Sabtu, 28 Agustus 2021

Maou-sama, Retry! Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 62. Cahaya Putih

 Chapter 62. Cahaya Putih



Rombongan Maou keluar dari dungeon dan langsung berangkat menuju guild, dan setelah menerima upahnya, mereka membayarkan pajak mereka.

Itu benar-benar pembayaran pajak secara langsung.

Itu mungkin agar tidak adanya penghindar pajak. Dan kenyatannya, disana terdapat penjaga yang mengawasi langsung setelah keluar dari dungeon dan mereka memandu-mu ke guild.

(Kita mendapatkan upahnya dalam jumlah penuh ya…) (Maou)

Maou memperhatikan secara seksama terhadap upah dari jarahan dan membandingkannya dengan yang Yukikaze katakan kepadanya, tetapi ternyata mereka membelinya dengan harga penuh. Alasannya adalah karena hanya ada sedikit goresan pada item jarahan tersebut, kemungkinan besar karena mereka mengolahnya dengan baik.

Tentu saja, jika mereka pemula, maka tidak akan terjadi hal yang sama.

Sebelum mereka mengalahkan monsternya, kemungkinan bulunya sudah rusak terlebih dahulu, dan dagingnya akan penuh dengan kerusakan. Tidak akan aneh jika melihat pengurangan 30% atau lebih terhadap upah jika kemampuan pengolahannya buruk.

Meninggalkan guild, Maou bertanya pada Yukikaze.

“Tidak hanya keadaan monsternya yang berpengaruh terhadap upah, tetapi juga keahlian pengolahnya, ya.” (Maou)

“…Ya, itu benar. Mikan sangatlah hebat.” (Yukikaze)

“Daripada itu, bagaimana dengan pembagiannya. Kali ini kita tidak merencanakan apapun, maka mari kita bertiga membagikannya dengan sama rata.” (Mikan)

Mikan membaginya menjadi tiga dan memberikannya kepada masing-masing dari mereka.

Maou menerima sebuah tas kulit kecil dan mengguncangnya, dia menikmati suara logam yang tercipta dari koin perunggu dan perak itu.

“Aku tidak terlalu membutuhkan bagianku, kau tahu?” (Maou)

“Tidak boleh!” (Mikan)

Mikan menolak dengan jelas. Nadanya yang keras membuat orang-orang melihatnya, tetapi mereka segera kehilangan minat dan berjalan kembali.

“Memang benar bahwa kau merupakan sebuah aib dari seorang porter, tetapi upah yang bergantung pada hasil kerja adalah sesuatu yang harus dihindari. Jika kau ingin menjelajah ke dalam dungeon, ingatlah itu baik-baik” (Mikan)

“Hooh, begitu…” (Maou)

Dari kata tersebut muncul beragam penyimpulan di pikirannya Maou.

Biasanya pria ini melakukan sesuatu dengan kasar, tetapi imajinasinya berada di tingkatan yang berbeda. Jika tidak, maka dia tidak akan mampu menciptakan sebuah ‘dunia’.

Maou berpikir.

Kemungkinan situasi seperti itu sudah pernah terjadi.

Tidak diragukan lagi bahwa itu terjadi karena kurangnya kemampuan porter pemula.

Tentu saja, berada di dalam dungeon juga membahayakan para porter. Mereka mempertaruhkan nyawa, dan jika mereka diupah sesuai dengan kinerja yang mereka lakukan…

Terlebih lagi ketika mereka diberitahu langsung di hadapan mereka ‘kinerjamu buruk, jadi kau menerima lebih sedikit’. Jika itu terjadi, maka akan lebih sedikit orang yang mau melakukan pekerjaan itu.

Pada akhirnya yang akan tertimpa masalah karena sedikitnya porter yaitu para petualang, dan itu juga akan merusak sistem perpajakan dari sebuah negara.

“Kemungkinan pihak administrasi memiliki pengawasan terhadap hal itu juga.” (Maou)

“Eh? Yah, begitulah…” (Mikan)

Kata-kata dari Maou yang ‘melewati beberapa langkah’ membuat Mikan menunjukkan tatapan ragu.

Pria ini selalu seperti itu.

Terkadang dia akan mengaitkan beberapa hal menjadi satu kata, lalu dia menyimpulkannya di dalam dirinya sendiri. Kecuali jika sesuatu terjadi, itu akan di tetapkan sebagai kebenaran.

Itu adalah pola pikiran dari seorang diktator.

Jika itu berputar kearah yang benar, itu akan membawa hasil positif. Karena mereka tidak dipengaruhi oleh orang lain, mereka bisa mendorong keinginannya sejauh mungkin sesuai yang mereka inginkan, dan tidak akan rusak di pertengahan.

Tetapi jika itu berputar ke arah yang salah, itu akan menciptakan masalah dimana-mana. Karena mereka tidak dipengaruhi oleh orang lain, maka mereka akan mendorong keinginan mereka sejauh mungkin sesuai yang mereka inginkan, dan tidak akan menyerah di pertengahan.

Pria ini tidak menyadari kekurangannya. Oleh karena itu, demi memperbaiki kekurangannya walaupun hanya sedikit, dia mengumpulkan orang-orang disekitarnya, dan mulai mendengarkan bermacam-macam pendapat dari mereka.

Dia menciptakan Kunai Hakuto, seseorang yang mencari orang-orang berbakat dan menjadikan mereka bawahannya, mungkin karena itu adalah cita-citanya sendiri.

“Ooi! Tahun ini juga kita telah kedatangan seorang pahlawan!”

Lingkungan sekitar menjadi berisik karena teriakan itu.

Anak-anaklah yang berlari terlebih dahulu, lalu orang-orang dewasa juga mulai ikut berlarian.

“Pahlawan, katamu?! Apakah mereka benar-benar ada?” (Maou)

“Hah? Tentu saja mereka ada, kau benar-benar tidak tahu apa-apa ya.” (Mikan)

“…Ada dua pahlawan suci yang berada di Light Country.” (Yukikaze)

Kata pahlawan suci membuat Maou berpikir ‘itu terdengar keren’. Dia memutuskan untuk melihat pahlawan itu secara langsung dan bergegas ke lokasi keributan itu terjadi.

“Pahlawan-sama~!”

“Lihatlah kesini!”

“Putih…sinarnya sangat luar biasa!”

Banyak orang berkumpul di depan pintu masuk kota, dan itu menjadi sebuah keributan yang terasa seperti artis terkenal telah muncul.

Semua orang melambaikan tangan mereka sambil tersenyum, dan mereka mati-matian mencoba membuat orang itu memperhatikan mereka.

“Seperti biasa, orang yang kelihatannya cocok menunggangi seekor kuda, ya.” (Mikan)

“…Putih.” (Yukikaze)

“Huh, seorang pahlawan yang menunggangi kuda, ya. Kelihatan seperti di dalam lukis…hm? (Maou)

Sesaat Maou melihat orang itu, matanya terbuka lebar.

Itu adalah seorang pria yang menunggangi kuda putih indah tersebut. Selain itu, dia adalah seorang pria gemuk dengan perutnya yang membuncit, dan diwajahnya, terdapat kacamata yang memancarkan cahaya putih.

Dia memiliki kotak putih besar dipunggungnya, dan di dalamnya terdapat dua gagang yang keluar darinya. Dalam pandangan Maou, dia terlihat seperti pejuang yang baru kembali dari bazar komik.

“Oi oi, tidak mungkin…pahlawan yang dimaksud bukanlah dia, kan.” (Maou)

“Apa yang kau katakan? Otaglasses-sama memang benar seorang pahlawan.” (Mikan)

“Hei, itu nama yang mengerikan!” (Maou)

Maou tanpa sadar berteriak menggunakan karakter aslinya.

Penampilan dan namanya benar-benar cocok.

“Otaglasses-sama memiliki julukan ‘White Comet’.” (Yukikaze)

“Memang benar dia putih, tetapi bukankah karena dia merupakan orang yang sangat tertutup sehingga kulitnya itu putih?” (Maou)

“…Pahlawan suci lainnya memiliki julukan ‘Red Devil’.” (Yukikaze)

“Julukan itu sangat berlawanan dengan pahlawan! Aku bahkan tidak tau harus membalas apa.” (Maou)

Dua tipe baru muncul di kepala Maou, tetapi dia segera menghapus itu dari pikirannya.

Nama dan julukan mereka merupakan sebuah lelucon, tetapi Otaglasses dengan ringan melambaikan tangannya dan turun dari kudanya, dan juga menghentikan kereta di belakangnya.

Anak-anak melihatnya dan bersorak kepadanya, lalu mereka berbaris. Banyak prajurit berkumpul, mengatur barisan dan memandu para penonton.

Apa yang terjadi disana adalah sebuah pembagian makanan gratis.

Otaglasses membagikan roti dan keju kepada anak-anak, dan setelah menyiapkan sebuah panci besi yang besar, dia memberikan bubur gandum kepada orang-orang dewasa.

Semua orang berkumpul dengan senyuman di wajah mereka, dan itu sangat jelas bahwa dia disambut mereka.

“Apakah pria itu selalu melakukan hal seperti ini?” (Maou)

“Setiap tahun dia sepertinya bepergian ke sekitar negara bagian utara selama setengah tahun. Dia benar-benar orang yang luar biasa.” (Mikan)

Mikan mengangguk terhadap pertanyaan dari Maou dengan ekspresi serius.

Tetapi Maou yang mendengarkan ini, merasakan hal yang mencurigakan.

Pria ini tidak terlalu terkait secara emosional terhadap hal-hal seperti pekerjaan sukarela dan penggalangan dana. Terlebih lagi ketika dia memperhatikan orang-orang yang mengadakan penggalangan dana tetapi tinggal di rumah yang sangat mewah. Dia adalah tipe orang yang akan mengatakan ‘jual-lah rumahmu dan kumpulkan dananya sendiri’.

“Apakah mereka melakukan hal ini demi meningkatkan ketenaran? Atau mungkinkah ini merupakan tugas dari para pahlawan? Apakah mereka melakukan ini di bawah perintah langsung dari kekaisaran?” (Maou)

“Kau ini ya, seberapa jauh kau bisa berpikiran buruk? Yang kau pikirkan itu malah sebaliknya. Kekaisaran sudah menyuruh Otaglasses-sama untuk berhenti melakukan hal itu, namun, dia tetap saja melakukan hal itu dengan membagikan roti miliknya kepada anak-anak.” (Mikan)

“Itu terdengar cukup menarik.” (Maou)

“Aku dengar dia dikecam oleh negaranya sendiri karena terlalu berurusan dengan negara lain dan bertindak tunduk kepada mereka.” (Mikan)

“Hooh” (Maou)

Mendengar ini, ekspresi Maou berubah.

Wajah penuh ragu yang telah dia ubah menjadi wajah burung pemangsa, berubah menjadi ekspresi menakutkan yang tidak akan membiarkan satupun perubahan pada target lolos.

“Makan malamnya kubatalkan. Maaf, tapi pergilah tanpaku” (Maou)

“Apakah kau lupa akan mentraktir kami?” (Mikan)

“Gunakanlah ini” (Maou)

“Eh? Tunggu, bukankah ini koin emas besar?! Apa yang kau pikirkan?” (Mikan)

Maou sudah bersiap untuk pergi begitu saja, tetapi Yukikaze memegangi lengan bajunya. Wajahnya benar-benar sedih.

Bahkan Maou merasa bersalah pada ekspresi yang tidak diragukan lagi adalah ekspresi seorang gadis cantik yang lemah. Dia berbicara dengan lembut.

“Uhm, baiklah, pesanlah apa pun yang kalian inginkan. Jika ada uang yang tersisa, kau bisa membagikannya di antara kalian berdua.” (Maou)

“…Makan malam bersama Oji-sama itu lebih penting. Aku tidak membutuhkan uang.” (Yukikaze)

“Kalau begitu ayo pergi besok. Tidak perlu terburu-buru.” (Maou)

“…Berjanjilah. Jika kau melanggarnya, kau harus tidur bersamaku.” (Yukikaze)

Yukikaze mengangkat jari kelingkingnya dan Maou mengerutkan alisnya karena hal itu.

Dia mungkin malu memikirkan membuat janji kelingking di tengah kota. Tapi Yukikaze tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menjalin tangan dengan Maou, dan secara sepihak menepati janji.

Maou terlihat seperti sudah menyerah, dan menghilang diantara keramaian.

“…Makan malam atau tidur bersama. Apa pun yang akan terjadi, aku tetap menang.” (Yukikaze)

“Kau pintar juga merencanakan strategi, ya.” (Mikan)

Mikan menggumamkan itu sembari menggelengkan kepalanya, tetapi dia terpesona oleh kilauan dari koin emas yang berada di tangannya, dan akhirnya, dia mendorong satu tangannya keatas dan melompat.

“Hari ini kita akan makan banyak! Ini uang dia, jadi aku akan menghabiskan semuanya.” (Mikan)

“…Tidur bersama. Tetap bersama hingga pagi. Menempel. Dan menempel.” (Yukikaze)

Keduanya memikirkan hal yang berbeda satu sama lain, tetapi keduanya tersenyum saat mereka pergi.

■□■□■□

Pada malam hari, Otaglasses berjalan di gang belakang yang sepi.

Karena dia menggunakan jubah compang-camping yang menutupi wajah dan seluruh tubuhnya, sekilas dia akan terlihat seperti gelandangan.

Lokasi dia berada sekarang adalah area miskin yang ada di setiap kota.

Dengan adanya cahaya, maka kegelapan juga ada.

Semakin kuat cahayanya, maka semakin tebal kegelapan yang berlaku. Bahkan di kota pemula yang berada di dalam kondisi baik juga tidak dapat lepas dari aturan ini.

Orang-orang miskin dan para petualang yang tidak memiliki uang berkumpul di warung remang-remang yang berbaris di sana-sini, membeli makanan yang murah. Otaglasses menghampiri salah satu dari mereka, dan berbicara dengan pemiliknya.

“Oyaji-san <pria tua>, apa yang kau jual hari ini?” (Otaglasses)

“Bubur gandum, harganya 3 koin perunggu. Jika kau tidak memiliki mangkuk, maka harganya akan menjadi 4 koin perunggu. Bagaimana?” 

“Begitukah. Tolong beri aku semangkuk.” (Otaglasses)

“Aku juga memiliki irisan lobak kering. Jika kau menginginkannya, maka tagihanmu akan bertambah 2 koin perunggu.”

Otaglasses menolak dengan melambaikan tangannya, dan menerima bubur gandum.

Duduk diatas batu berukuran sedang di gang belakang, dia menyeruputnya tanpa mengeluarkan suara.

“Harganya sudah meningkat dibandingkan tahun lalu. Harga kentang goreng juga meningkat sebesar 2 koin perunggu tetapi porsinya berkurang.” (Otaglasses)

 “Hoh, benarkah?”

Ketika Otaglasses berbicara sendiri, dia mendengarkan suara dari suatu tempat dan bereaksi terhadap perkataannya.

Itu adalah Maou yang sedang berada dalam mode Stealth Stance.

Namun Otaglasses tidak memperlihatkan sikap terkejutnya dan melanjutkan perkataannya.

“Pada awalnya, minyak yang mereka gunakan itu sangatlah buruk. Kemungkinan mereka tidak pernah menggantinya sama sekali… Itu akan menjadi racun bagi tubuh. Lemak babi yang digunakan dalam tumis sayuran juga telah menghilang, dan bubur gandumnya tidak memiliki rasa asin.” (Otaglasses)

“Kau bahkan memperhatikan masalah kecil seperti itu, huh.” (Maou)

“Walaupun, aku kalah darimu juga.”

Otaglasses tersenyum pahit sembari menyeruput bubur gandumnya.

Rasanya hampir tidak ada, pasti itu tidak enak. Karena bubur gandum yang dia bawa itu memiliki rasa yang enak, kemungkinan besar dia akan membandingkannya.

“Kau merupakan orang yang menarik. Kau lebih cenderung mengatakan kemunafikan dibandingkan tidak melakukannya.” (Maou)

“Kemunafikan, ya… Aku benar-benar tidak bisa membantahnya.” (Otaglasses)

“Jangan salah paham. Aku memuji dirimu. Berkeliling ke banyak negara setiap tahun, membagikan makanan yang kau miliki; itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang biasa. Apalagi tindakan itu mempengaruhi posisimu di negerimu sendiri.” (Maou)

“Aku tidak memperdulikan status sosial… Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” (Otaglasses)

“-Apakah keinginanmu itu benar-benar sangat penting?” (Maou)

Suara dingin yang menusuk itu membuat Otaglasses mengangkat wajahnya untuk pertama kalinya.

Tanpa sadar tangannya meraih kotak yang ada di punggungnya.

Suara itu sangatlah menyeramkan. Seolah-olah banyak tangan merangkak keluar dari dalam tanah, dan melilit seluruh tubuhnya.

“Mungkin aku terlambat menanyakan hal ini, tetapi aku ingin mengetahui apa tujuanmu.” (Otaglasses)

Maou terdiam untuk waktu yang lama mendengar pertanyaan Otaglasses.

Meskipun dia tidak memperlihatkan dirinya, namun kehadirannya terasa seperti mengangguk dan itu terlihat seperti dia sedang bersenang-senang.

“Menarik. Ya, kau sangat menarik. Kau benar-benar menarik.” (Maou)

Respon yang akhirnya muncul adalah kesan yang terdengar seperti berasal dari seorang anak kecil.

Tidak ada kejahatan didalamnya, sebaliknya, itu bahkan bisa dianggap suci.

“Aku menginginkanmu.” (Maou)

Kata-kata yang langsung ke intinya. Tidak ada kata pengantar di antaranya.

Namun itu menunjukkan niat Maou yang sebenarnya.

“Terima kasih atas kata-katamu, tapi aku takut padamu. Sejujurnya, disaat aku merasakan tatapanmu, aku tidak bisa berhenti gemetaran.” (Otaglasses)

“Maafkan aku tentang hal itu. Aku adalah tipe yang menilai semuanya dengan mataku sendiri.” (Maou)

“Walaupun kau memiliki kekuatan yang sangat besar, bukannya menyuruh anak buahmu, kau justru melakukannya sendiri. Itu sangatlah terpuji.” (Otaglasses)

“Ketika aku menyerahkannya kepada orang lain, aku akan melakukannya tanpa menahan diri. Semakin banyak bawahan terampil yang kumiliki, maka akan semakin mudah; keuntungan akan meningkat, dan itu akan terhubung dengan keuntungan dari banyaknya bawahan terampilku.” (Maou)

“Kedengarannya sederhana, tapi itu juga yang terbaik.” (Otaglasses)

Otaglasses menghabiskan bubur yang dia makan, dan hendak pergi begitu saja.

Maou berbicara di belakangnya.

“Saat ini aku sedang mengembangkan sebuah desa yang bernama Rabi Village di Holy Light Country. Aku ingin kau menjadi kekuatanku di masa depan. Tidak, bukan itu… Aku akan membuatmu menjadi kekuatanku.” (Maou)

“…Kau orang yang sangat mengerikan.” (Otaglasses)

Otaglasses meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kebelakang, dan Maou berjalan ke arah berlawanan.

Maou dan pahlawan; pertemuan pertama mereka.


TL: Ao Reji
EDITOR: Isekai-Chan

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria Light Novel Bahasa Indonesia Volume 8 Chapter 4

Volume 8
Chapter 4


"Hah? Apa yang aku lakukan disini?" Mitsuki mendapati dirinya berdiri, sendirian, di semacam taman.

Ini sangat aneh. Dia yakin bahwa sampai beberapa saat yang lalu dia berada di tempat tidur, berjuang untuk tertidur.

Namun di sinilah dia, tiba-tiba berdiri di luar.

Ada kemungkinan dia dibawa ke sini saat tidur, tapi dia cukup yakin dia akan terbangun jika seseorang mencobanya.

Dan dia adalah tunangan sang Patriark. Bawahan klan Yuuto telah bersumpah setia kepadanya, jadi sulit untuk berpikir bahwa salah satu dari mereka akan melakukan sesuatu yang tidak sopan padanya.

Selain itu, bahkan jika ada seseorang yang cukup kurang ajar untuk melakukan upaya tersebut, ada pasukan khusus Klan Serigala, yang dikomandoi oleh Sigrún, bertugas sebagai penjaga istana.

Menurut Yuuto, mereka terus-menerus berpatroli di istana secara bergiliran, menjaga agar istana tetap aman. Menyelinap melalui jaring pengaman yang ketat dan menculik Mitsuki dari kamarnya akan sangat sulit, setidakmya.

"Jadi itu artinya... Apakah aku ada di dalam mimpi?" Mitsuki melirik sekelilingnya.

Itu adalah taman yang indah, dengan bunga-bunga putih cerah bermekaran mengelilingi sebuah kolam kecil di tengahnya. Di dekatnya berdiri sebuah bangunan yang kelihatannya terbuat dari batubata, itu adalah jenis tempat peribadatan yang disebut "hörgr."

Mitsuki cukup yakin tidak ada bangunan tempat perlindungan seperti ini di Iárnviðr. Paling tidak, tidak ada satu pun di tempat-tempat yang telah dia kunjungi sejauh ini. Namun, terlepas dari itu, melihatnya memberinya rasa keakraban yang luar biasa, nostalgia.

Pada saat yang sama, dia juga merasakan perasaan yang kuat bahwa ada sesuatu yang salah.

Ada yang aneh di sini, namun dia tidak tahu apa itu.

Saat dia kebingungan dengan perasaan ini, sebuah suara memanggilnya dari belakang.

“Kamu di sana, siapa kamu? Untuk menyusup ke ruang suci dan pribadiku seperti ini, kamu pasti sangat bodoh.”

Mitsuki berbalik, dan melihat dirinya sendiri.

“Hah— Eeeeeeh ?!” Mitsuki berteriak kaget, tapi dia bukan satu-satunya.

“A-apa?!”

Gadis lain juga tampaknya cukup terkejut, dan tubuhnya secara refleks mundur ke belakang.

Untuk sesaat, Mitsuki tertipu oleh kesan bahwa dia sedang melihat bayangan cermin dirinya, tetapi segera dia memperhatikan detail tentang gadis lain yang jelas berbeda.

Itu terutama rambut dan matanya. Mitsuki memiliki rambut dan mata hitam, tetapi gadis dihadapannya memiliki rambut seputih salju dan mata semerah ruby.

“Apakah kamu… Rifa?” Mitsuki bertanya ragu-ragu.

Dia pernah mendengar cerita dari Yuuto tentang gadis dengan wajah yang sama dengannya. Nama lengkapnya adalah Sigrdrífa, dan dia adalah Pjóðann, atau “Kaisar Ilahi.”

Tanah Yggdrasil semuanya berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Suci Asgarðr, dan Pjóðann memerintah di posisi tertinggi di puncak hierarki itu.

“Kalau begitu... kamu pasti yang dipanggil 'Mitsuki.' kesayanngan Tuan Yuuto.”

“Oh, um, y-ya! Y-ya, itu benar, aku Mitsuki.” Balasan Mitsuki sedikit canggung dan terbata-bata.

Dia dibesarkan jauh di pedesaan, tanpa pengalaman etiket 'Putri' dari masyarakat kelas atas. Dihadapkan dengan pengetahuan tentang betapa penting dan harga diri orang di depannya, mungkin tidak adil untuk mengharapkan dia tidak gentar dengan itu.

“Tetap saja, kenapa Mitsuki ada di sini di... Ngh?! Gh, apa ini ?! ” teriak Rifa.

“Ada apa— Aaaah!” Mitsuki berteriak sendiri pada sensasi terbakar yang tiba-tiba menyerang indranya, seolah-olah besi panas ditekan pada kedua matanya.

Sensasi berapi-api di matanya hanya berlangsung sekejap, tetapi sekarang rasanya seolah-olah semacam energi luar biasa membanjiri seluruh tubuhnya, merajalela, menguasainya. Rasanya seperti setiap tetes darah di tubuhnya terbakar.

Rífa tampaknya menderita kondisi yang sama. Kulit putih porselennya memerah, dan dia meringis kesakitan.

“Ghh, kekuatan dari runeku di luar kendali! Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Mengapa ini bisa terjadi…”

Rífa menatap Mitsuki dengan mata terbelalak, dengan keterkejutan yang lebih besar daripada saat mereka pertama kali bertemu.

“K-kamu! Matamu!"

"Hah?!"

Mitsuki menatap mata gadis itu dan melihat dua simbol emas kecil mengambang di dalamnya, seperti salib kecil.

Saat dia terus melihat mereka, "kekuatan" aneh di dalam dirinya mulai melonjak bahkan lebih ...

“Arrgh! Jadi itulah penyebabnya! Haaaah...” Rífa sepertinya menyadari sesuatu, dan mulai menarik napas dalam-dalam secara perlahan.

Saat dia melakukannya, kekuatan aneh yang telah mengamuk di seluruh tubuh Mitsuki tiba-tiba menjadi tenang, dan kemudian perasaan panas yang luar biasa surut tanpa meninggalkan jejak.

Semua kekuatan Mitsuki meninggalkannya, dan dia jatuh terduduk di tanah. "Ph-Fiuh... A-Apa itu??"

Perasaan lelah menguasainya. Dia merasa benar-benar dikuras, seolah-olah baru saja selesai berlari lari seratus meter dengan kecepatan penuh.

“Tampaknya rune milikku dan milikmu memiliki ‘ikatan’ yang aneh satu sama lain,” kata Rífa.

“Eh? Rune-ku?” Mitsuki memiringkan kepalanya dengan bingung.

Dia tahu apa itu rune: Itu adalah simbol pada tubuh orang-orang yang dikenal sebagai Einherjar, yang dikatakan sebagai bukti bahwa mereka adalah orang-orang spesial yang dipilih oleh para dewa.

Itu adalah semacam fenomena sihir yang unik bagi Yggdrasil, tidak dikenal di dunia modern abad ke-21 tempat dia berasal. Tentu saja, tidak mungkin dia memiliki hal seperti itu.

Nilainya di sekolah hanya sedikit di atas rata-rata, dan kemampuan atletiknya sedikit di bawah itu. Dalam segala hal, dia adalah gadis yang sangat normal dan biasa, jadi—

Mitsuki melihat sekilas bayangannya sendiri di air kolam, dan berteriak. “Eh — kya — huaaaaaah ?!”

Bentuknya berbeda, tetapi matanya juga memiliki sepasang simbol emas bersinar.

Itu berarti bahwa dia adalah sesuatu yang bahkan lebih istimewa daripada seorang Einherjar, yang sebenarnya langka dengan satu banding sepuluh ribu. Miliknya adalah 'Rune kembar.' Dikatakan hanya ada dua Einherjar rune kembar di seluruh Yggdrasil.

“Apa, apa aku harus menerima reaksimu bahwa kamu tidak pernah menyadarinya selama ini? Kamu sedikit berkepala dingin, bukan? ” Rifa menghela napas putus asa.


Bodoh... Mitsuki memang memiliki kesadaran akan fakta bahwa dia bukan orang yang cepat tanggap, atau lebih tepatnya, karena kepribadiannya yang lembut, bahwa dia tidak terlalu analitis. Tapi mendengarnya diutarakan seperti itu, dan oleh seseorang yang terlihat seperti saudara kembarnya, membuatnya merasa sedikit canggung.

“Tetap saja, sepertinya ada semacam takdir aneh yang mengikat kita bersama,” kata Rífa. “Bukan hanya reaksi aneh tadi, tapi mimpi aneh ini juga.”

“Oh, jadi ini memang mimpi.”

"Tentu saja. Heh, aku tidak pernah bisa keluar di siang hari.” Rífa tertawa kecil, dan menatap ke langit dengan senyum yang terlihat pasrah dan kesepian. Itu adalah ekspresi yang sepertinya tidak pantas untuk seseorang semuda dirinya.

Mitsuki mengikuti pandangan Rífa untuk melihat ke atas, dan menyadari apa yang salah dari pemandangan ini. “Ohh! Itu sebabnya semua warna di sini agak aneh.”

Langitnya sendiri jernih dan biru tanpa awan, tetapi permukaan air di kolam tidak berkilauan karena pantulan sinar matahari, dan tanaman hijau di sekitarnya tampak agak terlalu gelap.

Faktanya, segala sesuatu di sekitar mereka tampak sedikit tanpa warna. Seolah-olah mereka berdiri di bawah langit yang gelap dan berawan.

Itu semua masuk akal jika ini adalah mimpi yang diciptakan dari pikiran seseorang yang tidak pernah menginjakkan kaki di luar pada hari yang cerah.

“Jadi ini bukan mimpiku, tapi mimpimu, Rifa?” Mitsuki bertanya.

Bagaimanapun juga, segalanya akan lebih normal jika itu adalah mimpinya sendiri.

Mitsuki ingat bahwa dia telah memikirkan Rífa sebelum tertidur. Dia bertanya-tanya apakah meminjam kekuatan Rífa mungkin satu-satunya cara untuk bisa memanggil Yuuto ke dunia ini.

Mungkin itu yang membuatnya bisa masuk ke dalam mimpi Rífa seperti ini.

“Rífa... tidak, Nona Rifa! Tolong, aku butuh bantuan!” Mitsuki berlutut, dan menatap Rífa dengan ekspresi muram.

Ini bukan mimpi biasa; Mitsuki merasakan kepastian yang aneh tentang hal itu. Rífa di depannya bukanlah sesuatu yang dia mimpikan. Ini adalah Rifa yang sebenarnya.

Penampilan mereka mirip, dan sepasang rune kembar yang mereka berdua bawa di mata mereka, mengatakan kebenaran dari apa yang dikatakan Rífa sebelumnya: Mungkin memang ada semacam hubungan takdir di antara mereka.

Pertemuan ini adalah keberuntungan yang tidak bisa disia-siakan oleh Mitsuki.

“Tolong, pinjamkan aku kekuatanmu, dan bantu panggil Yuu-kun kembali!” dia memohon.

********

“Hmm, jadi itulah yang terjadi.” Saat Rífa selesai mendengarkan penjelasan di balik kembalinya Yuuto ke dunia modern, dia meletakkan tangan di mulutnya dan merenung.

Mitsuki masih belum terbiasa dengan perasaan aneh yang muncul saat berbicara dengan Rífa; seolah-olah dia sedang berbicara dengan bayangannya sendiri.

"Itu pasti Sigyn, kan?" kata Rifa. "Kamu sedang menghadapi musuh yang merepotkan."

"Be ... benarkah?" Mitsuki bertanya dengan agak cemas.

Dia telah mendengar penjelasan dan cerita tentang Yggdrasil dari Yuuto, tetapi pada akhirnya, itu semua terbatas, hanya informasi yang diberitahukan kepadanya belaka.

Dia tahu bahwa mereka membutuhkan "pengguna seiðr yang lebih kuat dari Sigyn," tapi dia tidak benar-benar tahu seberapa kuat Sigyn ini sebenarnya.

“Dia dikenal sebagai 'Penyihir Miðgarðr,' dan kisah-kisahnya sampai padaku bahkan di sini, di Ibukota kekaisaran Glaðsheimr,” jelas Rífa. “Dalam hal kekuatan, dia adalah salah satu dari tiga penyihir terkuat di Yggdrasil.”

“Di-dia sehebat itu ?!”

“Jika pertanyaannya adalah siapa yang bisa mematahkan mantra wanita itu, maka aku mungkin satu-satunya di Yggdrasil yang bisa melakukannya.” Rífa mengangguk percaya diri pada dirinya sendiri.

Dengan kata lain, dia menyiratkan bahwa dia sendiri adalah pengguna sihir paling kuat di semua Yggdrasil. Itu adalah pernyataan yang cukup percaya diri.

Tapi sekarang, kepercayaan diri itu membuatnya tampak sangat bisa diandalkan.

"Ka-kalau begitu, tolong izinkan aku bertanya lagi!" Mitsuki memohon. “Maukah kamu membantu membawa Yuu-kun kembali ke Yggdrasil?”

“Mm...”

Ekspresi Rifa menjadi gelap. Tatapannya bergeser ke sana kemari, dan akhirnya dia menghela nafas pasrah sebelum berbicara.

"Jujur, aku sangat ingin meminjamkan bantuanku, tetapi memintaku untuk meninggalkan Istana Valaskjálf dan pergi ke Iárnviðr adalah permintaan yang sulit.”

"Apakah tidak ada yang bisa kamu lakukan tentang itu?"

"Permohonan maafku. Kunjungan terakhir ke Iárnviðr adalah tindakan yang sedikit ceroboh, dengan beberapa konsekuensinya sendiri. Dan seiring dengan musim gugur, hari pernikahanku semakin dekat. Akan ada terlalu banyak mata yang mengawasiku, dan aku tidak akan bebas bergerak.”

“Tidaaak…” Bahu Mitsuki merosot.

Segalanya tampak begitu menjanjikan sampai saat ini sehingga membuat kekecewaan semakin buruk.

Mitsuki mencoba beberapa kali lagi setelah itu untuk membujuk Rífa, tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan sedih setiap kali itu terjadi.

Tetap saja, mengikuti penjelasan Rífa sendiri, dia adalah satu-satunya orang di Yggdrasil yang bisa mematahkan mantra Sigyn. Mitsuki tidak mampu untuk hanya kembali ke sini.

Jika terus seperti ini, dia tidak akan mendapatkan hasil apa pun. Jadi dia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lain, sedikit bertaruh.

“J-jadi kamu tidak yakin bisa melakukannya, kalau begitu?”

"Apa?" Rifa menatapnya.

“Apakah kamu tidak yakin dapat mematahkan mantra seiðr Sigyn, dan jika kamu gagal, maka akan diketahui bahwa kamu sebenarnya bukan yang terkuat di Yggdrasil!”

“A-apa?!” teriak Rifa. “K-kamu—! Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu ?!” Wajahnya memerah karena marah.

Whoa, aku tidak percaya dia terpancing dengan sesuatu yang sederhana... Mitsuki terkejut, meskipun dialah yang mengeluarkan ejekan di tempat pertama.

Sejak awal, Mitsuki telah merasakan dari tingkah laku Rífa akan rasa kebanggaan yang kuat, yang mungkin dimilik oleh Pjóðann, jadi dia mencoba menggunakannya. Tapi dia tidak menyangka gadis itu begitu tak berdaya menghadapi sedikit ejekan.

“Sihir Sigyn tidak akan bisa melawanku!” Rífa mulai mengomel membela diri, sama sekali tidak menyadari bahwa dia baru saja ditipu oleh taktik Mitsuki.

Pada titik ini, Mitsuki tidak bisa kembali. Dalam hatinya, dia membisikkan permintaan maaf kepada Rífa, lalu mulai mengejeknya lagi.

"Jika itu benar, maka tolong buktikan!"

“Dengar, aku sudah memberitahumu! Saat ini aku tidak bisa meninggalkan Istana Valaskjálf!”

“Aku tidak mengatakan bahwa kamu harus meninggalkan Istanamu! Jika kamu tidak bisa pergi, maka itu tidak perlu! Kamu hanya perlu memanggil Yuu-kun kembali ke Yggdrasil!”

"Maaf?! Kau tidak tahu apa-apa tentang sihir seior, dasar gadis bodoh! Cermin ganda yang diperlukan untuk ritus ada di Iárnviðr, bukan? Bahkan untuk orang sepertiku, tanpa itu, itu... Hm? Berpasangan…”

Kata-kata kasar Rífa mereda, dan setelah berpikir sejenak, dia meletakkan tangan ke dagunya dan menatap Mitsuki, menatapnya dari atas ke bawah.

“U-um…?”

“Itu bisa dilakukan! Kita bisa melakukannya, Mitsuki!” Rífa tiba-tiba meraih bahu Mitsuki dan dengan bersemangat mengguncangnya ke depan dan ke belakang.

Pada awalnya Mitsuki tidak yakin apa yang sedang terjadi, tetapi sesaat kemudian dia mengerti arti dari kata-kata itu.

“K-kamu yakin?!”

"Iya. Tapi semuanya akan tergantung padamu.”

"...Hah?" Suara bingung keluar dari bibir Mitsuki. Dia tidak mengerti sama sekali.

Seringai menyebar di wajah Rífa, dan dia tampak sangat senang dengan dirinya sendiri.

“Hee hee. Nah, setelah kamu menantangku dengan penghinaan seperti itu, Aku harap kamu sap untuk menindaklanjuti apa yang akan terjadi selanjutnya.”



TL: Afrodit
EDITOR: Isekai-Chan 

Kamis, 26 Agustus 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 247. Pemberontakan dalam Ibukota

 Chapter 247. Pemberontakan dalam Ibukota


 
Ketika dalam perjalanan menuju menara kastil, kami berpapasan dengan orang yang tercuci otak, setiap kali itu terjadi, Rishia melemparkan senjatanya untuk melumpuhkan efek cuci otak tersebut.
Semakin kita mendekati atap menara, semakin banyak kami berpapasan dengan mereka. Dalam keadaan seperti itu, jumlah kami terus bertambah.

Selama perjalanan, sesekali aku melihat keluar jendela untuk melihat keadaan diluar.
Banyak api berkobar, sebagian kota kastil dipenuhi asap.

Hmm?
Aku mungkin salah lihat, banyak asap pekat memenuhi pandanganku.
Jangan-jangan..... sebaiknya aku tidak memikirkan itu sekarang.

Aku sudah tidak melihat keluar jendela dan mulai menyelusuri kastil.
Hingga akhirnya aku sampai di tembok yang terbuat dari es tebal.
Kemungkinan besar ini adalah penghalang sihir yang dibuat ratu dan penyihir kerajaan.
Ratu memang hebat menggunakan mantra sihir es.

Orang yang tercuci otak berusaha menghancurkan tembok es itu dengan senjata dan mantra sihir mereka.
Kami berhasil menyembuhkan mereka, itu bukan masalah sekarang.

“Kita harus apa? Kita perlu melelehkannya juga?” Tanya Rishia.
“Kita akan menghancurkannya?” Filo menanyakan hal yang sama.
“Tidak ada cara lain selain menghancurkannya.....” Tanggapku.

Bisa saja kami memanjat keluar dan masuk melalui jendela, tapi aku yakin ada orang yang menjaga setiap jendela.

“Firo pasti bisa?”
“Benar sekali.”
“Aku juga akan membantu!”

Filo dan Atla lari mendekati tembok es itu.

“Ahm tunggu.”

Jika Rishia yang melakukannya, mungkin dia bisa menghancurkannya dengan mudah.

“Deryaaaaaah!”
“Tei!”

Filo dan tendangan Filolial-nya, bersamaan dengan serangan Atla..... tembok itu runtuh seketika.

“Tembok itu cukup keras. Apa karena terbuat dari sihir?”
“Mungkin saja begitu.”

Pada akhirnya, mereka sangat bertenaga.
Prajurit yang kami selamatkan juga ikut terkejut.
Setelah sejauh ini, aku belum berpapasan dengan budak dari desaku.

Kami terus melanjutkan penelusuran hingga sampai di pintu terkunci oleh es.
Aku menempatkan telingaku didepan pintu dan aku mendengar suara yang aku kenal.
Sepertinya itu suara dari salah satu budakku.

Jadi begitu. Mereka berhasil menahannya sampai sejauh ini, hingga akhirnya mereka tertangkap.
Aku perlu tambahan kekuatan sebanyak mungkin.

“Filo, Atla!”
“Iya~”
“Serahkan padaku!”

Kita berhasil ke dalam setelah menghancurkan pintu tersebut.
Hal yang mengejutkan adalah terdapat budakku yang terikat.
Aku menyuruh Rishia untuk melumpuhkan cuci otak mereka.

Menambah jumlah sekutu sangatlah menguntungkan.
Tapi, kenapa budakku ada disini? Mereka juga tidak tahu kenapa berada disini.
Apa mereka kalah? Apa mereka dijadikan tahanan?

Puncak menara kastil terkunci.
Bagaimana caranya Witch berhasil mengerahkan mereka sampai sejauh ini?

“Hei, apa Witch mengatakan sesuatu?”

Aku menanyakan langsung pada prajurit.

“Iya, dia mengatakan bahwa menyetarakan posisi Demi-Human dengan manusia adalah tindakan yang salah, sebab ratu telah melupakan tradisi, kebanggaan kerajaan Melromarc yang telah berlangsung dari generasi ke generasi selanjutnya. Dengan semua fakta itu, tindakan dia adalah hal terbaik untuk kerajaan.”

Itu berarti, dia menggunakan budak Demi-Human untuk menjatuhkan ratu
Itu tidak mungkin terjadi.
Dia perlu menangkap basah ratu dengan tangan manusia.....
Tapi, dia juga bisa memerintah budakku untuk membunuh ratu.
Setelah itu dia bisa mengatakan bahwa perlakukan Demi-Human terhadap ratu tidak bisa dimaafkan.
Atau, dia bisa mengatakan Demi-Human telah membunuh ibunya, tindakan mereka tidak bisa dimaafkan.
Dia bisa menyebabkan kekacauan publik sampai membuat Demi-Human tidak hanya dipekerjakan, melainkan mendapatkan cacian mengerikan.

Itu semua bisa saja terjadi.
Setelah semua itu, dia bisa mempengaruhi orang-orang untuk melawanku lagi dan mendeklarasikan perang pada Siltvelt untuk kedua kalinya.
Dari semua itu, Witch, Gereja Tiga Hero, dan Fraksi Revolusi akan mendapatkan banyak bantuan.
Rencana seperti ini sangat mungkin dirancang oleh Witch.

“Oke, kita masih perlu melanjutkan ke atas.”

Kami membawa para budak, kita melanjutkan penghancuran tembok es selama perjalanan.
Hingga akhirnya kita sampai di pintu puncak menara.

“..... Tidak ada siapapun disini.”

Ruangan yang ratu gunakan untuk menghindari serangan ternyata kosong.

“Apa yang terjadi?”

Aku mencari sekeliling ruangan, tapi dia tidak ditemukan.
Tapi ada beberapa prajurit yang kami sembuhkan, mereka mengatakan bahwa mereka membantu ratu sampai akhirnya mereka terkena serangan.
Sepertinya mereka mengumpan musuh dan mengorbankan diri dibalik tembok es. Semuanya pasti berusaha keras untuk melindungi ratu.

“Apa ada pintu darurat untuk keluar dari sini?”

Jika ada pintu darurat dan hampir semua bawahannya sudah dicuci otak, maka tidak ada gunanya dia menggunakan pintu itu.
Witch mungkin tidak tahu hal ini? Aku rasa itu tidak mungkin.
Aku harusnya mengajak Melty kemari.
Dia pasti tahu sesuatu dengan menara kastil.

“Sepertinya kita perlu mencarinya ke kota.”
“Betul.”
“Fuee.... Dimanakah yang mulia ratu berada?”

Orang penting dalam keadaan ini melontarkan suara menyedihkan.
Dia memang terlihat tidak bisa diandalkan.
Mungkin orang-orang tidak percaya bahwa dia telah mengatakan hal mengagumkan pada Itsuki dan berhasil mengalahkan hero yang mungkin terpengaruh sejumlah kutukan.

“Oh, benar juga. Rishia, senjata yang kau gunakan itu termasuk senjata hero juga?”
“Um.... aku juga tidak tahu.”
“Lalu kenapa itu bisa berubah bentuk?”
“Ada sejumlah jenis senjata muncul dihadapanku, jadi aku memilihnya.”

Apa ada perbedaan dengan perisaiku?
Aku juga tidak bisa menyatakan itu salah satu senjata ketujuh hero bintang.

“Apa kau bisa melihat menu peningkatan, atau menu help?”
“Menu peningkatan? Menu Help? Aku tidak melihat itu....”

Tidak ada hal seperti itu?
Lalu ini senjata apa? Apa hanya sekedar senjata transparan?
Senjatanya cukup kuat.

“Tapi ada sesuatu disebut SP disebelah statistikku.’
“Hmm.”

Aku putuskan dia adalah hero untuk saat ini. Aku bisa menyelidikinya lebih lanjut nanti setelah semua ini selesai.
Kita melanjutkan pembicaraan selama perjalanan kebawah. Akhirnya kita sampai di gerbang kastil.


Gerbangnya terbuka lebar.
Kita berjalan menuju alun-alun kota.
Terdapat gambaran neraka disana. Banyak mayat bertumpuk..... tentu saja bukan.

“Uu... Keadilan s....”
“Ini semua de....”

Zombie keadilan berserakan dalam keadaan terikat.
Keadaan mereka antara pingsan atau tidak bisa bergerak.
Meski sudah seperti itu, mereka tetap mengutarakan keadilan mereka.
Aku menyimpan pendapatku sendiri. Aku tidak mengatakan apapun pada Rishia.
Mereka adalah orang-orang yang menggunakan keadilan mereka untuk mengadili orang jahat dimata mereka.

“Apa yang terjadi disini?”

Disaat yang bersamaan aku mengatakan itu....

“Ha Ha! Para malaikatku! Teruslah melaju!”
“““Ayo!”””

Terhentilah satu kereta dengan sejumlah Filolial, Motoyasu melanjutkan jalan keretanya, banyak sekali debu berhamburan ketika keretanya berjalan.

“....”

Dengan mudahnya dia menabrak orang yang mungkin zombie keadilan.
Orang-orang terlempar layaknya sampah plastik. Aku bisa trauma melihat ini.
Jadi Motoyasu yang bertanggung jawab atas pemandangan neraka ini.
..... Apa yang ingin dia lakukan?

“Terima kasih.”
“Jangan kau pikirkan! Ayahku, Hero Perisai telah memerintahkan aku untuk melindungi kota ini!”

Seorang petualang sedang melarikan diri dari kejaran zombie keadilan, dia terselamatkan berkat Motoyasu.
Um.... oke. Sepertinya masalah yang terjadi di Ibukota telah teratasi melalui jalan kekerasan.
Mereka benar-benar cepat. Oh, benar juga. Sepertinya tiga pengikut Motoyasu sudah melakukan kenaikan kelas.

“Hei, Motoyasu!”
“Ah!? Apakah kalian adalah Filo-tan dan Ayah!? Seperti yang kau inginkan, aku telah bekerja keras untuk menghentikan pemberontakan dalam ibukota!”

Sesaat setelah aku memanggilnya, dia tersenyum lebar sambil menghampiri kami dengan sangat cepat.
Sekarang aku ingin lari dari sini.

“Mu! Menjauhlah!”

Ah, secara insting tanganku membuka menu perisai.
Meski aku tidak setakut Filo, aku hampir saja menggunakan Portal Shield.
Sayangnya itu masih dalam cooldown.

“Apa kau yakin tidak menyebabkan masalah yang besar?”
“Apa yang kau bicarakan, Ayah!? Aku bekerja sekeras ini demi dirimu. Tidakkah kau merasa ingin menghargai kerja keras para malaikatku juga?”
“““KUE!”””
“....”

Kepalaku sakit.
Perkataannya sangat menyebalkan, aku mengelus salah satu Filolial tanpa kusadari.

“Dimana Witch sekarang? Aku yakin dia membangun markas di sekitar sini.”
“Witch? Siapa dia?”

Apa dia melupakan keberadaannya?
Dalam pandangannya, dia hanya bisa memperhatikan Filo.
Oleh sebab itu, dia hanya mendengarkan perintahku. Aku tidak menginginkan ini.... tapi aku ingin dia mengubah cara memanggilku.

“Itu adalah nama dari wanita yang mengkhianatimu.”
“Ah, jadi dia ya, aku tidak melihat babi seperti dia. Dia juga tidak ada disini ketika aku datang kemari.”
“Oh....”

Itu berarti disini hanya ada zombie keadilan saja. Motoyasu memberikan bantuan pada orang yang selamat.
Apa maksudnya ini?

“Goushijin-sama.”
“Kenapa?”
“Begini, aku mencium aroma Raphtalia-oneechan.”
“Raphtalia?”
“Iya, diarah sana.”

Arah yang dia tunjukan menuju luar kota. Itu menuju Desa Riyuuto.
Jika soal indra penciuman..... maka kemampuan monsternya bisa diandalkan.
Atau ini adalah hal yang biasa untuk binatang?

“Baiklah, Rishia, kau perlu mengelilingi kota kastil sambil menyembuhkan orang-orang dari cuci otak. Kami akan mencari ratu, Witch dan mungkin Raphtalia. Sisanya akan membantu Rishia disini.”
“Mengerti.”
“Ayah! Apa yang harus aku lakukan?”
“Lanjutkan pembasmian zombie keadilan, lalu kumpulkan mereka di satu tempat. Bantu orang yang belum tercuci otak juga.”
“Baiklah, Ayah! Ayo, para malaikatku, maju!”
“““KUE!”””
“““Yeay!”””

Setelah semua ini, kejadian ini akan dikenal Pemberontakan Sang Penyihir Merah, harusnya begitu. Ini mungkin dikenal Pemberontakan Burung Suci Melromarc.
Itu tidak menjadi masalah bagiku.

Aku menaiki Filo dan dia melaju.

“Ah, Tuan Naofumi, jangan tinggalkan aku.”

Bersama dengan Atla kami mulai bergerak kembali.

“Oke, Filo. Jika Raphtalia ada disini, kita harus menemuinya.”

Aku berteriak itu sambil menuruni jalan utama kota kastil.
Aku melihat toko senjata.
.... Apa pak tua baik-baik saja? Aku tidak mau menemuinya sebagai musuh.
Aku ingin tahu apa dia baik-baik saja. Aku akan melihat keadaannya secepat mungkin.

“Filo, berhenti di toko senjata pak tua.”
“Ok~”

Aku memperhatikan tokonya yang gelap.
Tempat pajangan senjatanya bersih.

“Pak Tua..... apa kau disini?”

..... Tidak ada balasan.
Aku berhati-hati setiap melangkah.
Aku memegang pintu menuju dalam toko, kemudian membukanya.

“Pencuri! Demi keadilan, matilah!”
“Uwah!”

Pak Tua? Bukan, dia adalah petualang tak dikenal.
Filo dan Atla menjatuhkannya ditempat.
Pencuri? Itu seharusnya kau bukan?

“Ah, itu mengejutkanku.”

Aku hampir kena serangan jantung jika dia adalah Pak Tua.

“Tuan Naofumi, tidak ada orang lagi di dalam bangunan ini selain dia.”
“Benar, tidak ada orang lagi disini.”
“Oke.”

Atla bisa melihat aliran Kii, jadi dia bisa merasakan keadaan sekitar.
Filo menggunakan insting monsternya, jadi aku rasa tidak perlu diragukan lagi.
Aku harap Pak Tua bisa melarikan diri dengan aman.
Mungkin dia sedang keluar.

Lagipula, kenapa ada petualang disini?
Aku meninggalkan petualang zombie tak dikenal ini.

“Baiklah, ayo kita lanjutkan.”
“Iy~a!”

Setelah itu kami melewati gerbang kota yang seharusnya tertutup ketika malam hari. Kita melewati padang rumput, yang terkena sinar matahari pagi.




TLBajatsu
EDITOR: Isekai-Chan 

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 77. Persiapan untuk Perjalanan dan Koki Tentara

 Chapter 77. Persiapan untuk Perjalanan dan Koki Tentara



Ini adalah informasi yang diberikan Fuma Kotaro kepadaku.

Ada seorang pria yang bersembunyi di sebuah rumah kecil di barat laut Kastil Decarbia.

Pria ini adalah ahli strategi yang jenius.

Rupanya, Decarbia telah memanggil (mensummon)-nya sejak lama, tetapi mereka tidak akur, jadi dia dibuang.

Decarbia bermaksud membunuh Pahlawan ini yang telah mengecewakannya, tetapi setelah tiga kali gagal, dia memutuskan untuk meninggalkan Pahlawan sendirian.

"Jadi, pria ini memberontak melawan Decarbia?" Tanya Eve.

“Yah, ini lebih seperti dia pergi karena dia tidak merasa bahwa tuannya layak, kurasa.”

"Jadi begitu, namun itu tidak mengejutkan dari apa yang saya lihat.”

"Dia berbentuk seperti bintang, tapi tidak sekaliber asteroid." Kataku. Dan kemudian aku menanyakan nama pria itu kepada Fuma Kotaro.

“Saat ini tidak diketahui. Namun, dia dulu sangat terkenal.”

Bagaimanapun juga, pria ini telah dianggap sebagai ahli strategi terhebat di dunianya.

Dia telah mengumpulkan 100.000 anak panah dalam satu malam.

Dia mampu menyebabkan bencana alam.

Begitulah kisah-kisahnya.

Aku punya ide sendiri tentang siapa itu, tetapi belum memikirkannya lebih jauh lagi.

Bagaimanapun juga, aku harus bertemu orang ini terlebih dahulu.

Artinya perlu ada perjalanan singkat lainnya. Aku harus memutuskan siapa yang akan ikut pergi denganku.

Karena Fuma Kotaro masih memiliki pekerjaan intelijen yang harus dilakukan, dia mundur atas kemauannya sendiri.

Itu bagus.

Aku  memiliki cukup banyak Hero yang ingin tinggal disisiku. Dan itu akan menyebabkan kekacauan jika tidak dikelola dengan benar.

Tidak mengherankan, Eve menatapku.

Satu-satunya alasan dia tidak segera menuntut untuk menemaniku, adalah karena dia masih menyesali apa yang terjadi di kastil Decarbia.

Aku telah menghiburnya berkali-kali dan mengatakan kepadanya bahwa itu bukan salahnya, tetapi dia cenderung menyalahkan dirinya sendiri untuk sementara waktu.

Namun, menurutku bukanlah ide yang baik untuk membawa Eve bersamaku setiap saat, dan aku ingin meninggalkan seseorang di sini untuk mengelola kastil Decarbia.

Gottlieb sudah kembali ke kastil Ashtaroth, tapi tidak akan ada seorang pun di sini.

Seluruh tujuan dari perjalanan ini adalah untuk menemukan Hero yang akan membantuku menjalankan tempat ini.

Dia hanya harus menerimanya.

Meskipun dia sangat kecewa, dia bukan tipe orang yang meninggalkan tugasnya sebagai maid.

Jadi dia mulai mempersiapkan perjalananku.

Dia memasukkan pakaian dalam, kemeja, dan makananku ke dalam tas.

“Tuan, ini pakaianmu untuk hari pertama. Ini untuk hari kedua. Ini pakaian cadangan.”

Dia begitu teliti sehingga aku bercanda tentang dia sudah seperti istriku. Dan kemudian wajahnya memerah.

Tetap saja, dia terus menjelaskan tentang makanan perbekalan dan kemudian dengan cepat meninggalkan ruangan.

Tak lama kemudian, Jeanne masuk. Dia sedang mengunyah daging kering.

“Wajah maid itu terlihat sangat merah. Apa dia sakit?”

Dia bertanya.

"Dia perempuan." kataku samar.

“Kali ini, aku ingin kau dan Toshizou menemaniku.”

“Ah, itu tidak biasa. Kau ingin Toshizou ikut juga.”

"Iya."

Aku lega dia tidak bertanya mengapa.

Sebenarnya aku hanya membutuhkan salah satu dari mereka untuk ikut bersamaku, tapi Jeanne akan marah jika aku meninggalkannya, tapi di saat yang sama, aku tidak ingin berduaan dengannya. Sepertinya ide yang bagus untuk tidak mengatakan itu padanya.

Tidak ada gunanya menyinggung Saint yang cantik ini.

Tentu saja, Jeanne tidak tahu tentang konspirasi tersembunyi ini, jadi dia tetap mengunyah dagingnya dan berkata, “Jadi, maid itu tidak akan ikut kali ini. Apakah itu berarti aku akan bertanggung jawab atas makanan selama perjalanan ini? ”

"Aku tidak berpikir kau harus melakukannya, hanya karena kau seorang wanita."

“Yah, Karena aku berasal dari Perancis. Aku tidak keberatan membuatkan makanan untuk suami tercinta.”

“Aku kira memang seperti itu di duniamu. Tapi aku bukan suami tercinta. …Selain itu, apakah kau pandai memasak?”

"Aku tidak bisa menjawabnya, tapi aku senang melakukannya."

“Maksudku, kau suka menikmati makanan. Tetapi, aku belum pernah melihatmu membuat sesuatu.”

“Itu karena aku diberi makan tiga kali sehari di kastil. Hal-hal akan berbeda ketika aku bepergian.”

“Ini pertama kalinya aku mendengar ini. Baiklah kalau begitu, kau harus membuat makan siang hari ini. ”

"Serahkan padaku! Kau tidak akan pernah berpikir untuk membawa pelayan itu lagi setelah mencicipi makananku. Aku lebih unggul darinya dalam segala hal. Medan perang, kasur, dan bahkan dapur!”

Dan kemudian dia bergegas pergi.


Bagian dapur dikelola oleh orc bernama Shiron.

Rupanya, dia adalah keturunan seorang penasihat salah satu penyihir terhebat, tetapi dia tidak memiliki bakat dalam hal itu, jadi dia menjadi juru masak.

Orc agak pilih-pilih dalam hal makanan, dan ada banyak yang memiliki selera tinggi. Jadi mungkin itu yang terbaik. Namun, aku bertanya kepadanya mengapa tampaknya koki orc jarang menyajikan bacon dan sosis.

Ternyata ada salah paham.

“Beberapa orang berpikir bahwa Orc adalah babi, tetapi itu tidak benar. Kami bukan monster babi.”

Desas-desus tentang daging mereka dan babi punya rasa yang sama tidak benar.

"Orang-orang terkadang bisa menjadi sangat kasar."

Dan kemudian Shiron menunjukkan bacon dan sosis di dapurnya.

“Seperti yang anda lihat, bahkan koki orc memiliki daging babi. Saya juga punya banyak bahan dan bisa membuat apapun yang anda suka. ”

Jeanne mendengar ini dan membuatnya mundur.

“Aku tidak membutuhkan babi. Aku akan membuat makan siang Raja Iblis hari ini.”

Dia berkata sambil menyingsingkan lengan bajunya.

Lengannya indah dan putih.

Sepertinya dia tidak akan bisa mengangkat panci besar dengan tangan itu, kemudian, dia mengayunkan pedang besar.

Jadi aku memutuskan untuk menonton dan melihat apa yang akan dia buat.


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Arklame Aster
EDITOR: Isekai-Chan