Rabu, 09 Oktober 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 60. Iblis

Chapter 60. Iblis


Beberapa hari pun berlalu.
Firo sedang menarik kereta yang melewati jalur utama, layaknya seperti seekor Filorial biasa. Kita berusaha sebisa mungkin untuk menghindari desa dan kota.
Terus menerus kamping ketika malam tiba.
Sebentar lagi kita sampai perbatasan.

“Gueeeee!”

Firo berteriak bagaikan alarm.
Apa ada musuh disana!?
Putri kedua dan Aku bersembunyi didalam tumpukan jerami lalu melihat sekitar.

“Hehehe, serahkan semua uangmu dan kau baru boleh lewat.”

Suaranya cukup familiar.
Kalau tidak salah, itu adalah suara dari perampok yang sebelumnya pernah mencoba untuk  merampok pedagang aksesoris.
Ada apa dengan orang ini?
Apa ia benar-benar akan menyerang kereta yang penuh dengan jerami ini?

“Hey! Cepat tinggalkan semua barang berharga yang kau miliki! Oh? Wajahmu cukup famili-“

Warna kulit perampok ini dengan cepat membiru setelah ia melihat Raphtalia yang sedang menyamar.

“Kau tidak berubah sedikitpun.”

Kita sudah tidak perlu menutupi identitas kita lagi, jadi Aku lompat keluar kereta.
Firo yang menyadari diriku melompat dari kereta, langsung berubah menjadi wujud Ratu Filorialnya.

“Apa kau akan melawan mereka?”

Didalam jerami, Putri kedua menanyakan itu dengan gelisah.

“Iya, mungkin. Kau tidak usah khawatir.”
“Memangnya kenapa? Apa kita akan baik-baik saja?”

Sepertinya ada dua pertiga dari kawanan perampok itu belum melawan kita sebelumnya, tapi kebanyakan dari mereka melihatku dengan wajah yang kebingungan lalu berubah menjadi biru.

“T-t-tidak usah takut. O-Orang itu sekarang menjadi buronan. Ji-jika kita menangkapnya maka kita akan mendapatkan hadiahnya.”

Ia mengatakan itu dengan terbata-bata sambil bergemetar.
Ia menjadi orang yang gagap.

“Aku rasa sudah sebulan yang lalu kita bertemu, dan kau sudah bisa berdiri tegak lagi. Itu cukup cepat kurasa.”

Salah satu kawanan perampok yang sedang dalam kebingungan mulai bersiap untuk menyerang.

“Di-Diam! Gara-gara kau sekarang Aku hanya menjadi bawahan di salah satu kawanan perampok lain!”
“Ah, jadi yang sebelumnya bubar?”
“Bos kami sudah plang kampung!”
“Baguslah kalau begitu. Sebaiknya kau juga mengikuti jalannya.”
“Di-diam! Kau akan kalah!”

Mereka semua mengeluarkan senjata mereka dan mulai menyerang kita.

“Firo! Raphtalia!”
“Iya!”
“Iyah~!”

Aku melangkah mundur untuk melindungi putri kedua.
Kawanan perampok selevel mereka pasti akan dikalahkan oleh Raphtalia apalagi Firo.

“Terima ini!”

Salah satu dari mereka mengayunkan pedangnya menuju Firo.

“Firo-chan!”

Putri kedua muncul dari dalam tumpukan jerami, lalu merentangkan lengannya dan mulai membacakan mantra.
Apa? Putri kedua bisa bertarung?

“Sebagai sumber kekuatan Aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Siramlah mereka dengan ledakan air!”
“Air Zweit Aqua Shot!”

Apa itu?
Dari telapak tangan putri kedua muncul air yang membeludak dengan cepat menuju kawanan perampok.
Zweit. Kalau tak salah itu salah satu mantra sihir tingkat menengah. Dan untuk mantra Air, itu mantra yang memiliki banyak kegunaan.

"Uge!"
"Gawa!"
"Ugu!"

Kawanan perampok yang berdekatan dengan Firo melayang terbang.
Serangan itu cukup berguna.

“Sebagai sumber kekuatan Aku memerintahmu. Aku membacamu untuk menguraikan hukum alam. Potonglah mereka dengan air ber-bilah tajam!”
“Zweit Aqua Slash!”

Putri kedua terus melanjutkan serangan mantranya dengan sihir yang lain.
Muncul air yang membeludak dari lengannya tapi kali ini sebagai pengganti bola air, muncullah bilah air.
Aku rasa, Itu agak cukup berbahaya.
Serangannya meleset, tapi serangan itu berhasil membagi dua sebuah pohon.

“Selanjutnya... Aku akan menggunakan....”

Dia terengah-engah. Sepertinya akan menyulitkan untuk terus menerus membacakan mantra sihir.

“Mereka bersama penyihir! Penyihir itu sangat kuat!”
“Firo-chan!”
“Iyah~”

Kawanan perampok mulai melihat putri kedua lalu mereka terkejut dengan tendangan Firo yang menendang mereka seperti anak kecil sedang bermain.

“Menyerahlah.”
“Aku masih belum menyerah.”

Salah satu dari perampok dengan kebingungan mulai mengelilingi kami dari belakang, dan mencoba untuk menangkap putri kedua.

“Air Strike Shield!”
“Argg!”

Tepat ketika ia melompat Aku memanggil perisai diantara mereka.

“Aku masih belum menyerah”

Putri kedua menjadi incaran mereka karena dia orang terlemah dalam party kita.

“Second shield, Change Shield”

Aku memanggil perisai kedua untuk melindungi dia lalu setelah itu Aku mengubah perisai itu. Kali ini Aku hanya akan menggunakan Bee Needle Shield. Itu saja sudah bisa membuat mereka mati karena keracunan. Aku hanya akan melumpuhkan mereka dengan sengatan lebah.

“Ugh,arg...”

Salah satu dari mereka terkena Second shield-ku lalu ia jatuh kejang-kejang.

“Masih belum!”

Perampok itu mulai merangkak mendekati putri kedua.

“Tidak, ini sudah berakhir.”
“Ah....”

Bayangan besar menutupi perampok itu. Sepertinya ia menyadari bayangan itu. Lalu aku mendengar tangisan.
Mungkin salah satu dari perampok itu menangis ingin menyerah.

“Aku bantu ya Mel-chan!”

Dengan suara ‘gabruk’, Firo menutupi mereka.

“Sekarang sudah sore, jadi ini waktu yang tepat. Beritahu kami tempat persembunyian kalian.”

Aku menanyakan itu setelah selesai mengikat mereka semua.

“Kami tidak akan bica-“
“Firo.”
“Disana!”
“H-Hey!”

Sepertinya perampok baru belum mengetahui posisi mereka.

“Ada apa?”

Perampok yang sebelumnya menghadapi kami meminta ampun kepada kami.

“Burung besar itu akan memakan kita jika kita tidak menuruti perkataan mereka!”
“Itu candaan, kan?”
“Apa pria itu terlihat seperti sedang bercanda?”

Aku terkejut setelah mendengar percakapan kedua perampok itu.

“Dia menggunakan skill dan sihir yang aneh. Memangnya siapa dia?”
“Kau masih belum mengerti!? Lihat perisai itu!”
“Eh!?”

Lalu sedikit demi sedikit seluruh wajah kawanan perampok itu mulai membiru.

“Si Iblis dan burung algojonya.”
“Tepat sekali! Burung itu senang sekali memakan kepala manusia. Aku lebih suka ditendang sampai ke langit lalu kabur!”
“Kami mohon, ampuni nyawa kami! Kami akan memberikan semua barang kami, walaupun itu ketua kami!”

Sepertinya catatan rumorku bertambah...
Raphtalia dengan kecewa menepakkan telapak tangannya ke wajahnya.

“Jika kalian berboho-“
“Aku tahu! Jadi ampuni nyawa kami!”

Kawanan perampok memberitahuku lokasi persembunyian mereka. Tentu saja, kita berhasil mengusainya dengan kekuatan yang luar biasa.

Di hari itu, kita bermalam di persembunyian peram- maksudku di penginapan. Tentu saja kita mengambil semua yang mereka miliki.
Kebanyakan yang mereka miliki itu makanan. Tapi karena kita sedang hidup sebagai buronan, dan kita hanya memakan daging monster, makanan yang layak sangat kami hargai.
Awalnya putri kedua ketakutan ketika masuk kesana, tapi tak lama kemudian dia mulai tenang.
Barang yang berharga akan dikumpulkan, dan barang yang cukup bermasalah akan menjadi abu.
Dan jika ada barang yang terlewat, maka kawanan perampok akan mengambilnya kembali, Aku tidak begitu peduli dengan itu.
Aku setengah tersenyum kepada kawanan perampok itu yang sedang putus asa.
Mereka ku usir dari persembunyiannya.

“Hey putri kedua, kau mempelajari sihir ya.’
“Iya. Aku mempelajarinya untuk melindungi diriku.”
“Seahli apa kau?”

Jika putri kedua masuk party kami maka kita bisa bertarung dengan lebih baik dikemudian waktu.

“Sekarang kau level berapa?”
“Uhmm, sekarang Aku level 18.... Aku bisa menggunakan mantra sihir yang berhubungan dengan air.”

Tidak serendah yang kukira. Jika dari penampilan dan usia dia maka levelnya sudah cukup tinggi.
Tapi mantra sihir yang berhubungan ya?

“Jadi kau hebat dengan mantra sihir air?”
“Iya”

Rambutnya berwarna biru. Apa itu ada hubungannya?

“Aku juga bisa menggunakan mantra sihir bumi juga.”
“Hoh.........”

Kemampuannya tak terduga bisa seluas itu.

“Oh iya, apa kakakmu bisa menggunakan mantra sihir angin?”

Aku ingin melupakan itu.
Ketika Aku berduel dengan Motoyasu, dia menyerangku dengan sihir angin.
Sial, memikirkan itu saja sudah membuatku kesal. Mari berhenti memikirkan itu.

“Kakakku? Dia itu sangat lihai dalam mantra sihir api, dan terkadang dia menggunakan mantra sihir angin.”

Oh, warna rambut juga bisa mempengaruhi mantra sihir juga ya.

“Apa ibumu hebat dalam mantra sihir api dan air juga?”
“Iya.”

Baiklah Aku sudah tidak peduli lagi.

“Untuk saat ini bergabunglah dengan party-ku. Itu pilihan yang terbaik saat ini.”
“Baiklah.”

Aku tidak begitu ingin bergantung kepadanya.
Tapi ini hanya untuk menjaga nyawanya saja. Dan akan lebih baik jika kita tidak bertarung terus.
Ada kemungkinan besar nyawanya bisa hilang.
Aku juga sangat menghindari pertarungan yang membuatku mengandalkan putri kedua untuk ikut bertarung.

“Hey. Kenapa Hero Perisai-sama bisa membuat ayahanda semarah itu?”
“Awalnya Aku tidak akan memberitahumu. Tapi ini semua berawal ketika kakakmu menuduhku-“

Di malam itu, Aku memberitahukan putri kedua semua hal yang dilakukan oleh si sampah dan si bitch lakukan kepadaku.
Entah mengapa sepertinya Firo mendengarkan ceritaku, tapi dia mendengarkannya dengan baik.
Aku tidak menyembunyikan apapun ataupun berbohong, Aku hanya memberitahukan kebenarannya saja.
Meskipun perasaanku bercampuran dengan rasa dendam, tapi yang Aku pikirkan hanya sebagai pembelajaran.

“Ayahanda dan kakakku melakukan hal sekejam itu! Jika begitu Hero Perisai-sama tidak bisa mengadu ataupun mengatakan hal buruk tentang mereka.”
“Tepat sekali, benar sekali.”
“Padahal ibunda bilang untuk menghargai Hero Perisai-sama sebisa mungkin.”
“Apa?”

Apa yang kau katakan? Bukannya kepercayaan negeri ini memutuskan perisai itu sebagai iblis?
Kenapa ratu berpikiran berbeda?

“Ada apa?”
“Tidak, Aku hanya memikirkan apa yang ibumu pikirkan tentangku.”
“Um.... Aku juga tidak tahu. Tapi ibunda sudah mengirimkan surat yang isinya memberitahukan ayahanda untuk memperlakukan semua hero dengan perlakukan yang sama.”

Aku mulai mengerti ceritanya putri kedua, sepertinya ratu khawatir hal ini akan terjadi kepadaku.
Oh iya, ini semua terjadi berkat si sampah itu.

“Goshujin-sama, ada banyak hal yang terjadi sebelum Firo lahir.”
“Benar sekali.”
“Eh?”

Putri kedua tercengang setelah mendengar itu.

“Uhmm umur kau berapa, Firo-chan?”
“Umurku sebulan tiga minggu.”
“Ehh!?”

Itu memang hal yang sangat mengejutkan. Pertumbuhan dia sangat cepat walaupun dia itu seekor monster.

“Jadi Firo-chan sangat berharga.”
“Ehehehe..... Aku dipuji.”
“Kau dipuji olehnya?”
“Berarti Aku kakakmu.”
“Kalau secara usia. Raphtalia juga usianya hampir sama denganmu.”
“Sungguh? Raphtalia onee-chan....”

Firo melihat Raphtalia dengan raut muka yang penuh kekecewaan.
Raphtalia melihatku dengan tatapan dingin.
Aku mengerti perasaanmu karena burung itu pernah mengatakan hal yang hampir sama.

“A-apa?”
“Demi-human.... meskipun usia kita sama tapi dia terasa lebih tua.”
“Entah kenapa.... Aku merasa kehilangan sesuatu.”

Suasana disini cukup rumit.

“Nah, usia Raphtalia tidak begitu penting, tapi bisa saja Aku dicap sebagai orang mesum.”

Tapi bisa juga Aku dicap sebagai seorang lolicon.
Ditambah lagi, baik putri kedua dan Firo itu masih anak kecil.
Ketika Aku membeli Raphtalia sebagai budakku dia itu masih anak kecil juga.

“Itulah cara hidup berjalan.”
“Naofumi-sama....”

Mereka bertiga ini bisa di masukan kedalam Loli-Harem.
Apa yang akan dikatakan ketiga hero lain setelah melihat ini?

“Pokoknya, sekarang kita akan beristirahat disini dan besok kita akan melewati perbatasan.”
""Yay~!""
“Iyah.”




TL: Bajatsu
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar