Rabu, 03 Agustus 2022

Naze Boku no Sekai wo Dare mo Oboeteinainoka? Light Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 4 - Hutan Elf


Volume 2
Chapter 4 - Hutan Elf

Bagian selatan dari Io, Strange Marsh. Lahan rawa  ini ditutupi oleh cermin biru gelap. Suara mesin bergetar melalui tanah yang berlumpur ini. Melalui cermin dan tanah, mobil pasukan Urza Resistance melaju menuju hutan.

“Aku bertanya-tanya kenapa mereka menyebut tempat ini rawa aneh? Ini hanyalah sebuah rawa seperti biasanya. Dan tidak ada satupun monster besar. Bahkan mobil kita melewatinya dengan aman.”

“Setelah melewati rawa ini...”

“Mungkin karena kau bisa melihat hutan elf di sisi lain rawa ini.”

Kai, yang sedang duduk di bangku penumpang, dan Saki, yang sedang duduk di belakang, mereka berdua mulai memberikan respon terhadap keluhan si sopir.

“Ada berbagai jebakan elf, binatang buas dari para peri dan patung penjaga dari para kurcaci. Bahkan Io Resistance tidak bisa seenaknya menyelidiki wilayah ini.”

“Mengesampingkan rawa ini, bahkan aku pun tahu mengenai hutan elf.”

Tiga mobil berjalan bersama dan Ashlan yang sedang mengendarai salah satunya.

“Omong-omong, jadi kaisar Dante-dono sudah putus asa untuk pergi ke tempat yang berbahaya seperti ini? Aku benar-benar tidak memahami jalan pemikiran para petinggi itu. Tapi kali ini benar-benar terasa tidak ada artinya.”

Pria muda, yang sedang mencengkram erat kemudi, menyipitkan alisnya.

“Mereka menghubungi kita pada saat pagi-pagi sekali, tapi semenjak itu tidak ada lagi kontak dengan mereka. Aku benar-benar tidak tahu apakah mereka sudah musnah atau hanya tertangkap, tapi yang pasti mereka seharusnya bisa memprediksi hal ini sebelum mereka akan pergi.”

“Benar, lagipula kedua staf kepala dan ajudan komandan mereka pergi bersama...”

Nada suara Saki terdengar kaku. Komandan Dante tiba-tiba membawa dua orang yang paling dia percayai dan pergi menuju hutan elf. Setelah semua kontak dengan mereka hilang. Semua orang hanya akan menganggap ini sebagai lelucon. Apakah ini semua merupakan perintah Komandan Dante? Atau ide dari orang lain? Tentara, yang tinggal dia markas Resistance, semua terkejut.

“Jadi, kitalah yang harus pergi mencarinya?”

Hembusan nafas yang berat bisa terdengar dari Ashlan.

“Komandan Io sudah menghilang sejak lama, dan kita, yang harus pergi mencarinya, hanya akan ikut menghilang...”

“Aaa...Hentikan, Ashlan! Aku tidak ingin dengar itu.”

Saki menutup telinganya dan berteriak.

“Hei, Rinne, kau juga berpikir seperti itu, kan?”

“...hmm?”

“Oh, kau juga berpikir seperti itu? Seperti yang sudah kuduga. Jeanne-sama benar-benar berusaha untuk menyatukan kekuatan dengan Io Resistance, tapi si pemimpin sombong itu malah menghilang dengan sekejap. Tidak bisa dipercaya, kau berpikir seperti itu juga kan?”

“Yeah, benar-benar tidak ada yang menyangka ini...”

bukan Rinne yang merespon tapi Kai.

“Kita hanya perlu mengkonfirmasi nya disana.”

Jika Komandan Dante bersama dengan staf petugas beserta pasukan nya benar-benar musnah, maka dampaknya ke Io Resistance benar-benar tidak dapat diperkirakan. Dan sebagian besar, seperti Saki dan Ashlan berpikir bahwa tindakan kaisar Dante yang tergesa-gesa lah sebabnya.

Ini merepotkan, kami tidak bisa menyalahkan Dante secara sepihak

Rasanya seperti seseorang dibalik layar sudah menghasutnya.


Kecurigaan ini dibagikan hanya kepada empat orang saja. Kai dan Rinne, lalu Farin dan Jeanne yang sedang mengendarai mobil di belakang.

“Maafkan aku, Kai.”

Rinne menyandarkan kepalanya ke Kai, dari bangku belakang.

“Seharusnya aku bisa menyadarinya lebih awal...”

“Rinne, ini bukan salahmu. Dengan kau memberitahu kami itu sudah lebih dari cukup.”

“Hm? Oi, oi, kenapa, Rinne-chan?”

“Tak  apa-apa, Ashlan. Rinne hanya khawatir mengenai situasi saat ini dengan caranya. Kau sebaiknya tetap memperhatikan jalan. Ada banyak rawa di jalan sekitar sini.”

Ada rawa tanpa dasar, yang mana akan sulit dilihat dengan rumput yang bertebaran disini. Jika mobil nya tersangkut, maka akan sulit agar bisa keluar dari sana.

“Kau terlalu memikirkannya, kita bisa melihat itu.”

[Mobil yang memimpin, belok ke kanan.]

Jeanne berkata melalui perangkat komunikasi. Dan sesuai instruksi, Ashlan membelokan mobil nya ke arah kanan. Dari kaca depan, mereka bisa melihat pepohonan menutupi wilayah ini sejauh mata memandang. Hutan elf kuno. Sejak awal, ini merupakan wilayah yang belum pernah dijelajahi oleh manusia.

[...Ini semua sisa kendaraan Io.]

Ketegangan bisa terdengar dari suara Jeanne. Kemarin pada pagi-pagi sekali, pasukan kaisar Dante berhenti disini dan pergi menuju hutan.

[Kita turun disini. Unit radio, beritahu ke markas. Kita telah menemukan apa yang kita duga sebagai kendaraan pasukan Komandan Dante. Dan...]

Semua ketiga mobil berhenti.

[Kita memulai pencarian sekarang.]

Ada pohon kuno yang berukuran raksasa, yang pasti umurnya sudah ratusan tahun. Akarnya sangat tebal hingga mungkin seukuran tinggi orang dewasa. Dan batang pohonnya sangat besar hingga menutupi jarak pandang penglihatan kami. Batang pohonnya sendiri sudah terlihat tua: kering dan retak, dan akar pohonnya pun sudah layu di ujung. Meskipun daunnya terlihat segar dan sangat hijau sekarang. Alasanya adalah karena pohon kuno ini merupakan tempat tinggal dari para foreign god semenjak zaman kuno.

“Para elf dan Malaikat selalu mengeluarkan sedikit dari kekuatan sihir. Dan semenjak itu terus berlanjut sampai ratusan tahun, pohon-pohon ini tumbuh besar seperti itu. Dan, seperti itulah kebanyakan orang bilang...”

Didepan hutan yang dikenal dengan nama hutan elf, ada ksatria, yang memimpin sekelompok orang, berbalik. Di garis depan pasukan elit Urza, dan di belakang mereka terdapat pasukan penjaga Io. Pasukan itulah yang akan melakukan pencarian ke dalam hutan.

“Kapten Franz, Komandan Dante pergi lewat sini?”

“Ya, pagi-pagi sekali, Komandan berangkat menuju hutan tanpa memberitahu.”

Kapten terus melanjutkan dengan tatapan suram di wajahnya. Dia sudah memiliki pengalaman selama 5 tahun menjelajahi hutan ini. Dan beberapa hari yang lalu, dia memutuskan untuk membantu Jeanne dengan pencarian ke dalam hutan.

“Komandan membawa staf kepala dan ajudannya, bersama dengan banyak pasukan elit kami, dan pergi memasuki hutan...”

“Sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai hutan ini kau menyarankan untuk menolak, tapi saranmu ditolak.”

“Maafkan aku...”

“Aku hanya mengkonfirmasi, Kau tidak perlu meminta maaf.”

Jeanne mulai memperhatikan jejak kaki binatang. Di sepanjang jalan, diantara pohon-pohon besar yang berdiri seperti tembok, yang terlilit oleh akar pohon kuno. Disana ada Farin dan Rinne, yang sudah berjalan ke jalan itu.

“Kai, kemari, kemari! Cepat kesini!”

“Yeah, tunggu sebentar, aku siap-siap dulu.”

Senapan bayonet [Drake Nail] dengan peluru Drake dan Elven. Kai mengisi senjata dengan kedua peluru dan setelah yakin bahwa senjata nya telah terisi, mulai menaruh lagi bayonet nya. Di Belakangnya ada Saki dan Ashlan, yang sedang memegang senapan mesin  dengan tatapan suram di wajah mereka.

“Maaf membuatmu menunggu, Jeanne-sama...”

“Kopral Saki, Kopral Ashlan, kami berdua sudah siap.”

“Bagus.”

Menjawab jawaban tegas mereka, Komandan memberi jawaban singkat.

“Beritahu pasukan kita yang ada di Io Resistance. Kita berenam akan pergi masuk ke dalam hutan demi mengejar Komandan Dante dengan pasukannya yang sudah kehilangan kontak dengan kita... Tapi, ini bukan operasi penyelamatan. Pertama kita harus mengkonfirmasi situasi mereka saat ini.”

Tidak akan ada operasi penyelamatan sampai situasi kaisar Dante sudah ditentukan. Apakah dia hilang di dalam hutan, atau sudah tertangkap oleh foreign god, atau mungkin terbunuh bersama dengan para pasukannya. Ada banyak kemungkinan skenario yang harus dipertimbangkan. Jadi tujuan pertama mereka adalah mengkonfirmasi apa yang sudah terjadi.

“Kopral Saki akan memberikan laporan setiap satu jam. Dan sesuai rencana, Kapten Franz, kau harus melanjutkan laporan ke markas. Tempat ini sangat penting bagi operasi kita. Ini bisa menjadi garis yang menghubungkan kita dengan ratusan dari pasukan kita yang ada di markas besar. Kau tidak boleh mengabaikan tempat ini.”

“Baik, pak!”

“Lalu kau akan melindungi markas.”

“Dimengerti.”

Pasukan elit Jeanne, yang sedang menemani mereka, sampai terkagum-kagum.

“Farin-sama, kami menitipkan Jeanne-sama kepadamu.”

“Ini hanya jalan-jalan biasa. Ini bukan seperti saat kita merebut kembali ibu kota... Nah, Jeanne-sama, mari kita jalan.”

Pengawal wanita menunjuk jauh ke dalam hutan, lalu mulai berjalan kedalam hutan.

“Aku yang akan memimpin. Bersamaku, Kai, Jeanne-sama, Rinne, kopral Saki, dan yang terakhir kopral Ashlan. Kalian tidak bisa saling terpisah lebih dari 3 meter.”

“Dimengerti.”

Sambil membawa Drake Nail, Kai mengikuti nya.

Mereka sedang berada hutan kuno, dan garis sinar matahari terlihat melalui pohon. Tanah nya memiliki warna yang sama daun-daun dan bunga-bunga yang berjatuhan, tanaman muda mulai tumbuh. Dan angin berhembus sangat sejuk disini. Dibandingkan dengan reruntuhan yang ada di ibu kota, pemandangan disini tidak terlihat buruk dengan bermacam-macam pohon kuno besar yang berbaris di kejauhan.

Seharusnya mudah untuk melihat binatang buas.

Yang harus kami waspadai adalah jebakan yang dipasang oleh elf dan kurcaci.


Jebakan yang dipasang elf akan memiliki sihir, sementara jebakan yang dipasang kurcaci biasanya perangkat fisik  seperti panah beracun atau lubang. Tapi, itu merupakan bahan bicara ketika mereka sudah sampai jauh di dalam hutan.

“Kita akan masuk lebih dalam kurang lebih 1 jam lagi. Seharusnya aman selama kita mengikuti jalan yang kulalui tiga hari yang lalu.”

“Dimengerti.”

Farin, yang sedang memegang shamshir di tangan kanannya, merespon.

<TLN: shamshir itu sejenis pedang tapi bentuk nya agak melengkung, pedang timur tengah lah pokoknya.>

“Kopral Ashlan, Kopral Saki, bagaimana dibelakang?”

“T-tidak ada yang aneh.”

“Kami akan memastikan keadaan tetap aman dengan nyawa kami...!”

Kedua nya merespon dengan nada suara yang tegang. Pasukan Komandan Dante sudah menghilang. Jadi jika mereka tidak hati-hati, hal yang sama akan menghampiri mereka. Mengetahui hal itu, mereka berdua sama sama ketakutan.

“Kalian harus lebih percaya diri. Ditambah kalian semua merupakan bagian dari pasukan yang bertanggung jawab dalam penyerangan Dark Empress Vanessa. Aku mempercayai kalian. Kalian merupakan sekian dari banyak orang yang bisa kuandalkan dengan penuh keyakinan.”

Jeanne menunjukan senyum kecil. Di markas besar Resistance, para tentara jelas terkejut. Bukan karena menghilang nya kaisar Dante, mereka lebih terkejut karena kehilangan kontak dengan komandan de-facto Tsekhman.

“Daripada menyerahkannya kepada mereka, akulah yang harus bergerak sendiri. Ditambah... Mungkin ada seseorang yang menyelinap kedalam Resistance.”

Ilustrasi lihat disini


Kalimat itu diucapkan kepada mereka, yang terlihat waspada sampai mereka tak sempat mendengarnya.

“Kita perlu memastikan identitas dari Quibiley, jadi aku belum memberitahu Io Resistance mengenai Ajudan Komandan.”

“Ya, aku juga belum yakin.”

Rinne, yang sedang dibelakang Jeanne, dengan cepat merespon. Sementara yang lain sedang memperhatikan dengan seksama kearah pohon kuno.

“Tetap saja ini terasa aneh, dia benar-benar terlihat seperti manusia.”

Ada satu pertanyaan yang mereka miliki mengenai Ajudan Komandan Qubiley – apakah dia termasuk ras foreign god? Saat Rinne melihat Qubiley melihatnya pertama kali, dia memiliki keraguan. Ciri-ciri elf yaitu mereka memiliki telinga yang panjang, dan malaikat bisa dikenali dengan sayap mereka. Kurcaci memiliki kulit sekeras batu. Dan para peri memiliki warna kulit kebiruan dengan tubuh seperti anak-anak. Tapi untuknya, tidak ada tanda-tanda seperti itu. Jadi tidak heran jika dia memiliki kecurigaan (kepada Rinne). Yang mana. Dia memiliki bau yang aneh dan kekuatan sihir yang samar.

“Aku merasa dia memiliki bau yang berbeda, tapi hanya sedikit terasa berbeda. Ada banyak orang disekitarnya, jadi aku juga kurang yakin jadinya.”

“Satu lagi, Rinne, katamu kau merasakan kekuatan sihir dari Ajudan Komandan?”

“Ya, sedikit kekuatan sihir. Tapi seharusnya kekuatan sihir yang dimiliki oleh foreign god lebih besar dari itu, jadi kupikir dia merupakan yang paling lemah diantara para elf.”

Apakah Ajudan Komandan merupakan seorang elf? Dengan memotong telinganya, dan menyembunyikan warna kulit dan baunya.

“...Bagi para malaikat, sayap mereka merupakan organ yang menghasilkan kekuatan sihir jadi dia tidak mungkin memotongnya. Dan untuk para kurcaci dan peri menyamar menjadi manusia benar-benar akan menjadi tugas yang sulit. Dilihat dari kemungkinan itu dia kemungkinan merupakan seorang elf yang sedang menyamar.”

Jeanne bergumam hampir seperti bisikan. Padahal itu merupakan dugaan Kai sejak dia mendengar cerita Rinne kemarin.

[Itu terasa mencurigakan. Kau tahu... Dia tidak memiliki bau seperti manusia]

“Kaisar Dante mungkin sombong, tapi dia tidak ceroboh. Kali ini bukan lah keputusan dia, tapi lebih seperti saran dari orang lain. tapi ini sudah pasti kesalahannya, aku jadi merasa kasihan padanya.”

Ucap Jeanne yang sedang memimpin jalan yang penuh dedaunan yang jatuh.

“Dan Rinne, terima kasih sudah memberi tahu kami informasi yang sangat penting.”

“Ya!”

Rinne meninggikan suaranya, hampir seperti kebahagiaan karena dipuji.

Meskipun itu membuatku khawatir.

Aku bertanya-tanya jika Jeanne masih belum menyadari sosok Rinne yang sesungguhnya.

Jauh didalam diri Kai benar-benar sudah berkeringat dingin. Manusia tidak bisa mendeteksi sihir. Kai benar-benar berpikir keras untuk menjelaskan bagaimana Rinne bisa merasakan sihir. Tapi penjelasan yang dia dapat adalah Rinne pernah berlatih latihan spesial di dunia yang sesungguhnya. Dan semenjak ada senjata spesial seperti Drake Nail, jadi seharusnya latihan spesial bukan lah sesuatu yang mengejutkan.

“Rinne, ini mungkin terdengar aneh tapi aku ingin meminta satu hal.”

Jeanne berbalik menghadap Rinne yang sedang mengikuti di belakang.

“Kau bisa merasakan kekuatan sihir Qubiley di markas besar Io, jadi bisakah kau merasakannya di hutan ini? Seharusnya bisa jika kau tahu lokasi nya saat ini.”

“...Itu akan sedikit sulit, kupikir.”

Dengan wajah serius Rinne mulai melihat sekitar seolah-olah menunjukan apa yang dia maksud.

“Kau tahu hutan ini dipenuhi dengan kekuatan sihir yang lemah. Hampir seperti ini milik para elf, kurcaci, dan peri. Jadi apa yang aku pahami hanyalah disini ada foreign god.”

“Mencari seseorang secara spesifik akan sulit?”

Mendengarkan percakapan ini mengingatkan Kai mengenai kemungkinan lain yang bisa digunakan [magic perception].

“Rinne, ada yang ingin kuminta lagi. Jika kau tidak keberatan.”

“Ya, apa itu?”

“Bisakah kau mendeteksi jebakan yang dipasang oleh elf? Kemungkinan besar disini ada banyak jebakan sihir yang sudah dipasang di sepanjang hutan ini.”

Bahkan jika mereka bisa merasakan keberadaan Qubiley. Pencarian mereka akan jadi lebih mudah, jika mereka bisa mendeteksi semua jebakan yang ada di hutan ini.

“Kau tidak perlu mendeteksi lokasi pastinya. Cukup [disini terasa mencurigakan] itu sudah cukup.”

“Baiklah, aku akan berusaha.”

Kali ini Rinne menjawab dengan tegas.

“Jebakan yang dipasang oleh para elf itu sangat terampil jadi menangani semua nya akan mustahil, tapi... Kai, kesini, lihat.”

Gadis berambut pirang pergi ke sisi jalan. Saat dia berpikir bahwa dia akan pergi memutari pohon kuno, sebagian dari tubuhnya terlihat dari sisi batang pohon, memberi isyarat kepadanya.

“Lihat pohon ini. Ah, tapi waspada jangan sampai menyentuhnya.”

“!?”

Dia berdiri dengan tenang dan menahan nafasnya. Ada lingkaran sihir. Di batang pohon terdapat lingkaran sihir yang melayang, yang bersinar dengan cahaya putih redup.

Sihir iblis memiliki warna ungu.

Jadi warna putih ini punya foreign god.

 Lingkaran sihir bersinar lagi dan lagi. Tidak peduli berapa lama mereka menunggu, itu tidak mau aktif. Yang mengkonfirmasi bahwa itu terikat dengan pohon itu sendiri.

“Jebakan yang dipasang oleh elf ada di tempat seperti ini? Tiga hari yang lalu saat kami melewati daerah ini, baik aku atau tentara Io tidak ada yang bisa menyadari nya.”

“Jeanne, akan lebih baik jika kita tidak terlalu dekat dengan lingkaran itu.”

Kai berkata ke ksatria yang sedang menatap jebakan itu.

“Sihir ini akan aktif dengan sentuhan. Bagi serangga atau binatang kecil seperti kadal itu akan baik-baik saja, tapi jika manusia yang menyentuhnya pasti jebakannya akan aktif.”

“...Aku penasaran jenis perangkap apa ini, tapi kurasa akan lebih baik jika tidak diaktifkan?”

Jeanne memiliki tatapan yang serius di wajahnya. Dibelakang ada Saki dan Ashlan yang takut untuk melihat kearah perangkap yang bersinar. Dan pengawal wanita yang sedang berjalan sendiri. Dia dengan tegang melihat tanah, dan memindahkan ranting-ranting kesamping dengan shamshirnya.

“...Sepertinya aku menemukannya.”

Dia mulai meraihnya dan memungut satu pistol yang terkubur ranting

“Jeanne-sama, aku pikir ini merupakan perlengkapan standar dari Io Resistance. Dan tidak ada tanda bahwa pistol ini sudah ditinggalkan dalam waktu yang lama. Sepertinya ini baru saja dijatuhkan baru-baru ini.”

“Jadi maksudmu Kelompok Dante...?”

“Mereka mengaktifkan jebakan dan terbunuh atau mungkin hanya tertangkap?”

Jeanne menerima senjatanya dari Farin. Setelah melihatnya, ksatria mengeluarkan tempat pelurunya. Menjatuhkan peluru-peluru yang tersisa, dia menghitung jumlah peluru nya.

“Semua pelurunya sesuai. Jadi mereka tidak diserang oleh pasukan elf di dalam hutan. Apa mereka secara tidak sengaja berjalan ke arah jebakan? ...Tapi menurut ku itu seharusnya bukan hal yang sulit untuk menghindari jebakan seperti ini.”

“Tidak.”

Kai, yang berdiri sebelah Jeanne, menunjuk ke atas kepala mereka.

“Bukan yang ini, aku bertaruh mereka terjebak oleh jebakan yang ada di atas kepala kita.”

Dia menunjuk ke arah batang dan dedaunan diatas yang terkena sinar matahari. Jeanne, yang melihat kesana, membuka matanya lebar-lebar dan menahan nafasnya.

“...Ini masalah besar!”

Di atas ratusan daun pohon ada lingkaran sihir yang mengambang. Daripada satu lingkaran sihir yang besar, seperti yang ada di batang pohon kuno, lingkaran sihir berukuran kecil tertempel di setiap daun. Dan yang membuat ini merepotkan adalah bersamaan dengan sinar matahari yang menyinari daun-daun ini, membuatnya jadi semakin sulit untuk dilihat.

“Cukup pintar: menyembunyikan cahaya yang dikeluarkan dari lingkaran sihir dengan sinar matahari yang menyinari menembus pohon.”

Farin menarik napas dengan kagum dan terkejut.

“Aku mengerti sekarang setelah ditunjukkan, tapi jika kita tidak melihatnya jebakan ini akan hampir mustahil untuk kita sadari... Jeanne-sama, sepertinya kelompok kaisar benar-benar sudah habis karena ini.”

Jebakan, yang tertanam di dalam pohon yang besar, hanyalah sebuah umpan.

“Sial... itu benar-benar buruk. Setiap daunnya memiliki jebakan sihir yang tertempel.”

“Hei, Kai, apakah akan baik-baik saja jika hanya dilihat? Aku harap kita tidak akan terpental secara tiba-tiba karena melihatnya.”

“Hmm, aku benar-benar tidak tahu, tapi untuk jaga-jaga Saki, Ashlan, kalian sebaiknya menjauh.”

Keduanya mundur dengan segera. Dan mundur lebih jauh lagi, Rinne secara perlahan mundur.

“Kai, itu sangat keren. Aku bahkan tidak menyadarinya.”

“Itu hanya sekedar keberuntungan. Aku hanya ingat bahwa jebakan elf cenderung berlapis-lapis.”

Di catatan yang ada di MDA disana dijelaskan bawa elf cenderung memasang jebakannya berlapis-lapis hingga tiga kali lipat. Dan sepertinya ini bukan untuk manusia, tapi untuk para iblis, cryptids, dan roh.

Itu yang sedang aku coba perhatikan sekarang.

Aku hampir secara ceroboh terkena jebakan itu.

Keringat dingin jatuh di pipinya, Jika Kai tidak mengingat catatan pertempuran yang berasal dari dunianya, maka situasi Dante akan menimpa dirinya.

“Ah, Kai. Kupikir aku menemukan sesuatu.”

Rinne memberi isyarat kepadanya.

“Disini, bau nya sangat kuat.”

“...Bau?”

“Sepertinya ini jalan elf.”

Gadis pirang menyingkirkan ranting-ranting dan itu dia. Tidak sampai 10 meter ke depan dari jejak hewan, yang ditunjukkan oleh Jeanne, disana terdapat jalan kecil dengan banyak belokan.

“Ada jalan seperti ini? Dan juga sangat dekat, dengan jalan yang kita ambil...”

“Ini benar-benar tersembunyi dengan baik oleh ranting dan pohon. Jadi bukan sebuah kejutan bahwa Jeanne-sama tidak menyadarinya, dan berlaku juga ke para Tentara Io.”

Faring melihat lagi jalan tersebut.

“Aku mengerti, mereka memperhatikan para manusia dari sana? Sepertinya pasukan penyelidik Io Resistance ketahuan.”

“Mereka benar-benar lawan dengan tingkatan yang sangat berbeda dengan para iblis... Rinne, apa masih ada lagi jebakan di jalan ini?”

“Hm, kurasa tidak ada.”

Rinne mengikuti jalan, yang terjerat oleh akar pohon. Bau harum dari hutan sangatlah kuat hingga hampir terasa seperti tercekik. Tanah dan ratusan jenis tumbuhan benar-benar menutupi area ini, Tapi penciuman Rinne masih bisa mendeteksi lokasi foreign god.

“Ah.”

Lalu dia berhenti di tempat dimana akar mulai menghilang. Ada pembersihan di dalam hutan. Di tanah yang bersih dari rumput tergambar lingkaran sihir berukuran besar. Dengan pola-pola rumit yang terlihat seperti karya seni yang indah.

Dia mengingat nya. Dibandingkan dengan jebakan sebelumnya, ukuran yang ini jauh lebih besar. Dan kerumitan dari polanya benar-benar berada di tingkatan yang berbeda. Segera setelah dia melihatnya, Kai mengingat sesuatu yang mirip dari catatan MDA.

“[Gerbang penghakiman]. Ini adalah perangkat teleportasi dari foreign god...!”

“Aku mengingat nya dari Urza. Para iblis menggunakan teleportasi. Sihir ini berbeda dengan jebakan. Bahkan jika manusia menyentuhnya, itu tidak akan aktif.”

Jeanne menempatkan tangannya di lingkaran sihir. Lalu secara hati-hati dia meletakkan kakinya di atasnya, tapi tidak ada yang berubah dari lingkaran cahayanya.

“Seperti yang kuduga ini hanya akan berfungsi ditangan foreign god. Sepertinya ini membawa kita ke sarang elf, jadi akan bagus jika kita bisa mengaktifkannya.”

Jeanne menghela napas. Lingkaran cahaya di bawah kakinya mulai bersinar lebih terang. Dan secara tiba-tiba lingkaran itu naik ke tengah udara.

“Apa!?”

“Jeanne-sama, mohon cepat menyingkir, perangkap itu mulai aktif!”

Farin dengan segera menuju tuannya. Tapi mereka sudah terperangkap ke dalam cahaya. Lalu lingkarannya meluas ke arah Kai dan Rinne. Hingga membuat Saki dan Ashlan ikut terperangkap.

Apa maksudnya ini? Seharusnya lingkaran ini hanya bisa diaktifkan oleh foreign god saja.

Tapi disini tidak ada dan juga... Ah aku mengerti!”


Ini karena Rinne. Dia melihat kearah Rinne yang kebingungan. Tubuhnya memiliki karakteristik dari foreign god. Tapi siapa sangka ini bisa membuat Rinne ikut terkejut.

“Kai!”

“Rinne! Bisakah kau...”

Menghentinkan pengaktifan sihir ini? Adalah apa yang ingin dia coba katakan, tapi tak lama kemudian penglihatannya berubah menjadi cahaya putih bersih.



Jauh di dalam [hutan Elf] kuno. Matanya mulai melihat cahaya yang sangat terang. Kai berdiri dengan Rinne yang terdiam serta diterangi oleh sinar matahari di sampingnya.

“Jeanne-sama, apa anda terluka?”

“...Tidak, aku baik-baik saja.”

Disana ada Jeanne dan Farin. Dan lebih jauh lagi ada Saki dan Ashlan, yang mendarat dengan punggung mereka.

“Ashlan, dasar tidak tahu malu, kau menggunakan kesempatan ini untuk memegang bokongku!”

“Tidak-tidak, bokongmu saja yang tepat terjatuh di tangan ku!”

“Diam, jangan berteriak di area musuh.”

Kata-kata Farin dengan cepat mendiamkan mereka berdua,

Ini?

Tidak terlihat berbeda dengan apa yang terlihat sebelum teleportasi.

Pohon kuno tumbuh di sekitar, dan tempat ini tersembunyi oleh ranting-ranting.

“Rinne, bisakah kita kembali?”

“...Ya, jika lingkaran itu bereaksi kepada ku, maka jika aku mulai mengaktifkannya lagi seharusnya kita semua bisa kembali ke tempat semula.”

Rinne mengangguk dan merespon dengan suara kecil. Lalu kemudian ranting mulai bergetar di saat yang bersamaan.

“Oh, kupu-kupu yang cantik! Tunggu, tunggu, jadilah teman Silk!”

Orang yang muncul secara tiba-tiba adalah orang bertubuh kecil dari foreign god. Dengan mata emas yang besar, rambut bergradasi yang berubah dari hijau muda ke merah muda yang cerah dengan topi, hampir seperti dari kisah dongeng.

“...Farin, itu...?”

“Mohon mundur, Jeanne-sama. Tidak lain dan sudah pasti itu adalah peri. Tapi beruntung dia belum menyadari kita.”

Perempuan itu, yang sedang mengejar kupu-kupu, termasuk kedalam ras peri. Para peri dikenal tinggal di pepohonan dan mereka jarang untuk pergi keluar hutan. Jadi akan sangat jarang menemukan mereka untuk muncul di hadapan orang-orang.

“Tunggu, tunggu... Oh!?”

Peri tersandung di depan kaki Ashlan dan terbaring.

“Ouch! Apa-apaan pangkal pohon ini... Oh...”

Peri menatap ke arah Ashlan.

Lalu dia menatap ke arah Saki, lalu Kai dengan Rinne, dan terakhir ke arah Farin dan Jeanne.

“Dari hutan mana kalian berasal,elf? Oh, tapi aku tidak merasakan kekuatan sihir dari kalian?”

“Ah, tidak, kami ini manusia.”

“...Apa?”

Peri menatap dengan tatapan kosong ke Ashlan, yang menjawab tanpa berpikir karena reflek.

“Manusia...Manusia..Manu...! Hyaaaa! Manusia!? Jangan makan aku!”

“H-hei, tunggu!”

“Selaaaaaaaamatkan aku!”

Dia menginjak tanah dengan kaki kecilnya dan lari secepat mungkin. Setelah dia bersembunyi di antara ranting, dari dirinya muncul, dan beberapa saat kemudian tidak ada lagi tanda-tanda kehadiran dirinya.

“Ayo kita kejar, karena dia berlari sangat cepat, pasti ada petunjuk.”

Jeanne mencoba mengejar sambil menyingkirkan semua tumbuhan. Itu jalan yang sangat sempit untuk satu orang. Di jalan ini, dua pohon kuno yang sangat besar berdiri, seperti gerbang. Lalu, di depan gerbang ini, dua wanita muda elf berdiri dengan panah.

Mereka saling bertukar pandang.

[Manusia!?]

[Bagaimana mereka bisa kesini!]

Sangat sulit untuk mendengar mereka, tapi sudah pasti itu bahasa manusia. Mereka menatap dengan tatapan menyerang dan mulai mempersiapkan panah mereka.

“Jeanne-sama, cepat kebelakang ku. Aku akan menahan mereka.”

Farin mempersiapkan shamshirnya dan mulai bersiap menerjang mereka. Tapi, tiba-tiba pejuang terkuat Urza menyipitkan matanya dan berhenti.

“Aku mengerti, kau tidak lagi berencana untuk menyembunyikan wujud asli mu.”

“Kau membuat ku terkejut. Siapa yang menyangka kalian bisa mengejar kami sampai ke desa tersembunyi seperti ini.”

Disana merupakan wanita cantik dengan rambut panjang yang bersinar. Salah satu yang seharusnya diyakini menghilang bersama kaisar Dante, Ajudan Komandan Qubiley. Tapi sekarang dia berjalan diantara dua pohon kuno.

“Aku senang melihatmu baik-baik saja, Ajudan Komandan. Tidak, haruskah aku memanggilmu mata-mata foreign god?”

“Qubiley saja tidak apa-apa, ksatria Jeanne.”

Senyumnya terlihat di wajahnya ketika Jeanne menyindirnya. Ditemani oleh dua penjaga elf di sampingnya, dia sudah tidak memiliki niatan untuk terus menyembunyikan dirinya bahwa dia seorang elf.

“Izinkan aku bertanya: Bagaimana kalian bisa sampai ke tempat ini? Jika kalian secara paksa berjalan menuju ke hutan ini, maka seharusnya monster penjaga sudah pasti membuat suara.”

“Itu benar sekali, Aku datang kesini untuk mencari Kaisar-dono tercinta kami.”

“Untuk manusia seperti itu? Menurutku sebagai Ajudan Komandannya, disandingkan dengan manusia seperti itu, staf kepala Tsekhman sepuluh kali lipat lebih baik daripada dirinya.”

“Apa yang terjadi dengan mereka?”

“Aku menuntun mereka ke hutan ini. Apa yang harus kulakukan hanyalah memberi proposal ke Yang Mulia hebat kami Dante. Lalu aku menjebak mereka. Jadi apa yang menurutmu sudah terjadi?”

Qubiley menjawab dengan senyum licin. Menghadapinya sekarang, dia bisa melihat senyuman cantiknya, tapi itu jelas sangat berbeda dengan kecantikan yang dimiliki oleh manusia.

“Jangan membuat tatapan yang mengerikan, Komandan. Mereka semua masih hidup. Karena mereka menghirup sangat banyak udara yang berasal dari bunga lumpuh yang kumiliki, mereka tidak akan akan bisa menggerakkan jari mereka selama beberapa hari kedepan.”

“Itu mengejutkan. Bukankah kau ingin menggunakan informasi ini untuk bernegosiasi dengan kami?”

“Ada sesuatu yang ingin kuajukan.”

Dengan mengatakan itu, si elf melipatkan tangannya di dadanya.

“Komandan Jeanne, aku sebenarnya ingin kita memiliki kesempatan untuk berbicara seperti ini. Apakah benar bahwa kau lah yang mengalahkan monster yang berasal dari negara yang berada di bagian utara?”

“Jika yang kau maksud adalah pahlawan iblis, maka iya, itu bukan kebohongan.”

“Aku tidak bisa mempercayainya ketika pertama kali mendengarnya. Aku membayangkan strategi jenis apa atau senjata yang kalian gunakan untuk mengalahkan monster seperti itu. Tapi sekarang, aku bisa membayangkan alasannya.”

Tatapan nya dialihkan jadi bukan kepada Jeanne, tapi ke arah Rinne yang berdiri dibelakang. Bagi elf akan sangat jelas terlihat bahwa Rinne memiliki kekuatan sihir yang besar, dan tentu saja fakta bahwa dia bukan manusia.

“Seperti yang sudah kau bayangkan, dibelakang ku ini adalah desa elf. Dan sejujurnya aku curiga bahwa enam dari kalian ini lebih berbahaya daripada seluruh pasukan Io Resistance.”

“Karena kami berhasil mengalahkan pahlawan iblis Vanessa maksudmu?”

“Ya, dan sejujurnya aku tidak ingin kalian hidup, tapi aku takut akan terjadi masalah besar jika kami mencoba menyerang kalian. Akan sangat merugikan kami jika kamilah yang diserang oleh ras lain pada saat kami masih kelelahan.”

Wanita elf berhenti sejenak.

“Karena itu aku punya pertimbangan. Pertama kami menyamar jadi manusia, ini sangatlah jelas.”

“Maksudmu, kau akan melepaskan manusia yang sudah ditangkap?”

“Dengan itu, kami akan memastikan keselamatan kalian dan bersumpah untuk tidak menyerang kalian sampai kalian semua pergi dari hutan ini.”

“...Dan apa yang kalian minta?”

“Hanya hal sederhana, setidaknya bagi kalian yang sudah mengalahkan pahlawan iblis. DI bagian utara dari hutan ini ada istana malaikat.”

Qubiley menunjuk jauh ke dalam hutan.

“Kumohon pergilah ke istana malaikat dan lawanlah para malaikat.”

“...”

Jeanne dan Farin sama-sama menelan ludah mereka. Saki dan Ashlan tidak bisa berkata apa-apa dengan heran.

“Hei, aku benar-benar tidak mengerti, kau paham?”

Rinne bertanya dengan suara keraguan didalamnya.

“Apa kau akan mengkhianati ras mu? Bukankah hubungan kalian dengan para malaikat seharusnya sangat kuat?”

“Para malaikat sudah mengkhianati kami.”

Senyum Qubiley menghilang. Dan dia mulai mengucapkan kata selanjutnya dari mulutnya yang tertutup rapat.

“Akan kuberi tahu situasi nya, mohon ikuti aku.”

Desa tersembunyi elf. Ini merupakan tempat tinggal foreign god dan satu-satunya tempat yang tidak diketahui  karena ketidak beradaannya di peta umat manusia. Singkatnya ini adalah [wilayah yang belum dijelajahi] oleh manusia.”

“Ini merupakan pertama kali nya bagi manusia masuk ke desa ini. Kalian seharusnya tidak mengharapkan sambutan selamat datang, tapi silahkan berbanggalah.”

Desa elf adalah desa yang terbuat dari pohon kuno. Ranting yang terhubung dengan pohon kuno digunakan sebagai lantai. Dan ranting yang sama digabungkan untuk membuat rumah-rumah kecil. Melihat keatas, mereka bisa melihat altar yang mana diawasi oleh ratusan elf. Qubiley berbalik.

“Ksatria Cahaya Jeanne, kau sedang menggunakan gaun elf di balik baju pelindungmu itu, benar?”

“...Benar.”

Simbol dari ksatria Jeanne bukanlah baju pelindungnya, melainkan gaun sutra tipis dan lembut dibaliknya. Pakaian pertempuran roh yang ringan. Itu salah satu dari harta elf. Memiliki kekuatan yang besar untuk menahan sihir, itu bisa menjadi kartu AS melawan pengguna sihir seperti para iblis. Dan sepertinya mata-mata elf itu bisa dengan cepat mengetahuinya.

“Darimana kau mendapatkan itu?”

“DI perbatasan dekat dengan Urza. Ini merupakan salah satu rampasan yang kami dapatkan saat serangan kejutan kami ke para iblis, yang mana ternyata ini berasal dari ras mu. Yah, tapi ini merupakan cerita 10 tahun yang lalu.”

“Itu membuat ku lega, jika kau merampasnya langsung dari kami, maka Reiren-sama tidak akan mengabaikannya.”

Kai menyipitkan matanya ketika nama yang tidak dikenal dibicarakan. Setelahnya, tiga elf turun dari pohon menggunakan tangga. Dua dari mereka merupakan pria bersenjata, dengan yang satunya yang berada di tengah memiliki penampilan seperti wanita mudah berusia sekitar 15-16 tahun. Tapi berbanding terbalik dengan penampilannya, telinga nya jauh lebih panjang dibanding dua sebelumnya.

Semakin panjang telinga elf, semakin lama juga dia hidup.

Dan seharusnya yang ditengah lah yang paling tua.

Dia mengenakan kimono tujuh lapis, hampir mirip seperti pakaian roh sutra milik Jeanne. Dan perempuan elf dengan rambut berwarna gradasi yang panjang dan indah, yang panjangnya hampir menyentuh tanah. Wajah nya yang terlihat muda memancarkan aura kecerdasan tertentu. Dan kepribadiannya juga terasa aneh.

Ilustrasi lihat disini.


“Sungguh menjengkelkan.”

Perempuan elf menyeringan ketika melihat kelompok Kai.

“Kenapa kita harus berteman dengan manusia dari Urza. Desa kita sudah terkotori dengan bau mereka. Ras kotor ini harus pergi dari sini sekarang.”

“Reiren-sama.”

“Tapi ini hanyalah ketidakpuasanku, yang pada saat ini akan kusimpan sendiri.”

Perempuan elf ini, yang diperkenalkan oleh Qubiley, menghela napas.

Sikap sombong ini...

Sangat sesuai dengan sifat foreign god.


Jika para iblis dikenal akan nafsu mereka pada pertempuran, maka foreign god dikenal akan sikap sombong mereka. Tapi, ketika kau mulai memahaminya. Seseorang yang berbicara secara terus terang seperti itu akan jauh lebih mudah dihadapi daripada seseorang seperti Qubiley contohnya yang berpura-pura menjadi manusia dengan senyuman indahnya.

“Aku miko desa ini, Reiren. Aku dengar dari Qubiley mengenai kalian. Kalian semua lah yang mengalahkan pahlawan iblis.”



Si elf melihat ke kelompok Kai lagi.

“Monster itu pernah bertarung dengan sengit melawan Heaven Lord Alfreyja-dono. Pada saat itu pinggiran hutan kami berubah menjadi abu. Dan melihat kalian berhasil mengalahkan Vanessa sangat sulit untuk dipercaya.”

“Jika itu sangat sulit untuk dipercaya, aku akan mengatakan apa yang kami dengar juga sama sulit nya untuk dipercaya.”

Jeanne melihat ke atas pohon. Ada banyak elf, peri, dan kurcaci. Mungkin ada ratusan dari mereka, mendengar percakapan kami dengan seksama antara Reiren sang miko dan ksatria Jeanne.

“Apakah benar bahwa tetua elf sudah ditangkap oleh Heaven Lord Alfreyja?"

“Jika tidak, maka kita tidak bisa berbicara.”

Miko mulai duduk di daun besar yang terbentang.

“Heaven lord sudah berubah. Dulu dia adalah sosok yang tenang dan kuat, yang menyinari jalan kami para foreign god layaknya matahari...”

“Dia sudah tidak memerlukan tetua elf lagi?”

“Hal yang sama juga berlaku bagi para kurcaci dan peri. Kita sudah dianggap rendah oleh para malaikat.”

Foreign god terdiri dari empat ras. Dan semua menjadi aneh ketika Heaven Lord Alfreyja tiba-tiba menyatakan bahwa mereka tidak setara, tapi lebih rendah daripada para malaikat.

“Tentu itu tidak bisa diterima. Setelah berdiskusi bersama ketiga ras, tetua elf bersama dengan perwakilan dari setiap ras pergi menuju istana malaikat, dengan tujuan berbicara langsung dengan Heaven Lord, tapi...”

“Mereka tidak kembali.”

“Benar. Bagaimanapun juga jika kita pergi ke istana tanpa diundang, maka kerenggangan dengan para malaikat akan menjadi tidak bisa diperbaiki.”

“Jadi itulah kenapa kita yang harus pergi? Jadi ide nya sementara para manusia menyerang istana dengan kerusuhan terjadi disana, para tetua elf bisa secara kebetulan kabur. Tidak peduli apakah kami akan berhasil atau tidak, itu tidak akan berpengaruh kepada para elf.”

“Itu benar, jika kalian semua dihancurkan, kami bisa berpura-pura tidak tahu. Tapi jika, kalian lah yang membebaskan para tetua kami, kami akan melepaskan manusia-manusia yang tertangkap.”

“...Farin.”

Jeanne bertukar pandang dengan pengawal wanita di dekatnya.

“Apakah menurutmu ini mungkin? Untuk kita berenam pergi menyerang sarang malaikat dan pergi membebaskan para tetua yang ditangkap di bawah penjagaan.”

“Mustahil. Kita pasti akan dikepung dan akan benar-benar dimusnahkan.”

Pengawal menjawab tanpa keraguan.

“Mula-mula tidak ada bukti apa yang mereka katakan ini benar. Dan juga jika kita berenam pergi kesana maka mungkin, kita malah akan menghadapi pasukan para malaikat dan para elf yang bersatu.”

Kai juga memiliki kecurigaan yang sama.

Akan jadi rencana yang sangat cerdas untuk menghadapi kami yang menyerang desa mereka.

Menggunakan pasukan malaikat mereka bisa menjebak kami. Yang akan menjadi cara terbaik untuk menghancurkan kami.


Penjelasan mereka tentang tetua mereka yang ditangkap juga masih kurang dapat dipercaya.

“Aku akan mempertaruhkan nyawa ku sendiri.”

Tiba-tiba mantan Ajudan dari Komandan Io Resistance berbicara.

“Qubiley? Apa!?”

“Dalam berbagai skenario  sampai mereka bisa sampai ke istana malaikat mereka memerlukan sesorang yang bisa menuntun mereka. Dan tugas ini akan menjadi milikku.”

Mantan Ajudan Komandan meletakkan lengannya di dada.

“Pada saat kami pergi menuju istana, jika kalian berpikir kami membohongi kalian, maka kalian bebas untuk melakukan apapun yang kalian inginkan kepada ku. Entah kalian menangkapku sebagai tawanan atau memotong tubuhku kecil-kecil, kalian bebas melakukan apapun.”

“Ditolak. Itu tidak akan cukup.”

Farin terang-terangan menolak pernyataan mengenai siap mempertaruhkan nyawanya.

“Kami punya enam orang disini, dan juga termasuk dua puluh tawanan lagi. Itu akan berlebihan jika kau mengatakan bahwa nyawa mu sendiri akan setimpal.”

“...”

“Antara kalian mempertaruhkan nyawa lebih banyak atau memikirkan solusi lain yang lebih baik.”

“Sangat bodoh.”

Wanita muda, yang sedang duduk dengan kaki yang bersilang, mengangkat lututnya.

“Jadi maksudmu adalah daripada nyawa Qubiley, akulah, sang miko, yang harus menemani kalian. Jika aku berbohong kepada kalian maka hidup ku lah yang dalam bahaya.”

“Jika tidak ada kebohongan di perkataan kalian, maka saran ini seharusnya bisa kalian terima dengan baik.”

“Tapi apakah ini merupakan ide yang bagus? Mengesampingkan penampilan ku, aku merupakan perwakilan dari ras ku. Dalam bahasa mu ini akan menjadi pencapaian yang sangat besar. Jangan harap untuk bisa merenggut nyawa ku dengan mudah.”

Wanita elf, yang menggunakan gaun dengan tujuh lapis, sudah pasti jauh lebih kuat daripada Qubiley. Dia menemani mereka seharusnya tidak akan menambah bahaya.

“Aku tidak berpikir kau lebih kuat daripada pahlawan iblis.”

“...Manusia, kuakui kalian cukup hebat.”

Menjawab Farin, miko elf memberi respon dengan ekspresi yang agresif.

“Bukankah itu ide yang baik, aku menemani kalian. Kita semua menyelinap ke istana malaikat dan aku menuntun kalian ke penjara mereka. Apa ini bisa memuaskan kalian?”

“Miko!?”

“Kumohon tunggu, jika sesuatu terjadi kepada miko di situasi seperti ini...”

"Alfreyja-dono sudah berubah. Dan tidak ada jaminan bahwa para tetua akan kembali ke kita. Jika hanya kita yang tersisa, maka itu hanya akan menegaskan bahwa para tetua sudah tunduk kepada para malaikat. Apa aku salah?”

Miko meninggikan suaranya agar para bawahan yang ada diatas bisa dengar. Volume suara nya cukup untuk membuat dedaunan di pohon bergetar.

 “Para peri dan kurcaci, mereka belum mengambil gerakan. Jika kita menyerang Alfreyja-dono maka itu hanya akan mengundang perang saudara diantara kami. Rencana ini adalah ide ku sendiri. Dalam skenario terburuk sudah seharusnya nyawa ku lah yang menjadi taruhannya.”

“Miko...”

“Diskusi selesai. Semua, pergi kembali!”

Elf, kurcaci dan peri mulai berbubaran. Sepertinya mereka kembali ke tugas mereka yaitu menjaga hutan yang luas ini.

“Dengan ini seharusnya ada yang keberatan.”

Wanita muda itu berdiri. Pakaian roh tujuh lapisnya berkibar bersamaan dengan rambut hijau bergradasinya.

“Ingat ini, Komandan manusia. Hubungan antara elf dan kalian kali ini. Harus tidak ada kesalahan. Jika kalian tidak memiliki keberanian, kalian tidak akan kembali dalam keadaan hidup dari hutan ini.”

“Kau tidak harus mengucapkannya dua kali.”

“Mengagumkan, mari kita mulai berbicara hal detailnya. Dan... Ini menyebalkan, tapi setidaknya untuk hari ini dan besok kalian semua adalah tamu ku. Oi, Silk.”

Dia menjentikkan jarinya. Pada isyarat itu peri, yang sebelumnya pergi menjauh, mulai datang.

“Siapkan kursi.”

“Baik!”

Dengan suara ceria, si peri mulai menggerakkan jarinya, hampir seperti memainkan udara. Dan pada saat yang sama angin mulai berkumpul di bawah kaki Kai. Anginnya cukup kuat untuk mengacak-acak rambut mereka. Dan ketika angin nya terbang, daun dari pohon kuno jatuh di kaki Kai.

“Sihir peri?”

Daun besar terjatuh di tanah. Tidak hanya untuk Kai, tapi Rinne, Jeanne, Farin dan Saki serta Ashlan, masing-masing dapat daun yang berasal dari pohon kuno,

Apa dia menghembuskan angin hanya dengan menggerakkan jarinya?

Untuk membawa daun itu kesini?


Fakta bahwa pengaktifan sihirnya tidak memiliki tanda-tanda yang menimbulkan cahaya adalah sesuatu yang patut disanjung. Itu cukup menakutkan sejujurnya, dan dengan hembusan angin yang tenang bisa membawa daun-daun ini kesini. Ini adalah sihir peri. Itu sihir yang lembut, cukup berbeda dengan sihir penghancur yang dimiliki oleh para iblis.

“Wow, keren. Apa boleh duduk disini?”

Rinne terlihat kagum dengan daun yang ada di depannya.

<TLN : lucu banget sih gadis pirang ini.>

“Kita masih harus membahas detail kecil, jadi silahkan duduk. Aku tidak ingin melihat keatas sambil berbicara.”

Sekali lagi dia duduk dengan kaki bersila, miko Reiren mengatakannya kepada mereka.

Wilayah yang belum dijelajahi, desa elf yang tersembunyi. Diatas kepalanya langit sudah mulai malam. Perbandingan nya dengan siang hari saat sinar matahari menembus tiga pohon, malam harinya sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanya api unggun kecil di depan Kai.

“...Berani sekali diam-diam tidur disini.”

Dibelakang Kai, yang duduk di daun pohon kuno adalah Rinne. Dia tidur dengan daun-daun yang bertebaran di tanah. Menengok kesamping, dia bernapas dengan suara yang lucu. Dia tidak yakin sudah berapa lama dia tertidur.

Meskipun ada resiko untuk diserang oleh para elf di malam hari...

Dia tidak sedikit pun waspada.

Hanya bisa bertanya-tanya entah dia percaya dengan cerita mereka pada siang hari atau ini hanya sekedar keberaniannya saja. Meskipun dia ingat bahwa dia juga tertidur di penginapan mereka di hotel Neo Vishal, meskipun disana dipenuhi oleh manusia. Jadi kecurigaan terakhir yang dia miliki, atau mungkin dia hanya cukup percaya diri jika pada akhirnya akan diserang oleh para elf.

“Masih bangun?”

Di tengah malam dia bisa melihat wanita elf muda, terpantul di cahaya api.

“Baik tumbuhan dan para binatang sudah tidur. Tapi manusia malah menghidupkan api untuk menjaga nya tetap bangun. Ini benar-benar diluar pemahaman ku.”

Ucap miko Reiren. Lalu dia berbalik ke arah Rinne yang sedang tertidur.

“Kami tidak memiliki niatan untuk menyerang kalian pada saat kalian sedang tertidur. Selama perjanjian kita dipenuhi, aku tidak ada niatan untuk menyakiti kalian.”

“...Dimengerti.”

Dia menyarungkan kembali bayonetnya, yang awalnya digunakan untuk pencegahan.

“Jeanne, komandanmu, berkata orang yang mengalahkan Vanessa adalah kau dan gadis ini. Karena itu ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Bagaimana kami mengalahkannya?”

“Aku tidak bertanya sejauh itu. Ditambah itu merupakan keuntungan untuk membuat elf tetap patuh, kan?”

Menjawab dengan tatapan yang serius, wanita elf duduk di depan Kai.

“Aku hanya ingin bertanya satu hal: Cara kalian untuk mengalahkan Vanessa, apakah akan bekerja juga untuk mengalahkan heaven lord Alfreyja?"

Kai bertanya-tanya apakah karena dia sedang berbicara dengannya, tapi dia menghilangkan sebutan kehormatan [dono] sekarang. Atau mungkin...

“Aku rasa mungkin bekerja mungkin juga tidak.”

“Hou?”

“Ketika aku berpikir bersama dengan Rinne, ada beberapa faktor yang ikut di dalamnya. Jika kita bertarung dengannya lagi, aku sungguh tidak yakin apa kami akan menang.”

Dia sudah hilang hitungan berapa kali mereka sudah diujung kematian, dan berapa kali keberuntungan sedang berada di pihak mereka. Dan pada [faktor] kali ini adalah...

Makhluk menakutkan dan aneh yang tak ingin kuingat lagi...

Sudah pasti alasan kami bisa mengalahkan Vanessa karena adanya gangguan dari monster itu.


Monster yang disebut rasterrizer itu menyerang Vanessa, yang mengubah pertarungan malah menjadi 3 lawan 1. Dan serangannya itu membuat Vanessa terluka.

Ditambah lagi ini berkat efek dari Code Holder's yang membuatnya bisa melancarkan serangan terakhir kepada Vanessa.

“Kesampingkan itu aku ingin bertanya kenapa? Kenapa kalian meminta bantuan kami untuk membebaskan tetua kalian. Jika kita bertemu dengan para malaikat disana, kita harus menerobos masuk dengan kekuatan penuh.”

Di skenario terburuknya mereka harus melawan pemimpin Malaikat Alfreyja. Tidak ada keharusan untuk melawan, dan bahkan mempertaruhkan nyawa nya dengan menghadapinya. Tapi dia tidak mendengar Reiren bergumam mengenai itu sekarang.

“Dan kudengar harapan lamamu yaitu untuk kami bisa mengalahkan pahlawan foreign god.”

“Akan ku beri kau peringatan.”

Wanita elf muda, berdiri di depan api, menjawab dengan suara pelan.

“Jika kita ketahuan maka akan seperti ini. Entah sesuai dengan harapanmu atau tidak, hari ini Alfreyja-dono tidak akan mendengarkan satupun perkataan. Jadi ini akan menjadi pertarungan untuk bertahan hidup.”

“...”

“Jika kalian lah yang menjadi pemenangnya, maka kita akan menyelamatkan orang-orang kami yang menjadi tahanan.”

“Dan jika kami kalah?”

“Kalian tidak akan kembali dalam keadaan hidup. Tapi untuk lebih jelasnya, akulah yang paling memahaminya. Aku tidak ada keinginan untuk berbalik melawan para malaikat dan membuat keributan ketika menyelamatkan tetua kami. Semua nya akan tergantung kepada, apa yang kalian pilih, manusia. Pahamilah ini.”

“Aku benar-benar mengerti itu. Pada awalnya aku tidak ada keinginan untuk bertarung bersama.”

Jika elf lah yang menyerang istana malaikat, maka foreign god akan menyatakan perang saudara. Karena alasan itulah Reiren tidak berencana untuk ikut bertarung. Ditambah, hal yang sama bisa terjadi ke para kurcaci dan peri. Jika kemarahan heaven lord Alfreyja turun kepada elf maka dua ras lainnya akan ikut terkena dampak dari kemarahan malaikat.

Tapi jika ada sedikit saja kesempatan hal ini akan berujung seperti itu...

Apakah miko ini berniat untuk mempersembahkan lehernya sendiri untuk memohon belas kasih?

Bukan untuk manusia, tapi Alfreyja.

“Sungguh menjengkelkan... Kenapa kami harus meminta bantuan manusia? Apakah orang-orang kami serendah itu?”

Di Bawah cahaya api dia tersenyum menghina diri sendiri. Lalu wanita elf berdiri.

“Kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Apa ada masalah?”

“Tidak ada, tapi Jeanne masih belum kembali?”

“Jika kau khawatir kenapa kau tidak menghubungi nya dengan perangkat komunikasi yang ada di sebelah sana? Baik Jeanne dengan Farin dan kalian bebas untuk menggunakannya.”

Wanita yang sekarang berdiri melihatnya kembali.

“Tidak perlu khawatir, mereka akan kembali ke desa. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Qubiley. Yah, untuk mempermudahnya, aku ingin berbincang mengenai waktu nya selama menyamar di antara para Io Resistance.”

“...”

“Apa kau menganggap ini tidak adil?”

“Itu salah manusia tidak bisa menyadari keberadaan Qubiley. Tidak ada yang tidak adil tentang itu.”

Tidak ada keindahan dibalik Perang Besar. Ditambah seluruh serangan kejutan ke para iblis di ibu kota, yang dilakukan oleh Urza Resistance, juga bukan hal yang adil.

“Omong-omong, mengenai apa yang kau sebut sebelumnya, bagaimana jika kita secara tidak sengaja berhasil mengalahkan Alfreyja? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Apa? Apa kau mengkhawatirkan hal semacam itu?”

Wanita elf yang selalu serius sampai saat ini, melihat kembali ke dirinya dengan seringai.

“Strategi ini bagi kami sendiri merupakan pengkhianatan kepada para malaikat. Apa kau mungkin mencurigai mengenai apa aku memiliki ambisi untuk menjadi pahlawan foreign god ketika Alfreyja sudah terbunuh oleh kalian?”

“Yeah, lagipula kau seseorang yang licik.”

“Bukankah kau cukup pandai? Jika kau berharap untuk tetap hidup besok, pertahankan itu.”

Dihadapan punggung wanita muda itu, yang berbalik dan mulai pergi, Kai berbicara:

“Satu pertanyaan terakhir.”

“Apa lagi? Tapi kuperingatkan dirimu. Jika aku mendengar sesuatu yang tidak sopan, aku akan langsung memotong lidah mu.”

“Apa kau tahu seorang manusia bernama Sid?”

“Siapa itu?”

“Tidak, lupakan jika kau tidak tahu. Maaf telah membuang waktumu.”

Rambut panjangnya berkibas dan wanita mudah itu mulai berjalan pergi. Kai menunggu untuk memastikan dirinya sendirian.

“Dia juga tidak mengenalnya. Lagipula...”

Kai menatap ke langit. Dan untuk ras lain, pahlawan iblis Vanessa mengetahui siapa itu Sid. Dan Kai berfikir jika foreign god juga mengenalnya. Jika miko elf tidak mengenalnya maka seharusnya elf yang lain juga tidak mengetahui siapa itu sid. Tapi ada kemungkinan bahwa foreign god mengetahui siapa itu sid.

[Dia memperkirakan bahwa fenomena yang aneh akan terjadi di dunia ini.]

[Ada seseorang yang merusak dunia. Dia seharusnya ada diantara tiga pahlawan lainnya.]

Heaven lord Alfreyja tiba-tiba berubah. Ini sesuatu yang dia dengar dari miko Reiren dan membuat jantungnya berdetak tidak karuan bersamaan dengan pikirannya.

Menurutku perubahan sikap pahlawan itu bukanlah sebuah kebetulan.

Yang mana membuat Alfreyja menjadi tersangka utama.


Merubah hasil dari Perang Besar di dunia sesungguhnya. Lalu membuat skenario dimana malaikat mendominasi ras lainnya diantara para foreign god. Sejauh ini dia dapat memahaminya tapi...

Bagaimana caranya masih belum diketahui. Dan dia tidak bisa membayangkan kekuatan seperti apa yang bisa menulis ulang dunia itu sendiri.

“Kurasa hanya Sid lah yang tahu...?”

Menatap perapian seorang diri, Kai mengepalkan tangannya.


PREVIOUS CHAPTER     ToC     NEXT CHAPTER


TL : Nouzen
Editor : Regent

0 komentar:

Posting Komentar