Kamis, 15 Agustus 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Light Novel Bahasa Indonesia Volume 7 : Chapter 13 - Dalang

Volume 7
Chapter 13 - Dalang


Tangga tanpa ujung. Kami telah menuruni lorong gelap dan berdinding daging selama sekitar 10 menit ketika terowongan mulai mendatar. Akhirnya, aku melihat cahaya di ujung terowongan. Sesuatu terasa aneh tentang itu semua. Rasanya seperti perisaiku berdenyut di tanganku.

Aku melihat Ost untuk mengkonfirmasinya. Dengan tatapan bercahaya dimatanya, dia sudah bertekad.

Jika kita tidak mengalahkan siapa pun yang berada di ujung lorong, maka kita tidak akan bisa menghentikan Roh Kura-Kura. Tetapi jika kita mengalahkan kura-kura itu, maka Ost akan mati juga. Semua orang tahu itu, dan mereka berjalan dalam diam.

Aku mencubit pipiku untuk mengembalikan diriku pada kenyataan. Kami harus mengingat prioritas kami.

"Semuanya! Ini dia! Jangan menyerah!"

"Okay!"

"Ya! Aku akan melakukan yang terbaik!”

"Feh. . . Kita akan keluar dari sini hidup-hidup!"

"Itulah semangat! Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memanfaatkan hasil pelatihanmu!"

"Benar!"

Ost mengangguk. “Sudah waktunya untuk menghentikan tubuhku yang sebenarnya! Pahlawan Perisai, semuanya, ayo pergi!"

"Ya!"

Kami berlari mencari cahaya, dan ketika kami mencapainya, kami sampai di sebuah ruangan besar — jauh lebih besar dari yang kuharapkan. Dindingnya kokoh, namun entah bagaimana mereka tampak hidup. Aku tidak bisa meletakkan jariku di atasnya. Sepertinya mereka terbuat dari marmer, tetapi berdenyut. Ketika mataku menyesuaikan diri, aku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat.

"Ap . . "

Hal pertama yang kulihat adalah benda aneh melayang di udara. Itu pasti intinya. Itu adalah kristal hijau raksasa yang bersinar, dan berputar sangat lambat pada sumbunya. Cahaya yang diberikannya pastilah jiwa-jiwa yang terkumpul dari mereka yang telah kehilangan nyawanya karena mengamuk.

Tapi aku tidak bisa melihat inti itu selamanya. Sesuatu di belakangnya menarik perhatianku. Ada tiga kristal transparan besar yang terpasang di dinding, dan yang terkunci di dalamnya. . . tiga pahlawan yang hilang!

"Sia . . "

"Ugggg. . "

"Uhhhh. . "

Mereka tampaknya tidak sadar, tetapi mereka semua memiliki ekspresi sedih di wajah mereka dan bergumam kesakitan.

"Apa ini?"

"Tuan Itsuki!" Rishia berlari ke kristal tempat Itsuki tidur, tetapi sesuatu menghalangi dan menjatuhkannya sebelum dia bisa mendekat.

"Ahh!"

Itu . . . selembar kertas!

Kertas itu tertutup percikan listrik. Itu telah menjatuhkan Rishia.

"Aku tidak bisa mempercayai mataku! Berpikir kalian akan sampai sejauh ini — bukannya berarti aku pernah meragukanmu sih. Kerja bagus!"

Suara itu. Aku merasa seperti pernah mendengarnya sebelumnya, ketika kami sedang mencari para pahlawan.

Aku mencari sumbernya dan menemukannya. Seorang lelaki berdiri di depan kristal hijau.

Dia setinggi diriku.

Rambutnya terlihat. . . putih? Tapi sepertinya itu juga berkilau.

Mungkin itu perak. Rambutnya panjang dan menutupi wajahnya yang putih. Wajahnya sendiri tidak begitu tampan.

Tetapi ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya, aku segera tahu bahwa kami tidak akan menjadi teman. Matanya yang membuatku merasa seperti itu. Matanya busuk — seperti mata ikan mati. Udara di sekitarnya gelap dan suram.

Dia mengingatkanku tentang jenis orang yang tidak pernah kau inginkan dalam kelompok teman-temanmu — jenis orang yang hanya memikirkan diri sendiri. Dia merasa seperti orang yang berbicara tanpa henti tentang apa yang mereka sukai tetapi tidak pernah berkontribusi pada percakapan orang lain, sambil mengatakan pada diri sendiri bahwa itu karena dia lebih pintar daripada semua orang. Wajahnya terlihat sangat puas.

Dia mengenakan mantel panjang, yang membuatnya terlihat seperti seorang ilmuwan. Dia mengenakan sabuk aneh di dadanya yang hampir terlihat seperti terbuat dari tabung reaksi. Sulit untuk menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya, tetapi dia terlihat seperti seorang alkemis. Bukannya aku benar-benar tahu bagaimana rupa seorang alkemis — aku hanya melihat mereka di anime.

Dia mengenakan sarung tangan dan sepatu kulit. Dan sepertinya adalah tipe pria yang terus-menerus khawatir tentang penampilannya. Aku belajar sedikit tentang formulasi obat sejak aku tiba di dunia ini, tetapi aku masih belum tahu apa-apa tentang alkimia. Aku melihat buku dan alat yang terkait dengannya di toko, dan bisa kukatakan bahwa orang yang berdiri di depan kami adalah alkemis yang sebenarnya.

Aku tidak bisa mengabaikan pandangan jahat di matanya atau buku aneh yang ia genggam di satu tangan. Sebuah batu permata tertempel di sampulnya, yang pernah kulihat di suatu tempat sebelumnya. Aku tidak suka itu.

"Ketika kau pertama kali memasuki benda ini, harus kukatakan bahwa aku sedikit gugup. Tetapi kemudian kau melanjutkan perjalanan tanpa menemukan tempat ini! kau harus menertawakan itu. Kalian para pahlawan sangat bodoh.”

“. . "

Dia mungkin mencoba membuatku kesal, jadi aku tidak membalasnya dengan sopan santun. Aku tidak perlu mendengarkan semua yang dia katakan untuk tahu bahwa dia bukan orang yang baik.

"Selamat datang di bagian terdalam Roh Kura-Kura. Apa yang kau pikirkan?"

"Tuan Itsuki!" Kata Rishia, ketika dia berdiri.

“Oh, kau kenal orang-orang itu? Aku sedikit ketakutan ketika keempat pahlawan itu mencoba masuk ke sini — tetapi mereka sangat lemah, benar-benar lucu! Ha! Apakah semua pahlawan dari duniamu sebodoh ini?”

"Apa yang mereka lakukan di sini?" Tanyaku, menunjuk ketiga pahlawan.

"Oh, kau tidak tahu?"

Senjata mereka bersinar redup, seolah-olah mereka sedang berusaha. . . menolak sesuatu?

Tapi tidak. Bukan itu.

"Kau mencuri kekuatan mereka."

"Bingo! Kau mungkin idiot, tetapi kau pastinya yang paling pintar di antara banyak orang! Ahaha!"

Dia tertawa terbahak-bahak. Itu menggangguku. Aku kira dari sudut pandangnya, kami memang tampak bodoh. Kami mengalahkan kura-kura sekali, hanya untuk membiarkannya kembali dan mengamuk lagi. Ketidaktahuan kita telah menelan ribuan nyawa.

Bagaimana aku bisa tahu? Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, apalagi bagaimana cara mengalahkan Roh Kura-Kura.

Aku hanyalah Pahlawan Perisai — yang bisa kulakukan hanyalah bertahan!

"Kau seharusnya melihat caraku menangkap mereka. Pahlawan Pedang terus menyerangku setelah semua partynya mati! Dia seperti babi hutan! Dan Pahlawan Tombak kabur saat dukungan partynya mulai gagal. Aku hanya harus mengejarnya dan menangkapnya! Dan Pahlawan Busur — dia berselisih dengan teman-temannya. Mereka mengikatnya dan meninggalkannya sendirian! Ahahaha! ”Dia terus tertawa seperti hyena.



Itu sebabnya kami tidak dapat menemukan jejak pahlawan. Dia telah menangkap mereka semua. Yang lebih buruk lagi, mereka adalah alasan bahwa Roh Kura-Kura lebih kuat setelah kebangkitannya kembali - kura-kura itu memakan kekuatan senjata mereka. Para pahlawan mungkin tidak tahu cara menggunakannya, tetapi senjata mereka masih mengandung banyak kekuatan.

Aku tahu betapa dahsyatnya senjata mereka karena aku tau seberapa kuat perisaiku — aku baru saja selamat dari serangan Roh Kura-Kura, bahkan ketika dia menyerangku dengan kekuatan senjata pahlawan lainnya.

"Apa yang kau inginkan !?" Eclair berteriak, melangkah maju.

Aku juga ingin tahu. Bagaimana dia bisa mendapat manfaat dari semua ini? Bukankah Roh Kura-Kura seharusnya melindungi dunia? Dia mungkin harus melakukan itu dengan mengorbankan orang-orang, tetapi itu tidak berarti bahwa kehancuran ini demi kepentingannya sendiri. Tetapi pria ini menggunakannya untuk membunuh sebanyak mungkin orang. Apa tujuannya?

"Hm? Oh, itu tidak ada hubungannya dengan kalian semua — tidak untuk kalian penduduk dunia yang sekarat ini.”

"Jadi, kau tidak akan menjawabku?" aku bertanya.

Dia hanya tertawa dan mengangguk.

Sialan! Tidak ada hubungannya dengan kita? Dia sudah berulang kali mencoba membunuh kita!
Aku harus tenang. Marah di sini tidak akan membantu.

Dia menyebut kita penghuni dunia yang sekarat ini. Itu terdengar aneh, bukan?

"Meskipun aku harus mengatakan bahwa diriku terkesan. Kau melakukan pekerjaan yang sangat bagus untuk memperlambat kemajuanku, dan kemudian kau mengeluarkan monster gila itu.”

Segala sesuatu yang dilihat oleh Roh Kura-Kura melalui matanya diproyeksikan ke dinding ruangan. Saat ini, gambar tersebut menunjukkan Fitoria bertarung melawan banyak kepala Roh Kura-Kura. Aku mengalami kesulitan untuk menghadapi satu kepala. Fitoria sangat kuat. Aku setuju dengannya — dia benar-benar monster yang gila.

Tapi dia ada di pihak kita.

Dia luar biasa, tetapi Aku tahu dia mulai lelah. Dia melakukan semua yang dia bisa untuk memberi kita waktu. Sudah waktunya untuk bergerak maju.

“Benda sialan itu menghalangi jalanku! Aku tidak bisa mendapatkan energi lagi! Itu mulai membuatku jengkel! "Kata pria itu, membuka bukunya dan menatapku. "Tapi aku akan memiliki peluang yang lebih baik dengan keempat pahlawan di belakangku. Aku penasaran di mana aku akan menemukanmu. Untungnya, kau muncul sendiri! Ahahaha!"

Dia meledak lagi dalam tawa. Apa yang salah dengannya?

"kau harus melewatiku," kata Ost.

"Oh. Siapa yang kita punya di sini? Kau . . . Siapa yang tahu kau bisa melakukan itu? Binatang buas pelindung ini sangat keras kepala. Mengapa kau tidak bisa melakukan tugas yang diberikan kepadamu ?!"

“Apa gunanya perlindung roh kura-kura yang tidak bisa menjalankan tugasnya? Tidak ada sama sekali! Itu sebabnya aku memutuskan untuk membantu dia yang memegang perisai suci. Itulah ikatan yang menghubungkan perisai dengan Roh Kura-Kura!”

"Uh huh. Jadi itulah sebabnya serangan familiar tidak efektif melawan Pahlawan Perisai. Aku penasaran apa yang sedang terjadi.”

Apa yang mereka bicarakan? Ada hubungan antara perisaiku dan Roh Kura-Kura? Tentu, mereka berdua cukup fokus pada pertahanan, tetapi mereka membuatnya terdengar seperti ada koneksi yang lebih dalam.

"Aku bermaksud mengundangmu kesini begitu kau sedikit lebih lemah, tapi tidak ada untungnya bertarung, kan? Kau juga membawa semua wanita cantik ini! Aku akan mencuci otak mereka dan menyimpannya sebagai oleh-oleh atau semacamnya — jadi jangan khawatirkan mereka. "Dia membalik-balik bukunya dan sejumlah halaman lepas dan terbang melintasi ruangan – terbang lurus ke arahku!

"Matilah!"

Aku mengerahkan penghalang Shooting Star Shield dan bertahan. Tapi penghalang itu hancur saat kertas itu menyentuhnya. Dia pasti sangat kuat.

"Hya!"

"Tya!"

Raphtalia dan Filo berlari untuk menyerang lembaran kertas itu.

Itu adalah ruangan yang sangat besar, tetapi Filo berubah menjadi sosok manusianya untuk mengimbangi musuh barunya.

Serangan mereka menghasilkan hujan bunga api, tetapi mereka tidak cukup kuat untuk melakukan kerusakan pada kertas nya. Mereka pasti telah mengambil beberapa momentum dari kertas lain, karena aku bisa bertahan melawan mereka tanpa mendapatkan damage.

"Ha!"

"Acho!"

Eclair menusuk lembaran kertas-kertas itu dengan ujung pedangnya, dan wanita tua itu mencoba memukulnya dengan roundhouse kick. Rishia mengejar kertas yang dilewatkan Eclair dan wanita tua itu dan menyerang mereka untuk mencoba dan merampas kekuatan mereka.

"Pahlawan Perisai!" Ost berteriak. Dia mulai mengucapkan mantra, “Baiklah, ya. Lihatlah betapa putus asa mereka melindungimu! Sebagai Pahlawan Perisai, apakah kau tidak malu memiliki semua pelindung ini?"

Marah karena penghinaan bodohnya, aku melangkah maju. Aku harus berasumsi bahwa dia mencoba mengejekku, karena strategi pertempurannya cacat.

"Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang dapat dilakukan serangan Pahlawan Perisai."

Semua orang tampaknya berpikir bahwa yang bisa kulakukan hanyalah bertahan. Tetapi aku akan menunjukkan kepada orang jahat ini bahwa ada cara lain untuk melukai seseorang selain menyerang mereka.

“Raphtalia! Filo! Jangan khawatirkan aku. Fokus menyerang dia!”

"Okay!"

"Aku mengerti!"

Aku pernah menggunakan strategi ini satu kali sebelumnya — selama pertempuran dengan L'Arc.

“Air Strike Shield! Second Shield! "

Aku memanggil satu perisai di belakangnya dan satu lainnya langsung di depan tubuhnya. Sekarang, dia tidak bisa bergerak maju atau mundur, dan itu membuat pertahanan dirinya terbuka lebar.

"Ohh! Sial! ” Ketika dia menyadari apa yang sedang terjadi, wajahnya berputar kaget, tetapi dia menggunakan halaman bukunya untuk memblokir serangan Raphtalia dan Filo. Berapa lama dia berharap bisa terus seperti itu?

Sejujurnya, aku mulai menyukai strategi yang kubuat ini.

Udara di sekelilingnya dipenuhi lembaran buku bergetar, melayang-layang di antara manuver ofensif dan defensif. Dengan Raphtalia dan Filo bertekad untuk mencapai tenggorokannya, itu hanya masalah waktu sebelum mereka menerobos.

"Hya!"

"Tya!"

Halaman buku terbang di belakangnya dan menghancurkan Air Strike Shield.

"Sangat buruk. Dritte Shield!"

Aku dengan cepat memanggil perisai ketiga untuk menggantikannya. Raphtalia dan Filo menyerangnya dari kedua sisi, dan aku menggunakan perisai ketiga untuk menutupi perisai pertama yang hilang. Aku terus mengawasinya — jika dia mencoba melarikan diri dengan melompati perisai, aku akan menggunakan Shield Prison.

Aku tidak ingin sombong, tetapi itu rencana yang cukup bagus. Aku merasa senang tentang hal itu.

Mungkin aku dilahirkan untuk membuat orang kesal seperti ini. Itu melekat dalam kepribadianku. Dan aku menyukainya.

"Ha! Sayang sekali aku sudah tahu berapa banyak perisai yang bisa kau buat! kau hanya bisa menggunakan tiga perisai sekaligus — sungguh menyedihkan!”

Raphtalia dan Filo hanya perlu beberapa detik lagi.

Tetapi musuh berbalik untuk menghancurkan perisaiku. Dia ingin menghancurkan harga diriku.

Dia pasti mengawasiku melalui mata kura-kura sepanjang aku bertarung. Dia mungkin sudah menonton sejak aku mulai pertarungan dengan familiar. Itu membuatku ingin menggunakan skill yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Change Shield!"

Aku dengan cepat mengubah perisai menjadi versi Whale Magic Core Shield, yang memiliki efek serangan balik yang disebut Heat Beam Shield (sedang).

Ketika lembaran buku yang melayang menyerang perisai, mereka merespons dengan menargetkan musuh utama dan menembakkan sinar panas seperti laser padanya. Dan itu tepat berada di atasnya!

Dan. . . yeah! Tampaknya serangan balik dapat diaktifkan ketika mereka diserang dengan serangan jarak jauh.

Heat Beam menghantam musuh, memenuhi ruangan dengan teriakkan memekakkan telinga.

"Sialan!" Pria itu meludah dan melotot ke arahku.

Pada saat yang sama lembaran terakhir jatuh, Raphtalia dan Filo akhirnya berhasil mengenainya.

Vween! Cangkang transparan muncul di sekelilingnya, dan serangan mereka berdentang melawannya, tidak berguna.

"Yah, kau membuatku menggunakan penghalang dengan sangat cepat."

"Itu. . . ” Ost berhenti mengucapkan mantranya dan bergumam sendiri dengan tak percaya.

"Kau pikir kau akan bisa mengendalikan pertempuran ini dengan mudah? Ha!
Komposisi Bentuk Satu! Bird of Flame!"

Halaman-halaman dari buku itu mengepak dan berkumpul di satu tempat sebelum berubah menjadi burung api yang terbang langsung ke Ost.

"Awas!" Aku berteriak, dan aku berada di depannya dalam sekejap, menghentikan burung itu dengan tamengku.

Sial! Itu lebih kuat daripada yang kuharapkan.

Aku menggunakan Whale Magic Core Shield, yang memiliki sifat tahan api, dan serangan itu masih melukaiku.

Orang ini sangat kuat. Tidak heran dia berhasil menghancurkan begitu banyak musuh.
Tapi itu tidak berarti dia akan menang. Kami juga sangat kuat.

Penghalang apa yang memblokir serangan Raphtalia dan Filo?

Aku melihat ke Ost untuk penjelasan, dan dia memalingkan pandangannya.

Apa yang dia lihat? Aku mengikuti pandangannya. Kupikir yang dilihatnya itu adalah musuh, tetapi aku salah.

Sekarang aku mengerti. Itu yang dia cari.

"Dia . . . Dia menggunakan energi Roh Kura-Kura untuk menghasilkan penghalang pertahanannya. Menembusinya akan membutuhkan serangan yang sangat kuat."

"Baiklah. Raphtalia! Filo— ”

"Ha! Kau pikir akan semudah itu? Apakah kau tidak punya ide lain? Hanya orang bodoh yang mencoba hal yang sama dua kali! ” Pria gila itu berteriak, mengulurkan tangannya ke inti kristal. Itu mulai bersinar, dan para pahlawan terbungkus kristal di belakangnya menggeliat kesakitan.

Dan kemudian 10 musuh baru muncul dari dinding. Mereka adalah familiar, dan mereka mengenakan full armor.

Familiar Roh Kura-Kura (neo guardian type)

Ugh. Mereka terlihat sangat kuat. Mereka masing-masing memiliki satu mata yang terlihat melalui celah di helm mereka, dan mereka membawa semua jenis senjata.

Aku melihat pedang, tombak, busur. . . Sudah jelas dari mana mereka mendapatkan energi masing-masing.

Mereka mendekati kami dari seberang ruangan, armor mereka berdentang keras.

“Butuh waktu untuk mempersiapkan serangan spesial yang kau suka, bukan? Jadi aku tidak akan membiarkanmu memiliki waktu untuk itu."

"Ini tidak selama itu."

"Kami bisa mengurusmu!"

"Fehhh!"

Eclair, wanita tua itu, dan Rishia semua berlari untuk menghadang para familiar yang mendekat. Eclair dan Rishia masing-masing mengambil satu, sementara wanita tua itu berhasil memaksakan diri melawan dua. Mereka pada batasnya berurusan dengan empat.

Rishia tidak bisa menangani salah satu dari mereka — dia berada di ujung tanduk saat Eclair menyelamatkannya — ketika Ost mengucapkan mantra tepat pada waktunya.

Enam familiars yang tersisa masih langsung menuju ke arah kami. Bisakah aku menahannya? Aku tidak punya pilihan! Aku menghentikan tipe neo guardian dengan perisaiku. Ada dentangan keras menabrakku.

Mereka tidak terlalu kuat untukku. Aku bisa menghentikan mereka, tetapi aku tidak bisa melakukannya tanpa terluka dalam prosesnya. Mereka pasti familiar paling kuat yang bisa dibuat oleh kura-kura.

Sial! Dua familiar sudah berada di belakangku. Mereka mengangkat busur dan menembakkan kilatan cahaya ke arahku. Aku segera beralih ke Soul Eater Shield dan memblokir tembakan. Jika Aku bisa mengatur waktunya dengan tepat, Whale Magic Core Shield akan lebih bermanfaat. Aku harus tetap waspada.

Musuh tertawa terbahak-bahak ketika dia melihat bagaimana aku terdesak.

"Ahahaha! Berapa banyak lagi yang bisa kau terima? Ayolah! Gunakan otakmu itu! Ayo bersenang-senang!"

Sial. Peluangnya tidak terlihat bagus!

Lebih buruknya lagi, lebih banyak lembaran buku berterbangan di sekitar ruangan dan mencoba mengganggu persiapan Raphtalia dan Filo. Dengan semua kekacauan di ruangan itu, dengan semua ancaman datang dari segala arah, tidak mungkin mereka bisa menggunakan serangan mereka.

Kecuali kami menggunakan serangan kami yang paling kuat, kami tidak akan pernah berhasil melewati penghalang.

Orang ini bukan musuh yang bisa kita kalahkan jika kita naik level sedikit lagi. Tapi itu bukan berarti kami kehabisan pilihan.

Aku bisa menggunakan Shield of Wrath untuk membakar semua yang terlihat. Mungkin Raphtalia dan yang lainnya bisa mundur ke tangga untuk bertahan.

Aku sudah menggunakan Shield of Wrath ketika Aku bertarung dengan Roh Kura-Kura, jadi musuh tahu bahwa Aku memiliki pilihan itu. Selalu ada kemungkinan dia bisa selamat dari serangan itu. Selain itu, tiga pahlawan lainnya terjebak di ruangan.
Mereka terlihat sangat lemah, dan aku tidak ingin secara tidak sengaja membunuh mereka dengan serangan yang terlalu kuat. Orang ini memiliki sandera.

Pilihan lainnya adalah Blood Sacrifice.

Masalahnya adalah Aku harus melakukan serangan langsung, dan aku tidak akan bisa melindungi diriku untuk sementara waktu. Dia bisa saja membunuhku sementara aku bersiap untuk menggunakannya. Bagaimana aku bisa mendapatkan cukup waktu?

Aku bisa menggunakan Shield Prison dan Shooting Star Shield untuk melindungi diri sementara aku bersiap melakukan serangan itu. Tapi tidak, dia sudah menembus penghalang Shooting Star Shield, jadi aku tahu bahwa aku tidak bisa mengandalkannya.

Aku mulai kehabisan ide.

Bagaimana kita bisa menembus penghalang?

Bagaimana jika Aku mengisi semua amarahku ke dalam Shield of Wrath dan kemudian Ost menggunakannya sebagai bahan bakar untuk mantra serangan?

Itu mungkin berhasil, tetapi akan membutuhkan banyak waktu untuk persiapan. Tetap saja, aku merasa itu adalah pilihan paling realistis yang kubuat.

Ost sibuk mendukung Eclair dan Rishia dalam pertempuran mereka dengan para familiar. Jika Aku meminta Raphtalia dan Filo mengambil alih para familiar, maka dia akan tahu apa yang kurencanakan.

Aku melihat ke arah Ost untuk melihat apa yang dia pikirkan, tetapi pria itu melihatku dan mulai tertawa.

"Aha! Itu bukan ide yang sangat bagus. Apakah kau tidak peduli apa yang terjadi pada para pahlawan lainnya? "

"Ugh. . . orang-orang ini. . . kuat! ” Eclair dan wanita tua itu mulai kesulitan. Rishia nyaris tidak bisa bertahan. Dan musuh memiliki pahlawan lain sebagai sandera.

Bagaimana kita bisa memenangkan pertarungan ini?

Sial! Situasi terus memburuk!

Jika kita tidak punya pilihan selain menerima pembantaian ini, maka aku mungkin menggunakan Shield of Wrath sekarang juga.

Yah. Aku mengambil keputusan. Tapi kemudian . . .

"Flying Circle Disk!"

Sebuah cakram cahaya yang menyilaukan terbang melewati wajahku.

Sebuah panah yang bersinar mengikutinya sepersekian detik kemudian.

“Circle Dance, Destruction Form. Tortoise Shell Split!”

Sebuah bola api yang sangat besar terbang langsung ke arahku. aku membuka perisai untuk memblokirnya, tetapi itu sama sekali tidak menyakitiku.

Api itu. . . Aku pernah merasakannya di perisai ku sebelumnya. Itu terbang melewatiku dan membakar neo guardian type.

Aku menoleh untuk melihat dari mana serangan itu berasal. Aku hampir tidak bisa mempercayai mataku.

Itu adalah L'Arc, Glass, dan Therese.






TL: Kuaci
EDITOR: Isekai-Chan

0 komentar:

Posting Komentar