Selasa, 29 Desember 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 16 : Prolog– Pemakaman

Volume 16
Prolog– Pemakaman


“Untuk semua jiwa pemberani yang telah gugur dalam pertempuran besar... hormat kami padamu.”

Di depan kastil, tanah tempat Phoenix disegel, pemakaman kenegaraan besar diadakan. Korban dari pertempuran dimakamkan dengan keadaan yang megah dan upacara yang luar biasa. Sejumlah orang dari desaku juga terbunuh. aku pada awalnya percaya kalau aku hanya membesarkan mereka sebagai pion untuk digunakan dalam pertempuran... tapi sekarang aku sangat ingin mereka semua bertahan hidup.

Aku bahkan mempertimbangkan untuk mengirim lebih banyak dari mereka ke pertempuran melawan Gelombang. Jika berakhir seperti ini, untuk seterusnya, aku tidak akan dapat mengirim siapa pun ke pertempuran lagi.

Aku berdiri terdiam di depan peti mati Atla. Itu kosong, tentu saja. Raphtalia bersamaku, dengan lembut meletakkan beberapa bunga di dalamnya. Fohl juga melakukan hal yang sama, tanpa kata-kata. Entah kenapa, Si Sampah juga menaruh beberapa bunga. Ekspresinya muram, dan dia tidak mengatakan apa-apa baik padaku ataupun Fohl.

Aku paham itu.

Ketika aku kembali dari garis depan dengan Atla di pelukanku, aku melihat Si Sampah berdiri di depan tenda perawatan. Dia tidak bisa melakukan apapun saat itu, jadi apa yang dia lakukan di sini sekarang?!

Mengamuk pada Si Sampah tidak akan menghasilkan apa-apa, hanya kemarahan yang tidak berguna. Aku juga tidak bisa melakukan apa pun untuk Atla. lalu sudah dipastikan kalau Si Sampah bukanlah orang yang bertanggung jawab atas kematian Alta. Banyak keterangan kalau dia bersama ratu pada saat cahaya mengerikan itu menembus Phoenix. Belum lagi Si Sampah tidak punya alasan untuk membunuhnya, dan dalam posisi itu dia akan terjebak dalam ledakan berikutnya tanpa perlindungan Atla.

“Aku akan terus berjuang. Melawan Gelombang.” Fohl menatapku dan membuat pernyataan ini. “Jika aku melarikan diri sekarang, itu bisa menyebabkan lebih banyak kematian para budak di desa." Hampir seperti yang ku harapkan dari Fohl.

"Benar. Syukurlah kau sudah membuat keputusan,” jawabku. Jika aku berada di posisinya, aku kemungkinan besar akan membuat keputusan yang sama — terus berjuang melawan Gelombang, untuk semua orang, dan untuk Atla.

"Kalian ...” Keel juga meletakkan beberapa bunga di dalam peti mati Atla sambil menangis. “Aku akan bertarung juga!”

"Aku tak yakin—" sahutku.

“Kau sudah memberi tahu kami selama ini!” Dengan Raph-chan di pundaknya, mata Keel terbakar dengan ketegasan saat dia dengan cepat memotongku. “Kalau kami mungkin mati dalam pertempuran ini, kalau ini bukan permainan, dan kami semua sudah memutuskan untuk bertarung bersama! Bahkan jika kau memberi tahu kami kalau itu terlalu berbahaya sekarang, tidak satupun dari kami yang akan mendengarkan itu!”

"Raph!" Raph-chan menambahkan sebagai penekanan.

"Sepertinya mereka sudah mengambil keputusan," lanjut Fohl. “Semua orang dari desa telah memutuskan untuk mengikutimu... kak, dan bertarung. Kau tidak bisa menghentikan mereka sekarang. Terimalah tanggung jawab itu.”

“Baiklah,” aku memutuskan untuk menjawabnya. Tapi aku masih tidak ingin orang lain harus mati. Setiap kali aku mengingat Atla, hatiku menjerit kesakitan. Apa yang aku bisa lakukan untuk mereka semua agar ini semua lebih mudah? Aku tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya, tidak pernah sekalipun.

Raphtalia masih berdiri tanpa berkata-kata di depan peti mati Atla.

Atla pernah mengatakan kalau Raphtalia jatuh cinta padaku. Aku harus mengakui, kadang-kadang, aku bertanya-tanya apa itu sebabnya. Tapi aku hanya memilih untuk tidak memikirkannya, hanya memaksa diriku untuk menganggapnya sebagai gadis yang menempatkan tugas di atas segalanya. Itu pasti bagian dari diriku... untuk menghindari rasa takut yang datang dari ketidakpercayaanku pada wanita.

Atla juga pernah berbicara sebelumnya tentang bagaimana salah satu dari kami mungkin bisa mati esok hari.

Dalam hal ini, ada baiknya untuk menghindari penyesalan di masa depan, bukankah seharusnya aku setidaknya menanggapi orang yang mengatakan kalau mereka peduli padaku? Apa yang sudah kuperbuat untuk Atla? Menyelamatkannya dari penyakitnya, mungkin, tapi ada hal lain selain itu? pastinya aku bisa membuatnya jauh lebih bahagia daripada apa yang telah aku lakukan...

Penyesalan memenuhi pikiranku dan tidak akan bisa meninggalkanku. Setelah pemakaman, aku berbicara dengan ratu.

"Walaupun menderita kerugian besar, Pahlawan Iwatani, Aku mengucapkan rasa terima kasih yang terdalam karena telah mengalahkan Phoenix," katanya dengan sungguh-sungguh.

“Cukup basa-basinya. Apa kau sudah menemukan orang yang ikut campur?” tegasku.

“Sayangnya tidak. Kami masih belum memiliki petunjuk tentang pelakunya,” ratu menyatakannya.

“Bagaimana dengan pahlawan tujuh bintang?” aku menekannya. “Sepertinya mereka yang paling mencurigakan.”

“Aku sangat menyesal,” jawab ratu. Mencoba menghilangkan kesedihan hanya menambah amarahku pada siapa pun yang melakukan ini. Itu terasa seperti satu-satunya cara agar aku bisa menghentikan kesedihan ini seakan membuatku gila.

“Kau sama sekali tidak membantu!” Aku mengamuk. aku benar-benar marah sekarang! Aku tahu ratu tidak bersalah, tapi aku tidak bisa mempertahankan suasana hatiku.

“Itu jelas merupakan masalah yang penting, tetapi aku ingin tahu apa pendapatmu tentang masalah selanjutnya dari empat hewan suci?” tanya ratu.

“Maaf, pendapatku tentang apa?” aku menjawab dengan bingung. Ratu memberikan pertanyaan prihatin “astaga" mendengar pertanyaanku.

“Kau belum pernah mendengarnya dari para pahlawan lain?” dia bertanya. aku lalu untuk memeriksa waktu yang tersisa di jam pasir biru di sudut penglihatanku.

Sepertinya sudah berubah menjadi merah.

“Bukankah Kirin selanjutnya?” Aku sudah mengeceknya.

“Kami telah diberitahu bahwa hanya beberapa jam setelah kita mengalahkan Phoenix, Kirin muncul di sekitar Faubrey. Namun mereka kemudian langsung dibasmi oleh sejumlah pahlawan tujuh bintang yang ada di tempat kejadian,” lapor sang ratu.

"Apa?" Banyak hal yang harus diperhatikan. Aku hampir terkesan bahwa mereka mampu menangani peristiwa yang begitu mendadak. Pada saat yang sama, aku juga menghadapi beberapa kecurigaan baru. Ada periode persiapan yang panjang — tiga bulan penuh — antara Spirit Tortoise dan Phoenix. Tapi sekarang, kenapa hanya selang waktu beberapa jam antara Phoenix dan Kirin? Dan bukankah Naga yang akan muncul setelah Kirin?

Jika jam pasir merah masih bergerak, itu berarti Naga masih tersegel atau sudah dikalahkan.

"Lebih baik aku memanggil Ren dan para pahlawan lainnya," aku memutuskan. Aku berteriak agar Ren menghampiriku. Mendengar aku memanggilnya, beberapa saat kemudian Ren datang.

"Ada apa?" Dia bertanya.

“Apa yang kau ketahui tentang Kirin?” aku bertanya.

"Sama seperti Phoenix — sepasang monster," jawabnya. Kirin... binatang keberuntungan yang terbentuk dari sepasang monster yang disebut ‘Ki’ dan ‘Rin.’ Kirin yang kukenal dikatakan sebagai makhluk buas yang muncul di hadapan para penguasa yang baik hati — mungkin itulah sebabnya ia disegel di sekitar Faubrey. Namun, itu terdengar seolah-olah sudah dikalahkan...

“Strategi untuk melawannya?” aku bertanya.

“Aku memang memiliki beberapa informasi, tapi dari contoh-contoh sebelumnya yang sudah kita lihat, aku tidak yakin itu akan banyak berguna... belum lagi sepertinya Kirin sudah dikalahkan.” Dua poin bagus dari Ren.

"Hmmm ...” aku merenung.

“Aku berpikir aku memiliki pengetahuan tentang legenda, tetapi aku rasa aku belum pernah mendengar cerita apa pun dari Faubrey seperti itu. Sepertinya para pahlawan yang ada di sana secara kebetulan menyelesaikan masalah ini,” kata ratu.

“Kau tidak punya informasi lebih lanjut tentang ini?” Kataku, sedikit terkejut. aku mendapat kesan bahwa hobi ratu pada dasarnya adalah menyelidiki legenda. Jadi bagaimana dia tidak tahu apa-apa tentang ini?

Ada juga kemungkinan Faubrey sengaja menyembunyikan informasi tersebut. Itu sangat memungkinkan, mengingat itu adalah negara yang dibangun di atas darah para pahlawan seperti kami. Bahkan, mungkin orang-orang seperti Makina, yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, telah menyembunyikan pengetahuan itu untuk kepentingan mereka.

“Faubrey telah melalui periode kekacauan yang panjang. Ada kemungkinan informasi hilang selama waktu itu. Mereka pasti sedang mencari empat hewan suci di sana, jadi Perpustakaan Nasional yang besar dapat memberikan beberapa informasi,” saran ratu. Perpustakaan Nasional? aku samar-samar sepertinya ingat Melty mengatakan dia telah belajar tentang binatang suci dari buku. Mungkin dia telah membicarakan tentang buku-buku di sana?

Pahlawan tujuh bintang di Faubrey ternyata cukup banyak, meskipun banyak dari mereka juga dikatakan cukup sulit untuk dihubungi. Monster misterius telah meniru pahlawan tujuh bintang Siltveltian, yang seharusnya membuat dunia waspada. Jika ada pahlawan tujuh bintang yang beraksi di luar sana, ada kemungkinan besar merekalah yang menyebabkan ini.

Aku melihat Ren dan yang lainnya.

“Bagaimana dengan segel pada Naga?” aku bertanya.

“Laporan mengatakan bahwa hanya Kirin yang dikalahkan. Belum ada laporan tentang Naga yang muncul,” jawab ratu. Apa yang sedang terjadi? aku tidak bisa memahaminya.

Dalam kedua kasus tersebut, yang harus kami lakukan adalah menghukum orang yang mengganggu selama pertarungan kami dengan Phoenix.

“Apa kita memiliki portal ke Faubrey?” aku bertanya, cukup yakin dengan jawabannya, tetapi aku harus memastikan.

"Maaf. Tidak ada alasan bagiku untuk memilikinya,” kata Ren. 

"Aku juga," Itsuki menegaskan.

"Atau aku!" kata Motoyasu. Jadi ketiga pahlawan ini juga tidak memilikinya, dan tidak ada gunanya juga bertanya pada Raphtalia. Bahkan dengan vassal weapon S'yne, aku tidak akan memaksanya terlalu keras.

“Bagaimanapun juga, kita harus memberikan hukuman pada siapa pun yang menembak jatuh Phoenix. Dan bawa ke tujuh pahlawan bintang ini, karena mereka sepertinya tidak akan pernah muncul!” kataku.

“Semuanya akan berjalan seperti yang kau katakan... namun, Pahlawan Iwatani, pertama-tama aku pikir kau harus beristirahat di markas Melromarc kami,” saran ratu.

“Yang Mulia benar, Naofumi! Salah satu dari kita, para pahlawan lainnya, akan pergi dan mendapatkan portal,” Motoyasu menambahkan.

"Aku tidak bisa hanya duduk berpangku tangan sementara orang yang melakukan ini ada di luar sana!" Aku membalas. Seseorang telah mengganggu selama pertempuran Phoenix. aku akan membunuh orang itu.

Ren mencengkeram bahuku, dan Raphtalia berbicara dengan tatapan sedih di matanya.

"Tuan. Naofumi, tolong tenang.”

“Naofumi, aku juga memintamu. Beristirahatlah di desa,” Kata Ren.

"Ayolah!" Aku memohon.

"Tolong. Jika tidak, Naofumi... terlalu sulit bagi semua orang, melihatmu menjauh dari kami,” Ren memohon. Mendengar komentar itu, aku melihat sekeliling. Rasanya semua orang menatapku dengan pandangan seperti itu di mata mereka. Perasaanku untuk Atla... tetap ditanganku.

"Baiklah," aku menyetujui. “Kau menang."


Kami kembali ke desa.

“Benar, Naofumi. Beristirahatlah. Serahkan semuanya pada kami, untuk saat ini. Kami akan memanggilmu jika kami membuat kemajuan dalam pembersihan Phoenix atau jika ada musuh yang muncul di sekitar sini,” Ren meyakinkanku.

"Kau tidak perlu terus mengulanginya," aku membalas.

“Tentang siapa yang harus kami kirim ke Faubrey, aku diberitahu perwakilan dari masing-masing negara akan bertemu di Melromarc. Kita mungkin harus pergi dan menemui perwakilan mereka,” lanjut Ren, dengan mulus mengabaikanku dan beralih ke pemilihan siapa yang akan dikirim ke Faubrey.

"Haruskah aku pergi?" Itsuki menawarkan.

"Tidak. kau masih di bawah pengaruh kutukan. Kau tidak bisa meninggalkan Rishia, dan jalan panjang menuju Faubrey akan membutuhkan stamina untuk sampai kesana,” Ren beralasan.

"Aku akan pergi!" Motoyasu dengan cepat berbicara. 

“Dengan kecepatan filolialku!” 


Disuruh oleh semua orang untuk beristirahat, aku sedang menuju kembali ke rumahku saat Ruft, sepupu Raphtalia, mendatangiku.

“Hei, Pahlawan Perisai...” Dengan terbata-bata. “Ah ... Aku ingin tahu ...” Dia pasti ingin tahu apa yang terjadi dan bagaimana hasilnya.

“Maaf, bocah... Shildina mungkin bisa memberitahumu detailnya,” kataku, menolaknya.

"Baik ... maaf sudah bertanya,” kata Ruft.

"Tidak perlu meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Ruft,” kataku padanya. “Aku tahu ... tapi melihatmu sedih, dan aku ingin menghiburmu. kukira aku tidak bisa... melakukan apapun untukmu...” Ruft terdengar sedih.

“Jangan khawatir tentang itu. Melakukan sesuatu untukku hanya menyebabkan rasa sakit, menurut pengalamanku,” jawabku kecut. Mendengar dia mengatakan hal-hal seperti itu sulit untuk kutanggung. Apa aku sudah begitu lama mendorong semua orang ke dalam bahaya seperti itu?

"Tuan. Naofumi...” Kata Raphtalia, jelas khawatir. 

“Raph...” Hal yang sama dari Raph-chan.

"Aku baik-baik saja. Rumahku ada di sana. Raphtalia, bisakah kau beritahu semua orang di desa apa yang terjadi?” Aku bertanya padanya.

“Aku tidak yakin...” katanya.

"Beri tahu semua orang untuk tidak mengambil risiko, dan tetap berhati-hati," kataku padanya. 

"O-oke," jawabnya.

Aku kembali ke rumahku dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Ini terasa seperti buang-buang waktu, hanya membuatku semakin kesal. Bersamaan dengan itu, aku merasakan emosi lain menguasaiku, dan kesendirian ini membuatku tenggelam dalam depresi.

Bergabung menjadi satu, diriku yang terbakar oleh balas dendam pada siapapun yang bertanggungjawab dan diriku yang menangis karena kehilangan.

Setelah aku berbaring di tempat tidur untuk sementara waktu, terdengar suara ketukan pintu.

Filo telah tiba, bersama Melty.

Seseorang telah membawa ratu kembali ke kastil dan kemudian membawa Melty kembali bersama mereka.

"Aku kembali, Master!" Filo berteriak.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Jarang mereka muncul seperti ini. 

“Selamat datang kembali, Naofumi... aku sudah mendengar apa yang terjadi dari Raphtalia dan Filo,” kata Melty.

"Dan? Kau datang untuk menertawakan kegagalanku?” Itu bukanlah candaan, tentu saja, tapi dalam suasana hatiku yang kacau, itulah satu-satunya kata yang bisa kutemukan. aku tahu bahwa itu adalah jawaban yang buruk.

"Tentu saja tidak! Tidak bisakah kau membedakan antara hal-hal yang boleh dikatakan dan yang tidak.” Melty memulai.

"Kau benar," aku memotongnya. “Maafkan aku. Aku seharusnya tidak mengatakan itu.” 

"Naofumi, katakan padaku kau baik-baik saja, kan?" Tanya Melty.

“Mel-chan. Master terlihat sangat lelah,” komentar Filo.

“Oh, aku siap untuk pergi kapan saja. Namun semua orang terus menyuruhku istirahat, itu saja,” gerutuku. Filo sepertinya juga tidak mengerti.

Satu-satunya cara untuk menjaga kewarasanku adalah dengan cepat menemukan identitas siapa pun yang menyebabkan kekacauan ini dan membunuhnya! Itu adalah emosi yang memenuhiku.

"Biarkan kami masuk dan duduk bersamamu sebentar, sampai Raphtalia tiba di sini," usul Melty.

"Apa yang sedang terjadi?" aku bertanya.

"Kami khawatir kau akan melakukan sesuatu yang gegabah," jelas Melty.

“Jika siapa pun yang mengganggu pertempuran Phoenix ada di sini, di hadapanku, aku mungkin akan melakukan sesuatu yang gegabah. Namun selain kasus itu, aku baik-baik saja,” aku memberi tahu mereka.

“Jadi kau mengakuinya. kau selalu bertindak gegabah! Serius!” Ejek Melty. 

“Tapi tetap saja, kau tampaknya memiliki lebih banyak energi daripada yang kuharapkan.” aku memutuskan untuk meluangkan waktu untuk mengajukan pertanyaan pada Melty.

"Katakan, Melty, pernahkah kau kehilangan seseorang yang penting bagimu, bawahan atau seseorang yang dekat denganmu, karena sesuatu yang besar, seperti perang?" Pada pertanyaanku, Melty menggelengkan kepalanya, ekspresi serius terlihat di wajahnya.

“Tidak, belum. Tapi aku masih akan membawa tekadku sebagai anggota keluarga kerajaan, dan sebagai perwakilan negaraku, kedalam semua hal yang kulakukan. Jika Filo mati dalam pertempuran, yah, aku tidak akan tahu apakah aku bisa menerimanya sampai itu terjadi,” kata Melty dengan berani.

“Hei... aku tidak akan mati,” kata Filo.

"Aku tahu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu, bahkan jika mempertaruhkan nyawaku,” kata Melty. Mempertaruhkan nyawanya?

“Jika kau mempertaruhkan nyawamu seperti itu...  satu-satunya yang tertinggal hanya — Filo — yang akan menderita,” jelasku.

"Aku tahu." Melty mengangguk oleh kata-kataku. “Itulah mengapa aku setiap hari mengincar metode terbaik untuk membuat kita berdua tetap hidup. Naofumi, aku tidak akan membanjirimu dengan upaya konvensional untuk menghiburmu. Justru itu akan memberikan efek sebaliknya pada dirimu. Tegakkan kepalamu dan terus maju. Hanya itu yang dapat kau lakukan.”

"Ya. Aku tahu. Aku harus menepati janji terakhirku pada Atla,” jawabku dengan nada tertahan. Lalu aku menatap langsung ke mata Melty. “Melty, beri tahu aku... Apa kau mencintaiku?"

"Apa?! Tunggu! Kenapa kau menanyakannya tiba-tiba?!” Melty terkejut sambil memiringkan kepalanya.                                                                                                                             

"Master?" Filo juga kebingungan.

“Filo, bagaimana denganmu?” aku bertanya.

"Aku? aku sangat mencintaimu, Master!” Filo berterik. 

“Aku mengerti. Seberapa banyak itu?” aku menanyakannya kembali.

“Yah... sangat banyak sampai aku hampir ingin berpasangan denganmu!” Filo mengungkapkan. 

“Filo! kau tidak bisa mengatakan itu! Itu akan membuat Naofumi marah!” Melty memotong.

"Baiklah kalau begitu. Filo, kemarilah,” kataku padanya. Aku tidak akan pernah bisa tidur sendiri, dengan semua penyesalan dan niat membunuh yang berada didalam diriku. Membuat Filo tidur bersamaku akan mengalihkan pikiranku dari banyak hal.

"Hah?!" Melty benar-benar kaget.

"Aku datang! Yahoo!” Filo memanfaatkan kesempatan itu, dengan senang hati melompat untuk naik ke tempat tidur.


“Tunggu, Filo! Tunggu sebentar!” Melty menariknya kembali.

“Hah?" Sekarang Filo bingung.

“Ada apa, Melty? Ah, kau tidak ingin Filo tidur bersamaku sendirian? Lalu bagaimana kalau kau bergabung dengan kami juga?” aku bertanya.

“K-kenapa aku harus tidur satu kasur bersama denganmu?! Tidak mungkin, bodoh!” Teriak Melty.

"Aku mengerti. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa,” kataku. aku tidak akan memaksanya untuk melakukan apa pun.

“Eh? Ah, tunggu,” Melty tergagap. 

"Maaf sudah bertanya," jawabku.

“Ah, tidak apa-apa... Hei, bukan itu yang aku maksud!” Seru Melty.

Dia bertingkah sangat aneh. Apa yang terjadi dengannya? 

“Apa? Kau tidak ingin ikut tidur, Mel-chan?” Filo bertanya.

“Diam dan kemarilah, Filo!” Melty memerintah. 

“Ada yang salah dengan Naofumi! Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ayo kita jemput Raphtalia!”

"Apakah kita harus?" Filo memprotes saat Melty pada dasarnya menyeretnya dari kamar.

Sesuatu yang salah denganku, katanya.

Seperti yang Atla katakan padaku... aku hanya mencoba untuk memastikan bahwa aku tidak akan menyesal.

 
Tidak lama setelah itu...

“H-halo, bolehkah aku masuk?” Aku membuka pintu untuk melihat Imiya membawakanku beberapa makanan. 

"Aku punya makanan untukmu," katanya.  "Kupikir ... mungkin kau lapar.”

"Aku mengerti." Aku mengambil nampan darinya dan meletakkannya di atas meja kamarku.

“A-Aku akan pergi," katanya dan berbalik untuk pergi.

"Imiya," kataku, menghentikannya.

“Y-ya! Apa yang bisa kubantu?” jawabnya, sedikit terkejut. “Apa kau memiliki seseorang yang kau cintai, Imiya?” aku bertanya.

"Ah ... yah...” dia tergagap, pipinya memerah saat dia menunduk ke bawah dan meremas tangannya. Reaksi itu-

Tidak mungkin! Imiya jatuh cinta padaku?

Maksudku, dia berakhir bersamaku dengan cara yang hampir persis sama dengan Raphtalia, jadi mungkin itu wajar.

"Maksudku ... itu... Aku...” dia tergagap.

“Jangan khawatir. aku mengerti, Imiya.” Semuanya jelas bagiku sekarang. 

“Kau memahaminya?” dia heran.

"Aku akan menanggapi perasaanmu," aku menyatakan. Beberapa detik berlalu.

"Apaaa ?!" dia tiba-tiba berteriak, hampir terjatuh ke lantai. “Hei. Apa yang membuatmu terkejut seperti itu?” aku bertanya.

“A-aku belum siap untuk ini... dan aku juga sangat kotor sekarang.” Apa yang dia bicarakan? aku meluangkan waktu sejenak untuk memeriksanya secara menyeluruh dengan mataku. Dia tidak memiliki penampilan yang tidak higienis, katakanlah, penampilan seperti Raphtalia saat aku pertama kali membelinya. Hanya dengan pandangan sekilas aku bisa melihat bahwa dia sudah mandi dan bersih. Tentu, Raphtalia tidak bisa membersihkan dirinya sendiri selama berhari-hari, jadi ini mungkin bukan perbandingan yang adil, tapi Imiya masih sangat bersih.

"Itu tidak masalah," kataku padanya.

"Ah ... baik... baik." Imiya gemetar. Dia juga tidak menolakku. Dia segera berpindah dan berbaring, dengan sedikit ragu-ragu, di atas tempat tidur.

Memotong langsung seperti dengan Filo, aku pikir kita mungkin melewatkan beberapa langkah. Ini biasanya dimulai dengan percakapan ringan, lalu mungkin satu atau dua kencan.

Dalam hal itu ... Aku akan membelai dia sedikit, lalu memperingatkannya. Memperingatkan dia bahwa kami melewatkan beberapa langkah terlalu banyak. Aku duduk di tempat tidur dan Imiya mengeluarkan suara tegang, tubuhnya masih gemetar.

Dia terlalu tegang. Aku dengan lembut membelai pipinya. Hah? Suhu tubuh Imiya sepertinya cukup tinggi.

Begitu aku menyentuhnya, Imiya tersentak kembali ke posisi duduk. 

"Ah?! Aku...a... aku tidak bisa melakukan ini! Maafkan aku!" Dengan begitu, dia melompat dari tempat tidur dan lari dari kamar. Jenis reaksi yang sama seperti Melty.

Setelah meninggalkan ruangan, Imiya menabrak Keel. Mereka berbicara sejenak dan kemudian Imiya melanjutkan pelariannya.

“Bubba Shield! Imiya mengatakan bahwa kau bertingkah aneh! Ada apa?" Keel bertanya, langsung masuk.

“Aku bertanya apakah dia tertarik pada seseorang, dan reaksinya menunjukkan bahwa itu adalah aku. Jadi aku berusaha menanggapi perasaannya,” jelasku.

“Bubba Shield bertingkah aneh! Guk guk!" Keel langsung mulai berteriak dan membuat keributan.

"Hentikan itu! Berhenti membuat suara itu! Tidak ada yang aneh sama sekali dengan diriku!” Aku membalas. Sepertinya dia perlu diajak bicara. Saat Keel mencoba melarikan diri, aku menjepit lengannya dari belakang.

“Bubba! Apa yang sedang kau lakukan? kau tidak tertarik pada wanita! kan?" dia berteriak.

“Aku telah mengalami perubahan hati. Keel, bagaimana perasaanmu kepadaku?” aku bertanya padanya.

“Aku menyukaimu, Bubba, tapi kurasa aku tidak menyukai versi dirimu yang ini! Hei, apa yang kau rencanakan kepadaku?” Untuk beberapa alasan, Keel mengubah dirinya menjadi bentuk anak anjing dan mulai memberontak. Aku mencoba menjelaskan padanya.

"Lihat. Imiya yang tiba-tiba berkata dia ingin menemaniku dan naik ke tempat tidur, oke? aku hanya membelai dia sedikit dan dia lari keluar ruangan seperti sedang terbakar.”

“Jadi, kau tidak akan menyerangku?” Keel bertanya.

"Tentu saja tidak." Dia pikir aku ini apa? Hasrat seksual yang dipersonifikasikan? 

“Bubba. kau pasti tahu bagaimana memberi kesan yang salah pada seseorang. Membuat Imiya juga terkejut seperti itu,” Keel putus asa.

"Hah? Apa yang kau bicarakan? aku baru saja akan memperingatkannya bahwa kami melewatkan beberapa langkah terlalu banyak, itu saja!” aku protes.

“Bubba, kau harus tenang. Dia jelas mengira kau menyuruhnya masuk ke kamarmu dan menyuruhnya berbaring di tempat tidur,” Keel menjelaskan.

"Aku mengerti ... Kedengarannya mungkin aku telah mengacaukan kepalanya. Nanti aku akan meminta maaf padanya,” kataku.

"Nah, menurutku kau tidak perlu khawatir tentang itu," kata Keel. 

Aku bingung apakah aku benar-benar tidak perlu melakukannya.

“Apa yang terjadi, kak? Aku baru saja berpapasan dengan putri Melromarc, dan dia bilang kau bertingkah aneh?” Fohl bertanya, muncul dari suatu tempat.

“Hei, Fohl. Dimana Raphtalia?” aku bertanya.

“Dia tidak ada di sini sekarang. Dia juga bertingkah... sedikit aneh. Atau mungkin kitalah yang aneh...” dia merenung. Apapun masalahnya, dia sepertinya menyadarinya.

"Fohl, Bubba benar-benar bertingkah aneh," Keel menimpali.

“Banyak yang telah terjadi. Kita hanya perlu memberinya waktu untuk tenang,” jawab Fohl.

"Tapi—" Keel menekankan masalah itu. aku melihat mereka berdua berbicara. Fohl adalah saudara laki-laki Atla.

"Fohl," kataku.

"Apa?" dia menjawab, masih terganggu oleh Keel. 

“Bagaimana perasaanmu tentangku?" aku bertanya.

"Hah? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” dia menjawab, mengerutkan alisnya. 

“Aku ingin tahu,” kataku.

“Kaulah pria yang dicintai Atla. Bahkan mengingat semua yang terjadi di antara kita, aku tidak bisa membuat diriku membencimu. aku akan mendukungmu, sebagai pengganti Atla,” jelasnya.

Jadi dia akan mencoba menjadi pengganti Atla.

Aku dengan hati-hati bergerak untuk berdiri di belakang Fohl, lalu menyentuh tubuhnya.

Baunya agak mirip Atla... mungkin hanya sedikit.

“Woah tungguh!” Fohl menjerit dan segera membuat jarak di antara kami. 

“K-kenapa kau tiba-tiba melakukan hal seperti itu?!”

“Melakukan apa?” Tanyaku polos. Aku bisa melihat jejak Atla di wajah Fohl. Ini terasa seperti kesempatanku untuk mencapai apa yang belum pernah aku raih bersamanya.

“Sungguh! Tunggu disini sebentar!” Fohl berteriak.

"Wah, Fohl, apa yang kau lakukan—" Protes Keel saat Fohl menariknya dan kemudian bergegas keluar ruangan, wajahnya tampak pucat.


Beberapa saat kemudian, Sadeena masuk ke kamarku, dengan sebotol anggur di satu tangan.

“Naofumi Kecil?” dia memanggil. 

"Apa lagi sekarang?" aku bertanya.

“Aku sudah mendengar semua tentang kelakuanmu dari Fohl kecil. Minumlah denganku dan hibur dirimu sedikit,” katanya.

"Maaf. Anggur tidak akan mempengaruhiku. Kau tahu itu,” jawabku.

"Sekarang kau menyebutkannya, kurasa aku pernah mendengarnya," jawabnya dengan senyum lembut. Dia hanya mencoba menghiburku, dengan caranya sendiri. Menggunakan minuman untuk menghibur seseorang sepertinya merupakan taktik yang umum, tidak peduli di dunia manapun.

Memang benar. Jika aku bisa mabuk, aku mungkin benar-benar ingin minum saat ini.

“Bagaimana kalau kita mencari cara lain untuk bersenang-senang bersama?” dia menyarankan.

"Ya kenapa tidak? Filo pasti hanya akan tidur, dan Imiya mendapat kesan yang salah... tetapi kau, Sadeena, selalu terbuka tentang perasaanmu. Kurasa kita bisa melewati beberapa langkah,” jawabku. Atla telah memberi tahuku bahwa dia ingin aku menanggapi perasaan orang-orang yang menyukaiku. Sadeena telah berterus terang tentang perasaan itu hampir selama aku mengenalnya, jadi kupikir akhirnya aku harus menanggapinya.

“Naofumi Kecil?” tanyanya, dia justru malu-malu sekarang! 

“Sadeena, apakah kau mencintaiku?” aku bertanya.

"Astaga. Itu pertanyaan yang cukup lancang. Tapi ya, aku memang mencintaimu, Naofumi kecil. Ah! Aku mengatakannya sekarang!” dia menjawab dengan malu, dan menggeliat.

"Aku mengerti. Buka baju dan berbaring di tempat tidur kalau begitu,” perintahku.

“Naofumi Kecil?” dia bertanya, memiringkan kepalanya. Tapi dia duduk di tempat tidur. Aku melepas celanaku, melepas pembungkus seperti cawat milik Sadeena, dan bersiap untuk—

“Tunggu, Naofumi kecil! Berhenti!" Dia dengan ringan mendorongku. “Naofumi kecil. Bisakah Kau memberi tahuku, apa yang akan kau lakukan?”

"Persis seperti yang kau inginkan, kupikir," jawab aku.

“Kumohon, Naofumi kecil. Duduk saja di sana,” katanya. “Kita tidak bisa melakukannya jika aku duduk di lantai," protesku.

“Duduk saja!” dia memerintah. Apa yang sedang terjadi? Sangat jarang bagi Sadeena untuk bersuasana hati buruk. “Hanya untuk memastikan, kau mencoba untuk melewati hal-hal seperti atmosfer, pembukaan, dan segalanya seperti itu? kau tidak mengetahui urutan normal dari peristiwa semacam ini?”

“Ya, aku sadar," balasku, sedikit angkuh. Lagipula, aku telah memainkan beberapa game hentai. Tentu saja aku tahu “urutannya", begitu dia menyebutnya. Sial, aku mungkin tahu semua jenis seks gila yang tidak pernah Sadeena bayangkan.

Bukannya aku membual tentang hal seperti itu.

“Namun kau masih mencoba untuk berhubungan badan denganku seperti kita adalah bagian dari jalan yang menyatu. Itu benar-benar akan membuat Raphtalia kesal, bukankah begitu?” Sadeena melanjutkan.

"Kau mungkin benar. Tapi Atla menyuruhku untuk menanggapi apa yang diinginkan orang lain dariku,” jawabku. Mendengar itu, Sadeena meletakkan jari di dahinya, terlihat sangat tertekan.

“Dengarkan aku, Naofumi kecil. Semua orang menyukaimu. Tapi caramu melakukan semua ini sangatlah kacau,” lanjutnya.

"Semua ini?" Tanyaku, mungkin aku bertindak agak terlalu bodoh. Jarang bagi Sadeena untuk bertindak seperti ini. Akhirnya tenang sedikit, aku menyadari bahwa aku telah mencapai titik di mana bahkan Sadeena perlu memperingatkan diriku tentang tindakanku.

“Naofumi kecil. Sebagai dua orang yang sudah dewasa, jika kau ingin menikmati bercinta denganku, atau jika kau membutuhkan penghiburan dalam kesedihanmu, maka sebagai seorang wanita aku akan dengan senang hati menanggapi,” jelas Sadeena. Aku jelas tidak membutuhkan penghiburan seperti itu. Penghiburan semacam itu hanya akan lebih menyakitkan. “Tapi apa yang kau lakukan sekarang, Naofumi kecil, tidak lebih daripada proses mekanis mencoba membuat bayi. kau bahkan mencobanya dengan Fohl kecil yang malang, seorang pria! Apakah kau menyadari apa yang aku katakan?”

“Aku pikir itu karena Fohl mengatakan dia akan mencoba dan menjadi pengganti Atla. Jadi, aku ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa aku lakukan dengannya—” aku mulai menjelaskan.

“Naofumi kecil, kendalikan dirimu! Shildina dan kalian yang lainnya, berhentilah menguping dari luar ruangan!” Sadeena berteriak. Aku berbalik untuk melihat keluar jendela dan melihat Shildina, S'yne, dan Ruft di luar. Mereka bertiga dengan gugup menggaruk-garuk kepala, menghindari tatapanku dengan rona malu di pipi mereka.

“Sekarang adalah kesempatan kita,” kata Shildina.

“Jika kau tidak mau merebutnya, Sadeena, maka aku akan menjadi orang yang mengisi lubang di hati Naofumi yang manis."

“Aku tidak akan pernah mengizinkan itu. Raphtalia kecil akan membunuhmu, selain itu. Ruft terlalu muda untuk semua ini — dan dia bahkan mungkin tidak akan memilih jalan itu. Fakta bahwa dia sangat mirip dengan Raphtalia menempatkannya dalam bahaya yang lebih besar,” Sadeena memberi ceramah.

“Oh, sial...” Shildina tampak kecewa. 

“Jalan apa?” Ruft bertanya.

Ada apa dengan semua orang? Menginginkannya satu menit yang lalu, lalu menyerah begitu mudah di menit berikutnya. aku bertanya langsung kepada Sadeena tentang itu, dan dia menjawab dengan pertanyaannya sendiri.

“Naofumi kecil. Saat ini, yang ingin kau lakukan hanyalah membuatku merasa baik. Apakah kau mengerti dimana masalahnya?”

"Masalah seperti apa? Maksudku, Fohl, oke...” Bukan ini yang Atla inginkan. aku pikir aku mulai mengerti.

"Lihat, Naofumi kecil," Sadeena mulai berbicara, memegang kedua bahuku, tersenyum lembut saat dia menasihatiku. Dia sangat mirip Raphtalia, dalam hal itu. Keduanya tidak memiliki hubungan darah, tapi ada alasan mengapa Raphtalia memperlakukannya seperti kakaknya. “Itu proses yang penting. Aku ingin sekali naik ke tempat tidur bersamamu dan bersenang-senang, Naofumi kecil, tapi saat ini, bahkan jika kau tidak secara pribadi menyukainya, kau akan bersedia melakukannya jika aku mau, bukan?"

"Itu benar," aku setuju.

"Dan jika kita akhirnya membuat bayi, kaulah yang akan menyesal nanti," lanjutnya.

“Aku akan mengambil... tanggung jawab, jika aku harus. Akan lebih baik daripada menyesal tidak melakukan apa-apa... seperti dengan Atla,” aku berhasil mengatakannya.

“Jawaban yang jujur... tapi kurasa bukan itu yang dimaksud Atla saat dia mengatakan itu padamu. Tenang saja dan berpikirlah.” Mendengar kata-kata Sadeena, aku menjadi sedikit lebih tenang.

Tidak dapat menemukan musuh yang harus kita lawan, aku hanya terburu-buru dalam kesedihanku dan kehilangan ketenanganku ketika aku mencoba untuk menghindari penyesalan lagi. Jika ini yang diinginkan Sadeena... Itulah yang aku pikirkan.

Tentu saja, Sadeena adalah wanita, yang memiliki seleranya sendiri. Sama sepertiku yang tidak selalu menyukai rayuan orang lain, dia pasti harus mempersiapkan dirinya untuk berhubungan intim. Dan di atas segalanya, aku tidak bisa melakukan apa pun yang tidak ingin dia lakukan.

Aku bukan pemerkosa. Tidak mungkin.

Jadi aku mencoba untuk mendapatkan persetujuannya, tetapi karena aku bertingkah sangat aneh, dia menolakku. Dalam hal itu ... apa yang harus kulakukan?

“Aku mengerti Ku mengatakan akan bertanggung jawab, tetapi jika aku membiarkanmu melakukan ini sekarang, aku tahu di masa depan kau akan menyesalinya. Itulah mengapa aku menolakmu dan mengapa aku akan memastikan tidak ada yang lain, Shildina atau orang lain, yang akan menerima tawaranmu juga,” kata Sadeena.

"Oh ayolah!" Shildina berseru. Dia tidak terdengar senang tentang itu. Tapi Sadeena menatapnya dengan tatapan tajam dan menusuk. Yang sangat jarang terlihat, itu menyebabkan Shildina mundur.

"Aku mengerti," akhirnya aku berkata.

“Aku akan memberi tahu Raphtalia dan yang lainnya, jadi kau hanya perlu memikirkan hal-hal sedikit lebih lama lagi. Maaf jika aku salah memberimu ide, muncul tiba-tiba seperti ini,” kata Sadeena.

Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab. Diperingatkan olehnya membuat pikiranku lebih kacau dari sebelumnya. Aku bukan yang dia inginkan sekarang... Itu sangat jelas. Sadeena telah memperingatkanku, untuk memikirkan masa depanku sendiri. Aku harus menjauhi mereka yang tertarik padaku, untuk menghindari penyesalan di masa depan.

Memiliki penyesalan di masa depan... apakah Atla akan menegurku seperti ini? Itu adalah kata-kata yang cukup sulit untuk aku tanggung, menjadi seseorang yang sangat menderita baru-baru ini karena tidak melakukan sesuatu, padahal aku pasti bisa membuat Atla jauh lebih bahagia daripada yang aku lakukan.

Kupikir lebih baik melakukan sesuatu dan menyesalinya daripada menyesal tidak melakukannya sama sekali. Apakah aku salah?

“Naofumi kecil, meskipun aku menyuruhmu untuk bergembira, aku tahu kau mungkin tidak bisa melakukannya. Tidak sekarang. Tapi setidaknya pulihkan dirimu dulu.” Sadeena berdiri dengan mulus, memberiku senyuman. “Setelah kau melakukan itu, dan jika kau masih merasa ingin menghayati kata-kata terakhir Atla, maka aku yakin bukan hanya aku, tapi juga Raphtalia, yang lainnya di desa... bahkan Fohl, akan menanggapi perasaanmu.” Ekspresi marah Sadeena telah hilang, dan dia memberiku senyuman yang sangat lembut.

Aku selalu menganggapnya hanya wanita paus bermata tajam dan seksi, tapi hari ini dia merasa sangat menarik dari sudut pandang yang lain.

"Karena perasaanku padamu begitu kuat, Naofumi kecil, sehingga aku tidak akan membiarkan ini terjadi padaku atau orang lain," ulangnya. Lalu dia dengan lembut membelai pipiku dan meninggalkan ruangan.

Aku bingung di mana sebenarnya aku berada. Mengambil tanggung jawab ... tekad ... pikiran seperti itu berputar-putar di kepalaku. aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan selanjutnya.

Setelah membalas dendam pada subjek amarahku, mengalahkan gelombang, dan membawa perdamaian ke dunia ini, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku tidak punya rencana untuk dimakamkan di sini. Pemikiranku tentang hal itu tidak berubah. Mungkin itulah yang Sadeena peringatkan padaku juga. Hanya menikmati diriku dengan tekad setengah hati, tidak memikirkan masa depan, dan kemudian membuat seseorang terpukul... Ya, itu akan menjadi masalah.

Belum lagi aku tidak tertarik untuk memiliki anak.

Sadeena mencoba memberitahuku bahwa dia dan orang lain di desa bukanlah tipe yang bahagia menggendong anak pahlawan—mereka tidak ingin menggunakanku seperti kuda pejantan. Itu memenuhi hatiku dengan seberapa dalam dia memikirkanku, dan itu membuat aku sedih.

Kepalaku sudah lebih jernih dari sebelumnya. Jelas, Fohl tidak memiliki niat seperti itu kepadaku, dan tidak mungkin aku bisa menggantikan Atla.

“Ya, kau benar,” kataku.

Mereka semua percaya padaku, tetapi aku tidak dapat menanggapi itu, namun aku membutuhkan tekad untuk memikul beban hidup mereka. Jadi aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi ketika tiba waktunya bagiku untuk pulang. aku tidak tahu pasti... tapi itu bisa berarti selamat tinggal. Campuran perasaan tersebut berputar-putar di dalam diriku — ingin pulang ke rumah dan ingin bersama semua orang serta menanggapi perasaan mereka terhadapku.

“Aku kembali, Tuan Naofumi...” Raphtalia masuk.

“Hei, Raphtalia,” kataku.

"Halo. Aku telah mendengar tentang apa yang terjadi saat aku pergi.” katanya.

"Oke ... itu sedikit kacau. Maaf.” aku meminta maaf.

“Tidak, Tuan Naofumi. Untuk sekarang ... mari kita tidak memikirkannya.” Raphtalia menyarankan.

"Jika kau berkata begitu," jawabku.

Aku tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku, dan malam berlalu dengan penderitaan yang sunyi.




TL: RyuuSaku
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar