Kamis, 13 Juni 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 19. Ingatan / Black Beast

Chapter 19. Ingatan / Black Beast




[00.17]


Dalam 17 menit, gelombang yang diantisipasi akan datang.
Kabar ini seharusnya telah diketahui oleh seluruh kota.
Para kesatria dan petualang sudah bersiap untuk pengirimannya, para penduduk juga sedang berlindung di dalam rumahnya.
Karena aku adalah hero, aku bahkan tidak bisa mencoba untuk kabur karena kekuatan dari jam pasir itu.
Anggota partyku juga terkena efek itu, sepertinya Raphtalia akan ter-teleportasi bersama denganku.

“Hampir tiba waktunya, Raphtalia.”
“Baik!”

Raphtalia mengangguk dengan antusias dan gembira.
Yah, aku tidak akan protes karena ini adalah suatu berkat melihatnya sangat termotivasi.

“Naofumi-sama… bisakah aku berbicara denganmu sebentar?”
“Hm? Sekarang masih bisa, apa yang mengganggumu?”
“Ah tidak, entah mengapa aku sangat bersemangat karena kita akan menghadapi bencana ini sebentar lagi.”

… Kenapa dia berbicara seperti ini dan menancapkan death flag-nya sendiri?
<TLN : death flag -> singkatnya seperti tanda-tanda orang mau mati>

Aku akan melindunginya karena akan menyusahkan jika dia mati… Tunggu, ini bukan seperti aku yang biasanya, aku telah teracuni dengan berbagai anime dan manga.
Meskipun dunia ini seperti game, tidak, ini bukan game. Ini adalah dunia nyata.
Dan lihat itu, para hero kurang ajar itu memiliki perlengakapan yang bagus. Aku bahkan tidak tahu apakah armorku cukup kuat atau tidak.
Sepertinya aku akan mendapatkan beberapa luka.
Akan bagus, jika pertarungan ini berakhir dengan penuh luka, karena aku akan mati.
Jika itu terjadi, tumpukan sampah di kota ini pasti akan bergembira di depan mayatku.

--- Akhir yang pantas untuk kriminal.

… Mari hentikan itu. Jika aku terus berpikir seperti ini, aku tidak akan bisa bertarung.
Demi keberlangsungan hidup selama sebulan kedepan.

“Kenyataannya adalah… aku diperbudak akibat dari munculnya bencana yang pertama.”
“... Apa itu benar?”

Tentu saja, kemungkinan kecil seperti itu akan terjadi.

“Aku dulu hidup di wilayah terpencil di kota ini. Desa demi-human tempat aku tumbuh berfokus pada pertanian dan peternakan. Itu juga merupakan tempat gelombang pertama muncul.”

Orang tuanya adalah orang yang baik dan semua penduduk desa hidup dengan damai.
Namun, Sejumlah pasukan Tengkorak datang dari dalam gelombang bencana.
Pasukan tengkorak awalnya hanyalah masalah jumlah, jadi para petualang masih dapat menekan mereka.
Namun binatang buas, dan lebah raksasa terus berdatangan dalam jumlah yang banyak. Karena itu, baris pertahanan pun hancur.
Kemudian Cerberus berkepala 3 yang berwarna hitam muncul. Dan para penduduk desa diinjak-injak seolah mereka adalah tunas yang tidak berguna di hutan belantara.

Karena desa Raphtalia menjadi sepi dan terlihat kosong, para penduduk desa mencoba untuk melarikan diri.
Namun, monster tidak kenal ampun. Mereka membunuh semua penduduk desa seolah itu adalah olahraga terbaik di dunia.
Dan seperti yang lain, Orang tua Raphtalia membawanya dan kabur hingga mencapai tepi tebing laut.
Mengetahui bahwa kabur itu hal yang sia-sia, Kedua orang tua Raphtalia tersenyum.
Mereka tidak menggunakan waktu itu untuk kabur, namun dengan lembut membelai kepala Raphtalia.

“Raphtalia… mulai sekarang, kau mungkin akan menemukan masalah sendiri. Dan mungkin juga kau akan mati karena masalah itu.”
“Tapi kau tahu Raphtalia? Kami berdua ingin kau untuk terus hidup… jadi maafkan keegoisan kami.”

Meskipun dia masih muda, dia tahu didalam hatinya bahwa orang tuanya hanya ingin dia selamat.

“Tidak! Mama! Papa!”

Don!
Satu harapan besar mereka adalah Raphtalia bisa hidup, jadi mereka mendorongnya ke tebing.
Ketika dia jatuh, Raphtalia melihat pemandangan orang tuanya sedang di makan oleh sesosok monster.

Raphtalia tercebur kedalam laut, dan ajaibnya dia berhasil selamat dan terbawa arus hingga ke-tepian pantai.
Setelah sadar, Raphtalia bangkit dan kembali menuju tebing demin untuk mencari orang tuanya.
Setelah itu, monster itu telah ditangkap oleh petualang dan pasukan kesatria.
Berjalan menyusuri laut, dia berhasil menemukan orang tuanya.
Ditempat itu terdapat bayak sekali darah… dan potongan daging berserakan.
Mengetahui orang tuanya mati, Raphtalia terjatuh ketika sesuatu dalam dirinya meledak.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak”.

Kemudian dia berpetualang tanpa tujuan, menangis dan mengharapkan kehangatan dari orang tuanya seakan ingin keluar dari kenyataan.
Dan tanpa disadari, dia sudah dikurung di ujung tenda sirkus yang gelap itu.
Tempat itu… setara dengan neraka.
Setiap hari, seseorang dibeli dan dikembalikan.

Raphtalia adalah salah satu kasusnya.
Pada awalnya, mereka berniat menjadikannya pelayan. Seorang bangsawan yang kaya membelinya dan mencoba mengajarinya berbagai hal.
Namun penyakit batuknya menimbulkan masalah, dan dia selalu berteriak dengan sangat keras saat tengah malam.
Karena itu, dia dikembalikan ke tenda esok harinya.
Pembeli selanjutnya juga berusaha mengajari Raphtalia berbagai hal baru, namun dia juga dikembalikan esok harinya.
Pembeli sebelumku adalah pembeli yang paling tidak ramah di antara semuanya.
Dia membelinya pada malam hari, mencambuknya semalaman, dan menjualnya. Esok harinya dia dalam keadaan compang-camping dan robek.
Aku tidak terkejut bahwa kota ini memiliki orang gila yang merasa bahagia dengan menyakiti orang lain.
Dia rusak karena penyakit, hatinya hampir hancur karena mimpi buruk yang terus terulang, dan dia berulang kali digunakan dan ditinggalkan… Kemudian aku datang membelinya.

“Kau tahu, aku sangat senang karena telah bertemu denganmu Naofumi-sama.”
“... ya”
“Soalnya kau adalah orang yang mengajariku bagaimana cara hidup yang benar.”
“... ya”

Tanpa sadar aku menjawab cerita Raphtalia dengan konstan.
Ini tidak terlalu penting.

“Karena itu, berikan aku kesempatan. Kesempatan untuk menghadapi gelombang ini.”
“... ya”
“Baiklah, aku akan berusaha.”
“Ya, lakukanlah yang terbaik.”

Meskipun begitu, aku pikir aku bertindak terlalu kejam.
Bagaimanapun, diriku yang dulu hanya bisa bertindak buruk.


[00.01]


Kita memiliki satu menit lagi.
Aku mempersiapkan diri untuk teleportasi.


[00.00]


Bikin!*

Suara yang memekakan telinga menggema di seluruh dunia.
Setelah itu, pandanganku memerah dan area di sekitarku berubah, sepertinya aku sudah di pindahkan.

“Langitnya…”

Berwarna merah wine dan bercorak, pecahan mulai terbuka dan menyebar ke penjuru langit yang menghubungkan ke dimensi lain.

“Jadi ini… ”

Ketika memperhatikan pemandangan ini, tiga bayangan melewatiku diikuti dengan 12 orang.
Para hero kurang ajar.
Aku mengikuti mereka karena itu adalah hal yang wajar, namun kemana mereka akan pergi?
Sambil berlari, aku melihat musuh di pecahan itu merangkak keluar dan mendorong satu sama lain.

“Disekitar sini ada Desa Rituuyo!”

Seru Raphtalia setelah melihat sekitar.

“Karena ada persawahan, kemungkinan masih banyak orang yang hidup disini!”
“Namun semuanya seharusnya sudah di evaku--”

Kemudian aku menyadari sesuatu.
Kita tidak pernah tahu dimana gelombang bencana akan datang kan? Jadi bagaimana kita tahu tempat yang perlu di evakuasi?

“Para orang bodoh, tunggu sebentar!”

Menolak panggilanku, ketiga hero bodoh itu terus berlari menuju sumber gelombang.
Ketika itu sejumlah grup laba-laba terpisah dari kumpulan monster lainnya, langsung pergi menuju desa.
Tunggu, para pasukan hero bodoh itu telah menembakan sesuatu kelangit, memberikan suatu pesan.
Itu pasti tanda untuk menginformasikan para kesatria bahwa mereka telah menemukan lokasinya.

“Tsk!! Raphtalia! ayo selamatkan desa!”

Aku memiliki hutang budi dengan penduduk Desa Riyuuto.
Aku pasti akan menderita karena menyesal membiarkan mereka mati oleh gelombang!

“Baik!”

Kemudian kita berlari ke arah yang berbeda, berpisah dari para hero kurang ajar itu.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar