Sabtu, 11 September 2021

Maou-sama, Retry! Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 64. Pergerakan Tanpa Hati

 Chapter 64. Pergerakan Tanpa Hati



“Seperti berjalan di dataran yang sunyi, huh.” (Maou)

Maou bergumam kecil. Itu bukan berarti dia sedang bahagia.

Kelihatannya dia sangat kagum.

Tempat ini pada awalnya sebuah dungeon untuk pemula, kecuali kau pergi ke lantai paling bawah, disana tidak banyak monster berbahaya yang muncul. Terlebih lagi bagi pria ini yang memiliki kekuatan yang cocok disebut sebagai Raja Iblis, pada dasarnya itu sama seperti tidak memiliki musuh.

“Kau lagi! Kau tidak pernah mengerti ya.” (Maou)

Brick berdiri dihadapan Maou.

Tubuh logamnya ditutupi lumut, dan jika kau melepas logamnya, kau bisa mendapatkan uang yang cukup banyak. Itu merupakan lawan yang termasuk sulit untuk dihadapi seorang pemula.

Tentu saja, bagi pria ini, makhluk itu bukanlah apa-apa melainkan hanya sebuah bata.

Maou mendekatinya tanpa mengatakan apapun dan mengayunkan tinjunya.

Tanpa menggunakan Sodom’s Fire. Brick terhempas ke dinding bersama dengan nyawanya dan logam tersebar di semua tempat.

Sejak memasuki dungeon hari ini, dia telah menghadapi semua musuh hanya dengan tangan kosong, dan telah memikirkan berbagai macam cara bertarung.

“Mereka tidak akan berfungsi sebagai sumber uangku, tetapi mereka masih bisa menjadi sumber SP-ku.” (Maou)

Ya, pria ini tidak pernah mengolah mayat monster yang telah dia kalahkan.

Karena dia tidak memiliki pengetahuan untuk itu, dia tidak tertarik untuk melakukannya.

Pada dasarnya Raja Iblis jahat ini memiliki sumber uang yang tidak terbatas, jadi dia tidak perlu membuang-buang waktu untuk mengolah setiap dan semua monster yang dikalahkan.

Dia terus pergi ke bawah selagi mengalahkan semua monster yang muncul.

Dan ketika dia telah sampai di lantai kesepuluh, sesuatu yang aneh terjadi.

“Ke~temu, satu lagi orang idiot yang menjelajah sendirian.”

“Terdapat banyak orang payah hari ini. Luar biasa.”

Dua petualang jahat muncul di hadapan Maou, dan mereka memperlihatkan pisaunya. Hanya dengan penampilannya saja mereka terlihat berbahaya. Dan kenyataannya, terdapat bau besi seperti darah yang kuat, dan itu membuat Maou mengerutkan alisnya.

“Apa kau menginginkan sesuatu?... adalah hal yang ingin kutanyakan, tapi yah, aku bisa menebaknya.” (Maou)

“Betapa pintarnya~. Berikan semua uangmu.”

“Tapi...Orang ini tidak memiliki jarahan apapun~.”

Tidak mengejutkan bahwa mereka berdua akan kebingungan.

Ada saatnya ketika orang-orang akan menjelajah sendirian jika mereka sangat yakin akan keterampilannya, bahkan jika itu kejadiannya, mereka pasti akan membawa porter bersamanya, atau memiliki kotak atau sesuatu untuk meletakkan item jarahannya.

Tetapi pria ini tidak memiliki sesuatu yang seperti itu.

“Bahkan jika aku memberikan uangku dengan patuh, aku pikir kalian tidak akan melepaskanku begitu saja.” (Maou)

Tatapan Maou diarahkan kepada mayat-mayat yang sudah tidak memiliki kepala. Itu merupakan sumber dari baunya.

Mayat-mayat yang tidak memiliki kepala terasa seakan-akan palsu, seperti boneka yang dibuat dengan ahli. Sangatlah sulit bagi otak Maou untuk segera menyadari bahwa mereka manusia.

“Mereka itu spesial~... Itulah yang terjadi jika melawan~.”

“Jika kau tidak ingin berakhir seperti mereka~, maka patuhilah.”

“Banyak yang bilang ‘orang mati tidak bisa bercerita apa-apa’. Yah, jika kalian dilaporkan setelah mereka kembali ke permukaan, kalian akan tamat bagaimanapun juga. Cara kalian melakukannya tidaklah salah.” (Maou)

Bahkan dalam pembantaian ini, yang muncul di benak Maou adalah pemandangan masa lalu, ketika tambang emas ditemukan di tempat seperti Amerika, dan itu berubah menjadi demam emas.

Ketika itu ditemukan, semua orang tergila-gila menggali emas, tapi sebuah ‘cara yang berbeda’ untuk menggali emas ditemukan di beberapa tempat.

—Bunuh orang yang menemukan emas, dan curi milik mereka.

Tidak perlu kerja keras, tidak perlu menghabiskan waktu; dapat dikatakan itu sebuah cara yang cerdas untuk ‘menggali’.

Tentu saja, metode ini sangatlah tidak manusiawi.

Maou secara tidak sadar bergerak maju sambil berpikir, dan salah satu dari penjahat segera melepaskan sihir.

“Hey kau, jangan bergerak. [Sleep].”

“?!” (Maou)

Sihir air yang dilepaskan dari jari penjahat terbang menuju mata Maou yang pikirannya sedang teralihkan.

Dalam sekejap, Maou berlutut, dan tubuh bagian atasnya terguncang. Itu merupakan sihir air tingkat kedua, dan itu tidak hanya efektif kepada manusia, tetapi untuk monster juga.

Terlebih lagi bagi pria ini yang tidak memiliki ketahanan terhadap sihir sama sekali.

“Guuh...Aaaaaaah!!” (Maou)

Setelah itu, kabut hitam muncul dari cincin di tangan kanan Maou, dan menutupi tubuhnya dalam sekejap mata.

*Krak* —‘Sesuatu’ berubah.

Suatu perubahan yang dipaksakan.

Yang ada disana adalah pemilik tubuh sebenarnya...Kunai Hakuto itu sendiri.

Tangan kanan Kunai meraih Sodom’s Fire, dan menusuk ke dalam pahanya sendiri menggunakan itu.

Mungkin dia mencoba menghilangkan rasa kantuknya dengan rasa sakit yang luar biasa. Secara teori itu dapat dimengerti, tetapi itu merupakan sesuatu yang berbeda ketika dilakukan.

Menyakiti diri sendiri menggunakan pedang merupakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang normal.

Aura kebencian yang dapat membuat atmosfir terguncang muncul dari tubuhnya selagi dia mencoba untuk berdiri. Dari matanya, terdapat cahaya merah yang membuatmu mengira terdapat kobaran api di dalamnya.

Kunai mendekatkan jaraknya, meninggalkan jejak cahaya merah dibelakangnya, dan meraih wajah dari penjahat yang melepaskan sihir. Mengangkat tubuhnya hanya dengan tangan kanannya, dia mulai mengencangkan cengkeramannya dengan kekuatan tidak masuk akal yang dapat menghancurkan kepala.

“Makhluk rendahan, apa yang kau lakukan padaku?” (Kunai)

“Aghh, wa-wajahku...!!”

“Tidak dapat mengucapkan sebuah kata. Apa kau tidak memiliki akal?” (Kunai)

Kunai mengencangkan cengkeramannya, dan suara yang ekstrim membuatmu bertanya-tanya jika tubuh seorang manusia dapat membuat suara bergema seperti itu, dan tengkorak penjahat itu mulai berubah.

Seolah-olah seperti karet lunak sedang dihancurkan.

Tangan Kunai yang elegan merobek kulit penjahat itu, menembus dagingnya, dan menghancurkan tulangnya.

“Si-Sihir...Uh...Air...Fegh!”

Kunai mengayunkan tangannya tanpa suara, dan penjahat itu menghantam dinding.

Pada saat itu, tubuhnya mengeluarkan suara aneh, dan membuat noda merah di dinding. Sosok dari penjahat dengan anggota tubuhnya yang berayun kebawah tanpa daya terlihat seperti boneka.

“Sihir huh... Kata yang merepotkan.” (Kunai)

“To-Tolong...”
Penjahat lainnya pasti sudah kehilangan kekuatan di kedua kakinya. Dia mundur dengan pantatnya berada di lantai. Namun, punggungnya menyentuh dinding dari dungeon, dan kehilangan jalan kaburnya.

Kunai mendekati penjahat itu dengan perlahan, langkah demi langkah. Wajahnya seakan-akan melihat makhluk hidup yang misterius, dan itu juga seperti dia sedang memperhatikan sesuatu seperti serangga.

“A-Aku tidak akan melakukannya lagi...Aku juga akan memberikan uangku. Akan kuberikan!!”

“...Makhluk rendahan akan selalu mengulangi kesalahan yang sama.” (Kunai)

“Eh?”

Muncul sedikit harapan dari wajah sang penjahat.

Nada bicara Kunai sangatlah tenang, sehingga dia tidak menemukan tanda-tanda berniat untuk membunuh darinya.

Dia berpikir pria ini mencari sesuatu yang lain darinya. Mungkin informasi, atau barang berharga.

Tetapi jawaban yang benar bukanlah keduanya.

“Memohon untuk diampuni hanya diberikan kepada orang yang layak.” (Kunai)

Kunai mengangkat kakinya, dan menghantamkan telapak sepatunya ke wajah penjahat itu. Isi kepala dari penjahat itu berserakan ke banyak tempat, dan tercipta noda merah lainnya di dinding.

Memperhatikan ketiga mayat yang berada di tempat itu, Kunai menggelengkan kepalanya dan mengucapkan sebuah nasihat.

“Kau pencipta yang bodoh. Akan merepotkanku jika kau tidak membuatku lebih terhibur.” (Kunai)

Mengucapkan itu, Kunai menatap cincin di tangan kanannya. Ada meteran seperti darah yang terukir disana, dan memastikan bahwa itu terisi ‘dengan lancar’ senyum tak pantas darinya muncul.

“Tidak, dia benar-benar membawa ‘kekacauan’... Kukuku” (Kunai)

Dengan matanya yang meninggalkan jejak cahaya merah, Kunai menuju lebih jauh kebawah.

Setiap saat kakinya melangkah maju kedepan, kabut hitam yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang, dan ketika dia telah sampai lantai lebih bawah, dia sudah sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri.
<TLN: Kepribadiannya berubah kembali menjadi Oono Akira.>

■■□□■■□□

“Sial!... Bajingan itu, melakukan sesuka hatinya sendiri!” (Maou)

Maou melontarkan kutukan sambil memukul dinding. Tidak ada rasa sakit muncul dari tangannya, tetapi retakan besar terbentuk di dinding, dan kemudian hancur berkeping-keping.

Kelihatan seperti amarahnya tidak menghilang, dia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya untuk sementara waktu, tetapi itu tidak menenangkannya.

“Dengan mudahnya dia membunuh orang...” (Maou)

Lawannya adalah pembunuh. Itu merupakan bentuk pembelaan diri. Berbagai alasan muncul di benak Maou, tetapi kesimpulan yang muncul darinya hanyalah membunuh orang yang tidak bisa melawan seperti sampah.

Tangan dan kakinya kemungkinan masih memiliki sensasi yang tersisa. Bahkan walaupun dia mengetahui itu membuang-buang SP, dia menciptakan botol plastik berisi air di dalamnya, dan mencuci sepatunya menggunakan itu.

“Apa-apaan ini… Aku tidak bisa merasa bersih sama sekali.” (Maou)

Lebih tepatnya, itu mungkin sedikit berbeda.

Semua pakaian yang dia gunakan memiliki ‘daya tahan tanpa batas’. Area pahanya yang tertusuk sudah <<Dijahit>> secara otomatis. Tidak ada robekan maupun debu.

Darah yang dia tumpahkan sendiri, maupun darah yang menempel padanya, akan hilang sepenuhnya oleh <<Daya Tahan tak Terbatas>> seiring berjalannya waktu.

Tetapi kenyataan bahwa dia telah membunuh orang terlepas dari keinginannya sendiri merupakan sesuatu yang tidak akan mudah hilang.

Makna dari menghadapi mereka sendiri, dan tidak bisa membuat satu gerakan saat dia membunuh orang seperti sampah, sangatlah berbeda dalam perasaan dan makna.

Itu terasa seperti mesin yang membunuh secara otomatis, seperti rantai pabrik yang menggiring orang-orang menjadi ‘sesuatu’.

Tentu saja, jika Kunai Hakuto mendengarkan ini, dia akan tertawa terbahak-bahak.

Dia akan berkata: ‘Aku telah membunuh lebih dari 4 juta orang, apa bedanya jika aku menambah satu atau lebih kepada angka itu?’ Maou merasa seperti dapat mendengarkan suara itu di dalam kepalanya.

Dia menyiram air dari dalam botol plastik ke wajahnya dengan paksa, dan membasuh semuanya sesuai dengan suasana hatinya.

“Bajingan itu, lihat saja...” (Maou)

Gumaman itu kecil, tapi penuh dengan semangat juang dan harapan.

Disaat kesadarannya bertukar dengan Kunai, dia merasakannya dengan jelas. Sebuah keinginan kuat dan efek dari cincin di tangan kanannya.

(Cincin ini membawa ‘kehancuran dan kekacauan’ di dunia. Jika itu terpenuhi, keinginannya akan menjadi kenyataan.) (Maou)

Ekspresi kesal Maou perlahan berubah menjadi berani.

Itu merupakan ekspresi yang cocok untuk ‘Raja Iblis’, pembawa kekacauan.

“Seolah-olah aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku tidak akan membiarkannya.” (Maou)


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL: Ao Reji
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar