melakukan pemilahan.

Kemudian, suatu hari ketika aku sedang membersihkan dan memisah-misahkan daging, sejenak kepalaku terasa pusing. Tepat ketika aku berpikir bahwa ini akan gawat, aku roboh.

Untungnya, Yuna melihat dan langsung berlari ke arahku. Dia melihat tanganku dengan wajah khawatir. Aku berdarah. Tanganku pasti tidak sengaja teriris saat aku terjatuh tadi. Itu sedikit sakit, tapi tidak terlalu.

Yuna menyentuh bagian tanganku yang terluka. Kurasa dia melakukan sesuatu semacam sihir. Rasanya hangat, dan kemudian lukanya menutup bersamaan dengan rasa sakitnya yang menghilang. Itu sangat menakjubkan.

Dia melepas sarung tangan beruangnya dan meletakkan tangannya di atas keningku. Tampaknya, aku demam. Dia menyuruhku naik ke lantai dua dan beristirahat. Saat aku berbaring di atas kasur, dia menyentuh keningku lagi. Kali ini, dia tidak melepas sarung tangannya. Rasanya begitu nyaman dan lembut. Perasaan itu kian menguat sampai akhirnya aku terlelap.


Hari sudah gelap saat aku terbangun. Dia bilang kalau dia sudah membuatkanku makan malam, dan menyuruhku membawanya pulang untuk dimakan di rumah. Kemudian dia juga menyuruhku untuk libur besok. Yuna bilang kalau aku sudah boleh bekerja lagi lusa depan. Dia juga bilang padaku, mulai saat ini, aku harus mengambil libur setiap tiga hari sekali.

Jika aku mengambil pekerjaan lain di waktu libur, dia bilang tidak akan memperkerjakanku lagi. Dia mengkhawatirkan kesehatanku, jadi kuputuskan untuk mematuhi kata-katanya.




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria Light Novel Bahasa Indonesia Volume 6 Interlude

Volume 6
Interlude


"...Ini sudah berakhir." Sigyn menghela napas panjang lelah, dan mengatur napas.

Dia berdiri di sebuah tempat dekat kamp tentara Klan Panther, di tempat perlindungan sementara sederhana yang dibangun untuk melakukan doa akan kemenangan mereka. Ada kobaran api di mana beberapa orang membakar batu bata dari tanah liat.

Pria yang berdiri di dekatnya telah menunggu sambil menahan napas, dan sekarang dia menanyainya dengan nada tergesa-gesa. "Dan? Bagaimana hasilnya ?! ”

Dia adalah Alexis, Pendeta kekaisaran dan perwakilan dari Kekaisaran Suci Ásgarðr.

Dia adalah orang yang telah melakukan Upacara yang membentuk aliansi antara Klan Panther dan Klan Petir.

Dia telah memberitahunya tentang fakta bahwa Patriark Klan Serigala telah dipanggil ke Yggdrasil oleh seiðr Gleipnir dari dunia lain, dan menginstruksikannya tentang bagaimana dia bisa secara paksa mengirimnya kembali.

"Dia menghilang ... tanpa jejak," kata Sigyn. “Aku yakin dia tidak akan bisa kembali ke dunia ini lagi.”

Dia telah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini untuk suaminya, demi klannya, tetapi sebenarnya, metode ini pasti akan melukai harga diri suaminya, dan pikiran itu meninggalkan rasa tidak enak di mulutnya.

Jika memungkinkan, dia ingin suaminya menggunakan kekuatan dan kebijaksanaannya untuk mendapatkan kemenangan yang pantas melalui pertempuran, tetapi dia harus mengakui bahwa lawannya terlalu hebat.

Dia tidak percaya orang itu benar-benar berhasil menangkis serangan gabungan oleh pasukan Klan Petir dan Panther sekaligus ...

Dia memiliki kemampuan yang melampaui dunia ini. Mempertimbangkan masa depan Klan Panther, ini adalah situasi di mana dia tidak bisa pilih-pilih dengan tindakannya.

"Ohh, luar biasa," puji Alexis. “Dengan ini, kerajaan besar kita pasti akan tetap aman.”

"Hmph." Sigyn dengan dingin mencemooh kata-kata gembira Alexis, dan mengibaskan jubahnya dengan kesal saat dia hendak pergi.

Dia bertanya, "Oh, mau kemana?"

“Saya akan memberi tahu suami saya. Tanpa Patriark dan panglima tertinggi mereka, pasukan Klan Serigala sekarang tidak perlu kita takuti.”


Note:
Woaah, akhirnya volume 6 selesai. Next volume, yuuto kembali ke jepang~



TL: Afrodit
EDITOR: Isekai-Chan 

Kamis, 01 April 2021

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 59. Party Adventurer

Chapter 59. Party Adventurer



Ketika kami akan memasuki Dungeon, kami melihat sekelompok orang di depan kami.

(Bandit lagi?)

Hanzo bersiap-siap mengeluarkan pedangnya, tapi segera kuhentikan.

“Mereka tidak seperti sekelompok penjahat. Tapi mereka juga tidak terlihat seperti orang baik.”

Ternyata mereka adalah sekelompok adventurer. Mereka berjumlah 5 orang. Mereka juga mengenakan senjata, armor dan lain-lain. 

Sedangkan kami, kami terlihat seperti kelompok yang sangat aneh karena terdiri dari berbagai macam ras, akan tetapi kami diabaikan oleh mereka. Sepertinya nyaris semua ras datang ke Dungeon ini.

Aku juga berencana mengabaikan mereka, tapi percakapan mereka terdengar olehku.

“Kalau begitu, mari kita pergi ke bawah sana untuk mencari harta karun itu.”  Ujar pria yang terlihat seperti pemimpin kelompok tersebut. Anggota lain nya mengangguk setuju kecuali satu orang yang bertanya dengan gemetar. 

“U-Uhmm… Apakah kita benar-benar akan ke bawah sana untuk mencari ‘Driffted Relic’ ?.”

“Apalagi sekarang? Kita sudah membicarakan hal ini berulang kali bukan.” 

“Benar, tapi aku dengar banyak kelompok lain seperti kita yang mencari Relic itu juga, dan mereka semua mati.”

“Yuri, apakah rumor seperti itu sudah cukup untuk menakutimu ? Dasar penakut.” Ejek si Pemimpin kelompok dan di ikut yang lain.

“Yuri, kau itu selalu penakut.”

“Jika kau ketakutan, seharusnya pulang saja dan menyusu pada ibumu .”

“Kalau begitu kau saja yang bertugas membawa barang, dasar penakut.”

Kemudian mereka semua memaksa Yuri untuk membawa barang-barang mereka.

Eve melihat ini dan berkata,

“Sepertinya membully yang lemah selalu menjadi kegiatan di dunia manapun.” Katanya sambil mendesah.

Jeanne sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku mencegahnya.


“Kita tidak butuh masalah lebih banyak lagi. Dan juga, kalian berdua tidak ada bedanya dengan mereka. Kalian meremehkan bocah itu.”

“Meremehkan?”

“Ya, Sudah jelas kalau ‘Driffted Relic’ itu akan menjadi milik kita. Akan tetapi bocah itu, Yuri, adalah yang paling berani di antara kelompok itu.”

“Apakah anda yakin? Bocah sekurus itu?”

“Yah, jika kalian tidak percaya kita hanya harus melihat dengan mata kita sendiri. Aku yakin itu akan menjadi hal yang menarik untuk dilihat nanti.” Ujar ku. Setelah itu kami pun memasuki Dungeon.

Berdasarkan Informasi dari Hanzo, ‘Driffed Relic’ itu seharusnya berada di lapisan ke-5 di Dungeon ini.

Pada saat kami memasuki lapisan pertama, ada danau berwarna biru berkilauan yang dalam nya sekitar lutut.

“Danau ini sangat indah.” Kata Jeanne sambil berbisik. Tapi kami pertama-tama kami harus melewati lapisan pertama.

Lapisan pertama dungeon ini lumayan kecil, tapi itu berarti semakin susah untuk menghindari monster-monster yang berada di lapisan itu

Giant Bat, Horn Rabbit, Blue Slime, dan monster-monster normal lainnya. 
<TLN: sengaja nama 3 monster pertama gk ane TL soalnya menurut ane lebih cocok pake nama bahasa inggris nya>

Tentu saja tidak ada satupun dari monster itu yang menjadi ancaman serius bagi kami. Tapi sepertinya Jeanne terlihat bingung.

“Astaroth-sama, monster-monster ini, bukankah mereka seharusnya adalah rekanmu ?”

“Iblis dan monster itu tidak sepenuhnya sama.”

Sepertinya ini adalah saat yang cocok untuk menjelaskannya pada Jeanne.

“Iblis itu monster yang kuat dan harus memiliki kecerdasan. Mereka juga harus berbentuk Humanoid.” 

“Begitu rupanya”

“Kebanyakan Monster bukan Humanoid. Bahkan yang berbentuk Humanoid seperti Orc dan Goblin, mereka masih dikategorikan sebagai monster karena tingkat kecerdasan mereka rendah.”
“Benar, Orc-orc itu sungguh bodoh.”

Jeanne juga berkata kalau baru-baru ini dia mengajari seekor Orc tentang penjumlahan, kemudian dia perlakukan sebagai anak ajaib.

Aku tidak mau menyinggung tentang sejauh mana pengetahuan Jeanne tentang matematika, karena itu terlihat sangat bangga akan hal itu.

“Yaah.., ada bermacam-macam monster di dunia ini. Beberapa dari mereka hidup di hutan atau tempat lain dan beberapa melayani Raja Iblis sepertiku.”

“Hmmm… Kalau begitu kebanyakan dari monster-monster itu adalah monster liar””

“Kurasa begitu. Walau begitu bukan tidak mungkin untuk membuat mereka tunduk padaku dengan sihir, akan tetapi hasilnya tidak sebanding dengan usaha yang harus di kerahkan”

“Kenapa ?”

“Karena itu menghabiskan banyak energi. Lebih mudah mengumpulkan material dan men-summon mereka.”

“Begitu rupanya…”

“Bayangkan saja seekor Serigala liar. Lebih mudah jika kau memeliharanya sejak kecil daripada menjinakkannya saat sudah besar bukan? Kira-kira seperti itulah.”

“Jadi, selama anda menciptakan mereka, mereka akan setia kepada mu sejak awal?”

“Tepat, walaupun mereka tidak benar-benar patuh dan bisa saja mereka mengkhianatimu. Tapi itu masih lebih mudah daripada menjinakkan Serigala liar.”

“Sekarang aku paham. Kau sangat bagus dalam menjelaskan sesuatu, Astaroth-sama. Mungkin kau seharusnya menjadi guru.”

“Terima kasih atas sarannya.”

Itu bukanlah saran yang buruk. Setelah aku berhasil menyatukan dunia ini mungkin aku bisa pergi untuk bersembunyi. Aku mungkin akan mengambil identitas yang berbeda dan membuka sekolah di pedesaan.

Disana, akan ada anak-anak yang cerdas seperti Eve, arogan seperti Hijikata dan bodoh seperti Jeanne yang akan belajar setiap hari.

Saat aku membayangkan hal ini, lapisan kedua sudah terlihat. Akhirnya kami berhasil untuk turun kebawah.


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan