Jumat, 01 Januari 2021

Kuma Kuma Kuma Bear Light Novel Bahasa Indonesia Volume 1 : Chapter 19. Beruang Dijuluki Beruang Berlumuran Darah

Volume 1
Chapter 19. Beruang Dijuluki Beruang Berlumuran Darah


Hari ini pun, sarapan yang disajikan oleh penginapan terasa begitu nikmat. Tidak perlu repot-repot memasak adalah yang terbaik. Dikala aku tengah larut dalam impian hikikomori-ku yang menjadi kenyataan, dengan penuh semangat, Fina datang menghampiri.

"Yuna-san, selamat pagi!"

"Selamat pagi." Aku menyeruput nikmat sup hangat yang disajikan untukku "Tunggu sebentar. Aku akan segera menyelesaikan makanku."

"Oke, tidak masalah."

"Elena, tolong beri Fina sesuatu untuk diminum."

"Yuna-san?"

"Tidak apa-apa, duduk saja. Ada yang ingin kubicarakan denganmu hari ini."

Saat aku berkata demikian, Fina dengan patuh duduk di meja yang ada di depanku. Elena kembali dengan cepat, membawa minuman yang dipesan.

"Fina, ada begitu banyak hal aku tidak ketahui, jadi bisakah aku bertanya padamu?"

"Tentu."

"Apa saja yang kau butuhkan untuk melakukan pemilahan? Sejauh yang kutahu adalah pisau."

"Pisau adalah yang paling utama. Semakin tajam pisaunya, semakin baik pula hasilnya. Jika pisau yang kau gunakan tumpul, maka akan susah memisahkan kulit seekor serigala dari daging tanpa merusaknya. Jika itu adalah monster tingkat atas, terkadang tidak cukup memilahnya hanya dengan menggunakan pisau baja biasa."

"Bagaimana dengan pisau milikmu?"

"Pisau milikku adalah pisau baja, tapi karena Gold-san yang menempanya, maka ini termasuk produk bagus."

"Apakah kau butuh yang lain?"

"Kurasa cuma tempat untuk melakukan pemilahan. Akan sangat bagus jika di dekat tempat tersebut terdapat sumber air juga."

"Itu saja?"

"Aku perlu sebuah batu asahan dan tempat untuk menyimpan material yang dihasilkan. Karena setelah beberapa saat, daging akan mulai membusuk."

"Jadi, untuk sekarang, yang kau butuhkan adalah tempat untuk melakukan pemilahan, sebuah batu asahan, dan sebuah ruang penyimpanan, bukan?" Itu benar, aku dapat menggunakannya, sesuatu yang kubuat tadi. "Satu hal lagi. Apa yang akan kau lakukan selagi aku pergi keluar untuk menjalankan quest? Ikut denganku? Atau tinggal dan menunggu?"

"Aku ingin ikut bersamamu, tapi aku takut akan menghalangi."

"Kenapa kau ingin ikut bersamaku?"

"Jika aku ikut bersamamu, kemungkinan aku dapat memetik beberapa tanaman obat untuk ibuku."

"Kalau begitu, ingin pergi bersama?"

"Bolehkah?"

"Aku dapat melindungimu. Tapi apakah tidak masalah bagimu untuk bermalam di luar?"

"Uhh, kurasa tidak masalah jika aku memberitahu ibu terlebih dahulu. Tapi mungkin dia akan khawatir jika aku pergi keluar rumah terlalu lama."

"Kalau begitu, hari ini, kita hanya akan melakukan perjalanan untuk satu hari saja. Bisakah kau beritahu ibumu kalau besok kemungkinan akan menjadi perjalanan untuk dua hari satu malam? Atau haruskah kita meyakinkannya bersama?"

"Tidak apa-apa. Aku pastikan akan memberitahunya nanti."

Aku menyelesaikan makanku dan kami berjalan dengan santai menuju guild. Di jalan kami singgah ke toko perkakas terlebih dahulu untuk membeli batu asahan. Sesampainya di guild, Helen yang biasa melayaniku tengah disibukkan oleh petualang lain, jadi aku langsung menuju ke papan berisikan quest tingkat D. Fina mengikutiku dari belakang.

Tidak banyak yang mengerumuni papan quest tingkat D. Yang paling ramai adalah papan yang berisikan quest tingkat E. Beberapa orang menatapku, tapi tak ada satupun yang mengajakku bicara. Sungguh pagi yang sibuk, dan karenanya tak ada seorang pun yang punya waktu untuk menggubrisku di saat mereka sendiri tengah sibuk berebut quest.

Kawal seorang pedagang menuju ibu kota.

Basmi orc dan ambil dagingnya.

Bunuh monyet iblis yang merusak pertanian kami.

Butuh tenaga pengajar, seorang penyihir atau ahli pedang di atas peringkat D.

Kumpulkan rumput Melmel.

Selidiki monster asing yang tampak di sekitar gunung Hoelle.

Antar bijih besi Ole ke gunung Hoelle.

"Tidak banyak quest yang tampak menyenangkan."

"Yuna-san, apakah begitu caramu memilih?"

"Ya. Jika aku harus melakukan sesuatu, maka aku lebih memilih sesuatu yang menyenangkan."

Aku beralih ke papan quest tingkat C selanjutnya. Hanya ada empat petualang yang berkerumun di sekitar papan tersebut, tampaknya mereka berempat berada dalam party yang sama. Mereka berbincang-bincang satu dengan yang lain sembari memilih quest. Aku mengintip ke papan quest dari balik mereka, mencoba menjaga jarak.

Kumpulkan material yang berasal dari Wyvern.

Basmi kawanan Orc.

Lindungi benteng Saumaug.

Kalahkan kawanan bandit Zamon.

Permintaan material yang berasal dari Orc.

Semuanya tampak menyenangkan, tapi aku tidak tahu dimana monster-monster tersebut berada, jadi menemukan mereka akan sulit. Aku akan dengan senang hati mengambil quest perburuan Wyvern seandainya aku tahu dimana letaknya.

"Hey, gadis berpakaian aneh. Papan ini untuk petualang peringkat C." Ujar salah seorang pria dari kawanan berisikan empat orang tersebut, tampaknya ia berada pada umur dua puluhan.

"Aku tahu itu. Aku hanya melihat-lihat quest seperti apa yang dipajang pada papan quest tingkat C."

"Hanya melihat-lihat? Yah, kurasa tidak ada salahnya mengamati para seniormu."

Seorang wanita tampak mengenakan pakaian penyihir menatapku. "Bukankah ia adalah petualang peringkat E yang dirumorkan itu?"

"Aku telah naik ke peringkat D kemarin," ucapku.

"Bagaimana dengan anggota party-mu yang lainnya? Dilihat dari manapun gadis kecil di sana itu masihlah di bawah umur." Sangat jelas bahwa Fina tampak belum cukup umur untuk menjadi seorang petualang.

"Bukankah yang kita dengar bahwa si beruang bersimbah darah melakukan quest seorang diri?"

"Apa yang kau maksud dengan beruang bersimbah darah?" Ujar salah seorang dari mereka.

"Apa? Kau tidak tahu hal itu, Touya?" Seseorang yang tampak seperti pemimpin diantara mereka menimpali. "Menurut cerita, seorang petualang pernah mengajak duel seorang gadis yang mengenakan kostum beruang. Petualang tersebut dihajar habis-habisan oleh sang gadis, dan dia bahkan tidak memaafkan si petualang meskipun sudah memohon dan minta maaf. Sang gadis masih terus memukuli petualang yang menantangnya tadi meskipun ia telah terkapar...gadis tersebut terus melanjutkan perbuatannya sampai ia menghajar habis semua petualang yang ada di sekitar."

Kedengarannya mengerikan, pikirku. Siapa beruang yang sedang mereka bicarakan?

"Gadis beruang tersebut bahkan tidak memilah hasil buruannya. Dia selalu membawa mayat monster utuh yang berlumuran darah setiap harinya, maka dari itu orang-orang menjadikannya bahan pembicaraan hangat."

Yah, tentu saja seekor monster akan mengeluarkan darah jika kalian menghabisinya dengan pedang, pikirku. Disamping itu, aku selalu menyimpan monster buruanku langsung setelah menghabisinya, jadi mayatnya akan mulai mengucurkan darah begitu aku mengeluarkannya dari dalam penyimpanan beruang.

"Orang-orang mulai memanggilnya beruang bersimbah darah karena sikap dan kelakuannya."

"Aku tidak tahu ada beruang semacam itu." Ucap si ketua party. Aku pun sama, baru mendengarnya.

"Yah, lagi pula kau sendiri jarang datang ke guild."

"Apakah gadis beruang ini begitu terkenal?"

"Tentu saja — dia telah menghabisi kawanan goblin, membunuh seekor Goblin King, dan membasmi banyak Orc seorang diri."

"Benar, dan pakaian yang ia kenakan juga tampak aneh. Dia benar-benar keras kepala, jadi kata-kata saja tidak cukup untuk meyakinkannya."

"Begitu. Maafkan aku, gadis beruang. Kupikir kau hanyalah seorang petualang pemula dengan kostum aneh."

Kelihatannya mereka bukan orang jahat. Mereka hanya mencoba memperingati seorang amatir yang salah kamar. "Tidak apa-apa, terima kasih atas perhatiannya." Ucapku.

"Tidak masalah, kalau begitu, kami pergi dulu. Beritahu kami jika ada apa-apa."

Tampaknya mereka sudah memutuskan akan mengambil quest apa, mereka langsung bergegas ke meja resepsionis sambil membawa selebaran yang mereka sobek dari papan quest. Aku juga mengambil selebaran quest tingkat D yang tampaknya akan menjadi pekerjaanku untuk hari ini.

"Yuna-san, apakah kau sudah menemukan yang kau cari?" Tanya Fina.

"Yup. Ayo kita bergegas juga."




TL: Boeya
EDITOR: Zatfley

0 komentar:

Posting Komentar