Rabu, 01 April 2020

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 108. Tuduhan Palsu, Lagi

Chapter 108. Tuduhan Palsu, Lagi


Sepertinya Hero lain sudah menaiki kapal. Dan aku di beritahu oleh Shadow bahwa kapalnya akan segera berlayar.

Aku sedang memikirkan masa yang akan datang sambil melihat matahari terbenam di laut.
Pertama-tama, Aku harus menyiapkan pertanyaan yang diperlukan untuk ratu ketika kita sudah kembali ke ibu kota.
Selanjutnya, Aku harus pergi ke tempatnya pak tua untuk mempersiapkan peralatan menghadapi gelombang selanjutnya. Karena itu topik utamanya, haruskah Aku meminta bahannya dari ratu? Jika ada waktu, tidak buruk juga untuk berburu monster sendiri untuk mendapatkan bahan yang kita butuhkan.
Lalu, Aku juga harus menyempurnakan penguatan perisaiku. Ada batasan bahan penguatan yang bisa Aku dapat dari pulau.

Di malam harinya, Aku menuju dek kapal setelah selesai makan malam.
Aku melihat laut di malam hari beserta angin malamnya.
....Aku melihat Filo sedang latihan berenang setelah menyelesaikan makan malamnya.
Seberapa terobsesinya dirimu sampai berenang selarut ini.
Aku berpura-pura tidak melihat apapun.

“Hm?”

Aku melihat Motoyasu di ujung dek kapal..... dan Aku melihat Rishia bersamanya juga.
Menggoda wanita lagi? Oh iya, Rishia termasuk wanita cantik di mata Motoyasu.
Seberapa inginnya kau membuat harem disini.
Siapa yang tahu apa yang akan dikatakan oleh Itsuki?
Untuk saat ini, Aku akan memperingatinya.

“Hey, Motoyasu, kenapa kau tidak berhenti menggoda wanita disin—“
“Ah, ternyata itu kau, Naofumi. Aku mohon kepadamu!”

Dengan tampang yang dipenuhi oleh raut pucat, Motoyasu mendorong pundak Rishia kepadaku.

“Ada apa denganmu?”
“Ya sudah! Aku menyerahkannya kepadamu!”

Dia itu kenapa? Mana mungkin si penggila wanita itu menyerahkan suatu hal seperti ini  padaku..... Ketika Aku melihat Rishia, dia terlihat terkejut.
Entah kenapa..... matanya berkaca dan dipenuhi oleh rasa haus akan darah.
Mungkin Rishia sedang duduk dan menangis di ujung sana.

“Ada apa memangnya?”
“Ba-baiklah, sampai jumpa!”
“Tunggu! Jangan bilang kau..... melakukannya di kapal........”

Serendah itu kah kau sampai melakukan kejahatan?
Karena dia tidak mematuhimu jadi kau bilang: “Tidak apa-apa kok, ini hanya sakit di awal saja....” lalu memperkosa Rishia?
Ini terlihat seperti Motoyasu yang sudah melakukan hal aneh. Orang ini terlihat bisa mengambil pasangan orang lain tanpa ketahuan oleh orang yang disukainya.
Dengan begitu, ini bisa membuatnya marah dan menangis.
Beban yang sangat menyebalkan. Aku tidak akan membiarkanmu lari.

“Ti-tidak!”
“Maka buktikan.”
“I-ini bukan kesalahannya Motoyasu-sama....”

Rishia mengatakan itu dengan suara yang serak.
Sial, apa Aku hanya berpikir berlebihan?
Sudah ku duga kalau Motoyasu tidak seburuk ini.

“Lalu apa yang terjadi?”
“Ada alasan tertentu. Tapi Aku tidak baik dalam mengatasinya. Oleh karena itu Aku mempercayakannya padamu!”

Motoyasu mengatakan itu sambil tertawa, kemudian ia berhasil melarikan diri ke kabin kapal setelah menghela nafas dengan berat.
Untuk pertama kalinya Aku melihat Motoyasu dengan ekspresi seperti itu.
Atau mungkin, dari awal orang itu tidak hebat dalam melayani wanita?
Atau karena Rishia bukan tipenya? Orang itu cukup beruntung tapi terlihat sedikit lemah.

“Apa yang terjadi~?”

Filo menyadari keadaan ini lalu kembali ke dek kapal untuk menanyakan ini.

“Tolong jangan terlalu mengkhawatirkanku.”
“Kurasa Aku tidak bisa melakukannya, Aku merasa khawatir bila kau benar-benar diperkosa oleh Motoyasu.”
“Tidak.... Aku hanya tidak bisa melanjutkannya lagi.”
“Kau tidak bisa melanjutkannya lagi dengan Motoyasu.”
“Bukan begitu.”

Walaupun dia masih menangis, dia masih bisa menahan amarahnya. Aku rasa dia sudah merasa baikkan.

“Dari awal Motoyasu-sama mencoba untuk menghiburku...... tetapi, harusnya Aku tidak membicarakan itu juga.”
“Jangan berkata begitu.... kau itu sudah menyelamatkanku sebelumnya.”

Rishia lah yang sudah memberitahuku tentang bijih yang Itsuki gunakan.
Jika Rishia sedang dalam masalah, tentu saja Aku sangat ingin membantunya.

“Tidak perlu........ Sudah, jangan mengkhawatirkanku.”

Setelah mengatakan itu, Rishia pergi menjauh.

“.... Ada apa ya?”

Pada akhirnya, hanya pemikiran tidak baik saja yang mungkin terjadi saat itu.

Di esok paginya.
Aku sedang membaca buku di kabin kapal sambil memikirkan keadaan Rishia kemarin malam.

“Ini membuatku sangat khawatir.”

Entah kenapa..... ada suatu hal baik yang bisa Aku hiraukan, tapi kenapa hatiku terasa bergetar.
Aku merasakan hal yang sama ketika Melty diserang oleh pengawalnya dan ketika Bitch memfitnahku.
Aku memiliki perasaan yang buruk tentang hal ini.

“Apa ada masalah?”
“Sedikit. Aku tidak bisa membiarkannya jadi Aku akan menyelidikinya terlebih dahulu.”
“Begitu.....”

Aku meninggalkan kamar dan Raphtalia melanjutkan lagi push-up nya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa memahaminya sendiri.
Karena Aku khawatir jadi Aku menguping kamar Itsuki.
Entah kenapa, Aku mendengar kegembiraan dari sana.
Apa Aku berpikiran berlebihan?

“Ah.....”

Lalu Aku melihat Rishia, yang sedang melihat ke arah kamar Itsuki dengan penuh cemburu.
Ketika dia melihatku, dia pergi lagi.
.....Kenapa ya? Sungguh.
Mungkin Aku akan mengetahui alasan dibalik dia melakukan itu dari Motoyasu.
Oleh karena itu, Aku mengetuk pintu kamar Motoyasu.

“Iya~”

Wanita 1 yang membuka pintunya.
Sebuah senyuman indah yang pertama kalinya dia perlihatkan kepadaku.
Perempuan seperti ini.... bisa membuat senyuman seperti itu.......?
Apa ini perilaku agar bisa bersama dengan Bitch dan Wanita 2? Jujur saja, ini membuatku jijik.
Dia bisa membuat ekspresi seperti itu sedangkan dirinya yang sebenarnya memiliki ekspresi datar.
Perempuan itu sangat berbahaya.

“.....Ternyata itu kau, kalau begitu Aku bisa membuka topengku.”

Tak lama kemudian, wajah palsunya berubah drastis, menjadi ekspresi penuh amarah kepadaku.
Aku sangat tidak mengerti apa yang membuatnya marah kepadaku.

“Apa ada Motoyasu?”
“Untuk apa Aku menjawab pertanyaan darimu?”
“Hey. Motooyasu—“
“Jangan hiraukan Aku!”
“Iya iya!”

Wanita 2 mengambil kesempatan aneh. Bitch itu, memutuskan untuk menghiraukanku dengan berpura-pura tidak melihatku.
Sudah sampai sini malah memikirkan trauma yang pernah terjadi.
Orang itu bukan masalah besar.

“Sedang apa kau, Naofumi. Semua orang disini membencimu.”

Dengan memegang sandwich ditangannya, Motoyasu berbicara kepadaku sambil ditemani Bitch dan Wanita 2 di belakangnya, seperti sedang memamerkan haremnya.
Pose yang sangat menyakitkan mata.
Akan mustahil untuk tidak berkata kasar kepadamu setelah mengetahui posisimu yang sebenarnya.

“Itu bukan masalah untukku. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu.”
“..... Menanyakan apa?”
“Sebelum kau pergi. Sesuatu yang kau serahkan kepadaku kemarin malam.”
“... Baiklah. Tetapi, setelah itu Aku akan menyerahkan segalanya padamu.”
“Mengandalkannya pada orang lain..... Baiklah. Aku juga sangat penasaran. Itu berarti Aku sudah siap menerima risikonya juga.”

Sambil memikirkan yang mungkin terjadi. Motoyasu keluar dari kabin kapal dengan wajah pucat setelah menyuruh rekannya untuk tetap di kabin kapal.
Ketika kita menuju dek kapal, ia masih melihatku dengan wajah pucat.

“Ini mengenai kondisi Rishia.”
“Iya.”

Aku tidak bisa memahami alasan dibalik menangisnya Rishia.
Jadi Aku akan menanyakan itu kepada Motoyasu, karena ia sangat perhatian kepada perempuan.

“Sebenarnya—“

Semua yang dijelaskan berdasarkan sudut padang Motoyasu......
Setelah mendengar penjelasannya Motoyasu, Aku menyadari bahwa intuisiku benar, kemudian tanpa kusadari amarahku bergejolak.

“Itsuki---------------------------------------!”

Dengan kuatnya Aku menendang pintu kamar Itsuki.
Pintunya terbuka dengan suara yang keras, dan semua yang didalam langsung melirikku bersamaan.

“Apa-apa ini!?”
“Bajingan Hero Perisai! Apa maumu!”
“Apa mau ku? Tanyakan pada dirimu! Dasar sampah!”

Karena Aku berteriak dengan kencang, seisi kapal langsung heboh.
Itsuki dan Si Zirah langsung tersentak karena perilaku kasarku.
Itsuki lah yang pertama kali tersadarkan lalu ia langsung menaikkan nada suaranya juga.

“Itu lah yang membuatku bertanya kepadamu!”
“Apa kau sangat tidak tahu apa yang terjadi?”

Ini cukup berbahaya, jika Aku terus menahan rasa kebencian ini di hatiku, maka Wrath Shield akan muncul.
Jika ada Ren, maka akan terjadi baku hantam.

“Aku tidak tahu apa yang akan kau curigai, Hero Perisai!”

Si Zirah mencoba untuk menangkapku.
Lalu Aku menghindari tangan Si Zirah dan mencoba menerapkan teknik gabungan.

[Peraturan senjata legendaris, dilarang untuk menggunakan senjata selain senjata eksklusif]

*Cekrek cekrek* Aku menerima rasa sakit di lenganku, tapi Aku hiraukan itu.
Apa Aku juga dilarang untuk menerapkan teknik gabungan?
Padahal melempar saja boleh, lalu apa bedanya?

“Aww! Awawaw!”
“Aku kesini untuk berbicara dengan Itsuki. Jangan menghalangiku, dasar lemah!”

Aku mendorong Si Zirah, lalu Aku menatap Itsuki.
Sudah lama sekali Aku tidak merasakan amarah seperti ini.
Itu semua berkat Raphtalia yang selalu menenangkanku.
Aku tidak bermaksud untuk menahannya sekarang.

“Kau.... seorang yang mengaku sangat adil, tidak mengetahui apapun.”
“Apa yang kau....”

Selagi Aku menatap tajam Itsuki, Aku melihat Rishia yang sedang berlari dari dalam keributan lalu melihat kedalam kamar.

“Serius, alasan yang membuatmu sangat marah, adalah itu?”
“Jadi kau tahu yang ku maksud.”
“Yang salah itu dia.”
“Jangan bercanda.”

Penjelasan yang Aku dengar dari Motoyasu. Yaitu----

Alasan dibalik Rishia sangat bersedih. Adalah...
Di hari terakhir, setelah Rishia berbelanja di hari itu, dia kembali menuju rekannya.

“Rishia-san. Ternyata itu kau?”
“Eh? Apa yang kau maksud?”

Setelah Rishia kembali, dia menjawab dengan penuh kekecewaan sambil memiringkan kepalanya.

“Sudah tidak berguna lagi untuk berpura-pura tidak tahu. Kau lah yang merusak aksesori ku.”

Setelah mengatakan itu, Itsuki mengeluarkan gelang yang ia jaga dengan baik dalam keadaan yang hancur berat.

“Eh? A-Aku tidak tahu apapun. Memangnya itu apa?”
“Kau masih berpikiran untuk berkata bohong...... Ada bukti kuatnya.”

Setelah mengatakan itu, Itsuki melirik rekan-rekannya.

“Iya, kita semua melihatnya. Rishia merusak dan menyembunyikan gelang yang sangat Itsuki-sama sukai.”
“Itu benar.”
“Aku melihatnya juga.”
“Ehh!? Ti-tidak! Aku tidak melakukannya..... Aku tidak mengetahui apapun!”

Rishia memohon ampun dengan sangat.
Akan tetapi, Itsuki tidak mempercayainya.

“Jadi walaupun sudah ada banyak saksi mata masih belum mau mengaku..... Apa boleh buat. Aku bermaksud untuk memaafkanmu bila kau merasa bersalah..... tapi, Rishia-san, kumohon mulai hari ini tinggalkan party-ku.”
“Tidak mungkin! Aku tidak mengetahui apapun!”

Saat itu terjadi, Rishia melihat anggota party Itsuki tertawa kecil.
Akan tetapi, Rishia masih terus meminta ampun kepada Itsuki untuk tidak mengeluarkannya dari party, namun Itsuki tidak menyahutnya.

“Aku mohon! Biarkan Aku tetap bersama Itsuki-sama!”

Mata Itsuki terlihat sedang lirik kesana kemari, sepertinya ia merasa sedikit bersalah.

“Jangan mudah memaafkannya, Itsuki-sama!”
“Kami juga mencurigai Rishia sudah membocorkan informasi pada Hero lain.”

Si Zirah membicarakan sesuatu dengan rekannya untuk memperkuat keputusannya.

“Ini sangat disayangkan, tapi..... sampai jumpa.”
“Itsuki-sama!? Aku sangat memohon kepadamu! Untuk memikirkannya kembali, akan Aku lakukan apapun!”

Dengan berlinang air mata, Rishia terus memohon, namun Itsuki membalikkan badannya dan tidak memberikan jawaban apapun.

“Kasihan sekali Itsuki-sama, mau sampai kapan kau mengganggu Itsuki-sama! Dasar pembohong! Kau tidak layak untuk bersama Itsuki-sama!”

Rekannya Itsuki mengusir Rishia dengan kekerasan.
Setelah itu, walaupun dia mendekati kamarnya hal yang sama terjadi..... dan itu berlaku walau hanya satu langkah.
Penjelasan ini terlalu kasar untuk Motoyasu dengar dari Rishia..




TL: Bajatsu
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar