Selasa, 14 Januari 2020

Death March kara Hajimaru Isekai Kyousoukyoku Bahasa Indonesia : Chapter 17-47. Satou VS Demon God

Chapter 17-47. Satou VS Demon God


Satou di sini. Ungkapan 'Tikus yang terpojok akan menggigit kucing' cukup terkenal, tetapi merebut kemenangan adalah hal yang berbeda dari menggertak. Terlebih lagi terhadap seseorang yang tidak akan membiarkan penjagaan mereka turun--.



"—Sambil duduk?"

Meskipun mengatakan sesuatu seperti, "melenyapkan jiwamu hingga mustahil untuk dihidupkan kembali", Demon god tetap duduk di singgasananya, sepertinya dia tidak akan berdiri dalam waktu dekat.
Dimension sword dan Nihilistic sword di kedua tangannya juga tak tercengkram dengan baik, tubuhnya yang dirambahi ketidakmurnian membuatnya dalam kondisi buruk.

Sepertinya menunggu kesempatan untuk menghilangkan Ketidakmurnian tidak akan menjadi masalah--.

Saat pikiran riang itu terlintas di benakku, aku tertarik menuju Demon god.

Pedang ditangannya melesat dengan cepat.

- Wah

Aku berhasil menghindarinya entah bagaimana, hampir saja leherku terlepas dari tubuhku.

Tetap saja, tubuhku terasa berat.

Perasaan takjub yang aku alami selama kematianku terasa seperti mimpi yang sudah lama berlalu, tubuhku tidak merespon dengan baik.
Ini sangat berat, aku seperti ditarik oleh magnet.

"- Bagaimana kau bisa menghindarinya?"

Demon god bertanya, tampaknya sulit untuk dipercayai.

"Setelah kau kehilangan level dan skillmu, kau seharusnya tidak bisa menghindarinya."

Ah, Tubuhku seperti ini karena levelku telah kembali ke 1 ya.

Aku menghindari serangan Demon God yang tidak menentu dengan jarak sehelai rambut lagi.
Aku bisa dengan mudah menghindari serangan ini jika aku dalam kondisi seperti biasa.

Aku perlu lebih dekat dengan Demon God untuk membersihkan ketidakmurniannya, tetapi dia akan memindahkanku kembali setiap kali aku mencoba untuk mengitarinya.
Teleportasi ini tampaknya berasal dari Dimension Sword-nya, bukan magic atau Otoritas.

Aku mungkin akan mati dua kali jika Demon god tidak dalam kondisi yang buruk.

Aku melirik Log sebentar.

Seharusnya saat ini aku memperoleh skill baru biasanya, tetapi Log tidak menunjukkan apa-apa.

"-"

Karena tindakan itu, Nihilistic Sword datang tepat ketika aku tidak bisa melakukan manuver menghindar.

Aku mengeluarkan Divine Sword dari Storage dan memblokir Nihilistic Sword.
Pedang itu menghilang ketika menyentuh Divine Sword sebelum terbentuk kembali di tangan Demon god.
Aku sedang mencoba untuk mengambil kesempatan saat salah satu senjata merepotkan Demon God hancur, tetapi tampaknya itu tidak akan berhasil.

"Itu ..."

Demon god berbicara dengan nada menjengkelkan.
Sepertinya bahkan Demon god tidak bisa mengabaikan Divine Sword.

Tepat pada saat itu, Peta muncul dalam pandanganku.



--Merah.

Segerombolan titik merah bergegas menuju Kastil Demon God dengan kecepatan luar biasa di Peta.
Aku secara refleks mengalihkan perhatianku ke sana.

"Akhirnya kau menyadarinya ya."

Demon god tertawa.

"Itu adalah pasukan elit yang telah kuberikan Otoritasku dan kukirim ke perbatasan Dunia Para Dewa."

Demon God memproyeksikan gambar segerombolan besar Demon di udara.

Selain Demon General dan Avenger, ada banyak kapal perang dan hantu juga.
Semua demon itu dibalut dengan aura hitam, tampaknya mereka sudah ternodai oleh ketidakmurnian.

Lebih banyak gambar yang ditampilkan.

Gambar para gadis.
Menampilkan kelompok Zena-san menebas demon di luar pesawat ruang angkasa kami, dan kelompok Arisa yang bertarung melawan demon perempuan di lorong.

--Jangan bilang.

"Diamlah dan saksikan gadis-gadismu dibantai."

Sepertinya Demon god mengirimkan pasukan elit itu kepada para gadis, bukan aku.

"--Aku tidak akan membiarkanmu."
"Sistem telah dimatikan. Apa yang bisa kau lakukan, tanpa kekuatan sementaramu itu, tidak ada harapan lagi."

Hal yang bisa aku lakukan--.

Bacaan AR terlihat dipandanganku.
Ada. Satu hal yang bisa aku lakukan.

"--Aku yakin bisa."

Aku mengoperasikan Menuku.
Ikon yang pernah aku matikan karena kehebatannya.

"Omong kosong--"

Demon god memasang senyum terdistorsi.
Sebuah wajah yang tidak kupercaya berasal dari diriku di dunia paralel.

Ketidakmurniannya pasti semakin buruk.

Zena dan gadis-gadis itu menunjuk ke arah langit dalam proyeksi gambar.
Tampaknya para pasukan elit itu juga sudah terlihat oleh mereka.

"- Sekarang saatnya untuk memulai pembantaian."
"Memang."

Demon God sepertinya bingung dengan persetujuanku, dia bergumam, "--Apa?"

"...Tidak mungkin."

Awan ungu tebal di atas demon-demon itu terkoyak, memperlihatkan sebuah meteor merah yang membara.
Jumlah meteor dengan cepat berlipat ganda, turun seperti hujan lebat, memusnahkan pasukan elit demon. Kata 'pembantaian' benar-benar cocok dengan pemandangan ini.

"Bahkan mereka yang diberikan Absolute Magic Defense, Absolute Physical Defense, dan Absolute Evasion Authorities menjadi mangsa meteor-meteor itu?"

Ya, lagipula itu magic yang menghancurkan Dragon God.
Tentu saja, itu akan memusnahkan segalanya.

"Bagaimana kau bisa menggunakan magic!"

Demon God memelototiku.

"--Tidak, bukan. Itu bukan magic. Aku tidak merasakan mana darimu."

Aku melirik Log di sebelah Demon God yang terheran-heran.

Sayangnya, levelku tetap 1.
Logku menunjukkan unit yang telah aku musnahkan, namun bar exp-ku tidak bergerak sama sekali, dan aku juga tidak mendapatkan skill baru.

"Jangan bilang bahwa itu adalah Otoritas !?"

Demon god sampai pada kesimpulan yang benar.
Ya, itu bukan magic, tetapi salah satu icon [Meteor Shower] yang diberikan sebagai bonus dukungan untuk pemain baru.

"Kau menggunakan Otoritas Dragon God ?! Apa kau gila ?!"

Demon God terkejut.

Rupanya, Meteor Shower di list magicku dan ikon Meteor Shower adalah hal yang berbeda.
Yah, itu adalah serangan yang disiapkan oleh Dragon God demi mengalahkan dirinya sendiri.

"Namun, menggunakan kartu as terakhirmu untuk hal sentimental seperti itu adalah kekalahanmu."

Demon God turun dari singgasananya sambil terhuyung-huyung.

"Apakah kau masih bisa mempertahankan egomu jika kau terbunuh oleh God Slaying Divine Sword, aku penasaran?"

Tangannya telah memegang Divine Sword sebelum aku menyadarinya.

Sepertinya title Thief God-nya bukan hanya untuk pamer.



Demon God semakin serius.

Tebasan hitam yang mendekat dengan cepat. Aku menghindari dengan merunduk. Pedang lain datang dari titik butaku. Aku melompat untuk menghindarinya. Aku melihat Demon god menyeringai, menatapku saat aku berguling. Tebasan tajam mengejar diriku yang sedang berguling. Demon God mempermainkanku. Namun, cemoohan itu pasti akan melahirkan kesempatan untuk membalikkan keadaan.

Oh sial.

Serangan Demon God semakin cepat sedikit demi sedikit. Beberapa serangannya berhasil mengenai tubuhku.
Aku tidak bisa menggunakan Unit Arrangement. Aku harus menyimpannya untuk membalikkan situasi dan untuk melarikan diri.

Aku dengan putus asa terus menghindar.

"Bagaimana kau bisa terus menghindar?"

Demon God bergumam sambil tidak mengendurkan serangannya.

Sekarang setelah dia mengatakannya, aku sampai pada titik bahwa tidak ada serangan yang berhasil mengenaiku.
Tubuhku masih terasa berat seperti biasa, namun aku sudah terbiasa dengan beban pada tubuh ini. Aku masih tidak bisa mendapatkan skill baru, tapi perlahan-lahan aku mengingat sensasi ketika aku dengan panik menghindari serangan Demon God.

"Rapid Slash << First Slicing >>."

Aku menghindari serangan Demon God yang diselimuti cahaya ungu gelap.

Benar.

Ini adalah bagaimana caranya kau menghindar.

Aku dengan mudah menghindari serangan Demon God saat serangannya bertambah ganas.
Sepertinya tubuhku mengingat pergerakannya bahkan tanpa skill.

"Bagaimana kau bisa menghindari serangan dengan Otoritas?"

Demon god kebingungan, tetapi kecepatan serangan tidak terlalu penting selama Kau tahu di mana serangan itu akan tiba.
Aku rasa dia menggunakan Unique Skill sejenis pasti kena tadi.

"--Baiklah."

Berpikir sepertinya itu gerakan yang buruk, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku tiba-tiba.

Sensasi ini, ini adalah magic space.
Demon god tampaknya telah kehilangan kesabaran dan menahan tubuhku dengan magic space.

Kalau saja ini penghalang, aku bisa dengan mudah menerobosnya.

Saat pikiran itu muncul di benakku, pengikat yang mengikat tubuhku hancur.
Apakah kekuatan penghilang penghalang misterius juga efektif untuk magic space?

"Apakah itu Otoritasmu !?"

Kali ini dia mengeluarkan spell yang melumpuhkan, dan aku berhasil membatalkannya juga.
Aku tidak mengerti cara kerjanya, tapi tidak usah terlalu dipikirkan, selama ini berguna.

"--Geh."

Kali ini dia melakukan serangan jarak jauh.

Tepat ketika aku berpikir, 'Oh sial', magic yang mendekat menghilang tepat di depan mataku.

"Tidak ada respon dari mana-ku? Apakah itu salah satu dari Otoritasmu!?"

Demon God terkejut, tapi aku juga.

Mungkin - aku memeriksa Storageku dan mengkonfirmasi serangan magic Demon God telah tersimpan di dalamnya.
Membayangkan untuk meraih magic ketika aku berpikir, 'Oh sial', sebelumnya adalah keputusan yang tepat.

Aku tidak cukup percaya diri untuk terus melakukannya, jadi menghentikan Demon god menggunakan serangan magic adalah hal yang melegakan.

Nah, sekarang saatnya untuk meluncurkan serangan balasan.



"Baiklah--."

Demon God menahan tubuhku dengan magic space bersamaan dengan tebasan.

- Tidak mungkin menghindar.

Menyimpulkan seperti itu, aku mengeluarkan kartu as ku yang lain.

"Divine Sword, diblokir?"

Divine Sword yang dibaluti aura hitam milik Demon God berhasil diblokir oleh tombak dengan warna yang sama.
Sayangnya, kekuatanku saat ini tidak bisa menyamai Demon god. Menerima serangan itu secara langsung akan membuatku terbang ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

"Tombak macam apa itu?"
"- Kartu as-ku, kau tahu."

Itu adalah tombak yang terbuat dari lengan kiriku yang dirambahi oleh Ketidakmurnian ketika aku melepaskan [Demon God Offshoot] dari Heavenly Dragon saat itu.
Aku tidak pernah memberinya nama, jadi sebut saja Black Arm Spear.

Aku menyerang Demon god yang terkejut dengan Black Arm Spear, tetapi aku terhalang oleh penghalang yang tampaknya permanen.

Meskipun Black Arm Spear dapat memblokir Divine Sword, itu tampaknya tidak memiliki kekuatan untuk melukai Demon God.

Aku berurusan dengan Divine Sword dan tebasan Nihilistic Sword dengan menghindari dan menangkisnya menggunakan Black Arm Spear.
Magic space dan magic Shadow juga secara acak menyerangku berkali-kali, ini melelahkan.

Bahkan satu kesalahan akan membunuhku pada tingkat ini.

Ini buruk.

Saat aku menghindari Divine Sword dan menangkis Nihilistic Blade, pedang ungu transparan - Dragon Rendering Slash datang melayang ke arahku.

Tiga dari mereka pada saat yang bersamaan.

"—Terobos Segalanya!"

White Dragon Spear yang aku ambil dari Storage menembus tiga pedang transparan, menembus penghalang Demon god, dan langsung menuju ke arah Demon god sendiri tanpa kehilangan momentum.
Suara 'Kishi, kishi, kishi' bergema, perisai ungu transparan menghentikan pergerakan Dragon Spear.

Sepertinya itu adalah Divine Dancing Armor yang asli.

Aku tidak berpikir itu bisa menghentikan Dragon Spear yang terbuat dari taring dragon yang [Menembus Segalanya]. Aku pikir itu akan berhasil karena dapat menembus Divine Dancing Armor yang melindungi Kastil Demon God, tetapi tampaknya yang dimiliki Demon god sendiri lebih kuat.

"Dragon spear, kan--"

Demon God melotot dengan penuh marah pada tombak putih yang aku pegang di tanganku.

"- Akankah itu sampai padaku?"

Sepertinya dia menyadari kelemahan Dragon Spear.

Berbeda dengan Black Arm Spear, White Dragon Spear rapuh. Lupakan Divine Sword, kupikir itu bahkan tidak bisa memblokir tebasan dari Nihilistic Sword atau Dragon Rendering Slash.
Ini khusus untuk menyerang.

"Aku akan mewujudkannya."

Dengan Black Arm Spear sebagai tamengku, dan Dragon Spear sebagai tombakku, aku menantang Demon god.

Aku telah mengingat sensasi tidak hanya Skill Menghindar tetapi juga Skill Tombak dan Pengelihatan Masa Depan.

Namun, aku waktu sepertinya tidak memihak padaku.

Demon God perlahan bergerak lebih baik seiring berjalannya waktu.
Dia masih bergerak tidak menentu, tetapi jika ini terus berlanjut, dia akan pulih lebih cepat dari padaku.

--Aku mengerti.

Aku menyadari sesuatu.
Ketidakmurnian yang meluap keluar dari Demon god berkurang.

Ketidakmurnian langsung terserap kedalam Divine Sword yang dipegang Demon God. Ketidakmurnian yang menggerogoti Demon god telah tersedot ke Divine Sword selama pertarungan kami, meningkatkan kondisi Demon god.

Demon god berhenti bergerak dan menatap Divine Sword.
Sepertinya dia menyadarinya juga.

"Ini memakan miasma yang berlebihan ya. Pedang Pembantaian terkutuk ini akhirnya menyelamatkanku ..."

Terkutuk ya.

Tapi aku penasaran mengapa dia tidak menggunakan Divine Sword <<Perish>>?



--Retak.

Dengan Black Arm Spear.

Aku memblokir tebasan dari Nihilistic Sword yang dapat melukai bahkan para dewa.

--Retak.

Dan bahkan hujan serangan Dragon Rendering Slash yang akan memusnahkan dragon.

--Retak.

Bahkan berhasil memblokir tebasan dari God Slaying Divine Sword.

Namun, retakan mulai terlihat, akhirnya melampaui batasnya.

‘Crack’, Black Arm Spear pecah berkeping-keping bersama dengan suara itu.

"Kukuku, Irregular. Tombak yang melindungimu tidak ada lagi."

Demon god mengejekku.

Jadi Divine Sword masih diatasnya ...

Aku akan terpojokkan jika ini terus berlanjut.

Namun, masih terlalu dini untuk melarikan diri.
Dengan kebetulan, Ketidakmurnian Demon god telah berkurang drastic berkat Divine Sword.

Aku bisa merobek Ketidakmurnian yang tersisa dari Demon god jika seseorang bisa mengalihkan perhatiannya sebentar.

"—Tidak sopan."

Demon God melirik pintu masuk ruang audiensi.

Pintu besar itu diterbangkan bersama dengan suara menderu, seorang General Demon jatuh ke tanah.

『Demon god-sama, mereka-』

General Demon menunjuk ke arah pintu.

Sepertinya bala bantuanku sudah tiba.


※ Chapter berikutnya direncanakan update pada 20/1 atau 21/1


Note :
Masih tetep OP walaupun level 1 :v jangan lupa buat ikutan giveaway isekaichan ya, ada hadiah komik death march loh~


LIHAT INFORMASI GIVEAWAY DISINI~
https://www.facebook.com/isekaichan




TL: Isekai-Chan
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar