Sabtu, 20 November 2021

Naze Boku no Sekai wo Dare mo Oboeteinainoka? Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 2 – Tidak Ada yang Mengingatku

Volume 1
Chapter 2 – Tidak Ada yang Mengingatku


"Kita sudah sampai. Tempat ini jauh di luar kota, atau aku lebih suka menyebutnya markas rahasia kami."

Mereka telah melewati bagian kota yang hancur untuk cukup lama. Tapi akhirnya Ashlan menghentikan mobil di jalan raya yang kosong.

…Perjalanan tadi butuh waktu sekitar 30 menit?
...Mengingat kita datang dari arah Terminal 9, dan kehadiran gedung ini…

Gedung Menara Kembar menjulang tinggi di sana. Bangunan itu memiliki 10 lantai, dan meskipun kondisinya cukup menyedihkan dengan jendelanya yang pecah, bentuknya yang mencolok membuatnya sulit untuk dilupakan.

"Itu terlihat seperti bangunan yang ada di Terminal 10...? Atau mungkin ini memang Terminal 10?"

Terminal 10 Federasi Urza. Awalnya tempat ini dipenuhi pepohonan hijau subur. Tapi sekarang, hanya ada tumpukan kerikil dari bangunan yang hancur disini, dengan jalan rusak yang penuh dengan retakan.

"Oh? Kau tahu tentang tempat ini?"

"Kau seperti misteri saja. Apakah kau tinggal di dekat sini?"

Kata Ashlan dan Saki yang keluar dari mobil.

"….Hmm.”

Kai datang dari pinggiran Terminal 8, dan seharusnya mereka tahu tentang itu.

"Yah, sepertinya kau harus meluangkan waktu untuk menenangkan diri. Mengingat kau baru saja diserang oleh iblis, aku bisa membayangkan kau masih sedikit terkejut. Istirahatlah sebentar dan tenangkan dirimu."

"Itu benar! Meskipun sepertinya kau mengenal kami, tapi pakaian dan senjatamu... tampak asing bagiku."

Keduanya melihat pakaian dan bayonet Kai. Kai memakai perlengkapan standar MDA, tapi perlengkapan yang dikenakan Saki dan Ashlan itu tak sama dengannya. ...Tidak, pada intinya, desain kedua seragam itu sama. ...Tapi ada beberapa detail yang berbeda. Meskipun kedua seragam itu memiliki lambang di sisi kirinya, lambang yang dimiliki Kai adalah milik MDA, sedangkan yang ada di seragam Saki dan Ashlan merupakan lambang organisasi lain.

"Hm? Kami bekerja sebagai prajurit Mankind Resistance Army dari Urza. Tunggu, kau bahkan tidak tahu tentang itu?"

"Mankind Resistance Army?"
<TLN : Mankind Resistance Army = Tentara Perlawanan Umat Manusia. Yah seperti MDA, kedepannya kita gunakan MRA aja supaya bagus dan nyambung hasil terjemahannya>

"Ah itu... Daripada kebingungan, kau sepertinya menderita amnesia sementara. Tidak ada orang di luar sana yang tidak tahu tentang MRA."

Menanggapi Ashlan, Saki hanya mengangkat bahunya.

"Pokoknya, ayo masuk. Jika kita akan tetap di sini, kita mungkin akan ditemukan oleh patroli iblis. Kita punya urusan di bawah tanah. Maksudku, di ruang bawah tanah terminal ini."

Ashlan menuntun Kai yang berjalan di samping Saki. Pintu Terminal tampaknya telah rusak akibat ledakan besar. Setelah melewati pintu masuk yang hancur, mereka mulai turun ke bawah tanah.

"Apa yang terjadi dengan liftnya?"

"Aku cukup yakin kau bisa menebaknya hanya dengan melihatnya, tetapi apa menurutmu ada listrik yang tersisa disini?"

Ashlan menunjuk ke arah lorong gelap dengan dagunya, pasti akan gelap gulita jika bukan karena cahaya matahari yang datang dari jendela yang pecah.

"Kau tahu, aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian..."

Kai menelan nafasnya, dan berkata.

"Aku tidak peduli jika kau berpikir aku kehilangan ingatanku, tapi tolong beri tahu aku apa yang terjadi? Mengapa kota ini sampai di ambang kehancuran dan mengapa iblis berkeliaran di tempat ini seolah-olah mereka memilikinya?"

Iblis itu berkata: Cara terbaik untuk memerintah budakmu, adalah dengan menggunakan bahasa mereka

Situasi di sini berbeda dari apa yang Kai ingat. Dia mendapat gambaran perkiraan, tetapi sekarang dia perlu mengetahui situasi dengan sedetail mungkin.

"Semua seperti yang kau lihat."

Saat mereka melewati lorong bawah tanah yang redup, Ashlan menunjuk ke dinding bangunan yang hancur.

"Dunia ini dipenuhi gerombolan musuh alami bagi umat manusia. Dan yang paling merepotkan adalah empat ras lain: Iblis, Cryptids, Foreign Gods dan Roh. Kita kalah dari mereka dalam perang terakhir. Sudah 30 tahun berlalu sejak saat itu."

"…Ras Manusia telah kalah? Itu..."

Semua ini berkebalikan dari apa yang Kai ingat. Rasanya Kai ingin menganggap semua hanyalah mimpi buruknya saja. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi saat dia berbelanja dengan Jeanne?

"...Tolong lanjutkan. Apa yang terjadi pada manusia yang lain? Apakah mereka berada di tempat yang aman?"

"Mereka melarikan diri dan selalu bersembunyi kapan pun mereka bisa. Jadi, tak bisa dikatakan kalau kita sudah aman." - jawab Saki, yang berjalan di sampingnya.

"Benua ini dikuasai oleh empat ras lain. Dan bahkan sekarang mereka terus bersaing untuk memperluas dominasi mereka. Federasi Urza telah ditaklukkan oleh para iblis, Jadi yang bisa dilakukan semua orang adalah meninggalkan segalanya dan melarikan diri. Kurang lebih begitulah situasi saat ini."

Saki menunjuk ke ujung tangga. Lantai bawah tanah ketiga benar-benar sunyi, dan kemudian cahaya terang membutakan mata Kai.

"Cahaya ini?"

Cahaya yang telah bersinar terang itu akan membuatmu berpikir bahwa kau sedang berada di permukaan.

...Jadi seperti itu. Para iblis memang menguasai permukaan.
...Dan manusia melarikan diri ke bawah tanah.

Mereka menggunakan pusat perbelanjaan bawah tanah yang besar ini untuk menciptakan sebuah kota. Ada toko, rumah penduduk, dan bahkan hotel dengan restoran. Kai bisa melihat orang tua dengan anak-anak mereka berjalan-jalan dan tentara yang berpatroli di sekitar dengan senjata mereka. Semuanya terlihat ramai. Meskipun terlihat berbeda dengan kota yang ia kenal, tak salah lagi kalau yang ada dihadapannya saat ini adalah kota manusia.

"Selamat datang di kota manusia Neo Vishal. Semua ruang bawah tanah yang tidak terpakai telah direnovasi untuk menciptakan kota ini. Pemandangan yang cukup bagus, bukan?"

Awalnya, Vishal adalah nama wilayah tempat Terminal 10 berada. Penamaan kota Neo Vishal, kemungkinan besar untuk menggantikan kota yang telah ditaklukan di permukaan.

"Karena iblis mengambil kota kita dan membuat sarang di wilayahnya, sudah sewajarnya  bagi kita untuk bersembunyi di bawah tanah, bagaimana menurutmu?"

"...Ini sungguh mengagumkan, cara kalian mengembangkannya hingga sedemikian rupa."

Mengingat bagaimana tempat ini dibuat oleh orang-orang yang melarikan diri dari iblis dalam ketakutan, Kai membayangkan itu akan terlihat menyedihkan. Tapi dia terkejut, karena orang-orang disana tampak bersemangat dan penuh kehidupan.

"Bagaimana dengan makanan?"

"Tentu saja kami memproduksi semuanya di sini. Karena sudah tak bisa beroperasi lagi, kami merasa keberadaan kereta api ini sia-sia. Jadi kami merombak rel kereta api dan menggunakannya untuk membangun lahan pertanian yang memadai. Dan kami memanfaatkan panel surya yang ada di permukaan untuk menghasilkan listrik."

"Bukankah iblis itu akan menghancurkannya?"

"Iblis tidak akan mau repot-repot mengintai atap gedung tinggi. Dan bahkan jika mereka mau, bagi mereka tidak ada banyak perbedaan antara panel surya dan sisa reruntuhan yang ada. Dan dengan listrik kita dapat memulai kembali berbagai pabrik produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan obat-obatan dan pakaian.”

Ada listrik dan makanan. Meskipun empat ras mendominasi benua, umat manusia mampu bertahan.

"Saki, Ashlan, apa kalian tinggal di sini?"

"Kami sudah tinggal disini selama satu tahun sekarang. Kami dipekerjakan di kota ini sebagai penjaga. Satu-satunya kekuatan yang bisa melawan non-manusia adalah Resistance.”
<TLN : Resistance ini merujuk ke prajurit/anggota MRA>

Saki menurunkan tangannya ke pinggangnya di mana tampak sebuah senapan menggantung disana. Biasanya untuk gadis muda seperti Saki, senapan otomatis sebesar ini akan terlalu besar.

"Tujuan Resistance adalah untuk mengambil kembali kendali dari iblis di Federasi Urza. Tapi tentu saja kelompok Resistance ada di seluruh bagian dunia, dan mereka juga menghadapi situasi yang sama di tempat mereka masing-masing."

"...Dengar, teman-teman."

Meyakinkan dirinya sendiri, Kai menatap mereka berdua. Manusia kalah dalam Perang Besar. Tapi itu membawa pertanyaan lain.

"Mungkin pertanyaan ini terdengar... bodoh. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di sini."

Dia kemudian membuat pertanyaan yang membungkam Saki dan Ashlan.

"Mengapa kita kalah dalam Perang Besar?"

"....Apa?"

"...Bahkan jika kau bertanya kenapa..."

Mereka kebingungan mendengarnya.

"Karena... tidak ada cara bagi kita untuk bisa menang." - jawab Saki seakan ketakutan.

"Tidak ada pisau atau pistol yang bisa melukai naga Cryptid. Sedangkan untuk roh, peluru hanya akan menembusnya. Lalu ada sihir iblis yang bisa melenyapkan bangunan. Dan elf serta Foreign Gods bisa membuat alat sihir yang lebih unggul dari persenjataan kita. Dan alasan utamanya, pemimpin dari ke empat ras ini sangat kuat."

"Maksudmu empat pahlawan? Seperti Dark Empress Vanessa atau Fang King Rath=IE?"

"Oh, kau memang tahu banyak hal, Kai?"

Setelah mengatakan itu, dia melirik ke arahnya.

"Jika kau tahu sebanyak itu, lalu mengapa kau berpikir bahwa ada peluang bagi kita untuk menang?"

"Kenapa, kau bertanya... aku hanya ragu dengan situasi ini."

Dia memberi Saki jawaban langsung.

"Sejauh yang aku tahu, bukankah Sid mengalahkan iblis dan ras lain? Setelah itu mereka disegel di Makam."

"Sid?"

"Siapa itu?"

"Tunggu, maksudku kita sedang membicarakan Prophet Sid. Pasti kalian tahu tentang dia..."

Pahlawan yang mampu mengalahkan ras lain. Beberapa hari yang lalu, mereka membicarakannya.

"Kalau hanya sekedar nama saja... Hei, Ashlan, apa kau tahu sesuatu?"

"Prophet, katamu? Dan dia mengalahkan iblis? Jika ada orang seperti itu, apakah menurutmu kita akan terus hidup di bawah tanah?"

Saki dan Ashlan saling memandang. Sepertinya, tidak ada yang tahu tentang dia.

...Sepertinya mereka benar-benar tidak tahu keberadaannya.
...Prophet Sid bahkan tidak ada di dunia ini!?

Sedikit demi sedikit, Kai menyadari betapa berbedanya dunia ini dari apa yang dia ingat.

"Menurut ingatanku, pahlawan manusia ada. Prophet Sid mengalahkan empat pahlawan dan berkat itu umat manusia memenangkan Perang Besar tetapi..."

Lalu...
Apa jadinya dunia ini jika Prophet Sid tidak ada? 

Karena tidak ada yang bertarung melawan empat pahlawan, umat manusia kalah. Itu kurang lebih, garis besar sejarah saat ini.

...Tentu saja saat itu...
...Saat kami pergi berbelanja dengan Jeanne, karena fenomena itu, sesuatu telah berubah.

Lubang hitam di langit menyedot segalanya: awan, bangunan, manusia, bahkan Jeanne. Semuanya kecuali Kai sendiri. Sebelum dia menyadari apa yang sedang terjadi, sejarah dunia itu sendiri telah berubah.

"Oh itu kan...? Hei, Ashlan."

"Ya, pimpinan utama kita datang. Satu jam lebih awal dari yang direncanakan."

Dari dalam kota bisa terdengar sorak-sorai. Ada kerumunan orang. Bahkan yang sedang dalam perjalanan juga ikut berhenti dan bergerak ke arah mereka untuk ikut memberikan sorakan.

"Kami bersama Saki adalah bagian dari unit yang ditempatkan di sini. Mereka adalah anggota utama Resistance. Dan sebulan sekali mereka berkeliling kota manusia. Tugas utama mereka, sederhananya, adalah menemukan cara untuk mengambil kembali Federasi Urza."

Harapan untuk mengambil kembali dunia permukaan. Tapi tetap saja, bahkan jika pasukan utama datang, apakah sorakan semacam ini juga akan terjadi?

"Sepertinya mereka cukup populer"

"Yah, itu karena disana juga ada komandan Resistance. Bagi orang-orang biasa, kedatangan mereka itu seperti kedatangan penyelamat dari ancaman iblis. Kau bisa mendengar sorakan mereka."

Sebagian besar sorak-sorai keras ini tampaknya berasal dari para wanita. Tentang hal itu Ashlan hanya mengangkat bahunya saja.

"Mereka bersorak hanya untuk sang komandan itu sendiri, bukan untuk semua tentara disana. Dia adalah pemimpin hebat kita. Muda, namun luar biasa dan seperti yang kau lihat, dia cukup populer."

"...Paladin" - gumam Saki.

"Simbol harapan bahwa Federasi Urza akan dibebaskan. Meskipun tidak hanya di Urza. Bahkan kelompok Resistance di daerah lain mengakuinya."

Mendekati kerumunan warga, Kau bisa melihat beberapa tentara dengan seragam yang sama dengan Saki dan Ashlan. Dengan lambang yang sama milik Resistance.

"Jadi di mana komandan itu?"

"Lihat di sana, pria di tengah keramaian itu. Kau bisa mengenalinya dari baju besinya yang tampak seperti ksatria sungguhan. Oh, sepertinya dia datang ke sini."

Saki menarik napas dan melanjutkan dengan kekaguman dalam suaranya.

"Jeanne-sama benar-benar keren! Meskipun seorang pria, wajahnya lebih cantik daripada kebanyakan gadis di sini. Tentu saja dia akan populer. Dan nama femininnya tidak terdengar buruk juga.”

"...Saki, apa yang kau katakan sekarang...?"

Tidak ada salah lagi. Gadis di dekatnya, baru saja mengucapkan nama itu:

"Jeanne-sama!"

"Kami sedang menunggu kedatangan anda! Sejauh ini tidak ada kelainan. Kami akan dengan rajin melanjutkan tugas jaga kami!"

Saki dan Ashlan menegakkan postur mereka dan memberi hormat kepada komandan mereka yang mengenakan baju besi ksatria, dikelilingi oleh warga disana.

"Kerja bagus, aku menghargai usahamu." - jawab komandan dengan senyum yang indah.

Komandan adalah seorang pria muda tampan? dan mengenakan baju besi yang berat. Kemungkinan besar seumuran dengan Kai. Fitur wajahnya yang lembut mengeluarkan aura yang sangat feminin.

Tapi untuk Kai...

...Wajahnya terlihat seperti ditutupi make-up agar terlihat lebih kelaki-lakian.

...Dan baju besi ini, mungkinkah untuk menyembunyikan sosok ramping femininnya?

Suaranya juga terasa seperti dipaksakan. Dan rambut miliknya? rambut perak... Karena sangat panjang untuk seorang pria, rambutnya diikat ke belakang. Ini seperti di masa kecil mereka. Jeanne biasa mengikat rambutnya seperti itu karena rambut panjang itu bisa membuatnya kesulitan bergerak dan berlari.

"Jeanne?"

"..."

Ksatria berambut perak berbalik ke arahnya, berdiri di antara Saki dan Ashlan. Komandan Perlawanan Urza memiringkan kepalanya seolah-olah sedang bingung.

"Oh, siapakah itu? Aku tidak mengenalinya."

"Kami menemukannya di permukaan dan mengambil perlindungan. Namanya Kai. Tidak terdaftar sebagai penduduk kota ini."

"Kepalanya sedikit terbentur sehingga ingatannya agak kacau. Tapi yakinlah, Jeanne-sama, dia bukan orang jahat."

Saki dan Ashlan memberikan respon cepat. Di mana Jeanne mengangguk sebagai tanda terima.

"Aku mengerti, kalau begitu ..."

"Tolong tunggu, Jeanne, ini aku!"

Kai mendorong mereka berdua dan berteriak ke arah teman masa kecilnya.

Tolong biarkan semua itu menjadi sekedar lelucon saja. Dunia yang dikuasai iblis. Manusia yang sekarang harus tinggal di kota bawah tanah. Saki dan Ashlan yang tidak mengingatnya sama sekali. Mungkinkah dia hanya sedang bercanda bersama mereka?

"Baru beberapa saat yang lalu kita berbelanja bersama! Dan karena kau berencana untuk berangkat ke ibukota, kau ingin memberikan beberapa hadiah kepada kami! Apakah kau benar-benar tidak ingat apa-apa!?"

Melihat beberapa kebisingan, kerumunan menjadi gelisah. Dan bukan dengan simpati terhadapnya. Mereka memberikan tatapan aneh pada seseorang yang tidak diketahui asalnya, namun berani meneriaki ksatria yang merupakan simbol harapan untuk pembebasan umat manusia.

"Maafkan aku." - kata ksatria bernama Jeanne dan menggelengkan kepalanya.

Berpura-pura menjadi seorang pria... Kai tidak percaya.

"Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat? Aku merasa kau salah orang."

"...Kau benar-benar tidak mengingatku..."

"Maafkan aku, aku harus menghadiri pertemuan dengan bawahanku setelah ini. Saki, Ashlan, tolong dengarkan dia menggantikan posisiku."

Dikelilingi oleh bawahan, Jeanne berpaling dari Kai.

...Benarkah?

...Bahkan Jeanne tidak mengingatku?

Dia benar-benar berharap itu menjadi semacam lelucon. Beberapa saat yang lalu mereka masih bersama.

"Jeanne!"

Kai menggigit bibirnya dan menghentakkan kaki. Dia terus bergerak menuju ksatria, yang membelakanginya, meskipun terus dihalangi oleh bawahan ksatria itu.

"Apakah mimpimu adalah menjadi seorang komandan dengan berpura-pura menjadi laki-laki!? Itu tidak mungkin benar, kan? Bahkan kau sendiri yang mengatakannya, bahwa kau ingin melampaui ayahmu, sebagai putrinya. Apakah kau melupakan itu!?"

"...!?"

Dia berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Jeanne. Dan sepertinya bahu komandan Resistance turun sedikit... Atau begitulah menurut Kai. Namun setelah itu…

"Bajingan, apa yang kau lakukan pada Jeanne!"

"Pergi! Jeanne-sama, kau baik-baik saja?"

Kai telah ditarik dan diseret dari Jeanne oleh bawahannya.

"H-hei, Kai, apa yang kau lakukan!?"

"Kau! Kenapa kau tiba-tiba menerjang ke arah Jeanne-sama... Kami benar-benar minta maaf, Jeanne-sama. Dia bukan orang jahat, kok!"

Saat berada di antara Saki dan Ashlan, Kai hanya bisa melihat Komandan Resistance pergi dengan wajah tercengang.

********

Malam telah tiba di Neo Vishal. Di kota bawah tanah ini, siang hari telah digantikan oleh lampu dari langit-langit. Dan pada tengah malam, untuk menyamai malam dari permukaan, hanya lampu disekitar jalan kota saja yang masih menyala.

"..."

Di sebuah hotel, di dalam kamar yang remang-remang. Kai sedang duduk di depan meja yang penuh dengan berbagai dokumen dan peta, yang dia pinjam dari Resistance dengan bantuan Saki dan Ashlan.

"... Bagaimana ini bisa terjadi."

Tak lama, dia menjadi terlalu lelah untuk menghela nafas atau bahkan menunjukkan senyum pahit.

"Jika ini adalah pengetahuan umum tentang dunia ini... Maka sejarah dunia ini tentu berbeda dengan yang aku ingat."

Dalam sejarah dunia Kai, manusia menang dalam Perang Besar Lima Ras. Tapi kenyataannya sungguh berbeda di sini.

"Kami kalah dalam Perang Besar. Dan itu terjadi 30 tahun yang lalu."

Tapi kecuali sejarah, semuanya cocok dengan ingatan Kai, termasuk geografi benua. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang orang-orang. Di antara warga kota ini, Kai dapat menemukan nama-nama yang dikenal di lingkungannya. Bahkan mata uang yang digunakan di sini, sama dengan yang Kai dapatkan dari dunia lamanya.

...Ada beberapa perbedaan kecil seperti Ashlan mengatasi mabuk perjalanannya.

...Tapi selain itu, orang-orang di sini kurang lebih sebagaimana Kai mengingat mereka.

Satu-satunya misteri adalah mengapa Kai dan Prophet Sid dilupakan. Keduanya tidak pernah ada sejak awal. Seolah terhapus dari sejarah.

"...Kenapa."

Dapat dimengerti mengapa Prophet Sid tidak ada lagi dari dunia ini. Bagaimanapun juga, pahlawan manusia adalah satu-satunya alasan umat manusia memenangkan Perang Besar. Bahwa dia bisa mengerti.

"Tapi kenapa aku juga tidak ada disini...!?"

Bahkan teman-temannya dari MDA ada di sini. Namun terlepas dari itu, mengapa hanya dia yang dilupakan? Dan bagaimana dengan orang tua atau kerabatnya? Meskipun dia tidak dapat menemukan catatan mereka di Neo Vishal, ada kemungkinan bahwa mereka dapat melarikan diri ke bangsal yang berbeda. Jadi untuk saat ini dia bisa yakin bahwa hanya dia dan Prophet Sid yang sudah tidak ada lagi.

"Apakah ada... petunjuk? Karena tidak ada Prophet Sid, umat manusia sekarang didominasi oleh ras lain. Apakah ada perubahan lain selain itu!?"

Dia terus melihat-lihat setiap buku dan peta sejarah.

"Federasi Urza telah dikalahkan oleh pahlawan iblis. Jelas, karena Sid tidak lagi di sini. Apakah ada hal lain yang berbeda dari ingatanku!? Sial, bahkan Makam-nya adalah piramida hitam yang sama. Bagaimana dengan sejarah jenderal yang melaksanakan pemerintahan..."

Saat itu dia merasa aneh. Setelah membalik halaman, Kai merasa bahwa dia harus pergi ke halaman sebelumnya. Peta Federasi Urza. Ada foto piramida hitam. makam iblis.

...Tunggu sebentar, mungkinkah aku membuat kesalahan.

...Aku merasa aku mengabaikan sesuatu tentang makam ini.

"Benar! Bagaimana aku bisa melupakannya!?"

Kai dengan penuh semangat berdiri dari kursinya.

"Makam ini... Kehadiran Makam di dunia ini sungguh aneh!"

Setelah memenangkan Perang Besar, umat manusia menciptakan makam untuk menyegel ras non-manusia. Tapi di dunia ini kita telah dikalahkan.

"Tidak ada Sid di dunia ini... Dan terlepas dari kenyataan bahwa kita kalah, makam ini masih ada."

Jika manusia ditakdirkan kalah, maka tidak ada yang akan membuat makam untuk menyegel ras non-manusia. Bukankah itu kontradiksi dalam sejarah dunia ini?

"..."

Dalam cahaya redup, Kai menggigit bibirnya.

********

Pada pagi berikutnya. Kai menyebarkan peta di depan mereka berdua, dan mereka memberikan jawaban cepat.

"Uhhh... makam? Apa itu? Aku belum pernah mendengarnya."

"Aku juga sama, ini kali pertamaku melihatnya. Ada apa dengan bangunan segitiga menyeramkan ini.. Mungkinkah para iblis itu yang membuatnya? Orang yang mengambil foto ini, kemungkinan besar juga berpikir begitu."

"...Ok, begitu. Terima kasih"

Seperti yang dia perkirakan, baik Saki dan Ashlan tidak tahu tentang makam. Tidak peduli bagaimana pun kau melihatnya, aneh bahwa makam tersebut masih berdiri, meskipun manusia kalah dalam Perang Besar. Mungkin akan bermanfaat baginya untuk menyelidikinya.

"Ashlan, apakah ada mobil yang tersedia?"

"Hmm? Apakah kau ingin aku membawamu ke suatu tempat? Tapi kau ingat bahwa pasukan utama datang kemarin. Untuk saat ini aku dan Saki harus menghadiri rapat, jadi kita tidak bisa bepergian."

"Aku mengerti itu" - kata Kai dan mengulurkan tangannya ke arah Ashlan.

"Aku bisa pergi sendiri, jadi pinjamkan aku kuncinya saja. Jika aku akan pergi dengan kecepatan penuh, aku akan bisa kembali pada siang hari, jadi aku memintamu meminjamkanku mobil Resistance."

********

Gurun makam. Di dunia sebelumnya, Kai mengintai tempat ini bersama Saki dan Ashlan selama satu setengah tahun.

"Ini pertama kalinya aku datang ke sini sendirian."

Kai mendongak dari mobil lapis bajanya. Di antara angin dengan pasir berdiri piramida hitam.

"Iblis menduduki ibukota Urza dan menempatkan patroli di semua tempat..."

Iblis yang dia temui di Terminal 9 adalah bagian dari patroli itu. Dan dalam perjalanannya ke sini, dia sering melihat iblis. Dengan setiap pertemuan dia harus mengambil jalan memutar, tetapi akhirnya dia bisa tiba di sini.

"...Ayo pergi."

Dia akhirnya datang ke gedung setinggi 200 meter ini. Mengambil Drake Nail-nya, dia pergi dari kursi pengemudi.

"Pintu masuk tampaknya baik-baik saja. Yah, seperti yang diharapkan."

Satu-satunya pintu masuk ke dalam adalah melalui pintu ini. Dan MDA adalah satu-satunya yang memiliki kunci untuk membukanya.

Aku bisa masuk sekali 10 tahun yang lalu. 

Ketika ayah Jeanne masih menjabat sebagai kepala markas Urza, dia diizinkan untuk ikut bersamanya untuk pengalaman belajar. 

Setelah itu dia jatuh ke dalamnya.

"Tidak, sekarang, itu tidak berarti lagi."

Dia berjalan perlahan melewati batas makam. Di bawah terik matahari, dia merasakan sakit di seluruh kulitnya. Dengan keringat di dahinya, dia bergerak menuju bagian belakang makam. Dan di sana Kai melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya.

"Batu penyegelnya... sudah digulingkan dari tempatnya!?"

Batu besar melingkar telah berguling menjauh dari dinding makam. Itu adalah peralatan khusus yang berfungsi sebagai penghalang untuk mencegah iblis melarikan diri. Pola sedikit kehijauan terlihat di permukaannya, yang merupakan bukti bahwa peralatan itu masih berfungsi.

"Tak kusangka bahwa iblis yang terkunci di dalam berhasil menghilangkan penghalang ini dan melarikan diri... Kurasa itu tidak mungkin. Selain itu, jika itu memang benar terjadi, aku berharap Saki dan Ashlan langsung mengatakan bahwa iblis melarikan diri dari makam."

Bisa jadi batu penyegel itu dibiarkan seperti itu karena tidak ada yang menyegel iblis di dalam 100 tahun yang lalu. Jika kau berpikir seperti itu, kedengarannya memang masuk akal.

"Pertama kalinya aku masuk dari pintu ini..."

Dia masuk ke dalam makam. Alih-alih pintu masuk depan, sekarang ia melewati lubang di belakang yang terhalang oleh batu penyegel. Dan itu terhubung langsung ke ruangan tempat iblis disegel. Sepuluh tahun yang lalu ketika Kai jatuh, dia terjatuh ke bagian dasar dari makam itu.

Tetapi ketika aku sadar bahwa aku berada di dalamnya, aku hampir kehilangan kesadaranku. 
Dan ketika aku terbangun, aku sudah diluar makam itu. 

Dia ingat dikelilingi oleh gerombolan besar iblis. Dan di sana dia menemukan "Shining Sword", pedang legendaris milik Prophet Sid. Tapi saat ia mencoba meraihnya... Kai kehilangan kesadarannya.

Sinar matahari tidak bisa mencapai bagian dalam makam dan saat dia masuk, Kai merasa merinding. Dan setelah menyusuri lebih jauh ke dalam...

"Apa itu?"

Ada cahaya, datang dari sudut lorong yang jauh.

Cahaya itu... apa itu? 
Rasanya seperti... nostalgia. 

Tanpa ragu-ragu, Kai langsung berlari menuju sumber cahaya. Dan selanjutnya ada ruang terbuka yang besar... Di tengahnya ada pedang bersinar, menancap di tanah.

Pedang legendaris Prophet Sid yang dia gunakan untuk menghancurkan ras non-manusia. Tapi karena tidak ada catatan yang tersisa dari kepahlawanannya, banyak orang berfantasi tentang dia. Dan pedang pahlawan ini sekali lagi ada di depan matanya.

"...Pedang Sid...?"

Pedang itu adalah pedang yang cahayanya setara dengan sinar matahari di permukaan. Bilahnya yang bercahaya terang mampu mencerahkan malam. Pedang Sid yang terus bersinar seperti matahari.

Dapat dikatakan bahwa itu tampak seperti God’s Halo.
<TLN: God’s Halo itu maksudnya seperti mahkota yg berbentuk cincin, terus bercahaya, kalo anda pernah liat ilustrasi malaikat biasanya ada cincin mahkota di kepalanya, nah seperti itu.>

Dan hal menakjubkan lainnya adalah pedang itu transparan seperti kristal. Bahkan pegangan dan pelindung pedang pun transparan.

"...Ini sungguh pedang legenda itu, kan?"

Seperti yang dia ingat 10 tahun yang lalu. Pedang pahlawan itu benar-benar ada.

"Itu benar! Ternyata itu memang sungguh ada, pedang legendaris milik Prophet Sid!"

Seperti 10 tahun yang lalu Kai bergegas menuju pedang untuk memegangnya. Dan kemudian suara orang tua yang berat bergema di seluruh makam.

Orang yang terjerat oleh nasib yang penuh kebencian, jangan lepaskan pedang ini. 
Code Holder Key... 

"...Code Holder Key?"

Di depan mata Kai, pedang yang bersinar naik perlahan. Dari ujung pedang itu, sebuah cahaya yang sangat redup keluar, membelah udara hampa dan meninggalkan jejak cahaya. Cahaya itu berbentuk sebuah pintu. Dan pintu ini mulai terbuka.

"...Se...seorang...kumohon...tolong...aku..."

Kini Kai mendengar suara yang berbeda dari sebelumnya. Dia mendengar suara samar-samar dari seorang gadis muda. Lalu tiba-tiba, pintu cahaya pun terbuka, dan Kai mulai ditarik ke dalam pusaran cahaya.

"Ugh!? Hei... suara itu, siapa kau!?"

Saat ditarik ke dalam cahaya ini, Kai yakin bahwa dia mendengar suara seorang gadis. Dan kemudian dia berteriak sekuat mungkin.

Aku yakin ada seseorang disana. 
Suara ratapan meminta bantuan. 

Hanya itu yang bisa dia mengerti. Kai, sambil memegang pedang pahlawan, pergi ke tempat gadis muda itu menunggu.

Ketika dia sadar, Kai mendapati dirinya berada di tengah lautan awan.

"Ini...bukan makam?"

Dia melihat sekeliling ke segala arah, tetapi tidak ada jejak makam yang suram itu. Dan langit telah ditutupi oleh lautan awan. Jika dibandingkan, dapat dikatakan bahwa dunia ini telah ditutupi oleh satu selimut katun besar. Dan tak hanya hamparan awan putih, dia juga melihat ketujuh warna pelangi.

"Tempat apa ini... Dan dimana pintu tempat aku masuk tadi?"

Di bawah kakinya ada jalan tak berujung yang terbuat dari batu. Di sisi jalan itu berdiri pilar batu setinggi beberapa puluh meter. Terlihat sesuatu yang kuno terukir pada masing-masing pilarnya. Suasana disana tampak hampir seperti kuil kuno. Orang hanya bisa bertanya-tanya siapa yang akan membuat jalan seperti itu.

"Buatan manusia? Atau mungkin... kurasa hanya Foreign Gods. Aku ingat bahwa para elf dan dwarf cenderung membangun bangunan yang lebih besar daripada kita"

Tapi ini makam iblis. Foreign Gods telah disegel di makam yang berbeda. Selain itu Kai bisa mengingat bahwa reruntuhan yang mereka tinggalkan terasa agak berbeda.

"...Apakah ini tempat khusus yang dibuat oleh iblis?"

Sambil memegang Drake Nail-nya, dia mulai bergerak maju. Untuk mencari tahu dimana jalan itu berakhir, Kai memutuskan untuk mengabaikan setiap persimpangan yang ada.

Berapa banyak waktu telah berlalu? Satu jam? Dua jam? Dia terus berjalan lebih jauh ke depan selama indranya belum mati rasa.

"Itu adalah…?"

Sosok yang menjulang tinggi memasuki bidang pandangnya. Tempat didepannya tampak seperti semacam altar. Dia menaiki beberapa tangga kecil dengan kurang dari 10 langkah. Di hadapannya ada tiga pilar marmer yang megah, menjulang tinggi seolah-olah mencapai langit itu sendiri. Dan di tengahnya ada...

"Seorang gadis?"

Seolah-olah disalibkan, ada seorang gadis yang diikat ke tiang. Dia tampak seperti pengorbanan dalam semacam ritual. Kedua tangannya diikat dengan rantai. Ada seorang gadis pirang yang ditutupi rantai bahkan sampai ke wajahnya.

"...Apakah ada... seseorang?"

Merasakan langkah kaki Kai, gadis yang diikat oleh rantai itu mulai mengangkat kepalanya. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena semua rantai yang mengikatnya.

"Kumohon…"

Dengan suara serak, dia kembali memohon.

"...Tolong aku... Putuskan rantai ini..."


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Regent
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar