Minggu, 27 Oktober 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 8 : Chapter 14 - Kembalinya Denyut Sang Naga

Volume 8
Chapter 14 - Kembalinya Denyut Sang Naga


“Berita ini baru saja tiba! Lihatlah!” Seorang pria berteriak di jalan-jalan, melambai-lambaikan koran.

Penduduk kota bergegas menuju kearahnya, mengambil koran, dan menatapnya dengan mata terkejut. Aku mengambil satu juga, dan menunjukkannya kepada Kizuna.

"Bisakah kau membaca ini?"

"Mari kita lihat ... Dikatakan kalau pemegang katana dari vassal weapon ditemukan tapi berhasil melarikan diri. Sekarang seluruh negara mencari mereka."

"Ada vassal weapon katana di sini?"

Katana? Hm ... Katana sangat keren. Aku sudah melihat banyak dari mereka di manga shounen selama bertahun-tahun. Mereka mungkin salah satu dari tiga senjata teratas yang digunakan oleh protagonis.

Kembali ke dunia tempatku berasal, salah satu senjata suci adalah pedang, tapi Ren menggunakannya, yang merusak daya tarik kategori itu bagiku.

Siapa pun dari dunia ini yang menggunakan katana mungkin akan benar-benar merendahkan dan sombong. Aku tidak yakin mengapa aku membayangkan mereka seperti itu.

Kita sebaiknya berhati-hati untuk menghindari masalah yang tidak perlu.

“Aku selalu mendengar kalau tidak ada yang dipilih untuk menggunakan vassal weapon katana. Itu tersimpan di bawah pengamanan ketat gedung pemerintah resmi di ibukota. Orang-orang dapat melihatnya, tapi tampaknya penyeleksiannya sangat ketat.”

Mengingat betapa pentingnya vassal weapon itu, masuk akal kalau itu akan dilindungi dengan hati-hati.

Aku tidak tahu bagaimana Glass atau L'Arc akhirnya mendapatkan vassal weapon mereka, tapi Aku membayangkan itu adalah proses yang cukup sulit. Aku terus membayangkannya seperti pedang yang tertancap di batu — hanya mampu ditarik oleh orang-orang tertentu.

. . . ?

Bukankah pahlawan tujuh bintang itu seharusnya sama seperti pemegang vassal weapon dunia ini? Jika mencari yang setara dengan vassal weapon di dunia kita, itu adalah pahlawan tujuh bintang, terutama karena hanya orang-orang terpilih yang mampu menggunakannya.

Ost telah mengatakan sesuatu tentang itu.

Bukannya ada orang yang bisa berjalan dan menggunakan senjata, tapi tetap saja, jika seseorang yang memiliki hubungan buruk dengan pemerintah mengambil vassal weapon, mereka mungkin bisa melakukan banyak kerusakan. Itu sebabnya pemerintah harus melindungi mereka.

“Katana juga merupakan simbol kekuatan nasional di sini. Sepertinya mereka marah bagi siapapun yang memilikinya.”

"Hm ..."

Siapa pun itu, mereka pasti dipilih untuk memegang senjata, jadi mengapa mereka lari?

"Kedengarannya aneh bagiku." 

"Bagaimana bisa begitu?"

“Hampir terdengar seperti semua informasi spesifik tentang orang yang membawa vessel weapon tersebut sengaja dihilangkan. Ia tidak mengatakan apakah orang ini sendirian atau ditemani, apakah itu pria atau wanita... Mereka tidak mengatakan apa-apa tentang hal tersebut. Apakah Keduanya pria? Atau keduanya wanita?"

Jadi apa tujuan mereka menyebarkan berita ini? Mungkin orang yang mengambil katana sama sekali bukan dari negara ini, jadi mereka mencoba membawanya melintasi perbatasan ke negara lain. Itu adalah jenis insiden yang bisa memicu perang.

Aku ingat ratu Melromarc mengatakan betapa banyak ketegangan internasional disebabkan oleh pemanggilan dan pengelolaan para pahlawan suci. Negara mana pun yang bisa mengendalikan para pahlawan, atau menempatkan mereka di pihak mereka dalam suatu konflik, akan jauh lebih kuat sebagai hasilnya.

Jika ada orang dengan niat jahat atau politis yang akan dipilih oleh vassal weapon, itu wajar bahwa mereka akan mencoba melarikan diri dengannya.

"Hm?" Rishia dan Filo memiringkan kepala mereka.

Oh, aku lupa menyebutkan kalau aku memegang Raph-chan, dan dia terus-menerus menunjuk ke arah yang harus kita tuju. Dia begitu pendiam dan imut. Kami melanjutkan ke arah yang ditunjukkannya, dan kami menemukan sebuah pos pemeriksaan.

"Berhenti di sana! Ada penjahat yang sedang dicari melewati titik ini. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi tolong ambil jalan memutar,” bentak seorang pria seperti samurai yang memblokir jalan dengan tombak.

Aku terkejut sejenak, tapi menyadari kalau yang terbaik adalah menghindari konflik yang tidak perlu, kami melakukan apa yang diperintahkan dan mengambil jalan memutar. Tapi ketika kami melakukannya, Raph-chan mulai menunjuk ke arah yang berbeda. Itu menjelaskan semuanya — kita pasti telah berputar-putar di sekitar area tempat Raphtalia dan yang lainnya berada.

Aku merasa lega, tapi aku mulai khawatir secara bersamaan, karena sepertinya mereka terjebak di suatu tempat dengan penjahat — seperti mereka terperangkap di mata badai. Lebih buruk lagi, ada kemungkinan kalau Glass dan teman-temannya terperangkap dalam konflik dengan pengguna katana dari vassal weapon.

Jantungku berdegup kencang, aku menoleh ke Kizuna dan bertanya, 

“Apa yang harus kita lakukan?” 
“Apakah kita punya pilihan? Kita harus menyelinap dari atas atap. "

"Tunggu. Ada pilihan lain. "

"Seperti apa?"
"Filo."

"Apa?"

Filo adalah humming falcon sekarang — itu berarti dia bisa terbang. Mungkinkah ada cara yang lebih baik untuk keluar dari situasi ini?

Dia naik di pundakku saat ini, yang merupakan tempat favorit barunya untuk duduk. Dia sepertinya lebih suka tetap dalam bentuk monster hari ini, mungkin karena trauma yang dia derita saat dalam wujud manusia.

Ketika kami pergi ke kota baru, dia tetap dalam bentuk monster dan berusaha untuk tak pernah meninggalkan bahuku. Di antara dia di pundakku dan Raph-chan di lenganku, aku lebih mirip pelatih monster dari pada pahlawan Perisai.

"Pergi terbang sebentar dan lihat apakah kau dapat menemukan Raphtalia di sana."
 "Tapi ... Tapi bagaimana jika mereka menangkapku?" Katanya, jelas-jelas ketakutan.

Mengingat dia terlihat seperti burung normal, dia mungkin memang punya alasan untuk khawatir. Seorang pemburu mungkin menembaknya dari langit dengan panah.

"Kau akan baik-baik saja. kau terlihat seperti burung lain di langit. Selain itu, kita sudah meninggalkan negara yang menangkapmu beberapa waktu yang lalu. "

"Janji? aku akan baik-baik saja? Jika seseorang menyerangku, kau akan menyelamatkanku? "

"Tentu saja. Apa aku pernah berbohong kepadamu? "
"Um ... Yup!"

“Oke, baiklah. Tapi aku tak berbohong sekarang. Apa kau akan melakukannya untukku? "

Dia bahkan tidak perlu pergi jauh. Dia bisa tetap berada di dekat kita. aku hanya ingin dia terbang dan melihat dari tempat yang lebih tinggi. Seharusnya tidak ada masalah.

Bahkan jika dia diserang, kita akan segera tahu.

 "Baik!"

Sebelum aku mengirimnya ke udara, aku memutuskan untuk memeriksa mantra budak sekali lagi. aku membuka menu, dan aku hampir tak bisa mempercayainya.

Raphtalia tidak lagi terdaftar di sana. Apa yang terjadi?
Aku menggigil dan keringat dingin mengalir di punggungku. Sesuatu yang salah telah terjadi. Bagaimana jika dia ... Bagaimana jika dia mati?

"Rafu?"

Aku memeluk Raph-chan dan mencoba menenangkan jantungku yang berdetak kencang.

Tidak ... Aku tahu itu tidak benar. Aku bisa merasakannya. Dia masih hidup, dan dia berada di suatu tempat dekat sini.

"Rafuuu ..." Raph-chan menempelkan cakarnya di pipinya seolah dia malu. Aku mengelus kepalanya.
"Master, apa yang kau lakukan?"

“Tidak ada, tidak apa-apa. Naiklah dan periksa sekeliling. Raph-chan, teruslah mengarahkan kami ke Raphtalia. ”

"Rafu!" Dia berteriak, dan menunjuk lagi ke arah yang sama seperti sebelumnya.

Itu berarti ... Benar — Raphtalia masih hidup. Pasti ada penjelasan berbeda mengapa dia menghilang dari menu mantra budak. Mantra itu pasti sudah dihapus entah bagaimana.

Benar. Itulah penjelasan yang akan kuterima sampai aku mengetahui fakta sebenarnya.

 "Oke, Filo, terbanglah ke atas."

"Oke!" Katanya, mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit di atas kami. aku melihatnya seperti mengecil ketika dia terbang menjauh. Dia tampak aman. Belum ada panah yang terbang ke arahnya. Akhirnya, dia datang kembali ke kami.

“Um ... Sepertinya beberapa orang dikejar!”

 “Siapa? Siapa yang dikejar? "

“Mereka memakai tudung, jadi aku tidak bisa melihatnya. Aku akan lebih dekat, tapi mereka dikejar oleh monster menakutkan, jadi aku terbang kembali ke sini. ”

"Monster menakutkan?"

Apa yang sedang terjadi? Apakah ada monster di kota ini? Tidak mungkin mereka liar. Mereka mungkin seperti Filo — melayani atas permintaan seseorang.

"Kalau begitu, kurasa kita lebih baik masuk ke sana, setidaknya untuk memastikan kalau teman kita bukan yang dikejar."

Kizuna melemparkan umpan pancingnya dan mengaitkannya ke atap di dekatnya dan kemudian menggunakan rol pancingannya untuk menarik dirinya. Itu adalah proses yang sangat cepat.

“Air Strike Shield! Second Shield! Dritte Shield!”

Sedangkan untuk diriku sendiri, aku menggunakan keahlianku untuk membentuk satu set tangga darurat dan memanjatnya untuk mencapai atap.

"Ayo, Rishia." 
"Feh ..."

Begitu kami semua berada di atap, kami dengan cepat dan diam-diam menjauh dari para penjaga yang menghalangi jalan menuju kota. Ketika kami berjalan melewati atap, Raph-chan dan Chris perlahan mulai menunjuk ke arah yang berbeda. Akhirnya, kami tiba di tanah kosong, di mana ada jarak yang cukup jauh yang harus kami lewati untuk sampai ke atap berikutnya.

Kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan kemudian kembali ke sisi lain.

Kami melompat turun ke tanah dan bersiap-siap untuk menyeberang, tapi ada sekelompok orang berjubah menunggu kami.

"Sialan..."

Kami seharusnya mencari Raphtalia! Kami tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang-orang ini. Aku tak ingin akhirnya bertemu siapa pun yang mengejar orang-orang ini. Setidaknya kami telah menutupi wajah kami dengan topeng sebelum memasuki kota.

Mungkin kita harus melarikan diri dengan Portal Shield sampai kita bisa mengetahui rencana yang lebih baik. Aku menyiapkan perisaiku dan bersiap untuk bertarung, tapi kemudian ...

"Rafu!" Raph-chan berkicau, menunjuk dengan penuh semangat ke salah satu orang di depan kami. Chris melakukan hal yang sama, mengayunkan sayapnya ke arah sekelompok orang berjubah.

 "Naofumi, kau tak berpikir ..."
“Apa?"

"Mungkinkah?"

Perlahan aku melepas topengku untuk membiarkan mereka melihat wajahku. Kizuna dan Rishia melakukan hal yang sama.

Kemudian, seolah-olah orang-orang yang berjubah telah benar-benar kehilangan keinginan untuk bertarung, mereka menurunkan senjata mereka dan melangkah maju.

"Nak! Apakah itu Kizuna yang bersamamu ?! ”
Pria jangkung di depan kelompok berteriak ketika dia melepas tudungnya.

Itu adalah L'Arc.

Kemudian dia melepas jubahnya untuk memperlihatkan pakaian yang terlihat seperti Shinsengumi. Dia pasti berusaha berbaur dengan orang-orang di negara ini.

Rupanya pakaian kain sederhana di sekitar sini masih memiliki statistik pertahanan yang cukup baik. Pola biru muda pada haori sebenarnya cocok untuknya. Dia cocok dengan pakaian apapun yang dia kenakan.

Tidak kusangka itu adalah L'Arc yang dikejar! Maksudku, aku tahu itu suatu kemungkinan, tapi aku telah berusaha untuk tidak memikirkannya.

Dan kami baru saja bertemu mereka! Kebetulan sekali!

Seseorang di belakang L'Arc datang berlari ke Kizuna dan berteriak, 
“Kizuna! Di mana kau selama ini? Dan apa yang kau lakukan dengan Naofumi ?! ”

Itu adalah Glass. Dia melepas tudung dan jubahnya untuk mengungkapkan air matanya. Kemudian dia memeluk Kizuna dengan erat.

Itu tidak bisa dipercaya. Glass selalu keras dan dingin. Aku bahkan tak pernah membayangkan dia membuat wajah emosional seperti itu. Tentu saja, setiap orang memiliki seseorang atau sesuatu yang mereka pedulikan, tapi masih terasa aneh melihat orang yang begitu keren terlihat sangat bahagia.

"Aku sangat senang melihatmu lagi, tetapi pengejar kita akan segera datang. Awas!” Kata Therese, melepas jubahnya. Dia mengenakan hakama yang ditutupi dengan pola yang menunjukkan batu permata.

Apakah itu dibuat dengan aizome? Mungkin tidak...

Setiap kali dia bergerak, polanya sendiri tampak bergerak juga. Apa aku hanya membayangkannya?

Masih ada satu orang yang mengenakan tudung. Apakah itu Raphtalia?

Orang itu berlari ke arahku — dan Raph-chan menunjuk.
"Ra ... Raphtalia?"
"Iya."

Dia melepas jubahnya untuk menunjukkan wajahnya. Itu dia — Raphtalia.

Dia memiliki telinga bundar, berbulu, rambut lembut panjang, tatapan mata yang bisa membuatmu kehilangan kesadaranmu, dan ekor bulat yang bergoyang indah.

Aku belum melihatnya begitu lama — dia lebih cantik dari yang kuingat.

Dia pasti senang melihatku juga, karena dia datang berlari dengan senyum lebar di wajahnya. Dia berpakaian seperti miko, dalam balutan kain merah dan putih.

Aku merasakan sesuatu yang tak terduga ketika aku melihatnya — sesuatu seperti sengatan listrik.

Aku menatapnya lagi. Pakaian miko sangat sederhana. Ada kain putih di pundaknya, disulam dengan benang merah yang hampir seperti membentuk busur. Tapi warna merahnya sama sekali tidak mengganggu kain putih itu — sangat halus sehingga entah bagaimana menekankan betapa putihnya warna tersebut.

Di bawah itu dia mengenakan hakama merah tua. Pakaian itu sangat cocok untuknya.

Tampaknya juga dibuat khusus untuk ekornya yang lebat. Dia mengenakan kaus kaki putih dan sandal jerami gaya Jepang.
Ya ... Dia terlihat sangat, sangat cocok dalam pakaian itu.

Ketika kami mengalahkan Kyo dan kembali ke dunia kami sendiri, aku harap dia akan tetap memakainya.

Aku hampir tak percaya dengan reaksiku. Aku tak suka miko lebih dari rata-rata otaku, tapi aku tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

"Kau akhirnya di sini, Tuan Naofumi!" 
"Maaf, butuh waktu lama."



"Tidak ... Aku tahu betapa sulitnya itu ... Apakah kau baik-baik saja? Apakah semuanya baik-baik saja? "

"Sebagian besar. Banyak yang terjadi. "

Kami terlempar ke labirin yang tak pernah berakhir. Kami keluar dan menemukan diri kami di belakang garis musuh. Kemudian kami berjalan ke ibukota, dicegat oleh penjaga keamanan ...

Ya ... banyak yang telah terjadi.

"Pakaian itu terlihat bagus untukmu."

“Pujian? Darimu? Rasanya agak aneh.” 

Apakah aku benar-benar tidak bisa memujinya?

"Kau harus tetap berpakaian seperti itu ketika kita kembali ke tempat kita berasal." 

"Apakah kau sangat menyukainya?"

"Aku pikir itu terlihat bagus untukmu."

Dia tersipu. Dia pasti malu. Aku kira dia masih anak-anak.
"Bukan begitu? aku juga berpikir begitu!” Teriak L'Arc. Aku penasaran apa dia yang memilih pakaiannya. Dia jelas tahu apa yang dia lakukan — kemesumannya telah membantunya dengan baik.

Kami begitu terjebak dalam reuni kami sehingga butuh lolongan binatang yang mendekat untuk mengingatkanku di mana kami berada.

Kami sudah terlalu lama bersantai. 
"Kizuna, gunakan ofuda."

"Tunggu," katanya, menempelkan ofuda ke dahinya dan berkonsentrasi.

Tapi...

"Itu tidak berhasil. Sesuatu menghalangi sinyal. Kita harus keluar dari sini untuk memanggilnya. Dan sepertinya L'Arc dan yang lainnya juga tidak bisa menggunakan Transkrip Kembali. ”

"Haruskah kita menggunakan Portal Shield?"
"Bisakah itu digunakan?"

"Mungkin ada terlalu banyak orang."

Aku belum pernah memeriksa Batasan orang yang bisa dibawa Portal Shield sekaligus. Tapi ini bukan waktu untuk mengkhawatirkannya.

Aku mengirim undangan party ke Raphtalia pertama.

"Portal ..." Sebelum aku selesai mengatakannya, sesuatu terasa aneh. Dan bukan hanya aku. Semua orang juga merasakannya.

Ikon berkedip di bidang tampilanku. Teleportasi tidak tersedia.
Apa? Ini pertama kalinya aku tidak dapat menggunakan Portal Shield sejak aku terbangun di dunia ini. Tetapi aku pernah merasakan keanehan ini — ketika kami melawan Roh Kura-kura.

"Yah... Apakah kau benar-benar berpikir bisa pergi dariku? Hm ... Sepertinya ada beberapa orang tambahan ... "

Aku melihat ke sumber suara itu untuk mencari siapa yang mengejar Raphtalia dan gerombolan monster yang dikendalikannya.

"Kau! Pasti takdir yang membuat kita bertemu disini! Aku akan membuatmu membayar untuk apa yang kau lakukan terakhir kali!” 

Siapa pun itu, dia merendahkan kami.

Aku pernah melihatnya sebelumnya.

Itu benar, dia adalah ilmuwan genius yang seharusnya kami temui ketika menggunakan jam pasir naga untuk berteleportasi keluar dari ibukota.

“Oh ya, kau ada di sana, bukan? Aku tidak bisa mengingat namamu ... "

Aku lebih suka menghindari bertemu dengannya lagi, tapi jujur aku menantikan sebuah pertarungan.

Dia tampaknya memiliki lebih banyak wanita yang mengikutinya daripada sebelumnya. Sesuatu tentang dia benar-benar membuatku jengkel. Mungkin hanya karena dia mengingatkanku pada Motoyasu.

"Aku akan membayar perbuatanmu yang terakhir kali!"

"Penjahat! Patuhilah kami dengan damai! "

"Ya! Beraninya kau mempermalukan kami?” Dia tersenyum. Dikelilingi oleh sekumpulan wanita, dia tampak sangat bangga dengan dirinya sendiri.

Orang-orang ini mulai membuatku kesal. Apakah aku satu-satunya yang berpikir kalau para wanita ini mungkin tidak benar-benar menyukainya? Apa yang dia dapatkan dengan menjaga mereka sepanjang waktu?

Sebenarnya, aku mungkin memiliki pandangan yang sama dengannya. Lebih baik jatuhkan musuh dalam sekali serang. 

"Maksudmu kau di negara kita tapi kau tidak tahu namaku ?!"

"Kau bodoh!"

"Kalau begitu dengarkan! aku akan memberitahumu siapa yang berdiri dihadapanmu. Aku adalah harapan rakyat, alkemis terhebat di seluruh negeri ...”

Oke, sebenarnya dia tidak sama dengan Motoyasu. Wanita menyukainya karena memiliki pesona. Aku mulai berpikir kalau orang ini sebenarnya lebih seperti Itsuki. Apa yang membuatku merasa seperti itu?

Kata pengantar yang tak pernah berakhir setelah dia memberitahu namanya begitu lama sampai aku benar-benar lupa namanya ketika dia selesai berbicara.

“—Siapa aku! Sekarang kau akan tahu ketakutan sejati! Tidak ada alasan untuk mengasihani orang-orang sepertimu!"

"Tentu, terserah. Hei — siapa namamu tadi? ”

Aku tidak ingat apa yang dia katakan.

Mungkin itu karena semua hal yang telah aku lalui dengan Itsuki, tapi bahkan jika aku bisa mengingat wajah mereka, aku tidak bisa membuat diriku cukup peduli untuk mengingat nama mereka.

“Dasar bodoh, kurang ajar! Aku akan mengukir namaku ke dadamu! Dan kau tidak akan melupakannya!”

Jika dia sangat emosi denganku, mengapa dia ingin aku mengingat namanya? Dia tidak masuk akal.

Seekor harimau putih besar berkeliaran di belakangnya dan meraung. Binatang itu tampak liar. Air liur menggantung dari mulutnya yang menganga.

Tapi ada sesuatu yang terasa aneh tentang semua ini. Aku telah menghabiskan begitu banyak waktu di dunia baru ini sehingga intuisi ku jadi lebih tajam daripada sebelumnya.

“Sepertinya kau bersekongkol dengan pencuri. Seharusnya tidak mengejutkan karena aku tidak menyukaimu."

"Pencuri? Apa yang kau bicarakan?"

"Tuan Naofumi ... " Kata Raphtalia, menatapku dengan mata menyesal. Lalu dia membuka jubahnya dan menunjukkan padaku senjata yang dia sembunyikan di dalamnya. Itu adalah katana.

Mari kita simpulkan — waktunya untuk meninjau fakta. Siapa pun yang memiliki katana dari vassal weapon sedang dalam pelarian ... dan Raphtalia telah menghilang dari menu mantra budak.

Dan pihak berwenang memburu siapa pun yang memiliki katana ...

Orang-orang brengsek ini mungkin adalah orang-orang yang mengejarnya ... tapi ...

Aku tahu apa yang sedang terjadi, tapi Aku belum siap untuk mengakuinya sendiri.

"Kenapa kau melarikan diri? Bukankah warga akan menghormatimu? Menyapamu dengan tangan terbuka? "

Raphtalia sedang dikejar oleh pemerintah. Dia diperlakukan seperti pencuri — meskipun dia bersama orang-orang sekuat Glass dan L'Arc.

"Kau tahu..."




TL: Ryuusaku
EDITOR: Poo

0 komentar:

Posting Komentar