Senin, 10 Mei 2021

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria Light Novel Bahasa Indonesia Volume 7 Chapter 2

Volume 7
Chapter 2


Cip-cip-cip-cip

"Nn ... Mmhh ..."

Kicauan burung pipit yang bertengger kabel listrik, dan cahaya lembut matahari dari jendela, perlahan membangunkan Yuuto dari tidurnya.

"Huaaagh ... pagi, ya."

Dia menggeliat dan menguap, lalu duduk di tempat tidur. Dengan mata masih setengah tertidur dan buram, dia perlahan melihat sekeliling ruangan.

Di dinding depannya ada kalender dengan gambar kembang api berwarna cerah di langit malam, dan di sebelahnya tergantung seragam sekolah menengah di dalam kantong plastik laundry.

Di sebelah kirinya ada rak buku kayu yang sebagian besar diisi manga, dan meja belajar kayu dengan warna dan tekstur yang sama. Keduanya dibeli pada waktu yang sama, ketika dia memasuki sekolah dasar.

Ini ruangan yang sangat dia kenal. Dia terjun langsung ke tempat tidur dalam kegelapan tadi malam bahkan tanpa menyalakan lampu untuk memeriksa sekitarnya, tapi ini adalah kamar yang selalu dia kenal.

"Aku... benar-benar telah kembali ke rumah," bisik Yuuto, tidak yakin sudah berapa kali dia sudah mengatakan ini sekarang.

Tiga tahun adalah waktu yang lama. Dia selalu bermimpi untuk pulang ke Jepang, tetapi sekarang setelah itu benar-benar terjadi, dia merasa sulit untuk menerima itu sebagai kenyataan.

Sepertinya dia tidak bisa menghilangkan keraguan bahwa mungkin ini hanya mimpi yang dia lihat karena dia sangat ingin pulang, dan tubuhnya masih di Yggdrasil.

Tapi saat Yuuto menarik pipinya sendiri, rasa sakit itu memberitahunya bahwa ini pasti nyata. 

"Aw!"

Saat tersadar, dia tiba-tiba menjadi khawatir dengan rekan-rekan dan keluarga yang dia tinggalkan di Yggdrasil.

"Aku ingin tahu apakah mereka baik-baik saja..."

Kemarin, Felicia pasti sudah menjelaskan kepada para Perwira bahwa dia telah dikirim kembali ke Jepang abad ke-21.

Itu pasti akan menyebabkan banyak kebingungan bagi semua orang.

Mereka berada tepat di tengah pertempuran, di medan perang, dan sekarang Komandan mereka tiba-tiba menghilang.

"Aku hanya bisa berharap mereka menemukan cara untuk menghadapinya..." gumam Yuuto.

Tentara Klan Serigala memiliki ajudannya Felicia, yang dipercayai sepenuhnya oleh Yuuto, Mánagarmr Sigrún, Prajurit terhebat Klan, dan Olof, seorang Jenderal yang dapat diandalkan dengan keterampilan luar biasa dalam pengambilan keputusan dan mengarahkan pergerakan pasukan. Itu hanya beberapa dari sekian banyak perwira hebat dan berbakat di bawah kepemimpinannya.

Yuuto ingin percaya bahwa dengan mereka bekerja sama, mereka pasti bisa melakukan sesuatu. Namun di sisi lain, Battle-Hungry Tiger Steinþórr dan Penguasa Bertopeng Hveðrungr telah bersatu melawan mereka. Mengetahui hal itu, Yuuto tidak bisa begitu saja menghilangkan perasaan khawatirnya.

Yang membuatnya khawatir terutama adalah  Klan Panther, mereka tahu tentang hilangnya Yuuto. Tidak aneh sama sekali jika mereka langsung menyerang tadi malam.

“Sial! Ini membuatku frustasi," kata Yuuto sambil meninju bantal di tempat tidurnya.

Dia menginginkan semacam informasi tentang apa yang terjadi di sana. Dan, jika memungkinkan, beberapa cara untuk memberikan instruksi pada pasukannya.

Untuk saat ini, tidak ada cara untuk menghubungi mereka.

"Aku ingin tahu apakah ini yang dirasakan Mitsuki, setiap kali aku pergi berperang..." gumamnya.

Itu menakutkan, sangat menakutkan sehingga dia hampir tak tahan. Rasanya seperti hatinya dihancurkan oleh kecemasan dan kekhawatiran.

Tiba-tiba…….. perutnya keroncongan. 

Grlrlrl.

Perutku sendiri benar-benar tidak mempertimbangkan perasaanku, dia menggerutu pada dirinya sendiri, tetapi kenyataannya adalah, terlepas dari semua yang telah terjadi kemarin, dia tidak makan apa-apa kecuali sedikit roti pagi itu.

Dia hanya manusia, jadi tentu saja perutnya akan kosong dan saat ini sedang keroncongan.

"Kurasa aku harus mencari sesuatu untuk dimakan, untuk saat ini ..." dia mendesah.

Perut kosong hanya akan membuat pikirannya gelisah. Ditambah lagi, mengingat waktu tempuh, setidaknya tiga sampai empat hari sebelum seseorang di Yggdrasil dapat melakukan kontak dengannya. Dia tidak mungkin hanya menunggu selama itu tanpa makan.

Padahal, justru pada saat-saat seperti inilah ia harus memprioritaskan mendapatkan makanan untuk perutnya, agar ia bisa mengisi ulang tubuh dan pikirannya sebagai persiapan ketika ia membutuhkannya.

“Tetap saja... apa yang harus aku lakukan?” Yuuto menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa bingung.

Dia masih merasa sangat tidak suka bahkan untuk tidur di rumah ini, dan dia tidak tahan dengan gagasan bergantung pada ayahnya lebih dari ini.

Namun, uang tunai adalah kebutuhan untuk melakukan apa pun di Jepang modern.

“Oh! Benar!" Yuuto bergegas ke meja belajarnya dan membuka laci kedua dari atas. Mengambil objek yang baru saja dia ingat, dia mengangkatnya untuk memeriksa isinya, dan menghembuskan napas lega.

Itu adalah buku bank yang dia simpan dari rekening tabungan atas namanya, dan saldo terakhir sekitar 70.000 yen. Tumbuh dewasa, setiap kali Yuuto menerima THR dan uang hadiah, almarhum ibunya selalu memaksanya untuk memasukkan sebagian dari uang itu ke dalam tabungan.

Saat itu, dia tidak puas dengan keputusan tersebut, dan berpikir, 'Biarkan aku menggunakannya sesukaku', tetapi sekarang dia dengan tulus berterima kasih betapa bijaksana dia selama ini.

“Tidak ada gunanya membuang-buang waktu! Aku hanya harus menariknya, dan ... "

Dia mengeluarkan cap bank pribadi yang digunakan sebagai ID dan hendak meninggalkan kamarnya, namun dia tiba-tiba menyadari pakaiannya.

Dia masih memakai pakaiannya dari Yggdrasil. Ini mungkin bukan masalah di jalan pada malam hari, tapi tentu saja di kota pada tengah hari, pakaian ini pasti akan menarik perhatian.

Jika dia berada di kota besar seperti Tokyo, orang yang lewat mungkin mengira itu semacam cosplay dan mengabaikannya, tapi ini adalah kota kecil di pedesaan.

"Aku tidak berpikir masih ada yang benar-benar pas untukku," kata Yuuto sambil menghela nafas saat dia membuka lemarinya.

Dia pergi ke depan dan mengambil sesuatu secara acak, tetapi ketika dia mengangkatnya untuk memeriksanya, itu jelas terlalu kecil untuknya.

Dia bahkan mendapatkan pakaian ini agak besar dulu, mengantisipasi bahwa dia akan tumbuh, tetapi tentu saja tiga tahun penuh terlalu lama untuk itu.

"Sigh ... Kurasa aku akan menelepon Mitsuki."

Entah itu di Yggdrasil, atau di Jepang modern, Yuuto mendapati dirinya secara konsisten mengandalkan teman masa kecilnya.

********

"Maaf. Aku benar-benar selalu membuatmu melakukan hal-hal seperti ini untukku. Terima kasih." Dengan itu, Yuuto meletakkan gagang telepon.

Dia tidak lagi membawa smartphone terpercayanya, jadi dia menggunakan telepon kabel di ruang tamu rumahnya.

Itu adalah sesuatu yang telah menjadi bagian dari rumah ini sejak sebelum Yuuto lahir, dan, yang membuatnya lega, itu masih berfungsi tanpa masalah. Itu benar-benar tertutup debu, dan ketika dia pertama kali melihatnya, dia sangat khawatir tentang apakah itu masih bekerja atau tidak.

"Tetap saja, aku tidak bisa mengundang Mitsuki ke rumah seperti ini." Berpaling dari teleponnya, Yuuto melihat pemandangan itu dan menghela nafas dalam-dalam, bingung.

Setidaknya sepertiga dari ruang di meja makan tertutup botol minuman keras kosong, dan asbak dipenuhi puntung rokok.

Tempat sampah itu sangat penuh sehingga tutupnya tidak bisa menutup sepenuhnya, dan ada sesuatu yang menyembul yang tampak seperti kotak kosong dari bento swalayan.

Masalah terbesar dari semuanya adalah bahwa tempat itu tidak terlihat seperti telah dirapikan, dibersihkan, atau diurus dalam tiga tahun terakhir, dan seluruh ruangan tertutup debu.

TV dan kulkas alkohol mini yang ada di dekatnya berubah menjadi putih seluruhnya dari debu, dan partikel debu melayang dengan bebas diudara.

Ini merupakan gambaran dari kamar seorang duda.

"Sepertinya aku akan membereskannya sedikit," gumam Yuuto.

Dia telah mengalami kesulitan menerima gagasan tinggal di rumah ini secara gratis, jadi ini setidaknya akan mengurangi pikiran tersebut. Dia bisa membayar untuk meminjam kamar tidur dengan melakukan sedikit pekerjaan sebagai gantinya. Itu seharusnya membuat segalanya menjadi impas.

Ditambah lagi, menggerakkan tubuhnya dan melakukan pekerjaan fisik akan membantu mencegahnya memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Hal yang paling pertama ..." Yuuto menuju ke wastafel dapur dan mengeluarkan kotak alat pembersih dan kain bersih dari bawahnya, serta sebuah ember.

Tiga tahun mungkin telah berlalu, tapi ini masih rumahnya, dan dia tahu tata letaknya dengan baik.

Dia mengisi ember dengan air dan menuju ke lorong depan.

"Heh," dia terkekeh. "Ephy atau Rún mungkin akan pingsan jika mereka melihatku melakukan hal seperti ini."

Patriark dari Klan Serigala, penguasa wilayah dengan populasi lebih dari 100.000 warga (jika termasuk klan pengikut), melakukan pekerjaan bersih-bersih yang biasanya di Yggdrasil akan ditugaskan kepada para pelayan.

Bahkan Yuuto sedikit kagum pada seberapa besar statusnya berubah dalam semalam.

"Baiklah kalau begitu! Mari kita lakukan!" Yuuto mengambil posisi di ujung lorong. “Readyyyy, gooo!”

Lepas landas dari start jongkok, dia mendorong kain itu melintasi lantai dari ujung lorong ke ujung lainnya. Hanya dengan satu kali lintasan, kain putih itu ternoda hitam seluruhnya.

Dia membalik kain itu dan melakukannya lagi. Sisi lain akhirnya menjadi hitam sepenuhnya juga.

Dia melemparkannya ke dalam ember dan memerasnya beberapa kali, membuat air menjadi lebih keruh.

“Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan yang cukup panjang...”

Menggumamkan ini pada dirinya sendiri, Yuuto menemukan fakta bahwa betapa mengagumkan almarhum ibunya karena selalu mengurus semua pekerjaan rumah ini. Dia telah menjaga kebersihan rumah besar ini sendirian.

“Aku benar-benar harus membantunya lebih banyak.”

Dia tidak bisa berhenti memikirkan pepatah lama, pada saat seorang anak ingin membayar kembali orang tuanya, mereka sudah pergi, dan betapa benarnya hal itu.

“Ah, itu benar, aku lupa hal yang paling penting.” Yuuto meringis karena kesalahannya, dan melihat ke pintu masuk ke ruangan di sebelah kirinya, yang memiliki pintu geser kertas tradisional.

Dia melemparkan kain itu ke tepi ember dan menuju ke ruangan itu. Bau tidak sedap yang meresap ke seluruh lantai pertama tidak ada di sini, dan sebaliknya, ada bau samar dupa yang terbakar di udara.

Dia berdiri di depan altar Buddha rumah tangga di bagian belakang ruangan, dan membuka pintu coklat tua yang tebal di bagian depan untuk memperlihatkan patung emas yang dipoles dengan baik di dalamnya.

Di samping patung itu ada gambar yang hitam-putih dari seorang wanita yang tersenyum dan berwajah halus.

“Halo, Bu. Aku pulang."

Rasanya agak aneh bagi Yuuto, tapi setelah mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, dia duduk dengan tenang dalam posisi seiza formal, menghadap altar.

Anehnya mengharukan melihat wajah ibunya lagi seperti ini. Lagipula, Yuuto tidak memiliki foto dirinya yang tersimpan di smartphone-nya.

“Terima kasih telah menjagaku selama ini. Berkatmu, Aku kembali ke rumah dalam keadaan utuh."

Dengan senyuman kecil, sedikit pahit, Yuuto mengulurkan tangan dan membunyikan bel altar keluarga dua kali, lalu menyatukan kedua telapak tangannya dalam doa.

Dalam hatinya, dia menceritakan kepada ibunya semua yang telah terjadi.

Dia tidak yakin berapa lama waktu berlalu, tetapi bel pintu segera berbunyi.

"Oh sial." Yuuto meringis. Dia masih belum membersihkan semua. Dia berencana untuk membersihkan setidaknya dari pintu masuk depan ke kamarnya.

"Permisi!" suara yang akrab. Kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.

“Oh, sial, Ayah! Setidaknya ingatlah untuk mengunci pintu bodoh itu!" Yuuto bangkit dan bergegas menuju pintu depan.

Begitu Mitsuki melihat Yuuto, dia tersenyum lebar, seperti bunga yang mekar di depan matanya, dan untuk sesaat, Yuuto terpaku. 

"Oh ... Selamat pagi, Yuu-kun!"

Dia sering melihatnya tersenyum di foto-foto yang dikirimnya, baik itu selfie yang diambilnya untuk mencoba terlihat cantik atau foto-foto saat dia bersenang-senang dengan temannya. Tapi, sudah lama sekali sejak dia melihat senyumnya yang malu-malu dan benar-benar bahagia.

Dia juga selalu berbicara dengannya di malam hari, jadi dia mendapat sedikit kesenangan ekstra karena bisa bertukar salam pagi dengannya seperti ini. Terutama karena itu adalah suaranya yang nyata dan hidup - bukan suaranya melalui speaker Smartphone.

Sampai tiga tahun lalu, ini hanyalah satu lagi bagian normal dari kehidupan sehari-harinya. Tapi sekarang, hal normal dan biasa-biasa saja ini membuatnya sangat bahagia.

“A-ada apa, Yuu-kun?!” Seru Mitsuki, tampak khawatir.

Itu membuat Yuuto kembali sadar. 

“Hm? Oh, eh, tidak ada. Selamat pagi. "

Mitsuki menjawab dengan senyum cekikikan yang lebih lebar. “Hee hee! Sudah tiga tahun sejak kita bisa bertukar salam di pagi hari seperti ini, ya? Rasanya seperti nostalgia, tapi juga menyegarkan."

"... Aku baru saja memikirkan hal yang sama."

"Umu. Meskipun seharusnya tidak tampak seperti masalah besar, itu benar-benar membuatku bahagia. ”

"Aku juga memikirkan itu."

“Oh. Ahaha, um, kurasa kita berpikiran sama. "

“Y-ya, sepertinya begitu.”

Wajah Mitsuki memerah seperti apel, dan dia melihat ke bawah. Yuuto juga bertingkah lebih canggung.

Dia hanya menganggapnya sebagai pengakuan rasa bahagia pada awalnya, tetapi semakin dia memikirkannya, semakin dia menyadari bahwa dengan menggambarkan kebahagiaan mereka, pada dasarnya mereka membuat referensi sekilas tentang perasaan mereka satu sama lain.

Yuuto tiba-tiba merasa sangat malu.

"Ma-maaf, memanggilmu ke sini pagi-pagi sekali." Dia mencoba untuk mengubah topik pembicaraan, tidak mampu menghadapi suasana seperti ini.

“Tidak, tidak apa-apa. Ini liburan musim semi. Yah, Ayah memelototiku cukup keras saat keluar.”

"Oh haha." Yuuto mendapati dirinya tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Ayah normal dari seorang gadis seusia Mitsuki, tentu saja, akan memiliki masalah dengan hama yang tidak diinginkan, yaitu anak laki-laki, yang terlalu terikat padanya. Itu terutama berlaku untuk seseorang seperti Yuuto. Dia hilang di tahun kedua sekolah menengah, dan cukup lama putus sekolah pada saat ini. 

Dari posisi ayah Mitsuki, tidak aneh jika ingin menghentikannya bahkan untuk berteman dengannya.

"Hah?" Kata Mitsuki. “Hei, Yuu-kun, lihat itu di kakimu!”

“Hm?” Yuuto melihat ke bawah untuk melihat bahwa ada amplop vertikal tebal yang sepertinya telah dilempar sembarangan ke keset pintu masuk.

Di tengah amplop itu tertulis "Untuk Yuuto" yang ditulis dengan tulisan tangan yang dia kenal.

Ini dari ayahnya.

Dia menatapnya tanpa kata-kata.

Akhirnya, sambil mengerutkan kening, Yuuto diam-diam mengambil amplop itu dan memeriksa isinya.

Isinya setumpuk uang 10.000 yen.

Di sebelahnya, Mitsuki berteriak karena terkejut. “Wah, wow! Setidaknya ada dua ratus ribu yen, bukan!?"

Tapi Yuuto terus menatap dingin isi amplop itu.

Dia membuka selembar kertas terlipat yang disertakan dengan uang itu. Ditulis dalam tulisan tangan yang sama, tulisan itu berbunyi, "Gunakan sesukamu," tidak lebih.

"Ahh, ini berarti hari ini kau bisa mentraktirku sushi, dan ... itu tidak terjadi, kurasa." Suara bersemangat Mitsuki turun dengan cepat setelah dia melihat ekspresi di wajah Yuuto.

“Tidak, aku ingin kau mengizinkanku mentraktirmu. Kau telah melakukan banyak hal untuk menjagaku selama ini. Tapi aku tidak berencana menggunakan satu yen pun dari uang ini." Yuuto memasukkan uang itu kembali ke dalam amplop, nadanya menunjukkan bahwa keputusannya sudah final.

Dia lebih suka melemparkan uang itu kembali ke wajah ayahnya secara langsung, tetapi melihat rak sepatu di pintu masuk memberi tahu dia bahwa pria itu sudah pergi bekerja di loka karya nya.

Mitsuki memandang Yuuto dengan sedih sejenak, lalu berkata, "Kau masih belum memaafkan ayahmu, ya, Yuu-kun?"

“Tidak, kurasa tidak.” Yuuto menjawab seolah-olah dia sedang berbicara tentang orang lain, tapi tangannya menggenggam amplop uang dengan erat.

Itu adalah jenis situasi di mana beberapa orang mungkin mengatakan ayahnya telah memahami keadaan Yuuto dan mencoba dengan cara canggungnya untuk menunjukkan kebaikan... tapi dia tidak bisa melihatnya seperti itu. Itu membuatnya sangat mual sehingga dia tidak tahan.

Ada perasaan ketidakpuasan seperti ayahnya bisa melihat dirinya, dan kemarahan pada dirinya sendiri karena tidak berdaya saat ini, kedua perasaan itu berputar-putar di dalam diri Yuuto, tetapi hal yang paling tidak bisa dia maafkan adalah cara ayahnya yang tampak menjauh dan tidak mau menghadapi putranya sendiri secara langsung.

Sialan, ini seperti aku anak bodoh yang sedang marah!

Yuuto dapat mengatakan bahwa sebagian dari dirinya ingin ayahnya meninggalkannya sendiri sepenuhnya. Tetapi kemudian ketika dia ditinggalkan sendirian, dia merasa marah pada pria itu karena tidak memenuhi perannya sebagai seorang ayah.

Jika dia adalah Yuuto tiga tahun lalu, dia tidak akan mampu menghadapi kenyataan bahwa perasaan di dalam dirinya itu kontradiktif. Dia tidak akan bisa menghadapi mereka sama sekali, dan itu hanya akan mengubah semuanya menjadi amarah yang dia tujukan pada ayahnya.

Tapi dia berbeda sekarang.

"Lalu bagaimana...?" dia bergumam. "Jadi, apa yang aku inginkan dari Ayah, ya?"

Apakah dia ingin pria itu meminta maaf, atau dihancurkan? Apakah dia ingin ayahnya menunjukkan minat padanya sebagai ayah, atau membiarkannya sendiri?

Melihat ke langit-langit dengan pikiran-pikiran itu di kepalanya, semuanya tampak begitu rumit sehingga apa pun bisa menjadi jawaban yang benar, tetapi semuanya juga tampak salah.

Dia tidak berpikir dia bisa memberikan jawaban seperti itu sekarang.

********

Setelah sarapan, Yuuto dan Mitsuki pergi berbelanja di pusat perbelanjaan.

Untuk persiapan perjalanan mereka, Yuuto meminta Mitsuki meminjam beberapa pakaian ayahnya untuk dikenakannya. Itu membuatnya merasa tidak enak untuk menanyakan hal itu padanya, tetapi dia sedang tidak berminat untuk meminjam pakaian ayahnya sendiri.

Meski begitu, tidak mungkin dia bisa terus melakukan ini, jadi hal pertama yang mereka lakukan di toko adalah pergi untuk memeriksa beberapa pakaian.

Mitsuki cukup antusias. “Hei, Yuu-kun, Yuu-kun! Aku pikir ini akan terlihat bagus padamu!"

“Hmm… tentu, itu memang terlihat bagus, tapi… gah! Itu mahal!”

Mata Yuuto melebar begitu dia melihat label harganya. Itu hanya lima digit.

"Aku baik-baik saja dengan sesuatu yang lebih murah, oke?" katanya buru-buru. “Sesuatu yang bisa aku beli banyak.”

“Bagaimana bisa Patriark agung dari Klan Serigala mengatakan hal seperti itu?” Mitsuki memarahinya. "Jika kau melakukan itu, bawahanmu tidak akan menghormatimu, Kau tahu."

"Diam! Di dunia ini, aku tidak lebih dari seorang pria yang miskin, pengangguran!”

Sambil melirik pada Mitsuki, yang masih tertawa, Yuuto berjalan menuju sisi dengan tanda bertuliskan "Obral, 2000 Yen".

Sebelum datang ke sini, dia mampir ke bank dan menarik tabungannya, jadi dia bisa membeli sesuatu yang mahal jika dia mau, tapi dia tahu akan ada lebih banyak biaya yang akan datang. Dia ingin memastikan dia menghindari pemborosan uang di sini sebisa mungkin.

“Hm, ini dia. Aku akan mengambil ini dan ini, dan... "

"Ugh, kenapa kau selalu saja memilih warna hitam." Mitsuki segera menjatuhkan pilihannya. “Ayo, pilih beberapa warna yang lebih cerah—!”

“Ya ampun, kenapa kau tidak pergi memilih pakaianmu sendiri?”

“Aku tidak bisa. Aku tidak punya uang."

“Baiklah, kalau begitu aku akan membelikanmu beberapa pakaian. Tidak masalah jika agak mahal juga.”

“Apa?!” Mitsuki menjerit kaget. Dia pasti tidak menduganya, tatapannya melesat ke sana kemari. “Ta-tapi itu tidak terasa benar. Kau tidak punya uang sebanyak itu, bukan? Kau tidak harus…”

“Jangan bodoh. Aku telah mengandalkanmu untuk segala macam hal selama tiga tahun kemarin. Biarkan aku membelikanmu sesuatu sedikit.”

"... Apakah ini benar-benar baik-baik saja?"

“Ya. Faktanya, Mitsuki adalah prioritas nomor satu dalam perjalanan belanja kecil ini. ”

"Oh, begitu... Aku nomor satu, ya? ...Terima kasih." Mitsuki meletakkan kedua tangan di pipinya saat ekspresinya berubah menjadi senyuman malu-malu.

Hanya melihatnya bahagia membuat Yuuto merasa cukup dihargai karena menawarkan untuk membelikannya sesuatu.

"Apa yang harus kubeli," gumam Mitsuki, dengan cepat melamun. “Ada satu hal yang kuinginkan. Oh, tapi kemudian ada itu ... "

Mengawasinya seperti ini, melihat ekspresinya berubah begitu cepat, benar-benar membawa perasaan betapa berbedanya ini dari sekadar panggilan telepon atau gambar. Dia tidak pernah bosan menatapnya.

Akhirnya, dia sepertinya menemukan sesuatu, dan mengangkat satu jarinya. “Oke, jadi, bagaimana jika ini!”

Dia berlari ke arah Yuuto dengan langkah ringan, seperti anak anjing, dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah wajahnya dengan mata menengadah.

Tingkah itu cukup untuk membuat jantung Yuuto berdebar kencang. "A-apa, apakah kau sudah memilih sesuatu?"

“Tidak, aku ingin kau memilihnya, Yuu-kun!”


"Huh?!" Yuuto berteriak kaget.

Jika seorang anak laki-laki dan perempuan yang menjalin hubungan dan berpergian bersama seperti ini adalah apa yang didefinisikan sebagai 'kencan', maka perkembangan semacam ini cukup normal untuk sebuah kencan.

Namun, meskipun Yuuto mungkin telah memperkenalkan roti tanpa pasir, gelas kaca dan banyak lagi keajaiban ke dunia Yggdrasil, dia tidak memiliki pemgetahuan tentang tren atau mode di Jepang modern.

Pada abad ke-21,  'tren' dapat berubah dalam waktu kurang dari setahun. Dia bahkan tidak bisa menebak berapa banyak mode yang telah berubah selama tiga tahun dia pergi.

"Ji-jika kau membiarkanku memilih, aku akan memilih sesuatu yang konyol," 

"Tidak apa-apa. Aku tidak peduli jika kau memilih wig botak sebagai kostum pesta, aku akan tetap menghargainya.”

“Serius?! Kau benar-benar masih akan puas dengan hal seperti itu?!”

“Aku akan menjadikannya pusaka keluarga. Hadiah yang diberikan langsung kepadaku dari Patriark Klan Serigala! Oh, aku harus meletakkannya di altar keluarga juga."

"Tunggu. Tendang ide itu keluar. Tapi serius, jika aku akan membelikanmu hadiah, aku ingin itu menjadi sesuatu yang benar-benar akan kau gunakan, jadi aku lebih suka kau memilih sesuatu yang kau suka.”

“Apaaaa?... Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil wig botak."

“Apakah kau benar-benar menginginkan itu ?!”

“Heh heh, jika kau membiarkanku memilih, maka akan seperti itu, oke? Apakah itu tidak masalah? Kau benar-benar setuju dengan itu?”

“Ancaman macam apa itu ?!”

“Jadi, dengan kata lain, jika kau tidak suka itu, pilih sesuatu untukku.”

Yuuto menghela nafas berat. “Baik ... baik, aku mengerti. Aku hanya harus memilih, bukan?”

Dia menggelengkan kepalanya pasrah dengan seringai masam, saat Mitsuki terkikik nakal.

Ketika berhubungan dengan perang, Yuuto dikenal sebagai yang tak terkalahkan, tetapi dia tidak berpikir dia memiliki kesempatan melawan teman masa kecilnya.

Dalam istilah yang lebih ekstrim, mungkin  seperti "laki-laki adalah makhluk yang tidak bisa berharap menang melawan perempuan…"

"Oke, jadi setidaknya beri tahu aku hal apa yang kau suka," katanya. “Kalau tidak, aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

“Oh, baiklah, kalau begitu aku ingin aksesori rambut.” Dengan nada rendah yang tidak bisa di tangkap, dia berbisik, "Dengan begitu, aku selalu bisa menggunakannya."

“Jadi pada akhirnya itu bahkan bukan pakaian?” dia bertanya dengan putus asa. “Yah, terserah. Lalu mari kita lihat beberapa setelah aku menyelesaikan ini.”

“Tunggu, kau masih akan mengambil pakaian hitam itu?!” Mitsuki menatap dengan mata terbelalak tak percaya pada Yuuto.

“Ada apa dengan ini? Lihat, selama mereka cocok, aku baik-baik saja dengan apapun."

“Tidak, itu tidak baik! Jujur! Yuu-kun, kau tampan, tapi kau tidak memikirkan penampilanmu!”

Mitsuki menggembungkan pipinya karena kesal.

“Ini, mulailah dengan ini, dan ini. Kau bisa mencobanya di sana. ”

Dia menyerahkan pakaian yang dia pegang dan menunjuk tajam ke arah ruang ganti.

Menilai dari ekspresinya, dia tidak akan mencapai apa-apa dengan membalasnya kecuali membuang waktu.

Yah, kurasa tidak ada salahnya mengikuti keinginannya sebentar, pikirnya, dan menuju ruang ganti.

Tak perlu dikatakan bahwa setelah itu, Yuuto adalah boneka hias Mitsuki untuk waktu yang cukup lama.

********

“Ughh, lelah sekali. Entah bagaimana, aku merasa sangat lelah." Yuuto duduk di bangku panjang di sisi jalan department store, bersandar sambil mendesah panjang.

Dia merasa sangat lelah baik tubuh maupun pikiran.

Pakaiannya benar-benar baru. Anak laki-laki yang tadinya mengenakan pakaian biasa, membuatnya tampak tidak menarik, sekarang memakai penampilan kasual yang membuatnya terlihat sangat modis.

Tentu saja, postur dan ekspresinya yang terkulai saat ini membuat semua itu sia-sia.

"Apa yang kau katakan?" Mitsuki bertanya. “Kau bertingkah sangat lemah, yang kita lakukan hanyalah memilih beberapa pakaian sebentar."

“Itu sama sekali bukan 'sebentar'. Itu setidaknya satu jam, hanya untuk melihat pakaian."

"Hah? Bukankah itu normal? Sebenarnya, menurutku kita menyelesaikannya dengan cukup cepat.” Mitsuki kembali menatapnya dengan ekspresi bingung.

Hal itu membuat punggung Yuuto bergidik. 

“Itu tadi... 'cepat' ...?!”

“Mm-hm. Saat aku datang ke sini bersama Ibu atau temanku, kami menghabiskan dua atau tiga jam, dengan mudah.”

"Ughhhh ..." Yuuto telah mendengar cerita yang menyatakan bahwa para gadis membutuhkan waktu lama untuk berbelanja, tapi dia tidak menyangka bahwa teman masa kecilnya tidak terkecuali untuk itu.

Memikirkan kembali, dia tidak bisa mengingat pernah benar-benar pergi berbelanja bersama Mitsuki sebelumnya. Dalam hal ini, mungkin wajar jika dia tidak tahu tentang ini, tetapi ... menyadari bahwa sekarang membuatnya menyadari lagi betapa dia telah melewatkan tiga tahun terakhir ini, dan itu membuatnya menyesal.

Dan kelaparan. Mungkin karena frustrasinya, perutnya terasa lebih kosong dari sebelumnya.

“Astaga, aku kelaparan. Sushi! Aku ingin makan sushi!”

"Hei sekarang, kita bahkan belum membeli hadiahku," keluh Mitsuki. "Bukankah aku seharusnya menjadi nomor satu?"

“Tenang dulu. Biarkan aku makan nasi. Bawakan aku nasi. Beri aku nasi!"

“Wah, kau terdengar seperti pecandu nasi!”

“Jauhkan orang Jepang dari nasi selama tiga tahun, dan itulah yang terjadi. Serius."

Onigiri yang dibawakan Mitsuki untuk sarapan pagi ini begitu lezat sehingga ‘membuatnya terpukul secara emosional'.

Sampai hal itu membuatnya hampir menangis.

Jika Mitsuki tidak ada di depannya, dia mungkin akan langsung menangis di tempat.

Sushi adalah makanan favorit Yuuto, jadi dia tidak bisa menahan diri betapa lezatnya makanan itu. Dia sudah mengeluarkan air liur tak terkendali.

"Baiklah kalau begitu! Ayo cepat pilih aksesori rambut itu lalu makan,” ucapnya. "Arahnya kemana?"

“Oh, uh. Disana. Ughh, sekarang suasananya hancur ... "

“Ke sana, kan? Mengerti."

Tanpa mendengarkan keluhan Mitsuki, Yuuto mengambil tas belanjaan berisi pakaian dan berdiri.

Saat dia mulai berjalan ke arah yang telah ditunjuk Mitsuki, jalannya tiba-tiba terhalang.

Yang berdiri di depannya adalah seorang pria berseragam biru tua. Pada awalnya, dia tampak seperti seorang penjaga keamanan.

"Kurasa kau tahu apa artinya ini," kata pria berseragam itu, mengulurkan ID kecil dengan lencana polisi berlambang sakura di atasnya. “Kau Suoh Yuuto, kan?”

Sepertinya reuni Yuuto yang sudah lama ditunggu-tunggu dengan sushi harus menunggu satu hari lagi.

◆ ◆ ◆

Glaðsheimr.

Kota ini adalah ibu kota Kekaisaran Suci Ásgarðr, dan kota terbesar di seluruh Yggdrasil. Itu dikenal jauh dan luas sebagai tempat kelahiran banyak tren seni dan budaya.

“Jadi, akhirnya aku sampai...” Rífa mendesah tertekan, tubuhnya sedikit bergoyang seiring dengan guncangan kereta kudanya.

Sekitar waktu yang sama saat Yuuto kembali ke rumah, Kaisar Ilahi Sigrdrífa dari Kekaisaran Suci Ásgarðr juga telah menyelesaikan perjalanan kembali ke tanah kelahirannya.

Kedatangannya menandai akhir dari kebebasannya, jadi mau bagaimana lagi hal itu mengirimnya ke dalam suasana hati yang melankolis. Namun, itu bukanlah satu-satunya penyebab.

“Kurasa suasana kota yang tidak menyenangkan ini tidak berubah,” gumamnya.

Tenda didirikan berjejer di jalan utama kota yang besar, dikemas penuh dengan berbagai macam produk dari seluruh Yggdrasil.

Semenit sebelumnya, saat di gerbang kota, ada barisan besar orang seperti pedagang keliling menunggu giliran untuk meminta izin memasuki kota.

Ini semua menunjukkan budaya kota yang ramai dan penuh kehidupan; Namun, Rífa dari semua orang tahu bahwa sebagian besar dari semua itu hanya di permukaan.

Yang pasti, ada lebih dari beberapa pelanggan berpakaian indah yang dengan senang hati membeli barang dagangannya. Namun, itu hanya sebagian kecil orang.

Mayoritas orang yang terlihat berjalan mondar-mandir di jalanan yang padat ini, yang lahir di kota ini dan sekarang mencari nafkah di sini, mengenakan pakaian tanpa kemewahan atau warna mencolok. Wajah mereka menunjukkan ekspresi gelap yang kental dengan kelelahan dan kurangnya semangat.

Jika seseorang mengintip lebih hati-hati ke tepi dan sudut kota, ada juga sejumlah besar pengemis dengan pakaian dan kain compang-camping, berjongkok dan memohon belas kasihan orang yang lewat.

Kebenaran yang tidak sedap dipandang menjadi jelas bagi pengamat: Beberapa orang terpilih memperkaya diri mereka sendiri sambil menyedot kekayaan sebagian besar rakyat lain.

“Yah, bukannya aku punya hak untuk membicarakan masalah ini,” gumam Rífa.

Dia sendiri, orang yang duduk di puncak sistem eksploitatif itu. Dia mengenakan pakaian yang lebih indah dari siapa pun, memakan makanan paling lezat, dan tinggal di istana yang lebih bersih dan mewah daripada rumah lain.

Jika dia ditanya apakah dia melakukan pekerjaan yang membuatnya layak untuk gaya hidup itu, dia harus menjawab dengan jujur, "Tidak sama sekali."

Itu semakin benar setelah dia melihat betapa bersemangatnya pemuda berambut hitam itu memantapkan posisi dirinya. Bahkan selama dia tinggal sesaat dengannya, dia telah memperkenalkan kebijakan dan penemuan satu demi satu untuk memperkaya warganya secara keseluruhan.

Dia merasakan kecemburuan yang kuat terhadapnya dalam hal itu. Apakah tidak ada cara baginya juga untuk melakukan sesuatu untuk melayani wilayah dan rakyatnya?

Pikiran itu sangat kuat di benak Rífa saat dia melihat ke arah kota.


"Wah. Sungguh, pidato bertele-tele orang tua adalah sesuatu yang tidak dapat kutahan." Rífa menghela nafas dengan sangat lelah.

Para petinggi dalam administrasi kekaisaran akhirnya selesai menguliahi dia panjang lebar.

Tentu saja, Rífa sepenuhnya bersalah atas seluruh kejadian ini, jadi dia diam-diam mendengarkan mereka terus-menerus dengan pidato kecil mereka. Tapi lebih dari empat jam itu benar-benar melelahkan pikirannya, yang sudah lelah karena perjalanan jauh.

Sekarang, yang tersisa hanyalah kembali ke kamarnya dan tidur.

Dengan langkah lelah dan goyah, dia mulai berjalan ke sana ...

“Oh, Yang Mulia! Anda selamat! Syukurlah!" Sesosok berlari ke arahnya, berteriak, lalu berlutut di sampingnya.

Saat dia berlari ke arahnya, dia langsung mengenalinya dengan rambut panjang emasnya, diikat ke belakang dan bergoyang seperti ekor kuda.

Wajah Rífa memperlihatkan senyum nostalgia saat dia melihat pengikutnya yang setia untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan. “Ahh, Fagrahvél! Sudah cukup lama, bukan? ”

Masih dengan berlutut, Fagrahvél mengangkat kepalanya untuk menatapnya. "Iya. Yang Mulia sangat dirindukan. Apakah Anda sehat?"

Dia bisa melihat air mata menetes di wajah tampannya, mengkomunikasikan kepedulian yang tulus padanya dan kelegaan pada reuni mereka.

Rífa mau tidak mau merasakan api kehangatan di dalam dadanya sendiri, juga. “Hee hee! Kau adalah satu-satunya yang mengkhawatirkan kesehatanku."

"Yang Mulia, itu bukan ..."

“Tidak, itulah kebenarannya,” kata Rifa dengan nada sinis, bahunya merosot.

Para Pejabat tinggi negara telah menegurnya karena menyebabkan masalah bagi banyak orang karena absen dari tugas publiknya, dan memarahinya karena kurangnya kesadaran diri akan posisinya sebagai þjóðann. Topik-topik ini telah melewati bibir mereka berkali-kali, seperti refrein yang selalu berbeda kata-katanya. Tapi dia tidak mendengar satu kata pun yang menunjukkan perhatian padanya.

Yang mereka gunakan hanyalah martabat dan otoritas þjóðann, dan wadah untuk otoritas itu, bukan Rífa sendiri.

Itu adalah sesuatu yang selalu dia pahami, tetapi pengalaman itu masih membuatnya merasakan sakit yang tajam di dadanya.

Tiba-tiba, terdengar suara serak dari belakang Rfa. “Selamat datang di rumah, Yang Mulia.”

Itu adalah suara yang menginspirasi rasa takut dalam dirinya. Wajahnya berkerut getir, seolah dia menelan serangga.

Dia berhasil mengumpulkan kekuatan mentalnya yang tersisa dan memasang wajah bersahabat, dan berbalik. Pria yang berdiri di sana persis seperti yang diharapkannya: Pria tua kurus kering dengan rambut putih, bersandar pada tongkat.

“Apa anda bisa menikmati waktumu di Klan Serigala?” Dia bertanya.

“Hmph! Jadi, Anda sudah tahu semua tentang di mana saya berada dan apa yang telah saya lakukan. "

“Ya, tentu saja saya tahu. Bagaimanapun juga, Anda adalah calon pengantin saya." Ucap si tua, Hárbarth, tertawa geli.

Rífa, di sisi lain, hanya merengut karena ketidaksenangan. Kata "pengantin" membuatnya kesal.

Rífa memelototi langsung orang tua itu lagi, menatapnya dari atas ke bawah.

Janggut panjangnya sama putihnya dengan rambutnya sendiri. Rífa mendengar dia sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.

Banyak kerutan diwajahnya, dan tangan yang mengintip dari lengan jubahnya hanyalah kulit dan tulang.

Pikiran bahwa orang ini akan menjadi calon suaminya sudah cukup membuatnya merasa mual.

Meski begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindari pernikahan ini. Rífa memiliki tugas sebagai þjóðann untuk meneruskan dan mempertahankan garis keturunan bangsawannya.

Jadi, lelaki tua yang menjijikkan ini adalah satu-satunya pilihan yang tersisa baginya; pilihan yang lain telah dieliminasi.

Sekilas, Istana Valaskjálf adalah tempat yang indah. Itu benar, dan itulah mengapa anggaran yang sangat besar diperlukan untuk mempertahankan tingkat kemegahan itu. Standar hidup telah tumbuh terlalu tinggi, dan bukanlah tugas yang mudah untuk menguranginya lagi.

Pada titik ini, keuangan kekaisaran pusat sangat menyedihkan sehingga tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan tanpa dukungan Hárbarth dan Klan Tombaknya.

Memang, semuanya begitu putus asa sehingga semua orang tahu betapa salah dan tidak cocoknya pernikahan ini, namun tidak ada yang bisa bersuara untuk menentangnya.

Secara blak-blakan, demi menopang kekaisaran, Rífa telah dijual kepada lelaki tua hina itu, sebagai bejana.

Dia akan melahirkan þjóðann baru yang membawa darahnya.

Dan hari yang ditakuti dari upacara pernikahan itu sudah hampir tiba……

********

"Ugh ...!" Sigrún mendengus. “Felicia, pelan-pelan... Ngh! "

"Aku melakukannya dengan lembut," kata Felicia, alisnya berkerut. “Sungguh, kau begitu sembrono bertarung dengan tanganmu seperti ini!” Dia dengan hati-hati terus mengoleskan salep buatannya ke punggung tangan Sigrún.

Mereka berada di sebuah ruangan di Benteng Gashina, sebuah benteng di perbatasan wilayah Klan Serigala dan Klan Petir.

Selama pertempuran malam hari sebelumnya, pasukan Klan Serigala menderita kekalahan besar, hanya berhasil bertahan hidup dengan melarikan diri ke benteng terdekat ini.

Pandangan ke luar jendela menunjukkan pemandangan yang dipenuhi dengan mereka yang terluka. Tidak ada yang selamat tanpa cedera. Semua wajah mereka kelelahan dan diliputi kekhawatiran.

Kalian dapat mengatakan tentara Klan Serigala babak belur.

Namun faktanya, banyak dari mereka yang berhasil sampai di sini hidup-hidup, sangat mungkin berkat satu orang.

“Tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Aku tidak punya pilihan," jawab Sigrún dingin. Tugas Mánagarmr adalah untuk selalu bertempur di garis depan, melindungi tentara lainnya.

Sigrún telah mengambil peran memimpin barisan belakang, berjuang mati-matian dengan keberanian luar biasa saat pasukan mundur. Tanpa usahanya, hanya setengah, atau bahkan sepertiga yang akan selamat untuk mencapai benteng.

Tapi harga yang dia bayar untuk itu tinggi.

“Meski begitu, kau tidak perlu ... lihat, jangan salahkan aku jika tangan ini sudah tidak berfungsi dengan baik lagi,” kata Felicia.

“Itu akan menjadi masalah. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan tangan ini. ... Urgh." Saat Sigrún mencoba mengepalkan tangan kanannya, dia mendengus dan meringis.

Gadis ini dikenal berwajah batu dalam banyak situasi, namun ekspresinya berubah karena kesakitan. Itu menunjukkan betapa kuat rasa sakit itu.

Itu masuk akal, karena bahkan setelah menderita luka di tangan kanannya oleh Hveðrungr selama duel mereka, dia terus menggunakan tangan itu. Luka dan bengkaknya semakin parah; Tangan kanan Sigrún yang babak belur sekarang membengkak hingga hampir dua kali ukuran normalnya.

“Apa yang kau katakan, dalam kondisimu?” Felicia menjawab seolah memarahi anak yang keras kepala. “Kau harus istirahat dan menyembuhkan diri sementara.”

Tangan itu terlihat benar-benar akan mengalami kesulitan bahkan jika ingin menggenggam sesuatu yang ringan. Pergi ke medan pertempuran kondisi seperti ini akan berarti bunuh diri.

Sangat wajar untuk menghentikannya dalam situasi ini, tapi ...

“Kau tidak dapat mengharapkan diriku untuk duduk diam pada situasi kritis ketika hidup kita dipertaruhkan,” balas Sigrún.

"Tapi sekarang Kakak telah dikirim kembali ke dunianya, jika pasukan Klan Serigala kehilanganmu juga, maka ...!"

“Itulah kenapa. Jika aku menghilang dari posku di di medan perang, moral tidak akan bertahan." Sigrún berdiri dengan cara yang mengatakan bahwa percakapan telah selesai, dan dia mengenakan mantel bulu yang telah digantung di dinding di dekatnya. Itu adalah item yang menandakan Mánagarmr, diturunkan dari pemilik gelar sebelumnya kepada pewarisnya.

Rupanya, dia memiliki kesadaran yang dalam akan tanggung jawab dan beban yang menyertainya. Itulah mengapa dia begitu tegas dengan niatnya untuk tidak mundur dari pertarungan.

Felicia menghela nafas kecil, menyadari kesia-siaan dari bujukan lebih lanjut. "Ohhh, kau benar-benar hanya mendengarkan Kakak, bukan?"

Namun, meski dia mengatakan itu, dia mengakui validitas poin Sigrún. Dia tidak punya pilihan selain mengakui itu.

Taktik pertahanan berharga pasukan mereka, 'dinding kereta' telah dengan mudah dikalahkan, dan tentara Klan Serigala telah menderita kekalahan militer besar pertama mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Dan untuk Benteng Gashina, itu baru saja diserang dan diambil alih, mengalami kerusakan parah pada saat ini, dan kemampuannya untuk berfungsi sebagai benteng pertahanan sangat berkurang.

Jika Klan Panther bergabung dengan Klan Petir dan menyerang bersama, benteng itu kemungkinan besar tidak akan bertahan.

Dan disamping krisis ini, Yuuto, panglima tertinggi yang semua prajurit dihormati, tidak muncul di hadapan mereka. Dalih yang diberikan adalah bahwa Yuuto sedang dalam pemulihan dari luka-lukanya sendiri.

Ini akan menjadi tugas yang sulit untuk meminta para prajurit untuk mengabaikan kecemasan mereka pada saat ini.

Jadi jika Sigrún the Mánagarmr menghilang dari garis depan karena cedera, orang-orang itu tidak akan melihat harapan kemenangan untuk Klan Serigala. Karena putus asa, mereka akan mulai hancur dan melarikan diri, atau menyerah kepada musuh, hasil itu sejelas matahari yang bersinar.

Dalam kondisi pasukan Klan Serigala saat ini, pemicu kecil akan seperti retakan di lapisan es tipis, dan menyebabkan kehancuran total.

"Itu mengingatkanku, Felicia." Sigrún menoleh padanya dengan tatapan yang sangat serius. "Ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu, dan ini kesempatan bagus."

"Apa itu? Apakah itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk? ”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa aku putuskan. Ini tentang pria bertopeng itu, orang yang mungkin adalah Patriark dari Klan Panther ... Umm, coba saja tetap tenang saat kau mendengar ini, oke? "

Untuk seseorang yang biasanya langsung ke intinya dan tidak pernah berbasa-basi, Sigrún berbicara dengan cara yang aneh, sangat ragu-ragu.

Itu sudah cukup bagi Felicia untuk menyimpulkan apa yang Sigrún coba katakan padanya.

“Kau berbicara tentang kakakku, kan?” katanya, dengan sedikit seringai.

“Ap… Kau tahu ?!”

“Ya, meskipun Kakak (Yuuto) memutuskan aku harus tetap diam tentang itu. Aku minta maaf."

Jika tersebar di publik bahwa Patriark Klan Panther Hveðrungr sebenarnya adalah Loptr, mantan Perwira tinggi dari Klan Serigala, Klan Serigala akan dipaksa untuk melakukan segala cara untuk membunuhnya.

Pria itu telah membunuh ayah sumpahnya, kejahatan yang paling tak termaafkan. Jika Klan Serigala membiarkan seorang pembunuh tidak dihukum, itu akan menodai kehormatan Klan, dan melemahkan otoritasnya baik di dalam maupun luar negeri.

Setelah menemukan fakta itu, Yuuto merasa dia tidak punya pilihan selain merahasiakannya karena dia membenci perang dan ingin menemukan cara untuk menjalin hubungan damai dengan Klan Panther.

Bahkan setelah kedua klan berperang, dia telah memilih untuk merahasiakan rahasia hanya kepada beberapa orang terpilih, untuk menjaga kemungkinan berakhirnya konflik secara damai, dan untuk menjaga agar tidak dipaksa untuk mempertahankan perang yang berkelanjutan. .

“Kau tidak perlu meminta maaf,” kata Sigrún, menggelengkan kepalanya sedikit. "Jika itu yang Ayah putuskan, maka tidak ada yang bisa kau lakukan."

Dia tampaknya menerima penjelasan itu sebagai hal yang biasa, tanpa perasaan pribadi lebih lanjut tentang masalah itu.

Dia tidak menyia-nyiakan satu pikiran pun pada kekhawatiran bodoh seperti apakah dia tidak diberi tahu karena dia tidak dipercaya.

Aspek Sigrún yang jujur dan tidak terikat itu sedikit memesona bagi seseorang seperti Felicia, yang cukup banyak memusatkan perhatian pada kekhawatiran dan detail.

Tentu saja, aspek kepribadian Felicia, pertimbangan terhadap detail, yang memungkinkan dia untuk mendukung Yuuto sebaik yang dia lakukan, dan memang Sigrún iri padanya karenanya.

"Tetap saja," kata Sigrún, "meskipun aku tidak suka mengatakannya seperti ini di depanmu, orang itu adalah masalah yang mengerikan sebagai musuh ..."

Dia melihat ke bawah ke tangan terluka yang sekarang dibalut Felicia, wajahnya kesal dan pahit.

Mungkin bisa dikatakan bahwa seorang prajurit selalu hidup dengan kemenangan dan kekalahan, tetapi bagi wanita dengan gelar berat seperti Mánagarmr, Prajurit terkuat Klan Serigala, itu pasti sangat membuat frustrasi.

"Aku pikir kekuatan pria itu adalah kemampuannya untuk mencuri teknik dari musuh-musuhnya dan menjadikannya miliknya, tapi itu sepenuhnya salah." Sigrún mengucapkan kata-kata itu dengan getir. “Kekuatannya yang sebenarnya dan paling menakutkan adalah bahwa di tengah pertarungan, dia dapat membaca lawannya sepenuhnya, mengidentifikasi kecenderungan dan kebiasaan mereka, dan melihat kelemahan mereka.”

Felicia adalah adik perempuan Hveðrungr - Loptr - sejak lahir, dan dia tahu kebenaran kata-kata Sigrún dengan baik.

Menggunakan dan menguasai teknik yang dicuri dari lawan berarti juga memahami sepenuhnya bagaimana teknik itu bisa diatasi.

Dan prinsip itu juga diterapkan pada kemampuan strategisnya sebagai seorang komandan.

“Memang, baginya untuk bisa memikirkan bukan hanya satu, tapi beberapa metode untuk menerobos pertahanan dinding kereta... tanpa sanjungan sebagai adik perempuannya, aku menganggap bakatnya menakutkan.”

“Dan dia memiliki monster Steinþórr yang menunggu di belakangnya, Battle-Hungry Tiger Dólgþrasir,” kata Sigrún getir. 

"Aku harus mengatakan ini adalah situasi yang sangat mengerikan tanpa Ayah di sini."

"Jika kita bisa bertahan sebentar, kita seharusnya bisa menerima arahan dari Kakak."

Tadi malam, si kembar dari Klan Cakar memulai perjalanan menuju Iárnviðr dengan membawa smartphone Yuuto. Keduanya pasti bisa kembali dengan selamat ke kota tanpa ditangkap oleh musuh.

Dan Ingrid telah diajari cara menggunakan perangkat oleh Yuuto, jadi dia seharusnya bisa menghubunginya.

"Aku mengerti. Itu cukup meyakinkan, tapi ... terus terang, patut dipertanyakan apakah kita bisa bertahan selama itu.” Ekspresi Sigrún masih suram.

Bahkan dengan kecepatan tinggi si kembar, masih dibutuhkan setidaknya dua hari untuk mencapai Iárnviðr dari Benteng Gashina. Komunikasi juga harus dilakukan pada malam hari, jadi totalnya akan menjadi lima hari.

Melawan musuh normal, menghalangi diri mereka sendiri di dalam benteng akan dengan mudah memberi mereka waktu sebanyak itu, tapi ...

“Musuh memiliki itu, apa namanya, tu, t-ture, torebset? Benda yang meluncurkan batu?"

"Trebuchet, ya."

“Ahh, itu dia. Melawan itu, benteng ini tidak akan bertahan sama sekali. " Sambil menghela nafas, Sigrún menggelengkan kepalanya pasrah.

Alat itu bisa meluncurkan batu besar, ukurannya lebih besar dari dua orang dewasa, dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa. Kekuatan penghancurnya adalah sesuatu yang Sigrún ketahui dengan baik, karena dia telah melihatnya digunakan untuk melawan Klan Cakar dan dan Tanduk di masa lalu.

Itu adalah senjata yang dapat diandalkan untuk dimiliki di pihak mereka, tetapi mengerikan dan menjengkelkan setelah digunakan untuk melawan mereka.

Saat ini, mereka tidak punya cara untuk melawannya.

Sigrún menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan napas panjang. "Hahhhhh ... Sepertinya aku harus menguatkan diriku sendiri." Dia berbicara dengan keteguhan hati yang terdengar dari suaranya.

Tatapan penuh tekad di matanya membuat Felicia merasa tidak enak.

Ternyata, dia benar merasa seperti itu.

“Aku ingin setidaknya mendengar suara Ayah sekali lagi, tapi itu tidak bisa dihindari. Tolong beritahu Ayah atas namaku. Katakan padanya bahwa `Sigrún bertempur dengan gagah berani, sampai akhir`.”



TL: Afrodit
EDITOR: Isekai-Chan 

Jumat, 07 Mei 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 : Chapter 35. Beruang Mandi di Bak Mandi Beruang

Volume 2
Chapter 35. Beruang Mandi di Bak Mandi Beruang


"Mau dilihat berapa kali pun, rumah ini benar-benar menakjubkan."

Ini adalah kali kedua Tiermina dan Gentz berkunjung ke rumah beruangku. Kunjungan pertama mereka terjadi setelah aku menyelamatkan nyawa Tiermina. Dia ingin sekali lagi berterima kasih padaku sekaligus melihat putri sulungnya bekerja, jadi Fina membawa mereka kemari.

"Baiklah, aku akan meminjam dapurmu. Fina, bisakah kau membantu ibu?"

"Shuri ingin bantu juga," ujar Shuri. 

"Silahkan gunakan bahan apa pun yang ada," ucapku, "Tak perlu sungkan."

"Oke, terima kasih. Harusnya kami yang menyediakan bahan-bahannya."

"Sudahlah, tidak apa-apa."

"Sebelumnya pun, kau sudah sering memberi kami daging serigala. Rasanya, hutang kami padamu semakin menumpuk."

Tiermina pergi membawa kedua putrinya ke dapur, menyisakan aku dan Gentz di ruang tamu. Kami berdua duduk, menanti masakan Tiermina siap.

"Sungguh rumah yang menakjubkan," gumamnya sambil memandang sekitar. "Apakah itu bulu dari Tigerwolf?"

Aku memajang kulit Tigerwolf yang aku buru bersama Fina di atas perapian. Aku masih punya satu lagi, tapi aku meletakkannya di kamar sebagai ganti selimut. 

"Saat pertama kali aku melihatmu, gadis beruang, aku tidak berpikir kalau kau akan semenakjubkan ini," ujarnya, seakan mengenang masa lalu.

Satu bulan telah berlalu semenjak kedatanganku ke dunia ini. Kostum beruang milikku menjadi sangat terkenal di kota. Aku sedikit takut oleh bagaimana cepatnya diriku beradaptasi dengan kostum tersebut. Aku sudah tidak malu lagi saat mengenakannya.

"Gadis beruang."

"Nona beruang."

"Beruang muda."

"Bloody Bear."

Meski ada banyak nama yang digunakan orang-orang, semua nama tersebut mengacu padaku. Aku masih belum bisa melakukan pemilahan, tapi aku sudah terbiasa berburu monster. Pengalamanku dari bermain game sangat membantu. Aku bertemu Fina, dan darinya aku tahu bahwa masih banyak hal-hal menyenangkan yang bisa kulakukan di dunia ini. Meskipun aku sudah tidak lagi dapat kiriman surat dari entah dewa, admin, atau apalah namanya sejak pertama kali tiba di dunia ini, aku bersyukur karena telah dikirim kemari. 

"Tapi, nona, apa kau yakin tentang ini?"

"Maksudnya?"

"Tentang rumahnya."

"Oh, itu."

Sebagai hadiah pernikahan, aku memberi mereka sebuah lahan kosong untuk membangun rumah baru. Uang tabungan milik Gentz hanya mampu menutupi biaya pembangunan rumah. 

"Tidak masalah," jawabku. "Misalkan saja, aku sudah tidak lagi di sini dan kau wafat, aku tidak ingin melihat mereka bertiga hidup di jalanan. Dan selama mereka punya rumah, maka hal itu tidak akan terjadi, kan?"

"Hey, jangan malah berbicara seperti itu! Aku punya masa depan cerah yang menanti."

"Kalau begitu, pastikan untuk membuat mereka bertiga bahagia. Kalau tidak, kau tahu apa yang akan terjadi, kan?"

"Tentu saja. Aku bersumpah atas almarhum Roy bahwa aku akan menjaga mereka dengan baik."

Roy, seperti yang Gentz singgung tadi, adalah mendiang suami Tiermina. Saat masih muda, mereka bertiga berada dalam party yang sama. Kelihatannya, party tersebut bubar setelah Roy menikahi Tiermina, dan Gentz mulai bekerja di guild. Beberapa tahun kemudian, ketika Tiermina hamil Shuri, Roy meninggal di tengah quest yang dia jalani seorang diri. Sejak saat itu, Gentz mulai membantu Tiermina dan anak-anaknya, dan lambat laun, dia mulai jatuh cinta padanya. 

Saat aku tengah asyik mendengarkan cerita Gentz tentang masa lalu, Fina dan Shuri masuk. Mereka berdua kemari membawakan masakan yang baru saja matang. Terakhir, Tiermina masuk dengan membawa senampan besar hidangan utama. Perutku mulai keroncongan. 

"Terima kasih sudah menunggu," ujarnya. "Kami membuat banyak, jadi silahkan dinikmati."

Tiermina dan kedua putrinya bergabung bersama kami di meja makan. 

"Yuna, maaf, kami malah berakhir menghabiskan banyak bahanmu."

"Tidak apa-apa. Lagian, bahan panganku masih banyak."

"Lemari pendingin berbentuk beruang itu sangat hebat. Sayur dan dagingnya bisa tetap awet di dalam."

"Aku akan menambahkannya sebagai hadiah pernikahan kalian nanti." Karena lemari pendingin di sini tidak sama seperti yang ada di jepang, aku menciptakan sendiri lemari pendinginku menggunakan kristal sihir es yang aku beli.

"Aku sangat menyukai lemari pendingin tersebut, tapi kami sudah berhutang banyak padamu. Kami bahkan belum sempat membalasnya."

"Kau bisa berikan putrimu sebagai kompensasi." Aku menatap Fina yang sedang menyantap makanannya.

"Oh, kau yakin ingin putriku yang satu itu?" Tiermina ikut menatap Fina. 

"Dia penurut, menggemaskan, pekerja keras, sayang keluarga, dan pandai memasak. Kau tahu, apalagi dia sangat lihai memilah Tigerwolf seakan itu bukan apa-apa baginya, dan itu membuatku takjub."

Fina berhenti makan. "Ugh, bisakah ibu hentikan itu? Dan kau juga, Yuna-san."

"Bagaimana caramu membesarkan anak sepuluh tahun hingga bisa menjadi seperti ini?" 

"Kurasa itu salahku," jawab Tiermina. "Karena membuatnya memikul tanggung jawab ketika aku sakit, Fina jadi harus bekerja sangat keras melebihi anak-anak pada umumnya. Dia mengasuh adiknya, merawatku yang terbaring di kasur, melakukan pekerjaan rumah, dan bekerja di tempat Gentz. Aku merasa bersalah karena telah menyita masa kanak-kanaknya."

"Aku tidak menganggap itu sebagai beban atau semacamnya," jawab Fina.

"Itu pemikiran yang cukup dewasa untuk ukuran anak sepuluh tahun sepertimu."

"Aku bukan satu-satunya yang bekerja keras di sini. Shuri ikut membantu juga." Dia mengelus kepala adiknya yang tengah sibuk makan di sampingnya. 

"Fina benar. Shuri telah berjuang juga." Tiermina menatap kedua putrinya dengan bangga. 


Setelah kami selesai makan, Tiermina membereskan semuanya. Di sisi lain, aku hanya bermalas-malasan sambil menikmati jus jerukku.

"Aku rasa kita harus segera pulang." Tiermina bangkit dari kursinya. 

"Ini sudah malam, kenapa kalian tidak menginap saja di sini? Aku punya cukup kamar, dan..." Aku mengarahkan pandanganku kepada Shuri yang mengantuk. "Tampaknya Shuri sudah kelelahan karena ikut bantu pindah-pindah tadi."

"Umm..." Tiermina tampak bimbang. "Tidakkah kami nantinya malah merepotkan?"

"Badan kalian penuh keringat dan debu setelah pindah-pindah tadi, kan? Bukannya kalian nanti akan repot karena masih harus menyiapkan bak mandi setelah tiba di rumah?"

"Kau benar. Kalau begitu, kami terima tawaranmu."

Tampaknya, memiliki bak mandi adalah hal umum bagi orang-orang di dunia ini, sampai taraf tertentu. Sebagian besar orang memilikinya, kecuali jika orang tersebut sangat miskin. Kalian dapat dengan mudah memperoleh air hangat hanya dengan satu set kristal sihir api dan air. Karena aku sudah menyiapkannya saat Tiermina masak tadi, bak mandinya siap digunakan kapan saja. 

"Kalian bertiga bisa masuk duluan. Aku akan menunjukkan kamar tidur kalian nanti."

"Memangnya muat dimasuki tiga orang?" 

Saat aku membangun bak mandi tersebut, aku mendesainnya luas, agar nanti bisa kugunakan untuk memandikan Kumayuru dan Kumakyu saat mereka kotor. Ternyata, beruang-beruang itu akan kembali bersih setiap kali kupanggil, jadi hal itu tidak pernah terjadi.

"Tentu saja. Fina, tolong antar mereka ke sana."

"Yuna-san, kau ikut juga! Ibu nggak papa, kan, kalau Yuna ikut?"

"Tidak masalah, tapi kau yakin bak mandinya cukup?"

"Tenang saja. Bak mandi beruangnya sangat luas." Fina melebarkan tangannya untuk menunjukkan seberapa luas bak mandi tersebut. Dia pernah beberapa kali menggunakan bak mandiku saat tubuhnya kotor selepas memilah mayat monster.

"Bak mandi beruang?"

"Ibu akan tahu saat melihatnya nanti."

Fina meraih tanganku dan menarikku dari kursi. Dia kemudian membangunkan Shuri; sambil menguap, adiknya itu pun bangkit. Terakhir, dia meraih tangan ibunya. 

Sebelum kami beranjak ke kamar mandi, aku melirik Gentz. "Tolong jangan ikut masuk."

"Tidak akan!"

Kami berempat menuju kamar mandi.

"Pakaiannya dilepas disini," perintahku. Di jepang, ruangan ini disebut kamar ganti. Aku sudah menyiapkan masing-masing orang satu kotak untuk meletakkan pakaian.

"Yuna..." Tiermina memandang ke arahku.

"Ada apa?"

"Yah, ini pertama kalinya aku melihatmu menyingkap tudungmu."

"Bukannya kau masih bisa melihat wajahku terlepas aku mengenakan atau menyingkapnya?" Saat berjalan-jalan di kota, aku menarik turun tudung kostumku agar wajahku tertutupi, tapi akan kuangkat kembali jika bertemu dengan orang yang kukenal. 

"Kelihatan sih, tapi kau tampak sangat berbeda saat menyingkapnya. Aku tidak mengira kau punya rambut yang panjang. Rambut itu sangat mempengaruhi penampilan wanita, tahu?"

Aku menyentuh rambutku. Benar saja—rambut sepanjang pinggul ini tidak akan terlihat saat aku mengenakan tudung.

"Rambutmu indah, Yuna-san." Puji Fina.

"Oke, oke. Tak perlu menyanjungku seperti itu. Kalian bisa langsung masuk sana."

"Tapi aku tidak berbohong!"

Aku mengabaikan Fina, melepas kostum beruangku, dan masuk ke kamar mandi. Itu cukup luas hingga mampu menampung sepuluh orang. Ada dua patung beruang yang kuletakkan di sisi kanan dan kiri bak mandi. Satu berwarna hitam dan satu putih. Dari mulut kedua patung tersebut, air hangat terpancar keluar. Desainnya aku ambil dari pemandian air panas yang pernah kutonton di TV—mana mungkin hikikomori sepertiku berani masuk ke pemandian air panas seorang diri.

"Itu bak mandi beruang sungguhan," ujar Tiermina. 

"Pastikan untuk membasuh tubuh kalian sebelum masuk ke bak mandi."

"Kau punya sabun juga...kita seakan berada di kamar mandi bangsawan sekarang."

"Shuri, aku akan membasuhmu, jadi kemarilah."

Fina mendudukkan adiknya di kursi dan menyabuninya dari atas sampai bawah. Tiermina, yang tampak kecewa karena tidak bisa membasuh putri-putrinya, melirikku. "Yuna, haruskah aku membasuhmu?"

"Tidak perlu."

"Bukannya sulit untuk membasuh rambut panjang itu sendirian?"

"Memang, tapi aku bisa melakukannya sendiri."


Aku sudah terbiasa karena sering melakukannya. Aku duduk di sebelah Fina dan membasuh bersih tubuhku. Shuri, yang pertama kali selesai mandi, telah lebih dulu masuk ke air hangat. Ketika Fina hendak membasuh tubuhnya sendiri, Tiermina menangkapnya dan mulai memandikannya. Akhirnya, kami semua masuk ke bak mandi. 

"Yuna-san, kau punya tubuh yang bagus."

"Benarkah?" Pinggangku memang ramping, tapi dadaku...

"Aku turut prihatin dengan dadamu."

Dia seperti bisa membaca pikiranku. Memang sih kalau dadaku hanya sedikit lebih besar dari milik Fina, tapi rasanya aneh untuk membandingkan milikku dengan milik gadis sepuluh tahun.

"Aku berencana membuatnya besar nanti. Menjadikannya bam, shwoo, bam," tegasku. Masih ada beberapa tahun lagi sampai masa pertumbuhanku habis. 

"Aku penasaran apakah itu mungkin?"

"Apakah punyaku akan tumbuh juga nanti?" Tanya Fina. 

Aku membandingkan punya Fina dengan Tiermina. "Silahkan bermimpi sesukamu."

"Hey, itu sedikit kasar..." Tiermina menatap dadanya yang sedikit datar. Dibanding saat ia masih terbaring di atas kasur, miliknya yang sekarang sedikit lebih besar, tetap saja, miliknya masih terbilang rata. "Jangan khawatir, Fina. Punyamu akan tumbuh nanti, tidak seperti punya ibu."

"Aku ingin punyaku sama dengan Yuna."

Aku memeluk Fina, terharu dengan apa yang barusan ia bilang.

Terakhir, kami membelitkan handuk ke kepala dan keluar dari bak mandi. Saat kami kembali ke ruang tamu, kami mendapati Gentz duduk sendirian di sana, tampak kesepian. Ketika dia menyadari kami datang...

"Kalian mandi lama sekali!" Teriakannya menggema ke setiap sudut ruangan.




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

Realist Maou ni yoru Seiiki naki Isekai Kaihaku Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 62. Katak Raksasa

 Chapter 62. Katak Raksasa




Ketika kami menuju lantai 5, aku melihat lantainya terendam air, sama persis seperti yang Hanzo katakan. Itu seperti danau yang airnya hanya setinggi lututmu. Sepertinya inilah lingkungan yang Kelpie sukainya atau setidaknya, membuat mereka bisa berkeliaran.

Aku semakin khawatir dengan Yuri. Aku mempercepat lariku, tetapi pemandangan yang kulihat nyaris tidak terduga. Yuri sudah tidak lagi membawa tas apapun. Dia memegang pedang dan bergerak dengan lincah. Dia bahkan seimbang dengan Kelpie itu, yang mana sangat cepat jika berada di air, tidak, bahkan Yuri semakin lama semakin cepat.

Kelpie itu berteriak kesakitan ketika kulitnya terkelupas. Tapi Yuri tetap melanjutkan serangannya tanpa belas kasihan. Kelpie itu membalas serangan Yuri dengan ekornya. Serangan itu sangat kuat bahkan bisa saja menghancurkan tulang seekor Troll. 

Akan tetapi, Yuri menghindarinya dengan mudah. Terdengar suara dentuman yang keras dan air yang terciprat ke udara, tapi Yuri tetapi tenang sehingga dia bisa menemukan targetnya diantara cipratan air, kemudian dia menyerang Kelpie itu lagi.

Jayce, si pemimpin Party, melihat pertarungan itu dengan takjub. 

“Me-menakjubkan. Apakah itu benar-benar Yuri si penakut itu?”

si Sorceress melihat kejadian ini dan berkata,

“H-hah, dia lebih kuat darimu rupanya, Jayce.”

Sedangkan si Warrior,

“H-hey, apakah dia sungguhan…”

Aku mendengar mereka dan berkata.

“Ini adalah kekuatan sesungguhnya Yuri. Sepertinya kalian memaksa dia terlalu berlebihan. Mungkin saja dia akan balas dendam kepada kalian.”

Wajah mereka terlihat pucat ketika mendengar hal ini. Aku sangat senang melihat hal itu. Walaupun mereka tidak akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka pantas dapatkan, karena aku tahu kalau Yuri terlalu baik untuk hal semacam itu. 

Dia sudah menunjukkan kekuatannya dan menyelamatkan mereka. Kemudian dia akan kembali menjadi suruhan mereka. Tentu saja, posisinya di party itu akan naik. Dia tidak akan dipaksa untuk membawa barang bawaan mereka lagi.

Ya, itu sudah pasti terjadi.

Yuri terlihat melampaui Kelpie dan bersiap untuk meluncurkan serangan terakhir. Ekspresinya terlihat berubah. Matanya terlihat penuh fokus. Dia terlihat seperti pria dewasa.

Yuri menghindari serangan Kelpie, berguling ke arah depan dan menggunakan momentum itu untuk mendaratkan sebuah tusukan lurus diantara mata Kelpie tersebut.

Sebuah serangan yang fatal. Serangan yang mematikan.

Kelpie itu masih bergerak-gerak, tapi kepala dan otaknya sudah hancur karena serangan Yuri. Kemudian, tubuh besar Kelpie itu jatuh ke tanah. Rekan-rekan nya mulai memujinya, tapi ekspresi Yuri masih belum berubah.

Dia tidak marah karena mereka tiba-tiba merubah perilaku mereka kepadanya. Tapi itu karena dia tahu kalau ancaman yang bahkan lebih besar akan datang ke arah mereka.

“Tuan Jayce, Lari!!” 

Tepat ketika Yuri berteriak, jatuhlah seekor hewan raksasa dari langit-langit lantai 5.  Mahluk itu memiliki lidah yang panjang yang menjulur keluar. Kemudian makhluk itu memakan Kelpie, yang seukuran kuda nil, dalam sekali lahap.

“A-apakah makhluk itu baru saja memakan mayat Kelpie dalam sekali telan!?” ujar Jayce ketakutan. 

Makhluk itu mempunyai mulut selebar tubuhnya. Mahluk raksasa yang terlihat seperti kodok itu sekarang melihat ke arah kami. Jika makhluk itu bisa memakan Kelpie, yang mana setengah mamalia dan setengah ikan, maka ia pasti bisa memakan manusia.

Makhluk itu melihat kami dengan mata kelaparan. Kemudian dia menjulurkan lidahnya ke arah Warrior. Lidah itu melingkar dengan cepat melilit tubuhnya, dan ketika kodok itu menarik Warrior kearahnya, Jayce mendapatkan kembali keberaniannya dan memotong lidahnya dengan pedang miliknya. Dan begitulah Warrior tersebut terselamatkan. 

“..Yuri bukanlah satu-satunya petarung disini. Aku juga punya pengalaman!.” teriaknya dengan geram. Kemudian dia maju menuju kodok raksasa itu.

Sorceress yang melihat ini kemudian membantu mereka dengan menembakkan beberapa Fireball. Sedangkan si Monk mulai membebaskan Warrior yang sedang terluka.

‘Teman-teman…’ ujar Yuri dengan pelan ketika melihat hal itu. Sepertinya dia tersentuh dengan semua tindakan temannya. Tentu saja, dia segera berlari untuk membantu Jayce, yang menunjukan kalau dia itu kompeten.

Aku juga sedang mempertimbangkan apakah aku akan ikut menyerang kodok raksasa itu atau tidak, tapi setelah memikirkannya baik-baik. Aku memutuskan untuk membantu mereka. 

Begitu kami akan, aku mulai merapalkan mantra. Bukan mantra pendek seperti biasanya, tapi mantra dengan perapalan yang tepat. 

‘ Wahai Kekuatan air yang dipenuhi oleh ketenangan,

Kelilingi mereka dengan keberanian!

Water Barrier!’

Ketika aku selesai merapalkan mantra, lapisan air muncul mengelilingi semua anggota Party Yuri. Selama barrier air ini masih ada, lidah kodok raksasa itu tidak bisa melilit mereka. Barrier ini juga bisa memblock serangan kodok itu.

Ketika si Monk terkena tabrakan tubuh kodok raksasa, sangat jelas kalau dia akan mati. Akan tetapi, dia hanya menerima sedikit luka yang membuat dia terkejut.

“A-apa ini ?” katanya dengan kebingungan. 

Kemudian Yuri menjelaskan.

“Ini adalah mantra milik tuan Penyihir di sebelah sana.” Katanya sambil menunjuk ke arahku.

“Begitu rupanya. Saya berterima kasih atas bantuannya.” ujar Monk itu sambil membungkuk.

Kemudian aku berkata pada mereka, 

“Itu akan melindungi kalian dari serangan kodok itu, aku tidak akan membiarkan kodok itu menyerangmu dengan tubuhnya. Hati-hati dengan serangan lompat miliknya.”

Tepat setelah aku berkata seperti ini, kodok besar itu bergerak seperti apa yang aku prediksikan. Berkat peringatanku mereka bisa menghindari serangan itu, tapi sekarang mereka melihatku seolah-olah aku adalah semacam nabi atau peramal.

“Sayangnya aku hanyalah seorang Penyihir.” gumamku sambil memperhatikan Yuri.

Aku mempertimbangkan untuk memasang mantra penguat yang bisa meningkatkan serangan party nya Yuri, tapi aku memutuskan untuk lebih berfokus pada Yuri saja.

Jadi aku menambahkan atribut petir ke pedang milik Yuri. Sekarang pedang miliknya memiliki percikan listrik. Sekarang serangan Yuri akan lebih efektif untuk melawan kodok itu.

Yuri terkejut melihat apa yang terjadi pada pedangnya. 

“I-ini luar biasa ! Apa ini !?”

Akupun menjelaskan padanya.

“Ini adalah sihir listrik. Sudah jadi pengetahuan umum kalau makhluk air lemah terhadap petir.”

Yuri menangguk, kemudian dia berteriak.

“Terimalah serangan dari Tuan Astha ini!!” Teriak Yuri. Meskipun kodok raksasa itu tidak terlihat terintimidasi oleh itu, tapi dia terlihat bingung. Mungkin itu karena tiba-tiba serangan miliknya menjadi tidak efektif karena sihir pelindungku. Ketika kodok itu terlihat kebingungan, Yuri menusuk perutnya dengan menggunakan pedang. Pada saat yang sama, sihir petir terlepas, menyebabkan serangan yang diterima oleh kodok raksasa itu sangat besar .

Kodok yang besar dan bulat itu berteriak kesakitan dan beberapa saat kemudian jatuh ke tanah. Jayce dan yang lain melihat ini dan bersorak. Mereka lari ke arah Yuri, yang mana ternyata itu adalah sebuah kesalahan.

Karena kodok raksasa itu sebenarnya belum mati. Kemarahannya yang sangat besar menyebabkan dia bisa bangkit lagi secara tiba-tiba, kemudian dia mengeluarkan cairan asam yang kuat dari perut nya. Dia menggunakan ini untuk pertama kalinya.

Pelindung air yang kuberikan tidak bisa benar-benar melindungi mereka dari cairan asam itu, jadi aku menggunakan sihir teleportasi untuk maju kedepan dan menyelamatkan Yuri. 

Setelah aku memindahkan dia ke tempat yang aman, aku berkata,

“Kau monster yang cukup kuat. Tapi kau salah memilih lawan. Jika kau terlahir kembali, pilihlah untuk hidup menjadi katak pohon dan hidup di luar sana.”

Kemudian dalam sekejap, aku mengaktifkan sihir dengan tanganku. Itu adalah sihir petir. Lightning Bolt. Bola petir itu muncul entah dari mana dan mengenai targetnya dengan tepat. Kali ini, kodok raksasa itu benar-benar mati… kupikir. Kulitnya terbakar habis dan tergeletak tanpa bergerak. Ketika yang lain menyadari apa yang terjadi, mereka berteriak bahagia.

“Lu-luar biasa. Sungguh Penyihir yang hebat…”

“Kau sangat hebat Yuri, tapi Penyihir ini bahkan lebih kuat!”

Si Sorcerer berlari ke arahku dan membungkukkan kepalanya, ‘tolong angkat saya sebagai murid anda’

Sepertinya aku dan Yuri telah mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari mereka pada hari ini. 

Aku berbalik kearah Eve ketika mereka memujiku.

‘Aku tahu kalau kau akan menang.’ Kata Jeanne sambil menggigit daging kering.

‘Kerja bagus, Astaroth-sama.’ Kata Eve sambil menerima jubahku.

Dan begitulah bagaimana kami mengalahkan penjaga Dungeon lantai 5 ini. 


PREVIOUS CHAPTER       TOC        NEXT CHAPTER


TL: Tasha Godspell
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 05 Mei 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 220. Trap

 Chapter 220. Trap


 
Hari sudah malam, Aku mengajak Ren dan Motoyasu ke rumahku. Aku ingin melihat seberapa niat mereka untuk belajar. Aku menggunakan bahasa kerajaan ini sebagai soalnya. Meskipun Aku tidak tahu apakah mereka akan membenciku karena menjadi guru mereka.

... Beberapa hari belakangan ini kami selalu belajar setiap malam. Kecuali Motoyasu yang baru ikut belajar hari ini.

"Motoyasu, jika kau kemari hanya ingin bermain dengan Filolial, sebaiknya kau pergi!"

Motoyasu mengelus Filolial pengikutnya, kemudian berkata.

"Tidak mau! Jika Aku tidak bersama mereka, bagaimana bisa aku belajar di ruangan yang sangat berbau babi ini!"
".... Hufftt."

Menurut Motoyasu seluruh desaku beraroma babi, dan dia tidak bisa tahan berada disini. Satu-satunya cara dia bisa mengatasi aroma ini adalah dengan selalu dikelilingi Filolial. Aku mengabaikan Motoyasu dan mulai memeriksa pekerjaan Ren.

"Masih ada beberapa ejaan yang salah, tapi sepertinya kau sudah mulai memahami huruf-hurufnya."
"Ini karena Naofumi selalu bersabar mengajariku setiap malam."

Dia belajar dengan cukup cepat, padahal aku memerlukan waktu yang lama untuk memahaminya. Tentu saja belajar dari seseorang yang sudah bisa lebih cepat dibandingkan belajar lagi dari nol. Sangat sulit sekali untukku, apalagi nilai bahasa inggrisku standar. Mempelajari bahasa baru selalu memakan waktu yang lama. Karena bahasa ini penting bagiku, jadi Aku harus mempelajarinya hingga fasih.

"Jadi, Motoyasu. Bagaimana denganmu?"

Aku melihat kertas Motoyasu... Nilainya lebih tinggi dibandingkan bayanganku. Ini memang soal yang mudah, tapi 80% jawabannya benar. Dia mungkin seorang makhluk sosial di dunia asalnya. Dia mungkin lebih pintar dariku.

Aku tidak tahu kenapa orang sepintar dia kecanduan game online, tapi tidak penting bagiku untuk mengulik masa lalunya. Dan Aku juga tidak ingin terlalu tahu.

"Aku bekerja keras untuk Filo-tan."
"...Aku mengerti."

Jadi dia belajar dengan cepat karena ini adalah bahasa yang digunakan di dunianya Filo. Kurasa ini dapat kau sebut sebagai motivasi orang bodoh. Tidak penting asalkan juga asalkan dia tetap bersemangat belajar.

"Apa kau mengerti alasan kita mempelajari bahasa dari dunia ini?"
".... Untuk membantumu berjualan?"

Ren menjawabnya setelah berpikir untuk beberapa saat. Jika dia mengatakan 'untuk belajar sihir', maka aku akan langsung berhenti mengajarkannya. Kurasa dia telah melewati batasan tersebut.
Mungkin ini adalah kemampuan yang penting jika ingin mempelajari sihir, tapi jika dia menjawab seperti itu, maka itu berarti dia masih rakus akan kekuatan seperti sebelumnya.

"Itu salah satunya. Meskipun Aku tidak yakin bahwa itu isi pikiranmu."

Dia sepertinya masih memiliki keinginan untuk menyelamatkan dunia. Aku tidak akan menyalahkannya karena berpikiran seperti itu. Aku mengerti bahwa seakan terlalu keras kepadanya, tapi ini mindset seperti ini penting untuk dirinya sendiri. Agar dia tidak bertindak gegabah lagi. Dia seharusnya merasa beruntung karena Aku masih mau mengajarinya.

"Ren, akhir-akhir ini kau sering berlatih pedang. Apa kau mau kita terus melanjutkannya?"
"Tentang hal itu..."
"Hm?"

Ren tidak melihat ke arahku. Lalu dia melanjutkan perkataannya.

"Bolehkah aku, menjadi seperti Naofumi... Memiliki kesibukan lain di desa ini?"

Dia sepertinya mencoba untuk tidak membuatku curiga. Lalu dia menatap ke arahku dan berhenti berbicara. Setidaknya dia memiliki berani untuk mengatakannya. Meskipun Aku masih tidak tahu maksud dari perkataannya.

"Kesibukan... Maksudmu seperti membuat obat-obatan?"
"Sejak Aku datang ke desa ini, Aku dengar Naofumi selalu sibuk melakukan sesuatu. Memasak, membuat obat, membuat aksesoris, bahkan berlatih alkemis. Itulah kenapa aku juga ingin belajar sesuatu."
"Mimpiku adalah menjadi penggembala Filolial." Sela Motoyasu.
"Motoyasu, diamlah sebentar."

Jadi begitu... Ren sudah mulai tertarik dengan produksi. Apa karena itulah dia sering sekali berlatih pedang? Sebagai Hero, jika dia sudah membuka senjata spesifik, maka kau dapat memiliki kemampuan memproduksi sepertiku. Jika dia ingin melakukannya, Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya...

"Aku mengerti keinginanmu. Jadi kau ingin menjadi orang yang dapat membuat sesuatu?"

Karena Kutukan dari Greed, Ren tidak bisa memegang uang, dan monster dropnya menurun. Efek samping yang diberikan sangat tidak menguntungkan karena menyentuh perunggu saja langsung menjadi abu.
Meskipun aku mengizinkannya, belum tentu dia berhasil melakukannya.

Pada intinya, skill yang digunakan Curse Series belum di perkuat sepenuhnya, jadi efek sampingnya cukup singkat.
Kurasa itu membutuhkan waktu satu bulan untuk sembuh. Ditambah lagi dengan Kutukan Gluttony bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan. Aku tidak tahu berapa lama sampai dia membaik.

"Be-benar... Saat Aku melihat anak-anak di desa sedang bekerja. Aku merasa tidak boleh tetap diam seperti ini."
"Hmm...."

Aku mengerti perasaannya. Sebagian besar penduduk desa memiliki keterampilan untuk membuat sesuatu. Ditambah lagi mereka hebat dalam berjualan. Jadi dia mengawasi mereka selama ini.

"Saat kutukanmu sudah mulai melemah, Aku akan membiarkanmu memutuskan sendiri ingin melakukan apa."
"Baiklah."

...Bukankah Pemandian Air panas di Pulau Cal Mira memiliki kemampuan untuk mengurangi efek kutukan? Meskipun kau tidak bisa langsung menghilangkannya. Jika Aku mengingat saat sedang dalam kutukan, yang seharusnya memakan waktu selama satu bulan menjadi lebih cepat menghilang saat Aku berendam disana. Meskipun setelah itu Aku menggunakan Blutopfer lagi, jadi statusku menurun kembali.

Karena kita memiliki skill teleportasi, Aku harus mencoba untuk kesana lagi. Apa Aku harus mencoba pergi kesana malam ini... Meskipun tujuan utamanya adalah untuk pengobatan, ini terdengar sedikit menyenangkan. Apa ada Hero lain yang dapat berteleportasi kesana? Meskipun pulaunya tidak terlalu jauh, semakin cepat semakin baik.

"Hei, apa diantara kalian ada yang bisa berteleportasi ke Pulau Cal Mira?"
"Hm? Aku belum menempatkan tempat berteleportasi disana. Dan sewaktu ada event pulau itu memiliki semacam pelindung yang menahan skill teleportasi."
"Bagaimana dengan sekarang?"
"Seharusnya sudah bisa. Tapi kita tidak akan mengetahuinya kecuali kita mencobanya."

Mungkin bukan ide buruk untuk pergi ke pemandian air panas. Nanti Aku akan mengirim Motoyasu untuk pergi kesana, dan menunggu hingga dia kembali. Aku juga bisa menyerahkan tugas ini kepada Ren jika Motoyasu tidak mau pergi. Aku penasaran apakah Hero bisa berteleportasi secara bersamaan.

"Pertanyaanku selanjutnya adalah apakah bisa Hero yang berada di satu party yang sama berteleportasi."
"Aku belum pernah mencobanya... Jadi Aku tidak tahu."

Kurasa Aku akan melakukan eksperimen nanti. Aku akan mencoba untuk berteleportasi ke suatu tempat bersama Motoyasu nanti.

"Mo-kun, apa kau masih belajar~?"
"Iya, Marin-chan. Aku ingin belajar dengan giat agar Ayah memberi restunya."
"Muuuu!"

Setelah mendengarnya, Merah dan Hijau memukul-mukul Motoyasu berkali-kali. Ngomong-ngomong, Aku tidak akan memperbolehkan mereka masuk kedalam rumah kecuali berada dalam wujud manusia. Mereka membuat perjanjian yang sama dengan Filo. Jika mereka melanggarnya, Aku akan langsung menghukumnya.

"Marin-chan?"
"Tidak usah ikut terlibat, Ren."
"Yaa, Aku tidak terlalu yakin. Tapi bukankah bagus jika memiliki teman mengobrol? Aku sedang memikirkan hal seperti itu belakangan ini."

Jadi dia telah belajar dari pengalaman. Dia tidak salah jika menginginkan teman bicara, tapi seharusnya dia tidak menanyakan itu kepada Motoyasu. Motoyasu itu seperti ladang ranjau, kau harus berhati-hati ketika berada di dekatnya.

"Aku senang kau bertanya!"

Mata Motoyasu bersinar setelah mengatakannya. Ah, kau sudah menginjak salah satu ranjau itu. Motoyasu mulai bersemangat menjelaskan tentang ketiga pengikutnya itu. Aku sama sekali tidak tertarik.

"Pertama, anak yang berwarna merah ini namanya Kuu-chan. Aku memberinya nama dari Crimson. Selanjutnya yang berwarna biru bernama Marin-chan. Asal usul namanya berasal dari Aquamarine. Dan yang terakhir adalah Midori, namanya sesuai dengan warnanya."
““"Senang bertemu denganmu!"””
<TLN : Crimson = Kurimuson, jadi Kuu. Aquamarine = Akuamarin, jadi Marin. Bahasa jepang Hijau = Midori.>

Ketiganya dengan cepat membungkukkan badan. Tapi tatapan matanya berbeda saat melihatku dibandingkan dengan saat melihat Ren. Burung-burung ini... Termasuk Witch, Motoyasu selalu memiliki tiga wanita yang mengikutinya kemanapun dia pergi. Bahkan saat dia menjadi orang mesum gila seperti ini, dia masih saja tetap dikelilingi wanita. Tapi, kali ini mereka bertiga menyukai Motoyasu.

"Be-Benarkah?"
"Motoyasu-san, apa begini cara mengerjakannya?"

Midori mengambil kertas soal dan mulai mencoret-coretnya. Jika Aku melihatnya dengan dekat, dia menjawab semua pertanyaan itu dengan benar. Apa dia menyontek? Tidak, Aku mengawasi Motoyasu saat dia sedang mengisi jawabannya, jadi tidak mungkin dia melakukan kecurangan.

"Midori. Kau pintar sekali."
"Mu!"

Merah dan Biru mengeluarkan suara iri. Masing-masing dari mereka memiliki kepribadiannya tersendiri... Tapi Aku tidak peduli.

"Ehehee..."

Yang berwarna hijau terlihat yang paling pintar.

"Oh, iya. Bukankah dia yang tidak bertarung menggunakan wujud monster?"
"Iya, dia bilang lebih mudah untuk bertarung dalam wujud malaikat." Jawab Motoyasu.
"Hmm..."

Aku melihat mereka berdua (Biru dan Merah) selalu berada dalamwujud monsternya, tapi Aku belum pernah melihat wujud monster si Hijau. Hm? Apa mereka bertiga memiliki peringkat untuk memutuskan siapa yang terkuat...? Yang merah terlihat lebih dingin.

Apa ini hanya imajinasiku saja? Saat Aku melihatnya, Aku langsung membenci si Merah. Dia mengingatkanku dengan wanita itu.
Entah kenapa, aku merasa rambut merahnya menunjukkan sifat teguh pendirian, sama halnya dengan wanita itu.

"Itu karena kakiku tidak sekuat Kuu dan Marin."
"Aku mengerti..."

Jadi dia adalah ras Filolial yang tidak bagus menggunakan tendangan? Padahal dalam wujud manusianya dia menggunakan kapak besar yang terlihat sangat berat. Aku harus lebih mempelajari jenis-jenis Filolial.

"Dilain sisi, Midori hebat dalam mengidentifikasi racun, membuat obat, dan hal lainnya."
"Aku mengerti."
"Tuan, kau memiliki tatapan yang jahat, dan sangat buruk dalam berinteraksi tidak seperti Motoyasu-san. Tapi tidak perlu khawatir, Aku tidak akan menahan diri denganmu."
"Apa maksudmu!?"

Filo selalu memiliki keinginan untuk dapat menembakkan racun (Toxic). Tapi yang satu ini sangat toxic (Bermulut kotor)... Tapi Aku tidak akan mengatakan hal ini kepadanya.

" Ayah tidak perlu memikirkannya. Anak-anak biasa berbicara seperti itu."
"Aku memikirkannya. Suruh dia keluar! Mulut kotor seperti itu dapat menyebabkan masalah."
"Baiklah.... Maafkan Aku Midori, tolong pulanglah ke rumah."
"Tidak! Motoyasu-san! Biarkan Aku tetap disini! Seperti perkiraanku, Aku..."

Motoyasu perlahan mengantar Midori keluar ruangan. Luar biasa! Apa perkataanku benar-benar absolut? Aku tidak akan memerintahkannya untuk membunuhnya atau semacamnya. Tapi bagus untuk mengetahui siapa pemimpinnya disini.

"Ada yang aneh..." guam Ren.

Setelah melihat Midori diusir keluar, Ren memasang wajah aneh. Sepertinya dia menyadari sesuatu.

"Ah, Midori adalah satu-satunya laki-laki dari para malaikatku yang menetas. Apakah karena itu?" sebut Motoyasu.




TLChopin
EDITOR: Bajatsu
PROOFREADER: Isekai-Chan

Selasa, 04 Mei 2021

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 18 : Chapter 5 – Kaldu Sup Ultimate

Volume 18
Chapter 5 – Kaldu Sup Ultimate


Sore hari berikutnya.

Glass dan yang lainnya telah membawa Kizuna keluar berburu untuk meningkatkan levelnya sedikit sebelum keberangkatan kami ke tempat koki spesial, dan mereka baru saja kembali. Aku mulai merasa seperti aku hanya melakukan 3 hal saja akhir-akhir ini: berkelahi, melatih, atau memasak. Aku benar-benar ingin menambahkan seseorang yang bisa memasak ke party untuk menggantikanku. Sebelum keberangkatan kami, aku berada di dapur, menyerahkan tugas memasakku kepada salah satu koki lain. Saat itulah Kizuna, Raphtalia, dan yang lainnya datang mencariku.

Aku menyapa mereka sambil menguap lebar. Aku terjaga sepanjang malam, tetapi bahkan aku tidak sepenuhnya yakin bagaimana — atau mengapa — hal itu bisa terjadi.

"Tuan. Naofumi, kau baik-baik saja?” Tanya Raphtalia.

"Aku baik-baik saja, meski aku ingin tidur saat kita diperjalanan," kataku. Aku tidak tidur sedetikpun sejak kemarin. Rasanya buang-buang waktu saja.

"Master, kau harum," kata Filo.

“Aku telah memasak beberapa hidangan yang sangat sulit dan membutuhkan waktu lama,” aku menjelaskan.

"Raph!" tambah Raph-chan.

“Tentu saja, Raph-chan telah membantu. Familiar S'yne juga,” kataku. Mereka muncul di malam hari dan membantu dengan berbagai cara. Ada kekhawatiran jika makanannya nanti akan dipenuhi dengan bulu, tapi Raph-chan selangkah lebih maju dariku. Dia mengenakan semacam karung dan tudung yang dimana hanya cakar kecilnya saja yang terlihat, melindungi makanan dari bulunya.

S'yne memerintahkan familiarnya untuk membantu dan mengenakan pakaian yang serupa. S'yne sendiri telah membuatku takut karena tetap berada di dapur dan tidur dengan mata terbuka.

"Aku mengerti... Aku akan membantu lain kali, oke?” Kata Raphtalia. S'yne tidak mengatakan apapun tapi ia membuat simbol kemenangan dengan tangannya, melihat itu, Raphtalia menggembungkan pipinya, cemberut.

“Ada apa, Raphtalia? Merasa seperti S'yne dan Raph-chan telah melangkahimu?” Aku mengejek.

"Tidak! Bukan seperti itu!" dia membalas segera. Hah, dia sangat mudah dimengerti. Raph-chan lebih mengerti kebutuhanku, itu benar, tapi Raphtalia telah banyak membantuku. Dia secara berkala membantu memasak, dan selalu mengulurkan tangan ketika ada hal-hal yang perlu dicuci.

"Ada beberapa teknologi unik seperti di dunia fantasi yang membantu berbagai hal, contohnya mengontrol suhu," kataku. Kadang-kadang aku memang harus menggunakan kayu bakar atau arang untuk menyesuaikan suhu, tetapi di sini mereka memiliki alat yang hampir mirip seperti kompor gas dan dioperasikan dengan ofuda, membuatnya cukup mudah untuk mengontrol suhu saat memasak. Mungkin cukup mahal untuk dioperasikan, tapi ini adalah kastil L'Arc, dan belum ada yang memprotesku tentang hal itu.

Kapan pun aku memasak, entah dimanapun itu — baik di Siltvelt maupun Q'ten Lo— koki lain akan datang, mata mereka berbinar, untuk melihat apa yang aku lakukan. Beberapa dari mereka memang memberiku tatapan jengkel, tapi itu mungkin hanya tindakan untuk mempertahankan harga diri mereka sebagai koki. Aku mengerti bahwa kehadiranku mempengaruhi kebanggaan mereka sebagai koki pada posisi teratas.

Namun, setelah beberapa saat, orang-orang seperti itu hilang begitu saja atau mengubah sikap mereka dan mulai membuat catatan.

"Aku sudah tidak sabar untuk makan!" Kata Filo.

"Aku mencoba segala macam hal baru, jadi kau bisa menantikannya," kataku padanya.

"Bagus!" dia menjawab.

"Raph!" kata Raph-chan. Adegan sebelum keberangkatan kami ini, diamati dengan ekspresi agak bingung oleh Kizuna dan sekutunya, termasuk Glass serta L'Arc. Ethnobalt kembali ke Perpustakaan Labirin Kuno, melakukan beberapa pencarian lebih lanjut dengan tujuan memberi kami lebih banyak informasi. Dia telah mempraktikkan penggunaan kekuatan kehidupan dan telah mengembangkan skill seperti Rishia, jadi dia bisa bertarung dengan cukup baik bahkan sendirian. Bagaimanapun juga, dia adalah master perpustakaan.

Itsuki dan Rishia, sementara itu, akan fokus membaca teks kuno dengan Ethnobalt dan membantu persiapan dalam melawan gelombang di kota kastil dan negara lain.

"Apa yang kau buat, bocah?" L'Arc bertanya.

“Hanya bereksperimen, sungguh. Kuharap kau mau memberi penilaianmu setelah kau mencicipinya,” kataku. Aku sendiri pernah gagal memasak — tentu saja. Aku selalu bereksperimen dan memverifikasi berbagai hal. “Contohnya — Raphtalia mungkin sudah mengetahui hal ini — aku melihat ada perbedaan pada kualitas akhir jika aku memasukkan kekuatan kehidupan ke dalam hidangan. Eksperimen semacam itu.” 

“Aku tahu maksudmu,” kata Raphtalia.

“Itulah mengapa aku hanya bisa membiarkan kalian mencicipinya setelah aku mencoba membuatnya sekuat tenaga. Kalau tidak, ini akan sia-sia,” kataku kepada mereka. Yang benar-benar ingin aku bandingkan adalah seberapa besar perbedaan antara dua versi dari hidangan yang sama, yang satu mudah dibuat dan yang satunya lagi lebih sulit.

“Jadi ini adalah masakan yang kau buat dengan seluruh kemampuanmu, bocah...” L'Arc, Kizuna, dan sekutu lainnya, semua menelan ludah secara bersamaan. Aku hampir bertanya kepada mereka apakah memakan terlalu banyak masakanku benar-benar merupakan masalah. Saat ini, mereka tampak seperti tidak sabar untuk memakannya.

“Kau mengatakan 'mengerahkan seluruh kemampuanku’, tapi disitulah masalahnya. Setelah mempelajari cara menambahkan kekuatan kehidupan, aku melakukan beberapa verifikasi sederhana dari teknik tersebut, dan disitulah kesulitannya. Aku harus mencoba menemukan titik yang tepat di antara keduanya,” jelasku.

"Begitu," kata Raphtalia.

“Aku benar-benar ingin kau dan Kizuna membantuku dan mengasah kemampuan kalian sendiri,” kataku pada mereka. “Terutama kau, Kizuna. Kau mungkin membutuhkan ini setelah kami kembali ke dunia asal kami.”

"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menjadi semahir dirimu, Naofumi! " Kizuna sadar diri.

“Aku juga ragu aku bisa menyamai kemampuanmu, Tuan Naofumi. Ingat saat kau membuat ulang hidangan untuk Fohl hanya berdasarkan ceritanya saja?” Kata Raphtalia, menyerangku secara tak terduga dari belakang. Dulu, Fohl ingin membuat hidangan untuk Atla yang biasa dibuat oleh orang tua mereka. Dia tidak puas dengan hasil buatannya sendiri, tetapi aku telah membuatnya kembali berdasarkan ceritanya. Kedengarannya itu sedikit membebani pikiran Raphtalia, tapi... aku tidak akan tahu tentang itu.

"Tidak sesulit itu. Kalau tidak, kau harus bergantung pada Ethnobalt,” kataku padanya. Dia mungkin satu-satunya di antara sekutu Kizuna yang secara sadar dapat menambahkan kekuatan kehidupan. Glass dan beberapa lainnya bisa menggunakannya dalam pertempuran, tapi mereka tidak bisa menggunakannya saat membuat sesuatu.

“Kau pandai mengolah ikan, Kizuna, jadi kau setidaknya harus mengaplikasikannya pada sashimi dan hot pot,” kataku. Karena Kizuna suka memancing, dia juga menyukai resep ikan dan sering membuat sashimi atau hot pot. Jika dia meluangkan waktu untuk mempelajarinya, aku cukup yakin dia bisa membuat sesuatu yang sangat mirip denganku. Tidak harus sesuatu yang terlalu mencolok.

“Raphtalia, kita punya seseorang di desa yang suka memasak, kan? Mereka berhasil melakukan ini, dengan teknik pengajaran yang benar,” kataku padanya. Aku berbicara tentang orang yang menangani dapur di desa. Maksudku, Kau harus mencurahkan cukup banyak waktu dalam hal memasak untuk menciptakan kembali apa yang kubuat di sini, itu semua benar. Aku menilai bahwa mereka telah mencapai titik yang cukup baik, tetapi perkembangan tahap selanjutnya akan sulit.

“Aku akan melakukan yang terbaik,” kata Raphtalia.

"Senang mendengarnya," kataku. Koki di kastil L'Arc juga pernah membuat hidangan serupa di masa lalu. Mereka mampu mengatasi perbedaan tertentu dalam resep karena mereka adalah koki spesialis. Aku telah memasukkan kekuatan kehidupan ke dalam bahan-bahan masakan, jadi koki kastil seharusnya bisa menangani sisanya.

"Wow... ada banyak panci besar di sana. Apakah semua isinya sama?” Kizuna bertanya.

"Tidak. Aku membuat bouillon, fond, and consommé. Semua menggunakan bahan lokal tentunya, jadi sedikit berbeda dengan resep aslinya,” laporku.

“Ini semua terlihat sama bagiku. Apa perbedaannya?" Kizuna bertanya. Aku menggelengkan kepalaku, terkejut karena Kizuna tidak tahu apa bedanya.

"Ini semua terlihat seperti sup ikan bagiku," gumam L'Arc. Itu adalah sebutan untuk masakan yang mirip dengan consommé di negara L'Arc.

“Kau seorang raja dan kau tidak bisa membedakan beberapa hidangan sederhana?” Protesku.

“Berisik! Biarkan aku memakannya dan aku akan memberitahumu perbedaannya, tapi aku tidak tahu bagaimana cara membuatnya,” balasnya. Harus aku bouillon, fond, and consommé memang terlihat sangat mirip.

“Kaldu coklat itu sudah dibuat sebelumnya, bukan?” Kizuna bertanya. 

“Tidak, itu fond de veau. Resep aslinya menggunakan tulang dan urat sapi, digoreng hingga kecoklatan lalu direbus. Reaksi Maillard menciptakan warna tersebut. Kali ini aku menggunakan bagian dari monster sejenis dan mencokelatkannya di oven,” jelasku.

“Jadi ini sup daging?” Kizuna bertanya.

"Tepat sekali. Ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang menggunakan ikan atau unggas lain dan masih bisa disebut sebagai 'fond' tetapi memiliki nama yang berbeda,” kataku sambil menunjuk ikan putih fumet de poisson dan chicken fond de volaille. “Ada monster babi hutan yang kualitasnya mirip dengan dagingnya, jadi mungkin lebih mirip dengan fond de gibier? Rasanya lebih seperti fond de veau, jadi begitulah aku menyebutnya.” Setelah ini, aku juga berencana untuk meneliti lebih lanjut resep fond de veau dan membuat glace de viande untuk memeriksa apakah ada perbedaan dalam jumlah exp yang akan didapatkan.

“Kau sudah terlalu menjadi ahli memasak bagiku,” kata Raphtalia, sepertinya sudah menyerah. Aku hanya mengatakan semua ini karena mereka bertanya tentang itu!

“Langkah selanjutnya adalah mengubahnya menjadi masakan seperti semur. Rasanya benar-benar berbeda dari yang biasanya dibuat,” kataku. Masakan ini sulit dibuat bahkan di Jepang, tetapi upaya ekstra memang membuahkan hasil. Stew adalah salah satu hidangan favorit saudara laki-lakiku. Aku jarang repot-repot membuat hidangan mewah, karena semua langkah ekstra yang harus dilakukan untuk membuatnya.

“Kau bukannya tidur tetapi malah memasak semalaman, ya?” Kata Kizuna.

"Kurang lebih. Ada beberapa hal yang dapat kau abaikan saat memasak dan beberapa hal yang mutlak harus kau lakukan. Unsur-unsur ini adalah hal yang tidak bisa kau kendalikan, tetapi itu juga tampaknya benar-benar meningkatkan exp yang diberikan, jadi itu bukan usaha yang sia-sia,” kataku.

"Bocah... lihat dirimu, melakukan semua ini untuk kita...” Kata L'Arc. Aku menatap mereka sejenak. L'Arc, Glass, dan Kizuna semuanya menatapku dengan penuh perhatian. Aku bertanya-tanya apakah aku telah mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

“Ngomong-ngomong, yang paling membutuhkan usaha — dan yang paling penting — adalah kaldu. Kau tidak bisa membuat hidangan tanpa itu. Raphtalia, Kizuna, aku ingin kalian berdua mempelajarinya. Kalian harus bisa membuatnya!” Kataku. Itu dibuat dengan persiapan yang cermat dari tulang ayam dan urat daging sapi, yang kemudian direbus bersama dengan sayuran. Kau harus mulai dengan api besar, mengecilkannya segera setelah mendidih, pastikan untuk menghilangkan buih dan lemak yang mengapung di atasnya. Setelah rebusan selesai, saring dengan hati-hati. Kemudian kaldu tersebut bisa digunakan sebagai bahan dasar untuk semua jenis hidangan, jadi patut untuk dipelajari — kaldu sup yang dapat digunakan dalam banyak resep berbeda. Tentu saja, begitu kau membahas hal-hal seperti rasio bahan, tidak akan ada habisnya, jadi itu juga cenderung sangat mencerminkan selera pribadiku,

"Kelihatannya sangat jernih dan indah," kata Filo, matanya berkilauan saat dia melihat kaldu. “Seperti kau bisa meminumnya langsung.”

"Ini adalah kaldu, bukan hidangan yang sudah jadi," aku memperingatkannya. 

"Oke," katanya.

"Kau harus mulai mempelajarinya dari sini, lalu kemudian membuat fond de veau dan consommé," kataku. Membuat ini butuh usaha keras melawan kekeruhan kaldu. “Bouillon seperti kaldu sup ultimate.”

"Walaupun kau berkata begitu," kata Kizuna, sedikit ragu dengan proklamasiku. Bagaimanapun juga, dia akan segera membuat ini.

“Kizuna, Raphtalia, kalian berdua masih kurang pengalaman. Aku akan mengajari kalian beberapa resep yang menggunakan kaldu untuk jumlah sajian sedikit, jadi pastikan kau mempelajarinya nanti,” kataku kepada mereka. Membuat sepuluh liter kaldu saja menggunakan bahan yang cukup banyak — terkadang memerlukan jumlah otot daging sapi dan tulang ayam yang sama.

"Apa! Aku Pahlawan Berburu! Aku tidak menangani bagian memasak! " Kizuna mengeluh.

"Dan aku Pahlawan Perisai!" Balasku. Bukan Pahlawan Panci! Jika ada yang memanggilku seperti itu, aku akan membunuh mereka dengan masakan!

"Melihat bagaimana sosis sebenarnya dibuat, aku bisa mengerti mengapa makananmu sangat lezat," gumam Glass, matanya menjauh.

“Aku hanya ingin kau mempelajari hal ini. Kau juga, Glass,” jawabku.

Kemudian kami mulai menuju kota dengan koki terkenal. Itu bukan negara yang bisa kita jangkau menggunakan Return Dragon Vein. Untuk membuat berkeliling lebih mudah begitu kami berada di sana, kami membawa cermin besar untuk ditempatkan di sana begitu kami tiba. Vassal weapon cermin memiliki skill yang memungkinkanku untuk bergerak melalui media cermin. Namun, aku merasa — secara naluriah— bahwa skill ini memiliki tujuan lain juga. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan melakukan beberapa percobaan.

Namun, dengan membawa cermin bersama kami, itu berarti kami bisa bergerak dengan cara yang mirip dengan jarum S'yne.

Malam itu, Kizuna dan yang lainnya makan terlalu banyak lagi. Namun, situasinya lebih baik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Aku harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kusajikan.




TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan