Minggu, 06 Oktober 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 8 : Chapter 8 - Perjalanan Menuju Rumah Pahlawan Pemburu

Volume 8
Chapter 8 - Perjalanan Menuju Rumah Pahlawan Pemburu


Kizuna mengatakan Ethnobalt ini akan membantu kami dalam pencarian, jadi kami harus menunggu sampai besok sebelum kami bisa pergi.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Pertanyaan yang bagus. Aku bisa menggunakan Return Transcript untuk kembali kesini. Jadi ikutlah bersamaku."

"Apa? Ke mana kita akan pergi? "Tanya Rishia, gemetar ketakutan.

"Kita tak akan kemana-mana ... aneh. Aku akan menggunakan Portal Shield untuk melarikan diri jika ini jebakan. "

"Oh, berhentilah khawatir. Aku tidak percaya kau masih belum percaya padaku setelah sekian lama. ”

kukira dia ada benarnya. Mungkin aku terlalu berhati-hati.

Jika Raphtalia ada di sini bersama kami, dia akan memberikan satu atau dua perkataan tegas untukku. Raphtalia ... Di mana dia? Aku jadi sangat khawatir.

"Intinya, tetaplah bersamaku."

"Baik. Pimpin jalannya,” kataku, mengikuti Kizuna.

Kami meninggalkan kota di sekitar kastil dan mengikuti jalan yang berliku melewati pedesaan. Pemandangan itu mengingatkanku pada Melromarc. Aku mendapati diriku mengenang saat kami menebas monster yang menyerang kami. Mereka tidak menimbulkan ancaman, dan kami membuat kemajuan cepat.

Jadi kami meninggalkan kota dan berjalan jalan sebentar, tapi tak lama kemudian kami tiba di kota besar lain. Dari tampilannya, tampak sebagian besar digunakan untuk bisnis dan perumahan.

Melihat ke belakang, aku masih bisa melihat kota di sekitar kastil di kejauhan. Kurasa kota baru ini adalah semacam kota satelit. Mungkin ada banyak orang yang pergi ke kastil dari kota ini. Sepertinya ada pelabuhan bagi nelayan juga.
<TLN: Kota satelit itu adalah semacam kota penyangga kota besar, contoh Bekasi dan Depok adalah kota satelit dari Jakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_satelit>

Kami berjalan melewati kota sebentar sebelum Kizuna berhenti, menunjukkan kalau kami sudah sampai. Kami berdiri di depan rumah yang besar terbuat dari batu.

“Aku yang membangun rumah ini. Aku ingin itu cukup besar sampai semua orang bisa tinggal di sini. "
" Wow ... "
Pintunya terkunci, tapi Kizuna mengambil kunci dari sakunya dan membuka pintu. Pintu itu berderit perlahan, dan Kizuna melambaikan tangan ke dalam.
Interiornya tampak seperti apa yang diharapkan dari sebuah rumah yang terbuat dari batu, tapi terlihat sangat ... berbudaya.

Lantai pertama tampaknya menjadi ruang tamu. Ada meja di tengah, dan aku bisa melihat dapur di belakang.

"Aku pulang!"

Tidak ada Jawaban.

Setelah memasuki rumah, Kizuna dengan hati-hati memeriksa untuk melihat apakah ada orang di sana, dan kemudian dia menaiki tangga ke lantai dua. Kupikir lebih baik menunggu dia di lantai bawah, jadi aku menemukan kursi dan duduk sambil menunggu. Rishia juga menemukan kursi dan merebahkan diri juga — dia pasti lelah, karena dia mulai terkantuk-kantuk.

Setelah beberapa saat, Kizuna kembali menuruni tangga.

“Kami menggunakan beberapa kursi. Semoga itu tidak masalah. "
"Tentu saja. "
"Begitu kah? Apa yang kau rencanakan?”

"Kurasa aku seharusnya tahu, tapi ... setelah kembali ke rumahku, setelah pergi begitu lama, aneh kalau semuanya tetap ... sama."

"Apa itu?"

Rumahnya sendiri ... Aku tentu saja tidak pernah membuat rumah untuk diriku sendiri di dunia ini, jadi aku tidak benar-benar mengerti bagaimana rasanya. Tapi untuk Kizuna, bangunan ini pasti benar-benar terasa seperti rumah.

“Bahkan tidak ada debu. Aku terjebak di penjara sangat lama sehingga aku mulai berpikir rumah ini akan hilang ketika aku keluar. "

"Untung masih di sini. Kau pikir seseorang datang membeli dan membersihkannya untukmu? "
"Mungkin Glass yang melakukannya. "
"Dia kelihatannya akan lebih spesifik tentang hal semacam itu." 
"Ya ..."
aku melihat foto-foto di rak di sudut ruang tamu. Sebagian besar itu adalah Kizuna dan Glass. Banyak juga bergambar L'Arc dan Therese. Ada orang lain yang tidak kukenal juga. Semuanya tampak ceria dan bahagia. Foto-foto itu dipenuhi dengan rasa persahabatan yang gamblang.

Aku tidak perlu bertanya-tanya apakah ikatan Kizuna dengan mereka masih utuh — pandangan sekilas ke keadaan rumah yang terawat cukup untuk memastikan kalau ikatan mereka masih dekat.

Aku merasa sedikit aneh melihatnya. Itu hampir seperti ... iri. Aku tidak punya banyak teman sampai aku bisa mengambil foto yang sangat menyenangkan. Tentu, aku memercayai Raphtalia, Filo, dan mungkin Melty sepenuh hidupku, tapi aku tidak bisa memikirkan orang lain untuk ditambahkan ke daftar itu.

Rishia benar-benar hanya bersama kami karena dia tak punya tempat lain untuk pergi. Dan Eclair, atau wanita tua Hengen Muso, baru saja bekerja sama dengan kami. Aku tak menganggap mereka sangat dekat. Dan teman masa kecil Raphtalia, Keel jelas belum percaya padaku.

Foto-foto Kizuna membuat ku bertanya-tanya apakah aku akan memiliki cukup hubungan yang dapat dipercaya untuk mengambil foto ku sendiri. Sebagian diriku berpikir kalau hari itu tak akan pernah datang — bahwa aku tak pernah tahu kalau banyak orang yang akan senang menghabiskan waktu bersamaku. 

Aku selalu tahu itu benar, tapi sulit untuk mengakui itu pada diriku sendiri.
Lagipula, aku tidak bisa mempercayai orang-orang di dunia ini. Aku sudah memutuskan tentang hal itu sejak lama dan berhenti berusaha.

Saat perdamaian kembali ke dunia dan sudah waktunya bagiku untuk kembali ke Jepang, Aku tak bisa membayangkan diriku berpose dengan siapa pun untuk foto peringatan. Aku hanya tidak punya banyak teman.

"Bolehkah aku bertanya beberapa pertanyaan?" 
"Tentu."
"Kau memberi tahuku sedikit tentang kehidupanmu di sini, tapi bisakah kau memberi tahu ku lebih spesifik tentang bagaimana kau mengenal Glass dan yang lainnya dan tentang kehidupan yang kau habiskan bersama di sini? kau tak harus memberi tahu ku apa pun yang tidak kau inginkan. ”

“Tidak, tidak apa-apa. Glass dan aku bertemu sudah lama sekali,” kata Kizuna perlahan, seolah mengenang masa-masa yang lebih bahagia.

Ketika Kizuna pertama kali menemukan dirinya di dunia ini, dia berpikir kalu dia baru saja diteleportasi ke dalam game, jadi dia menghabiskan waktunya dengan santai memancing dan berpikir untuk naik level. Raja telah memberinya banyak dana, tapi pemerintah tidak terlalu kuat, karena berada di tengah pertempuran untuk kemenangan.

Kizuna bertemu Glass di negara tetangga. Para murid dari sekolah seni bela diri yang terkenal berada di tengah upacara untuk memutuskan siapa yang akan mewarisi tanggung jawab memegang vassal weapon. Siapa pun yang dipilih harus menggunakan kipas untuk mengalahkan naga yang diburu di tanah terdekat.

Awalnya Glass ditolak karena kelahirannya. Tapi murid demi murid ditolak sampai Glass akhirnya dipilih untuk memegang vassal weapon.

"Apa maksudmu dia ditolak karena kelahirannya?"

Glass tampak sangat kuat dan serius. Kau pasti orang bodoh untuk tidak melihat potensinya. Apak dia berasal dari keluarga aneh atau semacamnya? Apa itu sebabnya mereka mengabaikannya?

Aku bersimpati dengan kesulitan seperti itu — lagipula, aku telah dipanggil ke suatu negara dengan prasangka keagamaan terhadap Pahlawan Perisai.

"Itu masalah Glass, dan kurasa aku tak bisa memberitahumu tentang hal itu tanpa seizinnya. Jadi anggap saja kau tidak mendengarnya.”

"Oh baiklah."

“Jadi lagipula ... para murid yang ditolak cukup kesal soal itu. Jadi mereka berkumpul dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Glass. Mereka mengatakan kepadanya untuk tidak kembali lagi saat dia pergi untuk tes. "

"Kedengarannya ada banyak bajingan di dunia ini juga."

Seberapa picik mereka? mengakhiri hubungan dengan seseorang hanya karena mereka dipilih atasmu?

"Yah, mereka mungkin berpikir kalau Glass akan mati dalam tes, dan kemudian salah satu dari mereka akan dipilih untuk menggantikannya. Mereka akhirnya berkelahi di antara mereka sendiri. ”

“Oke, cukup baik. Jadi bagaimana kau bisa bertemu Glass? "

“Dia sedang bertarung melawan monster di padang rumput negara itu, dan aku kebetulan lewat. Kami langsung cocok dan memutuskan untuk bekerja sama. Itu saja.”

Itu tidak seperti awal pertemanan pertamaku.

Aku terjebak sendirian tanpa ada cara untuk memberikan damage pada monster. Aku harus membeli Raphtalia sebagai budak ...

Kami memiliki pengalaman yang sama sekali berbeda sejak awal.

Aku merasa tidak bisa memiliki hubungan yang seimbang dengan orang lain. Raphtalia dan aku mungkin tak akan pernah memiliki hubungan seperti Kizuna dan Glass.

“Kami akhirnya bertemu lebih banyak orang, dan Party kami tumbuh. Itu adalah perjalanan yang sangat liar, tapi kami selalu bersenang-senang,” kata Kizuna, menunjuk orang yang berbeda di foto.

Dia akhirnya menunjuk begitu banyak orang sampai aku tak bisa tak merasakan betapa berbedanya kami dan betapa istimewanya rumah ini baginya. Pasti terasa tak tergantikan.

Aku sedikit cemburu. Lagipula, aku tidak punya yang seperti itu. Tapi aku berjuang untuk kembali ke duniaku sendiri. Cemburu dengan apa yang dibangunnya di sini itu tidak masuk akal.

Setidaknya itulah yang ku katakan pada diri ku sendiri.

Kami memutuskan untuk bermalam di rumah Kizuna.

Beruntung bagi kami, ada sejumlah kamar kosong, jadi kami bisa benar-benar bersantai dan beristirahat.

Tak lama kemudian, malam tiba.

Aku sedang bersantai di teras rumahnya, memandangi lampu-lampu kota, ketika aku melihat Kizuna pergi. Aku penasaran ke mana dia pergi.

Aku melihat kembali ke dalam, di mana Rishia diam-diam menulis sesuatu.

kukira itu tidak maslaah. Aku selalu bisa menggunakan Portal Shield untuk melarikan diri jika perlu. Berhati-hati agar tidak bersuara, aku keluar dari ruangan dan mengikutinya.
Kami berjalan melalui kota yang asing, dan segera aku melihat sebuah pantai di kejauhan. Kizuna memegang lampu di satu tangan dan berjalan menuju laut. Ketika dia sampai di sana, dia memasukkan tongkatnya dengan umpan pancing baru dan membuangnya ke laut.

Dia sedang memancing?

Kukira dia benar-benar suka memancing. Dia memancing setiap kali dia punya waktu luang. "Hm? Oh, itu kau, Naofumi. ”

"Apakah ini tempat memancing yang bagus?"

"Tidak juga. kau hanya bisa menangkap ikan hering di sini. "

"Ikan hering, ya? Bisakah kau menangkap ikan Jepang di sini juga? ”

Ketika Aku dijebak dan diasingkan oleh raja, Aku memancing. Namun aku tidak tau ikan apa yang ku tangkap.

"Terkadang. Jika aku benar-benar mengawasi mereka. "
"Heh. "
Dia selesai mengatur pancingnya dan kemudian melemparnya kembali.

"Memancing di sini, di tempat ini, benar-benar membuatku merasa seperti kembali ke rumah." 
"Kurasa begitu."
"Kau mungkin merasakan hal yang sama ketika kau kembali ke dunia asalmu."
“Aku belum benar-benar meletakkan akar apa pun di sana. ”*
<TLN: akar yang dimaksud seperti benar benar terikat gitu lo. Tau? Kalo ngak tau ya udah :v>
Apa yang mirip dengan rumahku? Kastil Melromarc? Aku tidak suka berada di sana sama sekali. Itu tidak nyaman. Namun, Aku selalu bisa menggunakan portal untuk kembali ke sana, jadi ku kira itu nyaman dalam beberapa hal.

Aku tidak punya rumah seperti Kizuna. Hal terdekat yang ku miliki mungkin kereta Filo — kukira aku telah menghabiskan banyak waktu di sana.

Aku memutuskan untuk berhenti membandingkan diriku dengan Kizuna. Itu mulai membuatku merasa tidak enak.

"Hei! Aku menangkap sesuatu!” Teriak Kizuna, menarik pancingannya dan mendapatkan seekor ikan hering.

Astaga. Dia hanya memperburuknya. Dia bisa melakukan segalanya.

“Jadi begitu, kau biasa melakukannya. Sekarang mari kita coba metode khusus ku ... " katanya, dia memasang umpan baru ke tongkat pancingan. Ada permata hijau yang melekat padanya. "Jika ini berjalan dengan baik, aku seharusnya bisa menangkap sesuatu yang cukup menarik."

"Kupikir kau hanya bisa menangkap ikan hering?"

"Yah, mari kita lihat apa yang terjadi saat aku menggunakan kekuatan Holy Weapon ..." dia bergumam, melempar dan menggulung dan melempar dan menggulung sampai pancingan membungkuk tajam ke bawah, terlihat berat oleh sesuatu yang tak terlihat.

"Tangkapan besar!" Teriaknya, matanya menyala sementara dia cepat-cepat menarik ikan tersebut. Permukaan air mulai bergolak.

"Itu besar!"

Ketika dia terus melakukannya, aku melihat kalau itu adalah ... ikan hering yang sangat besar. Dia berhasil menguasainya.
"Apa yang kau pikirkan? Apakah ini dunia yang sama sekali baru atau apa? "
"Benda itu monster."
"Tidak bisa berkomentar tentang itu."

Aku merasa akan melihat ikan lagi di meja sarapan. Tapi benda itu sangat besar — terlalu besar. Mungkin rasanya tidak enak. Mungkin lebih baik direbus ... Atau mungkin sebagai sashimi. Namun, aku belum pernah mendengar tentang sashimi ikan hering...

"Jadi, kau bisa menangkap yang besar ini dengan mengubah umpannya?"
 "Ya."
“Apakah itu Skill?

"Hah? Tidak — itu aksesoris. Apa Kau tidak menambahkannya ke senjatamu? "
" Tidak. "

“Itu cukup bagus. Kau harus mencobanya. "
" Untuk menguatkannya? "
Alasan di balik metode peningkatan daya Kizuna tampaknya tidak berlaku untuk perisaiku, jadi aku tidak punya banyak harapan untuk ide baru ini untuk memasang aksesori ke dalamnya.

“Ini adalah sistem yang cukup luas. Aku tidak dapat menangkap ikan hering besar tanpa umpan ini, dan saat aku memeriksa statusku, ternyata ada perubahan pada kemampuan memancing ku.”

Tunggu sebentar. Aku pernah melihat sesuatu seperti itu

Dahulu, lelaki tua di toko senjata memberi ku aksesori untuk dipasang pada perisaiku. Ketika aku menggunakannya, itu membentuk penghalang yang mirip dengan Shooting Star Shield, tetapi kemudian pecah. Aku penasaran ... Bisakah aku mendapatkan akses ke penghalang tingkat lanjut — kemampuan perlindungan yang belum ada di dalam perisai — dengan menempelkan aksesori ke perisaiku?

Itu layak dicoba.

"Aku bisa menggunakan umpan ini dalam pertempuran juga. Aku harus mengatakannya, kalau aku sangat menyukainya. "

"Kalau begitu, mungkin aku harus mencobanya juga. Mungkin aku bahkan bisa membuatnya sendiri. ”

Memikirkan kembali aksesoris yang diberikan lelaki tua itu kepadaku, aku tak berpikir kalau itu adalah sesuatu yang dapat aku buat sendiri. Tapi aku mulai berpikir itu layak dicoba.

Akan bagus untuk bertanya kepada orang tua itu bagaimana dia membuatnya, tapi setidaknya aku punya Kizuna di sini untuk memulai dari ide.
“Apakah kau perlu melakukan sesuatu yang istimewa untuk membuatnya? Seperti memberi mereka kekuatan sihir atau semacamnya? '

"Hm ... Untuk hal semacam itu, kau mungkin akan lebih baik berbicara dengan imbue master atau pengrajin profesional. Aku mendengar para imbue master membutuhkan semacam landasan untuk bekerja. ”

Kukira Skill pengrajin profesional mungkin berguna.

“Aku pernah mendengar kalau aksesoris mempunyai efek yang tak biasa ketika digunakan dengan Holy weapon atau vassal weapon. Itu membuat para imbue master menggila. ”

Bahkan jika aku mendapatkan aksesori yang bekerja dengan baik di sini, mungkin sama sekali tidak bekerja ketika aku kembali ke dunia tempat ku berasal. Itu tidak baik. Itu akan seperti menggunakan bahan-bahan mahal dan langka untuk menanamkan item dengan efek khusus, hanya untuk hasil yang gagal dan berakhir tanpa apa-apa. Namun, itu layak dicoba.

“Aku pikir aku akan mencobanya. Aku akan membuat sesuatu dan melihat apakah itu berhasil. "

“Kau bisa membuat aksesoris? Ingin membuatkanku umpan baru? "
"Kenapa aku harus membuatkan barang untukmu? "
"Oh, kau tahu ...itu  karena semua yang kita lalui bersama?"

“Kurasa aku bisa mencobanya — hanya untuk latihan, kau tahu? Tapi kupikir umpan mungkin lebih rumit dari apa yang sudah ku lakukan. Seperti mengerjakan model plastik yang rumit. ”

"Ada juga yang dari kayu dan yang dari logam."

Tentu, dan ada banyak bentuk yang berbeda. Ada potongan-potongan perhiasan berkilau yang bisa kau gunakan untuk menghias semuanya seperti orang sombong yang baru saja mewarisi banyak uang. Aku tak suka hal semacam itu.

Tapi ikan tertarik pada benda mengkilap, bukan? Tidak bermaksud untuk melakukannya, aku sudah berpikir keras tentang proyek membuat umpan.
Bagaimana dengan aksesori ku sendiri?

Aku hanya bisa mencoba meniru apa yang orang tua itu buat untukku.

Itu semacam penutup untuk permata di perisaiku. Itu terpotong tepat di atasnya.

Selain itu, aku tidak punya proyek lainnya, jadi aku punya waktu untuk mencobanya. Aku memutuskan untuk mencobanya terlebih dahulu dan tidak terlalu khawatir tentang hasilnya.

Selain itu, pemandangan dari tempat memancing Kizuna terlalu bagus untuk diabaikan.




TL: Ryuusaku
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar